Author Archives: Titania Nur Shelly

10 Alasan Bayi Terbangun di Malam Hari

Bayi terbangun di malam hari mungkin sudah hal biasa. Meskipun beberapa bayi “Superhero” bisa tidur hingga 10-12 jam tanpa terbangun sejak usia 3-4 bulan, sebagian besar bayi kurang dari 1 tahun akan terbangun dan menangis di malam hari mencari orangtuanya. Ternyata, ada alasan ilmiah mengenai penyebabnya, serta beberapa penjelasan perkembangan dan perilaku anak atas fenomena ini. Dr. Maida Chen yang merupakan seorang ahli paru anak, ibu dari tiga orang anak, dan direktur dari Pusat Gangguan Tidur Anak untuk membuat daftar mengenai alasan mengapa para bayi melakukan hal ini. Berikut adalah hasil diskusi dr. Wendy Sue Swanson, dokter anak pemilik blog SeattleMamaDoc, dan Dr. Maida.

10 Alasan Bayi Terbangun di malam hari

6-Reasons-Your-Baby-Waking-Night

1 .Siklus tidur

Sebagian besar bayi  terbangun di malam hari terutama disebabkan oleh perubahan gelombang otak dan perubahan siklus tidur dari kondisi REM (Rapid Eye Movement) ke fase tidur non-REM. Perubahan pola gelombang pada otak kita selama beberapa saat disebut sebagai siklus tidur atau “stadium” tidur. Saat bayi berpindah dari satu stadiun ke stadium lainnya selama tidur di malam hari, mereka mengalami waktu transisi yang menyebabkan sebagian besar bayi terbangun. Kemudian seringkali mereka akan memanggil orang tua mereka atau menangis. Atau kadangkala mereka terbangun karena lapar. Hal ini merupakan kejadian yang normal bagi bayi (maupun orang dewasa) untuk terbangun hingga 4-5  kali di malam hari selama waktu-waktu transisi stadium tidurnya. Akan tetapi, sebagian besar orang dewasa yang terbangun biasanya akan dapat kembali tidur dengan cepat sehingga kita jarang mengingat kejadian terbangun tersebut.

Pada usia 4 bulan, banyak orangtua yang mendapati bayinya terbangun setelah tidur nyenyak yang baru sebentar saja. Hal ini normal, dan seringkali dikarenakan oleh perkembangan gelombang tidur delta (deep sleep). Trik bagi orangtua untuk menangani hal ini adalah dengan sedikit demi sedikit melepaskan bayi saat terbangun; kita harapkan bayi dapat belajar menenangkan dirinya sendiri dan bisa lebih mandiri (tanpa bantuan kita) selama waktu terbangun tersebut, sehingga lama kelamaan dapat tidur pulas semalaman.

2. Gelombang otak

Mayoritas bayi benar-benar mampu untuk tidur yang lama hingga lebih dari 6 jam lamanya hingga usia sekitar 6 bulan. Sebagaimana dijelaskan dr.Chen, “Saat melakukan penelitian menhenai tidur, kami mempelajari aktivitas gelombang otak”. Setelah usia 6 bulan, ia mengatakan, “Kami melihat bahwa gelombang otak pada usia 6 bulan keatas mirip dengan pola gelombang otak dewasa”.  Sehingga tidak berarti bayi yang terbangun di malam hari merupakan hal yang abnormal, namun hal itu menunjukkan sebuah tanda kemajuan pada bayi, yang menjadi semakin matur saat tidur. Dr. Chen  menyatakan, “Jika kamu melihat pada penelitian mengenai tidur pada bayi baru lahir dan bayi kurang dari 1 tahun, mereka akan terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan anak yang lebih tua. Namun, setelah usia 7 bulan, pola gelombang otak anak akan terlihat mirip dengan anak usia 18 tahun.” Dan dikatakan, saat beberapa anak terbangun dalam masa transisi tidurnya, mereka mungkin  akan memanggilmu dan meminta bantuanmu tidak seperti anak usia 18 tahun!.

3. “Good Sleepers” vs. “Bad Sleepers” 

Beberapa bayi memang dapat tidur lebih baik. Dr.Chen mengingatkan bahwa; “Ada jenis bayi yang tipe “good sleepers” dan ada pula yang tipe “bad sleepers“.  Sebagian mungkin memang sudah terprogram secara organik. Namun, ada pula  bayi dengan tipe tidur yang baik dengan kebiasaan yang buruk. “Tugas kita sebagai orang tua adalah mengusahakan yang terbaik yang kita mampu untuk membiasakan kebiasaan tidur yang baik. Sebagian besarnya adalah dengan melakukan hal yang konsisten dari malam ke malam. Beberapa bayi membuat asosiasi habitual seperti harus menyusu sebelum tidur, harus diayun-ayun agar tertidur, atau harus di genggam agar bisa tidur. Kemudian, saat mereka terbangun dimalam hari, mereka menangis untuk mendapatkan asosiasi tadi (botol/minum susu atau di ayun-ayun untuk tidur) agar dapat tidur kembali. Asosiasi-asosiasi tersebut dapat menyebabkan bayi denagn tipe “good sleeper” mengalami gangguan tidur karena kebiasaan-kebiasaan tadi.

4. Menangis merupakan bagian dari hidup bayi

Terdapat perdebatan dan dialog nasional yang cukup serius antara para orang tua, psikolog, dokter anak, konsultan laktasi dan peneliti mengenai membiarkan anak menangis dan tidak membiarkannya. Saya tidak akan membahas tentang perdebatannya disini, namun jika anda merasa khawatir bahwa membiarkan bayi menangis akan membahayakan mereka, cobalah untuk tenang. Dr. Chen mengatakan, “Kami tidak merasa bawa menangis itu tidak baik untuk bayi. Tidak ada bukti yang mendukung adanya bahaya jangka panjang dari menangis”. Banyak dokter anak yang merekomendasikan untuk membiarkan bayi sedikit demi sedikit belajar untuk menenangkan dirinya sendiri atau membiarkannya menangis ketika ia sudah memiliki kemampuan menenangkan dirinya (dengan berbalik posisi, menyedot jari atau tangan dan meningkatkan gerakan) dimulai pada usia sekitar 4-6 bulan.

5. Peran Ayah dan Ibu pada malam hari

Penelitian telah mengevaluasi bagaimana orang tua dapat mengubah tidur bayi. Beberapa studi mendapatkan bahwa gangguan tidur pada bayi dipengaruhi oleh berapa kali orangtuanya menenangkannya pada malam hari. Makin sering orangtua berada di ruangan hingga bayi tidur, makin sering orangtua meletakkan bayi di ranjang bayi setelah bayi tertidur, dan makin sering orang tua mengangkat bayinya pada malam hari, maka bayi akan cenderung lebih mengalami bangun pada malam hari. Dan meskipin sebagian besar penelitian meneliti peran ibu dalam kasus terbangun di malam hari, studi Tel Aviv tahun 2010 menunjukkan bahwa saat ayah lebih terlibat dalam perawatan bayi ( siang dan malam), selain dari ibunya, bayi-bayi mereka lebih sedikit mengalami bangun pada malam hari. Saatnya mulai bergantian!!

6. Tumbuh Kembang

Perjalanan perkembangan akan mengubah tidur. Setelah usia 4 bulan sebagian besar bayi akan memiliki periode tidur yang panjang dan kemudian terbangun setiap beberapa jam karena adanya perubahan siklus tidur. Terkadang mereka akan terbangun dan berguling  lalu berteriak dan menangis  saat mereka terjebak atau berubah posisi. Perubahan kondisi dapat diterjemahkan dalam bentuk terbangun di malam hari. Pada usia 6 bulan, bayi akan menjelajahi dunia, meletakkan berbagai objek dan kuman ke dalam mulutnyan dan merupakan subyek banyak infeksi. Mereka juga akan belajar duduk pada usia 6 bulan dan pada tahap ini sering kali memicu terbangun di malam hari. Pada usia 9 bulan bayi belajar mengangkat dirinya di ranjang bayi dan belajar berdiri- sehingga jangan kaget bila mereka akan lebih sering bangun. Sebagian besar orangtua akan kaget saat menemukan bayi 9 bulannya bangun di malan hari, berdiri dan siap untuk berguling-guling.

7. Tumbuh gigi 

Tidak perlu ditanyakan lagi bahwa tumbuh gigi dapat membangunkan anak di malam hari dan mengganggu tidurnya. Tumbuh gigi biasanya terjadi sekitar usia 6 bulan, tapi aku mendengar  bahwa tumbuh gigi selalu membangunkan bayi setiap kali terjadi sepanjang usia pre-sekolahnya. Asetaminofen/parasetamol adalah satu-satunya obat yang saya rekomendasikan pada bayi yang tumbuh gigi.

8. Perubahan tingkah laku

Banyak bayi yang lebih sering terbangun pada usia 6-9 bulan akibat meningkatnya rasa kemandirian dan mawas diri. Pada usia 6 bulan saya acapkali mendengar dari orangtua bahwa bayi mereka akan terbangun dimalam hari dan mulai berbicara, dengan suara yang berbeda-beda. Tidaklah perlu untuk mendatangi mereka jika tidak terjadi kegaduhan. Saat bayi mengalami kecemasan akibat berpisah (separation anxiety) saat usia 9 bulan, seringkali akan terjadi perubahan pola tidur.  Seringkali selama perubahan tingkah laku itu, mereka akan terbangun dan berteriak saat menyadari anda tidak ada disampingnya.

9. Infeksi

Bayi dan anak-anak seringkali mengalami infeksi setelah usia 6 bulan. Hal ini terutama terjadi karena saat bayi telah menginjak usia 6 bulan, mereka telah mampu meletakkan benda-benda baru (termasuk tangan mereka) ke dalam mulut, sehingga paparan merek terhadap kuman meningkat. Banyak bayi yang mengalami demam dan infeksi saluran napas atas akan terbangun akibat pilek atau batuk. Demam, mintah dan diare juga akan membangunkan bayi di malam hari. Namun jangan khawatir, jadwal tidur umumnya akan kembali dalam beberapa minggu setelah sakit terutama jika anda dapat menjaga rutinitas tidur.

10. Empeng atau botol

Banyak bayi yang terkondisikan untuk dapat tidur (atau kembali tidur)bila menyedot sesuatu. Hal ini bermula sesaat setelah lahir saat bayi baru lahir biasa tertidur saat disusui ASI atau dengan botol dimulutnya. Banyak pula bayi yang menggunakan empeng akan terbangun pada usia 6-12 bulan saat empengnya jatuh. Solusi yang paling mudah adalah dengan menghilangkan kebiasaannya tersebut. Namun ingatlah, kebiasaan yang kuat/lama sulit sekali dihilangkan. Jika bayi terbiasa tidur dengan menyedot sesuatu dan berlangsung lebih dari 6 bulan, tentunya akan membutuhkan waktu untuk dapat menghilangkan kebiasaannya tersebut.

07/17/2016

DoctorMums Headshot

Ditulis oleh by Dr. Wendy Sue Swanson, Pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and penulis dari Blog Seattle Mama Doc & ; Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/why-do-babies-wake-up-at-night/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Titania Nur Shelly.

Pusar Bodong saat Hamil?

Beberapa ibu hamil mungkin mengalami “pusar bodong” saat hamil. Dalam dunia kedokteran, “pusar bodong” disebut hernia umbilikalis. Hernia adalah suatu kondisi dimana terdapat bagian organ tubuh yang keluar melalui bagian otot yang melemah. Pada bayi baru lahir hingga usia 4-5 tahun, penutupan bagian dalam tali pusatnya dapat belum sempurna, sehingga dapat terjadi hernia umbilikalis. Namun biasanya, kondisi ini akan membaik setelah usia 5 tahun. Pada ibu hamil, otot-otot di sekitar perut cenderung tertarik dan melemah, sehingga memiliki risiko untuk terjadinya hernia umbilikalis saat hamil. Selain anak-anak dan ibu hamil, orang yang sering mengangkat beban yang berat juga berisiko untuk mengalami hernia umbilikalis.

Hernia umbilikalis merupakan jenis hernia ketiga tersering setelah hernia inguinalis (selangkangan) dan femoralis (paha), yaitu sekitar 3-8,5% dari seluruh kasus hernia. Kejadian hernia umbilikalis lima kali lebih sering pada wanita, dengan salah satu kondisi penting penyebabnya adalah kehamilan.1

http://www.laparoscopicconsultant.co.uk/hiatus-hernia-operation-london.html

Hernia Umbilikalis

Apa Saja Gejala Hernia Umbilikalis?

Gejala hernia umbilikalis pada kehamilan bervariasi, mulai dari yang tidak terlalu tampak dan tidak terasa, hingga yang selalu menonjol dan tampak dengan jelas. Seringkali tonjolan ini terasa nyeri saat beraktivitas yang berlebihan, tertawa, bersin, atau batuk. Seiring dengan bertambah besarnya kehamilan, beberapa wanita mungkin mengalami kesulitan untuk beraktivitas, karena lebih mudah nyeri.

Berbahayakah bila pusar saya menonjol saat hamil?

Sebenarnya, kondisi ini tidak berbahaya bagi ibu maupun janin, selama tidak terasa nyeri yang terus menerus atau kemerahan pada tonjolan hernia. Sebaiknya sampaikan kondisi ini pada dokter yang memeriksa rutin, agar dapat diperiksa lebih lanjut. Pada ibu hamil dengan hernia umbilikalis, disarankan agar tidak menggunakan pakainan yang ketat. Salah satu laporan komplikasi hernia umbilikalis pada kehamilan adalah terjadinya luka akibat gesekan antara kantung (tonjolan) hernia dengan pakaian. 2

Kapan Perlu ke Dokter?

Beberapa gejala yang menunjukkan tanda-tanda bahaya pada hernia umbilikalis dan perlu segera diperiksakan ke dokter:

  • Nyeri tajam yang terus menerus atau semakin parah
  • Kemerahan pada area atau sekitar tonjolan hernia disertai demam, mual, muntah
  • Tonjolan hernia tidak dapat dimasukkan lagi ke dalam
  • Tanda bahaya diatas sangat penting untuk diperhatikan karena dapat merupakan tanda komplikasi hernia yang dapat membahayakan nyawa bila tidak ditangani segera.

Terapi Hernia Umbilikalis

Hernia umbilikalis pada kehamilan yang tidak bergejala atau tidak nyeri belum memerlukan terapi. Yang perlu dilakukan adalah selalu waspada akan tanda bahaya dengan segera memeriksakan diri bila terdapat satu atau lebih tanda bahaya. Satu-satunya terapi yang terbukti efektif bagi hernia umbilikalis adalah dengan operasi. Perbaikan hernia umbilikalis selama kehamilan hanya dianjurkan bila hernia mengalami komplikasi.Diskusikan dengan dokter bedah untuk informasi lebih detil mengenai kapan saat yang tepat untuk dilakukan prosedur operasi bila dibutuhkan.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Hingga saat ini belum ada pencegahan khusus agar tidak terjadi hernia umbilikalis. Sehingga yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan :

  • Mencegah aktivitas, tertawa, batuk atau besin yang berlebihan
  • Menekan tonjolan pusar saat melakukan kegiatan diatas

Titania Nur Shelly, dr., MARS

08/18/2015

Referensi:

1. Dabbas N, Adams K, Pearson K, Royle GT. Frequency of Abdominal Wall Hernia: Is Classical teaching out of date?. JRSM Short Rep. 2011 Jan; 2(1): 5. Published online 2011 Jan 19. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3031184/

2. Punguyire D, Iserson KV, Apangan S. Fullterm pregnancy in umbilican hernia. Pan Afr Med J. 2011; 8: 6. Published online 2011 Jan 31. diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3201614/

3. American Collage of Surgeons, Division of Education. Adult Umbilical Hernia Repair. diunduh dari: https://www.facs.org/~/media/files/education/patient%20ed/adultumbilical.ashx

4. Ahmed A, Stephen G, Ukwenya Y. Spontaneous Rupture of Umbilical Hernia in Pregnancy: A Case Report. Oman Med J. 2011 Jul; 26(4): 285–287. diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3191721/

Gambar di unduh dari :

http://www.laparoscopicconsultant.co.uk/hiatus-hernia-operation-london.html

Week 25: Nesting and a hernia and candy bars, oh my!

Bantuan Hidup Dasar Bayi & Anak

Tentunya kita tidak pernah menginginkan kecelakaan terjadi pada buah hati kita ya, ayah bunda. Namun, pernahkah ibu atau ayah bayangkan apabila dihadapkan pada situasi kritis yang menyebabkan anak berhenti nafas atau jantung secara tiba-tiba? Pastinya kita akan panik atau bingung bahkan mungkin saja melakukan tindakan yang malah justru berbahaya bagi anak.. Selama ini mungkin kita hanya lihat dari sinetron tentang tindakan penyelamatan pada anak. Tapi sayangnya apa yang ditayangkan tidak bersifat edukatif dan seringkali tidak sesuai dengan rekomendasi medis. Lalu, bagaimana cara tindakan pertolongan pertama pada henti nafas dan jantung pada anak? Sebagai orangtua bijak, penting disimak ya agar kita bisa siap kapanpun dan dimanapun..

Istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau di luar negeri dikenal dengan CPR (Cardio Pulmonary Resucitation) adalah tindakan kegawatdaruratan untuk mempertahankan pasokan oksigen ke otak dan jantung pada saat seseorang tidak sadarkan diri dengan tidak bernapas atau tidak ada denyut jantung. Tindakan ini bukanlah untuk mengembalikan napas atau denyut jantung seseorang, namun hanya untuk memberikan aliran darah sebagian secara buatan untuk memperlambat kerusakan otak dan jantung. Pada kasus tenggelam, kecelakaan, atau tersedak dengan kondisi anak tidak bernapas atau tidak ada denyut jantung, sesuai dengan rekomendasi American Heat Association 2010 mengenai bantuan hidup dasar anak , dapat dilakukan tindakan berikut ini:

  • Pastikan keamanan penyelamat dan korban. Pada kasus misalnya kecelakaan, sebelum melakukan RJP korban harus dipindahkan ke tempat yang aman.
  • Periksa perlunya melakukan RJP. RJP diperlukan bila penolong menilai anak tidak bernapas atau tidak sadar.
  • Periksa respon anak, tanyakan : “Apa kamu baik-baik saja?”, panggil nama anak jika anda mengetahuinya. Bila anak dapat menjawab, bergerak, atau mengerang, periksa apa ada luka dan membutuhkan bantuan medis. Jika anak masih bernapas, panggil bantuan dan aktifkan emergency response system (memanggil bantuan dan secepatnya kembali ke anak dan melakukan siklus kompresi dada-ventilasi kembali hingga bantuan datang atau anak sadar), dan segera kembali untuk monitor kondisi anak.
  • Bila anak tidak berespon, jangan tinggalkan anak dan teriaklah minta tolong.
  • Periksa napas: bila anak bernapas dengan teratur, berarti tidak membutuhkan RJP. Pada kondisi trauma akibat kecelakaan misalnya, posisikan anak pada posisi pemulihan, untuk mempertahankan patensi jalan napas dan menurunkan risiko aspirasi (tersedak ludahnya sendiri)

Gambar 1. Posisi pemulihan pada bayi dan anak

RecoveryPosition

https://www.scratchsleeves.co.uk/parenting-plus-eczema/wp-content/uploads/2014/02/RecoveryPosition.jpg

Gambar 2. Cara Melakukan Posisi Pemulihan

http://www.nedac.co.uk/picts/recovery%201.gif

http://www.nedac.co.uk/picts/recovery%201.gif

Gambar 3. Cara Melakukan Posisi Pemulihan Pada Bayi

http://www.firstaider.org/1024%20English/images/74.jpg

http://www.firstaider.org/1024%20English/images/74.jpg

Bila anak tidak bernapas:

  • Panggil, atau kirim pesan untuk mencari bantuan, jika pada saat itu belum datang, jika terdapat lebih dari 1 penolong. Bila hanya sendiri, teriaklah minta tolong
  • Jangan tinggalkan anak pada kondisi ini. Lakukan langkah-langkah RJP (Resusitasi jantung paru). Sesuai dengan rekomendasi American Heart Association, RJP dilakukan dengan alur C-A-B ( Compression – Airway –Breathing):
  • Lakukan kompresi dada (tidak perlu memeriksa nadi) sebanyak 30 kali. Cara melakukan kompresi dada yang berkualitas :
  • Berikan tekanan dada dengan jumlah dan kedalaman yang baik. Tekan dengan cepat: tekan dengan kecepatan 100 kompresi per menit. Tekan kuat: tekan dengan usaha yang cukup untuk menekan setidaknya sepertiga dari kedalaman dada, yaitu 4 cm untuk bayi dibawah 1 tahun dan 5 cm untuk anak diatas 1 tahun.

Gambar 4. Lokasi untuk memberikan tekanan dada pada bayi (tekan dengan 2 jari dibawah garis penghubung puting)

http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/media/medical/hw/h9991484_001.jpg

http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/media/medical/hw/h9991484_001.jpg

  • Untuk anak diatas 1 tahun, tekan dengan tumit telapak tangan di dada bawah dengan kedalaman kira-kira 5cm.

Gambar 5. Lokasi kompresi dada anak

http://resuscitation- guidelines.articleinmotion.com/uploads/els_articles/S0300-9572(10)00438- 7/assets/gr5.jpg

http://resuscitation-
guidelines.articleinmotion.com/uploads/els_articles/S0300-9572(10)00438-
7/assets/gr5.jpg

  • Beri waktu dada untuk kembali mengembang setelah setiap kompresi, sehingga jantung dapat terisi darah kembali
  • Minimalisir interupsi pada kompresi dada
  • Hindari terlalu banyak ventilasi (memberikan terlalu banyak bantuan napas)
  • Buka jalan napas, jika terlihat benda didalam mulut, keluarkan, namun jangan berusaha untuk melakukan sapuan tanpa melihat adanya objek atau melakukan  sapuan tangan berkali-kali. Hal ini dapat menyebabkan objek menjadi tertekan lebih ke dalam, dan dapat mengakibatkan cedera orofaring.
  • Cara membuka jalan napas adalah dengan cara: head tilt (kepala di tengadahkan ke atas) dan chin lift (dagu ditekan ke bawah)

Gambar 6. Cara Membuka Jalan Napas

http://www.blscprtraining.com/a3.jpg

http://www.blscprtraining.com/a3.jpg

  • Berikan 2 kali bantuan napas (ventilasi) dari mulut ke mulut, dan lanjutkan dengan siklus kompresi dada – ventilasi, hingga objek keluar.
  • Pada anak dengan usia kurang dari 1 tahun,berikanbantuan napas dari mulut ke hidung dan mulut bayi.
  • Pastikan bantuan napas efektif (tandanya: dada mengembang saat ditiupkan napas). Bila dada tidak mengambang, ubah posisi kepala anak, dan berikan ulang

Gambar 7. Cara Memberikan Bantuan Napas

rescue_breathing_d

http://www.healthy.net/scr/article.aspx?ID=1795

  • Bila penolong hanya sendiri, untuk melakukan RJP selama 2 menit diikuti dengan mengaktifkan emergencyresponse system.
  • Penolong sebaiknya telah melakukan pelatihan Basic Life Support (Pelatihan Bantuan Hidup Dasar) sebelum melakukan pertolongan agar dapat memberikan bantuan yang benar dan efektif.

Video ini mungkin bisa membantu ibu dan ayah belajar mengenai RJP. Selamat belajar ya. Pastikan kelamatan anak menjadi nomer satu.. 🙂 Semoga bermanfaat

dr. Titania Nur Shelly, MARS

Referensi:

Berg MD, Schexnayder SM, Chameides L, et al. Prom the American Academy of Pediatrics Special Report Pediatric Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. PEDIATRICS Journal; 2010:126. diunduh dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/126/5/e1345.full (Sabtu, 28 Maret 2015)

P3K Anak di Rumah: Tersedak

Sebagai ibu dari dua bocah laki-laki, tentunya bagi saya menjadi hal yang cukup biasa untuk mendengar keduanya beradu mulut, atau kompak memohon makanan kesukaan (baca: coklat) hingga berebutan makanan atau mainan. Sering juga keduanya bermain kejar-kejaran hingga salah salah satunya terjatuh. Terkadang hingga ada yang terluka. Anakku yang kedua saat ini masih berusia 1 tahun 6 bulan, usia yang sedang hobi-hobinya bereksplorasi dengan barang baru, dan di masukkan ke dalam mulut. Beberapa kali bahkan saya mendapati ia tersedak mainan kecil saat bermain di rumah kawan.

Kecelakaan pada anak yang terjadi di rumah atau lingkungan rumah mungkin sudah tidak asing lagi terjadi pada setiap anak, tidak hanya di indonesia, tapi di seluruh dunia, dan seringkali hingga memerlukan bantuan dokter untuk menanganinya. Pada tahun 2010 tercatat 25 juta anak berkunjung ke Unit Gawat Darurat di Amerika Serikat, dan penyebab tertinggi anak dibawa ke UGD adalah akibat kecelakaan dan keracunan (1). Di Australia, kecelakaan merupakan penyebab utama kematian dan merupakan penyebab kedua terbanyak setelah penyakit saluran napas pada anak usia 0-14 tahun (2).

Kecelakaan adalah kerusakan pada tubuh yang disebabkan saat tubuh mausia dihadapkan pada energi dengan jumlah yang melebihi batas toleransi tubuh, atau dapat mengakibatkan kurangnya satu atau lebih elemen yang vital bagi tubuh, misalnya oksigen (3). Kecelakaan terdiri dari 2 jenis, yaitu kecelakaan yang disengaja (intentional injury) dan kecelakaan yang tidak disengaja (unintentional injury). Penting bagi orang tua untuk mengetahui apakah kecelakaan yang terjadi pada anak disengaja atau tidak. Sebab, kecelakaan yang tidak disengaja sebenarnya dapat diprediksi dan dapat dicegah dengan menggunakan perhatian akan keselamatan dengan cukup. Beberapa kecelakaan yang sering terjadi pada anak antara lain:

  1. Tersedak (choking)
  2. Transportasi (transportation)
  3. Tenggelam (drowning)
  4. Jatuh (Falls)
  5. Terbakar (burns)
  6. Keracunan (poisoning)

Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hal-hal diatas adalah mengenai pengetahuan, perilaku, dan juga keterampilan. Anak-anak dibawah usia 5 tahun bergantung pada orang lain untuk menjaga keamanannya. Kurangnya pengetahuan pada orang yang menjaga anak kecil dapat meningkatkan terjadinya kecelakaan yang tidak disengaja (2). Sehingga, sangat penting bagi orang tua untuk memiliki pengetahuan mengenai pentingnya menyediakan lingkungan yang aman bagi anak. Lalu, apa saja penjelasan lebih detilnya mengenai masing-masing kecelakaan dan bagaimana penanganannya yang penting untuk diketahui para orang tua/ pengasuh anak?

Pada bagian ini, kita akan membahas mengenai tersedak atau choking. Apa yang sebenarnya terjadi saat anak kita (atau bahkan kita sendiri) tersedak? Sebelum kita tahu lebih lanjut mengenai bagaimana tersedak bisa terjadi, tentunya kita perlu memahami apa yang senantiasa terjadi pada bagian belakang mulut kita setiap waktu. Udara yang masuk melalui hidung (atau mulut) akan mengalir ke paru-paru, dan makanan yang kita makan akan masuk ke lambung, semuanya melalui satu saluran yang sama, yaitu faring (throat), sebelum akhirnya terpisah yang menjadi saluran yang menuju ke paru-paru (trakea)dan yang menuju ke lambung (esofagus). Nah, bagaimana makanan dan udara senantiasa bisa masuk ke tujuan yang tepat? Alhamdulillah, sungguh beruntungnya kita karena ternyata ada katup yang disebut sebagai “epiglotis”. Epiglotis berfungsi seperti pintu. Ia akan bersepon saat kita mengunyah makanan dengan menutup trakea, sehingga makanan yang kita telan akan mengalir ke lambung melalui esofagus.

Gambar 1. Apa yang terjadi pada epiglotis saat kita makan

http://kidshealth.org/image/ial/images/4621/4621_image.png

 

Pada beberapa keadaan, seperti saat anak (atau kita) tertawa atau kaget saat makan, epiglotis dapat tidak menutup dengan sempurna, sehingga sebagian makanan dapat masuk ke dalam saluran napas dan menyumbat pernapasan. Nah, pada saat ini anak sedang dalam keadaan “tersedak”. Perasaan yang dialami saat tersedak tentunya sangat tidak nyaman, apalagi bila yang menyebabkan tersedak berukuran besar, sehingga menyebabkan sulit bernapas. Secara alamiah, tubuh akan berusaha untuk mengeluarkan benda yang masuk ke saluran napas dengan cara “batuk”, namun hal ini akan sulit dilakukan pada kondisi tersedak oleh benda yang besar, sehingga membutuhkan bantuan orang lain.

Sebagai salah satu dari 5 besar penyebab kematian utama pada anak yang tidak disengaja pada anak usia dibawah 5 tahun (4), pengetahuan untuk penanganan tersedak sangatlah penting bagi orang tua dan pengasuh anak. Beberapa hal yang penting untuk menjadi catatan adalah:

  • anak usia dibawah 5 tahun adalah yang paling berisiko untuk tersedak
  • tersedak tidak hanya terjadi oleh makanan, tapi juga oleh mainan atau peralatan rumah tangga yang kecil (ukuran diameter trakea anak kira-kira sebesar sedotan air minum, sehingga bayangkan bila benda seperti popcorn menyumbat saluran seukuran sedotan, tentunya anak tidak dapat bernapas dan dapat mejadi fatal).
  • Apabila kejadian tersedak terjadi, penting bagi orang di sekitarnya untuk mengetahui penanganannya, dan cara terbaik adalah dengan pencegahan.

Apa saja yang dapat menyebabkan anak tersedak?

1. Makanan yang dapat membahayakan

Jangan memberikan makanan yang bulat dan keras pada anak usia dibawah 4 tahun. Karena bila anak tidak dapat mengunyah makanan dengan sempurna, mereka pastinya akan menelannya bulat-bulat, dan ini merupakan penyebab utama tersedak pada anak. Beberapa makanan yang sebaiknya dihindari:

  • hot dog
  • kacang-kacangan
  • daging atau keju
  • anggur bulat
  • permen yang keras
  • pop corn
  • sayuran mentah
  • buah-buahan yang keras seperti apel
  • permen karet

2. Barang-barang rumah yang dapat membahayakan

Pastikan benda-benda ini jauh dari jangkauan anak-anak:

  • balon yang belum ditiup
  • koin
  • kelereng
  • mainan dengan bagian yang kecil
  • mainan yang seluruh bagiannya dapat masuk ke mulut anak
  • bola kecil
  • pulpen atau alat tulis lain
  • baterai
  • obat-obatan

Apa yang perlu kita lakukan untuk dapat mencegah dan menangani tersedak?

  1. Pelajari RJP (Resusitasi Jantung Paru) untuk bantuan hidup dasar
  2. Jauhkan hal-hal yang dapat menyebabkan tersedak
  3. Pastikan anak selalu makan sambil duduk. Sehingga mereka fokus untuk makan dan tidak makan sambil lari, tidur, atau bermain.
  4. Potong makanan kecil-kecil untuk anak
  5. Selalu temani anak saat makan
  6. Perhatikan anak bila makan bersama anak yang lebih besar, karena anak yang lebih besar sering kali memberikan makanan tanpa paham bahwa anak kecil belum mampu memakannya
  7. Jauhkan mainan yang kecil dan berbahaya, dan simpan alat-alat rumah tangga di tempat aman
  8. Periksa barang-barang dirumah dan di selipan kursi apakah ada barang kecil yang terselip
  9. Jangan pernah membiarkan anak bermain dengan koin dan baterei

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita menjadi orang terdekat anak yang mengalami kejadian tersedak?

Saat benda asing masuk ke dalam saluran napas, anak akan bereaksi dengan batuk, sebagai upaya untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Menurut Konsil Resusitasi UK, batuk spontan merupakan manuver/cara terbaik dan lebih aman dibandingkan dengan manuver apapun yang dilakukan oleh penolong. Namun demikian, bila anak tersedak hingga tidak bisa batuk ataupun batuk tetapi tidak efektif (tidak dapat mengeluarkan benda asing tersebut), saluran napas dapat tersumbat total dan anak akan menjadi kekurangan oksigen. Pada saat tersebut, bantuan aktif untuk mengeluarkan benda asing menjadi diperlukan, namun harus dilakukan dengan cepat dan percaya diri .

Apabila mendapatkan anak dengan kemungkinan tersedak, yang perlu dilakukan adalah pastikan dahulu bahwa anak tersebut benar-benar tersedak. Tanda umum dari tersedak adalah(5,6):

  • ada yang melihat kejadian tersedak
  • batuk atau tampak kesulitan bernapas, terdengar suara mengi (wheezing) atau mengorok (stridor)
  • kejadian terjadi dengan cepat
  • sebelumnya sedang makan atau bermain dengan benda kecil

Setelah itu, lihat kondisi anak, apakah anak dapat batuk dengan efektif atau tidak. Ciri-ciri batuk efektif dan tidak efektif:

Batuk tidak efektifBatuk efektif
Tidak dapat bicaraMenangis atau dapat berespon verbal (bicara)
Batuk dengan tidak bersuaraBatuk keras
Tidak dapat bernapas
Dapat menarik napas sebelum batuk
Wajah membiru
Kulit wajah tampak normal
Anak tidak sadarkan diriBerespon secara penuh

Berikut ini adalah alur penanganan anak dengan tersedak:

Gambar 2. Alur Penanganan Anak Tersedak

Untitled

Kondisi anak saat tersedak

  • Jika anak dapat batuk dengan efektif, tidak perlu melakukan tindakan luar. Biarkan anak untuk batuk hingga benda asing keluar, dan monitor secara berkala
  • Jika anak batuk secara, atau menjadi tidak efektif tentukan tingkat kesadaran anak. Cara menentukan tingkat kesadaran anak:
    Tepuk anak dan tanyakan dengan keras : “Apa kamu baik-baik saja?” Bisa tanyakan nama anak, jika anak sudah dapat berbicara. Jika anak responsif, ia akan menjawab, bergerak, atau menangis.
    Jika terdapat lebih dari 1 penolong, maka segera cari bantuan, telepon nomor darurat yang diketahui.

Anak tersedak dengan kondisi sadar

  • Jika anak masih sadar namun tidak dapat batuk atau batuk tetapi tidak efektif, berikan tekanan perut (abdominal thrust/ heimlich maneuver). Cara ini akan membuat “batuk buatan” dengan meningkatkan kenanan di dalam dada dan mengeluarkan benda asing.
  • Pada bayi usia kurang dari 1 tahun, berikan tepukan pungung diikuti dengan tekanan dada (chest compression).
  • Jangan lakukan heimlich manuver pada bayi dibawah 1 tahun, karena dapat menyebabkan cedera liver (hati) pada bayi

Cara melakukan tepukan punggung

  • Pangku anak dalam kondisi telungkup dengankepala di bawah, agar gaya gravitasi dapat membantuk mengeluarkan benda asing
  • Penolong harus dapat memangku dengan posisi yang aman
  • Tahan kepala anak dengan 1 tangan, dengan posisi jari jempol pada satu sisi rahang dan dua atau tiga jadi lainnya pada sisi rahang lainnya
  • Pastikan jangan sampai menekan jaringan dibawah rahang, karena dapat memperparah sumbatan jalan napas

Gambar 3. Cara memberikan tepukan punggung bayi

ChokingBaby

http://www.childhealthslough.com/html/img/ChokingBaby.jpg

  • berikan 5 tepukan punggung dengan cepat dan kuat di belakang dada
  • Tujuan yang ingin diraih adalah untuk dapat mengeluarkan benda asing. Bila sebelum 5 perukan benda asing sudah keluar, tepukan dapat dihentikan
  • Apabila tepukan punggung gagal untuk mengeluarkan beda asing tersebut, dan anak masih dalam kondisi sadar, gunakan tekanan dada.

Tekanan dada pada bayi dibawah 1 tahun

  • Posisikan bayi dalam keadaan terlentang dalam pangkuan secara aman, dengan cara meletakkan tangan di sepanjang punggung bayi dan telapak melingkari kepala bayi
  • Identifikasi tanda wilayah untuk tekanan dada ( dibawah garis puting bayi)

Gambar 4. Lokasi untuk memberikan tekanan dada

h9991484_001

http://www.webmd.com/parenting/baby/cpr-for-infants-positioning-your-hands-for-chest-compressions

  • Berikan 5 kali tekanan dada. Penolong melakukan kompresi setidaknya sepertiga dari kedalaman dada, atau sekitar 4 cm. Lakukan kompresi dengan menggunakan 2 jari.
  • Tekanan dada ini dilakukan dengan pasti dan lihat respon setiap kali setelah melakukan tekanan.

Tekanan perut pada anak usia lebih dari 1 tahun:

  • Berdiri atau pangku anak dari belakang. Letakkan tangan dibawah lengan anak dan lingkari pinggangnya
  • kepalkan tangan diantara umbilikus dan xiphosternum
  • Dekap tangan yang dikepalkan, dan tarik dengan kuat ke arah atas dan dalam

Gambar 5. Cara melakukan Tekanan Abdominal pada anak.

CRC_abdominal_thrusts_standing

http://www.merckmanuals.com/media/professional/figures/CRC_abdominal_thrusts_standing.gif

Gambar 6. Lokasi melakukan tekanan perut

fig5-2

http://www.medtrng.com/cls2000a/lesson_5_perform_first_aid_to_cl.htm

  • Dapat diulangi hingga 4 kali
  • Pastikan tidak menekan prosesus xiphoideus atau iga bawah karena dapat menyebabkan trauma
  • Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengatasi sumbatan jalan napas, sehingga dapat dihentikan bila sumbatan sudah teratasi

Setelah melakukan tekanan perut atau dada, periksa kembali kondisi anak:

  • Jika objek tidak dapat dikeluarkan dan anak masih sadar, lanjutkan tepukan punggung dan tekanan perut (pada bayi kurang dari 1 tahun) atau abdominal (pada bayi lebih dari 1 tahun)
  • Panggil, atau kirim pesan, untuk mencari bantuan jika pada saat itu bantuan belum datang
  • Jangan tinggalkan anak pada kondisi ini

Jika objek dapat dikeluarkan, perhatikan kondisi klinis anak. Perhatikan apakah masih ada kemungkinan ada bagian dari objek tersebut yang masih tertinggal di saluran napas, karena hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi.

Bila anak tersedak dan tidak sadar atau menjadi tidak sadar, lakukan tindakan penyelamatan resusitasi jantung paru seperi yang diterangkan di halaman berikut ini. Jangan lupa hubungi tenaga kesehatan medis untuk pertolongan lebih lanjut.

Titania Nur Shelly, dr, MARS

 ibu dari 2 anak sholeh dan ceria

Referensi:

  1. Wier LM, Yu H, Owens PL, Washington R. Overview of Children Emergency Department, 2010. In: Healthcare cost and Utilization Project. Statistical Brief #157; 2013. p. 5. diunduh dari: http://www.hcup-us.ahrq.gov/reports/statbriefs/sb157.pdf (Rabu, 25 Maret 2015).

  2. Richard J,Leeds M, Kidsafe WA. Child Injury Overview 2012. diunduh dari: https://www.iccwa.org.au/useruploads/files/child_injury_review_and_consultation.pdf. (Rabu 25 Maret 2015).

  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Protect the Ones You Love: Child Injuries are Preventable. Atlanta: 2012. diunduh dari: http://www.cdc.gov/safechild/NAP/background.html. (Rabu, 25 Maret 2015).

  4. Department of Health. Choking Prevention for Children. Revised: July, 2014. diunduh dari: https://www.health.ny.gov/prevention/injury_prevention/choking_prevention_for_children.htm (Rabu, 25 Maret 2015)

  5. American Academy Pediatrics. Choking Prevention and First Aid for Infants and Children. 2006. diunduh dari: http://www.huntsvillepediatrics.com/images/choking_2009_aap.pdf. (Kamis, 26 Maret 2015)

  6. Resusication Council (UK). Paediatric Basic Life Support. In: Resucitation Guidelines 2010. Diunduh dari: https://www.resus.org.uk/pages/pbls.pdf. (Jumat, 27 Maret 2015)

  7. Berg MD, Schexnayder SM, Chameides L, et al. Prom the American Academy of Pediatrics Special Report Pediatric Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. PEDIATRICS Journal; 2010:126. diunduh dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/126/5/e1345.full (Sabtu, 28 Maret 2015)

  8. Gupta, RC. Choking. Reviewed: September 2014. Diunduh dari: http://kidshealth.org/kid/watch/er/choking.html#.

Waktu Kadaluarsa Obat yang Telah Dibuka

Saat demam, badan menggigil, kepala pusing dan seakan tertiban reruntuhan gedung, dengan sempoyongan saya pun pergi ke lemari penyimpanan obat. Alhamdulillah, ada banyak sekali obat disana. Berbagai obat tersimpan rapi sejak menikah dan mempunyai anak 3 tahun yang lalu. Dengan sedikit meraba-raba sambil menahan penatnya kepala, akhirnya saya menemukan obat dengan gambar wajah yang sama sakitnya dengan saya sekarang ini, berjudul parasetamol dengan penjelasan untuk sakit kepala. Setelah mencari tanggal expire date, dan akhirnya tidak ketemu karena telah terobek dan hilang, akankah saya langsung meminumnya?

Menyimpan obat merupakan hal yang hampir dilakukan oleh orang tua di rumah. Beberapa memang sengaja dibeli untuk persediaan kondisi darurat, yang lain mungkin saja merupakan sisa obat yang diresepkan dokter pada beberapa waktu lampau. Sebagian besar orang yang menyimpan obat tentunya memiliki sumber panutan untuk menentukan apakah obat yang tersedia di rumah itu masih layak digunakan atau tidak, dan biasanya yang menjadi rujukan adalah tanggal kadaluwarsa atau expire date, yang biasanya tertera di kotak obat. Nah, tetapi kerap kali obat-obatan yang sudah digunakan tidak ditemukan lagi tulisan waktu manufaktur ataupun waktu kadaluarsanya karena sudah terobek saat penggunaan sebelumnya. Lalu bagaimana menentukan apakah obat tersebut masih layak dikonsumsi? Dan apa sebenarnya arti dari tanggal kadaluarsa itu sendiri?

expired-drugs

Menurut Guidance NHS, Sheffield Clinical Commision Group dan Berkshire East Care Home Prescribing Suppor Pharmacist, definisi dari expire date atau tanggal kadaluarsa adalah suatu waktu dimana produk farmasi (obat) sudah dalam kondisi yang tidak efektif untuk digunakan.(1,2) Dengan kata lain, obat tersebut sudah berada pada akhir masa dimana spesifikasi potensi dan parameter penting lainnya sudah tidak sama seperti pada saat awal diproduksi. Penggunaan obat yang melewati tanggal kadaluarsa akan menghasilkan kadar zat aktif obat yang lebih rendah, dapat menyebabkan ketidaknyamanan pengguna obat, atau bahkan dapat membahayakan bagi tubuh.(3) Pada obat yang telah kadaluarsa, tidak dapat dipastikan kondisi zat-zat yang aktif didalam obat tersebut. Sehingga, lebih baik untuk tidak menggunakan obat yang sudah melampaui masa kadaluarsa yang tertera pada label obat.

Namun demikian, apakah kondisi kadaluarsa hanya bergantung pada tanggal yang tertera pada label obat saja? Tanda tanggal kadaluarsa manufaktur yang tertera di kontainer obat merupakan tanggal kadaluarsa pada obat yang belum dibuka(1). Pada saat dibuka, obat sudah tidak berada pada kondisi lingkungan yang sama lagi, sehingga kemungkinan dapat terjadi perubahan-perubahan pada obat. Beberapa perubahan yang dapat terjadi pada obat adalah(3):

1. Degradasi
Tanggal kadaluarsa bergantung pada kondisi penyimpanan yang spesifik dan juga masing-masing obat memiliki kecepatan perubahan (dekomposisi) yang berbeda-beda. Sebagai contoh, obat amoksilin dalam bentuk suspensi (bubuk yang dicairkan dengan larutan) memiliki masa kadaluarsa 14 hari bila diletakkan pada temperature ruangan (25 derajat Celsius), sedangan tablet kombinasi trimetroprim/sulfametoxazol memiliki ketahanan hingga 5 tahun bila diletakkan pada suhu dibawah 30 derajat Celsius.

Yang termasuk pada proses degradasi antara lain hidrolisis, oksidasi dan degradasi oleh cahaya.(3) Namun demikian, meskipun semua faktor yang menyebabkan degradasi berhasil dikontrol (obat aman dari hal-hal yang dapat menyebabkan degradasi), pada kenyataannya degradasi pasti akan terjadi, namun dengan lebih lambat.

Hidrolisis

Kecepatan hidrolisis dipengarusi oleh keberadaan air dan dapat dikurangi dengan mengurangi paparan dengan air. Sebagai contoh, antibiotik amoksisilin memiliki beberapa bentuk sediaan, yang hampir kesemuanya pasti pernah diresepkan oleh dokter, yaitu tablet, kapsul, sirup bubuk (yang belum diberi air) dan injeksi (obat suntik). Seluruh sediaan itu paling tidak memiliki masa tenggang sekitar 2 tahun sebelum kadaluarsa. Namun demikian, setelah sirup bubuk diberi air (setelah diresepkan, tentunya obat-obatan dibuat di apotek menjadi bentuk yang dapat langsung dikonsumsi, misalnya sirup bubuk langsung dibuat menjadi sirup cair), masa tenggang obat tersebut tinggal 14 hari pada penyimpanan di suhu ruangan (25 derajat Celsius). Bila obat disimpan pada kondisi udara yang panas, maka masa tenggang obat tersebut dapat menjadi berkurang drastis hingga 7 hari saja.

Sedangkan untuk obat injeksi (obat suntik), Setelah dibuka harus langsung digunakan. Hal ini dikarenakan pada sirup yang telah dibuat cair telah dibuat sedemikian rupa sehingga pH didalam sirup cair tersebut dapat meminimalisir hidrolisis (pH buffer), sedangkan pada amoksisilin injeksi merupakan cairan tanpa adanya pH buffer.

Oksidasi dan fotodegradasi 

Sebagian obat bereaksi dengan oksigen, sehingga dengan hanya dibuka (sehingga obat berinteraksi dengan udara bebas yang mengandung oksigen) dapat menyebabkan degradasi. Biasanya, obat-obat ini akan dibuat dengan sediaan cair dalam bentuk ampul. Memang oksigen dapat berada diatas cairan yang berada di ampul, namun pada pembuatannya, oksigen ini akan ditarik keluar sehingga bagian atas cairan didalam ampul akan menjadi hampa udara.

Pada cairan injeksi, control pada pH dan dijauhkan dari cahaya dapat mengurangi oksidasi. Sedangkan pada obat berbentuk tablet, seperti chlorpromazine, bentuk penyimpanan obatnya diberi warna untuk memberi proteksi terhadap cahaya

2. Kontaminasi
Beberapa obat tetes, seperti obat tetes mata, setelah dibuka berisiko untuk terkontaminasi oleh kotoran atau bahkan bakteri/virus di udara. Oleh karena itu, disarankan untuk sebaiknya tidak mengunakan obat tetes mata bersama-sama dan setelah dibuka sebaiknya diletakkan di dalam refrigerator (kulkas) dan tertutup rapat untuk menghindari kontaminasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan waktu kadaluarsa terdapat perbedaan antara obat yang belum dibuka dan yang sudah dibuka, dan juga bergantung pada kondisi penyimpanan. Memang terkadang sering menimbulkan kebimbangan mengenai apakah obat yang sudah pernah dikonsumsi sebelumnya masih dapat digunakan dikemudian hari bila sakit kembali. Apabila obat telah dibuka sebelumnya, sebaiknya tidak disimpan terlalu lama dan sebaiknya diletakkan di lemari pendingin. Berikut adalah tabel waktu yang disarankan untuk penyimpanan obat yang telah dibuka sebelumnya:

Tabel Kadaluarsa yang Disarankan sejak Tanggal dibuka(1,4)

Formulasi/BentukWaktu Kadaluarsa yang disarankan setelah dibuka (kecuali di cantumkan oleh produsen obat dan masih belum mencapai tanggal kadaluarsa manufaktur)Alasan
krim/ointment1 bulanKandungannya terpapar dan dapat terkontaminasi
Krim/ointment yang dituang dari wadah yang lebih besar1 bulan atau lihat saran manufakturMemindahkan wadah dapat menyebabkan kontaminasi
Krim yang dibuat untuk individualTanyakan pada saran farmasi yang memberikanBergantung pada stabilitas produk
krim/ointment berbentuk tube3 bulanKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Pack penyimpan dengan pompa untuk krim/ointmentBerdasarkan simbol kadaluarsa manufakturKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Tablet/kapsul dalam sistem dosis monitoring (dimasukkan ke dalam wadah harian)2 bulanTidak ada tanda yang tercetak untuk MDS
Tablet/kapsul/cairan yang dimasukkan ke dalam wadah/ botol farmasi6 bulan sejak dipindahkan atau tanyakan pada saran farmasiBergantung pada stabilitas obat
Pak bagian dari tablet/kapsul yang masih pada kemasan, manufaktur pada pak aslinyaBerdasarkan tanggal kadaluarsa yang tertera. Bila tidak ditemukan, tanyakan pada farmasiKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Bila tidak ada tanggal kadaluarsa yang tertera pada kemasan, ada risiko bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa
Cairan oral pada wadah aslinya6 bulan, kecuali ditetapkan oleh manufakturPaparan cairan terhadap lingkunagn pada saat pengukuran dosis dapat menyebabkan kontaminasi
Tetes/ ointment mata, telinga, hidung1 bulan ( hingga 3 bulan untuk tetes hidung dan telinga4)Rekomendasi manufaktur
Inhaler (obat hirup)Berdasarkan tanggal kadaluarsa manufakturKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Insulin4 minggu untuk insulin vial dan pen, kecuali dipaparkan oleh manufakturPenutup steril sudah terbuka dan mungkin disimpan diluar pendingin

Beberapa hal penting dalam penyimpanan obat:

  • Simpan obat-obatan dalam wadah/pack aslinya
  • Simpan obat-obatan dalam kotak terluarnya, untuk melindungi dari cahaya matahari
  • Semua obat disimpan dalam suasana dingin (dibawah 25 derajat Celsius) dan tempat yang kering, kecuali diharuskan disimpan di lemari pendingin
  • Tanggal kadaluarsa dapat berubah setelah dibuka pertama kali
  • Catat tanggal pertama kali obat dibuka dan perhitungan kadaluarsa berdasarkan lama masa tenggang obat setelah dibuka dan tempelkan pada obat
  • Jangan gunakan obat yang telah mencapai tanggal kadaluarsa
  • Simpan sesuai rekomendasi manufaktur
  • Perhatikan tanggal kadaluarsa sebelum obat digunakan.
  • Cuci tangan sebelum menggunakan obat berbentuk krim/lotion
  • Obat-obatan sebaiknya digunakan hanya untuk 1 orang, terutama berbahan krim, tetes mata/telinga/hidung, dan juga lotion. Jangan menggunakan obat bersama-sama.

Titania Nur Shelly, dr.,MARS

Referensi:

  1. NHS, Sheffield clinical Commisioning Group. Good Practice Guidance for Care Homes – Expiry dates. 2013.
  2. Bilal, S. Care Home Prescribing Support Pharmacist. In: NHS, Berkshire East Good Practice Guidance 4: Expire Dates for Medication. Issue date: Dec 2012. Review date: Dec 2014.2.
  3. Dawson, M. Expiry Dates. Aust Prescr;17.1994. 46-8.
  4. NHS, Oxfordshire Clinical Commissioning Group. Good Practice GuidanceQ: Guidance on the Expiry Dates and Storage of Medicine in Care Homes (with or without Nursing). Date of Review: Nov 2014
  5. Health Quality and Safety Commision New Zealand. Medicine Expiry Dates- What do They Mean?. In: Medication Safety Watch: Issue 5, February 2013. 1.

Sholat Menyenangkan Bersama Anak

Sebagai seorang ibu, tentunya setiap melakukan sesuatu tidak terlepas dari hubungannya dengan anak tercintanya, termasuk beribadah. Beberapa hari yang lalu, aku mengikuti pengajian di salah satu masjid besar di bilangan blok M Jakarta. Pengajian dimulai pada pukul 10.00 dan berakhir setelah sholat zhuhur. Karena bertepatan dengan sholat, tentunya aku mengikuti sholat berjamaah, dengan konsekuensi kemungkinan anakku, naren yang berusia 1 tahun, akan nangis. Tapi mau bagaimana lagi, sholat adalah kewajiban yang harus ditunaikan bagiku, dan karena tidak punya nanny, jadi naren tidak bisa dititipkan.

 
Dan benar saja, seusai rakaat ke 2 (note: sholat dzhuhur terdiri dari 4 rakaat), naren mulai menangis kencang. Akhirnya, aku memutuskan melanjutkan sholat sendiri dengan pertimbangan bisa lebih cepat dibandingkan sholat berjamaah. Sesudah sholat, aku pun berbincang dengan ibu-ibu di sebelah. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya bisa saja sholat dengan menggendong anak lho. Dan kondisi itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw yang pernah menggendong cucunya. Wah, mendengar pernyataan tersebut aku akhirnya jadi tertarik untuk tahu lebih lanjut bagaimana ya caranya. Sebenarnya sebelumnya udah pernah denger-denger sih tentang beginian, cuma belum kebayang aja cara mengerjakannya gimana ya.
 
Selidik punya selidik, dari nanya-nanya offline dan mencari-cari via online, akhirnya nemu juga ilmu-ilmu menarik yang menurutku sih penting jadinya buat ibu-ibu rempong kayak aku, yang ngurus anak sendiri tanpa nanny. Jadi ya sodara-sodara, mengenai menggendong anak saat sholat, terdapat beberapa riwayat: 
 
Telah pasti kabar yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17) (1)
 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) pernah menggendong Umamah binti Zainab, cucu beliau sendiri ketika shalat. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri, beliau menggendongnya lagi. (Riwayat Bukhari dan Muslim) (2)
 
ha­dits yang diriwayatkan Imam Muslim da­lam Shahih-nya:
Dari Abu Qatadah, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW sedang mengimami shalat, sedangkan Umamah binti Abil ‘Ash, ia adalah putri Zainab binti Rasulullah SAW, berada di atas pundak­nya. Maka, apabila sujud, beliau mele­tak­kannya, dan ketika bangun berdiri, be­liau menggendongnya.” (3)
 
Imam Nawawi dalam kitabnya yang men­syarah kitab hadits Shahih Muslim, ber­­kata, “Hadits inilah yang menjadi dalil bagi Madzhab Syafi’i dan ulama-ulama lain yang sependapat tentang bolehnya membawa anak kecil laki-laki atau pe­rem­puan saat shalat, baik shalatnya ter­sebut shalat fardhu maupun sunnah. Bolehnya ter­sebut berlaku bagi imam, makmum, ataupun orang yang shalat sendirian.”
 
Lebih lanjut lagi, menurut Madzhab Syafi’i, kita diperbolehkan membawa anak saat sholat asalkan sang anak tidak membawa najis atau kotoran, baik dengan sepengetahuan kita atau dengan sangkaan kita yang kuat bahwasanya anak tersebut tidak menge­luarkan atau membawa najis. Bila kita yakin atau ada sangkaan yang kuat bah­wa anak tersebut mengeluarkan atau mem­bawa najis, kita tidak boleh meng­gendongnya ketika shalat. Shalatnya batal apabila tetap menggendongnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Qurrah al-‘Ayn bi Fatawa Ismail Az-Zain:
“Bila diketahui anak tersebut mem­bawa najis yang tampak di kulup atau ku­lit luar kemaluannya, shalat orang yang membawanya batal; dan apabila tidak ketahui atau tidak ada sangkaan yang kuat akan hal tersebut, shalat orang yang membawanya tidak batal, karena hukum asalnya anak itu suci (ti­dak membawa najis).” (3)

Wah, ternyata menarik ilmunya. Ternyata beribadah ini bisa juga dengan cara yang menyenangkan untuk semua pihak ya, termasuk anak. Dengan sholat sambil membawa anak, sang anak tentunya akan menjadi pribadi yang lebih tenang dan sebenarnya ini bisa jadi pembiasaan untuk beribadah sedari dini ya. Ini beberapa hasil intip-an googling orang-orang yang gendong anaknya saat sholat:

Tapi penting untuk diingat, bahwa sebelum sholat jangan sampe lupa ganti diaper si baby karena kalau bawa-bawa anak yang membawa najis (pee or pup) malah jadi kita yang batal sholatnya. Hehe, gapapalah rempong sebelum sholat, yang penting aman dan nyaman untuk semua, dan afdhol sholatnya karena ga mikirin anak yang nangis menjerit-jerit selama kita sholat. Oh ya, ini kebetulan dapet gambar buat jadi contoh:

gendong bayi

Semoga dengan segala kemudahan untuk sholat ini jadi semakin meningkatkan semangat kita untuk beribadah bagaimanapun kondisinya.

Titania Nur Shelly,dr

Sumber :