Bisul Karena Makan Telur, Benarkah?

“Ehh jangan sering-sering beri makan anak makan telur! nanti bisul lho”. Mungkin ayah bunda sering mendengar nasihat seperti ini. Tapi tahukah Andah bahwa sebenarnya anggapan itu hanya mitos belaka 🙂

Secara medis, tidak ada hubungan antara anak yang suka telur dengan bisul yang dialaminya. Bisul sebenarnya sejenis peradangan pada kulit yang mengenai folikel rambut dan kelenjar minyak kulit. Penyebabnya infeksi kuman atau bakteri Staphylococcus aureus. Siapapun, usia berapapun, suka telur atau tidak, bisa terkena bisul. Namun, pada anak-anak, bisul lebih sering menyerang dibandingkan dengan orang dewasa.

webmd_rf_photo_of_boils_illustration
Proses Terjadinya Bisul (http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/ss/slideshow-boils)

Bisul dapat menular jika anak dengan luka goresan bersentuhan kulit dengan penderita bisul. Selain itu, kontak tidak langsung dengan penderita bisul juga bisa jadi penyebab. Misalnya, pemakaian handuk bersama, tempat tidur bersama, pakaian, permainan di area publik, kolam renang, dan sebagainya.
Bisul dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yakni: folikulitis, furunkel, furunkulosis, karbunkel, abses multipel, hidraadinitis, dan skrofuloderma. Meski banyak jenisnya, karena prosesnya mirip, orangpun menganggapnya sama. Yakni, sama-sama bisul. Adapun gejala-gejala bisul itu adalah:

  • Gatal di daerah benjolan dan sekitarnya.
  • Rasa nyeri yang menyertai gatal.
  • Berbentuk kerucut dan ‘bermata’. Biasanya mengeluarkan cairan setelah pecah.
  • Berbentuk bulat dan berkubah, tidak bermata, tanpa disertai rasa nyeri. Bisul jenis ini biasanya terdapat pada kelenjar keringat dan agak sulit pecah spontan.
  • Demam.
boils
Bisul (http://www.medicinenet.com/boils/article.htm)

Tiga faktor yang dapat memicu terjadinya bisul:

  1. Kebersihan lingkungan yang kurang baik. Hal ini menyebabkan banyak kuman beredar di sekitar anak. Selain itu, anak yang jarang dimandikan dan tidak dibiasakan membersihkan tubuh juga rentan terkena bisul.
  2. Udara panas. Sebenarnya bisul merupakan penyakit khas daerah tropis. Udara yang panas menjadikan produksi keringat berlebihan. Keringat inilah yang dapat merangsang tumbuhnya bisul, terutama pada bagian kelenjar keringat.
  3. Menurunnya daya tahan tubuh. Diantaranya disebabkan kurang gizi, menderita anemia, kanker, diabetes, dan beberapa kondisi imunodefisiensi.

Meskipun alergi dan bisul tidak punya kaitan langsung, namun alergi dapat memicu bisul. Anak yang alergi, biasanya gatal dan sering menggaruk-garuk. Akibat garukan itu, muncullah luka goresan yang mudah dimasuki kuman. Lalu timbul bisul.

Begitu anak Anda terkena bisul, segera tangani, jangan menunggu hingga bisulnya ‘matang’ dahulu. Jika bisul ditunggu sampai bernanah, dapat memperparah kerusakan jaringan, kulit pun menjadi berongga. Anda tidak dianjurkan memencet bisul, sebab akan membuat kulit ‘trauma’. Dengan perawatan yang benar selama proses pematangan, bisul biasanya akan pecah sendiri. Lakukanlah perawatan di rumah sebelum dan sesudah bisul pecah. Caranya adalah:

Perawatan sebelum bisul pecah:

  • Tetap jaga kebersihan tubuh anak dengan sering memandikan dan mengeramasi
  • Kompres bisul dengan kain bersih yang telah dicelup air hangat
  • Beri obat penahan nyeri dan penurun panas, seperti paracetamol sirup sesuai dosis. Jika perlu,
  • berikan salep hitam (ichtiol) pada bisulnya.
  • Untuk menghindari penularan, bersihkan tangan Anda setelah merawat bisulnya.
  • Jangan memecahkan bisul
670px-Treat-a-Boil-Step-2-Version-2
http://www.wikihow.com/Treat-a-Boil

Perawatan setelah bisul pecah:

  • Pastikan nanah dan mata bisul keluar semua
  • Berikan salep antiseptic
  • Jaga kebersihan kulit agar kuman dari nanahnya tidak merembet ke bagian tubuh lainnya.
  • Bersihkan tangan dan alat-alat yang terkontaminasi setelah merawat bisulnya.

Sebaiknya, segera bawa anak Anda ke dokter jika:

  •  Anak menderita diabetes
  • Bisul ada di wajah, anus, lipat paha, atau sekitar tulang belakang
  • Memicu demam tinggi dan nyeri yang menyiksa. Bengkak atau perubahan warna kulit dekat bisul.
  • Bisul belum pecah setelah seminggu perawatan
  • Terus kambuh beberapa kali dalam waktu singkat.

Depok, 26 Juni 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 12 Juni 2015

Referensi :
1. Ofir Artzi, et al. 2014. Recurrent Furunculosis in Returning Travelers : Newly Defined Entity. Journal of Travel Medicine
2. Selcuk, Aysegul, et al. 2015. Bacterial Skin Infection : Epidemiology and Latest Research. Turkish Journal of Family Medicine and Primary Care.
3. Serap Gunes, et al. 2013. The Prevalence of Pediatric Skin Diseases in Eastern Turkey. International Journal of Dermatology.
4. Balachandra, et al. 2105. Recurrent Furunculosis Caused by a Community Acquired Staphylococcus Aureus Strain. Microbial Drug Resistance Journal
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 143

Gambar awal diambil dari : http://www.webmd.boots.com/children/ss/slideshow-essential-nutrients

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *