Author Archives: Farah Suraya

Mengisap Jempol dan Menggigit Kuku Melindungi dari Alergi?

Kita memang harus memilih pertempuran kita di rumah. Sebagai seorang dokter anak saya tidak pernah terlalu bersemangat menganjurkan orang tua untuk menghabiskan banyak energi mencoba menghilangkan kebiasaan mengisap jempol atau menggigit kuku anak-anak mereka. Umumnya, orang tua jarang berhasil — teman-temannya lah yang sukses. seringkali justru ketika teman atau kelompoknya menyebut-nyebut kebiasaan sang anak, dia menjadi termotivasi untuk berhenti. Kita dapat memberi dukungan dengan cara mengingatkan mereka saat tangan mereka berada di dalam mulut atau bahkan menyuruh mereka memasang kaos kaki di tangan saat menonton televisi karena umumnya sering tanpa sadar melakukan kebiasaan tersebut. Meskipun banyak orang tua khawatir tentang kebiasaan anak-anak mereka mengisap jempol dan jari-jari mereka, kebiasaan tersebut umum terjadi, dengan hasil beberapa studi menemukan hampir 25% anak-anak melakukannya. Banyak waktu dihabiskan untuk memikirkan cara-cara yang dapat menolong anak-anak kita berhenti, mengkhawatirkan apakah kuman-kuman di tangan mereka akan menjadi penyakit, dan berharap kebiasaan tersebut di mempengaruhi gigi-gigi mereka. Sebuah studi terbaru di Jurnal Pediatrics meyoroti mungkin ada sebuat efek positif dari mengisap jempol. Ini patut disebut.

Perlindungan terhadap alergi dari mengisap jempol dan menggigit kuku?

Studi ini menilai anak-anak usia antara 5 hingga 11 tahun dan diagnosis mereka kemudian berupa alergi serbuk bunga, uji tusuk kulit alergi dan asma. Landasan studi ini diambil dari konsep hipotesis tentang kebersihan yang agak kontroversial. Dasar pemikiran hipotesis tersebut adalah pajanan kuman di awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap cara sistem imun kita memberikan respon selama masa tumbuh kembang. Kita mungkin membangun toleransi dan imunitas sehingga kita menyesuaikan diri menjadi lebih kurang alergi jika memiliki berbagai jenis bakteri dan kuman. Pada dasarnya, hidup di lingkungan yang steril mungkin tidak menjadikan lebih ‘aman’ karena beberapa orang percaya perlu berhadapan dengan banyak kotoran, bakteri, dan kuman di awal dan mungkin karena tidak memiliki banyak sensitivitas kemudian….

Di masa lalu teori-teori hipotesis kebersihan telah mendukung penurunan risiko asma (kotoran dan kuman yang berasal dari binatang peliharaan dapat menurunkan alergi atau asma kemudian) dan sebuah studi kecil tahun 2013 yang lalu menemukan bahwa anak-anak yang dot-nya ‘dibersihkan’ dengan mulut orang tua mereka memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk timbul alergi (teorinya adalah bakteri yang berpindah dari ludah ibu/ ayah kepada bayinya mengubah pola pajanan bayi terhadap bakteri dan mungkin menjauhi kecenderungan alaergi atau asma dikemudian hari). Jadi sejumlah peneliti mencari lebih jauh efek pada anak-anak yang sering memasukkan tangan ke dalam mulut apakah ada perlindungan yang diberikan — mereka mengevaluasi data dengan rentang waktu sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Sebuah studi dari New Zealand yang keluar baru-baru ini mengikuti peserta sejak kecil (usia 5 tahun) hingga dewasa (usia 32 tahun). Mereka menemukan bahwa anak-anak yang memiliki kebiasaan mengisap jempol/ jari atau menggigiti kuku-kuku mereka memiliki kemungkinan yang lebih kecil memberikan hasil positif pada uji kulit alergi saat remaja juga saat berusia 30-an. Kebiasaan menggigit kuku dan mengisap jempol sayangnya tidak menurunkan risiko untuk alergi serbuk bunga atau asma di masa tua. Hipotesis kebersihan mereka agaknya bisa menjadi benar: paparan terhadap kotoran dan kuman dari tangan ke mulut saat di awal kehidupan dapat meningkatkan toleransi dan mengubah sistem imun anda. Dapat menjadikan kita lebih tahan terhadap alergi umum (kucing, tungau debu, dan lain-lain). Kelegaan untuk para orang tua yang mungkin benar-benar khawatir dengan kebiasaan tersebut.

Apa yang bisa diambil? Mungkin terdapat semacam perlindungan dari kebiasaan alami untuk menenangkan diri seperti mengisap jempol.

Tips Untuk Orang Tua Dengan Anak Penghisap Jempol

Anda tidak perlu menghentikannya. Ini hanyalah salah satu cara bayi dan anak-anak menghibur dan menenangkan diri. Jika mereka diolok-olok atau anda khawatir mengenai infeksi pada tangan atau kulit mereka, maka usahakan untuk membimbing mereka menjauhi kebiasaan tersebut saat mereka lupa.Terlalu menekan anak anda untuk berhenti mungkin lebih memberikan akibat buruk ketimbang yang baik. Setiap dorongan adalah dorongan jadi meskipun anda mengomel dan memberikan dorongan negatif bisa jadi malah memperkuat kebiasaan tersebut. Tidak diragukan bahwa kebiasaan mengisap jempol (penggunaan empeng yang berkepanjangan setelah usia 2 tahun) dapat memberikan efek merugikan pada barisan gigi — hal ini dapat membuat barisan gigi maju. Termasuk pada penggunaan empeng (terutama jika digunakan jangka panjang atau menggunakan ukuran yang tidak sesuai). Jika anak anda berhenti mengisap empeng atau jempol atau jarinya sebelum gigi depan permanennya tumbuh, besar kemungkinan pola gigitannya akan membaik dengan sendirinya karena gigi-giginya masih dapat bergerak menyesuaikan diri di dalam rahang.

Menghentikan Kebiasaan mengisap Jari & Mengempeng

  • Anak-anak umumnya berhenti mengisap jari mereka karena tekanan kelompoknya bukan orang tua. Mereka seringkali akan menghilangkan kebiasaan tersebut sendiri saat teman-teman mereka mendorongnya.
  • Puji dan berikan penghargaan kepada anak anda saat bertahan untuk tidak mengisap jari atau menggunakan empeng jika hal tersebut membantu mereka lebih percaya diri. Jika anda sedang mencoba menghentikan kebiasaan mengempeng, saya sarankan hentikan saja langsung pada sekitar usia 2 tahun atau sebelumnya. Setelah beberapa hari dan sejumlah mainan pengganti untuk menenangkan diri, keadaan biasanya segera membaik seperti biasa.
  • Jaga agar tangan mereka selalu sibuk atau teralihkan dengan hal-hal yang mereka sukai jika anda memotivasi anak dengan usia sekolah untuk berhenti. Beri penghargaan jika mereka berhasil (misalnya jalan-jalan istimewa ke taman bermain tertentu).
  • Tidak peduli metode apapun yang anda coba lakukan, pastikan untuk menjelaskannya pada anak anda dan tugaskan mereka sebagai rekan. Kita tidak ingin menjadi dipandang sebagai tukang ngomel, apalagi oleh anak-anak kita.

July 13, 2016

DoctorMums HeadshotDitulis oleh by Dr. Wendy Sue Swanson, Pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and penulis dari Blog Seattle Mama Doc & ; Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/benefit-thumb-sucking/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh Farah Suraya, dr.

Probiotik untuk Bayi?

Saya menjadi semakin percaya terhadap pemberian probiotik pada anak. Bukan karena apa-apa dan juga bukan karena saya mendukung pihak tertentu. Probiotik, pada dasarnya adalah bakteri “baik” hidup yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan (biasanya Lactobacillus Acidophilus di Amerika Serikat). Saat ini probiotik semakin banyak tersedia dan semakin sering direkomendasikan oleh para dokter.

Peran Probiotik Untuk Bayi

Peran mikroba di dalam kesehatan kita adalah topik yang seru. Probiotik diduga dapat meningkatkan kesehatan usus dengan cara mengembalikan atau meningkatkan jumlah bakteri baik sementara secara bersamaan dia juga menurunkan populasi bakteri yang berbahaya.

Bakteri di dalam usus merupakan bagian normal dari kesehatan saluran pencernaan, tetapi jumlah populasi bakteri dalam usus kita dapat berubah karena penyakit, penggunaan antibiotik, makanan yang dimakan/ dimodifikasi, ataupun perubahan-perubahan lain dalam hidup kita. Apa yang kita makan dan kemana kita pergi untuk minum air, mengubah apa yang hidup di usus kita. Penelitian juga menemukan dimana bakteri yang hidup bersama di tubuh kita dapat mempengaruhi penyakit-penyakit lain di luar usus seperti eksema, alergi, dan/atau asma.

Probiotik

Probiotik sebagai Bakteri ‘Baik’

Pada anak-anak, suplemen probiotik dapat mendukung penyembuhan dari diare akut dengan cara menurunkan jumlah episode diare dan lamanya waktu diare. Probiotik juga dapat mencegah munculnya diare pada anak-anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik. Kenyataannya adalah banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi populasi bakteri dalam tubuh kita. Hal ini dimulai sejak seseorang lahir. Kita mengetahui contoh pada bayi-bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar memiliki populasi bakteri yang berbeda pada tinja mereka ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara normal, dalam waktu seminggu setelah dilahirkan. Jadi sejak dari awal, pilihan-pilihan yang kita buat (atau yang orang tua kita buat) dapat mengubah lingkungan di dalam tubuh kita. Hal ini pada akhirnya dapat mengubah kesehatan kita. Sejumlah dokter mempelajari efek probiotik pada bayi kolik…

Probiotik sering ditemukan secara alami pada makanan (yogurt dengan kultur aktif) sementara beberapa yogurt dan makanan yang diperdagangkan (termasuk susu formula bayi) memiliki kultur probiotik tambahan (fortified by additional cultures). Anda juga dapat membeli kapsul Lactobacillus (atau probiotik lain) di toko obat dan makanan sehat. Seberapa aktif, dan seberapa banyak probiotik yang tersisa di dalam produk-produk ini? Ini masih menjadi perdebatan.

Di Amerika Serikat, suplemen probiotik (dan makanan yang difortifikasi dengan kultur) tidak diregulasi oleh FDA. Tidak diketahui berapa banyak bakteri yang ada di dalam sebuah kapsul probiotik dan mungkin juga ada perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya dari hari ke hari. Dan jika kultur probiotik mati, mereka hanya sedikit berpengaruh untuk mendorong perubahan di dalam tubuh. Sebagai konsumen, adalah mustahil untuk mengetahui apakah suplemen tersebut masih hidup.

Seperti yang telah dikatakan, walaupun pilihan probiotik di Amerika Serikat terbatas, literatur dan penelitian tentang mengubah bakteri pada seorang anak untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka merupakan hal yang sangat menarik dan menjanjikan. Selain Lactobacillus, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat mengenai probiotik. Tapi, kami belajar sangat banyak dari rekan kami di Eropa. Risiko pemberian suplemen bakteri baik ini terbukti sangat rendah pada anak-anak dengan sistem imun yang sehat. Namun seperti hal lainnya dalam ilmu kesehatan anak, secara teoritis, selalu ada resiko ketika kita mencoba untuk mengintervensi hasil penelitian ini.

Sebuah penelitian Italia pada jurnal Pediatrics menguji keuntungan probiotik untuk bayi yang rewel atau kolik. Para peneliti menemukan hasil positif pada bayi-bayi ASI yang menerima dosis harian Lactobacillus reuteri. Di Eropa, probiotik diregulasi dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan di Amerika Serikat (dan juga Indonesia). Jadi, terdapat kemungkinan data/ penelitian ini tidak dapat diaplikasikan kepada bayi-bayi kita karena kita tidak memiliki akses kepada suplemen yang sama. Tapi bacalah apa yang mereka temukan.

Pada penelitian tersebut:

  • Kolik ditetapkan menggunakan aturan 3 (rule of 3’s). Bayi kolik didefinisikan dengan usia dibawah 3 bulan yang menangis lebih dari 3 jam sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama paling sedikit 3 minggu.
  • Sekitar 50 bayi kolik yang ASI eksklusif dikelompokkan secara acak ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok bayi diberi suplemen plasebo/inert tanpa probiotik, sementara kelompok yang lain mendapatkan Lactobacillus setiap hari. Para orang tua dan peneliti tidak mengetahui bayi mana yang mendapatkan bakteri (penelitian double blind).
  • Diantara bayi kolik yang menerima probiotik, terdapat pengurangan yang bermakna terhadap lamanya waktu menangis harian pada akhir penelitian (21 hari) dibandingkan dengan kelompok plasebo.
  • Tangisan semakin membaik pada akhir penelitian di kedua kelompok, seperti yang diharapkan dengan kolik.
  • Peneliti juga menganalisa tinja dari kedua kelompok bayi dan menemukan populasi bakteri yang berbeda antara kelompok bayi. Mereka yang diberi probiotik memiliki jauh lebih banyak Lactobacillus di tinja mereka.
  • Para peneliti berteori bahwa perubahan lingkungan usus (bakteri, amonia) mungkin telah mengubah pengalaman sensorik pada bayi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perilaku menangis mereka.

Sulit membuktikan bahwa bakteri yang diberikan kepada bayi-bayi inilah yang bertanggung jawab langsung terhadap perbaikan tangisan tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok benar-benar terlihat. Dan walaupun terasa “aneh” bagi orang tua untuk memberi makan anak mereka dengan bakteri, setelah kami mendiskusikan keuntungannya, banyak orang tua yang memilih memberikan suplemen Lactobacillus kepada anak-anak mereka karena biayanya yang rendah dan mudah diberikan (dapat ditaburkan pada apa saja).

Jika bayi anda sering menangis dan anda mulai khawatir akan kolik, anda bisa berdiskusi dengan dokter anak anda untuk memulai pemberian suplemen Lactobacillus. Dengan risiko yang rendah, pemberian probiotik akan meredakan tangisan anak anda dan itu hal yang bagus bagi semua orang. Intinya adalah saya tidak berpikir probiotik akan berbahaya bagi bayi yang rewel, dan ini adalah penelitian baru yang mengindikasikan hal tersebut dapat benar-benar membantu.
Kalau begitu, berilah sesendok bakteri untuk bayi Anda!

DoctorMums Headshot

Written by Dr. Wendy Sue Swanson, pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and author of the Seattle Mama Doc Blog & Mama Doc Medicine. Learn more by following her onTwitter (@SeattleMamaDoc) and Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel diterjemahkan oleh Farah Suraya, dr. dengan izin dari Seattle Mama Doc. Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/a-spoonful-of-bacteria-for-baby/

Referensi

Savino F, Cordisco L, Tarasco V, Palumeri E, Calabrese R, Oggero R, et al. Lactobacillus reuteri DSM 17938 in Infantile Colic: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Pediatrics. 2010 Sep 1;126(3):e526–33.

Gagap pada Balita

Bagaimana jika balita anda yang sebelumnya mulai atau telah lancar berbicara tiba-tiba bicara gagap, padahal beberapa saat sebelumnya anda yakin tidak ada hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya. Anda tentu kaget, bingung dengan ‘permainan’ baru si anak, ragu-ragu untuk memberikan tanggapan yang sesuai, merasa khawatir telah melewatkan sesuatu yang mungkin menjadi penyebab, dan mungkin terbesit perasaan bersalah karena merasa kurang dalam mengasuh anak. Setumpuk pertanyaan pun muncul dalam benak anda, dan yang pasti, ‘Bagaimana mengatasi hal ini?’

Apa itu gagap?

Gagap merupakan suatu kelainan yang mempengaruhi kelancaran bicara yang melibatkan adanya gangguan yang cukup sering dan berarti pada kelancaran dan aliran bicara. Orang yang mengalami gagap tahu apa yang ingin diutarakan namun kesulitan untuk mengatakannya. Misalnya, mereka akan mengulangi atau memperpanjang bunyi sebuah kata, suku kata, atau kalimat, atau berhenti ditengah-tengah pembicaraan serta tidak membuat bunyi pada suku kata tertentu.

Stuttering-Child-1

Gagap merupakan kondisi yang cukup umum pada anak kecil sebagai bagian yang normal dari proses belajar bicaranya. Anak-anak yang lebih muda sering berbicara gagap saat kemampuan bicara dan bahasanya belum berkembang cukup baik untuk mengimbangi apa yang ingin mereka katakan. Sebagian besar anak akan keluar dari gagap masa perkembangan (developmental stuttering) ini.
Kadang-kadang, gagap dapat menjadi kondisi yang kronis yang menetap hingga mereka dewasa. Jenis gagap ini dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan interaksi dengan orang lain.

Anak-anak dan orang dewasa yang bicara gagap dapat dibantu dengan berbagai jenis terapi misalnya terapi bicara, konseling psikologis, atau menggunakan suatu alat elektronik untuk memperbaiki pola bicaranya.

Pada siapa gagap bisa terjadi?

Setiap orang dapat terkena bicara gagap pada umur berapa saja, tetapi lebih umum terjadi pada anak yang baru belajar mengembangkan kemampuan berbahasanya. Anak laki-laki dua kali lebih mungkin mengalami bicara gagap dibandingkan dengan anak perempuan; Namun semakin bertambah dewasa, Anak laki-laki yang tetap gagap tiga hingga empat kali lebih sering daripada anak perempuan. Disfluensi bahasa yang termasuk normal umumnya muncul saat anak berusia 18 hingga 24 bulan akibat laju penambahan kosa kata yang terlalu cepat, dan berlangsung hilang timbul hingga anak berusia 5 tahun.

Sekitar satu dari lima anak pada suatu waktu memiliki disfluensi yang cukup parah sehingga menjadi kekhawatiran bagi orangtuanya. Dan pada sekitar satu dari 20 anak akan terjadi bicara gagap yang dapat berlangsung hingga lebih dari 6 bulan. Walaupun gagap yang dialami cukup berat dan lebih dari 6 bulan, tidak berarti akan berlanjut menjadi masalah hingga seumur hidup. Mengetahui apa yang perlu diperhatikan dan bagaimana cara merespon gagap pada anak anda dapat membantu mencegah hal tersebut terjadi.

Bagaimana mengenali tanda dan gejala bicara gagap?

Bicara gagap sering berbentuk pengulangan sebuah atau sebagian kata, juga adanya pemanjangan pengucapan. Gangguan ini terjadi lebih sering pada orang atau anak dengan gagap dibandingkan dengan populasi normal. Sejumlah anak yang mengalami gagap terlihat sangat tegang atau seperti kehabisan napas ketika berbicara. Pembicaraan dapat sepenuhnya berhenti atau tertahan, yaitu ketika mulut dalam posisi mau mengeluarkan sebuah suara, terkadang hingga beberapa detik, tapi hanya sedikit suara yang keluar atau tidak bersuara sama sekali. Untuk melengkapi sebuah kata, anak biasanya berusaha cukup keras. Suara atau kata tambahan seperti “em” dapat muncul terutama sering berupa pengulangan (“e-em-em”) atau pemanjangan (“eeeem”) suara atau ketika digunakan untuk menunda pembicaraan dimana anak merasa akan ‘terhenti’.

Tanda dan gejala bicara gagap dapat meliputi:

  • Kesulitan untuk memulai sebuah kata atau berbicara
  • Memperpanjang pengucapan sebuah kata atau suara pada kata tersebut (“SSSS aya juga mau!”)
  • Mengulang-ulang suara, suku kata, atau sebuah kata (“M- M- M- Mau kemana?”)
  • Terdiam pada suku kata tertentu, atau berhenti sejenak saat mengucapkan sebuah kata
  • Tambahan suara pada sebuah kata seperti “em” jika mengira akan kesulitan melanjutkan berbicara ke kalimat selanjutnya
  • Wajah atau tubuh bagian atas terlihat tegang, kencang, atau bergerak-gerak secara berlebihan saat akan mengucapkan suatu kata
  • Merasa gelisah saat ingin berbicara
  • Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif terbatas

Kesulitan berbicara akibat gagap dapat disertai dengan:

  • Kedipan mata yang cepat
  • Tremor pada bibir atau rahang
  • Tik (gerakan tiba-tiba yang sulit dikontrol) pada wajah
  • Sentakan kepala
  • Mengepalkan tangan

Bicara gagap dapat menjadi lebih parah saat anak terlalu bersemangat, terlalu lelah, atau dibawah stres, atau ketika anak merasa sadar diri, diburu-buru atau tertekan. Situasi dimana seorang anak harus berbicara di depan orang banyak atau bercakap-cakap melalui telepon dapat merupakan hal yang sulit bagi anak yang bicara gagap.

Namun, sebagian besar orang yang bicara gagap dapat berbicara dengan lancar saat mereka berbicara dengan diri sendiri dan ketika bernyanyi atau berbicara bersama-sama dengan orang lain.

Apa yang menyebabkan bicara gagap?

Para ahli menunjukkan terdapat 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya gagap:

  1. Adanya riwayat keluarga bicara gagap. Terdapat pertentangan mengenai faktor genetik karena sampai saat ini gen spesifik penyebab gagap belum teridentifikasi. Tetapi hampir 60% penderita gagap memiliki seseorang dikeluarganya yang juga bicara gagap atau pernah bicara gagap
  2. Tumbuh kembang anak. Anak-anak yang belajar bahasa kedua atau memiliki gangguan bicara yang lain lebih mungkin mengalami gagap dibandingkan dengan anak-anak yang tidak
  3. Neurofisiologi. Pada beberapa anak yang bicara gagap, bahasa diproses di bagian-bagian otak yang berbeda dari anak-anak yang tidak gagap. Hal ini juga dapat mempengaruhi interaksi antara otak dengan otot-otot yang mengontrol proses bicara
  4. Dinamika keluarga. Beberapa anak yang bicara gagap diketahui memiliki keluarga dengan harapan pencapaian yang tinggi dan gaya hidup dengan rutinitas yang cepat

Para peneliti juga masih terus mempelajari penyebab gagap yang menetap. Kombinasi dari beberapa faktor mungkin terlibat. Beberapa hal yang mungkin menyebabkan gagap yang menetap antara lain:

  • Gangguan kontrol pada otot-otot berbicara. Beberapa bukti menunjukkan adanya gangguan pada kontrol otot bicara, seperti pada koordinasi waktu, sesorik, dan motorik
  • Genetik. Gagap yang cenderung menurun di keluarga, terlihat dapat diakibatkan karena gangguan pusat bahasa di otak yang diturunkan secara genetik
  • Kondisi medik. Gagap yang dapat merupakan hasil dari stroke, trauma, atau cedera otak lain
  • Masalah kesehatan mental. Pada kondisi tertentu yang jarang terjadi, trauma emosional dapat menyebabkan terjadinya gagap

Kapan mencari bantuan tenaga profesional?

Selalu bicarakan dengan dokter anda jika anda khawatir mengenai tumbuh kembang anak anda, termasuk bicara gagap. Dokter anda mungkin akan merujuk kepada tenaga ahli yang profesional atau terapis yang akan menilai anak anda apakah terdapat risiko masalah jangka panjang. Pada sebagian besar kasus yang melibatkan anak-anak, penanganan terutama berfokus pada pelatihan dan bekerja sama dengan orang tua untuk mengembangkan tehnik dan cara yang membantu anak mengatasi bicara gagap.

Saat usia anak 2-5 tahun merupakan waktu umum untuk melewati periode berbicara gagap. Untuk sebagian besar anak, periode tersebut merupakan bagian dari belajar berbicara, dan akan membaik dengan sendirinya. Akan tetapi, gagap yang menetap mungkin memerlukan intervensi ahli agar lebih baik.

Belum ada obat yang terbukti dapat menyembuhkan bicara gagap. Terkadang terapis akan berinteraksi dengan anak secara langsung untuk mengembangkan tehnik perilaku tersendiri (individual behavioral techniques) yang dapat membantu anak untuk belajar tidak bicara gagap. Terapi dan penanganan yang diterapkan dapat berbeda-beda pada tiap-tiap anak tergantung keadaan masing-masing anak.

Bagi anak yang memiliki maslaah gagap yang berat, evaluasi dan intervensi dini dapat sangat berguna. Tanda-tanda yang menunjukkan perlunya dilakukan evaluasi:

  • Berlangsung lebih dari 6 bulan
  • Gagap yang terjadi semakin sering dan semakin berat dari waktu ke waktu
  • Gagap yang disertai gerakan-gerakan tubuh dan wajah
  • Terjadi bersamaan dengan gangguan bicara atau bahasa yang lain
  • Terjadi diiringi dengan kekakuan otot atau berjuang keras untuk berbicara. Berbicara sangat sulit dan dipaksakan
  • Mempengaruhi kemampuan komunikasi efektif di sekolah, tempat kerja atau interaksi sosial
  • Menyebabkan kegelisahan atau masalah emosional, seperti ketakutan, menghidari situasi tertentu dimana membutuhkan berbicara
  • Ketegangan pada vokal yang menyebabkan naiknya nada suara
  • Gagap yang berlanjut hingga anak berusia lebih dari 5 tahun
  • Dimulai saat dewasa

Adakah hal-hal yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu anak saya yang bicara gagap?

images

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anda dan anggota keluarga lain untuk membantu anak yang bicara gagap dengan masalahnya, misalnya:

  • Selalu berusaha untuk tenang. Usahakan untuk menciptakan suasana yang santai dan tenang di rumah dimana anak anada akan merasa nyaman untuk bicara secara bebas dan menyenangkan
  • Sediakan waktu khusus dimana anda dan anak anda dapat bercakap-cakap tanpa gangguan. Saat makan merupakan salah satu kesempatan yang baik untuk mengobrol
  • Jangan beri perhatian khusus terhadap bicara gagap anak anda. Jangan mengkritik cara bicara anak anda atau terus menerus memperbaiki perkataannya. Usahakan untuk tidak memberikan perhatian pada kondisi gagapnya selama interaksi sehari-hari. Jangan bawa dia kedalam situasi yang penuh tekanan atau membutuhkan anak anda untuk berbicara di hadapan orang lain
  • Tunggu hingga anak anda selesai mengutarakan apa yang ingin mereka katakan. Jangan bantu mereka selesaikan kata atau kalimatnya
  • Jangan menekan anak anda untuk terlibat pembicaraan atau berinteraksi secara verbal dengan orang lain ketika gagap menjadi masalah. Anjurkan aktivitas yang tidak melibatkan banyak interaksi verbal
  • Dengarkan dengan baik apa yang anak anda coba katakan, jaga kontak mata normal tanpa memperlihatkan tanda-tanda tidak sabar atau frustasi
  • Hidari bereaksi negatif saat anak anda bicara gagap, memperbaiki bicaranya, atau melengkapi kalimatnya. Penting bagi anak untuk mengerti bahwa orang dapat berkomunikasi secara efektif bahkan saat mereka bicara gagap.
  • Walaupun ucapan, “Berhenti dan tarik napas” atau “Pelan-pelan” dimaksudkan untuk membantu anak, ucapan-ucapan tersebut dapat membuat anak sadar diri dan danjurkan untuk tidak melakukannya.
  • Contohkan cara bicara perlahan dan santai, tanpa terburu-burur untuk membantu anak anda melakukan hal yang sama. Jika anda berbicara seperti ini, kemungkinan besar anak anda akan mengikutinya, yang akhirnya akan membantu menurunkan bicara gagap
  • Bicaralah secara bergantian. Dorong setiap orang di keluarga anda untuk menjadi pendengar yang baik dan menunggu giliran untuk berbicara
  • Jangan takut bicarakan tentang gagap dengan anak anda. Jika dia mengajukan pertanyaan atau mengungkapkan kekhawatiran, dengarkan dan jawablah dengan cara yang membuatnya mengerti bahwa gangguan pada bicara adalah hal yang normal dan bahwa semua orang mengalaminya pada suatu waktu
  • Berikan pujian daripada kritik. Lebih baik puji anka anda saat berbicara dengan jelas daripada memberi perhatian pada gagapnya. Jika anda ingin mengoreksi perkataannya, lakukan dengan cara yang halus dan positif
  • Terimalah anak anda apa adanya. Jangan bereaksi negatif atau mengkritik atau menghukum anak anda karena bicara gagap. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan sadar diri.
  • Dukungan dan dorongan anda dapat memberikan perbedaan yang besar.

Farah Suraya, dr. 

2015-07-29

Referensi

  1. Treatments for Developmental Stuttering: Healthwise Medical Information on [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/treatments_for_developmental_stuttering-health/article_em.htm
  2. Stuttering Foundation | Since 1947 – A Nonprofit Organization Helping Those Who Stutter [Internet]. Stuttering Foundation: A Nonprofit Organization Helping Those Who Stutter. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.stutteringhelp.org/stuttering-foundation
  3. Stuttering [Internet]. American Speech-Language-Hearing Association. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.asha.org/public/speech/disorders/stuttering/
  4. Gagap (Stuttering) pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/gagap-pada-anak.html
  5. Stuttering. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/stutter.html
  6. Stuttering. NIDCD [Internet]. 2010 Mar; Available from: http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/pages/stutter.aspx
  7. Disease and Condition : Stuttering. Mayoclinic [Internet]. 2014 Aug 20; Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/basics/definition/con-20032854
  8. Stuttering [Internet]. WebMD. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.webmd.com/modules/sponsor-box

Gambar diunduh dari :

Stuttering Child (http://www.bestwayguides.com/wp-content/uploads/2011/08/Stuttering-Child-1.jpg)

Child Parent Talk (https://www.sandltherapy.com/images/blog/child_parent_talk_1.png)