Category Archives: P3K

Bila Anak Muntah Setelah Minum Obat

Memberikan obat dikala anak sakit bukanlah perkara yang mudah. Apalagi ketika Ibu atau Ayah sudah susah payah meminumkan obat tapi ternyata dimuntahkan anak. Anak muntah setelah minum obat memang hal yang cukup sering dialami. Hal ini sering kali membuat orangtua bingung apakah perlu diberikan lagi obatnya atau tidak. Agar orangtua tidak bingung lagi, mari disimak panduan anak muntah setelah minum obat di rubrik berikut ya…

Kenapa sih anak muntah setelah minum obat?

Anak muntah setelah minum obat bisa bisa disebabkan beberapa hal. Paling sering ialah adanya gangguan pencernaan pada tubuh anak itu sendiri misalnya penyakit gastroenteritis akut (radang saluran pada anak), infeksi akut, keracunan makanan, dsb. Rasa obat yang tidak enak, obat yang terlalu kental, ‘mencekok’ atau memaksa anak minum obat dan memberi obat dikala anak menangis juga bisa membuat anak muntah. Selain itu, efek samping dari obat yang diberikan juga bisa menyebabkan anak muntah setelah minum obat.

Apa yang harus dilakukan ketika anak muntah setelah minum obat?

Meskipun anak muntah setelah minum obat biasa dialami, sayangnya tidak banyak literatur dan penelitian yang menjelaskan apa yang harus dilakukan bila hal ini terjadi. Saat ini, panduan anak muntah setelah minum obat hanya berdasarkan opini para ahli. Panduan mudah untuk orangtua ialah:

  • Bila anak muntah dalam 15 menit setelah minum obat atau obat terlihat jelas dimuntahkan anak: Berikan lagi obat dengan dosis yang sama karena kemungkinan obat belum masuk ke dalam lambung.
  • Bila muntah lebih dari 60 menit setelah minum obat: Tidak perlu diberikan obat lagi karena kemungkinan obat sudah masuk ke saluran cerna.

Bagaimana bila anak muntah antara 15-60 menit setelah minum obat?

Sebaiknya tanyakan pada farmasi atau dokter karena keputusan memberi dosis ulangan perlu pertimbangan resiko dan manfaat. Karena kemungkinan sebagian obat sudah dicerna oleh tubuh tetapi ada tidak optimal. Bila resiko tidak memberi obat lebih besar daripada memberi dosis berlebih, orangtua bisa memberikan ulang obat dengan dosis yang sama. Tetapi tentu dengan saran dan pemeriksaan tenaga kesehatan ya 😊

Bila keputusannya Anak saya harus minum obat ulangan, kapan baiknya diberikan?

Sebaiknya Anda tunggu sampai kira-kira jeda 15 menit setelah muntah supaya anak tidak trauma minum obat. Coba ajak anak Anda kumur-kumur terlebih dahulu setelah muntah supaya rasa tidak nyaman di mulut berkurang.

Selain waktu ketika muntah, apakah ada hal lain yang perlu dipertimbangkan?

Tentu. Waktu ketika muntah hanya panduan umum untuk memudahkan. Tetapi, keputusan memberi dosis ulangan harus dibuat berdasarkan kondisi masing-masing anak oleh tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan jenis obatnya, tipe obat (cair atau padat), durasi penggunaan obat (jangka pendek/jangka panjang), dsb. Oleh karena itu, orangtua perlu terus berkonsultasi dengan dokter atau farmasi ya ketika anak muntah setelah minum obat

Bila setelah diminumkan obat kembali lalu anak muntah lagi harus bagaimana?

Segera ke dokter atau tenaga kesehatan terdekat. Baiknya orangtua tidak memberikan dosis ulangan atas pertimbangan sendiri. Terlalu sering memberikan dosis ulangan malah bisa membuat anak diare apalagi obat antibiotik. Dokter mungkin akan melakukan penghitungan dosis ulangan atau mencoba cara lain untuk memberikan obat misalnya disuntik atau diberikan melalui infus. Tentunya dokter juga akan menelaah penyebab anak muntah berulang dan memberikan terapi sesuai penyebabnya.

Ada tidak ya langkah pencegahan supaya anak tidak muntah setelah minum obat?

Tentu ada. Orangtua bisa menyiasati supaya anak tidak muntah setelah diberi obat. Beberapa caranya ialah:

Obat sirup

  • Berikan obat sirup dengan sendok/pipet ke bagian dalam pipi atau garis gusi dengan menggunakan pipet (baiknya jangan sendok). Tujuannya ialah agar obat cair perlahan-lahan mengalir ke belakang lidah. Bila anak cukup besar, biarkan ia mencoba minum obat sediri supaya lebih kooperatif.
  • Hindari memberikan obat secara cepat ke belakang tenggorokan. Hal ini bisa membuat tersedak karena obat malah masuk ke saluran nafas.
  • Hindari memberikan obat dan benda apapun ke tengah lidah saat anak tidak aktif menelan karena bisa merangsang refleks muntah
  • Untuk obat dalam bentuk puyer atau sirup kental, berikan air supaya lebih mudah ditelan
  • Beri obat saat posisi duduk, tegak atau kepala lebih tinggi dari badannya (Hindari memberi obat dalam posisi berbaring)
  • Jangan ‘mencekok’ anak minum obat (memasukkan obat secara paksa sambil menutup hidung anak). Hal ini bisa membuat anak tersedak
  • Hindari memaksa anak meminum obat ketika ia berontak. Selain bisa membuat muntah, hal ini juga bisa membuat anak tersedak.
  • Bila anak muntah setelah minum obat karena rasa obat yang tidak enak, coba minta dokter memberikan obat dengan rasa yang lebih mudah diterima. Anda juga bisa menyamarkan rasa obat dengan mencampur pemanis dengan rasa yang kuat. Misalnya, sirup cokelat, sirup strawberry, sirup pancake, dsb. Baiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu bila hendak mencampur dengan makanan/minuman lain seperti susu, madu, dsb.

Tablet atau kapsul

  • Gunakan cairan yang lebih padat dari air ketika menelan tablet atau kapsul. Anda bisa berikan jus atau smoothies pada anak sebelum menelan obat. Menelan pil atau kapsul dengan air biasanya lebih sulit.
  • Berikan dalam posisi kepala tegak atau tubuh sedikit condong ke depan. Menelan dalam posisi kepala mendongak ke belakang tentu lebih sulit.
  • Gunakan sedotan bisa membantu
  • Anda bisa saja membelah tablet supaya lebih mudah ditelan anak. Namun, perlu berhati-hati bila menggerus tablet karena tablet jenis slow-release (tablet yang larut perlahan-lahan dalam tubuh) dan enteric-coated pills (tablet berlapis khusus yang tahan dengan asam lambung) tidak boleh digerus. Bila tidak yakin, konsultasikan dengan apoteker atau dokter tentang jenis obat yang boleh digerus atau tidak.
  • Bila anak sulit menelan kapsul, tanyakan dulu ke dokter atau apoteker mana kapsul yang boleh dibuka dan mana yang tidak. Perlu diingat bahwa serbuk dalam kapsul rasanya pahit sehingga mungkin malah sulit diberikan pada anak.
  • Untuk anak >8 tahun, latih anak untuk terbiasa menelan obat sebelum sakit. Anda bisa memberikan potongan coklat, es atau permen kecil. Bila takut tersangkut, Anda bisa lapisi dengan mentega.

Selengkapnya mengenai cara tepat memberi obat untuk anak bisa dibaca di sini.

Kapan saya harus ke dokter bila anak muntah setelah minum obat?

Sebaiknya Anda hubungi dokter bila anak:

  • Tetap muntah setelah diberikan dosis ulangan
  • Obat yang diberikan ialah obat resep yang harus habis (misalnya antibiotik)
  • Anak menolak minum obat kembali meskipun dengan teknik yang benar
  • Anak terlihat sangat sakit
  • Anak sering muntah

Semoga penjelasannya bermanfaat ya..

Agustina Kadaristiana, dr., MSc (Paeds)

08-02-2018

Referensi

  1. Rohyans JA. What should I do if my child throws up right after I give her antibiotics? [Internet]. Baby Center. Available from: https://www.babycenter.com/expert-jo-ann-c-rohyans
  2. Should Your Child See a Doctor? Medication – Refusal to Take [Internet]. Seattle Children’s Hospital. 2012. Available from: http://www.seattlechildrens.org/medical-conditions/symptom-index/medication-refusal-to-take/
  3. Kendrick JG, Ma K, DeZorzi P, Hamilton D. Vomiting of Oral Medications by Pediatric Patients: Survey of Medication Redosing Practices. Can J Hosp Pharm [Internet]. 2012;65(3):196–201. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3379826/

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Sekilas Tentang Demam

Demam pada anak cukup sering dialami. Seperti halnya batuk, muntah dan diare, sebenarnya demam bukanlah penyakit. Demam merupakan sebuah gejala yang menunjukkan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam tubuh. Anak dikatakan demam bila suhu tubuhnya di atas 37,5oC saat diukur dari mulut dan 38oC saat diukur dari dubur. Umumnya, demam bukan kondisi yang berbahaya bagi jiwa. Justru demam merupakan bukti bekerjanya mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi infeksi. Mencari tahu penyebab demam sangat penting artinya bagi orang tua. Dengan demikian, langkah-langkah penanganan terhadap anak pun dapat dilakukan.

Proses Terjadinya Demam

Peningkatan suhu tubuh saat demam dikarenakan dalam tubuh terdapat molekul kecil bernama pirogen (sebagai zat pencetus panas). Terjadinya peningkatan pirogen disebabkan oleh infeksi, radang, alergi, tumbuh gigi, atau dampak pemberian imunisasi tertentu. Ketika terkena infeksi, tubuh sengaja menciptakan demam sebagai upaya membantu menyingkirkan infeksi. Caranya dengan mengerahkan sel darah putih (leukosit) sebagai pasukan khusus dalam sistem kekebalan tubuh. Agar daya gempurnya tinggi terhadap infeksi, sel darah putih butuh sokongan pirogen. Sebenarnya ada dua tugas pirogen:

  1. Menuntun sel darah putih ke tempat infeksi
  2. Meningkatkan suhu tubuh melalui demam dengan tujuan menghambat pertumbuhan kuman.

Bila anak mengalami demam, biasanya diawali oleh tubuh menggigil. Lalu dengan cepat suhu meningkat di atas suhu yang normal. Suhu itu menetap dan akhirnya menurun. Anak yang sedang demam biasanya rewel, sulit tidur, dan tidak mau makan.

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Saat anak mengalami demam, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua sebelum ke dokter:

  1. Pastikan sirkulasi udara ruangan tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kipas angin dapat pula difungsikan disini.
  2. Beri pakaian yang mampu menyerap keringat. Jangan terlalu tebal atau tipis.
  3. Teruskan pemberian gizi yang seimbang.
  4. Sebaiknya jangan terburu memberikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi. Sebab naiknya suhu tubuh merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus.
  5. Beri banyak minum, termasuk ASI bagi bayi yang masih menyusui. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi komplikasi dehidrasi. Dengan minum banyak, akan memulihkan cairan tubuh yang mungkin berkurang akibat dehidrasi.
  6. Lakukan pengompresan saat suhu tubuhnya meningkat, bahkan mencapai 40o C. sebaiknya mengompres dilakukan dengan mendudukan anak di bath tub (bak mandi) dengan air hangat (30-32oC C). beri mainan jika ia menolak didudukkan. Atau dapat juga membasuhkan waslap yang telah dicelup air hangat ke sekujur tubuhnya.
  7. Pada balita yang sudah agak besar, jika suhu tubuhnya melebihi 38o C dan terus menerus rewel atau tidak nyaman, cobalah beri obat penurun panas khusus anak. Sebaiknya jangan memberi aspirin karena akan berdampak buruk pada hati. Berilah paracetamol atau ibuprofen dengan tetap mematuhi aturan pemakaian. Hentikan jika suhu tubuh kembali normal.

Sebaiknya orangtua segera membawa anak ke dokter bila menemukan tanda-tanda ini saat anak demam.  Semoga bermanfaat.

Reqgi First Trasia, dr.

11/23/2015

Referensi:
1. Efstathiou SP, Pefanis AV, Tsiakou AG, et al. 2010. Fever of Unknown Origin: Discrimination between Infectious and Non-infectious Causes. Eur J Intern Med; 21:137
2. Tolan RW Jr. 2010. Fever of Unknown Origin: a diagnostic Approach to this Vexing Problem. Clinical Pediatry, Philadelphia; 49:207-213
3. Joshi N, et al. 2008. Clinical Spectrumof Fever of Unknown Origin among Indian Children. Ann Trop Paediatric ; 28: 261-266
4. Iwanczak B, et al. 2007. Management of Fever Without Source in Children. Przegl Lek; 64 (Suppl3):20-24
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 120

Tanda tanda Vital Bayi dan Anak

Tanda tanda vital ialah tanda yang menunjukkan fungsi penting tubuh manusia. Dari tanda-tanda ini bisa diketahui apakah seseorang relatif sehat, mengalami penyakit serius, atau menderita gangguan yang mengancam jiwa. Ada empat tanda tanda vital yang umum diperiksa oleh tenaga kesehatan yaitu denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan kondisi nafas. Semua orang yang masih hidup tentu memiliki tanda tanda vital. Namun, nilai tanda tanda vital ini bisa berbeda sesuai dengan usia, jenis kelamin, berat badan, dan kesehatan tubuh pada umumnya.

Pada anak, pemeriksaan tanda tanda vital ini amat penting dipelajari karena dapat mendeteksi dini adanya penyakit serius pada anak atau tidak. Hal ini amat bermanfaat karena anak bisa mendapatkan pertolongan segera dari dokter ketika sakitnya cukup serius. Pemeriksaan tanda tanda vital pada anak juga sebenarnya cukup mudah untuk dipelajari oleh orangtua atau pengasuh. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh hendaknya tahu dan paham cara pemeriksaan ini.

Tanda Tanda Vital 1 : Denyut Nadi

Denyut nadi yang dihitung menunjukkan berapa kali jantung berdetak dalam satu menit. Jumlah denyut nadi ini bisa berubah sesuai usia, jenis kelamin, aktivitas bahkan perubahan stress pada anak. Selain menghitung jumlah, dokter juga biasa menilai apakah irama nadi ini teratur atau tidak.

Pada bayi, denyut nadi biasanya diukur dengan meletakkan jari secara lembut di lipatan siku atau lipatan lutut dalam. Sedangkan pada anak yang lebih besar, denyut nadi bisa dihitung dari nadi pergelangan tangan. Setelah itu, denyut nadi dihitung selama satu menit menggunakan jam yang memiliki jarum atau stopwatch.

c5f001be2817adfc6f43064baafeeeb8

Tanda Tanda Vital 1 : Nadi

Berikut ini denyut nadi normal selama satu menit pada anak sesuai usia.

Usia Nadi saat anak bangun (kali/menit) Nadi saat anak tidur (kali/menit)
Bayi baru lahir s/d 3 bulan 85-205 80-160
3 bulan s/d 2 tahun 100-190 75-160
2 s/d 10 tahun 60-140 60- 90
>10 tahun 60-100 50-90

Pemeriksaan denyut nadi ini sebenarnya tidak perlu rutin dilakukan orangtua. Terkecuali bila memang buah hati Anda memiliki kondisi penyakit yang membutuhkan pemantauan denyut nadi secara berkala. Namun, ada kalanya pemeriksaan ini penting untuk dilakukan seperti saat :

  • anak mengeluhkan jantung berdebar-debar, nyeri dada
  • pingsan
  • kulit mendadak pucat atau bibir menjadi biru
  • sulit bernafas mendadak seperti pada asthma

Bila ada kondisi seperti ini, Anda sebaiknya segera membawa ke dokter.

Tanda Tanda Vital 2: Tekanan darah/Tensi

Pemeriksaan tekanan atau tensi darah pada anak cukup sulit dilakukan bagi awam. Selain itu, untuk mengukur tekanan darah anak dibutuhkan manset yang ukuran khusus sesuai usia mereka. Sehingga, tidak seperti pemeriksaan tanda tanda vital yang lain, pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Namun, mungkin pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu, dokter akan melatih orangtua untuk memeriksa tekanan darah anak.

pediatric's office nurse with patients

Tanda tanda vital 2 : Tekanan darah

Tidak seperti orang dewasa, pemeriksaan tekanan darah anak baru rutin dilakukan setiap tahun pada anak usia diatas 3 tahun. Pasalnya, tensi pada batita cukup sulit dinilai secara akurat. Terkecuali bila batita mengalami penyakit jantung atau ginjal yang cukup serius. Berikut ini ialah tekanan darah normal anak sesuai usia.

Perkiraan Usia Batas normal tekanan sistolik (mmHG) Batas normal tekanan diastolik (mmHg)
1-12 bulan 75-100 50-70
1-4 tahun 80-110 50-80
3-5 tahun 80-110 50-80
6-13 tahun 85-120 55-80
13-18 tahun 95-140 60-90

Tanda Tanda Vital 3 : Pernafasan

Masalah pernafasan ternyata menjadi penyebab nomer satu kegawatdaruratan pada bayi dan anak. Sehingga amat penting bagi orangtua untuk bisa menilai pernafasan yang normal dan tidak. Menilai pernafasan yang akurat paling baik dilakukan saat anak tidur atau istirahat. Anak sebaiknya tidak menyadari bahwa pernafasarnnya sedang dihitung. Sebab, bila ia sadar, anak bisa mengatur nafasnya seperti yang ia inginkan.

Pernafasan normal pada bayi dengan anak lebih besar ternyata berbeda. Bayi bernafas lebih cepat dan lebih tidak teratur. Terkadang bayi baru lahir bernafas cepat dan dalam lalu tiba-tiba nafasnya menjadi lambat dan dangkal. Jangan heran juga bila sewaktu-waktu ia menahan nafas selama beberapa detik. Hal ini disebut juga nafas periodik (periodic breathing) dan normal ditemukan pada bayi. Selain itu, bayi juga suka mengeluaran dengkuran halus saat ia tidur. Orangtua tidak perlu khawatir bila bayi bernafas seperti itu karena lambat laun pernafasannya akan menjadi matang dan teratur.

Cara menilai pernafasan

Menilai pernafasan anak amat mudah dilakukan. Caranya ialah dengan mengamati langsung atau memegang dada anak saat ia bernafas. Sementara itu, hitung seberapa banyak ia bernafas selama satu menit menggunakan jam dengan jarum atau stopwatch. Hal pertama pernafasan yang dinilai ialah upaya nafas. Apakah anak sulit bernafas atau tidak. Tanda anak sulit bernafas misalnya :

  • Wajah anak bisa seperti ketakutan dan terlihat panik
  • Anak bernafas melalui mulut. Hal ini bisa saja saluran nafas anak tersumbat atau anak sudah terlalu sesak.
  • Anak mengeluarkan suara yang tidak lazim saat bernafas seperti mendengkur atau mengi (bengek)
  • Hidung anak kembang kempis
  • Otot leher dan dada sangat terangkat saat bernafas. Bahkan terlihat cekungan yang nyata di leher, sela tulang iga dan perut. Dalam istilah kedokteran hal ini disebut retraksi.
  • Kulit anak menjadi pucat dan membiru di sekitar hidung dan mulut. Hal ini menandakan darah anak tidak mengangkut cukup oksigen dari paru-paru.
  • Nafas anak menjadi lebih cepat atau lambat dari yang normal.
60999-0550x0475

Tanda kesulitan bernafas

Adapun kecepatan bernafas anak yang normal sesuai usia ialah:

Umur Kecepatan nafas normal (kali/menit)
0-1 tahun 30 s/d 60
1-3 tahun 24 s/d 40
3-5 tahun 22 s/d 34
5-12 tahun 18 s/d 30
>13 tahun 12 s/d 16

Selain itu, lihat juga pola pernafasannya. Apakah teratur atau tidak. Bila orangtua atau pengasuh menemukan tanda-tanda sulit bernafas atau khawatir pola pernafasan anak tidak seperti biasanya, silakan hubungi tenaga kesehatan. Ada kemungkinan anak Anda butuh pertolongan segera.

Tanda Tanda Vital 4 : Suhu tubuh

Suhu pusat tubuh anak rata-rata antara 36.6oC – 37oC saat diukur lewat mulut dan 0.5oC lebih tinggi saat diukur dari dubur. Mengukur suhu tubuh penting dilakukan saat curiga anak mengalami demam. Pasalnya, demam bisa jadi pertanda anak Anda terkena infeksi, gangguan metabolisme atau penyakit lain. Ada beberapa cara mengukur suhu tubuh anak. Paling akurat ialah dari dubur meskipun cara ini terasa kurang nyaman. Selain itu, pengukuran dari mulut (di bawah lidah) juga bisa mendapatkan hasil akurat bila dilakukan dengan teknik yang benar. Cara ini berguna terutama pada anak lebih dari 4 tahun yang bisa kooperatif.

4343_image

Tanda tanda vital 4 : Suhu

Sebaliknya, pengukuran dari ketiak ternyata kurang akurat. Namun, cara ini masih bisa digunakan sebagai pemeriksaan awal pada bayi kurang dari tiga bulan atau pada anak yang lebih besar tetapi belum bisa menahan termometer dari bawah lidah. Demikian pula pemeriksaan suhu lewat telinga atau dahi, dimana hasil yang didapatkan kurang akurat. Orangtua tidak disarankan untuk menilai suhu anak hanya dari memegang kulit anak. Hal ini disebabkan hasil yang didapatkan tergantung dari suhu pemeriksanya.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/22/2015

Referensi

1. How To Take Your Child’s Pulse. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/firstaid_safe/emergencies/take-pulse.html
2. Normal Vital Signs: Normal Vital Signs. 2015 Sep 18 [cited 2015 Nov 22]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2172054-overview
3. Mark A Ward, MD. Patient information: Fever in children (Beyond the Basics). Uptodate. 2015 Aug 31;
4. Pediatric Vital Signs: Normal Heart Rate Chart [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Nov 22]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/pediatric_vital_signs/article_em.htm
5. Jan E Drutz, MD. The pediatric physical examination: General principles and standard measurements. Uptodate. 2015 Nov 18;
6. Vital Sign in Children. US Dep Health Hum Serv [Internet]. 2011 Jun 26; Available from: http://chemm.nlm.nih.gov/pals.htm#sec2
7. Your baby’s breathing: what’s normal. Babycenter [Internet]. 2012 Apr; Available from: http://www.babycentre.co.uk/a558559/your-babys-breathing-whats-normala

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Saat anak demam orangtua tentu khawatir. Apalagi bila bayi yang mengalami demam. Orangtua perlu ingat bahwa demam bukanlah penyakit. Demam ialah respon alami tubuh untuk melawan infeksi, respon dari kelainan metabolik, dll. Sehingga, penyebab demam tidak selamanya berbahaya dan dapat sembuh sendiri tanpa pertolongan dokter. Namun, Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter apabila :

  1. Anak anda berumur <3 bulan dengan demam >38oC. Demam pada bayi muda bisa jadi tanda adanya penyakit yang serius
  2. Demam lebih dari 40oC pada anak usia berapapun
  3. Demam lebih dari 24 jam (2 hari) pada anak <2 tahun.
  4. Demam lebih dari 72 jam (3 hari) pada anak lebih dari 2 tahun
  5. Demam tidak turun meskipun sudah diberi obat penurun panas
  6. Perilaku anak anda berubah, tidak seperti biasanya dan terlihat sakit berat. Misalnya, anak sulit dibangunkan, sangat rewel, sulit minum,
  7. Mengalami tanda-tanda dehidrasi :kencing pada bayi <1 tahun menjadi jarang yakni kurang dari 4x/hari. Pada anak tidak kencing selama 8 jam.
  8. Anak anda baru saja mendapat imunisasi dengan demam >39oC atau lebih dari 48 jam.
  9. Demam disertai kejang
  10. Demam disertai gejala lain seperti leher kaku, nyeri kepala hebat, nyeri tenggorokan parah hingga sulit makan/minum, nyeri telinga hebat, ruam yang tidak bisa dijelaskan, diare atau muntah berulang.
  11. Anak memiliki masalah imun, misalnya penyakit Sickle cell, kanker, atau dalam terapi steroid
  12. Sedang dalam lingkungan yang amat panas misalnya bermain atau berjemur di siang hari, di daerah gurun (Arab Saudi), di dalam mobil yang terlalu dipanaskan. Dalam kondisi ini, anak dikhawatirkan mengalami heat stroke.
  13. Bila anda khawatir. Saat orangtua merasa tidak nyaman atau panik, Anda bisa berdiskusi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Namun, perlu diingat, apabila penyebab demam tidak serius, dokter mungkin tidak akan atau sedikit memberi obat. Demam juga tidak selalu butuh antibiotik.

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

Telah di telaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr. SpA.

10/24/2015

Referensi
1. Ismoedijanto. Demam pada Anak. Sari Pediatri. 2005 Agustus;2(2):103–8.
2. Team CH. Kids’ Fevers: When to Worry, When to Relax [Internet]. Health Essentials from Cleveland Clinic. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://health.clevelandclinic.org/2015/05/kids-fevers-when-to-worry-when-to-relax/
3. Baraff LJ, Schriger DL, Bass JW, Fleisher GR, Klein JO, McCracken GH, et al. Practice Guideline for the Management of Infants and Children 0 to 36 Months of Age With Fever Without Source. Pediatrics. 1993 Jul 1;92(1):1–12.
4. When to Call the Pediatrician: Fever [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/When-to-Call-the-Pediatrician.aspx
5. When to Call the Pediatrician [Internet]. WebMD. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.webmd.com/parenting/baby/features/call-pediatrician

Anak Anda Sering Pingsan? Mungkin ini sebabnya

Saya jadi ingat waktu zaman sekolah, dokter kecil standby dibelakang barisan untuk menolong teman-temannya yang sakit. Nah, tiap hari Senin hampir selalu ada kawan saya yang pingsan. Waktu itu orangtua saya bilang kalau tidak sarapan saya bisa pingsan. Tapi, apakah benar kurang makan saja bisa membuat pingsan? Bahaya tidak ya kalau anak pingsan?

Sekilas Tentang Pingsan

Pingsan atau syncope adalah kondisi kehilangan kesadaran disertai postur lemah mendadak yang bersifat spontan. Hal ini disebabkan adanya penurunan aliran darah ke otak secara tiba-tiba. Pingsan pada anak cukup sering, kejadiannya sekitar 15%, dan biasanya hilang pada akhir usia remaja. Mayoritas pingsan pada anak tidak berbahaya. Namun, ada beberapa kondisi pingsan yang perlu diwaspadai karena dapat mengancam nyawa.

Penyebab pingsan pada anak

Pingsan pada anak dibagi menjadi 3 penyebab utama yaitu pingsan vasovagal, gangguan kardiovaskular dan penyebab lain.

1. Vasovagal syncope

Adalah penyebab tersering pingsan pada anak (sekitar 50%) dan tidak berbahaya. Pingsan jenis ini terjadi karena hipersensitifitas dari reseptor adrenalin di jantung terhadap perubahan postur dan volume darah. Akibat hipersensitifitas ini, respon parasimpatis meningkat seperti pembuluh darah melebar dan nadi melambat. Ciri khas pingsan vasovagal ialah anak merasakan tanda-tanda awal (prodromal) berupa :

  • Keliyengan (kepala terasa melayang)
  • Pandangan kabur atau ganda
  • Mual
  • Pucat
  • Keringat dingin

F1.large

Biasanya pingsan dicetuskan karena anak berdiri lama, stres (baik fisik maupun emosi seperti panik, takut), atau aktivitas yang mencetuskan refleks seperti batuk, merawat rambut atau pipis.

2. Pingsan karena Gangguan Jantung

Ini adalah pingsan yang perlu diwaspadai karena mengancam nyawa. Pingsan ini terjadi karena penurunan volume darah yang di pompa jantung akibat aritmia (irama jantung yang tidak teratur) atau kelainan organ jantung. Untungnya, pingsan kardiovaskular tergolong jarang pada anak. Namun, orangtua patut curiga anak memiliki masalah jantung apabila :

  • Anak jarang atau tidak mengalami tanda-tanda awal sebelum pingsan(prodromal)
  • Pingsan berlangsung lama (lebih dari 5 menit)
  • Dicetuskan oleh olahraga
  • Disertai nyeri dada atau jantung berdebar-debar
  • Ada riwayat keluarga yang sakit jantung

3. Penyebab lain

  • Breath holding spell : Biasanya terjadi pada anak usia 6-24 bulan. Anak yang mengalami emosi berlebihan seperti nyeri, marah, atau takut bisa menahan nafas selama 1 menit. Namun, mereka melakukan ini secara tidak sadar (refleks). Saat menahan nafas, wajah anak bisa membiru atau pucat dan disertai pingsan. Meskipun membuat panik, breath holding spell ini tergolong jinak. Biasanya berhenti saat anak usia 5 tahun.
  • Hipoglikemia (gula darah rendah): dulu banyak orangtua yang mengira karena anak kurang makan dan gula darah rendah, anak bisa pingsan. Padahal, di luar kasus diabetes tipe 1, hipoglikemi jarang menyebabkan pingsan pada anak. Gejala hipoglikemi biasanya berupa lemas, keringat dingin, gelisah, bingung, sampai penurunan kesadaran (bersifat menetap sampai gula darah naik kembali).

Kapan Perlu Ke Dokter?

Pingsan pada anak biasanya tidak berbahaya. Namun bila anda curiga atau sudah mengetahui ada riwayat gangguan jantung pada anak atau keluarga, silakan hubungi dokter anak Anda.

Biasanya, dokter anak akan melakukan wawancara klinis dan pemeriksaan fisik untuk menganalisa berbagai kemungkinan. Pemeriksaan tambahan seperti EKG, Echocardiogram, dsb mungkin diperlukan bila dokter mendapati kecurigaan adanya penyebab yang berbahaya.

Salah satu kondisi yang mirip dengan pingsan ialah kejang. Kejang pada anak biasanya didahului penurunan kesadaran dan kelemahan otot. Sehingga, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan (seperti rekam otak/EEG) untuk membedakan pingsan karena kejang atau sebab lain.

Apa yang Anda harus lakukan saat anak Anda pingsan?

  1. Sebisa mungkin tangkap anak sebelum ia jatuh ke lantai
  2. Perlahan-lahan baringkan ia dengan posisi terlentang
  3. Jaga jalan nafas. Jika ada makanan dalam mulutnya, miringkan kepala sambil mengambil makanan tersebut
  4. Tidak perlu membangunkan anak dengan alkohol, amonia/kapsul amonia , mengguyur dengan air dingin atau menampar pipi. Ia akan bangun dengan sendirinya dalam beberapa saat.
  5. Hubungi dokter bila perlu

Bagaimana mencegah dan mengobati pingsan?

Pada anak yang mengalami pingsan vasovagal, yang pencegahan dan terapi paling penting ialah:

  1. Perbanyak minum sekitar 30-50 ml/kg Berat badan/hari (misal BB anak 10 kg berarti dalam satu hari anak perlu minum 300-500 ml). Hal ini bertujuan agar menjaga volume darah tetap cukup terpompa ke otak
  2. Makan secara teratur dengan gizi yang seimbang. Kurang mineral bisa menjadi penyebab pingsan vasovagal
  3. Tambahkan snack asin dalam makanan (misal biskuit, acar, keripik, dsb)
  4. Hindari minuman/makanan yang berkafein seperti kopi, teh
  5. Sebisa mungkin hindari berdiri lama. Mungkin Anda bisa utarakan pada guru bahwa anak anda sering pingsan. Sehingga saat upacara atau olahraga, anak diberi keringanan untuk berdiri tidak terlalu lama atau olahraga tidak terlalu capek.
  6. Ajarkan anak tanda-tanda sebelum pingsan agar berhati-hati. Beritahu anak untuk mencegah penumpukan darah di vena saat berdiri lama seperti menekuk lutut saat berdiri lama, melipat tangan, menyilangkan kaki.
  7. Saat anak duduk lama, ajarkan ia untuk sesekali badan maju, menunduk, dan lutut didekap pada dada. Hal ini juga untuk menghindari penumpukan darah di vena.
  8. Saat anak dalam posisi tidur, bisa sanggah bantal di kaki untuk memperlancar aliran darah ke otak
  9. Hindari berlama-lama mandi dengan shower air hangat, berendam air panas atau di tengah matahari yang panas.

Untuk pingsan karena penyakit jantung atau penyebab lain, terapinya ialah sesuai penyebab utama. Silakan konsultasikan ke dokter anak Anda untuk penanganan lebih lanjut. Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

ditelaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr., Sp.A

10/19/2015

Referensi

1. Grassi G. Vasovagal syncope, sympathetic mechanisms and prognosis: the shape of things to come. Eur Heart J. 2010 May 1;ehq115.

2. Strickberger SA, Benson DW, Biaggioni I, Callans DJ, Cohen MI, Ellenbogen KA, et al. AHA/ACCF Scientific Statement on the Evaluation of Syncope From the American Heart Association Councils on Clinical Cardiology, Cardiovascular Nursing, Cardiovascular Disease in the Young, and Stroke, and the Quality of Care and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group; and the American College of Cardiology Foundation: In Collaboration With the Heart Rhythm Society: Endorsed by the American Autonomic Society. Circulation. 2006 Jan 17;113(2):316–27.

3. Breath Holding Spell [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/spells.html

4. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Causes of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2013 Dec 3;

5. Dizziness and Fainting Spells [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 19]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/head-neck-nervous-system/Pages/Dizziness-and-Fainting-Spells.aspx

6. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Emergent evaluation of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2014 Jan 15;

7. Karen J Marcdante, MD. Syncope. In: Nelson Essentials of Paediatrics. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; p. 486–7.

8. Côté J-M. Syncope in children and adolescents: Evaluation and treatment. Paediatr Child Health. 2001 Oct;6(8):549–51.

Pertolongan Pertama Mimisan Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mendapatkan sang buah hati mengalami mimisan. Saat ia sedang asik-asiknya bermain, ceria dan sehat, tiba-tiba hidungnya berdarah. Tentu mimisan cukup membuat panik darah yang cukup banyak dan spontan. Namun, masih banyak orangtua yang menangani mimisan dengan cara yang kurang tepat. Seperti menyumbatnya dengan kain, tisu bahkan daun sereh. Lalu, bagaimana pertolongan pertama mimisan yang benar pada anak?

How-to-Stop-Nose-Bleeds

Sekilas Tentang Mimisan

Mimisan atau epistaksis ialah pendarahan dari hidung. Di hidung terdapat banyak pembuluh darah halus, terutama di daerah cuping hidung. Pembuluh darah itu dapat pecah jika terdapat faktor-faktor pencetusnya. Saat itulah terjadi mimisan. Anak-anak rentan terhadap mimisan karena selaput lendir dan pembuluh darahnya masih sensitif.

4359_image

Pembuluh darah hidung (http://www.seattlechildrens.org/kids-health/image/ial/images/4359/4359_image.png)

Terdapat dua faktor penyebab mimisan, yakni:

  1. Faktor organik
    Ditandai oleh kelainan organ bawaan sejak usia dini. Bisa berupa kelemahan pada organ atau pembuluh darah hidungnya. Misalnya, pembuluh darah hidungnya terlalu lebar, terlalu tipis atau rapuh. Dengan begitu, ketika aktivitas anak terlalu berlebih, kena iritasi, atau mengalami stres, akhirnya mimisan.
  2. Faktor gangguan medik
    Terjadi karena adanya gangguan pembekuan darah. Mimisan karena faktor ini disebabkan pembuluh darah dan trombosit (keping darah) gagal berfungsi menutup luka.

Secara umum, mimisan dipicu oleh:

  1. Suhu udara yang ekstrem, baik terlalu panas maupun terlalu dingin. Bisa juga terjadi karena perubahan cuaca yang sangat drastis.
  2. Kebiasaan anak yang sering mengorek lubang hidung.
  3. Hidung yang terbentur benda keras atau terjatuh
  4. Masuknya benda-benda kecil ke dalam hidung yang membuat hidung mengalami pendarahan
  5. Terlalu lelah bermain
  6. Terlalu kencang saat menbuang ingus atau mengembuskan udara
  7. Anak dengan riwayat alergi. Misalnya, anak yang sering pilek (flu) atau bersin-bersin juga lebih sering mengalami mimisan.

Cara Mengatasi Mimisan

Saat pertama kali terjadi mimisan pada anak, sebaiknya Anda tidak perlu panik. Lakukanlah pertolongan pertama dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Dudukkan anak dengan kepala condong ke depan. Hal ini menghindari tersedak atau muntah darah akibat darah berbalik arah ke kerongkongan. Dengan duduk, aliran darah akan melambat. Hindari posisi menengadah atau tidur karena darah dapat tertelan.
Cara Benar

Cara Benar (http://www.rch.org.au/uploadedImages/Main/Content/kidsinfo/Nosebleeds—KHI-RCH.jpg)

Cara Salah

Cara Salah (http://www.wetreatkidsbetter.org//wp-content/uploads/Nose-Bleed-Dont.bmp)

  • Tekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. Sebaiknya, gunakan kain atau tisu bersih saat menekan sehingga darah tidak berceceran. Lakukan selama 1-2 menit. Tenteramkanlah jika ia merasa tidak nyaman. Atau jika ia sudah mengerti, ajari bernapas melalui mulut sejenak.
  • Jika darah belum berhenti, coba kompres hidungnya dengan es yang dibungkus sapu tangan. Es dapat mengecilkan pembuluh darahnya. Ulangi juga menekan pangkal hidung.
  • Hindari menyumbat dengan kain, tissue atau daun sereh karena akan memperlama proses pembekuan darah.

Setelah pendarahan berhenti, cegah anak mengorek-ngorek hidung. Biasanya dengan bertambahnya usia, mimisan jadi berkurang, karena pembuluh darah dan selaput lendir hidungnya semakin menguat.

Kapan Perlu ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus mimisan ialah ringan, terkadang ada pula mimisan yang terjadi karena sebab serius. Sebaiknya orangtua segera membawa anaknya ke dokter apabila :

  1. Mimisan tidak berhenti dengan penekanan setelah 10-20 menit
  2. Mimisan yang hebat, dapat menyebabkan pingsan
  3. Mimisan berulang dalam periode singkat disertai darah yang banyak
  4. Anak merasa pusing, lemah atau merasa akan pingsan
  5. Mimisan pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun
  6. Adanya Sumbatan jalan napas
  7. Mimisan akibat trauma pada wajah
  8. Mimisan disertai demam atau muntah darah.

Depok, 9 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir :2015-06-11

Referensi :

  1. Jeremy Foon. 2014. Epistaxis. Department of Otolaryngology. University of Texas Medical Branch.
  2. Grema Umar, et al. 2014. Epistaxis: The Experience at Kaduna Nigeria. Department of Clinical Service. Journal of Medical Society.
  3. Bestari, Al Hafiz. 2009. Epistaksis dan Hipertensi. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang.
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 1485.
  5. Mimisan: Kapan berbahaya? [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/mimisan-kapan-berbahaya.html
  6. Nosebleed (Epistaxis) Causes, Symptoms, Treatment – When to Seek Medical Care [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/nosebleeds/article_em.htm

Bantuan Hidup Dasar Bayi & Anak

Tentunya kita tidak pernah menginginkan kecelakaan terjadi pada buah hati kita ya, ayah bunda. Namun, pernahkah ibu atau ayah bayangkan apabila dihadapkan pada situasi kritis yang menyebabkan anak berhenti nafas atau jantung secara tiba-tiba? Pastinya kita akan panik atau bingung bahkan mungkin saja melakukan tindakan yang malah justru berbahaya bagi anak.. Selama ini mungkin kita hanya lihat dari sinetron tentang tindakan penyelamatan pada anak. Tapi sayangnya apa yang ditayangkan tidak bersifat edukatif dan seringkali tidak sesuai dengan rekomendasi medis. Lalu, bagaimana cara tindakan pertolongan pertama pada henti nafas dan jantung pada anak? Sebagai orangtua bijak, penting disimak ya agar kita bisa siap kapanpun dan dimanapun..

Istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau di luar negeri dikenal dengan CPR (Cardio Pulmonary Resucitation) adalah tindakan kegawatdaruratan untuk mempertahankan pasokan oksigen ke otak dan jantung pada saat seseorang tidak sadarkan diri dengan tidak bernapas atau tidak ada denyut jantung. Tindakan ini bukanlah untuk mengembalikan napas atau denyut jantung seseorang, namun hanya untuk memberikan aliran darah sebagian secara buatan untuk memperlambat kerusakan otak dan jantung. Pada kasus tenggelam, kecelakaan, atau tersedak dengan kondisi anak tidak bernapas atau tidak ada denyut jantung, sesuai dengan rekomendasi American Heat Association 2010 mengenai bantuan hidup dasar anak , dapat dilakukan tindakan berikut ini:

  • Pastikan keamanan penyelamat dan korban. Pada kasus misalnya kecelakaan, sebelum melakukan RJP korban harus dipindahkan ke tempat yang aman.
  • Periksa perlunya melakukan RJP. RJP diperlukan bila penolong menilai anak tidak bernapas atau tidak sadar.
  • Periksa respon anak, tanyakan : “Apa kamu baik-baik saja?”, panggil nama anak jika anda mengetahuinya. Bila anak dapat menjawab, bergerak, atau mengerang, periksa apa ada luka dan membutuhkan bantuan medis. Jika anak masih bernapas, panggil bantuan dan aktifkan emergency response system (memanggil bantuan dan secepatnya kembali ke anak dan melakukan siklus kompresi dada-ventilasi kembali hingga bantuan datang atau anak sadar), dan segera kembali untuk monitor kondisi anak.
  • Bila anak tidak berespon, jangan tinggalkan anak dan teriaklah minta tolong.
  • Periksa napas: bila anak bernapas dengan teratur, berarti tidak membutuhkan RJP. Pada kondisi trauma akibat kecelakaan misalnya, posisikan anak pada posisi pemulihan, untuk mempertahankan patensi jalan napas dan menurunkan risiko aspirasi (tersedak ludahnya sendiri)

Gambar 1. Posisi pemulihan pada bayi dan anak

RecoveryPosition

https://www.scratchsleeves.co.uk/parenting-plus-eczema/wp-content/uploads/2014/02/RecoveryPosition.jpg

Gambar 2. Cara Melakukan Posisi Pemulihan

http://www.nedac.co.uk/picts/recovery%201.gif

http://www.nedac.co.uk/picts/recovery%201.gif

Gambar 3. Cara Melakukan Posisi Pemulihan Pada Bayi

http://www.firstaider.org/1024%20English/images/74.jpg

http://www.firstaider.org/1024%20English/images/74.jpg

Bila anak tidak bernapas:

  • Panggil, atau kirim pesan untuk mencari bantuan, jika pada saat itu belum datang, jika terdapat lebih dari 1 penolong. Bila hanya sendiri, teriaklah minta tolong
  • Jangan tinggalkan anak pada kondisi ini. Lakukan langkah-langkah RJP (Resusitasi jantung paru). Sesuai dengan rekomendasi American Heart Association, RJP dilakukan dengan alur C-A-B ( Compression – Airway –Breathing):
  • Lakukan kompresi dada (tidak perlu memeriksa nadi) sebanyak 30 kali. Cara melakukan kompresi dada yang berkualitas :
  • Berikan tekanan dada dengan jumlah dan kedalaman yang baik. Tekan dengan cepat: tekan dengan kecepatan 100 kompresi per menit. Tekan kuat: tekan dengan usaha yang cukup untuk menekan setidaknya sepertiga dari kedalaman dada, yaitu 4 cm untuk bayi dibawah 1 tahun dan 5 cm untuk anak diatas 1 tahun.

Gambar 4. Lokasi untuk memberikan tekanan dada pada bayi (tekan dengan 2 jari dibawah garis penghubung puting)

http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/media/medical/hw/h9991484_001.jpg

http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/media/medical/hw/h9991484_001.jpg

  • Untuk anak diatas 1 tahun, tekan dengan tumit telapak tangan di dada bawah dengan kedalaman kira-kira 5cm.

Gambar 5. Lokasi kompresi dada anak

http://resuscitation- guidelines.articleinmotion.com/uploads/els_articles/S0300-9572(10)00438- 7/assets/gr5.jpg

http://resuscitation-
guidelines.articleinmotion.com/uploads/els_articles/S0300-9572(10)00438-
7/assets/gr5.jpg

  • Beri waktu dada untuk kembali mengembang setelah setiap kompresi, sehingga jantung dapat terisi darah kembali
  • Minimalisir interupsi pada kompresi dada
  • Hindari terlalu banyak ventilasi (memberikan terlalu banyak bantuan napas)
  • Buka jalan napas, jika terlihat benda didalam mulut, keluarkan, namun jangan berusaha untuk melakukan sapuan tanpa melihat adanya objek atau melakukan  sapuan tangan berkali-kali. Hal ini dapat menyebabkan objek menjadi tertekan lebih ke dalam, dan dapat mengakibatkan cedera orofaring.
  • Cara membuka jalan napas adalah dengan cara: head tilt (kepala di tengadahkan ke atas) dan chin lift (dagu ditekan ke bawah)

Gambar 6. Cara Membuka Jalan Napas

http://www.blscprtraining.com/a3.jpg

http://www.blscprtraining.com/a3.jpg

  • Berikan 2 kali bantuan napas (ventilasi) dari mulut ke mulut, dan lanjutkan dengan siklus kompresi dada – ventilasi, hingga objek keluar.
  • Pada anak dengan usia kurang dari 1 tahun,berikanbantuan napas dari mulut ke hidung dan mulut bayi.
  • Pastikan bantuan napas efektif (tandanya: dada mengembang saat ditiupkan napas). Bila dada tidak mengambang, ubah posisi kepala anak, dan berikan ulang

Gambar 7. Cara Memberikan Bantuan Napas

rescue_breathing_d

http://www.healthy.net/scr/article.aspx?ID=1795

  • Bila penolong hanya sendiri, untuk melakukan RJP selama 2 menit diikuti dengan mengaktifkan emergencyresponse system.
  • Penolong sebaiknya telah melakukan pelatihan Basic Life Support (Pelatihan Bantuan Hidup Dasar) sebelum melakukan pertolongan agar dapat memberikan bantuan yang benar dan efektif.

Video ini mungkin bisa membantu ibu dan ayah belajar mengenai RJP. Selamat belajar ya. Pastikan kelamatan anak menjadi nomer satu.. 🙂 Semoga bermanfaat

dr. Titania Nur Shelly, MARS

Referensi:

Berg MD, Schexnayder SM, Chameides L, et al. Prom the American Academy of Pediatrics Special Report Pediatric Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. PEDIATRICS Journal; 2010:126. diunduh dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/126/5/e1345.full (Sabtu, 28 Maret 2015)

P3K Anak di Rumah: Tersedak

Sebagai ibu dari dua bocah laki-laki, tentunya bagi saya menjadi hal yang cukup biasa untuk mendengar keduanya beradu mulut, atau kompak memohon makanan kesukaan (baca: coklat) hingga berebutan makanan atau mainan. Sering juga keduanya bermain kejar-kejaran hingga salah salah satunya terjatuh. Terkadang hingga ada yang terluka. Anakku yang kedua saat ini masih berusia 1 tahun 6 bulan, usia yang sedang hobi-hobinya bereksplorasi dengan barang baru, dan di masukkan ke dalam mulut. Beberapa kali bahkan saya mendapati ia tersedak mainan kecil saat bermain di rumah kawan.

Kecelakaan pada anak yang terjadi di rumah atau lingkungan rumah mungkin sudah tidak asing lagi terjadi pada setiap anak, tidak hanya di indonesia, tapi di seluruh dunia, dan seringkali hingga memerlukan bantuan dokter untuk menanganinya. Pada tahun 2010 tercatat 25 juta anak berkunjung ke Unit Gawat Darurat di Amerika Serikat, dan penyebab tertinggi anak dibawa ke UGD adalah akibat kecelakaan dan keracunan (1). Di Australia, kecelakaan merupakan penyebab utama kematian dan merupakan penyebab kedua terbanyak setelah penyakit saluran napas pada anak usia 0-14 tahun (2).

Kecelakaan adalah kerusakan pada tubuh yang disebabkan saat tubuh mausia dihadapkan pada energi dengan jumlah yang melebihi batas toleransi tubuh, atau dapat mengakibatkan kurangnya satu atau lebih elemen yang vital bagi tubuh, misalnya oksigen (3). Kecelakaan terdiri dari 2 jenis, yaitu kecelakaan yang disengaja (intentional injury) dan kecelakaan yang tidak disengaja (unintentional injury). Penting bagi orang tua untuk mengetahui apakah kecelakaan yang terjadi pada anak disengaja atau tidak. Sebab, kecelakaan yang tidak disengaja sebenarnya dapat diprediksi dan dapat dicegah dengan menggunakan perhatian akan keselamatan dengan cukup. Beberapa kecelakaan yang sering terjadi pada anak antara lain:

  1. Tersedak (choking)
  2. Transportasi (transportation)
  3. Tenggelam (drowning)
  4. Jatuh (Falls)
  5. Terbakar (burns)
  6. Keracunan (poisoning)

Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya hal-hal diatas adalah mengenai pengetahuan, perilaku, dan juga keterampilan. Anak-anak dibawah usia 5 tahun bergantung pada orang lain untuk menjaga keamanannya. Kurangnya pengetahuan pada orang yang menjaga anak kecil dapat meningkatkan terjadinya kecelakaan yang tidak disengaja (2). Sehingga, sangat penting bagi orang tua untuk memiliki pengetahuan mengenai pentingnya menyediakan lingkungan yang aman bagi anak. Lalu, apa saja penjelasan lebih detilnya mengenai masing-masing kecelakaan dan bagaimana penanganannya yang penting untuk diketahui para orang tua/ pengasuh anak?

Pada bagian ini, kita akan membahas mengenai tersedak atau choking. Apa yang sebenarnya terjadi saat anak kita (atau bahkan kita sendiri) tersedak? Sebelum kita tahu lebih lanjut mengenai bagaimana tersedak bisa terjadi, tentunya kita perlu memahami apa yang senantiasa terjadi pada bagian belakang mulut kita setiap waktu. Udara yang masuk melalui hidung (atau mulut) akan mengalir ke paru-paru, dan makanan yang kita makan akan masuk ke lambung, semuanya melalui satu saluran yang sama, yaitu faring (throat), sebelum akhirnya terpisah yang menjadi saluran yang menuju ke paru-paru (trakea)dan yang menuju ke lambung (esofagus). Nah, bagaimana makanan dan udara senantiasa bisa masuk ke tujuan yang tepat? Alhamdulillah, sungguh beruntungnya kita karena ternyata ada katup yang disebut sebagai “epiglotis”. Epiglotis berfungsi seperti pintu. Ia akan bersepon saat kita mengunyah makanan dengan menutup trakea, sehingga makanan yang kita telan akan mengalir ke lambung melalui esofagus.

Gambar 1. Apa yang terjadi pada epiglotis saat kita makan

http://kidshealth.org/image/ial/images/4621/4621_image.png

 

Pada beberapa keadaan, seperti saat anak (atau kita) tertawa atau kaget saat makan, epiglotis dapat tidak menutup dengan sempurna, sehingga sebagian makanan dapat masuk ke dalam saluran napas dan menyumbat pernapasan. Nah, pada saat ini anak sedang dalam keadaan “tersedak”. Perasaan yang dialami saat tersedak tentunya sangat tidak nyaman, apalagi bila yang menyebabkan tersedak berukuran besar, sehingga menyebabkan sulit bernapas. Secara alamiah, tubuh akan berusaha untuk mengeluarkan benda yang masuk ke saluran napas dengan cara “batuk”, namun hal ini akan sulit dilakukan pada kondisi tersedak oleh benda yang besar, sehingga membutuhkan bantuan orang lain.

Sebagai salah satu dari 5 besar penyebab kematian utama pada anak yang tidak disengaja pada anak usia dibawah 5 tahun (4), pengetahuan untuk penanganan tersedak sangatlah penting bagi orang tua dan pengasuh anak. Beberapa hal yang penting untuk menjadi catatan adalah:

  • anak usia dibawah 5 tahun adalah yang paling berisiko untuk tersedak
  • tersedak tidak hanya terjadi oleh makanan, tapi juga oleh mainan atau peralatan rumah tangga yang kecil (ukuran diameter trakea anak kira-kira sebesar sedotan air minum, sehingga bayangkan bila benda seperti popcorn menyumbat saluran seukuran sedotan, tentunya anak tidak dapat bernapas dan dapat mejadi fatal).
  • Apabila kejadian tersedak terjadi, penting bagi orang di sekitarnya untuk mengetahui penanganannya, dan cara terbaik adalah dengan pencegahan.

Apa saja yang dapat menyebabkan anak tersedak?

1. Makanan yang dapat membahayakan

Jangan memberikan makanan yang bulat dan keras pada anak usia dibawah 4 tahun. Karena bila anak tidak dapat mengunyah makanan dengan sempurna, mereka pastinya akan menelannya bulat-bulat, dan ini merupakan penyebab utama tersedak pada anak. Beberapa makanan yang sebaiknya dihindari:

  • hot dog
  • kacang-kacangan
  • daging atau keju
  • anggur bulat
  • permen yang keras
  • pop corn
  • sayuran mentah
  • buah-buahan yang keras seperti apel
  • permen karet

2. Barang-barang rumah yang dapat membahayakan

Pastikan benda-benda ini jauh dari jangkauan anak-anak:

  • balon yang belum ditiup
  • koin
  • kelereng
  • mainan dengan bagian yang kecil
  • mainan yang seluruh bagiannya dapat masuk ke mulut anak
  • bola kecil
  • pulpen atau alat tulis lain
  • baterai
  • obat-obatan

Apa yang perlu kita lakukan untuk dapat mencegah dan menangani tersedak?

  1. Pelajari RJP (Resusitasi Jantung Paru) untuk bantuan hidup dasar
  2. Jauhkan hal-hal yang dapat menyebabkan tersedak
  3. Pastikan anak selalu makan sambil duduk. Sehingga mereka fokus untuk makan dan tidak makan sambil lari, tidur, atau bermain.
  4. Potong makanan kecil-kecil untuk anak
  5. Selalu temani anak saat makan
  6. Perhatikan anak bila makan bersama anak yang lebih besar, karena anak yang lebih besar sering kali memberikan makanan tanpa paham bahwa anak kecil belum mampu memakannya
  7. Jauhkan mainan yang kecil dan berbahaya, dan simpan alat-alat rumah tangga di tempat aman
  8. Periksa barang-barang dirumah dan di selipan kursi apakah ada barang kecil yang terselip
  9. Jangan pernah membiarkan anak bermain dengan koin dan baterei

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita menjadi orang terdekat anak yang mengalami kejadian tersedak?

Saat benda asing masuk ke dalam saluran napas, anak akan bereaksi dengan batuk, sebagai upaya untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Menurut Konsil Resusitasi UK, batuk spontan merupakan manuver/cara terbaik dan lebih aman dibandingkan dengan manuver apapun yang dilakukan oleh penolong. Namun demikian, bila anak tersedak hingga tidak bisa batuk ataupun batuk tetapi tidak efektif (tidak dapat mengeluarkan benda asing tersebut), saluran napas dapat tersumbat total dan anak akan menjadi kekurangan oksigen. Pada saat tersebut, bantuan aktif untuk mengeluarkan benda asing menjadi diperlukan, namun harus dilakukan dengan cepat dan percaya diri .

Apabila mendapatkan anak dengan kemungkinan tersedak, yang perlu dilakukan adalah pastikan dahulu bahwa anak tersebut benar-benar tersedak. Tanda umum dari tersedak adalah(5,6):

  • ada yang melihat kejadian tersedak
  • batuk atau tampak kesulitan bernapas, terdengar suara mengi (wheezing) atau mengorok (stridor)
  • kejadian terjadi dengan cepat
  • sebelumnya sedang makan atau bermain dengan benda kecil

Setelah itu, lihat kondisi anak, apakah anak dapat batuk dengan efektif atau tidak. Ciri-ciri batuk efektif dan tidak efektif:

Batuk tidak efektifBatuk efektif
Tidak dapat bicaraMenangis atau dapat berespon verbal (bicara)
Batuk dengan tidak bersuaraBatuk keras
Tidak dapat bernapas
Dapat menarik napas sebelum batuk
Wajah membiru
Kulit wajah tampak normal
Anak tidak sadarkan diriBerespon secara penuh

Berikut ini adalah alur penanganan anak dengan tersedak:

Gambar 2. Alur Penanganan Anak Tersedak

Untitled

Kondisi anak saat tersedak

  • Jika anak dapat batuk dengan efektif, tidak perlu melakukan tindakan luar. Biarkan anak untuk batuk hingga benda asing keluar, dan monitor secara berkala
  • Jika anak batuk secara, atau menjadi tidak efektif tentukan tingkat kesadaran anak. Cara menentukan tingkat kesadaran anak:
    Tepuk anak dan tanyakan dengan keras : “Apa kamu baik-baik saja?” Bisa tanyakan nama anak, jika anak sudah dapat berbicara. Jika anak responsif, ia akan menjawab, bergerak, atau menangis.
    Jika terdapat lebih dari 1 penolong, maka segera cari bantuan, telepon nomor darurat yang diketahui.

Anak tersedak dengan kondisi sadar

  • Jika anak masih sadar namun tidak dapat batuk atau batuk tetapi tidak efektif, berikan tekanan perut (abdominal thrust/ heimlich maneuver). Cara ini akan membuat “batuk buatan” dengan meningkatkan kenanan di dalam dada dan mengeluarkan benda asing.
  • Pada bayi usia kurang dari 1 tahun, berikan tepukan pungung diikuti dengan tekanan dada (chest compression).
  • Jangan lakukan heimlich manuver pada bayi dibawah 1 tahun, karena dapat menyebabkan cedera liver (hati) pada bayi

Cara melakukan tepukan punggung

  • Pangku anak dalam kondisi telungkup dengankepala di bawah, agar gaya gravitasi dapat membantuk mengeluarkan benda asing
  • Penolong harus dapat memangku dengan posisi yang aman
  • Tahan kepala anak dengan 1 tangan, dengan posisi jari jempol pada satu sisi rahang dan dua atau tiga jadi lainnya pada sisi rahang lainnya
  • Pastikan jangan sampai menekan jaringan dibawah rahang, karena dapat memperparah sumbatan jalan napas

Gambar 3. Cara memberikan tepukan punggung bayi

ChokingBaby

http://www.childhealthslough.com/html/img/ChokingBaby.jpg

  • berikan 5 tepukan punggung dengan cepat dan kuat di belakang dada
  • Tujuan yang ingin diraih adalah untuk dapat mengeluarkan benda asing. Bila sebelum 5 perukan benda asing sudah keluar, tepukan dapat dihentikan
  • Apabila tepukan punggung gagal untuk mengeluarkan beda asing tersebut, dan anak masih dalam kondisi sadar, gunakan tekanan dada.

Tekanan dada pada bayi dibawah 1 tahun

  • Posisikan bayi dalam keadaan terlentang dalam pangkuan secara aman, dengan cara meletakkan tangan di sepanjang punggung bayi dan telapak melingkari kepala bayi
  • Identifikasi tanda wilayah untuk tekanan dada ( dibawah garis puting bayi)

Gambar 4. Lokasi untuk memberikan tekanan dada

h9991484_001

http://www.webmd.com/parenting/baby/cpr-for-infants-positioning-your-hands-for-chest-compressions

  • Berikan 5 kali tekanan dada. Penolong melakukan kompresi setidaknya sepertiga dari kedalaman dada, atau sekitar 4 cm. Lakukan kompresi dengan menggunakan 2 jari.
  • Tekanan dada ini dilakukan dengan pasti dan lihat respon setiap kali setelah melakukan tekanan.

Tekanan perut pada anak usia lebih dari 1 tahun:

  • Berdiri atau pangku anak dari belakang. Letakkan tangan dibawah lengan anak dan lingkari pinggangnya
  • kepalkan tangan diantara umbilikus dan xiphosternum
  • Dekap tangan yang dikepalkan, dan tarik dengan kuat ke arah atas dan dalam

Gambar 5. Cara melakukan Tekanan Abdominal pada anak.

CRC_abdominal_thrusts_standing

http://www.merckmanuals.com/media/professional/figures/CRC_abdominal_thrusts_standing.gif

Gambar 6. Lokasi melakukan tekanan perut

fig5-2

http://www.medtrng.com/cls2000a/lesson_5_perform_first_aid_to_cl.htm

  • Dapat diulangi hingga 4 kali
  • Pastikan tidak menekan prosesus xiphoideus atau iga bawah karena dapat menyebabkan trauma
  • Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengatasi sumbatan jalan napas, sehingga dapat dihentikan bila sumbatan sudah teratasi

Setelah melakukan tekanan perut atau dada, periksa kembali kondisi anak:

  • Jika objek tidak dapat dikeluarkan dan anak masih sadar, lanjutkan tepukan punggung dan tekanan perut (pada bayi kurang dari 1 tahun) atau abdominal (pada bayi lebih dari 1 tahun)
  • Panggil, atau kirim pesan, untuk mencari bantuan jika pada saat itu bantuan belum datang
  • Jangan tinggalkan anak pada kondisi ini

Jika objek dapat dikeluarkan, perhatikan kondisi klinis anak. Perhatikan apakah masih ada kemungkinan ada bagian dari objek tersebut yang masih tertinggal di saluran napas, karena hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi.

Bila anak tersedak dan tidak sadar atau menjadi tidak sadar, lakukan tindakan penyelamatan resusitasi jantung paru seperi yang diterangkan di halaman berikut ini. Jangan lupa hubungi tenaga kesehatan medis untuk pertolongan lebih lanjut.

Titania Nur Shelly, dr, MARS

 ibu dari 2 anak sholeh dan ceria

Referensi:

  1. Wier LM, Yu H, Owens PL, Washington R. Overview of Children Emergency Department, 2010. In: Healthcare cost and Utilization Project. Statistical Brief #157; 2013. p. 5. diunduh dari: http://www.hcup-us.ahrq.gov/reports/statbriefs/sb157.pdf (Rabu, 25 Maret 2015).

  2. Richard J,Leeds M, Kidsafe WA. Child Injury Overview 2012. diunduh dari: https://www.iccwa.org.au/useruploads/files/child_injury_review_and_consultation.pdf. (Rabu 25 Maret 2015).

  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Protect the Ones You Love: Child Injuries are Preventable. Atlanta: 2012. diunduh dari: http://www.cdc.gov/safechild/NAP/background.html. (Rabu, 25 Maret 2015).

  4. Department of Health. Choking Prevention for Children. Revised: July, 2014. diunduh dari: https://www.health.ny.gov/prevention/injury_prevention/choking_prevention_for_children.htm (Rabu, 25 Maret 2015)

  5. American Academy Pediatrics. Choking Prevention and First Aid for Infants and Children. 2006. diunduh dari: http://www.huntsvillepediatrics.com/images/choking_2009_aap.pdf. (Kamis, 26 Maret 2015)

  6. Resusication Council (UK). Paediatric Basic Life Support. In: Resucitation Guidelines 2010. Diunduh dari: https://www.resus.org.uk/pages/pbls.pdf. (Jumat, 27 Maret 2015)

  7. Berg MD, Schexnayder SM, Chameides L, et al. Prom the American Academy of Pediatrics Special Report Pediatric Basic Life Support 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. PEDIATRICS Journal; 2010:126. diunduh dari: http://pediatrics.aappublications.org/content/126/5/e1345.full (Sabtu, 28 Maret 2015)

  8. Gupta, RC. Choking. Reviewed: September 2014. Diunduh dari: http://kidshealth.org/kid/watch/er/choking.html#.

Tips Aman Naik Mobil Bagi Anak

Musim liburan telah datang 🙂 Tentu banyak orang tua yang membawa anaknya liburan ke luar kota. Salah satunya menggunakan mobil. Namun, tahukah bunda bahwa ada kiat tersendiri untuk menjamin keselamatan bayi dan anak saat mengendarai mobil? Tahun 2011 American Academy of Pediatrics mengeluarkan rekomendasi penggunaan car-seat bagi bayi dan balita sesuai usianya. Ternyata, penggunaan car-seat yang benar berdampak besar terhadap penurunan resiko kecelakaan pada balita. Penasaran? Yuk kita simak ulasannya..

Penelitian Tentang Resiko Kecelakaan Mobil Pada Balita
Berpergian menggunakan mobil atau kendaraan motor lainnya belum bisa dikatakan aman terutama di negara kita. Pasalnya, data dari kepolisian memperlihatkan bahwa angka kecelakaan di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 100.106 jumlah kecelakaan di tahun 2013.(1) Secara global, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian terbesar pada anak diatas 10-19 tahun. Sekitar 21% angka kecelakaan lalu lintas di dunia terjadi pada anak-anak dari semua rentang usia.(2)

Manfaat Car-seat

Melihat dari tingginya angka kecelakaan lalu lintas, organisasi kesehatan dunia seperti WHO dan AAP membuat aturan dan rekomendasi mengenai keselamatan berkendara bagi anak-anak. Salah satu rekomendasi tersebut ialah penggunaan car-seat yang sesuai bagi usia dan berat badan anak. Car-seat sangatlah bermanfaat untuk mengurangi resiko kematian dari kecelakaan. Berdasarkan penelitian dari Journal Injury Prevention tahun 2007, resiko kematian atau luka berat anak di bawah 2 tahun dari kecelakaan lalu lintas berkurang 75% jika mereka menggunakan car-seat yang menghadap ke kursi. Penelitian lain menyebutkan bahwa penahan anak (child restraint) dapat menurunkan resiko luka 71%-82% dan resiko kematian 28% bila dibandingkan dengan yang hanya menggunakan seat belts. (3,4)Sayangnya, meskipun tindak pencegahan ini terbukti efektif menurunkan resiko trauma atau kematian dari kecelakaan lalu lintas pada anak, masih banyak yang belum menggunakan car-seat atau child restraint dalam berkendaraan. Diharapkan, dengan adanya artikel ini makin menambah wawasan dan kesadaran orangtua terhadap pentingnya menjaga keselamatan anak saat berkendara.

Mengenal Berbagai Jenis Car-Seat
Menggunakan Car-seat bagi anak saat berkendara sangat besar manfaatnya bagi keselamatan anak. Namun, banyaknya jenis car-seat yang dijual dipasaran tidak jarang membuat orangtua bingung dalam memilih car-seat yang sesuai. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui jenis-jenis car-seat yang dijual di pasaran. (5,6)
1. Rear Facing Car Seat

hwkb17_059

http://www.webmd.com/children/infant-car-seat

Car seat yang memiliki harness/pengekang yang akan berayun dan bergerak saat terjadi benturan sehingga mengurangi tekanan pada leher dan saraf tulang belakang bayi yang masih rapuh. Rear Facing car seat memiliki berbagai jenis :

  • Infant car seat (rear-facing only) ialah car seat yang didesign khusus untuk bayi sampai berat badan 10-18 kg (tergantung model). Car seat jenis ini biasanya berukuran kecil, portable, dan hanya bisa menghadap ke arah kursi (ke belakang). Car seat ini hanya digunakan untuk bepergian dan bukan untuk tidur, makan, dan kegiatan lain selain di kendaraan.
  • Convertible car seat : car seat yang bisa dipasang menghadap belakang atau ke depan sehingga lebih awet dan ekonomis dari segi harga. Batas beratnya juga lebih tinggi yaitu bisa menampung sampai 18-22 kg (tergantung model) sehingga cocok untuk bayi besar. Namun, car seat ini lebih berat dan tidak dilengkapi dengan pegangan sehingga tidak rutin digunakan di luar kendaraan. Sama seperti rear-facing car seat, convertible seats hanya boleh digunakan untuk bepergian dan bukan untuk tidur, memberi makan dan kegiatan lain di luar kendaraan.
  • All-in-one seat : car seat yang bisa dipasang menghadap ke belakang, ke depan dan dijadikan booster seat saat anak makin besar. Ini berarti jauh lebih tahan lama digunakan anak anda dan bisa menampung sampai 18-22 kg. Biasanya ukurannya juga jauh lebih besar sehingga harus dipastikan dulu dengan ketersediaan tempat di kursi belakang.

2. Forward Facing Car Seat

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19654.htm

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19654.htm

Car seat yang memiliki harness (pengekang) dan tether (penambat) yang membatasi agar anak tidak maju ke depan saat terjadi benturan atau kecelakaan. Sama seperti rear facing car seat, forward facing car seat ini juga terdapat dalam berbagai jenis :

  • Forward-facing only seats : car seat yang digunakan hanya menghadap ke depan dilengkapi dengan harness (pengekang) untuk anak yang beratnya sekitar 18-36 kg (tergantung model). Saat ini pabrik sudah jarang yang memproduksi jenis ini namun car seat ini masih ada di pasaran.
  • Convertible car seat : car seat yang bisa dipasang menghadap depan atau belakang
  • Combination car seat :car seat yang bisa digunakan sebagai transisi dari forward facing car seat dengan harness dan tether ke booster seat. Batas berat car seat ini sekitar 36-54 kg (tergantung model)
  • All-in-one seat : car seat yang bisa dipasang menghadap ke belakang, ke depan dan dijadikan booster seat saat anak makin besar.
  • Travel vest : rompi yang bisa digunakan sebagai pilihan alat keselamatan pada anak dengan berat badan 9-76 kg. Travel vest cocok digunakan pada mobil yang hanya memiliki lap-seat belts (sabuk keselamatan yang berada di pangkuan, tanpa sabuk bahu) di kursi belakang, atau pada anak yang beratnya melampaui batas produk car seats yang lain.

3. Booster seat

https://myhealth.alberta.ca/health/pages/conditions.aspx?hwId=sid42317spec

https://myhealth.alberta.ca/health/pages/conditions.aspx?hwId=sid42317spec

Car seat yang berfungsi untuk memposisikan seat belt (sabuk keselamatan) sehingga sesuai dengan bagian yang paling kokoh dari tubuh anak. Beberapa jenis booster seat diantaranya :

  • Booster seat dengan high back : di design untuk mengganjal tempat duduk anak sehingga anak lebih tinggi dan bisa pas menggunakan seat belt. Booster seat tipe ini juga dilengkapi dengan penyangga leher dan kepala sehingga cocok digunakan untuk mobil yang tidak punya sanggahan kepala atau pengganjal punggung yang tinggi.
  • Backless booster seat : didesign untuk mengganjal tempat duduk anak agar bisa menggunakan seat belt secara benar namun tidak dilengkapi dengan penyangga kepala dan leher. Booster ini ideal digunakan untuk mobil yang memiliki sanggahan kepala.
  • Combination car seat : car seat yang bisa digunakan sebagai transisi dari forward facing car seat dengan harness dan tether ke booster seat.
  • All-in-one car seat : car seat yang bisa dipasang menghadap ke belakang, ke depan dan dijadikan booster seat saat anak makin besar.

4. Seat Belt
Sabuk keselamatan yang digunakan melewati bahu, dada, dan paha atas untuk menahan posisi anak saat kecelakaan. Sabuk ini tidak boleh melewati daerah lambung dan leher atau wajah.

http://changyu.en.made-in-china.com/custom-detail/EJQEnxxPQmKxxmQExQndGJUQ/Children-sftey-seat-belt.html

Kiat memilih Car Seat yang Sesuai
Tahun 2011, American Academy of Pediatrics mengeluarkan rekomendasi penggunaan car seat sesuai usia dan berat badan anak. Rekomendasi tersebut ialah : (4,6)

UsiaTipeRekomendasi
Bayi dan balitaRear-facing only dan rear-facing convertible seatsSemua bayi dan balita harus menggunakan rear-facing car seat sampai usia 2 tahun atau tepat pada batas maksimal berat/tinggi badan yang dibolehkan oleh produk. Bila anak mencapai berat maksimal yang dibolehkan produk rear-facing car seat, gunakan convertible seat yang dipasang secara rear-facing atau menghadap ke belakang.
Balita dan prasekolahConvertible seats dan forward-facing seats with harnessSemua anak yang sudah tumbuh melampaui batas berat/tinggi produk convertible car seats harus menggunakan forward-facing car seats dengan harness (penyangga) selama mungkin sampai mencapai batas berat/tinggi produk tersebut
Usia sekolahBooster seatsSemua anak yang berat atau tinggi nya melampaui batas penggunaan forward-facing car seat harus pindah menggunakan belt-positioning booster seat sampai bisa sesuai menggunakan seat bealt (biasanya bila sudah mencapai 145 cm atau 8-12 tahun). Patokan lain yang lebih mudah ialah bila pundak anak melampaui harness slot (lubang pengekang) dan bila telinga anak sejajar sisi atas forward-facing car seat
RemajaSeat beltsBila anak sudah cukup besar untuk menggunakan seat belts tanpa penyangga, anak harus selalu memakai seat belts tersebut.
Semua anakSemua anak yang berumur kurang dari 13 tahun harus duduk di kursi belakang untuk proteksi optimal. Air bag yang biasa terdapat di kursi depan bisa melindungi remaja dan dewasa. Namun, air bag sangat berbahaya bagi anak-anak terutama yang tidak sempurna dipasang alat keselamatan. Hal ini disebabkan air bag bisa mengembang, menabrak car-seat dan bisa berdampak serius bagi cedera otak dan kematian.

vs_cps_share_image

http://www.cdc.gov/motorvehiclesafety/child_passenger_safety/cps-factsheet.html

Bagaimana bila anak saya masih menyusui dan harus bepergian menggunakan car seat?
Menyusui saat mobil dalam keadaan melaju tidaklah aman bahkan di larang di beberapa negara maju yang menerapkan hukum keselamatan berkendara anak contohnya di Michigan, USA. 88% negara maju melarang anak dipindahkan dari car seats dengan alasan apapun selama mobil melaju. Sebagai jalan keluar, ibu sebaiknya memberhentikan mobil di tempat yang aman saat menyusui anaknya. Juga pastikan sebelum berangkat anak diberi susu terlebih dahulu agar tidak lapar selama di perjalanan. Cara lain, ibu bisa memberikan ASI dari botol bila kondisi tidak memungkinkan. (7–9)

Setelah menggunakan car-seat yang benar, lalu apa lagi yang harus saya perhatikan?
Agar perjalanan anda dan buah hati aman dan menyenangkan, anda perlu memperhatikan hal-hal ini :

  • Emosi anak. menggunakan car-seat dalam perjalanan tentu perlu penyesuaian. Terlebih lagi jika menempuh perjalanan panjang anak cenderung kelelahan dan rewel. Untuk mengatasinya, bawa mainan atau barang kesukaan anak sebagai teman di perjalanan. Saat bayi tenang, ajak ia bicara dan bernyanyi supaya ia belajar bahwa anda menikmati perjalanan tersebut.
  • Kebutuhan makan dan buang air. Sediakan cemilan dan minuman ringan untuk si buah hati. Agar selama perjalanan ia merasa nyaman, upayakan untuk mengganti popok atau buang air sebelum berangkat. Bila di tengah perjalanan ia buang air, segera berhenti di tempat yang aman, ganti popok sebelum ia rewel dan marah.
  • Jangan letakkan benda tajam di sekitar car-seat karena dikhawatirkan saat mengerem benda tersebut bisa melukai anak
  • Proteksi panas. Sebaiknya pasang pelindung cahaya di jendela untuk melindungi dari panas matahari. Melapis kepala bayi malah bisa mengganggu sirkulasi udara dan menyebabkan tubuh terlalu panas. Jangan lupa lapisi logam pengait sabuk terutama saat cuaca panas.
  • Pastikan pintu terkunci. Bila usia anak semakin besar, ajari juga untuk tidak bermain pintu.
  • Jangan meninggalkan anak sendirian di tempat parkir, meskipun satu menit. Hal ini disebabkan anak bisa mengalami heat stroke meskipun jendela dibuka, anak bermain dengan alat kemudi yang mana bisa membahayakan, juga bisa terjerat jendela, seat belt dsb.
  • Pasang tanda membawa bayi. Sebaiknya pasang stiker pemberitahuan anda membawa bayi/anak-anak agar pengemudi lain waspada dengan kecepatannya. (6,10,11)

Sekian.. Semoga liburannya menyenangkan ya 🙂

Agustina Kadaristiana, dr

SUMBER
1. Jumlah Kecelakaan, Koban Mati, Luka Berat, Luka Ringan, dan Kerugian Materi yang Diderita Tahun 1992-2013. Badan Pus Stat [Internet]. Available from: http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=17&notab=14
2. Children and road traffic injury [Internet]. WHO-UNICEF; Available from: http://www.who.int/violence_injury_prevention/child/injury/world_report/Road_traffic_injuries_english.pdf
3. AAP Updates Recommendation on Car Seats. Am Acad Pediatr [Internet]. 2011; Available from: http://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/Pages/AAP-Updates-Recommendation-on-Car-Seats.aspx
4. Committee on Injury V. Policy Statement—Child Passenger Safety. Pediatrics. 2011 Mar 21;peds.2011–0213.
5. Car Seat Types. Available from: http://www.safercar.gov/parents/Car-Seat-Types.htm
6. Car Seats: Information for Families for 2014 [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2014 Dec 22]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/on-the-go/pages/Car-Safety-Seats-Information-for-Families.aspx
7. Are there any tricks to traveling with a breastfed baby? Leche Leag Int [Internet]. 2011; Available from: http://www.llli.org/faq/travel.html
8. June 26, 2009 – Changes to Car Seat Law Designed to Keep Kids Safer; Starting Today, Children Under Four Must Ride in Back Seat. Michigan State Police [Internet]. Available from: http://www.michigan.gov/msp/0,1607,7-123-1586-217402–,00.html
9. Global status report on road safety [Internet]. WHO; 2013. Available from: http://www.who.int/violence_injury_prevention/road_safety_status/2013/en/
10. Travel Safety Tips. Am Acad Pediatr [Internet]. Available from: http://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/news-features-and-safety-tips/Pages/Travel-Safety-Tips.aspx
11. Children Safety : Infants. Child Health Netw [Internet]. 2013; Available from: http://www.childrenshealthnetwork.org/CRS/CRS/pa_carseati_pep.htm