Category Archives: Fakta atau Mitos

Informasi seputar kesehatan reproduksi wanita, menstruasi, dan KB

E-Book Doctormums – Kiat Sehat Puasa di Bulan Ramadhan

Assalamualaikum wr wb

Bulan Ramadhan kali ini, Doctormums ingin berbagi tips sehat selama puasa melalui e-book doctormums. Topik yang kami sajikan mudah-mudahan bermanfaat mulai dari bolehkah ibu hamil dan menyusui berpuasa, kiat mengajarkan puasa pada anak, tips sehat puasa saat umroh di bulan Ramadhan, kiat berhenti merokok di bulan puasa dan masih banyak lagi. Silakan di share dan download secara bebas bila dirasa bermanfaat. Mudah-mudahan ibadah puasa kita diterima Allah SWT dan penuh dengan keberkahan. Aamiin

Kiat Sehat Berpuasa di Bulan Ramadhan (by Doctormums)

Kiat Memilih Popok

Banyak sekali jenis popok yang dijual di pasaran saat ini. Ada popok sekali pakai, popok kain atau popok pakai-ulang, dan biodegradable. Ada pula orang tua yang menghindari popok untuk si kecil. Lalu sebagai orangtua, popok apa sebenarnya yang aman untuk anak? Apa sih risikonya bila bayi tidak memakai popok? Yuk simak tips doctormums dalam memilih popok.

Popok disposable (popok sekali pakai)

Popok disposable ialah popok dengan daya serap tinggi, nyaman dipakai, mudah dibawa kemana-mana, dan banyak tersedia di pasaran.

Keuntungan: Popok sekali buang ini sangat praktis karena Anda tidak perlu repot mencuci.  Orang tua juga tidak perlu khawatir, bahan yang terkandung dalam produksi popok aman untuk bayi. Popok ini mengandung bahan ultra absorbent polyacrylate yang ketika basah, bahan ini akan berubah menjadi gel dan mengikat cairan seperti pipis, pup dan keringat. Oleh karena itu, kulit bayi akan tetap kering dan risiko kulit gatal akibat popok (diaper rash) akan menurun. Tapi bukan berarti popok bisa didiamkan lama menumpuk kotoran. Bila popok didiamkan lama, kulit bayi akan lembab, bakteri dan jamur akan tumbuh sehingga muncul ruam popok.

KekuranganPopok sekali pakai ini kurang baik bagi lingkungan. Dibutuhkan 200 tahun atau lebih untuk menghancurkan popok. Popok disposable juga mahal harganya. Selain itu, tidak semua bayi cocok dengan penggunaan popok sekali pakai. Beberapa anak ada yang sensitif terhadap pewarna pada gambar di popok. Sehingga, pilihlah merk lain yang lebih netral bila anak Anda alergi. Tidak jarang popok disposable meninggalkan tanda karet di sekitar pangkal paha dan pinggang. Bisa jadi ini karena popok terlalu ketat. Solusinya, longgarkan atau belilah popok dengan ukuran yang lebih besar.

Reusable (popok kain)

Keuntungan:  Popok kain yang dapat dipakai ulang jauh lebih murah daripada popok sekali pakai. Awalnya Anda memang harus membeli banyak, tapi biaya keseluruhannya akan lebih murah, bahkan akan lebih tinggi nilainya jika Anda punya anak lebih dari satu. Popok kain juga bebas dari bahan kimia pencetus alergi. Popok kain membuat Anda mau tidak mau lebih sering mengganti popok ketika basah. Sehingga, kulit bayi akan tetap kering, bersih dan terhindar dari jamur, kuman, dan ruam popok. Selain itu, bayi yang menggunakan popok kain lebih mudah dilatih untuk toilet training. Si kecil akan mudah merasa tidak nyaman ketika pipis atau pup di popok kain sehingga bisa jadi lebih mudah untuk diajak ke toilet dan menggunakan celana dalam.

KekuranganPopok kain lebih tidak praktis dibandingkan dengan popok sekali pakai. Popok kain daya serapnya tidak sebagus popok sekali pakai sehingga Anda harus lebih sering mengganti dan mencucinya. Namun, saat ini sudah banyak inovasi popok kain.  Ada popok kain yang dilengkapi lapisan yang dapat dibongkar pasang, sehingga Anda tidak harus mencuci seluruh bagian popok. Popok kain awalnya diduga lebih ramah lingkungan daripada popok sekali pakai karena jauh lebih sedikit menimbulkan sampah. Sayangnya, penelitian terbaru menyebutkan bahwa popok kain juga tidak seramah lingkungan itu. Dibutuhkan air, listrik dan sumber energi yang lebih besar untuk membersihkan popok kain daripada popok sekali pakai.

Popok Biodegradable

Keuntungan: Popok biodegradable ialah popok sekali pakai yang lebih ramah lingkungan karena bisa teruraikan dalam tanah. Popok ini praktis, tidak mengandung bahan kimia dan pemutih, dan menggunakan lapisan katun (bukan polyacrylate) untuk menyerap cairan. Popok biodegradable ini lebih baik bagi kesehatan kulit bayi Anda dibandingkan popok disposable.

Kekurangan: Karena praktis dan ramah lingkungan, wajar bila popok ini menjadi dambaan orang tua. Sayang harganya lebih mahal dari popok-popok lain. Selain itu, meski bisa hancur dan terurai, butuh 50 tahun bagi popok ini untuk melebur dengan tanah.

Pendekatan tanpa popok

Ada orang tua yang mencoba dan mempelajari tanda-tanda si kecil ingin buang air, lalu
secepatnya membawa si kecil ke toilet. Perlahan si kecil belajar mengontrol dirinya, bahkan terkadang ia mempunyai kemampuan itu lebih dini daripada anak-anak yang terbiasa mengenakan popok. Tahukah Anda? Bayi rata-rata berganti popok 6 kali sehari, 40 per minggu, atau 160 per bulan. Berdasarkan survey di Inggris, 3 milyar popok dibuang setiap harinya. Sejak tahun 2012, pendekatan tanpa popok menjadi populer di kalangan selebiritis di Eropa. Anda mungkin dapat memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan menerapkan kombinasi beberapa jenis popok.

Kesimpulan

Memilih popok keputusannya ada pada orangtua. Sampai saat ini, peneliti dan praktisi medis tidak merekomendasikan popok tertentu untuk si kecil. Hal ini disebabkan tiap-tiap popok ada kelebihan dan kekurangannya untuk kesehatan dan lingkungan. Apapun pilihan Anda, yang penting orang tua perlu perhatikan langkah berikut ini untuk menghindari ruam popok:

  1. Gunakan perlak berlapis yang mudah diseka, karena cukup higienis dan nyaman saat Anda harus mengganti popok si kecil.
  2. Bersihkan area popok dengan air hangat, kain lembut atau kapas. Bila pakai sabun, pilih yang tidak berbau dan lembut. Bila pakai tisu basah, pilih yang tidak beralkohol.
  3. Keringkan kulit bayi dengan handuk lembut sebelum dipakaikan popok.
  4. Gunakan krim sebelum pakai popok disposable dan biodegradable
  5. Segera ganti popok ketika popok basah atau bayi pup.
  6. Seringlah mengganti popok, minimal setiap 4 jam atau 6 kali sehari.
  7. Ketika pantat si kecil terlihat memerah, seulas tipis krim khusus ruam popok akan
    mengobati dan melindungi area tersebut.

Mengenai dampak terhadap lingkungan, fakta menyebutkan bahwa apapun jenis popok yang Anda gunakan berdampak pada ekosistem. Untung mengurangi jejak karbon, Anda bisa mencuci popok pakai ulang dengan suhu rendah dan keringkan dengan menggantungnya, bukan dengan mesin pengering. Pilih jenis popok dengan lapisan biodegradable agar lebih cepat hancur. Ketika bayi Anda menggunakan popok sekali pakai, ganti bila memang perlu dan carilah popok dengan merek yang ramah lingkungan.

Mari bijak memilih dan menggunakan popok!

Depok, 24 Oktober 2017
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Nhung T Pham, et al. 2009. Diapers and The Environment. Nearta Magazine.
    https://www.nearta.com/Papers/DiaperEnvironment.pdf
  2. Team. 2001. Documented Facts About Diapers. Real Diapers Association.
    http://www.realdiaperassociation.org/pdf/trifold_real-diaper- facts.pdf
  3. Saleem Ali. 2011. Sustainable Assessment: Seventh Generation Diapers vs gDiapers.
    University of Vermont.
  4. B Lab. 2011. Diapers B Impact Report. http://www.bcorporation.net/index.cfm/fuseaction/company.report/ID/5d0146a1-226a- 47c6-ba9d- b708d09aab48
  5. Hakala S, et al. 2001. Life cycle Assessment Comparison of Biopolymer and
    Traditional Diapers System. Technical Reserach Centre of Finland
  6. Diapers: Disposable or Cloth?. Healthy Children. 2015. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Diapers-Disposable-or-Cloth.aspx
  7. The Diaper Debate: Cloth Versus Disposable Baby Diapers. What To Expect. a2017. https://www.whattoexpect.com/diapering-essentials/cloth-vs-disposables.aspx

Mengisap Jempol dan Menggigit Kuku Melindungi dari Alergi?

Kita memang harus memilih pertempuran kita di rumah. Sebagai seorang dokter anak saya tidak pernah terlalu bersemangat menganjurkan orang tua untuk menghabiskan banyak energi mencoba menghilangkan kebiasaan mengisap jempol atau menggigit kuku anak-anak mereka. Umumnya, orang tua jarang berhasil — teman-temannya lah yang sukses. seringkali justru ketika teman atau kelompoknya menyebut-nyebut kebiasaan sang anak, dia menjadi termotivasi untuk berhenti. Kita dapat memberi dukungan dengan cara mengingatkan mereka saat tangan mereka berada di dalam mulut atau bahkan menyuruh mereka memasang kaos kaki di tangan saat menonton televisi karena umumnya sering tanpa sadar melakukan kebiasaan tersebut. Meskipun banyak orang tua khawatir tentang kebiasaan anak-anak mereka mengisap jempol dan jari-jari mereka, kebiasaan tersebut umum terjadi, dengan hasil beberapa studi menemukan hampir 25% anak-anak melakukannya. Banyak waktu dihabiskan untuk memikirkan cara-cara yang dapat menolong anak-anak kita berhenti, mengkhawatirkan apakah kuman-kuman di tangan mereka akan menjadi penyakit, dan berharap kebiasaan tersebut di mempengaruhi gigi-gigi mereka. Sebuah studi terbaru di Jurnal Pediatrics meyoroti mungkin ada sebuat efek positif dari mengisap jempol. Ini patut disebut.

Perlindungan terhadap alergi dari mengisap jempol dan menggigit kuku?

Studi ini menilai anak-anak usia antara 5 hingga 11 tahun dan diagnosis mereka kemudian berupa alergi serbuk bunga, uji tusuk kulit alergi dan asma. Landasan studi ini diambil dari konsep hipotesis tentang kebersihan yang agak kontroversial. Dasar pemikiran hipotesis tersebut adalah pajanan kuman di awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap cara sistem imun kita memberikan respon selama masa tumbuh kembang. Kita mungkin membangun toleransi dan imunitas sehingga kita menyesuaikan diri menjadi lebih kurang alergi jika memiliki berbagai jenis bakteri dan kuman. Pada dasarnya, hidup di lingkungan yang steril mungkin tidak menjadikan lebih ‘aman’ karena beberapa orang percaya perlu berhadapan dengan banyak kotoran, bakteri, dan kuman di awal dan mungkin karena tidak memiliki banyak sensitivitas kemudian….

Di masa lalu teori-teori hipotesis kebersihan telah mendukung penurunan risiko asma (kotoran dan kuman yang berasal dari binatang peliharaan dapat menurunkan alergi atau asma kemudian) dan sebuah studi kecil tahun 2013 yang lalu menemukan bahwa anak-anak yang dot-nya ‘dibersihkan’ dengan mulut orang tua mereka memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk timbul alergi (teorinya adalah bakteri yang berpindah dari ludah ibu/ ayah kepada bayinya mengubah pola pajanan bayi terhadap bakteri dan mungkin menjauhi kecenderungan alaergi atau asma dikemudian hari). Jadi sejumlah peneliti mencari lebih jauh efek pada anak-anak yang sering memasukkan tangan ke dalam mulut apakah ada perlindungan yang diberikan — mereka mengevaluasi data dengan rentang waktu sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Sebuah studi dari New Zealand yang keluar baru-baru ini mengikuti peserta sejak kecil (usia 5 tahun) hingga dewasa (usia 32 tahun). Mereka menemukan bahwa anak-anak yang memiliki kebiasaan mengisap jempol/ jari atau menggigiti kuku-kuku mereka memiliki kemungkinan yang lebih kecil memberikan hasil positif pada uji kulit alergi saat remaja juga saat berusia 30-an. Kebiasaan menggigit kuku dan mengisap jempol sayangnya tidak menurunkan risiko untuk alergi serbuk bunga atau asma di masa tua. Hipotesis kebersihan mereka agaknya bisa menjadi benar: paparan terhadap kotoran dan kuman dari tangan ke mulut saat di awal kehidupan dapat meningkatkan toleransi dan mengubah sistem imun anda. Dapat menjadikan kita lebih tahan terhadap alergi umum (kucing, tungau debu, dan lain-lain). Kelegaan untuk para orang tua yang mungkin benar-benar khawatir dengan kebiasaan tersebut.

Apa yang bisa diambil? Mungkin terdapat semacam perlindungan dari kebiasaan alami untuk menenangkan diri seperti mengisap jempol.

Tips Untuk Orang Tua Dengan Anak Penghisap Jempol

Anda tidak perlu menghentikannya. Ini hanyalah salah satu cara bayi dan anak-anak menghibur dan menenangkan diri. Jika mereka diolok-olok atau anda khawatir mengenai infeksi pada tangan atau kulit mereka, maka usahakan untuk membimbing mereka menjauhi kebiasaan tersebut saat mereka lupa.Terlalu menekan anak anda untuk berhenti mungkin lebih memberikan akibat buruk ketimbang yang baik. Setiap dorongan adalah dorongan jadi meskipun anda mengomel dan memberikan dorongan negatif bisa jadi malah memperkuat kebiasaan tersebut. Tidak diragukan bahwa kebiasaan mengisap jempol (penggunaan empeng yang berkepanjangan setelah usia 2 tahun) dapat memberikan efek merugikan pada barisan gigi — hal ini dapat membuat barisan gigi maju. Termasuk pada penggunaan empeng (terutama jika digunakan jangka panjang atau menggunakan ukuran yang tidak sesuai). Jika anak anda berhenti mengisap empeng atau jempol atau jarinya sebelum gigi depan permanennya tumbuh, besar kemungkinan pola gigitannya akan membaik dengan sendirinya karena gigi-giginya masih dapat bergerak menyesuaikan diri di dalam rahang.

Menghentikan Kebiasaan mengisap Jari & Mengempeng

  • Anak-anak umumnya berhenti mengisap jari mereka karena tekanan kelompoknya bukan orang tua. Mereka seringkali akan menghilangkan kebiasaan tersebut sendiri saat teman-teman mereka mendorongnya.
  • Puji dan berikan penghargaan kepada anak anda saat bertahan untuk tidak mengisap jari atau menggunakan empeng jika hal tersebut membantu mereka lebih percaya diri. Jika anda sedang mencoba menghentikan kebiasaan mengempeng, saya sarankan hentikan saja langsung pada sekitar usia 2 tahun atau sebelumnya. Setelah beberapa hari dan sejumlah mainan pengganti untuk menenangkan diri, keadaan biasanya segera membaik seperti biasa.
  • Jaga agar tangan mereka selalu sibuk atau teralihkan dengan hal-hal yang mereka sukai jika anda memotivasi anak dengan usia sekolah untuk berhenti. Beri penghargaan jika mereka berhasil (misalnya jalan-jalan istimewa ke taman bermain tertentu).
  • Tidak peduli metode apapun yang anda coba lakukan, pastikan untuk menjelaskannya pada anak anda dan tugaskan mereka sebagai rekan. Kita tidak ingin menjadi dipandang sebagai tukang ngomel, apalagi oleh anak-anak kita.

July 13, 2016

DoctorMums HeadshotDitulis oleh by Dr. Wendy Sue Swanson, Pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and penulis dari Blog Seattle Mama Doc & ; Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/benefit-thumb-sucking/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh Farah Suraya, dr.

Perlengkapan ASI Eksklusif

Menyusui adalah anugerah bagi setiap ibu. Bisa memberikan ASI secara eksklusif (selama 6 bulan tanpa pemberian makanan lain selain ASI) tentu juga menjadi suatu kesempatan yang berharga dan momen yang indah bagi ibu dan juga sang anak. Proses pemberian ASI ini, memang bisa diberikan secara langsung tanpa bantuan alat apapun. Namun, bagi para ibu yang kadang tidak ada kesempatan untuk menyusui sang buah hati secara langsung, misalnya ibu bekerja, diperlukan perlengkapan ASI untuk mendukung proses pemberian ASI. Lalu, apa saja ya perlengkapan ASI yang ibu butuhkan?

1.Pompa atau alat perah ASI

pigeon-manual-breast-pump-bpa-free-pompa-asi-manual-putih-halloween-promo-8825-635214-1-catalog_233Pompa ASI ini digunakan untuk memompa air susu dari payudara ibu, agar produksinya tetap lancar dan menjaga kuantitasnya agar selalu mencukupi. Di samping itu, dengan memompa secara rutin dapat mencegah tersumbatnya saluran / duktus pada payudara yang memproduksi ASI (blocked ducts). Pompa ASI ini terdiri dari beberapa macam; pompa manual (dioperasikan secara manual dengan tangan), pompa yang dioperasikan oleh baterai, dan pompa elektrik.

Adapun pompa ASI ini dibutuhkan bila:

  • Payudara perlu dikosongkan untuk produksi susu yang lebih baik
  • Payudara ibu bengkak
  • Ibu sedang dalam keadaan sakit sehingga tidak dapat menyusui
  • Ibu dan bayi sedang tidak bersama
  • Susu perlu dikumpulkan untuk keperluan di waktu yang akan datang

Pilihan untuk pompa ASI ini tergantung pada pemakaiannya. Untuk proses memompa yang mudah dan nyaman seperti di rumah, biasanya digunakan pompa yang dioperasikan oleh baterai atau yang elektrik, dimana sumber listrik atau tempat re-charge dapat dengan mudah dijangkau. Sementara ketika bepergian, para ibu biasanya lebih memilih pompa manual karena lebih praktis, tidak berisik, dan dapat diatur menyerupai refleks menyusui natural bayi sehingga lebih mudah untuk mendapat let-down reflex.

2. Niplette / Penarik Puting

SCF152_02-IMS-en_USAlat ini biasanya digunakan untuk membantu ibu dengan puting payudara yang datar atau terbalik. Ini dapat menarik puting dengan lebih nyaman untuk persiapan menyusui. Penting untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi sebelum menggunakan alat ini, sehingga setelah melahirkan sang bayi, ibu bisa menyusui dengan sukses tanpa kendala.

3. Nipple Shields / Perisai Puting

downloadAdapun kegunaan alat ini adalah untuk melindungi puting dan meminimalisir rasa sakit ketika menyusui karena adanya luka atau puting pecah. Biasanya tersedia bahan latex atau karet silicon tergantung kenyamanan ibu. Keadaan yang mendukung pemakaian alat ini adalah terdapatnya luka pada puting, puting datar atau terbalik yang menyebabkan bayi sulit mendapatkan perlekatan menyusui yang benar, dan menahan aliran ASI terlalu deras ketika bayi menyusui.

4. Tempat Penyimpanan ASI Perah (Cooler Bag)

download (1)Bagi ibu yang bekerja, tas ini merupakan sesuatu yang penting demi kenyamanan dan keleluasaan dalam bekerja namun tetap lancar dalam mengupayakan pemberian ASI eksklusif untuk sang buah hati. Tas ini merupakan pengganti kulkas sementara untuk menyimpan hasil perahan ASI dan dengan selamat membawanya kembali ‘pulang’ tanpa perlu es atau sambungan listrik tertentu. Tas ini ibarat ‘sahabat’ bagi ibu bekerja yang menyusui. Sangat berguna untuk selalu dibawa bepergian dan cukup untuk menampung satu pompa ASI dan lima botol penyimpanan ASI perah sekaligus. Banyak desain yang dapat ditemui untuk tas ini dan kebanyakan sangat fashionable, sehingga kadang orang tidak akan menyadari kita membawa alat-alat penting untuk ASI.

5. Breast Pads / Bantalan Payudara

imagesBantalan ini tersedia dalam bentuk sekali pakai atau dapat dicuci kembali, yang dirancang untuk mencegah kebocoran atau pakaian yang basah karena ASI yang melimpah. Alat ini terdiri dari lapisan penyerap dari bahan yang lembut untuk melindungi puting dan dapat memberikan aliran udara yang baik untuk menjaga kulit tetap kering. Cara pemakaiannya cukup dengan menyelipkannya pada bra untuk menyerap ASI yang melimpah atau kadang keluar melalui proses let-down reflex.

6. Botol Penyimpanan ASI

04-botol-kaca-asi-tutup-karet1Alat ini juga sangat penting bagi ibu bekerja yang tidak dapat memberikan ASI secara langsung kepada bayinya. Setelah diperah, ASI dapat disimpan di botol khusus ini. ASI perahan ini dapat disimpan di kulkas bawah sampai dengan 24 jam atau dapat disimpan di freezer untuk waktu yang lebih lama, sampai dengan 3 minggu. Untuk menggunakan kembali ASI yang sudah beku, dapat dicairkan terlebih dahulu dengan diletakkan dalam wadah yang berisi air hangat. Atau untuk cara yang lebih cepat dan aman, dapat digunakan pemanas khusus untuk botol susu bayi yang juga dijual di pasaran. Hindari pemakaian microwave karena dapat merusak nutrisi dan antibodi yang terdapat pada ASI.

7. Botol Susu yang BPA-Free

3FhECNNnaRAda kalanya ibu dan bayi harus berjauhan karena kondisi tertentu, misal ketika ibu bekerja, sehingga tidak dapat menyusui secara langsung. Untuk proses pemberian ASI perah itu sendiri, ada banyak pilihan yang dipilih oleh para ibu, diantaranya ada yang menggunakan cup feeder dan ada juga yang menggunakan botol. Yang penting untuk diperhatikan adalah botol yang dipakai bayi untuk menyusui tidak mengandung bahan BPA (bisphenol-a) yang merupakan bahan kimia yang biasa terdapat pada produk seperti plastik. Memilih botol susu yang tepat juga penting agarbayi tetap dapat mengembangkan kemampuan mengisap dari payudara ibu dengan baik.

Nela Fitria Yeral, dr.

08/16/2016

Referensi

  1. Dr. Lai Fon Min. ET AL. Pregnancy & Babycare Guide Vol.13 (page 172-173): Essential Tools of Breastfeeding. March 2012.
  2. ASI Terbaik untuk Bayi [Internet]. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Available from: http://aimi-asi.org
  3. Pumping & Milk Storage [Internet]. U.S. Department of Health and Human Services. Available from: https://www.womenshealth.gov/publications/our-publications/breastfeeding-guide/breastfeedingguide-general-english.pdf

Kondom dan Pencegahan Penyakit Menular Seksual

Pasangan suami istri yang ingin mencegah atau menunda kehamilan dianjurkan untuk memakai alat kontrasepsi. Salah satu alat kontrasepsi yang mudah, murah dan cukup aman untuk digunakan ialah kondom. Alat kontrasepsi yang banyak dipakai pria ini juga diketahui amat bermanfaat untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS). Termasuk salah satunya ialah penyakit yang berbahaya seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Kasus penyakit menular seksual, termasuk infeksi HIV, cukup banyak terjadi di Indonesia. Data menyebutkan bahwa jumlah penderita HIV sejak 1987 sampai September 2014 sebanyak 150.296 orang. Kelompok yang paling banyak terinfeksi HIV dan AIDS yaitu laki-laki usia 25-49 tahun. Namun, yang paling mengejutkan bahwa berdasarkan profesi, penderita AIDS yang terbanyak di Indonesia adalah ibu rumah tangga.

Untitled

Sekilas tentang Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual (PMS) ialah penyakit ditularkan melalui hubungan intim. PMS dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit. Beberapa penyakit menular seksual yang cukup banyak dialami masyarakat contohnya sifilis, gonorea (kencing nanah), klamidia (infeksi jamur), trikomoniasis, herpes, dan yang mungkin paling ditakuti ialah HIV.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel darah putih, yang menyebabkan kekebalan tubuh seseorang turun. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. Penderita AIDS sangat mudah terkena berbagai infeksi kuman lain yang sering berakibat fatal.

Bagaimana cara penularan PMS?

Sesuai dengan namanya, penyakit menular seksual paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual. Kuman yang membawa penyakit kelamin ini menyebar melalui kontak dari cairan mani, cairan dari kemaluan wanita atau darah. Seperti pada penularan penyakit kencing nanah (gonore), klamidia, trikomoniasis dan infeksi HIV. Selain itu, penularan bisa juga terjadi saat kontak permukaan mukosa kelamin dengan lesi kulit yang terinfeksi dari penderita. Sebagai contoh lesi kulit yang khas pada penderita herpes, sifilis dan chancroid.

Beberapa penyakit juga bisa ditularkan dari aktivitas non seksual. Contohnya bertukar jarum suntik pada pengguna narkoba, donor darah yang tidak aman, dan penularan dari ibu ke bayi saat proses melahirkan.

Bagaimana cara mencegah PMS?

Hal yang paling efektif dalam mencegah penyakit menular seksual ialah tidak berhubungan suami istri sama sekali bagi yang belum menikah. Bila sudah menikah, penting sekali untuk setia kepada pasangan agar dapat terlindungi dari penyakit menular seksual ini. Selain itu, para wanita dianjurkan untuk disuntik vaksin HPV untuk mencegah infeksi HPV dan kanker serviks.

Khusus untuk penyakit HIV, selain melalui hubungan seksual, HIV juga dapat dicegah dengan :

1. Melakukan skrining produk darah jika menjadi penerima transfusi darah.
2. Tidak menggunakan suntik apapun (termasuk narkoba) kecuali atas indikasi medis.
3. Ibu hamil yg positif HIV disarankan menjalani terapi ARV (anti-retroviral)

Bagaimana cara kondom mencegah PMS?

PMS paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual, oleh karena itu salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah PMS ialah menggunakan kondom. Kondom menutupi seluruh penis, sehingga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari penis penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Kondom yang banyak beredar di Indonesia merupakan jenis kondom yang dipakai pria. Namun ada juga kondom yang dapat dipakai wanita. Kondom wanita mirip kondom pria, berbentuk tabung dengan salah satu ujungnya tertutup, namun ukurannya lebih besar dibanding kondom pria. Kondom wanita menutupi pinggir mulut vagina, seluruh dinding vagina dan mulut rahim. Kondom wanita juga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari serviks dan vagina penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Seberapa efektif kondom mencegah PMS?

Penggunaan kondom lateks secara rutin konsisten dan tepat efektif mencegah penularan PMS. Efektivitasnya sangat bergantung pada metode penularan PMS. Kondom sangat efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui cairan mani dan cairan dari kemaluan wanita, misalnya pada klamidia, gonorea, trikomoniasis dan infeksi HIV. Cairan yang mengandung virus/bakteri tersebut dapat ditampung dan tidak menembus kondom. Pada penelitian tentang HIV, penggunaan kondom dapat menurunkan insidens HIV 69-95%, bahkan jika dikombinasikan dengan terapi ARV (anti-retroviral) maka insidens HIV dapat menurun sampai 99%.

Kondom juga efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui lesi kulit seperti herpes genital, sifilis, chancroid dan infeksi HPV, dengan syarat lesi kulit/area yang terinfeksi tertutup seluruhnya oleh kondom. Namun jika lesi kulit/area yang terinfeksi tidak tertutup oleh kondom, maka perlindungannya tidak efektif.

Bagaimana bila kondom robek? 

Jika kondom robek, maka cairan dari alat kelamin dan lesi kulit yang terinfeksi dapat kontak dengan alat kelamin pasangannya dan menularkan PMS, sehingga kondom menjadi tidak efektif. Selain memasang kondom dengan benar, cara mencegah kondom robek yaitu:

  • Periksa tanggal kadaluarsa sebelum digunakan karena kondom yang sudah kadaluarsa mudah robek.
  • Hati-hati membuka kemasan . Hindari membuka terlalu kasar, tergores kuku atau membuka kemasan dengan gigi.
  • Pastikan kondom tidak robek sebelum dipakai.
  • Jangan memakai lubrikan yang berbahan minyak seperti losion, baby oil, petroleum jelly atau krim (Vaseline), karena bisa merusak kondom.

Kesimpulan

Kelompok yang paling banyak mengidap HIV dan AIDS sejak dahulu tidak berubah, yaitu kelompok laki-laki heteroseksual usia 25-49 tahun. Turunnya kasus AIDS sejak tahun 2004 membuktikan terapi ARV sudah cukup berhasil, namun kasus HIV baru terus meningkat. Selain pencegahan dengan menggunakan kondom secara rutin konsisten dan tepat, disinilah pentingnya kerjasama antara lembaga kesehatan dan keagamaan.

Fakta lain yang mengejutkan adalah cukup tingginya kasus HIV pada ibu rumah tangga. Komunikasi yang baik dan keterbukaan antara pasangan suami istri sangat penting. Komunikasi yang baik dapat dilanjutkan dengan skrining HIV, penggunaan kondom secara rutin konsisten dan tepat, serta terapi ARV. Hal ini penting untuk mencegah infeksi HIV pada anak yang sedang dikandung atau disusui oleh ibu tersebut.

Diana Andarini, dr.

11/30/2015

Referensi

  1. Lee Warner, Daniel R. Newman, Harland D. Austin. Condom Effectiveness for Reducing Transmission of Gonorrhea and Chlamydia: The Importance of Assessing Partner Infection Status. Am. J. Epidemiol. (2004) 159 (3): 242-251. doi: 10.1093/aje/kwh044. Cited from http://aje.oxfordjournals.org/content/159/3/242.full
  2. Department of Health and Human Services. Centers for Disease Control and Prevention. Condoms and STDs: Fact Sheet for Public Health Personnel. Cited from http://www.cdc.gov/condomeffectiveness/docs/Condoms_and_STDS.pdf
  3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Indonesia. Situasi dan Analisis HIV AIDS. Cited from http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin%20AIDS.pdf
  4. Weller SC, Davis-Beaty K. Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission. Cochrane Database of Systematic Reviews 2002, Issue 1. Art. No.: CD003255. DOI: 10.1002/14651858.CD003255. Cited from http://apps.who.int/rhl/reviews/CD003255.pdf
  5. Liu H, Su Y, Zhu L, Xing J, Wu J, Wang N (2014) Effectiveness of ART and Condom Use for Prevention of Sexual HIV Transmission in Serodiscordant Couples: A Systematic Review and Meta-Analysis. PLoS ONE 9(11): e111175. doi:10.1371/journal.pone.0111175. Cited from http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0111175
  6. Weller SC. A Meta-analysis of condom effectiveness in reducing sexually transmitted HIV. Soc Sci Med. 1993 Jun;36(12):1635-44. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8327927
  7. Steven D.Pinkerton, Paul R.Abramson. Effectiveness of condoms in preventing HIV transmission. Soc Sci Med. 1997 May;44(9):1303-12. doi:10.1016/S0277-9536(96)00258-4 Cited from http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0277953696002584
  8. Nicholas John Bennet. HIV Disease Treatment & Management. Cited from http://emedicine.medscape.com/article/211316-treatment#d15
  9. Sexually Transmitted Diseases Causes. Cited from http://www.emedicinehealth.com/sexually_transmitted_diseases/page2_em.htm#sexually_transmitted_diseases_stds_causes
  10. Condoms. Cited from http://www.nhs.uk/conditions/contraception-guide/pages/male-condoms.aspx
  11. UNAIDS. Making Condoms Work for HIV Prevention. Cited from http://data.unaids.org/Publications/IRC-pub06/JC941-CuttingEdge_en.pdf

Air Kelapa Muda untuk Bayi dan Anak

Q : Bun, Boleh tidak ya memberikan air kelapa muda untuk bayi? (Ibu V)

A: Pemberian air kelapa pada bayi yang lebih dari 6 bulan dan anak relatif aman, bunda. Faktanya, air kelapa muda yang baru saja dibelah sama sterilnya dengan air saline steril (1). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Adams, 1992 yang melibatkan 40 anak yang mengalami diare. 20 anak diberikan cairan rehidrasi oral dari WHO dan 20 anak lagi mendapatkan air kelapa muda. Kesimpulannya air kelapa bisa mencegah dehirdrasi pada anak yang diare ringan, status nutrisi yang baik dan dari hasil klinis/ lab tidak ada gejala dehidrasi. Tapi air kelapa muda tidak boleh diberikan pada anak yang mengalami kolera berat, dehidrasi berat, atau gangguan ginjal. Selain itu, sebaiknya hindari pemberian air kelapa muda pada bayi kurang dari 6 bulan. Bayi-bayi muda ini hanya membutuhkan ASI sebagai sumber nutrisi.Adapun kelemahan penelitian ini sampel nya yang relatif kecil.(2)

Bila ibu ingin memberi air kelapa muda untuk bayi dan anak perhatikan hal ini : (3)

  • selalu pilih kelapa hijau yang segar
  • pastikan kelapa di belah di depan ibu (supaya ibu tahu kesegarannya & keamanannya)
  • segera minum setelah dibuka karena air kelapa bisa berkurang nutrisinya bila terlalu lama didiamkan
  • gunakan sedotan yang bersih atau tuang di gelas yg bersih sebelum diminumkan pada anak.

Semoga menjawab ya, bunda

Agustina Kadaristiana, dr.

Sumber :

  1. Kuberski T, Roberts A, Linehan B, Bryden RN, Teburae M. Coconut water as a rehydration fluid. The New Zealand medical journal. 1979;90(641):98-100.
  2. Adams W, Bratt DE. Young coconut water for home rehydration in children with mild gastroenteritis. Tropical and geographical medicine. 1992;44(1-2):149-53.
  3. What are the benefits of coconut water and can my toddler have some? 2013. Available from: http://www.babycenter.in/x1019330/what-are-the-benefits-of-coconut-water-and-can-my-toddler-have-some#ixzz3FpeC5V1v.