Author Archives: Arfenda Puntia Mustikawati

Perubahan Tubuh Wanita Setelah Melahirkan

Setelah melahirkan biasanya wanita akan mengalami berbagai perubahan dari segi fisik dan emosi. Tidak jarang ibu mengalami kekhawatiran karena adanya perubahan bentuk tubuh, pola menstruasi, dsb. Agar ibu dapat lebih siap menghadapi perubahan ini, yuk kita cari tahu apa saja hal yang dapat terjadi pada masa nifas.

Pengecilan rahim

Saat hamil, rahim seorang wanita akan terus membesar dan beratnya dapat mencapai sekitar 1 kg. Pasca melahirkan hingga beberapa minggu setelahnya, ukuran rahim akan terus mengecil sampai kembali masuk ke panggul ibu.

Pengecilan rahim setelah melahirkan

Pengecilan rahim setelah melahirkan

Darah Nifas

Selain pengecilan rahim, juga terjadi pengeluaran darah nifas. Pada hari-hari awal setelah melahirkan, darah yang keluar cukup banyak dan berwarna merah. Selanjutnya cairan yang keluar akan yang terlihat lebih cair, dan berwarna merah kecoklatan. Sekitar 10 hari hingga 2-4 minggu setelah melahirkan, cairan yang keluar akan berwarna putih-kuning.

Banyaknya darah yang keluar dan panjangnya waktu nifas dapat berbeda pada setiap wanita. Umumnya masa nifas berlangsung sekitar 5 minggu, namun pada 15% wanita dapat mengalaminya hingga 6 minggu atau lebih.

Untuk mencegah infeksi (terutama jika terdapat luka atau robekan saat proses persalinan), jangan lupa menjaga kebersihan organ wanita dan mengganti pembalut sesering mungkin, minimal 4 jam sekali.

Darah yang keluar pada masa nifas ini juga bisa tiba-tiba menjadi lebih banyak ketika sang ibu kelelahan atau stres dan akan berkurang setelah istirahat. Namun, perhatikan bila darah nifas yang keluar menjadi sangat banyak dan ada gumpalan darah yang cukup besar. Hal ini menandakan adanya perdarahan pasca salin yang tertunda. Jika mengalaminya segeralah mencari pertolongan dokter.

Ovulasi dan kembalinya menstruasi

Kembalinya menstruasi pertama pada wanita setelah melahirkan dapat berbeda-beda bergantung beberapa faktor antara lain wanita yang menyusui eksklusif umumnya akan memiliki periode tidak menstruasi dan tidak ovulasi (mengeluarkan telur) lebih lama dibandingkan yang tidak menyusui. Selain itu seberapa sering, banyak, lama bayi menyusu juga berpengaruh terhadap kembalinya menstruasi sang ibu. Kebanyakan wanita mendapatkan menstruasi pertama sekitar 12 minggu atau 3 bulan setelah melahirkan, namun ada yang lebih cepat bahkan lebih lama.

Perubahan pada kemaluan wanita

Proses melahirkan dapat menyebabkan terjadinya luka atau robekan pada kemaluan kulit maupun otot. Proses penyembuhan dapat berbeda-beda bergantung beratnya luka  dan keadaan ibu. Pembengkakan pada bibir kelamin umumnya akan membaik dalam 1-2 minggu, sedangkan kerusakan otot akan pulih dalam 6 minggu maupun hitungan bulan (tergantung berat luka).

Pada proses persalinan, leher rahim akan menipis dan membuka hingga 10 cm ntuk mendukung kelahiran bayi. Pasca melahirkan, rahim akan kembali mengecil dan bukaan rahim umumnya sudah menutup di minggu pertama pasca persalinan. Selain rahim, vagina juga akan kembali mengecil, meskipun kondisinya tidak akan kembali sama pada ukuran sebelum hamil.

Payudara bengkak
Setelah melahirkan plasenta, kadar hormon estrogen dan progesteron akan turun, sedangkan hormon prolaktin akan naik. Adanya prolaktin akan membuat pengeluaran ASI lebih banyak sehingga menyebabkan payudara penuh atau bengkak (engorgement).

Payudara akan tampak membesar pasca melahirkan, dan mengecil seiring dengan menurunnya intensitas menyusui. Sama seperti organ lainnya, payudara pun tidak akan kembali benar-benar sama seperti pada wanita yang belum pernah hamil.

Perut yang masih terlihat membesar

Proses pengecilan perut yang membesar selama 9 bulan kehamilan, tentunya memerlukan waktu yang juga tidak sebentar. Pasca melahirkan, dinding perut memang akan menjadi kendor dan lunak hingga beberapa minggu kedepan. Cepat lamanya kondisi perut kembali ke fase sebelum hamil juga bergantung pada kondisi genetik, menyusui atau tidak, kenaikan berat badan selama hamil, ukuran tubuh sebelumnya , dan  olahraga.

Rambut rontok

Selama kehamilan, rambut terlihat menjadi lebih lebat dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan kadar estrogen yang tinggi akan memperlama fase pertumbuhan rambut dan menyebabkan rambut kurang rontok dibanding biasanya sehingga terlihat lebat. Nah setelah ibu melahirkan, kadar estrogen perlahan turun dan rambut akan menjadi lebih banyak rontok. Pada sebagian wanita, kerontokan rambut ini terjadi di beberapa bulan pertama pasca melahirkan.

Selang beberapa bulan pasca melahirkan, proses pertumbuhan rambut ini akan kembali normal pada keadaan semula. Selain rambut, terjadi juga pertumbuhan bulu yang cukup lebat di wajah, tangan atau kaki pada sebagian wanita. Bulu tersebut pun akan perlahan berkurang dan umumnya menghilang setelah 6 bulan pasca melahirkan.

Perubahan pada kulit

Adanya perubahan hormonal, emosi, perasaan stres, dan lelah saat kehamilan maupun setelah persalinan akan menimbulkan sedikit perubahan dan permasalahan pada kulit.. Umumnya, wanita yang timbul banyak jerawat selama kehamilan, akan mengalami penyembuhan setelah Ia melahirkan. Sebaliknya wanita yang wajahnya cenderung bersih saat hamil, dapat timbul jerawat beberapa bulan setelah melahirkan.

Noda hitam di wajah yang muncul akibat kehamilan (kloasma), umumnya akan menghilang setelah melahirkan, seiring menurunnya kadar hormon. Selain jerawat dan kloasma, permasalahan kulit lainnya yakni stretch mark. Stretch mark timbul selama kehamilan oleh karena tubuh yang tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kulit. Setelah melahirkan, warna stretch mark perlahan akan berubah menjadi warna yang lebih terang atau putih, namun sayangnya tanda ini akan menetap dan sulit menghilang. Timbulnya stretch mark pada kehamilan salah satunya juga dipengaruhi oleh genetik.

Sulit buang air besar

Selain karena proses melahirkan, kesulitan buang air besar (sembelit) juga sering disebabkan adanya perasaan takut nyeri, terutama pada wanita mengalami robekan atau luka saat melahirkan, sehingga Ia pun enggan atau menunda untuk buang air besar dan pada akhirnya feses menjadi keras atau sulit dikeluarkan. Keadaan ini dapat diatasi dengan minum air dan jus atau sayuran serta membiasakan /memberanikan diri untuk buang air besar

Selain perubahan fisik, terjadi juga perubahan emosional pasca melahirkan yang dikenal dengan sindroma baby blues. Mengetahui apa yang terjadi pada masa nifas tentunya menjadi penting bagi ibu untuk mempersiapkan diri dan emosi sebaik-baiknya. Semoga bermanfaat.

dr. Arfenda Puntia Mustikawati

12/09/2016

Sumber :

1. Body changes after childbirth. Available from http://www.babycenter.com/body-changes-after-childbirth.
2. Murray, S., & McKinney, E. (2010). Foundations of Maternal-Newborn and Women’s. Health Nursing (5th ed.).Maryland Heights: Saunders Elvsevier.
3. Physical Changes After Delivery (Postpartum Period). Available from http://www.webmd.com/baby/physical-changes-after-delivery-postpartum-period
4. Rauch, Catherine Ann. Your post-baby belly: Why it’s changed and how to tone it. Available from http://www.babycenter.com/0_your-post-baby-belly-why-its-changed-and-how-to-tone-it_1152349.bc
5. Spiliopoulos, Michail. Normal and Abnormal Puerperium. Available from http://emedicine.medscape.com/article/260187-overview.
6. The Truth About Pregnancy Stretch Marks. (cited 2016 Oct 10 ) Available from http://www.webmd.com/baby/features/stretch-marks#2

Gendongan Bayi yang Aman seperti apa ya?

Gendongan bayi atau baby carrier juga menjadi salah satu kebutuhan yang dipersiapkan menjelang kelahiran buah hati. Ada beragam merk dan tipe alat bantu gendong yang tak ayal sering membuat orang tua kebingungan. Pada bayi kecil (newborn) masih banyak digunakan gendongan bayi tradisional seperti jarik, maupun alat gendong lain dalam posisi melintang. Sedangkan pada bayi yang lebih besar gendongan bayi ala kangguru seringkali menjadi pilihan para orang tua. Namun tidak semua gendongan bayi ala kangguru itu bagus. Desain dan penggunaan yang tidak tepat bukan hanya akan membuat orangtua dan bayi tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko displasia panggul (hip dysplasia).

Tips Memilih Gendongan Bayi

Lalu bagaimana memilih dan menggunakan gendongan bayi ala kangguru (baby carrier) yang tepat? Berikut ini tipsnya :

  • Pilih gendongan yang berkualitas baik, aman, telah teruji dan kuat
  • Nyaman untuk orang tua.
  • Pilih gendongan bayi yang membuat distribusi berat badan bayi merata sehingga tidak membuat bahu, leher maupun punggung Anda nyeri. Selain itu pilih juga gendongan yang mudah digunakan dan Anda dapat menggunakannya tanpa bantuan orang lain.
  • Nyaman untuk bayi.
  • Pastikan bahannya lembut dan tidak membuat bayi kepanasan.
  • Nursing-friendly. Pilih gendongan yang dapat juga digunakan untuk menyusui
  • Mudah digunakan dan dibersihkan
  • Baca petunjuk pemakaian, serta mematuhi usia dan berat minimal bayi yang direkomendasikan.
  • Sebelum menggunakan, bacalah petunjuk pemakaian terlebih dahulu dan lakukan simulasi sebelum mempraktekannya langsung pada bayi. Beberapa merk gendongan ala kangguru yang dilengkapi bagian tambahan berupa infant insert dapat digunakan sejak newborn dengan ketentuan berat bayi minimal tertentu. Infant insert ini akan membuat bayi kecil tetap dalam posisi ergonomis di dalam gendongan. Pastikan juga leher dan punggung bayi tersangga dengan baik serta kaki dalam bentuk frog position. Namun TIDAK SEMUA gendongan ala kangguru didesain untuk bisa digunakan sejak lahir, jadi jangan lupa baca petunjuknya dengan benar.  Untuk bayi yang belum dapat menegakkan kepala, gendongan juga harus dapat mensupport kepalanya dengan baik.
  • Posisi bayi di dalam gendongan.
    Dagu penggendong harus cukup dekat dengan kepala bayi sehingga dapat mudah mencium kepala bayi. Selain itu perhatikan posisi yang sehat untuk panggul bayi. Posisi yang direkomendasikan pada gendongan ala kangguru yaitu bayi seperti duduk dengan kaki terbuka lebar dan bukan menggantung.

Mengapa tidak boleh menggantung? 

Sejak di dalam kandungan bayi sudah terbiasa dalam posisi kaki yang menekuk (fleksi). Selama beberapa bulan awal kelahiran posisi kaki bayi secara natural adalah fleksi. Jika kaki bayi dipaksa untuk lurus terlalu dini, dapat menyebabkan displasia bahkan dislokasi panggul. Sehingga posisi terbaik saat menggendong adalah membiarkan panggul (hip) dengan posisi lebar yang disangga oleh paha. Posisi ini disebut juga jockey position, straddle position, frog position, spread-squat position atau human position. Posisi tersebut penting untuk menyokong perkembangan normal panggul bayi.

Sedangkan posisi yang sangat tidak sehat untuk panggul bayi dan balita adalah kebalikan dari posisi alami janin yakni ketika kaki lurus (ekstensi) dengan panggul dan lutut yang juga lurus. Jika posisi ini dilakukan dalam waktu lama, maka risiko terjadinya displasia dan dislokasi panggul semakin besar.

  • Pastikan jalan nafas bayi lancar saat menggunakan gendongan.
    Wajah bayi tidak boleh tertekan oleh gendongan, tubuh penggendong maupun pada baju. Saat bayi di dalam gendongan, orang tua harus dapat melihat mata dan wajah bayi, begitu juga sebaliknya. Dagu bayi juga tidak tertekan ke arah dada dan kaki bayi tidak boleh menekan perutnya. Hal ini dapat mengganggu pernafasan bayi.
  • Untuk bayi prematur atau dalam pengobatan medis konsultasikan ke dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan menggendong ala kangguru karena risiko kurang oksigen akibat sesak pada gendongan lebih besar. Selain itu pemakaian pada bayi yang berusia kurang dari 4 bulan juga harus lebih hati-hati.
  • Selama menggendong pastikan posisi bayi telah sesuai dan ergonomis.
  • Cek posisi dan keadaan bayi secara berkala.
  • Selalu pastikan semua perangkat gendongan (kancing, buckles, dsb) dalam kondisi yang baik saat digunakan.
  • Jangan gunakan gendongan bayi yang terlalu ketat yang dapat menyebabkan sesak dan bayi kepanasan (overheating)
  • Jangan gunakan gendongan bayi yang terlalu longgar yang berisiko menyebabkan bayi jatuh.
  • Segera kenali tanda tidak nyaman dan sesak pada bayi Anda.
  • Saat melepas gendongan, bayi harus terposisi dan tersangga dengan baik.
  • Hati-hati terhadap risiko jatuh, sesak nafas, kepanasan dan displasia panggul pada penggunaan gendongan yang tidak tepat.

Apapun merknya, pilihlah gendongan bayi yang sesuai dengan syarat kesehatan serta selalu membaca petunjuk pemakaian dengan benar.

Semoga bermanfaat.
Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/15/2015

Sumber:
1. Baby carriers, slings and backpacks: safety guide.
http://m.raisingchildren.net.au/articles/baby_slings_carriers_safety.html [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://m.raisingchildren.net.au/articles/baby_slings_carriers_safety.html
2. Baby slings and carriers. [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://healthycanadians.gc.ca/healthy-living-vie-saine/infant-care-soins-bebe/slings-porte_bebes-eng.php
3. How to buy a baby carrier. [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://www.babycenter.com/how-to-buy-a-baby-carrier?page=2
4. Infant and Child Hip Dysplasia ; Baby Carriers, Seats, & Other Equipment. [cited 2015 Sept 11]. Available from : http://hipdysplasia.org/developmental-dysplasia-of-the-hip/prevention/baby-carriers-seats-and-other-equipment/

Gambar :
http://hipdysplasia.org/developmental-dysplasia-of-the-hip/prevention/baby-carriers-seats-and-other-equipment/

Cegah Sindroma Rubella Kongenital (SRK) dengan Imunisasi MMR

Penyakit rubella atau yang disebut juga campak jerman mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Pada orang hamil penyakit ini akan menjadi perhatian. Mengapa begitu ? Yuk kita kenali lebih dekat si virus rubella ini.

Sekilas Tentang Rubella 

Virus rubella ini dapat menular lewat udara dari seseorang yang terinfeksi rubella. Gejala tertularnya penyakit ini antara lain adanya demam sumeng-sumeng, ruam, lemah, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pembesaran kalenjar getah bening, nyeri sendi, namun pada sekitar 25-50% infeksinya tidak bergejala. Meskipun demikian orang yang tidak bergejala ini juga dapat menularkan ke orang lain.

Pada orang dewasa yang tidak hamil, sebenarnya penyakit ini tidak berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun bagaimana jika sang ibu hamil yang terinfeksi rubella ? Infeksi rubella yang terjadi saat konsepsi dan kehamilan sangat berbahaya bagi janin dan dapat menyebabkan Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital (SRK) ialah kecacatan janin akibat infeksi rubella pada ibu. Kecacatan yang terjadi dapat beragam antara lain tuli  (58%); gangguan pada penglihatan dapat berupa katarak, glaukoma, retinopati (43%); penyakit jantung bawaan, keguguran, lahir mati, lahir prematur gangguan pada sistem saraf pusat, retardasi mental, kuning pada bayi, dan berbagai gangguan lainnya.

X2604-R-26

Sindroma Rubella Kongenital

Resiko keparahan SRK ini juga bergantung pada usia kehamilan saat ibu mengalami infeksi. Risiko Sindroma Rubella Kongenital tertinggi jika infeksi rubella terjadi pada trimester pertama mencapai 85%. Sedangkan pada minggu ke 13-16 kehamilan risikonya menurun menjadi 54%, dan setelah minggu ke 20 kehamilan risiko tersebut semakin kecil.

Bagaimana mencegah infeksi rubella?

Kekebalan terhadap rubella bisa didapatkan melalui imunisasi atau adanya riwayat infeksi dimasa lampau. Imunisasi rubella di Indonesia diberikan dalam bentuk kombo yakni imunisasi MMR yang merupakan gabungan dari vaksin measles (campak)-mumps (gondong)-rubella. Imunisasi MMR saat ini sudah direkomendasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk diberikan pada usia 15 bulan dan 5 tahun.

mmr10a

Imunisasi sejatinya bukan hanya dapat dilakukan pada bayi dan anak, namun beberapa vaksin juga memang diperuntukkan untuk dewasa apabila saat kecil Ibu belum mendapatkannya. Salah satunya imunisasi MMR. Sebagai persiapan sebelum menikah atau sebelum hamil, sebaiknya dilakukan 1 atau 2 dosis vaksin MMR. Vaksin MMR merupakan jenis vaksin hidup sehingga tidak boleh disuntikkan pada wanita hamil, dan harus diingat bahwa bunda harus menunda kehamilan minimal 1 bulan setelah imunisasi MMR (rekomendasi ACIP). Ibu menyusui bukanlah kontraindikasi untuk vaksin ini, sehingga dapat diberikan kapan pun setelah Ibu melahirkan.

Untuk jenis vaksin hidup, dosis kedua bukanlah booster sepertihalnya jenis vaksin mati. Seperti MMR, dosis kedua sebenarnya bukanlah booster. Namun sekitar 2-5% orang tidak terbentuk kekebalan setelah suntikan pertama MMR, sehingga suntikan kedua diharapkan dapat memberikan kembali kesempatan untuk membentuk kekebalan/ antibodi. Namun sayangnya diperlukan pemeriksaan darah untuk memastikan terbentuk atau tidaknya antibodi, sehingga pada anak-anak usia sekolah, traveler, tenaga kesehatan dan orang dengan risiko tinggi tertular penyakit tersebut direkomendasikan untuk mendapatkan 2 dosis MMR. Setelah dosis ke 2 ini, sekitar 99% terdeteksi antibodi terhadap campak, rubella dan gondong.

Siapa sajakah yang tidak boleh mendapatkan imunisasi MMR?

  • Ibu hamil
  • Riwayat anafilaksis pada pemberian neomisin
  • Riwayat alergi hebat terhadap komponen vaksin atau saat pemberian vaksin MMR sebelumnya
  • Orang dengan imunitas rendah seperti penderita leukemia, AIDS.

Untuk Anda yang sedang masa persiapan pernikahan, setelah melahirkan, atau persiapan kehamilan berikutnya namun belum pernah mendapatkan Imunisasi MMR, yuk segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan suntikan MMR. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/07/2015

Sumber :

1. Dontygni, Lorraine., Arsenault, M., Martel, M. Rubella in Pregnancy.[cited 2015 Agust 18]. Available from : http://sogc.org/wp-content/uploads/2013/01/guiJOGC203CPG0802.pdf
2. Ezike, Elias. Pediatric Rubella. [cited 2015 Agust 18]Available from http://emedicine.medscape.com/article/968523-overview
3. Measles Mumps and Rubella. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/askexperts/experts_mmr.asp
4. McLean, Huong., Redd, Susan., Abernathy, Emily., Icenogle, Joseph ., Wallace, Gregory VPD Surveillance Manual. Chapter 14 : Rubella. 5th Edition, 2012. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt14-rubella.html#vaccination
5. MMR Vaccine : What You Need to Know. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/vis/mmr.pdf
6. Prevention of Measles, Rubella, Congenital Rubella Syndrome, and Mumps, 2013: Summary Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Recommendations and Report/ Vol.62/No.4. June 14, 2013. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr6204a1.htm
7. Rubella: Questions and Answers. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.immunize.org/catg.d/p4218.pdf
8. Rubella (German measles) during pregnancy. [cited 2015 Agust 21]Available from http://www.babycenter.com/0_rubella-german-measles-during-pregnancy_9527.bc

Gambar :
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Rubella,+congenital+syndrome
iio876http://www.tulsa-health.org/sites/default/files/styles/section_thumb/public/page_images/7_AdultImmuniz-21830648-iStock_000021830648Small.jpg?itok=5TjYS7RR

http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/02/04/mmr10a.jpg

Tanya Jawab Seputar Imunisasi

Saat praktek sering sekali muncul pertanyaan dari orangtua seputar imunisasi. Dalam kesempatan kali ini, kami coba rangkumkan pertanyaan umum seputar jadwal, cara pemberian dan keluhan umum saat imunisasi. Mari disimak ya 🙂

Apakah boleh imunisasi saat sedang batuk dan pilek?

Boleh, sakit ringan seperti batuk, pilek, demam yang tidak tinggi (low grade fever), sebenarnya bukan penghalang atau kontraindikasi untuk imunisasi.  Namun jika anak Anda terlihat sakit sedang atau berat, imunisasi dapat ditunda.

Anak saya sudah mendapatkan suntikan kedua hepatitis B pada usia 1 bulan, dokter menjadwalkan suntikan selanjutnya usia 6 bulan. Namun karena lupa, suntikan kedua belum dilakukan, sekarang anak saya berusia 11 bulan. Apakah harus mengulang suntikan hepatitis B dari awal dan tetap efektif?
Imunisasi tidak perlu diulang, segera lanjutkan imunisasi yang sudah dilakukan. Interval yang memanjang ini juga tidak mengurangi keefektifan dari vaksin setelah seri dosis terlengkapi.

Suntikan DPT pertama tanggal 10 Februari 2014, suntikan kedua dijadwalkan 20 Maret 2014. Apakah boleh datang sebelum atau setelah tanggal 20 Maret?
Boleh, minimal jeda antar vaksin yang sama 4minggu (28 hari).

Anak saya mendapatkan suntikan Hib kedua hanya berjarak 26 hari dari suntikan Hib sebelumnya, haruskah diulang?

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan bahwa dosis vaksin yang diberikan hingga 4 hari sebelum usia minimum dan interval minimum tidak perlu diulang ( kecuali vaksin rabies). Namun jika >4 hari, tidak akan dihitung sebagai dosis yang valid dan harus diulang. Pada kasus ini karena merupakan vaksin inaktif dan jaraknya 26 hari tetap dihitung sebagai dosis ke 2. Namun ketika melakukan imunisasi harus selalu memperhatikan usia minimum dan jeda minimum ( 28 hari). Untuk vaksin hidup pastikan jeda yang diberikan 28 hari ya Ayah Bunda.

Untuk bayi dengan berat BB 2,3 kg apakah boleh diberikan vaksin hepatitis B?
Boleh, untuk hepatitis B minimal berat badan bayi 2 kg agar didapatkan respon imun yang bagus.

Anak saya mendapatkan imunisasi Hepatitis B hingga 4x, apakah berbahaya?
Tidak berbahaya.

Untuk imunisasi MMR apakah dapat menyebabkan autis dan harus menunggu anak bisa bicara dulu? 
MMR tidak menyebabkan autis dan tidak perlu menunggu anak lancar berbicara. Jadwal yang direkomendasikan IDAI yakni usia 15 bulan dan dosis kedua pada usia 5 tahun.

Apakah boleh menggunakan vaksin dengan merk-merk berbeda-beda, misalnya DPT pertama dengan infarix, DPT ke 2 dengan pentabio?
Sebisa mungkin sebaiknya menggunakan merk yang sama, namun jika merk vaksin yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak tersedia, merk vaksin yang berbeda dapat digunakan melengkapi seri dosis. Prinsip vaksin secara umum : ketidaktahuan atau ketidaksediaan merek yang sama bukan alasan menunda imunisasi.  Vaksin Hib sediaan tunggal ( bukan kombo), hepatitis B dan hepatitis A boleh berganti merk.

Apakah boleh dan aman menyuntikan beberapa vaksin di waktu kunjungan yang aman?
Ya, aman. Semua vaksin dapat diberikan secara bersamaan (simultan) dengan vaksin lain. Hanya pada keadaan khusus yaitu asplenia fungsional atau anatomi, vaksin PCV 13 dan meningococcal conjugate vaccine diberikan secara terpisah dengan selang 4 minggu.

Jika vaksin disuntikkan tidak pada kunjungan yang sama, berapa jeda minimal antar vaksin? 
Untuk vaksin inaktif ( hepatitis B, PCV, Hib, DPT-IPV) dapat diberikan kapanpun setelah suntikan vaksin mati maupun vaksin hidup. Misalnya tanggal 1 Agustus diberikan vaksin PCV, selanjutnya boleh diberikan tanggal berapapun untuk vaksin inaktif lainnya atau vaksin hidup.

Untuk jenis vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan intranasal influenza dapat diberikan bersamaan di hari yang sama. Jika diberikan di hari yang berbeda minimal jeda antar vaksin hidup adalah 4 minggu (28hari). Misal tanggal 1 Agustus diberikan vaksin varicella, jika ingin diberikan vaksin MMR dihari yang berbeda minimal jeda 28 hari, yakni 29 Agustus atau setelahnya. Namun jika vaksin selanjutnya yang diberikan adalah jenis vaksin inaktif dapat diberikan kapanpun misal tanggal 2 Agustus.

Berat badan anak saya saat ini sudah 5 kg, apakah saat ini sudah boleh imunisasi DPT yang ke 2?
Boleh tidaknya bergantung pada jadwal imunisasi, usia dan keadaan bayi. Bukan berat badan si bayi harus mencapai angka tertentu untuk mendapatkan imunisasi ke 2, ke 3, dst.

Apabila sebelumnya menggunakan vaksin PCV 7, selanjutnya menggunakan PCV 10 atau PCV13?
Saat ini PCV 7 (prevenar 7) telah diganti menjadi PCV 13( prevenar 13) yang lebih banyak strain kumannya, sedangkan PCV 10 merupakan merk yang berbeda (synflorix) dengan prevenar 13. Jika sebelumnya menggunakan PCV 7 selanjutnya dapat menggunakan PCV13.

Anak saya sekarang berusia 1 tahun dan belum pernah diimunisasi sama sekali, apakah masih bisa diimunisasi sekarang?
Masih, segera konsultasi ke dokter ya Bu untuk mengejar (catch up) imunisasi yang tertinggal.

Semoga bermanfaat.

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Imunisasi Anak Terbaru Menurut IDAI

Seiring mendekati waktu persalinan, Ayah Bunda semakin sibuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan bagi sang buah hati, nama yang indah dan terbaik, mempelajari berbagai ilmu merawat bayi, menyusui, ASI ekslusif . Namun jangan lupa mempelajari jadwal imunisasi juga ya. Setelah kelahiran si kecil, akan ada rutinitas baru yang Ayah Bunda akan sering lakukan yakni imunisasi.

Apa itu imunisasi?

Imunisasi aktif atau yang disebut juga vaksinasi berarti memasukkan zat (vaksin) untuk merangsang tubuh untuk membentuk antibodi atau kekebalan. Selain melalui vaksinasi, kekebalan aktif ini dapat timbul secara alami jika terkena penyakit tertentu.

Vaksin Aktif vs Vaksin Inaktif

Secari garis besar, terdapat jenis vaksin aktif atau kuman hidup yang dilemahkan seperti vaksin BCG, polio oral, rotavirus, tifoid, varicella (cacar air), campak, MMR ( campak, gondong, rubella) dan vaksin inaktif seperti vaksin DPT, Polio suntik (IPV), PCV, Hib, Hepatitis B, Hepatitis A.

Untuk vaksin inaktif (inactivated vaccines), jangan heran bila si kecil akan diberikan beberapa kali suntik dalam jeda waktu tertentu untuk jenis vaksin yang sama. Biasanya dosis pertama belumlah memberikan efek perlindungan (kecuali untuk vaksin hepatitis A). Respon imun perlindungan baru akan timbul setelah dosis ke 2 atau ke 3.

Vaksin inaktif seperti vaksin DPT, titer atau kadar antibodi dapat berkurang ke level tidak protektif setelah beberapa tahun sehingga diperlukan booster (tambahan dosis) dalam periode tertentu untuk meningkatkan kadar antibodi agar bersifat protektif. Namun tidak semua vaksin inaktif memerlukan booster, misalnya saja hepatitis B yang tidak memerlukan booster setelah 3 dosis terlengkapi, atau vaksin Hib yang hanya memerlukan 3x suntikan primer dan 1 kali booster pada usia 12-15 bulan, karena penyakit Hib sangat jarang diderita anak usia lebih dari 5 tahun.

Berbeda dengan vaksin inaktif, untuk vaksin hidup yang disuntikkan (live injected vaccines) akan bersifat tahan lama dan tidak memerlukan booster. Biasanya pada suntikan pertama telah mampu membentuk kekebalan pada tubuh, namun beberapa vaksin hidup seperti MMR direkomendasikan diberikan 2 dosis karena sekitar 2-5% orang tidak membentuk kekebalan sehingga diharapkan pada suntikan ke 2 akan terbentuk kekebalan atau antibodi.

Vaksin Subsidi vs Vaksin Berbayar

Dari segi biaya, ada dua macam imunisasi yakni disubsidi dan yang berbayar. Imunisasi yang gratis ini disubsidi pemerintah dan bisa Ayah Bunda dapatkan di puskesmas atau posyandu setempat. Sedangkan untuk imunisasi yang berbayar bisa didapatkan di rumah sakit atau klinik. Imunisasi yang saat ini disubsidi pemerintah antara lain BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, Hib, dan Campak.

Imunisasi yang tidak disubsidi bukan berarti tidak penting ya, karena saat ini hampir semua imunisasi direkomendasikan. Tak jarang ada yang mengatakan , `imunisasi yang wajib atau penting hanya imunisasi yang disubsidi`, padahal anggapan itu salah. Vaksin yang berbeda tentu akan mencegah penyakit yang juga berbeda. Meskipun imunisasi tidak mencegah 100% penyakit, namun jika terkena akan mengurangi keparahan penyakit tersebut. Yuk kita lihat apa saja dan kapan sih jadwal untuk imunisasi si kecil.

Tabel Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2014

Jadwal Imunisasi Anak

Usia 0 bulan : Hepatitis B-1, Polio-0, BCG
Usia 1 bulan : Hepatitis B-2
Usia 2 bulan : Polio-1, DPT-1, PCV-1, Hib-1, Rotavirus-1
Usia 4 bulan : Polio-2, DPT-2, PCV-2, Hib-2, Rotavirus-2
Usia 6 bulan : Polio-3, DPT-3, PCV-3, Hib-3, Rotavirus-3. Untuk vaksin rotavirus diberikan 3x jika vaksin yang digunakan merk rotateq, jika merk rotarix cukup 2x.
Usia 9 bulan : Campak-1
Usia 12 bulan : PCV-4, Varicella
Usia 15 bulan : Hib-4, MMR-1
Usia 18 bulan : Polio-4, DPT-4
Usia 24 bulan : Campak-2
Usia 2 tahun : Hepatitis A (diberikan 2x selang 6-12 bulan), Tifoid ( ulangan setiap 3 tahun)
Usia 5 tahun : DPT-5, Polio-5, MMR-2
Usia 10 tahun : Td, HPV (diberikan 3 kali)
Usia 18 tahun : Td

Bagaimana jika imunisasi terlalu cepat atau tidak sama dengan jadwal?

Pada dasarnya setiap jenis vaksin memiliki jeda/ interval minimal maupun yang direkomendasikan serta usia minimum dan direkomendasikan. Minimal jeda antar vaksin yang sama adalah 4 minggu (28 hari), sedangkan usia minimum berbeda-beda bergantung pada jenis dan jadwal imunisasi ke berapa.

Setiap vaksin sebaiknya diberikan tidak jauh dari jadwal yang direkomendasikan, serta tidak diberikan pada kurang dari minimal interval/jeda dan usia minimumnya. Pemberian vaksin yang kurang dari minimal interval akan membuat respon antibodi kurang optimal bahkan menjadi dosis yang invalid.

Pemberian Simultan

Beberapa vaksin dapat diberikan pada kunjungan yang sama atau disebut juga pemberian simultan (kecuali pada anak tertentu dengan kelainan anatomi). Pemberian simultan ini tidak akan mengurangi respon antibodi, jadi tidak perlu ragu untuk memberikan si kecil beberapa imunisasi bersamaan. Namun jika tidak diberikan bersamaan ada sedikit peraturan ya Ayah Bunda.

  • Bila vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin aktif influenza intranasal tidak diberikan pada kunjungan yang sama, maka harus menunggu jeda 4 minggu sebelum vaksin hidup yang lain disuntikkan. Jika jeda kurang dari 4 minggu, vaksin kedua yang disuntikan tidak dihitung (tidak valid) dan harus diulang lagi.
  • Antar dua vaksin inaktif atau antara vaksin inaktif dan vaksin hidup yang tidak diberikan pada kunjungan yang sama, boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda).
  • Antar vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin hidup oral ( tifoid, polio oral. rotavirus) juga boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda)

Semoga bermanfaat..

Arfenda Puntia Mustikawati,dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Bila Baby Blues Melanda

Momen persalinan biasanya identik dengan rasa haru dan bahagia saat menyambut sang buah hati. Namun, terkadang seorang ibu merasa hal sebaliknya setelah melahirkan. Perasaan sedih, ingin menangis tanpa alasan, bingung, bahkan khawatir yang berlebihan. Bila Ibu merasa demikian, mungkin Ibu mengalami sindroma yang dinamakan baby blues.

Bottle with help message

Baby Blues yang membuat lesu

Sindroma Baby Blues memang cukup banyak terjadi yakni sekitar 50-80% dan seringkali ibu tidak menyadarinya. Biasanya timbul pada hari ke 3-4 setelah melahirkan dan umumnya akan menghilang dalam 14 hari.

Ibu yang mengalami sindroma ini akan merasa sedih, bingung, emosi yang labil, khawatir, menangis tanpa alasan, lelah, perubahan mood, sulit tidur, merasa tidak mampu merawat bayi dan berbagai perasaan negatif lainnya.  Perasaan ini dapat terjadi selama beberapa menit hingga beberapa jam setiap harinya. Umumnya gejala ini ringan dan tidak sampai mengganggu kemampuan ibu dalam merawat bayi.

Penyebab di balik Baby blues

Meskipun terkadang seorang ibu sudah siap secara mental menghadapi datangnya anggota keluarga baru, sindroma ini tetap dapat terjadi. Adanya perubahan hormonal drastis pasca melahirkan disinyalir menjadi pernyebab sindroma ini. Selain itu, adanya status baru, perasaan lelah setelah melahirkan dan datangnya anggota keluarga baru, serta kesulitan saat menyusui juga menambah adanya perasaan negatif dan stres pada ibu pasca melahirkan.

Agar Baby Blues tidak berkepanjangan

Ibu memang tidak dapat mencegah perubahan hormonal pasca melahirkan yang menyebabkan sindroma baby blues ini. Namun, Ibu dapat mengatasi sindroma ini agar tidak berlanjut menjadi depresi pasca melahirkan. Misalnya :

  • Ceritakan perasaan-perasaan Anda kepada suami atau orang yang dipercaya. Hal ini akan membuat Anda merasa lebih lega dan tenang.
  • Mintalah dukungan dari suami atau orang terdekat.
  • Sesekali refresing keluar rumah dan menghirup udara segar.
  • Makan makanan yang seimbang. Makan terlalu banyak karbohidrat dapat meningkatkan perubahan emosi (mood swing), selain itu makanan seimbang juga sangat penting bagi ibu menyusui.
  • Mintalah bantuan kepada suami atau anggota keluarga lainnya untuk membantu merawat bayi saat ibu merasa lelah seperti mengganti popok, memandikan bayi, atau menghandle anak-anak yang lain sehingga ibu dapat beristirahat serta menikmati waktu-waktu menyenangkan bersama bayi.
  • Mencoba berpikir positif.
  • Turunkan ekspektasi. Ibu tidak perlu berharap terlalu berlebihan dan perfeksionis terutama di minggu-minggu awal kelahiran, karena Ibu masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan. Pahami juga bahwa ibu sedang belajar menghadapi rutinitas baru. Ekspektasi berlebihan hanya akan menambah beban pikiran dan stres dalam diri Anda.
  • Anda tidak sendirian mengalami perasaan ini, Anda bisa mengikuti support group dari ibu-ibu hamil dan melahirkan yang sama-sama mengalami keadaan pasca melahirkan, yakinkan diri bahwa Anda mampu melalui keadaan ini.

Apabila setelah 2 minggu (14 hari) sindroma ini terus berlanjut, Ibu sebaiknya segera mencari pertolongan ke dokter. Dikhawatirkan kondisi ini berlanjut menjadi depresi pasca melahirkan (postpartum depression). Semoga bermanfaat.

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

08/05/2015

Referensi :

1. Baby Blues. [Internet]. American Pregnancy.org [cited 2015 Agust 04] Available from: http://americanpregnancy.org/first-year-of-life/baby blues/tt
2. Baby Blues ; Healthwise Medical Information on [Internet]. eMedicineHealth [cited 2015 Agust 04] Available from: http://www.emedicinehealth.com/baby_blues-health/article_em.htm
3. Joy, Saju. Postpartum depression.   [cited 2015 Agust 05] Available from:
http://reference.medscape.com/article/271662-overview#a4
4. The Baby Blues. [cited 2015 Agust 05] Available from: http://www.babycenter.com/0_the-baby-blues_11704.bc

Gambar di unduh dari :

http://www.newbornhub.com/images/ppd.

jpghttp://i2.wp.com/www.postpartumprogress.com/wp-content/uploads/postpartum-depression-guide-help1.jpg?resize=850%2C565