Bila Anak Muntah Setelah Minum Obat

Memberikan obat dikala anak sakit bukanlah perkara yang mudah. Apalagi ketika Ibu atau Ayah sudah susah payah meminumkan obat tapi ternyata dimuntahkan anak. Anak muntah setelah minum obat memang hal yang cukup sering dialami. Hal ini sering kali membuat orangtua bingung apakah perlu diberikan lagi obatnya atau tidak. Agar orangtua tidak bingung lagi, mari disimak panduan anak muntah setelah minum obat di rubrik berikut ya…

Kenapa sih anak muntah setelah minum obat?

Anak muntah setelah minum obat bisa bisa disebabkan beberapa hal. Paling sering ialah adanya gangguan pencernaan pada tubuh anak itu sendiri misalnya penyakit gastroenteritis akut (radang saluran pada anak), infeksi akut, keracunan makanan, dsb. Rasa obat yang tidak enak, obat yang terlalu kental, ‘mencekok’ atau memaksa anak minum obat dan memberi obat dikala anak menangis juga bisa membuat anak muntah. Selain itu, efek samping dari obat yang diberikan juga bisa menyebabkan anak muntah setelah minum obat.

Apa yang harus dilakukan ketika anak muntah setelah minum obat?

Meskipun anak muntah setelah minum obat biasa dialami, sayangnya tidak banyak literatur dan penelitian yang menjelaskan apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi. Saat ini, panduan anak muntah setelah minum obat hanya berdasarkan opini para ahli. Panduan mudah untuk orangtua ialah:

  • Bila anak muntah dalam 15 menit setelah minum obat atau obat terlihat jelas dimuntahkan anak: Berikan lagi obat dengan dosis yang sama karena kemungkinan obat belum masuk ke dalam lambung.
  • Bila muntah lebih dari 60 menit setelah minum obat: Tidak perlu diberikan obat lagi karena kemungkinan obat sudah masuk ke saluran cerna.

Bagaimana bila anak muntah antara 15-60 menit setelah minum obat?

Sebaiknya tanyakan pada farmasi atau dokter karena keputusan memberi dosis ulangan perlu pertimbangan resiko dan manfaat. Karena kemungkinan sebagian obat sudah dicerna oleh tubuh tetapi ada tidak optimal. Bila resiko tidak memberi obat lebih besar daripada memberi dosis berlebih, orangtua bisa memberikan ulang obat dengan dosis yang sama. Tetapi tentu dengan saran dan pemeriksaan tenaga kesehatan ya 😊

Bila keputusannya Anak saya harus minum obat ulangan, kapan baiknya diberikan?

Sebaiknya Anda tunggu sampai kira-kira jeda 15 menit setelah muntah supaya anak tidak trauma minum obat. Coba ajak anak Anda kumur-kumur terlebih dahulu setelah muntah supaya rasa tidak nyaman di mulut berkurang.

Selain waktu ketika muntah, apakah ada hal lain yang perlu dipertimbangkan?

Tentu. Waktu ketika muntah hanya panduan umum untuk memudahkan. Tetapi, keputusan memberi dosis ulangan harus dibuat berdasarkan kondisi masing-masing anak oleh tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan jenis obatnya, tipe obat (cair atau padat), durasi penggunaan obat (jangka pendek/jangka panjang), dsb. Oleh karena itu, orangtua perlu terus berkonsultasi dengan dokter atau farmasi ya ketika anak muntah setelah minum obat

Bila setelah diminumkan obat kembali lalu anak muntah lagi harus bagaimana?

Segera ke dokter atau tenaga kesehatan terdekat. Baiknya orangtua tidak memberikan dosis ulangan atas pertimbangan sendiri. Terlalu sering memberikan dosis ulangan malah bisa membuat anak diare apalagi obat antibiotik. Dokter mungkin akan melakukan penghitungan dosis ulangan atau mencoba cara lain untuk memberikan obat misalnya disuntik atau diberikan melalui infus. Tentunya dokter juga akan menelaah penyebab anak muntah berulang dan memberikan terapi sesuai penyebabnya.

Ada tidak ya langkah pencegahan supaya anak tidak muntah setelah minum obat?

Tentu ada. Orangtua bisa menyiasati supaya anak tidak muntah setelah diberi obat. Beberapa caranya ialah:

Obat sirup

  • Berikan obat sirup dengan sendok/pipet ke bagian dalam pipi atau garis gusi dengan menggunakan pipet (baiknya jangan sendok). Tujuannya ialah agar obat cair perlahan-lahan mengalir ke belakang lidah. Bila anak cukup besar, biarkan ia mencoba minum obat sediri supaya lebih kooperatif.
  • Hindari memberikan obat secara cepat ke belakang tenggorokan. Hal ini bisa membuat tersedak karena obat malah masuk ke saluran nafas.
  • Hindari memberikan obat dan benda apapun ke tengah lidah saat anak tidak aktif menelan karena bisa merangsang refleks muntah
  • Untuk obat dalam bentuk puyer atau sirup kental, berikan air supaya lebih mudah ditelan
  • Beri obat saat posisi duduk, tegak atau kepala lebih tinggi dari badannya (Hindari memberi obat dalam posisi berbaring)
  • Jangan ‘mencekok’ anak minum obat (memasukkan obat secara paksa sambil menutup hidung anak). Hal ini bisa membuat anak tersedak
  • Hindari memaksa anak meminum obat ketika ia berontak. Selain bisa membuat muntah, hal ini juga bisa membuat anak tersedak.
  • Bila anak muntah setelah minum obat karena rasa obat yang tidak enak, coba minta dokter memberikan obat dengan rasa yang lebih mudah diterima. Anda juga bisa menyamarkan rasa obat dengan mencampur pemanis dengan rasa yang kuat. Misalnya, sirup cokelat, sirup strawberry, sirup pancake, dsb. Baiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu bila hendak mencampur dengan makanan/minuman lain seperti susu, madu, dsb.

Tablet atau kapsul

  • Gunakan cairan yang lebih padat dari air ketika menelan tablet atau kapsul. Anda bisa berikan jus atau smoothies pada anak sebelum menelan obat. Menelan pil atau kapsul dengan air biasanya lebih sulit.
  • Berikan dalam posisi kepala tegak atau tubuh sedikit condong ke depan. Menelan dalam posisi kepala mendongak ke belakang tentu lebih sulit.
  • Gunakan sedotan bisa membantu
  • Anda bisa saja membelah tablet supaya lebih mudah ditelan anak. Namun, perlu berhati-hati bila menggerus tablet karena tablet jenis slow-release (tablet yang larut perlahan-lahan dalam tubuh) dan enteric-coated pills (tablet berlapis khusus yang tahan dengan asam lambung) tidak boleh digerus. Bila tidak yakin, konsultasikan dengan apoteker atau dokter tentang jenis obat yang boleh digerus atau tidak.
  • Bila anak sulit menelan kapsul, tanyakan dulu ke dokter atau apoteker mana kapsul yang boleh dibuka dan mana yang tidak. Perlu diingat bahwa serbuk dalam kapsul rasanya pahit sehingga mungkin malah sulit diberikan pada anak.
  • Untuk anak >8 tahun, latih anak untuk terbiasa menelan obat sebelum sakit. Anda bisa memberikan potongan coklat, es atau permen kecil. Bila takut tersangkut, Anda bisa lapisi dengan mentega.

Selengkapnya mengenai cara tepat memberi obat untuk anak bisa dibaca di sini.

Kapan saya harus ke dokter bila anak muntah setelah minum obat?

Sebaiknya Anda hubungi dokter bila anak:

  • Tetap muntah setelah diberikan dosis ulangan
  • Obat yang diberikan ialah obat resep yang harus habis (misalnya antibiotik)
  • Anak menolak minum obat kembali meskipun dengan teknik yang benar
  • Anak terlihat sangat sakit
  • Anak sering muntah

Semoga penjelasannya bermanfaat ya..

Agustina Kadaristiana, dr., MSc (Paeds)

08-02-2018

Referensi

  1. Rohyans JA. What should I do if my child throws up right after I give her antibiotics? [Internet]. Baby Center. Available from: https://www.babycenter.com/expert-jo-ann-c-rohyans
  2. Should Your Child See a Doctor? Medication – Refusal to Take [Internet]. Seattle Children’s Hospital. 2012. Available from: http://www.seattlechildrens.org/medical-conditions/symptom-index/medication-refusal-to-take/
  3. Kendrick JG, Ma K, DeZorzi P, Hamilton D. Vomiting of Oral Medications by Pediatric Patients: Survey of Medication Redosing Practices. Can J Hosp Pharm [Internet]. 2012;65(3):196–201. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3379826/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *