Author Archives: Wendy Sue Swanson

Marah dengan wabah campak 2015 di Amerika

Tadi malam saya menangis saat menonton bagian akhir film The Imitation Game. Alasannya yaitu: film tersebut mengingatkan saya bahwa terkadang sikap kita terhadap satu sama lain sangatlah buruk. Seberapa besar penderitaan yang muncul saat kita tidak memikirkan suatu hal dengan seksama. Film tersebut bukanlah tentang cacar atau vaksinasi, tetapi ketidakadilan yang terjadi di film tersebut memaksa saya di Minggu pagi ini untuk tidak bersama anak-anak saya, melainkan berbagi cerita ini:

Habis sudah kesabaran saya terhadap orangtua yang tidak mau memberikan vaksin terhadap anak-anaknya. Saya malu mengakui bahwa harus ada wabah cacar di Disney terlebih dahulu untuk mengubah saya yang sabar dan sepenuh hati menjadi terbakar amarah dan kecewa. Hari ini saya merasa murka bahwa keluarga yang belum diimunisasi masih juga tidak bersegera mendapatkan vaksin MMR, bahkan saat Superbowl Sunday. Menurut saya, seharusnya mereka segera diimunisasi demi alasan yang “egois” (untuk melindungi diri sendiri) maupun alasan altruisme (untuk orang lain yang bergantung pada mereka). Saya mengharapkan keduanya pada masyarakat.

Coba Anda baca pesan Roald Dahl, penulis Charlie and the Chocolate Factory, pada tahun 1988, tentang kematian anak perempuannya akibat cacar — adalah suatu kegilaan bahwa hal tersebut ternyata masih terjadi saat ini.

Saya merasa sedih bahwa saat ini banyak orang tua di Amerika yang khawatir bayinya terkena cacar. Kemungkinan bayi terkena cacar kecil, namun kemungkinan ini hampir tidak ada jika semua anak di sekitar bayi tersebut telah diimunisasi, sehingga menghasilkan hampir 100% kekebalan kelompok terhadap cacar. Saya marah karena bayi seorang sahabat saya terkena cacar saat usianya masih terlalu muda untuk mendapatkan vaksin MMR. Saya marah saat mengetahui bahwa anak-anak yang semangat mau pergi ke Disneyland setelah transplantasi liver, atau kemoterapi, atau operasi pengangkatan tumor di tulangnya, menjadi takut untuk pergi kesana. Bisakah Anda bayangkan memiliki liver yang tidak berfungsi seperti seharusnya, atau menderita kanker saat masih anak-anak/remaja, kemudian ditambah lagi masalah baru (risiko terkena cacar meningkat) disaat Anda seharusnya bergembira menikmati masa kecil Anda?

Saya marah pada diri saya karena terkadang belum bisa meyakinkan orangtua yang masih takut dan ragu untuk memberikan vaksin MMR ke anaknya. Saya marah karena saya tetap tenang pada saat seharusnya saya lebih agresif. Saat ini saya teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat seorang ibu menertawakan saya, menertawakan keseriusan saya yang ingin memberikan vaksin MMR kepada anaknya supaya anak tersebut terlindungi. Sebagai dokter anak, ibu, advokat, penulis dan juru bicara, seharusnya saya bisa berbuat lebih banyak.

Selama lebih dari 5 tahun, saya telah menulis tentang manfaat dan fakta ilmiah vaksin, serta pentingnya vaksin sebagai pencegahan penyakit. Saya juga telah membahas jarangnya efek samping yang muncul pada pemberian vaksin MMR. Saya juga telah menjelaskan beberapa wabah, betapa tenangnya kita yang sudah diimunisasi, kita bisa sekolah, bepergian jauh kemanapun, bahkan saat wabah, tanpa perlu kuatir tertular. Ada 1 bab khusus di buku saya yang berjudul “Cacar di Amerika.”

Seharusnya tidak ada alasan wabah cacar tahun 2015 ini dapat terjadi. Tidak ada lagi ruang untuk histeria, misinformasi, “kebebasan” dan “kebenaran” dari penelitian yang disalahartikan. Landasan ilmiah dan moralnya sudah jelas: Amerika dinyatakan sudah bebas cacar pada tahun 2000, namun karena banyak orang yang menolak bukti ilmiah dan saran medis, cacar muncul kembali. Wilayah yang tidak terlindungi (menolak vaksinasi) semakin luas. Akibatnya, bayi-bayi, anak-anak yang rentan, remaja, bahkan orang dewasa terinfeksi cacar yang seharusnya sudah musnah. Sangat jarang orang yang sudah divaksinasi terkena cacar.

Saya sangat bangga dengan media yang terus menerus memberitakan wabah cacar ini. Saya telah melakukan banyak wawancara tentang cacar, dimana saya menjelaskan dengan detil mengenai jumlah kasus, risiko cacar, serta kesuksesan vaksin MMR. Di media sosial, saya juga melihat artikel baru tentang cacar setiap beberapa jam. Saya tidak menyertakan data tentang wabah cacar disini karena sebagian besar Anda pasti sudah tahu. Inbox email saya penuh dengan data wabah, padat dengan diskusi para dokter anak tentang bagaimana caranya agar tidak luput mendiagnosis cacar, tidak tertukar dengan adenovirus, serta opini/pertanyaan tentang tantangan dan kekuatiran terhadap pasien-pasien kami yang mungkin tidak terlindungi.

Untungnya saya belum pernah mendapatkan pasien cacar di tempat praktek saya yang sekarang. Saya akan sangat sedih jika mendapatkan pasien cacar, berarti saya telah gagal. Bahkan, jika saya mendapatkan pasien cacar di tempat praktek saya, saya akan menangis tersedu-sedu setelah memeriksa pasien tersebut.

“Meluasnya wilayah yang tidak terlindungi (menolak vaksinasi) padahal orang-orang di wilayah tersebut sangat mampu memberikan vaksin untuk anaknya, merupakan contoh lain yang menunjukkan bahwa sebagai komunitas, kita tidak berbuat baik terhadap sesama. Seharusnya kita bisa lebih baik dari ini.”

Dalam beberapa tahun ini, kita telah melihat banyak contoh perlakuan yang tidak layak terhadap sesama manusia, baik di Amerika maupun di negara lain. Vaksin mencerminkan kesempatan untuk berbuat benar, untuk melindungi diri kita, anak-anak kita, dan juga komunitas yang rapuh di sekitar kita.

Sebuah penerbit koran besar di Amerika menerbitkan sebuah artikel yang menonjolkan pendapat seorang dokter-antivaksin-pseudosains, bahwa vaksin telah menimbulkan wabah. Saat artikel tersebut diterbitkan, popularitasnya meroket. Kita hidup di dunia dimana saya telah menulis tentang ketidakadilan wawancara imunisasi oleh media pada tahun 2011; keadaan saat ini ternyata tidak banyak berubah.

Setelah saya mengirim sebuah tweet kemarin, bahwa saya berpikir akan menulis artikel tentang cacar, seorang sejawat dokter mengatakan “Berjuanglah.” Tweet tersebut telah diretweet berkali-kali. Ini adalah cara saya berjuang, dan ketahuilah bahwa saya masih akan terus berjuang sepenuh hati, berbelas kasih terhadap mereka yang tidak percaya, dengan pembakar semangat yang baru.

 

 

Ditulis oleh Wendy Sue Swanson, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/enraged-by-2015-measles-in-america/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Diana Andarini

Sudahkah Pengasuh Bayi Anda Mendapatkan Vaksin Pertusis?

Sebuah sekolah menengah di Seattle baru-baru ini mengumumkan wabah kecil batuk rejan: 13 siswa didiagnosis dengan pertusis yang dikonfirmasi laboratorium. Tak satu pun dari remaja yang menular saat ini, namun hal ini menjadi pertanyaan menarik tentang bagaimana melindungi anak-anak dan masyarakat kita. Apakah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memastikan pengasuh bayi, pengasuh atau bahkan nenek buyut benar divaksinasi?

Cukup sulit untuk meminta kakek dan nenek untuk memvaksinasikan diri mereka agar dapat melindungi anak bungsu atau balita yang paling rentan. Mungkin juga merupakan tantangan dengan pengasuh tetangga. Saya akan menyarankan Anda untuk hanya mengatakan, “Hei, apakah Anda mendapatkan suntikan 11 tahun dan vaksin flu Anda tahun ini?” Masalahnya, satu kendala mungkin adalah bahwa pengasuh berusia 15 tahun Anda mungkin tidak tahu apakah mereka sudah mendapatkan vaksin Pertusis remaja. Sebagai pengingat, semua anak diberi imunisasi untuk batuk rejan (DTaP) pada usia 2, 4, 6, dan 15 bulan. Mereka kemudian menerima dosis lain pada usia 4. Kemudian dosis tween booster (tembakan Tdap) pada usia 11 tahun.

Banyak remaja mempersiapkan diri untuk pekerjaan besar mengasuh anak dengan mengikuti kelas/kursus. Di kelas, instruktur membantu mereka untuk memastikan apakah mereka akan mendapatkan imunisasi selama kursus berlangsung.

Apa Itu Batuk Rejan?

  • Infeksi bakteri yang sangat menular (pertusis) pada hidung dan tenggorokan menyebabkan “batuk rejan.”
  • Mudah terbawa oleh batuk dan bersin. Gejala muncul 7-10 hari setelah terpapar (rata-rata)
  • Gejala berbeda menurut usia, bayi dan anak kecil mungkin akan memiliki batuk parah atau bahkan berhenti bernapas. Kami sangat khawatir tentang bayi yang baru lahir, bayi muda di bawah usia 2 bulan, tetapi juga mempertimbangkan bayi di bawah usia 6 bulan “berisiko tinggi.”
  • Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa mengalami demam, pilek dan batuk yang parah yang berlanjut menjadi batuk, suara yang “rejan” terdengar dengan batuk, atau bahkan batuk yang berlangsung lebih dari 100 hari (bahkan jika diobati). Pengobatan adalah berupa mencegah penyebaran, bukan batuk.

Apakah Batuk Rejan Adalah Masalah yang Serius?

  • Sangat serius untuk bayi dan anak kecil. Sekitar setengah dari bayi yang mendapatkan batuk rejan masuk rumah sakit. Beberapa akan mengalami gangguan pernafasan parah dan beberapa orang akan mengalami kejadian yang mengancam jiwa saat bernafas.
  • Bisa menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak dan bahkan kematian sangat jarang.

Orang dengan risiko tertinggi:

  • Bayi, ibu hamil, penderita asma
  • Washington State: kami mengalami wabah besar dua tahun lalu. Syukurlah sekarang kasus biasanya antara 184 dan 1026 kasus pada tahun biasa. Sejauh ini, telah terjadi 96 kasus yang dilaporkan tahun ini (sampai 11/8), turun dari 644 yang dilaporkan kali ini tahun lalu. King County memiliki salah satu catatan yang lebih rendah di negara bagian: 3.8 / 100.000 orang (tertinggi adalah Adams County: 60 per 100.000).

Apa yang Orang Tua Perlu Tahu?

Vaksinasi (vaksin DTaP pada anak kecil & Tdap pada usia 11 tahun ke atas) adalah pertahanan terbaik melawan pertusis. Anak-anak yang tidak divaksinasi setidaknya memiliki risiko delapan pertiga lebih besar dibandingkan anak-anak yang sepenuhnya divaksinasi dengan DTaP. Kata “wabah” benar-benar mengajarkan kita bahwa dibutuhkan masyarakat yang sudah divaksinasi untuk melindungi bayi kecil. Sebagian besar data memperkirakan hanya sekitar 4 dari 5 dari kita yang mendapatkan suntikan perlindungan dari batuk rejan sehingga kita bergantung pada orang-orang di sekitar kita untuk diimunisasi agar kita cenderung tidak menyebar. Selama epidemi 2012 di Washington banyak anak dan remaja yang menderita batuk rejan telah diimunisasi. CDC mencatat epidemi Washington yang mengajarkan kita tentang batuk rejan. Meski vaksin pertusis memberikan perlindungan jangka pendek yang bagus, sepertinya imunitas bisa memudar. Data CDC memang mengingatkan kita bahwa mendapatkan suntikan masih merupakan strategi tunggal yang paling efektif, terutama untuk wanita hamil dan kontak bayi.

  • Pengasuh bayi dari segala usia harus tinggal di rumah saat sakit (terutama jika merawat bayi yang baru lahir) jika mereka memiliki gejala batuk atau pilek, terutama jika wabah batuk rejan atau influenza berada di wilayah mereka.
  • Ibu hamil membutuhkan Tdap selama trimester ketiga mereka. Temuan penelitian menyimpulkan, “Tdap selama kehamilan tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan hipertensi pada kehamilan atau kelahiran prematur atau SGA (usia gestasi yang kecil).
  • Dosis satu kali Tdap direkomendasikan untuk semua orang berusia di atas 11 tahun
  • Efek seumur hidup tidak terbukti (efek suntikan berlangsung sekitar 4-12 tahun) namun setelah 5 tahun proteksi moderat tetap ada.
  • Cuci tangan, tutupi batuk, tetap di rumah saat sakit
  • Hindari kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala batuk rejan. Dorong mereka untuk menemui dokter untuk pengobatan jika mereka memiliki batuk yang tidak biasa.

 

 

Ditulis oleh Wendy Sue Swanso, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/has-your-babysitter-had-the-whooping-cough-shot/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Reqgi First Trasia.