Category Archives: ASI

Amankah Membeli ASI Online?

Tahukah Anda, penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2013 menemukan bahwa membeli ASI di Internet melalui situs berbagi susu (milk-sharing) tidak sepenuhnya aman. Meskipun ASI yang dapat diperoleh melalui situs online dengan gratis atau sangat murah, hal itu mungkin membawa risiko yang berarti bagi bayi. Jelas manfaat ASI sangat luas; Dokter Anak dan ahli kesehatan merekomendasikan untuk menyusui eksklusif sampai usia 6 bulan. Namun, ASI yang diperoleh dari individu yang tidak diketahui (atau hanya diketahui) secara online dapat membawa kontaminasi berupa obat yang dikeluarkan melalui ASI, atau kontaminasi berupa bakteri dan virus. Jika seorang ibu tidak mampu menyediakan cukup ASI untuk bayinya, ia dan suami perlu mengetahui bahwa susu dari penjual online dapat terkontaminasi pada saat pengumpulan dan/ atau selama transportasi. Hal ini dapat berbahaya, terutama untuk bayi yang lahir prematur. Sehingga jika ingin membeli, sebaiknya carilah ASI yang bersertifikasi.

Pada tahun 2010, sebenarnya FDA sudah menyatakan penentangannya dalam praktik pembelian ASI secara online, dengan memperingatkan orang tua mengenai adanya potensi risiko kontaminasi bakteri atau virus, terpapar bahan kimia, pengobatan terapi penyakit, dan obat-obatan terlarang. Penelitian di Amerika Serikat ini kemudian menguatkan hal tersebut: para peneliti mendapatkan bahwa hampir 3/4 dari ASI yang didapat secara online  memiliki kontaminasi bakteri dan 20% sampel dinyatakan positif terinfeksi virus yang bernama CMV (Citomegalovirus). 

Perlu diperhatikan bahwa jumlah bakteri (atau virus) di dalam ASI tidaklah menentukan besarnya risiko infeksi. Sehingga, adanya bakteri dalam sampel ASI tidak berarti bahwa bayi yang mengonsumsinya pasti akan sakit. Berapa umur bayi, jumlah bakteri dalam sampel, dan status kekebalan bayi juga ikut berperan. Namun, ada laporan tentang bayi prematur dan bayi dengan ketahanan tubuh yang rendah (immunodeficiency) yang menjadi sakit parah akibat pemberian ASI yang tidak dipasteurisasi, sehingga bersikap hati-hati itu perlu bagi orang tua yang ingin membeli ASI melalui situs online.

Ditekankan bahwa ASI yang diperoleh dan dipelajari dalam penelitian bukanlah ASI yang berasal dari dari bank susu (milk bank). Himpunan ASI Amerika Utara (Human Milk Banking of North America/HMBANA) melakukan skrining infeksi (seperti HIV) bagi para pendonor ASI dan mempasteurisasi ASI untuk memastikan peningkatan perlindungan keselamatan penerimanya. Yang menjadi masalah bagi banyak keluarga yang tidak mampu memperoleh ASI yang cukup dengan menggunakan bank-bank seperti ini adalah mahalnya harga yang harus dibayar untuk mengganti biaya penanganan, skrining, dan pasteurisasi, yang dapat membuat satu ons ASI saja seharga beberapa dolar!

ASI yang Dibeli Melalui Internet:

  • Para peneliti di Ohio mengumpulkan lebih dari 100 sampel ASI donasi melalui situs ASI online yang tidak disebutkan namanya untuk pengujian. Silakan cari kata kunci “buy breastmilk” untuk beberapa contoh situs jual beli ASI secara online. Dalam penelitiannya, para peneliti memesan, membayar, dan melakukan tes pada ASI diperoleh melalui situs online. Mereka memetakan waktu pengiriman, suhu pada saat kedatangan dan menguji susu-susu tersebut terhadap kontaminasi bakteri dan virus. Pada penelitian itu, 74% air susu yang diperoleh secara online didapati mengandung kontaminasi bakteri pada saat pengujian. Sebagian besar bakteri yang ditemukan dalam susu yang dikumpulkan adalah bakteri gram positif (“staph“) yang hidup di kulit manusia. Tiga sampel ASI yang dikumpulkan terkontaminasi bakteri Salmonela. Sekitar 1 dari 5 sampel yang diuji positif mengandung DNA CMV.
  • Kemungkinan untuk terjadinya kontaminasi bakteri dapat menjadi lebih tinggi dengan semakin lamanya waktu yang dibutuhkan ASI untuk sampai ke tempat tujuan. Meskipun separuh dari sampel tiba dalam waktu dua hari, 12% dibutuhkan tiga sampai enam hari. Setiap tambahan satu hari transit dikaitkan dengan peningkatan total jumlah bakteri. Beberapa penjual ASI mempromosikan diet atau olah raga yang biasa mereka jalani atau tidak menggunakan obat-obatan. Namun, tak satu pun dari klaim ini dapat digunakan untuk memprediksi jumlah bakteri atau adanya virus CMV.
  • Para peneliti membandingkan sampel ASI yang diperoleh secara online dengan sampel air susu yang diperoleh (sebelum pasteurisasi) dari bank susu anggota HMBANA.  Ternyata sampel-sampel yang diperoleh melalui online lebih terkontaminasi secara signifikan dibandingkan ASI yang didapatkan dari bank susu. Peneliti berteori bahwa karena susu yang disumbangkan ke bank susu telah di skrining dan berasal dari wanita yang di skrining dan diberi konseling mengenai teknik pengumpulan yang tepat, mereka dapat mengirimkan susu yang lebih tidak terkontaminasi secara keseluruhan dengan praktik penanganan higienis yang lebih baik.
  • Para peneliti menguatkan pernyataan FDA 2010 akan ASI online: “ASI yang dibeli melalui Internet menunjukkan pertumbuhan bakteri yang tinggi dan seringnya kontaminasi bakteri patogen, yang mencerminkan praktik pengumpulan, penyimpanan, atau pengiriman yang tidak baik.”
  • Penelitian ini sangat bermanfaat sebagai informasi awal tentang ASI yang dibeli melalui Internet. Mayoritas ibu melakukan menyusui bayinya sejak dini (77%), namun tidak semua ibu dapat menghasilkan cukup ASI untuk bayi mereka. Jika Anda seorang ibu yang memiliki tantangan dalam menyediakan stok susu atau mengenal ibu yang memiliki tantangan serupa, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan berkonsultasi dengan konsultan laktasi untuk mendapatkan dukungan dalam meningkatkan produksi susu. Jika keluarga ingin membeli ASI tambahan, penelitian baru ini dan rekomendasi FDA saat ini menyarankan sebaiknya hindari pembelian ASI secara online.

Ditulis oleh Wendy Sue Swanso, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc)

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/buying-breast-milk-online/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Reqgi First Trasia.

 

 

Perlengkapan ASI Eksklusif

Menyusui adalah anugerah bagi setiap ibu. Bisa memberikan ASI secara eksklusif (selama 6 bulan tanpa pemberian makanan lain selain ASI) tentu juga menjadi suatu kesempatan yang berharga dan momen yang indah bagi ibu dan juga sang anak. Proses pemberian ASI ini, memang bisa diberikan secara langsung tanpa bantuan alat apapun. Namun, bagi para ibu yang kadang tidak ada kesempatan untuk menyusui sang buah hati secara langsung, misalnya ibu bekerja, diperlukan perlengkapan ASI untuk mendukung proses pemberian ASI. Lalu, apa saja ya perlengkapan ASI yang ibu butuhkan?

1.Pompa atau alat perah ASI

pigeon-manual-breast-pump-bpa-free-pompa-asi-manual-putih-halloween-promo-8825-635214-1-catalog_233Pompa ASI ini digunakan untuk memompa air susu dari payudara ibu, agar produksinya tetap lancar dan menjaga kuantitasnya agar selalu mencukupi. Di samping itu, dengan memompa secara rutin dapat mencegah tersumbatnya saluran / duktus pada payudara yang memproduksi ASI (blocked ducts). Pompa ASI ini terdiri dari beberapa macam; pompa manual (dioperasikan secara manual dengan tangan), pompa yang dioperasikan oleh baterai, dan pompa elektrik.

Adapun pompa ASI ini dibutuhkan bila:

  • Payudara perlu dikosongkan untuk produksi susu yang lebih baik
  • Payudara ibu bengkak
  • Ibu sedang dalam keadaan sakit sehingga tidak dapat menyusui
  • Ibu dan bayi sedang tidak bersama
  • Susu perlu dikumpulkan untuk keperluan di waktu yang akan datang

Pilihan untuk pompa ASI ini tergantung pada pemakaiannya. Untuk proses memompa yang mudah dan nyaman seperti di rumah, biasanya digunakan pompa yang dioperasikan oleh baterai atau yang elektrik, dimana sumber listrik atau tempat re-charge dapat dengan mudah dijangkau. Sementara ketika bepergian, para ibu biasanya lebih memilih pompa manual karena lebih praktis, tidak berisik, dan dapat diatur menyerupai refleks menyusui natural bayi sehingga lebih mudah untuk mendapat let-down reflex.

2. Niplette / Penarik Puting

SCF152_02-IMS-en_USAlat ini biasanya digunakan untuk membantu ibu dengan puting payudara yang datar atau terbalik. Ini dapat menarik puting dengan lebih nyaman untuk persiapan menyusui. Penting untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi sebelum menggunakan alat ini, sehingga setelah melahirkan sang bayi, ibu bisa menyusui dengan sukses tanpa kendala.

3. Nipple Shields / Perisai Puting

downloadAdapun kegunaan alat ini adalah untuk melindungi puting dan meminimalisir rasa sakit ketika menyusui karena adanya luka atau puting pecah. Biasanya tersedia bahan latex atau karet silicon tergantung kenyamanan ibu. Keadaan yang mendukung pemakaian alat ini adalah terdapatnya luka pada puting, puting datar atau terbalik yang menyebabkan bayi sulit mendapatkan perlekatan menyusui yang benar, dan menahan aliran ASI terlalu deras ketika bayi menyusui.

4. Tempat Penyimpanan ASI Perah (Cooler Bag)

download (1)Bagi ibu yang bekerja, tas ini merupakan sesuatu yang penting demi kenyamanan dan keleluasaan dalam bekerja namun tetap lancar dalam mengupayakan pemberian ASI eksklusif untuk sang buah hati. Tas ini merupakan pengganti kulkas sementara untuk menyimpan hasil perahan ASI dan dengan selamat membawanya kembali ‘pulang’ tanpa perlu es atau sambungan listrik tertentu. Tas ini ibarat ‘sahabat’ bagi ibu bekerja yang menyusui. Sangat berguna untuk selalu dibawa bepergian dan cukup untuk menampung satu pompa ASI dan lima botol penyimpanan ASI perah sekaligus. Banyak desain yang dapat ditemui untuk tas ini dan kebanyakan sangat fashionable, sehingga kadang orang tidak akan menyadari kita membawa alat-alat penting untuk ASI.

5. Breast Pads / Bantalan Payudara

imagesBantalan ini tersedia dalam bentuk sekali pakai atau dapat dicuci kembali, yang dirancang untuk mencegah kebocoran atau pakaian yang basah karena ASI yang melimpah. Alat ini terdiri dari lapisan penyerap dari bahan yang lembut untuk melindungi puting dan dapat memberikan aliran udara yang baik untuk menjaga kulit tetap kering. Cara pemakaiannya cukup dengan menyelipkannya pada bra untuk menyerap ASI yang melimpah atau kadang keluar melalui proses let-down reflex.

6. Botol Penyimpanan ASI

04-botol-kaca-asi-tutup-karet1Alat ini juga sangat penting bagi ibu bekerja yang tidak dapat memberikan ASI secara langsung kepada bayinya. Setelah diperah, ASI dapat disimpan di botol khusus ini. ASI perahan ini dapat disimpan di kulkas bawah sampai dengan 24 jam atau dapat disimpan di freezer untuk waktu yang lebih lama, sampai dengan 3 minggu. Untuk menggunakan kembali ASI yang sudah beku, dapat dicairkan terlebih dahulu dengan diletakkan dalam wadah yang berisi air hangat. Atau untuk cara yang lebih cepat dan aman, dapat digunakan pemanas khusus untuk botol susu bayi yang juga dijual di pasaran. Hindari pemakaian microwave karena dapat merusak nutrisi dan antibodi yang terdapat pada ASI.

7. Botol Susu yang BPA-Free

3FhECNNnaRAda kalanya ibu dan bayi harus berjauhan karena kondisi tertentu, misal ketika ibu bekerja, sehingga tidak dapat menyusui secara langsung. Untuk proses pemberian ASI perah itu sendiri, ada banyak pilihan yang dipilih oleh para ibu, diantaranya ada yang menggunakan cup feeder dan ada juga yang menggunakan botol. Yang penting untuk diperhatikan adalah botol yang dipakai bayi untuk menyusui tidak mengandung bahan BPA (bisphenol-a) yang merupakan bahan kimia yang biasa terdapat pada produk seperti plastik. Memilih botol susu yang tepat juga penting agarbayi tetap dapat mengembangkan kemampuan mengisap dari payudara ibu dengan baik.

Nela Fitria Yeral, dr.

08/16/2016

Referensi

  1. Dr. Lai Fon Min. ET AL. Pregnancy & Babycare Guide Vol.13 (page 172-173): Essential Tools of Breastfeeding. March 2012.
  2. ASI Terbaik untuk Bayi [Internet]. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Available from: http://aimi-asi.org
  3. Pumping & Milk Storage [Internet]. U.S. Department of Health and Human Services. Available from: https://www.womenshealth.gov/publications/our-publications/breastfeeding-guide/breastfeedingguide-general-english.pdf

Ingin Donor ASI? Baca Dulu Syaratnya!

Donor ASI sepertinya sudah tidak asing lagi dikalangan para ibu. Ibu yang produksi ASI nya sedikit biasanya menjadi konsumen dari ibu yang memiliki stok ASI berlebih. Terlebih lagi bagi para ibu yang tidak ingin cepat-cepat beralih ke susu formula. Sehingga, tidak heran bila komunitas donor ASI di internet atau media sosial menjadi marak. Namun, berbagi ASI bukan berarti anak mendapatkan manfaat 100% dari ASI tanpa terhindar dari risiko penyakit. Jadi, amat penting bagi ibu untuk berhati-hati sebelum menjadi donor atau konsumen dari donor ASI tersebut.

Manfaat vs Risiko Donor ASI

ASI sudah tidak diragukan lagi menjadi makanan pertama dan utama bagi bayi. Manfaatnya tidak bisa disaingi dengan susu formula atau susu instan lainnya. Namun, saat bayi tidak bisa mendapatkan ASI langsung dari payudara ibu, terdapat beberapa alternatif dari ASI yang dapat dipertimbangkan. Dalam The Global Strategy for Infant and Young Child Feeding disebutkan tingkatan alternatif ASI ialah :1

  1.  ASI yang diperah dari payudara ibu
  2. ASI dari ibu sapih yang sehat atau susu dari bank ASI yang dipasteurisasi
  3. Pengganti ASI seperti susu formula

Di Indonesia, sayangnya bank ASI belum ada. Sehingga, banyak para ibu yang berinisiatif membuat komunitas donor ASI di internet atau mencari ibu susu secara langsung. Namun, orangtua perlu berhati-hati. Donor ASI bisa jadi membawa resiko yang lebih besar daripada manfaatnya apabila ibu tidak memperhatikan kesehatan pendonor dan pengelolaan hasil ASI perah secara seksama. Beberapa risiko donor ASI misalnya :

  1. Kontaminasi dengan penyakit. Air susu ibu dapat menjadi media penularan penyakit pada bayi dari ibu yang mengidap Human T-Cell Leukaemia Viruses (HTLV 1 dan 2), HIV dan Cytomegalovirus (CMV). Khusus untuk kontaminasi CMV di ASI, kuman ini baru akan menimbulkan masalah apabila ASI diberikan pada bayi yang prematur. 2
  2. Kontaminasi dengan obat. Obat atau bahan kimia yang dikonsumsi ibu dapat terdeteksi di ASI. Beberapa obat ini dapat mempengaruhi kesehatan janin. 2
  3. ASI  yang tidak murni lagi. Penelitian dari Keim dkk menyebutkan bahwa sebagian besar ASI yang didapatkan dari internet sudah dicampur dengan susu sapi, terkontaminasi dengan bahan kimia atau bakteri.3
  4. Kurang higienis. Pendonor ASI yang kurang paham cara menangani ASI perah bisa saja malah bisa mengantarkan kuman penyakit ke ASI yang hendak diberikan. Penelitian menyebutkan bahwa terdapat kuman berbahaya akibat pengelolaan ASI perah yang kurang higienis seperti Kleibsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Stahylococcus aureus, Bacillus dan Grup B Streptococcus.2

Pertimbangan Lain

Bagi ibu yang beragama Islam, mungkin perlu lebih hati-hati dalam memilih donor ASI. Pasalnya, menyusui bayi orang lain memiliki konsekuensi hukum tersendiri yaitu menjadi haram untuk dinikahi. Dua kelompok yang menjadi haram dinikahi karena persusuan yaitu ibu yang menyusui serta nasabnya ke atas dan anak dari ibu yang menyusui (saudara sepersusuan).4

Langkah Memilih Donor

Sebagai orangtua yang bijak, tentu tidak salah apabila bersikap ekstra hati-hati dalam memilih donor ASI. Meskipun kita sudah kenal baik dengan calon ibu susu, tetap pertimbangkan kesehatan pendonor juga pengetahuan dalam mengelola ASI tersebut.

Di negara maju yang telah memiliki bank ASI, calon ibu yang hendak menjadi donor terlebih dahulu dilakukan penapisan atau skrining. Sedangkan di Indonesia yang belum ada bank ASI, skrining bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan atau skrining mandiri. Adapun syarat awal yang perlu dipenuhi ibu bila hendak mendonorkan ASI ialah: 5–8

  1. Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan
  2. Sehat dan tidak mempunyai larangan untuk menyusui
  3. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  4. Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ dalam 12 bulan terakhir
  5. Tidak merokok atau menggunakan terapi nikotin
  6. Tidak mengkonusmsi alkohol
  7. Tidak mengkonsumsi narkoba
  8. Tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi.
  9. Bukan pengguna vitamin dosis besar atau obat-obatan herbal. Obat/suplemen herbal harus dinilai dulu efeknya terhadap ASI
  10. Bukan vegetarian murni yang tidak mengkonsumsi suplemen vitamin B 12
  11. Tidak menggunakan implan payudara
  12. Tidak menggunakan tato/body piercing
  13. Tidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2
  14. Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah)

Bila ibu sudah memenuhi kriteria tersebut, ibu masih perlu melakukan beberapa tes agar ASI yang diberikan terjamin aman dari penyakit berbahaya. Pemeriksaan meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi prematur). Bila ada keraguan terhadap status pendonor, tes skrining ini dapat dilakukan tiap tiga bulan.

Setelah dua tahapan ini dilakukan, baik pendonor atau penerima ASI perlu dibekali cara pengelolaan ASI agar tetap dalam keadaan higienis dan bebas penyakit.

Manajemen Donor ASI

Dari Pendonor

  • Sebelum memerah ASI, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersih
  • Sebaiknya ASI diperah menggunakan tangan. Namun, penggunaan pompa ASI juga tidak apa-apa.
  • ASI perah harus disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan polypropylene atau polycarbonate, botol bayi gelas atau plastik standar (perhatikan tata cara penyimpanan ASI)
  • ASI perah dari ibu pendonor perlu dibekukan secepatnya untuk menjaga nutrisi dan kualitas ASI. Bila tidak memungkinkan (misalnya karena kulkas penuh), ASI yang diperah masih bisa dibekukan dalam 24 jam.
  • ASI harus dalam keadaan beku sampai didonorkan
  • Sebaiknya donor mengecek temperatur kulkas secara berkala (Standar beku tidak lebih dari -20°Celcius )
  • Berikan label pada setiap wadah ASI5,7,8
Penyimpanan Donor ASI

Penyimpanan Donor ASI

Penerima ASI
Setiap ASI yang diterima dari donor perlu dipanaskan khusus untuk mengurangi resiko infeksi. Terlebih lagi bila ASI akan diberikan pada bayi prematur. Ada 3 cara mengurangi resiko penularan penyakit dari ASI (termasuk HIV) yang cukup mudah dilakukan, yaitu :2,5,6

1. Pasteurisasi Holder
Susu dipanaskan di suhu 62.5oC selama 30 menit. Cara ini dapat menonaktifkan virus HIV dengan mempertahankan unsur kekebalan dari ASI. Metode ini paling banyak digunakan di bank ASI karena membutuhkan termometer khusus.

2. Flash heating
Metode ini paling umum dalam pencegahan HIV melalui ASI karena cukup mudah dilakukan. Caranya, ASI sebanyak 50-150 ml diletakkan dalam wadah kaca tertutup berukuran 450 ml. Lalu, buka tutup wadah dan letakkan wadah kaca dalam pemanas susu (Hart Pot) berukuran 1 liter. Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci. Didihkan air. Sesaat setelah muncul gelembung, matikan panci dan pindahkan wadah dari sumber panas. Diamkan ASI sampai suhunya siap untuk diminum bayi.

01-flash-heating1

3. Pasteurisasi Pretoria
Tempatkan 50-150 ml ASI ke dalam wadah kaca berukuran 450 ml. Tutup wadah dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 liter. Tuangkan air mendidih 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci. Tunggu selama 30 menit lalu pindahkan susu sampai suhunya siap diminum bayi atau disimpan dalam kulkas.

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

01/13/2016

Referensi

1. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. WHO [Internet]. 2003; Available from: www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/en/index.html
2. Gribble KD, Hausman BL. Milk sharing and formula feeding: Infant feeding risks in comparative perspective? Australas Med J. 2012 May 31;5(5):275–83.
3. Keim SA, McNamara KA, Dillon CE, Strafford K, Ronau R, McKenzie LB, et al. Breastmilk Sharing: Awareness and Participation Among Women in the Moms2Moms Study. Breastfeed Med. 2014 Oct;9(8):398–406.
4. Donor ASI dalam Fikih Islam [Internet]. Republika Online. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/05/22/noqm0f6-donor-asi-dalam-fikih-islam
5. Donor ASI [Internet]. IDAI. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi
6. Donor ASI; Kapan dan Bagaimana? | AIMI – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia [Internet]. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://aimi-asi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/
7. Government of Canada HC. Safety of Donor Human Milk in Canada – Health Canada [Internet]. 2014 [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://www.hc-sc.gc.ca/fn-an/nutrition/infant-nourisson/human-milk-don-lait-maternel-eng.php
8. Donor breast milk banks overview – NICE Pathways [Internet]. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://pathways.nice.org.uk/pathways/donor-breast-milk-banks/donor-breast-milk-banks-overview#path=view%3A/pathways/donor-breast-milk-banks/donor-breast-milk-banks-overview.xml&content=view-index

Manfaat ASI bagi ibu

Manfaat ASI bagi Ibu

ASI sudah tidak diragukan lagi bermanfaat bagi bayi. Kualitas ASI tidak bisa ditandingkan dengan susu apapun. Lebih hebat lagi ternyata memberikan ASI bukan hanya bermanfaat bagi bayi tetapi juga bermanfaat bagi ibu. Selain dapat menghemat pengeluaran rumah tangga, manfaat ASI ternyata sangat besar terhadap kesehatan ibu sesaat setelah melahirkan bahkan  jangka panjang. Berikut ini beberapa manfaat ASI bagi ibu yang perlu ibu ketahui.

Manfaat ASI Bagi Ibu Sesaat setelah melahirkan

1. Mempercepat penyembuhan rahim setelah melahirkan. Saat menyusui, tubuh ibu mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi untuk menimbulkan kontraksi rahim yang nantinya mengurangi pendarahan dan mempercepat rahim kembali ke ukuran semula. Selain itu, ibu juga dapat terhindar dari resiko anemia dan infeksi paska salin.

2. Mengurangi depresi setelah melahirkan. Depresi paska melahirkan (baby blues) cukup sering dialami para ibu meskipun ibu telah merasa siap memiliki anak. Emosi negatif setelah melahirkan seperti sedih, khawatir, menangis tanpa alasan, merasa gagal, dsb bisa saja muncul dari perubahan hormonal drastis pasca melahirkan. Selain itu, adanya status baru, perasaan lelah setelah melahirkan dan datangnya anggota keluarga baru, serta kesulitan saat menyusui juga dapat menimbulkan perasaan ini. Penelitian menyebutkan bahwa kejadian depresi paska melahirkan meningkat pada ibu yang tidak menyusui bayinya atau yang menyapih terlalu cepat. Jadi, mungkin dapat disimpulkan bahwa menyusui dapat membantu mengurangi kejadian depresi pada ibu yang baru melahirkan.

3. Menjalin ikatan batin atau bonding antara ibu dan bayi. Hormon menyusui seperti oksitosin dan prolaktin memiliki efek positif terhadap hubungan emosional ibu dan bayi. Selain itu, sentuhan kulit ibu dan bayi selama menyusui juga dapat mempererat ikatan batin antara keduanya. Hal ini selaras dengan penelitian yang membuktikan bahwa kasus penelantaran atau kekerasan anak lebih rendah pada ibu yang memberikan ASI daripada yang tidak,

4. Menyusui diduga dapat menurunkan berat badan setelah hamil. Proses menyusui membutuhkan energi yang didapat dari pembakaran kalori ibu. Sehingga, amat logis bila ibu yang menyusui berat badannya lebih cepat turun daripada yang tidak menyusui. Pada penelitian yang melibatkan lebih dari 14000 ibu paska melahirkan ditemukan bahwa ibu yang menyusui lebih dari 6 bulan berat badannya lebih rendah 1,38 kg daripada yang tidak menyusui.

5. Menunda kehamilan secara alami. Memberikan ASI eksklusif dapat menunda kembalinya siklus menstruasi pada ibu. Hal ini disebabkan isapan bayi saat menyusui merangsang hormon prolaktin yang mana dapat menurunkan hormon pencetus ovulasi pada ibu (hormon GnRH, FSH, LH). Sehingga, kesuburan ibu cenderung rendah saat memberi ASI eksklusif.

Manfaat ASI Bagi Ibu Jangka Panjang

1. Menurunkan risiko diabetes bagi ibu yang sebelumnya sehat. Dengan menyusui, resiko terjadinya diabetes mellitus pada ibu yang sebelumnya sehat dapat berkurang. Bila ibu menyusui, resiko DM Tipe 2 akan turun sebanyak 4-12% setiap tahun selama ibu menyusui.

2. Menurunkan risiko diabetes bagi ibu yang mengidap diabetes saat hamil. Bagi ibu yang menderita diabetes saat hamil (diabetes gestasional), ada berita yang amat baik bila ibu memberi ASI. Saat ini telah diketahui bahwa ibu yang menderita gestasional diabetes resikonya 7x lebih besar dapat berlanjut menjadi Diabetes Mellitus tipe 2 beberapa tahun setelah melahirkan. Namun, tidak perlu khawatir. Penelitian terbaru membuktikan bahwa menyusui dapat menurunkan resiko DM Tipe 2 dalam 2 tahun setelah melahirkan sampai separuhnya pada ibu yang mengalami gestasional diabetes. Perlu diingat bahwa penurunan resiko ini tergantung dari intensitas menyusui.

3. Menurunkan resiko kanker payudara dan ovarium. Kanker payudara dan ovarium termasuk kanker yang ditakuti karena dapat berakibat fatal bagi wanita. Ternyata kanker ini dapat dicegah salah satunya dengan menyusui. Menyusui lebih dari 12 bulan telah terbukti menurunkan resiko kanker ovarium dan kanker payudara sampai 28%.

Manfaat ASI bagi ibu

4. Menurunkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Hasil penelitian yang melibatkan lebih dari 139.000 wanita paska menopouse membuktikan bahwa menyusui selama 12-23 dapat menurunkan resiko yang signifikan terhadap penyakit hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi dan serangan jantung daripada yang tidak pernah menyusui. Laporan dari Nurse’s Health Study menunjukkan bahwa ibu yang menyusui selama total dua tahun dalam hidupnya lebih rendah resikonya terkena penyakit jantung koroner daripada yang tidak pernah menyusui.

5. Menurunkan resiko terkena penyakit rheumatoid arthritis. Rheumatoid arthritis ialah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh penderita menyerang sendi-sendi kecil yang sehat. Gejalanya berupa nyeri dan pembengkakan sendi pada jari-jari tangan dan kaki. Penyakit ini lebih banyak diderita wanita terutama yang berusia di atas 40 tahun. Salah satu fakta menarik dari ASI dan kaitannya dengan penyakit rheumatoid arthritis didapatkan dari Nurses Health Study. Pada penelitian ini disebutkan bahwa semakin lama ibu memberi ASI selama hidupnya, semakin rendah resiko terkena penyakit ini.

Ternyata manfaatnya banyak sekali ya… Semoga setelah ini para ibu jadi lebih semangat memberi ASI sesuai kebutuhan si kecil. Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr. 

12/12/2015

Referensi

1. Section on Breastfeeding. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics. 2012 Mar;129(3):e827–41.
2. Benefits of Breastfeeding for Mom [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Dec 12]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/breastfeeding/Pages/Benefits-of-Breastfeeding-for-Mom.aspx
3. Breastfeeding Overview [Internet]. WebMD. [cited 2015 Dec 12]. Available from: http://www.webmd.com/parenting/baby/nursing-basics
4. Breastfeeding. J Obstet Gynecol Neonatal Nurs. 2015 Jan 1;44(1):145–50.
5. Gunderson EP, Hurston SR, Ning X, Lo JC, Crites Y, Walton D, et al. Lactation and Progression to Type 2 Diabetes Mellitus After Gestational Diabetes MellitusA Prospective Cohort StudyLactation and Incidence of Diabetes After GDM. Ann Intern Med. 2015 Nov 24;N/A(N/A):N/A – N/A.
6. Leading nursing journal finds mothers and babies benefit from skin-to-skin contact [Internet]. EurekAlert! [cited 2015 Dec 12]. Available from: http://www.eurekalert.org/pub_releases/2014-11/w-lnj111114.php
7. Richard J Schanler, MD. Maternal and economic benefits of breastfeeding. Uptodate. 2015 Nov 18;
8. Staff LS. Moms Gain Health Benefits From Breast-Feeding, Too [Internet]. LiveScience.com. [cited 2015 Dec 12]. Available from: http://www.livescience.com/18708-breastfeeding-health-benefits-moms-women.html
9. Vekemans M. Postpartum contraception: the lactational amenorrhea method. Eur J Contracept Reprod Health Care Off J Eur Soc Contracept. 1997 Jun;2(2):105–11.
10. Mayo Clinic Staff. Rheumatoid arthritis. Mayo Clin [Internet]. 2014 Oct 29; Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rheumatoid-arthritis/basics/definition/con-20014868

Kebutuhan ASI dari Waktu ke Waktu

ASI sudah tidak diragukan lagi amat bermanfaat bagi ibu dan bayi. Lembaga kesehatan dunia sepakat untuk merekomendasikan ASI ekslusif untuk bayi 0-6 bulan dan tetap meneruskan ASI sampai 1-2 tahun.1–4Namun, sebagai ibu yang baru menyusui mungkin pernah bertanya-tanya mengenai kebutuhan ASI yang tepat untuk bayi. Terlebih lagi saat hari-hari pertama ASI yang keluar masih amat sedikit. Tidak jarang ibu menjadi panik dan takut kebutuhan ASI bayi tidak tercukupi.

Jangan Terburu-buru memberi Susu Formula

Ibu mungkin berpikir bahwa bayi yang baru lahir membutuhkan nutrisi yang banyak. Proses persalinan yang melelahkan, suplai nutrisi dari plasenta yang sudah diputus setelah bayi lahir, dan berat badan bayi yang turun mungkin membuat ibu khawatir bayi tidak mempunyai stok energi yang cukup dalam tubuhnya. Terlebih lagi bila ibu melihat bayi menangis kencang, pertanda ia mungkin lapar atau haus. Sebagai ibu, tentu secara naluri bisa dipahami bila ibu ingin memberi susu bayi cepat-cepat untuk menenangkan anak. Tapi, ibu tidak perlu khawatir. ASI yang sedikit ini sesuai dengan kebutuhan bayi yang masih sedikit juga.

Kebutuhan ASI Pada Bayi yang Menyusui Langsung dari Payudara

Mungkin ibu pernah bingung bagaimana menilai kebutuhan ASI dari bayi yang menyusui langsung dari payudara. Pasalnya, kita sulit mengukur berapa ASI yang keluar saat disusui bayi. Namun, ibu tidak perlu khawatir. Bayi ialah makhluk luar biasa yang telah dibekali insting oleh Tuhan untuk bisa bertahan hidup. Secara alami, bayi yang sehat bisa mengatur sendiri kebutuhan nutrisinya tanpa intervensi. Produksi ASI juga akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Jadi, tugas ibu ialah mengetahui tanda ia lapar dan segera hadir ketika ia butuh untuk menyusui.

Bulan pertama kehidupan bayi ialah masa yang paling kritis dalam menyusui. Hal ini disebabkan berhasil atau tidaknya menyusui ditentukan pada masa ini. Penelitian membuktikan bahwa ibu paling banyak menyerah menyusui pada hari ke 7 karena kesulitan menyusui pada bayi dan hari ke 14 karena ASI yang sedikit. Sehingga, amat dianjurkan bagi ibu untuk membuka diri terhadap konseling menyusui terutama di hari-hari pertama setelah ibu melahirkan.5

Kebutuhan ASI Minggu Pertama

Dalam minggu pertama, ibu dapat menghasilkan kolostrum dari 30 ml per hari menjadi 300-360 ml ASI transisi. Kapasitas lambung bayi juga berubah dari yang hanya bisa menampung 5-10 ml ASI sekali menyusui menjadi 30-45 ml. Pada minggu pertama ibu harus menyusui bayi kapanpun ia menunjukkan tanda-tanda lapar (on demand) atau 4 jam berikutnya dari menyusui terakhir. Sehingga, kalau dihitung, rata-rata bayi menyusui 8-12 kali dalam 24 jam. Menyusui secara on demand bisa menjadi cara komunikasi bayi pada ibu bahwa ia mengerti dan bisa mengatur kebutuhannya. Selain itu, keuntungan menyusui secara on demand ialah :

Bagi ibu :

  • Meningkatkan kesuksesan laktasi
  • Menurunkan resiko breast engorgement

Bagi bayi :

  • Memperpanjang durasi menyusui
  • Menurunkan keparahan kejadian kuning pada bayi

Sehingga umumnya menyusui berdasarkan jadwal tidak dianjurkan. Namun, pada kondisi tertentu, bayi mungkin perlu dibangunkan untuk menyusui terlebih lagi bila berat badannya tidak naik sesuai yang diharapkan. Lama menyusui pada bayi baru lahir bervariasi dari 10-15 menit. Bila bayi menyusui lebih dari 30 atau 45 menit, sebaiknya ibu cek lagi apakah proses menyusui sudah efektif atau belum. Tidak perlu ragu untuk menghubungi bidan, konselor ASI atau dokter.

Ibu juga dianjurkan untuk menyusui selang-seling dari dua payudara. Maksudnya, ibu ingat-ingat dari payudara mana yang terakhir bayi menyusui supaya saat menyusui selanjutnya, ibu mulai dari payudara yang belum disusui. “Mengosongkan” kedua isi payudara membantu tubuh untuk memproduksi ASI untuk kedua payudara tersebut hingga optimal. 5–8

Kebutuhan ASI dari waktu ke waktu

Panduan Ibu Menyusui

Secara lebih mendalam, berikut ini perubahan perilaku menyusui bayi dari hari ke hari.

Kebutuhan ASI Hari Pertama-ketiga

Pada hari pertama sampai ketiga, ASI ibu masih berupa kolostrum. Kolostrum yang dihasilkan setara dengan kemampuan lambung bayi menampung ASI. Pada masa ini, stimulasi sentuhan pada payudara ibu sangatlah penting. Stimulasi ini paling efektif dihasilkan dari rangsangan mulut bayi pada payudara ibu. Hasil dari rangsangan ini dapat memperbanyak reseptor prolaktin pada payudara yang nantinya mempengaruhi jumlah ASI yang diproduksi tubuh ibu.

Pada hari pertama kehidupan, kapasitas lambung baru sebesar kelereng. Ibu dan bayi juga sama-sama sedang belajar cara menyusui. Kolostrum yang dihasilkan ibu kira-kira jumlahnya 0-5 ml atau sekitar 1-4 sendok teh saat pertama keluar. Beberapa jam kemudian, produksi kolostrum bisa meningkat dari 7-123 ml/hari tergantung dari kemampuan menyusui ibu dan bayi.

Berilah ASI secara on demand (sesuai dengan keinginan bayi) dari kedua payudara. Saat ini, bayi menyusui sekitar 3-8 kali/hari dengan durasi 10-15 menit pada tiap proses menyusui. Bayi rata-rata membutuhkan 7 ml (sekitar 1 sendok the) tiap kali meyusui.

Hari ke dua dan tiga, produksi kolostrum meningkat. Tetap beri ASI secara on demand (sesuai dengan keinginan bayi) dari kedua payudara. Saat ini bayi menjadi lebih sering menyusui yaitu sekitar 5-10 kali/hari. Pada hari kedua, bayi membutuhkan sekitar 14 ml (kurang dari 3 sendok teh) tiap menyusui. Sedangkan pada hari ketiga, rata-rata bayi minum ASI sekitar 38 ml tiap kali. 5–7,9,10

Kebutuhan ASI Hari Keempat

Produksi ASI meningkat menjadi 395–800 ml per hari. Beri ASI secara on demand (sesuai dengan keinginan bayi) dari kedua payudara. Sama seperti hari sebelumnya, saat ini bayi menyusui sekitar 5-10 kali/hari dengan jumlah ASI sekitar 58 ml/kali tiap pemberian.5,6,10

Kebutuhan ASI Hari ke lima

Produksi ASI meningkat. Beri ASI secara on demand dari kedua payudara. Saat ini bayi menjadi lebih sering menyusui sekitar 8-12 kali/hari. 5–7,10

Kebutuhan ASI Hari ke tujuh

Pada akhir minggu pertama bayi semestinya bisa menyusui paling tidak 10 menit pada tiap payudara sampai kosong tiap 2-3 jam. Rata-rata bayi menyusui sekitar 65 ml ASI tiap kalinya. 5–7,10

Kebutuhan ASI Minggu ke 2-4

Sejalan dengan penambahan usianya, bayi jadi lebih handal menyusui. Hal ini menyebabkan bayi menjadi lebih jarang menyusui dengan durasi menyusui yang lebih pendek. Pada minggu ke empat, rata-rata bayi menyusui 7-9 kali/hari. Bayi juga menjadi lebih cepat saat menyusui yaitu sekitar 8-10 menit.

Pada minggu ke 2-3, lambung bayi bisa menampung kira-kira 60-90 ml tiap menyusui, dengan total 600-750 ml konsumsi ASI per hari. Pada minggu ke 4, bayi bisa menampung 90-120 ml tiap menyusui, sekitar 750-1050 ml/hari. Pada akhir bulan, ibu dapat memproduksi ASI rata-rata 1100 ml/hari dan jumlah ini relatif tetap sampai akhir periode menyusui. 5,6,11

Kebutuhan ASI Bulan ke 1-6

Saat ini, bayi membutuhkan sekitar 960 ml (32 ons) per hari. Pada bulan pertama, bayi dapat menampung 120 ml tiap menyusui dengan kapasitas lambung yang terus bertambah seiring dengan usianya. Frekuensi bayi menyusui dari 1-3 bulan berkurang tetapi bayi dapat meminum ASI lebih banyak dari tiap sesi menyusui. Durasi menyusui juga cenderung tetap dari usia 3-6 bulan. 5

Kebutuhan ASI Selama Growth Spurts (Lonjakan Pertumbuhan)

Ibu mungkin akan merasa di beberapa waktu, bayi lebih lapar dari biasanya. Hal ini bisa jadi bayi berada di masa growth spurts atau lonjakan pertumbuhan. Saat growth spurts, berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala bayi akan bertambah lebih cepat dari biasanya. Ia juga mungkin akan bisa melakukan kemampuan baru yang sebelumnya ia tidak bisa.

Masa growth spurts pada bayi mungkin bisa bervariasi. Namun, para ahli percaya bahwa growth spurts rata-rata terjadi pada saat usia bayi:

  • Dua minggu
  • Tiga minggu
  • Enam minggu
  • Tiga bulan
  • Enam bulan

Saat growth spurts ini, bayi biasanya akan makin semangat menyusui. Bayi bisa menyusui bahkan tiap 30 sampai 60 menit dan menetek lebih lama. Pola menyusui yang lebih sering ini hanya bersifat sementara. Ibu juga tidak perlu khawatir tentang ASI kurang. Saat masa growth spurts ini, produksi ASI ibu akan otomatis menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Setelah melalui masa growth spurts, bayi akan kembali ke pola menyusui yang biasa demikian juga produksi ASI. 5,12,13

Kebutuhan ASI Setelah 6 bulan

Setelah 6 bulan, Ibu dianjurkan untuk tetap meneruskan ASI on-demand sampai 1-2 tahun dengan menambah MP ASI secara bertahap. Hal ini disebabkan ASI tetap menyumbangkan nutrisi yang signifikan meskipun bayi sudah diberi makanan tambahan. Memang produksi ASI dan daya tampung ASI di payudara ibu sedikit berkurang. Namun, ibu masih tetap memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup banyak. . Berikut ini perkiraan kebutuhan ASI setelah bayi lebih dari 6 bulan. 14,15

  • 4-6 bulan. Bayi memerlukan ASI sekitar 840-960 ml per hari dengan frekuensi menyusui sekitar 4-6 kali/hari
  • 7-9 bulan. Bayi memerlukan ASI sekitar 900-960 ml per hari dengan frekuensi menyusui sekitar 3-5 kali/hari
  • 10-12 bulan. Bayi memerlukan ASI sekitar 720-900 ml per hari dengan frekuensi menyusui sekitar 3-4 kali/hari.

Semoga informasi ini bermanfaat ya ayah bunda.. Selamat menyusui 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

Telah di review oleh Viranda Putri Mariska, dr. (konselor ASI)

12/07/2015

Referensi
1. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. WHO [Internet]. 2003; Available from: www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/en/index.html
2. Committee on Health Care for Underserved Women, American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Committee Opinion No. 361: Breastfeeding: maternal and infant aspects. Obstet Gynecol. 2007 Feb;109(2 Pt 1):479–80.
3. Section on Breastfeeding. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics. 2012 Mar;129(3):e827–41.
4. U.S. Preventive Services Task Force. Primary care interventions to promote breastfeeding: U.S. Preventive Services Task Force recommendation statement. Ann Intern Med. 2008 Oct 21;149(8):560–4.
5. Linda Dahl. The Progression of Nursing. In: Clinician’s Guide to Breastfeeding Evidenced-based Evaluation and Management. Switzerland: Springer; 2015. p. 47–56.
6. Promoting Breastfeeding Victorian Breastfeeding Guidelines [Internet]. Melbourne: Department of Education and Early Childhood Development; 2014. Available from: http://www.education.vic.gov.au/childhood/Pages/default.aspx
7. Richard J Schanler, MD, Debra C Potak, RN, BSN, IBCLC. Initiation of Breastfeeding. Uptodate. 2015 Sep 9;
8. Breastfeeding FAQs: How Much and How Often. Available from: http://kidshealth.org/parent/pregnancy_newborn/breastfeed/breastfeed_often.html#
9. admin. Breastfeeding | Ministry of Health and Medical Services [Internet]. [cited 2015 Dec 4]. Available from: http://www.health.gov.fj/?page_id=1697
10. Emma Dufficy. How much milk does my baby need in the first few days? Babycenter [Internet]. 2013 Dec; Available from: http://www.babycentre.co.uk/x553873/how-much-milk-does-my-baby-need-in-the-first-few-days#ixzz3tbKEOiE4
11. Authors, Richard J Schanler, MD. Initiation of breastfeeding. Uptodate. 2015 Sep 9;
12. Timing of breastfeeding: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. [cited 2015 Dec 7]. Available from: https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/patientinstructions/000636.htm
13. Baby growth spurts. Babycenter [Internet]. 2015 Jan; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a25012757/baby-growth-spurts
14. Feeding Guide for the First Year. John Hopkins Med [Internet]. Available from: http://m.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/pediatrics/feeding_guide_for_the_first_year_90,P02209/
15. PAHO. GUIDING PRINCIPLES FOR COMPLEMENTARY FEEDING OF THE BREASTFED CHILD [Internet]. WHO; 2003. Available from: http://www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/a85622/en/

Perubahan ASI dari Waktu ke Waktu

Setelah buah hati lahir, ASI akan keluar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Namun, ibu tidak perlu heran bahwa susu ibu yang dihasilkan tidak langsung berwarna putih dan melimpah. Susu yang dikeluarkan ibu akan berubah dan bertambah secara bertahap. Terdapat tiga tahapan perubahan ASI dari waktu ke waktu, yaitu kolostrum, susu transisi dan susu matur (susu yang matang). Produksi ASI juga meningkat secara bertahap dari sejak lahir sampai usia 4-6 minggu. Setelah itu, produksinya akan menetap. 1–3

Perubahan ASI : Bentuk

Susu yang pertama diproduksi ibu setelah bayi lahir ialah kolostrum. Kolostrum ialah susu yang dihasilkan ibu mulai dari kehamilan sampai beberapa hari setelah melahirkan. Ciri-ciri cairan kolostrum ialah kental, berwarna kekuningan dan diproduksi dalam jumlah sedikit. Kolostrum ini amat bermanfaat untuk bayi karena mengandung komponen kekebalan tubuh dari ibu seperti IgA, lactoferrin dan sel darah putih. Selain itu, kolostrum amat tinggi kandungan proteinnya, vitamin larut lemak dan mineral.

Perubahan ASI

Perubahan ASI

Dalam dua sampai empat hari setelah melahirkan, asi yang berwarna putih mulai keluar. Susu ini bernama susu transisi. Susu peralihan ini memiliki kandungan di antara kolostrum dan susu putih yang “matang”. Susu transisi mengandung lemak yang tinggi, laktosa dan vitamin larut air. Kalorinya juga lebih tinggi daripada kolostrum.

Pada 4-6 minggu pertama bayi lahir, susu ibu berubah menjadi susu matur (susu matang). Susu ini mengandung 90% air untuk memenuhi kebutuhan cairan bayi. Sedangkan 10% lagi berupa karbohidrat, protein dan lemak yang dibutuhkan untuk sumber energi dan tumbuh kembang. Susu matur ini terbagi menjadi 2 jenis, foremilk dan hindmilk.

  • Foremilk ialah susu pertama yang keluar saat bayi mengisap payudara ibu. Foremilk mengandung air, vitamin dan protein.
  • Hindmilk keluar setelah foremilk diisap bayi. Hindmilk mengandung lemak yang tinggi untuk menambah berat badan bayi. Kedua susu ini berperan penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.

Semua bentuk ASI ialah aset yang penting dari ibu untuk bayi. Sehingga, salah bila ada anggapan selain susu matur, susu ibu perlu dibuang.

Perubahan ASI : Jumlah

Produksi ASI (kolostrum) hari pertama dan kedua amat sedikit. Kira-kira sebanyak 1-4 sendok the per hari. Namun, ibu tidak perlu khawatir. Kolostrum yang sedikit ini sesuai dengan kebutuhan bayi. Lambung bayi pun masih hanya sebesar biji kelereng. Pastikan saja ia selalu disusui ketika ia merasa lapar. Hari-hari berikutnya, produksi ASI akan terus meningkat. Pada hari ke 5, produksi ASI menjadi 500 ml. Minggu kedua ASI menjadi 600-690 ml. Bulan ke 3-5 kira-kira ASI yang dihasilkan 750 ml per hari. 4

Perubahan ASI : Volume

Perubahan ASI : Volume

Produksi ASI menyesuaikan dengan kebutuhan bayi dan makanan tambahan selain ASI. Penelitian membuktikan bahwa pada ibu yang melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD/kontak kulit dengan kulit saat bayi lahir) dan rawat gabung, produksi ASI paling banyak dihasilkan daripada yang tidak. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk melakukan IMD dan rawat gabung setelah lahir agar bayi dapat menyusui secara on-demand atau sesuai dengan keinginan bayi. Bila bayi mendapat tambahan makanan selain ASI (misalnya susu formula), maka kebutuhan bayi akan ASI berkurang. Hal ini juga dapat berakibat pada penurunan produksi ASI. 5

Agustina Kadaristiana, dr.

12/04/2015

Referensi

  1. Breastfeeding: Overview [Internet]. American Pregnancy Association. [cited 2015 Dec 4]. Available from: http://americanpregnancy.org/breastfeeding/breastfeeding-overview/
  2. Maria Mexitalia. Air Susu Ibu dan Menyusui. In: Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. I. IDAI; 2011. p. 85.
  3. Ballard O, Morrow AL. Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors. Pediatr Clin North Am. 2013 Feb;60(1):49–74.
  4. Neville MC, Allen JC, Archer PC, Casey CE, Seacat J, Keller RP, et al. Studies in human lactation: milk volume and nutrient composition during weaning and lactogenesis. Am J Clin Nutr. 1991 Jul;54(1):81–92.
  5. Bystrova K, Widström A-M, Matthiesen A-S, Ransjö-Arvidson A-B, Welles-Nyström B, Vorontsov I, et al. Early lactation performance in primiparous and multiparous women in relation to different maternity home practices. A randomised trial in St. Petersburg. Int Breastfeed J. 2007 May 8;2:9.

Gambar diambil dari : Admin. Breastfeeding | Ministry of Health and Medical Services [Internet]. [cited 2015 Dec 4]. Available from: http://www.health.gov.fj/?page_id=1697 dan http://kellymom.com/ages/newborn/when-will-my-milk-come-in/

Bolehkah Bayi Minum Air Putih?

Tidak jarang kita temui orangtua atau pengasuh yang sering mencicipi air putih pada bayi. Mungkin karena khawatir bayi masih haus dan ASI belum keluar banyak. Padahal, pada bayi yang diberikan ASI ekslusif tidak disarankan untuk diberi air putih. Hati-hati ya, ayah bunda, pemberian air putih pada bayi kurang dari 6 bulan bisa berbahaya untuk bayi.

Mengapa bayi minum air putih berbahaya?

Berbeda dengan anak atau orang dewasa, bayi yang diberi ASI tidak perlu air putih sebagai minuman tambahan meskipun cuaca panas atau anak sedang sakit. Memberi air putih pada bayi dapat meningkatkan resiko terkena diare, keracunan air atau malnutrisi. Air putih yang Anda berikan bisa saja mengandung kuman yang membawa penyakit pada bayi. Karena sistem kekebalan tubuh bayi masih rentan, bayi menjadi lebih mudah terkena diare atau muntah.

Selain itu, bila Anda memberi air terlalu banyak, bayi bisa mengalami ‘keracunan air’. Hal ini disebabkan ginjal bayi belum berkembang secara sempurna. Air putih yang terlalu banyak dapat menurunkan konsentrasi Natrium di dalam tubuh. Penurunan konsentrasi Natrium ini akan mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh dan menyebabkan sel menjadi bengkak. Sebagai akibatnya, aktivitas di otak bisa terganggu yang ditandai bayi menjadi gelisah, mudah mengantuk, kejang-kejang bahkan koma.

Air putih terlalu banyak dapat membuat sel bengkak

Air putih yang terlalu banyak dapat menyebabkan sel bengkak

Pemberian air putih pada bayi juga dapat membuat perut bayi kembung dan terasa penuh. Hal ini dapat membuat bayi menjadi kurang semangat untuk minum ASI. Bila bayi menjadi lebih jarang minum ASI, produksi ASI dari ibu juga bisa menurun. Selain itu, minum air terlalu banyak juga dapat mengganggu penyerapan nutrisi bayi dari ASI. Lama-kelamaan, bayi dapat mengalami malnutrisi atau kurang gizi.

ASI saja sudah cukup

Nutrisi pertama dan utama bagi bayi 0-6 bulan ialah ASI. Ayah bunda tidak perlu khawatir karena bayi tidak akan dehidrasi apabila hanya diberi ASI. Ayah bunda juga perlu ingat bahwa 80% kandungan ASI ialah air. Jadi, ia tidak perlu diberi minuman tambahan seperti air putih atau jus. Keuntungan lain dari memberi ASI ialah bayi akan mendapat sistem kekebalan tubuh dari ibu melalui ASI.

Pada kondisi di mana bayi tidak bisa minum ASI, susu formula bisa menjadi alternatif. Namun, pemberian susu formula juga tidak bisa sembarangan. Ayah ibu perlu perhatikan betul mengenai kebersihan air dan botol. Pemberian air putih untuk melarutkan susu formula juga harus sesuai dengan petunjuk masing-masing produk.

Bila bayi ibu sakit seperti diare atau kurang gizi, dokter mungkin akan memberi obat tetes, sirup vitamin atau mineral, atau cairan rehidrasi oral seperti oralit. Cairan-cairan ini aman diberikan untuk bayi namun hanya pada kondisi tertentu dengan petunjuk dokter dan dengan tetap meneruskan ASI.

Kapan bayi boleh minum air putih?

Bayi bisa diberikan air putih bila sudah memasuki usia 6 bulan. Saat ini bayi sudah semakin besar dan kebutuhan nutrisinya semakin meningkat. Sehingga pada usia ini, bayi sudah boleh diberi makanan atau minuman sebagai tambahan dari ASI.

Semoga informasi ini bermanfaat ya Ayah Bunda..

Agustina Kadaristiana, dr.

11/30/2015

Referensi

1. Drinking water can be harmful to smallest babies. Reuters [Internet]. 2008 May 21 [cited 2015 Nov 30]; Available from: http://www.reuters.com/article/2008/05/21/us-water-babies-idUSCOL16728820080521
2. Giving Water to a Baby [Internet]. [cited 2015 Nov 30]. Available from: http://www.whattoexpect.com/first-year/feeding-your-baby/giving-water-to-baby.aspx
3. pediatrician SRD. When can babies drink water? [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Nov 30]. Available from: http://www.babycenter.com/408_when-can-babies-drink-water_1368488.bc
4. WHO | Why can’t we give water to a breastfeeding baby before the 6 months, even when it is hot? [Internet]. WHO. [cited 2015 Nov 30]. Available from: http://www.who.int/features/qa/breastfeeding/en/

Tanda Bayi Cukup ASI

Saat pertama menyusui, ibu mungkin pernah merasa khawatir apakah ASI yang ibu berikan cukup. Terlebih lagi saat produksi ASI belum terlalu banyak di hari-hari pertama ia lahir. Lalu, bagaimana tanda bayi cukup ASI?

Tanda Bayi Cukup ASI

Tanda Bayi Cukup ASI

Tanda Bayi Cukup ASI

Menilai cukup atau tidaknya buah hati Anda mendapat ASI sebenarnya amat mudah. Secara kasat mata, bayi yang cukup ASI akan terlihat aktif, ceria, sehat, kulit yang segar dan kencang juga tumbuh dengan baik. Namun, untuk penilaian yang lebih pasti, Ayah bunda perlu memperhatikan produksi ASI, kondisi bayi, pola ia menyusu, berat badan serta pola buang air kecil dan besar. Berikut ini uraian mengenai tanda bayi cukup ASI yang perlu ayah bunda ketahui.

  1. Produksi ASI. Ayah ibu tidak perlu khawatir apabila hari pertama ASI Anda tidak banyak karena kebutuhan nutrisi bayi Anda juga masih sedikit. Teruslah berusaha menyusui saat bayi terlihat lapar. Selang 2-4 hari setelah melahirkan biasanya produksi ASI akan mulai melimpah. Payudara Ibu akan bertambah besar, berat, lebih hangat dan seringkali ASI menetes dengan sendirinya. Ini merupakan salah satu ciri produksi ASI cukup.
  2. Pola menyusui bayi. ASI ialah nutrisi pertama dan utama pada bayi. Sehingga, pada minggu pertama wajar bila bayi Anda sering menyusui. Salah satu tanda bayi cukup ASI ialah bayi menyusui 8-12 kali sehari dengan perlekatan yang benar secara teratur minimal 10 menit pada tiap payudara. Bayi juga akan tampak puas setelah menyusu dan seringkali tertidur saat menyusu terutama pada payudara yang kedua. Setelah bayi semakin besar, ia semakin handal untuk mengisap ASI. Jadi wajar apabila setelah minggu pertama frekuensi menyusui semakin berkurang menjadi 7-9 kali sehari dengan durasi yang lebih sebentar.
  3. Buang Air Kecil. Tanda bayi cukup ASI juga bisa dilihat dari apa yang ia keluarkan. Normalnya, bayi baru lahir akan buang air kecil >6x sehari dengan kencing berwarna jernih dan tidak kekuningan. Kencing yang berwarna pekat atau keluar butiran halus kemerahan bisa jadi menjadi tanda bayi Anda mengalami dehidrasi karena kurang ASI. Pee-Chart
  4. Buang Air Besar. Pola buang air besar juga bisa menjadi tanda bayi cukup ASI atau tidak. Bayi di bawah 1 bulan yang sehat umumnya akan buang air besar >4x sehari dengan volume paling tidak 1 sendok makan dan bukan hanya berupa noda membekas pada popok bayi. Feses berwarna kekuningan dengan terdapat butiran-butiran putih susu (seedy milk). Bila setelah hari ke 5 feses bayi masih hitam seperti ter (mekonium) atau hijau kecoklatan, mungkin ini tanda salah satu bayi kurang mendapat ASI. Anda tidak perlu khawatir bila bayi Anda buang air besar setiap kali menyusui. Hal ini merupakan perkara normal dan biasa terjadi. poo-changes
  5. Berat badan. Pada hari-hari pertama kehidupan bayi, normal apabila berat badan bayi turun sekitar 5-7% dari berat badan lahir. Namun, penurunan berat badan ini biasanya akan terhenti pada hari ke lima. Setelah itu, berat badan bayi akan perlahan naik dan kembali seperti berat lahir pada usia 10-14 hari setelah lahir. Bila bayi Anda mendapatkan cukup ASI, berat badannya tidak akan turun lebih dari 10% di hari-hari awal. Selain itu, berat badan bayi akan naik 15-40 gram per hari dengan ASI setelah minggu pertama.
  6. Hati-hati dengan nyeri puting. Puting payudara akan terasa sedikit sakit pada hari-hari pertama menyusui. Apabila sakit ini bertambah setelah 5-7 hari disertai dengan lecet, ibu perlu berhati-hati. Pasalnya, ini merupakan tanda bahwa bayi tidak melekat dengan baik saat menyusui. Apabila tidak segera ditangani, maka hal ini dapat menurunkan produksi ASI dan mengurangi kecukupan ASI pada bayi. Segera atasi dengan membetulkan posisi dan perlekatan bayi. Bila perlu, konsultasikan dengan konselor ASI atau tenaga kesehatan.

Semoga bermanfaat ya ayah bunda..

Agustina Kadaristiana, dr.

11/29/2015

Referensi

1. How can I tell if my baby is getting enough milk? Leche Leag Int [Internet]. 2006 Oct 29; Available from: http://www.llli.org/faq/enough.html
2. Maria Mexitalia. Air Susu Ibu dan Menyusui. In: Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. I. IDAI; 2011. p. 85.
3. Richard J Schanler, MD, Debra C Potak, RN, BSN, IBCLC. Initiation of Breastfeeding. Uptodate. 2015 Sep 9;

5 Perilaku Normal Bayi Menyusui

Setiap bayi terlahir dengan keunikannya sendiri. Bahkan gaya menyusuinya pun berbeda-beda. Perilaku menyusui bayi pertama kali dideskripsikan oleh Barner (1953).1,2 Ternyata, mengetahui tipe menyusui ini penting untuk mengatasi tantangan ASI juga mencapai kesuksesan menyusui. Apa saja ya tipenya?

1. Barracudas

Bayi dengan gaya Barracudas menyusui dengan tangan memegang putting sambil menyusu kuat selama 10-20 menit. Berdasarkan penelitian, mayoritas bayi menyusui dengan tipe Barracudas. Tetapi, tipe ini juga yang paling banyak menyebabkan ibu berhenti menyusui. Hal ini disebabkan bayi tipe ini terlalu bersemangat menyusui sampai menyakiti putting ibu. Sehingga ibu perlu pahami posisi menyusui dan latching (perlekatan puting) yang benar. Ada baiknya juga bila ibu mulai “pemanasan” memberi ASI sebelum ia benar-benar lapar. 2-4

2. Excited ineffective

Pada tipe ini bayi ingin sekali secara aktif untuk menyusui dengan putting yang dikeluarkan dan dimasukkan secara berulang-ulang ke dalam mulut. Bila usahanya tidak berhasil karena ASI tidak keluar, ia akan menangis atau mulai menjerit. Sehingga ibu perlu memeluk bayi dan menenangkannya sambil mendekatkan bayi ke payudara. Masalah lain yang mungkin muncul pada bayi tipe ini ialah sering kembung dan ASI yang tercecer. Kunci sukses menyusui bayi tipe ini ialah memberi ASI segera setelah ia bangun (agar ia tidak terlalu gelisah) dan sering membuatnya sendawa setelah manyusui. 2,4

3. Procastinators

Bayi procastinators menyusui dengan lambat dan terkesan enggan. Mereka terkesan tidak semangat menyusui dan menunda-nunda beberapa hari setelah lahir. Bayi ini mungkin yang paling “menguji kesabaran” ibu karena ingin cepat-cepat susu ASI (bukan kolostrum). Sehingga ibu sering tergoda memberinya susu botol. Tapi tenang saja, pada hari keempat atau kelima mereka baru menunjukkan kemampuan menyusui yang sebenarnya sudah bisa ia lakukan sejak awal. Kuncinya ialah sabar dan jangan cepat-cepat memberi susu formula.2-4

Mother breast feeding her baby with closed eyes

4. Gourmerts

Bayi yang menjilat dan merasakan ASI yang menetes terlebih dahulu sebelum benar-benar melekat pada putting. Apabila bayi dipaksa untuk cepat-cepat menyusui, maka bayi justru menolak dan mulai berteriak. Tetapi setelah beberapa menit merasa nyaman, bayi akan menyusui dengan baik. Berdasarkan penelitian, bayi Gourmerts paling jarang menyebabkan ibu berhenti memberi ASI. Kunci sukses menyusui bayi tipe ini ialah pengertian. Biarkan ia menikmati ASI tanpa bersikap tergesa-gesa.2-4

5. Resters

Bayi ini tidak melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Mereka menyusui bukan sekedar untuk “makan” tetapi ingin merasa “nyaman”. Tipe bayi yang lebih suka menyusu beberapa menit kemudian berhenti beberapa menit sehingga membutuhkan waktu menyusui yang lama. Bila ia tidak terburu-buru, seringkali bayi menyusui dengan baik meskipun lebih lama dari tipe menyusui yang lain. Ibu mungkin merasa bosan karena bayi resters menyusui dengan waktu yang lama. Tetapi ibu perlu bersabar, karena semakin besar, secara alami ia akan menyusu semakin cepat.2-4

Jadi, termasuk tipe menyusui manakah buah hati anda?

Agustina Kadaristiana, dr.

09/04/2015

Referensi

1. Maria Mexitalia. Air Susu Ibu dan Menyusui. In: Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. I. IDAI; 2011. p. 85.
2. Barnes GR, Lethin AN, Jackson EB, Shea N. Management of breast feeding. J Am Med Assoc. 1953 Jan 17;151(3):192–9.
3. Mizuno K, Fujimaki K, Sawada M. Sucking behavior at breast during the early newborn period affects later breast-feeding rate and duration of breast-feeding. Pediatr Int. 2004 Feb 1;46(1):15–20.
4. What Newborn Nursing Personality is Your Infant? [Internet]. [cited 2015 Sep 4]. Available from: http://www.the-essential-infant-resource-for-moms.com/Newborn-Nursing.html

Gambar di unduh dari :

http://www.pregnancyandbaby.com/the-hatch-blog/articles/968083/cdc-releases-2014-breastfeeding-stats

http://themominmemd.com/tag/breastfeeding-baby-that-bites/

IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

Awali pemberian ASI dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Apa itu IMD? Ketika persalinan berlangsung, ada perubahan dramatis yang terjadi dalam psikologis ibu. Pada masa yang sangat singkat ini, ibu ingin segera mendekap bayinya yang masih basah oleh ketuban. IMD adalah membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir. Bayi manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk merangkak mencari payudara, menemukan putingnya, dan mulai menyusu. Hal ini terjadi apabila bayi mengalami kontak kulit langsung dengan ibunya.

Langkah-langkah IMD adalah:

  1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
  2. Tali pusat dipotong.
  3. Bayi kemudian ditengkurapkan di perut ibu, dan diselimuti di atas tubuh bayi. Dengan demikian, terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi.
  4. Bayi dibiarkan dalam posisi demikian sampai menemukan payudara dan kemudian menyusu. Waktu yang dibutuhkan bayi untuk menemukan putting brevariasi, namun pada umumnya tidak lebih dari 1 jam.

inisiasi_dini

Manfaat dilakukan IMD:

  1. Mencegah hipotermia (kedinginan), karena dada ibu merupakan inkubator yang terbaik. Bahkan suhu badan ibu akan meningkat untuk memberikan kehangatan kepada bayinya.
  2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi cenderung tenang dan jarang menangis, karena mendengar detak jantung ibu membuatnya merasa di dalam rahim.
  3. Saat bayi merangkak dan menjilat-jilat kulit ibunya, pada saat itulah terjadi pemindahan ‘bakteri baik’ dari kulit ibu yang ditelan bayi. ‘Bakteri baik’ ini akan berkembang biak membentuk koloni di usus bayi yang akan melindungi bayi dari bakteri jahat.
  4. Bonding (ikatan) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama pasca kelahirannya, bayi dalam kondisi siaga.
  5. Bayi yang berkesempatan IMD akan lebih berhasil dalam program ASI eksklusif dan lebih lama disusui.
  6. Sentuhan tangan dan jilatan bayi pada putting susu dan sekitarnya akan merangsang pengeluaran hormon oksitosin. Oksitosin ini membuat rahim berkontraksi, sehingga membantu terlepasnya plasenta dan mencegah perdarahan pasca persalinan.
  7. Bayi yang mengalami IMD akan mendapatkan kolostrum lebih dini pula. Kolostrum ini adalah ASI yang pertama kali keluar, mempunyai kadar immunoglobulin yang tinggi. Immunoglobulin penting untuk memberikan daya tahan tubuh bayi terhadap infeksi.

Namun, dalam pelaksanaannya, proses IMD terkadang terkendala dengan hal-hal berikut:

Dari pihak ibu

  1. Ibu merasa lelah dan ingin istirahat saat proses persalinan selesai, termasuk proses perbaikan jalan lahir. Tak jarang memang, sebelum proses persalinan yang sebenarnya, ibu sudah merasa kesakitan, yang meski dalam skala ringan, namun cukup bisa mengganggu kepulasan tidur. Karenanya, baru sesaat memeluk bayi yang dilahirkannya (proses IMD), mereka pun sudah meminta agar bayi segera diangkat.
  2. Ibu merasa kesulitan memosisikan bayi di dadanya. Apalagi kalau di tangannya ada selang infuse.
  3. Merasa hopeless dengan pengalaman anak terdahulu, ketika ASI baru keluar setelah hari ketiga, atau para ibu yang memiliki putting payudara datar atau masuk ke dalam.

Dari pihak suami atau keluarga ibu bersalin

Mereka ingin segera tahu data-data bayi yang baru lahir. Misalnya, berat berapa? Panjang berapa? Mereka ingin segera memberikan kabar gembira ini kepada sanak keluarga yang lain. Tidak jarang, saat mendampingi istrinya, sang suami masih disibukkan dengan ponsel. Karena itu, persiapkan diri dan suami apabila memang menginginkan IMD atau bersalin di tempat yang melaksanakan IMD.

Depok, 10 Juli 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

1. Chescheir, C. Nancy¸ et al. 2000. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. The Americal College of Obstetricians and Gynecology. Washington.
2. Cunningham, G, et al. 2010. William Obstetrics. 23rd edition. Mc Graw Hill. New York.
3. Evans, A. 2007. Manual Obstetrics. Lippincot Williams and Wilkins. Philadelphia.
4. Novak, Patricia D. 1995. Dorland’s Pocket and Medical Dictionary. 25th edition. WB Saunders Company. Philadelphia.
5. Oats J, Abraham S, Lwellyn. 2010. Jones Fundamentals of Obstetrics and Gynecology. Mosby Elsevier. Edinburgh.
6. Kusumaningsih, Prita. 2011. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Qultum Media: Jakarta.

ASI dapat Menurunkan Resiko Leukemia Pada Anak

Ayah bunda, ASI ternyata memang luar biasa ya. Terbukti dari manfaatnya yang tidak ada habis-habisnya ditemukan dari penelitian. Mulai dari perannya sebagai imun alami, nutrisi otak terbaik, sampai pelindung dari kematian mendadak bayi. Baru-baru ini juga ditemukan salah satu manfaat jangka panjang ASI yang bisa melindungi anak dari kanker leukemia.

yoai-childhood-cancer-infographic-id

Kanker Anak di Indonesia (http://www.yoaifoundation.org/childhood-cancer-4-fact-and-figures-lang-id.html)

Leukemia ialah kanker ganas yang menyerang sumsum tulang yang dapat merusak pembentukan sel darah. Sehingga penderitanya amat mudah mengalami pendarahan dan infeksi. Leukemia merupakan kanker paling sering yang terjadi pada anak, sekitar 30% dari kanker anak keseluruhan. Di Indonesia sendiri terdapat kira-kira 11.000 kasus kanker anak/tahun yang didominasi oleh leukemia. Sampai saat ini masih minim sekali pengetahuan tentang penyebab leukemia. Beberapa faktor risiko yang diketahui ialah sindroma Down, radiasi, dan Eipstein-Barr virus.

leukemia

Leukemia (http://medimoon.com/wp-content/uploads/2013/02/leukemia.gif)

Awal bulan ini,  Lital Keinan MD, PhD, MPH, dkk dari Universitas Haifa mempublikasikan temuannya di Journal of the American Medical Association (JAMA). Hasil dari penelitian ini ialah ASI selama 6 bulan atau lebih dapat menurunkan 14-19% risiko semua jenis leukemia pada anak dibandingkan dengan anak yang tidak diberi ASI atau hanya diberi ASI kurang dari 1 bulan. Pada meta analisis yang terpisah disebutkan juga terdapat penurunan resiko leukemia sebesar 11% pada anak yang pernah diberi ASI daripada yang tidak pernah sama sekali. Meta-analisis ini melibatkan 18 studi dengan total 10292 kasus leukemia anak dan 17517 individu sebagai kontrol.

Beberapa mekanisme biologis diduga mendasari efek proteksi ASI dari leukemia. Pertama, ASI merupakan substansi ‘hidup’ yang mengandung antibodi dan efek prebiotik yang menyehatkan lingkungan di dalam usus. ASI juga mengandung komponen imun dan anti-radang yang mempengaruhi kematangan sistem imun bayi. Selain itu, tingkat keasaman (pH) di usus bayi yang diberi ASI lebih baik untuk pembentukan protein-lipid α-lactalbumin (atau HAMLET) daripada yang tidak. HAMLET diduga dapat memulai proses kematian sel tumor. Baru-baru ini juga ditemukan adanya sel punca (stem cell) dalam ASI yang mirip dengan sifat sel punca dari embrio. Berdasarkan model dari hewan, didapatkan hipotesis bahwa sel punca ini tidak hancur di saluran pencernaan dan beredar ke berbagai organ melalui pembuluh darah untuk memberi imunitas aktif.

100419132403_1_900x600

Gambaran interaksi HAMLET dengan sel tumor (diperjelas dengan fluoresensi merah)- University of Gothenburg (http://www.sciencedaily.com/releases/2010/04/100419132403.htm)

Hasil dari penelitian ini amatlah berimbas pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit anak. Kanker leukemia yang amat mengganggu kualitas kehidupan anak bahkan bersifat fatal, ternyata mungkin dicegah dengan hal sesimpel ASI. ASI ialah sumber nutrisi utama bayi yang mudah didapat dan amat murah dengan segudang manfaat. Sehingga amat penting mempromosikan ASI sebagai makanan pertama bayi.

Agustina Kadaristiana, dr.

2015-06-10

Referensi

  1. Amitay EL, Keinan-Boker L. Breastfeeding and childhood leukemia incidence: A meta-analysis and systematic review. JAMA Pediatr. 2015 Jun 1;169(6):e151025.
  2. Kanker Pada Anak Fakta dan Angka. Yayasan Onkol Anak Indones [Internet]. 2014; Available from: http://www.yoaifoundation.org/childhood-cancer-4-fact-and-figures-lang-id.html3. Mossberg A-K, Puchades M, Halskau Ø, Baumann A, Lanekoff I, Chao Y, et al. HAMLET Interacts with Lipid Membranes and Perturbs Their Structure and Integrity.
  3. Mossberg A-K, Puchades M, Halskau Ø, Baumann A, Lanekoff I, Chao Y, et al. HAMLET Interacts with Lipid Membranes and Perturbs Their Structure and Integrity. Nigou J, editor. PLoS ONE. 2010 Feb 23;5(2):e9384.

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Puasa bagi ibu menyusui seringkali menjadi dilema tersendiri bagi para ibu. Satu sisi ibu menyusui ingin ikut beribadah puasa di bulan Ramadan.  Namun, di sisi lain ibu sering khawatir bila puasa dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Alhamdulillah, Allah SWT sendiri memberi keringanan ibu menyusui untuk membayar puasa atau fidyah di hari lain. Sehingga alangkah baiknya bila ibu mempertimbangkan kesehatan ibu dan bayi sebelum memutuskan untuk berpuasa. 1–3

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Efek Puasa Bagi Ibu Menyusui pada ASI dan Janin

Sebenarnya telah cukup banyak penelitian tentang efek puasa terhadap kesehatan ibu menyusui, kualitas ASI dan janin. Namun, hasil yang didapatkan juga bervariasi sehingga keputusan boleh atau tidaknya berpuasa pada ibu menyusui dikembalikan pada kondisi kesehatan ibu masing-masing. Beberapa hasil penelitian yang menyebutkan puasa relatif aman misalnya :

  • Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap volume, kandungan lemak, protein, laktosa, trigliserida dan kolesterol ASI sesaat dan sesudah Ramadhan4
  • Penelitian yang melibatkan 116 bayi usia 15 hari-6 bulan yang diberikan ASI ekslusif, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna pada kurva pertumbuhan bayi antara bayi ASI esklusif yang ibunya berpuasa Ramadhan dengan yang tidak5
  • Tidak ada efek samping buteki yang berpuasa terhadap parameter pertumbuhan bayi ASI eksklusif secara jangka pendek6

Sebaliknya, ada peneliti yang kurang menyarankan puasa pada ibu menyusui sebab :

  • Meskipun kandungan makronutrien (laktosa, lemak dan protein) relatif sama, kandungan mineral zinc, magnessium dan kalium pada ASI yang ibunya berpuasa berkurang secara signifikan.7
  • Berpuasa dapat mempengaruhi kondisi psikologis seperti mudah mengantuk, kurang konsentrasi, merasa lemah, sensitif mudah merasa gugup sampai cenderung agresif. Respon emosi seperti ini mungkin saja bisa mempengaruhi interaksi antara ibu dan bayi saat berpuasa meskipun sampai saat ini belum ada penelitian yang melihat hubungan tersebut.8

Amankah Puasa Bagi Ibu Menyusui?

Dari segi medis, sebenarnya tidak ada halangan puasa bagi ibu menyusui asalkan memenuhi ketentuan berikut ini:

  1. Berat badan ibu normal (Indeks masa tubuh: 20-25 kg/m2)
  2. Kebutuhan terhadap makanan bergizi dapat terpenuhi
  3. Sudah melampaui masa pemberian ASI eksklusif (bayi sudah berusia di atas 6 bulan)

Jika syarat-syarat di atas terpenuhi, seorang ibu menyusui bisa menjalankan ibadah puasa sebagaimana biasanya. Sebaliknya, Ibu menyusui tidak disarankan berpuasa apabila:

  1. Indeks masa tubuh kurang dari 20 kg/m2
  2. Sedang dalam masa pemberian ASI eksklusif
  3. Sudah menjalankan puasa untuk beberapa waktu, tetapi ternyata mengalami penurunan berat badan sampai lebih dari 5%9,10

Bila Ibu Ingin Berpuasa

Keputusan untuk berpuasa tetaplah di tangan ibu. Bila ibu ingin berpuasa, ada beberapa hal yang perlu ibu ketahui agar kondisi ibu dan bayi tetap aman :

http://www.islamicity.com/global/images/photo/IC-Articles/nutrition_diet_planIC__600x399.JPG

http://www.islamicity.com/global/images/photo/IC-Articles/nutrition_diet_planIC__600x399.JPG

  1. Konsultasi dan periksakan diri ke dokter atau bidan terlebih dahulu. Saat syarat-syarat untuk melaksanakan puasa Ramadhan sudah terpenuhi, dan dokter pun sudah memberikan rekomendasi, ibu insyaAllah aman untuk berpuasa
  2. Konsumsi makanan yang cukup saat sahur dan berbuka. Ibu menyusui membutuhkan kalori tambahan sebesar 330 kal di periode 6 periode pertama ASI dan 400 kal di periode setelah ASI ekslusif setiap harinya.(AKG, 2013)11
  3. Hati-hati dengan hipoglikemia (gula darah rendah) seperti keluar keringat dingin, gemetar, pingsan, dan pandangan berkunang-kunang. Segera berbuka dengan yang manis bila merasa hal demikian. Cegah hipoglikemia dengan melambatkan waktu makan sahur (mendekati waktu imsak).10
  4. Tetap jaga keseimbangan cairan tubuh dengan cara minum yang cukup saat sahur dan berbuka. Bila saat berpuasa ibu merasa sangat haus, pipis berwarna gelap atau berbau tajam, merasa pusing, lemah atau sakit kepala sebaiknya segera berbuka. Idealnya ganti cairan tubuh dengan oralit lalu istirahat. Bila dalam satu setengah jam tidak ada perbaikan, hubungi tenaga kesehatan terdekat. 12
  5. Tetap minum vitamin yang diberikan bidan atau dokter sebelum makan sahur12
  6. Istirahat yang cukup dan hindari stress atau kerja berlebihan.
  7. Hubungi dokter bila ibu turun berat badan >1 kg dalam seminggu, bayi turun berat badan, mudah rewel, pipis bayi menjadi sedikit.13

Reqgi First Trasia, dr., Agustina Kadaristiana, dr.

2015-06-09

Referensi

  1. Ibrahim Muhammad Al Jamal. Fiqih Wanita. Semarang: Asy Syifa; 1999.
  2. Panduan Pintar Kehamilan untuk Muslimah. Jakarta: Qultum Media; 2009.
  3. Prita Kusumaningsih. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Jakarta: Qultum Media; 2001.
  4. Bener A, Galadari S, Gillett M, Osman N, Al-Taneiji H, Al-Kuwaiti MHH, et al. Fasting during the holy month of Ramadan does not change the composition of breast milk. Nutr Res. 6;21(6):859–64.
  5. Khoshdel, Najafi M, Kheiri S, Taheri E, Nasiri J, Yousofi H, et al. Impact of Maternal Ramadan Fasting on Growth Parameters in Exclusively Breast-fed Infants. Iran J Pediatr. 2007;17(4):345–52.
  6. Haratipour H, Sohrabi MB, Ghasemi E, Karimi A, Zolfaghari P, Yahyaei E. Impact of maternal fasting during Ramadan on growth parameters of exclusively breastfed infants in Shahroud, 2012. J Fasting Health. 2013;1(2):66–9.
  7. Rakicioglu N, Samur G, Topcu A, Topcu AA. The effect of Ramadan on maternal nutrition and composition of breast milk. Pediatr Int. 2006 Jun;48(3):278–83.
  8. Afifi ZE. Daily practices, study performance and health during the Ramadan fast. J R Soc Health. 1997 Aug;117(4):231–5.
  9. Bajaj S, Khan A, Fathima FN, Jaleel MA, Sheikh A, Azad K, et al. South Asian consensus statement on women’s health and Ramadan. Indian J Endocrinol Metab. 2012 Jul;16(4):508–11.
  10. Nancy Chescheir, et al. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. Washington: The American College of Obstetricians and Gynecologyst; 2000.
  11. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2013 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN BAGI BANGSA INDONESIA [Internet]. MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA; Available from: http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_permenkes/PMK%20No.%2075%20ttg%20Angka%20Kecukupan%20Gizi%20Bangsa%20Indonesia.pdf
  12. Breastfeeding and fasting. 2012; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a1028957/breastfeeding-and-fasting
  13. Amorim AR, Linne YM, Lourenco PM. Diet or exercise, or both, for weight reduction in women after childbirth. Cochrane Database Syst Rev. 2007;(3):CD005627

Peran Ayah ASI dalam Keberhasilan Menyusui

Ayah asi adalah paduan pola pikir dan tindakan seorang ayah yang mendukung proses menyusui dari istri (ibu) ke anaknya. Bukan label, julukan, apalagi pangkat yang bisa dicapai dengan target tertentu, karena penerapannya bisa sangat relatif, bahkan sulit dirumuskan.

“Siklus kehidupan di mulai dari bersatunya energi feminin dan maskulin, dalam bentuk hubungan seks. Proses itu berlanjut pada kehamilan, lalu persalinan, menyusui, dan menjadi orangtua. Satu bagian dari proses tersebut tidak bisa terputus, karena menentukan kualitas mata rantai berikutnya.” (Reza Gunawan, Pakar Holistik)

Penjelasan di atas menjadi modal pertama untuk menetapkan pola pikir ayah yang sudah berkomitmen menjalani kehidupan berkeluarga. Artinya, seorang ayah harus siap menghadapi setiap prosesnya dengan sadar. Ketika istri memasuki masa kehamilan, seorang ayah pun relatif paham untuk menjadi suami siaga. Ayah sebaiknya mengisi kepala dengan pengetahuan, dan rasa ingin tahu saat berhadapan dengan dokter kandungan, demi kelancaran dan kesempurnaan bayi yang berada di dalam kandungan istri.

Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Masa persalinan, kebanyakan dari ayah sudah tangkas menghadapi situasi menegangkan ini. Begadang mendampingi istri di salah satu momen terpenting ini seperti perkara mudah, karena ayah tampak sudah terlatih untuk bertoleransi dengan kemampuan fisik, melalui pekerjaan, hingga pertandingan futsal.

Berikutnya, menyusui pun, sebetulnya tak sulit buat seorang ayah terlibat penuh dalam prosesnya. Bahkan, seorang laki-laki tidak perlu dilatih untuk menjadi ayah yang pro ASI. Ia hanya perlu sadar, bahwa ini adalah konsekuensi logis yang terbaik untuk istri dan anaknya, seperti saat menjalani tahapan-tahapan sebelumnya. Saat hal ini terjadi, seorang ayah akan mendorong seluruh kualitas kelaki-lakiannya untuk beradaptasi, menaklukkan situasi, dan (otomatis) memberikan kontribusi.

Pada tahap berkontribusi, ia akan dengan sadar memberi dukungan kepada istri, mendengarkan keluhannya dan menghiburnya, menjadi partner yang bersedia mengurangi beban berat seorang ibu yang menyusui, dengan berpartisipasi pada kegiatan yang bisa dilakukannya. Entah menggendong si anak, menyendawakan setelah menyusui, memandikan anak, membuat makanan pendamping ASI, dan lainnya.

fahter-of-breastfed-baby-Aug2009-iStock

Mengapa Menjadi Ayah Asi itu Penting?

Keterlibatan suami, adanya pasangan di samping istri, yang membantunya mengatasi kelelahan fisik, cenderung membuat istri senang. Apalagi jika suami jadi lebih sering melakukan hal-hal yang membuat istri senang dengan cara meningkatkan kualitas hubungan mereka; karena koneksi setiap pasangan itu khas. Rasa senang istri, akan berdampak sangat positif pada kelancaran proses menyusui. Dan pada titik ini, kesiapan sepasang suami-istri diuji untuk menjadi orang tua. Penelitian juga membuktikan bahwa mengajarkan ayah untuk mencegah dan menangani kesulitan laktasi berhubungan erat dengan kesuksesan ASI esklusif 6 bulan pertama.

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

Ketika seorang laki-laki melewati setiap bagian di atas, ia sudah bertindak. Mungkin ada yang menyadari sejak awal, tapi banyak juga menjalaninya saja tanpa memikirkan caranya. Ada yang menjalaninya dengan baik dari pertama, tak sedikit pula yang mengejar ketinggalan di tengah prosesnya. Bagaimanapun itu jika seorang ayah meyakini di alam pikirannya bahwa menyusui adalah proses yang tidak bisa dilewatkan dan ASI adalah yang terbaik untuk keluarganya, dia sepatutnya memberikan kontribusi nyata dengan caranya.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi Ayah ASI:

poedfh2k4c

  1. Jadilah ‘cheerleader’ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk produksi ASI akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil ataupun sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri.
  2. Jadilah juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi ‘benteng’ pertahanan bunda dari ‘serangan’ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasannya agar istri diberikan waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang menyusui.
  3. Jadilah manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur persediaan ASI perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer. Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah adalah manajer logistik ASIP.
  4. Tunjukkan Anda adalah orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau pencari nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari mengurusi anak hingga belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih 15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah.
  5. Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika Ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu.
  6. Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi. Dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM berjalan.
  7. Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari dan beri pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll. Tempelkan kertas-kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung mereka juga bisa membacanya. Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat agar mereka bisa ikut membacanya.
  8. Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami kesulitan istri, ajak istirahat sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah hati. Bisikan kata-kata lembut sambil tersenyum.
  9. Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.
  10. Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya. Sharing membuat  Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal dengan dimensi dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan Anda mengambil langkah yang tepat.

Depok, 2 Mei 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 06/04/2015

Referensi:

  1. Lynn A. Rempel, John K. 2011. The Breastfeeding Team: The Role of Involved Fathers in the Breastfeeding Family. International Lactation Consultant Association
  2. Naomi Bromberg, et al. 1997. Fathers and Breastfeeding: A Review of the Literature. International Lactation Consultant Association
  3. Lulie, et al. 2008. Inclusion of Fathers in an Intervention to Promote Breastfeeding: Impact on Breastfeeding Rates. International Lactation Consultant Association
  4. Bruce Maycock, et al. 2013. Education and Support for Fathers Improves Breastfeeding Rates: A Randomized Controlled Trial. International Lactation Consultant Association.
  5. Tim Ayah ASI. 2012. Breastfeeding father. Diakses dari: www.ayahasi.org
  6. Tim AyahBunda. 2013. Tips Menyusui Ayah ASI. Diakses dari: www.ayahbunda.co.id
  7. Pisacane A, Continisio GI, Aldinucci M, D’Amora S, Continisio P. A Controlled Trial of the Father’s Role in Breastfeeding Promotion. Pediatrics. 2005 Oct 1;116(4):e494–8.

Mengenal Obesitas Pada Anak

Tahukah ayah bunda bahwa persepsi anak gemuk itu tidak selamanya benar? Saat ini anak-anak di Indonesia bukan hanya terancam masalah gizi kurang tetapi juga gizi berlebih. Bahkan data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa tahun 2013 satu dari lima anak Indonesia usia 5-12 tahun gemuk atau obes. Obesitas pada anak amat ditakuti karena dapat meningkatkan resiko gangguan mental (depresi, rendahnya kepercayaan diri), DM Tipe 2, stroke sampai penyakit jantung stroke yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Tapi tidak perlu khawatir. Obesitas ini bisa dicegah dengan peran orangtua yang bijaksana menjaga nutrisi sang buah hati..

Tren Nutrisi Anak di Indonesia

Tren Nutrisi Anak di Indonesia. Terdapat peningkatan 7x lipat angka Overweight/Obes pada dekade terakhir

Mengapa obesitas terjadi?
Pada umumnya, obesitas terjadi ketika porsi makan anak melebihi kebutuhan tubuhnya. Kelebihan kalori itu disimpan menjadi lemak di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuh anak pun jadi membesar. Jumlahnya melebihi anak dengan berat badan normal. Selera makan anak yang terlanjur gemuk menjadi sangat besar. Semakin cepat terpenuhi nafsu makannya, semakin cepat bertambah beratnya. Ketika selera makan terus membesar, anak cenderung menjadi lapar mata, yakni terdorong mencicipi dan makan apa saja yang dilihat atau ditawarkan padanya, meskipun tidak lapar.

Bagaimana cara mengetahui anak saya obesitas?
Cara paling mudah mengetahui kelebihan gizi pada anak ialah menilai status gizi anak dari kurva WHO. Bagi orangtua yang memiliki balita, tentu familiar dengan KMS (Kartu Menuju Sehat). Nah, KMS ini dibuat berdasarkan kurva WHO. Sehingga ayah bunda bisa mendeteksi lebih dini kecenderungan obesitas melalui penimbangan berat dan pengukuran tinggi anak tiap bulan. Orangtua perlu waspada bila pada kurva tersebut didapatkan hasil :
– Berat badan/tinggi badan >2 SD artinya gemuk
– Berat badan/tinggi badan >3 SD artinya obesitas

Bila terdapat kecurigaan dari nutrisi yang berlebih, tenaga kesehatan mungkin akan mengukur Indeks Masa Tubuh anak secara berkala.

hasil

Selain itu, obesitas ditandai kelebihan lemak dalam darah. Kelebihan lemak dapat menjadi risiko perlemakan hati. Obesitas juga ditandai kadar kolesterol dan trigliserida di atas normal. Jika sejak kecil hingga dewasa keadaan itu terus berlanjut, dapat membahayakan kesehatannya. Hal itu setidaknya menjelaskan, misalnya, mengapa kini banyak orang terkena serangan jantung atau stroke pada usia kurang dari 40 tahun.

Bagaimana mencegah obesitas?
Agar anak tidak obesitas, para orang tua sebaiknya menjaga agar berat tubuh anaknya tetap normal. Dengan begitu, risiko penyakit yang muncul akibat obesitas dapat dihindari. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas:

  • Beri buah hati anda ASI. Berbagai penelitian, termasuk dari data CDC, membuktikan bahwa ASI ekslusif yang dilanjutkan dengan ASI selama mungkin dapat melindungi dari obesitas. Meskipun mekanismenya belum diketahui dan efeknya mungkin kecil, namun para ahli sepakat bahwa ASI bermanfaat untuk mengurangi resiko obesitas.
  • Hindari memberi makanan padat bagi bayi berusia kurang dari enam bulan. Ketika memasuki masa pemberian MP ASI, lakukanlah tahap-tahap pemberian makanan secara tepat dan sesuai perkembangannya.
  • Berikan anak nutrisi sesuai kebutuhan.
  • Latih anak untuk makan sesuai jadwal makanannya. Dengan begitu, tubuhnya terbiasa makan ketika sedang merasa lapar saat jam makannya tiba. Ikuti langkah pemberian makan anak yang benar di sini.
  • Hindari menyuapi anak sambil menonton TV atau bermain gadget. Penelitian membuktikan bahwa hanya dengan mengurangi waktu paparan anak terhadap media saja sudah bisa menurunkan Indeks Masa Tubuh anak secara signifikan. Batasi penggunaan media elektronik hanya 2 jam per hari pada anak usia di atas 2 tahun.
  • Jangan biasakan anak memakan makanan junk food dalam beragam bentuk, seperti pizza, burger, hotdog, dan lain-lain. Biasakanlah anak memakan makanan yang diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang segar dan bergizi seimbang.
https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

  • Pada anak di atas 1 tahun yang telah terlanjur gemuk, pilihlah susu non fat (susu yang lemak susunya telah dibuang) sebagai susu rekreasi. Latih anak meminum dari gelas mulai usia 7 bulan. Minum susu dari botol sebelum tidur bisa menjadi kebiasaan yang membawa pada resiko obesitas.
  • Biasakan agar anak banyak bergerak melakukan olahraga dan bermain. Aktivitas yang disarankan ialah kegiatan aerobik seperti berlari, jalan cepat, berenang paling tidak 1 jam/hari. Semua aktivitas itu diarahkan untuk membuat tubuhnya bugar, membangun tulang dan ototnya, serta membakar kelebihan kalori. Anak yang kurang bergerak, berolahraga, dan latihan jasmani, berisiko menjadi gemuk dan tidak bugar.
Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Depok, 4 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 05/31/2015

Referensi :

  1. Sara McLanahan, et al. 2006. Childhood Obesity. A publication of the Woodrow Wilson School of public and international affairs at Princeton University and the Brooking Institution.
  2. Aaron S Kelly, et al. 2013. Severe Obesity in Children and Adolescents: Identification, associated health risk, and treatment Approach. American Heart Association
  3. Agata Dabrowska. 2014. Childhood Overweight and Obesity: Data Brief. Congressional Research Service
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 166
  5. Nutrition C on. Prevention of Pediatric Overweight and Obesity. Pediatrics. 2003 Aug 1;112(2):424–30.
  6. Obesitas pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 May 31]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak.html
  7. Indonesia Health Sector Review. Indonesia : Facing up to the Double Burden of Malnutrition [Internet]. The World Bank, Millenium Challenge Corporation; 2012 Dec. Available from: http://www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2013/01/18/000350881_20130118154713/Rendered/PDF/NonAsciiFileName0.pdf
  8. Indonesia Nutrition Profile [Internet]. USAID; 2014 Apr. Available from: http://www.fantaproject.org/sites/default/files/download/Indonesia-Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
  9. Physical Activity for Everyone: Guidelines: Children | DNPAO | CDC [Internet]. [cited 2015 May 31]. Available from: http://www.cdc.gov/physicalactivity/everyone/guidelines/children.html
  10. Richard J Schanler,MD. Infant Benefits of Breastfeeding. Uptodate [Internet]. 2015 Mar 13; Available from: http://www.uptodate.com/contents/infant-benefits-of-breastfeeding?source=search_result&search=infant+benefits+of+breastfeeding&selectedTitle=1~150

5 Perbedaan Gumoh dan Muntah

Ada kalanya ibu mengalami kendala saat menyusui. Kendala tersebut seringkali datang dari gangguan pada bayi itu sendiri, antara lain bayi tersedak, perut bayi kembung, bayi gumoh ataupun muntah. Berikut adalah perbedaan gumoh dan muntah:

http://assets.inhabitots.com/wp-content/uploads/2014/06/babies-overdiagnosed-with-gerd-537x442.jpg

Gumoh Muntah
Gumoh biasanya terjadi pada bayi baru lahir (berusia beberapa minggu sampai 6 bulan). Gumoh akan hilang seiring bertambahnya usia. Muntah minimal terjadi pada bayi berusia di atas 2 bulan. Bila tidak ditangani serius, dapat berlanjut hingga dewasa.
Penyebab gumoh:

  • Terlalu banyak minum ASI
  • Adanya udara yang turut tertelan saat minum ASI
  • Belum sempurnanya organ pencernaan seputar mulut dan kerongkongan (umumnya terjadi pada bayi prematur)
Penyebab muntah:

  • Adanya kelainan pada sistem pencernaan, terutama pada katup pemisah lambung dan usus 12 jari (warna cairan yang keluar biasanya kehijauan)
  • Terjadinya luka atau infeksi di daerah tenggorokan (biasanya bercak darah mengiringi keluarnya cairan)
Cairan yang dikeluarkan dari gumoh kembali biasanya berupa ASI yang tertelan, dengan volume tidak terlalu banyak (dibawah 10 cc) Cairan yang dikeluarkan saat muntah dapat berupa ASI, MPASI atau susu formula. Volumenya cukup banyak (diatas 10 cc)
Biasanya gumoh keluar melalui mulut tanpa diiringi kontraksi pada dinding otot perut. Muntah bisa keluar melalui mulut, terkadang juga rongga hidung. Keluarnya cairan cukup deras dari dalam perut dan diikuti kontraksi pada dinding otot perut.
Penanganan gumoh: dengan cara membuat bayi bersendawa Penanganan muntah: bawa ke dokter.
Muntah-Gumoh-pada-bayi

Cara membuat anak bersendawa

Depok, 27 Maret 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 2015-05-29

Referensi :
1. Fleisher, David. 2006. Regurgitation, Rumination, and The Rumination Syndrome. Columbia: University of Missoury Medical School
2. Allen, Katie. 2007. The Vomiting Child : What to do and when to consult. Melbourne : Departement of Pediatrics, University of Melbourne.
3. Annemaire, Houda. 2013. Gastroesophageal Reflux in Breastfed Babies. Wellington : New Zealand College of Midwife.
4. Sunarto, Nano. 2008. Panduan Merawat Bayi dan Balita Agar Tumbuh Sehat dan Cerdas. Jakarta : Diva Press
5. Smith, Jony. 1999. Pertolongan Pertama Dokter di Rumah Anda. Jakarta : Dian Rakyat

Mengapa ASI tidak lancar?

Terkadang keinginan ibu memberikan ASI pada bayi tidak kesampaian karena produksi ASI-nya yang tidak lancar atau justru tidak keluar sama sekali. Inilah yang disebut sebagai kegagalan laktasi. Pada bagian “Pedoman Pemberian ASI” sebelumnya telah disinggung aspek penting terkait pemberian ASI, yang berdampak pada kelancaran ASI. Ketidaklancaran itu dapat disebabkan terabaikannya aspek tersebut. Disamping itu, hal berikut juga dapat menjadi penyebab kurang lancarnya ASI.

1. Efek persalinan yang memakai metode sesar
Pada persalinan ini berlangsung pembiusan, baik lokal maupun total. Pada bius lokal, kesadaran ibu biasanya lebih cepat pulih, yakni sekitar 30 menit, dibandingkan bius total yang bias lebih dari 2 jam tidak sadarkan diri. Bisa jadi ketika bayi lahir, yang harusnya langsung segera diberi ASI, namun karena ibu tidak sadarkan diri, bayi pun diberi susu formula oleh perawat atau bidan. Ketika Anda telah sadar, ‘refleks hisap terkuat’ bayi Anda telah berkurang. Akibatnya ia enggan diberi ASI oleh Anda.

http://www.surgeryencyclopedia.com/Ce-Fi/Cesarean-Section.html

http://www.surgeryencyclopedia.com/Ce-Fi/Cesarean-Section.html

Kejadian itu mengakibatkan hilangnya momentum refleks hisap terkuat bayi dan payudara Anda pun (pada masa yang menentukan produktivitas ASI) tidak memperoleh rangsangan berupa hisapan dari bayi. Dengan begitu, hormon-hormon yang berperan dalam produksi ASI tidak bekerja optimal.

Apalagi jika pada proses berikutnya ternyata Anda tidak sabar melatih pemberian ASI pada bayi, maka produksi ASI pun semakin tidak lancar. Jika ini terus berlanjut, Anda pun akhirnya terdorong memberi susu formula untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi Anda. ASI Anda akhirnya sulit berproduksi.

Namun, tidak selalu dampak persalinan sesar membuat bayi enggan menyusui ASI dan tak selalu membuat produksi ASI jadi berkurang. Banyak kasus Ibu yang melahirkan melalui sesar ternyata ASI-nya tetap lancar. Sebab, sang Ibu itu sangat sabar dan telaten melatih anaknya menyusui ASI.

2. Efek dari penggunaan kontrasepsi

Jika saat menyusui Anda ikut program Keluarga Berencana (KB), sebaiknya hindari ber-KB memakai obat yang mengandung hormon, terlebih yang banyak esterogen. Sebab dapat mengurangi produksi ASI dan konon dapat merubah rasa ASI. Rasa ASI yang berubah tentu akan membuat bayi merasa ‘aneh’ ketika menghisapnya. Akhirnya, bayi pun enggan mengisapnya. Payudara Anda pun jadi tidak terlatih memproduksi ASI. Jika ini terus berlanjut, produksi ASI Anda pun akan berkurang. Untuk itu, pilihlah KB kalender atau menggunakan kondom.

hormonal_methods

Kontrasepsi Hormonal (http://www.soc.ucsb.edu/sexinfo/article/estrogen-and-progestin-overview)

3. Adanya penyakit tertentu yang diderita Ibu menyusui

Untuk mengetahui hal ini, segeralah periksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan diagnose penyakit yang diderita dan melakukan langkah-langkah medis untuk mengatasinya.

Tips Melancarkan Kembali ASI

  • Tingkatkan tekad dan rasa percaya diri untuk memberikan ASI
  • Susui bayi Anda lebih sering lagi. Atau lakukan proses pemerahan ASI lebih optimal. Dengan begitu payudara Anda akan terangsang untuk memproduksi ASI lebih banyak.
  • Makanlah sayuran yang berkhasiat memperlancar ASI, seperti daun katuk.
  • Mintalah petunjuk dokter jika Anda berniat menggunakan obat-obatan untuk merangsang refleks pengeluaran ASI.

Depok, 3 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 46

Cara Pemberian ASI

Pemberian ASI pada bayi perlu dilakukan secara alamiah, dalam suasana yang tenang dan penuh kasih sayang. Berikanlah ASI ketika bayi Anda siap dan benar-benar sedang ingin menyusui. Jangan sampai Anda terkesan memaksanya.

Pada bulan-bulan awal kehidupan, bayi biasa tidur dengan pulasnya. Jika lebih dari dua jam ia tertidur, sementara ia perlu diberi ASI, bangunkan secara perlahan. Katakan, “ Ayo sayang, kita minum susu dulu. Setelah itu kamu boleh tidur lagi.” Sebaiknya Anda mencuci tangan dulu hingga bersih sebelum mulai menyusui. Berikut ini beberapa cara menyusui:

Posisi Sambil Duduk

  1. Ambil posisi duduk yang nyaman. Pangku bayi dengan menempelkan perutnya pada perut Anda. Lalu, sanggah kepalanya tepat pada siku lengan bagian atas. Sementara, bagian lengan dan telapak tangan Anda menahan punggung dan pantatnya.
  2. Pijat bagian sekitar areola (daerah sekitar puting) Anda hingga mengeluarkan sedikit ASI. Oleskan ASI yang keluar itu pada puting Anda hingga jadi agak basah. Biasanya, bayi akan langsung menghisap ketika mulutnya menyentuh tetesan ASI di sekitar puting.
  3. Tempelkan mulut bayi pada puting Anda.
  4. Saat bayi mulai menghisap, tataplah matanya dan sentuhlah ia sambil mengajaknya bicara. Hal ini untuk merangsang panca indra dan organ-organ tubuhnya.
  5. Biarkan bayi Anda mengisap sepuasnya. Jangan dulu berganti ke sisi payudara lainnya sebelum sisi payudara yang sedang dihisap benar-benar terasa kosong.
Posisi Menyusui (http://www.oxfordcounty.ca/Healthy-you/Pregnancy-babies/Breastfeeding/First-6-8-weeks/Breastfeeding-positions)

Posisi Menyusui (http://www.oxfordcounty.ca/Healthy-you/Pregnancy-babies/Breastfeeding/First-6-8-weeks/Breastfeeding-positions)

Posisi Sambil Berbaring
Menyusui sambil berbaring pada dasarnya hampir sama dengan sambil duduk. Para ibu yang melahirkan dengan metode Caesar, akan lebih nyaman bila mengambil posisi berbaring miring saat pertama kali menyusui. Untuk aktivitas menyusui di rumah pun, posisi berbaring dapat dijadikan alternatif bagi Anda.

  1. Anda berbaring miring menghadap bayi yang posisi tidurnya juga dimiringkan menghadap Anda. Sejajarkan dan tempelkan mulutnya dengan puting Anda. Lekatkan tubuhnya pada tubuh Anda. Kemudian tahan bagian punggung dan pantatnya dengan tangan Anda. Ketika ia mulai menghisap, lakukan komunikasi dan sentuhan-sentuhan lembut padanya.
  2. Seiring bertambah usia bayi dan perkembangan gerakan tubuhnya, biasanya bayi akan mengeksplorasi variasi menyusui yang dirasakan nyaman bagi dirinya.

Posisi Sambil Berdiri

  1. Penjelasan tentang posisi menyusui sambil duduk, dapat diterapkan untuk posisi berdiri. Namun, bagi para pemula, menyusui dengan posisi berdiri harus dilakukan ekstra hati-hati. Jika tidak, akan membahayakan bayi. Misalnya, bayi lepas dari pangkuan. Menyusui sambil berdiri juga mensyaratkan energy Anda yang cukup besar untuk menggendongnya cukup lama.
  2. Seiring pengalaman melalui rutinitas menyusui, kelak Anda pun mampu mengombinasikan posisi-posisi menyusui. Nanti pun Anda mampu menyusui sambil tiduran diselingi sambil duduk, lalu sambil berdiri. Dapat juga dikombinasikan dengan melakukan aktivitas ringan lain, seperti mengangkat telepon, menutup pintu, menyapu lantai, dan sebagainya.
  3. Menyusui sambil beraktivitas lain, secara tidak langsung merupakan wahana rangsangan bagi bayi mengenal lingkungannya. Sebab, ketika Anda menyusui sambil mengangkat telepon, bayi pun belajar tentang adanya objek (benda) yang dapat digenggam. Benda itu dapat berbunyi. Pemahaman yang diperoleh bayi dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasa itulah yang akan turut menentukan perkembangan lebih jauh potensi kecerdasannya.

Depok, 1 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 37

Gambar di ambil dari : http://doublethink.us.com/paala/wp-content/uploads/2012/11/Baby-Gooroo-Breastfeeding-Postitions-Poster.jpg

Manajemen ASI Perah

Adakalanya seorang ibu tidak punya waktu untuk menyusui langsung dari payudara, misalnya karena bekerja atau berkarir di luar rumah. Hal itu bukan alasan untuk menghentikan sama sekali pemberian ASI. Untuk memenuhi kebutuhan ASI bayi selama Anda tidak di rumah, dapat disiasati dengan memberikan ASI perahan dari payudara Anda. Berikut adalah beberapa manajemen ASI perahan.

http://www.breastfeedinginsheffield.co.uk/wp-content/uploads/hand-expressing.jpg

http://www.breastfeedinginsheffield.co.uk/wp-content/uploads/hand-expressing.jpg

Memerah ASI Dengan Tangan

  1. Cuci tangan Anda sampai bersih.
  2. Ambil posisi duduk yang nyaman.
  3. Pijat lembut payudara dengan gerakan melingkar. Dari pangkal payudara ke arah puting. Tapi jangan sampai terkena puting.
  4. Pegang botol yang sudah disterilkan dengan satu tangan Anda. Letakkan di bawah puting untuk menampung ASI yang keluar. Sementara tangan lainnya memposisikan ibu jari dan telunjuk Anda di luar lingkaran areola. Lalu tekan payudara Anda ke arah dalam dinding dada.
  5. Tanpa mengubah atau menggeser posisi ibu jari dan telunjuk, tekan pula payudara ke arah atas dan bawah hingga ASI keluar dan tertampung dalam botol.
  6. Cara lain memerah ASI dengan tangan adalah dengan mengubah posisi ibu jari dan telunjuk. Dengan kata lain, pemijatan perlu dilakukan di setiap sudut, hingga ASI pada payudara Anda terasa kosong. Biasanya, pemerahan ASI pada payudara berlangsung sekitar 5-10 menit.
  7. Lakukan pemijatan payudara lain sampai Anda merasa ASI telah habis. Pemerahan ASI dianggap mencukupi jika berlangsung sekitar 20 menit.
  8. Tutup botol tempat menampung ASI tadi dengan rapat, lalu masukkan ke kulkas. Jika di kantor tidak ada kulkas, Anda dapat menyediakan paket tas dan peralatan pendingin ASI (cool box) yang dapat diisi es batu.
http://babygooroo.com/2011/09/which-breast-pump-is-best-for-you-2/

http://babygooroo.com/2011/09/which-breast-pump-is-best-for-you-2/

Memerah ASI dengan Pompa (breast pump)

  1. Letakkan bagian kop breast pump Anda tepat di bagian tengah payudara hingga menutupi daerah sekitar puting.
  2. Lakukan pemompaan secara perlahan hingga ASI keluar dan sampai alirannya melemah. Saat memompa, tangan yang lain dapat difungsikan untuk memijat payudara yang sedang diperah.
  3. Lakukan hal serupa pada payudara yang lain.
http://spotofteadesigns.com/2014/06/review-giveaway-lansinoh-breastfeeding-products/

http://spotofteadesigns.com/2014/06/review-giveaway-lansinoh-breastfeeding-products/

Cara Menyimpan ASI Perah

  1. Usai memerah ASI, beri keterangan tanggal dan jam pemerahan pada setiap wadah penampungan ASI.
  2. Simpan ASI perah di dalam kulkas pada suhu sekitar 4 derajat celcius. Harap jangan letakkan ASI di luar kulkas atau coolbox lebih dari tiga jam. Sebab dapat merusak kandungan ASI.
  3. Setelah tiba di rumah, simpan kembali ASI perah tadi ke dalam kulkas. Mintalah kepada pengasuh bayi Anda untuk memberikan ASI itu pada bayi keesokan harinya.
  4. ASI perahan yang disimpan dalam freezer pada suhu minus 18 derajat celcius masih dapat bertahan dan digunakan hingga tiga bulan ke depan.
http://www.uofmmedicalcenter.org/healthlibrary/Article/82245

http://www.uofmmedicalcenter.org/healthlibrary/Article/82245

Cara Penyajian ASI Perah

  1. Ambil botol berisi ASI perah dalam kulkas. Pilihlah yang tanggal dan jam pemerahannya lebih dulu dilakukan.
  2. Hangatkan dengan cara meletakkan botol berisi ASI perah itu ke dalam wadah berisi air hangat. Diamkan selama beberapa menit.
  3. Jika bayi telah berusi 6 bulan, cadangan ASI perah dalam kulkas dapat dijadikan bahan mengolah MPASI. Misalnya, sebagai pencampur bubur susu atau biscuit.

Depok, 2 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 42

Pedoman Pemberian ASI

ASI merupakan jenis makanan awal terbaik bagi bayi. Bagi ibu yang memutuskan memberi ASI eksklusif, ada beberapa pedoman dalam pemberian ASI. Pedoman ini akan turut menentukan kelancaran produksi ASI.

  1. Bulatkan niat, tekad dan keyakinan untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayi Anda. Jauh hari sebelum melahirkan, Anda harus mempunyai keyakinan yang kuat bahwa Anda mampu dan akan memberi ASI eksklusif pada bayi Anda. Sebab, ASI merupakan makanan paling sempurna bagi tumbuh kembangnya.
  2. Segeralah berikan ASI begitu bayi Anda lahir. Hindari bayi mengenal susu botol terlebih dahulu daripada ASI. Sebelum persalinan, baik normal maupun sesar, katakana pada dokter ataupun bidan bahwa Anda akan memberikan ASI eksklusif pada bayi. Bisa juga Anda meminta fasilitas rawat gabung, dimana Anda dan bayi berada dalam ruang yang sama sehingga memudahkan pemberian ASI.
  3. Sambil menyusui, tataplah matanya, bicaralah padanya, dan sentuhlah dengan lembut anggota-anggota tubuhnya. Dengan begitu, berarti Anda sedang merangsang fungsi-fungsi panca indranya sedini mungkin. Hal ini akan membantu proses pertumbuhan dan pematangan fungsi organ-organnya. Anda pun sesungguhnya sedang membangun fondasi ikatan batin antara seorang ibu dan anak.
  4. Konsumsilah makanan dan minuman yang bergizi. Jauh-jauh hari sebelum kelahiran, pemenuhan gizi lengkap dan berimbang seharusnya telah menjadi gaya hidup Anda. Pada wanita yang tidak menyusui, kebutuhan kalorinya sekitar 1.800 kalori per hari. Sementara bagi wanita menyusui, butuh tambahan sekitar 500 kalori. Dengan begitu, kebutuhan kalori per hari menjadi sekitar 2.300 kalori. Apalagi jika anak dilahirkan kembar, tentu kebutuhan kalorinya pun bertambah.
  5. Perbanyak menghadirkan momen-momen kebahagiaan dan hindari stres. Suasana hati yang bahagia menjalani hari-hari bersama bayi, membuat tubuh ibu merespon secara positif pula. Dengan begitu, berpengaruh pada produksi ASI. Sebaliknya, jika hati selalu diliputi stress, akan berdampak kurang baik bagi metabolism tubuh. Produksi ASI pun terganggu. Selain itu, setumpuk perasaan stress yang terbawa saat memberikan ASI akan membuat rangsangan Anda pada bayi tidak akan berjalan secara optimal. Padahal rangsangan itu penting untuk mematangkan fungsi-fungsi organ tubuhnya.
  6. Tidur dan istirahat yang cukup. Kondisi tubuh yang bugar karena cukup istirahat, turut menentukan produksi ASI Anda. Lebih baik Anda mengambil waktu tidur saat anak juga sedang tidur. Kemudian, segera bangun begitu bayi merengek minta disusui. Seiring berjalannya waktu dan pulihnya kondisi pasca persalinan, biasanya jam tidur bayi akan semakin teratur.
  7. Jika Anda terserang penyakit flu, teruskan pemberian ASI kepada bayi. Kerap kali muncul kekhawatiran ketika ibu-menyusui terserang flu, bayinya akan tertular. Seharusnya Anda tetap memberikan ASI dengan memakai masker. Perlu diingat, dalam ASI terdapat zat antibody yang mampu melindungi bayi dari infeksi saluran napas.
  8. Dukungan suami melalui breastfeeding father sangat membantu kelancaran ASI. Peran dan keterlibatan aktif suami memberikan dukungan moral dan emosional kepada Anda dan bayi dalam pemberian ASI, turut menentukan kadar emosi kebahagiaan Anda.
  9. Sebelum usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi cukup dengan diberi ASI eksklusif. Namun, begitu genap usia 6 bulan, ASI hanya cukup memenuhi 60-70% kebutuhan gizi bayi. Bayi perlu diperkenalkan dengan makanan tambahan di luar ASI, meski pemberian ASI tetap dilanjutkan. Kebutuhan gizi yang meningkat itu karena tubuh bayi kian besar. Aktivitas yang mampu dilakukannya pun mulai beragam, sehingga membutuhkan energy yang lebih besar pula.

Depok, 30 Maret 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 32

Manfaat ASI Bagi Bayi dan Ibu

Kesehatan bayi dan balita harus memperoleh perhatian serius para orang tua. Sebab, kesehatan anak turut menentukan proses tumbuh kembangnya. Bayi dan balita yang sehat lebih mampu mengembangkan potensi-potensi kecerdasannya, daripada anak yang sering sakit. Untuk itu, perlu diberikan makanan bergizi yang tepat sejak lahir seperti ASI Eksklusif.

Pemberian ASI Eksklusif sendiri dapat didefinisikan sebagai pemberian ASI saja pada bayi tanpa memberi tambahan cairan lain. Jika Anda memutuskan memberikan ASI pada bayi Anda, sungguh hal tersebut sangat brilian. Mengapa? Berikut penjelasannya.

Manfaat ASI Bagi Bayi

  1. Menjadikan pertumbuhan tubuhnya relatif ideal dan terhindar dari kecenderungan obesitas.
  2. Kandungan zat pembangun otak pada ASI jauh lebih baik dari susu formula. Maka, proses tumbuh kembang otak bayi berjalan lebih cepat, sehingga cenderung lebih cerdas dibandingkan dengan anak seusianya yang tidak diberi ASI.
  3. Memudahkan BAB bayi. Sebab ASI mudah diserap oleh sistem pencernaan bayi.
  4. Membantu pembentukan rahang yang baik dan menguatkan tulang-tulang tubuhnya.
  5. Mencegah dan mengurangi infeksi, seperti infeksi saluran pencernaan (diare), infeksi saluran pernapasan, serta infeksi telinga.
  6. Mengurangi risiko kencing manis, kanker, dan penyakit jantung pada anak.
  7. Bagi bayi prematur, pemberian ASI kepadanya sangat berguna untuk merangsang pematangan organ-organ tubuhnya yang belum sempurna, sehingga dapat berfungsi dengan baik.
  8. Saat ASI diberi langsung dari sumbernya, sambil Anda menatap, berbicara, dan menyentuh lembut bayi, sesungguhnya Anda sedang merangsang dan melatih kepekaan segenap indra dan fungsi organ-organ tubuhnya. Dengan kata lain, menyusui ASI sesungguhnya sekaligus melatih dan membangkitkan potensi-potensi kecerdasan awalnya.

Manfaat ASI bagi Ibu

  1. Mengokohkan ikatan batin (bonding) dengan bayi. Dengan memberi ASI, seorang ibu lebih mampu mengekspresikan perasaan terdalamnya pada si buah hati. Dengan begitu, kedekatan emosional dan ikatan batin dengan bayi pun jadi lebih kokoh.
  2. Dapat melangsingkan tubuh. Perlu diingat, sebagian besar komponen ASI diproduksi dari cadangan timbunan lemak ibu saat hamil. Maka secara teoritis, pemberian ASI mampu mempercepat pemulihan kondisi tubuh kembali seperti sebelum hamil.
  3. Mampu mengurangi risiko berbagai penyakit, seperti osteoporosis, kanker rahim dan dinding rahim, serta kanker indung telur dan kanker payudara.
  4. Sarana latihan manajemen waktu yang efektif. Ibu yang menyusui ASI tergerak membagi jadwal harian sebaik mungkin, seperti bekerja, beristirahat, bangun di tengah malam untuk menyusui, serta mengurus suami dan rumah tangga.
  5. Lebih peduli pada kebersihan dan kesehatan. Mengingat bayi harus tetap sehat, maka ibu pun semakin peduli terhadap kebersihan serta kesehatan diri dan lingkungannya.
  6. Sebagai metode KB alamiah yang sifatnya sementara dan murah. Selagi seorang ibu menyusui bayinya dan belum mendapat haid, kemungkinan tidak akan hamil pada enam bulan pertama setelah melahirkan. Bahkan hingga bayinya berusia 12 bulan, kemungkinan hamil kembali pun sangat kecil.

Depok, 29 Maret 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 30

Kiat Menyusui Bayi Prematur

Bayi prematur yang lahir 34-35 minggu biasanya belum mempunyai refleks menghisap yang baik. Meski pada beberapa kasus, bayi prematur yang lahir 32 bulan sudah cukup mahir untuk menghisap ASI.

Daya hisap ASI yang lemah pada bayi prematur seharusnya tidak dijadikan alasan bagi para ibu untuk tidak memberikan ASI bagi bayinya. Sebab zat-zat yang terkandung dalam ASI sangat bermanfaat bagi bayi prematur. Semakin sering dan banyak bayi prematur diberi ASI, kenaikan berat badannya pun akan terlihat lebih nyata.

Jika daya hisap bayi prematur cukup lemah, bayi prematur dapat diberikan ASI melalui sendok. Tentu saja, ASI itu perlu diperah dahulu, lalu dituang ke dalam cangkir yang steril. Anda juga dapat menggunakan sebuah alat bantu (lactating aid). Alat ini berbentuk botol yang dikalungkan pada leher ibu (pada pantat botol itu terdapat tali yang berfungsi sebagai kalung). Pada tutup botolnya terdapat dua buah selang kecil.

http://www.tommys.org/view.image?Id=6206

Lactating Aid (http://www.tommys.org/view.image?Id=6206)

Cara penggunaannya, botol dari plastik itu diisi ASI perahan. Lalu tali pada pantat botol itu digantungkan pada leher ibu dengan posisi tutup botol berada di bawah. Kemudian ujung kedua selang tadi ditempelkan pada kedua putting payudara ibu menggunakan selotip. Bimbing bayi Anda untuk menghisap putting. Meskipun belum mahir menghisap, namun bayi tetap mendapatkan ASI yang mengalir dari putting, dari selang yang terhubung dengan botol berisi ASI perahan. Hisapan-hisapan mulut bayi pada putting akan merangsang produksi ASI, meski bayi menghisapnya dengan bantuan lactating aid.

Depok, 26 Maret 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Sweet, Linda. 2008. Expressed Breast Milk as ‘connection’ and Its Influence on The Construction of ‘Motherhood’ for Mothers of Preterm Infant. Australia : International Breastfeeding Journal.
  2. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
  3. Renee, Uwe, et al. 2010. Positive Effect of Kangaroo Mother Care on Long Term Breastfeeding in Very Preterm Infant. Sweden : Journal of Obsteric and Gynecology
  4. Rusli, Utami. 2004. Seri 1 Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.
  5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 36