Author Archives: Hanifah Widiastuti

Depresi Pada Ibu Rumah Tangga

Apakah ibu seorang ibu rumah tangga? Apakah ibu pernah mengalami perasaan seperti terjebak dalam rutinitas pekerjaan rumah tangga yang membosankan? Ibu tidak sendiri. Menurut survey yang dilakukan oleh Gallup1, ibu rumah tangga mempunyai kecenderungan untuk merasa cemas, marah dan sedih berkepanjangan sepanjang hari dibandingkan ibu yang bekerja. Mereka cenderung merasa tidak berguna, terisolasi dari masyarakat, dan terpenjara di dalam rumah2,3.

Perasaan ini wajar dirasakan ibu rumah tangga, terutama mereka yang baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja. Namun jika dibiarkan berlarut-larut, perasaan ini bisa berkembang menjadi depresi. Menurut Stoudenmire4, empat faktor utama yang mengakibatkan depresi pada ibu rumah tangga adalah:

  1. Kemarahan yang tertahan. Pada umumnya, depresi berhubungan dengan kemarahan yang tidak tersalurkan. Pada ibu rumah tangga, kemarahan ini berhubungan dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga. Perasaan ini bisa disebabkan oleh kebencian pada anak-anaknya yang menjadi penyebab ibu harus diam di rumah dan mengharuskan ibu memberikan waktu dan energi untuk mereka.

  2. Merasa diri tidak menarik. Ibu rumah tangga yang terkena depresi umumnya memiliki pandangan negatif pada penampilan fisiknya dan merasa malu dengan keadaan fisiknya.

  3. Ketiadaan peristiwa yang menarik dalam kehidupannya. Mereka yang terkena depresi pada umumnya merasa kehidupannya membosankan, tidak menarik, dan tidak menyenangkan. Mereka tidak menemukan kesenangan, tantangan, dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-harinya. Pada ibu rumah tangga, kehidupan sehari-harinya melibatkan pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan kegiatan-kegiatan yang selalu berhubungan dengan kebutuhan orang lain. Pada sebagian orang, rumah yang rapih, anak yang ceria, dan suami yang merasa bahagia bisa memberikan kepuasan jiwa. Akan tetapi, pada sebagian yang lain, pemenuhan kebutuhan orang lain menyebabkan ibu menelantarkan kebutuhan dirinya sendiri yang pada akhirnya bisa menyebabkan depresi.

  4. Merasa diri tidak berarti dan tidak berharga. Ibu rumah tangga umumnya merasa inferior dan merasa mempunyai ketergantungan tinggi, dalam hal ini secara finansial kepada suami. Pada umumnya, manusia cenderung membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain. Pada orang yang terkena depresi, mereka cenderung merasa lebih rendah daripada orang lain. Mereka merasa diri mereka gagal.

Gejala-gejala depresi

Depresi merupakan muara dari emosi-emosi negatif yang tidak tersalurkan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa tanda-tanda depresi yang harus diperhatikan jika ibu terus-menerus mengalaminya5.

  • Sulit berkonsentrasi dan mengingat

  • Merasa tidak berguna dan tidak berdaya

  • Merasa sedih berkepanjangan dan cemas

  • Sulit tidur (insomnia) atau tidur terus menerus

  • Mudah marah

  • Merasa tidak dipedulikan oleh orang lain

  • Merasa tidak ada harapan baik dalam hidup

  • Tidak lagi mempunyai ketertarikan pada hobi dan aktivitas yang biasanya disukai (ahedonia)

  • Tidak berselera makan atau makan terus menerus

  • Merasa ingin menghilang dari kehidupan

  • Cepat merasa lelah, tidak merasa fit di pagi hari

  • Kenaikan atau penurunan berat mendadak (perubahan lebih dari 5% berat badan dalam sebulan)

  • Terkadang manifestasi fisik juga muncul sebagai akibat dari depresi seperti rasa sakit di otot, sakit kepala, kram, masalah pencernaan yang tidak membaik dengan pengobatan

143919742_super_housewife_gettyimages_17rtpuj-17rtpv2

(sumber : https://au.lifestyle.yahoo.com)

Faktor-faktor resiko depresi pada ibu rumah tangga

Berdasarkan sebuah studi6, depresi pada ibu rumah tangga didorong oleh kebutuhan setiap manusia akan pengakuan dan merasa dihargai. Manusia juga cenderung membutuhkan tantangan dan stimulasi baru. Perasaan tidak mendiri dalam hal keuangan juga menjadi salah satu faktor resiko ibu rumah tangga mengalami depresi. Beberapa faktor resiko yang meningkatkan peluang ibu rumah tangga mengalami depresi ialah7,8,9:

  • Mempunyai riwayat depresi

  • Pendapatan keluarga yang relatif rendah

  • Merasa tidak puas dengan peran sebagai ibu rumah tangga

  • Hubungan sosial dengan teman dan keluarga yang tidak terlalu baik

  • Memiliki anak usia dini

  • Memiliki beberapa anak usia dini dengan jarak yang relatif berdekatan. Penelitian menunjukkan semakin banyak jumlah anak berusia dini, semakin tinggi peluang ibu terkena depresi6.

  • Memiliki pendidikan yang relatif tinggi

  • Pernah mempunyai pekerjaan yang sangat disukai sebelumnya

Penelitian7 melaporkan bahwa faktor paling penting untuk mencegah depresi pada ibu rumah tangga adalah penerimaan dan kepuasan akan perannya. Faktor-faktor yang umumnya disukai dan tidak disukai oleh seorang ibu rumah tangga bisa disarikan pada poin-poin berikut.

Hal-hal yang disukai:

  • Keamanan dan kestabilan

  • Kepuasan sebagai seorang ibu

  • Kepuasan dalam keluarga

  • Kepuasan sebagai istri

  • Pekerjaan rumah tangga

  • Kepuasan mengerjakan hobi yang disukai

  • Keluangan waktu

  • Otonomi pengaturan waktu sehari-hari

Hal-hal yang tidak disukai:

  • Pekerjaan rumah tangga

Pekerjaan rumah tangga bisa menjadi salah satu pemicu depresi pada ibu rumah tangga karena pekerjaan tersebut merupakan rutinitas yang tidak pernah selesai dan akan selalu ada. Ketika ibu rumah tangga tidak bisa menyukai pekerjaan tersebut, mereka cenderung tidak puas dengan perannya sebagai ibu rumah tangga sementara mereka yang menyukai pekerjaan tersebut, merasakan kepuasan sebagai ibu rumah tangga dan cenderung kebal terhadap depresi.


depresi 4(Sumber: healthxwellness.com)

Bagaimana mengatasi depresi?

Jika ibu merasa salah satu gejala-gejala depresi di atas, maka segeralah ambil tindakan untuk mengatasinya. Jika dibiarkan berlarut-larut, keadaan ini bisa berujung menjadi depresi yang berpotensi mengganggu keberlangsungan dan kebahagiaan hidup berkeluarga. Selain itu, hal ini juga meningkatkan resiko rusaknya sel-sel otak yang mengatur ingatan, kecerdasan dan konsentrasi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan di antaranya adalah:

  • Bicarakan apa yang dirasakan pada pasangan

  • Bicaralah pada teman yang bisa dipercaya dan bisa mengerti kondisi ibu

  • Berolahraga, olahraga terbukti bisa membantu melawan depresi

  • Kunjungi dokter yang bisa dipercaya. Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan mental pribadi dan keluarga. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi depresi, tidak membutuhkan tes darah, X-ray, atau tes lab lain. Akan tetapi, tes darah mungkin dilakukan untuk mengeliminasi penyakit lain yang memiliki gejala menyerupai depresi seperti hipothyroid, kecanduan alkohol, kecanduan obat-obatan, dan stroke.

  • Jika menemukan gejala depresi, rujukan akan diberikan untuk mengunjungi tenaga kesehatan spesialis untuk pengobatan seperti psikoterapis. Obat-obatan anti depresant juga mungkin diberikan jika memang dibutuhkan. Untuk ibu yang hamil atau menyusui, dokter akan menyesuaikan obat-obatan yang diberikan sehingga aman untuk ibu dan anak.

depresi5
(Sumber: nzecochick.com)

Agar tidak terjatuh ke dalam jurang depresi

Kecenderungan depresi ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi setiap ibu rumah tangga yang menghadapi berbagai tantangan yang berbeda-beda dalam kesehariannya. Ada beberapa cara yang bisa ibu lakukan untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik di antaranya adalah10:

  • Selalu mandi dan mempersiapkan diri di pagi hari seakan-akan ibu akan bekerja hari itu. Hal ini akan membuat ibu merasa segar dan siap menghadapi kegiatan sehari-hari dengan percaya diri.

  • Jangan sia-siakan waktu dengan melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat seperti nonton televisi. Ibu bisa menggunakan waktu menonton untuk membaca buku, mempelajari keahlian baru, berjalan-jalan santai di luar, membacakan buku pada anak, mengunjungi kawan atau keluarga dan kegiatan lain yang membuat ibu merasa lebih bahagia.

  • Susunlah jadwal harian. Dengan memiliki jadwal harian, ibu akan mempunyai perkiraan apa saja kegiatan yang akan dilakukan setiap hari sehingga ibu bisa menyelesaikan pekerjaan domestik dalam waktu yang diinginkan. Selain itu ibu bisa menemukan waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan di luar pekerjaan domestik.

  • Ubah kebiasaan ibu, lakukan hal yang baru. Ketika ibu merasakan emosi negatif yang mengarah pada depresi, cobalah lakukan hal yang baru, sesederhana apapun itu seperti janji makan siang dengan suami atau teman.

  • Jika ibu merasa kurang dihargai sebagai ibu rumah tangga, bicarakanlah perasaan ibu pada pasangan.

  • Ibu bisa mempertimbangkan untuk mengambil kursus atau hobi baru untuk mendongkrak rasa kepercayaan diri dan kepuasan dalam hidup.

  • Rawatlah diri ibu dengan baik dengan berolahraga dan menjaga konsumsi makanan bergizi.

  • Kembangkan jaringan sosial ibu. Salah satu hal yang dipercaya sebagai pendukung kesehatan mental ibu bekerja di antaranya adalah hubungan sosialnya dengan teman sekantor dan atasan. Ibu rumah tangga bisa memperoleh dukungan sosial yang sama dari teman dalam perkumpulan atau kegiatan lain yang dilakukan di luar rumah.

Alternatif lain yang bisa menjadi jalan tengah antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja adalah bekerja paruh waktu. Penelitian6 memaparkan ibu yang bekerja paruh waktu cenderung mempunyai gejala depresi yang lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Mereka juga beresiko lebih rendah menghadapi konflik keluarga-pekerjaan dibandingkan ibu yang bekerja. Pada masa-masa usia dini, ibu yang bekerja paruh waktu dilaporkan paling terlibat dalam kehidupan sekolah anak-anaknya karena mereka mempunyai keluangan waktu dibandingkan ibu yang bekerja dan energi dan emosi yang lebih positif dibandingkan ibu rumah tangga. 

Hanifah Widiastuti, PhD (artikel telah direview oleh Tim Dokter)

SUMBER:

  1. http://www.gallup.com/poll/154685/Stay-Home-Moms-Report-Depression-Sadness-Anger.aspx?utm_source=alert&utm_medium=email&utm_campaign=syndication&utm_content=morelink&utm_term=All%20Gallup%20Headlines

  2. Mostow, E. and Newberry, P. 1975. Work Role and Depression: A comparison of Workers and Housewives in Treatment. American Journal of Orthopsychiatry, 45(4): 538-548

  3. Repetti, R., Matthews, K., and Waldron, I. 1989. Employment and Women’s Health: Effects of Paid Employment on Women’s Mental and Physical Health. American Psychologist, 44(11): 1394-1401

  4. Stoudenmire, J. 1976. The Role of Religion in the Depressed Housewife. Journal of Religion and Health, 15(1): 62-67

  5. http://www.webmd.com/depression/guide/detecting-depression

  6. Buehler, Cheryl and O’Brien, Marion. 2011. Mothers’ Part-Time Employment: Associations With Mother and Family Well-Being. Journal of Family Psychology, 25(6): 895-906

  7. Shehan, C. L. Burg, M. A., and Rexroat, C. A. 1986. Depression and the Social Dimensions of the Full-Time Housewife Role. The Sociological Quarterly, 27(3): 403-421

  8. Weissman, M., Pincus, C., Redding, N., Lawrence, R., and Siegel, R. 1973. The Educated Housewive: Mild Depression and the Search for Work. American Journal of Orthopsychiatry, 43(4): 565-573

  9. Radloff, L. 1975. Sex Differences in Depression: The Effects of Occupation and Marital Status. Sex Roles, 1(3): 249-265

  10. http://www.familylife.com/articles/topics/life-issues/challenges/depression/beating-depression-as-a-stay-at-home-mom#.VDfyPimSx68

Empeng itu Baik atau Tidak ya?

Kebiasaan bayi mengempeng merupakan satu isu yang kontroversial di kalangan orang tua baru belakangan ini. Para ahlipun berbeda pendapat tentang masalah ini. Kabar yang beredar menyatakan bahwa empeng itu berbahaya karena bisa merusak pembentukan rahang dan gigi. Empeng juga disinyalir bisa menghambat pembelajaran bayi untuk menyusui langsung kepada ibu.


Kenapa Bayi Mengempeng?

Umumnya bayi mempunyai insting untuk mengempeng untuk menenangkan dirinya sendiri sejak berada di dalam kandungan (sekitar 29 minggu). Bayi yang sedang mengempeng terkadang teramati melewati USG pada masa pemeriksaan prenatal. Kebiasaan ini berlanjut terutama dalam 6 bulan pertama kehidupan bayi pada lebih dari 80% bayi yang mengempeng walaupun mereka tidak lapar. Bayi biasanya mengempeng jempolnya, jari-jarinya yang lain, tangan, empeng (pacifier), atau benda lain seperti mainan dan selimut. Bayi cenderung mengempeng ketika dia lelah, takut, bosan, sakit atau menghadapi lingkungan baru seperti tempat penitipan anak. Bayi juga biasanya mengempeng ketika dia hendak tidur atau berusaha tidur kembali ketika terbangun tengah malam. Sebenernya, kemampuan menenangkan dirinya sendiri dengan mengempeng merupakan salah satu hal yang mendorong kemandiriannya untuk mampu mengatur perilaku dan emosinya sendiri. Kemampuan ini sangat penting bagi perkembangan bayi. Dengan mengempeng, bayi dapat membantu dirinya sendiri untuk merasa tenang tanpa bantuan. Bayi akan berhenti mengempeng ketika dia siap dan sudah menemukan hal lain untuk membuat dirinya tenang.

Apakah Mengempeng Berbahaya?

Asosiasi dokter gigi Amerika (ADA) menyatakan bahwa sebagian besar anak bisa mengempeng baik empeng (pacifier) atau jempolnya tanpa mempengaruhi susunan gigi atau rahangnya jika kebiasaan tersebut berhenti sebelum pembentukan gigi permanen (sekitar 6 tahun). Namun, kebiasaan mengempeng yang berkelanjutan dapat mempengaruhi perkembangan rahang dan susunan gigi (malocclusion). Anak yang mengempeng juga mengalami masalah dalam berbicara seperti salah pengucapan Ts dan Ds atau mendorong lidah keluar ketika berbicara. Efek kebiasaan mengempeng pada gigi dipengaruhi oleh frekuensi, kekuatan, dan lama mengempeng. Resiko kerusakan susunan gigi diperbesar oleh kebiasaan bayi yang menghisap empeng (pacifier) atau jempolnya dengan kuat. Anak yang hanya meletakkan jempolnya atau empengnya di mulut dengan pasif mempunyai resiko masalah gigi yang lebih rendah di kemudian hari.Efek yang ditimbulkan kebiasaan mengempeng pada gigi umumnya tidak permanen dan tidak menyebabkan masalah pada jangka panjang jika kebiasaan mengempeng dapat dihentikan pada usia dini. Oleh karena itu, sangat penting untuk menghentikan kebiasaan mengempeng ini sebelum gigi permanen tumbuh, para ahli merekomendasikan untuk mulai mengurangi kebiasaan ini ketika anak sudah berusia 3-4 tahun. Jika anak anda tergolong tipe yang mengempeng dengan kuat, anda bisa menghentikan kebiasaannya ketika anak anda berusia 3 tahun. JIka anda mengamati perubahan pada mulut atau gigi anak karena kebiasaan ini, segera hubungi dokter gigi anda.Jika jari anak terpengaruh oleh kebiasaan mengempeng ini, anda bisa mengoleskan pelembab pada jari ketika anak anda tidur.

Mana yang lebih baik, menghisap empeng (pacifier) atau jari?

Anak yang mengempeng empeng (pacifier) umumnya menghentikan kebiasaannya lebih cepat daripada anak yang mengempeng jari Anda bisa lebih mudah menghentikan kebiasaan mengempengnya dengan menjauhkan empeng (pacifier) dari anak jika anak sudah berusia di atas 1 tahun untuk memperkecil resiko anak mengempeng jempolnya. Akan tetapi, mengempeng jari memberi bayi kemandirian karena anak bisa langsung menghisap jarinya kapanpun dia merasa butuh untuk menenangkan dirinya sementara penggunaan empeng (pacifier) mengharuskan anda untuk terus menerus meletakkan empeng pada mulut bayi. Menaruh empeng (pacifier) pada mulut bayi terus menerus pada waktu yang lama diduga menyebabkan anak ketagihan empeng (pacifier) dan kebiasaan mengempeng makin sulit dihentikan.Pada tahun 2005, American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan hasil riset mereka yang merekomendasikan penggunaan empeng (pacifier) pada tahun pertama bayi untuk mengurangi resiko bayi mati mendadak (SIDS). Panduan penggunaan empeng (pacifier) menurut AAP:

  • Empeng hanya digunakan ketika bayi hendak tidur dan dilepaskan ketika bayi sudah tidur
  • Empeng tidak boleh dilapisi cairan manis
  • Empeng harus dibersihkan dan diganti secara teratur
  • Untuk bayi yang menyusui, penggunaan empeng sebaiknya ditunda hingga bayi berusia sebulan agar tidak mengganggu proses penyusuan
  • Empeng tidak boleh digunakan sebagai pengganti makanan ataupun susu, empeng hanya boleh digunakan ketika bayi tidak dalam keadaan lapar
  • Empeng yang digunakan harus mempunyai lubang ventilasi dan mempunyai dasar yang lebih besar dari mulut bayi untuk mencegah resiko tertelan
  • Empeng harus terbuat dari material yang aman, dan harus diganti ketika sudah ada tanda kerusakan. Jangan pernah menalikan empeng ke tali di boks bayi atau tali di sekitar leher atau tanga bayi.

Ketika mengenalkan empeng, carilah waktu ketika anda yakin bahwa bayi anda tidak lapar. Anda tidak perlu merasa khawatir jika bayi anda tidak menyukai empeng (pacifier) dan lebih memilih jarinya. Perlu diingat juga bahwa tidak semua bayi butuh mengempeng. Beberapa bayi sudah cukup puas dengan menyusu langsung atau menggunakan botol.

Bagaimana memberhentikan kebiasaan mengempeng?

Sebagian besar anak akan menghentikan kebiasaan mengempengnya ketika mereka sudah menemukan cara lain untuk menenangkan dirinya. Sebagai contoh, pada awal-awal kehadirannya, bayi akan menghisap jempolnya ketika merasa lapar. Semakin dia berkembang, dia bisa menyatakan keinginannya atau langsung mengambil makanan yang bisa diraihnya. Pada sebuah penelitian yang dilakuan Dr. T. Berry Brazelton, hanya 6% bayi yang masih mengempeng pada usia 1 tahun dan hanya 3% pada usia 2 tahun. Anak lain pada umumnya akan berhenti mengempeng ketika sudah bersekolah akibat tekanan teman-temannya.Anda bisa membantu anak anda untuk meninggalkan kebiasaan mengempeng ini. Kuncinya adalah mengetahui kapan dan penyebab kebiasaan ini sehingga anak bisa dialihkan perhatiannya ke hal lain. Ketika anda sudah bisa mengidentifikasi situasi dan kondisi yang mendorong anak anda mengempeng, alihkanlah perhatiannya dengan mainan yang menggunakan tangan secara aktif seperti bermain bola atau bermain boneka. Anda juga bisa berusaha menenangkan anak anda dengan mendekapnya, mengayunnya, bernyanyi untuknya, atau mendengarkan lagu yang menenangkan.Jika anak anda mengempeng ketika dia lelah, biarkanlah dia tidur siang lebih lama. Atau ketika anak anda mengempeng ketika merasa gelisah atau frustasi ajarilah mengungkapkan emosinya dengan kata-kata atau buatlah dia merasa lebih baik dengan mendekapnya.

Bersikap keras dan menghukum anak anda untuk menghentikan kebiasaan mengempengnya tidak akan membantu karena anak anda umumnya mengempeng dengan tidak sadar. Lagipula, bersikap terlalu keras juga bisa membuat anak anda merasa tidak nyaman dan mendorongnya untuk mengempeng lebih kuat. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang masih mengempeng pada usia 4 tahun sempat dilarang keras mengempeng oleh orang tuanya sebelumnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa menarik paksa jari dari mulut anak ketika dia sedang mengempeng bisa mendorong anak anda mengempeng berkelanjutan hingga berusia lebih dari 5 tahun. Komentar negatif, bentakan, hukuman, pukulan juga hanya membuat anak anda semakin kuat mengempeng.

Jika kebiasaan mengempeng masih berlanjut sampai usia 4 tahun, anda mungkin harus berkonsultasi dengan dokter gigi anda untuk untuk mengevaluasi efek kebiasaan mengempeng pada gigi anak dan strategi untuk menghentikannya. Dokter gigi anak bisa merekomendasikan alat yang bisa digunakan di mulut sehingga anak akan merasa tidak nyaman untuk mengempeng.

Hanifah Widiastuti, PhD

SUMBER:

  1. www.babycenter.com/0_thumb-sucking_11574.bc
  2. www2.aap.org/ORALHEALTH/pact/ch8_sect1c.cfm
  3. www.childrenshealthnetwork.org/CRS/CRS/pa_thumbsuc_hhg.htm
  4. www.mayoclinic.org/healthy-living/childrens-health/in-depth/thumb-sucking/art-20047038?pg=2
  5. http://www.webmd.com/parenting/how-to-stop-thumb-sucking
  6. http://www.webmd.com/parenting/how-to-stop-thumb-sucking#

Tumbuh Kembang Anak (0-1 tahun)

Menjadi orang tua merupakan pengalaman yang menarik sekaligus menantang. Namun sang buah hati hadir tanpa buku petunjuk sehingga terkadang orang tua dibuat kebingungan apakah anaknya tumbuh dengan baik. Apalagi ketika melihat anak lain yang sebaya, mau tidak mau anak kita akan dibandingkan dan sering timbul rasa was-was dalam hati apakah buah hati kita tumbuh dengan baik. Apalagi di usia awal anak yang merupakan periode emas perkembangan otak. Tentu perkembangan anak yang sesuai dengan usianya adalah yang diharapkan orangtua. Lantas, seperti apa sih pedoman umum bagi perkembangan bayi pada satu tahun pertama? Yuk kita simak ulasannya..


1 Bulan

Ketika bayi berusia satu bulan, jarak pandangnya hanya sekitar 24-36 cm, jarak yang pas untuk sang bayi melihat wajah orang yang mendekapnya. Pada usia ini, bayi mulai tertarik melihat kain berpola hitam-putih dan juga mulai mengerakkan mukanya ke arah suara yang familiar seperti suara ibunya. Leher bayi belum cukup kuat untuk menyangga kepalanya sehingga butuh disokong ketika menggendongnya, namun bayi mulai bisa sedikit mengangkat kepalanya ketika ditengkurapkan

Bagaimana membantu perkembangan bayi anda?

  • Dekap bayi dan berbicaralah padanya. Pelajari tanda-tanda ketika dia mengantuk atau lapar. 
  • Beri dia banyak waktu tengkurap untuk melatih otot-ototnya namun jangan pernah ditinggalkan sendiri. Stimulasi bayi untuk melihat dan meraih mainan.
  • Bawa bayi keluar rumah. Bayi menikmati suasana yang tidak monoton, dan berada di sekitar bayi lain.
  • Tatap mata bayi ketika berbicara, ataupun bermain dengannya. 

Tanda-tanda waspada
Tiap anak mempunyai irama perkembangannya sendiri, namun sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak anda ketika bayi 1 bulan:

  • Belum bisa menghisap puting dengan baik
  • Tidak bisa memfokuskan pandangan dan mengikuti gerakan yang ada dalam jarak pandangnya
  • Tidak bereaksi terhadap cahaya terang
  • Tidak bereaksi terhadap suara keras (untuk mengetesnya bisa menggunakan kantong kertas yang ditiup lalu diletuskan)

2-3 Bulan

Pada usia ini, bayi memulai tahap eksplorasi. Bayi yang baru lahir umumnya selalu mengepalkan tangannya. Pada usia ini, bayi mulai bisa membuka dan menutup tangannya, menggoyangkan mainannya, berusaha meraih benda yang digantung, dan mendekatkan mainan ke mulutnya. Pandangannya pun sudah semakin berkembang. Pada usia sekitar dua bulan, bayi mulai mengamati wajah dan menatap mata kita saat bermain dengannya. Bayi sudah mulai tersenyum dan mulai meniru suara maupun ekspresi muka orang dewasa. Lehernya juga sudah cukup kuat untuk menyangga kepalanya sendiri sehingga bisa digendong tanpa menyangga lehernya. Ketika ditengkurapkan, dia sudah bisa mengangkat kepala dan dadanya. Ketika dipegang dalam posisi berdiri, dia sudah mulai menendang-nendangkan kakinya.

Pada akhir 3 bulan ini, baik bayi dan orang tua sudah saling beradaptasi. Pada tahap ini, orang tua pada umumnya sudah bisa mengerti keinginan bayinya dan memenuhi kebutuhannya dengan baik. Kerewelan bayi sudah jauh berkurang dan dia mulai merasa nyaman dengan hidup barunya di luar rahim. Bayi mulai membangun rasa percaya karena setiap kebutuhannya terpenuhi. Perasaan ini memegang peranan penting bagi perkembangannya selama setahun ke depan dan dasar yang sangat penting bagi perkembangan kepercayaan dirinya.

Bagaimana membantu perkembangan bayi anda?

Jangan khawatir bahwa anda akan memanjakan bayi anda dengan memenuhi semua permintaannya. Pada periode ini, sangat penting bagi perkembangan bayi untuk merasa aman dan dicintai. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada usia ini, kita mulai bisa membantu bayi membuat dirinya nyaman dengan membiarkan bayi mengempeng jarinya sendiri maupun dengan empeng dot. Ngempeng ini memang isu yang cukup kontroversial, namun ngempeng merupakan insting alami bayi untuk menenangkan dirinya sendiri. Sekitar 80% bayi mengempeng dan kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya ketika mereka berusia sekitar 2 tahun. AAP bahkan merekomendasikan penggunaan empeng dot untuk mencegah SIDS (kematian bayi mendadak).7 Akan tetapi, kebiasaan mengempeng yang berlanjut hingga di atas 3 tahun memang bisa menyebabkan masalah gigi dan bicara.

Saat menengkurapkan bayi, jangan lupa memberinya mainan yang bisa dia raih dan mainkan.

Jangan lupa untuk mengajak bayi berbicara, Ceritakanlah padanya apa yang terjadi di sekitarnya, apa yang anda lakukan padanya. Bacalah buku bersama. Pujilah dia atas usahanya untuk tengkurap sendiri atau meraih mainan.

Tanda-tanda waspada :
Bila sampai bayi anda di usia 3 bulan belum bisa melakukan hal ini sebaiknya segeralah berkonsultasi dengan dokter:

  • Belum bisa menopang kepalanya sendiri
  • Belum bisa membuka telapak tangannya sendiri
  • Belum bisa menjulurkan tangan untuk meraih mainan
  • Belum bisa memfokuskan matanya pada benda bergerak
  • Belum tersenyum
  • Tidak bereaksi pada suara keras
  • Tidak tertarik mengamati wajah asing

4-7 Bulan

Pada usia ini, bayi sudah mulai mengoceh dan tertawa. Pergerakannya juga sudah lebih aktif, dia sudah bisa tengkurap sendiri dan kembali terlentang, duduk tanpa ditopang, dan kakinya sudah bisa berdiri dengan berpegangan. Bayi pun sudah bisa memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan yang lain.

Bayi sudah mulai bisa merasakan perubahan suara kita dan sudah bisa merespon kata “Jangan”. Dia juga sudah bisa memalingkan mukanya ketika dipanggil.

Dia sudah bisa menyukai permainan seperti cilukba dan sudah bisa melihat dunia dengan berbagai warna. Bayi anda akan sangat tertarik melihat pantulan dirinya sendiri di kaca.

Otot punggung bayi anda sudah semakin kuat. Pada usia sekitar 4-5 bulan, bayi anda akan mulai mencoba duduk namun masih sering gagal. Kemudian pada usia sekitar 5-6 bulan, bayi anda mulai duduk dengan bersandar pada tangannya. Pada usia 6 bulan, bayi mulai bisa mengangkat tubuhnya sekitar 45 derajat tanpa ditopang tangannya dan pada akhirnya bisa duduk tanpa sandaran.

Pada tahap ini, kecerdasan linguistiknya juga berkembang secara signifikan. Bayi anda akan semakin jarang menangis dan semakin sering ‘berbicara’ baik lewat ocehan ataupun gerakan tubuhnya. Mereka juga mulai mengerti bahwa mereka bisa mengubah suara yang mereka hasilkan dengan mengubah bentuk mulut dan lidah. Mereka mulai banyak mengocah. Pada usia antara 6-9 bulan, bayi mulai mengubah ocehannya dari “ba-ba” , suara yang dibuat dengan bibir, menjadi “da-da” atau “ta-ta”, suara yang dibuat dengan lidah.

Pada usia inipun, bayi sudah mulai tidur panjang pada malam hari.

Bagaimana membantu perkembangan bayi anda?

Bayi berkembang dari interaksinya denga kita jadi teruslah bermain dengannya dalam berbagai aktivitas seperti mandi dan memakai pakaian. Buatlah kegiatan hariannya menjadi menyenangkan. Banyak2lah tersenyum dan balaslah ocehannya untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasinya. Bacalah buku bersama.

Untuk mengecek perkembangan matanya, orang tua bisa mencoba menarik perhatiannya lalu ketika bayi sudah menatap anda, miringkan kepala anda atau geser posisi anda perlahan, dan anda bisa mengamati pandangan bayi andapun mengikuti pergerakan bayi anda.

Banyak2lah melatih kekuatan fisiknya. Bantu dia duduk (dengan sandaran), tengkurap dan membalik badannya sendiri. Pada usia ini, bayi sudah mulai merangkak, jadi pastikan tidak ada barang2 berbahaya di sekitarnya. Sediakan banyak barang-barang yang bisa dia mainkan. TIdak harus berupa mainan. Bayi juga menggemari bermain dengan sendok, kerdus, maupun plastik. Selalu awasi anak ketika bermain.

Pada usia 6 bulan, bayi juga sudah siap untuk memulai MPASI.

Tanda-tanda waspada

Selalu ingat bahwa setiap bayi tumbuh dengan tahapannya masing-masing. Namun, konsultasilah dengan dokter anak anda jika bayi pada usia 7 bulan:

  • Tidak bisa menopang kepalanya sendiri.
  • Badan bayi sangat kaku atau sangat lemah sehingga tidak bisa tengkurap sendiri walaupun dibantu
  • Tidak bisa duduk sendiri
  • Tidak bereaksi pada suara-suara ataupun senyuman
  • Tidak bereaksi pada benda2 di sekitarnya
  • Tidak berusaha meraih benda yang digantung di depan matanya

8-12 bulan

Pada usia ini, bayi anda sangat menikmati mengeksplorasi seluruh bagian rumah (dan mengacak2nya). Dia bisa duduk sendiri dengan tegak dan menarik2 semua benda yang bisa dia jadikan pegangan untuk berdiri dan rambatan. Beberapa bayi juga sudah bisa jalan sendiri tanpa pegangan sebelum satu tahun.

Ocehannya semakin terdengar seperti bahasa yang bisa dimengerti. Kata2 pertamanya juga sudah mulai keluar seperti ‘mama’, ‘papa’, dan ‘nda’. Bahasa tubuhnya sudah bisa menunjukkan kapan dia menginginkan sesuatu dan kapan dia tidak menginginkan sesuatu. Dia juga sudah bisa menarik badan anda ketika merasa tidak diperhatikan.

Tangannya sudah menjadi sangat aktif. Bayi sangat menyukai mengeluarkan dan memasukkan lagi benda2 ke dalam tempatnya. Dia sudah bisa memungut barang kecil dan memasukannya ke mulut sehingga anda harus sangat menjaga kebersihan lingkungan tempat bermainnya. Dia mulai meniru semua yang anda lakukan seperti menyisir rambutnya sendiri, meminum dari cangkir, dan berpura2 menelepon.

Kemampuan komunikasinya pun cukup berkembang. Dia tidak lagi menangis ketika ingin digendong, bayi akan menjulurkan tangannya dan menatap anda dengan matanya. Demikian juga ketika ingin main di lantai, dia akan menunjuk pada lantai dan meronta pada gendongan anda sampai dia diturunkan.

Bayipun sudah bisa makan sendiri. Mereka sudah bisa menjumput benda dengan jari-jarinya dan memasukannya ke mulut sehingga orang tua perlu menjaga linkungan bermain bayi agar aman dari benda-benda kecil yang berbahaya.

Pada usia ini, bayi anda sudah mengenali orang asing dan tidak menyukainya. Dia juga sudah bisa protes ketika ditinggalkan oleh anda.

Bagaimana membantu perkembangan bayi anda?

Perbanyaklah berbicara pada bayi anda. Tahap ini adalah tahapan yang paling penting bagi perkembangan bahasanya. Deskripsikan semua yang anda lakukan. Jelaskan padanya emosi yang sedang dia rasakan. Perbanyak membaca dan bermain bersama.

Pastikan lingkungan tempat bermain anak anda aman dari benda2 kecil dan juga aman untuk dijadikan tolakan untuk bayi anda berdiri dan merambat.

Anda bisa melatihnya berjalan dengan menopangnya di bawah dua ketiaknya dan biarkan dia melangkah.

Perhatikan apa yang dia sukai. Pada usia ini, bayi sudah mulai mempunyai permainan kesukaan. Bayi juga sudah mulai bisa diberikan kertas, alat mewarnai seperti crayon, kotak2 susun, wadah tempat makan kosong, atau panci dan tutupnya. Dia menikmati bermain dengan mencoba memasangkan2 dan menutup wadah makanan dan panci.

Pujilah dia ketika dia melakukan hal yang baik seperti menghabiskan makanannya atau mengembalikan mainannya ke tempatnya semula. Dia pun mulai bisa mengikuti instruksi “jangan” untuk hal2 yang berbahaya. Jangan lupa mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan yang bisa dia lakukan ketika anda menggunakan kata “jangan”.

Jangan lupa berpamitan padanya ketika anda meninggalkannya untuk membantu perkembangan emosinya. Jelaskan padanya kenapa anda pergi dan siapa yang akan menjaganya selama anda meninggalkannya.

Tanda-tanda waspada
Pada usia 12 bulan, berkonsultasilah ke dokter bila anak anda:

  • Tidak bisa merangkak
  • Tidak bisa merangkak lurus dan miring ke satu sisi
  • Tidak bisa berdiri dengan topangan
  • Tidak berusaha menemukan benda yang anda sembunyikan di depan matanya
  • TIdak mengoceh satu katapun
  • Tidak menggunakan bahasa tubuh seperti menunjuk dan menggelengkan kepalanya

Rangkuman perkembangan bayi secara garis besar:

  1. Tersenyum (8 minggu)
  2. Telentang dari posisi tengkurap (2-3 bulan)
  3. Meraih benda (3-4 bulan)
  4. Memeluk/Berpegangan ketika digendong (5 bulan)
  5. Bermain cilukba (6 bulan)
  6. Duduk tanpa sandaran (8 bulan)
  7. Merangkak (6-10 bulan)
  8. Berdiri sendiri dengan berpegangan pada tepi meja dan sejenisnya (8 bulan)
  9. Berjalan sendiri tanpa pegangan (10-18 bulan)

SUMBER:

  1. www.babycenter.com
  2. www.parenting.com
  3. The Baby Book: Everything You Need to Know about Your Baby from Birth to Age Two
  4. www.webmd.com
  5. www.parents.com
  6. www.cdc.gov
  7. www2.aap.org/ORALHEALTH/pact/ch8_sect1b.cfm

Hanifah Widiastuti, PhD. 
Penulis adalah doktor computational system biology dari NUH, Singapore dan juga ibu dari seorang putri.
diedit oleh : Agustina Kadaristiana, dr.