Category Archives: Nutrisi

Nutrisi Bayi Prematur

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa baik tidaknya tumbuh kembang bayi prematur sangat tergantung dari asupan nutrisi. Pertumbuhan yang baik, terutama pada beberapa bulan pertama kehidupannya, akan membawa dampak yang sangat positif pada perkembangan bayi prematur. Kekurangan nutrisi pada masa tersebut dapat menyebabkan tidak optimalnya perkembangan saraf, gagal tumbuh (growth failure), kerapuhan tulang (osteopenia of prematurity), meningkatnya risiko infeksi, dan komplikasi lainnya.

Mengenal bayi prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi prematur biasanya memiliki berat badan yang lebih rendah dari bayi cukup bulan. Hal ini dikarenakan bayi lahir pada usia 22-37 minggu di saat tubuh bayi sedang berkembang pesat. Pada bayi cukup bulan, beratnya saat lahir dapat mencapai hingga 5x lipat berat saat usia kehamilan 24 minggu. Kategori bayi prematur berdasarkan berat badannya yaitu:

  • Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bila berat bayi < 2500 gram
  • Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) <1500 gram
  • Berat badan rendah extrim (extremely low birth weight) bila berat bayi <1000 gram.

Selain berat badan yang rendah, fungsi organ tubuh bayi prematur belum sempurna. Oleh sebab itu, bayi prematur biasanya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit saat lahir. Perawatan intensif di rumah sakit juga bertujuan untuk mengontrol jumlah asupan nutrisi agar bayi bisa tumbuh optimal.

Apakah kebutuhan asupannya berbeda dengan bayi cukup bulan?

Pada umumnya kebutuhan energi bayi prematur lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan. Kebutuhan energi bayi cukup bulan 80-90kal/kg/hari; sedangkan kebutuhan energi pada bayi prematur bervariasi tergantung kondisi kesehatannya, yaitu  sekitar 100-120 kal/kg/hari sampai 160-180 kal/kg/hari.

Apabila kebutuhan energi bayi prematur dari karbohidrat dan lemak tidak tercukupi, tubuhnya akan mengambil protein sebagai sumber energi. Hal ini tidak baik bagi bayi prematur karena protein dibutuhkan untuk pertumbuhan serta perbaikan sel-sel dalam tubuh. Protein juga sangat penting bagi pertumbuhan otak dan kecerdasan. Kekurangan protein dapat menyebabkan penurunan kecerdasan. Selain itu, kekurangan protein pada bayi prematur dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan fungsi ginjal. Ginjal yang kecil dan kurang baik perkembangannya ini dapat menyebabkan darah tinggi saat dewasa.

Apakah kebutuhan cairan juga perlu di kontrol?

Tentu. Komposisi cairan pada tubuh bayi prematur sekitar 90%. Komposisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bayi cukup bulan dan orang dewasa, yaitu 75% dan 60%. Karena besarnya komposisi cairan pada bayi prematur maka kecukupan asupan cairan sangat penting. Pada hari pertama kehidupan bayi prematur membutuhkan asupan cairan sekitar 80-105 mL/kg/hari. Kebutuhan cairan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, pemberian cairan tergantung kondisi bayi tersebut. Jika bayi memiliki kelainan jantung misalnya, pemberian cairan harus dibatasi agar tidak membebani jantung. Sebaliknya, jika bayi menjalani fototerapi atau suhu tubuhnya meningkat, maka pemberian cairan harus ditambah untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan.

Hal yang patut diingat yaitu fungsi ginjal pada bayi prematur belum sempurna, sehingga bayi prematur lebih rentan kekurangan atau kelebihan cairan. Kurangnya cairan dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit dan hipotensi. Kelebihan cairan dapat menyebabkan edema/bengkak, gagal jantung, dan infeksi usus. Tapi orangtua tidak perlu khawatir, karena dokter spesialis anak yang menangani pastilah telah menghitung dengan rinci kebutuhan cairan ini selama perawatan intensif di rumah sakit.

Manakah yang baik, ASI atau Susu Formula?

ASI lebih direkomendasikan bagi bayi prematur. ASI bayi prematur berbeda dengan ASI bayi cukup bulan. Di dalam ASI bayi prematur terdapat kandungan protein, lemak, asam amino bebas, dan sodium yang lebih tinggi. Selain kandungan nutrisi yang baik, ASI juga mengandung imunoglobulin, prebiotik dan probiotik, jarang menimbulkan masalah pencernaan, melindungi dari infeksi dan peradangan, serta baik bagi perkembangan saraf bayi.

Susu formula dapat diberikan pada kondisi berikut ini. Susu formula yang diberikan yaitu formula khusus bayi prematur. Dalam jangka pendek, bayi prematur yang diberikan susu formula mengalami kenaikan berat badan yang lebih cepat. Namun, terdapat risiko munculnya gangguan saluran pencernaan (feeding intolerance) serta infeksi saluran pencernaan (necrotising enterocolitis).

Pemberian ASI pada bayi prematur sehat

Pemberian ASI disesuaikan dengan kemampuan bayi untuk menyusu, yang bergantung pada kematangan fungsi refleks hisap dan menelan.

  • Bayi dengan usia kehamilan ibu >34 minggu (berat badan >1800 gram) memiliki refleks hisap dan menelan yang cukup baik, sehingga dapat disusukan langsung kepada ibu.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu 32 – 34 minggu (berat badan 1500-1800 gram) memiliki refleks menelan cukup baik, namun refleks menghisap masih kurang baik. Ibu dapat memerah ASI, kemudian ASI diberikan ke bayi dengan menggunakan sendok, cangkir, atau pipet. Bayi prematur dengan berat badan >1500 gram membutuhkan ASI 150-220ml/kgBB/hari, rata-rata 180ml/kgBB/hari. ASI yang diberikan sebaiknya ditambahkan human milk fortifier. Jika tidak ditambahkan human milk fortifier, maka bayi membutuhkan suplemen vitamin (A,D,C,B), zat besi, asam folat, fosfat dan sodium.
  • Bayi yang usia kehamilan ibu <32 minggu (berat badan 1250-1500 gram), belum memiliki refleks hisap dan menelan yang baik, maka ASI perah diberikan dengan menggunakan pipa lambung/orogastrik (sonde).

Pemberian ASI pada bayi prematur sakit

Bayi prematur yang memiliki berbagai masalah pada organ-organ tubuhnya, perlu dirawat di NICU. Lamanya dirawat di NICU bervariasi tergantung kondisi kesehatan bayi Ibu. Ada yang 2 minggu, sebulan, bahkan lebih.

Bagi bayi prematur dengan berat <1250 gram, memiliki berbagai masalah kesehatan serta kondisinya belum stabil, maka nutrisi diberikan melalui cairan infus yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan nutrisi lainnya selama 24-48 jam pertama.

Jika kondisi bayi prematur sudah stabil, saluran pencernaannya sudah siap, maka bayi dapat mulai diberikan nutrisi lewat saluran pencernaan (trophic feeding) 10 mL/kgBB/24 jam. Jika bayi sudah dapat menoleransi pemberian minum, maka jumlah minum dapat dinaikkan sambil menurunkan pemberian nutrisi melalui cairan infus.

Pemberian nutrisi melalui saluran cerna akan mengaktifkan enzim-enzim yang penting untuk pencernaan, berkembangnya vili-vili usus serta flora normal usus yang mampu mencegah infeksi.

Jika kondisi bayi lebih baik, sudah tidak perlu alat bantu nafas, dokter sudah menyatakan aman untuk disusui langsung, maka Ibu bisa menyusui langsung bayi Ibu. Kiat menyusui bayi prematur bisa dilihat disini. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan dan saran dari dokter dan perawat NICU agar Ibu bisa menyusui bayi prematur dengan baik.

Apakah ada pantangan makan dan minum Ibu yang menyusui bayi prematur?

Ibu yang menyusui bayi prematur harus menjaga asupan nutrisinya. Makanlah makanan yang bervariasi dan bergizi. Hindari minuman beralkohol. Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila ada obat-obatan yang harus Ibu minum selama menyusui (misalnya obat psikotropika, antibiotik).

Bagaimana cara mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup?

Tanda bayi cukup ASI selengkapnya bisa dilihat disini. Selain itu, pertumbuhan bayi perlu diukur untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan sudah cukup. Salah satu indikator pertumbuhan yaitu kenaikan berat badan. Semua bayi akan mengalami penurunan berat badan selama 1 minggu setelah lahir. Namun penurunannya tidak boleh melebihi 5-10% pada bayi cukup bulan, dan 15-20% pada bayi prematur dari berat lahir. Biasanya pada minggu kedua atau ketiga, berat badan bayi akan naik lagi ke berat badan awal. Selain berat badan, panjang badan dan lingkar kepalanya juga perlu diukur. Grafik pertumbuhan yang dipakai sama seperti bayi cukup bulan, yaitu grafik pertumbuhan CDC dan WHO. Bedanya, bayi prematur menggunakan usia koreksi untuk grafik tersebut.

 

Cara menghitung usia koreksi

Rumusnya:

40 minggu – usia kehamilan Ibu saat melahirkan = faktor koreksi.

Usia bayi sekarang (usia kronologis) – faktor koreksi = usia koreksi.

 

Contoh

Bayi A saat ini berusia 4 bulan (usia kronologis). Bayi A lahir saat usia kehamilan Ibunya 28 minggu. Berapa usia koreksi bayi A?

Jawab

40 minggu – 28 minggu = 12 minggu (faktor koreksi) = 3 bulan.

4 bulan – 3 bulan = 1 bulan. Usia koreksi bayi A yaitu 1 bulan. Maka, pertumbuhan bayi A saat ini diukur sebagai bayi berusia 1 bulan.

 

Cara menggunakan grafik pertumbuhan selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Sebagian besar bayi prematur dapat “mengejar” pertumbuhan (catch-up growth) seperti bayi lainnya yang cukup bulan. Fase mengejar pertumbuhan ini biasanya muncul di awal masa kanak-kanak yaitu saat balita, namun ada juga yang baru muncul di akhir mendekati masa dewasa. Jika fase ini sudah tercapai, maka usia koreksi tidak lagi dibutuhkan untuk mengukur pertumbuhan anak yang lahir prematur. Pertumbuhan anak tersebut diukur sesuai dengan usia kronologisnya.

 

Bagaimana bila ASI yang diberikan tidak cukup?

Ibu tidak perlu khawatir. Langkah pertama yaitu menghubungi konselor laktasi untuk mengetahui penyebab kurangnya ASI dan menemukan solusinya. Apabila setelah konsultasi tersebut ASI masih tidak mencukupi, bayi dapat diberikan suplemen nutrisi (human milk fortifier) yang dicampurkan ke ASI, atau bayi mendapat ASI tambahan dari donor. Jika semua cara sudah dicoba namun pertumbuhan bayi kurang baik, maka dapat diberikan susu formula khusus bayi prematur sesuai kebutuhan.

 

Mba Tina, aku perlu nambahin tentang feeding intolerance juga ga?

 

Kesimpulan

Nutrisi bayi prematur dalam beberapa bulan awal kehidupannya sangat penting bagi pertumbuhannya saat ini dan saat dewasa nanti. Jika kondisi bayi prematur belum baik, pemberian nutrisi dapat melalui cairan infus yang diatur oleh dokter. Jika kondisi bayi sudah baik, maka ASI merupakan pilihan pertama bagi bayi prematur, kecuali ada hal-hal yang membuat Ibu tidak bisa memberikan ASI dengan optimal. Dalam hal ini, bayi prematur dapat diberikan ASI dari donor maupun susu formula khusus untuk bayi prematur. Nutrisi yang baik akan menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur yang baik pula. Sehingga bayi prematur dapat memiliki masa depan yang sama cerahnya dengan bayi yang lahir cukup bulan.

 

Referensi

 

Underwood MA. Human milk for the premature infant. Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 189–207.

 

Hay WW, Jr. Aggressive nutrition of the preterm infant. Curr Pediatr Rep. 2013 Dec; 1(4): 10.1007/s40124-013-0026-4.

 

Hay WW, Thureen P.  Protein for preterm infants: how much is needed? How much is enough? How much is too much? Pediatrics & Neonatology. 2010 August; 51(4): 198-207.

 

Jennifer E. McGowan JE, Alderdice FA, Holmes VA, Johnston L. Early Childhood development of late-preterm infants: a systematic review. Pediatrics. 2011 June; 127(6): 1111-24.

Ambalavanan N, Rosenkrantz T. Fluid, Electrolyte, and Nutrition Management of the Newborn. Feb 28, 2014. [cited Maret 2017] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/976386-overview

Belfort MB, Rifas-Shiman SL, Sullivan T, et al. Infant growth before and after term: effects on neurodevelopment in preterm infants. Pediatrics. 2011 October; 128(4): 899-906.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 43, Medical nutrition therapy for low birth weight infants; p.1118-38.

 

Quigley M, McGuire W. Formula versus donor breast milk for feeding preterm or low birth weight infants. The Cochrane Library. 2014 Jan 1. DOI:10.1002/14651858.CD002971.pub3.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 5, Nutrition during pregnancy and lactation; p.184-93.

 

Colaizy TT, Morriss FH. Positive effect of NICU admission on breastfeeding of preterm US infants in 2000 to 2003. Journal of Perinatology. 2008 February; 28: 505–510.

 

Innis SM. Impact of maternal diet on human milk composition and neurological development of infants. Am J Clin Nutr. 2014 March 20; 99(3): 734S-741S.

 

Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 12th ed. Canada: Elsevier; 2008. Chapter 29, Medical nutrition therapy for food allergy and food intolerance; p.759-61.

World Health Organization. Feeding of low-birth-weight infants in low- and middle-income countries. 2011. [cited April 2017] Available from:

http://www.who.int/elena/titles/full_recommendations/feeding_lbw/en/

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pemberian Asi Pada Bayi Lahir Kurang Bulan. Aug 27, 2013. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-asi-pada-bayi-lahir-kurang-bulan

Great Ormond Street Hospital for Children. Nutrition: enteral nutrition for the preterm infant. March 24, 2016. [cited Agustus 2017] Available from:

http://www.gosh.nhs.uk/health-professionals/clinical-guidelines/nutrition-enteral-nutrition-preterm-infant

Kapan Pertama Kali Janin Mengenal Rasa Makanan?

Tahukah Anda bahwa si kecil di dalam kandungan dapat merasai apa yang Anda makan? Nah, ini dia menu dalam rahim.

 

Anda mungkin berpikir si kecil belum mempunyai konsep tentang rasa sampai saat pertama si kecil meneguk ASI, atau barangkali ketika si kecil diberi makanan padat. Tapi mungkin Anda terkejut karena ternyata si kecil sudah mencicipi rasa pertamanya 13 minggu setelah pembuahan, atau tepatnya ketika indra pengecapnya mulai berkembang.

Dari usia 11 minggu di kandungan, bayi Anda akan belajar bagaimana menelan dan meneguk cairan amniotik yang mengelilinginya dalam rahim. Komposisi cairan amniotik berubah di trimester pertama. Dari semula cairan berbasis air, mirip plasma darah, menjadi substansi penuh nutrisi karbohidrat, protein, dan lemak. Substansi ini berperan penting dalam proses tumbuh kembang si janin. Setiap hari, si kecil akan mencerna sejumlah cairan ini, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, maupun untuk melatih kemampuan si kecil menelan dan mencerna. Cairan amniotik tersebut mengandung rasa yang tidak pasti, rasa berubah sesuai makanan yang dikonsumsi ibunya. Jadi, begitu indra pengecap si kecil sudah cukup berkembang, ia akan dapat mencicipi berbagai rasa yang terkandung dalam cairan amniotik, tergantung jenis makanan yang Anda asup.

Penerima rasa (taste receptor) yang terbentuk cepat di lidah si kecil, seiring perkembangan saraf penerima lainnya di saluran napas, memberi kemampuan pada si kecil untuk merasakan amniotik dan membauinya. Setidaknya 90% dari indera perasanya dipengaruhi oleh penerima bau (smell receptor), sehingga makanan dengan rasa yang kuat, misalnya rempah, adalah yang paling mudah dikenali janin.

Coba uji pada diri Anda sendiri. Jika Anda makan makanan berbumbu tajam, tunggu dua jam, waktu yang dibutuhkan bagi rasa makanan tersebut sampai ke cairan amniotik, Anda akan merasakan respon janin, misalnya gerakan, dll. Atau bisa saja, janin Anda tidak responsif! Apapun reaksi janin yang terjadi, Anda tidak perlu khawatir . Rasa makanan seperti itu tidak akan membuat janin stress. Rasa-rasa itu sekadar melatih janin dengan sensasi yang lebih bervariasi sehingga ia akan lebih siap saat lahir nanti.

Para peneliti menyatakan bahwa bayi yang terekspos oleh rasa tertentu di dalam rahim akan lebih menyukai makanan dengan rasa tersebut setelah mereka dilahirkan nanti. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Philadelphia menguji sekelompok ibu hamil. Para bumil ini dibagi dalam tiga kelompok: satu kelompok diberi jus wortel empat kali seminggu selama kehamilan, lalu diberikan air ketika mereka sudah melahirkan dan saat menyusui. Kelompok kedua minum air selama kehamilan, lalu diberi jus wortel saat mereka menyusui. Kelompok terakhir tidak minum jus wortel.

Ketika bayi-bayi mereka disapih dan mulai makan makanan padat, para peneliti menawarkan dua macam sereal: sereal tanpa rasa dan rasa wortel. Bayi yang terpapar jus wortel, baik melalui cairan amniotik maupun ASI, akan lebih menyukai sereal rasa wortel dan cenderung tidak akan menyeringai bila dibandingkan bayi yang belum pernah mencicipi rasa wortel.

Penelitian lain dilakukan untuk menguji apakah bau-bauan dapat diteruskan ke cairan amniotik oleh jenis makanan tertentu. Peneliti memberikan kapsul bawang putih atau kapsul gula kepada sekelompok ibu hamil. Kemudian , para peneliti mengambil contoh cairan amniotik pada bumil tersebut. Sekelompok orang diminta melakukan tes penciuman, dan sampel dari para ibu yang telah menelan kapsul bawang putih terdeteksi bau bawang putih.

Sepertinya memang benar kata orang: you are what you eat. Dan anehnya, apapun yang Anda makan tidak saja langsung berpengaruh pada si kecil, tetapi juga mungkin memengaruhi pilihan rasa si kecil di masa depan. Ilmuwan Perancis melakukan sebuah studi untuk mendukung fakta tersebut: 12 ibu hamil diberikan biskuit dan permen berlapis coklat sekitar 10 hari sebelum melahirkan. Beberapa jam setelah para wanita tersebut melahirkan, reaksi bayi mereka terhadap bau coklat lebih tampak dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar bau tersebut sebelumnya.

Paparan terhadap sebuah aroma di masa antenatal dan setelah melahirkan diyakini dapat meningkatkan kenikmatan terhadap rasa tersebut, selama masa penyapihan maupun setelah mereka dewasa. Hal ini menjelaskan mengapa berbagai negara memiliki preferensi budaya dan etnis tertentu terhadap makanan dan rasa. Seorang anak Indonesia, misalnya, tumbuh dengan preferensi rasa yang berbeda dengan anak-anak Perancis, China, atau India – dan kegemaran tersebut dapat disebabkan oleh tereksposnya anak-anak terhadap rasa cairan amniotik yang pertama kali mereka rasakan.

Menjaga kebiasaan makan sehat dan seimbang selama masa kehamilan penting untuk memberi makanan si kecil yang sedang tumbuh. Namun, dengan Anda menganut kebiasaan makan makanan yang bervariasi, si kecil nantinya akan lahir dengan kebiasaan menikmati makanan sehat. Dengan makan yang benar, Anda dapat menghapus kemungkinan si kecil menyukai permen dengan kegemarannya pada brokoli.

Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Keith L. Moore, et al. 2000. Fetal Growth and Development. The South Dakota Departement of Health.

  2. Women Health Care Physicians. 2015. Prenatal Development: How Your Baby Grows During Pregnancy. The American College of Obstetric and Gynecology.

  3. Giussepe M, et al. 2015. Pregnancy, Embryo Fetal Development and Nutrition: Physiologi around Fetal Programming. Journal of Histology and Histopatology: University of Catania: Italia.

  4. Deki Pem. 2015. Factors Affecting Early Childhood Growth and Development: Golden 1000 ages. Medical Science University of Bhutan: Bhutan.

  5. J A Dipietro. 2008. Prenatal Development. Johns Hopkins University: Baltimore.

Mengapa Ibu Hamil Keranjingan Makan?

You are what you eat

tapi apa maksudnya bila tiba-tiba Anda makan pisang dengan saus?

 

Dalam banyak kejadian, ciri-ciri hamil digambarkan dengan keranjingan makan es krim dan acar. Kita juga kerap mendengar seorang teman yang tiba-tiba kepingin makan banyak daging merah atau tiba-tiba tidak suka kopi sama sekali. Bahkan, 75 persen dari ibu hamil (bumil) akan doyan ngemil jenis-jenis makanan tertentu sampai usia kehamilannya mencapai 40 minggu.

Mungkin Anda tidak heran kalau mendengar bahwa keranjingan makan yang sering terjadi adalah ngemil yang manis-manis, berlemak, seperti coklat atau kue donat; juga keranjingan terhadap cemilan asin dan berbumbu. Tetapi jenis makanan yang disuka bumil ini bervariasi, tergantung pada latar belakang masing-masing. Di Tanzania, misalnya, bumil umumnya akan senang makan daging, mangga, yogurt, dan buah jeruk. Sementara di Kamboja, para bumil senang ngemil makanan yang gurih dan berbumbu.

Sebaliknya, ada ibu hamil yang tidak suka makan dan merupakan hal yang juga mengejutkannya dengan keranjingan karena perubahan kebiasaan dari saat sebelum hamil. Datang tiba-tiba dan sulit dikontrol. Anda bisa jadi hanya inginkan roti gosong dengan olesan tebal mentega tak peduli siang atau malam.

Kapan kesukaan atau justru penolakan terhadap makanan itu terjadi? Doyan ngemil umumnya terjadi pada kehamilan pertama, meski para ahli tidak dapat menentukan kapan tepatnya kebiasaan ini dimulai. Sementara 60% dari kasus tidak doyan makan dimulai pada trimester pertama kehamilan, tepatnya ketika mual-mual mulai timbul, menurut sebuah jurnal yang membahas mengenai appetite. Tidak doyan makan umumnya tidak menimbulkan masalah setelah trimester pertama, tetapi keranjingan justru bisa berkelanjutan sepanjang masa kehamilan.

Sebuah studi lain dari University of Connecticut memperlihatkan bahwa perempuan lebih banyak mengonsumsi makanan yang manis di trimester kedua dan keranjingan makanan gurih seiring bertambahnya usia kandungan.

Apa yang terjadi? Beberapa ahli mengatakan bahwa keranjingan makan ini sebenarnya adalah intuisi tubuh ketika terjadi kekurangan nutrisi. Perilaku keranjingan makanan berbahan dasar susu pada bumil dianggap biasa karena rata-rata perempuan mengonsumsi hanya tiga perempat dari kebutuhan kalsium hariannya. Tidak demikian halnya dengan kesukaan terhadap makanan gurih. Tubuh Anda memang membutuhkan lebih banyak sodium karena volume darah yang meningkat, tetapi pada umumnya kita sudah mengonsumsi terlalu banyak garam. Namun, belum ada bukti yang mendukung teori ini.

Teori lain menyebutkan bahwa tidak doyan makan adalah mekanisme perlindungan ibu dan bayinya terhadap racun-racun dari lingkungan sekitar. Lihatlah berapa banyak perempuan yang tiba-tiba mual dengan kopi, terutama di minggu-minggu awal kehamilan. Bumil juga mungkin tidak doyan sayuran pahit atau beraroma tajam, dan itu justru menghindari bumil dari keracunan.

Penyebab lain dari dua perilaku seputar kebiasaan makan bumil adalah perubahan hormon tubuh. Para ahli meneliti keranjingan makan dalam kaitannya dengan kadar progesteron dan prolaktin, yang dapat memengaruhi nafsu makan. Perubahan hormon ini berpengaruh pada sensitivitas terhadap bau dan rasa, dan berkaitan erat dengan tekstur makanan yang dikonsumsi bumil. Es adalah makanan favorit bumil karena rasa lezatnya, juga efek dingin dan menyegarkannya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa doyannya bumil terhadap makanan dipengaruhi oleh pola pikir kita tentang apa yang harus dimakan, misalnya buah dari produk-produk susu yang berefek mendinginkan, atau hal-hal klise yang sering kita lihat di televisi. Perilaku ini bertambah intensif saat bumil gelisah. Memang menggoda untuk mengalihkan pikiran ke makanan. Banyak bumil memilih cemilan anak-anak yang cenderung hambar, misalnya keju dan roti bakar, puding beras, atau pasta dengan butter. Ada hal positif disini, karbohidrat akan meningkatkan kadar hormon serotonin yang akan membuat Anda lebih rileks.

Namun, perilaku keranjingan ini bisa menggila. Beberapa bumil bisa berjingkat-jingkat ke dapur di malam hari dan makan kerak makanan di dinding panci atau mengendus semir sepatu. Perilaku semacam ini disebut pica, keranjingan hal-hal yang bukan makanan, misalnya bau tanah dan pasta gigi. Fenomena seperti ini ditemui di berbagai budaya, bahkan terjadi sejak lama. Dalam beberapa tradisi, perilaku keranjingan ini dinanti-nanti, bahkan didorong sebagai semacam perlindungan atau pertanda baik. Sebuah studi tahun 2000, para ibu di Mexico mengatakan bahwa memakan segumpal tanah liat suci akan mendatangkan berkah. Dan barangsiapa menolak ngidam, maka bayinya tidak akan pernah puas (lahir dengan mulut ngiler), dan bila ngidamnya dipenuhi maka bayinya akan senang dan bersih.

Jadi, haruskah Anda menolak ngidam? Ya, jika Anda ngidamnya membaui asap mobil atau ngemil batu bata, mungkin Anda harus bicara dengan dokter apakah Anda kekurangan nutrisi tertentu. Namun tidak ada data yang mendukung bahwa ngidam berakibat buruk pada bayi. Yang Anda harus lakukan adalah menggantinya dengan sesuatu yang lebih menyehatkan; makan sedikit tetapi sering karena kadar gula dalam darah yang rendah akan memicu keinginan ngemil. Makan lebih banyak ikan juga dapat membantu karena minyak dari ikan tersebut akan mengurangi keinginan Anda untuk ngemil.

Jika Anda sangat ingin makan coklat, Anda mungkin sedang kekurangan zat magnesium dan cobalah ngemil biji (kuaci) bunga matahari. Keletihan juga dapat meningkatkan keinginan ngemil, jadi Anda sebiknya tidur cukup di malam hari dan istirahat di siang hari. Dan yang penting adalah semangati diri Anda untuk melalui tahap yang aneh, tetapi sangat berarti dalam kehamilan Anda.

Penulis:
Reqgi First Trasia, dr.

 

Referensi :
1. Ministry of Health. 2006. Food and nutrition guidelines for Healthy Pregnant and Breastfeeding Women. Wellington : New Zealand.
2. Crawley, Helen. 2014. Eating well for Healthy Pregnancy: A Practical Guide. Queens Road : London.
3. National Health and Medical Research Council. 2007. Healthy Eating during your Pregnancy. Departement of Health and Aging : Australian Government.
4. Australian Dietary Guidelines. 2008. Food Savety during Pregnancy. Departement of Food Authority : New Zealand.
5. Williamson, C.S. 2006. Nutrition in Pregnancy. British Nutrition Foundation : London.

Probiotik untuk Bayi?

Saya menjadi semakin percaya terhadap pemberian probiotik pada anak. Bukan karena apa-apa dan juga bukan karena saya mendukung pihak tertentu. Probiotik, pada dasarnya adalah bakteri “baik” hidup yang kita konsumsi sebagai suplemen makanan (biasanya Lactobacillus Acidophilus di Amerika Serikat). Saat ini probiotik semakin banyak tersedia dan semakin sering direkomendasikan oleh para dokter.

Peran Probiotik Untuk Bayi

Peran mikroba di dalam kesehatan kita adalah topik yang seru. Probiotik diduga dapat meningkatkan kesehatan usus dengan cara mengembalikan atau meningkatkan jumlah bakteri baik sementara secara bersamaan dia juga menurunkan populasi bakteri yang berbahaya.

Bakteri di dalam usus merupakan bagian normal dari kesehatan saluran pencernaan, tetapi jumlah populasi bakteri dalam usus kita dapat berubah karena penyakit, penggunaan antibiotik, makanan yang dimakan/ dimodifikasi, ataupun perubahan-perubahan lain dalam hidup kita. Apa yang kita makan dan kemana kita pergi untuk minum air, mengubah apa yang hidup di usus kita. Penelitian juga menemukan dimana bakteri yang hidup bersama di tubuh kita dapat mempengaruhi penyakit-penyakit lain di luar usus seperti eksema, alergi, dan/atau asma.

Probiotik

Probiotik sebagai Bakteri ‘Baik’

Pada anak-anak, suplemen probiotik dapat mendukung penyembuhan dari diare akut dengan cara menurunkan jumlah episode diare dan lamanya waktu diare. Probiotik juga dapat mencegah munculnya diare pada anak-anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik. Kenyataannya adalah banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi populasi bakteri dalam tubuh kita. Hal ini dimulai sejak seseorang lahir. Kita mengetahui contoh pada bayi-bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar memiliki populasi bakteri yang berbeda pada tinja mereka ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara normal, dalam waktu seminggu setelah dilahirkan. Jadi sejak dari awal, pilihan-pilihan yang kita buat (atau yang orang tua kita buat) dapat mengubah lingkungan di dalam tubuh kita. Hal ini pada akhirnya dapat mengubah kesehatan kita. Sejumlah dokter mempelajari efek probiotik pada bayi kolik…

Probiotik sering ditemukan secara alami pada makanan (yogurt dengan kultur aktif) sementara beberapa yogurt dan makanan yang diperdagangkan (termasuk susu formula bayi) memiliki kultur probiotik tambahan (fortified by additional cultures). Anda juga dapat membeli kapsul Lactobacillus (atau probiotik lain) di toko obat dan makanan sehat. Seberapa aktif, dan seberapa banyak probiotik yang tersisa di dalam produk-produk ini? Ini masih menjadi perdebatan.

Di Amerika Serikat, suplemen probiotik (dan makanan yang difortifikasi dengan kultur) tidak diregulasi oleh FDA. Tidak diketahui berapa banyak bakteri yang ada di dalam sebuah kapsul probiotik dan mungkin juga ada perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya dari hari ke hari. Dan jika kultur probiotik mati, mereka hanya sedikit berpengaruh untuk mendorong perubahan di dalam tubuh. Sebagai konsumen, adalah mustahil untuk mengetahui apakah suplemen tersebut masih hidup.

Seperti yang telah dikatakan, walaupun pilihan probiotik di Amerika Serikat terbatas, literatur dan penelitian tentang mengubah bakteri pada seorang anak untuk menjaga kesehatan dan kebugaran mereka merupakan hal yang sangat menarik dan menjanjikan. Selain Lactobacillus, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat mengenai probiotik. Tapi, kami belajar sangat banyak dari rekan kami di Eropa. Risiko pemberian suplemen bakteri baik ini terbukti sangat rendah pada anak-anak dengan sistem imun yang sehat. Namun seperti hal lainnya dalam ilmu kesehatan anak, secara teoritis, selalu ada resiko ketika kita mencoba untuk mengintervensi hasil penelitian ini.

Sebuah penelitian Italia pada jurnal Pediatrics menguji keuntungan probiotik untuk bayi yang rewel atau kolik. Para peneliti menemukan hasil positif pada bayi-bayi ASI yang menerima dosis harian Lactobacillus reuteri. Di Eropa, probiotik diregulasi dengan lebih hati-hati dibandingkan dengan di Amerika Serikat (dan juga Indonesia). Jadi, terdapat kemungkinan data/ penelitian ini tidak dapat diaplikasikan kepada bayi-bayi kita karena kita tidak memiliki akses kepada suplemen yang sama. Tapi bacalah apa yang mereka temukan.

Pada penelitian tersebut:

  • Kolik ditetapkan menggunakan aturan 3 (rule of 3’s). Bayi kolik didefinisikan dengan usia dibawah 3 bulan yang menangis lebih dari 3 jam sehari, lebih dari 3 hari seminggu selama paling sedikit 3 minggu.
  • Sekitar 50 bayi kolik yang ASI eksklusif dikelompokkan secara acak ke dalam 2 kelompok. Satu kelompok bayi diberi suplemen plasebo/inert tanpa probiotik, sementara kelompok yang lain mendapatkan Lactobacillus setiap hari. Para orang tua dan peneliti tidak mengetahui bayi mana yang mendapatkan bakteri (penelitian double blind).
  • Diantara bayi kolik yang menerima probiotik, terdapat pengurangan yang bermakna terhadap lamanya waktu menangis harian pada akhir penelitian (21 hari) dibandingkan dengan kelompok plasebo.
  • Tangisan semakin membaik pada akhir penelitian di kedua kelompok, seperti yang diharapkan dengan kolik.
  • Peneliti juga menganalisa tinja dari kedua kelompok bayi dan menemukan populasi bakteri yang berbeda antara kelompok bayi. Mereka yang diberi probiotik memiliki jauh lebih banyak Lactobacillus di tinja mereka.
  • Para peneliti berteori bahwa perubahan lingkungan usus (bakteri, amonia) mungkin telah mengubah pengalaman sensorik pada bayi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perilaku menangis mereka.

Sulit membuktikan bahwa bakteri yang diberikan kepada bayi-bayi inilah yang bertanggung jawab langsung terhadap perbaikan tangisan tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok benar-benar terlihat. Dan walaupun terasa “aneh” bagi orang tua untuk memberi makan anak mereka dengan bakteri, setelah kami mendiskusikan keuntungannya, banyak orang tua yang memilih memberikan suplemen Lactobacillus kepada anak-anak mereka karena biayanya yang rendah dan mudah diberikan (dapat ditaburkan pada apa saja).

Jika bayi anda sering menangis dan anda mulai khawatir akan kolik, anda bisa berdiskusi dengan dokter anak anda untuk memulai pemberian suplemen Lactobacillus. Dengan risiko yang rendah, pemberian probiotik akan meredakan tangisan anak anda dan itu hal yang bagus bagi semua orang. Intinya adalah saya tidak berpikir probiotik akan berbahaya bagi bayi yang rewel, dan ini adalah penelitian baru yang mengindikasikan hal tersebut dapat benar-benar membantu.
Kalau begitu, berilah sesendok bakteri untuk bayi Anda!

DoctorMums Headshot

Written by Dr. Wendy Sue Swanson, pediatrician, Executive Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital and author of the Seattle Mama Doc Blog & Mama Doc Medicine. Learn more by following her onTwitter (@SeattleMamaDoc) and Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

Artikel diterjemahkan oleh Farah Suraya, dr. dengan izin dari Seattle Mama Doc. Artikel asli : http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/a-spoonful-of-bacteria-for-baby/

Referensi

Savino F, Cordisco L, Tarasco V, Palumeri E, Calabrese R, Oggero R, et al. Lactobacillus reuteri DSM 17938 in Infantile Colic: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Pediatrics. 2010 Sep 1;126(3):e526–33.

Gizi Anak Sekolah

7 Rekomendasi Gizi Untuk Anak Sekolah

Anak sekolah menurut WHO (World Health Organization) ialah anak yang berusia antara 7-15 tahun. Pada masa ini nafsu makan dan kebutuhan nutrisi anak meningkat secara alami. Hal ini disebabkan karena anak masih dalam masa pertumbuhan dan aktivitas anak semakin padat. Namun, dalam periode ini pemberian asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Anak mulai mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya termasuk dalam hal jajan dan pemilihan makanan. Bila orangtua kurang jeli memperhatikan konsumsi anak, dikhawatirkan makanan pilhan anak yang kurang sehat mungkin dapat mengakibatkan penyakit dan mengganggu perkembangan potensinya.

Tantangan Seputar Makan Pada Anak Sekolah

Saat anak mulai mengeksplorasi dunia sekolah, anak mulai ingin mencicip-cicipi sesuatu hal yang baru. Ia juga mulai punya selera sendiri tentang makanan kesukaan. Makanan yang ia pilih biasanya dipengaruhi oleh kondisi tubuhnya sendiri (misal ada penyakit alergi tertentu) dan lingkungan sekitarnya. Tentu yang terdekat ialah kebiasaan di keluarga. Selain itu, pengaruh dari teman sebaya, iklan di media massa, atau tren sosial juga mempengaruhi apa yang ia hendak makanan. Sayangnya, tidak semua pengaruhi ini berdampak baik. Terkadang anak juga terjebak dalam memilih jajanan yang tidak sehat. 

Menurut Kepmenkes RI no 942, jajanan ialah :

Makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual kepada masyarakat selain yang disajikan jasa boga, rumah makan, atau hotel.

Anak yang terbiasa untuk jajan cenderung malas makan makanan yang bergizi. Selain itu, tidak jarang kita temukan anak yang menderita diare, sakit perut, bahkan dirawat karena demam tifoid. Tentu bukan hanya mempengaruhi performa sekolah dan kecerdasan anak. Jajanan yang kurang sehat bisa jadi menimbulkan dampak serius yang mengancam kesehatan. Beberapa penyebab anak suka jajan antara lain:

  • Faktor dalam keluarga, misalnya orangtua yang kurang jeli memperhatikan makanan anak, orangtua yang terlalu sibuk atau kebiasaan makan yang kurang baik di keluarga.
  • Faktor dari anak sendiri, seperti kejiwaan dan selera yang berbeda-beda.
  • Makanan itu sediri, seringkali bentuk dan rasa jajanan lebih menarik perhatian anak dan lebih gurih

Menanggapi hal ini, penting bagi orangtua untuk lebih jeli mengawasi pola makan anak sehari-hari. Pahami rekomendasi gizi untuk anak sekolah agar ia mendapatkan nutrisi yang optimal

Rekomendasi Gizi Anak Sekolah

Ada lima rekomendasi gizi yang perlu diperhatikan untuk anak sekolah, yaitu:

1. Konsumsi menu gizi seimbang.
Pada prinsipnya anak sekolah harus mengonsumsi menu gizi seimbang yang terdiri semua zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Untuk memenuhi gizi seimbang anak sekolah, konsumsi makanan pokok seperti nasi, pasta, kentang; sumber protein seperti ikan, ayam, daging; sayur dan buah; sumber lemak yang sehat; dan air.

gambar piramida makanan & pedoman gizi seimbang

Pedoman Gizi Seimbang

2. Sesuaikan konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi.

Kebutuhan gizi anak berbeda untuk setiap umur, jenis kelamin dan aktivitas. Secara garis besar, kebutuhan kalori anak sekolah berkisar antara :

  • 4-8 tahun : 1,200-1,400 kalori
  • 9-13 tahun (perempuan): 1,600 kalori
  • 9-13 tahun (laki-laki): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (perempuan): 1,800 kalori
  • 14-18 tahun (laki-laki): 2,200 kalori

Kebutuhan kalori ini didapatkan dari sumber karbohidrat, lemak dan protein. Karbohidrat merupakan sumber utama energi yang digunakan tubuh. Anak perlu mengkonsumsi karbohidrat 45-65% dari total kalori yang diperlukan.

Lemak juga diperlukan untuk sumber energi, mengangkut vitamin dan sumber asam lemak esensial (lemak yang tidak bisa dihasilkan dari tubuh). Sebanyak 60% dari otak anak ialah lemak. Kebutuhan lemak total untuk anak sekolah ialah 23-35% dari kebutuhan kalori.

Protein juga penting dipenuhi untuk pertumbuhan yang optimal, pengaturan hormon, sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Anak sekolah perlu mengkonsumsi 10-30% dari total kalori yang dibutuhkan.

Selain kalori, anak juga membutuhkan vitamin dan mineral seperti besi, zinc dan kalsium. Anak sekolah usia 7-15 tahun membutuhkan kalsium 1.000-1300 mg per hari. Itu merupakan kebutuhan tertinggi sepanjang hidup mereka karena pada usia tersebut anak dalam pertumbuhan tinggi badan yang pesat sehingga membutuhkan kalsium yang banyak untuk pertumbuhan tulangnya. Kebutuhan zat besi pada anak perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena zat besi dibutuhkan untuk persiapan periode mentruasi bagi wanita.

Berikut ini contoh takaran harian makanan anak sekolah:

anak skolah

Takaran piring setiap anak makan kira-kira memenuhi kaidah ini. 1/2 porsi diisi dengan sayuran, 1/4 sumber protein (tahu, tempe, ikan, ayam, daging, dsb), 1/4 piring lagi diisi sumber karbohidrat (misal nasi). Jadi bukan lebih banyak karbohidrat. Tentu takaran piring ini disesuaikan dengan kebutuhan anak yah, ayah ibu.

meal_plan3

Proporsi Piring Anak Sekolah

3. Selalu sarapan pagi.
Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi di sekolah. Hal ini disebabkan saat bangun pagi, gula darah dalam tubuh anak cenderung menurun karena metabolisme tubuh tetap bekerja saat anak tidur.

4. Sediakan cemilan

Cemilan ialah makanan selingan di antara sarapan, makan siang dan makan malam. Cemilan juga penting sebagai komponen gizi anak. Sehingga menyediakan cemilan sehat perlu direncanakan sebagai bagian dari kebutuhan kalori. Contoh cemilan sehat misalnya buah segar, keju, biskuit, susu, 100% jus buah, yoghurt, dl.

5. Hindari minuman manis

Minuman manis mengandung gula yang amat banyak. Sehingga bisa menyebabkan obesitas pada anak. Minuman manis juga mengurangi nafsu makan anak terhadap makanan/minuman sehat seperti susu. Contoh minuman mans misalnya sirup, minuman soda, teh, minuman kaleng/kemasan, minuman buah, dsb. Anak paling baik minum air putih dibandingkan minuman manis.

6. Makanan segar lebih baik

Makanan yang terlalu gurih karena penguat rasa atau pemanis buatan dapat menyebabkan rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan. Sehingga selera makan anak terhadap makanan sehat bisa saja berkurang. Meskipun masih kontrovesial, pengawet, pewarna atau pemanis buatan juga diduga kurang baik terhadap kesehatan anak.

 7. Pastikan keamanan makanan!

Ada dua hal yang penting orangtua perlu perhatikan terkait keamanan makanan, yaitu resiko tersedak dan infeksi. Pada anak yang lebih muda, hindari makanan yang mudah membuat tersedak. Ajari anak untuk duduk yang baik dan tidak bicara saat mengunyah makanan. Perhatikan juga kebersihan makanan. Selalu cuci tangan dan bersihkan alat makan sebelum menyajikan makanan pada anak. Biasakan juga untuk mengajaknya cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Hati-hati dengan jajanan di sekitar lingkungannya. Lebih aman membawakan anak bekal jika Anda tidak yakin dengan kebersihan jajanan di sekolah anak.

Semoga bermanfaat.
Reqgi First Trasia, dr.

11/26/2015

Referensi :

  1. Robert Russels, et al. 2001. Dietary Reference Intakes for Vitamin and Mineral. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington.
  2. United States Department of Agriculture and Health and Human Services. 2010. Dietary Guidelines for Americans. Washington DC.
  3. Vernon, R Young, et al. 1998. Dietary Reference Intakes of Vitamin and Minerals. Institute of Medicine. National Academy Press. Washington DC.
  4. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
  5. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
  6. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
  7. Childhood Nutrition [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Childhood-Nutrition.aspx
  8. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
  9. The Truth about 7 Common Food Additives [Internet]. WebMD. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.webmd.com/diet/the-truth-about-seven-common-food-additives
Perilaku Makan

Perilaku Makan yang Salah Pada Anak Sekolah

Ketidaktahuan akan gizi yang baik pada anak ataupun orang tua menyebabkan anak sekolah sering berperilaku salah dalam mengonsumsi zat gizi. Berikut beberapa perilaku gizi yang salah pada anak sekolah.

Perilaku Makan yang Salah

  1. Tidak Mengonsumsi Menu Gizi Seimbang
    Menu gizi seimbang seharusnya menjadi pedoman bagi pola makan anak sekolah. Saat makan harus selalu tersedia:
    Sumber karbohidrat : nasi, roti, kentang, sereal
    Sumber protein : ikan, telur, daging, tempe, tahu
    Sumber lemak : margarine, minyak goreng
    Sumber vitamin-mineral : sayuran dan buah
    Untuk menyempurnakan ditambah dengan segelas susu.
  2. Tidak Sarapan Pagi  Makan pagi mempunyai peran penting bagi anak sekolah usia 6-14 tahun, yaitu untuk pemenuhan gizi di pagi hari dimana anak-anak berangkat sekolah dan memiliki aktivitas yang padat di sekolah. Apabila anak terbiasa makan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung prestasi belajar anak ke arah yang lebih baik.
  3. Jajan Tidak Sehat di Sekolah. Jajanan di sekolah bisa jadi kurang aman dari segi kebersihan atau produk kimianya. Apalagi beberapa pekan terakhir ini Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengungkapkan temuan tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia sekolah harus diperhatikan secara cermat dan serius.
  4. Kurang Mengonsumsi Buah dan Sayur. Anak sekolah di Indonesia umumnya kurang mengonsumsi sayuran. Ini disebabkan kurangnya kesadaran anak dan orang tua akan pentingnya zat gizi dari buah dan sayuran. Hal ini merupakan pola makan yang salah karena jelas tidak memenuhi gizi seimbang. Anak sekolah dapat mengalami kekurangan vitamin dan mineral yang berdampak pada tidak optimalnya pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak.
  5. Mengonsumsi Fast Food dan Junk Food. Makanan tersebut tidak memenuhi gizi seimbang, bahkan berbahaya bagi kesehatan karena padat kalori dan tingginya kandungan lemak, terutama asam lemak jenuh yang akan mengakibatkan kegemukan dan tingginya kolesterol dalam darah.
  6. Konsumsi Gula Berlebihan. Kelebihan konsumsi gula dapat mengakibatkan karies gigi dan diabetes. Karies gigi berasal dari mikroba yang mengfermentasi karbohidrat, sehingga terbentuk asam yang menyebabkan demineralisasi gigi. Hasil Riskesdas 2007, prevalensi anak usia di atas 10 tahun mengonsumsi makanan manis sebanyak 68,1%.
  7. Konsumsi Garam Berlebihan. Kelebihan konsumsi garam dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah meningkat. Akibatnya, volume dan tekanan darah naik sehingga mempermudah terjadinya hipertensi.
  8. Konsumsi Lemak Berlebihan. Bukti yang kuat menunjukkan bahwa asupan yang berlebihan dari asam lemak jenuh, asam lemak trans, dan kolesterol dapat menjadi plak yang menghambat aliran darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Depok, 4 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 11/14/2015

Referensi :
1. Girard M, et al. 2009. Breakfast Skipping is Associated with Differences in Meal Patterns Macronutrients Intakes and Overweight Among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume 12, Issue 1, pg 19-28. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18346309
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Judarwanto. 2006. Antisipasi Perilaku Makan Anak Sekolah. Rumah Sakit Bunda. Jakarta.

6 Langkah Mengatasi Masalah Gizi Anak

Masalah gizi anak, baik gizi kurang atau lebih, termasuk masalah yang sering dialami orangtua. Tentu perkara gizi tidak bisa diabaikan begitu saja. Gizi menjadi salah satu fondasi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Berikut poin-poin penting cara mengatasi masalah gizi pada anak yang perlu orangtua ketahui:

  1. Lakukan secara terus menerus evaluasi status gizi anak dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi anak, serta membandingkannya dengan diagram dari WHO. Bila anak berada dalam status gizi kurang atau lebih, segera konsultasikan dengan petugas kesehatan. Selengkapnya tentang cara membaca kurva WHO di sini.
  2. Perbanyak pengetahuan gizi bagi orang tua. Orang tua harus punya pengetahuan gizi karena gizi anak sangat ditentukan oleh orang tua sebagai pengasuh anak. Biasakan membaca buku-buku tentang gizi dan kesehatan anak, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dan kesehatan.
  3. Beri anak pendidikan gizi. Biasakan untuk memberikan informasi tentang makanan sehat dan bergizi pada anak. Orang tua bisa memberikan contoh makanan sehat dan makanan tidak sehat.
  4. Berikan anak menu gizi seimbang. Pilih makanan yang sehat buat anak, biasakan memasak sendiri makanan untuk anak agar bisa diketahui nilai gizinya.
  5. Hindari kebiasaan memberi makanan siap saji pada anak karena biasanya tidak segar, zat gizinya kurang lengkap karena tidak memenuhi syarat gizi seimbang, bahkan banyak mengandung zat berbahaya seperti pengawet, pewarna, dan penguat rasa.
  6. Latih anak untuk selalu mengonsumsi sayuran dan buah. Hindari jajanan yang mengandung banyak gula karena akan membuat anak merasa kenyang sebelum makan.

Selamat mencoba!

10/21/2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
2. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
3. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
4. Kementerian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Menteri tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta.
5. Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Gizi dan Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Tulang berfungsi menopang badan, melindungi alat tubuh yang vital seperti otak dan paru-paru. Tulang juga merupakan parameter penentu tinggi badan. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya memiliki tinggi badan yang ideal.

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa penting pertumbuhan dan pembangunan tulang. Sebesar 45% pertumbuhan massa tulang terjadi pada usia 0-10 tahun. Pada masa itu, tulang tumbuh memanjang. Ketika remaja, sekitar 45% massa tulang dewasa terbentuk sampai usia 18 tahun. Anak disebut pendek apabila tinggi per umur di bawah normal.

Gizi adalah batu bata penopang pertambahan tinggi badan yang merupakan salah satu indikator status gizi anak. Anak yang terbiasa memilih makanan kesukaan tanpa mempertimbangkan kandungan gizi, akan mengakibatkan terhambatnya pertambahan tinggi badan. Penelitian menunjukkan bahwa protein, vitamin, dan mineral mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan tinggi badan.

Protein
Setiap sel dalam tubuh kita mengandung protein. Pada tulang, protein berfungsi dalam pembentukan jaringan tulang yang baru dan penggantian jaringan tulang yang rusak. Protein juga berfungsi memperkuat otot sekitar tulang, sehingga tulang terpelihara.

Kalsium
Kalsium merupakan mineral terbanyak dalam tubuh dan 99% terdapat dalam tulang dan gigi. Sisanya terdapat dalam darah dan jaringan lunak. Kalsium berperan sebagai penyusun sel tulang, mendukung kerja sel osteoblas (pembentuk tulang), mengeraskan dan menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.

Fosfor
Fosfor berfungsi dalam mineralisasi tulang dan gigi. Sebanyak 80% fosfor tersimpan dalam tulang. Kristal mineral dibentuk selama kalsifikasi (pengerasan) tulang yang terdiri dari kalsium fosfat, komponen utama mineral kompleks yang membentuk struktur dan kekuatan pada tulang.

Vitamin D
Vitamin D membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta mineral. Vitamin D berfungsi membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.

Magnesium dan Seng
Magnesium berfungsi untuk mineralisasi dalam tulang. 50% magnesium tubuh terdapat dalam tulang. Seng berperan dalam pertumbuhan sel dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan tinggi badan. Keduanya berperan dalam pelekatan kalsium dan mineral lain di antara serat protein, sehingga memberikan kekuatan pada tulang.

Yodium
Bagian dari hormon tiroid ini berfungsi mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretinisme yang ditandai dengan tubuh yang kerdil, serta retardasi mental.

Depok, 6 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Kalkwarf et al. 2010. Tracking of Bone Mass and Density During Childhood and Adolescence. The Endocrine Society.
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
5. Bataviase. 2010. Protein dan Olahraga Cegah Patah Tulang. Bataviase. Jakarta

6 Akibat Gizi Lebih Pada Anak

Dulu banyak orang tua menyenangi anak gemuk karena dianggap lucu dan menggemaskan. Kini diketahui bahwa kegemukan pada anak merupakan faktor pencetus terjadinya penyakit dan menurunkan usia harapan hidup. Gizi lebih akan berakibat timbulnya berbagai penyakit degeneratif.

Akibat Negatif Gizi Lebih Pada Anak

1. Memicu Depresi
Anak akan depresi karena bentuk tubuhnya tidak ideal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada pandangan buruk terhadap anak yang mengalami kegemukan. Anak sering diejek, susah berteman, dan tidak diikutsertakan dalam aktivitas tertentu, seperti olahraga, karena dipandang lamban yang akan menjadi titik lemah dalam tim.

2. Merusak Liver (Hati)
Saat lemak mulai menumpuk dalam tubuh, maka hati akan mendapatkan pengaruhnya. Penelitian mencatat kasus penyakit liver yang dapat menyebabkan sirosis, gagal hati, atau kanker hati kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak di negara maju seperti Amerika, Eropa, Australia, dan bahkan ada pula di beberapa negara berkembang.

3. Penyakit Jantung Koroner
Gizi lebih mengakibatkan kelebihan kalori dalam tubuh disimpan dalam bentuk lemak. Bila lemak dalam darah tinggi, biasanya dalam bentuk kolesterol dan trigliserida, maka akan terbentuk plak sehingga aliran darah dalam pembuluh tidak lancar. Akibatnya, jantung harus bekerja keras untuk memompa darah. Bila kondisi ini berjalan terus, akan memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

4. Diabetes
Diabetes dipicu oleh tingginya kadar gula dalam darah. Konsumsi sumber karbohidrat dan gula yang tinggi akan menyebabkan kadar gula darah naik. Akibatnya, insulin tidak mampu memetabolisme gula darah secara optimal sehingga sel kekurangan energy. Pada saat yang bersamaan, simpanan glikogen dalam hati akan dilepas ke pembuluh darah. Akibatnya, kadar gula darah semakin tinggi, tetapi tidak dapat dimetabolisme, sehingga orang yang bersangkutan makin kurus.

5. Stroke
Stroke diawali oleh profil lemak, seperti kolesterol dan trigliserida yang tinggi. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala defisit fungsi susunan saraf yang disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah di otak. Ditandai dengan kematian sebagian jaringan otak yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Gejalanya berupa kaku, menurunnya fungsi sensorik, kemampuan membau, mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu, lidah lemah, daya ingat menurun, dan kebingungan.

6. Osteoarthritis
Kegemukan mengakibatkan gangguan pada sendi, terutama sendi lutut, karena lutut terbebani oleh berat badan yang berlebih. Hal ini dapat menyebabkan tulang rawan pada sendi menipis. Akibatnya, pergerakan sendi menjadi terbatas dan terasa nyeri, bahkan bisa menyebabkan peradangan. Inilah yang disebut osteoarthritis.

Depok, 2 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Dubois L, et al. 2007. Social Factors and Television Use During Meals and Snacks is Associated with Higher BMI among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume II, Issue 12, pg 1267-1279
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional. Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/08/Beban-ganda-masalah-gizi.pdf

Susu sapi berbahaya. Benarkah?

“Awas! Susu sapi hanya untuk sapi!”. Isu viral ini mungkin pernah kita dapat dari internet atau berita broadcast. Tidak tanggung-tanggung, para pakar anti-susu ini menyorot bahwa susu sapi dapat menyebabkan kanker, alergi, dan menghasilkan radikal bebas. Padahal, sejak dulu masyarakat selalu didorong untuk minum susu. Lalu, manakah sebenarnya pendapat yang benar?

Manfaat vs Resiko

Saat ini memang terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai manfaat susu dari para ahli. Di satu sisi, susu sapi sudah dikenal kaya nutrisi. Kandungan lemak susu sapi yang cukup tinggi (sekitar 50% dari total kalori) bermanfaat untuk anak terutama yang memiliki asupan lemak rendah. Susu juga memberi kontribusi yang signifikan untuk kalsium, zinc, magnesium, selenium, ribovlafin, vitamin B12 dan asam pantothenat. Meskipun perlu diingat bahwa susu sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah.1–4

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi anak Indonesia saat ini ialah stunting (postur pendek). Stunting dianggap masalah karena meningkatkan resiko kecatatan anak dan gangguan perkembangan kognitif. Postur pendek ditambah berat badan lahir rendah juga merupakan faktor resiko penyakit kronik saat dewasa. Penelitian menyebutkan bahwa memberi setiap pemberian 245 ml susu pada anak meningkatkan tinggi badan sebesar 0.4 cm. Susu sapi juga berperan penting dalam mengatasi gizi kurang dan buruk baik di negara berkembang maupun negara industri.3,5,6

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa susu sapi membawa resiko kesehatan bagi anak alergi, memiliki masalah pencernaan (misalnya intoleran laktosa) atau yang mengkonsumsi secara berlebihan. Diet tinggi lemak jenuh, seperti pada susu, disertai konsumsi makanan rendah serat dan olahraga dapat menyebabkan obesitas pada anak. Secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

Susu dan Kanker

Susu dan kalsium telah diduga memegang peran yang berbeda pada tiap-tiap kanker. Beberapa komponen dari susu seperti kalsium, vitamin D, sphingolipids, asam butirat dan protein diduga melindungi tubuh dari kanker. Secara khusus, kalsium dan vitamin D dalam susu bersifat protektif terhadap kanker kolorektal (WCRF dan AICR). 7–13

Konsumsi Susu Sejak Kecil dan Resiko Kanker

Pengaruh konsumsi susu sejak kecil berfokus pada efek susu terhadap IGF-1 (hormon pertumbuhan). Diet susu hewan yang tinggi telah diketahui dapat meningkatkan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang tinggi ini dapat meningkatkan resiko kanker prostat, payudara dan kolorektal. Studi Boyd Orr menemukan bahwa keluarga yang mengkonsumsi produk kaya susu sejak kecil memiliki resiko kanker kolorektal saat dewasa, berbeda dengan temuan dari WCRF. Namun, konsumsi susu saat anak-anak tidak berhubungan dengan kanker payudara dan lambung. 5,14

Konsumsi Susu Saat Dewasa dengan Resiko Kanker

Kadar galaktosa yang tinggi, gula yang dihasilkan dari pencernaan laktosa susu, diketahui berbahaya terhadap ovarium. Meskipun hubungan langsung antara susu dan kanker ovarium tidak serempak dilaporkan, namun ada potensi yang berbahaya mengkonsumsi laktosa yang tinggi. Penelitian yang melibatkan 500.000 wanita menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi laktosa yang tinggi (setara dengan 3 gelas susu per hari) mengalami resiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak.15

Diet tinggi kalsium juga diduga menjadi faktor resiko kanker prostat. Studi dari Harvard menemukan bahwa pria dewasa yang meminum 2 gelas atau lebih susu tiap hari beresiko mengalami kanker prostat dua kali lipat dibandingkan yang tidak. Hubungan ini lebih ditekankan pada konsumsi kalsiumnya daripada produk susu secara umum. 16,17

Kesimpulan

Agar masyarakat tidak bingung, Anda perlu pahami bahwa susu hewani bermanfaat sebagai bagian diet seimbang terutama pada anak di negara berkembang. Namun, konsumsi susu berlebihan secara jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa tidak disarankan karena dapat berpotensi menimbulkan obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, sampai kanker.

Susu hewani memang tidak dapat menggantikan manfaat dari ASI. Namun, anak di atas 1 tahun dapat diberikan susu hewan full cream sebagai susu rekreasi sebanyak 2 gelas. Setelah 2 tahun, beri anak susu rendah lemak sebanyak 2-3 gelas. Untuk orang dewasa, konsumsi kalsium dan produk susu yang cukup (1-2 gelas) bermanfaat untuk kesehatan tulang, menurunkan resiko darah tinggi dan kanker kolon sebagai bagian dari diet seimbang.18

HEPApr2013-1024x800

Bagi anak atau dewasa yang tidak dapat mengkonsumsi susu hewani karena alergi atau masalah pencernaan, Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dari sumber makanan lain. Susu hipoalergenik dapat menjadi pilihan untuk anak yang alergi. Kalsium dapat ditemukan di sayuran hijau, kacang-kacangan, jus dan susu kedelai yang difortifikasi kalsium. Jangan lupa penuhi kebutuhan protein, lemak dan mikronutrien dari daging, ikan, ayam serta sayur dan buah. 18

Agustina Kadaristiana, dr. 

09/12/2015

Referensi

1. Barger-Lux, M.J, Heaney, R.P., Packard, P.T., Lappe, J.M., & Recker, R.R. Nutritional correlations of low calcium intake. Clin Appl Nutr. 1992;2:39–44.
2. Fulgoni V, Nicholls J, Reed A, Buckley R, Kafer K, Huth P, et al. Dairy consumption and related nutrient intake in African-American adults and children in the United States: continuing survey of food intakes by individuals 1994-1996, 1998, and the National Health And Nutrition Examination Survey 1999-2000. J Am Diet Assoc. 2007 Feb;107(2):256–64.
3. Michaelsen KF, Nielsen A-LH, Roos N, Friis H, Mølgaard C. Cow’s milk in treatment of moderate and severe undernutrition in low-income countries. Nestlé Nutr Workshop Ser Paediatr Programme. 2011;67:99–111.
4. Hoppe C, Mølgaard C, Michaelsen KF. Cow’s milk and linear growth in industrialized and developing countries. Annu Rev Nutr. 2006;26:131–73.
5. De Beer H. Dairy products and physical stature: a systematic review and meta-analysis of controlled trials. Econ Hum Biol. 2012 Jul;10(3):299–309.
6. Parodi PW. Cows’ milk fat components as potential anticarcinogenic agents. J Nutr. 1997 Jun;127(6):1055–60.
7. Parodi PW. Conjugated linoleic acid and other anticarcinogenic agents of bovine milk fat. J Dairy Sci. 1999 Jun;82(6):1339–49.
8. Parodi PW. Dairy product consumption and the risk of breast cancer. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):556S – 68S.
9. Parodi PW. A role for milk proteins and their peptides in cancer prevention. Curr Pharm Des. 2007;13(8):813–28.
10. Garland CF, Garland FC, Gorham ED, Lipkin M, Newmark H, Mohr SB, et al. The Role of Vitamin D in Cancer Prevention. Am J Public Health. 2006 Feb;96(2):252–61.
11. German JB, Dillard CJ. Composition, structure and absorption of milk lipids: a source of energy, fat-soluble nutrients and bioactive molecules. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(1):57–92.
12. Holt PR, Bresalier RS, Ma CK, Liu K-F, Lipkin M, Byrd JC, et al. Calcium plus vitamin D alters preneoplastic features of colorectal adenomas and rectal mucosa. Cancer. 2006 Jan 15;106(2):287–96.
13. Van der Pols JC, Bain C, Gunnell D, Smith GD, Frobisher C, Martin RM. Childhood dairy intake and adult cancer risk: 65-y follow-up of the Boyd Orr cohort. Am J Clin Nutr. 2007 Dec;86(6):1722–9.
14. Genkinger JM, Hunter DJ, Spiegelman D, Anderson KE, Arslan A, Beeson WL, et al. Dairy products and ovarian cancer: a pooled analysis of 12 cohort studies. Cancer Epidemiol Biomark Prev Publ Am Assoc Cancer Res Cosponsored Am Soc Prev Oncol. 2006 Feb;15(2):364–72.
15. Edward Giovannucci, Eric B. Rimiti, Alicja Wolk, Alberto Ascherio, Meir J. Stampfer, Graham A. Colditz, Walter C. WilleÂ. Calcium and fructose intake in relation to risk of prostate cancer. CANCER Res. 1998;(58):442–7.
16. Food, nutrition, physical activity, and the prevention of cancer: a global perspective. Washington: World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research; 2007.
17. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
18. Calcium and Milk: What’s Best for Your Bones and Health? Harv Sch Public Health [Internet]. Available from: http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/calcium-full-story/#ref15

Gizi dan Kemampuan Kognitif Anak

Perkembangan kognitif meliputi perkembagan dalam hal intelegensia dan bahasa. Kemampuan kognitif seorang anak dipengaruhi oleh faktor herediter dan non herediter. Faktor herediter bersifat statis dan sulit untuk diubah, seperti keturunan. Sedangkan faktor non herediter termasuk peran gizi, pola asuh keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Zat gizi yang dibutuhkan otak sama halnya dengan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh secara keseluruhan. Otak membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, elektrolit, dan oksigen untuk bekerja. Jadi semua zat gizi penting untuk perkembangan dan kerja otak, namun ada beberapa zat gizi yang menjadi perhatian dalam perkembangan kemampuan kognitif.

Asam Lemak Omega 3

DHA merupakan asam lemak yang termasuk dalam omega 3 telah diakui dapat membantu kecerdasan anak. DHA penting untuk membrane saraf dan kerja neurotransmitter. Penelitian menunjukkan bahwa DHA dapat menjaga kemampuan kognitif di usia lanjut pula.Makanan sumber omega 3 adalah ikan salmon, ikan tuna, ikan tenggiri, sarden, udang, kerang, minyak ikan, kepiting, kacang-kacangan (flaxeeds, walnut, kedelai), kembang kol, dsb.

sources-of-omega-3

http://www.whfoods.com/

Yodium

Yodium sangat penting untuk perkembangan otak. Yodium adalah zat gizi mikro yang paling penting dalam mencegah gangguan otak yang dapat menimbulkan penurunan kemampuan intelektual, melambatnya psikomotor, dan menyebabkan keterbelakangan mental.

Studi menunjukkan bahwa defisiensi yodium memiliki efek negatif pada kinerja kognitif anak sekolah. Gejala defisiensi yodium dapat diatasi dengan suplementasi yodium. Kemampuan kognitif anak membaik pada anak yang mendapat intervensi perbaikan status yodium. Sehingga penting memberikan anak zat gizi ini dalam garam beryodium, rumput laut, skalop, ikan cod, sarden, salmon, daging, udang, tofu, kembang kol, dsb.

iodine

http://www.whfoods.com/

Zat Besi

Otak sensitif terhadap penurunan besi yang berasal dari diet. Beberapa area otak yang penting untuk kemampuan kognitif seperti korteks, hipokampus, dan striatum lebih sensitif terhadap defisiensi besi daripada area yang lain. Besi mempengaruhi mielinisasi saraf, merupakan kofaktor sejumlah enzim yang terlibat dalam sintesis neurotransmitter, termasuk serotonin, norepinefrin, dan dopamin.

Kadar hemoglobin yang normal akan memungkinkan seseorang mempunyai ketahanan dalam berkonsentrasi pada sesuatu, terutama belajar. Studi menunjukkan nilai anak yang kurang besi lebih rendah dibandingkan nilai anak dengan zat besi yang cukup. Agar anak Anda tidak kekurangan zat besi, penuhi kebutuhannya dari daging merah, makanan laut, bayam, brokoli, ubi, dan buah-buahan seperti stroberi, semangka, kurma, dsb.

iron

http://www.whfoods.com/

Depok, 7 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 09/08/2015

Referensi:
1. Bryan J, et al. 2004. Nutrient for Cognitive Development in School Aged Children. The Journal of Nutrition Reviews, Volume 26, no 8, pg 295-306
2. Gewa AC, et al. 2009. Dietary Micronutrients are Associated with Higher Cognitive Function Gains among Primary School Children in Rural Kenya. British Journal of Nutrition, volume 101, pg 1378-1387
3. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
4. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
5. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.

Bulan Vitamin A, Bulan Februari dan Agustus

Selain mengajak buah hati merayakan HUT RI, ayah bunda jangan lupa ya membawa anaknya ke Posyandu atau Puskesmas. Loh, memangnya ada apa? Pasalnya, setiap bulan Agustus dan Februari pemerintah membagikan kapsul vitamin A lewat Posyandu dan Puskesmas untuk diberikan kepada bayi dan balita. Sehingga tidak heran bila bulan-bulan ini disebut Bulan Vitamin A. Pemberian kapsul ini juga gratis! Tapi, apa pentingnya ya?

Manfaat Vitamin A

Kita mungkin sering mendengar bahwa Vitamin A (retinol) bagus untuk kesehatan mata. Ya, ini memang benar. Sel batang (rod cell) pada retina yang bertugas untuk penglihatan di malam hari dan mendeteksi gerakan, membutuhkan vitamin A untuk dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, vitamin A amat penting untuk menjaga integritas sel mata. Sehingga, apabila kekurangan dapat menyebabkan Xerophtalmia (kekeringan pada kornea dan konjungtiva) yang bisa berlanjut pada kebutaan (rabun senja). 1

figure2

Vitamin A juga berperan dalam tumbuh kembang, menjaga keutuhan sel epitel, fungsi imun dan reproduksi. Sehingga, pada anak yang kekurangan vitamin, resiko kecatatan akibat campak dan diare juga meningkat. Bahkan, riset membuktikan bahwa defisiensi vitamin A menyumbangkan 6% kematian balita di Afrika dan 8% di Asia Tenggara. Mengingat vitamin A tidak bisa diproduksi tubuh, penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin A dari makanan. Alternatifnya ialah suplementasi bagi negara berkembang yang memiliki masalah defisiensi vitamin A.1–3

Kondisi Kecukupan Vitamin A di Indonesia

Sejak tahun 1970-an, pemerintah Indonesia rutin mengadakan program suplementasi vitamin A. Sebabnya, kekurangan vitamin A sempat menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut WHO, defisiensi vitamin A menjadi masalah apabila:

  • Persentasi retinol < 20 µg/dl lebih dari 15%
  • Persentasi Xerophtalmia (X1B) lebih dari 0,5%.

Perlu disyukuri bahwa berdasarkan hasil riset SEANUTS (South East Asian Nutrition Survey, 2011), defisiensi vitamin A tidak lagi menjadi masalah kesehatan. Namun, program pemberian vitamin A tetap penting dilakukan karena banyak anak-anak di Indonesia yang kadar serum retinol (vitamin A) berada di ambang batas kekurangan. 4–7

Kemenkes, 2013

Kemenkes, 2013

Seperti Apa Vitamin A yang diberikan Puskesmas?

Suplementasi yang diberikan ialah vitamin A dosis tinggi. Terdapat 2 jenis kapsul vitamin A yang diberikan sesuai dengan usia yaitu:5

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

sasaran

Sumber : Depkes, 2009

Kapan Suplementasi ini diberikan?

Suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara serentak :5

  • Bayi usia 6-11 bulan diberikan pada bulan Februari atau Agustus (1x dalam setahun)
  • Balita usia 12-59 bulan diberikan pada bulan Februari dan Agustus (2x dalam setahun)
Bulan Vitamin A

Pemberian kapsul di Bulan Vitamin A

Apa Efek Sampingnya?

Efek samping pemberian vitamin A dosis tinggi bisa saja muncul dalam 48 jam setelah pemberian. Namun, efek sampingnya ringan, bersifat sementara dan tidak ada dampak jangka panjang. Diantaranya ubun-ubun menonjol pada bayi, mual, muntah atau sakit kepala pada anak lebih besar yang ubun-ubunnya sudah tertutup. 3

Apakah bayi kurang dari 6 bulan dan ibu nifas perlu suplementasi?

Saat ini WHO tidak lagi merekomendasikan suplementasi vitamin A rutin bagi bayi muda dan ibu nifas. Pasalnya, dari tiga penelitian  tidak ditemukan manfaat yang berarti dari pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi muda. Sebaliknya, ditemukan efek samping seperti diare dan ubun-ubun menonjol pada bayi kurang dari 6 bulan.

Mirip halnya pada ibu nifas, pemberian retinol dosis tinggi tidak menurunkan resiko kematian ibu dan bayi. Sehingga, ibu nifas lebih disarankan untuk makan bergizi yang seimbang. Pada bayi muda juga disarankan untuk terus diberikan ASI dengan catatan ibu memperhatikan kebutuhan gizinya dan buah hati. 8,9

Apakah ibu hamil perlu suplementasi vitamin A?

Ibu hamil yang tinggal di negara dengan tingkat kekurangan vitamin A yang sangat berat baru perlu diberi suplementasi. Namun, vitamin A yang diberikan hanya dosis kecil (25000 IU/minggu selama minimal 12 minggu). Hal ini disebabkan, vitamin A dosis tinggi berpotensi menyebabkan pada janin.1

Di Indonesia sendiri ibu hamil tidak di wajibkan mendapatkan suplementasi vitamin A. Ibu hamil bisa memenuhi kebutuhan vitamin A nya dari nutrisi. Penggunaan suplementasi vitamin A saat hamil perlu dibawah anjuran dokter atau bidan.

Sumber Vitamin A

Selain mengikuti program suplementasi vitamin A dari Puskesmas, orangtua juga perlu tahu makanan kaya akan vitamin A. Karena nutrisi alami, sehat dan seimbang ialah kunci dari pemenuhan gizi. Sumber vitamin A yang sehat misalnya :

  • Produk hewani : keju, telur, ikan, susu dan yoghurt
  • Nabati : bayam merah atau hijau, wortel, ubi, paprika merah, mangga, pepaya, aprikot.

http://visionsource-auburnfamilyoptometry.com/wp-content/uploads/sites/1645/2014/09/Vitamin-A.jpg

Hati hewan memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Artinya, terdapat resiko konsumsi retinol yang berlebihan bila dikonsumsi lebih dari 1x dalam seminggu. Hal ini perlu jadi perhatian terutama bagi ibu hamil. 10

Yuk, tunggu apalagi. Mari kita sukseskan Bulan Vitamin A ini yah. 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

08/20/2015

Referensi

1. Sassan Pazirandeh, MD, David L Burns, MD. Overview of vitamin A. Uptodate. 2015 Apr 21;
2. Chapter 7. Vitamin A. FAO [Internet]. Available from: http://www.fao.org/docrep/004/y2809e/y2809e0d.htm
3. Guideline: Vitamin A supplementation in infants and children 6–59 months of age [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44664/1/9789241501767_eng.pdf?ua=1&ua=1
4. Vitamin A Supplementation A DECADE OF PROGRESS. Unicef; p. 2007.
5. PANDUAN MANAJEMEN SUPLEMENTASI VITAMIN A. DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN; 2009.
6. Dr. Sandjaja. South East Asian Nutrition Surveys Regional Overview on Nutrition & Health Trends. PERSAGI;
7. PERKEMBANGAN MASALAH GIZI DAN PENGUATAN PELAYANAN GIZI DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI INDONESIA. Jakarta: Direktur Bina Gizi Ditjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI; 2013 Oktober.
8. Guideline: Neonatal vitamin A supplementation [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44626/1/9789241501798_eng.pdf?ua=1&ua=1
9. WHO | Vitamin A supplementation in postpartum women [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.who.int/elena/titles/vitamina_postpartum/en/
10. Choices NHS. Vitamins and minerals – Vitamin A – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/vitamins-minerals/Pages/Vitamin-A.aspx

Picky Eater Berhubungan Dengan Gangguan Cemas dan Depresi

Sering sekali kita dengar keluhan orang tua mengenai perilaku balita yang picky eater atau memilih-milih makanan. Setidaknya hal itu yang dilaporkan oleh 14-20% orang tua dari penelitian baru-baru ini. Sangking banyaknya keluhan ini, praktisi kesehatan dan ilmuwan menganggap hal ini lumrah sebagai kebiasaan yang akan hilang saat anak besar. Namun, tahukah Anda bahwa penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics ini menyebutkan bahwa picky eater sedang sampai berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan pada balita. Fakta ini tentu bisa membawa perubahan besar terhadap persepsi picky eater.

picky2

“Minimnya penelitian sistematik mengenai penyebab, dampak atau tatalaksana dari picky eating ini menyebabkan dokter mengalami dilema dalam memberikan saran yang tepat. Dalam penelitian ini kami ingin mengetahui adakah kaitan perilaku picky eater dengan gangguan mental pada anak serta faktor-faktor yang terkait.”,  Helen Egger, MD., Peneliti utama dari Departement of Psychiatry and Behavioural Science, Duke University.

Untuk mengetahui kaitan tersebut, peneliti dari Duke University ini menganalisa 917 anak usia 24-71 bulan. Orang tua atau pengasuh diwawancara mengenai kebiasaan makan, gejala gangguan kejiwaan, dan kondisi lingkungan rumah.

Perilaku picky eating atau Selective Eating (SE) sendiri dikategorikan menjadi 3 : ringan, sedang dan berat. Anak yang tidak suka makananan yang pada umumnya anak lain tidak suka (misalnya brokoli) dikatakan Selective Eating ringan. Untuk kategori sedang dikatakan bila anak hanya mengkonsumsi makanan tertentu yang ia suka. Sedangkan picky eater berat bila anak amat sulit makan karena pemilihan makanan yang terlalu ekstrim.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Selective Eating sedang dan berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan seperti gangguan cemas, depresi dan ADHD. Meskipun begitu, tingkat gejala kejiwaan tergantung pada derajat picky eater. Gangguan picky eater berat biasanya terjadi pada anak yang sebelumnya didiagnosis depresi, gangguan cemas sosial, atau gangguan motorik mulut yang mempengaruhi proses makan. Selain itu pada kedua derajat picky eater ini terdapat rasa sensitif yang berlebihan dan rasa penolakan pada anak terhadap makanan diluar yang ia bisa terima.

Adanya gangguan dalam fungsi keluarga juga dilaporkan pada perilaku ini. Anak yang picky eater sedang sampai berat dilaporkan memiliki ibu dengan kecemasan tinggi dan konflik keluarga seputar makanan. Namun, dibandingkan dengan picky eater berat, lebih banyak orang tua anak dengan picky eater sedang yang memiliki riwayat penggunaan narkoba dan ibu yang berobat ke psikiater.

Temuan ini bisa menjadi titik balik memahami dan menangani masalah selected eating atau picky eating pada anak. Persepsi bahwa kebiasaan picky eating akan hilang dengan sendirinya mungkin menjadi kurang tepat saat ini. Sebaiknya orangtua waspada dan berkonsultasi ke dokter bila menemukan perilaku picky eating sedang atau berat pada anak.

Agustina Kadaristiana, dr.

08/07/2015 

Referensi

Zucker N, Copeland W, Franz L, Carpenter K, Keeling L, Angold A, et al. Psychological and Psychosocial Impairment in Preschoolers With Selective Eating. Pediatrics. 2015 Aug 3;peds.2014–386.

Gambar di unduh dari :

http://edgyplate.com/wp-content/uploads/2015/06/Trade-secrets-feeding-picky-eaters-Jan06-istock.jpg

http://images.sciencedaily.com/2015/08/150803083343_1_900x600.jpg

Jangan Beri Makanan Ini Pada Bayi < 1 Tahun

Saat ananda sudah berumur 6 bulan, ibu dan ayah sudah perlu mengenalkan makanan padat secara bertahap padanya. Namun, ternyata tidak semua makanan atau minuman boleh diberikan sebelum anak berusia 1 tahun. Apa saja ya daftarnya?

1. Makanan yang keras atau lengket

foods-choking-hazardsBayi yang belum bisa mengunyah secara sempurna amat mudah tersedak bila mengkonsumsi makanan yang terlalu padat. Sehingga, hindari memberi kacang, anggur utuh, wortel mentah atau permen demi keamanan buah hati. Makanan lunak tapi lengket seperti marshmallow, jelly atau permen karet juga bisa menyangkut di tenggorokan bayi dan membuat tersedak.1,2

2. Makanan mentah

6a00d83451f83a69e201156fbf0ca1970c-500wiDaging sapi, ayam, ikan yang setengah matang, kerang mentah, salad atau sayur mentah tidak boleh diberikan pada bayi karena beresiko menyebabkan keracunan makanan. Sedangkan telur setengah matang dapat menyebabkan infeksi Salmonella. Pastikan makanan dimasak sempurna sebelum diberikan pada bayi. 3,4

3. Madu

HoneySebagian orangtua mungkin kaget ternyata madu tidak disarankan untuk bayi kurang dari 1 tahun. Padahal, manfaat madu sudah banyak diketahui secara ilmiah. Ternyata, alasan di balik ini ialah adanya peningkatan resiko infant botulism (infeksi botulismus) bila bayi mengkonsumsi madu. Madu dapat mengandung spora bakteri Clostridium botulinum. Spora ini apabila tertelan dapat berkoloni dalam usus dan menghasilkan toksin. Pada bayi yang saluran pencernaannya belum sempurna, reaksi toksin ini dapat berakibat fatal. Otot bayi akan menjadi lemas, refleks berkurang, konstipasi, dehidrasi bahkan menyebabkan kematian.5

4. Susu Sapi Murni

Fresh_Milk+jpgSusu sapi murni tidak disarankan untuk diberikan bayi sebelum 12 bulan karena kandungan nutrisi yang kurang lengkap dan dapat meningkatkan resiko kekurangan zat besi pada bayi. Protein pada susu murni juga lebih sulit dicerna bayi dan dapat meningkatkan beban ginjal. Sehingga susu murni tidak cocok diberikan apalagi menggantikan ASI atau susu formula sebelum bayi berusia 1 tahun. 6–8

5. Susu nabati

milk-versus-plant-based-milksSusu nabati seperti susu kedelai, beras, almond atau santan secara umum perlu dihindari karena kadar nutrisi yang tidak memenuhi kebutuhan bayi di bawah 1 tahun. Namun, pada bayi yang alergi susu hewani, susu nabati dapat menjadi alternatif di bawah konsultasi dokter atau ahli gizi.9

6. Gula

543ab6f44216dPenelitian membuktikan bahwa bayi yang diberikan minuman manis dapat meningkatkan risiko obesitas saat usia 6 tahun. Selain itu, gula dapat menyebabkan gigi berlubang. Sehingga amat penting untuk menghindari pemberian gula pada bayi. Orang tua tidak perlu khawatir karena bayi sebelum 1 tahun tidak membutuhkan gula dapur. Bila Anda ingin menambah rasa manis pada makanan bayi, cukup berikan ASI, pisang yang dilumatkan atau susu formula. 3,7,9

7. Garam dan gula sebagai bumbu

Salt-reduction-and-social-inequality-UK-reduction-policies-have-not-reached-those-most-in-needNah, ini sering sekali menjadi perdebatan di kalangan para ibu. Biasanya orangtua ingin menambah rasa gurih supaya bayi makan dengan lahap. Namun, sebaiknya orangtua bersabar. Karena konsumsi garam berlebihan dapat berpotensi menimbulkan gangguan ginjal dan hipertensi nantinya. Pemberian garam atau gula juga tidak meningkatkan penerimaan bayi terhadap makanan. Sehingga makanan bayi mestilah terasa ‘hambar’. Meskipun terasa hambar, garam juga sebenarnya sudah terkandung dalam makanan. Keuntungan lain membatasi pemberian bumbu ialah menurunkan ambang batas rasa manis dan asin saat ia besar. Bila ibu menggunakan makanan instan bayi, pilih makanan dengan kandungan sodium (natrium) <0.1 gram per 100 gram. Beberapa makanan tinggi garam misalnya :

  • Snack
  • Biskuit
  • Mi dan sup instan
  • Pizza
  • Saus botolan
  • Makanan kaleng yang ditambahkan garam
  • Kecap asin, MSG
  • Sereal untuk dewasa.10–12

7. Diet vegan

GTY_vegetarian_meal_nt_131007_16x9_608Bayi tidak disarankan untuk melakukan diet vegetarian murni (hanya mengkonsumsi produk nabati). Hal ini disebabkan bayi menjadi rentan kekurangan nutrisi. Penelitian dari Belanda membuktikan bahwa bayi dan anak yang berdiet vegan mengalami kekurangan energi, protein, vitamin B12, vitamin D, kalsium, riboflavin sehingga tumbuh kembangnya terhambat. Bila orangtua menghendaki bayinya berdiet vegan, pastikan beri ia susu (ASI atau formula), produk turunannya yang cukup. Pemberian ikan secara berkala juga amat penting.7

8. Minuman rendah nutrisi

downloadTeh, kopi, dan minuman kaleng (soda) tidak baik dikonsumsi bayi karena nutrisinya yang rendah. Selain itu, minuman ini dapat menurunkan nafsu makan bayi terhadap makanan sehat.1

Agustina Kadaristiana, dr.

2015-07-31

Referensi :

1. PAHO. GUIDING PRINCIPLES FOR COMPLEMENTARY FEEDING OF THE BREASTFED CHILD [Internet]. WHO; 2003. Available from: http://www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/a85622/en/
2. Board the BMA. Foods that can be unsafe for your baby [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.babycenter.com/0_foods-that-can-be-unsafe-for-your-baby_9195.bc
3. Choices NHS. Foods to avoid giving your baby – Pregnancy and baby guide – NHS Choices [Internet]. 2014 [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/pregnancy-and-baby/pages/foods-to-avoid-baby.aspx#close
4. Foods not suitable for babies under 12 months of age [Internet]. Ngala; Available from: www.ngala.co.au
5. NADINE COX, M.D RH, D.O. Infant Botulism. AAFP. 2002;65(7):1388–93.
6. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
7. Agostoni C, Decsi T, Fewtrell M, Goulet O, Kolacek S, Koletzko B, et al. Complementary feeding: a commentary by the ESPGHAN Committee on Nutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2008 Jan;46(1):99–110.
8. Nicolas Stettler, Virginia A. Stallings, Jatinder Bhatia, Anjali Parish. Feeding Healthy Infants, Children, and Adolescents. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; 2011. p. 161.
9. Teresa K Duryea, MD. Introducing solid foods and vitamin and mineral supplementation during infancy. Uptodate [Internet]. 2015; Available from: http://www.uptodate.com/contents/introducing-solid-foods-and-vitamin-and-mineral-supplementation-during-infancy
10. Can I put salt in my baby’s food? [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://www.babycenter.in/x555836/can-i-put-salt-in-my-babys-food
11. Cribb VL, Warren JM, Emmett PM. Contribution of inappropriate complementary foods to the salt intake of 8-month-old infants. Eur J Clin Nutr. 2012 Jan;66(1):104–10.
12. “Forbidden” Baby Foods – Wholesome Baby Food [Internet]. Wholesome Homemade Baby Food Recipes. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://wholesomebabyfood.momtastic.com/forbiddenbabyfood.htm

IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

Awali pemberian ASI dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Apa itu IMD? Ketika persalinan berlangsung, ada perubahan dramatis yang terjadi dalam psikologis ibu. Pada masa yang sangat singkat ini, ibu ingin segera mendekap bayinya yang masih basah oleh ketuban. IMD adalah membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah lahir. Bayi manusia ternyata mempunyai kemampuan untuk merangkak mencari payudara, menemukan putingnya, dan mulai menyusu. Hal ini terjadi apabila bayi mengalami kontak kulit langsung dengan ibunya.

Langkah-langkah IMD adalah:

  1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.
  2. Tali pusat dipotong.
  3. Bayi kemudian ditengkurapkan di perut ibu, dan diselimuti di atas tubuh bayi. Dengan demikian, terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi.
  4. Bayi dibiarkan dalam posisi demikian sampai menemukan payudara dan kemudian menyusu. Waktu yang dibutuhkan bayi untuk menemukan putting brevariasi, namun pada umumnya tidak lebih dari 1 jam.

inisiasi_dini

Manfaat dilakukan IMD:

  1. Mencegah hipotermia (kedinginan), karena dada ibu merupakan inkubator yang terbaik. Bahkan suhu badan ibu akan meningkat untuk memberikan kehangatan kepada bayinya.
  2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi cenderung tenang dan jarang menangis, karena mendengar detak jantung ibu membuatnya merasa di dalam rahim.
  3. Saat bayi merangkak dan menjilat-jilat kulit ibunya, pada saat itulah terjadi pemindahan ‘bakteri baik’ dari kulit ibu yang ditelan bayi. ‘Bakteri baik’ ini akan berkembang biak membentuk koloni di usus bayi yang akan melindungi bayi dari bakteri jahat.
  4. Bonding (ikatan) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama pasca kelahirannya, bayi dalam kondisi siaga.
  5. Bayi yang berkesempatan IMD akan lebih berhasil dalam program ASI eksklusif dan lebih lama disusui.
  6. Sentuhan tangan dan jilatan bayi pada putting susu dan sekitarnya akan merangsang pengeluaran hormon oksitosin. Oksitosin ini membuat rahim berkontraksi, sehingga membantu terlepasnya plasenta dan mencegah perdarahan pasca persalinan.
  7. Bayi yang mengalami IMD akan mendapatkan kolostrum lebih dini pula. Kolostrum ini adalah ASI yang pertama kali keluar, mempunyai kadar immunoglobulin yang tinggi. Immunoglobulin penting untuk memberikan daya tahan tubuh bayi terhadap infeksi.

Namun, dalam pelaksanaannya, proses IMD terkadang terkendala dengan hal-hal berikut:

Dari pihak ibu

  1. Ibu merasa lelah dan ingin istirahat saat proses persalinan selesai, termasuk proses perbaikan jalan lahir. Tak jarang memang, sebelum proses persalinan yang sebenarnya, ibu sudah merasa kesakitan, yang meski dalam skala ringan, namun cukup bisa mengganggu kepulasan tidur. Karenanya, baru sesaat memeluk bayi yang dilahirkannya (proses IMD), mereka pun sudah meminta agar bayi segera diangkat.
  2. Ibu merasa kesulitan memosisikan bayi di dadanya. Apalagi kalau di tangannya ada selang infuse.
  3. Merasa hopeless dengan pengalaman anak terdahulu, ketika ASI baru keluar setelah hari ketiga, atau para ibu yang memiliki putting payudara datar atau masuk ke dalam.

Dari pihak suami atau keluarga ibu bersalin

Mereka ingin segera tahu data-data bayi yang baru lahir. Misalnya, berat berapa? Panjang berapa? Mereka ingin segera memberikan kabar gembira ini kepada sanak keluarga yang lain. Tidak jarang, saat mendampingi istrinya, sang suami masih disibukkan dengan ponsel. Karena itu, persiapkan diri dan suami apabila memang menginginkan IMD atau bersalin di tempat yang melaksanakan IMD.

Depok, 10 Juli 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

1. Chescheir, C. Nancy¸ et al. 2000. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. The Americal College of Obstetricians and Gynecology. Washington.
2. Cunningham, G, et al. 2010. William Obstetrics. 23rd edition. Mc Graw Hill. New York.
3. Evans, A. 2007. Manual Obstetrics. Lippincot Williams and Wilkins. Philadelphia.
4. Novak, Patricia D. 1995. Dorland’s Pocket and Medical Dictionary. 25th edition. WB Saunders Company. Philadelphia.
5. Oats J, Abraham S, Lwellyn. 2010. Jones Fundamentals of Obstetrics and Gynecology. Mosby Elsevier. Edinburgh.
6. Kusumaningsih, Prita. 2011. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Qultum Media: Jakarta.

Bisul Karena Makan Telur, Benarkah?

“Ehh jangan sering-sering beri makan anak makan telur! nanti bisul lho”. Mungkin ayah bunda sering mendengar nasihat seperti ini. Tapi tahukah Andah bahwa sebenarnya anggapan itu hanya mitos belaka 🙂

Secara medis, tidak ada hubungan antara anak yang suka telur dengan bisul yang dialaminya. Bisul sebenarnya sejenis peradangan pada kulit yang mengenai folikel rambut dan kelenjar minyak kulit. Penyebabnya infeksi kuman atau bakteri Staphylococcus aureus. Siapapun, usia berapapun, suka telur atau tidak, bisa terkena bisul. Namun, pada anak-anak, bisul lebih sering menyerang dibandingkan dengan orang dewasa.

webmd_rf_photo_of_boils_illustration

Proses Terjadinya Bisul (http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/ss/slideshow-boils)

Bisul dapat menular jika anak dengan luka goresan bersentuhan kulit dengan penderita bisul. Selain itu, kontak tidak langsung dengan penderita bisul juga bisa jadi penyebab. Misalnya, pemakaian handuk bersama, tempat tidur bersama, pakaian, permainan di area publik, kolam renang, dan sebagainya.
Bisul dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yakni: folikulitis, furunkel, furunkulosis, karbunkel, abses multipel, hidraadinitis, dan skrofuloderma. Meski banyak jenisnya, karena prosesnya mirip, orangpun menganggapnya sama. Yakni, sama-sama bisul. Adapun gejala-gejala bisul itu adalah:

  • Gatal di daerah benjolan dan sekitarnya.
  • Rasa nyeri yang menyertai gatal.
  • Berbentuk kerucut dan ‘bermata’. Biasanya mengeluarkan cairan setelah pecah.
  • Berbentuk bulat dan berkubah, tidak bermata, tanpa disertai rasa nyeri. Bisul jenis ini biasanya terdapat pada kelenjar keringat dan agak sulit pecah spontan.
  • Demam.
boils

Bisul (http://www.medicinenet.com/boils/article.htm)

Tiga faktor yang dapat memicu terjadinya bisul:

  1. Kebersihan lingkungan yang kurang baik. Hal ini menyebabkan banyak kuman beredar di sekitar anak. Selain itu, anak yang jarang dimandikan dan tidak dibiasakan membersihkan tubuh juga rentan terkena bisul.
  2. Udara panas. Sebenarnya bisul merupakan penyakit khas daerah tropis. Udara yang panas menjadikan produksi keringat berlebihan. Keringat inilah yang dapat merangsang tumbuhnya bisul, terutama pada bagian kelenjar keringat.
  3. Menurunnya daya tahan tubuh. Diantaranya disebabkan kurang gizi, menderita anemia, kanker, diabetes, dan beberapa kondisi imunodefisiensi.

Meskipun alergi dan bisul tidak punya kaitan langsung, namun alergi dapat memicu bisul. Anak yang alergi, biasanya gatal dan sering menggaruk-garuk. Akibat garukan itu, muncullah luka goresan yang mudah dimasuki kuman. Lalu timbul bisul.

Begitu anak Anda terkena bisul, segera tangani, jangan menunggu hingga bisulnya ‘matang’ dahulu. Jika bisul ditunggu sampai bernanah, dapat memperparah kerusakan jaringan, kulit pun menjadi berongga. Anda tidak dianjurkan memencet bisul, sebab akan membuat kulit ‘trauma’. Dengan perawatan yang benar selama proses pematangan, bisul biasanya akan pecah sendiri. Lakukanlah perawatan di rumah sebelum dan sesudah bisul pecah. Caranya adalah:

Perawatan sebelum bisul pecah:

  • Tetap jaga kebersihan tubuh anak dengan sering memandikan dan mengeramasi
  • Kompres bisul dengan kain bersih yang telah dicelup air hangat
  • Beri obat penahan nyeri dan penurun panas, seperti paracetamol sirup sesuai dosis. Jika perlu,
  • berikan salep hitam (ichtiol) pada bisulnya.
  • Untuk menghindari penularan, bersihkan tangan Anda setelah merawat bisulnya.
  • Jangan memecahkan bisul
670px-Treat-a-Boil-Step-2-Version-2

http://www.wikihow.com/Treat-a-Boil

Perawatan setelah bisul pecah:

  • Pastikan nanah dan mata bisul keluar semua
  • Berikan salep antiseptic
  • Jaga kebersihan kulit agar kuman dari nanahnya tidak merembet ke bagian tubuh lainnya.
  • Bersihkan tangan dan alat-alat yang terkontaminasi setelah merawat bisulnya.

Sebaiknya, segera bawa anak Anda ke dokter jika:

  •  Anak menderita diabetes
  • Bisul ada di wajah, anus, lipat paha, atau sekitar tulang belakang
  • Memicu demam tinggi dan nyeri yang menyiksa. Bengkak atau perubahan warna kulit dekat bisul.
  • Bisul belum pecah setelah seminggu perawatan
  • Terus kambuh beberapa kali dalam waktu singkat.

Depok, 26 Juni 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 12 Juni 2015

Referensi :
1. Ofir Artzi, et al. 2014. Recurrent Furunculosis in Returning Travelers : Newly Defined Entity. Journal of Travel Medicine
2. Selcuk, Aysegul, et al. 2015. Bacterial Skin Infection : Epidemiology and Latest Research. Turkish Journal of Family Medicine and Primary Care.
3. Serap Gunes, et al. 2013. The Prevalence of Pediatric Skin Diseases in Eastern Turkey. International Journal of Dermatology.
4. Balachandra, et al. 2105. Recurrent Furunculosis Caused by a Community Acquired Staphylococcus Aureus Strain. Microbial Drug Resistance Journal
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 143

Gambar awal diambil dari : http://www.webmd.boots.com/children/ss/slideshow-essential-nutrients

Mengenal Obesitas Pada Anak

Tahukah ayah bunda bahwa persepsi anak gemuk itu tidak selamanya benar? Saat ini anak-anak di Indonesia bukan hanya terancam masalah gizi kurang tetapi juga gizi berlebih. Bahkan data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa tahun 2013 satu dari lima anak Indonesia usia 5-12 tahun gemuk atau obes. Obesitas pada anak amat ditakuti karena dapat meningkatkan resiko gangguan mental (depresi, rendahnya kepercayaan diri), DM Tipe 2, stroke sampai penyakit jantung stroke yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Tapi tidak perlu khawatir. Obesitas ini bisa dicegah dengan peran orangtua yang bijaksana menjaga nutrisi sang buah hati..

Tren Nutrisi Anak di Indonesia

Tren Nutrisi Anak di Indonesia. Terdapat peningkatan 7x lipat angka Overweight/Obes pada dekade terakhir

Mengapa obesitas terjadi?
Pada umumnya, obesitas terjadi ketika porsi makan anak melebihi kebutuhan tubuhnya. Kelebihan kalori itu disimpan menjadi lemak di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuh anak pun jadi membesar. Jumlahnya melebihi anak dengan berat badan normal. Selera makan anak yang terlanjur gemuk menjadi sangat besar. Semakin cepat terpenuhi nafsu makannya, semakin cepat bertambah beratnya. Ketika selera makan terus membesar, anak cenderung menjadi lapar mata, yakni terdorong mencicipi dan makan apa saja yang dilihat atau ditawarkan padanya, meskipun tidak lapar.

Bagaimana cara mengetahui anak saya obesitas?
Cara paling mudah mengetahui kelebihan gizi pada anak ialah menilai status gizi anak dari kurva WHO. Bagi orangtua yang memiliki balita, tentu familiar dengan KMS (Kartu Menuju Sehat). Nah, KMS ini dibuat berdasarkan kurva WHO. Sehingga ayah bunda bisa mendeteksi lebih dini kecenderungan obesitas melalui penimbangan berat dan pengukuran tinggi anak tiap bulan. Orangtua perlu waspada bila pada kurva tersebut didapatkan hasil :
– Berat badan/tinggi badan >2 SD artinya gemuk
– Berat badan/tinggi badan >3 SD artinya obesitas

Bila terdapat kecurigaan dari nutrisi yang berlebih, tenaga kesehatan mungkin akan mengukur Indeks Masa Tubuh anak secara berkala.

hasil

Selain itu, obesitas ditandai kelebihan lemak dalam darah. Kelebihan lemak dapat menjadi risiko perlemakan hati. Obesitas juga ditandai kadar kolesterol dan trigliserida di atas normal. Jika sejak kecil hingga dewasa keadaan itu terus berlanjut, dapat membahayakan kesehatannya. Hal itu setidaknya menjelaskan, misalnya, mengapa kini banyak orang terkena serangan jantung atau stroke pada usia kurang dari 40 tahun.

Bagaimana mencegah obesitas?
Agar anak tidak obesitas, para orang tua sebaiknya menjaga agar berat tubuh anaknya tetap normal. Dengan begitu, risiko penyakit yang muncul akibat obesitas dapat dihindari. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas:

  • Beri buah hati anda ASI. Berbagai penelitian, termasuk dari data CDC, membuktikan bahwa ASI ekslusif yang dilanjutkan dengan ASI selama mungkin dapat melindungi dari obesitas. Meskipun mekanismenya belum diketahui dan efeknya mungkin kecil, namun para ahli sepakat bahwa ASI bermanfaat untuk mengurangi resiko obesitas.
  • Hindari memberi makanan padat bagi bayi berusia kurang dari enam bulan. Ketika memasuki masa pemberian MP ASI, lakukanlah tahap-tahap pemberian makanan secara tepat dan sesuai perkembangannya.
  • Berikan anak nutrisi sesuai kebutuhan.
  • Latih anak untuk makan sesuai jadwal makanannya. Dengan begitu, tubuhnya terbiasa makan ketika sedang merasa lapar saat jam makannya tiba. Ikuti langkah pemberian makan anak yang benar di sini.
  • Hindari menyuapi anak sambil menonton TV atau bermain gadget. Penelitian membuktikan bahwa hanya dengan mengurangi waktu paparan anak terhadap media saja sudah bisa menurunkan Indeks Masa Tubuh anak secara signifikan. Batasi penggunaan media elektronik hanya 2 jam per hari pada anak usia di atas 2 tahun.
  • Jangan biasakan anak memakan makanan junk food dalam beragam bentuk, seperti pizza, burger, hotdog, dan lain-lain. Biasakanlah anak memakan makanan yang diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang segar dan bergizi seimbang.
https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

  • Pada anak di atas 1 tahun yang telah terlanjur gemuk, pilihlah susu non fat (susu yang lemak susunya telah dibuang) sebagai susu rekreasi. Latih anak meminum dari gelas mulai usia 7 bulan. Minum susu dari botol sebelum tidur bisa menjadi kebiasaan yang membawa pada resiko obesitas.
  • Biasakan agar anak banyak bergerak melakukan olahraga dan bermain. Aktivitas yang disarankan ialah kegiatan aerobik seperti berlari, jalan cepat, berenang paling tidak 1 jam/hari. Semua aktivitas itu diarahkan untuk membuat tubuhnya bugar, membangun tulang dan ototnya, serta membakar kelebihan kalori. Anak yang kurang bergerak, berolahraga, dan latihan jasmani, berisiko menjadi gemuk dan tidak bugar.
Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Depok, 4 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 05/31/2015

Referensi :

  1. Sara McLanahan, et al. 2006. Childhood Obesity. A publication of the Woodrow Wilson School of public and international affairs at Princeton University and the Brooking Institution.
  2. Aaron S Kelly, et al. 2013. Severe Obesity in Children and Adolescents: Identification, associated health risk, and treatment Approach. American Heart Association
  3. Agata Dabrowska. 2014. Childhood Overweight and Obesity: Data Brief. Congressional Research Service
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 166
  5. Nutrition C on. Prevention of Pediatric Overweight and Obesity. Pediatrics. 2003 Aug 1;112(2):424–30.
  6. Obesitas pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 May 31]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak.html
  7. Indonesia Health Sector Review. Indonesia : Facing up to the Double Burden of Malnutrition [Internet]. The World Bank, Millenium Challenge Corporation; 2012 Dec. Available from: http://www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2013/01/18/000350881_20130118154713/Rendered/PDF/NonAsciiFileName0.pdf
  8. Indonesia Nutrition Profile [Internet]. USAID; 2014 Apr. Available from: http://www.fantaproject.org/sites/default/files/download/Indonesia-Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
  9. Physical Activity for Everyone: Guidelines: Children | DNPAO | CDC [Internet]. [cited 2015 May 31]. Available from: http://www.cdc.gov/physicalactivity/everyone/guidelines/children.html
  10. Richard J Schanler,MD. Infant Benefits of Breastfeeding. Uptodate [Internet]. 2015 Mar 13; Available from: http://www.uptodate.com/contents/infant-benefits-of-breastfeeding?source=search_result&search=infant+benefits+of+breastfeeding&selectedTitle=1~150

Kiat Aman Mengajarkan Puasa Pada Anak

Marhaban ya Ramadhan 🙂 Hanya dalam hitungan hari umat Islam seluruh dunia akan merayakan bulan puasa. Tak terkecuali anak-anak yang ikut meramaikan dengan pesantren, pergi tarawih sampai ikut berpuasa. Meskipun anak yang belum puber tidak wajib berpuasa, seringkali orangtua ingin melatih anak berpuasa dari sejak dini. Lalu apa saja yang perlu ayah bunda perhatikan sebelum mengajak si kecil ibadah shaum?

Kenali Dampak Kesehatan Puasa Pada Anak

Anak bukanlah ‘dewasa kecil’. Saat anak-anak terjadi proses pertumbuhan yang aktif-aktifnya. Sehingga perbedaan antara anak-anak dan dewasa bukan hanya terletak pada ukuran tetapi juga pada proses metabolisme. Termasuk salah satunya perbedaan respon tubuh anak saat berpuasa. Beberapa hikmah mengapa anak tidak diwajibkan berpuasa misalnya:

  1. Semakin muda usia anak, semakin mudah terkena hipoglikemia (kurang gula darah). Fakta ini didapatkan dari penelitian yang melibatkan 167 anak sehat untuk melakukan puasa makan namun boleh minum. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi 3 berdasarkan umur (0-2 tahun; 2-7 tahun; >7tahun). Lalu, anak-anak tersebut dites hasil darahnya pada jam-jam tertentu. Hasilnya, semakin muda usia anak, semakin cepat tubuhnya mengalami hipoglikemia (kurang gula darah) saat puasa. 1
  2. Proses pemecahan simpanan gula dalam tubuh lebih cepat dialami anak yang lebih kecil. Hal ini diduga sebagai respon dari lebih cepatnya gula darah menurun pada anak kecil yang berpuasa. 1
  3. Penurunan kadar Hemoglobin dan zat besi yang signifikan pada anak praremaja (usia 9-12 tahun) di minggu terakhir Ramadan. 2
  4. Penurunan jumlah jam tidur. Semakin dini usia anak, semakin besar pula kebutuhan tidurnya. Bangun sahur dan solat tarawih dapat memperpendek jam tidur anak. Meskipun kualitas tidur bisa tidak terganggu bila anak tidur di siang hari atau anak membalas tidur setelah bulan Ramadan selesai. 2
  5. Perubahan kognitif. Hasil riset menyebutkan bahwa anak pra remaja (9-12 tahun) mengalami penurunan fokus pada minggu ke-4 Ramadan. Hal ini mungkin mempengaruhi performanya di sekolah. 2
32-muslims-photo-ramadan-2011

Shaum anak (http://www.ummahweb.net/?p=4048)

Lalu bolehkah saya mengajak berpuasa?
Tentu banyak pertimbangan penting dari orang tua ketika ingin mengajarkan anaknya berpuasa. Sehingga keputusan mengajak anak berpuasa sepenuhnya ada di tangan orangtua. Namun, penting sekali untuk memahami kondisi anak baik mental maupun fisik. Agar anak dapat mencerna pendidikan puasa ini sesuai kemampuannya.

Kapan waktu yang aman mengajarkan anak berpuasa?
Bila sudah puber, anak sudah diwajibkan puasa dan sudah dinilai aman untuk berpuasa penuh layaknya orang dewasa. Sebelum puber, usia bisa dimulai berpuasa tergantung pada kondisi masing-masing anak. Namun, menurut panduan puasa sehat dari National Health Services United Kingdom, anak di bawah usia 6-7 tahun tidak dianjurkan berpuasa penuh. Alternatifnya, mereka dapat diajarkan untuk ‘mencicipi’ puasa beberapa jam atau separuh hari. 3

Tips Aman Mengajak Anak Berpuasa4–6

  • Utamakan makna. Mulailah bercerita mengenai makna puasa pada anak sejak dini agar anak dapat lebih ringan menjalani puasa saat ia sudah siap. Salah satu ide yang mungkin mudah ditangkap anak ialah mengajarkan arti puasa sebagai ibadah sosial. Saat puasa kita dapat memahami rasa lapar yang sehari-hari dirasakan kaum dhuafa. Baik sekali bila orangtua mengajak anak melihat langsung ke panti asuhan atau lingkungan dhuafa sambil bersedekah atau berbuka bersama.

sedekah2

  • Jadikan puasa momen menggembirakan. Bila anak fokus pada aktivitas menahan lapar dan haus, tentu akan terasa berat. Katakan pada anak bahwa puasa ialah bulan yang penuh bonus dan pahala. Ajak anak untuk menyambut Ramadan dengan hal-hal menggembirakan seperti dekor rumah, mengajak belanja makanan untuk berbuka, ngabuburit ke masjid, dll. Buat suasana agar anak dengan sendirinya tertarik untuk ikut ibadah di bulan Ramadan.
0206dafc1fbe0268c37ef7b6a91ff103

https://www.pinterest.com/explore/ramadan-decorations/

  • Ajarkan puasa secara bertahap. Balita tidak disarankan untuk berpuasa penuh sekaligus. Sehingga anda bisa memulai dari mengajak sahur atau berbuka saja sampai puasa beberapa jam. Terus pantau kondisi anak selama berpuasa dan konsultasikan ke dokter bila anak anda memiliki penyakit penyerta.
  • Peduli pada emosi. Ibadah puasa bukan serta merta menahan lapar dan haus. Ajari anak bersikap sabar dan jujur.
  • Alihkan saat lapar. Saat di siang hari, Anda bisa mengajaknya bermain atau tidur agar anak bisa lupa sejenak dengan laparnya.
  • Kenali tanda ia perlu berbuka. Anak prapubertas cukup rentan terhadap hipoglikemia atau kurang gula. Tanda ia dehidrasi atau kurang gula ialah lemas, rewel, kurang responsif, menggigil, tidak keluar air mata saat menangis sampai pingsan. Bila ada tanda-tanda demikian sebaiknya lekas berbuka.
  • Sediakan makanan bergizi dengan porsi sesuai. Kebutuhan nutrisi anak saat berpuasa tidaklah berubah dengan nutrisi sehari-hari. Hati-hati dengan asupan berlebih akibat ‘balas dendam’ saat berbuka. Hal ini benar terjadi dan sudah dibuktikan dari penelitian bahwa pada bulan Ramadan asupan kalori anak malah meningkat.2
  • Pahami kebutuhan tidur. Saat ramadan waktu tidur anak mungkin berkurang karena sahur atau tarawih. Ajak anak tidur siang untuk mengkompensasi tidur malam.
  • Beri penghargaan, hindari tekanan. Pahami bahwa beribadah ialah proses belajar. Hindari memaksa atau menekan anak bila belum bisa bangun sahur atau ikut puasa. Beri ia penghargaan dan apresiasi atas peningkatan usahanya agar anak senang dan bisa beribadah dengan sukarela.

Bagaimana dengan ayah bunda? Bagikan pengalaman Anda mengajak anak berpuasa pada kolom komentar di bawah ini ya 🙂 Semoga bermanfaat…

Agustina Kadaristiana, dr, Kiki Barkiah

Modifikasi terakhir : 05/27/2015

Referensi

1. Veen MR van, Hasselt PM van, Velden MGM de S der, Verhoeven N, Hofstede FC, Koning TJ de, et al. Metabolic Profiles in Children During Fasting. Pediatrics. 2011 Apr 1;127(4):e1021–7.
2. Farooq A, Herrera CP, Almudahka F, Mansour R. A Prospective Study of the Physiological and Neurobehavioral Effects of Ramadan Fasting in Preteen and Teenage Boys. J Acad Nutr Diet [Internet]. [cited 2015 May 25];0(0). Available from: http://www.andjrnl.org/article/S221226721500163X/abstract
3. Dr Razeen Mahroof, BM, MRCP(UK), FRCA, Dr Rizwan Syed, BM, DRCLG, Dr Ahmed El-Sharkawy, BM, MRCP(UK), Tehseen Hasan, BSc(Hons), Sahra Ahmed, MPharm, Dr Fuad Hussain. Ramadhan Health Guide [Internet]. Communities in Action; 2007. Available from: http://www2.warwick.ac.uk/services/equalops/resources/a_guide_to_healthy_fasting.pdf
4. 99 Tips to Help Kids Fast during Ramadan [Internet]. American Muslim Mom. [cited 2015 May 27]. Available from: http://americanmuslimmom.com/99-tips-kids-fast-ramadan
5. [Ramadan Series] 10 Tips to Help Moms Make Ramadan Fun for Kids [Internet]. ProductiveMuslim.com. [cited 2015 May 27]. Available from: http://productivemuslim.com/10-tips-to-help-moms-make-ramadan-fun-for-kids/
6. TanyaDok.com | Kapan Puasa Untuk Anak Dimulai, Dok? | Page 3 of 3 [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2015 May 27]. Available from: http://www.tanyadok.com/anak/kapan-puasa-untuk-anak-dimulai/3/

Mengapa ASI tidak lancar?

Terkadang keinginan ibu memberikan ASI pada bayi tidak kesampaian karena produksi ASI-nya yang tidak lancar atau justru tidak keluar sama sekali. Inilah yang disebut sebagai kegagalan laktasi. Pada bagian “Pedoman Pemberian ASI” sebelumnya telah disinggung aspek penting terkait pemberian ASI, yang berdampak pada kelancaran ASI. Ketidaklancaran itu dapat disebabkan terabaikannya aspek tersebut. Disamping itu, hal berikut juga dapat menjadi penyebab kurang lancarnya ASI.

1. Efek persalinan yang memakai metode sesar
Pada persalinan ini berlangsung pembiusan, baik lokal maupun total. Pada bius lokal, kesadaran ibu biasanya lebih cepat pulih, yakni sekitar 30 menit, dibandingkan bius total yang bias lebih dari 2 jam tidak sadarkan diri. Bisa jadi ketika bayi lahir, yang harusnya langsung segera diberi ASI, namun karena ibu tidak sadarkan diri, bayi pun diberi susu formula oleh perawat atau bidan. Ketika Anda telah sadar, ‘refleks hisap terkuat’ bayi Anda telah berkurang. Akibatnya ia enggan diberi ASI oleh Anda.

http://www.surgeryencyclopedia.com/Ce-Fi/Cesarean-Section.html

http://www.surgeryencyclopedia.com/Ce-Fi/Cesarean-Section.html

Kejadian itu mengakibatkan hilangnya momentum refleks hisap terkuat bayi dan payudara Anda pun (pada masa yang menentukan produktivitas ASI) tidak memperoleh rangsangan berupa hisapan dari bayi. Dengan begitu, hormon-hormon yang berperan dalam produksi ASI tidak bekerja optimal.

Apalagi jika pada proses berikutnya ternyata Anda tidak sabar melatih pemberian ASI pada bayi, maka produksi ASI pun semakin tidak lancar. Jika ini terus berlanjut, Anda pun akhirnya terdorong memberi susu formula untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi Anda. ASI Anda akhirnya sulit berproduksi.

Namun, tidak selalu dampak persalinan sesar membuat bayi enggan menyusui ASI dan tak selalu membuat produksi ASI jadi berkurang. Banyak kasus Ibu yang melahirkan melalui sesar ternyata ASI-nya tetap lancar. Sebab, sang Ibu itu sangat sabar dan telaten melatih anaknya menyusui ASI.

2. Efek dari penggunaan kontrasepsi

Jika saat menyusui Anda ikut program Keluarga Berencana (KB), sebaiknya hindari ber-KB memakai obat yang mengandung hormon, terlebih yang banyak esterogen. Sebab dapat mengurangi produksi ASI dan konon dapat merubah rasa ASI. Rasa ASI yang berubah tentu akan membuat bayi merasa ‘aneh’ ketika menghisapnya. Akhirnya, bayi pun enggan mengisapnya. Payudara Anda pun jadi tidak terlatih memproduksi ASI. Jika ini terus berlanjut, produksi ASI Anda pun akan berkurang. Untuk itu, pilihlah KB kalender atau menggunakan kondom.

hormonal_methods

Kontrasepsi Hormonal (http://www.soc.ucsb.edu/sexinfo/article/estrogen-and-progestin-overview)

3. Adanya penyakit tertentu yang diderita Ibu menyusui

Untuk mengetahui hal ini, segeralah periksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan diagnose penyakit yang diderita dan melakukan langkah-langkah medis untuk mengatasinya.

Tips Melancarkan Kembali ASI

  • Tingkatkan tekad dan rasa percaya diri untuk memberikan ASI
  • Susui bayi Anda lebih sering lagi. Atau lakukan proses pemerahan ASI lebih optimal. Dengan begitu payudara Anda akan terangsang untuk memproduksi ASI lebih banyak.
  • Makanlah sayuran yang berkhasiat memperlancar ASI, seperti daun katuk.
  • Mintalah petunjuk dokter jika Anda berniat menggunakan obat-obatan untuk merangsang refleks pengeluaran ASI.

Depok, 3 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 46

Cara Pemberian ASI

Pemberian ASI pada bayi perlu dilakukan secara alamiah, dalam suasana yang tenang dan penuh kasih sayang. Berikanlah ASI ketika bayi Anda siap dan benar-benar sedang ingin menyusui. Jangan sampai Anda terkesan memaksanya.

Pada bulan-bulan awal kehidupan, bayi biasa tidur dengan pulasnya. Jika lebih dari dua jam ia tertidur, sementara ia perlu diberi ASI, bangunkan secara perlahan. Katakan, “ Ayo sayang, kita minum susu dulu. Setelah itu kamu boleh tidur lagi.” Sebaiknya Anda mencuci tangan dulu hingga bersih sebelum mulai menyusui. Berikut ini beberapa cara menyusui:

Posisi Sambil Duduk

  1. Ambil posisi duduk yang nyaman. Pangku bayi dengan menempelkan perutnya pada perut Anda. Lalu, sanggah kepalanya tepat pada siku lengan bagian atas. Sementara, bagian lengan dan telapak tangan Anda menahan punggung dan pantatnya.
  2. Pijat bagian sekitar areola (daerah sekitar puting) Anda hingga mengeluarkan sedikit ASI. Oleskan ASI yang keluar itu pada puting Anda hingga jadi agak basah. Biasanya, bayi akan langsung menghisap ketika mulutnya menyentuh tetesan ASI di sekitar puting.
  3. Tempelkan mulut bayi pada puting Anda.
  4. Saat bayi mulai menghisap, tataplah matanya dan sentuhlah ia sambil mengajaknya bicara. Hal ini untuk merangsang panca indra dan organ-organ tubuhnya.
  5. Biarkan bayi Anda mengisap sepuasnya. Jangan dulu berganti ke sisi payudara lainnya sebelum sisi payudara yang sedang dihisap benar-benar terasa kosong.
Posisi Menyusui (http://www.oxfordcounty.ca/Healthy-you/Pregnancy-babies/Breastfeeding/First-6-8-weeks/Breastfeeding-positions)

Posisi Menyusui (http://www.oxfordcounty.ca/Healthy-you/Pregnancy-babies/Breastfeeding/First-6-8-weeks/Breastfeeding-positions)

Posisi Sambil Berbaring
Menyusui sambil berbaring pada dasarnya hampir sama dengan sambil duduk. Para ibu yang melahirkan dengan metode Caesar, akan lebih nyaman bila mengambil posisi berbaring miring saat pertama kali menyusui. Untuk aktivitas menyusui di rumah pun, posisi berbaring dapat dijadikan alternatif bagi Anda.

  1. Anda berbaring miring menghadap bayi yang posisi tidurnya juga dimiringkan menghadap Anda. Sejajarkan dan tempelkan mulutnya dengan puting Anda. Lekatkan tubuhnya pada tubuh Anda. Kemudian tahan bagian punggung dan pantatnya dengan tangan Anda. Ketika ia mulai menghisap, lakukan komunikasi dan sentuhan-sentuhan lembut padanya.
  2. Seiring bertambah usia bayi dan perkembangan gerakan tubuhnya, biasanya bayi akan mengeksplorasi variasi menyusui yang dirasakan nyaman bagi dirinya.

Posisi Sambil Berdiri

  1. Penjelasan tentang posisi menyusui sambil duduk, dapat diterapkan untuk posisi berdiri. Namun, bagi para pemula, menyusui dengan posisi berdiri harus dilakukan ekstra hati-hati. Jika tidak, akan membahayakan bayi. Misalnya, bayi lepas dari pangkuan. Menyusui sambil berdiri juga mensyaratkan energy Anda yang cukup besar untuk menggendongnya cukup lama.
  2. Seiring pengalaman melalui rutinitas menyusui, kelak Anda pun mampu mengombinasikan posisi-posisi menyusui. Nanti pun Anda mampu menyusui sambil tiduran diselingi sambil duduk, lalu sambil berdiri. Dapat juga dikombinasikan dengan melakukan aktivitas ringan lain, seperti mengangkat telepon, menutup pintu, menyapu lantai, dan sebagainya.
  3. Menyusui sambil beraktivitas lain, secara tidak langsung merupakan wahana rangsangan bagi bayi mengenal lingkungannya. Sebab, ketika Anda menyusui sambil mengangkat telepon, bayi pun belajar tentang adanya objek (benda) yang dapat digenggam. Benda itu dapat berbunyi. Pemahaman yang diperoleh bayi dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasa itulah yang akan turut menentukan perkembangan lebih jauh potensi kecerdasannya.

Depok, 1 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 37

Gambar di ambil dari : http://doublethink.us.com/paala/wp-content/uploads/2012/11/Baby-Gooroo-Breastfeeding-Postitions-Poster.jpg

Pedoman Pemberian ASI

ASI merupakan jenis makanan awal terbaik bagi bayi. Bagi ibu yang memutuskan memberi ASI eksklusif, ada beberapa pedoman dalam pemberian ASI. Pedoman ini akan turut menentukan kelancaran produksi ASI.

  1. Bulatkan niat, tekad dan keyakinan untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayi Anda. Jauh hari sebelum melahirkan, Anda harus mempunyai keyakinan yang kuat bahwa Anda mampu dan akan memberi ASI eksklusif pada bayi Anda. Sebab, ASI merupakan makanan paling sempurna bagi tumbuh kembangnya.
  2. Segeralah berikan ASI begitu bayi Anda lahir. Hindari bayi mengenal susu botol terlebih dahulu daripada ASI. Sebelum persalinan, baik normal maupun sesar, katakana pada dokter ataupun bidan bahwa Anda akan memberikan ASI eksklusif pada bayi. Bisa juga Anda meminta fasilitas rawat gabung, dimana Anda dan bayi berada dalam ruang yang sama sehingga memudahkan pemberian ASI.
  3. Sambil menyusui, tataplah matanya, bicaralah padanya, dan sentuhlah dengan lembut anggota-anggota tubuhnya. Dengan begitu, berarti Anda sedang merangsang fungsi-fungsi panca indranya sedini mungkin. Hal ini akan membantu proses pertumbuhan dan pematangan fungsi organ-organnya. Anda pun sesungguhnya sedang membangun fondasi ikatan batin antara seorang ibu dan anak.
  4. Konsumsilah makanan dan minuman yang bergizi. Jauh-jauh hari sebelum kelahiran, pemenuhan gizi lengkap dan berimbang seharusnya telah menjadi gaya hidup Anda. Pada wanita yang tidak menyusui, kebutuhan kalorinya sekitar 1.800 kalori per hari. Sementara bagi wanita menyusui, butuh tambahan sekitar 500 kalori. Dengan begitu, kebutuhan kalori per hari menjadi sekitar 2.300 kalori. Apalagi jika anak dilahirkan kembar, tentu kebutuhan kalorinya pun bertambah.
  5. Perbanyak menghadirkan momen-momen kebahagiaan dan hindari stres. Suasana hati yang bahagia menjalani hari-hari bersama bayi, membuat tubuh ibu merespon secara positif pula. Dengan begitu, berpengaruh pada produksi ASI. Sebaliknya, jika hati selalu diliputi stress, akan berdampak kurang baik bagi metabolism tubuh. Produksi ASI pun terganggu. Selain itu, setumpuk perasaan stress yang terbawa saat memberikan ASI akan membuat rangsangan Anda pada bayi tidak akan berjalan secara optimal. Padahal rangsangan itu penting untuk mematangkan fungsi-fungsi organ tubuhnya.
  6. Tidur dan istirahat yang cukup. Kondisi tubuh yang bugar karena cukup istirahat, turut menentukan produksi ASI Anda. Lebih baik Anda mengambil waktu tidur saat anak juga sedang tidur. Kemudian, segera bangun begitu bayi merengek minta disusui. Seiring berjalannya waktu dan pulihnya kondisi pasca persalinan, biasanya jam tidur bayi akan semakin teratur.
  7. Jika Anda terserang penyakit flu, teruskan pemberian ASI kepada bayi. Kerap kali muncul kekhawatiran ketika ibu-menyusui terserang flu, bayinya akan tertular. Seharusnya Anda tetap memberikan ASI dengan memakai masker. Perlu diingat, dalam ASI terdapat zat antibody yang mampu melindungi bayi dari infeksi saluran napas.
  8. Dukungan suami melalui breastfeeding father sangat membantu kelancaran ASI. Peran dan keterlibatan aktif suami memberikan dukungan moral dan emosional kepada Anda dan bayi dalam pemberian ASI, turut menentukan kadar emosi kebahagiaan Anda.
  9. Sebelum usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi cukup dengan diberi ASI eksklusif. Namun, begitu genap usia 6 bulan, ASI hanya cukup memenuhi 60-70% kebutuhan gizi bayi. Bayi perlu diperkenalkan dengan makanan tambahan di luar ASI, meski pemberian ASI tetap dilanjutkan. Kebutuhan gizi yang meningkat itu karena tubuh bayi kian besar. Aktivitas yang mampu dilakukannya pun mulai beragam, sehingga membutuhkan energy yang lebih besar pula.

Depok, 30 Maret 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Health WA Team. 2014. Breastfeeding and Breast Care. Western Australia : Departement of Health, Women and Newborn Health Service
2. Hilmani, Baljit Kaur, et al. 2011. Effect of Initiation of Breastfeeding within one hour delivery on Maternal-Infant Bonding. Nursing and Midwifery Research Journal. Sukhmani College of Nursing. Panjab
3. Keating, Curtis, et al. 2013. Maternal Milk Volume and Breast milk Expression : Implication for Diet and Nutrition in Infant. University of Minnesota. Wageningen Academic Publisher
4. Saria, Syeda, et al. 2014. Nutritional Status and Breast feeding Practice among Mothers Attending Lactation Management Centre. Research Article. Pediatric International Journal. IBIMA Publisher
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 32