Category Archives: Anak

Bila Anak Muntah Setelah Minum Obat

Memberikan obat dikala anak sakit bukanlah perkara yang mudah. Apalagi ketika Ibu atau Ayah sudah susah payah meminumkan obat tapi ternyata dimuntahkan anak. Anak muntah setelah minum obat memang hal yang cukup sering dialami. Hal ini sering kali membuat orangtua bingung apakah perlu diberikan lagi obatnya atau tidak. Agar orangtua tidak bingung lagi, mari disimak panduan anak muntah setelah minum obat di rubrik berikut ya…

Kenapa sih anak muntah setelah minum obat?

Anak muntah setelah minum obat bisa bisa disebabkan beberapa hal. Paling sering ialah adanya gangguan pencernaan pada tubuh anak itu sendiri misalnya penyakit gastroenteritis akut (radang saluran pada anak), infeksi akut, keracunan makanan, dsb. Rasa obat yang tidak enak, obat yang terlalu kental, ‘mencekok’ atau memaksa anak minum obat dan memberi obat dikala anak menangis juga bisa membuat anak muntah. Selain itu, efek samping dari obat yang diberikan juga bisa menyebabkan anak muntah setelah minum obat.

Apa yang harus dilakukan ketika anak muntah setelah minum obat?

Meskipun anak muntah setelah minum obat biasa dialami, sayangnya tidak banyak literatur dan penelitian yang menjelaskan apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi. Saat ini, panduan anak muntah setelah minum obat hanya berdasarkan opini para ahli. Panduan mudah untuk orangtua ialah:

  • Bila anak muntah dalam 15 menit setelah minum obat atau obat terlihat jelas dimuntahkan anak: Berikan lagi obat dengan dosis yang sama karena kemungkinan obat belum masuk ke dalam lambung.
  • Bila muntah lebih dari 60 menit setelah minum obat: Tidak perlu diberikan obat lagi karena kemungkinan obat sudah masuk ke saluran cerna.

Bagaimana bila anak muntah antara 15-60 menit setelah minum obat?

Sebaiknya tanyakan pada farmasi atau dokter karena keputusan memberi dosis ulangan perlu pertimbangan resiko dan manfaat. Karena kemungkinan sebagian obat sudah dicerna oleh tubuh tetapi ada tidak optimal. Bila resiko tidak memberi obat lebih besar daripada memberi dosis berlebih, orangtua bisa memberikan ulang obat dengan dosis yang sama. Tetapi tentu dengan saran dan pemeriksaan tenaga kesehatan ya 😊

Bila keputusannya Anak saya harus minum obat ulangan, kapan baiknya diberikan?

Sebaiknya Anda tunggu sampai kira-kira jeda 15 menit setelah muntah supaya anak tidak trauma minum obat. Coba ajak anak Anda kumur-kumur terlebih dahulu setelah muntah supaya rasa tidak nyaman di mulut berkurang.

Selain waktu ketika muntah, apakah ada hal lain yang perlu dipertimbangkan?

Tentu. Waktu ketika muntah hanya panduan umum untuk memudahkan. Tetapi, keputusan memberi dosis ulangan harus dibuat berdasarkan kondisi masing-masing anak oleh tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan jenis obatnya, tipe obat (cair atau padat), durasi penggunaan obat (jangka pendek/jangka panjang), dsb. Oleh karena itu, orangtua perlu terus berkonsultasi dengan dokter atau farmasi ya ketika anak muntah setelah minum obat

Bila setelah diminumkan obat kembali lalu anak muntah lagi harus bagaimana?

Segera ke dokter atau tenaga kesehatan terdekat. Baiknya orangtua tidak memberikan dosis ulangan atas pertimbangan sendiri. Terlalu sering memberikan dosis ulangan malah bisa membuat anak diare apalagi obat antibiotik. Dokter mungkin akan melakukan penghitungan dosis ulangan atau mencoba cara lain untuk memberikan obat misalnya disuntik atau diberikan melalui infus. Tentunya dokter juga akan menelaah penyebab anak muntah berulang dan memberikan terapi sesuai penyebabnya.

Ada tidak ya langkah pencegahan supaya anak tidak muntah setelah minum obat?

Tentu ada. Orangtua bisa menyiasati supaya anak tidak muntah setelah diberi obat. Beberapa caranya ialah:

Obat sirup

  • Berikan obat sirup dengan sendok/pipet ke bagian dalam pipi atau garis gusi dengan menggunakan pipet (baiknya jangan sendok). Tujuannya ialah agar obat cair perlahan-lahan mengalir ke belakang lidah. Bila anak cukup besar, biarkan ia mencoba minum obat sediri supaya lebih kooperatif.
  • Hindari memberikan obat secara cepat ke belakang tenggorokan. Hal ini bisa membuat tersedak karena obat malah masuk ke saluran nafas.
  • Hindari memberikan obat dan benda apapun ke tengah lidah saat anak tidak aktif menelan karena bisa merangsang refleks muntah
  • Untuk obat dalam bentuk puyer atau sirup kental, berikan air supaya lebih mudah ditelan
  • Beri obat saat posisi duduk, tegak atau kepala lebih tinggi dari badannya (Hindari memberi obat dalam posisi berbaring)
  • Jangan ‘mencekok’ anak minum obat (memasukkan obat secara paksa sambil menutup hidung anak). Hal ini bisa membuat anak tersedak
  • Hindari memaksa anak meminum obat ketika ia berontak. Selain bisa membuat muntah, hal ini juga bisa membuat anak tersedak.
  • Bila anak muntah setelah minum obat karena rasa obat yang tidak enak, coba minta dokter memberikan obat dengan rasa yang lebih mudah diterima. Anda juga bisa menyamarkan rasa obat dengan mencampur pemanis dengan rasa yang kuat. Misalnya, sirup cokelat, sirup strawberry, sirup pancake, dsb. Baiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu bila hendak mencampur dengan makanan/minuman lain seperti susu, madu, dsb.

Tablet atau kapsul

  • Gunakan cairan yang lebih padat dari air ketika menelan tablet atau kapsul. Anda bisa berikan jus atau smoothies pada anak sebelum menelan obat. Menelan pil atau kapsul dengan air biasanya lebih sulit.
  • Berikan dalam posisi kepala tegak atau tubuh sedikit condong ke depan. Menelan dalam posisi kepala mendongak ke belakang tentu lebih sulit.
  • Gunakan sedotan bisa membantu
  • Anda bisa saja membelah tablet supaya lebih mudah ditelan anak. Namun, perlu berhati-hati bila menggerus tablet karena tablet jenis slow-release (tablet yang larut perlahan-lahan dalam tubuh) dan enteric-coated pills (tablet berlapis khusus yang tahan dengan asam lambung) tidak boleh digerus. Bila tidak yakin, konsultasikan dengan apoteker atau dokter tentang jenis obat yang boleh digerus atau tidak.
  • Bila anak sulit menelan kapsul, tanyakan dulu ke dokter atau apoteker mana kapsul yang boleh dibuka dan mana yang tidak. Perlu diingat bahwa serbuk dalam kapsul rasanya pahit sehingga mungkin malah sulit diberikan pada anak.
  • Untuk anak >8 tahun, latih anak untuk terbiasa menelan obat sebelum sakit. Anda bisa memberikan potongan coklat, es atau permen kecil. Bila takut tersangkut, Anda bisa lapisi dengan mentega.

Selengkapnya mengenai cara tepat memberi obat untuk anak bisa dibaca di sini.

Kapan saya harus ke dokter bila anak muntah setelah minum obat?

Sebaiknya Anda hubungi dokter bila anak:

  • Tetap muntah setelah diberikan dosis ulangan
  • Obat yang diberikan ialah obat resep yang harus habis (misalnya antibiotik)
  • Anak menolak minum obat kembali meskipun dengan teknik yang benar
  • Anak terlihat sangat sakit
  • Anak sering muntah

Semoga penjelasannya bermanfaat ya..

Agustina Kadaristiana, dr., MSc (Paeds)

08-02-2018

Referensi

  1. Rohyans JA. What should I do if my child throws up right after I give her antibiotics? [Internet]. Baby Center. Available from: https://www.babycenter.com/expert-jo-ann-c-rohyans
  2. Should Your Child See a Doctor? Medication – Refusal to Take [Internet]. Seattle Children’s Hospital. 2012. Available from: http://www.seattlechildrens.org/medical-conditions/symptom-index/medication-refusal-to-take/
  3. Kendrick JG, Ma K, DeZorzi P, Hamilton D. Vomiting of Oral Medications by Pediatric Patients: Survey of Medication Redosing Practices. Can J Hosp Pharm [Internet]. 2012;65(3):196–201. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3379826/

Nutrisi Bayi Prematur

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa baik tidaknya tumbuh kembang bayi prematur sangat tergantung dari asupan nutrisi. Pertumbuhan yang baik, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupannya, akan membawa dampak yang sangat positif pada perkembangan bayi prematur. Kekurangan nutrisi pada masa tersebut dapat menyebabkan tidak optimalnya perkembangan saraf, gagal tumbuh (growth failure), kerapuhan tulang (osteopenia of prematurity), meningkatnya risiko infeksi, dan komplikasi lainnya.

Mengenal bayi prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi prematur biasanya memiliki berat badan yang lebih rendah dari bayi cukup bulan. Hal ini dikarenakan bayi lahir pada usia 22-37 minggu di saat tubuh bayi sedang berkembang pesat. Pada bayi cukup bulan, beratnya saat lahir dapat mencapai hingga 5x lipat berat saat usia kehamilan 24 minggu. Kategori bayi prematur berdasarkan berat badannya yaitu:

  • Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bila berat bayi < 2500 gram
  • Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) <1500 gram
  • Berat badan rendah extrim (extremely low birth weight) bila berat bayi <1000 gram.

Selain berat badan yang rendah, fungsi organ tubuh bayi prematur belum sempurna. Oleh sebab itu, bayi prematur biasanya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit saat lahir. Perawatan intensif di rumah sakit juga bertujuan untuk mengontrol jumlah asupan nutrisi agar bayi bisa tumbuh optimal.

Apakah kebutuhan asupannya berbeda dengan bayi cukup bulan?

Pada umumnya kebutuhan energi bayi prematur lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan. Kebutuhan energi bayi cukup bulan 80-90kal/kg/hari; sedangkan kebutuhan energi pada bayi prematur bervariasi tergantung kondisi kesehatannya, yaitu  sekitar 100-120 kal/kg/hari sampai 160-180 kal/kg/hari.

Apabila kebutuhan energi bayi prematur dari karbohidrat dan lemak tidak tercukupi, tubuhnya akan mengambil protein sebagai sumber energi. Hal ini tidak baik bagi bayi prematur karena protein dibutuhkan untuk pertumbuhan serta perbaikan sel-sel dalam tubuh. Protein juga sangat penting bagi pertumbuhan otak dan kecerdasan. Kekurangan protein dapat menyebabkan penurunan kecerdasan. Selain itu, kekurangan protein pada bayi prematur dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan fungsi ginjal. Ginjal yang kecil dan kurang baik perkembangannya ini dapat menyebabkan darah tinggi saat dewasa.

Apakah kebutuhan cairan juga perlu di kontrol?

Tentu. Komposisi cairan pada tubuh bayi prematur sekitar 90%. Komposisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bayi cukup bulan dan orang dewasa, yaitu 75% dan 60%. Karena besarnya komposisi cairan pada bayi prematur maka kecukupan asupan cairan sangat penting. Pada hari pertama kehidupan bayi prematur membutuhkan asupan cairan sekitar 80-105 mL/kg/hari. Kebutuhan cairan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, pemberian cairan tergantung kondisi bayi tersebut. Jika bayi memiliki kelainan jantung misalnya, pemberian cairan harus dibatasi agar tidak membebani jantung. Sebaliknya, jika bayi menjalani fototerapi atau suhu tubuhnya meningkat, maka pemberian cairan harus ditambah untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan.

Hal yang patut diingat yaitu fungsi ginjal pada bayi prematur belum sempurna, sehingga bayi prematur lebih rentan kekurangan atau kelebihan cairan. Kurangnya cairan dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit dan hipotensi. Kelebihan cairan dapat menyebabkan edema/bengkak, gagal jantung, dan infeksi usus. Tapi orangtua tidak perlu khawatir, karena dokter spesialis anak yang menangani pastilah telah menghitung dengan rinci kebutuhan cairan ini selama perawatan intensif di rumah sakit.

Manakah yang baik, ASI atau Susu Formula?

ASI lebih direkomendasikan bagi bayi prematur. ASI bayi prematur berbeda dengan ASI bayi cukup bulan. Di dalam ASI bayi prematur terdapat kandungan protein, lemak, asam amino bebas, dan sodium yang lebih tinggi. Selain kandungan nutrisi yang baik, ASI juga mengandung imunoglobulin, prebiotik dan probiotik, jarang menimbulkan masalah pencernaan, melindungi dari infeksi dan peradangan, serta baik bagi perkembangan saraf bayi.

Susu formula dapat diberikan pada kondisi berikut ini. Susu formula yang diberikan yaitu formula khusus bayi prematur. Dalam jangka pendek, bayi prematur yang diberikan susu formula mengalami kenaikan berat badan yang lebih cepat. Namun, terdapat risiko munculnya gangguan saluran pencernaan (feeding intolerance) serta infeksi saluran pencernaan (necrotising enterocolitis).

Pemberian ASI pada bayi prematur sehat

Pemberian ASI disesuaikan dengan kemampuan bayi untuk menyusu, yang bergantung pada kematangan fungsi refleks hisap dan menelan.

  • Bayi dengan usia kehamilan ibu >34 minggu (berat badan >1800 gram) memiliki refleks hisap dan menelan yang cukup baik, sehingga dapat disusukan langsung kepada ibu.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu 32 – 34 minggu (berat badan 1500-1800 gram) memiliki refleks menelan cukup baik, namun refleks menghisap masih kurang baik. Ibu dapat memerah ASI, kemudian ASI diberikan ke bayi dengan menggunakan sendok, cangkir, atau pipet. Bayi prematur dengan berat badan >1500 gram membutuhkan ASI 150-220ml/kgBB/hari, rata-rata 180ml/kgBB/hari. ASI yang diberikan sebaiknya ditambahkan human milk fortifier. Jika tidak ditambahkan human milk fortifier, maka bayi membutuhkan suplemen vitamin (A,D,C,B), zat besi, asam folat, fosfat dan sodium.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu <32 minggu (berat badan 1250-1500 gram), belum memiliki refleks hisap dan menelan yang baik, maka ASI perah diberikan dengan menggunakan pipa lambung/orogastrik (sonde).

Pemberian ASI pada bayi prematur sakit

Bayi prematur yang memiliki berbagai masalah pada organ-organ tubuhnya, perlu dirawat di NICU. Lamanya dirawat di NICU bervariasi tergantung kondisi kesehatan bayi Ibu. Ada yang 2 minggu, sebulan, bahkan lebih.

Bagi bayi prematur dengan berat <1250 gram, memiliki berbagai masalah kesehatan serta kondisinya belum stabil, maka nutrisi diberikan melalui cairan infus yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan nutrisi lainnya selama 24-48 jam pertama.

Jika kondisi bayi prematur sudah stabil, saluran pencernaannya sudah siap, maka bayi dapat mulai diberikan nutrisi lewat saluran pencernaan (trophic feeding) 10 mL/kgBB/24 jam. Jika bayi sudah dapat menoleransi pemberian minum, maka jumlah minum dapat dinaikkan sambil menurunkan pemberian nutrisi melalui cairan infus.

Pemberian nutrisi melalui saluran cerna akan mengaktifkan enzim-enzim yang penting untuk pencernaan, berkembangnya vili-vili usus serta flora normal usus yang mampu mencegah infeksi.

Jika kondisi bayi lebih baik, sudah tidak perlu alat bantu nafas, dokter sudah menyatakan aman untuk disusui langsung, maka Ibu bisa menyusui langsung bayi Ibu. Kiat menyusui bayi prematur bisa dilihat disini. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan dan saran dari dokter dan perawat NICU agar Ibu bisa menyusui bayi prematur dengan baik.

Apakah ada pantangan makan dan minum Ibu yang menyusui bayi prematur?

Ibu yang menyusui bayi prematur harus menjaga asupan nutrisinya. Makanlah makanan yang bervariasi dan bergizi. Hindari minuman beralkohol. Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila ada obat-obatan yang harus Ibu minum selama menyusui (misalnya obat psikotropika, antibiotik).

Bagaimana cara mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup?

Tanda bayi cukup ASI selengkapnya bisa dilihat disini. Selain itu, pertumbuhan bayi perlu diukur untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup. Salah satu indikator pertumbuhan yaitu kenaikan berat badan. Semua bayi akan mengalami penurunan berat badan selama 1 minggu setelah lahir. Namun penurunannya tidak boleh melebihi 5-10% pada bayi cukup bulan, dan 15-20% pada bayi prematur dari berat lahir. Biasanya pada minggu kedua atau ketiga, berat badan bayi akan naik lagi ke berat badan awal. Selain berat badan, panjang badan dan lingkar kepalanya juga perlu diukur. Grafik pertumbuhan yang dipakai sama seperti bayi cukup bulan, yaitu grafik pertumbuhan CDC dan WHO. Bedanya, bayi prematur menggunakan usia koreksi untuk grafik tersebut.

 

Cara menghitung usia koreksi

Rumusnya:

40 minggu – usia kehamilan Ibu saat melahirkan = faktor koreksi.

Usia bayi sekarang (usia kronologis) – faktor koreksi = usia koreksi.

 

Contoh

Bayi A saat ini berusia 4 bulan (usia kronologis). Bayi A lahir saat usia kehamilan Ibunya 28 minggu. Berapa usia koreksi bayi A?

Jawab

40 minggu – 28 minggu = 12 minggu (faktor koreksi) = 3 bulan.

4 bulan – 3 bulan = 1 bulan. Usia koreksi bayi A yaitu 1 bulan. Maka, pertumbuhan bayi A saat ini diukur sebagai bayi berusia 1 bulan.

 

Cara menggunakan grafik pertumbuhan selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Sebagian besar bayi prematur dapat “mengejar” pertumbuhan (catch-up growth) seperti bayi lainnya yang cukup bulan. Fase mengejar pertumbuhan ini biasanya muncul di awal masa kanak-kanak yaitu saat balita, namun ada juga yang baru muncul di akhir mendekati masa dewasa. Jika fase ini sudah tercapai, maka usia koreksi tidak lagi dibutuhkan untuk mengukur pertumbuhan anak yang lahir prematur. Pertumbuhan anak tersebut diukur sesuai dengan usia kronologisnya.

 

Bagaimana bila ASI yang diberikan tidak cukup?

Ibu tidak perlu khawatir. Langkah pertama yaitu menghubungi konselor laktasi untuk mengetahui penyebab kurangnya ASI dan menemukan solusinya. Apabila setelah konsultasi tersebut ASI masih tidak mencukupi, bayi dapat diberikan suplemen nutrisi (human milk fortifier) yang dicampurkan ke ASI, atau bayi mendapat ASI tambahan dari donor. Jika semua cara sudah dicoba namun pertumbuhan bayi kurang baik, maka dapat diberikan susu formula khusus bayi prematur sesuai kebutuhan.

 

Mba Tina, aku perlu nambahin tentang feeding intolerance juga ga?

 

Kesimpulan

Nutrisi bayi prematur dalam beberapa bulan awal kehidupannya sangat penting bagi pertumbuhannya saat ini dan saat dewasa nanti. Jika kondisi bayi prematur belum baik, pemberian nutrisi dapat melalui cairan infus yang diatur oleh dokter. Jika kondisi bayi sudah baik, maka ASI merupakan pilihan pertama bagi bayi prematur, kecuali ada hal-hal yang membuat Ibu tidak bisa memberikan ASI dengan optimal. Dalam hal ini, bayi prematur dapat diberikan ASI dari donor maupun susu formula khusus untuk bayi prematur. Nutrisi yang baik akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur yang baik pula. Sehingga bayi prematur dapat memiliki masa depan yang sama cerahnya dengan bayi yang lahir cukup bulan.

 

Referensi

 

Underwood MA. Human milk for the premature infant. Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 189–207.

 

Hay WW, Jr. Aggressive nutrition of the preterm infant. Curr Pediatr Rep. 2013 Dec; 1(4): 10.1007/s40124-013-0026-4.

 

Hay WW, Thureen P.  Protein for preterm infants: how much is needed? How much is enough? How much is too much? Pediatrics & Neonatology. 2010 August; 51(4): 198-207.

 

Jennifer E. McGowan JE, Alderdice FA, Holmes VA, Johnston L. Early Childhood development of late-preterm infants: a systematic review. Pediatrics. 2011 June; 127(6): 1111-24.

Ambalavanan N, Rosenkrantz T. Fluid, Electrolyte, and Nutrition Management of the Newborn. Feb 28, 2014. [cited Maret 2017] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/976386-overview

Belfort MB, Rifas-Shiman SL, Sullivan T, et al. Infant growth before and after term: effects on neurodevelopment in preterm infants. Pediatrics. 2011 October; 128(4): 899-906.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 43, Medical nutrition therapy for low birth weight infants; p.1118-38.

 

Quigley M, McGuire W. Formula versus donor breast milk for feeding preterm or low birth weight infants. The Cochrane Library. 2014 Jan 1. DOI:10.1002/14651858.CD002971.pub3.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 5, Nutrition during pregnancy and lactation; p.184-93.

 

Colaizy TT, Morriss FH. Positive effect of NICU admission on breastfeeding of preterm US infants in 2000 to 2003. Journal of Perinatology. 2008 February; 28: 505–510.

 

Innis SM. Impact of maternal diet on human milk composition and neurological development of infants. Am J Clin Nutr. 2014 March 20; 99(3): 734S-741S.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 29, Medical nutrition therapy for food allergy and food intolerance; p.759-61.

World Health Organization. Feeding of low-birth-weight infants in low- and middle-income countries. 2011. [cited April 2017] Available from:

http://www.who.int/elena/titles/full_recommendations/feeding_lbw/en/

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pemberian Asi Pada Bayi Lahir Kurang Bulan. Aug 27, 2013. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-asi-pada-bayi-lahir-kurang-bulan

Great Ormond Street Hospital for Children. Nutrition: enteral nutrition for the preterm infant. March 24, 2016. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.gosh.nhs.uk/health-professionals/clinical-guidelines/nutrition-enteral-nutrition-preterm-infant

Tanya jawab vaksin MR

Halo ayah bunda! Baru-baru ini pemerintah baru saja menambahkan vaksin MR (Measles, Rubella) di imunisasi dasar. Seperti isu vaksin lainnya, respon orangtua terhadap vaksin MR juga terbagi tiga: ada yang pro, kontra dan yang galau. Pada tulisan kali ini, Doctormums akan membantu orang tua menimbang manfaat dan risiko dari vaksin MR. Siap-siap yah…

Apa itu vaksin MR?

Vaksin Measles, Rubella (MR) atau disebut juga vaksin campak dan rubella ialah vaksin hidup yang dilemahkan berupa serbuk kering dengan pelarut. Seperti namanya, vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit campak dan rubella (campak Jerman) pada anak yang disebabkan oleh virus.(1)

Apa bedanya vaksin campak, MR dan MMR?

Kalau ini paling mudah dijelaskan dengan rumus matematika yah 😊

Vaksin campak= M (measles)

Vaksin MR= Measles + Rubella

Vaksin MMR= Mumps (gondongan)+ Measles (campak) + Rubella (campak jerman)

Sebelumnya pemerintah hanya mewajibkan vaksin campak. Namun, karena kejadian rubella juga tinggi, pemerintah menambah imunisasi rutin dengan vaksin rubella. Vaksin MMR sudah ada di Indonesia, tapi tidak masuk dalam program wajib pemerintah artinya vaksin ini tidak gratis. Tapi stok vaksin MMR di Indonesia sudah lama kosong. Dengan adanya vaksin MR, diharapkan penyakit rubella dan campak bisa tetap dicegah. Pemerintah lebih memprioritaskan MR karena campak dan rubella lebih berbahaya dan mematikan disbanding mumps (gondongan).(1,2)

Apa bahayanya campak dan rubella sampai anak saya harus divaksin?

Rubella berbahaya bila mengenai ibu hamil dan anak-anak. Bila mengenai ibu hamil pada trimester pertama, rubella bisa menyebabkan aborsi, kematian janin atau cacat bawaan. Cacat yang diakibatkan oleh rubella disebut Congenital Rubella Syndrome/ Sindrom Rubella Kongenital (CRS) yang ditandai katarak, tuli, kelainan jantung dan otak. Bila anak tertular rubella setelah lahir, anak beresiko terkena ensefalitis (peradangan otak) meskipun jarang. Mirip halnya dengan campak, anak yang terkena infeksi ini setelah lahir bisa terkena komplikasi ensefalitis, meningitis (radang selaput otak), radang paru (pneumonia), diare, bahkan kematian.(1)

Kapan vaksin MR ini diberikan?

Selama program kampanye vaksin MR, semua anak usia 9 bulan-15 tahun harus di vaksin MR ya ayah bunda. Kalau kampanye vaksin sudah selesai, vaksin MR diberikan menggantikan jadwal vaksin campak yaitu 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat.(2)

Kalau sudah di vaksin campak, apa perlu di vaksin MR lagi?

Perlu supaya anak terlindungi dari rubella. Vaksin MR aman diberikan pada yang sudah diberi vaksin campak.(1)

Kalau sudah di vaksin MMR bagaimana?

Sebaiknya si kecil tetap di vaksin untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit campak dan rubella. Vaksin MR aman diberikan pada anak yang sudah MMR.(1)

Kenapa banyak orang tua yang galau untuk vaksin anaknya?

Menurut penelitian di Indonesia, alasan orangtua untuk tidak memvaksin ialah takut akan resiko dan efek samping, takut terkena autis, dan ragu akan kehalalannya.(3)

Memang apa resiko anak saya di vaksin MR?

Vaksin MR pada umumnya aman namun bukan berarti bebas dari resiko. Resiko atau efek samping yang bisa muncul karena vaksin MR misalnya:

  • Sakit karena disuntik!
  • Radang di bekas suntikan
  • Demam

Meskipun sangat jarang, reaksi alergi terhadap vaksin bisa terjadi.(1) Bila terjadi hal tersebut, segera laporkan ke petugas kesehatan untuk ditindak lanjuti. Saat ini pemerintah menyediakan situs pelaporan keamanan vaksin bila orangtua resah terhadap efek samping/resiko vaksin: www.keamananvaksin.com

Benarkah vaksin campak membuat autisme?

Tidak. Isu vaksin MMR menyebabkan autism dan penyakit usus berasal dari penelitian dokter Andrew Wakefield di tahun 1998. Penelitian ini sangat menghebohkan orangtua di Inggris sampai-sampai banyak orangtua yang menolak vaksinasi. Ternyata setelah ditelusuri penelitian ini dianggap tidak valid, terdapat unsur penipuan dan tidak bisa di replikasi. Pemerintah Inggris telah mencabut izin praktek dan menarik penelitiannya dari jurnal. Tapi tetap saja Wakefield aktif berkampanye anti vaksin lewat gerakan Vaxxed sampai saat ini. (4)

Benarkah vaksin mengandung babi sehingga haram?

Tidak. WHO sudah memberi pernyataan resmi bahwa enzim tripsin atau gelatin yang berasal dari babi tidak terkandung di produk akhir vaksin. Gelatin dan enzim tripsin dipakai dalam beberapa proses pembuatan vaksin. Namun, vaksin dicuci hingga bersih sampai enzim tersebut benar-benar hilang (5). Tahun 2001, WHO telah konsultasi dengan 100 ulama dari berbagai belahan dunia dan disimpulkan gelatin yang terkandung dalam vaksin halal. Menurut ulama dunia, tidak ada alasan untuk tidak mengimunisasi anaknya. (6)

Di Indonesia, MUI telah mengeluarkan fatwa nomor 4 Tahun 2016 bahwa imunisasi hukumnya mubah (boleh).(7) Sebagai informasi, saat ini sedang dikembangkan vaksin yang tidak menggunakan produk babi oleh Biofarma. Jangan lupa kita dukung ya 😊

Adakah anak yang tidak boleh divaksin MR?

Ada. Beberapa kelompok yang kontraindikasi untuk di vaksin MR misalnya:

  • Anak yang sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan dan radioterapi
  • Anak dengan kelemahan imun (immunocompromise)
  • Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  • Kelainan fungsi ginjal berat
  • Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin
  • Setelah pemberian gamma globulin atau transfusi darah.(1)

Kapan pemberian vaksin MR bisa ditunda?

Pemberian imunisasi bisa ditunda saat anak demam, batuk pilek, dan diare.(1)

Kalau saya memilih tidak memvaksin, apa resikonya?

Vaksin bukan hanya melindungi anak yang divaksin tetapi juga juga anak-anak yang lain. Vaksin memberi kekebalan masyarakat dari penyakit dari konsep Herd immunity. (4,8) Bila cakupan vaksin tinggi (80-95%), virus akan terhambat penyebarannya. Bahkan suatu penyakit bisa benar-benar hilang seperti penyakit smallpox (cacar) bila cakupan vaksin tetap tinggi. Tingginya herd immunity ini akan melindungi anak yang belum atau tidak bisa divaksin MR. Misalnya, anak yang timbul reaksi alergi berat karena vaksinasi, bayi-bayi muda, atau anak dengan kekebalan tubuh rendah. Sebaliknya, bila banyak orangtua yang menolak vaksin, herd immunity akan menurun drastis. Penelitian terbaru di Amerika menemukan bahwa penurunan cakupan imunisasi sekecil 5% saja bisa meningkatkan resiko campak 3x lipat! (9) Bayangkan bila angka imunisasi turun lebih dari itu. Bukan hanya anak berisko terkena penyakit, masyarakat akan beresiko terkena wabah.

Sebagai janji Doctormums di awal, kami akan membantu orangtua menimbang-nimbang risiko vs manfaat dari vaksinasi. Kalau dirangkum dari tulisan ini, yang perlu orangtua pikirkan ialah:

vaksin mr

Orangtua memang memiliki kewenangan untuk membesarkan anak dan memberi keputusan medis untuk anak yang dianggap belum cukup umur. Kebebasan berpendapat orangtua memang perlu dihargai seperti keyakinan beragama. Namun, dalam menimbang masalah imunisasi, orangtua kerap kali menyepelekan resiko penyakit seperti campak dan rubella dan membesarkan efek negatif imunisasi. (10) Penelitian lain juga menemukan bahwa sentimen dari sosial media tentang vaksin berpengaruh besar terhadap keraguan orangtua pada vaksin (11). Agar orangtua senantiasa bijak dalam memilih yang terbaik untuk anak, kami sangat mendukung orangtua yang terus mencari informasi yang terpercaya. Diskusikan dengan tenaga medis sebanyak-banyaknya bila orangtua galau dalam memutuskan imunisasi. Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr.

8/8/2017

Referensi

  1. Kemenkes. Petunjuk teknis kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. Jakarta; 2017. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1
  2. IDAI. IDAI – Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017 [cited 2017 Aug 8]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
  3. UN Global Pulse. Understanding immunisation awareness and sentiment through social media and mainstream media. Glob Pulse Proj Ser [Internet]. 2015;(19). Available from: http://www.unglobalpulse.org/projects/immunisation-parent-perceptions
  4. Chatterjee A. Vaccinophobia and Vaccine Controversies of the 21st Century [Internet]. 2013. Available from: http://reader.eblib.com/(S(r0xkd1qnsweq5vz04hzacqs1))/Reader.aspx#
  5. WHO. Oral polio vaccine and its production [Internet]. WHO. 2017 [cited 2017 Aug 2]. Available from: http://www.emro.who.int/polio/information-resources/oral-polio-vaccine-production.html
  6. MMR. [cited 2017 Aug 8]; Available from: http://www.immunisationscotland.org.uk/vaccines-and-diseases/mmr.aspx
  7. MUI. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang imunisasi [Internet]. MUI, 4 2016. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/lain/Fatwa No. 4 Tahun 2016 Tentang Imunisasi.pdf
  8. Luyten J, Vandevelde A, Van Damme P, Beutels P. Vaccination policy and ethical challenges posed by herd immunity, suboptimal uptake and subgroup targeting. Public Health Ethics. 2011;4(3):280–91.
  9. Lo NC, Hotez PJ. Public Health and Economic Consequences of Vaccine Hesitancy for Measles in the United States. JAMA Pediatr [Internet]. 2017;1–6. Available from: http://archpedi.jamanetwork.com/article.aspx?doi=10.1001/jamapediatrics.2017.1695
  10. Wearmouth E. Children, vaccination and UK law and UK law. Arch Dis Child [Internet]. 2014;99(Suppl 1):A193–A193. Available from: http://adc.bmj.com/cgi/doi/10.1136/archdischild-2014-306237.445
  11. Salathé M, Khandelwal S, Cauchemez S, Gerberding J, Barabasi A. Assessing Vaccination Sentiments with Online Social Media: Implications for Infectious Disease Dynamics and Control. Meyers LA, editor. PLoS Comput Biol [Internet]. 2011 Oct 13 [cited 2017 Aug 8];7(10):e1002199. Available from: http://dx.plos.org/10.1371/journal.pcbi.1002199

 

Marah dengan wabah campak 2015 di Amerika

Tadi malam saya menangis saat menonton bagian akhir film The Imitation Game. Alasannya yaitu: film tersebut mengingatkan saya bahwa terkadang sikap kita terhadap satu sama lain sangatlah buruk. Seberapa besar penderitaan yang muncul saat kita tidak memikirkan suatu hal dengan seksama. Film tersebut bukanlah tentang cacar atau vaksinasi, tetapi ketidakadilan yang terjadi di film tersebut memaksa saya di Minggu pagi ini untuk tidak bersama anak-anak saya, melainkan berbagi cerita ini:

Habis sudah kesabaran saya terhadap orangtua yang tidak mau memberikan vaksin terhadap anak-anaknya. Saya malu mengakui bahwa harus ada wabah cacar di Disney terlebih dahulu untuk mengubah saya yang sabar dan sepenuh hati menjadi terbakar amarah dan kecewa. Hari ini saya merasa murka bahwa keluarga yang belum diimunisasi masih juga tidak bersegera mendapatkan vaksin MMR, bahkan saat Superbowl Sunday. Menurut saya, seharusnya mereka segera diimunisasi demi alasan yang “egois” (untuk melindungi diri sendiri) maupun alasan altruisme (untuk orang lain yang bergantung pada mereka). Saya mengharapkan keduanya pada masyarakat.

Coba Anda baca pesan Roald Dahl, penulis Charlie and the Chocolate Factory, pada tahun 1988, tentang kematian anak perempuannya akibat cacar — adalah suatu kegilaan bahwa hal tersebut ternyata masih terjadi saat ini.

Saya merasa sedih bahwa saat ini banyak orang tua di Amerika yang khawatir bayinya terkena cacar. Kemungkinan bayi terkena cacar kecil, namun kemungkinan ini hampir tidak ada jika semua anak di sekitar bayi tersebut telah diimunisasi, sehingga menghasilkan hampir 100% kekebalan kelompok terhadap cacar. Saya marah karena bayi seorang sahabat saya terkena cacar saat usianya masih terlalu muda untuk mendapatkan vaksin MMR. Saya marah saat mengetahui bahwa anak-anak yang semangat mau pergi ke Disneyland setelah transplantasi liver, atau kemoterapi, atau operasi pengangkatan tumor di tulangnya, menjadi takut untuk pergi kesana. Bisakah Anda bayangkan memiliki liver yang tidak berfungsi seperti seharusnya, atau menderita kanker saat masih anak-anak/remaja, kemudian ditambah lagi masalah baru (risiko terkena cacar meningkat) disaat Anda seharusnya bergembira menikmati masa kecil Anda?

Saya marah pada diri saya karena terkadang belum bisa meyakinkan orangtua yang masih takut dan ragu untuk memberikan vaksin MMR ke anaknya. Saya marah karena saya tetap tenang pada saat seharusnya saya lebih agresif. Saat ini saya teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat seorang ibu menertawakan saya, menertawakan keseriusan saya yang ingin memberikan vaksin MMR kepada anaknya supaya anak tersebut terlindungi. Sebagai dokter anak, ibu, advokat, penulis dan juru bicara, seharusnya saya bisa berbuat lebih banyak.

Selama lebih dari 5 tahun, saya telah menulis tentang manfaat dan fakta ilmiah vaksin, serta pentingnya vaksin sebagai pencegahan penyakit. Saya juga telah membahas jarangnya efek samping yang muncul pada pemberian vaksin MMR. Saya juga telah menjelaskan beberapa wabah, betapa tenangnya kita yang sudah diimunisasi, kita bisa sekolah, bepergian jauh kemanapun, bahkan saat wabah, tanpa perlu kuatir tertular. Ada 1 bab khusus di buku saya yang berjudul “Cacar di Amerika.”

Seharusnya tidak ada alasan wabah cacar tahun 2015 ini dapat terjadi. Tidak ada lagi ruang untuk histeria, misinformasi, “kebebasan” dan “kebenaran” dari penelitian yang disalahartikan. Landasan ilmiah dan moralnya sudah jelas: Amerika dinyatakan sudah bebas cacar pada tahun 2000, namun karena banyak orang yang menolak bukti ilmiah dan saran medis, cacar muncul kembali. Wilayah yang tidak terlindungi (menolak vaksinasi) semakin luas. Akibatnya, bayi-bayi, anak-anak yang rentan, remaja, bahkan orang dewasa terinfeksi cacar yang seharusnya sudah musnah. Sangat jarang orang yang sudah divaksinasi terkena cacar.

Saya sangat bangga dengan media yang terus menerus memberitakan wabah cacar ini. Saya telah melakukan banyak wawancara tentang cacar, dimana saya menjelaskan dengan detil mengenai jumlah kasus, risiko cacar, serta kesuksesan vaksin MMR. Di media sosial, saya juga melihat artikel baru tentang cacar setiap beberapa jam. Saya tidak menyertakan data tentang wabah cacar disini karena sebagian besar Anda pasti sudah tahu. Inbox email saya penuh dengan data wabah, padat dengan diskusi para dokter anak tentang bagaimana caranya agar tidak luput mendiagnosis cacar, tidak tertukar dengan adenovirus, serta opini/pertanyaan tentang tantangan dan kekuatiran terhadap pasien-pasien kami yang mungkin tidak terlindungi.

Untungnya saya belum pernah mendapatkan pasien cacar di tempat praktek saya yang sekarang. Saya akan sangat sedih jika mendapatkan pasien cacar, berarti saya telah gagal. Bahkan, jika saya mendapatkan pasien cacar di tempat praktek saya, saya akan menangis tersedu-sedu setelah memeriksa pasien tersebut.

“Meluasnya wilayah yang tidak terlindungi (menolak vaksinasi) padahal orang-orang di wilayah tersebut sangat mampu memberikan vaksin untuk anaknya, merupakan contoh lain yang menunjukkan bahwa sebagai komunitas, kita tidak berbuat baik terhadap sesama. Seharusnya kita bisa lebih baik dari ini.”

Dalam beberapa tahun ini, kita telah melihat banyak contoh perlakuan yang tidak layak terhadap sesama manusia, baik di Amerika maupun di negara lain. Vaksin mencerminkan kesempatan untuk berbuat benar, untuk melindungi diri kita, anak-anak kita, dan juga komunitas yang rapuh di sekitar kita.

Sebuah penerbit koran besar di Amerika menerbitkan sebuah artikel yang menonjolkan pendapat seorang dokter-antivaksin-pseudosains, bahwa vaksin telah menimbulkan wabah. Saat artikel tersebut diterbitkan, popularitasnya meroket. Kita hidup di dunia dimana saya telah menulis tentang ketidakadilan wawancara imunisasi oleh media pada tahun 2011; keadaan saat ini ternyata tidak banyak berubah.

Setelah saya mengirim sebuah tweet kemarin, bahwa saya berpikir akan menulis artikel tentang cacar, seorang sejawat dokter mengatakan “Berjuanglah.” Tweet tersebut telah diretweet berkali-kali. Ini adalah cara saya berjuang, dan ketahuilah bahwa saya masih akan terus berjuang sepenuh hati, berbelas kasih terhadap mereka yang tidak percaya, dengan pembakar semangat yang baru.

 

 

Ditulis oleh Wendy Sue Swanson, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/enraged-by-2015-measles-in-america/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Diana Andarini

Sudahkah Pengasuh Bayi Anda Mendapatkan Vaksin Pertusis?

Sebuah sekolah menengah di Seattle baru-baru ini mengumumkan wabah kecil batuk rejan: 13 siswa didiagnosis dengan pertusis yang dikonfirmasi laboratorium. Tak satu pun dari remaja yang menular saat ini, namun hal ini menjadi pertanyaan menarik tentang bagaimana melindungi anak-anak dan masyarakat kita. Apakah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memastikan pengasuh bayi, pengasuh atau bahkan nenek buyut benar divaksinasi?

Cukup sulit untuk meminta kakek dan nenek untuk memvaksinasikan diri mereka agar dapat melindungi anak bungsu atau balita yang paling rentan. Mungkin juga merupakan tantangan dengan pengasuh tetangga. Saya akan menyarankan Anda untuk hanya mengatakan, “Hei, apakah Anda mendapatkan suntikan 11 tahun dan vaksin flu Anda tahun ini?” Masalahnya, satu kendala mungkin adalah bahwa pengasuh berusia 15 tahun Anda mungkin tidak tahu apakah mereka sudah mendapatkan vaksin Pertusis remaja. Sebagai pengingat, semua anak diberi imunisasi untuk batuk rejan (DTaP) pada usia 2, 4, 6, dan 15 bulan. Mereka kemudian menerima dosis lain pada usia 4. Kemudian dosis tween booster (tembakan Tdap) pada usia 11 tahun.

Banyak remaja mempersiapkan diri untuk pekerjaan besar mengasuh anak dengan mengikuti kelas/kursus. Di kelas, instruktur membantu mereka untuk memastikan apakah mereka akan mendapatkan imunisasi selama kursus berlangsung.

Apa Itu Batuk Rejan?

  • Infeksi bakteri yang sangat menular (pertusis) pada hidung dan tenggorokan menyebabkan “batuk rejan.”
  • Mudah terbawa oleh batuk dan bersin. Gejala muncul 7-10 hari setelah terpapar (rata-rata)
  • Gejala berbeda menurut usia, bayi dan anak kecil mungkin akan memiliki batuk parah atau bahkan berhenti bernapas. Kami sangat khawatir tentang bayi yang baru lahir, bayi muda di bawah usia 2 bulan, tetapi juga mempertimbangkan bayi di bawah usia 6 bulan “berisiko tinggi.”
  • Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa mengalami demam, pilek dan batuk yang parah yang berlanjut menjadi batuk, suara yang “rejan” terdengar dengan batuk, atau bahkan batuk yang berlangsung lebih dari 100 hari (bahkan jika diobati). Pengobatan adalah berupa mencegah penyebaran, bukan batuk.

Apakah Batuk Rejan Adalah Masalah yang Serius?

  • Sangat serius untuk bayi dan anak kecil. Sekitar setengah dari bayi yang mendapatkan batuk rejan masuk rumah sakit. Beberapa akan mengalami gangguan pernafasan parah dan beberapa orang akan mengalami kejadian yang mengancam jiwa saat bernafas.
  • Bisa menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak dan bahkan kematian sangat jarang.

Orang dengan risiko tertinggi:

  • Bayi, ibu hamil, penderita asma
  • Washington State: kami mengalami wabah besar dua tahun lalu. Syukurlah sekarang kasus biasanya antara 184 dan 1026 kasus pada tahun biasa. Sejauh ini, telah terjadi 96 kasus yang dilaporkan tahun ini (sampai 11/8), turun dari 644 yang dilaporkan kali ini tahun lalu. King County memiliki salah satu catatan yang lebih rendah di negara bagian: 3.8 / 100.000 orang (tertinggi adalah Adams County: 60 per 100.000).

Apa yang Orang Tua Perlu Tahu?

Vaksinasi (vaksin DTaP pada anak kecil & Tdap pada usia 11 tahun ke atas) adalah pertahanan terbaik melawan pertusis. Anak-anak yang tidak divaksinasi setidaknya memiliki risiko delapan pertiga lebih besar dibandingkan anak-anak yang sepenuhnya divaksinasi dengan DTaP. Kata “wabah” benar-benar mengajarkan kita bahwa dibutuhkan masyarakat yang sudah divaksinasi untuk melindungi bayi kecil. Sebagian besar data memperkirakan hanya sekitar 4 dari 5 dari kita yang mendapatkan suntikan perlindungan dari batuk rejan sehingga kita bergantung pada orang-orang di sekitar kita untuk diimunisasi agar kita cenderung tidak menyebar. Selama epidemi 2012 di Washington banyak anak dan remaja yang menderita batuk rejan telah diimunisasi. CDC mencatat epidemi Washington yang mengajarkan kita tentang batuk rejan. Meski vaksin pertusis memberikan perlindungan jangka pendek yang bagus, sepertinya imunitas bisa memudar. Data CDC memang mengingatkan kita bahwa mendapatkan suntikan masih merupakan strategi tunggal yang paling efektif, terutama untuk wanita hamil dan kontak bayi.

  • Pengasuh bayi dari segala usia harus tinggal di rumah saat sakit (terutama jika merawat bayi yang baru lahir) jika mereka memiliki gejala batuk atau pilek, terutama jika wabah batuk rejan atau influenza berada di wilayah mereka.
  • Ibu hamil membutuhkan Tdap selama trimester ketiga mereka. Temuan penelitian menyimpulkan, “Tdap selama kehamilan tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan hipertensi pada kehamilan atau kelahiran prematur atau SGA (usia gestasi yang kecil).
  • Dosis satu kali Tdap direkomendasikan untuk semua orang berusia di atas 11 tahun
  • Efek seumur hidup tidak terbukti (efek suntikan berlangsung sekitar 4-12 tahun) namun setelah 5 tahun proteksi moderat tetap ada.
  • Cuci tangan, tutupi batuk, tetap di rumah saat sakit
  • Hindari kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala batuk rejan. Dorong mereka untuk menemui dokter untuk pengobatan jika mereka memiliki batuk yang tidak biasa.

 

 

Ditulis oleh Wendy Sue Swanso, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/has-your-babysitter-had-the-whooping-cough-shot/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Reqgi First Trasia.

Kapan Pertama Kali Janin Mengenal Rasa Makanan?

Tahukah Anda bahwa si kecil di dalam kandungan dapat merasai apa yang Anda makan? Nah, ini dia menu dalam rahim.

 

Anda mungkin berpikir si kecil belum mempunyai konsep tentang rasa sampai saat pertama si kecil meneguk ASI, atau barangkali ketika si kecil diberi makanan padat. Tapi mungkin Anda terkejut karena ternyata si kecil sudah mencicipi rasa pertamanya 13 minggu setelah pembuahan, atau tepatnya ketika indra pengecapnya mulai berkembang.

Dari usia 11 minggu di kandungan, bayi Anda akan belajar bagaimana menelan dan meneguk cairan amniotik yang mengelilinginya dalam rahim. Komposisi cairan amniotik berubah di trimester pertama. Dari semula cairan berbasis air, mirip plasma darah, menjadi substansi penuh nutrisi karbohidrat, protein, dan lemak. Substansi ini berperan penting dalam proses tumbuh kembang si janin. Setiap hari, si kecil akan mencerna sejumlah cairan ini, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, maupun untuk melatih kemampuan si kecil menelan dan mencerna. Cairan amniotik tersebut mengandung rasa yang tidak pasti, rasa berubah sesuai makanan yang dikonsumsi ibunya. Jadi, begitu indra pengecap si kecil sudah cukup berkembang, ia akan dapat mencicipi berbagai rasa yang terkandung dalam cairan amniotik, tergantung jenis makanan yang Anda asup.

Penerima rasa (taste receptor) yang terbentuk cepat di lidah si kecil, seiring perkembangan saraf penerima lainnya di saluran napas, memberi kemampuan pada si kecil untuk merasakan amniotik dan membauinya. Setidaknya 90% dari indera perasanya dipengaruhi oleh penerima bau (smell receptor), sehingga makanan dengan rasa yang kuat, misalnya rempah, adalah yang paling mudah dikenali janin.

Coba uji pada diri Anda sendiri. Jika Anda makan makanan berbumbu tajam, tunggu dua jam, waktu yang dibutuhkan bagi rasa makanan tersebut sampai ke cairan amniotik, Anda akan merasakan respon janin, misalnya gerakan, dll. Atau bisa saja, janin Anda tidak responsif! Apapun reaksi janin yang terjadi, Anda tidak perlu khawatir . Rasa makanan seperti itu tidak akan membuat janin stress. Rasa-rasa itu sekadar melatih janin dengan sensasi yang lebih bervariasi sehingga ia akan lebih siap saat lahir nanti.

Para peneliti menyatakan bahwa bayi yang terekspos oleh rasa tertentu di dalam rahim akan lebih menyukai makanan dengan rasa tersebut setelah mereka dilahirkan nanti. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Philadelphia menguji sekelompok ibu hamil. Para bumil ini dibagi dalam tiga kelompok: satu kelompok diberi jus wortel empat kali seminggu selama kehamilan, lalu diberikan air ketika mereka sudah melahirkan dan saat menyusui. Kelompok kedua minum air selama kehamilan, lalu diberi jus wortel saat mereka menyusui. Kelompok terakhir tidak minum jus wortel.

Ketika bayi-bayi mereka disapih dan mulai makan makanan padat, para peneliti menawarkan dua macam sereal: sereal tanpa rasa dan rasa wortel. Bayi yang terpapar jus wortel, baik melalui cairan amniotik maupun ASI, akan lebih menyukai sereal rasa wortel dan cenderung tidak akan menyeringai bila dibandingkan bayi yang belum pernah mencicipi rasa wortel.

Penelitian lain dilakukan untuk menguji apakah bau-bauan dapat diteruskan ke cairan amniotik oleh jenis makanan tertentu. Peneliti memberikan kapsul bawang putih atau kapsul gula kepada sekelompok ibu hamil. Kemudian , para peneliti mengambil contoh cairan amniotik pada bumil tersebut. Sekelompok orang diminta melakukan tes penciuman, dan sampel dari para ibu yang telah menelan kapsul bawang putih terdeteksi bau bawang putih.

Sepertinya memang benar kata orang: you are what you eat. Dan anehnya, apapun yang Anda makan tidak saja langsung berpengaruh pada si kecil, tetapi juga mungkin memengaruhi pilihan rasa si kecil di masa depan. Ilmuwan Perancis melakukan sebuah studi untuk mendukung fakta tersebut: 12 ibu hamil diberikan biskuit dan permen berlapis coklat sekitar 10 hari sebelum melahirkan. Beberapa jam setelah para wanita tersebut melahirkan, reaksi bayi mereka terhadap bau coklat lebih tampak dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar bau tersebut sebelumnya.

Paparan terhadap sebuah aroma di masa antenatal dan setelah melahirkan diyakini dapat meningkatkan kenikmatan terhadap rasa tersebut, selama masa penyapihan maupun setelah mereka dewasa. Hal ini menjelaskan mengapa berbagai negara memiliki preferensi budaya dan etnis tertentu terhadap makanan dan rasa. Seorang anak Indonesia, misalnya, tumbuh dengan preferensi rasa yang berbeda dengan anak-anak Perancis, China, atau India – dan kegemaran tersebut dapat disebabkan oleh tereksposnya anak-anak terhadap rasa cairan amniotik yang pertama kali mereka rasakan.

Menjaga kebiasaan makan sehat dan seimbang selama masa kehamilan penting untuk memberi makanan si kecil yang sedang tumbuh. Namun, dengan Anda menganut kebiasaan makan makanan yang bervariasi, si kecil nantinya akan lahir dengan kebiasaan menikmati makanan sehat. Dengan makan yang benar, Anda dapat menghapus kemungkinan si kecil menyukai permen dengan kegemarannya pada brokoli.

Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Keith L. Moore, et al. 2000. Fetal Growth and Development. The South Dakota Departement of Health.

  2. Women Health Care Physicians. 2015. Prenatal Development: How Your Baby Grows During Pregnancy. The American College of Obstetric and Gynecology.

  3. Giussepe M, et al. 2015. Pregnancy, Embryo Fetal Development and Nutrition: Physiologi around Fetal Programming. Journal of Histology and Histopatology: University of Catania: Italia.

  4. Deki Pem. 2015. Factors Affecting Early Childhood Growth and Development: Golden 1000 ages. Medical Science University of Bhutan: Bhutan.

  5. J A Dipietro. 2008. Prenatal Development. Johns Hopkins University: Baltimore.

Mengapa Ibu Hamil Keranjingan Makan?

You are what you eat

tapi apa maksudnya bila tiba-tiba Anda makan pisang dengan saus?

 

Dalam banyak kejadian, ciri-ciri hamil digambarkan dengan keranjingan makan es krim dan acar. Kita juga kerap mendengar seorang teman yang tiba-tiba kepingin makan banyak daging merah atau tiba-tiba tidak suka kopi sama sekali. Bahkan, 75 persen dari ibu hamil (bumil) akan doyan ngemil jenis-jenis makanan tertentu sampai usia kehamilannya mencapai 40 minggu.

Mungkin Anda tidak heran kalau mendengar bahwa keranjingan makan yang sering terjadi adalah ngemil yang manis-manis, berlemak, seperti coklat atau kue donat; juga keranjingan terhadap cemilan asin dan berbumbu. Tetapi jenis makanan yang disuka bumil ini bervariasi, tergantung pada latar belakang masing-masing. Di Tanzania, misalnya, bumil umumnya akan senang makan daging, mangga, yogurt, dan buah jeruk. Sementara di Kamboja, para bumil senang ngemil makanan yang gurih dan berbumbu.

Sebaliknya, ada ibu hamil yang tidak suka makan dan merupakan hal yang juga mengejutkannya dengan keranjingan karena perubahan kebiasaan dari saat sebelum hamil. Datang tiba-tiba dan sulit dikontrol. Anda bisa jadi hanya inginkan roti gosong dengan olesan tebal mentega tak peduli siang atau malam.

Kapan kesukaan atau justru penolakan terhadap makanan itu terjadi? Doyan ngemil umumnya terjadi pada kehamilan pertama, meski para ahli tidak dapat menentukan kapan tepatnya kebiasaan ini dimulai. Sementara 60% dari kasus tidak doyan makan dimulai pada trimester pertama kehamilan, tepatnya ketika mual-mual mulai timbul, menurut sebuah jurnal yang membahas mengenai appetite. Tidak doyan makan umumnya tidak menimbulkan masalah setelah trimester pertama, tetapi keranjingan justru bisa berkelanjutan sepanjang masa kehamilan.

Sebuah studi lain dari University of Connecticut memperlihatkan bahwa perempuan lebih banyak mengonsumsi makanan yang manis di trimester kedua dan keranjingan makanan gurih seiring bertambahnya usia kandungan.

Apa yang terjadi? Beberapa ahli mengatakan bahwa keranjingan makan ini sebenarnya adalah intuisi tubuh ketika terjadi kekurangan nutrisi. Perilaku keranjingan makanan berbahan dasar susu pada bumil dianggap biasa karena rata-rata perempuan mengonsumsi hanya tiga perempat dari kebutuhan kalsium hariannya. Tidak demikian halnya dengan kesukaan terhadap makanan gurih. Tubuh Anda memang membutuhkan lebih banyak sodium karena volume darah yang meningkat, tetapi pada umumnya kita sudah mengonsumsi terlalu banyak garam. Namun, belum ada bukti yang mendukung teori ini.

Teori lain menyebutkan bahwa tidak doyan makan adalah mekanisme perlindungan ibu dan bayinya terhadap racun-racun dari lingkungan sekitar. Lihatlah berapa banyak perempuan yang tiba-tiba mual dengan kopi, terutama di minggu-minggu awal kehamilan. Bumil juga mungkin tidak doyan sayuran pahit atau beraroma tajam, dan itu justru menghindari bumil dari keracunan.

Penyebab lain dari dua perilaku seputar kebiasaan makan bumil adalah perubahan hormon tubuh. Para ahli meneliti keranjingan makan dalam kaitannya dengan kadar progesteron dan prolaktin, yang dapat memengaruhi nafsu makan. Perubahan hormon ini berpengaruh pada sensitivitas terhadap bau dan rasa, dan berkaitan erat dengan tekstur makanan yang dikonsumsi bumil. Es adalah makanan favorit bumil karena rasa lezatnya, juga efek dingin dan menyegarkannya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa doyannya bumil terhadap makanan dipengaruhi oleh pola pikir kita tentang apa yang harus dimakan, misalnya buah dari produk-produk susu yang berefek mendinginkan, atau hal-hal klise yang sering kita lihat di televisi. Perilaku ini bertambah intensif saat bumil gelisah. Memang menggoda untuk mengalihkan pikiran ke makanan. Banyak bumil memilih cemilan anak-anak yang cenderung hambar, misalnya keju dan roti bakar, puding beras, atau pasta dengan butter. Ada hal positif disini, karbohidrat akan meningkatkan kadar hormon serotonin yang akan membuat Anda lebih rileks.

Namun, perilaku keranjingan ini bisa menggila. Beberapa bumil bisa berjingkat-jingkat ke dapur di malam hari dan makan kerak makanan di dinding panci atau mengendus semir sepatu. Perilaku semacam ini disebut pica, keranjingan hal-hal yang bukan makanan, misalnya bau tanah dan pasta gigi. Fenomena seperti ini ditemui di berbagai budaya, bahkan terjadi sejak lama. Dalam beberapa tradisi, perilaku keranjingan ini dinanti-nanti, bahkan didorong sebagai semacam perlindungan atau pertanda baik. Sebuah studi tahun 2000, para ibu di Mexico mengatakan bahwa memakan segumpal tanah liat suci akan mendatangkan berkah. Dan barangsiapa menolak ngidam, maka bayinya tidak akan pernah puas (lahir dengan mulut ngiler), dan bila ngidamnya dipenuhi maka bayinya akan senang dan bersih.

Jadi, haruskah Anda menolak ngidam? Ya, jika Anda ngidamnya membaui asap mobil atau ngemil batu bata, mungkin Anda harus bicara dengan dokter apakah Anda kekurangan nutrisi tertentu. Namun tidak ada data yang mendukung bahwa ngidam berakibat buruk pada bayi. Yang Anda harus lakukan adalah menggantinya dengan sesuatu yang lebih menyehatkan; makan sedikit tetapi sering karena kadar gula dalam darah yang rendah akan memicu keinginan ngemil. Makan lebih banyak ikan juga dapat membantu karena minyak dari ikan tersebut akan mengurangi keinginan Anda untuk ngemil.

Jika Anda sangat ingin makan coklat, Anda mungkin sedang kekurangan zat magnesium dan cobalah ngemil biji (kuaci) bunga matahari. Keletihan juga dapat meningkatkan keinginan ngemil, jadi Anda sebiknya tidur cukup di malam hari dan istirahat di siang hari. Dan yang penting adalah semangati diri Anda untuk melalui tahap yang aneh, tetapi sangat berarti dalam kehamilan Anda.

Penulis:
Reqgi First Trasia, dr.

 

Referensi :
1. Ministry of Health. 2006. Food and nutrition guidelines for Healthy Pregnant and Breastfeeding Women. Wellington : New Zealand.
2. Crawley, Helen. 2014. Eating well for Healthy Pregnancy: A Practical Guide. Queens Road : London.
3. National Health and Medical Research Council. 2007. Healthy Eating during your Pregnancy. Departement of Health and Aging : Australian Government.
4. Australian Dietary Guidelines. 2008. Food Savety during Pregnancy. Departement of Food Authority : New Zealand.
5. Williamson, C.S. 2006. Nutrition in Pregnancy. British Nutrition Foundation : London.

Tips Menangani Gangguan Belajar pada Anak

Pada umumnya, setiap anak akan menampilkan satu atau lebih dari tanda-tanda peringatan dini gangguan belajar. Hal ini normal. Namun, saat menemukan ada beberapa karakteristik yang terus muncul dalam periode waktu yang panjang, maka Anda perlu mempertimbangkan anak Anda mengalami gangguan belajar.

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan dalam merespon gangguan belajar:

  1. Memahami kekuatan anak

  • Anak-anak dengan gangguan belajar seringkali sangat cerdas, memiliki keterampilan memimpin, atau lebih unggul dalam bidang musik, seni, olahraga, atau bidang kreatif lainnya. Daripada berfokus pada kekurangan anak, kita harus lebih menekankan dan menghargai kekuatan anak.
  1. Melakukan evaluasi

  • Anda bisa meminta pihak sekolah untuk memberikan evaluasi pendidikan yang komprehensif, termasuk tes kemampuan (assessment), pengujian untuk mengevaluasi dan mengukur bidang kekuatan dan kelemahan anak Anda.
  1. Bekerja sama untuk membantu anak

  • Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa anak Anda memiliki gangguan belajar, maka Anda harus memenuhi syarat untuk mendapat layanan pendidikan khusus. Anda dapat bekerja dengan guru untuk mengembangkan Program Pendidikan Individual, semacam dokumen tertulis tentang ringkasan kinerja pendidikan anak dan metode untuk mengevaluasi kemajuan.
  1. Berdiskusi dengan anak tentang gangguan belajar

  • Anak-anak dengan gangguan belajar harus diyakinkan bahwa mereka itu tidak bodoh atau malas. Mereka orang cerdas yang mengalami gangguan belajar karena pikiran mereka berbeda cara dalam memproses kata-kata atau informasi.
  1. Temukan akomodasi yang dapat membantu

  • Anda dapat bertemu dengan guru untuk membahas tentang opsi untuk dibacakan informasi tertulis dengan kertas, tambahan waktu pada saat ujian, merekam pelajaran, dan menggunakan alat bantu teknologi.
  1. Memonitor kemajuan anak

  • Perhatikan kemajuan anak untuk memastikan bahwa kebutuhan anak Anda telah terpenuhi.
  1. Mengorganisir informasi seputar gangguan belajar anak

  • Mulailah membuat folder untuk semua materi yang berhubungan dengan pendidikan anak Anda.
  1. Mendapatkan bantuan sejak dini

  • Sangat penting bagi Anda untuk mencari bantuan segera setelah Anda menyadari anak memiliki gangguan belajar.

Jadi, apa yang harus Anda lakukan terlebih dahulu?

  • Percayalah pada naluri!
  • Tidak ada yang tahu anak Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Jadi, Anda bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi, langsung berbicara dengan guru, mencari informasi dan pendapat para ahli, dan jangan takut untuk segera mendapatkan evaluasi.
  • Bertemu dengan guru dan konselor bimbingan. Mereka dapat memberi tahu Anda seberapa baik anak Anda berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Saran untuk orang tua dalam menangani gangguan belajar:

  1. Bekerja sama dengan anak di rumah

  • Orang tua adalah guru anak yang pertama dan terbaik. Kita dapat menunjukkan kepadanya bahwa membaca itu menyenangkan. Kita bisa membacakan sebuah buku untuk anak setiap hari.
  1. Bergabung dengan mereka yang peduli

  • Yakinlah Anda tidak sendirian. Bergabung dengan orangtua lain dalam sebuah support group dan bekerja sama dengan para profesional, maka kita pun dapat meningkatkan kesadaran terhadap problem ini, menghilangkan kesalahpahaman populer.
  1. Bekerja sama dengan para profesional

  • Para profesional tersebut antara lain: audiolog, konsultan pendidikan, terapis pendidikan, spesialis gangguan belajar, neurologist, terapis okupasional, dokter anak, psikiater, psikolog (klinis), psikolog pendidikan/sekolah, terapis wicara dan bahasa.
  1. Membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah

  • Tunjukkan minat pada pekerjaan rumah anak kita. Kita dapat menanyakan tentang mata pelajaran dan tugas apa yang harus dikerjakan. Ajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari satu atau dua kata.
  1. Membantu anak menjadi pembaca yang lebih baik (untuk anak usia dini)

  • Mengajarkan hubungan antara huruf dan kata. Ajarkan pada anak sejak dini cara mengeja kata-kata, seperti: nama mereka sendiri atau kata-kata yang mungkin akan sering mereka ucapkan, seperti: sudah! Atau tidak boleh!

Selamat mencoba!

<Depok, 31 Desember 2016>

Reqgi First Trasia, dr.

.

.

.

Referensi:

  1. Corinne Smith: Learning Disabilities A to Z; Free Press; 1st edition (June 12, 2000)
  2. Gary Fisher dan Rhoda Cummings: The School Survival Guide for Kids with Learning Disability (Self-Help for Kids Series); Free Spirit Publishing; 2nd edition (September 2000)
  3. Joan M Harwell dan Rebecca Williams Jackson: The Complete Learning Disability Handbook: Ready to-Use Strategies and Activities for Teaching Students with Learning Disability; Jossey-Bass; 3rd edition (October 20, 2008)
  4. Peg Dawson dan Richard Guare: Coaching Students with Executive Skills Deficits; The Guilford Press; 3rd edition (Februari 9, 2010)

 

Virus Zika dan Serba-serbinya

Akhir-akhir ini informasi mengenai virus zika mulai menyebar luas, membuat kita semua khawatir terutama karena virus ini disinyalir merupakan penyebab mikrosephali pada bayi baru lahir di wilayah Amerika Selatan. Mums, mari kita kenali fakta-fakta unik mengenai virus zika untuk menghindari penyakit yang disebabkannya.

Penyebaran

Seperti halnya demam berdarah atau chikungunya yang telah lebih dulu menjadi endemik di beberapa wilayah di Indonesia selama musim tertentu, virus zika merupakan golongan flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Di wilayah tropis, nyamuk Aedes Aegypti menjadi jenis nyamuk yang menyebarkan virus ini. Oleh karena itu, salah satu poin penting pencegahan penyakit ini adalah melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Penularan

Selain melalui nyamuk, virus zika juga menular secara kongenital, perinatal (saat kelahiran), dan juga seksual. Kemungkinan cara penyebaran yang lainnya antara lain karena gigitan binatang seperti monyet, melalui transfusi darah, dan juga akibat paparan di laboratorium. Virus zika pernah terdeteksi terdapat pada ASI penderitanya namun belum dapat dibuktikan apakah virus ini juga menyebar melalui pemberian ASI.

Gejala

Virus ini juga menyebabkan gejala yang mirip dengan demam berdarah atau penyakit akibat virus lainnya. Gejala tersebut antara lain; demam, nyeri otot, konjunctivitis pada mata, ruam kemerahan, nyeri sendi, dan nyeri kepala. Gejala umumnya ringan dan bahkan pada kebanyakan kasus (80%) tidak bergejala sama sekali. Gejala yang terjadi juga dapat sembuh sendiri dalam rentang waktu maksimal 2 minggu.

Mikrosephali

Berita yang paling menggemparkan mengenai virus zika adalah kejadian microcephaly (kondisi dimana ukuran lingkar kepala bayi di bawah rata-rata ukuran kepala bayi dengan usia dan jenis kelamin yang sama) pada bayi di Brazil yang diduga disebabkan karena virus zika yang menginfeksi ibu hamil. Meski masih terus diteliti mengenai keterkaitan virus zika dan efeknya pada kehamilan, ibu hamil menjadi salah satu golongan yang harus waspada terhadap infeksi virus zika. Jika seorang ibu hamil baru pergi berpergian dari wilayah yang terkena wabah virus, sebaiknya  memeriksakan diri apakah terinfeksi atau tidak.

Pada orang dewasa, virus zika dapat mengakibatkan komplikasi neurologis seperti Guillain-Barre Syndrome, meningitis, dan meningoencephalitis. Virus ini jarang sekali mengakibatkan kematian.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang khusus untuk menyembuhkan virus zika. Istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, serta obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol merupakan terapi yang cukup efektif untuk mengurangi gejala yang terjadi.

Pencegahan

Pencegahan terutama dengan cara menghindari gigitan nyamuk. Gunakan lotion atau spray anti nyamuk, baju lengan panjang, dan juga pelindung saat tidur. Ibu hamil hendaknya berhati-hati dalam melakukan perjalanan, hindari mengunjungi wilayah yang terkena wabah.

Pada orang yang tinggal di daerah wabah sebaiknya menghindari hubungan seksual saat hamil atau menggunakan pelindung seperti kondom.

Irma Susan Kurnia, dr.

Sumber:

  1. Plourde, Anna M & Bloch, Evan M. 2016. A Literature Review of Zika Virus. EID Journal Vol 22 No 7 Cited Dec 2016. Available at wwwnc.cdc.gov
  2. World Health Organization. 2016. Zika Virus. Cited Dec 2016. www.who.int
  3. Meaney Delman et al.2016. Zika Virus and Pregnancy: What Obstetric Health Care Providers Need to Know. Obstetrics & Gynecology: April 2016 – Volume 127 – Issue 4 – p 642–648

 

PIN Polio 2016 dan Vaksin Polio

Halo Ayah Bunda, ada yang spesial loh di Bulan Maret ini. Tanggal 8-15 Maret 2016 di seluruh Indonesia, serempak dilakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. PIN Polio adalah pemberian imunisasi tambahan polio kepada anak tanpa memandang status imunisasinya yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi. Sebetulnya mengapa ya vaksin Polio perlu diberi tambahan? Apa manfaatnya ya? Yuk simak penjelasannya..

Apa itu PIN Polio

Pengertian PIN Polio adalah pemberian vaksin aktif melalui mulut dua tetes setiap anak usia 0 sampai 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya secara gratis. PIN Polio ini akan dilaksanakan pada tanggal 8-15 Maret 2016 di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Klinik swasta dan Rumah Sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat.

PIN Polio

Vaksin Polio

Apa Tujuan PIN Polio?

Gerakan eradikasi polio secara global akan memberi keuntungan yang besar. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi cacat karena polio sehingga biaya yang diperlukan untuk rehabilitasi penderita polio dan biaya untuk imunisasi polio dapat dikurangi. World Health Assembly (WHA) mendeklarasikan bahwa eradikasi polio adalah salah satu isu kedaruratan kesehatan masyarakat dan perlu disusun suatu strategi menuju eradikasi polio (Polio Endgame Strategy). Salah satu strategi tersebut dilakukan dengan pelaksanaan PIN Polio.

Tujuan PIN Polio antara lain mengurangi resiko penularan virus polio yang datang dari negara lain, memastikan tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit polio cukup tinggi dan memberikan perlindungan secara optimal serta merata pada balita terhadap polio.

Sekilas Tentang Polio

Poliomyelitis (Polio) merupakan penyakit yang disebabkan virus dan sangat menular, terutama banyak menyerang anak dan dewasa muda. Virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui kotoran yang masuk ke dalam mulut, terkadang melalui air atau makanan yang terkontaminasi, virus ini kemudian berkembang dalam usus sebelum akhirnya dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

Gejala awal polio biasanya berupa demam, lesu, nyeri kepala, kaku di bagian leher dan nyeri di kaki. Pada sebagian kecil kasus, penyakit ini meyebabkan kelumpuhan yang seringkali permanen. Tidak ada pengobatan khusus untuk polio, penyakit ini hanya bisa dicegah oleh vaksin.

Manfaat vaksin polio

Penemuan vaksin untuk mencegah kelumpuhan pada polio merupakan salah satu terobosan besar di bidang medis pada abad 20. Sampai saat ini terdapat 5 jenis vaksin yang dapatdigunakan guna menghentikan penyebaran polio secara global
• Oral polio vaccine (OPV)
• Monovalent oral polio vaccines (mOPV1 and mOPV3)
• Bivalent oral polio vaccine (bOPV)
• Inactivated polio vaccine (IPV)
Jika pada suatu komunitas kebanyakan orang sudah imun maka virus polio akan kehilangan tempat hidup dan akhirnya mati. Cakupan imunisasi yang tinggi diperlukan untuk menjaga penghentian penyebaran terjadi.

Waktu dan cara pemberian vaksin

Selain dari vaksin tetes yang diberikan pada seluruh balita di PIN Polio ini, orangtua juga perlu memenuhi jadwal vaksin polio dasar pada anak. Oral polio vaccine (OPV) diberikan melalui tetes di mulut pada anak usia pada saat lahir atau pada saat bayi dipulangkan (opv-0). Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 pada usia 2,4 dan 6 bulan dan polio booster dua kali pada usia 18-24 bulan dan 5 tahun dapat diberikan vaksin OPV atau IPV, namun sebaiknya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV.

Beberapa negara maju telah beralih dari pemberian OPV ke IPV ( Inactivated Polio Vaccine ). Vaksin jenis ini diberikan melalui suntikan ke dalam otot sebanyak 3 kali pada usia 2,4, 6-18 bulan dan booster pada usia 4-6 tahun oleh tenaga kesehatan professional. IPV diberikan untuk menghindari kejadian kelumpuhan polio yang mungkin terjadi pada pemberian OPV ( lihat pembahasan KIPI) namun pemberian IPV ini tidak direkomendasikan pada negara berkembang yang tinggi tingkat penularan polionya. Hal ini karena IPV hanya memberikan kekebalan yang rendah di usus sehingga kurang efektif mencegah penularan melalui tinja meski sangat efektif mencegah kelumpuhan akibat virus polio, artinya orang yang mendapat IPV jika terkena virus polio akan dicegah dari kelumpuhan namun masih mungkin menularkan melalui tinja.

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan pencatatan semua reaksi yang tidak diinginkan yang timbul setelah pemberian imunisasi

Tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu benar. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu untuk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai banyaknya kejadian KIPI, derajat keparahan sampai benar tidaknya KIPI berhubungan dengan vaksin.

Imunisasi polio merupakan imunisasi yang sangat aman. Imunisasi polio telah digunakan pada sekitar 2,5 miliar anak di seluruh dunia. Meskipun begitu, pada kasus yang sangat jarang, vaksin polio oral dapat menyebabkan paralytic poliomyelitis (kelumpuhan karena vaksin) pada penerimanya.

Irma Susan Kurnia, dr.

03/08/2016

Referensi

  1. Poiiomyelitis, 2016 [internet] [cited March 2016]. Available at www.who.int
  2. Inactivated Polio Vaccine (IPV), 2010 [internet] [cited March 2016] Available at www.polioeradication.org
  3. Petunjuk Teknis Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Tahun 2016 Kementerian Kesehatan RI 2015, Dec 2015 [internet] [cited March 2016] Available at www.indonesian-publichealth.com
  4. Hadinegoro, Sri R. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi .Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000: 2 – 10 [internet] [cited March 2016] available at www.saripediatri.idai.or.id
  5. Watson C, penyunting. National Immunisation Program: The Australian Immunisation Handbook. Edisi ke-6. Commonwealth of Australia: National Health and Medical Research Council 1997
  6. Modlin, John F. Poliovirus vaccination. Uptodate. October 2014.

Mengenal Imunisasi DPT dan Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Ayah ibu, ingatkah dengan wabah difteri yang melanda beberapa daerah di Indonesia tahun lalu? Penyakit yang amat menular dan dapat berdampak buruk bagi pernafasan anak ini muncul setelah beberapa lama tidak terdeteksi. Hal ini selaras dengan gerakan anti vaksin yang sedang marak-maraknya di kala itu. Sayangnya, orangtua mungkin banyak yang terbawa arus tanpa menelaah kebenaran informasi dengan kritis mengenai hal ini. Oleh sebab itu, yuk kita belajar lagi mengenai imunisasi pencegahnya, yaitu imunisasi DPT.

Apa itu imunisasi DPT?

Imunisasi DPT ialah imunisasi untuk mencegah penyakit difteri, tetanus dan pertusis. Difteri adalah penyakit saluran napas atas yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Toksin ini cukup berbahaya karena dapat membentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal seluruh rongga saluran pernapasan. Anak dapat mengalami kesulitan bernafas  dapat mengancam jiwa.  Selain itu, Penyakit difteri juga dapat menyerang saraf dan jantung anak.

Imunisasi DPT

Difteri

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Pertusis disebut juga batuk seratus hari karena penyakit ini bisa berlangsung selama seratus hari.  Bakteri pertusis menyebabkan peradangan saluran napas sehingga pengeluaran dahak terganggu dan terjadi penumpukan lendir dalam saluran napas

Tetanus merupakan penyakit akut, bersifat fatal, yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Clostridium tetani. Gejalanya berupa mulut kaku (trismus), yang diikuti kekakuan leher, sulit menelan, dan perut keras seperti papan. Jika dibiarkan, dapat terjadi kekakuan otot-otot pernafasan, sehingga anak sulit bernafas. Tetanus dapat terjadi pada bayi terutama bila persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan. Tali pusat bayi tidak digunting dengan alat yang steril dan tidak dirawat dengan baik yang bisa menjadi sumber penularan kuman tetanus.

Imunisasi DPT

Tetanus

Bagaimana kejadian difteri, pertusis dan tetanus sebelum dan sesudah DPT ditemukan?

 Faktanya, sebelum vaksin DPT ditemukan:
– Pertusis merupakan penyebab utama kematian pada anak (diperkirakan sekitar 300.000 kematian terjadi setiap tahun).
– Kemungkinan anak yang terkena penyakit difteri akan meninggal sebesar 20-40%.
– Kemungkinan bayi yang terkena tetanus akan meninggal lebih dari 70%.

Sejak vaksin DPT ditemukan, di seluruh dunia, setiap hari setidaknya 2-3 juta kematian pada anak akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertusis dapat dihindari. Pada tahun 2014, sekitar 115 juta anak mendapatkan imunisasi dasar DPT. Cakupan imunisasi dasar DPT di 129 negara telah mencapai 90%.

Imunisasi

Imunisasi Lengkap

Di Indonesia, seperti yang bisa kita lihat pada grafik di atas (Riskesdas 2013), cakupan imunisasi sejak tahun 2007 terus meningkat. Namun, cakupan imunisasi masih di bawah target yaitu 80%. Selain itu, masih muncul wabah difteri. Pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus difteri juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa saja Jenis-jenis Vaksin DPT

Terdapat 2 jenis vaksin DPT, yaitu DTwP (wholecell pertussis) dan DTaP (acellular pertussis). Perbedaannya yaitu vaksin DTwP berisi sel bakteri pertusis utuh, sedangkan vaksin DTaP berisi komponen spesifik toksin bakteri pertusis.

Vaksin DPT juga terdapat dalam bentuk kombinasi (vaksin kombo) dengan vaksin lain. Vaksin kombo tetravalen mengandung 4 jenis vaksin, contohnya yaitu kombinasi DPT dan Hepatitis B, DPT dan Hib atau DPT dan IPV (vaksin polio suntik). Vaksin kombo pentavalen mengandung  5 antigen, yaitu DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Hepatitis B, serta HiB (Haemofilus Influenza tipe B).

Bagaimana Jadwal Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan 5 kali, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali sejak usia 2 bulan dengan jarak antar imunisasi yaitu 4-8 minggu. DPT tidak boleh diberikan sebelum usia 6 minggu. Jadi DPT pertama diberikan pada usia 2 bulan, DPT kedua pada usia 4 bulan, dan DPT ketiga pada usia 6 bulan.
  • Imunisasi DPT booster/penguat diberikan 2 kali. Booster pertama pada usia 18-24 bulan, dan booster kedua pada usia 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

Imunisasi dasar DPT pada bayi 3 kali akan memberikan kekebalan selama 1-3 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia 18-24 bulan akan memperpanjang kekebalan sampai usia 6-7 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia masuk sekolah akan memperpanjang kekebalan sampai usia 17-18 tahun.

Bagaimana Cara Memberikan Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan dengan cara disuntik. Awalnya tenaga kesehatan akan meletakkan bayi di atas tempat tidur. Lalu tungkai bawah bayi sedikit ditekuk. Vaksin DTP disuntikkan ke otot paha bayi dan anak di bawah 3 tahun.

Pada anak yang lebih besar, vaksin DTP disuntikkan ke otot lengan atas. Posisi anak yang paling nyaman yaitu duduk di atas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lengan yang akan disuntik dipegang, sementara lengan lainnya diletakkan di belakang tubuh ibu atau pengasuhnya.

Apa yang bisa terjadi setelah imunisasi DPT?

Setelah imunisasi, dapat timbul KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) pada anak Anda. KIPI ada yang ringan dan berat. KIPI ringan misalnya demam >38,5ºC, rewel, timbul kemerahan/nyeri dan bengkak pada bekas tempat suntikan. Jika demam dapat menggunakan obat penurun panas, kompres air hangat/biasa, memakai pakaian yang tipis, dan minum air lebih banyak (atau ASI pada bayi <6 bulan). Bekas suntikan yang nyeri atau bengkak dapat dikompres air dingin. KIPI ringan akan hilang dalam 2 hari. Jika menetap atau bertambah berat, bawalah anak Anda ke dokter.KIPI berat misalnya anak menangis terus menerus selama >3 jam, kejang demam dan reaksi anafilaktik (alergi berat). Jika timbul KIPI berat, anak harus segera dibawa ke rumah sakit.

KIPI vaksin DTaP lebih jarang dibandingkan DTwP. KIPI yang paling serius pada anak yaitu reaksi anafilaktik, yang terjadi 1-3 kasus diantara 1.000.000 dosis.

Apakah vaksin DPT halal?

Ya, vaksin DPT dianggap halal. Isu yang banyak berkembang yaitu vaksin haram karena mengandung babi. Beberapa vaksin menggunakan enzim tripsin babi, namun pada proses akhir enzim ini tidak ada lagi pada vaksin karena sudah disaring sedemikian kecilnya dengan nanopartikel (proses ultrafiltrasi). Yang menggunakan antara lain : vaksin rotavirus (diare), beberapa merek vaksin flu, dan MMR.

Sebagian ulama menyatakan vaksin tetap halal, karena tanpa vaksin, banyak penyakit infeksi mematikan. Disini poin manfaat yang lebih besar daripada mudharat sangat diperhatikan. Dan selayaknya kita mengingat proses ultrafiltrasi tadi. Selain itu, pengganti enzim tripsin babi belum ditemukan. Ini merupakan alasan kedaruratan, dan para ulama terus menganjurkan untuk menemukan enzim tripsin non-babi yang sampai saat ini masih terus diusahakan.

Kesimpulan

Imunisasi DPT sangat bermanfaat bagi anak-anak kita. Bayangkan jika kita hidup pada masa sebelum ditemukan vaksin DPT. Mungkin anak kita akan menderita bahkan meninggal akibat terkena penyakit difteri, tetanus atau pertusis. Dengan adanya vaksin DPT, kemungkinan anak kita terkena ketiga penyakit tersebut sangat kecil. Kalaupun terkena, penyakit difteri, tetanus atau pertusis yang dialami ringan. Mari kita bersama-sama menjadi orangtua yang bijak dan cerdas, dengan memberikan imunisasi lengkap pada anak-anak kita, generasi penerus yang berharga.

Diana Andarini, dr.

01/23/2016

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Pertussis (Whooping Cough). Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/disease-specifics.html
  2. Joseph J Bocka , Russel W Steele. Pertussis. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/967268-overview#showall
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Tetanus. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf
  4. Patrick B Hinfey, John L Brusch. Tetanus Treatment & Management. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/229594-treatment#d12
  5. Tempo. Padang KLB Difteri. Cited on Jan 16 2016. Available from http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/30/173638878/padang-klb-difteri
  6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Cited on 16 Jan 2016. Available from http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
  7. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  8. World Health Organization. Immunization coverage. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs378/en/
  9. Dirga Sakti Rambe. Komposisi, Proses Pembuatan & Kehalalan Vaksin. Cited on Jan 20 2016. Available from http://rumahvaksinasi.net/komposisi-proses-pembuatan-kehalalan-vaksin.html

Mengenal Gangguan Belajar Pada Anak

Beberapa orangtua mungkin ada yang khawatir melihat kemampuan belajar anaknya ‘berbeda’ dengan anak seusianya. Seperti sulit membaca, menulis, mengerjakan soal matematika, berbicara, mendengar atau konsentrasi. Namun, orangtua tidak perlu terlalu galau. Nyatanya, banyak orang besar yang memiliki gangguan belajar seperti Albert Einstein baru bisa membaca diusia 9 tahun dan Walt Disney memiliki kesulitan membaca di sepanjang hidup mereka. Yang terpenting, orangtua perlu mengenali sejak dini gangguan belajar pada anak dan mencari solusinya.

Apa itu gangguan belajar pada anak?

Gangguan belajar pada anak termasuk gangguan neurologis atau persarafan pada anak. Secara sederhana, gangguan belajar terjadi akibat perbedaan cara kerja dari otak seseorang anak. Sebenarnya, anak-anak dengan gangguan belajar itu sama pintar atau bahkan lebih pintar dari teman-temannya. Tetapi, anak dengan gangguan belajar mungkin akan mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, penalaran, mengingat dan/atau mengorganisir informasi saat disuruh menjelaskan sesuatu atau saat diberi pelajaran dengan cara-cara konvensional.

Gangguan Belajar Pada Anak

Gangguan Belajar

Gangguan belajar pada anak tidak bisa disembuhkan atau diperbaiki, dan dia termasuk problem seumur hidup. Namun, dengan dukungan dan intervensi yang tepat, anak-anak dengan gangguan belajar dapat berhasil baik di sekolah dan meraih sukses. Bahkan ada yang mencapai karir luar biasa kelak setelah dia dewasa.

Orang tua dapat membantu anak dengan gangguan belajar untuk mencapai sukses dengan mendorong kekuatan mereka, memahami kelemahan dan system pendidikan yang diperlukan, serta mempelajari strategi untuk menghadapi kesulitan tertentu. Berikut beberapa fakta tentang gangguan belajar:

  1. Diperkirakan, 1 dari 7 orang di seluruh dunia memiliki beberapa tipe dari gangguan belajar.
  2. Kesulitan membaca dan kemampuan berbahasa adalah gangguan belajar pada anak yang paling umum. Sekitar 80% dari siswa dengan gangguan belajar mengalami masalah dengan membaca.
  3. Gangguan belajar pada anak tidak perlu dibingungkan dengan gangguan yang lain, seperti: keterbelakangan mental, autism, ketulian, kebutaan, dan gangguan perilaku. Tak satu pun dari kondisi di atas termasuk kategori gangguan belajar. Selain itu, kita pun tidak perlu bingung dengan kesempatan pendidikan untuk anak dengan gangguan belajar, hanya saja mereka memerlukan metode khusus.
  4. Gangguan atensi dan gangguan belajar sering kali terjadi pada saat bersamaan, tetapi kedua jenis gangguan tersebut tidak identik.

Bentuk gangguan belajar pada anak

Bentuk gangguan belajar pada anak yang paling umum, antara lain:

  1. Disleksia: gangguan yang berhubungan dengan bahasa, dimana anak memiliki kesulitan untuk memahami kata-kata tertulis. Gangguan ini juga biasa disebut sebagai gangguan membaca.
  2. Diskalkulia: gangguan matematikal, dimana anak perlu waktu lebih lama untuk memecahkan problem aritmatika dan menangkap konsep matematika.
  3. Disgrafia: gangguan menulis, dimana anak akan merasa sulit untuk mencoretkan sebuah huruf atau menulis dalam sebuah area yang telah ditentukan.
  4. Gangguan pengolahan auditori dan visual: gangguan dalam memahami bahasa meskipun dia mempunyai pendengaran dan penglihatan yang normal.
  5. Gangguan belajar nonverbal: gangguan neurologis yang berasal dari belahan otak kanan, menyebabkan masalah dengan fungsi proses visual-spasial, intuitif, organisasi, evaluatif, dan holistik. Tipikalnya, anak dengan gangguan belajar nonverbal sulit memahami ekspresi wajah, bahasa tubuh dan memiliki koordinasi yang kurang baik.

Kabar baik tentang gangguan belajar adalah bahwa para ilmuwan telah menambah pengetahuan mereka setiap hari. Penelitian mereka pun telah banyak memberikan harapan dan arahan yang menggembirakan. Jika orang tua, guru, dan professional lain sejak dini menemukan gangguan belajar anak dan langsung memberi bantuan yang tepat, maka langkah seperti ini akan memberi anak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk bisa menjalani kehidupan yang sukses dan produktif.

Cilegon, 8 Januari 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi

  1. Corinne Smith: Learning Disabilities A to Z; Free Press; 1st edition (June 12, 2000)
  2. Gary Fisher dan Rhoda Cummings: The School Survival Guide for Kids with Learning Disability (Self-Help for Kids Series); Free Spirit Publishing; 2nd edition (September 2000)
  3. Joan M Harwell dan Rebecca Williams Jackson: The Complete Learning Disability Handbook: Ready to-Use Strategies and Activities for Teaching Students with Learning Disability; Jossey-Bass; 3rd edition (October 20, 2008)
  4. Peg Dawson dan Richard Guare: Coaching Students with Executive Skills Deficits; The Guilford Press; 3rd edition (Februari 9, 2010)
  5. Types of Learning Disabilities. 2016. Learning Disabilities Association of America. http://ldaamerica.org/types-of-learning-disabilities/

Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah. Balita dengan gangguan bicara dan bahasa berisiko tinggi mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani, anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orangtua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Salah satu ciri anak mengalami gangguan bicara dan bahasa ialah terlambat bicara. Speech delay atau terlambat ini Paling banyak terjadi pada anak laki-laki, yang keluarganya terdapat riwayat terlambat bicara atau gangguan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan adanya gen FOXP2 yang diturunkan dan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa. Anak juga berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa jika lahir prematur atau berat badan saat lahir rendah (bayi BBLR), tingkat pendidikan orang tua rendah dan kemiskinan.

Jenis-jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak

Ada 2 tipe utama gangguan bicara dan bahasa pada anak, yaitu tipe primer dan sekunder.

Tipe Primer
merupakan gangguan bicara dan bahasa yang murni tanpa ada penyebab/kondisi lain. Contoh gangguan tipe primer misalnya :

  • Perkembangan bicara dan bahasa yang terlambat/ “late bloomers”
    Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Kondisi ini terjadi akibat adanya keterlambatan proses pematangan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Perkembangan bicara dan bahasa anak biasanya akan normal dengan sendirinya.
  • Gangguan bahasa ekspresif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Gangguan ini sulit dibedakan dengan developmental speech and language delay pada usia dini. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa reseptif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses pemahaman.Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, jarang bicara, agrammatic (tatanan bahasa yang salah), dan artikulasi tidak jelas. Anak tidak melihat atau menunjuk pada objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua (hal ini menunjukkan anak kurang/tidak paham). Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa campuran
    Merupakan campuran dari gangguan bahasa ekspresif dan reseptif. Anak memiliki pemahaman yang kurang, menggunakan kata tidak sesuai artinya, sulit mengungkapkan keinginannya, dan kosakatanya terbatas. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.

Tipe Sekunder
merupakan gangguan bicara dan bahasa karena ada penyebab yang jelas atau kondisi lain. Contohnya :

  • Gangguan spektrum autis
    Gangguan spektrum autis merupakan suatu kumpulan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan masalah sosial, komunikasi dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil (misal asalm valproat, thalidomide), usia kedua orang tua >40 tahun saat hamil, dll.
    Gejalanya yaitu anak terlambat bicara, adanya penurunan intelektual, echolalia (mengulang ucapan namun tidak mengerti artinya), kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan, menyebutkan pronoun (saya, kamu, dia) terbalik-balik, dan adanya kemunduran dalam perkembangan bahasa dan bicaranya.
    Anak juga memiliki gangguan interaksi sosial. Tidak ada kontak mata saat diajak bicara, tidak merespon senyuman orang tua, hidup di “dunianya sendiri”, dan sering mengulang gerakan tertentu yang tidak jelas.
    Anak sebaiknya diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain (misal perkembangan motoriknya).
  • Cerebral palsy
    Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan atau postur tubuh yang tidak normal akibat kerusakan/gangguan perkembangan otak. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kernicterus (sakit kuning yang berat), riwayat kejang, perdarahan otak, prematur, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Cerebral palsy tidak semakin memburuk, cenderung menetap seiring pertambahan usia anak. Selain gangguan gerak dan postur tubuh, anak juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, penurunan intelektual, dan gangguan bicara. Gangguan bicara terjadi karena kesulitan koordinasi/kekakuan otot-otot orofaring (dari mulut sampai pita suara). Akibatnya anak sulit mengucapkan kata dan berbicara dengan jelas. Gangguan bicara menyebabkan anak sulit berkomunikasi, yang sering salah diinterpretasikan sebagai gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan stres pada anak dengan CP, terutama yang tingkat intelektualnya normal/di atas rata-rata.
  • Apraksia bicara pada anak
    Apraksia bicara pada anak merupakan salah satu kelainan motorik. Pada kondisi ini otak sulit mengkoordinasikan otot-otot pada bibir, rahang dan lidah. Otot anak tidak lemah atau lumpuh seperti pada kondisi cerebral palsy. Pada sebagian besar anak penyebabnya tidak jelas, sebagian lagi disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan otak. Ciri-cirinya yaitu:

    • Lebih sering menyederhanakan kata dengan menghilangkan bunyi yang sulit dibanding anak normal
    • Dapat memahami bahasa jauh lebih baik dibanding yang bisa diucapkannya
      Sering salah mengucapkan kata namun tidak konsisten
    • Ucapan yang ditiru lebih jelas dibandingkan ucapan yang spontan
      Sulit mengucapkan kata atau kalimat yang panjang
    • Ucapan terdengar monoton, terbata-bata, atau menekan pada kata atau silabus yang salah
  • Disartria
    Disartria merupakan jenis kelainan motorik. Pada kondisi ini otot-otot pada bibir, lidah, pita suara dan/atau diafragma anak lemah. Penyebabnya yaitu adanya kerusakan otak pada tingkat yang lebih rendah dibanding kerusakan otak pada apraksia. Anak paham dan mengetahui apa yang ingin diucapkan, namun artikulasinya tidak jelas. Ciri-cirinya yaitu:

    • Ucapannya berantakan, bicara cepat seperti bergumam
    • Gerakan lidah, bibir dan rahang terbatas
    • Kualitas suara berubah, seperti serak atau sengau
  • Retardasi mental
    Anak dikatakan retardasi mental bila memenuhi 3 kriteria, yaitu fungsi intelektual dibawah normal (IQ <70), terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial, dan gejala timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental dapat disebabkan adanya kelainan genetik, riwayat kernicterus (sakit kuning yang berat), perdarahan otak, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Retardasi mental bisa menyebabkan terlambat bicara. Selain itu, anak juga terlambat menggunakan gestur/gerakan sebagai sarana komunikasi. Pemahaman anak pun kurang terhadap perintah orang lain. Perbedaannya dengan yang lain, pada retardasi mental anak mengalami keterlambatan di semua aspek perkembangan (motorik, sosial dan kemandirian, dll )
  • Gangguan pendengaran
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan bicara juga. Terlebih lagi bila gangguan pendengaran terjadi di usia dini. Hal ini disebabkan anak kekurangan perbendaharaan kata/informasi yang ia perlu dengar sebelum ia ungkapkan dalam kata atau kalimat.Gangguan pendengaran bisa karena sumbatan/infeksi telinga luar, tetapi bisa juga karena saraf. Ciri anak yang mengalami gangguan bicara akibat masalah pendengaran yaitu : Anak biasanya memiliki suara yang berbeda (terdistorsi/sengau), kesulitan mengeluarkan suara s, f, th, dll yang berfrekuensi tinggi, namun anak memiliki kontak mata dan interaksi sosial yang normal. Anak dengan gangguan pendengaran yang diterapi pada usia dini menunjukkan kemampuan bicara dan bahasa yang setara dengan anak tanpa gangguan pendengaran. Jadi penting sekali mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin.
  • Selective mutism
    Pada kondisi ini anak tidak bicara karena tidak mau, bukan karena tidak bisa. Selective mutism lebih sering pada anak perempuan. Anak biasanya mau bicara saat sedang sendiri, dengan orang tua atau keluarganya, namun anak tidak mau bicara di tempat umum (misal sekolah) atau dengan orang asing. Sebagian anak dengan selective mutism juga mengalami gangguan artikulasi atau bahasa. Selain itu, anak dengan selective mutism juga menunjukkan gejala kesulitan beradaptasi, terlalu bergantung pada orang tuanya. Pada umumnya anak akan menarik diri, malu, cenderung penakut dan pesimis.

Diagnosis

Identifikasi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa akan berlanjut dengan terapi. Terapi sebaiknya dilakukan pada usia dini, saat otak anak masih berkembang pesat sehingga bisa dicapai hasil yang terbaik. Oleh karena itu, deteksi dini anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa sangat penting. Tanda-tanda anak Anda berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa bisa dilihat disini.

Saat anak Anda dibawa ke dokter, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, fungsi pendengaran, motorik kasar dan halus. Lalu dokter akan melakukan check list dari instrumen tumbuh kembang anak seperti Denver II dan Early Language Milestone Scale. Orang tua akan diminta untuk mengisi kuesioner. Jika dibutuhkan, anak Anda juga diminta untuk melakukan cek darah dan tes genetik.

Terapi

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe primer, terapi bicara dan bahasa terbukti efektif. Penelitian pada anak usia 2 tahun dengan gangguan bicara dan bahasa yang diterapi intensif, 75% anak perkembangan bicara dan bahasanya normal pada usia 3 tahun.

Terapi wicara
Salah satu contoh terapi bicara dan bahasa adalah terapi wicara. Pada saat terapi, anak akan berada di dalam satu ruangan berhadapan dengan terapisnya. Kegiatan saat terapi wicara mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Intervensi bahasa
    Terapis berinteraksi dengan anak melalui permainan dan mengobrol, menggunakan gambar, buku, mainan, dll. Terapis juga mencontohkan penggunaan kosakata dan susunan kalimat yang benar, dengan latihan berulang-ulang.
  • Artikulasi/produksi suara
    Terapis mencontohkan pengucapan huruf dan suku kata yang benar. Terapis memperlihatkan dan memperagakan gerakan mulut dan lidah saat mengucapkan huruf dan suku kata.
  • Oral-motor
    Terapis menggunakan beberapa latihan oral, misalnya facial massage (pijat wajah), latihan lidah, bibir dan rahang. Latihan tersebut untuk memperkuat otot-otot mulut.
Terapi wicara pada gangguan bicara dan bahasa

Terapi wicara

Terapi SI (sensory integration)
Ternyata sebagian anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya juga memiliki gangguan integrasi sensori. Sistem sensori yang terkoordinasi dengan baik dapat mengintegrasikan stimulasi dari berbagai sumber (vestibular/sistem keseimbangan, visual/penglihatan), propioseptif, auditori/pendengaran, dan taktil/sentuhan). Gangguan integrasi sensori muncul saat saraf-saraf sensori tidak berfungsi atau fungsinya tidak efektif, yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak. Pada saat terapi SI, anak akan diajak bermain dan melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengintegrasikan sistem sensorik dengan berbagai stimulasi.

Terapi SI pada Gangguan Bicara dan Bahasa

Terapi SI

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe sekunder, dokter akan melakukan terapi bicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi. Selain itu, terapi lain juga diperlukan sesuai penyebab dan kelainan penyertanya. Misalnya anak dengan cerebral palsy dan retardasi mental membutuhkan fisioterapi, anak dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar dan terapi AVT (auditory verbal therapy), dll.

Kesimpulan

Speech delay/terlambat bicara hanya merupakan tanda adanya gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, yang harus dicaritahu penyebabnya. Orang tua cenderung menunggu anak bisa bicara normal dengan sendirinya, namun dari semua jenis gangguan bicara dan bahasa, hanya 1 jenis yang dapat sembuh sendiri, sementara hampir semua gangguan bicara dan bahasa diakibatkan adanya gangguan/kerusakan otak. Terapi sebaiknya tidak ditunda dan dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta mencegah timbulnya masalah kognitif dan psikososial pada anak di kemudian hari.

Diana Andarini, dr.

12/22/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Childhood apraxia of speech. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/ChildhoodApraxia/
  4. Simon E. Fisher, Cecilia S.L. Lai, and Anthony P. Monaco. Deciphering the genetic basis of speech and language disorders. Annual Review of Neuroscience 2003; 26:57-80. DOI:10.1146/annurev.neuro.26.041002.131144. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12524432
  5. A Buschmann, B Jooss, A Rupp. Parent based language intervention for 2-year-old children with specific expressive language delay: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2009; 94:110-116. doi:10.1136/adc.2008.141572. Cited from http://adc.bmj.com/content/94/2/110.full
  6. Sensory integration therapies for children with developmental and behavioral disorders. Pediatrics 2012;129:1186-1189. DOI: 10.1542/peds.2012-0876. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/early/2012/05/23/peds.2012-0876.full.pdf
  7. Speech Language Therapy. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://kidshealth.org/parent/system/ill/speech_therapy.html#
  8. Hanifah Oswari, Rudianto Sofwan. 123 Penyakit dan Gangguan pada Anak. 2009 Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
  9. Gregory Hickok, John Houde, Feng Rong. Sensorimotor Integration in Speech Processing: Computational Basis and Neural Organization. Neuron 2011; 69(3):407-422. doi:10.1016/j.neuron.2011.01.019
  10. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Palsy: Hope Through Research. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.ninds.nih.gov/disorders/cerebral_palsy/detail_cerebral_palsy.htm
  11. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Dysarthria. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/
  12. CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  13. Heidi D. Nelson, Peggy Nygren, Miranda Walker, Rita Panoscha. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006; 117(2):298-319. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/117/2/e298.full
  14. Margaret J. Snowling, D.V.M. Bishop, Susan E. Stothard. Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2006; 47(8):759-765. DOI: 10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x. Cited from onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x/abstract
  15. Michael I. Shevell, Anneta Majnemer, Richard I. Webster. Outcomes at school age of preschool children with developmental language impairment. Pediatric Neurology 2005; 32(4):264-269.  doi:10.1016/j.pediatrneurol.2004.12.008

Perlindungan Anti Nyamuk yang Aman Untuk Si Kecil

 Siapa sih yang tidak kesal dengan nyamuk? Apalagi kalau menggigit si kecil. Sudah kulitnya menjadi bentol, gatal, lalu anak menjadi rewel. Belum lagi kalau (jangan sampai) sang nyamuk menebarkan penyakit ganas seperti malaria atau demam berdarah. Bisa-bisa anak yang jadi korban terkena penyakit dari gigitan nyamuk ini. Memang perlindungan anti nyamuk banyak yang beredar di pasaran. Mulai dari lotion, kelambu, sampai gelang atau perangkat elektronik. Tapi mana ya yang efektif dan aman bila dipakai bayi dan anak?

Cara Alami Anti Nyamuk

Orangtua mungkin khawatir dan enggan memberi paparan bahan kimia terlalu banyak pada anak. Sehingga, memang cukup bijak bila orangtua mencoba cara alami untuk menghindari gigitan nyamuk. Mulai dari memberi perlindungan khusus pada anak sampai memperhatikan kebersihan lingkungan agar bebas nyamuk. Cara alami perlindungan anti nyamuk yang aman untuk buah hati misalnya :1–4

  • Memakaikan anak baju dan celana yang panjang saat ia keluar rumah atau tidur
  • Tidak membawa anak ke ruang terbuka atau ke luar rumah saat malam hari. Pada malam hari biasanya nyamuk sedang aktif-aktifnya mencari mangsa.
  • Menggunakan kelambu saat tidur
  • Menggunakan jaring anti nyamuk di roda dorong atau tempat tidur bayi
  • Memasang filter anti nyamuk di jendela
  • Menutup jendela atau pintu di malam hari
Anti Nyamuk Bayi

Kelambu Anti Nyamuk Bayi

Selain itu, penting juga untuk menjaga lingkungan tempat tinggal agar nyamuk tidak betah bersarang, seperti :

  • Mengurangi tempat nyamuk bersarang dengan menguras penampungan air seperti bak mandi, penampung air lemari es, dsb
  • Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air
  • Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular
  • Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan
  • Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk
  • Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain

Cara-cara ini terutama dilakukan untuk perlindungan anti nyamuk pada bayi. Usaha ini juga biasanya cukup efektif bila di anak sedang berada di daerah yang tidak terlalu banyak nyamuk. Namun, bila cara ini kurang mempan, Anda mungkin perlu mempertimbangkan memberi perlindungan anti nyamuk yang lebih lanjut. Terlebih lagi bila sedang banyak kasus demam berdarah atau anak Anda sedang berada di daerah rawan malaria. Berikut ini kami akan mengulas satu per satu perlindungan anti nyamuk lanjutan yang aman dan efektif maupun yang tidak.

Lotion Anti Nyamuk

Saat ini banyak sekali lotion anti nyamuk yang dijual di pasaran. Bahan aktif pada lotion anti nyamuk di pasaran biasanya mengandung DEET, Picaridin, atau minyak dari tanaman (seperti citronella, cedar, eucalyptus dan kacang kedelai). Namun, tidak semua lotion anti nyamuk bisa digunakan pada anak. Kalaupun boleh digunakan, orangtua perlu tahu cara menggunakan yang benar agar aman digunakan.2,4,5

DEET (N,N-diethyl-3-methylbenzamide)

DEET merupakan komponen yang mungkin diketahui paling efektif melawan gigitan serangga termasuk nyamuk. DEET telah digunakan selama hampir 70 tahun dan sudah dijadikan standar produksi lotion anti nyamuk. DEET terdapat dalam berbagai produk dengan konsentrasi antara kurang dari 10% sampai 75%. Sebenarnya DEET yang lebih dari 30% tidak lebih efektif dari yang konsentrasinya lebih besar. Hanya saja semakin tinggi konsentrasinya, semakin lama perlindungannya terhadap nyamuk. Produk yang mengandung DEET <10% melindungi pemakai hanya dalam 2 jam. Sedangkan DEET 24% bisa melindungi anak sekitar 5 jam. Waktu perlindungan lotion ini lebih singkat bila penggunanya berenang, mandi, terkena hujan, berenang atau mengelap badan.4

DEET sudah diteliti aman digunakan anak usia 2 bulan atau lebih. Tetapi, DEET tidak boleh digunakan pada bayi kurang dari 2 bulan. The American Academy of Pediatrics memberi rekomendasi bahwa lotion lotion nyamuk untuk anak tidak boleh mengandung DEET >30% dan tidak boleh digunakan untuk bayi kurang dari 2 bulan. Hal ini disebabkan DEET bisa menimbulkan efek samping berupa dermatitis, reaksi alergi dan gangguan saraf meskipun jarang. 2,6Jadi, orangtua mesti mulai rajin membaca kemasan obat nyamuk yang dijual di pasaran ya..

Picaridin dan minyak dari tanaman lain

Tahun 2005, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan lotion nyamuk alternatif yang setara dengan DEET yaitu picaridin, obat oles nyamuk dari minyak eukaliptus lemon, atau 2% minyak kacang kedelai. Obat nyamuk ini memiliki waktu perlindungan yang setara dengan 10% DEET. 2

Picaridin ialah zat aktif yang berasal dari tanaman dan cukup efektif melawan nyamuk serta serangga lainnya. Zat ini tersedia dalam kadar 7,15 dan 20%. Keunggulannya Picaridin relatif lebih aman dari DEET, tidak mengiritasi kulit, tidak berbau dan tidak lengket. Meskipun begitu, belum ada penelitian jangka panjang tentang keamanannya pada anak. Sehingga orangtua hanya boleh memakaikan Picaridin pada anak di atas 2 tahun.2,4,7

Tanaman eukaliptus lemon telah banyak digunakan di Cina sebagai anti nyamuk. Zat aktif pada tanaman ini telah diakui efektif memberantas nyamuk oleh EPA (Environmental Protection Agency). Di pasaran, anti nyamuk ini tersedia dalam kadar 10-60%. Tanaman ini sebenarnya relatif aman meskipun ada laporan dapat mengiritasi kulit. Sebab itu anti nyamuk ini tidak boleh dioleskan dekat mata, wajah dan telapak tangan anak. Tanaman ini belum dites pada anak <3 tahun. Sehingga, anak dibawah 3 tahun tidak disarankan menggunakan anti nyamuk ini.4,5,7

Cara Menggunakan Lotion Anti Nyamuk Pada Anak

Setelah memilih lotion nyamuk yang cocok dan aman untuk si kecil, sekarang giliran kita belajar mengoleskan lotion yang aman pada anak. Berikut cara menggunakan lotion anti nyamuk pada anak yang aman :

  • Baca label serta ikuti petunjuk pemakaian dan kolom perhatian
  • Pastikan yang mengoles obat nyamuk adalah orang tua atau pengasuh. Sebaiknya jangan biarkan anak mengoles sendiri
  • Hanya oles lotion anti nyamuk di daerah yang tidak tertutup pakaian secara tipis. Mengoles tebal-tebal tidak akan menambah perlindungan dari lotion
  • Lotion boleh dioleskan tipis-tipis di wajah anak tapi hindari mengoles di sekitar mata, mulut
  • Hindari mengoles di kulit yang teriritasi, luka, terkena eksim atau telapak tangan anak. Selalu cuci tangan anak dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa-sisa lotion di tangan. Tujuannya agar lotion tidak terkena mata saat ia mengucek atau megusap wajah.
  • Bila menggunakan obat nyamuk spray, jangan menyemprot langsung pada wajah anak. Spray dulu pada tangan anda baru menyapukan ke kulit anak.
  • Jangan gunakan DEET yang dicampur sunblock sebab DEET bisa menurunkan efektifitas sunblock. Selain itu, penggunaan sunblock yang berulang bisa jadi menambah paparan DEET yang tidak perlu
  • Tidak perlu mengoleskan lotion anti nyamuk sering-sering
  • Bila perlindungan nyamuk sudah tidak diperlukan, selalu cuci kulit anak dengan sabun dan air.2,4,6

Permethrin Semprot

Permethrin merupakan zat sintetik yang menyebabkan kerusakan saraf pada serangga tetapi tidak pada manusia. Permethrin cukup efektif sebagai anti serangga termasuk nyamuk, lalat dan tungau merah (chigger). Cara kerjanya ialah dengan menyemprotkan pada baju, alat kemah atau sleeping bag tetapi tidak boleh disemprot langsung pada kulit. Setelah dispray pada kain, Permethrin harus ditunggu sekitar 30-45 detik sampai kering baru bisa digunakan anak. Satu kali semprot Permethrin bisa awet efeknya sampai dua minggu bahkan beberapa kali cuci. 2,4,6

Kelambu Berinsetksidia

Ayah ibu yang tinggal di daerah rawan malaria mungkin sudah tidak asing lagi dengan kelambu berinsekstisida. Biasanya pemerintah daerah membagikan kelambu ini secara gratis di Puskesmas. Seperti namanya, kelambu ini mengandung insektisida yang dapat mengurangi gigitan nyamuk, mematikan kepinding, kecoa dan serangga pengganggu lain yang kontak dengan kelambu. Di Afrika, kelambu ini dapat mengurangi angka kesakitan malaria 50% juga menurunkan kematian balita sampai 20%. Kelambu ini aman digunakan pada bayi, anak dan ibu hamil. Namun, memang perlu perawatan khusus agar kelambu tetap efektif. 8–10

Obat Nyamuk Semprot dan Bakar

Obat nyamuk semprot dan bakar, baik yang dinyalakan dengan api maupun listrik, sebaiknya tidak digunakan sebagai anti nyamuk bayi dan anak. Hal ini disebabkan polutan yang dihasilkan dari obat spray atau obat nyamuk bakar dapat menimbulkan penyakit akut maupun kronis pada anak. Sebagai contoh, asap atau spray anti nyamuk dapat mencetuskan asma, reaksi alergi, menimbulkan iritasi saluran nafas dan mata serta menimbulkan gangguan pernafasan di kemudian hari.

Perlindungan Anti Nyamuk yang Kurang Efektif

Di pasaran, banyak sekali produk yang mengklaim efektif memberantas nyamuk. Nyatanya, penelitian membuktikan produk-produk ini kurang efektif. Jadi, orangtua tidak perlu repot-repot keluar uang untuk membelinya. Produk tersebut diantaranya :

  • Minyak oles dari tanaman dari sandalwood dan geranium
  • Bawang putih, belerang mineral, tanaman cruciferous seperti brokoli, kubis, lobak, kembang kol yang dimakan
  • Suplemen vitamin
  • Anti nyamuk elektronik yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi. Dari 10 penelitian menyimpulkan bahwa alat ini tidak efektif dalam memberantas nyamuk sedikitpun.
  • Gelang anti nyamuk2,4

Kesimpulan

Perlindungan anti nyamuk yang paling aman terutama ialah cara manual tanpa lotion anti nyamuk kimia atau herbal. Namun, bila perlindungan alami kurang membuahkan hasil, orangtua bisa pertimbangkan pakai perlindungan anti nyamuk lanjutan. Perlu diingat bahwa lotion anti nyamuk apapun tidak boleh diberikan pada anak di bawah 2 bulan. Pilihan yang aman digunakan untuk anak di atas 2 bulan ialah DEET <30% dan Picaridin. Tanaman eukaliptus lemon boleh dipakai untuk anak di atas 3 tahun. Permethrin semprot juga efektif dan cukup aman digunakan pada anak asal tidak dikenakan langsung pada kulit. Kelambu berinsektisida pada daerah rawan malaria aman digunakan pada bayi, anak dan ibu hamil. Sedangkan metode lain seperti gelang anti nyamuk, anti nyamuk elektronik, bawang putih, minyak herbal lain terbukti tidak efektif dalam memberantas nyamuk.

Agustina Kadaristiana, dr.

Artikel ini telah direview oleh Hanifah Widiastuti, PhD

2015-12-16

Referensi

  1. DEMAM BERDARAH BIASANYA MULAI MENINGKAT DI JANUARI. Kemenkes [Internet]. 2015 Jan 8; Available from: http://www.depkes.go.id/article/print/15011700003/demam-berdarah-biasanya-mulai-meningkat-di-januari.html
  2. Choosing an Insect Repellent for Your Child [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Dec 16]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-play/Pages/Insect-Repellents.aspx
  3. Prevent Mosquito Bites. CDC [Internet]. Available from: http://www.cdc.gov/features/stopmosquitoes/
  4. Nancy L Breisch, PhD. Prevention of arthropod and insect bites: Repellents and other measures. Uptodate. 2015 Aug 3;
  5. Research C for DE and. Emergency Preparedness – Insect Repellent Use and Safety in Children [Internet]. [cited 2015 Dec 16]. Available from: http://www.fda.gov/Drugs/EmergencyPreparedness/ucm085277.htm
  6. Roger S. Nasci, Robert A. Wirtz, William G. Brogdon. Protection against Mosquitoes, Ticks, & Other Arthropods. CDC [Internet]. Available from: http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2016/the-pre-travel-consultation/protection-against-mosquitoes-ticks-other-arthropods
  7. 2015 the BMABL updated: F. Test your health IQ: Which bug repellents are safe for your child? [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Dec 16]. Available from: http://www.babycenter.com/0_test-your-health-iq-which-bug-repellents-are-safe-for-your-c_1242548.bc
  8. Nicholas Weinberg, Michelle S. Weinberg, Susan A. Maloney. Traveling Safely with Infants & Children. CDC [Internet]. Available from: http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2016/international-travel-with-infants-children/traveling-safely-with-infants-children
  9. Prevention C-C for DC and. CDC – Malaria – Malaria Worldwide – How Can Malaria Cases and Deaths Be Reduced? – Insecticide-Treated Bed Nets [Internet]. [cited 2015 Dec 16]. Available from: http://www.cdc.gov/malaria/malaria_worldwide/reduction/itn.html
  10. dr. Rita Kusriastuti, MSc. Pedoman Penggunaan Kelambu Berinsektisida Menuju Eliminasi Malaria. Kementeri Kesehat RI TAHUN 2011 [Internet]. 2011; Available from: dr. Rita Kusriastuti, MSc
  11. Balan, Saroja Dr. Are mosquito coils or plug-in repellents safe to use for my baby?. BabyCenter http://www.babycenter.in/x1050386/are-mosquito-coils-or-plug-in-repellents-safe-to-use-for-my-baby#ixzz3uukePFFE
  12. Liu W, Zhang J, Hashim JH, Jalaludin J, Hashim Z, Goldstein BD. Mosquito coil emissions and health implications. Environ Health Perspect. 2003 Sep;111(12):1454–60.

Liburan

Liburan Sehat Bersama Anak

Tak jarang ada ibu yang merasa bahwa bepergian bersama balita itu sungguh merepotkan. Pergi ke supermarket untuk belanja mingguan saja membutuhkan perencanaan cermat dan jitu, apalagi bepergian ke tempat yang lebih jauh. Tapi percaya deh, sebenarnya liburan tidak serepot itu!

Persiapan sebelum liburan

Pertama-tama sebelum mengajak buah hati kita liburan lihat dulu kesehatan anak. Seberapa sering balita Anda harus dibawa ke dokter? Apakah si kecil sering sakit atau kelihatan lemas lesu? Apakah dia punya alergi terhadap bahan tertentu? Atau dia anak yang lincah dan sehat? Sebagai catatan, anak dengan daya tahan tubuh rendah bukan berarti tidak bisa diajak jalan-jalan. Anda hanya perlu lebih berhati-hati. Sebaiknya sebelum mengajak ia liburan, konsultasilah terlebih dahulu dengan dokter.

Setelah itu, cari informasi tentang daerah tempat Anda berlibur. Bukan hanya info kuliner, wisata atau hotel, tetapi juga cuaca, perbedaan waktu, sampai resiko penyakit yang sering menjadi masalah di daerah tersebut. Sebab, ada beberapa tempat yang sebaiknya Anda dan buah hati perlu divaksinasi sebelum mengunjungi daerah tersebut. Sebagai contoh vaksin meningitis bila Anda mengunjungi Saudi Arabia, vaksin Influenza, vaksin Japanese Encephalitis bila mengunjungi Jepang,  dsb. Informasi vaksin yang dibutuhkan saat Anda dan buah hati akan ke luar negeri bisa dilihat di situs CDC. Jangan lupa lengkapi imunisasi Anak sesuai jadwalnya. Tanyakan pada dokter untuk pilihan vaksinasi terbaik bagi situasi dan kondisi yang akan dihadapi anak Anda.

Selain itu, Anda sebaiknya menghindari mengajak balita ke daerah yang rawan malaria. Hal ini disebabkan balita Anda lebih mudah mengidap malaria berat daripada orang dewasa karena kekebalan tubuhnya yang masih rentan. Bila memang Anda sekeluarga perlu pergi ke tempat rawan malaria, konsultasikan ke dokter mengenai perlu tidaknya obat pencegahan malaria.

Ke Dokter vs Tidak ke Dokter

Meskipun banyak buku panduan menyarankan orangtua membawa balitanya ke dokter sebelum bepergian jauh, rupanya kebanyakan orang tua merasa hal itu tidak perlu. Para orangtua yang tidak membawa balitanya ke dokter punya alasan bahwa anaknya relatif sehat, bisa menghemat biaya dokter, dan obat-obatan generik untuk sakit ringan dijual di pasaran. Sedangkan mereka yang pergi ke dokter sebelum liburan punya alasan:

  • Anak sudah cocok dengan obat-obatan dari dokter langganan
  • Belum tentu reaksi yang diberikan sama dengan obat dari dokter lain atau obat yang dijual bebas
  • Belum tentu ada dokter anak yang cocok di tempat tujuan, sekiranya anak jatuh sakit disana
  • Mungkin ada hambatan Bahasa atau budaya di tempat tujuan yang bisa mempersulit kita menjelaskan sakit yang diderita si kecil
  • Dokter bisa menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam perjalanan.

Apapun pilihan Anda (ke dokter atau tidak) , pastikan Anda mempersiapkan obat-obatan pertolongan pertama untuk anak dalam perjalanan. Misalnya :

  1. Obat-obatan khusus yang diresepkan dokter (misalnya obat asthma, alergi, dsb)
  2. Obat demam, nyeri atau radang seperti paracetamol atau ibuprofen
  3. Oralit bila anak mencret
  4. Lotion kalamin untuk mengurangi gatal
  5. Hidrokortison krim 1% untuk iritasi kulit ringan, seperti gatal yang disebabkan oleh gigitan serangga
  6. Obat alergi, seperti antihistamin dan obat yang diresepkan dokter bila anak Anda mempunyai alergi berat (seperti Epinefrin suntik/EpiPen®)
Travel Kit Liburan

Travel Kit Liburan

Selain itu, Anda sebaiknya juga membawa :

  1. Thermometer
  2. Plester, antiseptic pembersih luka
  3. Cairan pencuci tangan (hand sanitizer)
  4. Lotion pelindung sinar matahari
  5. Minyak hangat, seperti minyak telon atau minyak kayu putih. Hati-hati bila memberikan pada bayi. Jangan beri di daerah wajah.
  6. Obat nyamuk lotion, terutama bila Anda hendak pergi ke daerah rawan demam berdarah dengue atau malaria. Menurut The American Academy of Pediatrics, lotion nyamuk untuk anak yang digunakan ialah yang mengandung DEET dalam dosis kecil (<30%). Namun, lotion ini tidak boleh digunakan anak di bawah 2 tahun. Sebaiknya tanyakan pada dokter/farmasi untuk informasi selengkapnya.

Pastikan perlengkapan ’emergensi’ ini diletakkan dalam tas jinjing yang bisa dengan mudah dan cepat dijangkau bila diperlukan sewaktu-waktu. Jangan masukkan ke dalam koper atau bagasi karena perlengkapan ini akan sulit diakses. Saat berkendaraan menggunakan pesawat atau mobil, tetap perhatikan kaidah keamanan membawa anak berkendaraan.

Saat Liburan

Ayah bunda tetap menjaga kesehatan yah meskipun sedang liburan. Ajarkan juga Anak untuk berperilaku hidup sehat dimanapun ia berada. Ingatkan ia untuk cuci tangan sebelum makan atau sesudah buang air. Bila sedang jauh dari tempat air mengalir, hendaknya ajarkan anak untuk cuci tangan menggunakan hand sanitizer berbahan alkohol.

Saat makan, hendaklah memilih tempat jajan yang bersih. Makan makanan yang dimasak sempurna juga masih panas dan cuci buah-buahan dan sayur dalam air yang bersih. Selain itu, pastikan ayah ibu memperhatikan kebersihan air. Minumlah dari air kemasan yang di segel sempurna atau air yang telah dimasak/disterilkan. Air minum yang kurang bersih dapat menjadi sarang kuman penyebab diare. Terlebih lagi bila buah hati Anda meminum susu botol dengan air atau dot yang kurang bersih. Bila Anda membawa bayi, tetap susui ia seperti biasa.

Jika Anda membawa buah hati ke pantai, kolam renang atau apapun jenis wisata air, perhatikan petunjuk keselamatan bermain air bersama anak.

Bila Anak sakit

Imunisasi sudah, obat-obatan juga sudah dibawa. Tapi kenapa balita tetap sakit ya? Memang meskipun orangtua sudah persiapkan kesehatan anak dengan baik, bukan berarti semua aman. Umumnya karena excited berada di tempat baru, anak menjadi super lincah hingga kelelahan. Selain itu, pola aktivitas dan makanan yang berubah di tempat liburan membuat anak mudah jatuh sakit. Biasanya penyakit yang melanda si kecil bukanlah penyakit berat, misalnya pilek, batuk, atau sakit perut. Tapi namanya juga sakit, tentu anak akan tetap merasa sangat terganggu.

Berikut penyakit ringan yang mungkin diderita anak saat berlibur:
Batuk Pilek
Penyebab : cuaca buruk, terpapar angin kencang, berada di keramaian sehingga tertular yang sudah sakit, kurang menjaga kebersihan
Penanganan : makanan dan minuman hangat, istirahat, minyak hangat pada badan atau kaki (hati-hati pemberian pada anak kurang dari 2 tahun. Hindari memberikan di sekitar wajah atau leher).

Sakit perut (diare, sembelit, maag)
Penyebab : salah makan, kurang menjaga kebersihan, kurang minum, terlambat makan
Penanganan : makanan lembut dan hangat, istirahat, minyak hangat pada perut, oralit, ke dokter bila terus muntah atau mencret.

Kelelahan dan sakit kepala
Penyebab : terlalu banyak main, terpapar angin kencang, cuaca buruk
Penanganan : istirahat, minyak hangat, pijat lembut, pertimbangkan beri obat anti nyeri bila sakit belum reda.

Luka lecet
Penyebab : jatuh saat bermain
Penanganan : bersihkan luka lalu obati dengan antiseptic seperti betadine atau povidon iodine.

Mual dalam perjalanan

Tips mengurangi mual dalam perjalanan:

  • Mintalah anak untuk tidak terlalu banyak bergerak. Pergerakannya yang tidak sinkron dengan gerakan kendaraan bisa membuatnya mual.
  • Mintalah anak untuk tidak membaca, menonton TV/DVD bila perangkat ini tersedia di kendaraan, karena upaya terus-menerus memfokuskan mata pada titik yang dekat sementara kendaraan bergerak membuat kita pusing dan mual.
  • Beberapa jenis makanan dapat mengurangi mual karena mabuk perjalanan, antara lain biskuit tawar, serealia kering, dan permen jahe
  • Selalu sediakan minyak telon atau minyak kayu putih. Aroma segarnya bisa mengurangi mual
  • Pijatlah anak dengan lembut
  • Mintalah anak untuk mencoba tidur agar mualnya berkurang.
  • Pertimbangkan memberi obat anti atas anjuran dokter bila hal-hal di atas tidak mengurangi rasa mual.

Bagaimana? Apa Anda masih ragu untuk membawa anak liburan? Semoga tips ini bermanfaat ya ayah bunda

Cilegon, 1 Oktober 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi:

1. Widjayanto, Donna. 2011. Travelling with Tots. Gramedia Pustaka. Jakarta
2. LLC. 2011. Survival Guide for Travelling with Children. www.travel-tot.com
3. Enid Zwerts, et al. 2010. How children view their travel behavior: a case study from Flanders (Belgium). Elsevier Journal
4. Government of Canada. 2015. Travel health kit. http://travel.gc.ca/travelling/health-safety/kit
5. Government of Canada. Tips for healthy travel with children. 2015. http://travel.gc.ca/travelling/health-safety/children
6.American Academy of Pediatrics. 2012. Choosing an Insect Repellent for Your Child. https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-play/Pages/Insect-Repellents.aspx
7. Baby center. 2014. Travel first-aid checklist. http://www.babycentre.co.uk/a6996/travel-first-aid-checklist

Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan Bahasa Anak dan Tanda Waspadanya

Masa balita merupakan masa krusial perkembangan bahasa anak. Dua tahun pertama kehidupan anak atau yang disebut sebagai periode emas (golden period) merupakan saat otak anak berkembang dengan sangat pesat. Saat anak memasuki usia dua sampai lima tahun, perkembangan bahasa anak juga masih berada di puncak-puncaknya.

Bahasa dan bicara ialah dua hal yang amat terkait. Bahasa dapat diungkapkan secara verbal (bicara), melalui gerakan, atau tulisan. Bicara membutuhkan koordinasi yang baik antara otot lidah, bibir, rahang dan pita suara untuk menghasilkan suara.

Bagaimana otak anak memproses bahasa dan bicara?

Kemampuan bahasa anak dibagi menjadi kemampuan bahasa ekspresif (bicara) dan reseptif (pemahaman). Area di otak yang bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa bernama Broca dan Wernicke. Area Broca penting untuk kemampuan bicara. Area Broca terletak di otak depan sebelah kiri, berkaitan dengan area motorik yang mengontrol otot-otot untuk bicara. Sedangkan area Wernicke penting untuk kemampuan memahami bahasa lisan dan tulisan. Area Wernicke terletak di otak sebelah kiri dekat dengan telinga.

tumblr_inline_n22p0tHu2a1ruyaki

Saat anak membaca tulisan atau mendengar orang berbicara, informasi tersebut akan sampai ke area Wernicke. Setelah itu, informasi akan diproses di area otak yang lain dan diteruskan ke area Broca. Pada area Borca, informasi diubah menjadi pola suara (sound pattern). Pola suara ini diteruskan ke area motorik di otak untuk mengaktifkan otot-otot wajah dan lidah. Dari sinilah anak dapat menghasilkan kata-kata untuk diucapkan.

Bagaimana perkembangan bahasa anak yang normal?

Perkembangan bahasa anak bisa jadi berbeda antara satu anak dengan yang lain. Namun, pada umumnya perkembangan bahasa anak mengikuti kaidah seperti ini:

Usia 3 bulan

  • Bereaksi terhadap suara keras
  • Tersenyum saat diajak berbicara
  • Menjadi tenang saat menangis dengan mendengar suara orang tuanya (bayi mampu mengenali suara orang tuanya)
  • Tersenyum saat melihat orang tuanya
  • Menangis dengan cara yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda
  • Cooing (mengoceh dengan mengeluarkan suara seperti “aaah” atau “uuuh”)
Perkembangan bahasa anak : Cooing

Perkembangan bahasa anak : Cooing

Usia 4-6 bulan

  • Mengikuti suara dengan pandangan matanya
  • Memperhatikan mainan yang berbunyi
  • Bereaksi terhadap perubahan nada suara orang tuanya saat berbicara
  • Babbling (mengucapkan kata kombinasi antara vokal dan konsonan secara berulang-ulang seberti ba-ba-ba, ma-ma-ma, pa-pa-pa)
  • Tertawa
  • Mulai mengeluarkan bunyi p, b, m
Perkembangan bahasa anak : Babbling

Babbling

Usia 7 bulan – 1 tahun

  • Senang main cilukba
  • Menengok dan melihat ke arah sumber suara
  • Mendengarkan saat diajak bicara
  • Mengerti kata-kata yang umum seperti gelas, sepatu, jus
  • Mampu mengikuti perintah sederhana (misal “kesini”)
  • Berkomunikasi dengan gerakan (gesture) seperti melambaikan tangan atau menunjuk
  • Meniru kata-kata yang terdiri dari 2-3 suku kata
  • Bisa mengucapkan satu atau dua kata yang bermakna saat usia 1 tahun (misal “mama”, “papa”)

Usia 1-2 tahun

  • Mengetahui beberapa anggota tubuh dan dapat menunjuk bagian tersebut dengan benar
  • Mengikuti perintah sederhana (“ambil bola”) dan mengerti pertanyaan sederhana (“dimana sepatumu?”)
  • Senang dengan cerita, lagu dan irama sederhana
  • Dapat menunjuk gambar di dalam buku dengan benar
  • Dapat membentuk kalimat sederhana (terdiri dari 2 kata, misal “mau makan”)
    Pada usia 18 bulan perbendaharaan kata anak yang bermakna : 10-15 atau lebih

Usia 2-3 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 2 sampai 3 kata
  • Mampu mengucapkan k, g, f, t, d dan n dengan jelas
  • Tidak ada lagi echolalia maupun jargon. (Echolalia maksudnya anak dapat mengulang ucapan sama persis namun tidak mengerti artinya. Sedangkan jargon ialah membuat istilah sendiri yang hanya ia mengerti)
  • Mengetahui umur dan jenis kelamin
  • Menghitung 3 objek dengan benar
  • 75-90% ucapannya dimengerti oleh orang lain selain orang tua dan keluarganya
  • Pada usia 2 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 50-100 atau lebih

Usia 3-4 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 3 sampai 6 kata
  • Mampu menjawab pertanyaan “Siapa?” “Apa?” “Di mana?” “Mengapa?”
  • Bercerita tentang kegiatannya selama di daycare, sekolah atau rumah temannya
  • Dapat berbicara dengan mudah tanpa harus mengulang suku kata atau kata
  • 90-100% ucapannya dimengerti oleh orang lain selain orang tua dan keluarganya
  • Pada usia 3 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 400 atau lebih

Usia 4-5 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 6-8 kata
  • Bercerita tentang satu topik pada satu waktu sampai topik tsb selesai
  • Memperhatikan cerita pendek, kemudian mampu menjawab pertanyaan sederhana mengenai cerita tsb
  • Mampu mengucapkan hampir semua huruf dengan jelas (kecuali l, s, r, v, z, ch, ch, th)
  • Menghitung 10 objek dengan benar
  • Dapat menyebutkan 4 warna
  • Menggunakan susunan kalimat seperti orang dewasa (adult grammar)
  • Pada usia 5 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 2000 atau lebih

Kapan saya harus khawatir mengenai perkembangan bahasa anak saya?

Tahapan perkembangan bahasa anak yang telah dijabarkan adalah acuan umum dan setiap anak bisa berbeda. Namun, Anda perlu waspada jika anak Anda mengalami salah satu kondisi di bawah ini:

Usia 1 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak babbling, tidak berusaha berkomunikasi dengan menunjuk atau gerakan lain.

Usia 1 tahun 3 bulan (15 bulan)

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak dapat mengucapkan minimal 3 kata yang bermakna.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat menunjuk atau melihat ke 5-10 objek yang disebutkan oleh orang tua.

Usia 1,5 tahun (18 bulan)

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak mengucapkan “mama”, “papa” atau nama lain.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat mengikuti perintah sederhana (misal “kesini”).

Usia 2 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak menggunakan minimal 25 kata yang bermakna.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar saat disebutkan.

Usia 2,5 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak dapat membentuk 2 kata menjadi kalimat sederhana.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat merespon pertanyaan dengan mengangguk/menggeleng atau secara verbal.

Usia 3 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak menggunakan minimal 200 kata, menjawab pertanyaan dengan echolalia, tidak meminta sesuatu secara verbal (tidak menyebutkan nama objek).
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak mengerti kata kerja, tidak dapat mengikuti perintah 2 langkah.

Pada usia berapa pun anak menunjukkan kemunduran atau kehilangan kemampuan bicara dan bahasa, padahal sebelumnya sudah sesuai tahapan perkembangannya.

Jika terdapat salah satu dari kondisi ini, sebaiknya segera bawa anak Anda ke klinik tumbuh kembang untuk diperiksa. Di klinik tumbuh kembang, anak Anda akan diperiksa oleh tim yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter spesialis rehabilitasi medik dan psikolog.

Diana Andarini, dr. 

12/06/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. Jeffrey R. Binder, Julie A. Frost, Thomas A. Hammeke. Human Brain Language Areas Identified by Functional Magnetic Resonance Imaging. Journal of Neuroscience, 1 January 1997, 17(1): 353-362. Cited from http://www.jneurosci.org/content/17/1/353.full
  4. Sherwood L. Human physiology from cells to systems. Chapter 5 page 146-52. 2004. Thomson Learning, Inc, USA.
  5. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. Editor edisi bahasa indonesia A. Samik Wahab. Ilmu kesehatan anak Nelson vol.1. Bab 10 halaman 55-64. 1999. Penerbit buku kedokteran EGC, Indonesia.
  6. NIDCD. Speech and Language Developmental Milestones. September 2010. Cited from http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/pages/speechandlanguage.aspx
  7. Perkembangan Bahasa Bayi | Jalur Ilmu [Internet]. [cited 2015 Dec 6]. Available from: http://jalurilmu.blogspot.sg/2011/11/perkembangan-bahasa-bayi.html

Probiotik untuk Bayi?

Saya menjadi semakin percaya terhadap pemberian probiotik pada anak. Bukan karena apa-apa dan juga bukan karena saya mendukung pihak tertentu. Probiotik, pada dasarnya adalah bakteri “baik” hidup yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan (biasanya Lactobacillus Acidophilus di Amerika Serikat). Saat ini probiotik semakin banyak tersedia dan semakin sering direkomendasikan oleh para dokter.

Peran Probiotik Untuk Bayi

Peran mikroba di dalam kesehatan kita adalah topik yang seru. Probiotik diduga dapat meningkatkan kesehatan usus dengan cara mengembalikan atau meningkatkan jumlah bakteri baik sementara secara bersamaan dia juga menurunkan populasi bakteri yang berbahaya.

Bakteri di dalam usus merupakan bagian normal dari kesehatan saluran pencernaan, tetapi jumlah populasi bakteri dalam usus kita dapat berubah karena penyakit, penggunaan antibiotik, makanan yang dimakan/ dimodifikasi, ataupun perubahan-perubahan lain dalam hidup kita. Apa yang kita makan dan kemana kita pergi untuk minum air, mengubah apa yang hidup di usus kita. Penelitian juga menemukan dimana bakteri yang hidup bersama di tubuh kita dapat mempengaruhi penyakit-penyakit lain di luar usus seperti eksema, alergi, dan/atau asma.

Probiotik

Probiotik sebagai Bakteri ‘Baik’

Pada anak-anak, suplemen probiotik dapat mendukung penyembuhan dari diare akut dengan cara menurunkan jumlah episode diare dan lamanya waktu diare. Probiotik juga dapat mencegah munculnya diare pada anak-anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik. Kenyataannya adalah banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi populasi bakteri dalam tubuh kita. Hal ini dimulai sejak seseorang lahir. Kita mengetahui contoh pada bayi-bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar memiliki populasi bakteri yang berbeda pada tinja mereka ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara normal, dalam waktu seminggu setelah dilahirkan. Jadi sejak dari awal, pilihan-pilihan yang kita buat (atau yang orang tua kita buat) dapat mengubah lingkungan di dalam tubuh kita. Hal ini pada akhirnya dapat mengubah kesehatan kita. Sejumlah dokter mempelajari efek probiotik pada bayi kolik…

Probiotik sering ditemukan secara alami pada makanan (yogurt dengan kultur aktif) sementara beberapa yogurt dan makanan yang diperdagangkan (termasuk susu formula bayi) memiliki kultur probiotik tambahan (fortified by additional cultures). Anda juga dapat membeli kapsul Lactobacillus (atau probiotik lain) di toko obat dan makanan sehat. Seberapa aktif, dan seberapa banyak probiotik yang tersisa di dalam produk-produk ini? Ini masih menjadi perdebatan.

Di Amerika Serikat, suplemen probiotik (dan makanan yang difortifikasi dengan kultur) tidak diregulasi oleh FDA. Tidak diketahui berapa banyak bakteri yang ada di dalam sebuah kapsul probiotik dan mungkin juga ada perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya dari hari ke hari. Dan jika kultur probiotik mati, mereka hanya sedikit berpengaruh untuk mendorong perubahan di dalam tubuh. Sebagai konsumen, adalah mustahil untuk mengetahui apakah suplemen tersebut masih hidup.

Seperti yang telah dikatakan, walaupun pilihan probiotik di Amerika Serikat terbatas, literatur dan penelitian tentang mengubah bakteri pada seorang anak untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka merupakan hal yang sangat menarik dan menjanjikan. Selain Lactobacillus, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat mengenai probiotik. Tapi, kami belajar sangat banyak dari rekan kami di Eropa. Risiko pemberian suplemen bakteri baik ini terbukti sangat rendah pada anak-anak dengan sistem imun yang sehat. Namun seperti hal lainnya dalam ilmu kesehatan anak, secara teoritis, selalu ada resiko ketika kita mencoba untuk mengintervensi hasil penelitian ini.

Sebuah penelitian Italia pada jurnal Pediatrics menguji keuntungan probiotik untuk bayi yang rewel atau kolik. Para peneliti menemukan hasil positif pada bayi-bayi ASI yang menerima dosis harian Lactobacillus reuteri. Di Eropa, probiotik diregulasi dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan di Amerika Serikat (dan juga Indonesia). Jadi, terdapat kemungkinan data/ penelitian ini tidak dapat diaplikasikan kepada bayi-bayi kita karena kita tidak memiliki akses kepada suplemen yang sama. Tapi bacalah apa yang mereka temukan.

Pada penelitian tersebut:

  • Kolik ditetapkan menggunakan aturan 3 (rule of 3’s). Bayi kolik didefinisikan dengan usia dibawah 3 bulan yang menangis lebih dari 3 jam sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama paling sedikit 3 minggu.
  • Sekitar 50 bayi kolik yang ASI eksklusif dikelompokkan secara acak ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok bayi diberi suplemen plasebo/inert tanpa probiotik, sementara kelompok yang lain mendapatkan Lactobacillus setiap hari. Para orang tua dan peneliti tidak mengetahui bayi mana yang mendapatkan bakteri (penelitian double blind).
  • Diantara bayi kolik yang menerima probiotik, terdapat pengurangan yang bermakna terhadap lamanya waktu menangis harian pada akhir penelitian (21 hari) dibandingkan dengan kelompok plasebo.
  • Tangisan semakin membaik pada akhir penelitian di kedua kelompok, seperti yang diharapkan dengan kolik.
  • Peneliti juga menganalisa tinja dari kedua kelompok bayi dan menemukan populasi bakteri yang berbeda antara kelompok bayi. Mereka yang diberi probiotik memiliki jauh lebih banyak Lactobacillus di tinja mereka.
  • Para peneliti berteori bahwa perubahan lingkungan usus (bakteri, amonia) mungkin telah mengubah pengalaman sensorik pada bayi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perilaku menangis mereka.

Sulit membuktikan bahwa bakteri yang diberikan kepada bayi-bayi inilah yang bertanggung jawab langsung terhadap perbaikan tangisan tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok benar-benar terlihat. Dan walaupun terasa “aneh” bagi orang tua untuk memberi makan anak mereka dengan bakteri, setelah kami mendiskusikan keuntungannya, banyak orang tua yang memilih memberikan suplemen Lactobacillus kepada anak-anak mereka karena biayanya yang rendah dan mudah diberikan (dapat ditaburkan pada apa saja).

Jika bayi anda sering menangis dan anda mulai khawatir akan kolik, anda bisa berdiskusi dengan dokter anak anda untuk memulai pemberian suplemen Lactobacillus. Dengan risiko yang rendah, pemberian probiotik akan meredakan tangisan anak anda dan itu hal yang bagus bagi semua orang. Intinya adalah saya tidak berpikir probiotik akan berbahaya bagi bayi yang rewel, dan ini adalah penelitian baru yang mengindikasikan hal tersebut dapat benar-benar membantu.
Kalau begitu, berilah sesendok bakteri untuk bayi Anda!

DoctorMums Headshot

Written by Dr. Wendy Sue Swanson, pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and author of the Seattle Mama Doc Blog & Mama Doc Medicine. Learn more by following her onTwitter (@SeattleMamaDoc) and Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel diterjemahkan oleh Farah Suraya, dr. dengan izin dari Seattle Mama Doc. Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/a-spoonful-of-bacteria-for-baby/

Referensi

Savino F, Cordisco L, Tarasco V, Palumeri E, Calabrese R, Oggero R, et al. Lactobacillus reuteri DSM 17938 in Infantile Colic: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Pediatrics. 2010 Sep 1;126(3):e526–33.

Sunat

Sunat Pada Anak : Bagaimana Agar Ia Tidak Takut?

Bagi sebagian anak, sunat dapat menjadi salah satu hal yang menakutkan bagi mereka. Ketakutan ini tak jarang timbul karena orang dewasa tanpa sadar mengaitkan sunat dengan sebuah hukuman yang menakutkan seperti adanya ancaman, “Kalau bandel, nanti disunat lho”. Ketakutan ini semakin bertambah apabila teman atau saudara yang telah disunat juga ikut menakut-nakuti sang anak. Hal inilah yang menyebabkan anak memiliki persepsi yang menakutkan mengenai sunat.

Cara Agar Anak Tidak Takut Sunat

Beberapa hal yang bisa dicoba oleh orangtua agar anak semakin siap untuk disunat, yaitu:

  1. Mulai dari diri orangtua. Anak ialah peniru yang ulung. Ia bisa menangkap emosi orang terdekatnya termasuk rasa cemas. Rasa cemas yang dirasakan orangtua ketika anaknya hendak disunat bisa jadi membuat anak juga ikut merasa takut. Sehingga, sebelum menenangkan anak, mulailah mengatasi rasa cemas pada diri Anda dengan berdoa untuk kekuatan diri dan anak serta memahami betul manfaat dari sunat.
  2. Beri ia pemahaman tentang sunat. Kita sebagai orangtua memiliki peranan yang besar untuk memperbaiki kesalahan informasi tentang khitan pada anak. Orangtua dapat menyampaikan kepada anak mengenai apa itu sunat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Sebagai muslim, orangtua juga sebaiknya memberitahukan mengenai kewajiban khitan sehingga cepat atau lambat anak tetap perlu menjalani proses sunat. Orangtua juga sebaiknya menjelaskan apa saja manfaat dari sunat kepada anak sehingga anak menyadari bahwa sunat adalah hal yang penting dan baik bagi dirinya.
  3. Bicaralah yang jujur. Kunci kesuksesan mempersiapkan anak disunat ialah komunikasi yang baik sesuai pemahamannya. Hindari membohongi anak dengan mengatakan bahwa khitan itu tidak sakit atau rasanya hanya seperti digigit semut. Hal ini nantinya dapat menimbulkan trauma pada anak karena ia sebenarnya merasakan sakit melebihi dari apa yang ia dengar dari orangtua. Katakanlah dengan jujur kepada anak bahwa ia akan merasakan sakit setelah disunat, namun sakit tersebut tidak akan bertahan lama.
  4. Buat ia familiar. Anak di semua usia akan lebih baik menghadapi sunat apabila ia tahu apa yang akan dilakukan pada dirinya dan mengapa itu penting. Sehingga, orangtua bisa membuat ia familiar dengan menjelaskan metode khitan kepada anak. Tentu sesuaikan dengan bahasa dan pemahaman anak. Akan lebih baik lagi jika orangtua memberikan kesempatan kepada untuk memilih metode yang ia anggap paling nyaman dan sesuai dengan kondisi ekonomi orangtua.
  5. Berbagi pengalaman. Ajaklah ayah atau saudara laki-laki yang telah disunat untuk menceritakan pengalaman mereka ketika dikhitan kepada anak. Hal ini dilakukan agar anak memiliki panutan dari orang-orang didekatnya. Pastikan bahwa mereka menceritakan pengalaman yang dapat membuat anak termotivasi untuk disunat.
  6. Biar anak yang menentukan waktunya. Waktu yang terbaik untuk disunat dari segi medis memang saat iya bayi. Namun, jika anak sudah lebih besar dan mulai mengerti, beri kesempatan kepadanya untuk mengusulkan waktu kapan ia akan disunat. Ini salah satu cara untuk benar-benar mengetahui kapan anak benar-benar siap dan mengajarinya bertanggung jawab dengan ucapan dan keinginannya.
  7. Lakukan ketika anak benar-benar siap. Lakukanlah khitan ketika anak benar-benar siap agar anak tidak mengalami trauma. Anak yang tidak siap tak jarang membuat sakit yang dirasa dapat berkali-kali lipat karena sugesti yang dibangun anak. Walaupun mengaku siap, tak jarang sebagian anak tiba-tiba menjadi takut sesaat sebelum menjalani proses sunat. Untuk mengatasinya, orangtua dapat memberikan pemahaman kembali bahwa proses sunat tidak semenakutkan yang dibayangkan, mengalihkan perhatian anak dengan mengajaknya membicarakan topik lain, dan bekerja sama dengan ahli medis yang akan melakukan sunat agar bisa menyemangati anak.
  8. Beri ia pujian. Setelah disunat, jangan lupa berikan pujian kepada anak atas keberanian dan keberhasilannya menjalani proses sunat. Orangtua juga dapat memberikan anak hadiah yang ia inginkan, yang tentunya disesuaikan dengan kemampuan orangtua.

Semoga bermanfaat ya ayah bunda

Aisha Salsabila, S.Psi

11/27/2015

Sumber:
1. Preparing Your Child for Surgery [Internet]. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://kidshealth.org/parent/system/surgery/hosp_surgery.html
2. Bila Anak Takut Disunat [Internet]. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.ummi-online.com/bila-anak-takut-disunat—.html

Gizi Anak Sekolah

7 Rekomendasi Gizi Untuk Anak Sekolah

Anak sekolah menurut WHO (World Health Organization) ialah anak yang berusia antara 7-15 tahun. Pada masa ini nafsu makan dan kebutuhan nutrisi anak meningkat secara alami. Hal ini disebabkan karena anak masih dalam masa pertumbuhan dan aktivitas anak semakin padat. Namun, dalam periode ini pemberian asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Anak mulai mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya termasuk dalam hal jajan dan pemilihan makanan. Bila orangtua kurang jeli memperhatikan konsumsi anak, dikhawatirkan makanan pilhan anak yang kurang sehat mungkin dapat mengakibatkan penyakit dan mengganggu perkembangan potensinya.

Tantangan Seputar Makan Pada Anak Sekolah

Saat anak mulai mengeksplorasi dunia sekolah, anak mulai ingin mencicip-cicipi sesuatu hal yang baru. Ia juga mulai punya selera sendiri tentang makanan kesukaan. Makanan yang ia pilih biasanya dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya sendiri (misal ada penyakit alergi tertentu) dan lingkungan sekitarnya. Tentu yang terdekat ialah kebiasaan di keluarga. Selain itu, pengaruh dari teman sebaya, iklan di media massa, atau tren sosial juga mempengaruhi apa yang ia hendak makanan. Sayangnya, tidak semua pengaruhi ini berdampak baik. Terkadang anak juga terjebak dalam memilih jajanan yang tidak sehat. 

Menurut Kepmenkes RI no 942, jajanan ialah :

Makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual kepada masyarakat selain yang disajikan jasa boga, rumah makan, atau hotel.

Anak yang terbiasa untuk jajan cenderung malas makan makanan yang bergizi. Selain itu, tidak jarang kita temukan anak yang menderita diare, sakit perut, bahkan dirawat karena demam tifoid. Tentu bukan hanya mempengaruhi performa sekolah dan kecerdasan anak. Jajanan yang kurang sehat bisa jadi menimbulkan dampak serius yang mengancam kesehatan. Beberapa penyebab anak suka jajan antara lain:

  • Faktor dalam keluarga, misalnya orangtua yang kurang jeli memperhatikan makanan anak, orangtua yang terlalu sibuk atau kebiasaan makan yang kurang baik di keluarga.
  • Faktor dari anak sendiri, seperti kejiwaan dan selera yang berbeda-beda.
  • Makanan itu sediri, seringkali bentuk dan rasa jajanan lebih menarik perhatian anak dan lebih gurih

Menanggapi hal ini, penting bagi orangtua untuk lebih jeli mengawasi pola makan anak sehari-hari. Pahami rekomendasi gizi untuk anak sekolah agar ia mendapatkan nutrisi yang optimal

Rekomendasi Gizi Anak Sekolah

Ada lima rekomendasi gizi yang perlu diperhatikan untuk anak sekolah, yaitu:

1. Konsumsi menu gizi seimbang.
Pada prinsipnya anak sekolah harus mengonsumsi menu gizi seimbang yang terdiri semua zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Untuk memenuhi gizi seimbang anak sekolah, konsumsi makanan pokok seperti nasi, pasta, kentang; sumber protein seperti ikan, ayam, daging; sayur dan buah; sumber lemak yang sehat; dan air.

gambar piramida makanan & pedoman gizi seimbang

Pedoman Gizi Seimbang

2. Sesuaikan konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi.

Kebutuhan gizi anak berbeda untuk setiap umur, jenis kelamin dan aktivitas. Secara garis besar, kebutuhan kalori anak sekolah berkisar antara :

  • 4-8 tahun : 1,200-1,400 kalori
  • 9-13 tahun (perempuan): 1,600 kalori
  • 9-13 tahun (laki-laki): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (perempuan): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (laki-laki): 2,200 kalori

Kebutuhan kalori ini didapatkan dari sumber karbohidrat, lemak dan protein. Karbohidrat merupakan sumber utama energi yang digunakan tubuh. Anak perlu mengkonsumsi karbohidrat 45-65% dari total kalori yang diperlukan.

Lemak juga diperlukan untuk sumber energi, mengangkut vitamin dan sumber asam lemak esensial (lemak yang tidak bisa dihasilkan dari tubuh). Sebanyak 60% dari otak anak ialah lemak. Kebutuhan lemak total untuk anak sekolah ialah 23-35% dari kebutuhan kalori.

Protein juga penting dipenuhi untuk pertumbuhan yang optimal, pengaturan hormon, sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Anak sekolah perlu mengkonsumsi 10-30% dari total kalori yang dibutuhkan.

Selain kalori, anak juga membutuhkan vitamin dan mineral seperti besi, zinc dan kalsium. Anak sekolah usia 7-15 tahun membutuhkan kalsium 1.000-1300 mg per hari. Itu merupakan kebutuhan tertinggi sepanjang hidup mereka karena pada usia tersebut anak dalam pertumbuhan tinggi badan yang pesat sehingga membutuhkan kalsium yang banyak untuk pertumbuhan tulangnya. Kebutuhan zat besi pada anak perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena zat besi dibutuhkan untuk persiapan periode mentruasi bagi wanita.

Berikut ini contoh takaran harian makanan anak sekolah:

anak skolah

Takaran piring setiap anak makan kira-kira memenuhi kaidah ini. 1/2 porsi diisi dengan sayuran, 1/4 sumber protein (tahu, tempe, ikan, ayam, daging, dsb), 1/4 piring lagi diisi sumber karbohidrat (misal nasi). Jadi bukan lebih banyak karbohidrat. Tentu takaran piring ini disesuaikan dengan kebutuhan anak yah, ayah ibu.

meal_plan3

Proporsi Piring Anak Sekolah

3. Selalu sarapan pagi.
Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi di sekolah. Hal ini disebabkan saat bangun pagi, gula darah dalam tubuh anak cenderung menurun karena metabolisme tubuh tetap bekerja saat anak tidur.

4. Sediakan cemilan

Cemilan ialah makanan selingan di antara sarapan, makan siang dan makan malam. Cemilan juga penting sebagai komponen gizi anak. Sehingga menyediakan cemilan sehat perlu direncanakan sebagai bagian dari kebutuhan kalori. Contoh cemilan sehat misalnya buah segar, keju, biskuit, susu, 100% jus buah, yoghurt, dl.

5. Hindari minuman manis

Minuman manis mengandung gula yang amat banyak. Sehingga bisa menyebabkan obesitas pada anak. Minuman manis juga mengurangi nafsu makan anak terhadap makanan/minuman sehat seperti susu. Contoh minuman mans misalnya sirup, minuman soda, teh, minuman kaleng/kemasan, minuman buah, dsb. Anak paling baik minum air putih dibandingkan minuman manis.

6. Makanan segar lebih baik

Makanan yang terlalu gurih karena penguat rasa atau pemanis buatan dapat menyebabkan rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan. Sehingga selera makan anak terhadap makanan sehat bisa saja berkurang. Meskipun masih kontrovesial, pengawet, pewarna atau pemanis buatan juga diduga kurang baik terhadap kesehatan anak.

 7. Pastikan keamanan makanan!

Ada dua hal yang penting orangtua perlu perhatikan terkait keamanan makanan, yaitu resiko tersedak dan infeksi. Pada anak yang lebih muda, hindari makanan yang mudah membuat tersedak. Ajari anak untuk duduk yang baik dan tidak bicara saat mengunyah makanan. Perhatikan juga kebersihan makanan. Selalu cuci tangan dan bersihkan alat makan sebelum menyajikan makanan pada anak. Biasakan juga untuk mengajaknya cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Hati-hati dengan jajanan di sekitar lingkungannya. Lebih aman membawakan anak bekal jika Anda tidak yakin dengan kebersihan jajanan di sekolah anak.

Semoga bermanfaat.
Reqgi First Trasia, dr.

11/26/2015

Referensi :

  1. Robert Russels, et al. 2001. Dietary Reference Intakes for Vitamin and Mineral. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington.
  2. United States Department of Agriculture and Health and Human Services. 2010. Dietary Guidelines for Americans. Washington DC.
  3. Vernon, R Young, et al. 1998. Dietary Reference Intakes of Vitamin and Minerals. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington DC.
  4. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
  5. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
  6. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
  7. Childhood Nutrition [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Childhood-Nutrition.aspx
  8. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
  9. The Truth about 7 Common Food Additives [Internet]. WebMD. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.webmd.com/diet/the-truth-about-seven-common-food-additives

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Sekilas Tentang Demam

Demam pada anak cukup sering dialami. Seperti halnya batuk, muntah dan diare, sebenarnya demam bukanlah penyakit. Demam merupakan sebuah gejala yang menunjukkan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam tubuh. Anak dikatakan demam bila suhu tubuhnya di atas 37,5oC saat diukur dari mulut dan 38oC saat diukur dari dubur. Umumnya, demam bukan kondisi yang berbahaya bagi jiwa. Justru demam merupakan bukti bekerjanya mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi infeksi. Mencari tahu penyebab demam sangat penting artinya bagi orang tua. Dengan demikian, langkah-langkah penanganan terhadap anak pun dapat dilakukan.

Proses Terjadinya Demam

Peningkatan suhu tubuh saat demam dikarenakan dalam tubuh terdapat molekul kecil bernama pirogen (sebagai zat pencetus panas). Terjadinya peningkatan pirogen disebabkan oleh infeksi, radang, alergi, tumbuh gigi, atau dampak pemberian imunisasi tertentu. Ketika terkena infeksi, tubuh sengaja menciptakan demam sebagai upaya membantu menyingkirkan infeksi. Caranya dengan mengerahkan sel darah putih (leukosit) sebagai pasukan khusus dalam sistem kekebalan tubuh. Agar daya gempurnya tinggi terhadap infeksi, sel darah putih butuh sokongan pirogen. Sebenarnya ada dua tugas pirogen:

  1. Menuntun sel darah putih ke tempat infeksi
  2. Meningkatkan suhu tubuh melalui demam dengan tujuan menghambat pertumbuhan kuman.

Bila anak mengalami demam, biasanya diawali oleh tubuh menggigil. Lalu dengan cepat suhu meningkat di atas suhu yang normal. Suhu itu menetap dan akhirnya menurun. Anak yang sedang demam biasanya rewel, sulit tidur, dan tidak mau makan.

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Saat anak mengalami demam, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua sebelum ke dokter:

  1. Pastikan sirkulasi udara ruangan tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kipas angin dapat pula difungsikan disini.
  2. Beri pakaian yang mampu menyerap keringat. Jangan terlalu tebal atau tipis.
  3. Teruskan pemberian gizi yang seimbang.
  4. Sebaiknya jangan terburu memberikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi. Sebab naiknya suhu tubuh merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus.
  5. Beri banyak minum, termasuk ASI bagi bayi yang masih menyusui. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi komplikasi dehidrasi. Dengan minum banyak, akan memulihkan cairan tubuh yang mungkin berkurang akibat dehidrasi.
  6. Lakukan pengompresan saat suhu tubuhnya meningkat, bahkan mencapai 40o C. sebaiknya mengompres dilakukan dengan mendudukan anak di bath tub (bak mandi) dengan air hangat (30-32oC C). beri mainan jika ia menolak didudukkan. Atau dapat juga membasuhkan waslap yang telah dicelup air hangat ke sekujur tubuhnya.
  7. Pada balita yang sudah agak besar, jika suhu tubuhnya melebihi 38o C dan terus menerus rewel atau tidak nyaman, cobalah beri obat penurun panas khusus anak. Sebaiknya jangan memberi aspirin karena akan berdampak buruk pada hati. Berilah paracetamol atau ibuprofen dengan tetap mematuhi aturan pemakaian. Hentikan jika suhu tubuh kembali normal.

Sebaiknya orangtua segera membawa anak ke dokter bila menemukan tanda-tanda ini saat anak demam.  Semoga bermanfaat.

Reqgi First Trasia, dr.

11/23/2015

Referensi:
1. Efstathiou SP, Pefanis AV, Tsiakou AG, et al. 2010. Fever of Unknown Origin: Discrimination between Infectious and Non-infectious Causes. Eur J Intern Med; 21:137
2. Tolan RW Jr. 2010. Fever of Unknown Origin: a diagnostic Approach to this Vexing Problem. Clinical Pediatry, Philadelphia; 49:207-213
3. Joshi N, et al. 2008. Clinical Spectrumof Fever of Unknown Origin among Indian Children. Ann Trop Paediatric ; 28: 261-266
4. Iwanczak B, et al. 2007. Management of Fever Without Source in Children. Przegl Lek; 64 (Suppl3):20-24
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 120

Tanda tanda Vital Bayi dan Anak

Tanda tanda vital ialah tanda yang menunjukkan fungsi penting tubuh manusia. Dari tanda-tanda ini bisa diketahui apakah seseorang relatif sehat, mengalami penyakit serius, atau menderita gangguan yang mengancam jiwa. Ada empat tanda tanda vital yang umum diperiksa oleh tenaga kesehatan yaitu denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan kondisi nafas. Semua orang yang masih hidup tentu memiliki tanda tanda vital. Namun, nilai tanda tanda vital ini bisa berbeda sesuai dengan usia, jenis kelamin, berat badan, dan kesehatan tubuh pada umumnya.

Pada anak, pemeriksaan tanda tanda vital ini amat penting dipelajari karena dapat mendeteksi dini adanya penyakit serius pada anak atau tidak. Hal ini amat bermanfaat karena anak bisa mendapatkan pertolongan segera dari dokter ketika sakitnya cukup serius. Pemeriksaan tanda tanda vital pada anak juga sebenarnya cukup mudah untuk dipelajari oleh orangtua atau pengasuh. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh hendaknya tahu dan paham cara pemeriksaan ini.

Tanda Tanda Vital 1 : Denyut Nadi

Denyut nadi yang dihitung menunjukkan berapa kali jantung berdetak dalam satu menit. Jumlah denyut nadi ini bisa berubah sesuai usia, jenis kelamin, aktivitas bahkan perubahan stress pada anak. Selain menghitung jumlah, dokter juga biasa menilai apakah irama nadi ini teratur atau tidak.

Pada bayi, denyut nadi biasanya diukur dengan meletakkan jari secara lembut di lipatan siku atau lipatan lutut dalam. Sedangkan pada anak yang lebih besar, denyut nadi bisa dihitung dari nadi pergelangan tangan. Setelah itu, denyut nadi dihitung selama satu menit menggunakan jam yang memiliki jarum atau stopwatch.

c5f001be2817adfc6f43064baafeeeb8

Tanda Tanda Vital 1 : Nadi

Berikut ini denyut nadi normal selama satu menit pada anak sesuai usia.

Usia Nadi saat anak bangun (kali/menit) Nadi saat anak tidur (kali/menit)
Bayi baru lahir s/d 3 bulan 85-205 80-160
3 bulan s/d 2 tahun 100-190 75-160
2 s/d 10 tahun 60-140 60- 90
>10 tahun 60-100 50-90

Pemeriksaan denyut nadi ini sebenarnya tidak perlu rutin dilakukan orangtua. Terkecuali bila memang buah hati Anda memiliki kondisi penyakit yang membutuhkan pemantauan denyut nadi secara berkala. Namun, ada kalanya pemeriksaan ini penting untuk dilakukan seperti saat :

  • anak mengeluhkan jantung berdebar-debar, nyeri dada
  • pingsan
  • kulit mendadak pucat atau bibir menjadi biru
  • sulit bernafas mendadak seperti pada asthma

Bila ada kondisi seperti ini, Anda sebaiknya segera membawa ke dokter.

Tanda Tanda Vital 2: Tekanan darah/Tensi

Pemeriksaan tekanan atau tensi darah pada anak cukup sulit dilakukan bagi awam. Selain itu, untuk mengukur tekanan darah anak dibutuhkan manset yang ukuran khusus sesuai usia mereka. Sehingga, tidak seperti pemeriksaan tanda tanda vital yang lain, pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Namun, mungkin pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu, dokter akan melatih orangtua untuk memeriksa tekanan darah anak.

pediatric's office nurse with patients

Tanda tanda vital 2 : Tekanan darah

Tidak seperti orang dewasa, pemeriksaan tekanan darah anak baru rutin dilakukan setiap tahun pada anak usia diatas 3 tahun. Pasalnya, tensi pada batita cukup sulit dinilai secara akurat. Terkecuali bila batita mengalami penyakit jantung atau ginjal yang cukup serius. Berikut ini ialah tekanan darah normal anak sesuai usia.

Perkiraan Usia Batas normal tekanan sistolik (mmHG) Batas normal tekanan diastolik (mmHg)
1-12 bulan 75-100 50-70
1-4 tahun 80-110 50-80
3-5 tahun 80-110 50-80
6-13 tahun 85-120 55-80
13-18 tahun 95-140 60-90

Tanda Tanda Vital 3 : Pernafasan

Masalah pernafasan ternyata menjadi penyebab nomer satu kegawatdaruratan pada bayi dan anak. Sehingga amat penting bagi orangtua untuk bisa menilai pernafasan yang normal dan tidak. Menilai pernafasan yang akurat paling baik dilakukan saat anak tidur atau istirahat. Anak sebaiknya tidak menyadari bahwa pernafasarnnya sedang dihitung. Sebab, bila ia sadar, anak bisa mengatur nafasnya seperti yang ia inginkan.

Pernafasan normal pada bayi dengan anak lebih besar ternyata berbeda. Bayi bernafas lebih cepat dan lebih tidak teratur. Terkadang bayi baru lahir bernafas cepat dan dalam lalu tiba-tiba nafasnya menjadi lambat dan dangkal. Jangan heran juga bila sewaktu-waktu ia menahan nafas selama beberapa detik. Hal ini disebut juga nafas periodik (periodic breathing) dan normal ditemukan pada bayi. Selain itu, bayi juga suka mengeluaran dengkuran halus saat ia tidur. Orangtua tidak perlu khawatir bila bayi bernafas seperti itu karena lambat laun pernafasannya akan menjadi matang dan teratur.

Cara menilai pernafasan

Menilai pernafasan anak amat mudah dilakukan. Caranya ialah dengan mengamati langsung atau memegang dada anak saat ia bernafas. Sementara itu, hitung seberapa banyak ia bernafas selama satu menit menggunakan jam dengan jarum atau stopwatch. Hal pertama pernafasan yang dinilai ialah upaya nafas. Apakah anak sulit bernafas atau tidak. Tanda anak sulit bernafas misalnya :

  • Wajah anak bisa seperti ketakutan dan terlihat panik
  • Anak bernafas melalui mulut. Hal ini bisa saja saluran nafas anak tersumbat atau anak sudah terlalu sesak.
  • Anak mengeluarkan suara yang tidak lazim saat bernafas seperti mendengkur atau mengi (bengek)
  • Hidung anak kembang kempis
  • Otot leher dan dada sangat terangkat saat bernafas. Bahkan terlihat cekungan yang nyata di leher, sela tulang iga dan perut. Dalam istilah kedokteran hal ini disebut retraksi.
  • Kulit anak menjadi pucat dan membiru di sekitar hidung dan mulut. Hal ini menandakan darah anak tidak mengangkut cukup oksigen dari paru-paru.
  • Nafas anak menjadi lebih cepat atau lambat dari yang normal.
60999-0550x0475

Tanda kesulitan bernafas

Adapun kecepatan bernafas anak yang normal sesuai usia ialah:

Umur Kecepatan nafas normal (kali/menit)
0-1 tahun 30 s/d 60
1-3 tahun 24 s/d 40
3-5 tahun 22 s/d 34
5-12 tahun 18 s/d 30
>13 tahun 12 s/d 16

Selain itu, lihat juga pola pernafasannya. Apakah teratur atau tidak. Bila orangtua atau pengasuh menemukan tanda-tanda sulit bernafas atau khawatir pola pernafasan anak tidak seperti biasanya, silakan hubungi tenaga kesehatan. Ada kemungkinan anak Anda butuh pertolongan segera.

Tanda Tanda Vital 4 : Suhu tubuh

Suhu pusat tubuh anak rata-rata antara 36.6oC – 37oC saat diukur lewat mulut dan 0.5oC lebih tinggi saat diukur dari dubur. Mengukur suhu tubuh penting dilakukan saat curiga anak mengalami demam. Pasalnya, demam bisa jadi pertanda anak Anda terkena infeksi, gangguan metabolisme atau penyakit lain. Ada beberapa cara mengukur suhu tubuh anak. Paling akurat ialah dari dubur meskipun cara ini terasa kurang nyaman. Selain itu, pengukuran dari mulut (di bawah lidah) juga bisa mendapatkan hasil akurat bila dilakukan dengan teknik yang benar. Cara ini berguna terutama pada anak lebih dari 4 tahun yang bisa kooperatif.

4343_image

Tanda tanda vital 4 : Suhu

Sebaliknya, pengukuran dari ketiak ternyata kurang akurat. Namun, cara ini masih bisa digunakan sebagai pemeriksaan awal pada bayi kurang dari tiga bulan atau pada anak yang lebih besar tetapi belum bisa menahan termometer dari bawah lidah. Demikian pula pemeriksaan suhu lewat telinga atau dahi, dimana hasil yang didapatkan kurang akurat. Orangtua tidak disarankan untuk menilai suhu anak hanya dari memegang kulit anak. Hal ini disebabkan hasil yang didapatkan tergantung dari suhu pemeriksanya.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/22/2015

Referensi

1. How To Take Your Child’s Pulse. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/firstaid_safe/emergencies/take-pulse.html
2. Normal Vital Signs: Normal Vital Signs. 2015 Sep 18 [cited 2015 Nov 22]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2172054-overview
3. Mark A Ward, MD. Patient information: Fever in children (Beyond the Basics). Uptodate. 2015 Aug 31;
4. Pediatric Vital Signs: Normal Heart Rate Chart [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Nov 22]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/pediatric_vital_signs/article_em.htm
5. Jan E Drutz, MD. The pediatric physical examination: General principles and standard measurements. Uptodate. 2015 Nov 18;
6. Vital Sign in Children. US Dep Health Hum Serv [Internet]. 2011 Jun 26; Available from: http://chemm.nlm.nih.gov/pals.htm#sec2
7. Your baby’s breathing: what’s normal. Babycenter [Internet]. 2012 Apr; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a558559/your-babys-breathing-whats-normala