Category Archives: Tumbuh Kembang Bayi

Nutrisi Bayi Prematur

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa baik tidaknya tumbuh kembang bayi prematur sangat tergantung dari asupan nutrisi. Pertumbuhan yang baik, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupannya, akan membawa dampak yang sangat positif pada perkembangan bayi prematur. Kekurangan nutrisi pada masa tersebut dapat menyebabkan tidak optimalnya perkembangan saraf, gagal tumbuh (growth failure), kerapuhan tulang (osteopenia of prematurity), meningkatnya risiko infeksi, dan komplikasi lainnya.

Mengenal bayi prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi prematur biasanya memiliki berat badan yang lebih rendah dari bayi cukup bulan. Hal ini dikarenakan bayi lahir pada usia 22-37 minggu di saat tubuh bayi sedang berkembang pesat. Pada bayi cukup bulan, beratnya saat lahir dapat mencapai hingga 5x lipat berat saat usia kehamilan 24 minggu. Kategori bayi prematur berdasarkan berat badannya yaitu:

  • Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bila berat bayi < 2500 gram
  • Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) <1500 gram
  • Berat badan rendah extrim (extremely low birth weight) bila berat bayi <1000 gram.

Selain berat badan yang rendah, fungsi organ tubuh bayi prematur belum sempurna. Oleh sebab itu, bayi prematur biasanya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit saat lahir. Perawatan intensif di rumah sakit juga bertujuan untuk mengontrol jumlah asupan nutrisi agar bayi bisa tumbuh optimal.

Apakah kebutuhan asupannya berbeda dengan bayi cukup bulan?

Pada umumnya kebutuhan energi bayi prematur lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan. Kebutuhan energi bayi cukup bulan 80-90kal/kg/hari; sedangkan kebutuhan energi pada bayi prematur bervariasi tergantung kondisi kesehatannya, yaitu  sekitar 100-120 kal/kg/hari sampai 160-180 kal/kg/hari.

Apabila kebutuhan energi bayi prematur dari karbohidrat dan lemak tidak tercukupi, tubuhnya akan mengambil protein sebagai sumber energi. Hal ini tidak baik bagi bayi prematur karena protein dibutuhkan untuk pertumbuhan serta perbaikan sel-sel dalam tubuh. Protein juga sangat penting bagi pertumbuhan otak dan kecerdasan. Kekurangan protein dapat menyebabkan penurunan kecerdasan. Selain itu, kekurangan protein pada bayi prematur dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan fungsi ginjal. Ginjal yang kecil dan kurang baik perkembangannya ini dapat menyebabkan darah tinggi saat dewasa.

Apakah kebutuhan cairan juga perlu di kontrol?

Tentu. Komposisi cairan pada tubuh bayi prematur sekitar 90%. Komposisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bayi cukup bulan dan orang dewasa, yaitu 75% dan 60%. Karena besarnya komposisi cairan pada bayi prematur maka kecukupan asupan cairan sangat penting. Pada hari pertama kehidupan bayi prematur membutuhkan asupan cairan sekitar 80-105 mL/kg/hari. Kebutuhan cairan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, pemberian cairan tergantung kondisi bayi tersebut. Jika bayi memiliki kelainan jantung misalnya, pemberian cairan harus dibatasi agar tidak membebani jantung. Sebaliknya, jika bayi menjalani fototerapi atau suhu tubuhnya meningkat, maka pemberian cairan harus ditambah untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan.

Hal yang patut diingat yaitu fungsi ginjal pada bayi prematur belum sempurna, sehingga bayi prematur lebih rentan kekurangan atau kelebihan cairan. Kurangnya cairan dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit dan hipotensi. Kelebihan cairan dapat menyebabkan edema/bengkak, gagal jantung, dan infeksi usus. Tapi orangtua tidak perlu khawatir, karena dokter spesialis anak yang menangani pastilah telah menghitung dengan rinci kebutuhan cairan ini selama perawatan intensif di rumah sakit.

Manakah yang baik, ASI atau Susu Formula?

ASI lebih direkomendasikan bagi bayi prematur. ASI bayi prematur berbeda dengan ASI bayi cukup bulan. Di dalam ASI bayi prematur terdapat kandungan protein, lemak, asam amino bebas, dan sodium yang lebih tinggi. Selain kandungan nutrisi yang baik, ASI juga mengandung imunoglobulin, prebiotik dan probiotik, jarang menimbulkan masalah pencernaan, melindungi dari infeksi dan peradangan, serta baik bagi perkembangan saraf bayi.

Susu formula dapat diberikan pada kondisi berikut ini. Susu formula yang diberikan yaitu formula khusus bayi prematur. Dalam jangka pendek, bayi prematur yang diberikan susu formula mengalami kenaikan berat badan yang lebih cepat. Namun, terdapat risiko munculnya gangguan saluran pencernaan (feeding intolerance) serta infeksi saluran pencernaan (necrotising enterocolitis).

Pemberian ASI pada bayi prematur sehat

Pemberian ASI disesuaikan dengan kemampuan bayi untuk menyusu, yang bergantung pada kematangan fungsi refleks hisap dan menelan.

  • Bayi dengan usia kehamilan ibu >34 minggu (berat badan >1800 gram) memiliki refleks hisap dan menelan yang cukup baik, sehingga dapat disusukan langsung kepada ibu.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu 32 – 34 minggu (berat badan 1500-1800 gram) memiliki refleks menelan cukup baik, namun refleks menghisap masih kurang baik. Ibu dapat memerah ASI, kemudian ASI diberikan ke bayi dengan menggunakan sendok, cangkir, atau pipet. Bayi prematur dengan berat badan >1500 gram membutuhkan ASI 150-220ml/kgBB/hari, rata-rata 180ml/kgBB/hari. ASI yang diberikan sebaiknya ditambahkan human milk fortifier. Jika tidak ditambahkan human milk fortifier, maka bayi membutuhkan suplemen vitamin (A,D,C,B), zat besi, asam folat, fosfat dan sodium.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu <32 minggu (berat badan 1250-1500 gram), belum memiliki refleks hisap dan menelan yang baik, maka ASI perah diberikan dengan menggunakan pipa lambung/orogastrik (sonde).

Pemberian ASI pada bayi prematur sakit

Bayi prematur yang memiliki berbagai masalah pada organ-organ tubuhnya, perlu dirawat di NICU. Lamanya dirawat di NICU bervariasi tergantung kondisi kesehatan bayi Ibu. Ada yang 2 minggu, sebulan, bahkan lebih.

Bagi bayi prematur dengan berat <1250 gram, memiliki berbagai masalah kesehatan serta kondisinya belum stabil, maka nutrisi diberikan melalui cairan infus yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan nutrisi lainnya selama 24-48 jam pertama.

Jika kondisi bayi prematur sudah stabil, saluran pencernaannya sudah siap, maka bayi dapat mulai diberikan nutrisi lewat saluran pencernaan (trophic feeding) 10 mL/kgBB/24 jam. Jika bayi sudah dapat menoleransi pemberian minum, maka jumlah minum dapat dinaikkan sambil menurunkan pemberian nutrisi melalui cairan infus.

Pemberian nutrisi melalui saluran cerna akan mengaktifkan enzim-enzim yang penting untuk pencernaan, berkembangnya vili-vili usus serta flora normal usus yang mampu mencegah infeksi.

Jika kondisi bayi lebih baik, sudah tidak perlu alat bantu nafas, dokter sudah menyatakan aman untuk disusui langsung, maka Ibu bisa menyusui langsung bayi Ibu. Kiat menyusui bayi prematur bisa dilihat disini. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan dan saran dari dokter dan perawat NICU agar Ibu bisa menyusui bayi prematur dengan baik.

Apakah ada pantangan makan dan minum Ibu yang menyusui bayi prematur?

Ibu yang menyusui bayi prematur harus menjaga asupan nutrisinya. Makanlah makanan yang bervariasi dan bergizi. Hindari minuman beralkohol. Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila ada obat-obatan yang harus Ibu minum selama menyusui (misalnya obat psikotropika, antibiotik).

Bagaimana cara mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup?

Tanda bayi cukup ASI selengkapnya bisa dilihat disini. Selain itu, pertumbuhan bayi perlu diukur untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup. Salah satu indikator pertumbuhan yaitu kenaikan berat badan. Semua bayi akan mengalami penurunan berat badan selama 1 minggu setelah lahir. Namun penurunannya tidak boleh melebihi 5-10% pada bayi cukup bulan, dan 15-20% pada bayi prematur dari berat lahir. Biasanya pada minggu kedua atau ketiga, berat badan bayi akan naik lagi ke berat badan awal. Selain berat badan, panjang badan dan lingkar kepalanya juga perlu diukur. Grafik pertumbuhan yang dipakai sama seperti bayi cukup bulan, yaitu grafik pertumbuhan CDC dan WHO. Bedanya, bayi prematur menggunakan usia koreksi untuk grafik tersebut.

 

Cara menghitung usia koreksi

Rumusnya:

40 minggu – usia kehamilan Ibu saat melahirkan = faktor koreksi.

Usia bayi sekarang (usia kronologis) – faktor koreksi = usia koreksi.

 

Contoh

Bayi A saat ini berusia 4 bulan (usia kronologis). Bayi A lahir saat usia kehamilan Ibunya 28 minggu. Berapa usia koreksi bayi A?

Jawab

40 minggu – 28 minggu = 12 minggu (faktor koreksi) = 3 bulan.

4 bulan – 3 bulan = 1 bulan. Usia koreksi bayi A yaitu 1 bulan. Maka, pertumbuhan bayi A saat ini diukur sebagai bayi berusia 1 bulan.

 

Cara menggunakan grafik pertumbuhan selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Sebagian besar bayi prematur dapat “mengejar” pertumbuhan (catch-up growth) seperti bayi lainnya yang cukup bulan. Fase mengejar pertumbuhan ini biasanya muncul di awal masa kanak-kanak yaitu saat balita, namun ada juga yang baru muncul di akhir mendekati masa dewasa. Jika fase ini sudah tercapai, maka usia koreksi tidak lagi dibutuhkan untuk mengukur pertumbuhan anak yang lahir prematur. Pertumbuhan anak tersebut diukur sesuai dengan usia kronologisnya.

 

Bagaimana bila ASI yang diberikan tidak cukup?

Ibu tidak perlu khawatir. Langkah pertama yaitu menghubungi konselor laktasi untuk mengetahui penyebab kurangnya ASI dan menemukan solusinya. Apabila setelah konsultasi tersebut ASI masih tidak mencukupi, bayi dapat diberikan suplemen nutrisi (human milk fortifier) yang dicampurkan ke ASI, atau bayi mendapat ASI tambahan dari donor. Jika semua cara sudah dicoba namun pertumbuhan bayi kurang baik, maka dapat diberikan susu formula khusus bayi prematur sesuai kebutuhan.

 

Mba Tina, aku perlu nambahin tentang feeding intolerance juga ga?

 

Kesimpulan

Nutrisi bayi prematur dalam beberapa bulan awal kehidupannya sangat penting bagi pertumbuhannya saat ini dan saat dewasa nanti. Jika kondisi bayi prematur belum baik, pemberian nutrisi dapat melalui cairan infus yang diatur oleh dokter. Jika kondisi bayi sudah baik, maka ASI merupakan pilihan pertama bagi bayi prematur, kecuali ada hal-hal yang membuat Ibu tidak bisa memberikan ASI dengan optimal. Dalam hal ini, bayi prematur dapat diberikan ASI dari donor maupun susu formula khusus untuk bayi prematur. Nutrisi yang baik akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur yang baik pula. Sehingga bayi prematur dapat memiliki masa depan yang sama cerahnya dengan bayi yang lahir cukup bulan.

 

Referensi

 

Underwood MA. Human milk for the premature infant. Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 189–207.

 

Hay WW, Jr. Aggressive nutrition of the preterm infant. Curr Pediatr Rep. 2013 Dec; 1(4): 10.1007/s40124-013-0026-4.

 

Hay WW, Thureen P.  Protein for preterm infants: how much is needed? How much is enough? How much is too much? Pediatrics & Neonatology. 2010 August; 51(4): 198-207.

 

Jennifer E. McGowan JE, Alderdice FA, Holmes VA, Johnston L. Early Childhood development of late-preterm infants: a systematic review. Pediatrics. 2011 June; 127(6): 1111-24.

Ambalavanan N, Rosenkrantz T. Fluid, Electrolyte, and Nutrition Management of the Newborn. Feb 28, 2014. [cited Maret 2017] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/976386-overview

Belfort MB, Rifas-Shiman SL, Sullivan T, et al. Infant growth before and after term: effects on neurodevelopment in preterm infants. Pediatrics. 2011 October; 128(4): 899-906.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 43, Medical nutrition therapy for low birth weight infants; p.1118-38.

 

Quigley M, McGuire W. Formula versus donor breast milk for feeding preterm or low birth weight infants. The Cochrane Library. 2014 Jan 1. DOI:10.1002/14651858.CD002971.pub3.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 5, Nutrition during pregnancy and lactation; p.184-93.

 

Colaizy TT, Morriss FH. Positive effect of NICU admission on breastfeeding of preterm US infants in 2000 to 2003. Journal of Perinatology. 2008 February; 28: 505–510.

 

Innis SM. Impact of maternal diet on human milk composition and neurological development of infants. Am J Clin Nutr. 2014 March 20; 99(3): 734S-741S.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 29, Medical nutrition therapy for food allergy and food intolerance; p.759-61.

World Health Organization. Feeding of low-birth-weight infants in low- and middle-income countries. 2011. [cited April 2017] Available from:

http://www.who.int/elena/titles/full_recommendations/feeding_lbw/en/

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pemberian Asi Pada Bayi Lahir Kurang Bulan. Aug 27, 2013. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-asi-pada-bayi-lahir-kurang-bulan

Great Ormond Street Hospital for Children. Nutrition: enteral nutrition for the preterm infant. March 24, 2016. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.gosh.nhs.uk/health-professionals/clinical-guidelines/nutrition-enteral-nutrition-preterm-infant

Sudahkah Pengasuh Bayi Anda Mendapatkan Vaksin Pertusis?

Sebuah sekolah menengah di Seattle baru-baru ini mengumumkan wabah kecil batuk rejan: 13 siswa didiagnosis dengan pertusis yang dikonfirmasi laboratorium. Tak satu pun dari remaja yang menular saat ini, namun hal ini menjadi pertanyaan menarik tentang bagaimana melindungi anak-anak dan masyarakat kita. Apakah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memastikan pengasuh bayi, pengasuh atau bahkan nenek buyut benar divaksinasi?

Cukup sulit untuk meminta kakek dan nenek untuk memvaksinasikan diri mereka agar dapat melindungi anak bungsu atau balita yang paling rentan. Mungkin juga merupakan tantangan dengan pengasuh tetangga. Saya akan menyarankan Anda untuk hanya mengatakan, “Hei, apakah Anda mendapatkan suntikan 11 tahun dan vaksin flu Anda tahun ini?” Masalahnya, satu kendala mungkin adalah bahwa pengasuh berusia 15 tahun Anda mungkin tidak tahu apakah mereka sudah mendapatkan vaksin Pertusis remaja. Sebagai pengingat, semua anak diberi imunisasi untuk batuk rejan (DTaP) pada usia 2, 4, 6, dan 15 bulan. Mereka kemudian menerima dosis lain pada usia 4. Kemudian dosis tween booster (tembakan Tdap) pada usia 11 tahun.

Banyak remaja mempersiapkan diri untuk pekerjaan besar mengasuh anak dengan mengikuti kelas/kursus. Di kelas, instruktur membantu mereka untuk memastikan apakah mereka akan mendapatkan imunisasi selama kursus berlangsung.

Apa Itu Batuk Rejan?

  • Infeksi bakteri yang sangat menular (pertusis) pada hidung dan tenggorokan menyebabkan “batuk rejan.”
  • Mudah terbawa oleh batuk dan bersin. Gejala muncul 7-10 hari setelah terpapar (rata-rata)
  • Gejala berbeda menurut usia, bayi dan anak kecil mungkin akan memiliki batuk parah atau bahkan berhenti bernapas. Kami sangat khawatir tentang bayi yang baru lahir, bayi muda di bawah usia 2 bulan, tetapi juga mempertimbangkan bayi di bawah usia 6 bulan “berisiko tinggi.”
  • Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa mengalami demam, pilek dan batuk yang parah yang berlanjut menjadi batuk, suara yang “rejan” terdengar dengan batuk, atau bahkan batuk yang berlangsung lebih dari 100 hari (bahkan jika diobati). Pengobatan adalah berupa mencegah penyebaran, bukan batuk.

Apakah Batuk Rejan Adalah Masalah yang Serius?

  • Sangat serius untuk bayi dan anak kecil. Sekitar setengah dari bayi yang mendapatkan batuk rejan masuk rumah sakit. Beberapa akan mengalami gangguan pernafasan parah dan beberapa orang akan mengalami kejadian yang mengancam jiwa saat bernafas.
  • Bisa menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak dan bahkan kematian sangat jarang.

Orang dengan risiko tertinggi:

  • Bayi, ibu hamil, penderita asma
  • Washington State: kami mengalami wabah besar dua tahun lalu. Syukurlah sekarang kasus biasanya antara 184 dan 1026 kasus pada tahun biasa. Sejauh ini, telah terjadi 96 kasus yang dilaporkan tahun ini (sampai 11/8), turun dari 644 yang dilaporkan kali ini tahun lalu. King County memiliki salah satu catatan yang lebih rendah di negara bagian: 3.8 / 100.000 orang (tertinggi adalah Adams County: 60 per 100.000).

Apa yang Orang Tua Perlu Tahu?

Vaksinasi (vaksin DTaP pada anak kecil & Tdap pada usia 11 tahun ke atas) adalah pertahanan terbaik melawan pertusis. Anak-anak yang tidak divaksinasi setidaknya memiliki risiko delapan pertiga lebih besar dibandingkan anak-anak yang sepenuhnya divaksinasi dengan DTaP. Kata “wabah” benar-benar mengajarkan kita bahwa dibutuhkan masyarakat yang sudah divaksinasi untuk melindungi bayi kecil. Sebagian besar data memperkirakan hanya sekitar 4 dari 5 dari kita yang mendapatkan suntikan perlindungan dari batuk rejan sehingga kita bergantung pada orang-orang di sekitar kita untuk diimunisasi agar kita cenderung tidak menyebar. Selama epidemi 2012 di Washington banyak anak dan remaja yang menderita batuk rejan telah diimunisasi. CDC mencatat epidemi Washington yang mengajarkan kita tentang batuk rejan. Meski vaksin pertusis memberikan perlindungan jangka pendek yang bagus, sepertinya imunitas bisa memudar. Data CDC memang mengingatkan kita bahwa mendapatkan suntikan masih merupakan strategi tunggal yang paling efektif, terutama untuk wanita hamil dan kontak bayi.

  • Pengasuh bayi dari segala usia harus tinggal di rumah saat sakit (terutama jika merawat bayi yang baru lahir) jika mereka memiliki gejala batuk atau pilek, terutama jika wabah batuk rejan atau influenza berada di wilayah mereka.
  • Ibu hamil membutuhkan Tdap selama trimester ketiga mereka. Temuan penelitian menyimpulkan, “Tdap selama kehamilan tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan hipertensi pada kehamilan atau kelahiran prematur atau SGA (usia gestasi yang kecil).
  • Dosis satu kali Tdap direkomendasikan untuk semua orang berusia di atas 11 tahun
  • Efek seumur hidup tidak terbukti (efek suntikan berlangsung sekitar 4-12 tahun) namun setelah 5 tahun proteksi moderat tetap ada.
  • Cuci tangan, tutupi batuk, tetap di rumah saat sakit
  • Hindari kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala batuk rejan. Dorong mereka untuk menemui dokter untuk pengobatan jika mereka memiliki batuk yang tidak biasa.

 

 

Ditulis oleh Wendy Sue Swanso, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/has-your-babysitter-had-the-whooping-cough-shot/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Reqgi First Trasia.

Kapan Pertama Kali Janin Mengenal Rasa Makanan?

Tahukah Anda bahwa si kecil di dalam kandungan dapat merasai apa yang Anda makan? Nah, ini dia menu dalam rahim.

 

Anda mungkin berpikir si kecil belum mempunyai konsep tentang rasa sampai saat pertama si kecil meneguk ASI, atau barangkali ketika si kecil diberi makanan padat. Tapi mungkin Anda terkejut karena ternyata si kecil sudah mencicipi rasa pertamanya 13 minggu setelah pembuahan, atau tepatnya ketika indra pengecapnya mulai berkembang.

Dari usia 11 minggu di kandungan, bayi Anda akan belajar bagaimana menelan dan meneguk cairan amniotik yang mengelilinginya dalam rahim. Komposisi cairan amniotik berubah di trimester pertama. Dari semula cairan berbasis air, mirip plasma darah, menjadi substansi penuh nutrisi karbohidrat, protein, dan lemak. Substansi ini berperan penting dalam proses tumbuh kembang si janin. Setiap hari, si kecil akan mencerna sejumlah cairan ini, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, maupun untuk melatih kemampuan si kecil menelan dan mencerna. Cairan amniotik tersebut mengandung rasa yang tidak pasti, rasa berubah sesuai makanan yang dikonsumsi ibunya. Jadi, begitu indra pengecap si kecil sudah cukup berkembang, ia akan dapat mencicipi berbagai rasa yang terkandung dalam cairan amniotik, tergantung jenis makanan yang Anda asup.

Penerima rasa (taste receptor) yang terbentuk cepat di lidah si kecil, seiring perkembangan saraf penerima lainnya di saluran napas, memberi kemampuan pada si kecil untuk merasakan amniotik dan membauinya. Setidaknya 90% dari indera perasanya dipengaruhi oleh penerima bau (smell receptor), sehingga makanan dengan rasa yang kuat, misalnya rempah, adalah yang paling mudah dikenali janin.

Coba uji pada diri Anda sendiri. Jika Anda makan makanan berbumbu tajam, tunggu dua jam, waktu yang dibutuhkan bagi rasa makanan tersebut sampai ke cairan amniotik, Anda akan merasakan respon janin, misalnya gerakan, dll. Atau bisa saja, janin Anda tidak responsif! Apapun reaksi janin yang terjadi, Anda tidak perlu khawatir . Rasa makanan seperti itu tidak akan membuat janin stress. Rasa-rasa itu sekadar melatih janin dengan sensasi yang lebih bervariasi sehingga ia akan lebih siap saat lahir nanti.

Para peneliti menyatakan bahwa bayi yang terekspos oleh rasa tertentu di dalam rahim akan lebih menyukai makanan dengan rasa tersebut setelah mereka dilahirkan nanti. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Philadelphia menguji sekelompok ibu hamil. Para bumil ini dibagi dalam tiga kelompok: satu kelompok diberi jus wortel empat kali seminggu selama kehamilan, lalu diberikan air ketika mereka sudah melahirkan dan saat menyusui. Kelompok kedua minum air selama kehamilan, lalu diberi jus wortel saat mereka menyusui. Kelompok terakhir tidak minum jus wortel.

Ketika bayi-bayi mereka disapih dan mulai makan makanan padat, para peneliti menawarkan dua macam sereal: sereal tanpa rasa dan rasa wortel. Bayi yang terpapar jus wortel, baik melalui cairan amniotik maupun ASI, akan lebih menyukai sereal rasa wortel dan cenderung tidak akan menyeringai bila dibandingkan bayi yang belum pernah mencicipi rasa wortel.

Penelitian lain dilakukan untuk menguji apakah bau-bauan dapat diteruskan ke cairan amniotik oleh jenis makanan tertentu. Peneliti memberikan kapsul bawang putih atau kapsul gula kepada sekelompok ibu hamil. Kemudian , para peneliti mengambil contoh cairan amniotik pada bumil tersebut. Sekelompok orang diminta melakukan tes penciuman, dan sampel dari para ibu yang telah menelan kapsul bawang putih terdeteksi bau bawang putih.

Sepertinya memang benar kata orang: you are what you eat. Dan anehnya, apapun yang Anda makan tidak saja langsung berpengaruh pada si kecil, tetapi juga mungkin memengaruhi pilihan rasa si kecil di masa depan. Ilmuwan Perancis melakukan sebuah studi untuk mendukung fakta tersebut: 12 ibu hamil diberikan biskuit dan permen berlapis coklat sekitar 10 hari sebelum melahirkan. Beberapa jam setelah para wanita tersebut melahirkan, reaksi bayi mereka terhadap bau coklat lebih tampak dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar bau tersebut sebelumnya.

Paparan terhadap sebuah aroma di masa antenatal dan setelah melahirkan diyakini dapat meningkatkan kenikmatan terhadap rasa tersebut, selama masa penyapihan maupun setelah mereka dewasa. Hal ini menjelaskan mengapa berbagai negara memiliki preferensi budaya dan etnis tertentu terhadap makanan dan rasa. Seorang anak Indonesia, misalnya, tumbuh dengan preferensi rasa yang berbeda dengan anak-anak Perancis, China, atau India – dan kegemaran tersebut dapat disebabkan oleh tereksposnya anak-anak terhadap rasa cairan amniotik yang pertama kali mereka rasakan.

Menjaga kebiasaan makan sehat dan seimbang selama masa kehamilan penting untuk memberi makanan si kecil yang sedang tumbuh. Namun, dengan Anda menganut kebiasaan makan makanan yang bervariasi, si kecil nantinya akan lahir dengan kebiasaan menikmati makanan sehat. Dengan makan yang benar, Anda dapat menghapus kemungkinan si kecil menyukai permen dengan kegemarannya pada brokoli.

Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Keith L. Moore, et al. 2000. Fetal Growth and Development. The South Dakota Departement of Health.

  2. Women Health Care Physicians. 2015. Prenatal Development: How Your Baby Grows During Pregnancy. The American College of Obstetric and Gynecology.

  3. Giussepe M, et al. 2015. Pregnancy, Embryo Fetal Development and Nutrition: Physiologi around Fetal Programming. Journal of Histology and Histopatology: University of Catania: Italia.

  4. Deki Pem. 2015. Factors Affecting Early Childhood Growth and Development: Golden 1000 ages. Medical Science University of Bhutan: Bhutan.

  5. J A Dipietro. 2008. Prenatal Development. Johns Hopkins University: Baltimore.

Menyanyi Dapat Membuat Bayi Tenang Lebih Lama

Apa yang Anda lakukan bila bayi kecil anda mulai gelisah dan hendak menangis? Secara naluri tentu kita ingin menghibur dengan cepat-cepat menghampiri, mengajaknya bicara, bermain, bernyanyi atau menggendong. Tapi pernahkah terpikir oleh ayah bunda manakah cara yang paling efektif membuat bayi tenang lebih lama?

Menyanyi dan Emosi Bayi

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Isabelle Peretz dari Universitas Montreal menyebutkan bahwa menyanyi di dekat bayi membuat bayi tenang lebih lama daripada sekedar bicara. Dalam penelitian ini dilakukan dua eksperimen pada 30 bayi sehat usia 6-9 bulan.

Pada eksperimen pertama, saat bayi tenang, bayi diperdengarkan rekaman suara orang dewasa atau nyanyian dari bahasa yang mereka tidak kenal (Bahasa Turki). Meskipun berada di ruangan yang sama, orangtua juga berdiri di belakang bayi saat eksperimen berlangsung. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan respon si kecil tidak dipengaruhi oleh kepekaan terhadap suara orang tua dan bahasa. Setelah itu, respon direkam sampai terlihat ekspresi negatif atau gelisah pada wajah. Sedangkan eksperimen kedua, dilakukan perlakuan yang hampir sama kecuali bayi diperdengarkan rekaman ibunya menyanyi dalam bahasa yang familiar bagi mereka (dalam penelitian ini bahasa Perancis).

Ternyata, hasil eksperimen menunjukkan bahwa bayi lebih lama tenang saat mereka mendengarkan musik meskipun saat itu bayi berada dalam ruangan yang steril, tanpa mainan, tanpa rangsangan visual atau sentuhan. Hal ini disebabkan perasaan bayi positif dan terhindar dari stress lebih lama saat mendengarkan suara wanita bernyanyi. Yang menarik, bayi justru lebih lama tenang saat mendengarkan suara nyanyian dari suara dan bahasa yang tidak familiar seperti eksperimen pertama. Saat eksperimen pertama, bayi lebih tenang selama 9 menit sedangkan pada eksperimen kedua bayi bertahan untuk tenang selama 6 menit.

gambar

Dari eksperimen ini, peneliti menyarankan untuk memperdengarkan lagu untuk bayi dengan irama dan tempo yang teratur bila ingin membuat mereka tenang lebih lama. Hal ini diduga dapat membuat bayi terhibur dan merangsang bayi untuk dapat memprediksi apa yang mereka dengar.Jadi, sudah siap mencoba menghibur bayi Anda dengan menyanyi? 🙂

Untitled

Agustina Kadaristiana, dr.

10/31/2015

Referensi

Corbeil M, Trehub SE, Peretz I. Singing Delays the Onset of Infant Distress. Infancy [Internet]. 2015 Sep 1 [cited 2015 Oct 31]; Available from: http://onlinelibrary.wiley.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/doi/10.1111/infa.12114/abstract

Gambar di unduh dari : http://mediafiles.parentscanada.com/Images/Articles/mom-playing-guitar-baby-620×400.jpg