Author Archives: Nela Fitria Yeral

Perlengkapan ASI Eksklusif

Menyusui adalah anugerah bagi setiap ibu. Bisa memberikan ASI secara eksklusif (selama 6 bulan tanpa pemberian makanan lain selain ASI) tentu juga menjadi suatu kesempatan yang berharga dan momen yang indah bagi ibu dan juga sang anak. Proses pemberian ASI ini, memang bisa diberikan secara langsung tanpa bantuan alat apapun. Namun, bagi para ibu yang kadang tidak ada kesempatan untuk menyusui sang buah hati secara langsung, misalnya ibu bekerja, diperlukan perlengkapan ASI untuk mendukung proses pemberian ASI. Lalu, apa saja ya perlengkapan ASI yang ibu butuhkan?

1.Pompa atau alat perah ASI

pigeon-manual-breast-pump-bpa-free-pompa-asi-manual-putih-halloween-promo-8825-635214-1-catalog_233Pompa ASI ini digunakan untuk memompa air susu dari payudara ibu, agar produksinya tetap lancar dan menjaga kuantitasnya agar selalu mencukupi. Di samping itu, dengan memompa secara rutin dapat mencegah tersumbatnya saluran / duktus pada payudara yang memproduksi ASI (blocked ducts). Pompa ASI ini terdiri dari beberapa macam; pompa manual (dioperasikan secara manual dengan tangan), pompa yang dioperasikan oleh baterai, dan pompa elektrik.

Adapun pompa ASI ini dibutuhkan bila:

  • Payudara perlu dikosongkan untuk produksi susu yang lebih baik
  • Payudara ibu bengkak
  • Ibu sedang dalam keadaan sakit sehingga tidak dapat menyusui
  • Ibu dan bayi sedang tidak bersama
  • Susu perlu dikumpulkan untuk keperluan di waktu yang akan datang

Pilihan untuk pompa ASI ini tergantung pada pemakaiannya. Untuk proses memompa yang mudah dan nyaman seperti di rumah, biasanya digunakan pompa yang dioperasikan oleh baterai atau yang elektrik, dimana sumber listrik atau tempat re-charge dapat dengan mudah dijangkau. Sementara ketika bepergian, para ibu biasanya lebih memilih pompa manual karena lebih praktis, tidak berisik, dan dapat diatur menyerupai refleks menyusui natural bayi sehingga lebih mudah untuk mendapat let-down reflex.

2. Niplette / Penarik Puting

SCF152_02-IMS-en_USAlat ini biasanya digunakan untuk membantu ibu dengan puting payudara yang datar atau terbalik. Ini dapat menarik puting dengan lebih nyaman untuk persiapan menyusui. Penting untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi sebelum menggunakan alat ini, sehingga setelah melahirkan sang bayi, ibu bisa menyusui dengan sukses tanpa kendala.

3. Nipple Shields / Perisai Puting

downloadAdapun kegunaan alat ini adalah untuk melindungi puting dan meminimalisir rasa sakit ketika menyusui karena adanya luka atau puting pecah. Biasanya tersedia bahan latex atau karet silicon tergantung kenyamanan ibu. Keadaan yang mendukung pemakaian alat ini adalah terdapatnya luka pada puting, puting datar atau terbalik yang menyebabkan bayi sulit mendapatkan perlekatan menyusui yang benar, dan menahan aliran ASI terlalu deras ketika bayi menyusui.

4. Tempat Penyimpanan ASI Perah (Cooler Bag)

download (1)Bagi ibu yang bekerja, tas ini merupakan sesuatu yang penting demi kenyamanan dan keleluasaan dalam bekerja namun tetap lancar dalam mengupayakan pemberian ASI eksklusif untuk sang buah hati. Tas ini merupakan pengganti kulkas sementara untuk menyimpan hasil perahan ASI dan dengan selamat membawanya kembali ‘pulang’ tanpa perlu es atau sambungan listrik tertentu. Tas ini ibarat ‘sahabat’ bagi ibu bekerja yang menyusui. Sangat berguna untuk selalu dibawa bepergian dan cukup untuk menampung satu pompa ASI dan lima botol penyimpanan ASI perah sekaligus. Banyak desain yang dapat ditemui untuk tas ini dan kebanyakan sangat fashionable, sehingga kadang orang tidak akan menyadari kita membawa alat-alat penting untuk ASI.

5. Breast Pads / Bantalan Payudara

imagesBantalan ini tersedia dalam bentuk sekali pakai atau dapat dicuci kembali, yang dirancang untuk mencegah kebocoran atau pakaian yang basah karena ASI yang melimpah. Alat ini terdiri dari lapisan penyerap dari bahan yang lembut untuk melindungi puting dan dapat memberikan aliran udara yang baik untuk menjaga kulit tetap kering. Cara pemakaiannya cukup dengan menyelipkannya pada bra untuk menyerap ASI yang melimpah atau kadang keluar melalui proses let-down reflex.

6. Botol Penyimpanan ASI

04-botol-kaca-asi-tutup-karet1Alat ini juga sangat penting bagi ibu bekerja yang tidak dapat memberikan ASI secara langsung kepada bayinya. Setelah diperah, ASI dapat disimpan di botol khusus ini. ASI perahan ini dapat disimpan di kulkas bawah sampai dengan 24 jam atau dapat disimpan di freezer untuk waktu yang lebih lama, sampai dengan 3 minggu. Untuk menggunakan kembali ASI yang sudah beku, dapat dicairkan terlebih dahulu dengan diletakkan dalam wadah yang berisi air hangat. Atau untuk cara yang lebih cepat dan aman, dapat digunakan pemanas khusus untuk botol susu bayi yang juga dijual di pasaran. Hindari pemakaian microwave karena dapat merusak nutrisi dan antibodi yang terdapat pada ASI.

7. Botol Susu yang BPA-Free

3FhECNNnaRAda kalanya ibu dan bayi harus berjauhan karena kondisi tertentu, misal ketika ibu bekerja, sehingga tidak dapat menyusui secara langsung. Untuk proses pemberian ASI perah itu sendiri, ada banyak pilihan yang dipilih oleh para ibu, diantaranya ada yang menggunakan cup feeder dan ada juga yang menggunakan botol. Yang penting untuk diperhatikan adalah botol yang dipakai bayi untuk menyusui tidak mengandung bahan BPA (bisphenol-a) yang merupakan bahan kimia yang biasa terdapat pada produk seperti plastik. Memilih botol susu yang tepat juga penting agarbayi tetap dapat mengembangkan kemampuan mengisap dari payudara ibu dengan baik.

Nela Fitria Yeral, dr.

08/16/2016

Referensi

  1. Dr. Lai Fon Min. ET AL. Pregnancy & Babycare Guide Vol.13 (page 172-173): Essential Tools of Breastfeeding. March 2012.
  2. ASI Terbaik untuk Bayi [Internet]. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Available from: http://aimi-asi.org
  3. Pumping & Milk Storage [Internet]. U.S. Department of Health and Human Services. Available from: https://www.womenshealth.gov/publications/our-publications/breastfeeding-guide/breastfeedingguide-general-english.pdf

Sup Salmon Asam Manis

Berikut ini adalah resep makanan anak berbahan ikan dan tomat ala dr. Nela Fitria Yeral. Rasanya disukai si kecil dan yang pasti sehat 🙂 Selamat mencoba

Bahan:

  • 30 gr salmon iris, cincang dagingnya dan lepaskan kulitnya sebagai kaldu
  • 50 gr apel, kupas, parut kasar atau potong kotak kecil, rendam dalam air matang
  • 4o gr tomat, cincang
  • 1 siung bawang putih, haluskan
  • 1 siung bawang merah, haluskan
  • 1/4 batang daun bawang, iris halus
  • 1/2 ruas jari jahe, kupas lalu keprek
  • 1/2 ruas jari lengkuas, kupas lalu keprek
  • 1 lembar daun salam
  • 1 lembar daun jeruk
  • 150 ml air matang

Cara membuat:

  1. Panaskan air, masukkan kulit salmon, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, daun jeruk, dan daun salam, rebus sampai mendidih.
  2. Masukkan salmon sampai berubah warna.
  3. Masukkan apel dan tomat sarta daun bawang.
  4. Masak sampai air sedikit. Angkat, sajikan hangat.

 

Kiat Aman Bermain Air bagi Bayi dan Anak

Si kecil yang lucu pasti senang sekali bila main air dengan segala bentuk permainannya yang menyenangkan. Kolam renang, air mancur, pantai, bahkan di kamar mandi pun sudah bisa membuat anak-anak menikmatinya sebagai permainan yang seru. Namun, anak tetap harus mendapat pengawasan dari orang dewasa saat ia main air. Pasalnya, anak-anak bisa saja tenggelam di air yang menggenang dengan kedalaman minimal 5-6 cm.

Memang sebagian anak-anak senang main air, namun ada juga yang mengalami ketakutan dengan air atau aquaphobia. Belajar berenang dan melatih anak merasa nyaman di air adalah cara terbaik untuk mengatasi ketakutan ini. Kemampuan berenang penting dan juga sangat berguna untuk dimiliki semua anak-anak. Banyak orangtua yang mulai mengajari anaknya berenang di usia sedini mungkin. Namun walaupun anak-anak sudah bisa berenang, ketika melakukan aktivitas di air tetap harus mendapatkan pengawasan dari orang dewasa.

Untuk itu, orangtua hendaknya mengetahui hal-hal penting yang mungkin dapat menyebabkan bahaya ketika si kecil sedang di dekat atau di dalam air, dan beberapa tips yang akan diuraikan berikut ini.

Di Rumah

Mungkin rumah tampak sebagai tempat paling aman untuk anak-anak main, namun hendak selalu diperhatikan adanya bak mandi, westafel, toilet bowl, dapat menjadi sumber bahaya di rumah. Jangan tinggalkan anak-anak sendiri tanpa pengawasan terutama ketika ia mandi. Jauhkan hairdryer dan segala peralatan elektronik lainnya untuk menghindari risiko tersengat listrik. Ingat bahwa kulit anak-anak sangat sensitif terhadap suhu, air panas dapat berbahaya terutama pada anak-anak di bawah 5 tahun. Bayi dan balita dapat mengalami luka bakar bila suhu air terlalu panas (bila 3 detik anak terpapar suhu air 60o celcius dapat menyebabkan luka bakar derajat tiga). Untuk itu penting untuk mengetes air sebelum anak bersentuhan dengan air.

Di Pekarangan

Bila di rumah terdapat kolam renang pribadi di halaman, hendaknya dilengkapi dengan peralatan keselamatan. Memasang pagar di sekitar kolam renang dapat menjadi pelengkap keselamatan yang baik. Tinggi pagar sebaiknya berukuran minimal 130 cm tanpa adanya pegangan atau tempat berpijak yang bisa dipanjat anak-anak. Hendaknya terdapat pintu yang dapat dibuka-tutup dengan kunci yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak.

Di Kolam Renang

Orangtua harus mengajarkan anak-anak peraturan di kolam renang, seperti; tidak boleh berlarian, tidak boleh mendorong orang lain ke dasar kolam, tidak menyelam di daerah yang bukan untuk menyelam, keluar dari kolam saat hujan dan atau adanya petir, serta hubungi petugas keselamatan di sekitar kolam atau orang dewasa lainnya bila dalam bahaya. Ada baiknya juga menjauhkan mainan anak-anak dari kolam renang, bila tanpa pengawasan orang dewasa, karena dapat menjadi salah satu penyebab anak tenggelam ketika berusaha mengambil atau mengangkat mainannya dari dalam air.

Jangan tinggalkan anak-anak di kolam renang tanpa pengawasan orang dewasa (yang bisa melakukan resusitasi jantung paru/RJP) walaupun anak-anak sudah diajarkan berenang sejak kecil. Karena menurut American Academy of Pediatrics (AAP), latihan kemampuan berenang sejak dini tidak sepenuhnya mencegah terjadinya kasus tenggelam pada anak. Kemampuan berenang tiap anak dapat dibedakan dari seberapa sering ia ‘kontak’ dengan air, perkembangan emosi, kemampuan fisik, dan kondisi kesehatan berkaitan dengan penyakit yang dapat ditularkan di air dan bahan kimia di kolam renang.

Di Danau

Anak-anak sebaiknya diajarkan untuk tidak berenang sendirian di danau. Air yang kelihatan tenang sebenarnya tetap mengalir ke tempat yang dalam. Tepian danau tampak dangkal namun semakin ke tengah akan semakin dalam. Untuk itulah anak-anak yang berenang harus selalu dalam pengawasan. Mungkin juga terdapat bebatuan yang tersembunyi, pecahan kaca, dan sampah sehingga lebih baik menggunakan alas kaki khusus untuk di air, dan berhati-hati juga terhadap akar-akar pohon atau rerumputan yang mungkin dapat menjerat kaki.

Di Pantai

Ketika bermain di pantai bersama anak-anak lainnya, orangtua atau dewasa lainnya tetap harus memantau. Anak-anak harus diajarkan untuk berenang di tempat-tempat yang terdapat penjaga pantai dan petugas keselamatan. Jauhi dermaga atau tiang pancang di laut apabila pergerakan air membawa anak-anak ke arahnya. Dan selalu cek arus di pantai karena arus yang pasang dan kuat berbahaya untuk bermain air atau berenang. Jangan biarkan anak berenang ketika ombak besar. Pastikan anak-anak tetap memakai jaket keselamatan saat naik perahu atau permainan air lainnya.

Main di pantai juga tak luput dari panas matahari. Untuk bayi dan anak-anak, AAP merekomendasikan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung, dengan menggunakan pakaian yang tertutup, yang menutupi lengan dan kaki serta memakai topi yang menutupi wajah. Bila tidak ada, dapat menggunakan sunscreen minimal 15 SPF (Sun Protection Factor) untuk mencegah terjadinya sunburn.

Di Taman Air

Taman air atau waterparks tentu merupakan wahana yang seru untuk anak-anak bermain. Namun pastikan setiap taman air ini disertai petugas keselamatan yang selalu mengawasi. Pastikan wahana mana yang sesuai untuk usia anak, karena anak-anak yang lebih kecil biasanya akan terintimidasi oleh anak-anak yang lebih besar.

Dalam Keadaan Bahaya

Ketika anak hilang  saat bermain di dalam air, pertama kali cek lah ke dalam kolam. Karena kesempatan hidup bergantung pada seberapa cepat upaya penyelamatan dan kembalinya kemampuan bernafas secepat mungkin. Ketika menemukan anak di dalam air, segera angkat keluar dan mintalah bantuan. Cek jalan nafas apakah lancar atau tidak, dan apabila anak tidak bernafas segeralah lakukan RJP. Jika anak bernafas, posisikan miring untuk mempertahankan jalan nafas dan menghindari tersedak. Jika mungkin terdapat trauma leher, tetap pertahankan posisi telentang, dan letakkan lengan untuk menjaga posisi leher dan bahu stabil, sampai pertolongan datang.

Tips Bermain yang Aman untuk Bayi

Kapanpun bayi berenang atau bermain di air, basuhlah bayi dengan sabun lembut dan shampoo untuk menghilangkan bahan-bahan kimia yang ada di kolam. Bayi lebih mudah untuk terkena penyakit yang ditularkan melalui air. Setelah selesai mandi, keringkan juga bagian telinga bayi dengan menggunakan handuk, untuk mencegah swimmer’s ear yaitu infeksi telinga yang disebabkan oleh adanya air yang terperangkap di rongga telinga.

Bayi juga dapat menularkan penyakit di kolam renang. Parasit Cryptosporodium yang ditemukan di feses, dapat terlepas ke dalam air dari popok yang bocor. Bila tertelan oleh anak-anak yang sedang berenang, dapat menyebabkan diare, mual, muntah, penurunan berat badan, dan dehidrasi. Untuk itu, sebaiknya tidak melepaskan bayi ke kolam sebelum ia terlatih untuk ke toilet.

Bila bayi mendadak panas, atau bibir membiru, angkat dari kolam sesegera mungkin, keringkan dan selimuti agar hangat. Suhu air di bawah 29 derajat celcius dapat menyebabkan bayi kehilangan panas dengan cepat, yang beresiko hypothermia.

*****

Nela Fitria Yeral, dr. 

08/19/2015

Referensi

  1. Water Safety [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/firstaid_safe/outdoor/water_safety.html
  2. Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5, 6th Edition 2015. American Academy of Pediatrics. Available from: http://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-play/Pages/Water-Safety-And-Young-Children.aspx
  3. Dr. Lai Fon Min. ET AL. Pregnancy & Babycare Guide Vol.13 (Page 214-216): Splash Safety. March 2012.
  4. Sun and Water Safety Tips [Internet]. American Academy of Pediatrics. Available from: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/news-features-and-safety-tips/pages/Sun-and-Water-Safety-Tips.aspx
  5. Recreational Water Illnesses [Internet]. Available from: http://www.cdc.gov/healthywater/swimming/rwi/

Common Cold pada Anak

Kita mungkin sering mendengar istilah common cold, yang muncul saat konsultasi ke dokter ketika si kecil sakit. Sebenarnya, common cold itu apa sih? Common cold dapat diartikan sebagai pilek dalam bahasa awam kita sehari-hari, yang biasanya disertai gejala tambahan seperti batuk atau demam. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas, yang tidak memerlukan pengobatan, karena biasanya akan hilang sendiri. Virus pada common cold ini berbeda dengan virus influenza.

cold-info

Pilek biasanya bukan masalah serius. Namun pada bayi, orang tua, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu dapat berisiko mendapatkan komplikasi yang lebih serius, seperti infeksi bakteri pada saluran pernapasan.

Anak-anak jauh lebih sering terkena pilek daripada orang dewasa. Gejala pada anak dapat berupa kenaikan suhu tubuh (demam). Anak-anak mungkin akan mengalami pilek, atau infeksi saluran pernapasan atas lebih sering daripada penyakit lainnya. Dalam dua tahun pertama kehidupannya, anak biasanya mengalami delapan sampai sepuluh kali pilek. Terlebih lagi bila anak Anda mengikuti kegiatan di daycare, atau ada anak usia sekolah yang lebih tua di rumah, pilek dapat menyebar dengan mudah di antara anak-anak yang berkontak erat tersebut. Namun hal baiknya, sebagian pilek akan menghilang dengan sendirinya dan tidak menyebabkan sesuatu yang lebih buruk.

Penyebaran

cure-for-the-common-cold-2020-2025Pilek disebabkan oleh virus, yang merupakan organisme menular dengan ukuran yang sangat kecil (jauh lebih kecil dari bakteri). Sekali bersin atau batuk dapat langsung memindahkan virus dari satu orang ke orang lain. Virus ini juga dapat menyebar secara tidak langsung, dengan cara sebagai berikut:

Seorang anak atau orang dewasa yang terinfeksi virus akan menyentuh hidungnya ketika bersin atau batuk, yang dapat memindahkan beberapa partikel virus ke tangannya. Dia kemudian menyentuh tangan orang yang sehat. Orang yang sehat ini lalu menyentuhkan tangannya yang baru saja terkontaminasi ke hidungnya sendiri, sehingga memperkenalkan agen infeksi ke tempat di mana ia dapat berkembang biak dan tumbuh, yaitu hidung atau tenggorokan. Gejala pilek pun segera berkembang. Siklus ini kemudian berulang, memindahkan virus dari orang yang baru terinfeksi ini ke orang lain yang rentan, dan seterusnya.

Tanda dan Gejala

  • Pilek (cairan yang jernih, yang semakin lama semakin mengental dan berwarna)
  • Bersin
  • Demam ringan (38,3-38,9° C), khususnya di malam hari
  • Nafsu makan menurun
  • Sakit tenggorokan dan kesulitan menelan
  • Batuk
  • Iritabilitas yang hilang timbul
  • Kelenjar sedikit membengkak
  • Nanah pada amandel, terutama pada anak usia tiga tahun atau lebih tua, menunjukkan kemungkinan infeksi Streptokokus
  • Jika anak Anda memiliki gejala khas tanpa komplikasi, gejala akan hilang secara bertahap setelah tujuh sampai sepuluh hari

Kapan perlu berobat ke dokter?

Anak yang lebih tua yang terkena pilek biasanya tidak perlu ke dokter kecuali pada kondisi lebih serius. Jika bayi usia tiga bulan atau kurang, sebaiknya bertemu dokter sejak gejala awal penyakit. Karena pada bayi yang lebih muda gejala dapat menyesatkan dan pilek dapat dengan cepat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius, seperti bronchiolitis, croup, atau pneumonia.

Secara umum, anak perlu diperiksa ke dokter lebih lanjut bila terdapat gejala atau tanda sebagai berikut:

  • bayi berusia kurang dari tiga bulan, demam tinggi di atas 38° C
  • gejala pilek berlangsung selama lebih dari 10 hari, terutama jika anak batuk dengan dahak berwarna hijau, kuning, atau coklat atau demam, ~ ini bisa menjadi tanda adanya infeksi bakteri yang memerlukan pengobatan antibiotik
  • anak mengalami kesulitan untuk bernapas atau sesak ~ segera ke Rumah Sakit
  • anak mengeluh sakit di bagian hidung setelah dua sampai empat hari perawatan di rumah
  • bayi atau anak dengan sakit telinga yang berat (bayi dengan sakit telinga sering menggosok telinga mereka dan tampak marah) karena bisa jadi mereka mempunyai infeksi telinga yang mungkin memerlukan pengobatan antibiotik
  • anak mengeluh sakit tenggorokan selama lebih dari tiga atau empat hari, atau sakit tenggorokan yang lebih parah dari biasanya, karena mungkin mereka mempunyai tonsilitis bakteri yang perlu pengobatan antibiotik
  • anak mempunyai gejala-gejala lain seperti nyeri / bengkak di wajah atau di dada, sakit kepala atau sakit tenggorokan yang parah
  • apabila kondisi anak Anda tidak ada perbaikan atau semakin memburuk

Untuk anak yang lebih tua dari tiga bulan, hubungi dokter anak jika:

  • Lubang hidung melebar, kulit di atas atau di bawah tulang rusuk tertarik pada setiap napas (retraksi), anak bernapas cepat atau memiliki kesulitan bernapas
  • Bibir atau kuku membiru
  • Lendir pada hidung  (lebih dari sepuluh sampai empat belas hari)
  • Batuk tidak menghilang (lebih dari satu minggu)
  • Memiliki rasa sakit di telinga
  • Suhu tubuh lebih dari 38,9° C
  • Sangat mengantuk dan rewel

Dokter anak biasanya akan meminta untuk mengawasi anak Anda dan kembali ke dokter bila tidak ada perbaikan setelah lebih kurang seminggu dari awal munculnya gejala.

Pengobatan yang efektif untuk common cold

Orang tua perlu paham bahwa common cold ialah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Sehingga terapinya bertujuan untuk mengurangi gejala. Agar mempercepat penyembuhan, penting sekali bagi orangtua membuat anak merasa nyaman. Berikut ini yang dapat dilakukan orangtua saat anak batuk pilek:

  • Pastikan anak istirahat yang cukup, tidak kurang tidur, dan minum yang banyak. Bila perlu air hangat untuk mendapatkan efek menenangkan seperti sayur sup, sup ayam dan jus apel . Hidrasi yang baik (terutama air hangat) dapat mengurangi sekresi hidung dan melegakan saluran pernafasan.  
  • Jika bayi mengalami kesulitan bernapas karena hidung tersumbat, bersihkan hidungnya dengan saline (air garam), obat tetes hidung atau semprot, yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Lalu dihisap dengan bola karet penghisap setiap beberapa jam atau setiap sebelum makan atau tidur. Untuk tetes hidung, gunakan pipet yang sudah dibersihkan dengan sabun dan dibilas dengan air biasa. Teteskan dua kali di masing-masing lubang hidung sekitar 15 menit sebelum makan, kemudian segera hisap dengan bola karet. Jangan gunakan obat tetes hidung yang mengandung obat apa pun, karena jumlah yang berlebihan dapat diserap, gunakan tetes hidung saline saja.

bulb

  • Menempatkan sebuah pengatur kelembaban udara (vaporizer/humidifier) di kamar anak Anda juga akan membantu menjaga sekresi hidung menjadi lebih cair dan membuatnya lebih nyaman. Atur posisinya dekat dengan anak namun aman dari jangkauannya, sehingga anak memperoleh kelembaban yang cukup. Pastikan untuk membersihkan dan mengeringkan alat tersebut setiap hari untuk mencegah kontaminasi bakteri atau jamur. Penggunaan vaporizer dengan air panas tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan luka bakar.
Contoh Humidifier/vaporizer

Contoh Humidifier/vaporizer

  • Jika anak demam dan sangat tidak nyaman, dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen. Ibuprofen dapat diberikan pada anak usia enam bulan atau lebih, namun tidak diperbolehkan pada anak-anak yang mengalami dehidrasi atau muntah berulang kali. (Pastikan untuk mengikuti dosis yang dianjurkan untuk usia
    anak Anda dan interval waktu untuk dosis berulang.)
TerapiManfaatUsia (Tahun)Perhatian
Madu (Buckwheat)Mengurangi frekuensi batuk dan meningkatkan kualitas tidur anak 2-18Madu tidak boleh diberikan pada anak di bawah 1 tahun karena resiko infeksi botulism
Pelargonium sidoides/ ekstrak (geranium)Meringankan gejala batuk dan pilek pada anak common cold1-18
AcetylcysteineMengurangi batuk setelah 6-7 hari terapi pada anak di atas 2 tahun 0-18 Efek samping paling utama ialah muntah

Pengobatan common cold yang tidak efektif

  • Antibiotik. Pilek disebabkan oleh virus, yang tidak memberikan respon terhadap antibiotik. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Terlalu sering menggunakan antibiotik dapat menyebabkan resistensi antibiotik, di mana gejala yang ada tidak merespon pengobatan dengan antibiotik tersebut. Dokter meresepkan antibiotik hanya jika anak telah mengalami infeksi bakteri sekunder atau lanjutan.
  • Obat batuk pilek. Penting untuk diperhatikan, bahwa obat pilek dan obat batuk yang dijual bebas tidak dianjurkan diberikan pada bayi dan anak di bawah usia dua tahun, karena risiko efek samping yang mengancam jiwa. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa produk obat untuk pilek dan batuk tidak bekerja pada anak lebih muda dari enam tahun dan dapat memiliki efek samping yang serius. Selain itu, perlu diingat bahwa batuk dapat membersihkan lendir dari bagian bawah saluran pernapasan, sehingga tidak perlu ditekan dengan obat.
  • Ekstrak Echinacea purpurea. Berdasarkan penelitian tidak ada perbedaan tingkat kesembuhan dan lama penyakit antara anak yang diberi ekstrak Echinacea dan yang tidak.
  • Vitamin C. Belum ada penelitian pada populasi anak.

Pencegahan

Jika bayi Anda berusia di bawah tiga bulan, pencegahan terbaik terhadap pileka adalah menjauhkannya dari orang-orang yang pilek. Hal ini terutama berlaku selama musim dingin, ketika banyak virus yang menyebabkan pilek beredar dalam jumlah yang lebih besar. Virus yang menyebabkan penyakit yang ringan pada anak atau orang yang lebih tua dapat menjadi serius pada bayi. Selain dingin, debu juga kadang dapat menjadi pencetus.

Jika anak (dengan usia yang lebih tua) berada di daycare dan terkena pilek, ajari anak untuk menjauh dari orang lain ketika batuk dan bersin, dan gunakan tissue ketika batuk dan membersihkan hidungnya. Dengan ini anak dapat mencegah penyebaran pilek kepada orang lain. Demikian pula sebaliknya, dengan menggunakan tissue dan menjauh ketika ada anak lain yang sedang pilek, dapat menghindari anak dari penularan. Ajari juga anak untuk mencuci tangan secara teratur, ini akan membantu mengurangi penyebaran virus.

hand-washing-kids

Nela Fitria Yeral, dr.

Referensi:

  1. Children and Colds [Internet]. American Academy of Paediatrics. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-throat/Pages/Children-and-Colds.aspx
  2. Common Cold in Children [Internet]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/Cold-common/Pages/Commoncoldinchildren.aspx
  3. Bukutu, C. ET AL. Complementary, Holistic, and Integrative Medicine: The Common Cold. Provided by AAP on December 17,2009.
  4. What You Need to Know about The Common Cold [Internet]. Available from: livinggreenmag.com
  5. Diane E Pappas, MD, JD, J Owen Hendley, MD. The common cold in children: Treatment and prevention. Uptodate.
  6. Fashner J, Ericson K, Werner S. Treatment of the common cold in children and adults. Am Fam Physician. 2012 Jul 15;86(2):153–9.

Makanan yang Dilarang Untuk Ibu Hamil

Kehamilan, merupakan anugerah untuk setiap wanita. Untuk itu, selama prosesnya, setiap ibu hamil sebaiknya memperhatikan nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Para ibu hamil hendaknya memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi dari makanannya, untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada janin serta untuk menjaga kesehatan tubuhnya yang banyak mengalami perubahan selama kehamilan.

Ibu hamil sebaiknya mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, yaitu mengandung protein, karbohidrat, lemak, serta buah-buahan dan sayuran yang beragam jenisnya. Namun, tidak semua makanan dapat dikonsumsi oleh ibu hamil. Ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya bahkan seharusnya dihindari selama hamil, karena makanan tersebut dapat menyebabkan keracunan dan membahayakan janin.

Berikut uraian makanan yang seharusnya dihindari selama hamil:

Soft cheese

webmd_rf_photo_of_nachos_with_quesoIbu hamil boleh saja menikmati pasta beserta keju parut di hidangannya, tapi yang harus dihindari adalah saus keju. Keju lunak yang terbuat dari susu yang tidak dipasteurisasi dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri Listeria atau E.Coli, yang berbahaya bahkan dapat mengancam jiwa ibu hamil dan janin. Mungkin jika ibu mengenal istilah camembert, feta, blue cheese, queso blanco, queso fresco, panela, ada baiknya menghindari produk tersebut kecuali telah dilabel pasteurisasi. Sebaiknya pilih keju yang keras seperti keju chedar atau Swiss.

Daging mentah

photolibrary_rf_photo_of_rare_steak Apabila ibu hamil ingin makan daging-dagingan seperti steak atau burger, pastikan dagingnya telah dimasak sampai matang sempurna. Daging mentah maupun setengah matang dapat menjadi tempat berkembangnya berbagai bakteri dan Toksoplasma. Ketika makan di luar, pastikan dagingnya dimasak sampai matang dan mengepul. Jika ingin memasak sendiri di rumah, pastikan suhunya sesuai standar yang diperbolehkan sampai daging matang, yaitu minimal harus mencapai 145oF (63o C)untuk seluruh potongan daging.

Jus segar

veer_rf_photo_of_fruit_juice_standJus yang diproses dari buah-buahan atau sayuran segar di restoran atau stand minuman biasanya tidak melalui proses pasteurisasi untuk melindungi dari bakteri berbahaya seperti Salmonella dan E.Coli. Ibu hamil sebaiknya memperhatikan label kemasan jus yang dijual di supermarket. Jus yang dikemas dalam kotak atau botol dari pabrik biasanya sudah dipasteurisasi sehingga aman untuk dikonsumsi. Alternatifnya ibu dapat merebus jus atau sari buah segar sampai mendidih selama paling tidak 1 menit sebelum diminum.

Sushi

photolibrary_rf_photo_of_sushiIbu hamil penggemar sushi, hendaknya menjauh sementara untuk 9 bulan ke depan dari makanan ini, terutama yang mentah. Meskipun seafood merupakan sumber protein yang baik, namun yang mentah bisa menjadi sumber parasit dan bakteri berbahaya. FDA merekomendasikan ibu hamil hanya makan ikan dan makanan laut lainnya yang telah dimasak secara menyeluruh pada suhu 145oF (63o C).

Adonan kue mentah

photolibrary_rf_photo_of_raw_cookie_doughKetika membuat kue atau cake, seringkali kita tergoda untuk mencicipi adonan kue yang belum dipanggang. Bila adonan tersebut mengandung telur mentah, meskipun hanya sedikit yang masuk ke mulut, bisa menimbulkan resiko. CDC memperkirakan satu dari 20.000 telur tercemar bakteri Salmonella. Untuk amannya, ibu hamil tidak mencicipi adonan kue yang belum dipanggang yang berisi telur mentah. Namun eskrim dengan label rasa ‘cookie dough’ (adonan kue) aman untuk dikonsumsi ibu hamil.

Homemade dressing salad

getty_rm_photo_of_caesar_salad

Telur mentah juga sering digunakan untuk membuat dressing atau saus pada salad sayuran maupun buah-buahan. Sebaiknya ibu hamil memilih kemasan yang dijual di toko, karena dibuat dari telur yang sudah dipasteurisasi. Telur yang belum dimasak sempurna dapat mengandung bakteri Salmonella. Oleh karena itu, telur baru aman dimakan oleh ibu hamil setelah dimasak sampai kuning telurnya mengeras atau dimasak dalam suhu 160oF (71o C) bila ingin membuat produk mengandung telur.

Homemade Tiramisu

photolibrary_rf_photo_of_tiramisu

Banyak makanan penutup buatan rumah seperti mousse, meringue, dan tiramisu mengandung telur mentah sebagai bahan bakunya. Ada cara yang aman untuk mempersiapkan resep favorit anda. Di supermarket biasanya bisa didapatkan telur yang sudah dipasteurisasi, perhatikan labelnya sebelum membeli. Cara lain ibu dapat mebuat makanan penutup sendiri di rumah dengan resep modifikasi yang tidak menggunakan telur sama sekali atau telur mentah.

Unggas yang belum dibersihkan

photolibrary_rf_photo_of_stuffing_turkeyUnggas, seperti ayam atau kalkun yang dimasak dengan cara dipanggang tanpa dipotong dan dibersihkan lebih dulu seringkali menggoda untuk dilakukan mengingat waktu pengerjaannya yang lebih singkat. Bagian isi perut unggas yang belum dipotong tersebut ditakutkan mengandung bakteri, dan biasanya kehamilan lebih rentan terhadap infeksi. Untuk amannya, dapat digunakan unggas yang sudah dibekukan terlebih dulu, dan langsung dimasak dalam keadaan beku tersebut.

Ikan dengan merkuri

photolibrary_rm_photo_of_swordfishIkan baik untuk kesehatan ibu dan janin. Namun ada baiknya memilih ikan yang akan dikonsumsi dengan bijak. Swordfish, tilefish, king meckerel, dan ikan hiu mengandung methylmercury kadar tinggi. Logam ini dapat membahayakan calon bayi. Ibu hamil diperbolehkan makan ikan laut sampai 12 ons perminggu. Untuk itu, sebaiknya memilih ikan yang rendah kadar mercury seperti lele, salmon, cod, dan tuna kalengan. Konsultasikan dengan dokter anda sebelum mengkonsumsi minyak ikan atau suplemen lainnya saat hamil.

Daging segar siap makan

photolibrary_rm_photo_of_deli_meats

Tidak seperti banyak kuman yang berhubungan dengan makanan lainnya, Listeria dapat tumbuh pada suhu di dalam lemari es, dan ibu hamil sangat rentan terhadap kuman ini. Untuk itu, ibu hamil sebaiknya menghindari daging segar siap makan, yang biasa digunakan untuk membuat hotdog, dan sebaiknya daging dipanaskan dahulu sampai mengepul. Daging olahan seperti daging luncheon, sosis kering atau fermentasi juga harus di masak dalam suhu 165oF (74o C) meskipun dalam label tertera sudah pre-cooked atau dimasak terlebih dahulu.

Buah-buahan dan sayuran yang tidak dicuci

getty_rm_photo_of_woman_washing_vegtablesSaat hamil adalah saatnya untuk mengkonsumsi banyak buah-buahan dan sayuran. Namun harus dipastikan untuk mencucinya secara menyeluruh di bawah air mengalir. Parasit seperti Toksoplasma dapat hidup pada buah-buahan dan sayuran yang tidak dicuci bersih, dan dapat menyebabkan penyakit Toxoplasmosis yang membahayakan janin. Jangan gunakan sabun untuk mencucinya, gunakanlah sikat kecil khusus untuk sayuran atau buah, dan disikat pada permukaannya. Daerah yang tampak menghitam pada buah atau sayuran sebaiknya dibuang karena menjadi tempat berlabuhnya bakteri.

Kecambah mentah

photolibrary_rm_photo_of_fresh_alfalfa

Ibu hamil sebaiknya tidak memakan kecambah atau bibit dari kacang-kacangan seperti pada lobak, toge, yang mentah. Hal ini disebabkan bakteri E. Coli dan Salmonella dapat tumbuh pada biji sebelum kecambah berkembang, dan ini sangat tidak mungkin untuk dibersihkan. Jika ingin makan sandwich yang dijual di toko, pastikan tidak ada kecambah mentah di dalamnya. Jika ingin membuat sendiri di rumah, masaklah kecambah tersebut sampai matang.

Salmon asap dan kerang mentah

photolibrary_rm_photo_of_bagel_with_lox

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, makanan laut harus dimasak secara sempurna dalam . Untuk itu, ibu hamil sebaiknya menghindari menu makanan seperti salmon yang diasap dan kerang mentah atau tiram segar karena dapat mengandung bakteri Vibrio. Salmon asap versi kulkas kurang aman. Sebaliknya, salmon asap yang dikaleng atau yang telah dimasak dalam suhu 165oF (74o C) lebih aman dan dapat dikonsumsi ibu hamil. Adapun kerang sebaiknya dimasak sempurna sampai bagian kerang terbuka suhu 145oF (63o C).

Makanan potluck

getty_rm_photo_of_potluck_buffet

Ibu mungkin tidak ingin menyinggung perasaan teman dengan menghindari makanan potluck nya. Namun, ibu perlu berhati-hati karena makanan yang dibiarkan di luar kulkas terlalu lama bisa terkontaminasi dengan bakteri dari luar. Bila menghadiri suatu acara yang menyediakan makanan  yang dibawa masing-masing tamu, ibu hamil boleh saja mencicipinya, namun pastikan makanan tersebut tidak dijajakan terbuka lebih dari 2 jam (pada suhu ruangan). Bila suhu ruangan di atas 90 oF (32o C), batas waktu makanan aman di makan di luar kulkas ialah 1 jam.

Susu yang tidak dipasteurisasi

photolibrary_rm_photo_of_fresh_milkMengunjungi peternakan dan mencicipi susu segar yang baru saja diperah tampak menggiurkan. Namun ibu hamil sebaiknya menunda minum susu segar langsung karena susu tersebut belum melewati proses pasteurisasi. Susu yang belum dipasteurisasi bisa mengandung Listeria yang berbahaya bagi kesehatan ibu dan janin. Jika ingin membeli produk dari peternakan seperti susu, keju, dan produk susu lainnya, pastikan produk tersebut telah dipasteurisasi.

Kafein

photolibrary_rf_photo_of_pouring_coffee

Kafein telah diketahui dapat menembus plasenta dan berefek pada janin. Tahun 2008, penelitian menemukan bahwa ibu hamil yang mengkonsumsi >200 mg kafein beresiko 2x lebih tinggi mengalami keguguran. Namun, penelitian terbaru menyebutkan kafein aman dikonsumsi oleh ibu hamil dalam jumlah yang sedang. Hal ini mendorong, The March of Dimes merekomendasikan wanita hamil untuk membatasi kafein sebanyak 200 miligram perhari. Namun harus diperhatikan juga, kafein tidak hanya terdapat pada kopi, namun juga pada teh, coklat, dan minuman energi.

Alkohol

getty_rm_photo_of_woman_buying_wine

Mengkonsumsi minuman beralkohol selama hamil, dapat menyebabkan penyakit yang serius pada janin dan kecacatan saat lahir. Bahkan jumlah yang sedikit saja bisa membahayakan. Sampai saat ini belum ada rekomendasi jumlah minimum alkohol yang aman untuk dikonsumsi selama hamil. Sehingga lebih baik ibu hamil menghindari segala jenis alkohol termasuk wine, bir, coolers atau eggnog.

photolibrary_rf_photo_of_food_take_outBila anda membungkus makanan dari restoran atau tempat yang menjajakan makanan dan dibungkus dengan menggunakan kotak atau kantong plastik, pastikan langsung pulang dan segera mengkonsumsinya. Bila makanan tersebut ditaruh di mobil, dapat meningkatkan suhu dalam makanan dan menjadi tempat berkembangbiak yang baik untuk bakteri. Bila ingin menunda memakannya, makanan tersebut dapat disimpan di kulkas sampai paling lama 2 jam sejak disajikan.

Hati hewan

download

Hati hewan merupakan sumber yang kaya vitamin A. Karena asam retinoat (RA) metabolit, vitamin A mempunyai resiko teratogenik yang dapat menyebabkan kecacatan dan membahayakan janin. Untuk itu wanita disarankan untuk menghindari atau membatasi konsumsi hati selama kehamilan. Sumber vitamin A lainnya yang perlu diwaspadai ialah suplemen vitamin A dosis tinggi dan suplemen hati ikan. Sehingga, ibu perlu berhati-hati dalam memilih suplemen dan mengkonsultasikannya ke dokter.

Nela Fitria Yeral, dr.

Daftar Pustaka

1. Hartmann S, Brørs O, Bock J, Blomhoff R, Bausch J, Wiegand UW, et al. Exposure to retinoic acids in non-pregnant women following high vitamin A intake with a liver meal. Int J Vitam Nutr Res Int Z Für Vitam- Ernährungsforschung J Int Vitaminol Nutr. 2005 May;75(3):187–94.

2. Food Safety For Pregnant Women [Internet]. FDA; Available from: http://www.fda.gov/downloads/Food/FoodborneIllnessContaminants/UCM312787.pdf

3. What to eat during pregnancy [Internet]. Medical News Today. [cited 2015 Feb 18]. Available from: http://www.medicalnewstoday.com/articles/246404.php

4. What Not to Eat When Pregnant. WebMD [Internet]. Available from: http://www.webmd.com/baby/ss/slideshow-what-not-to-eat-when-pregnant

5. Safety F. Checklist of Foods to Avoid During Pregnancy [Internet]. [cited 2015 Feb 18]. Available from: http://www.foodsafety.gov/risk/pregnant/chklist_pregnancy.html

6. Caffeine During Pregnancy [Internet]. American Pregnancy Association. [cited 2015 Feb 18]. Available from: http://americanpregnancy.org/pregnancy-health/caffeine-during-pregnancy/

7. Choices NHS. Foods to avoid during pregnancy – Health questions – NHS Choices [Internet]. 2014 [cited 2015 Feb 18]. Available from: http://www.nhs.uk/chq/Pages/917.aspx?CategoryID=54#close

Pencegahan Kematian Ibu Hamil

Tahukah ibu bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) saat persalinan di Indonesia ternyata masih tergolong tinggi. Indonesia menduduki nomor 3 tertinggi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara untuk jumlah AKI. Lebih memprihatinkan lagi, berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, angka kematian ibu naik mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup dari 228 per 100 ribu kelahiran hidup di tahun 2007. Padahal, kematian dan cedera ibu pada kehamilan merupakan tragedi karena efek kehilangan ibu berdampak lebih besar terutama bagi anak yang dilahirkan.

Seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya,  kematian ibu disebabkan oleh banyak faktor, sehingga untuk mengatasinya diperlukan tindakan yang serentak dan terpadu. Beberapa upaya intervensi yang akan dikemukakan dapat memberikan hasil yang cepat dan jelas, sementara yang lainnya berpengaruh untuk jangka panjang. Diantaranya dengan menjamin bahwa wanita hamil berada dalam keadaan yang sehat, akibat gizi dan perhatian yang baik terhadap kesehatan mereka yang diberikan sejak masih anak-anak. Pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas juga diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan.

Safe-Birth-Services-on-Kangu

Pentingnya Perawatan Kesehatan sebelum Kehamilan
Beberapa masalah utama kehamilan dan persalinan, seperti disproporsi kepala-panggul dan anemia, telah dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, pencegahan harus telah dimulai bertahun-tahun sebelum kehamilan. Misalnya, dengan pemberian gizi yang lebih baik untuk anak perempuan, perhatian yang lebih banyak terhadap kesehatan mereka selama masa kanak-kanak, serta menjamin pemberian imunisasi secara lengkap.

Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan di sekolah atau masyarakat yang direncanakan dengan baik, dapat berperan besar dalam memperbaiki kesehatan ibu. Pesan-pesan kesehatan reproduksi yang perlu dikomunikasikan antara lain adalah bahaya perkawinan yang sangat dini dan kehamilan remaja serta manfaat pengaturan kehamilan dan perawatan prenatal.

Merencanakan Kehamilan (Keluarga Berencana)
Ketersediaan fasilitas pelayanan dan penerimaan masyarakat terhadap program keluarga berencana dapat memberikan sumbangan yang besar bagi kesehatan ibu. Dengan mencegah kehamilan beresiko usia yang terlalu muda atau terlalu tua, dan menghindarkan kehamilan yang terlalu rapat, atau yang tidak diinginkan karena alasan apapun, akan mengurangi risiko kematian secara keseluruhan.

Pelayanan Kesehatan Saat Hamil (Perawatan Prenatal)
Pelayanan kesehatan prenatal mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu:

  • Promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana dan aktivitas pendidikan
  • Melakukan penyaringan, identifikasi, wanita dengan kehamilan risiko tinggi, dan merujuknya jika perlu
  • Memantau kesehatan selama kehamilan dalam usaha mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi

Penyuluhan Kesehatan
Pendidikan kesehatan selama pelayanan prenatal dapat diberikan secara individu dan informal atau lebih sistematis dalam kelompok. Materi pendidikan mencakup topik umum seperti gizi dan perawatan selama kehamilan. Kesempatan itu harus digunakan untuk memberikan informasi pada wanita mengenai tanda yang berbahaya dalam kehamilan, termasuk langkah yang harus diambil pada keadaan tersebut.

Perbaikan Pelayanan Gawat Darurat
Walaupun upaya pencegahan dengan identifikasi faktor-faktor risiko telah dilakukan, namun masih ada kemungkinan komplikasi berat terjadi sewaktu-waktu. Dalam hal ini rujukan segera harus dilakukan, karena kematian dapat terjadi dalam waktu singkat. Oleh karena itu petugas kesehatan di lini terdepan harus dibekali dengan kemampuan melakukan tindakan-tindakan darurat secara tepat.

  • Perdarahan. Perdarahan postpartum sering memerlukan tindakan cepat dari penolong persalinan, misalnya pengeluaran plasenta secara manual, memberikan obat-obat oksitosin, massase uterus, dan pemberian cairan pengganti transfusi darah.
  • Infeksi nifas. Kematian karena infeksi nifas dapat dikurangi dengan meningkatkan kebersihan selama persalinan. Kepada penolong persalinan harus selalu diingatkan tentang tindakan asepsis pada pertolongan persalinan. Antibiotika perlu diberikan pada persalinan lama dan pada ketuban pecah dini. Ibu yang akan melahirkan dan keluarganya perlu diberi penerangan tentang tanda-tanda dini infeksi nifas.
  • Gestosis. Petugas kesehatan harus mampu mengenal tanda-tanda awal gestosis seperti edema, hipertensi, hiperrefleksia, dan jika mungkin, proteinuria. Jika gestosis memberat, maka perlu rujukan.
  • Distosia. Gravida dengan postur tubuh kecil atau terlalu pendek, primi atau grandemultipara, perlu dicurigai akan kemungkinan terjadinya distosia oleh karena disproporsi sefalopelvik. Pemanfaatan partograf untuk mendeteksi secara dini persalinan lama terbukti dapat menurunkan angka kematian maternal.
  • Abortus provokatus (Aborsi yang disengaja). Kematian karena abortus provokatus seharusnya dapat dicegah, antara lain dengan pelayanan kontrasepsi efektif sehingga kehamilan yang tidak diinginkan dapat dihindari. Pengobatan pada abortus inkomplit adalah kuretase, yang seharusnya dapat dilakukan di lini terdepan. Jika diragukan apakah sebelumnya telah dilakukan usaha abortus provokatus, perlu diberikan antibiotika, walaupun belum ada tanda-tanda infeksi. Jika sudah terjadi infeksi, perlu diberikan antibiotika dosis tinggi secara intravena.
  • Perbaikan Jaringan Pelayanan Kesehatan Pengadaan tenaga terlatih di pedesaan. Di Indonesia sebagian besar persalinan masih ditolong dukun, khususnya yang berlangsung di desa-desa. Para dukun ini harus dimanfaatkan dan diajak bekerjasama antara lain dengan melatih mereka dalam teknik asepsis dan pengenalan dini tanda-tanda bahaya, serta kemampuan pertolongan pertama dan mengetahui kemana rujukan harus dilakukan pada waktunya.
  • Peningkatan Kemampuan Puskesmas. Puskesmas yang merupakan fasilitas rujukan pertama dari petugas lini terdepan perlu dilengkapi dengan dokter terlatih serta kelengkapan yang diperlukan untuk mencegah kematian maternal. Puskesmas seharusnya mampu mengatasi perdarahan akut, tersedianya antibiotika dan cairan yang cukup, dan mampu memberikan pertolongan bedah obstetri sederhana.
  • Rumah Sakit Rujukan. Rumah sakit rujukan harus dilengkapi dengan fasilitas transfusi darah, listrik, air bersih, alat-alat operasi, anestesia, antibiotika dan obat serta bahan lain, dan tenaga terlatih. Menurut WHO ada 7 fungsi utama dari rumah sakit rujukan pertama yang harus dipenuhi, yaitu: (1) mampu melakukan tindakan bedah meliputi seksio sesaria, terapi bedah pada sepsis, reparasi robekan vagina dan serviks, laparatomi pada ruptur uteri dan kehamilan ektopik, dan evakuasi abortus inkomplit; (2) mampu memberikan pelayanan anestesia dan resusitasi jantung paru; (3) mampu melakukan tindakan medik pada renjatan, sepsis, dan eklampsia; (4) mampu memberikan transfusi darah dan terapi cairan; (5) mampu melakukan tindakan bedah pervaginam serta menggunakan partograf; (6) mampu memberikan pelayanan kontrasepsi efektif, khususnya sterilisasi; (7) mampu mengelola kasus risiko tinggi, antara lain melalui pondok bersalin (pondok ini dekat dengan rumah sakit rujukan, sehingga rujukan dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan cepat).

Nela Fitria Yeral, dr.

DAFTAR PUSTAKA

1. Royston, Erika. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara. Jakarta, 1989.

2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta, 2007.

3. World Health Organization. International classification of diseases. Manual of the international statistical classification of diseases, injuries, and cause of death. Ninth revision. Geneva, 1977.

4. Fortney, J.A. ET AL. Causes of death to women of reproductive age in Egypt. Michigan State University, 1984.

5. Smith, J.C. ET AL. An assesment of the incidence of maternal deaths. International journal of gynaecology and obstetrics, 16:282-286 (1979)

6. Gray, R.H. Maternal mortality in developing countries (letter). International journal of epidemiology, 14:337 (1985)

7. United Nations Population Division & US National Academy of Sciences. Indirect techniques for demographic estimation. New York, 1983.

8. CHI, I.C ET AL. Maternal mortality at twelve teaching hospitals in Indonesia: an epidemiologic analysis. International journal of gynaecology and obstetrics, 19(4): 259-266 (1981)

9. Khan, A.R ET AL. Maternal mortality in rural Bangladesh. The Jamalpur district. Studies in family planning, 17(1): 7-12 (1986)9.

10. Walker, G.J. ET AL. Maternal Mortality in Jamaica. Lancet, 1(8479): 486-488(1986)

11. Prof. Dr. Dinan S. Bratakoesoema, dr., SpOG(K)., “Tinggi, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia” [Internet]. Universitas Padjadjaran. [cited 2014 Nov 15]. Available from: http://www.unpad.ac.id/2013/04/prof-dinan-s-bratakoesoema-tinggi-angka-kematian-ibu-aki-di-indonesia/

12. Menkes Kaget Angka Kematian Ibu Bayi Masih Tinggi | -gayahidup- | Tempo.co [Internet]. Tempo News. [cited 2014 Nov 15]. Available from: http://www.tempo.co/read/news/2013/09/26/060516873/Menkes-Kaget-Angka-Kematian-Ibu-Bayi-Masih-Tinggi

Penyebab Kematian Pada Ibu Hamil

Kelahiran seorang anak merupakan suatu peristiwa penting yang ditunggu-tunggu bahkan kadang dirayakan. Bagi ribuan kaum wanita, setiap kelahiran anaknya tidak saja sebagai pengalaman dan peristiwa penuh kebahagiaan, tetapi juga sebagai peristiwa yang dapat menghantarkan mereka pada kematian.

Pada kenyataannya, kematian dan cedera ibu pada kehamilan merupakan tragedi yang ditemukan secara luas di negara-negara bekembang, namun seringkali terabaikan karena penderita umumnya hidup di tempat terpencil, miskin, buta huruf dan secara politik tidak memiliki kekuasaan.

Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan, dan 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung pada lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apa pun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya.

Kematian yang terjadi sebelum persalinan antara lain disebabkan oleh aborsi dan kehamilan ektopik. Sementara kematian yang terjadi selama persalinan antara lain disebabkan oleh perdarahan antepartum, intrapartum, dan postpartum. Sedangkan kematian yang terjadi beberapa waktu setelah persalinan antara lain disebabkan oleh sepsis nifas. Selain itu, tidak semua kematian maternal disebabkan oleh kondisi yang langsung berhubungan dengan kehamilan. Beberapa diantaranya disebabkan oleh keadaan yang sudah terjadi sebelumnya dan diperburuk oleh kehamilan (contohnya, hepatitis). Sekilas pasti menyeramkan membayangkan kondisi-kondisi demikian saat hamil. Namun, sebagai wanita kita perlu tahu apa saja kondisi yang membahayakan bagi ibu dan janin. Sehingga, kita dapat lebih dini melakukan pencegahan gangguan kesehatan yang bisa berakibat pada kematian ibu hamil.. 

dm_kematian-ibu_edited_fix

PENYEBAB KEMATIAN IBU

Penyebab kematian ibu/maternal umumnya dikelompokkan pada tiga kelompok besar, yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung, dan penyebab campuran.

  1. Penyebab langsung adalah penyakit atau komplikasi yang hanya terjadi selama kehamilan, termasuk di dalamnya aborsi, kehamilan ektopik, penyakit hipertensi pada kehamilan, perdarahan antepartum/postpartum, persalinan macet, dan sepsis nifas.
  2. Penyebab yang tidak langsung adalah penyakit yang mungkin telah terjadi sebelum kehamilan tetapi diperburuk oleh kehamilan, contohnya penyakit jantung, anemia, hipertensi esensial (tekanan darah tinggi yang sebabnya tidak diketahui), diabetes mellitus, dan hemoglobinopati (penyakit sel darah merah)
  3. Penyebab campuran adalah penyebab yang bersifat kebetulan, contohnya yang khas adalah kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

Pada kenyataannya, penyebab kematian wanita pada kehamilan dan persalinan banyak sekali selain penyebab medis misalnya  penyebab logistik, kegagalan sistem pelayanan kesehatan, sarana transportasi, dan lain-lain. Oleh karenan itu, ibu perlu tahu istilah 3T untuk mengidentifikasi penyebab tidak langsung dari kematian maternal yaitu: terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan, dan terlambat mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan.

Angka Kematian Ibu

Penyakit Hipertensi pada Kehamilan

Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah preeklampsia dan eklampsia. Tanda khas preeklampsia adalah tekanan darah tinggi, ditemukannya protein dalam urin (air kencing) dan pembengkakan jaringan (edema) selama trimester kedua kehamilan. Beberapa kasus, memperlihatkan keadaan yang tetap ringan sepanjang kehamilan. Pada kasus yang lain, dengan meningkatnya tekanan darah dan jumlah protein urin keadaan dapat menjadi berat.

Penyakit ini ditandai dengan nyeri kepala, muntah, gangguan penglihatan, dan nyeri pada perut bagian atas dan kemudian anuria (tidak berkemih sama sekali). Pada stadium akhir dan paling berat yang disebut eklampsia, pasien akan mengalami kejang. Jika eklampsia tidak ditangani secara cepat akan terjadi kehilangan kesadaran dan kematian karena kegagalan jantung, kegagalan ginjal, kegagalan hati, atau perdarahan otak. Preeklampsia sering terjadi selama kehamilan anak yang pertama, dan jarang terjadi pada kehamilan berikutnya, kecuali pada kelebihan berat badan, kencing manis, hipertensi esensial, atau kehamilan kembar.  Wanita remaja pada kehamilan pertama dan wanita yang berusia di atas umur 35 tahun, mempunyai risiko sangat tinggi.

Penyebab preeklampsia tidak diketahui. Oleh karena itu pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala dan mengakhiri kehamilan sesegera mungkin, pada saat bayi dianggap mampu untuk hidup. Istirahat merupakan hal yang penting, pasien sering diberikan obat sedatif dan obat yang menurunkan tekanan darah. Beberapa wanita dengan preeklampsia mengalami persalinan spontan. Bagi yang tidak, umumnya dilakukan induksi persalinan pada kehamilan minggu ke-37 atau 38. Jika kemajuan selanjutnya lambat, atau jika tidak memenuhi persyaratan induksi, bayi harus dilahirkan seksio sesaria.

Jika keadaan berkembang menjadi eklampsia, maka tindakan segera harus dilakukan untuk menyelamatkan si ibu. Penyakit itu menyebabkan angka kematian sebesar 5% atau lebih tinggi. Tujuan utama pengobatan adalah mengendalikan kejang dan menurunkan tekanan darah. Jika keadaan itu telah dicapai, secepatnya dilakukan pengakhiran kehamilan. Tidak jarang diperlukan induksi persalinan. Jika sampai 6 jam setelah pengobatan bayi belum juga lahir, dapat dilakukan operasi sesar. Upaya untuk mencegah kejang tetap dilanjutkan setelah persalinan.

Pelayanan kesehatan prenatal yang baik seharusnya dapat mendeteksi preeklampsia secara dini. Jika calon ibu melakukan kunjungan setiap minggu ke klinik prenatal selama 4-6 minggu terakhir kehamilannya, ada kesempatan untuk melakukan tes protein urin, mengukur tekanan darah dan memeriksa tanda-tanda edema. Saat ibu telah dikatakan mengalami preeklamsia, sangat penting agar ibu berobat ke rumah sakit. Apabila ibu tinggal di daerah yang sulit untuk mendapat pelayanan kesehatan prenatal atau petugas penolong persalinan yang terlatih, atau kesulitan merujuk ke rumah sakit jika terjadi keadaan darurat, proporsi kematian ibu akibat hipertensi dalam kehamilan akan tinggi. Sehingga penting bagi keluarga atau bantuan masyarakat untuk menyiapkan transportasi sejak  jauh-jauh hari sebelum waktu persalinan.

image001

Persalinan Macet dan Ruptura Uteri

Pada sebagian besar penyebab kasus persalinan macet adalah karena tulang panggul ibu terlalu sempit, atau gangguan penyakit sehingga tidak mudah dilintasi kepala bayi pada waktu bersalin. Setiap pembahasan tentang persalinan macet, kita tak boleh melupakan perawakan dan ukuran rongga panggul ibu. Proporsi wanita dengan rongga panggul yang sempit menurun secara meyakinkan dengan meningkatnya tinggi badan. Persalinan macet yang disebabkan rongga panggul sempit jarang terjadi pada wanita yang tinggi.

Faktor genetik, fisiologis, dan lingkungan, termasuk gizi, mempengaruhi perawakan seseorang. Pada tempat yang standar kehidupannya baik dan penduduknya sehat serta mendapat makanan yang baik, ketika pertumbuhan terhenti pada umur sekitar 18 tahun sebagian besar ibu mencapai perawakan maksimum sesuai dengan batasan genetik. Sekitar 3 tahun kemudian pertumbuhan tulang panggul berhenti. Pada keadaan yang kurang baik, kebersihan lingkungan buruk, malnutrisi, dan penyakit infeksi, seperti malaria, diare, dan campak, pertumbuhan akan terlambat bahkan terhambat.

Beberapa bentuk ekstrim penciutan panggul paling sering ditemukan dalam masyarakat dengan kemiskinan massal dan mempunyai tradisi melahirkan muda sebelum si ibu tumbuh sempurna. Cara utama untuk mengatasi kemacetan, yang sekaligus menyelamatkan ibu ataupun bayi yang dikandungnya adalah dengan melakukan operasi sesar. Jika keadaan itu tidak ditangani pada stadium dini, kemacetan dapat berlangsung selama berhari-hari dan dapat mengakibatkan kematian ibu akibat infeksi dan kehabisan tenaga, serta kematian janin akibat infeksi, cedera lahir, dan kekurangan oksigen (asfiksia). Tanpa  pemberian antibiotika, sebagian besar wanita dengan persalinan macet akan mengalami infeksi sekitar 12 jam setelah pecahnya ketuban, dan setelah 24 jam hampir mencapai 100%. Kadang-kadang infeksi merupakan akibat pengobatan tradisional yang dimasukkan ke dalam vagina pada persalinan yang lama.

Ruptur uteri (robekan pada rahim) merupakan komplikasi utama persalinan macet yang lain. Jarang sekali terjadi pada wanita yang pertama kali melahirkan, dan lebih sering terjadi pada para ibu yang sebelumnya telah melahirkan beberapa orang anak. Jika uterus robek akan terjadi nyeri yang hebat dan nyeri tekan di atasnya, diikuti perdarahan berat dari pembuluh darah uterus yang robek dan kematian timbul dalam 24 jam sebagai akibat perdarahan dan shock, atau akibat infeksi yang timbul kemudian. Agar ibu dapat diselamatkan, diperlukan pembedahan yang bertujuan untuk menghentikan perdarahan. Hal itu dapat dicapai dengan memperbaiki robekan pada uterus atau mengangkat uterus (histerektomi).

Perdarahan Antepartum (Sebelum Persalinan)

bleeding-between-periods_2-300x200

Perdarahan melalui vagina yang terjadi selama periode kehamilan hampir selalu merupakan tanda yang tidak normal. Perdarahan yang terjadi sebelum kehamilan 28 minggu, seringkali berhubungan dengan aborsi atau keadaan lain. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu dapat disebabkan oleh terlepasnya plasenta secara prematur, trauma, atau penyakit saluran kelamin bagian bawah. Dalam keadaan parah, perdarahan akibat cedera menimbulkan nyeri perut yang sangat akut. Keadaan itu disertai dengan perdarahan yang sebagian besar tersimpan dalam uterus dan dengan cepat mengakibatkan shock berat pada ibu dan kematian pada bayi.

Di samping perdarahan, ada bahaya tambahan yang mengancam kehidupan ibu, darah yang tersisa akan kehilangan sejumlah besar fungsi pembekuan normal yang sangat penting. Kemudian, risiko perdarahan lanjutan yang parah meningkat secara nyata. Bahaya lain adalah kegagalan ginjal ibu, yang terutama ditemukan jika pengobatan tertunda.

Solutio plasenta yang berat adalah keadaan kegawatdaruratan kebidanan yang parah. Sasaran utama pengobatan adalah untuk mengakhiri kehamilan, tetapi hal itu tidak dapat dilakukan sebelum keadaan umum diperbaiki, termasuk pengendalian terhadap rasa nyeri dengan menggunakan obat analgetik yang kuat, dan mengganti kehilangan darah dengan transfusi.

Plasenta praevia adalah perdarahan antepartum jenis lain. Pada keadaan itu perdarahan berasal dari terlepasnya plasenta yang posisinya abnormal dalam uterus, sebagai akibat sebagian atau seluruhnya berada pada uterus bagian bawah. Pada plasenta praevia posisi bayi sering abnormal. Misalnya, kemungkinan bayi dengan letak bokong atau bahu yang berada langsung di atas plasenta letak rendah, sementara pada keadaan normal kepala janin menempati tepi bawah uterus.

Seorang wanita hamil yang dicurigai menderita plasenta praevia memerlukan pengawasan oleh tenaga ahli. Tujuannya adalah untuk memperpanjang usia kehamilan hingga bayi dapat dilahirkan cukup bulan, sementara itu dapat diambil tindakan untuk memperbaiki kesehatan ibu, mungkin diperlukan transfusi darah. Sebaiknya bayi dilahirkan setelah berusia sekitar 38 minggu. Pilihan tindakan induksi persalinan atau seksio sesaria tergantung pada pertimbangan klinis dan teknis tertentu.

Perdarahan Postpartum (Setelah Persalinan)

Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervagina yang berlebihan setelah bayi dilahirkan. Kontraksi uterus selama persalinan bukan saja ditujukan untuk mengeluarkan bayi dan plasenta melainkan juga untuk menutup pembuluh darah yang terbuka setelah persalinan. Pada keadaan normal plasenta dikeluarkan dalam waktu 30 menit setelah kelahiran bayi. Selanjutnya kontraksi uterus segera akan menghentikan perdarahan. Karena berbagai alasan plasenta kemungkinan gagal untuk melepaskan diri, akibatnya perdarahan tidak akan pernah berhenti selama plasenta atau bagiannya tetap berada dalam uterus. Selain retensio plasenta, penyebab perdarahan postpartum yang lain adalah partus lama, semua jenis persalinan bedah vagina, pengaruh obat anestesi, dan tumor uterus seperti fibroma. Perdarahan yang berat dapat juga timbul sebagai akibat cedera pada saat persalinan spontan atau selama persalinan melalui pembedahan. Ruptur uteri, robekan pada leher rahim dan vagina, dan cedera pada jalan lahir bagian bawah dan perineum semuanya dapat menimbulkan perdarahan.

Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik merupakan penyebab perdarahan berat lainnya yang penting. Pada keadaan itu, telur yang dibuahi tertanam, tumbuh, dan berkembang di luar uterus. Tempat kehamilan ektopik yang paling sering terjadi adalah pada tuba fallopii. Karena tidak dapat menampung embrio yang terus tumbuh, tuba fallopii akan segera pecah (biasanya dalam waktu 10 minggu kehamilan yang pertama). Selanjutnya, terjadi perdarahan yang terkumpul dalam rongga perut dan menimbulkan rasa nyeri setempat atau menyeluruh yang berat, pingsan, dan syok. Tanpa pengobatan, kehamilan ektopik dapat menjadi fatal hanya dalam waktu beberapa jam. Untuk itu diperlukan tindakan pembedahan untuk mengangkat tuba dan mengikat pembuluh darah yang pecah guna menghentikan perdarahan.

images

Anemia dalam Kehamilan

Anemia adalah istilah yang digunakan pada keadaaan penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah sampai kadar di bawah 11 g/dl. Hemoglobin merupakan zat berwarna merah yang terdapat dalam bentuk larutan dalam sel darah merah, yang fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen ke semua bagian tubuh. Zat besi, asam folat, vitamin, dan unsur mineral lainnya, diperlukan untuk pembentukan hemoglobin yang dibentuk dalam sumsum tulang. Bahan-bahan itu semuanya berasal dari makanan; sayur-sayuran hijau, dan makanan pokok, seperti kentang dan ubi yang merupakan sumber penting dari asam folat, sementara sebagian besar gandum, daging dan sayur-sayuran mengandung zat besi.

Anemia-During-Pregnancy

Pada keadaan normal tidak semua zat besi yang dimakan dan diserap setiap hari dari usus kecil diperlukan segera. Kelebihan itu biasanya disimpan dalam sumsum tulang sehingga selama masa stress fisik dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan pembentukan hemoglobin guna memenuhi kebutuhan yang meningkat. Salah satu dari periode stress fisik adalah kehamilan.Selama kehamilan, pertumbuhan janin dan uterus, serta perubahan lain yang terjadi pada ibu menyebabkan peningkatan kebutuhan zat makanan yang banyak, khususnya zat besi dan asam folat.  Jika karena kekurangan gizi, kebutuhan itu tak terpenuhi, kecepatan pembentukan hemoglobin menurun dan konsentrasinya dalam peredaran darah juga menurun. Selain itu, malaria, penyakit sel sabit, infeksi bakteri, dan kehilangan darah akibat aborsi, kehamilan ektopik, atau parasit usus seperti cacing tambang merupakan penyebab anemia yang penting.

Stadium awal anemia pada kehamilan umumnya tanpa gejala. Walaupun demikian, dengan menurunnya konsentrasi hemoglobin, pasokan oksigen ke organ-organ vital menurun, dan si ibu mulai mengeluh tentang kelemahan umum, mudah lelah, pusing, dan nyeri kepala. Kulit dan selaput lendir yang pucat, demikian juga pada dasar kuku dan lidah akan menjadi jelas jika konsentrasi hemoglobin sampai mencapai 70 g/dl. Dengan terjadinya penurunan konsentrasi hemoglobin sampai mencapai 40 g/dl, sebagian besar jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen, dan efek itu paling nyata terhadap otot jantung, yang kemungkinan mengalami kegagalan total jika terjadi anemia yang berat. Kematian akibat anemia merupakan akibat kegagalan jantung, shock, atau infeksi sebagai akibat dari daya tahan tubuh terhadap penyakit yang menurun.

Meskipun anemia yang tidak begitu berat tidak menjadi penyebab langsung kematian ibu, anemia dapat menjadi penyumbang kematian melalui penyebab lain. Ibu yang anemis tidak dapat mentoleransi terjadinya kehilangan darah seperti pada wanita yang sehat. Kehilangan darah hingga satu liter selama persalinan tidak akan membunuh seorang wanita yang sehat, tetapi pada wanita yang jelas anemis, kehilangan sekitar 150 ml saja dapat berakibat fatal. Wanita yang menderita anemia mempunyai risiko yang buruk untuk menjalani anestesi dan pembedahan. Anemia menurunkan ketahanan terhadap infeksi sehingga luka setelah pembedahan kemungkinan gagal untuk sembuh cepat atau bahkan tetap terbuka sama sekali.

Pengobatan anemia pada kehamilan biasanya meliputi pemberian tambahan zat besi dan asam folat. Pada daerah endemik malaria, juga disertakan pengobatan kemoprofilaksis malaria. Hal tersebut penting karena kekebalan terhadap malaria yang terjadi selama masa kanak-kanak akibat serangan yang berulang, oleh sebab yang belum diketahui akan berkurang pada kehamilan sekitar minggu keempat belas. Keadaan ini paling jelas pada kehamilan pertama. Diet yang seimbang juga membantu memperbaiki anemia.

Pengobatan yang sesuai dengan ketentuan tersebut di atas memakan waktu sekitar empat minggu atau lebih untuk memulihkan konsentrasi hemoglobin mendekati kadar yang normal. Dengan demikian, masalah akan timbul jika anemia yang berat ditemukan pertama kali pada akhir kehamilan, atau selama aborsi atau setelah persalinan karena pada saat itu tidak cukup waktu untuk melakukan koreksi terhadap keadaan itu. Pada keadaan seperti itu, perdarahan pada aborsi atau setelah persalinan dapat berakibat fatal. Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi hemoglobin dengan cepat adalah melalui transfusi.

Masalah yang tak kalah pentingnya adalah bahwa wanita yang anemis mempunyai kadar hematokrit yang rendah dan mempunyai risiko untuk meninggal lebih tinggi daripada wanita dengan kadar yang normal. Walaupun demikian, kadar hematokrit yang sangat tinggi pada wanita juga berbahaya karena dapat menjadi petunjuk adanya perubahan komposisi darah, yaitu cairan berkurang sedangkan selnya tidak.

Demam Nifas

Karena berbagai alasan, wanita cenderung mengalami infeksi saluran genitalia setelah persalinan dan abortus. Tempat plasenta melekat pada dinding uterus ditinggalkan tetap terbuka sampai dia ditutupi oleh lapisan sel baru dalam waktu beberapa minggu. Robekan pada dinding saluran kelamin yang terjadi akibat persalinan, meninggalkan sejumlah darah beku dan tanpa suplai darah yang cukup.

Kuman penyebab infeksi dapat masuk ke dalam saluran genital dengan berbagai cara, misalnya, melalui penolong persalinan yang tangannya tidak bersih atau menggunakan instrumen yang kotor.  Infeksi juga dapat berasal dari debu di udara, atau oleh si ibu sendiri yang dapat memindahkan organisme penyebab infeksi dari berbagai tempat, khususnya anus. Pemasukan benda asing ke dalam vagina selama persalinan, seperti jamu, daun-daunan, kotoran sapi, lumpur, atau berbagai minyak, oleh dukun beranak juga dapat menyebabkan infeksi.

Infeksi nifas yang langsung jarang sekali terjadi setelah persalinan normal spontan meskipun keadaan di sekitar tidak higienis, asalkan selama persalinan tidak memasukkan sesuatu ke dalam vagina. Walaupun demikian, banyak wanita di Dunia Ketiga mengalami persalinan yang macet, yang selama persalinan menjadi sasaran dari berbagai tindakan yang membahayakan oleh penolong persalinan yang tidak terlatih dan tidak menghargai kebersihan. Akibatnya sepsis nifas merupakan salah satu penyebab kematian ibu di negara berkembang, dan sepsis nifas itu ternyata juga tinggi pada abortus yang ilegal.Kebersihan yang dilakukan selama persalinan merupakan upaya yang sangat penting untuk mengurangi kematian akibat infeksi nifas.

Penyakit Kuning  pada Kehamilan dan Kegagalan Hati Akut

Malaria, penyakit darah tertentu, dan hepatitis dapat menyebabkan ikterus/kuning dan mengancam kehidupan selama periode kehamilan. Dikenal tiga bentuk hepatitis virus, yaitu hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis non-A non-B. Virus penyebab hepatitis A dikeluarkan ke dalam tinja manusia. Oleh karena itu penyebab terpenting penyakit itu adalah pencemaran tinja terhadap makanan dan air minum. Virus yang menyebabkan hepatitis B berada dalam cairan tubuh seperti darah, air liur, air mani, cairan vagina, dapat ditularkan melalui kontak tubuh yang erat. Darah terinfeksi merupakan sumber penyakit itu.

Wanita dengan sosioekonomi rendah sangat peka terhadap hepatitis virus. Dilaporkan bahwa penyebab paling sering pada wanita hamil adalah virus hepatitis A dan non-A non-B. Gejala awal dari hepatitis virus adalah kelemahan umum, mudah lelah, demam, nyeri kepala, dan sendi. Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, nyeri pada perut bagian atas, dan akhirnya terjadi ikterus/kuning. Ikterus dengan cepat dapat menjadi berat, sedangkan pada kasus yang ringan dapat hilang dan terjadi pemulihan yang lambat.

Hepatitis virus dalam bentuk fulminan (ganas) paling sering terjadi pada kehamilan trimester ketiga. Persalinan prematur, kegagalan hati dan perdarahan yang berat sering memperberat penyakit itu. Ibu meninggal karena kegagalan ginjal dan perdarahan yang berat. Perdarahan yang fatal pada kasus itu dipicu oleh kegagalan hepar akut. Pada keadaan itu darah kehilangan kemampuan untuk membeku, perdarahan tidak saja terjadi melalui jalan lahir tetapi juga ditempat lain seperti lambung, usus, selaput lendir, dan tempat suntikan pada kulit dan otot.

Persalinan dengan Pembedahan

Sebagian besar persalinan yang terjadi di rumah sakit di negara berkembang adalah persalinan normal. Sisanya merupakan persalinan bedah dalam berbagai bentuk. Pada beberapa kasus, diperlukan manipulasi untuk menarik bayi keluar melalui vagina. Forsep kebidanan, ekstraksi vakum, dan embriotomi merupakan contoh persalinan pervagina dengan pembedahan. Kelompok persalinan bedah lainnya adalah melalui dinding perut, dalam hal ini seksio sasaria paling sering dilakukan.

vaccum_forcep_delivery

Seperti diharapkan, persalinan spontan pervagina merupakan jenis persalinan yang paling aman. Kematian akibat komplikasi pada masa nifas setelah persalinan normal mungkin terjadi tetapi jarang, terutama pada ibu yang selama kehamilan bebas dari penyakit.

Sebaliknya, semua persalinan bedah mempunyai risiko baik terhadap ibu maupun terhadap bayinya. Sebagian risiko timbul akibat sifat pembedahan, sebagian karena prosedur lain yang menyertai persalinan bedah, seperti anestesia dan transfusi darah, dan sebagian lagi akibat komplikasi kehamilan yang memaksa dilakukannya pembedahan. Di samping itu, dapat timbul komplikasi setelah persalinan bedah, termasuk perdarahan dan infeksi yang berat. Sebagian besar tergantung pada kualitas pelayanan yang ada.

Kematian Akibat Aborsi

Setiap tahun ada sekitar 40-60 juta wanita yang berusaha mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan. Pengguguran kandungan merupakan metode yang paling tua, dan mungkin juga yang paling luas digunakan untuk mengendalikan kesuburan. Meskipun aborsi menyentuh berbagai masalah moral dan agama yang paling mendasar, hanya sedikit masyarakat yang mampu memandangnya secara jernih dari aspek kesehatan wanita.

Bagaimanapun, terbukti bahwa hukum yang membatasi aborsi atau tidak tersedianya pelayanan profesional tidak menghentikan upaya untuk melakukan aborsi. Sebaliknya, hambatan tersebut justru hanya mempengaruhi hasil tindakan aborsi yang dilakukan. Wanita yang terpaksa beralih pada pelayanan aborsi gelap secara sembunyi-sembunyi menghadapi risiko kematian 100-500 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang dilayani oleh petugas terlatih dengan prosedur yang higienis. Di negara berkembang yang angka kematian ibunya tinggi, masalah tersebut sangat penting.

Risiko yang berkaitan dengan pengguguran kandungan tergantung pada: metode yang digunakan, kompetensi pelaksana aborsi, stadium kehamilan pada saat aborsi dilakukan, umur dan keadaan umum wanita yang hamil, ketersediaan dan mutu pelayanan medis guna menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Stadium kehamilan pada saat dilakukannya aborsi merupakan salah satu faktor yang paling penting yang berpengaruh terhadap risiko kematian. Pada aborsi yang legal sekalipun, risiko kematian akan meningkat sesuai dengan peningkatan usia kehamilan.

Komplikasi dini yang paling sering adalah sepsis yang disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap, sebagian atau seluruh produk pembuahan masih tertahan dalam rahim. Jika infeksi itu tidak diatasi, dapat terjadi infeksi yang menyeluruh sehingga menimbulkan aborsi septik,  yang merupakan komplikasi aborsi ilegal yang paling fatal. Aborsi septik juga dapat timbul sebagai akibat aborsi spontan yang tidak lengkap, walaupun jarang terjadi.

Infeksi yang paling serius yang sangat jarang ditemukan di negara maju adalah infeksi bakteri anaerob yang biasanya ditemukan dalam tanah dan pupuk, yang menyebabkan gangren gas dan tetanus. Keadaan itu hampir selalu disebabkan oleh digunakannya peralatan yang kotor. Jika aborsi septik disebabkan oleh organisme yang sangat virulen dan dibiarkan tidak diobati, pasien dapat mengalami syok septik, suatu keadaan yang sangat berat yang diikuti dengan perlambatan aliran darah yang mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen.

Penyebab kematian kedua yang paling sering dilaporkan adalah perdarahan. Perdarahan dapat disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap, atau cedera organ panggul atau usus. Kematian umumnya diakibatkan oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi di rumah sakit.

Nela Fitria Yeral, dr.

DAFTAR PUSTAKA

1. Royston, Erika. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara. Jakarta, 1989.

2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta, 2007.

3. World Health Organization. International classification of diseases. Manual of the international statistical classification of diseases, injuries, and cause of death. Ninth revision. Geneva, 1977.

4. Fortney, J.A. ET AL. Causes of death to women of reproductive age in Egypt. Michigan State University, 1984.

5. Smith, J.C. ET AL. An assesment of the incidence of maternal deaths. International journal of gynaecology and obstetrics, 16:282-286 (1979)

6. Gray, R.H. Maternal mortality in developing countries (letter). International journal of epidemiology, 14:337 (1985)

7. United Nations Population Division & US National Academy of Sciences. Indirect techniques for demographic estimation. New York, 1983.

8. CHI, I.C ET AL. Maternal mortality at twelve teaching hospitals in Indonesia: an epidemiologic analysis. International journal of gynaecology and obstetrics, 19(4): 259-266 (1981)

9. Khan, A.R ET AL. Maternal mortality in rural Bangladesh. The Jamalpur district. Studies in family planning, 17(1): 7-12 (1986)9.

10. Walker, G.J. ET AL. Maternal Mortality in Jamaica. Lancet, 1(8479): 486-488(1986)

* Gambar diambil dari: http://oshigita.wordpress.com/2013/05/07/penyebab-kematian-ibu/

Serba Serbi MPASI

Kapan Saat yang Tepat Memberikan MPASI?

Ibu-ibu yang hebat, apa kabar si kecil? Sudahkah si kecil memulai petualangan baru mengkonsumsi makanan padat pertamanya? Mungkin banyak ibu-ibu yang masih bingung, kapan sebaiknya memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) pertama kali. Hal ini tak jarang menjadi perdebatan di keluarga dan di kalangan ibu-ibu lainnya. Namun, sebaiknya para ibu bersabar menunggu sampai usia bayi mencapai 6 bulan, mengapa?

  1. Bayi di bawah usia 6 bulan, keterampilan motorik kasarnya yaitu duduk tegak masih belum sempurna. Sementara bayi usia 6 bulan ke atas sudah bisa duduk dan menopang lehernya sehingga mengurangi resiko tersedak. Hati-hati bila memberikan makanan dalam posisi tidur, hal ini bisa membahayakan karena beresiko membuat bayi tersedak atau makanan terhisap ke hidung.
  2. Adanya refleks penolakan lidah bayi di bawah usia 6 bulan. Refleks ini menyebabkan lidah bayi spontan menjulur ke luar saat ada sesuatu yang ditaruh di lidahnya. Refleks ini menurun pada usia 4-6 bulan.
  3. Pemberian MPASI di bawah usia 6 bulan beresiko mengundang berbagai macam penyakit ke dalam tubuh, dikarenakan sistem imunitas / kekebalan tubuh bayi yang belum sempurna. Apalagi jika MPASI tidak disajikan secara higienis.
  4. Pemberian MPASI setelah usia 6 bulan mengurangi resiko terhadap makanan yang potensial menimbulkan alergi. Pada bulan-bulan awal, kadar IgA pada usus bayi masih rendah sehingga beresiko mengalami alergi.
  5. Pada usia 6 bulan ke atas bayi memerlukan tambahan energi dan zat gizi yang lebih banyak, terutama zat besi, yang sudah tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja.

Mengapa Membuat MPASI Rumahan?

Hal ini sering juga menjadi pertanyaan seputar MPASI, kenapa harus repot menyiapkan sendiri makanan bayi, sementara ada cara praktis dengan memberikan makanan kemasan untuk bayi yang banyak dijual di pasaran. Berikut beberapa alasan yang menjadi pertimbangan bahwa MPASI terbaik adalah buatan rumahan:

  • Makanan yang kita buat sendiri, dapat kita pantau dari segi kebersihan, penyediaan dan pengolahan makanan, serta pemilihan berbagai jenis makanan dari mulai buah-buahan, sayuran, sereal, hingga aneka protein yang bervariasi untuk bayi kita. Hal ini mempermudah saat peralihan dari makanan bayi ke table food nantinya.
  • Makanan bayi instan / cepat saji dari pabrik mengandung zat tambahan seperti gula, garam, penambah rasa, dan bahan lain untuk membentuk tekstur makanan, yang walaupun sudah diizinkan untuk dijual di pasaran, tapi tidak disarankan untuk diberikan pada bayi, apalagi  diberikan setiap hari. Dalam makanan instan juga terdapat bahan pengawet yang bila diberikan dalam jumlah banyak tentu tidak baik untuk kesehatan bayi. Hati-hati juga terhadap resiko alergi yang dipicu oleh bahan-bahan yang terkandung di dalam makanan instan tersebut. Makanan instan diberikan hanya dalam keadaan yang benar-benar darurat saja.
  • Sebelum area pengecapan bayi terbiasa dengan cita rasa makanan siap santap yang gurih dan manis, sebaiknya orangtua lebih dulu membiasakan bayi dengan rasa yang alami. Lebih amannya hindari makanan yang berperisa tambahan, pewarna, pengawet, dalam menu bayi sehari-hari.

Mulai dari Makanan Apa?

Pertanyaan berikutnya yang sering membuat ibu-ibu galau adalah ‘memulai dari mana’ MPASI perdana ini. Beberapa pihak menganjurkan untuk lebih dulu mengenalkan sayuran daripada buah-buahan untuk mengurangi rasa tidak suka bayi pada sayuran. Namun, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa pengenalan buah lebih dulu membuat bayi tidak menyukai sayur. Jadi, hak dan keputusan ada pada sang ibu untuk memutuskan makanan perdana untuk si buah hati.

Sementara itu, panduan terbaru dari WHO menganjurkan makanan dari serealia (beras) menjadi makanan pertama untuk bayi, karena rendah kemungkinan terjadinya alergi. Namun, beberapa bayi malah mengalami sembelit saat mengkonsumsi bubur dari beras karena terlalu pekat atau karena terlalu banyak mengandung zat besi (terutama beras merah). Jadi, pastikan untuk mencukupi kebutuhan cairannya melalui ASI, air putih, atau sari buah.

Anjuran dari WHO dan UNICEF adalah langsung memberikan makanan dalam bentuk pekat, tetapi boleh saja mengenalkan makanan padat pertama untuk bayi berupa bubur yang dilarutkan dalam ASI. Mulai dari tekstur yang sangat encer hingga mengental secara bertahap. Satu minggu pertama biasanya ditujukan untuk membiasakan anak mengenal jenis makanan baru, setelah itu boleh bereksperimen dengan tekstur dan rasa secara bertahap.

Jadi kesimpulannya, pilihan makanan pertama tidak berlaku secara umum. Setiap anak memilki keadaan yang berbeda-beda, sehingga trial and error adalah hal yang biasa terjadi pada masa-masa awal pemberian MPASI. Namun pastikan bayi mendapat semua makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral) secara seimbang setiap harinya.

1_baby-pureee

Bagaimana dan Seberapa Banyak Bayi Makan?

Usia Jenis Makanan Contoh Frekuensi Jumlah
6 bulan makanan lumat, bubur halus / encer bubur tepung beras yang dibuat encer dan disaring, puree buah / sayur dicampur ASI mulai dari 1 kali sehari meningkat bertahap menjadi 2-3 kali sehari, satu macam menu diganti setiap 3-4 hari, tujuannya agar bayi mengenali rasa makanan tersebut 2-3 sendok makan (30-45 ml) setiap waktu makan
7-9 bulan makanan bertekstur lembut bubur dari beras utuh, ubi atau kentang kukus dilumatkan dengan cairan, nasi tim saring 2-3 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari 2-3 sendok makan (30-45 ml) sampai setengah cup (100-120 ml) setiap waktu makan
10-12 bulan makanan lembut yang lebih padat nasi tim biasa yang dilembutkan, nasi lunak, makanan yang bisa digenggam bayi sebagai cemilan, seperti buah / sayuran kukus 3-4 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari Sedikitnya setengah cup (100-120 ml) setiap waktu makan
12 bulan-2 tahun makanan yang biasa dimakan keluarga dengan bumbu yang tidak terlalu tajam, dihaluskan seperlunya, atau dipotong ukuran kecil 3-4 kali sehari ditambah cemilan atau makanan selingan yang sehat 1-2 kali sehari 3/4 sampai 1 cup (200-250 ml) setiap waktu makan

mpasiPerlu diingat bahwa keterangan di atas adalah panduan yang berlaku umum, namun tidak mutlak. Bisa jadi bayi anda makan lebih banyak, atau mungkin lebih sedikit. Selama masih dalam range normal pada grafik dan berat badan bayi naik terus setiap bulannya, tidak perlu khawatir.

Daftar Makanan Bayi Sesuai Usia

Karbohidrat Sayuran Protein Buah
6-7 bulan tepung beras merah, tepung beras putih, tepung maizena, tepung arrowroot labu kuning, labu siam, bayam, brokoli, kacang polong ASI (protein dari produk hewani ditunda dulu pemberiannya) alpukat, apel, pir, pisang, pepaya, jeruk bayi
7-9 bulan beras putih, beras merah, kentang, jagung, oatmeal, tepung hunkwe brokoli, bayam, tomat, wortel, bit, labu kuning hewani : daging sapi tanpa lemak, daging ayam organik tanpa kulit, hati ayam, ikan (gurami, lele, salmon, kakap, gindara, tenggiri, dll) nabati : tahu putih, tempe, kedelai, kacang merah, kacang hijau, kacang polong pisang, melon, pepaya, alpukat, jeruk bayi, apel, pir, mangga, anggur manis
9-12 bulan beras putih, beras merah, kentang, jagung, makaroni, roti gandum, oatmeal, mie, bihun, soun bisa ditambahkan aneka sayuran berserat seperti kangkung, caisim, kacang panjang, kailan hewani :daging ayam tanpa kulit, daging sapi, hati ayam, aneka jenis ikan, telur, keju nabati : tahu, tempe, kacang merah, kacang hijau, kacang polong pepaya, apel, pir, mangga, anggur manis, jambu biji merah, alpukat, melon, pisang, jeruk bayi
12-24 bulan beras putih, beras merah, tepung terigu, kentang, jagung, pasta, cornflakes, mie, bihun, soun semua jenis sayuran sudah bisa diberikan kecuali sayuran yang banyak mengandung gas seperti; lobak, kembang kol, rebung hewani: daging sapi, daging ayam, aneka jenis ikan, telur, keju, hati ayamProtein nabati: tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, susu kedelai Semua jenis buah kecuali yang terlalu asam (kedondong, sirsak, mangga mengkal) atau yang mengandung gas (durian, nangka, cempedak) karena bisa menyebabkan kembung

1001323shutterstock-94931887780x390Tantangan dalam Pemberian MPASI

  1. Bayi menolak makanan padat. Hal ini adalah wajar terjadi, karena bayi perlu menyesuaikan dengan kebiasaan sebelumnya yang hanya makan dari susu / ASI yang bentuknya cair. Bila bayi menolak sendok, coba gunakan tangan, namun jangan dibiasakan. Apabila masih menolak, mungkin teksturnya terlalu kental. Apabila teksturnya sudah cair namun bayi masih menolak, jangan khawatir. Teruslah menyusui bayi dan coba lagi hari berikutnya. Proses pengenalan MPASI tidak perlu terburu-buru dan memang butuh waktu yang panjang.
  2. Bayi mengalami sembelit / konstipasi. Masalah ini biasa terjadi pada bayi di awal memulai makanan padat. BAB pada bayi yang biasa mengkonsumsi ASI akan berubah, bila sebelumnya berwarna kekuningan dan lembek, setelah MPASI bisa menjadi lebih pekat dan berwarna kecoklatan dan lebih berbau. Untuk bayi yang minum sufor biasanya tidak terlalu berbeda keadaannya. Sembelit biasanya jarang terjadi bila cara makannya benar, dan sebaiknya mulai diberikan tambahan air putih untuk memperlancar pencernaan. Memijat perut bayi dengan gerakan lembut membentuk huruf ILU atau gerakan kaki seperti mengayuh sepeda juga dapat membantu. Namun apabila sembelit berlangsung lama dan bayi tampak kesakitan, saatnya memeriksakan bayi kita ke dokter.
  3. Bayi hanya menyukai rasa makanan tertentu. Kadang para ibu merasa makanan si kecil kurang bervariasi, tapi tujuan utama pengenalan makanan padat pada bayi adalah membiasakannya dengan jenis makanan baru, bukan mengharuskan makanan yang bervariasi. Masalah ini bisa diakali dengan mencampur jenis makanan yang disukai bayi dengan makanan yang ingin kita kenalkan.
  4. Problem lanjutan: GTM (Gerakan Tutup Mulut). Bayi melepeh, mengemut makanan, atau menutup mulutnya rapat-rapat biasa terjadi saat usia bayi bertambah besar, umumnya mulai terjadi usia 8-12 bulan. Dan penyebabnya biasanya pergantian pengasuh, pergantian suasana atau traveling, ketertarikan pada hal-hal baru sehingga tidak fokus pada makanan, dan adanya problem kesehatan yang membuat bayi sulit makan. Rata-rata di usia ini juga gigi-gigi mungil mulai tumbuh dan proses ini ‘menyakitkan’ buat si kecil, sehingga ia jadi enggan membuka mulut. Banyak faktor yang membuat bayi GTM, namun para ibu harus tetap sabar, tidak cemas, dan terus mencoba memberikan asupan makanan yang baik. Makan sedikit-sedikit berkali-kali lebih baik daripada memaksanya untuk memakan 3 kali dalam porsi besar sekaligus. Selera makan bayi yang berkurang bisa disiasati dengan membuat MPASI dalam bentuk dan wadah penyajian yang menarik. Menu MPASI juga bisa diganti-ganti agar bayi tidak bosan.
  5. Alergi makanan. Alergi ini terkadang muncul pada awal belajar makanan padat. Sampai usia dua tahun, imaturitas saluran cerna akan membaik sehingga gangguan saluran cerna karena alergi makanan ikut berkurang.

78200x200-tips-menyiapkan-makanan-balita-selama-perjalanan-mudik-130806p_thumbnail

Tips Mengolah MPASI

  1. Sebelum mengolah MPASI, memasak, atau menyuapi bayi, hendaknya cuci tangan dulu dengan sabun hingga bersih.
  2. Jangan membiarkan bahan makanan mentah berada terlalu lama di suhu ruangan. Jika terlalu lama, bakteri patogen yang menyebabkan penyakit bisa menempel pada bahan makanan.
  3. Pastikan bahan makanan, alat masak dan alat makan bayi sudah bersih sebelum digunakan. Cuci bersih kembali alat-alat tersebut setelah selesai digunakan.
  4. Sebaiknya gunakan talenan yang berbeda untuk memotong sayuran / buah dan daging / ikan.
  5. Jangan memanaskan makanan berkali-kali. Apabila ingin masak dalam jumlah banyak, taruh dalam wadah tertutup, simpan dalam freezer, dan ambil secukupnya untuk dipanaskan.
  6. Buang makanan yang masih tersisa di mangkuk bayi, jangan memberikannya lagi untuk waktu makan yang berbeda, karena makanan yang sudah terkena ludah bayi membuatnya lebih cepat basi.
  7. Untuk makanan yang dibekukan, berilah tanggal, dan gunakan prinsip first in first out.
  8. Jangan lupa menutup makanan di meja makan dengan tudung saji.

Nela Fitria Yeral, dr

Daftar Pustaka

  1. Zahrial, Dian Prima & Mangiri, Yudith. MPASI Perdana Cihuy! Asha Book: Jakarta. 2013.
  2. Sutomo, Budi. Makanan Sehat Pandamping ASI. Demedia: Jakarta. 2010.
  3. Damayanti, Diana & Setyarini, Lies. 365 Hari MP-ASI Plus. Kompas: Jakarta. 2012.
  4. Brown, Amy. Understanding Food Principles & Preparation. 2010.
  5. Karmel, Annabel. First Meals. 1999.
  6. Dr. Sears. The Baby Books. 1999.
  7. Lansky, Vicky. Feed me, I’m Yours. 2004.
  8. Seri Ayahbunda. Makanan untuk Tumbuh Kembang Otak. PT Grafika Multi Warna: Jakarta. 2003.
  9. Sastroasmoro, Sudigdo. Membina Tumbuh Kembang Bayi dan Balita. Badan Penerbit IDAI: Jakarta. 2007.
  10. Pandi Wirakusumah, Emma. Panduan Lengkap Makanan Bayi & Balita. Penebar Plus: Jakarta. 2008.

* Gambar diambil dari: mamasoyaku.blogspot.com, eckapunyacerita.blogspot.com, health.kompas.com, esensi.co.id, zainabpekanbaru

Kiat Aman Naik Pesawat Bersama Balita

Musim liburan baru saja tiba. Apakah Anda merencanakan akan membawa si kecil traveling dengan menggunakan pesawat terbang? Mungkin ada beberapa orangtua yang khawatir membawa anaknya, terutama bayi, bepergian menggunakan pesawat terbang. Banyak mitos yang beredar bahwa bayi tidak boleh naik pesawat terbang sampai usia tertentu. Namun kenyataannya, di zaman yang semakin maju ini, bepergian dengan pesawat terbang serta membawa bayi adalah hal yang tidak bisa dihindari dan seringkali dihadapi para orangtua. Untuk itu ada baiknya kita mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan selama perjalanan melalui udara, demi keselamatan buah hati kita.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membawa bayi bepergian melalui udara:

  • Usia bayi. Pada umumnya, usia tidak mempengaruhi kesanggupan bayi untuk melakukan perjalanan udara. Namun pada dasarnya, bila perjalanan dirasa tidak urgent, dokter akan menyarankan bayi yang baru saja lahir untuk tidak bepergian sampai usia tertentu. Untuk hal ini, ada baiknya konsultasikan kondisi si kecil kepada dokter yang ahli.
  • Telinga bayi. Perubahan tekanan kabin selama penerbangan menyebabkan perubahan tekanan sementara dalam telinga tengah, yang dapat menyebabkan rasa sakit di telinga. Untuk itu, bayi sebaiknya menyusu pada ibunya atau menggunakan botol / dot saat lepas landas dan mendarat. Infeksi telinga biasanya tidak menimbulkan masalah selama perjalanan udara. Namun jika bayi anda dalam keadaan sakit, ada baiknya konsultasikan kepada dokter, apakah memungkinkan untuk melakukan perjalanan atau harus ditunda.
  • Pernapasan bayi. Selama penerbangan, tekanan udara di dalam kabin pesawat lebih rendah dari tekanan udara di darat. Meskipun perubahan sementara kadar oksigen ini tidak menimbulkan masalah bagi bayi yang sehat, namun jika kondisi pernapasan bayi bermasalah, dokter anak akan menyarankan untuk pemberian tambahan oksigen pada bayi. Jika bayi lahir prematur dan memiliki riwayat penyakit paru-paru, dokter biasanya menyarankan untuk menunda perjalanan udara sampai usia satu tahun atau lebih.
  • Kursi keselamatan bayi. Pada umumnya, car seat bayi telah memenuhi syarat untuk digunakan pada perjalanan udara. Maskapai penerbangan biasanya memperbolehkan bayi untuk dipangku selama perjalanan, namun Federal Aviation Administration merekomendasikan agar anak duduk di kursi sendiri dengan sabuk pengaman. Jika anda tidak membeli tiket tersendiri untuk anak anda, tanyakan jika sudah berada di dalam pesawat kepada awak kabin, apakah memungkinkan untuk menempati kursi yang kosong agar anak anda bisa mempunyai kursi sendiri, lebih baik lagi jika mempunyai sekat (pada pesawat tertentu).
  • Obat-obatan atau alat P3K. Simpan obat-obatan atau alat P3K yang mudah dalam tas jinjing yang mudah dijangkau. Jangan masukkan di dalam bagasi atau kabin karena sulit di akses bila sewaktu-waktu diperlukan.

Bepergian dengan Bayi naik Pesawat

Bila Si Kecil Rewel

Di antara hal-hal yang menjadi perhatian orangtua ketika membawa bayi bepergian dengan pesawat terbang, yang paling mengkhawatirkan adalah ketika si kecil rewel selama perjalanan. Namun, pengalaman penulis, bayi tersebut rewel karena ada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman dan bosan. Untuk itu, ada beberapa tips yang mungkin bisa dipertimbangkan para orangtua:

  • Siapkan barang-barang yang penting untuk bayi anda dalam satu tas khusus, berisi segala makanan, minuman (ASI perah atau susu formula) dan mainan. Hal ini dapat memudahkan orangtua mengambil barang yang dibutuhkan si kecil dengan segera. Adapun beberapa jenis mainan diharapkan dapat mengalihkan perhatiannya dan membuat tenang selama perjalanan.
  • Ganti popok bayi anda sebelum naik pesawat agar si kecil merasa lebih nyaman.
  • Berilah makanan pada bayi saat pesawat mulai lepas landas dan akan mendarat, karena hal ini dapat membantu mengurangi perubahan tekanan udara ditelinga yang sering kali mengganggu. (Untuk bayi yang masih mendapat ASI lebih baik langsung menyusu pada ibunya ketika lepas landas dan mendarat).
  • Lakukan apa yang biasa anda lakukan di rumah untuk menenangkan si kecil. Jangan khawatir untuk berjalan-jalan di gang pesawat apabila perlu, namun pastikan hal tersebut dilakukan pada saat pesawat dalam keadaan aman.
  • Tetaplah tenang di segala situasi, karena semakin anda terlihat gelisah dan panik semakin bayi anda akan terus menangis. Jangan khawatir dengan orang di sekitar yang mungkin akan merasa terganggu. Tetaplah fokus menenangkan si kecil sambil berupaya sekuat tenaga. Pada dasarnya orang di sekitar akan mengerti karena kita sedang membawa bayi yang mungkin merasa tidak nyaman dengan penerbangan tersebut.
  • Bekerja sama dengan partner anda dalam penerbangan. Salah satu memegang dan memusatkan perhatian pada si bayi ketika yang lainnya makan, dan lakukan bergantian. Sehingga bayi tetap terperhatikan dan merasa tidak bosan.

Bila Kakak Naik Pesawat

Selain bayi, bepergian membawa anak-anak yang lebih besar kadang juga memberikan kekhawatiran tersendiri bagi orangtua. Perjalanan membawa anak-anak bisa menyenangkan maupun penuh tantangan. The American Academy of Pediatrics (AAP) memiliki beberapa tips untuk perjalanan yang aman dan nyaman untuk keluarga, diantaranya adalah:

  • Demi keamanan dan kenyamanan anda, terutama yang bepergian dengan anak-anak yang lebih kecil, berikan waktu tambahan untuk persiapan menghadapi perjalanan.
  • Sebaiknya anak memakai sepatu dan baju luaran yang mudah dilepas-pasang untuk pemeriksaan keamanan. Anak-anak yang lebih kecil dari 12 tahun tidak perlu melepas sepatu / pakaian untuk pemeriksaan.
  • Stroller dapat dibawa melewati bagian keamanan bandara dan gerbang pemeriksaan untuk memudahkan perjalanan dengan anak yang lebih kecil.
  • Jelaskan tentang proses pemeriksaan keamanan di bandara kepada anak anda. Berikan pengertian kepada anak anda bahwa barang-barang mereka harus dimasukkan ke dalam mesin X-ray dan nantinya akan dikembalikan kepada mereka.
  • Jelaskan kepada anak anda bahwa dilarang untuk mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan ancaman keselamatan kepada seluruh penumpang, walaupun pernyataan tersebut tidak benar / bercanda. Ancaman yang dibuat bercanda (bahkan oleh anak) akan mendapatkan hukuman berupa denda atau penundaan keberangkatan.
  • Persiapkan car seat untuk anak anda setibanya di tempat tujuan, atau anda bisa membawa punya anda sendiri. Maskapai penerbangan biasanya memberikan tambahan bagasi untuk car seat tersebut tanpa dikenai biaya tambahan.
  • Ketika bepergian menggunakan pesawat terbang, perlindungan terbaik untuk anak adalah berada di atas car seat yang sesuai dengan usia, berat badan, maupun tinggi badan anak tersebut, atau menggunakan sabuk pengaman pesawat. Car seat yang digunakan harus sudah tersertifikasi dan disetujui oleh Federal Aviation Administration (FAA).
  • Meskipun FAA memperbolehkan anak-anak di bawah usia 2 tahun untuk dipangku oleh orang dewasa, namun FAA lebih menyarankan untuk mencari kemungkinan adanya kursi kosong yang dapat digunakan dalam penerbangan tersebut agar anak memiliki kursinya sendiri.
  • Simpan obat-obatan atau alat P3K yang mudah dalam tas jinjing yang mudah dijangkau. Jangan masukkan di dalam bagasi atau kabin karena sulit di akses bila sewaktu-waktu diperlukan.
  • Siapkan tas khusus berisi mainan dan makanan ringan untuk menjaga anak anda ‘sibuk’ selama penerbangan. Hal ini juga dapat membantu apabila anak anda bosan terutama pada perjalanan yang menempuh waktu yang lama.
  • Untuk mengurangi nyeri telinga ketika terjadi perubahan tekanan udara, bayi sebaiknya menyusu pada ibunya atau menggunakan botol / dot saat lepas landas dan mendarat. Anak yang lebih besar dapat mencoba mengunyah permen karet atau minum cairan dengan sedotan.
  • Cuci tangan secara teratur, dan pertimbangkan untuk membawa cairan / gel pembersih tangan untuk mencegah penularan penyakit selama perjalanan.
  • Konsultasikan dengan dokter anak anda sebelum terbang dengan bayi yang baru lahir, bayi maupun anak yang memiliki penyakit jantung kronis atau paru-paru bermasalah dengan gejala di saluran pernapasan atas / bawah.
  • Konsultasikan dengan dokter anak anda jika penerbangan dilakukan dalam waktu 2 minggu dari adanya infeksi telinga atau operasi telinga pada anak.
  • Mungkin bagi anda yang akan bepergian jauh ke belahan dunia lain, anda dan anak anda dapat mengalami jet lag, istilah yang cukup sering kita dengar. Namun apakah sebenarnya jet lag itu? Jet lag dapat diartikan sebagai sekelompok gejala berupa kelelahan siang hari, kesulitan tidur, mudah marah, dan penurunan efisiensi mental, yang dapat terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara jam internal tubuh dan lingkungan eksternal. Faktor risiko antara lain; melintasi beberapa zona waktu (terutama ke arah timur) dan kurang tidur. Sampai saat ini, belum diketahui sejauh mana anak-anak mengalami jet lag, tapi mungkin berbeda dengan orang dewasa karena anak-anak mengekspresikan melatonin dalam jumlah yang tinggi. Melatonin ini merupakan hormon yang efektif digunakan untuk terapi jet lag pada orang dewasa, namun tidak dianjurkan untuk anak-anak.

Jadi, tidak perlu khawatir lagi bila perlu membawa bayi atau anak yang lebih besar untuk naik pesawat. Mudah-mudahan dengan mengikuti tips ini perjalanan si kecil menjadi nyaman dan menyenangkan ya..

Nela Fitria Yeral, dr.

4/09/2014

Last update : 12/12/2015

Daftar Pustaka

  1. AAP policy statement: Restraint Use in Aircrafthttp://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics;108/5/1218
  2. Federal Aviation Administration http://www.faa.gov/passengers/fly_children/crs/
  3. Jay L. Hoecker, M.D. http://www.mayoclinic.org/healthy-living/infant-and-toddler-health/expert-answers/air-travel-with-infant/faq-200585391.
  4. Aerospace Medical Association. Medical Guidelines for Airline Travel. 2. < www.asma.org/pdf/publications/medguid.pdf> (Version current at November 29, 2006.
  5. Skjenna OW, Evans JF, Moore MS, Thibeault C, Tucker AG. Helping patients travel by air. CMAJ. 1991;144:287–93. [PMC free article] [PubMed]
  6. Szmajer M, Rodriguez P, Sauval P, Charetteur MP, Derossi A, Carli P. Medical assistance during commercial airline flights: Analysis of 11 years experience of the Paris Emergency Medical Service (SAMU) between 1989 and 1999. Resuscitation. 2001;50:147–51. [PubMed]
  7. Leder K, Newman D. Respiratory infections during air travel. Intern Med J. 2005;35:50–5. [PubMed]
  8. Buscemi N, Vandermeer B, Hooton N, et al. Efficacy and safety of exogenous melatonin for secondary sleep disorders and sleep disorders accompanying sleep restriction: Meta-analysis. BMJ. 2006;332:385–93. [PMC free article] [PubMed]