Author Archives: Rizki Cinderasuci

Menghadapi Trauma Jalan Lahir Paska Melahirkan

Adalah lumrah bila mommies merasa takut, cemas, sekaligus harap bercampur aduk ketika si kecil ingin segera lahir ke dunia. Takut dan cemas karena kontraksi yang nyeri dan melelahkan juga resiko trauma jalan lahir seperti robekan atau lebam. Agar rasa ketakutan ini tidak mendominasi perasaan bahagia mommies mendengar tangisan pertama, alangkah baiknya jika mommies mempersiapkan diri menghadapi resiko trauma yang mungkin dihadapi saat menjemput buah hati kelak..

Trauma Jalan Lahir

Trauma jalan lahir merupakan hal yang sulit dielakkan dalam proses persalinan. Sekitar sembilan dari sepuluh persalinan disertai dengan trauma seperti robekan jalan lahir. Akan tetapi, dari seluruh robekan jalan lahir, hanya sekitar 60-70% saja yang perlu dijahit. Robekan yang parah pun sangat jarang, hanya berkisar 1% saja, sehingga para mommies tidak perlu kuatir.

Saat bersalin, desakan dari bayi yang kuat akan meregangkan area antara vagina dengan anus (daerah perineum). Regangan yang kuat terkadang melebihi kemampuan elastisitas daerah ini, sehingga terjadi robekan jalan lahir. Untuk mempercepat pemulihan, robekan tersebut biasanya akan dijahit.

Risiko lain dari persalinan normal ialah lebam. Lebam adalah kumpulan bekuan darah di antara jaringan. Dalam proses persalinan, lebam bisa terjadi akibat penekanan kepala dan anggota tubuh bayi terhadap dinding jalan lahir. Persalinan yang menggunakan alat bantu seperti forsep atau vakum juga dapat memberikan tekanan tambahan pada jalan lahir, sehingga juga bisa mengakibatkan lebam.

Beberapa mommies memiliki faktor risiko yang lebih tinggi untuk mengalami trauma jalan lahir. Mereka yang lebih mungkin robek dan lebam adalah mereka yang memiliki kondisi berikut:

  • Persalinan anak pertama
  • Sungsang
  • Bayi besar, lebih dari 4 kg
  • Persalinan dibantu oleh forsep, atau alat bantu persalinan yang digunakan bila kontraksi dan pengejanan lemah.

Apa yang bisa dilakukan mommies saat hamil untuk mencegah robekan jalan lahir?

  • Pemijatan area perineum. Pemijatan area perineum sebaiknya dilakukan sejak beberapa minggu sebelum hari perkiraan lahir. Hal ini dimaksudkan agar perineum lebih elastis dan terbiasa dengan regangan. Mommies yang rutin memijat area perineumnya terbukti menderita robekan dengan derajat yang lebih ringan dan jumlah jahitan yang lebih sedikit. Cara pemijatan perineum akan diajari saat kelas senam hamil atau kelas persiapan persalinan lainnya.
  • Kompres. Kompres perineum biasa dilakukan saat persalinan. Kompres tersebut menggunakan air hangat, yang bertujuan agar perineum tidak kaku.
  • Senam kegel. Nyeri berkepanjangan akibat robekan dan lebam dapat dikurangi dengan melatih otot-otot dasar panggul. Salah satu cara melatihnya adalah senam kegel. Senam tersebut juga dianjurkan untuk dilakukan sejak beberapa minggu sebelum hari perkiraan lahir.

Apa yang akan dilakukan dokter/bidan bila saat persalinan terjadi robekan jalan lahir?

Apabila terjadi robekan jalan lahir, yang dilakukan oleh bidan atau dokter mommies adalah memeriksa dan mengevaluasi seberapa besar keparahan dari robekan tersebut. Penanganan lebih lengkap bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Derajat Robekan

Keparahan

Kekerapan

Penanganan

1

Robek kecil, sedalam kulit saja

30 – 40 %

Tidak perlu dijahit

2

Robek cukup dalam sampai ke lapisan otot

59 – 99 %

Bisa tidak dijahit, namun penyembuhan akan lebih cepat dan rapi bila dijahit

3

Robek cukup dalam sampai ke lapisan otot meluas sampai ke daerah perineum (antara vagina dengan anus) dan mencapai lapisan otot sekitar anus

Memerlukan jahitan

4.

Robekan cukup dalam dan luas sampai merobek otot anus dan bahkan bisa meluas ke arah usus.

1 %

Memerlukan jahitan

Derajat trauma jalan lahir

Proses jahit luka robekan tersebut dilakukan langsung di kamar bersalin, menggunakan bius lokal atau melanjutkan bius ILA apabila persalinan saat itu dibantu dengan bius, dengan benang yang dapat diserap oleh tubuh, sehingga nyeri akibat regangan jahitan dapat diminimalisir. Pada robekan derajat 4 yang parah, terkadang mommies harus dipindahkan ke kamar operasi, dan dilakukan penjahitan menggunakan bius total

Untuk mencegah robekan yang besar, dokter atau bidan anda terkadang memutuskan untuk melakukan episiotomi.

50_episiotomy

Episiotomi adalah pemotongan / pengguntingan area jalan lahir yang dilakukan pada saat bayi sudah dalam posisi hampir keluar. Episiotomi dilakukan hanya bila dokter atau bidan mommies menilai risiko robekan akan terjadi cukup parah, bila perlu persalinan secepat mungkin karena faktor ibu maupun bayi, dan bila persalinan dilakukan menggunakan alat bantu. Apabila episiotomi dilakukan, luka yang terjadi akibat tindakan tersebut akan dijahit, dan akan sembuh dalam waktu 2 – 6 minggu. Namun, tindakan episiotomi ini tetap tidak dapat menjamin tidak ada robekan tambahan akibat proses persallinan.

Terapi apa yang akan diberikan dokter/bidan setelah menjahit luka?

Setelah proses jahit menjahit selesai, dokter akan bidan akan memberikan terapi agar luka robekan jalan lahir dan lebam dapat sembuh dengan cepat. Terapi tersebut terdiri dari pemberian obat dan terapi penunjang. Obat yang mungkin dan biasanya diberikan adalah antibiotik untuk mencegah infeksi, pengurang nyeri agar lebih nyaman, dan terkadang diberikan obat pelunak tinja agar regangan area jahitan berkurang saat mommies buang air besar. Terapi penunjang yang terkadang diberikan adalah pemasangan kateter terutama bagi mommies yang mengalami robekan yang cukup besar, dan istirahat untuk dipantau sekitar 24 jam.

Bagaimana bila luka tersebut disertai lebam?

Bagi mommies yang juga mengalami lebam di jalan lahir, maka dokter / bidan akan mengevaluasi lebam tersebut. Apabila lebam berukuran kecil dan tidak membesar, biasanya tidak ada terapi tambahan yang diberikan. Apabila lebam yang ditemukan lebih besar, terkadang perlu tindakan pengeluaran bekuan darah yang tertahan di jaringan, agar mommies tidak mengalami nyeri yang berkepanjangan.

Bagaimana proses penyembuhan luka akibat trauma persalinan?

Penyembuhan luka robekan jalan lahir dan lebam biasanya berlangsung cukup cepat. Mayoritas luka jahitan akan sembuh dalam waktu 3-4 minggu, dan lebam akan sembuh hanya dalam waktu beberapa hari saja. Biasanya nyeri akan benar-benar hilang paling lambat 2 bulan setelah bersalin. Bagi mommies yang mengalami robekan derajat 3 parah atau derajat 4, pemulihan dapat memakan waktu hingga 1 tahun, dikarenakan tubuh butuh waktu lebih untuk pulih dari kerusakan jaringan yang cukup besar.

Adakah efek jangka panjang dari trauma jalan lahir?

Beberapa mommies dapat mengalami keluhan yang menetap dalam jangka panjang,misalnya:

  1. Nyeri saat buang air besar, akibat regangan pada jaringan yang baru pulih. Apabila mommies mengalami hal tersebut lebih dari 1 tahun atau nyeri tersebut semakin parah dari kondisi sebelumnya, konsultasikan ke dokter/bidan anda.
  2. Nyeri saat berhubungan intim. Untuk mencegahnya, pastikan hubungan intim dilakukan setelah masa nifas selesai, didahului oleh foreplay yang cukup, dan bila perlu dibantu oleh cairan lubrikan agar tidak terlalu memberikan gesekan pada jaringan yang baru pulih. Kesiapan psikologis dari mommies untuk berhubungan kembali juga perlu diperhatikan, agar tidak terjadi kekakuan otot-otot sekitar vagina yang dapat menimbulkan rasa nyeri.

Apa yang bisa mommies lakukan untuk mengurangi nyeri saat proses penyembuhan?

  • Kompres. Kompres area jahitan dilakkan dengan menggunakan kompres dingin yang dilapisi oleh handuk atau kain lembut. Kompres tersebut dilakukan paling lama 20 menit saja, dan diberi selang waktu setidaknya 1 jam sebelum mengulangi tindakan kompres.
  • Penyemprotan air suam-suam kuku ke area luka jahitan saat buang air kecil dapat mengurangi nyeri dengan pengenceran air seni. Selain itu, air yang disemprotkan dapat lebih membersihkan area perineum dan perianal, sehingga luka jahitan tidak mudah infeksi. Jangan lupa mengeringkan area kemaluan dengan baik setelah membasuh dengan air.
  • Cegah konstipasi. Tinja yang keras dapat mengakibatkan luka jahitan pascapersalinan menjadi nyeri akibat teregang. Oleh karena itu, agar mommies lebih nyaman dan penyembuhan menjadi lebih cepat, lakukan langkah pencegahan konstipasi meliputi mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, serta banyak minum air. Apabila cara tersebut belum berhasil, konsultasikan dengan dokter mommies untuk dilakukan evaluasi perlu tidaknya bantuan suplemen pelunak tinja agar BAB tidak keras dan lebih nyaman.
  • Gunakan obat pengurang nyeri. Apabila luka jahitan terasa nyeri dan mengganggu aktivitas mommies, penggunaan obat pengurang atau pereda nyeri diperbolehkan. Dikarenakan mommies biasanya akan menyusui setelah melahirkan, maka obat pereda nyeri yang dianjurkan adalah obat yang aman untuk ibu menyusui. Salah satu obat pereda nyeri yang aman dan mudah untuk didapatkan adalah parasetamol. Apabila mommies ingin menggunakan obat pereda nyeri lain, selalu konsultasikan dengan dokter/bidan anda. Mintalah resep dokter sebelum memberi obat pereda nyeri lain, agar memastikan bahwa obat yang dikonsumsi aman untuk anda.
    Mencegah Infeksi Luka Bersalin

Bagaimana mencegah infeksi pada bekas luka trauma persalinan?

Menjaga kebersihan atau higienitas area kemaluan dapat dilakukan dengan cara mandi setiap hari, mengganti pembalut bersalin secara rutin, cuci tangan setiap sebelum dan sesudah mengganti pembalut bersalin, dan mengeringkan area kewanitaan setiap habis buang air kecil dan buang air besar. Hal ini dilakukan agar kuman tidak sempat tumbuh dan berkembang biak di area tersebut, yang dapat mengakibatkan infeksi.

Sirkulasi udara di sekitar kemaluan juga harus diperhatikan agar kuman tidak berkembang biak dengan cepat. Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang tidak ketat. Pilih bawahan berupa rok, atau celana yang longgar dan tidak ketat. Sirkulasi udara yang baik mencegah area kemaluan menjadi basah akibat berkeringat sehingga area tersebut tidak lembab dan kuman tidak mudah berkembang biak.

Selain cara-cara di atas, infeksi luka bersalin dapat dicegah juga dengan melatih otot-otot rongga panggul. Otot rongga panggul yang terlatih dapat mengurangi kejadian mengompol, sehingga area kemaluan mommies menjadi lebih higienis. Selain itu, olahraga tersebut dapat membantu meningkatkan peredaran darah ke area kemaluan, sehingga penyembuhan juga berlangsung lebih cepat. Cara melatih otot-otot rongga panggul adalah dengan senam kegel atau dapat juga menggunakan gerakan senam hamil.

Kapan mommies perlu kontrol ke dokter?

Biasanya dokter/bidan mommies akan menjadwalkan kontrol sekitar 1 minggu setelah persalinan dan 6 minggu setelah bersalin. Apabila ada kekuatiran akan kondisi yang dialami mommies, atau bila muncul gejala yang tidak wajar, tentu saja mommies dapat kontrol lebih awal. Manfaatkan saat kontrol tersebut untuk berdiskusi tenang berbagai macam hal terkait kondisi setelah melahirkan, termasuk kapan waktu yang tepat untuk berhubungan intim.

Ada beberapa kondisi yang mengharuskan mommies membuat perjanjian sesegera mungkin dengan dokter kepercayaan mommies. Lakukan perjanjian rawat jalan segera apabila mengalami:

  1. Peningkatan nyeri luka jahitan, walaupun telah mengkonsumsi obat pereda nyeri
  2. Tercium aroma tidak sedap dari luka jahitan pascapersalinan
  3. Nyeri saat berkemih
  4. Sulit mengendalikan buang air besar, sehingga kerap keluar sebelum sampai ke toilet
  5. Adanya tinja atau kotoran yang ikut keluar saat mommies buang gas
  6. Nyeri perut bagian bawah

Kesimpulan

Robekan jalan lahir dan lebam kerap terjadi saat persalinan, yang terjadi akibat desakan janin saat proses persalinan, dan paling sering terjadi pada mommies yang melahirkan untuk pertama kalinya, atau besalin menggunakan alat bantu. Untuk memperkecil risiko terjadinya robekan dan lebam, sebelum persalinan mommies dapat memijat dan mengkompres area perineum dan melakukan senam kegel. Apabila robekan dan lebam terjadi, mommies dapat melakukan langkah-langkah untuk mengurangi nyeri dan mencegah infeksi luka jahitan dengan cara kompres area jahitan, menjaga kebersihan dan sirkulasi udara area kemaluan, mengkonsumsi obat pereda nyeri, dan tetap melatih otot rongga panggul. Jangan lupa perhatikan gejala atau tanda yang memerlukan penanganan segera dari dokter mommies.

Rizi Cinderasuci, dr., MARS

07/16/2016

Referensi

  1. Andrews V, Thakar R, Sultan AH, et al. 2008. Evaluation of postpartum perineal pain and dyspareunia – a prospective study. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology 137(2):152-156
  2. Beckmann MM, Garrett AJ. 2006. Antenatal perineal massage for reducing perineal trauma. Cochrane Database of Systematic Reviews (1):.D005123.
  3. Blackburn S, 2007. Maternal, fetal and neonatal physiology: a clinical perspective. 3rd. ed. St. Louis. Elsevier
  4. Chou D, Abalos E, Gyte GML,et al. 2013. Paracetamol/acetaminophen (single administration) for perineal pain in the early postpartum period. Cochrane Database of Systematic Reviews (1): CD008407
  5. Eason E, Labrecque M. George W, et al. 2000. Preventing perineal trauma during childbirth: a systematic review. Obstetrics and Gynecology 95(3):464-471\
  6. Elharmeel SMA, Chaudhary Y, Tan S, Scheermeyer E, Hanafy A, van Driel ML. 2011. Surgical repair of spontaneous perineal tears that occur during childbirth versus no intervention. Cochrane Database of Systematic Reviews
  7. Hay-Smith J, Mørkved S, Fairbrother KA, et al. 2008. Pelvic floor muscle training for prevention and treatment of urinary and faecal incontinence in antenatal and postnatal women. Cochrane Database of Systematic Reviews Issue 4. Art no CD007471.
  8. Herlihy C. 2003. Obstetric perineal injury: risk factors and strategies for prevention. Seminars in Perinatology 27113-19
  9. Hoda A, Mohamed E and El-Nagger NS. 2012. Effect of self perineal care instructions on episiotomy pain and wound healing of postpartum women. Journal of American Science: 2012:8:6
  10. Hudelist G, Gelle J, Singer C, et al. 2005. Factors predicting severe perineal trauma during childbirth: role of forceps delivery routinely combined with mediolateral episiotomy. Am J Obstet Gynecol 192(3):875-881
  11. Kettle C and Tohill S. 2011. Perineal care. Clin Evid: 1401
  12. Macarthur A, Macarthur C. 2004. Incidence, severity, and determinants of perineal pain after vaginal delivery: a prospective cohort study.Am J Obstet Gynecol 191(4):1199-1204
  13. Navvabi, S, Abedian, Z and Steen-Greaves, M. 2009. Effectiveness of cooling gel pads and ice packs on perineal pain. British Journal of Midwifery: 17:11:724-29
  14. Olds S et al. 2004. Maternal newborn nursing and women’s health care.Birth related procedures. 7th ed. Pearson Prentice Hall, 7
  15. PubMed Health. 2012. Perineal techniques during the second stage of labour for reducing perineal trauma:
  16. RCOG. 2007. The management of third and fourth-degree perineal tears. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, Green-top guideline 29. London: RCOG press
  17. Stepp K, Siddiqui N, Emery S, et al. 2006.Textbook recommendations for preventing and treating perineal injury at vaginal delivery. Obstetrics & Gynecology 107(2):361-366

Olahraga untuk Ibu Hamil yang Perlu Anda Ketahui

Perubahan bentuk dan fungsi tubuh selama hamil membuat banyak wanita yang sedang mengandung cepat lelah dan tidak bugar. Padahal kondisi bugar dan aktif selama hamil diperlukan agar kehamilan dan persalinan berjalan lancar. Diperkirakan sekitar 75% mommies yang sedang hamil tidak cukup aktif selama masa kehamilannya. Oleh karena itu, mommies sangat disarankan untuk melakukan olahraga untuk ibu hamil.

Mengapa berolahraga?

Ternyata ada segudang manfaat dari olahraga untuk ibu hamil baik untuk ibu hamil maupun janin. Diantaranya ialah:

  • Mengoptimalkan peredaran darah ke tubuh ibu dan janin
  • Membuat ibu lebih energik
  • Memperbaiki mood atau perasaan ibu hamil
  • Memperbaiki postur
  • Membuat tidur lebih nyenyak
  • Mengurangi nyeri yang timbul akibat meregangnya otot dan jaringan selama kehamilan
  • Mengatasi konstipasi, kembung dan bengkak
  • Mengendalikan kadar gula darah, terutama ibu yang memiliki risiko diabetes dalam kehamilan
  • Mengurangi ketegangan dan kecemasan prapersalinan
  • Menguatkan otot, ketahanan terhadap lelah yang nantinya mempermudah persalinan normal.
  • Mempercepat berat badan kembali kesemula setelah lahir

Siapa saja ibu hamil yang aman berolahraga?

Pada umumnya, olahraga saat hamil aman bahkan dianjurkan oleh pakar kesehatan. Namun, sebaiknya mommies berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter atau bidan sebelum memulai olahraga. Hal ini penting karena tiap mommies memiliki kondisi kehamilan dan riwayat kesehatan yang berbeda, sehingga mungkin ada perbedaan rekomendasi mengenai batasan jenis, durasi, atau tingkat olahraga yang dapat dilakukan. Syarat umum agar olahraga untuk ibu hamil bisa dilakukan ialah:

  1. Ibu tidak memiliki riwayat penyakit sebagai berkut:
    a. Gangguan jantung yang mengganggu peredaran darah
    b. Penyakit paru
    c. Tekanan darah tinggi, baik riwayat sejak sebelumnya maupun tekanan darah tinggi dalam kehamilan.
  2. Ibu tidak memiliki kondisi dalam kehamilan sebagai berikut:
    a. Kelemahan leher rahim
    b. Perdarahan atau risiko keguguran
    c. Letak ari-ari tidak normal
    d. Kehamilan kembar dengan risiko persalinan prematur
    e. Ketuban kurang/rembes
    f. Preeklamsia atau eklamsia

Rekomendasi Olahraga untuk Ibu Hamil

Saat hamil setidaknya ibu berolahraga minimal 3-4 hari per minggu selama 20 menit/kali. Manfaat paling maksimal bisa dirasakan ibu dan janin bila olahraga dilakukan tiap hari selama 30 menit. Banyak olahraga untuk ibu hamil yang dapat dilakukan secara mandiri. Olahraga ringan dalam batas wajar seperti jalan cepat, berenang, sepeda statis aman untuk ibu hamil. Selain olahraga mandiri, untuk mommies yang gemar bersosialisasi dapat mengikuti kelas senam hamil termasuk yoga.

Manfaat-Senam-Hamil-Bagi-Sang-Ibu

Olahraga untuk ibu hamil

Kelas senam hamil dipimpin oleh bidan yang berpengalaman dalam menangani proses persalinan. Di kelas tersebut, para mommies akan diajarkan gerakan-gerakan senam yang aman untuk dilakukan saat hamil. Gerakan tersebut dapat diulangi sendiri saat di rumah. Dalam sesi tersebut, para mommies juga akan diajarkan teknik pernafasan dan teknik relaksasi yang akan berguna untuk mengurangi berbagai keluhan yang muncul selama hamil dan akan membantu melancarkan proses persalinan.

Olahraga yang kurang disarankan

Bersepeda di luar ruangan (bukan sepeda statis) tidak disarankan untuk ibu hamil dikarenakan risiko jatuh atau kecelakaan yang cukup tinggi. Olahraga lain yang perlu dihindari mommies adalah menyelam, tenis, bulutangkis, sepakbola, bola basket, dan olahraga lain dengan risiko benturan atau risiko gangguan nafas pada ibu dan janin.

Bagaimana bila ada keluhan saat atau setelah berolahraga?

Setiap kegiatan tentu memiliki risiko,termasuk olahraga. Oleh karena itu, mohon konsultasikan ke dokter atau bidan anda segera, apabila setelah berolahraga didapati keluhan sebagai berikut:

  1. Flek atau perdarahan
  2. Sesak napas atau nyeri dada
  3. Pusing atau sakit kepala
  4. Lemas mendadak
  5. Tungkai nyeri atau bengkak
  6. Gerakan janin melemah
  7. Ketuban merembes

Setelah masalah tersebut tertangani, konsultasikan kembali dengan dokter atau bidan anda apa saja aktivitas fisik yang masih dapat dilakukan oleh mommies, jenis olahraga apa saja yang dapat dilakukan, dan apa saja batasan dalam beraktifitas selanjutnya.

Rizki Cinderasuci, dr. MARS

11/17/2015

Daftar Pustaka

  1. American College of Obstetricians and Gynecologist.2002. Excercise during pregnancy and postpartum period. ACOG Commitee Opinion no 267. Obstet Gynecol 2002;99:171-3
  2. American Pregnancy Association. Exercise during Pregnancy. June 2015. http://americanpregnancy.org/pregnancy-health/exercise-during-pregnancy/
  3. Walsh JM, McGowan C, Byrne J, et al. 2011. Prevalence of physical activity among healthy pregnant women in Ireland. Int J Gynaecol Obstet 113:154-5
  4. ACPWH. 2010. Fit and safe. Advice to physiotherapists and other health professionals. Association of Chartered Physiotherapists in Women’s Health
  5. Berk B. 2004. Recommending exercise during and after pregnancy: what the evidence says. International Journal of Childbirth Education 19(2):18-24
  6. Boscaglia N, Skouteris H, Wertheim EH. 2003. Changes in body image satisfaction during pregnancy: a comparison of high-exercising and low-exercising women. Australia and New Zealand Journal of Obstetrics & Gynaecology 43(1): 41-5
  7. Nascimento SL, Surita FG, Cecatti, JG. 2012. Physical exercise during pregnancy: a systematic review. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology. 24(6):387-94
  8. Dempsey JC, Butler CL, Williams MA. 2005. No need for a pregnancy pause: physical activity may reduce the occurrence of gestational diabetes mellitus and preeclampsia. Exercise and sports science reviews 33(3): 141-9

Aborsi Perlu Pantauan Medis! Ini Sebabnya

Terus terang kami bergidik untuk menulis mengenai tindakan aborsi. Namun, praktik aborsi ilegal amatlah memprihatinkan setelah kami telusuri bahwa penjualan obat penggugur kandungan marak terjadi di dunia maya. Untuk itu, kami merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi bahayanya usaha menggugurkan kandungan di luar pengawasan dokter dan tanpa indikasi medis.

Alasan Pentingnya Pantauan Medis Pada Aborsi

Berikut ini alasan mengapa aborsi memerlukan pemantauan dari tenaga medis dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai:

Counselling

Pentingnya konseling paska aborsi

  1. Konseling. Konseling mengenai efek aborsi secara medis dan psikologis amat penting  bagi wanita hamil juga keluarga. Efek samping jangka pendek seperti perdarahan dan infeksi perlu dijelaskan kepada wanita hamil yang akan menjalani aborsi. Begitu juga efek samping jangka panjang, seperti meningkatnya risiko kelahiran prematur maupun postmatur pada kehamilan berikutnya. Konseling pascaaborsi juga diperlukan terutama pada wanita yang rentan depresi seperti pernah depresi sebelumnya, usia muda, kehamilan pertama, dan keraguan saat mengambil keputusan aborsi.
  2. Pengkajuan medis. Perlunya pengkajian apakah wanita tersebut tidak memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan penatalaksanaan sebelum tindakan aborsi dilakukan, dan apakah ada kontraindikasi terhadap tindakan aborsi pada wanita tersebut. Gangguan kesehatan seperti asma, diabetes mellitus, anemia, dan gangguan darah dapat memburuk bila menggunakan obat-obat pemicu aborsi.Pengkajian tersebut dapat berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
  3. Pemantauan efek samping. Obat-obat yang digunakan untuk aborsi memiliki efek samping. Sebagian dari efek samping tersebut dapat membahayakan jiwa.
  4. Pemantauan resiko gagal. Angka kegagalan tuntasnya aborsi yang dilakukan dengan menggunakan obat saja dapat terjadi hingga 22%-89% (tergantung pada jenis obat yang digunakan dan usia kandungan saat itu). Tidak tuntasnya aborsi yang dilakukan dapat berakibat timbulnya perdarahan akibat masih ada jaringan yang melekat. Tanpa pengawasan tenaga medis, perdarahan yang terjadi tidak mampu ditangani dengan cepat dan tepat, sehingga dapat membahayakan kesehatan bahkan nyawa wanita tersebut.
  5. Pemantauan infeksi, walaupun hanya menggunakan obat dan tanpa tindakan medis, dapat menimbulkan infeksi serius yang berakibat fatal bagi wanita yang menjalaninya. Tanpa pendampingan medis, deteksi dini dan penanganan dini dari infeksi tersebut akan tertunda. Infeksi dapat terjadi tanpa disertai demam, dan dapat menyebabkan kematian.

Rizki Cinderasuci, dr.

11/12/2015

Referensi

1. Christin-Maitre S, Bouchard P, Spitz IM. Medical termination of pregnancy. N Engl J Med. Mar 30 2000;342(13):946-56. [NEJM]
2. Zhou W, Sorensen HT, Olsen J. Induced abortion and subsequent pregnancy duration. Obstet Gynecol. Dec 1999;94(6):948-53. [PubMed]
3. Wilhite, M. et al. Psychological responses of women after first-trimester abortion. Archives of General Psychiatry. 2000; 57: 777–784 [PubMed]
4. Andrew and Boyle, 2003Andrew, J. and Boyle, J.S. African American Adolescents experiences of unplanned pregnancy and elective abortion. Health Care for Women International. 2003; 24: 414–433. [PubMed]
5. Kahn JG, Becker BJ, MacIsaa L, et al. The efficacy of medical abortion: a meta-analysis. Contraception. Jan 2000;61(1):29-40. (ISSN: 0010-7824). [Contraception]

Mengenal Siklus Menstruasi

Para wanita tentu saja akrab dengan namanya tamu bulanan kita, alias Menstruasi! Tetapi sudahkah mommies dan ladies mengenalnya? Mari kita kenali lebih jauh tentang menstruasi, dimulai dari siklus menstruasi.

Siklus menstruasi adalah rangkaian perubahan dalam tubuh wanita yang merupakan proses menyiapkan tubuh untuk hamil. Siklus tersebut tergantung pada perubahan hormon dalam tubuh wanita. Siklus menstruasi dibagi menjadi dua fase yaitu : folikular dan luteal

  • Fase folikular dimulai dari hari pertama menstruasi dan diakhiri tepat sebelum lonjakan hormon LH

  • Fase luteal dimulai dari lonjakan hormon LH sampai hari sebelum menstruasi

Siklus menstruasi tiap wanita berbeda-beda, berkisar antara 21-35 hari dengan rata-rata 14-21 hari fase folikular dan 14 hari fase luteal. Pada wanita usia antara 20-40 tahun siklusnya cenderung menetap. Namun, pada 5-7 tahun pertama setelah menarche (mens pertama) dan 10 tahun sebelum menopouse siklus menstruasi wanita cenderung berubah-ubah. Setelah usia 40 tahun, durasi siklus mens secara bertahap berkurang. 

Hormon yang mempengaruhi siklus menstruasi yang utama adalah estrogen dan progesteron. Berikut ini adalah detail mekanismenya, bila mengacu pada siklus rata-rata 28 hari:

Mens

 Menstrual_cycle

Tabel dan gambar di atas berlaku bila telur tidak dibuahi. Bila telur dibuahi, maka telur yang sudah menempel pada lapisan dalam dinding rahim tersebut sudah membentuk ari-ari. Ari-ari atau plasenta akan melepaskan hormon yang bertugas menjaga produksi hormon progesteron dan estrogen. Dinding rahim tetap terjaga ketebalannya, dan kehamilan pun berlangsung. Bila siklusnya bukan 28 hari, polanya kurang lebih akan sama, yang berbeda hanyalah rentang waktu pada fase folikuler, yaitu saat proses pematangan sel telur.

Sudah mulai kebayang kan, apa yang terjadi dalam tubuh kita setiap bulannya? Apabila dalam salah satu proses ada perubahan, maka lama siklus menstruasi dapat berubah. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Penasaran? Pembahasan mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi menstruasi akan dibahas di lain waktu. Ditunggu ya.. 🙂

Rizki Cinderasuci, dr., MARS

Referensi
1. Farage MA, Neill S, MacLean AB. Physiological changes associated with the menstrual cycle. Obstet Gynecol Surv 2009:64:58–72.
2. Speroff L: Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility, ed 5. Baltimore, Md, Williams & Wilkins, 1994, pp 109-141.
3. Menstruation and the menstrual cycle fact sheet. womenshealth.gov. :23 December 2014.
4. Corrine K Welt. Physiology of the normal menstrual cycle. Uptodate [Internet]. 2014 Feb 28; Available from: http://www.uptodate.com/contents/physiology-of-the-normal-menstrual-cycle

Waspada Obat Aborsi Ilegal

Mommies, percayakah bahwa sekitar 2 (dua) juta tindakan aborsi terjadi di Indonesia setiap tahunnya?Angka ini amat fantastis mengingat tindakan aborsi ialah melanggar hukum. Selain itu, aborsi yang tidak aman dapat mengakibatkan masalah kesehatan bahkan kematian pada wanita yang menjalaninya. Sekitar 14-16 % kematian akibat aborsi yang tidak aman terjadi dari total Angka Kematian Ibu di Asia Tenggara. Meskipun begitu, masih banyak terjadi pengguguran kandungan secara ilegal. Bahkan, saat ini marak berbagai situs, blog, dan akun media sosial yang menjual Obat Aborsi secara online dengan klaim obat tersebut aman dan ‘resmi’. Tapi, benarkah demikian?

Pandangan Aborsi dari Sisi Hukum
Di Indonesia, legalitas tindakan aborsi diatur dalam Undang Undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, khususnya pasal 75 ayat 1 dan Peraturan Pemerintah (PP) no. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi pasal 31-35. Berdasarkan UU dan PP tersebut:

  • Setiap orang dilarang melakukan aborsi, kecuali berdasarkan indikasi kedaruratan medis, dan kehamilan akibat perkosaan.
  • Indikasi kedaruratan medis tersebut meliputi kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu, dan/atau janin, dengan penentuan adanya indikasi tersebut telah dilakukan oleh Tim Kelayakan Aborsi
  • Aborsi dengan indikasi kehamilan berdasarkan perkosaan harus memenuhi kriteria:
    • Usia kehamilan : paling lama berusia 40 hari dari hari pertama haid terakhir dan sesuai dengan kejadian perkosaan
    • Ada keterangan penyidik, psikolog, atau ahli lain mengenai dugaan perkosaan
  • Ketentuan pelaksanaan aborsi
    • Dilakukan oleh dokter sesuai dengan standar dan di fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat
    • Atas permintaan atau persetujuan perempuan hamil dan dengan izin suami (kecuali korban perkosaan)
    • Tidak diskriminatif dan tidak mengutamakan imbalan materi

Berdasarkan penjabaran di atas, penjualan obat aborsi online tentu saja melanggar hukum. Tindakan aborsi dari obat tersebut tidak disertai indikasi yang jelas, tidak dilakukan oleh tenaga medis, dan tidak dilakukan di fasilitas kesehatan yang sesuai standar. Hukuman yang dapat diterima oleh penjual, pembeli dan pelaku aborsi dapat mencapai 7 (tujuh) tahun penjara.abortion

Bahaya Obat Aborsi yang Dijual Bebas

Tingginya angka kehamilan yang tidak diharapkan dan terbatasnya legalitas aborsi di Indonesia memicu munculnya penjualan obat aborsi online. Transaksi jual-beli obat aborsi online tentu saja melanggar hukum, dengan ancaman hukuman hingga 7 tahun penjara. Paket obat yang ditawarkan merupakan obat keras yang memiliki berbagai efek samping yang kerap tidak diberitahukan kepada pelanggan mereka. Tanpa pengawasan medis, aborsi dengan obat yang diperoleh secara ilegal berisiko membahayakan kesehatan dan nyawa. Beberapa obat tersebut ialah:

Bahan Aktif

Mekanisme Kerja

Efek Samping

Misoprostol

Meningkatkan kontraksi otot-otot rahim sehingga leher rahim membuka akibat terdorong janin.

Diare, nyeri perut, sakit kepala, reaksi alergi, anemia, gangguan irama jantung, nyeri dada, kembung, perdarahan saluran cerna, pendengaran terganggu, serangan jantung, mual, ruptur (pecah) rahim, gangguan penyumbatan pembuluh darah.

Mifepristone

Menghalangi kerja progesteron (hormon kehamilan) sehingga leher rahim melunak dan membuka, aliran darah ke bantalan ari-ari (desidua) terhenti, kantung janin terlepas dari dinding rahim, dan otot-otot rahim berkontraksi untuk mengeluarkan janin.

Nyeri perut hebat,mual, nyeri kepala, muntah, diare, pusing, nyeri punggung, anemia, perdarahan rahim, infeksi virus, nyeri lambung, gangguan tidur, radang vagina, gangguan cemas, pingsan, nyeri tungkai, keputihan, nyeri panggul, radang sinus, lemah-letih-lesu

Jadi, waspadalah dengan obat aborsi ilegal yang dapat menjerat Anda ke ranah hukum juga membahayakan nyawa. Bila ada yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, alangkah bijaksana bila minta dukungan keluarga dan melakukan konseling kepada pihak ahli seperti tim medis, pemuka agama, psikolog, atau polisi. Semoga bermanfaat.

Rizki Cinderasuci, dr.

11/12/2015

Sumber :

  1. Sedgh G, Ball H. Abortion in Indonesia. Pubmed-Allan Gutmacher Institute. 2008 Sep;(2):1-6. [PubMed].
  2. Tansil, A. Jual Obat Aborsi Paling Ampuh Menggugurkan Kandungan. 2014 Jul. [Obat Aborsi Medis].
  3. Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta. Peraturan Pemerintah nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. 2014 Jul.
  4. Hukum dan Aborsi.[Aborsi]
  5. Baird DT. Mode of action of medical methods of abortion. J Am Med Womens Assoc. 2000;55(3 Suppl):121-6. [Medline].
  6. Christin-Maitre S, Bouchard P, Spitz IM. Medical termination of pregnancy. N Engl J Med. Mar 30 2000;342(13):946-56. [NEJM]
  7. Zhou W, Sorensen HT, Olsen J. Induced abortion and subsequent pregnancy duration. Obstet Gynecol. Dec 1999;94(6):948-53. [PubMed]
  8. Wilhite, M. et al. Psychological responses of women after first-trimester abortion. Archives of General Psychiatry. 2000; 57: 777–784 [PubMed]
  9. Andrew and Boyle, 2003Andrew, J. and Boyle, J.S. African American Adolescents experiences of unplanned pregnancy and elective abortion. Health Care for Women International. 2003; 24: 414–433. [PubMed]
  10. Kahn JG, Becker BJ, MacIsaa L, et al. The efficacy of medical abortion: a meta-analysis. Contraception. Jan 2000;61(1):29-40. (ISSN: 0010-7824). [Contraception]