Author Archives: Irma Susan

Obat herbal teruji di sekitar kita

 

Halo semua! Siapa sih yang tidak kenal sama jamu atau herbal? Obat-obatan alami ini mungkin sudah jadi budaya di masyarakat Indonesia. Sayangnya, sering ada miskomunikasi nih antara herbal dengan kedokteran modern. Di satu sisi obat herbal memiliki peran dalam kedokteran. Namun, di sisi lain obat herbal ada yang tidak terbukti secara ilmiah dalam mengobati penyakit. Jadi, penting bagi kita untuk bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan obat herbal.

Ilmu kedokteran modern vs. Obat Herbal

Ilmu kedokteran modern tidak serta merta anti terhadap pengobatan herbal, penelitian mengenai kandungan zat aktif pada berbagai macam herbal terus dikembangkan agar penggunaan obat herbal tidak hanya karena testimoni tapi juga karena terbukti berkhasiat menurut ilmu kedokteran. Sejauh ini alasan penggunaan obat herbal karena herbal dianggap natural, tidak keras dan aman sehingga tidak berbahaya juga membuat adanya pilihan untuk berobat selain daripada yang ditawarkan dokter. Hal ini tidak sepenuhnya salah namun masyarakat harus menyadari herbal bagaimana yang benar-benar terbukti aman dan berkhasiat. Seringkali yang ditemukan adalah herbal tersebut aman namun dengan jumlah yang berlebihan bisa menimbulkan efek samping atau jika saat meminum obat kimia ditambahkan obat herbal yang justru terkadang kombinasi ini menimbulkan bahaya.

Obat herbal yang aman

Di Indonesia, keberadaan herbal telah diatur oleh KepMenKes No. 760/MENKES/Per/IX/1992 tentang fitofarmaka, yaitu untuk mengoptimalkan penggunaan jamu sebagai herbal terstandar dan fitofarmaka dan juga  PerMenKes No. 003/MENKES/PER/2010 tentang Saintifikasi Jamu Untuk pemanfaatannya dalam pelayanan kesehatan.

Herbal yang telah teruji melalui serangkaian percobaan mulai dari percobaan pada sel, pada hewan, uji keamanan sebelumn akhirnya diujikan pada manusia. Berikut logo yang tertera pada herbal yang telah teruji. Kita sebaiknya memilih herbal dengan logo seperti pada gambar ini:

Fitofarnaka

Obat herbal terstandar

Herbal itu sendiri dapat dibagi menjadi beberapa macam : suplemen herbal untuk menjaga kesehatan tubuh, suplemen herbal untuk melengkapi pengobatan atau herbal sebagai obat utama. Herbal dapat sebagai bahan inti pengobatan, pelengkapnya atau sebagai penangkal efek samping herbal lain.

Di Indonesia meski memiliki banyak keanekaragaman hayati namun masih terbatas sekali herbal yang sudah teruji. Jamu dikonsumsi dengan khasiat dan keamanan yang berdasarkan pengalaman empiris turun temurun selama 3 generasi. Adapun herbal terstandarisasi syarat bentuk sediaannya berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Disamping itu herbal terstandar harus melewati uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmakodinamik (kemanfaatan) dan teratogenik (keamanan terhadap janin).

Uji praklinis meliputi in vivo dan in vitro. Riset in vivo dilakukan terhadap hewan uji seperti mencit, tikus ratus-ratus galur, kelinci atau hewan uji lain. Sedangkan in vitro dilakukan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Riset in vitro bersifat parsial, artinya baru diuji pada sebagian organ atau pada cawan petri. Tujuannya untuk membuktikan klaim sebuah obat. Setelah terbukti aman dan berkhasiat, bahan herbal tersebut berstatus herbal terstandar.

Herbal fitofarmaka sudah lebih maju karena sudah dilakukan uji klinis terhadap manusia. Berikut contoh fitofarmaka di Indonesia

  1. Nodiar (POM FF 031 500 361)

Komposisi:

  • Attapulgite (bahan kimia, obat untuk diare), 300 mg
  • Psidii foliumekstrak (daun jambu biji), 50 mg
  • Curcumae domesticae rhizomaekstrak (kunyit),  7.5 mg

Khasiat: untuk pengobatan diare non spesifik

Produksi: PT. Kimia Farma

  1. Rheumaneer (POM FF 032 300 351)

Komposisi:

  • Curcumae domesticae rhizoma(temulawak), 95 mg
  • Zingiberis rhizomaekstrak (kunyit), 85 mg
  • Curcumae rhizomaekstrak, (temulawak) 120 mg
  • Panduratae rhizomaekstrak, (temu kunci) 75 mg
  • Retrofracti fructusekstrak, (buah cabe jawa), 125 mg

Khasiat: pengobatan nyeri sendi ringan

Produksi : PT. Nyonya Meneer

  1. Stimuno (POM FF 041 300 411, POM FF 041 600 421)

Komposisi: Phyllanthi herba ekstrak (meniran), 50 mg

Khasiat: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh (sebagai imunomodulator)

Produksi:  PT. Dexa Medica

  1. Tensigard Agromed  (POM FF 031 300 031, POM FF 031 300 041)

Komposisi:

  • Apii Herbaekstrak (seledri), 95 mg
  • Orthosiphon foliumekstrak (daun kumis kucing), 28mg

Khasiat: Membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi ringan hingga sedang

Produksi: PT. Phapros

  1. X-Gra (POM FF 031 300 011, POM FF 031 300 021)

Komposisi:

  • Ganoderma lucidum(jamur ganoderma), 150 mg
  • Eurycomae radix(akar pasak bumi), 50 mg
  • Panacis ginseng radix (akar ginseng), 30 mg
  • Retrofracti fructus(buah cabe jawa), 2.5 mg
  • Royal jelly 5 mg

Khasiat: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan stamina pria, membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

Produksi: PT. Phapros

Adapun contoh jamu, herbal terstandar dan fitofarmaka yang banyak beredar tertera dalam tabel di bawah ini:

 

Alangkah baiknya jika kita semakin bijak memilih obat-obatan demi keamanan dan juga lebih pasti khasiatnya.

 

dr. Irma Susan Kurnia

14/08/2017

Virus Zika dan Serba-serbinya

Akhir-akhir ini informasi mengenai virus zika mulai menyebar luas, membuat kita semua khawatir terutama karena virus ini disinyalir merupakan penyebab mikrosephali pada bayi baru lahir di wilayah Amerika Selatan. Mums, mari kita kenali fakta-fakta unik mengenai virus zika untuk menghindari penyakit yang disebabkannya.

Penyebaran

Seperti halnya demam berdarah atau chikungunya yang telah lebih dulu menjadi endemik di beberapa wilayah di Indonesia selama musim tertentu, virus zika merupakan golongan flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Di wilayah tropis, nyamuk Aedes Aegypti menjadi jenis nyamuk yang menyebarkan virus ini. Oleh karena itu, salah satu poin penting pencegahan penyakit ini adalah melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Penularan

Selain melalui nyamuk, virus zika juga menular secara kongenital, perinatal (saat kelahiran), dan juga seksual. Kemungkinan cara penyebaran yang lainnya antara lain karena gigitan binatang seperti monyet, melalui transfusi darah, dan juga akibat paparan di laboratorium. Virus zika pernah terdeteksi terdapat pada ASI penderitanya namun belum dapat dibuktikan apakah virus ini juga menyebar melalui pemberian ASI.

Gejala

Virus ini juga menyebabkan gejala yang mirip dengan demam berdarah atau penyakit akibat virus lainnya. Gejala tersebut antara lain; demam, nyeri otot, konjunctivitis pada mata, ruam kemerahan, nyeri sendi, dan nyeri kepala. Gejala umumnya ringan dan bahkan pada kebanyakan kasus (80%) tidak bergejala sama sekali. Gejala yang terjadi juga dapat sembuh sendiri dalam rentang waktu maksimal 2 minggu.

Mikrosephali

Berita yang paling menggemparkan mengenai virus zika adalah kejadian microcephaly (kondisi dimana ukuran lingkar kepala bayi di bawah rata-rata ukuran kepala bayi dengan usia dan jenis kelamin yang sama) pada bayi di Brazil yang diduga disebabkan karena virus zika yang menginfeksi ibu hamil. Meski masih terus diteliti mengenai keterkaitan virus zika dan efeknya pada kehamilan, ibu hamil menjadi salah satu golongan yang harus waspada terhadap infeksi virus zika. Jika seorang ibu hamil baru pergi berpergian dari wilayah yang terkena wabah virus, sebaiknya  memeriksakan diri apakah terinfeksi atau tidak.

Pada orang dewasa, virus zika dapat mengakibatkan komplikasi neurologis seperti Guillain-Barre Syndrome, meningitis, dan meningoencephalitis. Virus ini jarang sekali mengakibatkan kematian.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang khusus untuk menyembuhkan virus zika. Istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, serta obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol merupakan terapi yang cukup efektif untuk mengurangi gejala yang terjadi.

Pencegahan

Pencegahan terutama dengan cara menghindari gigitan nyamuk. Gunakan lotion atau spray anti nyamuk, baju lengan panjang, dan juga pelindung saat tidur. Ibu hamil hendaknya berhati-hati dalam melakukan perjalanan, hindari mengunjungi wilayah yang terkena wabah.

Pada orang yang tinggal di daerah wabah sebaiknya menghindari hubungan seksual saat hamil atau menggunakan pelindung seperti kondom.

Irma Susan Kurnia, dr.

Sumber:

  1. Plourde, Anna M & Bloch, Evan M. 2016. A Literature Review of Zika Virus. EID Journal Vol 22 No 7 Cited Dec 2016. Available at wwwnc.cdc.gov
  2. World Health Organization. 2016. Zika Virus. Cited Dec 2016. www.who.int
  3. Meaney Delman et al.2016. Zika Virus and Pregnancy: What Obstetric Health Care Providers Need to Know. Obstetrics & Gynecology: April 2016 – Volume 127 – Issue 4 – p 642–648

 

PIN Polio 2016 dan Vaksin Polio

Halo Ayah Bunda, ada yang spesial loh di Bulan Maret ini. Tanggal 8-15 Maret 2016 di seluruh Indonesia, serempak dilakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. PIN Polio adalah pemberian imunisasi tambahan polio kepada anak tanpa memandang status imunisasinya yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi. Sebetulnya mengapa ya vaksin Polio perlu diberi tambahan? Apa manfaatnya ya? Yuk simak penjelasannya..

Apa itu PIN Polio

Pengertian PIN Polio adalah pemberian vaksin aktif melalui mulut dua tetes setiap anak usia 0 sampai 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya secara gratis. PIN Polio ini akan dilaksanakan pada tanggal 8-15 Maret 2016 di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Klinik swasta dan Rumah Sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat.

PIN Polio

Vaksin Polio

Apa Tujuan PIN Polio?

Gerakan eradikasi polio secara global akan memberi keuntungan yang besar. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi cacat karena polio sehingga biaya yang diperlukan untuk rehabilitasi penderita polio dan biaya untuk imunisasi polio dapat dikurangi. World Health Assembly (WHA) mendeklarasikan bahwa eradikasi polio adalah salah satu isu kedaruratan kesehatan masyarakat dan perlu disusun suatu strategi menuju eradikasi polio (Polio Endgame Strategy). Salah satu strategi tersebut dilakukan dengan pelaksanaan PIN Polio.

Tujuan PIN Polio antara lain mengurangi resiko penularan virus polio yang datang dari negara lain, memastikan tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit polio cukup tinggi dan memberikan perlindungan secara optimal serta merata pada balita terhadap polio.

Sekilas Tentang Polio

Poliomyelitis (Polio) merupakan penyakit yang disebabkan virus dan sangat menular, terutama banyak menyerang anak dan dewasa muda. Virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui kotoran yang masuk ke dalam mulut, terkadang melalui air atau makanan yang terkontaminasi, virus ini kemudian berkembang dalam usus sebelum akhirnya dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

Gejala awal polio biasanya berupa demam, lesu, nyeri kepala, kaku di bagian leher dan nyeri di kaki. Pada sebagian kecil kasus, penyakit ini meyebabkan kelumpuhan yang seringkali permanen. Tidak ada pengobatan khusus untuk polio, penyakit ini hanya bisa dicegah oleh vaksin.

Manfaat vaksin polio

Penemuan vaksin untuk mencegah kelumpuhan pada polio merupakan salah satu terobosan besar di bidang medis pada abad 20. Sampai saat ini terdapat 5 jenis vaksin yang dapatdigunakan guna menghentikan penyebaran polio secara global
• Oral polio vaccine (OPV)
• Monovalent oral polio vaccines (mOPV1 and mOPV3)
• Bivalent oral polio vaccine (bOPV)
• Inactivated polio vaccine (IPV)
Jika pada suatu komunitas kebanyakan orang sudah imun maka virus polio akan kehilangan tempat hidup dan akhirnya mati. Cakupan imunisasi yang tinggi diperlukan untuk menjaga penghentian penyebaran terjadi.

Waktu dan cara pemberian vaksin

Selain dari vaksin tetes yang diberikan pada seluruh balita di PIN Polio ini, orangtua juga perlu memenuhi jadwal vaksin polio dasar pada anak. Oral polio vaccine (OPV) diberikan melalui tetes di mulut pada anak usia pada saat lahir atau pada saat bayi dipulangkan (opv-0). Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 pada usia 2,4 dan 6 bulan dan polio booster dua kali pada usia 18-24 bulan dan 5 tahun dapat diberikan vaksin OPV atau IPV, namun sebaiknya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV.

Beberapa negara maju telah beralih dari pemberian OPV ke IPV ( Inactivated Polio Vaccine ). Vaksin jenis ini diberikan melalui suntikan ke dalam otot sebanyak 3 kali pada usia 2,4, 6-18 bulan dan booster pada usia 4-6 tahun oleh tenaga kesehatan professional. IPV diberikan untuk menghindari kejadian kelumpuhan polio yang mungkin terjadi pada pemberian OPV ( lihat pembahasan KIPI) namun pemberian IPV ini tidak direkomendasikan pada negara berkembang yang tinggi tingkat penularan polionya. Hal ini karena IPV hanya memberikan kekebalan yang rendah di usus sehingga kurang efektif mencegah penularan melalui tinja meski sangat efektif mencegah kelumpuhan akibat virus polio, artinya orang yang mendapat IPV jika terkena virus polio akan dicegah dari kelumpuhan namun masih mungkin menularkan melalui tinja.

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan pencatatan semua reaksi yang tidak diinginkan yang timbul setelah pemberian imunisasi

Tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu benar. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu untuk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai banyaknya kejadian KIPI, derajat keparahan sampai benar tidaknya KIPI berhubungan dengan vaksin.

Imunisasi polio merupakan imunisasi yang sangat aman. Imunisasi polio telah digunakan pada sekitar 2,5 miliar anak di seluruh dunia. Meskipun begitu, pada kasus yang sangat jarang, vaksin polio oral dapat menyebabkan paralytic poliomyelitis (kelumpuhan karena vaksin) pada penerimanya.

Irma Susan Kurnia, dr.

03/08/2016

Referensi

  1. Poiiomyelitis, 2016 [internet] [cited March 2016]. Available at www.who.int
  2. Inactivated Polio Vaccine (IPV), 2010 [internet] [cited March 2016] Available at www.polioeradication.org
  3. Petunjuk Teknis Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Tahun 2016 Kementerian Kesehatan RI 2015, Dec 2015 [internet] [cited March 2016] Available at www.indonesian-publichealth.com
  4. Hadinegoro, Sri R. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi .Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000: 2 – 10 [internet] [cited March 2016] available at www.saripediatri.idai.or.id
  5. Watson C, penyunting. National Immunisation Program: The Australian Immunisation Handbook. Edisi ke-6. Commonwealth of Australia: National Health and Medical Research Council 1997
  6. Modlin, John F. Poliovirus vaccination. Uptodate. October 2014.

Kondom : Sebuah Pilihan Saat Berhubungan

Memilih metode kontrasepsi untuk anda dan pasangan seringkali membutuhkan pertimbangan yang cermat mengenai resiko, prosedur, efektifitas dan belum lagi tentang pentingnya kesepakatan dengan pasangan mengenai pemilihan terhadap suatu metode kontrasepsi. Di Indonesia, kondom merupakan salah satu metode kontrasepsi yang banyak dipakai oleh pasangan. Namun, alat kontrasepsi ini masih tetap kalah popular dengan metode yang lain seperti IUD, pil, implant maupun suntikan.

Beberapa informasi yang beredar mengenai kondom berpengaruh pada tingkat kepercayaan pasangan dalam memilih jenis kontrasepsi ini. Informasi tersebut bisa merupakan fakta maupun mitos belaka ataupun buah dari ketidaktahuan untuk menyiasati kelemahan kondom sebagai alat kontrasepsi. Berikut ini persepsi masyarakat yang diikuti penjelasan dari tim medis mengenai alat kontrasepsi barrier ini.

Apa yang dipikirkan masyarakat tentang kondom

“Tidak selalu nyaman dipakai”

Kondom yang cenderung agak tebal memang dapat menganggu sensitifitas rangsangan pada kulit dan saraf saat berhubungan intim, hal ini dapat diatasi dengan memilih ketebalan yang tepat. Di pasaran, variasi harga  juga menentukan kualitasnya, namun nyaman atau tidak tergantung masing-masing individu. Jika tidak puas pada salah satu merk, merk yang lain belum tentu tidak memuaskan juga sehingga harus dicoba jenis dan ketebalan yang cocok agar nyaman saat dipakai.

“Sering dirasa mengganggu momen-momen berhubungan intim”

Penggunaan kondom yang tepat memang saat penis mengalami ereksi maksimal agar tidak longgar. Agar momen berhubungan intim tidak terlalu terganggu, persiapkan kondom sebelum berhubungan intim dan pemasangan juga bisa dilakukan sambil, melakukan beberapa variasi foreplay yang bisa jadi malah membuat momen hubugan intim lebih berkesan.

Kondom

Kondom

“Kalau bisa bocor apa bisa dikatakan efektif?”

Efektifitas alat kontrasepsi ini dalam mencegah kehamilan adalah sekitar 98 %, artinya hanya 2 wanita yang hamil dari 100 wanita yang menggunakan kondom-pria sebagai alat kontrasepsi mereka. Untuk menghindari kebocoran ialah dengan cara pemakaian yang benar dan berhati-hati agar tidak robek oleh kuku/ perhiasan. Jika terlanjur bocor atau terlepas saat berhubungan, kontrasepsi darurat dapat menjadi solusinya. Dalam rentang waktu 2-5 hari setelah kejadian, hendaknya menggunakan pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Lamanya waktu maksimal kapan menggunakn pil setelah kejadian tergantung jenis pil kontrasepsi yang digunakan, IUD juga dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat dengan rentang waktu maksimal 5 hari setelah kejadian kebocoran pada kondom.

“Alat ini dapat mencegah penyakit menular seksual, benarkah?”

Sebagai salah satu kontrasepsi dengan metode barrier, alat ini mencegah sentuhan langsung antar lapisan kemaluan sehingga dapat mencegah penyakit menular seksual yang disebabkan karena kontak pada mukosa genital yang telah terinfeksi asalkan cara penggunaannya benar dan konsisten. Penyakit menular seksual yang ditularkan melalui cairan di daerah genital seperti kencing nanah/gonorrhoe juga dapat dicegah dengan alat kontrasepsi ini. Studi Laboratorium menunjukan alat kontrasepsi ini efektif mencegah masuknya kuman penyebab penyakit menular seksual meski kuman terkecil sekalipun.

” Bagusnya kondom itu murah dan praktis”
Dibanding alat kontrasepsi lain, kondom mudah didapatkan, dapat langsung dipakai dan ekonomis. Ide mengenai ATM kondom yang kontroversial beberapa waktu yang lalu salah satunya karena alat kontrasepsi ini dianggap mudah dipergunakan oleh siapa saja dan kapan saja tanpa perlu bantuan tenaga kesehatan profesional

“Alat kontrasepsi ini tidak mengganggu siklus menstruasi, benarkah?”
Siklus menstruasi wanita dipengaruhi oleh hormon di dalam tubuh. Kondom bukanlah kontrasepsi yang berpengaruh pada hormon jadi tidak perlu khawatir siklus menstruasi terganggu karenanya.

kondom wanita

Kondom Wanita

“Kondom wanita sulit dipakai dibanding pria”
Struktur tubuh wanita sendiri sehingga pemasangan kondom wanita tidak semudah pemasangan pada pria. Namun dengan pemasangan yang tepat, efektifitasnya hampir sama dengan efektifitas kondom pria.

Irma Susan Kurnia, dr.

12/15/2015

Referensi

  1. Laporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi, Januari 2014 [internet] [cited December 2015]. Available from www.bkkbn.go.id
  2. Condom fact Sheet in Brief, March 2013 [internet] [cited December 2015] Available from www.cdc.gov
  3. Contraception Guide : Male condom [internet] [cited December 2015] Available from www.nhs.uk
  4. Condoms don’t Reduce Satisfaction[internet][cited December 2015] Available from www.austra-lasianscience.com.au

Toilet Training Untuk sang Buah hati

Alhamdulillah setelah dicoba beberapa lama dalam menjalani training, akhirnya si sulung berhasil juga lulus ujian pertengahan dari pelatihan besar bernama “toilet training”. Tulisan ini mencoba untuk berbagi sedikit pengalaman dalam menemani ananda tercinta melewati fase kehidupan yang penting ini (lebay mode:on). Harapannya sahabat-sahabat dapat menjalani pelatihan ini lebih singkat dan lebih menyenangkan.


1. Kenalkan Konsep Buang Air

Hal pertama yang wajib dikenalkan kepada sang buah hati adalah istilah buang air besar atau buang air kecil itu sendiri. Penggunaan diaper terkadang membuat sang buah hati abai atas kejadian-kejadian yang ia alami, terutama urusan buang air kecil. Oleh karena itu, fase persiapan pertama yang wajib dilakukan adalah memahamkan ananda akan istilah buang air ini. Pengalaman kami, si sulung sudah terlebih dahulu paham istilah buang air besar (i.e., ee) dibandingkan buang air kecil. Oleh karena itu butuh beberapa waktu untuk mengenalkan istilah buang air kecil ini. Parameter sederhana dari fase ini adalah dia mengucapkan kata-kata buang air besar (misal : ee) ataupun buang air kecil (misal : pipis) ketika akan/sedang/setelah melakukannya. Pada fase ini tidak perlu terlalu menuntut agar si kecil mengucapkannya sebelum melakukan buang air, karena fase pertama ini harus difokuskan terlebih dahulu pada pengenalan istilah buang air kecil/besar terlebih dahulu. Melepas diaper dapat membantu untuk mengenalkan lebih cepat istilah buang air ini ke buah hati.

2. Kenalkan Istilah Toilet

Fase kedua dari toilet training adalah mengenalkan ananda akan lokasi untuk buang air kecil atau buang air besar. Setelah memahami istilah buang air, ajak ananda untuk mengenal lokasi yang tepat untuk “pipis” atau “ee”. Pengalaman kami, pengenalan dengan baik dan menyenangkan lokasi buang air sangat menentukan keberlangsungan pelatihan ini. Buatlah lokasi buang air sebagai tempat yang menyenangkan serta tidak menakutkan bagi sang buah hati, tempel gambar-gambar yang membuat hatinya senang atau gambar-gambar yang memotivasi dia untuk buang air di toilet. Membuat toilet menjadi tempat menyenangkan merupakan salah satu kunci sukses toilet training, pengalaman kami, sang ananda rupanya sangat tidak nyaman dengan toilet yang ada, dan lebih nyaman untuk buang air di kamar mandi yang lebih luas, dan terang.

Pada fase ini pula, mulailah secara perlahan-lahan untuk mengajarkan perasaan atau tanda-tanda yang ia rasakan manakala ingin membuang air. Ajarkanlah kata-kata yang mudah untuk mengajak buang air ke toilet, misal “pipis/ee ke toilet”, atau “pipis/ee bilang”. Beberapa parameter sukses dari fase ini adalah tidak takutnya ananda untuk pergi ke toilet, dapat mengungkapkan tanda-tanda sebelum ia ingin buang air, serta berhasil sesekali dalam buang air di toilet. Meskipun sang ananda sudah mulai memahami tanda-tanda serta terkadang berhasil untuk buang air ditoilet, jangan tuntut sang buah hati untuk selalu berhasil buang air ditoilet, karena merubah kebiasaan tetap saja membutuhkan waktu.

3. Rutinkan Buang Air di Toilet

Fase selanjutnya dari pelatihan ini adalah merutinkan sang ananda untuk buang air di toilet. Salah satu tips dalam merutinkan hal ini adalah memberikan pujian berulang, tepuk tangan, hingga hadiah manakala sang buah hati berhasil buang air di toilet. Fase ini dapat pula dilatih dengan mengajak sang buah hati selama selang waktu tertentu (misal satu atau dua jam sekali) untuk buang air di toilet. Meskipun anak sulung kali, lebih cenderung senang untuk diajak ke toilet manakala terlihat tanda-tanda sedang menahan pipis atau mengucapkan kata buang air. Parameter sukses tahap ini adalah, sang buah hati telah rutin hingga selalu buang air di toilet, mampu merasakan serta menahan ketika ingin buang air.

Jika menempatkan diri saya pribadi pada posisi sang buah hati, saya yakin proses ini bukanlah proses yang mudah, bahkan cenderung menakutkan. Karena sang buah hati seolah-olah sedang dituntut untuk merubah kebiasaan yang sudah dia lakukan selama setahun atau dua tahun belakang. Oleh karena itu berikut beberapa tips bagi orang tua agar dapat menjalani tahap ini secara menyenangkan

4. Sabar, Bahagia, dan Jangan Menuntut
Ini merupakan tips pertama yang sangat penting dalam pelatihan ini. Buatlah fase ini dengan sangat menyenangkan, ciptakan lagu-lagu dalam mengiringi fase ini dan yang paling penting jangan menuntut sang buah hati untuk segera berhasil dalam pelatihan ini. Ingatlah bahwa sesungguhnya tanpa diajarkan pun, kemampuan ini akan hadir secara alamiah. Oleh karena itu, setiap anak pasti bisa melakukannya.
5. Mulailah di Musim Semi Menjelang Musim Panas

Jika berada pada negeri empat musim, ada baiknya memulainya ketika musim semi menjelang musim panas. Pengalaman kami memulai toilet training ketika musim dingin atau musim gugur cukup menyulitkan. Karena kecenderungan sang buah hati untuk buang air kecil lebih besar, serta keenganan dia untuk menuju toilet karena suhu yang dingin.

6. Jauhkan Karpet-karpet yang Sulit Dibersihkan

Bau pesing yang menyeruak kemana-mana merupakan salah satu ciri pelatihan ini. Oleh karena itu, ada baiknya orang tua menganti karpet yang sulit dibersihkan dengan yang lebih mudah dibersihkan (misal: karpet puzzle).

7. Siapkan Pakaian Ganti Lebih Banyak

Fase-fase awal toilet training akan lebih banyak diisi oleh cerita pipis/ee di celana, oleh karenanya menyiapkan pakaian ganti, termasuk celana dalam, amatlah penting pada pelatihan ini.

8. Ajak Melihat Teman yang Sudah Berhasil

Ini tips lain yang mungkin dapat dicoba, meskipun orang tua sekali lagi tidak boleh menuntut sang ananda untuk menyamai temannya yang telah berhasil. Akan tetapi orang tua wajib berperan dalam memotivasi sang ananda.

9. Mulailah Ketika Ananda Siap

Pertanyaan kapan memulai merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab, karena perbedaan pencapaian tumbuh kembang sang buah hati. Ibu kami dahulu berhasil sejak usia kami satu tahun, cerita kawan-kawan lain ada yang satu setengah tahun, dua tahun, bahkan tiga-empat tahun. Oleh karena itu, orang tua yang paling paham kapan sang ananda siap menjalani fase ini. Ketika sang ananda terlihat sangat tertekan dalam menjalani proses ini, ada baiknya menghentikannya sementara sampai sang buah hati kembali bahagia menjalani tahap ini. Beberapa indikasi siap adalah mampu mengucapkan kata-kata pipis/ee atau mengungkapkan perasaan seperti menunjuk, berlari dan sebagainya.

Febri Zukhruf
Penulis adalah seorang ayah dan suami dari member kami Irma Susan Kurnia, dr.

Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #2

Fase persalinan dan nifas adalah salah satu tahap menegangkan dalam reproduksi wanita. Embel-embel kata ‘bertaruh nyawa’ pada fase ini bukanlah sekedar isapan jempol, terlebih jika ternyata fase ini tidak dalam prosedur medis seharusnya.

Sebagai negara maju, Jepang tentunya memiliki standar sendiri untuk masyarakatnya yang sedang dalam fase ini. Mulai usia 36 bulan kehamilan, pemeriksaan kehamilan seminggu sekali dilengkapi pemeriksaan CTG (cardiotocography) secara rutin tiap kedatangan, disamping sang ibu mendapatkan edukasi tanda-tanda persalinan dan memastikan sang ibu tahu kemana dia harus pergi atau mengontak unit gawat darurat.

Pada waktunya, persalinan dilakukan oleh 2 penolong, dokter dan ‘bidan’, persalinan normal maupun melalui operasi sessar dilakukan atas indikasi. Satu hal yang membuat penulis merasa kagum adalah bagaimana untuk setiap tindakan mereka berusaha untuk melakukan ‘informed consent’, penjelasan pada pasien tentang prosedur tindakan. Kebanyakan orang Jepang tidak fasih berbahasa Inggris, juga medis dan paramedisnya, tetapi ternyata tidak menghalangi dorongan untuk memberikan komunikasi yang baik pada pasien yang tidak bisa berbahasa Jepang.

Lagi-lagi permasalahan mendapatkan pelayanan yang sama-sama berkualitas menyeruak dalam benak penulis mengingat kondisi di negeri tercinta. Sekalipun berkualitas dan tentu mahal, biaya persalinan disini tertutupi oleh pemberian tunjangan kelahiran yang jumlahnya cukup ‘wah’ untuk ukuran orang Indonesia. Tunjangan ini juga dapat menutupi biaya pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir. Istimewanya, bagi penduduk dengan kategori pendapatan rendah ( termasuk mahasiswa asing yang hidup dari beasiswa) biaya persalinan dapat dipotong hingga 80% dengan tetap mendapat tunjangan sama besarnya.

Pemeriksaan bayi baru lahir juga dilakukan dengan teliti, termasuk diantaranya skrining beberapa penyakit metabolisme. Bayi premature akan mendapat suntikan antibodi untuk melawan respiratory syncytial virus dan mendapat perawatan sampai usianya setara dengan usia kehamilan 37 minggu dengan biaya yang ditanggung oleh asuransi.

Di samping itu, ibu yang telah melahirkan normal dirawat 6 hari di rumah sakit meski tanpa komplikasi. Selama 6 hari sang ibu dapat lebih banyak beristirahat ,mendapat pelatihan perawatan bayi serta cara menyusui dan juga pemeriksaan-pemeriksaan rutin bagi ibu dalam masa nifas.

Saat mengalami semua ini, penulis bersalin di malam hari hanya ditemani suami yang malam itu juga harus pulang, rasanya gamang sekali mengingat keterbatasan bahasa. Tapi, malam itu bahkan ke toilet pun suster mengantar, melayani tanpa rasa jijik. Masih lemas dan sendirian tapi hati sudah lebih tenang, berbagai macam kemudahan membuat penulis percaya pada sistemnya dan juga profesionalitas medis serta paramedisnya.

 

Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #1

Tidak bermaksud menepikan pada apa yang diupayakan para pejuang kesehatan Indonesia, hanya saja pengalaman sendiri menjalani kehamilan-melahirkan-merawat bayi sendiri di bagian kota budaya Kyoto,Jepang membuat penulis mengkhayalkan pada suatu waktu kesehatan ibu-anak di Indonesia mendapatkan jaminan dan pelayanan berkualitas secara merata, di ujung pulau sana sampai sudut gang kecil perkotaan, kaya maupun miskin, berpendidikan S3 atau SD saja.


Bermula dari apa yang dijalani seorang ibu hamil disini, untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan secara cuma-cuma dia harus melaporkan kehamilannya pada semacam puskesmas untuk kemudian mendapatkan kupon pemeriksaan. Diperiksa di puskesmas oleh bidan? Bukan, melainkan di RS negeri/swasta berfasilitas lengkap oleh dokter ahli. Di samping kupon, seorang ibu hamil mendapatkan gantungan tas dengan simbol ibu hamil, sehingga di bus atau kereta orang-orang mengetahui kehamilannya dan si ibu mendapat prioritas tempat duduk.

Pada saat bersamaan, pihak puskesmas juga melakukan pendataan karena ibu hamil ini akan mereka pantau terus. Petugas mereka akan mengunjungi rumah si ibu untuk edukasi menjelang persalinan dan perawatan bayi pada masa sebelum melahirkan dan 1 bulan setelah melahirkan. Di suatu sisi, akses internet sebagai sumber informasi begitu mudah tetapi edukasi secara langsung melalui home visit tetap menjadi program kerja. Program lain puskesmas untuk ibu hamil antara lain parenting class dan pemeriksaan gigi.

Di RS, sederet pemeriksaan penunjang untuk ibu hamil dilakukan secara rutin, tidak lagi sebagai pemeriksaan tambahan. USG transabdomen dan transvaginal, deteksi anemia melalui pemeriksaan Hb,protein urin, gula darah, berbagai macam pemeriksaan untuk penyakit (Syphilis, HepB, HIV, ) dan juga paps smear. Untuk fasilitas seperti ini, penulis menghela nafas mengingat saudara kita di pelosok sana. Pernahkah mereka menikmatinya? Para ibu di kota pun, berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan? Sekalipun untuk beberapa pemeriksaan di sini pun tetap ada pungutan biaya, tetapi sebagian besar ditanggung asuransi sehingga pungutan biaya itu tidak memberatkan.

Kehidupan itu berawal dari pembuahan, menjaga ibu hamil adalah titik awal menghormati kehidupan manusia dan setiap manusia berhak dihargai kehidupannya dalam penjagaan yang seutuhnya tanpa memandang strata sosial ekonomi.

dr. Irma Susan Kurnia

Wanita Resiko Tinggi Mengalami Gangguan Reproduksi

Kesehatan reproduksi wanita ikut menentukan keberlangsungan populasi manusia di muka bumi ini. Bagaimana tidak, dalam sistem reproduksi wanitalah janin tumbuh dan berkembang hingga lahir ke muka bumi. Itulah mengapa setidaknya seorang wanita memperhatikan betul kesehatan reproduksinya, termasuk kemungkinan mereka beresiko mendapat gangguan tertentu. Berikut beberapa jenis wanita yang beresiko tinggi mengalami gangguan pada sistem reproduksinya

  1. Wanita dengan pola hidup seks bebas yang gemar berganti pasangan
    HIV, hepatitis B adalah penyakit-penyakit yang terkenal belum ditemukan obatnya dan berujung pada kematian. Seks bebas adalah salah satu faktor resikonya. Selain itu beberapa penyakit kelamin yang ditularkan melalui seks bebas seperti gonorrhoe, syphilis tetap menjadi momok yang menakutkan meskipun sudah banyak ditemukan pengobatannya. Kanker leher rahim juga salah satu penyakit yang rentan dialami oleh wanita golongan ini.
  2. Wanita dengan pasangan yang memiliki pola hidup gemar berganti pasangan
    Terkadang, seorang wanita dapat juga terkena penyakit seperti pada point 1 sekalipun dirinya tidak pernah bergonta-ganti pasangan. Namun jika pasangannya itu tidak setia, tetap saja ia menjadi golongan orang yang beresiko. Inilah efek ‘ping-pong’ akibat kebiasaan berganti pasangan. Seseorang yang terkena penyakit menular seksual maka sebaiknya pasangannya pun diobati.
  3. Wanita dengan kehamilan 4 T :” terlalu tua, terlalu muda, terlalu rapat, terlalu sering”
    Beberapa komplikasi kehamilan dan persalinan sering terjadi pada kehamilan 4T. Pastikan perencanaan kehamilan mempertimbangkan faktor 4 T ini.
  4. Wanita dengan ibu/saudara perempuan penderita kanker payudara
    Payudara termasuk organ pelengkap reproduksi wanita. Salah satu faktor penyebab kanker payudara adalah genetik, penting bagi wanita dengan ibu/saudara perempuan yang memiliki penyakit ini melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin untuk deteksi dini.

Irma Susan Kurnia, dr.

8 Kebiasaan Merugikan Saat Berobat

Moms, ternyata ketidaksabaran saat berobat terkadang membuat seseorang melakukan hal-hal yang sebenarnya malah memperpanjang proses pengobatan itu sendiri dan bahkan menambah mahal biaya berobat. Kebiasaan apa sajakah yang ternyata dapat merugikan kita sendiri saat berobat? Mari kita simak ulasan berikut ini..


1.  Memilih dokter spesialis yang tidak tepat untuk penyakit yang di derita.

Sistem kesehatan di Indonesia yang memungkinkan seorang pasien langsung berobat ke  dokter spesialis tertentu terkadang tidak efektif jika ternyata pasien salah memilih dokter. Selain membuang waktu, biaya bisa jadi lebih mahal karena mengunjugi lebih dari satu dokter spesialis. Sebaiknya carilah informasi dasar tentang keluhan yang di derita terlebih dahulu atau memeriksakan diri terlebih dahulu pada seorang dokter umum agar dapat dirujuk pada dokter spesialis yang tepat jika ternyata dokter umum tidak mampu menanganinya.

2. Tidak memberikan informasi secara rinci dan jujur pada dokter

Bagi seorang dokter, anamnesa (bertanya tentang penyakit yang di derita) merupakan tahap penting untuk menentukan suatu penyakit dan obatnya. Jadi, pastikan anda mempersiapkan informasi yang lengkap dan jujur pada dokter anda. Yakinlah bahwa dokter anda adalah seorang professional yang telah disumpah untuk merahasiakan kondisi  terkait penyakit anda.

3. Malas bertanya tentang prosedur dan obat yang diberikan dokter

Salah satu hak anda sebagai pasien adalah mendapatkan informasi tentang dua hal di atas. Jangan takut dianggap bodoh atau rewel, jika anda bingung dan ragu, bertanyalah!

4. Berinisiatif melakukan pemeriksaan penunjang tanpa instruksi dokter

Pernah cek darah atau foto rontgen sebelum disuruh dokter  baru kemudian menunjukkan hasilnya ?  Bisa saja apa yang ada lakukan ini sesuai dengan apa yang diinginkan dokter tapi bisa juga tidak. Jika tidak sesuai, bukankah biaya yang anda keluarkan agak sia-sia?

5. Tidak mematuhi petunjuk pemakaian obat

Antibiotik itu harus dihabiskan. Obat-obat penyakit kulit untuk penggunaan luar memiliki aturan tersendiri, juga apakah suatu obat dimakan sebelum atau sesudah makan. Patuhilah hal-hal tersebut demi efektifitas dan efisiensi pengobatan yang sedang anda lakukan.

6. Menghilangkan atau tidak membawa kartu pendaftaran berobat

Setiap klinik atau rumah sakit memiliki rekam medis pasien masing-masing dengan nomor yang biasanya dicantumkan pada kartu yang diberikan saat pasien pertama kali datang.  Bawalah kartu ini setiap anda kembali berobat, begitu rekam medis anda ditemukan maka hal ini dapat memudahkan dokter mengetahui riwayat penyakit dan pengobatan anda.

7. Malas kontrol ketika sudah merasa sembuh

Gejala objektif berbeda dengan gejala subyektif. Artinya, jika anda merasa sembuh dokter belum tentu berpendapat sama, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang adalah hal-hal yang memastikan kesembuhan anda. Belum lagi jika ternyata pengobatan anda seharusnya kontinu dan tidak putus.  Periksakan kembali diri anda pada dokter ketika diminta,  sekalipun anda merasa sembuh.

8. Ragu dan tidak percaya

Keyakinan adalah hal terpenting saat berobat. Jika suatu saat dokter langganan anda tidak  bertugas dan ada dokter pengganti, tetaplah yakin anda telah berusaha maksimal untuk kesembuhan anda.  Bersikap kritis itu perlu tapi  jika terlalu banyak pikiran negatif tentang dokter anda atau obat yang anda minum hanya akan menurunkan kekebalan tubuh anda sehingga memperlambat proses kesembuhan.

Irma Susan Kurnia, dr.