Author Archives: Dyna Rochmianingsih

Jangan Lagi Ada Duka: Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

Dewi adalah seorang wanita paruh baya yang tinggal di sebuah desa di kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Dalam perbincangannya dengan Doctormums, Dewi menceritakan bagaimana dia menyaksikan kematian seorang ibu yang melahirkan Ayu, anak angkatnya yang saat ini berusia 12 tahun.

“Malam itu hujan turun begitu deras. Seseorang mengetuk pintu rumah saya dan meminta saya untuk segera menuju rumah saudara ipar yang sedang melahirkan disana,” kenangnya

Sesampainya di rumah tesebut, tukas Dewi, dia melihat semua orang dalam keadaan panik. Ibunda sang bayi mengalami pendarahan dan harus segera dibawa di rumah sakit. Dewi diminta keluarga sang Ibunda untuk menjaga bayi yang baru saja lahir selama sang Ibunda berada di rumah sakit. Namun Dewi tidak menunggu lama, malam itu juga Ibunda sang bayi pulang dalam keadaan tak bernyawa.

“Sedih kali malam itu. Di kamar itu jenazah ibunya bersanding dengan bayinya yang masih merah,” jelas Dewi sambil menitikkan air mata.

Dewi kemudian mengasuh bayi itu dan memberinya nama Ayu. Menurut Dewi, Ayu sudah mengetahui statusnya sebagai anak angkat namun dia enggan untuk mengetahui cerita tentang ibu kandungnya.

“Kayaknya dia (Ayu) sedih. Mungkin dia berpikir kenapa Ibunya harus meninggal,” tukas Dewi

Di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, ada banyak anak yang tak pernah menatap ibu kandungnya seperti Ayu. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2017, 1 orang Ibu meninggal setiap 6 jam di Indonesia karena melahirkan. Sedangkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tidak berkurang secara signifikan dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 1991, angka kematian ibu melahirkan adalah 390 per 100.000 kelahiran hidup dan hanya berkurang menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2012.

Pada tahun 2015, Indonesia juga tidak berhasil mencapai target Millenium Development Goals (MDG) ingin menurunkan angka kematian Ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup karena pada tahun ini angka kematian ibu di Indonesia masih berada di angka 305 per 100.000 kelahiran.

Untuk mengatasi masalah ini, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merekomendasikan pembentukan Komite Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia. Rabu lalu (28/03/2018), AIPI menyerahkan rekomendasi ini kepada Nila F Moeloek selaku Menteri Kesehatan RI.

“Permasalahan kematian ibu dan bayi memiliki penyebab yang kompleks, sehingga upaya penurunannya memerlukan kolaborasi dari berbagai sektor seperti profesional di bidang kesehatan, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki

Selain mengajukan ide pembentukan Komite Nasional, AIPI juga memberi masukan terkait tiga topik utama dalam menyelamatkan ibu dan bayi yaitu tempat persalinan, penyedia jasa kesehatan, dan partisipasi masyarakat.

Pada tahun 2013, AIPI, bekerjasama dengan US National Academy of Sciences, mulai melakukan kajian tentang angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Hasil kajian tersebut menemukan bahwa Indonesia kekurangan data dan informasi yang valid tentang kematian ibu dan bayi baru lahir selama beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2016, AIPI kemudian membentuk Evidence Summit untuk menelaah masalah tersebut dengan dukungan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Hasil telaah sistematis (systematic review) Evidence Summit menemukan sejumlah penyebab utama tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Di antaranya, belum meratanya akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas; keterlambatan mendapat pertolongan pada keadaan darurat; belum memadainya data dan pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi; sistem informasi kesehatan yang belum terpadu; hingga permasalahan regulasi, contohnya Undang-undang Perkawinan No. 1/1974 yang mengatur usia pernikahan minimal 16 tahun untuk perempuan.

Selain AIPI, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) juga melakukan kajian mengenai tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Pada tahun 2013, jumlah ibu yang memilih untuk melakukan persalinan di rumah mencapai 29.6% dari total ibu melahirkan di Indonesia. Persalinan di rumah ini meningkatkan resiko kematian Ibu dan bayi baru lahir di Indonesia seperti apa yang terjadi pada Ibunda Ayu yang meninggal 12 tahun lalu. Sebagai upaya menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia, berikut ini adalah beberapa rekomendasi dari Ikatan Ilmuwan di Indonesia yang perlu menjadi PR bersama:

  1. Melahirkan di fasilitas kesehatan, bukan di rumah. Bersalin di rumah meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi meski sudah didampingi tenaga kesehatan profesional (Rahardja, 2013; Purnama, 2010; Sandall, 2016; Chinkumba, 2014; Titaley, 2005, 2016; Hatt, 2009).
  2. Tingkatkan akses untuk bersalin di fasilitas kesehatan. Banyak kasus kematian terjadi karena pasien & keluarga baru mencari pertolongan tenaga profesional di saat darurat. Akibatnya, pasien tiba dalam keadaan kritis dan sulit ditangan (Scott, dkk, 2013).
  3. Tingkatkan kualitas pelayanan persalinan, dengan mengevaluasi dan mengakreditasi fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk meningkatkan kualitas tenaga profesional kesehatan dan membuat persalinan ditangani secara kolaboratif oleh tim yang terdiri atas dokter, bidan, dan perawat.
  4. Perbaiki sistem rujukan serta perencanaan tempat persalinan dan perawatan berbasis penentuan risiko kehamilan, termasuk meningkatkan koordinasi dengan kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional.
  5. Meningkatkan peran & regulasi dari pemerintah daerah, termasuk menetapkan pengurangan angka kematian ibu dan anak sebagai indikator kinerja bagi kepala daerah.
  6. Meninjau kembali regulasi tentang batas usia perkawinan dan cuti persalinan bagi perempuan dan laki-laki.
  7. Tingkatkan peran masyarakat termasuk keluarga, tokoh masyarakat dan agama untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang perencanaan kehamilan dan pencegahan komplikasi.
  8. Kembangkan sistem data terpadu tentang kesehatan ibu dan bayi untuk mempermudah akses terhadap data-data berkualitas untuk proses pengambilan keputusan.
  9. Membentuk Komite Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir, yang sekaligus berfungsi sebagai forum komunikasi antara peneliti, praktisi dan penyusun kebijakan.

SUMBER: Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)

 

*Dewi dan Ayu bukanlah nama sebenarnya

Depresi Postpartum

Berita mengenai mutilasi anak yang dilakukan oleh ibunya sendiri telah mendapatkan sorotan yang cukup tajam dari berbagai kalangan. Kejadian semacam itu membuahkan banyak pertanyaan mengenai motif pelakunya yang merupakan orang terdekat sang anak. Meskipun hingga kini belum ada klarifikasi yang solid dari pihak kepolisian, salah satu diagnosis diferensial dari fenomena ini mengarah pada kondisi depresi paska melahirkan atau yang lebih dikenal dengan depresi postpartum.

~

Perubahan kondisi kejiwaan adalah hal yang lazim ditemukan pada ibu yang baru melahirkan. Kelahiran si kecil merupakan hal yang bisa membuat emosi sang ibu tidak stabil karena perubahan hormon yang drastis dari kehamilan. Tingkatan kondisi kejiwaan ini bervariasi dari mulai ringan hingga berat. Berikut adalah 3 jenis kondisi kejiwaan yang dapat ditemukan paska melahirkan:

  1. Post Partum Blues /Baby Blues (PPB)

Baby Blues adalah kondisi kejiwaan yang paling ringan dan paling lazim ditemukan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 60-80% perempuan yang baru melahirkan mengalami sindrom ini. Biasanya baby blues hanya bertahan beberapa hari atau 2 minggu setelah kelahiran. Tanda-tanda baby blues diantaranya adalah:

  • suasana hati yang mudah berubah
  • gelisah
  • kesedihan
  • mudah tersinggung
  • menangis tanpa sebab
  • konsentrasi menurun
  • tidak nafsu makan
  • sulit tidur
  1. Post Partum Depression (PPD)

Depresi setelah melahirkan (PPD) adalah kondisi kejiwaan yang lebih parah dari baby blues. Gejala awal PPD seringkali serupa dengan baby blues, namun tanda tanda ini semakin kuat terasa dan bertahan lebih lama. Para ibu yang mengidap PPD biasanya kesulitan dalam mengasuh bayinya  ataupun melakukan kegiatan sehari-hari. Gejala ini biasanya berkembang beberapa minggu setelah melahirkan, atau malah 6 bulan setelahnya. Statistik menunjukkan bahwa 10-15% perempuan melahirkan mengalami PPD.

Faktor-faktor yang dapat memicu PPD adalah:

  • Kegelisahan selama masa kehamilan
  • Kejadian yang sangat menekan jiwa saat kehamilan
  • Dukungan sosial (suami dan keluarga) yang sangat minim
  • Depresi di masa lalu

Sedangkan gejala PPD dapat meliputi:

  • Depresi berlebihan atau perubahan suasana hati yang sangat parah
  • Menangis berlebihan
  • Kesulitan menjalin ikatan pada anak
  • Kehilangan nafsu makan atau makan terlalu banyak
  • Insomnia (sulit tidur)
  • Ketakutan tidak dapat menjadi ibu yang baik
  • Berpikir menyakiti bayi atau diri sendiri
  • Berpikir untuk bunuh diri
  • Sangat mudah tersinggung dan marah
  • Merasa sangat lelah
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukainya
  1. Post Partum Psychosis (PPP)

Post Partum Psychosis adalah gangguan kejiwaan yang paling parah yang dapat ditemukan pada ibu yang baru melahirkan. Dibandingkan baby blues dan post partum depression, PPP lebih jarang ditemukan. Gejala PPP meliputi pikiran yang terganggu, halusinasi, dan gangguan bicara juga tingkah laku.

Statistik menunjukkan bahwa 1-2 kasus PPP ditemukan dalam 1000 kasus kelahiran bayi. Namun demikian, peluang kejadiannya lebih besar ditemukan pada wanita dengan kelainan bipolar dan skizofrenia. Tidak seperti baby blues yang bisa hilang dengan sendirinya, PPP harus ditangani oleh dokter dan disembuhkan dengan obat-obat tertentu. Namun demikian, sebuah penelitian menunjukkan bahwa peran ayah dalam memperbaiki hubungan ibu dan anak pada kasus PPP sangat signifikan.

Dyna Rochmyaningsih

Sumber:

  1. Manjunath, Narasimhiah G dkk. 2011. Post Partum Blues is Common in Socially and Economically Insecured Mothers.  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3214451/, 5 Oktober 2016.
  2. Anonim. 2016. Depression Among Women. Diunduh dari: https://www.cdc.gov/reproductivehealth/depression/, 5 Oktober 2016.
  3. Robertson, Emma, dkk. 2004. Antenatal risk factors for postpartum depression: a synthesis of recent literature. http://www.ghpjournal.com/article/S0163-8343(04)00039-8/abstract?cc=y= , 6 Oktober 2016.
  4. Anonim. 2015. Post Partum Depression. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-depression/basics/symptoms/con-20029130, 6 Oktober 2016.
  5. Brockington, Ian. 2004. Post Partum Psychiatric Disorded. Diunduh dari: http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(03)15390-1/abstract, 6 Oktober 2016.

Daycare dan Leukimia Akut: Apa Hubungannya?

Sejumlah ilmuwan dari Institut Riset Kanker di Universitas London menemukan hubungan antara penyakit Acute Lymphoblastic Leukimia (ALL), atau yang populer disebut leukimia akut, dengan tempat penitipan anak (daycare). Namun jangan khawatir bunda, keterkaitan yang ditemukan adalah hubungan yang positif dimana anak-anak yang mengikuti day-care pada fase awal kehidupannya cenderung tidak mudah mengidap penyakit leukimia, dibandingkan anak-anak yang terlalu dibatasi ruang bermainnya.

Penelitian yang dilakukan selama lebih dari 7 tahun ini menemukan bahwa jika anak sering mengalami kontak dengan virus atau bakteri penyebab infeksi ringan (batuk pilek, radang, dsb), maka anak tersebut akan lebih terlindungi dari penyakit leukimia.

sn-leukemia

Gambar menunjukkan sel darah tikus yang menjadi leukemia setelah disuntikkan dengan sel yang diperlakukan untuk keperluan stimulasi infeksi multipel. Warna menunjukkan pasangan kromosom. Pada sel yang abnormal ini terdapat 3 kopi kromosom 18 (MARKUS MÜSCHEN/UCSF)

Day care adalah tempat dimana seorang anak berinteraksi dengan banyak anak-anak lain dan disinilah kesempatan mendapatkan infeksi virus atau bakteri menjadi lebih tinggi. Logikanya, infeksi ringan yang berulang bisa melatih sistem kekebalan tubuh anak sehingga bisa menjadi lebih “tangguh” dari waktu ke waktu.

Mel Greaves, salah satu penulis dalam penelitian ini, menyatakan bahwa anak-anak yang “terlalu dilindungi” dari infeksi virus akan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rentan terhadap leukimia. “Karena jarang terpapar oleh infeksi, sistem kekebalan tubuh anak-anak ini cenderung menimbulkan reaksi berlebihan (overreact) dan hal ini bisa memicu leukimia,” kata Greaves

Leukimia akut adalah suatu penyakit kelainan sistem kekebalan tubuh, dimana sel B dari sistem kekebalan tubuh kita tidak berkembang sedemikian rupa sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sel B adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh kita yang bertugas mencari “virus/bakteri” yang menyusup di aliran darah kita. Dalam tubuh penderita leukimia akut, produksi sel B cenderung meningkat dan menyerang sel tubuh normal karena menyangka sel normal tersebut sebagai bakteri“penyusup”.

leukemia

Leukemia (http://cdn3.dogomedia.com/)

Penelitian yang dilakukan oleh Greaves menemukan bahwa berubahnya tingkah laku sel B bisa dicegah dengan adanya infeksi ringan yang berulang. Atau jika ingin diumpamakan, kekebalan tubuh kita dilatih dengan beberapa kali “serangan” dari luar. Penelitian ini juga mendukung gagasan bahwa vaksinasi, atau mengenalkan antigen pada tubuh anak, memiliki dampak positif bagi kesehatan tubuh anak.

Dyna Rochmianingsih, S.Si (Science Journalist)

Tulisan sudah di tinjau oleh Hanifah Widiastuti, PhD.

Referensi

  1. Swaminathan S, Klemm L, Park E, Papaemmanuil E, Ford A, Kweon S-M, et al. Mechanisms of clonal evolution in childhood acute lymphoblastic leukemia. Nat Immunol [Internet]. 2015 May 18 [cited 2015 Jun 1];advance online publication. Available from: http://www.nature.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/ni/journal/vaop/ncurrent/full/ni.3160.html2. Cornwall W. Study may explain mysterious cancer–day care connection. Science [Internet]. 2015 May 18 [cited 2015 Jun 1]; Available from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25985233
  2. Cornwall W. Study may explain mysterious cancer–day care connection. Science [Internet]. 2015 May 18 [cited 2015 Jun 1]; Available from: http://news.sciencemag.org/biology/2015/05/study-may-explain-mysterious-cancer-day-care-connection