Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #2

Fase persalinan dan nifas adalah salah satu tahap menegangkan dalam reproduksi wanita. Embel-embel kata ‘bertaruh nyawa’ pada fase ini bukanlah sekedar isapan jempol, terlebih jika ternyata fase ini tidak dalam prosedur medis seharusnya.

Sebagai negara maju, Jepang tentunya memiliki standar sendiri untuk masyarakatnya yang sedang dalam fase ini. Mulai usia 36 bulan kehamilan, pemeriksaan kehamilan seminggu sekali dilengkapi pemeriksaan CTG (cardiotocography) secara rutin tiap kedatangan, disamping sang ibu mendapatkan edukasi tanda-tanda persalinan dan memastikan sang ibu tahu kemana dia harus pergi atau mengontak unit gawat darurat.

Pada waktunya, persalinan dilakukan oleh 2 penolong, dokter dan ‘bidan’, persalinan normal maupun melalui operasi sessar dilakukan atas indikasi. Satu hal yang membuat penulis merasa kagum adalah bagaimana untuk setiap tindakan mereka berusaha untuk melakukan ‘informed consent’, penjelasan pada pasien tentang prosedur tindakan. Kebanyakan orang Jepang tidak fasih berbahasa Inggris, juga medis dan paramedisnya, tetapi ternyata tidak menghalangi dorongan untuk memberikan komunikasi yang baik pada pasien yang tidak bisa berbahasa Jepang.

Lagi-lagi permasalahan mendapatkan pelayanan yang sama-sama berkualitas menyeruak dalam benak penulis mengingat kondisi di negeri tercinta. Sekalipun berkualitas dan tentu mahal, biaya persalinan disini tertutupi oleh pemberian tunjangan kelahiran yang jumlahnya cukup ‘wah’ untuk ukuran orang Indonesia. Tunjangan ini juga dapat menutupi biaya pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir. Istimewanya, bagi penduduk dengan kategori pendapatan rendah ( termasuk mahasiswa asing yang hidup dari beasiswa) biaya persalinan dapat dipotong hingga 80% dengan tetap mendapat tunjangan sama besarnya.

Pemeriksaan bayi baru lahir juga dilakukan dengan teliti, termasuk diantaranya skrining beberapa penyakit metabolisme. Bayi premature akan mendapat suntikan antibodi untuk melawan respiratory syncytial virus dan mendapat perawatan sampai usianya setara dengan usia kehamilan 37 minggu dengan biaya yang ditanggung oleh asuransi.

Di samping itu, ibu yang telah melahirkan normal dirawat 6 hari di rumah sakit meski tanpa komplikasi. Selama 6 hari sang ibu dapat lebih banyak beristirahat ,mendapat pelatihan perawatan bayi serta cara menyusui dan juga pemeriksaan-pemeriksaan rutin bagi ibu dalam masa nifas.

Saat mengalami semua ini, penulis bersalin di malam hari hanya ditemani suami yang malam itu juga harus pulang, rasanya gamang sekali mengingat keterbatasan bahasa. Tapi, malam itu bahkan ke toilet pun suster mengantar, melayani tanpa rasa jijik. Masih lemas dan sendirian tapi hati sudah lebih tenang, berbagai macam kemudahan membuat penulis percaya pada sistemnya dan juga profesionalitas medis serta paramedisnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *