Author Archives: Diana Andarini

Nutrisi Bayi Prematur

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa baik tidaknya tumbuh kembang bayi prematur sangat tergantung dari asupan nutrisi. Pertumbuhan yang baik, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupannya, akan membawa dampak yang sangat positif pada perkembangan bayi prematur. Kekurangan nutrisi pada masa tersebut dapat menyebabkan tidak optimalnya perkembangan saraf, gagal tumbuh (growth failure), kerapuhan tulang (osteopenia of prematurity), meningkatnya risiko infeksi, dan komplikasi lainnya.

Mengenal bayi prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi prematur biasanya memiliki berat badan yang lebih rendah dari bayi cukup bulan. Hal ini dikarenakan bayi lahir pada usia 22-37 minggu di saat tubuh bayi sedang berkembang pesat. Pada bayi cukup bulan, beratnya saat lahir dapat mencapai hingga 5x lipat berat saat usia kehamilan 24 minggu. Kategori bayi prematur berdasarkan berat badannya yaitu:

  • Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bila berat bayi < 2500 gram
  • Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) <1500 gram
  • Berat badan rendah extrim (extremely low birth weight) bila berat bayi <1000 gram.

Selain berat badan yang rendah, fungsi organ tubuh bayi prematur belum sempurna. Oleh sebab itu, bayi prematur biasanya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit saat lahir. Perawatan intensif di rumah sakit juga bertujuan untuk mengontrol jumlah asupan nutrisi agar bayi bisa tumbuh optimal.

Apakah kebutuhan asupannya berbeda dengan bayi cukup bulan?

Pada umumnya kebutuhan energi bayi prematur lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan. Kebutuhan energi bayi cukup bulan 80-90kal/kg/hari; sedangkan kebutuhan energi pada bayi prematur bervariasi tergantung kondisi kesehatannya, yaitu  sekitar 100-120 kal/kg/hari sampai 160-180 kal/kg/hari.

Apabila kebutuhan energi bayi prematur dari karbohidrat dan lemak tidak tercukupi, tubuhnya akan mengambil protein sebagai sumber energi. Hal ini tidak baik bagi bayi prematur karena protein dibutuhkan untuk pertumbuhan serta perbaikan sel-sel dalam tubuh. Protein juga sangat penting bagi pertumbuhan otak dan kecerdasan. Kekurangan protein dapat menyebabkan penurunan kecerdasan. Selain itu, kekurangan protein pada bayi prematur dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan fungsi ginjal. Ginjal yang kecil dan kurang baik perkembangannya ini dapat menyebabkan darah tinggi saat dewasa.

Apakah kebutuhan cairan juga perlu di kontrol?

Tentu. Komposisi cairan pada tubuh bayi prematur sekitar 90%. Komposisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bayi cukup bulan dan orang dewasa, yaitu 75% dan 60%. Karena besarnya komposisi cairan pada bayi prematur maka kecukupan asupan cairan sangat penting. Pada hari pertama kehidupan bayi prematur membutuhkan asupan cairan sekitar 80-105 mL/kg/hari. Kebutuhan cairan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, pemberian cairan tergantung kondisi bayi tersebut. Jika bayi memiliki kelainan jantung misalnya, pemberian cairan harus dibatasi agar tidak membebani jantung. Sebaliknya, jika bayi menjalani fototerapi atau suhu tubuhnya meningkat, maka pemberian cairan harus ditambah untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan.

Hal yang patut diingat yaitu fungsi ginjal pada bayi prematur belum sempurna, sehingga bayi prematur lebih rentan kekurangan atau kelebihan cairan. Kurangnya cairan dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit dan hipotensi. Kelebihan cairan dapat menyebabkan edema/bengkak, gagal jantung, dan infeksi usus. Tapi orangtua tidak perlu khawatir, karena dokter spesialis anak yang menangani pastilah telah menghitung dengan rinci kebutuhan cairan ini selama perawatan intensif di rumah sakit.

Manakah yang baik, ASI atau Susu Formula?

ASI lebih direkomendasikan bagi bayi prematur. ASI bayi prematur berbeda dengan ASI bayi cukup bulan. Di dalam ASI bayi prematur terdapat kandungan protein, lemak, asam amino bebas, dan sodium yang lebih tinggi. Selain kandungan nutrisi yang baik, ASI juga mengandung imunoglobulin, prebiotik dan probiotik, jarang menimbulkan masalah pencernaan, melindungi dari infeksi dan peradangan, serta baik bagi perkembangan saraf bayi.

Susu formula dapat diberikan pada kondisi berikut ini. Susu formula yang diberikan yaitu formula khusus bayi prematur. Dalam jangka pendek, bayi prematur yang diberikan susu formula mengalami kenaikan berat badan yang lebih cepat. Namun, terdapat risiko munculnya gangguan saluran pencernaan (feeding intolerance) serta infeksi saluran pencernaan (necrotising enterocolitis).

Pemberian ASI pada bayi prematur sehat

Pemberian ASI disesuaikan dengan kemampuan bayi untuk menyusu, yang bergantung pada kematangan fungsi refleks hisap dan menelan.

  • Bayi dengan usia kehamilan ibu >34 minggu (berat badan >1800 gram) memiliki refleks hisap dan menelan yang cukup baik, sehingga dapat disusukan langsung kepada ibu.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu 32 – 34 minggu (berat badan 1500-1800 gram) memiliki refleks menelan cukup baik, namun refleks menghisap masih kurang baik. Ibu dapat memerah ASI, kemudian ASI diberikan ke bayi dengan menggunakan sendok, cangkir, atau pipet. Bayi prematur dengan berat badan >1500 gram membutuhkan ASI 150-220ml/kgBB/hari, rata-rata 180ml/kgBB/hari. ASI yang diberikan sebaiknya ditambahkan human milk fortifier. Jika tidak ditambahkan human milk fortifier, maka bayi membutuhkan suplemen vitamin (A,D,C,B), zat besi, asam folat, fosfat dan sodium.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu <32 minggu (berat badan 1250-1500 gram), belum memiliki refleks hisap dan menelan yang baik, maka ASI perah diberikan dengan menggunakan pipa lambung/orogastrik (sonde).

Pemberian ASI pada bayi prematur sakit

Bayi prematur yang memiliki berbagai masalah pada organ-organ tubuhnya, perlu dirawat di NICU. Lamanya dirawat di NICU bervariasi tergantung kondisi kesehatan bayi Ibu. Ada yang 2 minggu, sebulan, bahkan lebih.

Bagi bayi prematur dengan berat <1250 gram, memiliki berbagai masalah kesehatan serta kondisinya belum stabil, maka nutrisi diberikan melalui cairan infus yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan nutrisi lainnya selama 24-48 jam pertama.

Jika kondisi bayi prematur sudah stabil, saluran pencernaannya sudah siap, maka bayi dapat mulai diberikan nutrisi lewat saluran pencernaan (trophic feeding) 10 mL/kgBB/24 jam. Jika bayi sudah dapat menoleransi pemberian minum, maka jumlah minum dapat dinaikkan sambil menurunkan pemberian nutrisi melalui cairan infus.

Pemberian nutrisi melalui saluran cerna akan mengaktifkan enzim-enzim yang penting untuk pencernaan, berkembangnya vili-vili usus serta flora normal usus yang mampu mencegah infeksi.

Jika kondisi bayi lebih baik, sudah tidak perlu alat bantu nafas, dokter sudah menyatakan aman untuk disusui langsung, maka Ibu bisa menyusui langsung bayi Ibu. Kiat menyusui bayi prematur bisa dilihat disini. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan dan saran dari dokter dan perawat NICU agar Ibu bisa menyusui bayi prematur dengan baik.

Apakah ada pantangan makan dan minum Ibu yang menyusui bayi prematur?

Ibu yang menyusui bayi prematur harus menjaga asupan nutrisinya. Makanlah makanan yang bervariasi dan bergizi. Hindari minuman beralkohol. Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila ada obat-obatan yang harus Ibu minum selama menyusui (misalnya obat psikotropika, antibiotik).

Bagaimana cara mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup?

Tanda bayi cukup ASI selengkapnya bisa dilihat disini. Selain itu, pertumbuhan bayi perlu diukur untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup. Salah satu indikator pertumbuhan yaitu kenaikan berat badan. Semua bayi akan mengalami penurunan berat badan selama 1 minggu setelah lahir. Namun penurunannya tidak boleh melebihi 5-10% pada bayi cukup bulan, dan 15-20% pada bayi prematur dari berat lahir. Biasanya pada minggu kedua atau ketiga, berat badan bayi akan naik lagi ke berat badan awal. Selain berat badan, panjang badan dan lingkar kepalanya juga perlu diukur. Grafik pertumbuhan yang dipakai sama seperti bayi cukup bulan, yaitu grafik pertumbuhan CDC dan WHO. Bedanya, bayi prematur menggunakan usia koreksi untuk grafik tersebut.

 

Cara menghitung usia koreksi

Rumusnya:

40 minggu – usia kehamilan Ibu saat melahirkan = faktor koreksi.

Usia bayi sekarang (usia kronologis) – faktor koreksi = usia koreksi.

 

Contoh

Bayi A saat ini berusia 4 bulan (usia kronologis). Bayi A lahir saat usia kehamilan Ibunya 28 minggu. Berapa usia koreksi bayi A?

Jawab

40 minggu – 28 minggu = 12 minggu (faktor koreksi) = 3 bulan.

4 bulan – 3 bulan = 1 bulan. Usia koreksi bayi A yaitu 1 bulan. Maka, pertumbuhan bayi A saat ini diukur sebagai bayi berusia 1 bulan.

 

Cara menggunakan grafik pertumbuhan selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Sebagian besar bayi prematur dapat “mengejar” pertumbuhan (catch-up growth) seperti bayi lainnya yang cukup bulan. Fase mengejar pertumbuhan ini biasanya muncul di awal masa kanak-kanak yaitu saat balita, namun ada juga yang baru muncul di akhir mendekati masa dewasa. Jika fase ini sudah tercapai, maka usia koreksi tidak lagi dibutuhkan untuk mengukur pertumbuhan anak yang lahir prematur. Pertumbuhan anak tersebut diukur sesuai dengan usia kronologisnya.

 

Bagaimana bila ASI yang diberikan tidak cukup?

Ibu tidak perlu khawatir. Langkah pertama yaitu menghubungi konselor laktasi untuk mengetahui penyebab kurangnya ASI dan menemukan solusinya. Apabila setelah konsultasi tersebut ASI masih tidak mencukupi, bayi dapat diberikan suplemen nutrisi (human milk fortifier) yang dicampurkan ke ASI, atau bayi mendapat ASI tambahan dari donor. Jika semua cara sudah dicoba namun pertumbuhan bayi kurang baik, maka dapat diberikan susu formula khusus bayi prematur sesuai kebutuhan.

 

Mba Tina, aku perlu nambahin tentang feeding intolerance juga ga?

 

Kesimpulan

Nutrisi bayi prematur dalam beberapa bulan awal kehidupannya sangat penting bagi pertumbuhannya saat ini dan saat dewasa nanti. Jika kondisi bayi prematur belum baik, pemberian nutrisi dapat melalui cairan infus yang diatur oleh dokter. Jika kondisi bayi sudah baik, maka ASI merupakan pilihan pertama bagi bayi prematur, kecuali ada hal-hal yang membuat Ibu tidak bisa memberikan ASI dengan optimal. Dalam hal ini, bayi prematur dapat diberikan ASI dari donor maupun susu formula khusus untuk bayi prematur. Nutrisi yang baik akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur yang baik pula. Sehingga bayi prematur dapat memiliki masa depan yang sama cerahnya dengan bayi yang lahir cukup bulan.

 

Referensi

 

Underwood MA. Human milk for the premature infant. Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 189–207.

 

Hay WW, Jr. Aggressive nutrition of the preterm infant. Curr Pediatr Rep. 2013 Dec; 1(4): 10.1007/s40124-013-0026-4.

 

Hay WW, Thureen P.  Protein for preterm infants: how much is needed? How much is enough? How much is too much? Pediatrics & Neonatology. 2010 August; 51(4): 198-207.

 

Jennifer E. McGowan JE, Alderdice FA, Holmes VA, Johnston L. Early Childhood development of late-preterm infants: a systematic review. Pediatrics. 2011 June; 127(6): 1111-24.

Ambalavanan N, Rosenkrantz T. Fluid, Electrolyte, and Nutrition Management of the Newborn. Feb 28, 2014. [cited Maret 2017] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/976386-overview

Belfort MB, Rifas-Shiman SL, Sullivan T, et al. Infant growth before and after term: effects on neurodevelopment in preterm infants. Pediatrics. 2011 October; 128(4): 899-906.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 43, Medical nutrition therapy for low birth weight infants; p.1118-38.

 

Quigley M, McGuire W. Formula versus donor breast milk for feeding preterm or low birth weight infants. The Cochrane Library. 2014 Jan 1. DOI:10.1002/14651858.CD002971.pub3.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 5, Nutrition during pregnancy and lactation; p.184-93.

 

Colaizy TT, Morriss FH. Positive effect of NICU admission on breastfeeding of preterm US infants in 2000 to 2003. Journal of Perinatology. 2008 February; 28: 505–510.

 

Innis SM. Impact of maternal diet on human milk composition and neurological development of infants. Am J Clin Nutr. 2014 March 20; 99(3): 734S-741S.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 29, Medical nutrition therapy for food allergy and food intolerance; p.759-61.

World Health Organization. Feeding of low-birth-weight infants in low- and middle-income countries. 2011. [cited April 2017] Available from:

http://www.who.int/elena/titles/full_recommendations/feeding_lbw/en/

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pemberian Asi Pada Bayi Lahir Kurang Bulan. Aug 27, 2013. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-asi-pada-bayi-lahir-kurang-bulan

Great Ormond Street Hospital for Children. Nutrition: enteral nutrition for the preterm infant. March 24, 2016. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.gosh.nhs.uk/health-professionals/clinical-guidelines/nutrition-enteral-nutrition-preterm-infant

Mapping KLB Difteri

Tanya Jawab Seputar Imunisasi ORI (Outbreak Response Immunization)

Sejak 1 Januari 2017 sampai 4 November 2017, telah ditemukan sebanyak 591 kasus Difteri, dengan 32 kematian di 95 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia. Pada minggu ke-4 bulan November 2017, tampak pada gambar di atas bahwa telah terjadi KLB difteri di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sampai dengan 25 Desember 2017 Kementerian Kesehatan telah mengumpulkan data epidemiologis KLB Difteri. Saat ini terdeteksi sebanyak 907 kasus (kumulatif selama tahun 2017) dimana 44 di antaranya meninggal dunia. Kasus dilaporkan ada di 164 Kabupaten kota dari  29 provinsi.

KLB Difteri pada saat ini memiliki gambaran yang berbeda daripada KLB sebelumnya yang pada umumnya menyerang anak Balita. KLB kali ini ditemukan pada kelompok umur 1 – 40 tahun dimana 47% menyerang anak usia sekolah (5 – 14 tahun) dan 34% menyerang umur di atas 14 tahun. Data tersebut menunjukkan proporsi usia sekolah dan dewasa yang rentan terhadap difteri cukup tinggi.

Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Selain itu, pengetahuan penduduk tentang pentingnya imunisasi masih minim pada daerah yang tidak terjangkau fasilitas kesehatan. Munculnya KLB difteri berkaitan dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Immunity gap ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

 

Apa yang dilakukan pemerintah menghadapi KLB Difteri?

Untuk menanggulangi KLB difteri ini, Kementrian Kesehatan Indonesia melakukan ORI (Outbreak Response Immunization). Setiap anak usia 1-19 tahun wajib diberikan imunisasi DPT tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Imunisasi DPT diberikan gratis melalui Puskesmas maupun RSUD. ORI kali ini dimulai sejak 11 Desember 2017 pada 12 Kabupaten/Kota di  3 propinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Ketiga provinsi tersebut dipilih sebagai tahap awal ORI, karena penularan difteri yang cepat dan padatnya jumlah penduduk, serta tingginya mobilisasi di ketiga provinsi tersebut. ORI dilakukan 3 putaran. Jarak pemberian putaran pertama dan kedua adalah 1 bulan, sedangkan jarak antara putaran kedua dan ketiga adalah 6 bulan. Putaran pertama dilaksanakan pada 11 Desember 2017, dilanjutkan pada 11 Januari dan 11 Juli 2018.

 

 

Apa yang dapat dilakukan masyarakat?

  • Kenali gejala difteri. Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila anak/orang dewasa mengeluh nyeri tenggorokan, yang disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur < 15 tahun.
  • Anak/orang dewasa harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri, agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar menderita difteri.
  • Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
  • Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, harus segera dilakukan imunisasi.
    • Balita : vaksin DPT
    • Anak 5-7 tahun : vaksin DT
    • Anak 7-19 tahun : vaksin Td atau Tdap
    • Dewasa : vaksin Td atau Tdap

Mengenai imunisasi DPT selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Bagaimana kondisi terkini?

Kementerian Kesehatan mencatat hasil cakupan pelaksanaan ORI di 3 provinsi hingga Kamis malam (4/1) pukul 19.30 WIB mencapai 52,10%. Dengan rincian cakupan ORI untuk provinsi DKI Jakarta (61,75%); Jawa Barat (44,21%); dan Banten (57,60%).

Bulan Januari 2018 ini merupakan jadwal putaran kedua ORI Difteri. Sementara ORI putaran ketiga dilakukan 6 bulan kemudian. ORI Difteri perlu dilakukan 3 kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae.

 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180105/2724258/ingat-ori-difteri-ada-3-putaran/

 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20171230/3524220/difteri-akan-dapat-diatasi/

 

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/ORI/en/

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17120500001/-imunisasi-efektif-cegah-difteri.html

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html

 

http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri

Pap smear : Metode Sederhana dengan Manfaat Luar Biasa

Kanker serviks merupakan kanker pada wanita dengan angka kematian tertinggi di negara-negara berkembang. Diperkirakan hampir 200.000 wanita meninggal setiap tahun akibat kanker serviks. Sayangnya, sebanyak 70% kasus kanker serviks baru diketahui pada stadium lanjut yang sudah sulit untuk diobati.Namun, Anda tidak perlu khawatir. Memberantas kanker serviks ternyata amat mudah. Cukup dengan upaya pencegahan rutin, seorang wanita bisa hidup bebas dari kanker serviks. Upaya pencegahan kanker serviks yang populer dan cukup mudah ialah skrining dengan pemeriksaan pap smear. Pap smear dapat mendeteksi kanker serviks pada stadium awal, bahkan pada stadium pre-kanker. Penelitian menyebutkan bahwa di negara yang rutin melakukan pap smear, angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks menurun. Selain itu, pasien kanker serviks yang terdeteksi dini memiliki angka harapan hidup yang lebih baik. Sehingga, sudah tidak diragukan lagi pap smear sangat penting dalam mencegah kanker serviks.

Pap smear

Perubahan kematian akibat kanker serviks di berbagai negara setelah Pap smear dikenalkan (Laara, dkk, 1987)

Apa itu Pap smear?

Pap smear atau Pap test adalah pemeriksaan pada serviks atau leher rahim untuk mencari sel-sel abnormal yang berpotensi menjadi sel kanker. Pemeriksaan ini pertama kali dikembangkan oleh Georgios Papanikolaou tahun 1940an. Sel-sel serviks pada leher rahim diambil, kemudian diperiksa dengan mikroskop di laboratorium.

Siapa saja yang sebaiknya melakukan pemeriksaan pap smear?

Wanita usia 21-65 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun atau pada wanita dengan risiko tinggi setiap setahun sekali.

Atau

Jika jarak antar pemeriksaan ingin diperpanjang menjadi setiap 5 tahun sekali, maka wanita usia 30-65 tahun sebaiknya melakukan pemeriksaan pap smear DAN tes HPV*.

*Wanita <30 tahun tidak disarankan melakukan tes HPV, dengan atau tanpa pemeriksaan pap smear.

Siapa yang tidak disarankan melakukan pemeriksaan pap smear?

  • Wanita usia <21 tahun atau yang belum aktif secara seksual.
  • Wanita usia >65 tahun yang telah menjalani pemeriksaan pap smear rutin selama hidupnya (hasil pemeriksaan negatif) dan tidak berisiko tinggi menderita kanker serviks.
  • Wanita yang telah menjalani histerektomi/operasi pengangkatan rahim dan tidak memiliki riwayat sel ganas.

Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum pemeriksaan Pap smear?

Dalam jangka waktu 2-3 hari sebelum Anda melakukan pemeriksaan Papsmear, ada beberapa kondisi yang sebaiknya dipenuhi, yaitu:

  • Tidak sedang haid
  • Tidak melakukan hubungan suami istri
  • Tidak menggunakan obat atau krim pada vagina.

Cara Pemeriksaan Pap smear

Anda akan duduk di kursi ginekolog dengan posisi mengangkang. Dokter/bidan akan menggunakan alat spekulum yang berbentuk seperti cocor bebek untuk membuka kelamin Anda. Hal ini dilakukan agar dokter/bidan dapat memeriksa serviks dan vagina dengan baik. Anda mungkin akan merasa tidak nyaman. Untuk menyiasatinya, sebisa mungkin Anda rileks.

pap-smear

Kemudian sel-sel serviks akan diambil dengan cytobrush (sikat kecil dengan bulu yang halus), yang dioleskan ke serviks. Proses ini hanya berlangsung sekitar 15 menit. Spekulum dilepaskan, Anda sudah bisa pulang. Sementara itu, sel-sel serviks yang menempel pada cytobrush akan dioles ke preparat kaca atau dimasukkan ke cairan sitologi khusus. Pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan mikroskop di laboratorium.

Hasil Pemeriksaan

Hasil pemeriksaan pap smear Anda akan selesai dalam waktu 1-3 minggu (bisa bervariasi antar laboratorium). Hasil negatif berarti hanya ditemukan sel-sel normal. Hasil positif berarti ditemukan sel-sel abnormal pada serviks Anda.

Foto dari Douglas K. Hanks, MD

Anda tidak perlu khawatir, sel-sel abnormal bukan berarti Anda pasti terkena kanker serviks. Sel abnormal bisa juga berarti Anda terinfeksi HPV atau sel-sel tersebut merupakan sel prekanker. Apapun hasilnya, sebaiknya segera konsultasikan hasil pemeriksaan Papsmear dengan dokter Anda.

Komplikasi

Komplikasi sangat jarang terjadi. Jika ada biasanya berupa perdarahan minimal atau infeksi ringan. Kadang terdapat vaginal spotting (bercak darah) segera setelah pemeriksaan papsmear, namun hal ini masih normal.

Kesimpulan
Pemeriksaan Pap smear merupakan cara yang mudah dan efektif untuk mencegah kanker serviks. Pemeriksaan rutin dan sesuai anjuran dapat mendeteksi kanker serviks pada stadium awal, sehingga lebih mudah diobati. Jadi, masihkah Anda ragu untuk melakukan Papsmear?

Diana Andarini, dr.

08/19/2016

Referensi 

  1. Sherris J, Herdman C, Elias C. Cervical cancer in the developing world. West J Med. 2001 Oct; 175(4): 231-33. [cited 27 Juli 2016] Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1071564/
  2. Laara E, Day NE, Hakama M. Trends in mortality from cervical cancer in Nordic countries: association with organized screening programmes. Lancet 1987;1(8544):1247. Illustration used with the permission of Elsevier Inc. All rights reserved.
  3. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bulan Cegah Kanker Serviks 2015 [cited 15 Juli 2016] Available from: http://pogijaya.or.id/blog/2015/02/20/bulan-cegah-kanker-serviks-2015/
  4. Centers for disease control and prevention. Cervical cancer: what should I know about screening? March 2016. [cited 15 Juli 2016] Available from: http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm
  5. Karjane NW, Ivey SE, Isaacs C. Papsmear. Feb 2016. [cited 3 Agustus 2016] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1947979-overview

Kanker Serviks

Tahukah Anda bahwa kanker serviks merupakan kasus kanker tertinggi di Indonesia?Data dari Riskesdas 2013 diketahui bahwa  hampir 100.000 wanita Indonesia mengalami kanker serviks. Biasanya kanker ini terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Sayangnya, 70% kasus kanker serviks ini baru diketahui pada stadium lanjut. Sehingga tidak heran bila angka kematian kanker serviks meningkat sampai 2x lipat dari tahun 2010 ke 2013. Padahal, kanker serviks ini amat bisa dicegah.

Mengenal Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang serviks atau leher rahim. Serviks atau leher rahim ialah bagian rahim yang menyempit sebelum vagina. Bagian serviks yang lebih dekat ke rahim disebut endoserviks, bagian yang lebih dekat ke vagina disebut eksoserviks, sementara pertemuan kedua area tersebut disebut zona transformasi. Pada zona transformasi inilah kanker serviks paling banyak terjadi.

Kanker Serviks

Serviks. Ovary : indung telur, Fallopian tube : saluran indung telur, Uterus : rahim, Cervix = serviks/leher rahim

Penyebab dan Faktor Resiko

Penyebab kanker serviks yaitu infeksi HPV (Human Papillomavirus). Sebanyak 70% kanker serviks terdapat pada wanita yang pernah terinfeksi virus HPV. HPV menginfeksi sel-sel epitel yang melapisi permukaan tubuh, termasuk alat kelamin. Sel-sel yang terinfeksi HPV menjadi tumbuh tidak terkendali. Sebagian sel yang terinfeksi dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh kita dalam 1-2 tahun, namun sebagian lagi tetap terinfeksi. Sel-sel terinfeksi yang menetap ini kemudian berubah menjadi sel pre-kanker, yang selanjutnya dapat menjadi sel kanker. Seseorang yang sudah terinfeksi HPV bisa saja tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi karena sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala.

Virus HPV bisa menular dari pasangan yang terinfeksi HPV melalui hubungan intim. Risiko seorang wanita terinfeksi HPV dan mengalami kanker serviks meningkat apabila :

  • Sering berganti pasangan.
  • Berhubungan seks di usia dini (kurang dari 20 tahun)
  • Berhubungan seks dengan partner yang beresiko tinggi (terinfeksi HPV, senang berganti pasangan)
  • Terdapat riwayat penyakit menular seksual
  • Kondisi imunitas rendah (HIV)

Jika seorang wanita sudah terinfeksi HPV, ada hal-hal yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks, diantaranya yaitu:

  1. Merokok. Wanita yang merokok berisiko 2x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang tidak merokok. Residu tembakau ditemukan pada cairan serviks wanita yang merokok. Cairan ini menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa serviks, yang dapat memicu timbulnya kanker.
  2. Kekebalan tubuh yang sangat rendah, misalnya pada wanita dengan infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sistem kekebalan tubuh penting untuk membunuh sel-sel kanker, serta memperlambat pertumbuhan dan penyebarannya. Pada wanita yang terinfeksi HIV, terutama yang infeksinya sudah berkembang menjadi AIDS, lesi prekanker lebih cepat tumbuh menjadi kanker dan menyebar. Contoh lain yaitu pada wanita dengan penyakit autoimun, yaitu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel tubuh yang normal karena dianggap sebagai kuman. Wanita dengan penyakit autoimun harus mengkonsumsi obat untuk menekan sistem kekebalan tubuhnya agar tidak menghancurkan sel-sel normal, sehingga kekebalan tubuhnya rendah.
  3. Terdapat riwayat keluarga yang terkena kanker serviks. Jika memiliki ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker serviks, maka seorang wanita berisiko 2-3x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks.
  4. Konsumsi pil kontrasepsi dalam jangka panjang. Konsumsi pil kontrasepsi selama lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan resiko timbulnya kanker serviks. Namun, saat pil kontrasepsi berhenti dikonsumsi, risiko timbulnya kanker serviks akan menurun kembali. Setelah 10 tahun berhenti, maka risiko terkena kanker serviks sama saja dengan yg tidak pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Gejala

Wanita dengan kanker serviks stadium awal biasanya tidak memiliki gejala yang khas. Gejala baru muncul saat kanker sudah stadium lanjut. Gejalanya yaitu:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal, misalnya perdarahan saat berhubungan intim, setelah menopause, perdarahan diluar jadwal haid, atau haid yang lebih banyak dan lama.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Lendir dengan darah keluar dari vagina di luar jadwal haid atau setelah menopause.

Skrining dan Diagnosis

Pemeriksaan kanker serviks terdapat 2 jenis, yaitu untuk keperluan skrining dan diagnosis.  Skrining adalah pemeriksaan untuk mencari apakah ada sel-sel yang abnormal. Sementara pemeriksaan diagnosis bertujuan untuk konfirmasi apakah sel abnormal tadi benar sel kanker atau tidak.

Untuk skrining dapat dilakukan pemeriksaan Pap smear, IVA atau tes HPV.

  • Pada pemeriksaan Pap smear, dokter Anda akan memasukkan spekulum, alat untuk membuka vagina, lalu dokter akan mengambil sedikit jaringan serviks dengan untuk diperiksa. Dari tes pap smear ini bisa ada tidaknya sel yang tidak normal yang mungkin akan berkembang menjadi kanker.PapTest-large
  • Tes HPV dilakukan untuk mendeteksi sebagian besar tipe virus HPV yang beresiko tinggi menyebabkan kanker servis .Ada 13 tipe HPV onkogenik yang diperiksa yaitu tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68.
  • IVA (Inspeksi Visual Asetat) yaitu pemeriksaan sederhana untuk melihat lesi pra kanker pada serviks dengan bantuan asam cuka yang diencerkan. IVA tes biasa digunakan di tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas terbatas.Pada pemeriksaan ini tenaga kesehatan (bidan, perawat atau dokter) memasukkan spekulum lalu leher rahim Anda akan dioles cairan asam asetat/asam cuka 3-5%. Asam asetat akan mengubah warna sel-sel rahim yang tidak normal menjadi lebih putih Jika hasil skrining menunjukkan hasil abnormal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi.ilustrasi-iva-1

Diagnosis

Bila pada skrining dokter menemukan adanya lesi pra kanker, dokter biasanya akan memastikan ada atau tidaknya keganasan dengan pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan lanjutan tersebut biasanya berupa kolposkopi (dengan biopsi) dan kuret endoserviks.

  • Pada pemeriksaan kolposkopi, dokter akan melihat permukaan leher rahim dengan kaca pembesar khusus (kolposkop). Jika terlihat kelainan pada serviks, dokter lalu akan melakukan biopsi yaitu mengambil sedikit sampel dari jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dari pemeriksaan biopsi ini, dapat dipastikan apakah daerah abnormal di leher rahim tersebut berupa lesi pra kanker, kanker atau bukan keduanya.205353
  • Bila zona transformasi (daerah yang beresiko terkena infeksi HPV dan lesi pra kanker) tidak bisa terlihat dengan kolposkopi, dokter mungkin akan melakukan kuret. Berbeda dengan kuret pada aborsi, kuret endoserviks hanya mengikis sedikit sel dari endoserviks untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikrosop.

Bila setelah diperiksa ternyata ditemukan sel kanker, dokter kemungkinan akan melakukan rontgen dada, tulang atau biopsi untuk melihat stadium dan penyebaran kanker rahim tersebut. Adapun stadium  atau tingkat keparahan kanker serviks ialah :

  • Stadium 0 (carcinoma in situ/CIN) Stadium ini disebut juga pre-kanker. Sel-sel kanker hanya terdapat di permukaan serviks.
  • Stadium IA dan IB → stadium awal. Kanker sudah menembus permukaan serviks, namun belum menyebar.
  • Stadium II ke atas → stadium lanjut. Kanker sudah menyebar keluar serviks, namun masih di dalam area panggul.
  • Stadium IVB → stadium akhir. Kanker telah menyebar keluar panggul, ke bagian tubuh lainnya. Kanker serviks stadium ini sudah sangat sulit untuk disembuhkan.

Pengobatan

Pengobatan setiap wanita yang terkena kanker serviks berbeda, tergantung dari stadium kanker saat diperiksa, usia dan kondisi kesehatan wanita tersebut.

Beberapa pilihan pengobatan yaitu:

Operasi

  • Cryosurgery yaitu operasi dengan menggunakan suhu sangat dingin untuk membunuh sel kanker. Pada operasi ini, alat bernama Cryoprobe diarahkan ke sel abnormal di permukaan rahim. Setelah itu, nitrogen cair dialirkan sampai cukup membuat jaringan beku dan hancur.
  • Operasi laser yaitu operasi dengan sinar laser yang diarahkan melalui vagina. Teknik ini dapat membunuh sel kanker dengan membakar sel tersebut. Teknik ini juga digunakan untuk mengambil sedikit jaringan serviks untuk diperiksa.
  • Histerektomi yaitu operasi pengangkatan rahim
  • Histerektomi radikal yaitu operasi pengangkatan rahim dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Terapi radiasi

Kemoterapi yaitu dengan obat-obatan yang disuntik ke pembuluh darah.

Paliatif,  yaitu terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Dengan cara mengurangi gejala kanker, efek samping terapi kanker, juga mengatasi masalah psikologis, sosial dan spiritual pasien. Terapi ini tidak untuk menyembuhkan.

Untuk kanker stadium awal, dapat dilakukan operasi yang dikombinasikan dengan terapi radiasi atau kemoterapi. Untuk kanker stadium lanjut, dapat dilakukan terapi radiasi dan kemoterapi. Untuk kanker stadium akhir dapat dilakukan kemoterapi dan terapi paliatif.

Terapi Alternatif, amankah?

Anda pasti cukup sering mendengar berbagai terapi alternatif yang mengklaim mampu menyembuhkan kanker serviks. Beberapa terapi alternatif mungkin dapat meringankan gejala atau membuat Anda merasa lebih baik. Namun, sebagian besar terapi alternatif justru berbahaya karena dapat mempercepat perburukan kanker serviks. Seringkali seorang wanita dengan kanker serviks stadium awal menolak pengobatan medis, dan beralih ke pengobatan alternatif. Setelah bertahun-tahun berobat alternatif, kanker serviks seringkali semakin memburuk dengan cepat. Ketika kembali ke dokter didapatkan kanker serviks sudah stadium lanjut bahkan stadium akhir. Jadilah pasien yang bijak, yang tidak termakan janji kesembuhan total. Selalu komunikasikan pilihan terapi kanker dengan dokter yang merawat Anda atau keluarga Anda.

Apakah kanker serviks bisa disembuhkan?

Tergantung dari stadium kanker serviks, semakin tinggi stadium, semakin rendah harapan hidup. Pada kanker serviks stadium awal (IA dan IB) harapan hidup 10 tahun ke depan sebesar 80-95%. Sementara harapan hidup 10 tahun ke depan pada stadium lanjut sebesar 17-47%.

Pencegahan

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan dengan cara pencegahan primer maupun pencegahan sekunder. Pencegahan primer misalnya belajar mengenai kanker serviks dan vaksinasi kanker serviks. Vaksinasi sebaiknya dilakukan sebelum seorang wanita menikah atau aktif secara seksual.

Sementara pencegahan sekunder adalah pencegahan dalam bentuk deteksi dini.  Deteksi dini infeksi HPV atau lesi prekanker serviks dapat dilakukan melalui pemeriksaan IVA, PapSmear dan tes HPV. Wanita dengan kanker serviks yang melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi dini saat stadium awal) lebih tinggi harapan hidupnya dibandingkan yang tidak melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi saat stadium lanjut).

Kesimpulan

Jumlah penderita kanker serviks menduduki peringkat teratas di antara penyakit kanker pada pria dan wanita di Indonesia, dan menyumbang angka kematian yang cukup tinggi. Pengobatan kanker serviks menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perubahan sel-sel serviks yang terinfeksi HPV menjadi sel kanker berlangsung selama 10-20 tahun, sehingga banyak kesempatan untuk mencegah kanker serviks. Manfaatkan waktu yang banyak tersebut untuk melakukan berbagai tindakan pencegahan. Kanker serviks stadium awal jarang menimbulkan gejala. Sementara saat timbul gejala, kanker serviks sudah stadium lanjut. Jangan sampai terlambat dan menyesal. Segera vaksinasi HPV dan lakukan pemeriksaan IVA, Papsmear atau tes HPV sesuai rekomendasi bidan/dokter Anda.

Diana Andarini, dr.

06/26/2016

Referensi

  1. Nuranna L, Aziz MF, Cornain S, et al. Cervical cancer prevention program in Jakarta, Indonesia: See and treat model in developing country. J Gynecol Oncol (2 July 2012) 23 (3): 147–152. [cited May 10] Available from: www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3395009/
  2. Frellick M. Updated guideline on cervical cancer screening issued by ACOG. December 2015. [cited 5 April 2016] Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/856431
  3. American Cancer Society. Cervical Cancer. [cited 17 Mei 2016] Available from:  http://www.cancer.org/cancer/cervicalcancer/detailedguide/index
  4. National Cancer Institute. HPV and Cancer. February 2015. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/infectious-agents/hpv-fact-sheet
  5. Departemen Kesehatan Indonesia. Stop Kanker. 4 Februari 2015. [cited 17 Mei 2016] Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf
  6. The Elevated 10-Year Risk of Cervical Precancer and Cancer in Women With Human Papillomavirus (HPV) Type 16 or 18 and the Possible Utility of Type-Specific HPV Testing in Clinical Practice. JNCI J Natl Cancer Inst (20 July 2005) 97 (14): 1072-1079. [cited 5 April 2016] Available from: http://jnci.oxfordjournals.org/content/97/14/1072.full
  7. Smith JS, Lindsay L, Hoots B, et al. Human papillomavirus type distribution in invasive cervical cancer and high-grade cervical lesions: A meta-analysis update. Int. J. Cancer, 121: 621–632. [cited 5 April 2016] Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijc.22527/full
  8. Schiffman M, Castle PE, Jeronimo J, et al. Human papillomavirus and cervical cancer. The Lancet (September 2007) 370 (9590): 890–907. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17826171
  9. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bulan Cegah Kanker Serviks 2015 [cited 10 Mei 2016] Available from: http://pogijaya.or.id/blog/2015/02/20/bulan-cegah-kanker-serviks-2015/
  10. Centers for Disease Control and Prevention. Making sense of your Pap & HPV test result. August 2015. [cited 25 Mei 2016] Available from: www.cdc.gov/std/hpv/pap/
  11. Centers for Disease Control and Prevention. What should I know about screening? March 2016. [cited 3 Juni 2016] Available from:http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm
  12. International Collaboration of Epidemiological Studies of Cervical Cancer. Cervical cancer and hormonal contraceptives: collaborative reanalysis of individual data for 16573 women with cervical cancer and 35509 women without cervical cancer from 24 epidemiological studies. The Lancet (November 2007) 370: 1609-21.

Demam Berdarah Dengue Pada Ibu Hamil

Musim hujan telah tiba. Genangan air bahkan banjir mulai melanda beberapa daerah di Indonesia. Tak ayal bila kasus demam berdarah juga meningkat karena tempat bersarang nyamuk semakin banyak.  Sepanjang Januari 2016 saja, Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan mencatat 3.298 kasus DBD dengan jumlah kematian sebanyak 50 kasus. KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD terjadi di 11 Kabupaten/Kota di 7 Provinsi.

Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa terjadi pada siapa saja. Mulai bayi, anak, dewasa sampai ibu hamil. Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil karena dampaknya yang bisa berbahaya terhadap ibu dan janin. Sebab itu, penting untuk diketahui kiat pencegahan DBD terutama di musim penghujan ini.

Sekilas tentang Demam Berdarah Dengue

Infeksi virus Dengue merupakan salah satu infeksi tersering yang dibawa oleh nyamuk. Di dunia, setiap tahun diperkirakan 100 juta orang terinfeksi dengue, terutama di daerah tropis seperti Asia Tenggara, Amerika (Tengah & Selatan), serta Pasifik Barat. Penyakit ini menular melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegyptii. Nyamuk menggigit manusia yang menderita penyakit dengue, kemudian menggigit manusia yang sehat.

Demam Berdarah

Penularan Demam Berdarah

Nyamuk ini paling sering menggigit manusia saat pagi dan sore hari. Terdapat 4 jenis virus dengue, yaitu DENV-1 sampai DENV-4. Jika seseorang terinfeksi salah satu jenis virus dengue, maka orang tsb akan memiliki kekebalan seumur hidup terhadap virus dengue tsb, namun hanya kebal beberapa bulan terhadap jenis virus dengue lain. Selain itu, virus dengue dapat menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya.

Gejala Infeksi Virus Dengue

Gejala infeksi virus dengue amat bervariasi mulai dari asimptomatik (tidak bergejala sama sekali) sampai demam berdarah dengue yang menimbulkan syok. Biasanya gejala penyakit dengue muncul 4-10 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi dengu. Diantaranya, dikenal dengan istilah penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue.

Gejala Demam Dengue

  • Demam Dengue merupakan bentuk ringan dari infeksi Dengue. Gejalanya ialah :
  • Demam tinggi (demam >380C) selama 2-7 hari yang mungkin tipenya seperti pelana kuda (demam tinggi hari 1-3 lalu turun sampai hari ke 6)
  • Sakit kepala
  • Nyeri belakang bola mata
  • Nyeri tenggorokan
  • Nyeri pada sendi dan otot
  • Ruam kemerahan di wajah, dada, lengan dan tungkai dengan pulau-pulau kulit yang sehat di antaranya
  • Pada demam dengue juga dapat muncul gejala perdarahan ringan (misalnya gusi berdarah, mimisan, bintik-bintik merah pendarahan)
  • Mual dan muntah

Ibu dapat mengalami demam dengue kemudian sembuh dengan sendirinya, tanpa mengalami dengue yang berat seperti DBD atau DSS.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan bentuk yang perlu diwaspadai dari infeksi virus Dengue. Biasanya DBD terjadi pada infeksi virus Dengue yang berulang. Pada DBD timbul kebocoran cairan plasma darah ke jaringan. Hal inilah yang bisa menyebabkan syok pada penderitanya. Jika Ibu mengalami DBD, Ibu membutuhkan penanganan medis segera berupa terapi cairan untuk mencegah komplikasi dan risiko kematian.

Gejala awal demam dengue dan DBD mirip, sehingga pada fase awal sulit dibedakan apakah Ibu mengalami demam dengue atau DBD. Namun, jika Ibu mengalami DBD, pada hari ke 3-7, demam turun (suhu <380C) disertai munculnya gejala-gejala ini, perlu diwaspadai akan terjadi syok :

  • Nyeri perut yang hebat
  • Mual dan muntah berulang
  • Tidak mau minum
  • Lemas
  • Gelisah
  • Hipotensi
  • Pipis sedikit
  • Muntah darah (akibat perdarahan saluran cerna)

Dengue Shock Syndrome (DSS)

DSS merupakan tahapan lanjut dari DBD. Pada kondisi ini terjadi kebocoran plasma yang hebat di dalam tubuh sehingga terjadi syok. Kondisi ini sangat berat dengan risiko kematian yang tinggi.

Akibat Infeksi Dengue pada Janin

Tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan usia kehamilan, infeksi dengue pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur, gawat janin, berat badan bayi rendah, bahkan kematian bayi. Jika ibu hamil terinfeksi dengue saat trimester pertama, risiko keguguran lebih tinggi.

Jika ibu hamil terinfeksi dengue mendekati jadwal kelahiran, terdapat risiko perdarahan hebat pada ibu dan bayi saat proses kelahiran dan setelahnya. Selain itu, bayi dapat terlahir dengan infeksi dengue. Gejala dengue pada bayi yang baru lahir dapat muncul beberapa jam setelah lahir, atau beberapa hari setelahnya. Gejala dapat berupa demam, ruam (petekiae) dan liver membesar. Pada dengue yang berat, bayi dapat mengalami dengue shock syndrome.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis infeksi virus dengue adalah :

  • Penurunan Leukosit (Leukopenia)
  • Penurunan trombosit. Pada demam dengue biasanya trombosit turun <150.000 sel/mm3 sedangkan pada DBD, hasil trombosit bisa turun sampai <100.000/mm3)
  • Peningkatan Hematokrit. Pada demam dengue hematokrit bisa meningkat 5-10% sedangkan pada DBD peningkatan hematokrit bisa sampai >20%. Namun pada ibu hamil, hematokrit seringkali rendah akibat anemia yang  kehamilan.
  • NS1 ialah penanda antigen virus Dengue yang bisa terdeteksi di hari 1-4 dari munculnya gejala. Sehingga bisa digunakan  untuk mendeteksi dini adanya infeksi virus Dengue.
  • IgM dengue adalah pemeriksaan antibodi/kekebalan tubuh terhadap dengue. IgM dengue muncul setelah 3-5 hari gejala, dan dapat bertahan sampai 6 bulan berikutnya. Tes IgM bereaksi terhadap keempat jenis virus dengue. Adanya gejala-gejala penyakit demam dengue/DBD serta IgM dengue positif menunjukkan adanya infeksi dengue saat ini.

Pengobatan

Ibu hamil yang terkena infeksi dengue sebaiknya dirawat di rumah sakit lebih awal untuk memonitor perjalanan penyakitnya. Terapi utama pada ibu dengan infeksi dengue ialah terapi cairan untuk mencegah syok. Selain itu, dokter akan memberikan obat-obatan yang aman untuk meringankan gejala (seperti menurunkan demam, mengurangi mual atau mengurangi nyeri sendi) pada ibu. Kerjasama antara dokter penyakit dalam, dokter spesialis kandungan dan spesialis anak diperlukan.

Jika Ibu menderita DBD saat dan setelah persalinan, besar risiko terjadinya perdarahan hebat dan syok, sehingga Ibu membutuhkan transfusi trombosit dan pengawasan khusus dari tim medis. Selain itu, bayi Ibu akan diawasi, apakah akan muncul gejala penyakit dengue, agar tidak terlambat ditangani. Gejala dengue paling sering muncul saat bayi berusia 4-5 hari. Jika muncul gejala dengue, bayi Ibu membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Pencegahan

Pemerintah telah meluncurkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M yaitu:

  1. Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dll.
  2. Menutup tempat penampungan air dengan rapat, seperti drum air, kendi, toren air, dll.
  3. Mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas, supaya tidak ada genangan air yang menjadi tempat favorit nyamuk bertelur.

_780050

Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sehingga kurang efektif. Untuk membunuh larva nyamuk dibutuhkan bubuk larvasida (misalnya abate) yang disebarkan di tempat-tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Hindari gigitan nyamuk dengan memasang kawat nyamuk di jendela, memakai pakaian yang tertutup, juga penangkal nyamuk.

Vaksin DBD

Selama 60 tahun terakhir, telah banyak usaha yang dilakukan para peneliti untuk mengembangkan vaksin dengue. Terdapat 4 jenis vaksin dengue yang sedang dikembangkan, yaitu LAV, vaksin chimera, vaksin DNA dengue dan vaksin DENV terinaktifasi. Keempat vaksin tersebut mampu menghasilkan kekebalan terhadap keempat tipe virus dengue. Uji klinis terus dilakukan untuk menyempurnakan vaksin.

Tahun 2014, salah satu vaksin dengue jenis LAV telah menyelesaikan 3 tahapan uji klinis. Uji klinis tersebut dilakukan selama lebih dari 20 tahun, melibatkan sekitar 40.000 anak, remaja dan orang dewasa di 15 negara di seluruh dunia (termasuk Indonesia). Pada Desember tahun 2015, vaksin ini sudah beredar di Meksiko, Filipina dan Brazil. Di Indonesia, rencananya vaksin dengue ini akan tersedia pada akhir tahun 2016.

Kesimpulan

Penyakit DBD meningkat terutama saat musim hujan seperti sekarang. Dalam keadaan tidak hamil pun, penyakit ini cukup berbahaya. Jangan sampai Ibu menderita DBD, terutama mendekati waktu lahiran, karena tingginya risiko perdarahan hebat pada Ibu dan bayi. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Vaksin dengue pada akhir tahun 2016 akan tersedia di Indonesia, namun keamanannya untuk ibu hamil belum diketahui. Pencegahan terbaik yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dan lakukan program pemberantasan sarang nyamuk 3M.

Diana Andarini, dr.

03/20/2016

Referensi

  1. Amin HZ, Sungkar S. Perkembangan mutakhir vaksin demam berdarah dengue. Jurnal Kedokteran Indonesia [serial online] Desember 2013 [cited 2016 Mar 14];1(3):226-33. Available from: http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/viewFile/3007/2466
  2. World Health Organization. Questions and answers on dengue vaccines. [internet] 2015 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.who.int/immunization/research/development/dengue_q_and_a/en/
  3. Basurko C, Carles G, Youssef M, et al. Maternal and fetal consequences of dengue fever during pregnancy. European Journal of Obstetrics & Gynecology [serial online] November 2009 [cited 2016 Mar 8];147(1):29-32. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0301211509004345
  4. Singh N, Sharma K A, Dadhwal V, Mittal S, Selvi A S. A successful management of dengue fever in pregnancy: Report of two cases. Indian J Med Microbiol [serial online] 2008 [cited 2016 Mar 4];26:377-80. Available from: http://www.ijmm.org/text.asp?2008/26/4/377/43577
  5. Tan PC, Rajasingam G, Devi S, et al. Dengue infection in pregnancy: prevalence, vertical transmission and pregnancy outcome. Obstetrics & Gynecology [serial online] May 2008 [cited 2016 Mar 8];111(5):1111-17. Available from: http://journals.lww.com/greenjournal/Fulltext/2008/05000/Dengue_Infection_in_Pregnancy__Prevalence,.15.aspx
  6. World Health Organization. Dengue and severe dengue. [internet] May 2015 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/
  7. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue homepage: clinical guidance. [internet] June 2014 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.cdc.gov/dengue/clinicalLab/clinical.html
  8. Chitra T V, Panicker S. Maternal and fetal outcome of dengue fever in pregnancy. J Vector Borne Dis [serial online] December 2011 [cited 2016 Mar 8];48:210–13. Available from: http://www.mrcindia.org/journal/issues/484210.pdf
  9. Petdachai W, Sila’on J, Nimmannitya S, Nisalak A. Neonatal dengue infection: report of dengue fever in a 1-day-old infant. Southeast Asian J Trop Med Public Health [serial online] 2004 [cited 2016 Mar 13];35(2):403-7. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15691146
  10. Choudry SP, Gupta RK, Kishan Jai. Dengue shock syndrome in new born – a case series. Indian Pediatrics [serial online] April 2004 [cited 2016 Mar 13];41:397-99. Available from: http://medind.nic.in/ibv/t04/i4/ibvt04i4p397.pdf
  11. Chin PS, Khoo APC, Hani AWA, et al. Acute dengue in a neonate secondary to perinatal transmission. Med J Malaysia [serial online] August 2008 [cited 2016 Mar 13];63(3):265-66. Available from: http://www.e-mjm.org/2008/v63n3/Acute_Dengue.pdf
  12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan DBD dengan PSN 3M plus. [internet] 7 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-plus.html
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Wilayah KLB Ada di 11 Kabupaten/Kota. [internet] 5 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-kabupaten-kota.html
  14. Sanofi Pasteur Dengue Vaccine Frequently Asked Questions. [internet] February 2016 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.dengue.info/sites/default/files/media-faqs_-for_dengueinfo_feb1_16.pdf
  15. Agrawal P, Garg R, Srivastava S, et al. Pregnancy outcome in women with dengue infection in Northern India. Indian Journal of Clinical Practice [serial online] April 2014 [cited 2016 Mar 8];24(11):1053-56. Available from: http://medind.nic.in/iaa/t14/i4/iaat14i4p1053.pdf

TORCH : Kenali untuk Dicegah

Tahukah Ayah Ibu, infeksi selama kehamilan merupakan penyebab 2-3% cacat bawaan pada anak. Infeksi TORCH merupakan salah satu penyebab cacat bawaan. TORCH adalah infeksi Toxoplasmosis, Others (syphilis, varicella-zoster, parvovirus B19), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes. Sebagian besar infeksi TORCH menyebabkan sakit ringan pada ibu, namun berakibat serius pada janin dalam kandungan. Lalu bagaimana cara mengenali TORCH dan mencegahnya ya? Yuk kita bahas satu-persatu.

Infeksi TORCH

Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit Toxoplasma gondii. Kuman ini dapat ditularkan pada ibu saat ibu mengkonsumsi daging sapi/babi atau minum air yang tercemar kuman T.gondii, atau tidak sengaja menelan parasit setelah menyentuh kotoran kucing yang terinfeksi. Toksoplasmosis pada ibu hamil dapat menular ke janinnya melalui plasenta.

Gejala pada ibu
Pada umumnya, ibu hamil yang menderita toksoplasmosis tidak menunjukkan gejala. Gejala yang dapat muncul meliputi rasa lelah, sakit kepala, demam, nyeri otot dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Gejala pada bayi
Toksoplasmosis dapat menyebabkan keguguran, berat lahir bayi rendah, pembesaran hati dan limpa, kuning, anemia, kejang, retardasi mental, perkapuran tengkorak, kepala kecil, atau infeksi mata yang berat. Semakin muda usia kehamilan ibu saat terinfeksi, semakin berat gejala yang timbul pada bayi.

Pengobatan
Orang dengan daya tahan tubuh yang baik tidak perlu diobati. Namun, ibu hamil atau orang dengan daya tahan tubuh lemah perlu diobati dengan antibiotik.

Pencegahan

  • Hindari konsumsi daging sapi, babi, atau kambing mentah atau setengah matang.
  • Gunakan sarung tangan saat berkebun untuk menghindari tidak sengaja menyentuh kotoran kucing.
  • Cuci buah dan sayuran dengan baik.
  • Hindaru minum susu segar yang belum dipasteurisasi.
  • Bagi pencinta kucing, sebaiknya jaga kesehatan kucing piaraan Anda dengan baik. Hindari memberi makanan yang kurang matang pada kucing. Jangan lupa gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan kotorannya.

Others: Cacar air

Cacar air adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV). Cacar air menular melalui droplet/percikan ludah yang keluar saat bersin atau batuk. Pada ibu hamil, cacar air menular ke janinnya melalui plasenta.

Gejala pada ibu
Gejala cacar air baru muncul 10-21 hari setelah tertular. Timbul demam selama 1-2 hari, yang diikuti munculnya ruam dan bruntus berisi cairan yang berwarna kemerahan pada kulit. Ruam muncul mulai dari kepala, badan kemudian tangan dan kaki. Ibu hamil dapat mengalami pneumonitis (infeksi paru-paru berat) dengan gejala batuk kering, sesak nafas, demam dan nyeri dada. Cacar pada ibu hamil termasuk salah satu kegawatan medis dan memerlukan perawatan intensif.

Gejala pada bayi
Cacar air pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran. Jika bayi lahir, akan timbul sindrom varicella kongenital, yang terdiri dari katarak, otak mengecil, perkembangan saraf terhambat, terdapat kelainan tulang dan kulit, serta infeksi mata. Jika ibu hamil terkena penyakit cacar air antara 5 hari sebelum melahirkan dan 2 hari setelahnya, kekebalan ibu belum terbentuk (bayi tidak mendapat kekebalan bawaan dari ibu), sehingga bayi akan terkena penyakit cacar air yang berat. Sebanyak 30% bayi dengan sindrom varicella kongenital meninggal dalam 1 bulan pertama kehidupannya.

Pengobatan
Ibu hamil dapat diberikan obat antivirus dengan pertimbangan, jika manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya terhadap janin.

Pencegahan
Hindari kontak dengan orang yang terkena cacar air. Cacar air masih dapat menular biarpun ruam sudah mengering dan terkelupas. Tunggu 5-7 hari setelahnya jika ingin kontak. Vaksin varicella dianjurkan minimal 2 bulan SEBELUM hamil, tidak boleh diberikan saat hamil karena berbahaya bagi janin.

Rubella/Campak Jerman

Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus rubella menyebabkan ruam pada tubuh mirip campak (roseola). Rubella menular melalui droplet/percikan ludah yang keluar saat bersin atau batuk. Pada ibu hamil, rubella menular ke janinnya melalui plasenta.

Gejala pada ibu
Gejala penyakit rubella baru muncul 2-3 minggu setelah tertular. Muncul ruam kemerahan pada kulit, demam, nyeri sendi dan terjadi pembengkakan kelenjar limfe (terutama pada leher dan belakang telinga).

Gejala pada bayi
Sindrom rubella kongenital terdiri dari katarak, kelainan jantung dan saraf, gangguan pendengaran (tuli), pertumbuhan janin terhambat, perkapuran tengkorak, mikrosefali (kepala kecil), peradangan tulang, pembesaran hati dan limpa. Sebagian besar kelainan tersebut muncul pada bayi jika ibu terinfeksi rubella selama 12 minggu pertama kehamilan. Jika ibu hamil terinfeksi rubella setelah usia kehamilan 18 minggu, semakin kecil resiko munculnya sindrom rubella kongenital pada bayi.

Pengobatan
Tidak ada pengobatan yang spesifik, biasanya akan sembuh dengan sendirinya.

Pencegahan
Hindari kontak dengan orang yang terkena rubella. Vaksin MMR dianjurkan minimal 2 bulan SEBELUM hamil, tidak boleh diberikan saat hamil karena berbahaya bagi janin.

CMV (Citomegalovirus)

CMV adalah penyakit yang disebabkan oleh virus sitomegalovirus. CMV ditularkan melalui air liur, urin, sebagai penyakit menular seksual dan transfusi darah (jarang). Wanita yang sering berurusan dengan anak balita (misal sebagai petugas tempat penitipan anak), atau petugas kesehatan berisiko tinggi tertular CMV. Seorang ibu dapat menularkan CMV ke janinnya saat hamil melalui plasenta, saat melahirkan apabila bayi terkena cairan dari mulut rahim dan vaginanya, serta saat menyusui lewat ASI.

Gejala pada ibu
Tidak ada gejala yang muncul pada 90% ibu hamil yang terinfeksi CMV. Namun, gejala dapat muncul antara 9-60 hari setelah tertular. Gejalanya yaitu demam, lemas, nyeri tenggorokan, nyeri sendi, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Gejala pada bayi
Infeksi CMV selama hamil dapat menyebabkan janin terhambat pertumbuhannya, anak mengalami tuli saraf, retardasi mental, perkapuran tengkorak, sakit kuning, mikrosefali (kepala kecil), hidrosefalus, pembesaran hati dan limpa, serta perkembangan psikomotornya terhambat. Biasanya, 85-90% bayi tidak menunjukkan gejala infeksi CMV saat lahir. Kelainan perkembangan, penglihatan, pendengaran atau kelainan gigi baru muncul dalam 1 tahun pertama.

Pengobatan
Ganciclovir tidak diberikan pada ibu hamil karena berbahaya untuk janin.

Pencegahan
Sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah mengurus anak balita. Hindari berbagi minum atau makanan (di wadah yang sama) dengan orang lain. Gunakan kondom saat berhubungan intim.

Herpes

Herpes merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV-2). Ibu hamil dapat tertular herpes dari suaminya melalui hubungan intim. Herpes pada ibu hamil dapat menular ke janinnya melalui plasenta atau penyebaran infeksi dari serviks. Pada 85% kasus, bayi terinfeksi saat proses kelahiran normal, sementara 5% selama kehamilan, dan 10% setelah lahir.

Gejala pada ibu
Vagina dan serviks ibu bengkak, merah dan terdapat lesi pada permukaannya. Selain itu terasa nyeri, gatal dan keluar cairan kekuningan dari vagina ibu. Gejala lain yaitu demam, sakit kepala, mual dan pegal-pegal.

Gejala pada bayi
Infeksi herpes selama hamil dapat menyebabkan keguguran, pertumbuhan janin terhambat, dan lahir prematur. Setelah bayi lahir, bayi dapat mengalami penyakit yang terbatas pada kulit, mata atau mulut  (45%), kelainan otak yg menyebabkan kejang, retardasi mental, dll (30%), serta berbagai kelainan pada berbagai organ tubuh (25%). Gejala-gejala tersebut biasanya muncul dalam 4 minggu pertama kehidupan bayi.

Pengobatan
Ibu hamil dapat diberikan obat anti virus dengan pertimbangan.

Pencegahan
85% bayi tertular dari ibunya saat proses kelahiran normal. Sehingga jika lesi di vagina dan serviks masih ada pada saat akan melahirkan, ibu disarankan menjalani operasi sesar untuk mencegah penularan ke bayi. Selain itu, gunakan kondom saat berhubungan intim.

Pemeriksaan TORCH

Kapan sebaiknya dilakukan?
Ibu sebaiknya melakukan pemeriksaan TORCH sebelum hamil. Jika sudah hamil namun belum melakukan pemeriksaan TORCH, dokter kandungan ibu akan meminta pemeriksaan tsb dilakukan.

Apa saja yang diperiksa?
Antibodi/kekebalan tubuh terhadap penyakit Toksoplasmosis, Rubella, CMV dan Herpes.

TORCH

Pemeriksaan Antibodi TORCH

Apa yang perlu disiapkan?
Tidak ada persiapan khusus.

Bagaimana pemeriksaan dilakukan?
Petugas laboratorium akan mengambil darah dari pembuluh darah ibu dengan jarum dan spuit.

Apa artinya hasil positif dan negatif?

  • Hasil IgM dan IgG negatif berarti ibu tidak memiliki antibodi terhadap keempat penyakit tersebut dan belum pernah terinfeksi keempat penyakit tersebut.
  • Hasil IgM positif menunjukkan saat ini ibu sedang terinfeksi penyakit TORCH.
  • Hasil IgG positif menunjukkan ibu pernah terinfeksi penyakit TORCH di masa lalu.

Kesimpulan

Infeksi TORCH selama kehamilan merupakan salah satu penyebab cacat bawaan pada bayi. Semakin muda usia kehamilan, semakin berat akibatnya pada janin. Pengobatan TORCH dapat mengurangi gejala pada ibu, namun kerusakan yang ditimbulkan ke janin tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, pencegahan sangat penting. Sebelum hamil, Ibu sebaiknya memeriksakan TORCH serta mendapatkan vaksin. Saat hamil sebisa mungkin hindari sumber-sumber penularan penyakit ini.

Semoga informasi ini bermanfaat, dan Ibu selalu diberikan kesehatan selama kehamilan.

Diana Andarini, dr.

02/29/2016

Referensi

  1. Stegmann BJ, Carey JC. TORCH Infections. Toxoplasmosis, Other (syphilis, varicella-zoster, parvovirus B19), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), and Herpes infections. Curr Womens Health Rep. 2002 Aug;2(4):253-8.
  2. Teresa Marino, Christine Isaacs. Viral Infections and Pregnancy. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/235213-overview#showall
  3. Infeksi Virus, Bakteri, Protozoa. In: Obstetri Williams Vol.2 Edisi 21. EGC; 2006. p. 1637-1653.
  4. Mayo Clinic. Toxoplasmosis. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/toxoplasmosis/basics/prevention/con-20025859
  5. Sauerbrei A, Wutzler P. The Congenital Varicella Syndrome. J Perinatol. 2000 Dec;20(8 Pt 1):548-54.
  6. Centers for Diasease Control and Prevention. Varicella. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/varicella.pdf
  7. Royal College of Obstetricians & Gynaecologists. Chickenpox in Pregnancy. [cited 2016 Feb 10]. Available from https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/guidelines/gtg_13.pdf
  8. World Health Organozation. Rubella. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs367/en/
  9. Kauser Akhter, Michael S Bronze. Cytomegalovirus. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/215702-overview
  10. Björn Pasternak, Anders Hviid. Use of Acyclovir, Valacyclovir, and Famciclovir in the First Trimester of Pregnancy and the Risk of Birth Defects. JAMA. 2010;304(8):859-866. doi:10.1001/jama.2010.1206.
  11. American Association for Clinical Chemistry. TORCH. [cited 2016 Feb 10]. Available from https://labtestsonline.org/understanding/analytes/torch/tab/sample/
  12. Centers for Diasease Control and Prevention. Immunization & Pregnancy. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/downloads/f_preg_chart.pdf

Difteri : Penyakit Lama yang Muncul Kembali

Tahukah Ayah Bunda, sebelum vaksin ditemukan, difteri merupakan salah satu penyakit tersering penyebab kematian pada anak. Pada tahun 1921, Di Amerika saja tercatat 206.000 anak menderita penyakit difteri, diantaranya 15.520 anak meninggal. Sejak vaksin ditemukan, kasus difteri telah berkurang sampai 95% di seluruh dunia. Namun, sejak tahun 1990an, wabah penyakit ini kembali muncul. Pada tahun 1995, terdapat >50.000 kasus di Eropa saja. Cakupan imunisasi DPT diperbaiki dan diperluas, sehingga wabah dapat diatasi dan jumlah kasus berkurang di tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 2000-an, penyakit difteri yang seharusnya sudah diberantas, masih muncul kembali. Pada tahun 2005, di India tercatat 5.826 kasus difteri (71% dari total kasus difteri global). Di Indonesia, pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus serupa juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit saluran napas atas akut yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Anak rentan terkena penyakit ini jika berusia <12 tahun, imunisasinya tidak lengkap atau memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

Bagaimana penularannya?

Penyakit ini menular melalui droplet atau cairan dari saluran napas (dari hidung sampai tenggorokan), yang keluar pada saat bersin atau batuk. Anak dapat tertular oleh orang lain yang sakit difteri atau carrier. Carrier adalah seseorang yang di tubuhnya terdapat bakteri difteri namun tidak menunjukkan gejala penyakit difteri.

Apa saja gejalanya?

Gejala awal penyakit difteri pada anak mirip dengan penyakit saluran napas atas lainnya, seperti nyeri tenggorokan, demam, sakit kepala, lemah, suara serak, dll. Pada bayi, gejala awal paling sering yaitu pilek dengan ingus yang kental berwarna kekuningan.

Pada anak yang tidak diimunisasi atau kekebalan tubuhnya rendah, pada hari ke-5 akan terbentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal. Lapisan ini dapat menutupi tonsil/amandel, langit-langit mulut, lidah, tenggorokan, juga rongga saluran pernapasan lainnya. Lapisan ini sangat sulit dilepas, bahkan usaha melepasnya dapat menyebabkan perdarahan dan bengkak sehingga saluran napas semakin tertutup. Jika lapisan tersebut menutup seluruh saluran napas, anak tidak dapat bernapas, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Difteri

Difteri

Gejala lainnya yaitu adanya pembengkakan kelenjar leher, yang membuat leher anak tampak seperti leher kerbau (bull’s neck).

Pada sebagian kecil kasus, toksin difteri menyerang kulit, terutama pada bagian tangan dan kaki. Awalnya kulit yang terinfeksi akan menjadi merah, terasa nyeri dan timbul bisul. Kemudian dapat terbentuk ulkus/lesi kulit dengan tepi yang tegas dan terdapat lapisan keabu-abuan. Lesi kulit ini dapat menetap berbulan-bulan. Selain kulit tangan dan kaki, toksin difteri juga dapat menyerang kulit telinga, mata, dan alat kelamin.

Apa komplikasinya?

Pada penyakit yang berat, toksin  juga dapat menyerang saraf dan jantung anak. Jika toksin menyerang saraf di sekitar tonsil/amandel, anak akan mengalami kesulitan menelan yang berisiko masuknya makanan ke paru-paru, hal ini dapat menyebabkan infeksi paru-paru (pneumonia), bahkan kematian. Jika toksin menyerang saraf kepala, pandangan anak akan kabur, juling atau sulit melihat benda dekat.

Jika toksin menyerang jantung, sel otot jantung menjadi rusak dan menyebabkan irama jantung tidak beraturan (disaritmia). Penyakit toxic cardiomyopathy juga dapat muncul pada 10-25% anak, dengan tingkat kematian 50-60%.

Bagaimana pengobatannya?

Pengobatan penyakit difteri yaitu dengan antitoksin yang diberikan lewat infus. Antibiotik juga diberikan untuk menahan produksi toksin dan mencegah toksin menyebar ke organ tubuh lain yang dapat memperparah penyakit.

Untuk membuka saluran napas yang tertutup lapisan putih keabu-abuan, anak Anda akan membutuhkan alat bantu napas berupa selang yang dimasukkan lewat mulut ke paru-paru. Selang ini juga berfungsi untuk mencegah lapisan tersebut menutup saluran napas anak seluruhnya, sampai antitoksin bekerja. Namun jika komplikasi pernapasan atau saraf terlalu berat, diperlukan operasi. Leher anak akan dilubangi kemudian dipasang selang yang dihubungkan ke sumber oksigen, agar anak bisa bernapas. ia harus dirawat di perawatan intensif (ICU).

Bagaimana dengan keluarga yang tinggal serumah? Apakah perlu diobati?

Keluarga atau pengasuh yang tinggal serumah dengan penderita, harus diberikan vaksin penguat/booster yang mengandung toksoid difteri. Selain itu, sebaiknya juga diberikan antibiotik selama 7-10 hari. Antitoksin baru diberikan apabila muncul gejala penyakit difteri.

Apakah anak carrier perlu diobati?

Pada anak carrier (terinfeksi kuman namun tidak menunjukkan gejala), perlu diberikan antibiotik selama 7-10 hari karena anak carrier dapat menularkan penyakit. Anak ditempatkan pada ruangan khusus (isolasi) sampai terapi antibiotik selesai. Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika hasilnya negatif, anak sudah boleh keluar dan beraktivitas seperti biasa.

Apakah difteri dapat dicegah?

Pencegahan yang terbaik yaitu dengan imunisasi. Untuk imunisasi primer terhadap difteri, digunakan toksoid difteri yang digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP. Jadwal untuk imunisasi DTP pada anak yaitu pemberian 5 dosis, pada usia 2, 4, 6, 18-24 bulan dan 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

jadwal vaksin idai

Selain vaksin DTP yang telah digunakan sejak tahun 1975, beberapa sediaan vaksin yang berisi toksoid-difteri adalah:

  • Vaksin DT : digunakan untuk penguat/booster pada anak >5 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP.
  • Vaksin Td : digunakan untuk penguat/booster pada anak >7 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP atau DT), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP atau DT. Vaksin Td juga diberikan pada program BIAS anak SD kelas I, II dan III. Kandungan toksoid difteri vaksin Td hanya ¼ – ⅒ kandungan toksoid difteri pada vaksin DTP atau DT.

Semoga bermanfaat..

Diana Andarini, dr.

02/04/2016

Referensi

  1. Cem S Demirci, Russell W Steele. Pediatric Diphtheria. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview
  2. Centre for Disease Control and Prevention. Diphtheria for Clinicians. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://www.cdc.gov/diphtheria/clinicians.html
  3. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  4. Sailaja Bitragunta, Manoj V. Murhekar, Mohan D. Gupte. Persistence of Diphtheria, Hyderabad, India, 2003–2006. Emerg Infect Dis. 2008 Jul; 14(7): 1144–1146. doi: 10.3201/eid1407.071167.
  5. Karen S. Wagner, Joanne M. White. Diphtheria in the Postepidemic Period, Europe, 2000–2009. Emerg Infect Dis. 2012 Feb; 18(2): 217–225.doi: 10.3201/eid1802.110987.

Mengenal Imunisasi DPT dan Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Ayah ibu, ingatkah dengan wabah difteri yang melanda beberapa daerah di Indonesia tahun lalu? Penyakit yang amat menular dan dapat berdampak buruk bagi pernafasan anak ini muncul setelah beberapa lama tidak terdeteksi. Hal ini selaras dengan gerakan anti vaksin yang sedang marak-maraknya di kala itu. Sayangnya, orangtua mungkin banyak yang terbawa arus tanpa menelaah kebenaran informasi dengan kritis mengenai hal ini. Oleh sebab itu, yuk kita belajar lagi mengenai imunisasi pencegahnya, yaitu imunisasi DPT.

Apa itu imunisasi DPT?

Imunisasi DPT ialah imunisasi untuk mencegah penyakit difteri, tetanus dan pertusis. Difteri adalah penyakit saluran napas atas yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Toksin ini cukup berbahaya karena dapat membentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal seluruh rongga saluran pernapasan. Anak dapat mengalami kesulitan bernafas  dapat mengancam jiwa.  Selain itu, Penyakit difteri juga dapat menyerang saraf dan jantung anak.

Imunisasi DPT

Difteri

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Pertusis disebut juga batuk seratus hari karena penyakit ini bisa berlangsung selama seratus hari.  Bakteri pertusis menyebabkan peradangan saluran napas sehingga pengeluaran dahak terganggu dan terjadi penumpukan lendir dalam saluran napas

Tetanus merupakan penyakit akut, bersifat fatal, yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Clostridium tetani. Gejalanya berupa mulut kaku (trismus), yang diikuti kekakuan leher, sulit menelan, dan perut keras seperti papan. Jika dibiarkan, dapat terjadi kekakuan otot-otot pernafasan, sehingga anak sulit bernafas. Tetanus dapat terjadi pada bayi terutama bila persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan. Tali pusat bayi tidak digunting dengan alat yang steril dan tidak dirawat dengan baik yang bisa menjadi sumber penularan kuman tetanus.

Imunisasi DPT

Tetanus

Bagaimana kejadian difteri, pertusis dan tetanus sebelum dan sesudah DPT ditemukan?

 Faktanya, sebelum vaksin DPT ditemukan:
– Pertusis merupakan penyebab utama kematian pada anak (diperkirakan sekitar 300.000 kematian terjadi setiap tahun).
– Kemungkinan anak yang terkena penyakit difteri akan meninggal sebesar 20-40%.
– Kemungkinan bayi yang terkena tetanus akan meninggal lebih dari 70%.

Sejak vaksin DPT ditemukan, di seluruh dunia, setiap hari setidaknya 2-3 juta kematian pada anak akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertusis dapat dihindari. Pada tahun 2014, sekitar 115 juta anak mendapatkan imunisasi dasar DPT. Cakupan imunisasi dasar DPT di 129 negara telah mencapai 90%.

Imunisasi

Imunisasi Lengkap

Di Indonesia, seperti yang bisa kita lihat pada grafik di atas (Riskesdas 2013), cakupan imunisasi sejak tahun 2007 terus meningkat. Namun, cakupan imunisasi masih di bawah target yaitu 80%. Selain itu, masih muncul wabah difteri. Pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus difteri juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa saja Jenis-jenis Vaksin DPT

Terdapat 2 jenis vaksin DPT, yaitu DTwP (wholecell pertussis) dan DTaP (acellular pertussis). Perbedaannya yaitu vaksin DTwP berisi sel bakteri pertusis utuh, sedangkan vaksin DTaP berisi komponen spesifik toksin bakteri pertusis.

Vaksin DPT juga terdapat dalam bentuk kombinasi (vaksin kombo) dengan vaksin lain. Vaksin kombo tetravalen mengandung 4 jenis vaksin, contohnya yaitu kombinasi DPT dan Hepatitis B, DPT dan Hib atau DPT dan IPV (vaksin polio suntik). Vaksin kombo pentavalen mengandung  5 antigen, yaitu DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Hepatitis B, serta HiB (Haemofilus Influenza tipe B).

Bagaimana Jadwal Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan 5 kali, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali sejak usia 2 bulan dengan jarak antar imunisasi yaitu 4-8 minggu. DPT tidak boleh diberikan sebelum usia 6 minggu. Jadi DPT pertama diberikan pada usia 2 bulan, DPT kedua pada usia 4 bulan, dan DPT ketiga pada usia 6 bulan.
  • Imunisasi DPT booster/penguat diberikan 2 kali. Booster pertama pada usia 18-24 bulan, dan booster kedua pada usia 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

Imunisasi dasar DPT pada bayi 3 kali akan memberikan kekebalan selama 1-3 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia 18-24 bulan akan memperpanjang kekebalan sampai usia 6-7 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia masuk sekolah akan memperpanjang kekebalan sampai usia 17-18 tahun.

Bagaimana Cara Memberikan Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan dengan cara disuntik. Awalnya tenaga kesehatan akan meletakkan bayi di atas tempat tidur. Lalu tungkai bawah bayi sedikit ditekuk. Vaksin DTP disuntikkan ke otot paha bayi dan anak di bawah 3 tahun.

Pada anak yang lebih besar, vaksin DTP disuntikkan ke otot lengan atas. Posisi anak yang paling nyaman yaitu duduk di atas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lengan yang akan disuntik dipegang, sementara lengan lainnya diletakkan di belakang tubuh ibu atau pengasuhnya.

Apa yang bisa terjadi setelah imunisasi DPT?

Setelah imunisasi, dapat timbul KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) pada anak Anda. KIPI ada yang ringan dan berat. KIPI ringan misalnya demam >38,5ºC, rewel, timbul kemerahan/nyeri dan bengkak pada bekas tempat suntikan. Jika demam dapat menggunakan obat penurun panas, kompres air hangat/biasa, memakai pakaian yang tipis, dan minum air lebih banyak (atau ASI pada bayi <6 bulan). Bekas suntikan yang nyeri atau bengkak dapat dikompres air dingin. KIPI ringan akan hilang dalam 2 hari. Jika menetap atau bertambah berat, bawalah anak Anda ke dokter.KIPI berat misalnya anak menangis terus menerus selama >3 jam, kejang demam dan reaksi anafilaktik (alergi berat). Jika timbul KIPI berat, anak harus segera dibawa ke rumah sakit.

KIPI vaksin DTaP lebih jarang dibandingkan DTwP. KIPI yang paling serius pada anak yaitu reaksi anafilaktik, yang terjadi 1-3 kasus diantara 1.000.000 dosis.

Apakah vaksin DPT halal?

Ya, vaksin DPT dianggap halal. Isu yang banyak berkembang yaitu vaksin haram karena mengandung babi. Beberapa vaksin menggunakan enzim tripsin babi, namun pada proses akhir enzim ini tidak ada lagi pada vaksin karena sudah disaring sedemikian kecilnya dengan nanopartikel (proses ultrafiltrasi). Yang menggunakan antara lain : vaksin rotavirus (diare), beberapa merek vaksin flu, dan MMR.

Sebagian ulama menyatakan vaksin tetap halal, karena tanpa vaksin, banyak penyakit infeksi mematikan. Disini poin manfaat yang lebih besar daripada mudharat sangat diperhatikan. Dan selayaknya kita mengingat proses ultrafiltrasi tadi. Selain itu, pengganti enzim tripsin babi belum ditemukan. Ini merupakan alasan kedaruratan, dan para ulama terus menganjurkan untuk menemukan enzim tripsin non-babi yang sampai saat ini masih terus diusahakan.

Kesimpulan

Imunisasi DPT sangat bermanfaat bagi anak-anak kita. Bayangkan jika kita hidup pada masa sebelum ditemukan vaksin DPT. Mungkin anak kita akan menderita bahkan meninggal akibat terkena penyakit difteri, tetanus atau pertusis. Dengan adanya vaksin DPT, kemungkinan anak kita terkena ketiga penyakit tersebut sangat kecil. Kalaupun terkena, penyakit difteri, tetanus atau pertusis yang dialami ringan. Mari kita bersama-sama menjadi orangtua yang bijak dan cerdas, dengan memberikan imunisasi lengkap pada anak-anak kita, generasi penerus yang berharga.

Diana Andarini, dr.

01/23/2016

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Pertussis (Whooping Cough). Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/disease-specifics.html
  2. Joseph J Bocka , Russel W Steele. Pertussis. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/967268-overview#showall
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Tetanus. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf
  4. Patrick B Hinfey, John L Brusch. Tetanus Treatment & Management. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/229594-treatment#d12
  5. Tempo. Padang KLB Difteri. Cited on Jan 16 2016. Available from http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/30/173638878/padang-klb-difteri
  6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Cited on 16 Jan 2016. Available from http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
  7. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  8. World Health Organization. Immunization coverage. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs378/en/
  9. Dirga Sakti Rambe. Komposisi, Proses Pembuatan & Kehalalan Vaksin. Cited on Jan 20 2016. Available from http://rumahvaksinasi.net/komposisi-proses-pembuatan-kehalalan-vaksin.html
Ibu Hamil Naik Pesawat

Ibu Hamil Naik Pesawat, Amankah?

Saat hamil biasanya wanita memiliki kekhawatiran saat ingin bepergian ke tempat yang jauh. Apakah perjalanan tersebut aman untuk ibu dan bayi atau tidak. Termasuk salah satunya pertimbangan sebelum ibu hamil naik pesawat di trimester awal atau akhir. Belum lagi mungkin ibu pernah melihat di media ada yang bersalin saat di pesawat. Agar perjalanan ibu saat hamil menyenangkan dan selamat, sebaiknya mempertimbangkan hal berikut ini sebelum bepergian ke tempat yang jauh:

  • Ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai di tempat tujuan apabila terjadi komplikasi kehamilan atau terpaksa melahirkan disana.
  • Asuransi kesehatan yang dimiliki berlaku/tidak di tempat tujuan.
  • Peningkatan risiko penyakit di tempat tujuan seperti diare, malaria, dll. Diskusikan dengan dokter apakah perlu vaksinasi atau obat profilaksis untuk mencegah penyakit tersebut.
  • Risiko terjadinya sumbatan pembuluh darah vena jika lama diam selama menempuh perjalanan yang jauh dan lama (di atas 5 jam)
  • Masalah yang berkaitan dengan penerbangan (akan dibahas lebih lanjut di bawah)

Kapan waktu yang tepat untuk bepergian?

Pada trimester pertama biasanya wanita hamil mengalami mual hebat dan lemas, serta risiko keguguran masih tinggi. Sementara pada trimester ketiga bepergian bisa jadi melelahkan dan tidak nyaman, serta berisiko kelahiran prematur. Trimester kedua (usia kehamilan 14-28 minggu) merupakan saat terbaik untuk bepergian, yaitu saat dimana risiko keguguran dan lahir prematur minimal.

Ibu Hamil Naik Pesawat, Bolehkah?

Sebagian besar maskapai penerbangan memperbolehkan wanita hamil ikut penerbangan sampai usia kehamilan maksimal 36-37 minggu (32-34 minggu jika hamil kembar). Pada umumnya, ibu hamil naik pesawat aman-aman saja selama tidak memiliki masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan. Namun, memang ada risiko keguguran dan lahir prematur pada wanita hamil yang sering bepergian dengan pesawat dan jarak tempuh yang jauh. Sebaiknya hindari naik pesawat kecil yang tidak memiliki tekanan kabin yang telah disesuaikan karena tubuh harus bekerja ekstra untuk memastikan suplai oksigen wanita hamil dan janinnya.

Selama penerbangan, resiko lain bagi penumpang pesawat ialah terpapar radiasi kosmik. Paparan radiasi kosmik selama kehamilan (dalam 40 minggu) yang diperbolehkan dan tidak menyebabkan bahaya pada janin yaitu dibawah 1 mSv (1 mSv=1000 μSv). Sebagai contoh, radiasi kosmik penerbangan Singapura-Frankfurt sebesar 39 μSv, Sydney-Buenos Aires 80 μSv. Sehingga, sebetulnya masih cukup aman radiasi kosmik dengan jarak tersebut.

Kondisi yang Tidak Disarankan Untuk Ibu Hamil Naik Pesawat

Ibu hamil sebaiknya tidak naik pesawat jika terdapat kondisi di bawah ini:

  • Anemia berat (Hb <8 g/dL)
  • Penyakit sel sabit (Sickle cell disease), penyakit turunan di mana bentuk sel darah merah ibu tidak normal seperti bulan sabit. Sel darah ini mudah hancur yang mengakibatkan anemia.
  • Baru mengalami perdarahan dari jalan lahir
  • Memiliki kelainan/sakit jantung atau paru-paru
  • Mual hebat (hyperemesis gravidarum)
  • Memiliki riwayat keguguran/kelahiran prematur
  • Tekanan darah tinggi (>140/90 mmHg)
  • Diabetes

Sebelum Ibu Hamil Naik Pesawat

Bagi ibu hamil yang relatif sehat dan hendak travel dengan pesawat, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat:

  • Periksa kebijakan maskapai penerbangan tentang wanita hamil. Sebagian maskapai penerbangan meminta surat keterangan dokter, terutama pada usia kehamilan di atas 28 minggu.
  • Datang ke bandara lebih awal agar tidak perlu terburu-buru/lari mengejar pesawat.
  • Pilih tempat duduk yang nyaman dan lega, terutama di samping lorong/aisle. Posisi tempat duduk di samping lorong juga memudahkan wanita hamil jika ingin jalan atau ke toilet.
  • Tidak memakai pakaian yang ketat.
  • Hindari makanan dan minuman yang menimbulkan gas/membuat kembung, misal minuman bersoda.
  • Buang air kecil sesaat sebelum naik pesawat.

Saat Ibu Hamil Naik Pesawat

Saat pesawat mencapai ketinggian di atas 8000 kaki (2438 m), tubuh akan mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Oleh sebab itu, tubuh ibu hamil akan beradaptasi dengan mengentalkan darah, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, serta menurunkan kapasitas metabolisme. Oleh karena itu, selama di pesawat wanita hamil sebaiknya:

  • Menjaga tubuh cukup cairan dengan banyak minum air putih atau jus.
  • Setiap 30 menit berjalan atau melakukan peregangan sederhana, serta menggunakan stoking untuk mengurangi risiko penyumbatan pembuluh darah vena (trombosis vena) dan bengkak pada kaki (edema).
  • Hindari makanan dan minuman yang membuat kembung, serta yang mengandung alkohol atau kafein.
  • Wanita hamil yang terpaksa naik pesawat dengan anemia berat (Hb <8 g/dL), penyakit sel sabit, atau sakit jantung, sebaiknya diberikan oksigen selama di pesawat.
  • Selalu memakai sabuk pengaman saat sedang duduk untuk mengurangi risiko cedera akibat turbulensi mendadak.
  • Sabuk pengaman dipakai tepat diantara paha dan perut, sehingga tidak menekan perut. Jika ukuran sabuk pengaman terlalu kecil, minta pemanjang sabuk (seatbelt extender) kepada pramugari.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam perjalanan :

  • Selalu minum air kemasan, atau air yang sudah direbus sampai mendidih 1-3 menit.
  • Pastikan es batu dalam minuman dibuat dari air yang sudah direbus sampai mendidih.
  • Jangan makan daging atau ikan yang mentah/setengah matang.
Posisi Sabuk Pengaman Ibu Hamil Naik Pesawat

Posisi Sabuk Pengaman

Peregangan sederhana saat di pesawat

Ada beberapa peregangan yang bisa dilakukan oleh wanita hamil selama di pesawat, diantaranya yaitu:

  • Putar kaki: Saat duduk posisi kedua kaki seperti jinjit, kaki kanan membuat gerakan memutar searah jarum jam, kaki kiri putarannya berlawanan arah. Ubah arah, ulangi.
  • Angkat telapak kaki : Posisi tumit menapak, sementara jari-jari kaki diangkat. Kemudian posisi kaki mendatar lagi. Lalu posisi kaki jinjit. Lakukan siklus ini beberapa kali.
  • Putar bahu : Angkat kedua bahu, gerakkan ke depan, turun, ke belakang, seperti gerakan memutar.
  • Peregangan badan atas: Luruskan lalu angkat kedua tangan ke atas. Pegang pergelangan tangan kiri dengan tangan kanan, tarik perlahan ke arah kanan. Tahan 15 detik, kemudian ganti tangan.
  • Peregangan bahu: Pegang siku kiri dengan tangan kanan, tarik perlahan ke arah kanan. Tahan 15 detik, kemudian ganti tangan.
  • Putar leher: Bahu dalam keadaan santai, posisi kepala miring, putar leher pelan-pelan searah jarum jam, kemudian arah sebaliknya. Ulangi.

Peregangan di Pesawat

Setiap gerakan boleh diulangi sampai 10 kali.

Kesimpulan

Persiapan sebelum bepergian sangat penting. Selalu diskusikan dengan dokter kandungan jika ada hal-hal yang dikhawatirkan. Selama tidak ada masalah kehamilan, wanita hamil bisa bepergian dengan aman dan nyaman. Selamat liburan!

Diana Andarini, dr. 

12/27/2015

  1. Air travel during pregnancy. ACOG Committee Opinion No. 443. American College of Obstetricians and Gynecologists. Obstet Gynecol 2009;114:954–5. Cited from http://www.acog.org/Resources-And-Publications/Committee-Opinions/Committee-on-Obstetric-Practice/Air-Travel-During-Pregnancy
  2. Travelling in pregnancy. National Health Service UK. Cited on Dec 23th 2015. Available from http://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/pages/travel-pregnant.aspx
  3. Air travel and pregnancy. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Cited on Dec 23th 2015. Available from https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/patients/patient-information-leaflets/pregnancy/air-travel-pregnancy.pdf
  4. Flying while pregnant. Cited on Dec 23th 2015. Available from http://www.babycentre.co.uk/a6955/flying-while-pregnant
  5. How to Avoid Deep Vein Thrombosis on Long Plane Flights. Cited on Dec 23th 2015. Available from http://www.acefitness.org/acefit/fitness-fact-article/290/how-to-avoid-deep-vein-thrombosis-on-long/
  6. Flying and Health: Cosmic Radiation Exposure for Casual Flyers and Aircrew. Australian Radiation Protection and Nuclear Safety Agency. Cited on Dec 23th 2015. Available from http://www.arpansa.gov.au/radiationprotection/factsheets/is_cosmic.cfm

Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah. Balita dengan gangguan bicara dan bahasa berisiko tinggi mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani, anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orangtua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Salah satu ciri anak mengalami gangguan bicara dan bahasa ialah terlambat bicara. Speech delay atau terlambat ini Paling banyak terjadi pada anak laki-laki, yang keluarganya terdapat riwayat terlambat bicara atau gangguan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan adanya gen FOXP2 yang diturunkan dan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa. Anak juga berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa jika lahir prematur atau berat badan saat lahir rendah (bayi BBLR), tingkat pendidikan orang tua rendah dan kemiskinan.

Jenis-jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak

Ada 2 tipe utama gangguan bicara dan bahasa pada anak, yaitu tipe primer dan sekunder.

Tipe Primer
merupakan gangguan bicara dan bahasa yang murni tanpa ada penyebab/kondisi lain. Contoh gangguan tipe primer misalnya :

  • Perkembangan bicara dan bahasa yang terlambat/ “late bloomers”
    Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Kondisi ini terjadi akibat adanya keterlambatan proses pematangan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Perkembangan bicara dan bahasa anak biasanya akan normal dengan sendirinya.
  • Gangguan bahasa ekspresif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Gangguan ini sulit dibedakan dengan developmental speech and language delay pada usia dini. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa reseptif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses pemahaman.Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, jarang bicara, agrammatic (tatanan bahasa yang salah), dan artikulasi tidak jelas. Anak tidak melihat atau menunjuk pada objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua (hal ini menunjukkan anak kurang/tidak paham). Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa campuran
    Merupakan campuran dari gangguan bahasa ekspresif dan reseptif. Anak memiliki pemahaman yang kurang, menggunakan kata tidak sesuai artinya, sulit mengungkapkan keinginannya, dan kosakatanya terbatas. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.

Tipe Sekunder
merupakan gangguan bicara dan bahasa karena ada penyebab yang jelas atau kondisi lain. Contohnya :

  • Gangguan spektrum autis
    Gangguan spektrum autis merupakan suatu kumpulan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan masalah sosial, komunikasi dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil (misal asalm valproat, thalidomide), usia kedua orang tua >40 tahun saat hamil, dll.
    Gejalanya yaitu anak terlambat bicara, adanya penurunan intelektual, echolalia (mengulang ucapan namun tidak mengerti artinya), kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan, menyebutkan pronoun (saya, kamu, dia) terbalik-balik, dan adanya kemunduran dalam perkembangan bahasa dan bicaranya.
    Anak juga memiliki gangguan interaksi sosial. Tidak ada kontak mata saat diajak bicara, tidak merespon senyuman orang tua, hidup di “dunianya sendiri”, dan sering mengulang gerakan tertentu yang tidak jelas.
    Anak sebaiknya diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain (misal perkembangan motoriknya).
  • Cerebral palsy
    Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan atau postur tubuh yang tidak normal akibat kerusakan/gangguan perkembangan otak. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kernicterus (sakit kuning yang berat), riwayat kejang, perdarahan otak, prematur, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Cerebral palsy tidak semakin memburuk, cenderung menetap seiring pertambahan usia anak. Selain gangguan gerak dan postur tubuh, anak juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, penurunan intelektual, dan gangguan bicara. Gangguan bicara terjadi karena kesulitan koordinasi/kekakuan otot-otot orofaring (dari mulut sampai pita suara). Akibatnya anak sulit mengucapkan kata dan berbicara dengan jelas. Gangguan bicara menyebabkan anak sulit berkomunikasi, yang sering salah diinterpretasikan sebagai gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan stres pada anak dengan CP, terutama yang tingkat intelektualnya normal/di atas rata-rata.
  • Apraksia bicara pada anak
    Apraksia bicara pada anak merupakan salah satu kelainan motorik. Pada kondisi ini otak sulit mengkoordinasikan otot-otot pada bibir, rahang dan lidah. Otot anak tidak lemah atau lumpuh seperti pada kondisi cerebral palsy. Pada sebagian besar anak penyebabnya tidak jelas, sebagian lagi disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan otak. Ciri-cirinya yaitu:

    • Lebih sering menyederhanakan kata dengan menghilangkan bunyi yang sulit dibanding anak normal
    • Dapat memahami bahasa jauh lebih baik dibanding yang bisa diucapkannya
      Sering salah mengucapkan kata namun tidak konsisten
    • Ucapan yang ditiru lebih jelas dibandingkan ucapan yang spontan
      Sulit mengucapkan kata atau kalimat yang panjang
    • Ucapan terdengar monoton, terbata-bata, atau menekan pada kata atau silabus yang salah
  • Disartria
    Disartria merupakan jenis kelainan motorik. Pada kondisi ini otot-otot pada bibir, lidah, pita suara dan/atau diafragma anak lemah. Penyebabnya yaitu adanya kerusakan otak pada tingkat yang lebih rendah dibanding kerusakan otak pada apraksia. Anak paham dan mengetahui apa yang ingin diucapkan, namun artikulasinya tidak jelas. Ciri-cirinya yaitu:

    • Ucapannya berantakan, bicara cepat seperti bergumam
    • Gerakan lidah, bibir dan rahang terbatas
    • Kualitas suara berubah, seperti serak atau sengau
  • Retardasi mental
    Anak dikatakan retardasi mental bila memenuhi 3 kriteria, yaitu fungsi intelektual dibawah normal (IQ <70), terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial, dan gejala timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental dapat disebabkan adanya kelainan genetik, riwayat kernicterus (sakit kuning yang berat), perdarahan otak, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Retardasi mental bisa menyebabkan terlambat bicara. Selain itu, anak juga terlambat menggunakan gestur/gerakan sebagai sarana komunikasi. Pemahaman anak pun kurang terhadap perintah orang lain. Perbedaannya dengan yang lain, pada retardasi mental anak mengalami keterlambatan di semua aspek perkembangan (motorik, sosial dan kemandirian, dll )
  • Gangguan pendengaran
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan bicara juga. Terlebih lagi bila gangguan pendengaran terjadi di usia dini. Hal ini disebabkan anak kekurangan perbendaharaan kata/informasi yang ia perlu dengar sebelum ia ungkapkan dalam kata atau kalimat.Gangguan pendengaran bisa karena sumbatan/infeksi telinga luar, tetapi bisa juga karena saraf. Ciri anak yang mengalami gangguan bicara akibat masalah pendengaran yaitu : Anak biasanya memiliki suara yang berbeda (terdistorsi/sengau), kesulitan mengeluarkan suara s, f, th, dll yang berfrekuensi tinggi, namun anak memiliki kontak mata dan interaksi sosial yang normal. Anak dengan gangguan pendengaran yang diterapi pada usia dini menunjukkan kemampuan bicara dan bahasa yang setara dengan anak tanpa gangguan pendengaran. Jadi penting sekali mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin.
  • Selective mutism
    Pada kondisi ini anak tidak bicara karena tidak mau, bukan karena tidak bisa. Selective mutism lebih sering pada anak perempuan. Anak biasanya mau bicara saat sedang sendiri, dengan orang tua atau keluarganya, namun anak tidak mau bicara di tempat umum (misal sekolah) atau dengan orang asing. Sebagian anak dengan selective mutism juga mengalami gangguan artikulasi atau bahasa. Selain itu, anak dengan selective mutism juga menunjukkan gejala kesulitan beradaptasi, terlalu bergantung pada orang tuanya. Pada umumnya anak akan menarik diri, malu, cenderung penakut dan pesimis.

Diagnosis

Identifikasi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa akan berlanjut dengan terapi. Terapi sebaiknya dilakukan pada usia dini, saat otak anak masih berkembang pesat sehingga bisa dicapai hasil yang terbaik. Oleh karena itu, deteksi dini anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa sangat penting. Tanda-tanda anak Anda berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa bisa dilihat disini.

Saat anak Anda dibawa ke dokter, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, fungsi pendengaran, motorik kasar dan halus. Lalu dokter akan melakukan check list dari instrumen tumbuh kembang anak seperti Denver II dan Early Language Milestone Scale. Orang tua akan diminta untuk mengisi kuesioner. Jika dibutuhkan, anak Anda juga diminta untuk melakukan cek darah dan tes genetik.

Terapi

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe primer, terapi bicara dan bahasa terbukti efektif. Penelitian pada anak usia 2 tahun dengan gangguan bicara dan bahasa yang diterapi intensif, 75% anak perkembangan bicara dan bahasanya normal pada usia 3 tahun.

Terapi wicara
Salah satu contoh terapi bicara dan bahasa adalah terapi wicara. Pada saat terapi, anak akan berada di dalam satu ruangan berhadapan dengan terapisnya. Kegiatan saat terapi wicara mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Intervensi bahasa
    Terapis berinteraksi dengan anak melalui permainan dan mengobrol, menggunakan gambar, buku, mainan, dll. Terapis juga mencontohkan penggunaan kosakata dan susunan kalimat yang benar, dengan latihan berulang-ulang.
  • Artikulasi/produksi suara
    Terapis mencontohkan pengucapan huruf dan suku kata yang benar. Terapis memperlihatkan dan memperagakan gerakan mulut dan lidah saat mengucapkan huruf dan suku kata.
  • Oral-motor
    Terapis menggunakan beberapa latihan oral, misalnya facial massage (pijat wajah), latihan lidah, bibir dan rahang. Latihan tersebut untuk memperkuat otot-otot mulut.
Terapi wicara pada gangguan bicara dan bahasa

Terapi wicara

Terapi SI (sensory integration)
Ternyata sebagian anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya juga memiliki gangguan integrasi sensori. Sistem sensori yang terkoordinasi dengan baik dapat mengintegrasikan stimulasi dari berbagai sumber (vestibular/sistem keseimbangan, visual/penglihatan), propioseptif, auditori/pendengaran, dan taktil/sentuhan). Gangguan integrasi sensori muncul saat saraf-saraf sensori tidak berfungsi atau fungsinya tidak efektif, yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak. Pada saat terapi SI, anak akan diajak bermain dan melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengintegrasikan sistem sensorik dengan berbagai stimulasi.

Terapi SI pada Gangguan Bicara dan Bahasa

Terapi SI

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe sekunder, dokter akan melakukan terapi bicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi. Selain itu, terapi lain juga diperlukan sesuai penyebab dan kelainan penyertanya. Misalnya anak dengan cerebral palsy dan retardasi mental membutuhkan fisioterapi, anak dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar dan terapi AVT (auditory verbal therapy), dll.

Kesimpulan

Speech delay/terlambat bicara hanya merupakan tanda adanya gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, yang harus dicaritahu penyebabnya. Orang tua cenderung menunggu anak bisa bicara normal dengan sendirinya, namun dari semua jenis gangguan bicara dan bahasa, hanya 1 jenis yang dapat sembuh sendiri, sementara hampir semua gangguan bicara dan bahasa diakibatkan adanya gangguan/kerusakan otak. Terapi sebaiknya tidak ditunda dan dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta mencegah timbulnya masalah kognitif dan psikososial pada anak di kemudian hari.

Diana Andarini, dr.

12/22/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Childhood apraxia of speech. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/ChildhoodApraxia/
  4. Simon E. Fisher, Cecilia S.L. Lai, and Anthony P. Monaco. Deciphering the genetic basis of speech and language disorders. Annual Review of Neuroscience 2003; 26:57-80. DOI:10.1146/annurev.neuro.26.041002.131144. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12524432
  5. A Buschmann, B Jooss, A Rupp. Parent based language intervention for 2-year-old children with specific expressive language delay: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2009; 94:110-116. doi:10.1136/adc.2008.141572. Cited from http://adc.bmj.com/content/94/2/110.full
  6. Sensory integration therapies for children with developmental and behavioral disorders. Pediatrics 2012;129:1186-1189. DOI: 10.1542/peds.2012-0876. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/early/2012/05/23/peds.2012-0876.full.pdf
  7. Speech Language Therapy. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://kidshealth.org/parent/system/ill/speech_therapy.html#
  8. Hanifah Oswari, Rudianto Sofwan. 123 Penyakit dan Gangguan pada Anak. 2009 Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
  9. Gregory Hickok, John Houde, Feng Rong. Sensorimotor Integration in Speech Processing: Computational Basis and Neural Organization. Neuron 2011; 69(3):407-422. doi:10.1016/j.neuron.2011.01.019
  10. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Palsy: Hope Through Research. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.ninds.nih.gov/disorders/cerebral_palsy/detail_cerebral_palsy.htm
  11. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Dysarthria. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/
  12. CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  13. Heidi D. Nelson, Peggy Nygren, Miranda Walker, Rita Panoscha. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006; 117(2):298-319. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/117/2/e298.full
  14. Margaret J. Snowling, D.V.M. Bishop, Susan E. Stothard. Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2006; 47(8):759-765. DOI: 10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x. Cited from onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x/abstract
  15. Michael I. Shevell, Anneta Majnemer, Richard I. Webster. Outcomes at school age of preschool children with developmental language impairment. Pediatric Neurology 2005; 32(4):264-269.  doi:10.1016/j.pediatrneurol.2004.12.008
Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan Bahasa Anak dan Tanda Waspadanya

Masa balita merupakan masa krusial perkembangan bahasa anak. Dua tahun pertama kehidupan anak atau yang disebut sebagai periode emas (golden period) merupakan saat otak anak berkembang dengan sangat pesat. Saat anak memasuki usia dua sampai lima tahun, perkembangan bahasa anak juga masih berada di puncak-puncaknya.

Bahasa dan bicara ialah dua hal yang amat terkait. Bahasa dapat diungkapkan secara verbal (bicara), melalui gerakan, atau tulisan. Bicara membutuhkan koordinasi yang baik antara otot lidah, bibir, rahang dan pita suara untuk menghasilkan suara.

Bagaimana otak anak memproses bahasa dan bicara?

Kemampuan bahasa anak dibagi menjadi kemampuan bahasa ekspresif (bicara) dan reseptif (pemahaman). Area di otak yang bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa bernama Broca dan Wernicke. Area Broca penting untuk kemampuan bicara. Area Broca terletak di otak depan sebelah kiri, berkaitan dengan area motorik yang mengontrol otot-otot untuk bicara. Sedangkan area Wernicke penting untuk kemampuan memahami bahasa lisan dan tulisan. Area Wernicke terletak di otak sebelah kiri dekat dengan telinga.

tumblr_inline_n22p0tHu2a1ruyaki

Saat anak membaca tulisan atau mendengar orang berbicara, informasi tersebut akan sampai ke area Wernicke. Setelah itu, informasi akan diproses di area otak yang lain dan diteruskan ke area Broca. Pada area Borca, informasi diubah menjadi pola suara (sound pattern). Pola suara ini diteruskan ke area motorik di otak untuk mengaktifkan otot-otot wajah dan lidah. Dari sinilah anak dapat menghasilkan kata-kata untuk diucapkan.

Bagaimana perkembangan bahasa anak yang normal?

Perkembangan bahasa anak bisa jadi berbeda antara satu anak dengan yang lain. Namun, pada umumnya perkembangan bahasa anak mengikuti kaidah seperti ini:

Usia 3 bulan

  • Bereaksi terhadap suara keras
  • Tersenyum saat diajak berbicara
  • Menjadi tenang saat menangis dengan mendengar suara orang tuanya (bayi mampu mengenali suara orang tuanya)
  • Tersenyum saat melihat orang tuanya
  • Menangis dengan cara yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda
  • Cooing (mengoceh dengan mengeluarkan suara seperti “aaah” atau “uuuh”)
Perkembangan bahasa anak : Cooing

Perkembangan bahasa anak : Cooing

Usia 4-6 bulan

  • Mengikuti suara dengan pandangan matanya
  • Memperhatikan mainan yang berbunyi
  • Bereaksi terhadap perubahan nada suara orang tuanya saat berbicara
  • Babbling (mengucapkan kata kombinasi antara vokal dan konsonan secara berulang-ulang seberti ba-ba-ba, ma-ma-ma, pa-pa-pa)
  • Tertawa
  • Mulai mengeluarkan bunyi p, b, m
Perkembangan bahasa anak : Babbling

Babbling

Usia 7 bulan – 1 tahun

  • Senang main cilukba
  • Menengok dan melihat ke arah sumber suara
  • Mendengarkan saat diajak bicara
  • Mengerti kata-kata yang umum seperti gelas, sepatu, jus
  • Mampu mengikuti perintah sederhana (misal “kesini”)
  • Berkomunikasi dengan gerakan (gesture) seperti melambaikan tangan atau menunjuk
  • Meniru kata-kata yang terdiri dari 2-3 suku kata
  • Bisa mengucapkan satu atau dua kata yang bermakna saat usia 1 tahun (misal “mama”, “papa”)

Usia 1-2 tahun

  • Mengetahui beberapa anggota tubuh dan dapat menunjuk bagian tersebut dengan benar
  • Mengikuti perintah sederhana (“ambil bola”) dan mengerti pertanyaan sederhana (“dimana sepatumu?”)
  • Senang dengan cerita, lagu dan irama sederhana
  • Dapat menunjuk gambar di dalam buku dengan benar
  • Dapat membentuk kalimat sederhana (terdiri dari 2 kata, misal “mau makan”)
    Pada usia 18 bulan perbendaharaan kata anak yang bermakna : 10-15 atau lebih

Usia 2-3 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 2 sampai 3 kata
  • Mampu mengucapkan k, g, f, t, d dan n dengan jelas
  • Tidak ada lagi echolalia maupun jargon. (Echolalia maksudnya anak dapat mengulang ucapan sama persis namun tidak mengerti artinya. Sedangkan jargon ialah membuat istilah sendiri yang hanya ia mengerti)
  • Mengetahui umur dan jenis kelamin
  • Menghitung 3 objek dengan benar
  • 75-90% ucapannya dimengerti oleh orang lain selain orang tua dan keluarganya
  • Pada usia 2 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 50-100 atau lebih

Usia 3-4 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 3 sampai 6 kata
  • Mampu menjawab pertanyaan “Siapa?” “Apa?” “Di mana?” “Mengapa?”
  • Bercerita tentang kegiatannya selama di daycare, sekolah atau rumah temannya
  • Dapat berbicara dengan mudah tanpa harus mengulang suku kata atau kata
  • 90-100% ucapannya dimengerti oleh orang lain selain orang tua dan keluarganya
  • Pada usia 3 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 400 atau lebih

Usia 4-5 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 6-8 kata
  • Bercerita tentang satu topik pada satu waktu sampai topik tsb selesai
  • Memperhatikan cerita pendek, kemudian mampu menjawab pertanyaan sederhana mengenai cerita tsb
  • Mampu mengucapkan hampir semua huruf dengan jelas (kecuali l, s, r, v, z, ch, ch, th)
  • Menghitung 10 objek dengan benar
  • Dapat menyebutkan 4 warna
  • Menggunakan susunan kalimat seperti orang dewasa (adult grammar)
  • Pada usia 5 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 2000 atau lebih

Kapan saya harus khawatir mengenai perkembangan bahasa anak saya?

Tahapan perkembangan bahasa anak yang telah dijabarkan adalah acuan umum dan setiap anak bisa berbeda. Namun, Anda perlu waspada jika anak Anda mengalami salah satu kondisi di bawah ini:

Usia 1 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak babbling, tidak berusaha berkomunikasi dengan menunjuk atau gerakan lain.

Usia 1 tahun 3 bulan (15 bulan)

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak dapat mengucapkan minimal 3 kata yang bermakna.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat menunjuk atau melihat ke 5-10 objek yang disebutkan oleh orang tua.

Usia 1,5 tahun (18 bulan)

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak mengucapkan “mama”, “papa” atau nama lain.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat mengikuti perintah sederhana (misal “kesini”).

Usia 2 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak menggunakan minimal 25 kata yang bermakna.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar saat disebutkan.

Usia 2,5 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak dapat membentuk 2 kata menjadi kalimat sederhana.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat merespon pertanyaan dengan mengangguk/menggeleng atau secara verbal.

Usia 3 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak menggunakan minimal 200 kata, menjawab pertanyaan dengan echolalia, tidak meminta sesuatu secara verbal (tidak menyebutkan nama objek).
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak mengerti kata kerja, tidak dapat mengikuti perintah 2 langkah.

Pada usia berapa pun anak menunjukkan kemunduran atau kehilangan kemampuan bicara dan bahasa, padahal sebelumnya sudah sesuai tahapan perkembangannya.

Jika terdapat salah satu dari kondisi ini, sebaiknya segera bawa anak Anda ke klinik tumbuh kembang untuk diperiksa. Di klinik tumbuh kembang, anak Anda akan diperiksa oleh tim yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter spesialis rehabilitasi medik dan psikolog.

Diana Andarini, dr. 

12/06/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. Jeffrey R. Binder, Julie A. Frost, Thomas A. Hammeke. Human Brain Language Areas Identified by Functional Magnetic Resonance Imaging. Journal of Neuroscience, 1 January 1997, 17(1): 353-362. Cited from http://www.jneurosci.org/content/17/1/353.full
  4. Sherwood L. Human physiology from cells to systems. Chapter 5 page 146-52. 2004. Thomson Learning, Inc, USA.
  5. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. Editor edisi bahasa indonesia A. Samik Wahab. Ilmu kesehatan anak Nelson vol.1. Bab 10 halaman 55-64. 1999. Penerbit buku kedokteran EGC, Indonesia.
  6. NIDCD. Speech and Language Developmental Milestones. September 2010. Cited from http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/pages/speechandlanguage.aspx
  7. Perkembangan Bahasa Bayi | Jalur Ilmu [Internet]. [cited 2015 Dec 6]. Available from: http://jalurilmu.blogspot.sg/2011/11/perkembangan-bahasa-bayi.html

Kondom dan Pencegahan Penyakit Menular Seksual

Pasangan suami istri yang ingin mencegah atau menunda kehamilan dianjurkan untuk memakai alat kontrasepsi. Salah satu alat kontrasepsi yang mudah, murah dan cukup aman untuk digunakan ialah kondom. Alat kontrasepsi yang banyak dipakai pria ini juga diketahui amat bermanfaat untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS). Termasuk salah satunya ialah penyakit yang berbahaya seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Kasus penyakit menular seksual, termasuk infeksi HIV, cukup banyak terjadi di Indonesia. Data menyebutkan bahwa jumlah penderita HIV sejak 1987 sampai September 2014 sebanyak 150.296 orang. Kelompok yang paling banyak terinfeksi HIV dan AIDS yaitu laki-laki usia 25-49 tahun. Namun, yang paling mengejutkan bahwa berdasarkan profesi, penderita AIDS yang terbanyak di Indonesia adalah ibu rumah tangga.

Untitled

Sekilas tentang Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual (PMS) ialah penyakit ditularkan melalui hubungan intim. PMS dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit. Beberapa penyakit menular seksual yang cukup banyak dialami masyarakat contohnya sifilis, gonorea (kencing nanah), klamidia (infeksi jamur), trikomoniasis, herpes, dan yang mungkin paling ditakuti ialah HIV.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel darah putih, yang menyebabkan kekebalan tubuh seseorang turun. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. Penderita AIDS sangat mudah terkena berbagai infeksi kuman lain yang sering berakibat fatal.

Bagaimana cara penularan PMS?

Sesuai dengan namanya, penyakit menular seksual paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual. Kuman yang membawa penyakit kelamin ini menyebar melalui kontak dari cairan mani, cairan dari kemaluan wanita atau darah. Seperti pada penularan penyakit kencing nanah (gonore), klamidia, trikomoniasis dan infeksi HIV. Selain itu, penularan bisa juga terjadi saat kontak permukaan mukosa kelamin dengan lesi kulit yang terinfeksi dari penderita. Sebagai contoh lesi kulit yang khas pada penderita herpes, sifilis dan chancroid.

Beberapa penyakit juga bisa ditularkan dari aktivitas non seksual. Contohnya bertukar jarum suntik pada pengguna narkoba, donor darah yang tidak aman, dan penularan dari ibu ke bayi saat proses melahirkan.

Bagaimana cara mencegah PMS?

Hal yang paling efektif dalam mencegah penyakit menular seksual ialah tidak berhubungan suami istri sama sekali bagi yang belum menikah. Bila sudah menikah, penting sekali untuk setia kepada pasangan agar dapat terlindungi dari penyakit menular seksual ini. Selain itu, para wanita dianjurkan untuk disuntik vaksin HPV untuk mencegah infeksi HPV dan kanker serviks.

Khusus untuk penyakit HIV, selain melalui hubungan seksual, HIV juga dapat dicegah dengan :

1. Melakukan skrining produk darah jika menjadi penerima transfusi darah.
2. Tidak menggunakan suntik apapun (termasuk narkoba) kecuali atas indikasi medis.
3. Ibu hamil yg positif HIV disarankan menjalani terapi ARV (anti-retroviral)

Bagaimana cara kondom mencegah PMS?

PMS paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual, oleh karena itu salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah PMS ialah menggunakan kondom. Kondom menutupi seluruh penis, sehingga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari penis penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Kondom yang banyak beredar di Indonesia merupakan jenis kondom yang dipakai pria. Namun ada juga kondom yang dapat dipakai wanita. Kondom wanita mirip kondom pria, berbentuk tabung dengan salah satu ujungnya tertutup, namun ukurannya lebih besar dibanding kondom pria. Kondom wanita menutupi pinggir mulut vagina, seluruh dinding vagina dan mulut rahim. Kondom wanita juga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari serviks dan vagina penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Seberapa efektif kondom mencegah PMS?

Penggunaan kondom lateks secara rutin konsisten dan tepat efektif mencegah penularan PMS. Efektivitasnya sangat bergantung pada metode penularan PMS. Kondom sangat efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui cairan mani dan cairan dari kemaluan wanita, misalnya pada klamidia, gonorea, trikomoniasis dan infeksi HIV. Cairan yang mengandung virus/bakteri tersebut dapat ditampung dan tidak menembus kondom. Pada penelitian tentang HIV, penggunaan kondom dapat menurunkan insidens HIV 69-95%, bahkan jika dikombinasikan dengan terapi ARV (anti-retroviral) maka insidens HIV dapat menurun sampai 99%.

Kondom juga efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui lesi kulit seperti herpes genital, sifilis, chancroid dan infeksi HPV, dengan syarat lesi kulit/area yang terinfeksi tertutup seluruhnya oleh kondom. Namun jika lesi kulit/area yang terinfeksi tidak tertutup oleh kondom, maka perlindungannya tidak efektif.

Bagaimana bila kondom robek? 

Jika kondom robek, maka cairan dari alat kelamin dan lesi kulit yang terinfeksi dapat kontak dengan alat kelamin pasangannya dan menularkan PMS, sehingga kondom menjadi tidak efektif. Selain memasang kondom dengan benar, cara mencegah kondom robek yaitu:

  • Periksa tanggal kadaluarsa sebelum digunakan karena kondom yang sudah kadaluarsa mudah robek.
  • Hati-hati membuka kemasan . Hindari membuka terlalu kasar, tergores kuku atau membuka kemasan dengan gigi.
  • Pastikan kondom tidak robek sebelum dipakai.
  • Jangan memakai lubrikan yang berbahan minyak seperti losion, baby oil, petroleum jelly atau krim (Vaseline), karena bisa merusak kondom.

Kesimpulan

Kelompok yang paling banyak mengidap HIV dan AIDS sejak dahulu tidak berubah, yaitu kelompok laki-laki heteroseksual usia 25-49 tahun. Turunnya kasus AIDS sejak tahun 2004 membuktikan terapi ARV sudah cukup berhasil, namun kasus HIV baru terus meningkat. Selain pencegahan dengan menggunakan kondom secara rutin konsisten dan tepat, disinilah pentingnya kerjasama antara lembaga kesehatan dan keagamaan.

Fakta lain yang mengejutkan adalah cukup tingginya kasus HIV pada ibu rumah tangga. Komunikasi yang baik dan keterbukaan antara pasangan suami istri sangat penting. Komunikasi yang baik dapat dilanjutkan dengan skrining HIV, penggunaan kondom secara rutin konsisten dan tepat, serta terapi ARV. Hal ini penting untuk mencegah infeksi HIV pada anak yang sedang dikandung atau disusui oleh ibu tersebut.

Diana Andarini, dr.

11/30/2015

Referensi

  1. Lee Warner, Daniel R. Newman, Harland D. Austin. Condom Effectiveness for Reducing Transmission of Gonorrhea and Chlamydia: The Importance of Assessing Partner Infection Status. Am. J. Epidemiol. (2004) 159 (3): 242-251. doi: 10.1093/aje/kwh044. Cited from http://aje.oxfordjournals.org/content/159/3/242.full
  2. Department of Health and Human Services. Centers for Disease Control and Prevention. Condoms and STDs: Fact Sheet for Public Health Personnel. Cited from http://www.cdc.gov/condomeffectiveness/docs/Condoms_and_STDS.pdf
  3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Indonesia. Situasi dan Analisis HIV AIDS. Cited from http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin%20AIDS.pdf
  4. Weller SC, Davis-Beaty K. Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission. Cochrane Database of Systematic Reviews 2002, Issue 1. Art. No.: CD003255. DOI: 10.1002/14651858.CD003255. Cited from http://apps.who.int/rhl/reviews/CD003255.pdf
  5. Liu H, Su Y, Zhu L, Xing J, Wu J, Wang N (2014) Effectiveness of ART and Condom Use for Prevention of Sexual HIV Transmission in Serodiscordant Couples: A Systematic Review and Meta-Analysis. PLoS ONE 9(11): e111175. doi:10.1371/journal.pone.0111175. Cited from http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0111175
  6. Weller SC. A Meta-analysis of condom effectiveness in reducing sexually transmitted HIV. Soc Sci Med. 1993 Jun;36(12):1635-44. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8327927
  7. Steven D.Pinkerton, Paul R.Abramson. Effectiveness of condoms in preventing HIV transmission. Soc Sci Med. 1997 May;44(9):1303-12. doi:10.1016/S0277-9536(96)00258-4 Cited from http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0277953696002584
  8. Nicholas John Bennet. HIV Disease Treatment & Management. Cited from http://emedicine.medscape.com/article/211316-treatment#d15
  9. Sexually Transmitted Diseases Causes. Cited from http://www.emedicinehealth.com/sexually_transmitted_diseases/page2_em.htm#sexually_transmitted_diseases_stds_causes
  10. Condoms. Cited from http://www.nhs.uk/conditions/contraception-guide/pages/male-condoms.aspx
  11. UNAIDS. Making Condoms Work for HIV Prevention. Cited from http://data.unaids.org/Publications/IRC-pub06/JC941-CuttingEdge_en.pdf