Category Archives: Tumbuh Kembang Anak

Tanya jawab vaksin MR

Halo ayah bunda! Baru-baru ini pemerintah baru saja menambahkan vaksin MR (Measles, Rubella) di imunisasi dasar. Seperti isu vaksin lainnya, respon orangtua terhadap vaksin MR juga terbagi tiga: ada yang pro, kontra dan yang galau. Pada tulisan kali ini, Doctormums akan membantu orang tua menimbang manfaat dan risiko dari vaksin MR. Siap-siap yah…

Apa itu vaksin MR?

Vaksin Measles, Rubella (MR) atau disebut juga vaksin campak dan rubella ialah vaksin hidup yang dilemahkan berupa serbuk kering dengan pelarut. Seperti namanya, vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit campak dan rubella (campak Jerman) pada anak yang disebabkan oleh virus.(1)

Apa bedanya vaksin campak, MR dan MMR?

Kalau ini paling mudah dijelaskan dengan rumus matematika yah 😊

Vaksin campak= M (measles)

Vaksin MR= Measles + Rubella

Vaksin MMR= Mumps (gondongan)+ Measles (campak) + Rubella (campak jerman)

Sebelumnya pemerintah hanya mewajibkan vaksin campak. Namun, karena kejadian rubella juga tinggi, pemerintah menambah imunisasi rutin dengan vaksin rubella. Vaksin MMR sudah ada di Indonesia, tapi tidak masuk dalam program wajib pemerintah artinya vaksin ini tidak gratis. Tapi stok vaksin MMR di Indonesia sudah lama kosong. Dengan adanya vaksin MR, diharapkan penyakit rubella dan campak bisa tetap dicegah. Pemerintah lebih memprioritaskan MR karena campak dan rubella lebih berbahaya dan mematikan disbanding mumps (gondongan).(1,2)

Apa bahayanya campak dan rubella sampai anak saya harus divaksin?

Rubella berbahaya bila mengenai ibu hamil dan anak-anak. Bila mengenai ibu hamil pada trimester pertama, rubella bisa menyebabkan aborsi, kematian janin atau cacat bawaan. Cacat yang diakibatkan oleh rubella disebut Congenital Rubella Syndrome/ Sindrom Rubella Kongenital (CRS) yang ditandai katarak, tuli, kelainan jantung dan otak. Bila anak tertular rubella setelah lahir, anak beresiko terkena ensefalitis (peradangan otak) meskipun jarang. Mirip halnya dengan campak, anak yang terkena infeksi ini setelah lahir bisa terkena komplikasi ensefalitis, meningitis (radang selaput otak), radang paru (pneumonia), diare, bahkan kematian.(1)

Kapan vaksin MR ini diberikan?

Selama program kampanye vaksin MR, semua anak usia 9 bulan-15 tahun harus di vaksin MR ya ayah bunda. Kalau kampanye vaksin sudah selesai, vaksin MR diberikan menggantikan jadwal vaksin campak yaitu 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat.(2)

Kalau sudah di vaksin campak, apa perlu di vaksin MR lagi?

Perlu supaya anak terlindungi dari rubella. Vaksin MR aman diberikan pada yang sudah diberi vaksin campak.(1)

Kalau sudah di vaksin MMR bagaimana?

Sebaiknya si kecil tetap di vaksin untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit campak dan rubella. Vaksin MR aman diberikan pada anak yang sudah MMR.(1)

Kenapa banyak orang tua yang galau untuk vaksin anaknya?

Menurut penelitian di Indonesia, alasan orangtua untuk tidak memvaksin ialah takut akan resiko dan efek samping, takut terkena autis, dan ragu akan kehalalannya.(3)

Memang apa resiko anak saya di vaksin MR?

Vaksin MR pada umumnya aman namun bukan berarti bebas dari resiko. Resiko atau efek samping yang bisa muncul karena vaksin MR misalnya:

  • Sakit karena disuntik!
  • Radang di bekas suntikan
  • Demam

Meskipun sangat jarang, reaksi alergi terhadap vaksin bisa terjadi.(1) Bila terjadi hal tersebut, segera laporkan ke petugas kesehatan untuk ditindak lanjuti. Saat ini pemerintah menyediakan situs pelaporan keamanan vaksin bila orangtua resah terhadap efek samping/resiko vaksin: www.keamananvaksin.com

Benarkah vaksin campak membuat autisme?

Tidak. Isu vaksin MMR menyebabkan autism dan penyakit usus berasal dari penelitian dokter Andrew Wakefield di tahun 1998. Penelitian ini sangat menghebohkan orangtua di Inggris sampai-sampai banyak orangtua yang menolak vaksinasi. Ternyata setelah ditelusuri penelitian ini dianggap tidak valid, terdapat unsur penipuan dan tidak bisa di replikasi. Pemerintah Inggris telah mencabut izin praktek dan menarik penelitiannya dari jurnal. Tapi tetap saja Wakefield aktif berkampanye anti vaksin lewat gerakan Vaxxed sampai saat ini. (4)

Benarkah vaksin mengandung babi sehingga haram?

Tidak. WHO sudah memberi pernyataan resmi bahwa enzim tripsin atau gelatin yang berasal dari babi tidak terkandung di produk akhir vaksin. Gelatin dan enzim tripsin dipakai dalam beberapa proses pembuatan vaksin. Namun, vaksin dicuci hingga bersih sampai enzim tersebut benar-benar hilang (5). Tahun 2001, WHO telah konsultasi dengan 100 ulama dari berbagai belahan dunia dan disimpulkan gelatin yang terkandung dalam vaksin halal. Menurut ulama dunia, tidak ada alasan untuk tidak mengimunisasi anaknya. (6)

Di Indonesia, MUI telah mengeluarkan fatwa nomor 4 Tahun 2016 bahwa imunisasi hukumnya mubah (boleh).(7) Sebagai informasi, saat ini sedang dikembangkan vaksin yang tidak menggunakan produk babi oleh Biofarma. Jangan lupa kita dukung ya 😊

Adakah anak yang tidak boleh divaksin MR?

Ada. Beberapa kelompok yang kontraindikasi untuk di vaksin MR misalnya:

  • Anak yang sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan dan radioterapi
  • Anak dengan kelemahan imun (immunocompromise)
  • Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya
  • Kelainan fungsi ginjal berat
  • Riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin
  • Setelah pemberian gamma globulin atau transfusi darah.(1)

Kapan pemberian vaksin MR bisa ditunda?

Pemberian imunisasi bisa ditunda saat anak demam, batuk pilek, dan diare.(1)

Kalau saya memilih tidak memvaksin, apa resikonya?

Vaksin bukan hanya melindungi anak yang divaksin tetapi juga juga anak-anak yang lain. Vaksin memberi kekebalan masyarakat dari penyakit dari konsep Herd immunity. (4,8) Bila cakupan vaksin tinggi (80-95%), virus akan terhambat penyebarannya. Bahkan suatu penyakit bisa benar-benar hilang seperti penyakit smallpox (cacar) bila cakupan vaksin tetap tinggi. Tingginya herd immunity ini akan melindungi anak yang belum atau tidak bisa divaksin MR. Misalnya, anak yang timbul reaksi alergi berat karena vaksinasi, bayi-bayi muda, atau anak dengan kekebalan tubuh rendah. Sebaliknya, bila banyak orangtua yang menolak vaksin, herd immunity akan menurun drastis. Penelitian terbaru di Amerika menemukan bahwa penurunan cakupan imunisasi sekecil 5% saja bisa meningkatkan resiko campak 3x lipat! (9) Bayangkan bila angka imunisasi turun lebih dari itu. Bukan hanya anak berisko terkena penyakit, masyarakat akan beresiko terkena wabah.

Sebagai janji Doctormums di awal, kami akan membantu orangtua menimbang-nimbang risiko vs manfaat dari vaksinasi. Kalau dirangkum dari tulisan ini, yang perlu orangtua pikirkan ialah:

vaksin mr

Orangtua memang memiliki kewenangan untuk membesarkan anak dan memberi keputusan medis untuk anak yang dianggap belum cukup umur. Kebebasan berpendapat orangtua memang perlu dihargai seperti keyakinan beragama. Namun, dalam menimbang masalah imunisasi, orangtua kerap kali menyepelekan resiko penyakit seperti campak dan rubella dan membesarkan efek negatif imunisasi. (10) Penelitian lain juga menemukan bahwa sentimen dari sosial media tentang vaksin berpengaruh besar terhadap keraguan orangtua pada vaksin (11). Agar orangtua senantiasa bijak dalam memilih yang terbaik untuk anak, kami sangat mendukung orangtua yang terus mencari informasi yang terpercaya. Diskusikan dengan tenaga medis sebanyak-banyaknya bila orangtua galau dalam memutuskan imunisasi. Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr.

8/8/2017

Referensi

  1. Kemenkes. Petunjuk teknis kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) [Internet]. Jakarta; 2017. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1
  2. IDAI. IDAI – Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017 [cited 2017 Aug 8]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
  3. UN Global Pulse. Understanding immunisation awareness and sentiment through social media and mainstream media. Glob Pulse Proj Ser [Internet]. 2015;(19). Available from: http://www.unglobalpulse.org/projects/immunisation-parent-perceptions
  4. Chatterjee A. Vaccinophobia and Vaccine Controversies of the 21st Century [Internet]. 2013. Available from: http://reader.eblib.com/(S(r0xkd1qnsweq5vz04hzacqs1))/Reader.aspx#
  5. WHO. Oral polio vaccine and its production [Internet]. WHO. 2017 [cited 2017 Aug 2]. Available from: http://www.emro.who.int/polio/information-resources/oral-polio-vaccine-production.html
  6. MMR. [cited 2017 Aug 8]; Available from: http://www.immunisationscotland.org.uk/vaccines-and-diseases/mmr.aspx
  7. MUI. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang imunisasi [Internet]. MUI, 4 2016. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/lain/Fatwa No. 4 Tahun 2016 Tentang Imunisasi.pdf
  8. Luyten J, Vandevelde A, Van Damme P, Beutels P. Vaccination policy and ethical challenges posed by herd immunity, suboptimal uptake and subgroup targeting. Public Health Ethics. 2011;4(3):280–91.
  9. Lo NC, Hotez PJ. Public Health and Economic Consequences of Vaccine Hesitancy for Measles in the United States. JAMA Pediatr [Internet]. 2017;1–6. Available from: http://archpedi.jamanetwork.com/article.aspx?doi=10.1001/jamapediatrics.2017.1695
  10. Wearmouth E. Children, vaccination and UK law and UK law. Arch Dis Child [Internet]. 2014;99(Suppl 1):A193–A193. Available from: http://adc.bmj.com/cgi/doi/10.1136/archdischild-2014-306237.445
  11. Salathé M, Khandelwal S, Cauchemez S, Gerberding J, Barabasi A. Assessing Vaccination Sentiments with Online Social Media: Implications for Infectious Disease Dynamics and Control. Meyers LA, editor. PLoS Comput Biol [Internet]. 2011 Oct 13 [cited 2017 Aug 8];7(10):e1002199. Available from: http://dx.plos.org/10.1371/journal.pcbi.1002199

 

Sudahkah Pengasuh Bayi Anda Mendapatkan Vaksin Pertusis?

Sebuah sekolah menengah di Seattle baru-baru ini mengumumkan wabah kecil batuk rejan: 13 siswa didiagnosis dengan pertusis yang dikonfirmasi laboratorium. Tak satu pun dari remaja yang menular saat ini, namun hal ini menjadi pertanyaan menarik tentang bagaimana melindungi anak-anak dan masyarakat kita. Apakah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memastikan pengasuh bayi, pengasuh atau bahkan nenek buyut benar divaksinasi?

Cukup sulit untuk meminta kakek dan nenek untuk memvaksinasikan diri mereka agar dapat melindungi anak bungsu atau balita yang paling rentan. Mungkin juga merupakan tantangan dengan pengasuh tetangga. Saya akan menyarankan Anda untuk hanya mengatakan, “Hei, apakah Anda mendapatkan suntikan 11 tahun dan vaksin flu Anda tahun ini?” Masalahnya, satu kendala mungkin adalah bahwa pengasuh berusia 15 tahun Anda mungkin tidak tahu apakah mereka sudah mendapatkan vaksin Pertusis remaja. Sebagai pengingat, semua anak diberi imunisasi untuk batuk rejan (DTaP) pada usia 2, 4, 6, dan 15 bulan. Mereka kemudian menerima dosis lain pada usia 4. Kemudian dosis tween booster (tembakan Tdap) pada usia 11 tahun.

Banyak remaja mempersiapkan diri untuk pekerjaan besar mengasuh anak dengan mengikuti kelas/kursus. Di kelas, instruktur membantu mereka untuk memastikan apakah mereka akan mendapatkan imunisasi selama kursus berlangsung.

Apa Itu Batuk Rejan?

  • Infeksi bakteri yang sangat menular (pertusis) pada hidung dan tenggorokan menyebabkan “batuk rejan.”
  • Mudah terbawa oleh batuk dan bersin. Gejala muncul 7-10 hari setelah terpapar (rata-rata)
  • Gejala berbeda menurut usia, bayi dan anak kecil mungkin akan memiliki batuk parah atau bahkan berhenti bernapas. Kami sangat khawatir tentang bayi yang baru lahir, bayi muda di bawah usia 2 bulan, tetapi juga mempertimbangkan bayi di bawah usia 6 bulan “berisiko tinggi.”
  • Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa mengalami demam, pilek dan batuk yang parah yang berlanjut menjadi batuk, suara yang “rejan” terdengar dengan batuk, atau bahkan batuk yang berlangsung lebih dari 100 hari (bahkan jika diobati). Pengobatan adalah berupa mencegah penyebaran, bukan batuk.

Apakah Batuk Rejan Adalah Masalah yang Serius?

  • Sangat serius untuk bayi dan anak kecil. Sekitar setengah dari bayi yang mendapatkan batuk rejan masuk rumah sakit. Beberapa akan mengalami gangguan pernafasan parah dan beberapa orang akan mengalami kejadian yang mengancam jiwa saat bernafas.
  • Bisa menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otak dan bahkan kematian sangat jarang.

Orang dengan risiko tertinggi:

  • Bayi, ibu hamil, penderita asma
  • Washington State: kami mengalami wabah besar dua tahun lalu. Syukurlah sekarang kasus biasanya antara 184 dan 1026 kasus pada tahun biasa. Sejauh ini, telah terjadi 96 kasus yang dilaporkan tahun ini (sampai 11/8), turun dari 644 yang dilaporkan kali ini tahun lalu. King County memiliki salah satu catatan yang lebih rendah di negara bagian: 3.8 / 100.000 orang (tertinggi adalah Adams County: 60 per 100.000).

Apa yang Orang Tua Perlu Tahu?

Vaksinasi (vaksin DTaP pada anak kecil & Tdap pada usia 11 tahun ke atas) adalah pertahanan terbaik melawan pertusis. Anak-anak yang tidak divaksinasi setidaknya memiliki risiko delapan pertiga lebih besar dibandingkan anak-anak yang sepenuhnya divaksinasi dengan DTaP. Kata “wabah” benar-benar mengajarkan kita bahwa dibutuhkan masyarakat yang sudah divaksinasi untuk melindungi bayi kecil. Sebagian besar data memperkirakan hanya sekitar 4 dari 5 dari kita yang mendapatkan suntikan perlindungan dari batuk rejan sehingga kita bergantung pada orang-orang di sekitar kita untuk diimunisasi agar kita cenderung tidak menyebar. Selama epidemi 2012 di Washington banyak anak dan remaja yang menderita batuk rejan telah diimunisasi. CDC mencatat epidemi Washington yang mengajarkan kita tentang batuk rejan. Meski vaksin pertusis memberikan perlindungan jangka pendek yang bagus, sepertinya imunitas bisa memudar. Data CDC memang mengingatkan kita bahwa mendapatkan suntikan masih merupakan strategi tunggal yang paling efektif, terutama untuk wanita hamil dan kontak bayi.

  • Pengasuh bayi dari segala usia harus tinggal di rumah saat sakit (terutama jika merawat bayi yang baru lahir) jika mereka memiliki gejala batuk atau pilek, terutama jika wabah batuk rejan atau influenza berada di wilayah mereka.
  • Ibu hamil membutuhkan Tdap selama trimester ketiga mereka. Temuan penelitian menyimpulkan, “Tdap selama kehamilan tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan hipertensi pada kehamilan atau kelahiran prematur atau SGA (usia gestasi yang kecil).
  • Dosis satu kali Tdap direkomendasikan untuk semua orang berusia di atas 11 tahun
  • Efek seumur hidup tidak terbukti (efek suntikan berlangsung sekitar 4-12 tahun) namun setelah 5 tahun proteksi moderat tetap ada.
  • Cuci tangan, tutupi batuk, tetap di rumah saat sakit
  • Hindari kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala batuk rejan. Dorong mereka untuk menemui dokter untuk pengobatan jika mereka memiliki batuk yang tidak biasa.

 

 

Ditulis oleh Wendy Sue Swanso, MD, MBE, Pediatrician, Executice Director of Digital Health at Seattle Children’s Hospital dan penulis blog Seattle Mama Doc dan Mama Doc Medicine. Pelajari lebih lanjut dengan mengikuti Twitternya di (@SeattleMamaDoc) dan Facebook (www.Facebook.com/SeattleMamaDoc).

 

Artikel asli: http://seattlemamadoc.seattlechildrens.org/has-your-babysitter-had-the-whooping-cough-shot/. Artikel ini diterjemahkan atas izin dari SeattleMamaDoc oleh dr. Reqgi First Trasia.

PIN Polio 2016 dan Vaksin Polio

Halo Ayah Bunda, ada yang spesial loh di Bulan Maret ini. Tanggal 8-15 Maret 2016 di seluruh Indonesia, serempak dilakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. PIN Polio adalah pemberian imunisasi tambahan polio kepada anak tanpa memandang status imunisasinya yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi. Sebetulnya mengapa ya vaksin Polio perlu diberi tambahan? Apa manfaatnya ya? Yuk simak penjelasannya..

Apa itu PIN Polio

Pengertian PIN Polio adalah pemberian vaksin aktif melalui mulut dua tetes setiap anak usia 0 sampai 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya secara gratis. PIN Polio ini akan dilaksanakan pada tanggal 8-15 Maret 2016 di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Klinik swasta dan Rumah Sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat.

PIN Polio

Vaksin Polio

Apa Tujuan PIN Polio?

Gerakan eradikasi polio secara global akan memberi keuntungan yang besar. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi cacat karena polio sehingga biaya yang diperlukan untuk rehabilitasi penderita polio dan biaya untuk imunisasi polio dapat dikurangi. World Health Assembly (WHA) mendeklarasikan bahwa eradikasi polio adalah salah satu isu kedaruratan kesehatan masyarakat dan perlu disusun suatu strategi menuju eradikasi polio (Polio Endgame Strategy). Salah satu strategi tersebut dilakukan dengan pelaksanaan PIN Polio.

Tujuan PIN Polio antara lain mengurangi resiko penularan virus polio yang datang dari negara lain, memastikan tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit polio cukup tinggi dan memberikan perlindungan secara optimal serta merata pada balita terhadap polio.

Sekilas Tentang Polio

Poliomyelitis (Polio) merupakan penyakit yang disebabkan virus dan sangat menular, terutama banyak menyerang anak dan dewasa muda. Virus ini ditularkan dari orang ke orang melalui kotoran yang masuk ke dalam mulut, terkadang melalui air atau makanan yang terkontaminasi, virus ini kemudian berkembang dalam usus sebelum akhirnya dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

Gejala awal polio biasanya berupa demam, lesu, nyeri kepala, kaku di bagian leher dan nyeri di kaki. Pada sebagian kecil kasus, penyakit ini meyebabkan kelumpuhan yang seringkali permanen. Tidak ada pengobatan khusus untuk polio, penyakit ini hanya bisa dicegah oleh vaksin.

Manfaat vaksin polio

Penemuan vaksin untuk mencegah kelumpuhan pada polio merupakan salah satu terobosan besar di bidang medis pada abad 20. Sampai saat ini terdapat 5 jenis vaksin yang dapatdigunakan guna menghentikan penyebaran polio secara global
• Oral polio vaccine (OPV)
• Monovalent oral polio vaccines (mOPV1 and mOPV3)
• Bivalent oral polio vaccine (bOPV)
• Inactivated polio vaccine (IPV)
Jika pada suatu komunitas kebanyakan orang sudah imun maka virus polio akan kehilangan tempat hidup dan akhirnya mati. Cakupan imunisasi yang tinggi diperlukan untuk menjaga penghentian penyebaran terjadi.

Waktu dan cara pemberian vaksin

Selain dari vaksin tetes yang diberikan pada seluruh balita di PIN Polio ini, orangtua juga perlu memenuhi jadwal vaksin polio dasar pada anak. Oral polio vaccine (OPV) diberikan melalui tetes di mulut pada anak usia pada saat lahir atau pada saat bayi dipulangkan (opv-0). Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 pada usia 2,4 dan 6 bulan dan polio booster dua kali pada usia 18-24 bulan dan 5 tahun dapat diberikan vaksin OPV atau IPV, namun sebaiknya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV.

Beberapa negara maju telah beralih dari pemberian OPV ke IPV ( Inactivated Polio Vaccine ). Vaksin jenis ini diberikan melalui suntikan ke dalam otot sebanyak 3 kali pada usia 2,4, 6-18 bulan dan booster pada usia 4-6 tahun oleh tenaga kesehatan professional. IPV diberikan untuk menghindari kejadian kelumpuhan polio yang mungkin terjadi pada pemberian OPV ( lihat pembahasan KIPI) namun pemberian IPV ini tidak direkomendasikan pada negara berkembang yang tinggi tingkat penularan polionya. Hal ini karena IPV hanya memberikan kekebalan yang rendah di usus sehingga kurang efektif mencegah penularan melalui tinja meski sangat efektif mencegah kelumpuhan akibat virus polio, artinya orang yang mendapat IPV jika terkena virus polio akan dicegah dari kelumpuhan namun masih mungkin menularkan melalui tinja.

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan pencatatan semua reaksi yang tidak diinginkan yang timbul setelah pemberian imunisasi

Tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu benar. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu untuk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai banyaknya kejadian KIPI, derajat keparahan sampai benar tidaknya KIPI berhubungan dengan vaksin.

Imunisasi polio merupakan imunisasi yang sangat aman. Imunisasi polio telah digunakan pada sekitar 2,5 miliar anak di seluruh dunia. Meskipun begitu, pada kasus yang sangat jarang, vaksin polio oral dapat menyebabkan paralytic poliomyelitis (kelumpuhan karena vaksin) pada penerimanya.

Irma Susan Kurnia, dr.

03/08/2016

Referensi

  1. Poiiomyelitis, 2016 [internet] [cited March 2016]. Available at www.who.int
  2. Inactivated Polio Vaccine (IPV), 2010 [internet] [cited March 2016] Available at www.polioeradication.org
  3. Petunjuk Teknis Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Tahun 2016 Kementerian Kesehatan RI 2015, Dec 2015 [internet] [cited March 2016] Available at www.indonesian-publichealth.com
  4. Hadinegoro, Sri R. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi .Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000: 2 – 10 [internet] [cited March 2016] available at www.saripediatri.idai.or.id
  5. Watson C, penyunting. National Immunisation Program: The Australian Immunisation Handbook. Edisi ke-6. Commonwealth of Australia: National Health and Medical Research Council 1997
  6. Modlin, John F. Poliovirus vaccination. Uptodate. October 2014.

Mengenal Imunisasi DPT dan Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Ayah ibu, ingatkah dengan wabah difteri yang melanda beberapa daerah di Indonesia tahun lalu? Penyakit yang amat menular dan dapat berdampak buruk bagi pernafasan anak ini muncul setelah beberapa lama tidak terdeteksi. Hal ini selaras dengan gerakan anti vaksin yang sedang marak-maraknya di kala itu. Sayangnya, orangtua mungkin banyak yang terbawa arus tanpa menelaah kebenaran informasi dengan kritis mengenai hal ini. Oleh sebab itu, yuk kita belajar lagi mengenai imunisasi pencegahnya, yaitu imunisasi DPT.

Apa itu imunisasi DPT?

Imunisasi DPT ialah imunisasi untuk mencegah penyakit difteri, tetanus dan pertusis. Difteri adalah penyakit saluran napas atas yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Toksin ini cukup berbahaya karena dapat membentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal seluruh rongga saluran pernapasan. Anak dapat mengalami kesulitan bernafas  dapat mengancam jiwa.  Selain itu, Penyakit difteri juga dapat menyerang saraf dan jantung anak.

Imunisasi DPT

Difteri

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Pertusis disebut juga batuk seratus hari karena penyakit ini bisa berlangsung selama seratus hari.  Bakteri pertusis menyebabkan peradangan saluran napas sehingga pengeluaran dahak terganggu dan terjadi penumpukan lendir dalam saluran napas

Tetanus merupakan penyakit akut, bersifat fatal, yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Clostridium tetani. Gejalanya berupa mulut kaku (trismus), yang diikuti kekakuan leher, sulit menelan, dan perut keras seperti papan. Jika dibiarkan, dapat terjadi kekakuan otot-otot pernafasan, sehingga anak sulit bernafas. Tetanus dapat terjadi pada bayi terutama bila persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan. Tali pusat bayi tidak digunting dengan alat yang steril dan tidak dirawat dengan baik yang bisa menjadi sumber penularan kuman tetanus.

Imunisasi DPT

Tetanus

Bagaimana kejadian difteri, pertusis dan tetanus sebelum dan sesudah DPT ditemukan?

 Faktanya, sebelum vaksin DPT ditemukan:
– Pertusis merupakan penyebab utama kematian pada anak (diperkirakan sekitar 300.000 kematian terjadi setiap tahun).
– Kemungkinan anak yang terkena penyakit difteri akan meninggal sebesar 20-40%.
– Kemungkinan bayi yang terkena tetanus akan meninggal lebih dari 70%.

Sejak vaksin DPT ditemukan, di seluruh dunia, setiap hari setidaknya 2-3 juta kematian pada anak akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertusis dapat dihindari. Pada tahun 2014, sekitar 115 juta anak mendapatkan imunisasi dasar DPT. Cakupan imunisasi dasar DPT di 129 negara telah mencapai 90%.

Imunisasi

Imunisasi Lengkap

Di Indonesia, seperti yang bisa kita lihat pada grafik di atas (Riskesdas 2013), cakupan imunisasi sejak tahun 2007 terus meningkat. Namun, cakupan imunisasi masih di bawah target yaitu 80%. Selain itu, masih muncul wabah difteri. Pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus difteri juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa saja Jenis-jenis Vaksin DPT

Terdapat 2 jenis vaksin DPT, yaitu DTwP (wholecell pertussis) dan DTaP (acellular pertussis). Perbedaannya yaitu vaksin DTwP berisi sel bakteri pertusis utuh, sedangkan vaksin DTaP berisi komponen spesifik toksin bakteri pertusis.

Vaksin DPT juga terdapat dalam bentuk kombinasi (vaksin kombo) dengan vaksin lain. Vaksin kombo tetravalen mengandung 4 jenis vaksin, contohnya yaitu kombinasi DPT dan Hepatitis B, DPT dan Hib atau DPT dan IPV (vaksin polio suntik). Vaksin kombo pentavalen mengandung  5 antigen, yaitu DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Hepatitis B, serta HiB (Haemofilus Influenza tipe B).

Bagaimana Jadwal Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan 5 kali, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali sejak usia 2 bulan dengan jarak antar imunisasi yaitu 4-8 minggu. DPT tidak boleh diberikan sebelum usia 6 minggu. Jadi DPT pertama diberikan pada usia 2 bulan, DPT kedua pada usia 4 bulan, dan DPT ketiga pada usia 6 bulan.
  • Imunisasi DPT booster/penguat diberikan 2 kali. Booster pertama pada usia 18-24 bulan, dan booster kedua pada usia 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

Imunisasi dasar DPT pada bayi 3 kali akan memberikan kekebalan selama 1-3 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia 18-24 bulan akan memperpanjang kekebalan sampai usia 6-7 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia masuk sekolah akan memperpanjang kekebalan sampai usia 17-18 tahun.

Bagaimana Cara Memberikan Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan dengan cara disuntik. Awalnya tenaga kesehatan akan meletakkan bayi di atas tempat tidur. Lalu tungkai bawah bayi sedikit ditekuk. Vaksin DTP disuntikkan ke otot paha bayi dan anak di bawah 3 tahun.

Pada anak yang lebih besar, vaksin DTP disuntikkan ke otot lengan atas. Posisi anak yang paling nyaman yaitu duduk di atas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lengan yang akan disuntik dipegang, sementara lengan lainnya diletakkan di belakang tubuh ibu atau pengasuhnya.

Apa yang bisa terjadi setelah imunisasi DPT?

Setelah imunisasi, dapat timbul KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) pada anak Anda. KIPI ada yang ringan dan berat. KIPI ringan misalnya demam >38,5ºC, rewel, timbul kemerahan/nyeri dan bengkak pada bekas tempat suntikan. Jika demam dapat menggunakan obat penurun panas, kompres air hangat/biasa, memakai pakaian yang tipis, dan minum air lebih banyak (atau ASI pada bayi <6 bulan). Bekas suntikan yang nyeri atau bengkak dapat dikompres air dingin. KIPI ringan akan hilang dalam 2 hari. Jika menetap atau bertambah berat, bawalah anak Anda ke dokter.KIPI berat misalnya anak menangis terus menerus selama >3 jam, kejang demam dan reaksi anafilaktik (alergi berat). Jika timbul KIPI berat, anak harus segera dibawa ke rumah sakit.

KIPI vaksin DTaP lebih jarang dibandingkan DTwP. KIPI yang paling serius pada anak yaitu reaksi anafilaktik, yang terjadi 1-3 kasus diantara 1.000.000 dosis.

Apakah vaksin DPT halal?

Ya, vaksin DPT dianggap halal. Isu yang banyak berkembang yaitu vaksin haram karena mengandung babi. Beberapa vaksin menggunakan enzim tripsin babi, namun pada proses akhir enzim ini tidak ada lagi pada vaksin karena sudah disaring sedemikian kecilnya dengan nanopartikel (proses ultrafiltrasi). Yang menggunakan antara lain : vaksin rotavirus (diare), beberapa merek vaksin flu, dan MMR.

Sebagian ulama menyatakan vaksin tetap halal, karena tanpa vaksin, banyak penyakit infeksi mematikan. Disini poin manfaat yang lebih besar daripada mudharat sangat diperhatikan. Dan selayaknya kita mengingat proses ultrafiltrasi tadi. Selain itu, pengganti enzim tripsin babi belum ditemukan. Ini merupakan alasan kedaruratan, dan para ulama terus menganjurkan untuk menemukan enzim tripsin non-babi yang sampai saat ini masih terus diusahakan.

Kesimpulan

Imunisasi DPT sangat bermanfaat bagi anak-anak kita. Bayangkan jika kita hidup pada masa sebelum ditemukan vaksin DPT. Mungkin anak kita akan menderita bahkan meninggal akibat terkena penyakit difteri, tetanus atau pertusis. Dengan adanya vaksin DPT, kemungkinan anak kita terkena ketiga penyakit tersebut sangat kecil. Kalaupun terkena, penyakit difteri, tetanus atau pertusis yang dialami ringan. Mari kita bersama-sama menjadi orangtua yang bijak dan cerdas, dengan memberikan imunisasi lengkap pada anak-anak kita, generasi penerus yang berharga.

Diana Andarini, dr.

01/23/2016

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Pertussis (Whooping Cough). Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/disease-specifics.html
  2. Joseph J Bocka , Russel W Steele. Pertussis. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/967268-overview#showall
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Tetanus. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf
  4. Patrick B Hinfey, John L Brusch. Tetanus Treatment & Management. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/229594-treatment#d12
  5. Tempo. Padang KLB Difteri. Cited on Jan 16 2016. Available from http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/30/173638878/padang-klb-difteri
  6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Cited on 16 Jan 2016. Available from http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
  7. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  8. World Health Organization. Immunization coverage. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs378/en/
  9. Dirga Sakti Rambe. Komposisi, Proses Pembuatan & Kehalalan Vaksin. Cited on Jan 20 2016. Available from http://rumahvaksinasi.net/komposisi-proses-pembuatan-kehalalan-vaksin.html

Mengenal Gangguan Belajar Pada Anak

Beberapa orangtua mungkin ada yang khawatir melihat kemampuan belajar anaknya ‘berbeda’ dengan anak seusianya. Seperti sulit membaca, menulis, mengerjakan soal matematika, berbicara, mendengar atau konsentrasi. Namun, orangtua tidak perlu terlalu galau. Nyatanya, banyak orang besar yang memiliki gangguan belajar seperti Albert Einstein baru bisa membaca diusia 9 tahun dan Walt Disney memiliki kesulitan membaca di sepanjang hidup mereka. Yang terpenting, orangtua perlu mengenali sejak dini gangguan belajar pada anak dan mencari solusinya.

Apa itu gangguan belajar pada anak?

Gangguan belajar pada anak termasuk gangguan neurologis atau persarafan pada anak. Secara sederhana, gangguan belajar terjadi akibat perbedaan cara kerja dari otak seseorang anak. Sebenarnya, anak-anak dengan gangguan belajar itu sama pintar atau bahkan lebih pintar dari teman-temannya. Tetapi, anak dengan gangguan belajar mungkin akan mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, penalaran, mengingat dan/atau mengorganisir informasi saat disuruh menjelaskan sesuatu atau saat diberi pelajaran dengan cara-cara konvensional.

Gangguan Belajar Pada Anak

Gangguan Belajar

Gangguan belajar pada anak tidak bisa disembuhkan atau diperbaiki, dan dia termasuk problem seumur hidup. Namun, dengan dukungan dan intervensi yang tepat, anak-anak dengan gangguan belajar dapat berhasil baik di sekolah dan meraih sukses. Bahkan ada yang mencapai karir luar biasa kelak setelah dia dewasa.

Orang tua dapat membantu anak dengan gangguan belajar untuk mencapai sukses dengan mendorong kekuatan mereka, memahami kelemahan dan system pendidikan yang diperlukan, serta mempelajari strategi untuk menghadapi kesulitan tertentu. Berikut beberapa fakta tentang gangguan belajar:

  1. Diperkirakan, 1 dari 7 orang di seluruh dunia memiliki beberapa tipe dari gangguan belajar.
  2. Kesulitan membaca dan kemampuan berbahasa adalah gangguan belajar pada anak yang paling umum. Sekitar 80% dari siswa dengan gangguan belajar mengalami masalah dengan membaca.
  3. Gangguan belajar pada anak tidak perlu dibingungkan dengan gangguan yang lain, seperti: keterbelakangan mental, autism, ketulian, kebutaan, dan gangguan perilaku. Tak satu pun dari kondisi di atas termasuk kategori gangguan belajar. Selain itu, kita pun tidak perlu bingung dengan kesempatan pendidikan untuk anak dengan gangguan belajar, hanya saja mereka memerlukan metode khusus.
  4. Gangguan atensi dan gangguan belajar sering kali terjadi pada saat bersamaan, tetapi kedua jenis gangguan tersebut tidak identik.

Bentuk gangguan belajar pada anak

Bentuk gangguan belajar pada anak yang paling umum, antara lain:

  1. Disleksia: gangguan yang berhubungan dengan bahasa, dimana anak memiliki kesulitan untuk memahami kata-kata tertulis. Gangguan ini juga biasa disebut sebagai gangguan membaca.
  2. Diskalkulia: gangguan matematikal, dimana anak perlu waktu lebih lama untuk memecahkan problem aritmatika dan menangkap konsep matematika.
  3. Disgrafia: gangguan menulis, dimana anak akan merasa sulit untuk mencoretkan sebuah huruf atau menulis dalam sebuah area yang telah ditentukan.
  4. Gangguan pengolahan auditori dan visual: gangguan dalam memahami bahasa meskipun dia mempunyai pendengaran dan penglihatan yang normal.
  5. Gangguan belajar nonverbal: gangguan neurologis yang berasal dari belahan otak kanan, menyebabkan masalah dengan fungsi proses visual-spasial, intuitif, organisasi, evaluatif, dan holistik. Tipikalnya, anak dengan gangguan belajar nonverbal sulit memahami ekspresi wajah, bahasa tubuh dan memiliki koordinasi yang kurang baik.

Kabar baik tentang gangguan belajar adalah bahwa para ilmuwan telah menambah pengetahuan mereka setiap hari. Penelitian mereka pun telah banyak memberikan harapan dan arahan yang menggembirakan. Jika orang tua, guru, dan professional lain sejak dini menemukan gangguan belajar anak dan langsung memberi bantuan yang tepat, maka langkah seperti ini akan memberi anak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk bisa menjalani kehidupan yang sukses dan produktif.

Cilegon, 8 Januari 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi

  1. Corinne Smith: Learning Disabilities A to Z; Free Press; 1st edition (June 12, 2000)
  2. Gary Fisher dan Rhoda Cummings: The School Survival Guide for Kids with Learning Disability (Self-Help for Kids Series); Free Spirit Publishing; 2nd edition (September 2000)
  3. Joan M Harwell dan Rebecca Williams Jackson: The Complete Learning Disability Handbook: Ready to-Use Strategies and Activities for Teaching Students with Learning Disability; Jossey-Bass; 3rd edition (October 20, 2008)
  4. Peg Dawson dan Richard Guare: Coaching Students with Executive Skills Deficits; The Guilford Press; 3rd edition (Februari 9, 2010)
  5. Types of Learning Disabilities. 2016. Learning Disabilities Association of America. http://ldaamerica.org/types-of-learning-disabilities/

Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah. Balita dengan gangguan bicara dan bahasa berisiko tinggi mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani, anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orangtua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Salah satu ciri anak mengalami gangguan bicara dan bahasa ialah terlambat bicara. Speech delay atau terlambat ini Paling banyak terjadi pada anak laki-laki, yang keluarganya terdapat riwayat terlambat bicara atau gangguan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan adanya gen FOXP2 yang diturunkan dan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa. Anak juga berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa jika lahir prematur atau berat badan saat lahir rendah (bayi BBLR), tingkat pendidikan orang tua rendah dan kemiskinan.

Jenis-jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak

Ada 2 tipe utama gangguan bicara dan bahasa pada anak, yaitu tipe primer dan sekunder.

Tipe Primer
merupakan gangguan bicara dan bahasa yang murni tanpa ada penyebab/kondisi lain. Contoh gangguan tipe primer misalnya :

  • Perkembangan bicara dan bahasa yang terlambat/ “late bloomers”
    Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Kondisi ini terjadi akibat adanya keterlambatan proses pematangan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Perkembangan bicara dan bahasa anak biasanya akan normal dengan sendirinya.
  • Gangguan bahasa ekspresif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Gangguan ini sulit dibedakan dengan developmental speech and language delay pada usia dini. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa reseptif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses pemahaman.Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, jarang bicara, agrammatic (tatanan bahasa yang salah), dan artikulasi tidak jelas. Anak tidak melihat atau menunjuk pada objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua (hal ini menunjukkan anak kurang/tidak paham). Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa campuran
    Merupakan campuran dari gangguan bahasa ekspresif dan reseptif. Anak memiliki pemahaman yang kurang, menggunakan kata tidak sesuai artinya, sulit mengungkapkan keinginannya, dan kosakatanya terbatas. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.

Tipe Sekunder
merupakan gangguan bicara dan bahasa karena ada penyebab yang jelas atau kondisi lain. Contohnya :

  • Gangguan spektrum autis
    Gangguan spektrum autis merupakan suatu kumpulan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan masalah sosial, komunikasi dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil (misal asalm valproat, thalidomide), usia kedua orang tua >40 tahun saat hamil, dll.
    Gejalanya yaitu anak terlambat bicara, adanya penurunan intelektual, echolalia (mengulang ucapan namun tidak mengerti artinya), kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan, menyebutkan pronoun (saya, kamu, dia) terbalik-balik, dan adanya kemunduran dalam perkembangan bahasa dan bicaranya.
    Anak juga memiliki gangguan interaksi sosial. Tidak ada kontak mata saat diajak bicara, tidak merespon senyuman orang tua, hidup di “dunianya sendiri”, dan sering mengulang gerakan tertentu yang tidak jelas.
    Anak sebaiknya diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain (misal perkembangan motoriknya).
  • Cerebral palsy
    Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan atau postur tubuh yang tidak normal akibat kerusakan/gangguan perkembangan otak. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kernicterus (sakit kuning yang berat), riwayat kejang, perdarahan otak, prematur, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Cerebral palsy tidak semakin memburuk, cenderung menetap seiring pertambahan usia anak. Selain gangguan gerak dan postur tubuh, anak juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, penurunan intelektual, dan gangguan bicara. Gangguan bicara terjadi karena kesulitan koordinasi/kekakuan otot-otot orofaring (dari mulut sampai pita suara). Akibatnya anak sulit mengucapkan kata dan berbicara dengan jelas. Gangguan bicara menyebabkan anak sulit berkomunikasi, yang sering salah diinterpretasikan sebagai gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan stres pada anak dengan CP, terutama yang tingkat intelektualnya normal/di atas rata-rata.
  • Apraksia bicara pada anak
    Apraksia bicara pada anak merupakan salah satu kelainan motorik. Pada kondisi ini otak sulit mengkoordinasikan otot-otot pada bibir, rahang dan lidah. Otot anak tidak lemah atau lumpuh seperti pada kondisi cerebral palsy. Pada sebagian besar anak penyebabnya tidak jelas, sebagian lagi disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan otak. Ciri-cirinya yaitu:

    • Lebih sering menyederhanakan kata dengan menghilangkan bunyi yang sulit dibanding anak normal
    • Dapat memahami bahasa jauh lebih baik dibanding yang bisa diucapkannya
      Sering salah mengucapkan kata namun tidak konsisten
    • Ucapan yang ditiru lebih jelas dibandingkan ucapan yang spontan
      Sulit mengucapkan kata atau kalimat yang panjang
    • Ucapan terdengar monoton, terbata-bata, atau menekan pada kata atau silabus yang salah
  • Disartria
    Disartria merupakan jenis kelainan motorik. Pada kondisi ini otot-otot pada bibir, lidah, pita suara dan/atau diafragma anak lemah. Penyebabnya yaitu adanya kerusakan otak pada tingkat yang lebih rendah dibanding kerusakan otak pada apraksia. Anak paham dan mengetahui apa yang ingin diucapkan, namun artikulasinya tidak jelas. Ciri-cirinya yaitu:

    • Ucapannya berantakan, bicara cepat seperti bergumam
    • Gerakan lidah, bibir dan rahang terbatas
    • Kualitas suara berubah, seperti serak atau sengau
  • Retardasi mental
    Anak dikatakan retardasi mental bila memenuhi 3 kriteria, yaitu fungsi intelektual dibawah normal (IQ <70), terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial, dan gejala timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental dapat disebabkan adanya kelainan genetik, riwayat kernicterus (sakit kuning yang berat), perdarahan otak, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Retardasi mental bisa menyebabkan terlambat bicara. Selain itu, anak juga terlambat menggunakan gestur/gerakan sebagai sarana komunikasi. Pemahaman anak pun kurang terhadap perintah orang lain. Perbedaannya dengan yang lain, pada retardasi mental anak mengalami keterlambatan di semua aspek perkembangan (motorik, sosial dan kemandirian, dll )
  • Gangguan pendengaran
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan bicara juga. Terlebih lagi bila gangguan pendengaran terjadi di usia dini. Hal ini disebabkan anak kekurangan perbendaharaan kata/informasi yang ia perlu dengar sebelum ia ungkapkan dalam kata atau kalimat.Gangguan pendengaran bisa karena sumbatan/infeksi telinga luar, tetapi bisa juga karena saraf. Ciri anak yang mengalami gangguan bicara akibat masalah pendengaran yaitu : Anak biasanya memiliki suara yang berbeda (terdistorsi/sengau), kesulitan mengeluarkan suara s, f, th, dll yang berfrekuensi tinggi, namun anak memiliki kontak mata dan interaksi sosial yang normal. Anak dengan gangguan pendengaran yang diterapi pada usia dini menunjukkan kemampuan bicara dan bahasa yang setara dengan anak tanpa gangguan pendengaran. Jadi penting sekali mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin.
  • Selective mutism
    Pada kondisi ini anak tidak bicara karena tidak mau, bukan karena tidak bisa. Selective mutism lebih sering pada anak perempuan. Anak biasanya mau bicara saat sedang sendiri, dengan orang tua atau keluarganya, namun anak tidak mau bicara di tempat umum (misal sekolah) atau dengan orang asing. Sebagian anak dengan selective mutism juga mengalami gangguan artikulasi atau bahasa. Selain itu, anak dengan selective mutism juga menunjukkan gejala kesulitan beradaptasi, terlalu bergantung pada orang tuanya. Pada umumnya anak akan menarik diri, malu, cenderung penakut dan pesimis.

Diagnosis

Identifikasi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa akan berlanjut dengan terapi. Terapi sebaiknya dilakukan pada usia dini, saat otak anak masih berkembang pesat sehingga bisa dicapai hasil yang terbaik. Oleh karena itu, deteksi dini anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa sangat penting. Tanda-tanda anak Anda berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa bisa dilihat disini.

Saat anak Anda dibawa ke dokter, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, fungsi pendengaran, motorik kasar dan halus. Lalu dokter akan melakukan check list dari instrumen tumbuh kembang anak seperti Denver II dan Early Language Milestone Scale. Orang tua akan diminta untuk mengisi kuesioner. Jika dibutuhkan, anak Anda juga diminta untuk melakukan cek darah dan tes genetik.

Terapi

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe primer, terapi bicara dan bahasa terbukti efektif. Penelitian pada anak usia 2 tahun dengan gangguan bicara dan bahasa yang diterapi intensif, 75% anak perkembangan bicara dan bahasanya normal pada usia 3 tahun.

Terapi wicara
Salah satu contoh terapi bicara dan bahasa adalah terapi wicara. Pada saat terapi, anak akan berada di dalam satu ruangan berhadapan dengan terapisnya. Kegiatan saat terapi wicara mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Intervensi bahasa
    Terapis berinteraksi dengan anak melalui permainan dan mengobrol, menggunakan gambar, buku, mainan, dll. Terapis juga mencontohkan penggunaan kosakata dan susunan kalimat yang benar, dengan latihan berulang-ulang.
  • Artikulasi/produksi suara
    Terapis mencontohkan pengucapan huruf dan suku kata yang benar. Terapis memperlihatkan dan memperagakan gerakan mulut dan lidah saat mengucapkan huruf dan suku kata.
  • Oral-motor
    Terapis menggunakan beberapa latihan oral, misalnya facial massage (pijat wajah), latihan lidah, bibir dan rahang. Latihan tersebut untuk memperkuat otot-otot mulut.
Terapi wicara pada gangguan bicara dan bahasa

Terapi wicara

Terapi SI (sensory integration)
Ternyata sebagian anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya juga memiliki gangguan integrasi sensori. Sistem sensori yang terkoordinasi dengan baik dapat mengintegrasikan stimulasi dari berbagai sumber (vestibular/sistem keseimbangan, visual/penglihatan), propioseptif, auditori/pendengaran, dan taktil/sentuhan). Gangguan integrasi sensori muncul saat saraf-saraf sensori tidak berfungsi atau fungsinya tidak efektif, yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak. Pada saat terapi SI, anak akan diajak bermain dan melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengintegrasikan sistem sensorik dengan berbagai stimulasi.

Terapi SI pada Gangguan Bicara dan Bahasa

Terapi SI

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe sekunder, dokter akan melakukan terapi bicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi. Selain itu, terapi lain juga diperlukan sesuai penyebab dan kelainan penyertanya. Misalnya anak dengan cerebral palsy dan retardasi mental membutuhkan fisioterapi, anak dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar dan terapi AVT (auditory verbal therapy), dll.

Kesimpulan

Speech delay/terlambat bicara hanya merupakan tanda adanya gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, yang harus dicaritahu penyebabnya. Orang tua cenderung menunggu anak bisa bicara normal dengan sendirinya, namun dari semua jenis gangguan bicara dan bahasa, hanya 1 jenis yang dapat sembuh sendiri, sementara hampir semua gangguan bicara dan bahasa diakibatkan adanya gangguan/kerusakan otak. Terapi sebaiknya tidak ditunda dan dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta mencegah timbulnya masalah kognitif dan psikososial pada anak di kemudian hari.

Diana Andarini, dr.

12/22/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Childhood apraxia of speech. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/ChildhoodApraxia/
  4. Simon E. Fisher, Cecilia S.L. Lai, and Anthony P. Monaco. Deciphering the genetic basis of speech and language disorders. Annual Review of Neuroscience 2003; 26:57-80. DOI:10.1146/annurev.neuro.26.041002.131144. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12524432
  5. A Buschmann, B Jooss, A Rupp. Parent based language intervention for 2-year-old children with specific expressive language delay: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2009; 94:110-116. doi:10.1136/adc.2008.141572. Cited from http://adc.bmj.com/content/94/2/110.full
  6. Sensory integration therapies for children with developmental and behavioral disorders. Pediatrics 2012;129:1186-1189. DOI: 10.1542/peds.2012-0876. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/early/2012/05/23/peds.2012-0876.full.pdf
  7. Speech Language Therapy. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://kidshealth.org/parent/system/ill/speech_therapy.html#
  8. Hanifah Oswari, Rudianto Sofwan. 123 Penyakit dan Gangguan pada Anak. 2009 Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
  9. Gregory Hickok, John Houde, Feng Rong. Sensorimotor Integration in Speech Processing: Computational Basis and Neural Organization. Neuron 2011; 69(3):407-422. doi:10.1016/j.neuron.2011.01.019
  10. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Palsy: Hope Through Research. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.ninds.nih.gov/disorders/cerebral_palsy/detail_cerebral_palsy.htm
  11. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Dysarthria. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/
  12. CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  13. Heidi D. Nelson, Peggy Nygren, Miranda Walker, Rita Panoscha. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006; 117(2):298-319. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/117/2/e298.full
  14. Margaret J. Snowling, D.V.M. Bishop, Susan E. Stothard. Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2006; 47(8):759-765. DOI: 10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x. Cited from onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x/abstract
  15. Michael I. Shevell, Anneta Majnemer, Richard I. Webster. Outcomes at school age of preschool children with developmental language impairment. Pediatric Neurology 2005; 32(4):264-269.  doi:10.1016/j.pediatrneurol.2004.12.008
Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan Bahasa Anak dan Tanda Waspadanya

Masa balita merupakan masa krusial perkembangan bahasa anak. Dua tahun pertama kehidupan anak atau yang disebut sebagai periode emas (golden period) merupakan saat otak anak berkembang dengan sangat pesat. Saat anak memasuki usia dua sampai lima tahun, perkembangan bahasa anak juga masih berada di puncak-puncaknya.

Bahasa dan bicara ialah dua hal yang amat terkait. Bahasa dapat diungkapkan secara verbal (bicara), melalui gerakan, atau tulisan. Bicara membutuhkan koordinasi yang baik antara otot lidah, bibir, rahang dan pita suara untuk menghasilkan suara.

Bagaimana otak anak memproses bahasa dan bicara?

Kemampuan bahasa anak dibagi menjadi kemampuan bahasa ekspresif (bicara) dan reseptif (pemahaman). Area di otak yang bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa bernama Broca dan Wernicke. Area Broca penting untuk kemampuan bicara. Area Broca terletak di otak depan sebelah kiri, berkaitan dengan area motorik yang mengontrol otot-otot untuk bicara. Sedangkan area Wernicke penting untuk kemampuan memahami bahasa lisan dan tulisan. Area Wernicke terletak di otak sebelah kiri dekat dengan telinga.

tumblr_inline_n22p0tHu2a1ruyaki

Saat anak membaca tulisan atau mendengar orang berbicara, informasi tersebut akan sampai ke area Wernicke. Setelah itu, informasi akan diproses di area otak yang lain dan diteruskan ke area Broca. Pada area Borca, informasi diubah menjadi pola suara (sound pattern). Pola suara ini diteruskan ke area motorik di otak untuk mengaktifkan otot-otot wajah dan lidah. Dari sinilah anak dapat menghasilkan kata-kata untuk diucapkan.

Bagaimana perkembangan bahasa anak yang normal?

Perkembangan bahasa anak bisa jadi berbeda antara satu anak dengan yang lain. Namun, pada umumnya perkembangan bahasa anak mengikuti kaidah seperti ini:

Usia 3 bulan

  • Bereaksi terhadap suara keras
  • Tersenyum saat diajak berbicara
  • Menjadi tenang saat menangis dengan mendengar suara orang tuanya (bayi mampu mengenali suara orang tuanya)
  • Tersenyum saat melihat orang tuanya
  • Menangis dengan cara yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda
  • Cooing (mengoceh dengan mengeluarkan suara seperti “aaah” atau “uuuh”)
Perkembangan bahasa anak : Cooing

Perkembangan bahasa anak : Cooing

Usia 4-6 bulan

  • Mengikuti suara dengan pandangan matanya
  • Memperhatikan mainan yang berbunyi
  • Bereaksi terhadap perubahan nada suara orang tuanya saat berbicara
  • Babbling (mengucapkan kata kombinasi antara vokal dan konsonan secara berulang-ulang seberti ba-ba-ba, ma-ma-ma, pa-pa-pa)
  • Tertawa
  • Mulai mengeluarkan bunyi p, b, m
Perkembangan bahasa anak : Babbling

Babbling

Usia 7 bulan – 1 tahun

  • Senang main cilukba
  • Menengok dan melihat ke arah sumber suara
  • Mendengarkan saat diajak bicara
  • Mengerti kata-kata yang umum seperti gelas, sepatu, jus
  • Mampu mengikuti perintah sederhana (misal “kesini”)
  • Berkomunikasi dengan gerakan (gesture) seperti melambaikan tangan atau menunjuk
  • Meniru kata-kata yang terdiri dari 2-3 suku kata
  • Bisa mengucapkan satu atau dua kata yang bermakna saat usia 1 tahun (misal “mama”, “papa”)

Usia 1-2 tahun

  • Mengetahui beberapa anggota tubuh dan dapat menunjuk bagian tersebut dengan benar
  • Mengikuti perintah sederhana (“ambil bola”) dan mengerti pertanyaan sederhana (“dimana sepatumu?”)
  • Senang dengan cerita, lagu dan irama sederhana
  • Dapat menunjuk gambar di dalam buku dengan benar
  • Dapat membentuk kalimat sederhana (terdiri dari 2 kata, misal “mau makan”)
    Pada usia 18 bulan perbendaharaan kata anak yang bermakna : 10-15 atau lebih

Usia 2-3 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 2 sampai 3 kata
  • Mampu mengucapkan k, g, f, t, d dan n dengan jelas
  • Tidak ada lagi echolalia maupun jargon. (Echolalia maksudnya anak dapat mengulang ucapan sama persis namun tidak mengerti artinya. Sedangkan jargon ialah membuat istilah sendiri yang hanya ia mengerti)
  • Mengetahui umur dan jenis kelamin
  • Menghitung 3 objek dengan benar
  • 75-90% ucapannya dimengerti oleh orang lain selain orang tua dan keluarganya
  • Pada usia 2 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 50-100 atau lebih

Usia 3-4 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 3 sampai 6 kata
  • Mampu menjawab pertanyaan “Siapa?” “Apa?” “Di mana?” “Mengapa?”
  • Bercerita tentang kegiatannya selama di daycare, sekolah atau rumah temannya
  • Dapat berbicara dengan mudah tanpa harus mengulang suku kata atau kata
  • 90-100% ucapannya dimengerti oleh orang lain selain orang tua dan keluarganya
  • Pada usia 3 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 400 atau lebih

Usia 4-5 tahun

  • Dapat membentuk kalimat yang terdiri dari 6-8 kata
  • Bercerita tentang satu topik pada satu waktu sampai topik tsb selesai
  • Memperhatikan cerita pendek, kemudian mampu menjawab pertanyaan sederhana mengenai cerita tsb
  • Mampu mengucapkan hampir semua huruf dengan jelas (kecuali l, s, r, v, z, ch, ch, th)
  • Menghitung 10 objek dengan benar
  • Dapat menyebutkan 4 warna
  • Menggunakan susunan kalimat seperti orang dewasa (adult grammar)
  • Pada usia 5 tahun perbendaharaan kata anak yang bermakna : 2000 atau lebih

Kapan saya harus khawatir mengenai perkembangan bahasa anak saya?

Tahapan perkembangan bahasa anak yang telah dijabarkan adalah acuan umum dan setiap anak bisa berbeda. Namun, Anda perlu waspada jika anak Anda mengalami salah satu kondisi di bawah ini:

Usia 1 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak babbling, tidak berusaha berkomunikasi dengan menunjuk atau gerakan lain.

Usia 1 tahun 3 bulan (15 bulan)

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak dapat mengucapkan minimal 3 kata yang bermakna.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat menunjuk atau melihat ke 5-10 objek yang disebutkan oleh orang tua.

Usia 1,5 tahun (18 bulan)

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak mengucapkan “mama”, “papa” atau nama lain.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat mengikuti perintah sederhana (misal “kesini”).

Usia 2 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak menggunakan minimal 25 kata yang bermakna.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar saat disebutkan.

Usia 2,5 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak dapat membentuk 2 kata menjadi kalimat sederhana.
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak dapat merespon pertanyaan dengan mengangguk/menggeleng atau secara verbal.

Usia 3 tahun

  • Kemampuan bahasa ekspresif: anak tidak menggunakan minimal 200 kata, menjawab pertanyaan dengan echolalia, tidak meminta sesuatu secara verbal (tidak menyebutkan nama objek).
  • Kemampuan bahasa reseptif: anak tidak mengerti kata kerja, tidak dapat mengikuti perintah 2 langkah.

Pada usia berapa pun anak menunjukkan kemunduran atau kehilangan kemampuan bicara dan bahasa, padahal sebelumnya sudah sesuai tahapan perkembangannya.

Jika terdapat salah satu dari kondisi ini, sebaiknya segera bawa anak Anda ke klinik tumbuh kembang untuk diperiksa. Di klinik tumbuh kembang, anak Anda akan diperiksa oleh tim yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter spesialis rehabilitasi medik dan psikolog.

Diana Andarini, dr. 

12/06/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. Jeffrey R. Binder, Julie A. Frost, Thomas A. Hammeke. Human Brain Language Areas Identified by Functional Magnetic Resonance Imaging. Journal of Neuroscience, 1 January 1997, 17(1): 353-362. Cited from http://www.jneurosci.org/content/17/1/353.full
  4. Sherwood L. Human physiology from cells to systems. Chapter 5 page 146-52. 2004. Thomson Learning, Inc, USA.
  5. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. Editor edisi bahasa indonesia A. Samik Wahab. Ilmu kesehatan anak Nelson vol.1. Bab 10 halaman 55-64. 1999. Penerbit buku kedokteran EGC, Indonesia.
  6. NIDCD. Speech and Language Developmental Milestones. September 2010. Cited from http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/pages/speechandlanguage.aspx
  7. Perkembangan Bahasa Bayi | Jalur Ilmu [Internet]. [cited 2015 Dec 6]. Available from: http://jalurilmu.blogspot.sg/2011/11/perkembangan-bahasa-bayi.html

Gizi dan Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Tulang berfungsi menopang badan, melindungi alat tubuh yang vital seperti otak dan paru-paru. Tulang juga merupakan parameter penentu tinggi badan. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya memiliki tinggi badan yang ideal.

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa penting pertumbuhan dan pembangunan tulang. Sebesar 45% pertumbuhan massa tulang terjadi pada usia 0-10 tahun. Pada masa itu, tulang tumbuh memanjang. Ketika remaja, sekitar 45% massa tulang dewasa terbentuk sampai usia 18 tahun. Anak disebut pendek apabila tinggi per umur di bawah normal.

Gizi adalah batu bata penopang pertambahan tinggi badan yang merupakan salah satu indikator status gizi anak. Anak yang terbiasa memilih makanan kesukaan tanpa mempertimbangkan kandungan gizi, akan mengakibatkan terhambatnya pertambahan tinggi badan. Penelitian menunjukkan bahwa protein, vitamin, dan mineral mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan tinggi badan.

Protein
Setiap sel dalam tubuh kita mengandung protein. Pada tulang, protein berfungsi dalam pembentukan jaringan tulang yang baru dan penggantian jaringan tulang yang rusak. Protein juga berfungsi memperkuat otot sekitar tulang, sehingga tulang terpelihara.

Kalsium
Kalsium merupakan mineral terbanyak dalam tubuh dan 99% terdapat dalam tulang dan gigi. Sisanya terdapat dalam darah dan jaringan lunak. Kalsium berperan sebagai penyusun sel tulang, mendukung kerja sel osteoblas (pembentuk tulang), mengeraskan dan menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.

Fosfor
Fosfor berfungsi dalam mineralisasi tulang dan gigi. Sebanyak 80% fosfor tersimpan dalam tulang. Kristal mineral dibentuk selama kalsifikasi (pengerasan) tulang yang terdiri dari kalsium fosfat, komponen utama mineral kompleks yang membentuk struktur dan kekuatan pada tulang.

Vitamin D
Vitamin D membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta mineral. Vitamin D berfungsi membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.

Magnesium dan Seng
Magnesium berfungsi untuk mineralisasi dalam tulang. 50% magnesium tubuh terdapat dalam tulang. Seng berperan dalam pertumbuhan sel dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan tinggi badan. Keduanya berperan dalam pelekatan kalsium dan mineral lain di antara serat protein, sehingga memberikan kekuatan pada tulang.

Yodium
Bagian dari hormon tiroid ini berfungsi mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretinisme yang ditandai dengan tubuh yang kerdil, serta retardasi mental.

Depok, 6 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Kalkwarf et al. 2010. Tracking of Bone Mass and Density During Childhood and Adolescence. The Endocrine Society.
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.
5. Bataviase. 2010. Protein dan Olahraga Cegah Patah Tulang. Bataviase. Jakarta

Keterampilan Motorik Anak

Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan gerakan-gerakan sadar dan terkoordinasi. Keterampilan motorik ditandai dengan berkembangnya pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir. Keterampilan motorik seorang anak sangat ditentukan faktor-faktor berikut:

  1. Perkembangan organ otak anak.
    Otak merupakan pusat koordinasi dari aktivitas motorik yang disadari. Sehingga apabila perkembangan otak terganggu, ada kemungkinan aktivitas gerak anak juga terganggu.
  2. Kemampuan anak mempersepsikan sesuatu di lingkungannya
    Pada tahap awal, kemampuan motorik anak sebenarnya perwakilan dari hasrat anak terhadap sesuatu. Misalkan, ketika anak melihat sebuah benda yang menarik perhatiannya, benda itu dipersepsikan dalam otaknya untuk dimainkan.
  3. Proses kematangan fisik anak.
    Perkembangan kemampuan anak terjadi secara bertahap.Tidak mungkin anak usia 6 bulan sudah langsung dapat berjalan.
  4. Kelengkapan organ tubuh anak
  5. Jenis kelamin. Pada anak laki-laki, kemampuan fisik yang bersifat atletis seperti berlari, melompat, dan melempar, lebih baik dibandingkan dengan anak perempuan.

Untuk lebih jelas, berikut beberapa manfaat atas pencapaian keterampilan motorik anak:

  1. Melalui keterampilan motorik, kepercayaan diri anak sedang diasah dan dimunculkan
  2. Dirinya akan merasa terhibur dan senang
  3. Menjadi sarana sosialisasi dan pergaulan anak
  4. Sesungguhnya anak sedang merintis jalan menuju pembentukan dan perkembangan kepribadiannya.

Jenis keterampilan motorik:

1. Motorik halus

Gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu untuk melakukan gerakan-gerakan kecil. Kemampuan ini dipengaruhi kesempatan yang diperoleh anak untuk belajar dan berlatih melakukan gerakan-gerakan itu. Misalnya, kemampuan menggenggam, memindahkan benda dengan jari jemarinya, mencoret-coret, menyusun balok, menyuap sendiri makanan ke dalam mulut, menulis, menggambar, menggunting, dan sebagainya.

2. Motorik kasar

Gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar untuk melakukan gerakan-gerakan besar. Kemampuan dari gerakan ini dipengaruhi oleh proses perkembangan kematangan organ-organ tubuh anak itu sendiri. Misalnya,tengkurap, mengangkat leher, duduk, berdiri, berjalan, berlari, menendang, naik atau turun tangga, memanjat, mengayuh sepeda dan sebagainya.

Cara yang dapat ditempuh agar perkembangan motorik halus dan kasar anak berkembang baik antara lain:

  1. Memberi stimulasi (rangsangan) pada motorik halus maupun motorik kasarnya
  2. Memberikan gizi yang cukup dan seimbang pada anak
  3. Menyediakan lingkungan yang mendukung

Depok, 5 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Barbara J Roeber, et al. 2012. Gross Motor Development in Children Adopted from Orphanage Settings. Departement of Psychology, University of Wisconsin-Madison.
2. Thomas Schack, et al. 2011. Representation and Anticipation in Motor Action. Faculty of Psychology and Sport Sciences, Bielefeld University, Germany.
3. Bartlomiej, Maria. 2012. Development of Selected Motor Skills in Boys and Girls in Relation toTheir Rate of Maturation – A Longitudinal Study. University School of Physical Education. Polandia.
4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 184

Gambar diunduh dari:

http://www.smartfirstgraders.com/image-files/boycutting.jpg

Cegah Sindroma Rubella Kongenital (SRK) dengan Imunisasi MMR

Penyakit rubella atau yang disebut juga campak jerman mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Pada orang hamil penyakit ini akan menjadi perhatian. Mengapa begitu ? Yuk kita kenali lebih dekat si virus rubella ini.

Sekilas Tentang Rubella 

Virus rubella ini dapat menular lewat udara dari seseorang yang terinfeksi rubella. Gejala tertularnya penyakit ini antara lain adanya demam sumeng-sumeng, ruam, lemah, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pembesaran kalenjar getah bening, nyeri sendi, namun pada sekitar 25-50% infeksinya tidak bergejala. Meskipun demikian orang yang tidak bergejala ini juga dapat menularkan ke orang lain.

Pada orang dewasa yang tidak hamil, sebenarnya penyakit ini tidak berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun bagaimana jika sang ibu hamil yang terinfeksi rubella ? Infeksi rubella yang terjadi saat konsepsi dan kehamilan sangat berbahaya bagi janin dan dapat menyebabkan Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital (SRK) ialah kecacatan janin akibat infeksi rubella pada ibu. Kecacatan yang terjadi dapat beragam antara lain tuli  (58%); gangguan pada penglihatan dapat berupa katarak, glaukoma, retinopati (43%); penyakit jantung bawaan, keguguran, lahir mati, lahir prematur gangguan pada sistem saraf pusat, retardasi mental, kuning pada bayi, dan berbagai gangguan lainnya.

X2604-R-26

Sindroma Rubella Kongenital

Resiko keparahan SRK ini juga bergantung pada usia kehamilan saat ibu mengalami infeksi. Risiko Sindroma Rubella Kongenital tertinggi jika infeksi rubella terjadi pada trimester pertama mencapai 85%. Sedangkan pada minggu ke 13-16 kehamilan risikonya menurun menjadi 54%, dan setelah minggu ke 20 kehamilan risiko tersebut semakin kecil.

Bagaimana mencegah infeksi rubella?

Kekebalan terhadap rubella bisa didapatkan melalui imunisasi atau adanya riwayat infeksi dimasa lampau. Imunisasi rubella di Indonesia diberikan dalam bentuk kombo yakni imunisasi MMR yang merupakan gabungan dari vaksin measles (campak)-mumps (gondong)-rubella. Imunisasi MMR saat ini sudah direkomendasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk diberikan pada usia 15 bulan dan 5 tahun.

mmr10a

Imunisasi sejatinya bukan hanya dapat dilakukan pada bayi dan anak, namun beberapa vaksin juga memang diperuntukkan untuk dewasa apabila saat kecil Ibu belum mendapatkannya. Salah satunya imunisasi MMR. Sebagai persiapan sebelum menikah atau sebelum hamil, sebaiknya dilakukan 1 atau 2 dosis vaksin MMR. Vaksin MMR merupakan jenis vaksin hidup sehingga tidak boleh disuntikkan pada wanita hamil, dan harus diingat bahwa bunda harus menunda kehamilan minimal 1 bulan setelah imunisasi MMR (rekomendasi ACIP). Ibu menyusui bukanlah kontraindikasi untuk vaksin ini, sehingga dapat diberikan kapan pun setelah Ibu melahirkan.

Untuk jenis vaksin hidup, dosis kedua bukanlah booster sepertihalnya jenis vaksin mati. Seperti MMR, dosis kedua sebenarnya bukanlah booster. Namun sekitar 2-5% orang tidak terbentuk kekebalan setelah suntikan pertama MMR, sehingga suntikan kedua diharapkan dapat memberikan kembali kesempatan untuk membentuk kekebalan/ antibodi. Namun sayangnya diperlukan pemeriksaan darah untuk memastikan terbentuk atau tidaknya antibodi, sehingga pada anak-anak usia sekolah, traveler, tenaga kesehatan dan orang dengan risiko tinggi tertular penyakit tersebut direkomendasikan untuk mendapatkan 2 dosis MMR. Setelah dosis ke 2 ini, sekitar 99% terdeteksi antibodi terhadap campak, rubella dan gondong.

Siapa sajakah yang tidak boleh mendapatkan imunisasi MMR?

  • Ibu hamil
  • Riwayat anafilaksis pada pemberian neomisin
  • Riwayat alergi hebat terhadap komponen vaksin atau saat pemberian vaksin MMR sebelumnya
  • Orang dengan imunitas rendah seperti penderita leukemia, AIDS.

Untuk Anda yang sedang masa persiapan pernikahan, setelah melahirkan, atau persiapan kehamilan berikutnya namun belum pernah mendapatkan Imunisasi MMR, yuk segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan suntikan MMR. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/07/2015

Sumber :

1. Dontygni, Lorraine., Arsenault, M., Martel, M. Rubella in Pregnancy.[cited 2015 Agust 18]. Available from : http://sogc.org/wp-content/uploads/2013/01/guiJOGC203CPG0802.pdf
2. Ezike, Elias. Pediatric Rubella. [cited 2015 Agust 18]Available from http://emedicine.medscape.com/article/968523-overview
3. Measles Mumps and Rubella. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/askexperts/experts_mmr.asp
4. McLean, Huong., Redd, Susan., Abernathy, Emily., Icenogle, Joseph ., Wallace, Gregory VPD Surveillance Manual. Chapter 14 : Rubella. 5th Edition, 2012. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt14-rubella.html#vaccination
5. MMR Vaccine : What You Need to Know. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/vis/mmr.pdf
6. Prevention of Measles, Rubella, Congenital Rubella Syndrome, and Mumps, 2013: Summary Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Recommendations and Report/ Vol.62/No.4. June 14, 2013. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr6204a1.htm
7. Rubella: Questions and Answers. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.immunize.org/catg.d/p4218.pdf
8. Rubella (German measles) during pregnancy. [cited 2015 Agust 21]Available from http://www.babycenter.com/0_rubella-german-measles-during-pregnancy_9527.bc

Gambar :
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Rubella,+congenital+syndrome
iio876http://www.tulsa-health.org/sites/default/files/styles/section_thumb/public/page_images/7_AdultImmuniz-21830648-iStock_000021830648Small.jpg?itok=5TjYS7RR

http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/02/04/mmr10a.jpg

Tanya Jawab Seputar Imunisasi

Saat praktek sering sekali muncul pertanyaan dari orangtua seputar imunisasi. Dalam kesempatan kali ini, kami coba rangkumkan pertanyaan umum seputar jadwal, cara pemberian dan keluhan umum saat imunisasi. Mari disimak ya 🙂

Apakah boleh imunisasi saat sedang batuk dan pilek?

Boleh, sakit ringan seperti batuk, pilek, demam yang tidak tinggi (low grade fever), sebenarnya bukan penghalang atau kontraindikasi untuk imunisasi.  Namun jika anak Anda terlihat sakit sedang atau berat, imunisasi dapat ditunda.

Anak saya sudah mendapatkan suntikan kedua hepatitis B pada usia 1 bulan, dokter menjadwalkan suntikan selanjutnya usia 6 bulan. Namun karena lupa, suntikan kedua belum dilakukan, sekarang anak saya berusia 11 bulan. Apakah harus mengulang suntikan hepatitis B dari awal dan tetap efektif?
Imunisasi tidak perlu diulang, segera lanjutkan imunisasi yang sudah dilakukan. Interval yang memanjang ini juga tidak mengurangi keefektifan dari vaksin setelah seri dosis terlengkapi.

Suntikan DPT pertama tanggal 10 Februari 2014, suntikan kedua dijadwalkan 20 Maret 2014. Apakah boleh datang sebelum atau setelah tanggal 20 Maret?
Boleh, minimal jeda antar vaksin yang sama 4minggu (28 hari).

Anak saya mendapatkan suntikan Hib kedua hanya berjarak 26 hari dari suntikan Hib sebelumnya, haruskah diulang?

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan bahwa dosis vaksin yang diberikan hingga 4 hari sebelum usia minimum dan interval minimum tidak perlu diulang ( kecuali vaksin rabies). Namun jika >4 hari, tidak akan dihitung sebagai dosis yang valid dan harus diulang. Pada kasus ini karena merupakan vaksin inaktif dan jaraknya 26 hari tetap dihitung sebagai dosis ke 2. Namun ketika melakukan imunisasi harus selalu memperhatikan usia minimum dan jeda minimum ( 28 hari). Untuk vaksin hidup pastikan jeda yang diberikan 28 hari ya Ayah Bunda.

Untuk bayi dengan berat BB 2,3 kg apakah boleh diberikan vaksin hepatitis B?
Boleh, untuk hepatitis B minimal berat badan bayi 2 kg agar didapatkan respon imun yang bagus.

Anak saya mendapatkan imunisasi Hepatitis B hingga 4x, apakah berbahaya?
Tidak berbahaya.

Untuk imunisasi MMR apakah dapat menyebabkan autis dan harus menunggu anak bisa bicara dulu? 
MMR tidak menyebabkan autis dan tidak perlu menunggu anak lancar berbicara. Jadwal yang direkomendasikan IDAI yakni usia 15 bulan dan dosis kedua pada usia 5 tahun.

Apakah boleh menggunakan vaksin dengan merk-merk berbeda-beda, misalnya DPT pertama dengan infarix, DPT ke 2 dengan pentabio?
Sebisa mungkin sebaiknya menggunakan merk yang sama, namun jika merk vaksin yang sebelumnya tidak diketahui atau tidak tersedia, merk vaksin yang berbeda dapat digunakan melengkapi seri dosis. Prinsip vaksin secara umum : ketidaktahuan atau ketidaksediaan merek yang sama bukan alasan menunda imunisasi.  Vaksin Hib sediaan tunggal ( bukan kombo), hepatitis B dan hepatitis A boleh berganti merk.

Apakah boleh dan aman menyuntikan beberapa vaksin di waktu kunjungan yang aman?
Ya, aman. Semua vaksin dapat diberikan secara bersamaan (simultan) dengan vaksin lain. Hanya pada keadaan khusus yaitu asplenia fungsional atau anatomi, vaksin PCV 13 dan meningococcal conjugate vaccine diberikan secara terpisah dengan selang 4 minggu.

Jika vaksin disuntikkan tidak pada kunjungan yang sama, berapa jeda minimal antar vaksin? 
Untuk vaksin inaktif ( hepatitis B, PCV, Hib, DPT-IPV) dapat diberikan kapanpun setelah suntikan vaksin mati maupun vaksin hidup. Misalnya tanggal 1 Agustus diberikan vaksin PCV, selanjutnya boleh diberikan tanggal berapapun untuk vaksin inaktif lainnya atau vaksin hidup.

Untuk jenis vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan intranasal influenza dapat diberikan bersamaan di hari yang sama. Jika diberikan di hari yang berbeda minimal jeda antar vaksin hidup adalah 4 minggu (28hari). Misal tanggal 1 Agustus diberikan vaksin varicella, jika ingin diberikan vaksin MMR dihari yang berbeda minimal jeda 28 hari, yakni 29 Agustus atau setelahnya. Namun jika vaksin selanjutnya yang diberikan adalah jenis vaksin inaktif dapat diberikan kapanpun misal tanggal 2 Agustus.

Berat badan anak saya saat ini sudah 5 kg, apakah saat ini sudah boleh imunisasi DPT yang ke 2?
Boleh tidaknya bergantung pada jadwal imunisasi, usia dan keadaan bayi. Bukan berat badan si bayi harus mencapai angka tertentu untuk mendapatkan imunisasi ke 2, ke 3, dst.

Apabila sebelumnya menggunakan vaksin PCV 7, selanjutnya menggunakan PCV 10 atau PCV13?
Saat ini PCV 7 (prevenar 7) telah diganti menjadi PCV 13( prevenar 13) yang lebih banyak strain kumannya, sedangkan PCV 10 merupakan merk yang berbeda (synflorix) dengan prevenar 13. Jika sebelumnya menggunakan PCV 7 selanjutnya dapat menggunakan PCV13.

Anak saya sekarang berusia 1 tahun dan belum pernah diimunisasi sama sekali, apakah masih bisa diimunisasi sekarang?
Masih, segera konsultasi ke dokter ya Bu untuk mengejar (catch up) imunisasi yang tertinggal.

Semoga bermanfaat.

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Imunisasi Anak Terbaru Menurut IDAI

Seiring mendekati waktu persalinan, Ayah Bunda semakin sibuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan bagi sang buah hati, nama yang indah dan terbaik, mempelajari berbagai ilmu merawat bayi, menyusui, ASI ekslusif . Namun jangan lupa mempelajari jadwal imunisasi juga ya. Setelah kelahiran si kecil, akan ada rutinitas baru yang Ayah Bunda akan sering lakukan yakni imunisasi.

Apa itu imunisasi?

Imunisasi aktif atau yang disebut juga vaksinasi berarti memasukkan zat (vaksin) untuk merangsang tubuh untuk membentuk antibodi atau kekebalan. Selain melalui vaksinasi, kekebalan aktif ini dapat timbul secara alami jika terkena penyakit tertentu.

Vaksin Aktif vs Vaksin Inaktif

Secari garis besar, terdapat jenis vaksin aktif atau kuman hidup yang dilemahkan seperti vaksin BCG, polio oral, rotavirus, tifoid, varicella (cacar air), campak, MMR ( campak, gondong, rubella) dan vaksin inaktif seperti vaksin DPT, Polio suntik (IPV), PCV, Hib, Hepatitis B, Hepatitis A.

Untuk vaksin inaktif (inactivated vaccines), jangan heran bila si kecil akan diberikan beberapa kali suntik dalam jeda waktu tertentu untuk jenis vaksin yang sama. Biasanya dosis pertama belumlah memberikan efek perlindungan (kecuali untuk vaksin hepatitis A). Respon imun perlindungan baru akan timbul setelah dosis ke 2 atau ke 3.

Vaksin inaktif seperti vaksin DPT, titer atau kadar antibodi dapat berkurang ke level tidak protektif setelah beberapa tahun sehingga diperlukan booster (tambahan dosis) dalam periode tertentu untuk meningkatkan kadar antibodi agar bersifat protektif. Namun tidak semua vaksin inaktif memerlukan booster, misalnya saja hepatitis B yang tidak memerlukan booster setelah 3 dosis terlengkapi, atau vaksin Hib yang hanya memerlukan 3x suntikan primer dan 1 kali booster pada usia 12-15 bulan, karena penyakit Hib sangat jarang diderita anak usia lebih dari 5 tahun.

Berbeda dengan vaksin inaktif, untuk vaksin hidup yang disuntikkan (live injected vaccines) akan bersifat tahan lama dan tidak memerlukan booster. Biasanya pada suntikan pertama telah mampu membentuk kekebalan pada tubuh, namun beberapa vaksin hidup seperti MMR direkomendasikan diberikan 2 dosis karena sekitar 2-5% orang tidak membentuk kekebalan sehingga diharapkan pada suntikan ke 2 akan terbentuk kekebalan atau antibodi.

Vaksin Subsidi vs Vaksin Berbayar

Dari segi biaya, ada dua macam imunisasi yakni disubsidi dan yang berbayar. Imunisasi yang gratis ini disubsidi pemerintah dan bisa Ayah Bunda dapatkan di puskesmas atau posyandu setempat. Sedangkan untuk imunisasi yang berbayar bisa didapatkan di rumah sakit atau klinik. Imunisasi yang saat ini disubsidi pemerintah antara lain BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, Hib, dan Campak.

Imunisasi yang tidak disubsidi bukan berarti tidak penting ya, karena saat ini hampir semua imunisasi direkomendasikan. Tak jarang ada yang mengatakan , `imunisasi yang wajib atau penting hanya imunisasi yang disubsidi`, padahal anggapan itu salah. Vaksin yang berbeda tentu akan mencegah penyakit yang juga berbeda. Meskipun imunisasi tidak mencegah 100% penyakit, namun jika terkena akan mengurangi keparahan penyakit tersebut. Yuk kita lihat apa saja dan kapan sih jadwal untuk imunisasi si kecil.

Tabel Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2014

Jadwal Imunisasi Anak

Usia 0 bulan : Hepatitis B-1, Polio-0, BCG
Usia 1 bulan : Hepatitis B-2
Usia 2 bulan : Polio-1, DPT-1, PCV-1, Hib-1, Rotavirus-1
Usia 4 bulan : Polio-2, DPT-2, PCV-2, Hib-2, Rotavirus-2
Usia 6 bulan : Polio-3, DPT-3, PCV-3, Hib-3, Rotavirus-3. Untuk vaksin rotavirus diberikan 3x jika vaksin yang digunakan merk rotateq, jika merk rotarix cukup 2x.
Usia 9 bulan : Campak-1
Usia 12 bulan : PCV-4, Varicella
Usia 15 bulan : Hib-4, MMR-1
Usia 18 bulan : Polio-4, DPT-4
Usia 24 bulan : Campak-2
Usia 2 tahun : Hepatitis A (diberikan 2x selang 6-12 bulan), Tifoid ( ulangan setiap 3 tahun)
Usia 5 tahun : DPT-5, Polio-5, MMR-2
Usia 10 tahun : Td, HPV (diberikan 3 kali)
Usia 18 tahun : Td

Bagaimana jika imunisasi terlalu cepat atau tidak sama dengan jadwal?

Pada dasarnya setiap jenis vaksin memiliki jeda/ interval minimal maupun yang direkomendasikan serta usia minimum dan direkomendasikan. Minimal jeda antar vaksin yang sama adalah 4 minggu (28 hari), sedangkan usia minimum berbeda-beda bergantung pada jenis dan jadwal imunisasi ke berapa.

Setiap vaksin sebaiknya diberikan tidak jauh dari jadwal yang direkomendasikan, serta tidak diberikan pada kurang dari minimal interval/jeda dan usia minimumnya. Pemberian vaksin yang kurang dari minimal interval akan membuat respon antibodi kurang optimal bahkan menjadi dosis yang invalid.

Pemberian Simultan

Beberapa vaksin dapat diberikan pada kunjungan yang sama atau disebut juga pemberian simultan (kecuali pada anak tertentu dengan kelainan anatomi). Pemberian simultan ini tidak akan mengurangi respon antibodi, jadi tidak perlu ragu untuk memberikan si kecil beberapa imunisasi bersamaan. Namun jika tidak diberikan bersamaan ada sedikit peraturan ya Ayah Bunda.

  • Bila vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin aktif influenza intranasal tidak diberikan pada kunjungan yang sama, maka harus menunggu jeda 4 minggu sebelum vaksin hidup yang lain disuntikkan. Jika jeda kurang dari 4 minggu, vaksin kedua yang disuntikan tidak dihitung (tidak valid) dan harus diulang lagi.
  • Antar dua vaksin inaktif atau antara vaksin inaktif dan vaksin hidup yang tidak diberikan pada kunjungan yang sama, boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda).
  • Antar vaksin hidup yang disuntikkan ( MMR, MMRV, varicella, zooster, yellow fever) dan vaksin hidup oral ( tifoid, polio oral. rotavirus) juga boleh diberikan kapanpun ( tidak ada minimal jeda)

Semoga bermanfaat..

Arfenda Puntia Mustikawati,dr.

08/28/2015

Sumber:
1. Ask the Experts: Topics. Scheduling Vaccine. [cited 2015 Agust 25] Available from http://www.immunize.org/askexperts/scheduling-vaccines.asp
2. General Recommendations on Immunization: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Center for Disease Control and Prevention MMWR. Recommendations and Report/ Vol.60/No.2. Januari 28, 2011. [cited 2015 Agust 21] Available from http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/rr/rr6002.pdf
3. Jadwal Imunisasi 2014. [cited 2015 Agust 21] Available from http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf
4. Soedjatmiko. Tanya Jawab Orangtua Mengenai Imunisasi. [cited 2015 Agust 23] Available from http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/tanya-jawab-orangtua-mengenai-imunisasi.html

Bulan Vitamin A, Bulan Februari dan Agustus

Selain mengajak buah hati merayakan HUT RI, ayah bunda jangan lupa ya membawa anaknya ke Posyandu atau Puskesmas. Loh, memangnya ada apa? Pasalnya, setiap bulan Agustus dan Februari pemerintah membagikan kapsul vitamin A lewat Posyandu dan Puskesmas untuk diberikan kepada bayi dan balita. Sehingga tidak heran bila bulan-bulan ini disebut Bulan Vitamin A. Pemberian kapsul ini juga gratis! Tapi, apa pentingnya ya?

Manfaat Vitamin A

Kita mungkin sering mendengar bahwa Vitamin A (retinol) bagus untuk kesehatan mata. Ya, ini memang benar. Sel batang (rod cell) pada retina yang bertugas untuk penglihatan di malam hari dan mendeteksi gerakan, membutuhkan vitamin A untuk dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, vitamin A amat penting untuk menjaga integritas sel mata. Sehingga, apabila kekurangan dapat menyebabkan Xerophtalmia (kekeringan pada kornea dan konjungtiva) yang bisa berlanjut pada kebutaan (rabun senja). 1

figure2

Vitamin A juga berperan dalam tumbuh kembang, menjaga keutuhan sel epitel, fungsi imun dan reproduksi. Sehingga, pada anak yang kekurangan vitamin, resiko kecatatan akibat campak dan diare juga meningkat. Bahkan, riset membuktikan bahwa defisiensi vitamin A menyumbangkan 6% kematian balita di Afrika dan 8% di Asia Tenggara. Mengingat vitamin A tidak bisa diproduksi tubuh, penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin A dari makanan. Alternatifnya ialah suplementasi bagi negara berkembang yang memiliki masalah defisiensi vitamin A.1–3

Kondisi Kecukupan Vitamin A di Indonesia

Sejak tahun 1970-an, pemerintah Indonesia rutin mengadakan program suplementasi vitamin A. Sebabnya, kekurangan vitamin A sempat menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Menurut WHO, defisiensi vitamin A menjadi masalah apabila:

  • Persentasi retinol < 20 µg/dl lebih dari 15%
  • Persentasi Xerophtalmia (X1B) lebih dari 0,5%.

Perlu disyukuri bahwa berdasarkan hasil riset SEANUTS (South East Asian Nutrition Survey, 2011), defisiensi vitamin A tidak lagi menjadi masalah kesehatan. Namun, program pemberian vitamin A tetap penting dilakukan karena banyak anak-anak di Indonesia yang kadar serum retinol (vitamin A) berada di ambang batas kekurangan. 4–7

Kemenkes, 2013

Kemenkes, 2013

Seperti Apa Vitamin A yang diberikan Puskesmas?

Suplementasi yang diberikan ialah vitamin A dosis tinggi. Terdapat 2 jenis kapsul vitamin A yang diberikan sesuai dengan usia yaitu:5

Kapsul Vitamin A

Kapsul Vitamin A

sasaran

Sumber : Depkes, 2009

Kapan Suplementasi ini diberikan?

Suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara serentak :5

  • Bayi usia 6-11 bulan diberikan pada bulan Februari atau Agustus (1x dalam setahun)
  • Balita usia 12-59 bulan diberikan pada bulan Februari dan Agustus (2x dalam setahun)
Bulan Vitamin A

Pemberian kapsul di Bulan Vitamin A

Apa Efek Sampingnya?

Efek samping pemberian vitamin A dosis tinggi bisa saja muncul dalam 48 jam setelah pemberian. Namun, efek sampingnya ringan, bersifat sementara dan tidak ada dampak jangka panjang. Diantaranya ubun-ubun menonjol pada bayi, mual, muntah atau sakit kepala pada anak lebih besar yang ubun-ubunnya sudah tertutup. 3

Apakah bayi kurang dari 6 bulan dan ibu nifas perlu suplementasi?

Saat ini WHO tidak lagi merekomendasikan suplementasi vitamin A rutin bagi bayi muda dan ibu nifas. Pasalnya, dari tiga penelitian  tidak ditemukan manfaat yang berarti dari pemberian vitamin A dosis tinggi pada bayi muda. Sebaliknya, ditemukan efek samping seperti diare dan ubun-ubun menonjol pada bayi kurang dari 6 bulan.

Mirip halnya pada ibu nifas, pemberian retinol dosis tinggi tidak menurunkan resiko kematian ibu dan bayi. Sehingga, ibu nifas lebih disarankan untuk makan bergizi yang seimbang. Pada bayi muda juga disarankan untuk terus diberikan ASI dengan catatan ibu memperhatikan kebutuhan gizinya dan buah hati. 8,9

Apakah ibu hamil perlu suplementasi vitamin A?

Ibu hamil yang tinggal di negara dengan tingkat kekurangan vitamin A yang sangat berat baru perlu diberi suplementasi. Namun, vitamin A yang diberikan hanya dosis kecil (25000 IU/minggu selama minimal 12 minggu). Hal ini disebabkan, vitamin A dosis tinggi berpotensi menyebabkan pada janin.1

Di Indonesia sendiri ibu hamil tidak di wajibkan mendapatkan suplementasi vitamin A. Ibu hamil bisa memenuhi kebutuhan vitamin A nya dari nutrisi. Penggunaan suplementasi vitamin A saat hamil perlu dibawah anjuran dokter atau bidan.

Sumber Vitamin A

Selain mengikuti program suplementasi vitamin A dari Puskesmas, orangtua juga perlu tahu makanan kaya akan vitamin A. Karena nutrisi alami, sehat dan seimbang ialah kunci dari pemenuhan gizi. Sumber vitamin A yang sehat misalnya :

  • Produk hewani : keju, telur, ikan, susu dan yoghurt
  • Nabati : bayam merah atau hijau, wortel, ubi, paprika merah, mangga, pepaya, aprikot.

http://visionsource-auburnfamilyoptometry.com/wp-content/uploads/sites/1645/2014/09/Vitamin-A.jpg

Hati hewan memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi. Artinya, terdapat resiko konsumsi retinol yang berlebihan bila dikonsumsi lebih dari 1x dalam seminggu. Hal ini perlu jadi perhatian terutama bagi ibu hamil. 10

Yuk, tunggu apalagi. Mari kita sukseskan Bulan Vitamin A ini yah. 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

08/20/2015

Referensi

1. Sassan Pazirandeh, MD, David L Burns, MD. Overview of vitamin A. Uptodate. 2015 Apr 21;
2. Chapter 7. Vitamin A. FAO [Internet]. Available from: http://www.fao.org/docrep/004/y2809e/y2809e0d.htm
3. Guideline: Vitamin A supplementation in infants and children 6–59 months of age [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44664/1/9789241501767_eng.pdf?ua=1&ua=1
4. Vitamin A Supplementation A DECADE OF PROGRESS. Unicef; p. 2007.
5. PANDUAN MANAJEMEN SUPLEMENTASI VITAMIN A. DIREKTORAT BINA GIZI MASYARAKAT DEPARTEMEN KESEHATAN; 2009.
6. Dr. Sandjaja. South East Asian Nutrition Surveys Regional Overview on Nutrition & Health Trends. PERSAGI;
7. PERKEMBANGAN MASALAH GIZI DAN PENGUATAN PELAYANAN GIZI DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI INDONESIA. Jakarta: Direktur Bina Gizi Ditjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI; 2013 Oktober.
8. Guideline: Neonatal vitamin A supplementation [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44626/1/9789241501798_eng.pdf?ua=1&ua=1
9. WHO | Vitamin A supplementation in postpartum women [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.who.int/elena/titles/vitamina_postpartum/en/
10. Choices NHS. Vitamins and minerals – Vitamin A – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Aug 20]. Available from: http://www.nhs.uk/Conditions/vitamins-minerals/Pages/Vitamin-A.aspx

Gagap pada Balita

Bagaimana jika balita anda yang sebelumnya mulai atau telah lancar berbicara tiba-tiba bicara gagap, padahal beberapa saat sebelumnya anda yakin tidak ada hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya. Anda tentu kaget, bingung dengan ‘permainan’ baru si anak, ragu-ragu untuk memberikan tanggapan yang sesuai, merasa khawatir telah melewatkan sesuatu yang mungkin menjadi penyebab, dan mungkin terbesit perasaan bersalah karena merasa kurang dalam mengasuh anak. Setumpuk pertanyaan pun muncul dalam benak anda, dan yang pasti, ‘Bagaimana mengatasi hal ini?’

Apa itu gagap?

Gagap merupakan suatu kelainan yang mempengaruhi kelancaran bicara yang melibatkan adanya gangguan yang cukup sering dan berarti pada kelancaran dan aliran bicara. Orang yang mengalami gagap tahu apa yang ingin diutarakan namun kesulitan untuk mengatakannya. Misalnya, mereka akan mengulangi atau memperpanjang bunyi sebuah kata, suku kata, atau kalimat, atau berhenti ditengah-tengah pembicaraan serta tidak membuat bunyi pada suku kata tertentu.

Stuttering-Child-1

Gagap merupakan kondisi yang cukup umum pada anak kecil sebagai bagian yang normal dari proses belajar bicaranya. Anak-anak yang lebih muda sering berbicara gagap saat kemampuan bicara dan bahasanya belum berkembang cukup baik untuk mengimbangi apa yang ingin mereka katakan. Sebagian besar anak akan keluar dari gagap masa perkembangan (developmental stuttering) ini.
Kadang-kadang, gagap dapat menjadi kondisi yang kronis yang menetap hingga mereka dewasa. Jenis gagap ini dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan interaksi dengan orang lain.

Anak-anak dan orang dewasa yang bicara gagap dapat dibantu dengan berbagai jenis terapi misalnya terapi bicara, konseling psikologis, atau menggunakan suatu alat elektronik untuk memperbaiki pola bicaranya.

Pada siapa gagap bisa terjadi?

Setiap orang dapat terkena bicara gagap pada umur berapa saja, tetapi lebih umum terjadi pada anak yang baru belajar mengembangkan kemampuan berbahasanya. Anak laki-laki dua kali lebih mungkin mengalami bicara gagap dibandingkan dengan anak perempuan; Namun semakin bertambah dewasa, Anak laki-laki yang tetap gagap tiga hingga empat kali lebih sering daripada anak perempuan. Disfluensi bahasa yang termasuk normal umumnya muncul saat anak berusia 18 hingga 24 bulan akibat laju penambahan kosa kata yang terlalu cepat, dan berlangsung hilang timbul hingga anak berusia 5 tahun.

Sekitar satu dari lima anak pada suatu waktu memiliki disfluensi yang cukup parah sehingga menjadi kekhawatiran bagi orangtuanya. Dan pada sekitar satu dari 20 anak akan terjadi bicara gagap yang dapat berlangsung hingga lebih dari 6 bulan. Walaupun gagap yang dialami cukup berat dan lebih dari 6 bulan, tidak berarti akan berlanjut menjadi masalah hingga seumur hidup. Mengetahui apa yang perlu diperhatikan dan bagaimana cara merespon gagap pada anak anda dapat membantu mencegah hal tersebut terjadi.

Bagaimana mengenali tanda dan gejala bicara gagap?

Bicara gagap sering berbentuk pengulangan sebuah atau sebagian kata, juga adanya pemanjangan pengucapan. Gangguan ini terjadi lebih sering pada orang atau anak dengan gagap dibandingkan dengan populasi normal. Sejumlah anak yang mengalami gagap terlihat sangat tegang atau seperti kehabisan napas ketika berbicara. Pembicaraan dapat sepenuhnya berhenti atau tertahan, yaitu ketika mulut dalam posisi mau mengeluarkan sebuah suara, terkadang hingga beberapa detik, tapi hanya sedikit suara yang keluar atau tidak bersuara sama sekali. Untuk melengkapi sebuah kata, anak biasanya berusaha cukup keras. Suara atau kata tambahan seperti “em” dapat muncul terutama sering berupa pengulangan (“e-em-em”) atau pemanjangan (“eeeem”) suara atau ketika digunakan untuk menunda pembicaraan dimana anak merasa akan ‘terhenti’.

Tanda dan gejala bicara gagap dapat meliputi:

  • Kesulitan untuk memulai sebuah kata atau berbicara
  • Memperpanjang pengucapan sebuah kata atau suara pada kata tersebut (“SSSS aya juga mau!”)
  • Mengulang-ulang suara, suku kata, atau sebuah kata (“M- M- M- Mau kemana?”)
  • Terdiam pada suku kata tertentu, atau berhenti sejenak saat mengucapkan sebuah kata
  • Tambahan suara pada sebuah kata seperti “em” jika mengira akan kesulitan melanjutkan berbicara ke kalimat selanjutnya
  • Wajah atau tubuh bagian atas terlihat tegang, kencang, atau bergerak-gerak secara berlebihan saat akan mengucapkan suatu kata
  • Merasa gelisah saat ingin berbicara
  • Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif terbatas

Kesulitan berbicara akibat gagap dapat disertai dengan:

  • Kedipan mata yang cepat
  • Tremor pada bibir atau rahang
  • Tik (gerakan tiba-tiba yang sulit dikontrol) pada wajah
  • Sentakan kepala
  • Mengepalkan tangan

Bicara gagap dapat menjadi lebih parah saat anak terlalu bersemangat, terlalu lelah, atau dibawah stres, atau ketika anak merasa sadar diri, diburu-buru atau tertekan. Situasi dimana seorang anak harus berbicara di depan orang banyak atau bercakap-cakap melalui telepon dapat merupakan hal yang sulit bagi anak yang bicara gagap.

Namun, sebagian besar orang yang bicara gagap dapat berbicara dengan lancar saat mereka berbicara dengan diri sendiri dan ketika bernyanyi atau berbicara bersama-sama dengan orang lain.

Apa yang menyebabkan bicara gagap?

Para ahli menunjukkan terdapat 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya gagap:

  1. Adanya riwayat keluarga bicara gagap. Terdapat pertentangan mengenai faktor genetik karena sampai saat ini gen spesifik penyebab gagap belum teridentifikasi. Tetapi hampir 60% penderita gagap memiliki seseorang dikeluarganya yang juga bicara gagap atau pernah bicara gagap
  2. Tumbuh kembang anak. Anak-anak yang belajar bahasa kedua atau memiliki gangguan bicara yang lain lebih mungkin mengalami gagap dibandingkan dengan anak-anak yang tidak
  3. Neurofisiologi. Pada beberapa anak yang bicara gagap, bahasa diproses di bagian-bagian otak yang berbeda dari anak-anak yang tidak gagap. Hal ini juga dapat mempengaruhi interaksi antara otak dengan otot-otot yang mengontrol proses bicara
  4. Dinamika keluarga. Beberapa anak yang bicara gagap diketahui memiliki keluarga dengan harapan pencapaian yang tinggi dan gaya hidup dengan rutinitas yang cepat

Para peneliti juga masih terus mempelajari penyebab gagap yang menetap. Kombinasi dari beberapa faktor mungkin terlibat. Beberapa hal yang mungkin menyebabkan gagap yang menetap antara lain:

  • Gangguan kontrol pada otot-otot berbicara. Beberapa bukti menunjukkan adanya gangguan pada kontrol otot bicara, seperti pada koordinasi waktu, sesorik, dan motorik
  • Genetik. Gagap yang cenderung menurun di keluarga, terlihat dapat diakibatkan karena gangguan pusat bahasa di otak yang diturunkan secara genetik
  • Kondisi medik. Gagap yang dapat merupakan hasil dari stroke, trauma, atau cedera otak lain
  • Masalah kesehatan mental. Pada kondisi tertentu yang jarang terjadi, trauma emosional dapat menyebabkan terjadinya gagap

Kapan mencari bantuan tenaga profesional?

Selalu bicarakan dengan dokter anda jika anda khawatir mengenai tumbuh kembang anak anda, termasuk bicara gagap. Dokter anda mungkin akan merujuk kepada tenaga ahli yang profesional atau terapis yang akan menilai anak anda apakah terdapat risiko masalah jangka panjang. Pada sebagian besar kasus yang melibatkan anak-anak, penanganan terutama berfokus pada pelatihan dan bekerja sama dengan orang tua untuk mengembangkan tehnik dan cara yang membantu anak mengatasi bicara gagap.

Saat usia anak 2-5 tahun merupakan waktu umum untuk melewati periode berbicara gagap. Untuk sebagian besar anak, periode tersebut merupakan bagian dari belajar berbicara, dan akan membaik dengan sendirinya. Akan tetapi, gagap yang menetap mungkin memerlukan intervensi ahli agar lebih baik.

Belum ada obat yang terbukti dapat menyembuhkan bicara gagap. Terkadang terapis akan berinteraksi dengan anak secara langsung untuk mengembangkan tehnik perilaku tersendiri (individual behavioral techniques) yang dapat membantu anak untuk belajar tidak bicara gagap. Terapi dan penanganan yang diterapkan dapat berbeda-beda pada tiap-tiap anak tergantung keadaan masing-masing anak.

Bagi anak yang memiliki maslaah gagap yang berat, evaluasi dan intervensi dini dapat sangat berguna. Tanda-tanda yang menunjukkan perlunya dilakukan evaluasi:

  • Berlangsung lebih dari 6 bulan
  • Gagap yang terjadi semakin sering dan semakin berat dari waktu ke waktu
  • Gagap yang disertai gerakan-gerakan tubuh dan wajah
  • Terjadi bersamaan dengan gangguan bicara atau bahasa yang lain
  • Terjadi diiringi dengan kekakuan otot atau berjuang keras untuk berbicara. Berbicara sangat sulit dan dipaksakan
  • Mempengaruhi kemampuan komunikasi efektif di sekolah, tempat kerja atau interaksi sosial
  • Menyebabkan kegelisahan atau masalah emosional, seperti ketakutan, menghidari situasi tertentu dimana membutuhkan berbicara
  • Ketegangan pada vokal yang menyebabkan naiknya nada suara
  • Gagap yang berlanjut hingga anak berusia lebih dari 5 tahun
  • Dimulai saat dewasa

Adakah hal-hal yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu anak saya yang bicara gagap?

images

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anda dan anggota keluarga lain untuk membantu anak yang bicara gagap dengan masalahnya, misalnya:

  • Selalu berusaha untuk tenang. Usahakan untuk menciptakan suasana yang santai dan tenang di rumah dimana anak anada akan merasa nyaman untuk bicara secara bebas dan menyenangkan
  • Sediakan waktu khusus dimana anda dan anak anda dapat bercakap-cakap tanpa gangguan. Saat makan merupakan salah satu kesempatan yang baik untuk mengobrol
  • Jangan beri perhatian khusus terhadap bicara gagap anak anda. Jangan mengkritik cara bicara anak anda atau terus menerus memperbaiki perkataannya. Usahakan untuk tidak memberikan perhatian pada kondisi gagapnya selama interaksi sehari-hari. Jangan bawa dia kedalam situasi yang penuh tekanan atau membutuhkan anak anda untuk berbicara di hadapan orang lain
  • Tunggu hingga anak anda selesai mengutarakan apa yang ingin mereka katakan. Jangan bantu mereka selesaikan kata atau kalimatnya
  • Jangan menekan anak anda untuk terlibat pembicaraan atau berinteraksi secara verbal dengan orang lain ketika gagap menjadi masalah. Anjurkan aktivitas yang tidak melibatkan banyak interaksi verbal
  • Dengarkan dengan baik apa yang anak anda coba katakan, jaga kontak mata normal tanpa memperlihatkan tanda-tanda tidak sabar atau frustasi
  • Hidari bereaksi negatif saat anak anda bicara gagap, memperbaiki bicaranya, atau melengkapi kalimatnya. Penting bagi anak untuk mengerti bahwa orang dapat berkomunikasi secara efektif bahkan saat mereka bicara gagap.
  • Walaupun ucapan, “Berhenti dan tarik napas” atau “Pelan-pelan” dimaksudkan untuk membantu anak, ucapan-ucapan tersebut dapat membuat anak sadar diri dan danjurkan untuk tidak melakukannya.
  • Contohkan cara bicara perlahan dan santai, tanpa terburu-burur untuk membantu anak anda melakukan hal yang sama. Jika anda berbicara seperti ini, kemungkinan besar anak anda akan mengikutinya, yang akhirnya akan membantu menurunkan bicara gagap
  • Bicaralah secara bergantian. Dorong setiap orang di keluarga anda untuk menjadi pendengar yang baik dan menunggu giliran untuk berbicara
  • Jangan takut bicarakan tentang gagap dengan anak anda. Jika dia mengajukan pertanyaan atau mengungkapkan kekhawatiran, dengarkan dan jawablah dengan cara yang membuatnya mengerti bahwa gangguan pada bicara adalah hal yang normal dan bahwa semua orang mengalaminya pada suatu waktu
  • Berikan pujian daripada kritik. Lebih baik puji anka anda saat berbicara dengan jelas daripada memberi perhatian pada gagapnya. Jika anda ingin mengoreksi perkataannya, lakukan dengan cara yang halus dan positif
  • Terimalah anak anda apa adanya. Jangan bereaksi negatif atau mengkritik atau menghukum anak anda karena bicara gagap. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan sadar diri.
  • Dukungan dan dorongan anda dapat memberikan perbedaan yang besar.

Farah Suraya, dr. 

2015-07-29

Referensi

  1. Treatments for Developmental Stuttering: Healthwise Medical Information on [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/treatments_for_developmental_stuttering-health/article_em.htm
  2. Stuttering Foundation | Since 1947 – A Nonprofit Organization Helping Those Who Stutter [Internet]. Stuttering Foundation: A Nonprofit Organization Helping Those Who Stutter. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.stutteringhelp.org/stuttering-foundation
  3. Stuttering [Internet]. American Speech-Language-Hearing Association. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.asha.org/public/speech/disorders/stuttering/
  4. Gagap (Stuttering) pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/gagap-pada-anak.html
  5. Stuttering. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/stutter.html
  6. Stuttering. NIDCD [Internet]. 2010 Mar; Available from: http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/pages/stutter.aspx
  7. Disease and Condition : Stuttering. Mayoclinic [Internet]. 2014 Aug 20; Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/basics/definition/con-20032854
  8. Stuttering [Internet]. WebMD. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.webmd.com/modules/sponsor-box

Gambar diunduh dari :

Stuttering Child (http://www.bestwayguides.com/wp-content/uploads/2011/08/Stuttering-Child-1.jpg)

Child Parent Talk (https://www.sandltherapy.com/images/blog/child_parent_talk_1.png)

Senam Otak untuk Bayi

Senam otak dapat diterapkan pada bayi. Senam ini merupakan latihan pola gerakan tertentu yang sangat sederhana. Namun, bermanfaat membuka bagian-bagian otak bayi yang sebelumnya tertutup atau terhambat. Agar menyenangkan, lakukan dengan bantuan mainan yang disukai dan sesuai usia bayi, seperti bola, kerincingan, boneka, dan sebagainya.

Cara melakukan senam ini dengan menggerakkan anggota badan bayi secara menyilang melalui bantuan mainan-mainan itu. Gerakan yang dibuat merupakan gerakan yang menciptakan efek persilangan, melewati garis tengah tubuh bagian kiri dan bagian kanan bayi. Pertemuan dari gerakan yang bersilang itulah inti dari senam otak bayi.

Libatkan sebanyak-banyaknya indra dan organ tubuh bayi dalam senam ini. Libatkan kedua mata, telinga, tangan, dan kakinya sehingga kedua belahan otaknya pun menjadi aktif. Anda sebagai instruktur pribadinya, perlu terus mengajaknya bicara selama latihan. Semakin sering senam otak ini dilakukan, akan semakin cepat proses pembentukan dan persambungan neuron-neuron pada otaknya. Dengan begitu, akan semakin cerdas bayi Anda.

Dalam pelaksanaannya, sebaiknya senam otak melibatkan tiga aspek yang saling menunjang. Anda perlu memasukkan ketiga aspek itu dalam sebuah kombinasi yang berimbang. Ketiga aspek itu antara lain:

Gerakan ke kiri dan kanan
Gerakan ini bila dipadu dengan rangsangan pada indra penglihatan dan pendengarannya, bertujuan menyerap kemampuan komunikasi yang lebih cepat dan mengoptimalkan kemampuan belajarnya. Di sini, terlibat aktivitas melihat, mendengar, dan bergerak ke kiri dan kanan secara seimbang. Semuanya mengaktifkan kedua belahan otak bayi. Telentangkan bayi Anda di atas tempat tidur. Lalu gerakkan bola ke kiri dan kanan di hadapan bayi secara berulang-ulang. Biarlah bayi melirik ke kiri dan kanan ketika bola itu tertangkap matanya.

Gerakan ke depan dan belakang

Gerakan ini merupakan gerakan peregangan otot. Kegunaannya untuk menyiapkan bayi menerima hal-hal baru dan mengekspresikan segala yang telah diketahuinya. Gerakan peregangan ini pun membantu bayi dalam hal konsentrasi dan pemahaman pada hal-hal baru.

Bentuk latihan gerakan ini misalnya melipat, lalu meluruskan persendian bayi, seperti lutut dan sikunya. Lakukan berulang-ulang sambil tiduran. Bisa pula dengan mengangkat tangannya ke depan dan ke belakang berulang-ulang secara seimbang. Lalu lanjutkan dengan gerakan ke atas dan bawah yang juga berulan dan seimbang.

Gerakan ke atas dan bawah
Gerakan ini merupakan gerakan pemusatan pengaturan tubuh. Manfaatnya, mengatur energi, membantu seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki, serta latihan mengontrol emosi. Contoh gerakan yang dapat dilakukan misalnya, menggerakkan kepala ke atas dan ke bawah beberapa kali, atau mengangkat benda yang ringan ke atas – ke bawah (seperti latihan barbell pada orang dewasa). Sebelum melakukan gerakan-gerakan itu, tentu Anda perlu membantunya berdiri dan menyangga tubuhnya dengan hati-hati.

Depok, 6 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Lucinda S Spaulding. 2010. Is Brain Gym an Effective Educational Intervention? Liberty University, Faculty Publications and Presentations.
  2. Committee on Children with Disabilities. 1999. The Treatment of Neurologically Impaired Children Using Patterning. American Academy of Pediatrics. http://pediatrics.aappublications.org/content/104/5/1149.full.
  3. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 201

Kecerdasan Majemuk Pada Anak

Sebelum teori multiple intelligences muncul, kecerdasan hanya dilihat dari sudut pandang teori IQ (Intelligences Quotient). Gardner mengemukakan adanya delapan jenis kecerdasan, yakni:

kkeldiff_rbc_mi

8 Kecerdasan (http://tech-kid.com/multiple-intelligences-children.html)

  1. Kecerdasan linguistik
    Yakni kecerdasan yang terkait dengan kemampuan berbahasa.
  2. Kecerdasan logis-matematis
    Yakni kecerdasan yang terkait kemampuan menggunakan logika, mengolah angka, berpikir analitis-kritis, perangkaan, dan pengenalan pola.
  3. Kecerdasan spasial
    Terkait dengan kemampuan memvisualisasikan gambar di dalam pikiran, menciptakan bentuk 2 atau 3 dimensi.
  4. Kecerdasan kinestetik
    Kemampuan mengolah dan menggerakkan tubuh, atau melakukan aktivitas fisik yang butuh keterampilan anggota tubuh tertentu.
  5. Kecerdasan musikal
    Kemampuan mencerna, mengapresiasi, memainkan, dan menciptakan irama musik
  6. Kecerdasan intra-pribadi
    Kemampuan memahami diri sendiri dan mengekspresikan dirinya secara baik.
  7. Kecerdasan antar-pribadi
    Kemampuan memahami dan menjalin hubungan dengan orang lain.
  8. Kecerdasan naturalis
    Kemampuan mengenali bentuk dan harmoni alam, serta menjadi sahabat alam. Biasanya anak yang menyukai keindahan alam, senang tanaman dan menyukai memelihara binatang.

Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient)

Menurut Salovey dan Mayer, terdapat lima bentuk kemampuan yang terintegrasi di dalam kecerdasan emosi, yakni:

  1. Kemampuan mengenal emosi pribadi
  2. Kemampuan mengelola dan mengekspresikan emosi pribadi dengan tepat
  3. Kemampuan memotivasi diri pribadi
  4. Kemampuan memahami emosi orang lain
  5. Kemampuan membina hubungan emosional dengan orang lain

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Dalam bukunya, Zohar dan Marshall memberikan gambaran esensial terkait nilai dan makna dari kecerdasan spiritual, yakni:

  1. Kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai
  2. Bukan hanya memahami nilai yang ada, tetapi juga secara kreatif berusaha menemukan nilai baru
  3. Terkait dengan pusat dari diri manusia yang paling dalam dan menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia yang lain.
  4. Kecerdasan jiwa yang mampu membantu menyembuhkan dan membangun diri secara utuh
  5. Terkait dengan kemampuan manusia mentransendensikan diri, sebuah kualitas tertinggi dari kehidupan spiritual.

Depok, 7 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Joan Hanafin. 2014. Multiple Intelligences Theory, Action Research, and Teacher Professional Development: The Irish MI Project. Australian Journal of Teacher Education
  2. Katie Davis, et al. 2005. The Theory of Multiple Intelligences. Harvard Graduate School of Education.
  3. Sonia Mehta. 2002. Multiple Intelligences and How Children Learn: An Investigation in one Preschool Classroom. Virginia Polytechnic Institute and State University
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 204

Cara Mudah Mencerdaskan Bayi dan Balita

Banyak yang mengira, mencerdaskan bayi dan balita akan melibatkan metode rumit dan berbiaya mahal. Sebenarnya, mencerdaskan bayi dan balita itu sangat sederhana dan mudah dilakukan. Rahasianya antara lain:

digantikan-oleh-vitamin-mencerdaskan-bayi-semahal

Menggendong itu mencerdaskan

Mengapa anak yang digendong akan menjadi cerdas?

  1. Dengan digendong, bayi akan jarang menangis. Hal itu akan semakin banyak waktu dan tenaganya digunakan untuk proses tumbuh kembang.
  2. Secara neurologis membuat bayi berada pada posisi yang memungkinkannya bergerak dan merespon dekapan yang diterima.
  3. Bayi semakin banyak berinteraksi dengan lingkungannya.
  4. Bayi akan belajar terlibat pada aktivitas yang dilakukan orang tuanya.
  5. Bayi mempunyai kebebasan memilih tentang apa yang ingin maupun tidak ingin dilihatnya.

poedfh2k4c

Berbicara itu mencerdaskan

Agar kegiatan berbicara dengan bayi dapat merangsang kecerdasannya, hal ini perlu dilakukan:

  1. Sapalah namanya setiap kali bicara padanya
  2. Tatap dan senyumlah padanya
  3. Pergunakan kata-kata atau kalimat pendek
  4. Buatlah gerakan tubuh yang sesuai dengan isi pembicaraan
  5. Lafalkan setiap kata dengan lafal yang benar
  6. Bicaralah dengan kelembutan dan kesopanan. Jangan dengan hardikan.
  7. Bicaralah tentang segala hal yang sedang Anda lakukan di hadapannya.
  8. Selingi pembicaraan dengan kalimat pertanyaan
  9. Bersikap peka terhadap isyarat-isyarat anak

e4ac2da82389b29e_baby-talk.jpg.xxxlarge_2x

Bernyanyi dan mendengarkan musik itu mencerdaskan

Walau Anda bukan penyanyi, bernyanyilah lagu apapun yang menurut Anda enak dinyanyikan. Anak usia berapa pun pasti menyukai lagu. Bernyanyilah di hadapannya. Para peneliti perkembangan anak percaya, bernyayi lewat musik, berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan berbahasanya, dibandingkan dengan kata-kata tanpa musik.

Bermain itu mencerdaskan

Berikut manfaat yang bisa dipetik dari aktivitas bermain:

  1. Mengembangkan kemampuan motorik anak
  2. Membantu perkembangan tubuh (fisik) anak
  3. Mengembangkan koordinasi antar anggota tubuh
  4. Mengembangkan kemampuan sosialisasi
  5. Mengembangkan sportivitas
  6. Menstimulasi kemampuan diri

download

Tidur itu mencerdaskan

Bayi yang cukup tidur, sistem kekebalan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan yang kurang tidur. Fisik bayi berkembang lebih optimal saat tidur. Jumlah hormon pertumbuhan saat tidur 3 kali lipat dibandingkan saat bangun. Saat tidur pun berlangsung perbaikan sel-sel tubuhnya yang rusak. Berkembangnya fisik bayi melalui aktivitas tidur akan memberi peluang bagi pematangan lebih lanjut fungsi-fungsi organ tubuhnya. Hal itu menandai kemampuan dan kecerdasan semakin bertambah.

Depok, 8 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 06/05/2015

Referensi:

  1. Joan Hanafin. 2014. Multiple Intelligences Theory, Action Research, and Teacher Professional Development: The Irish MI Project. Australian Journal of Teacher Education
  2. Katie Davis, et al. 2005. The Theory of Multiple Intelligences. Harvard Graduate School of Education.
  3. Sonia Mehta. 2002. Multiple Intelligences and How Children Learn: An Investigation in one Preschool Classroom. Virginia Polytechnic Institute and State University
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 219

Kiat Mengoptimalkan Kecerdasan Anak Lewat Membaca

Sebagai orangtua tentu ingin potensi sang buah hati berkembang dengan optimal, baik itu kecerdasan maupun bakat. Salah satu cara yang cukup mudah dan murah ialah dengan membaca. Tidak jarang orangtua mempertanyakan kapan waktu yang tepat mengenalkan anak pada buku. Pasalnya, ada kekhawatiran bahwa anak akan terbebani dengan belajar sejak dini. Namun, tahukah ayah bunda bahwa para ahli mendorong orangtua untuk membacakan buku sejak anak lahir?

Tahun 2014, American Academy of Pediatrics (AAP) mempromosikan gerakan membaca sejak bayi agar anak siap saat masuk sekolah. Rekomendasi ini disambut baik sampai dibentuk gerakan promosi membaca Reach Out and Read yang didukung oleh ikatan para ahli kesehatan dan pustakawan.1,2

4 Manfaat membacakan buku pada balita

Membaca sejak bayi sangat dianjurkan karena ditemukan banyak manfaat bagi perkembangan kecerdasan otak dan emosi anak yaitu1,3,4:

  1. Merangsang perkembangan otak
  2. Memiliki kemampuan bahasa lebih baik saat memulai sekolah
  3. Anak memiliki minat yang lebih terhadap membaca
  4. Terjalinnya ikatan antara orangtua-anak sebagai modal penting perkembangan sosial dan emosi anak

Bagaimana aktivitas membaca yang dianjurkan?

Tentu orangtua tidak ingin aktivitas membaca malah menimbulkan stres sendiri pada anak. Oleh karena itu, AAP menganjurkan agar :1,5,6

  1. Orangtua mengeraskan suara saat membacakan buku pada anak agar tumbuh interaksi yang hangat antara keduanya.
  2. Membaca bersama menjadi aktivitas yang menyenangkan. Misalnya dengan mendongeng atau membuat ritme nyanyian saat membaca.
  3. Sesuaikan buku dan cara membacakan cerita dengan usia anak karena adanya perbedaan kemampuan fokus dan menangkap cerita pada masing-masing usia.
  4. Aktivitas membaca dijadikan rutinitas
  5. Orangtua memberi contoh pada anak dengan sering membaca.
  6. Jadikan lingkungan anak mendukung untuk membaca. Misalnya menempelkan poster edukasi atau membuat perpustakaan di rumah

imagesBolehkah menggunakan buku atau media elektronik?

Sebenarnya penggunaan media elektronik dalam aktivitas membaca bayi kurang disukai. Hal ini disebabkan bayi perlu merasakan hubungan emosional dan interaksi saat dibacakan cerita atau kata-kata. Menyediakan buku audio, komputer, TV, radio atau gadget pada anak hanya akan membuat mereka pasif. Para ahli sepakat untuk menghindari penggunaan media elektronik pada anak sampai usia 2 tahun karena yang anak butuhkan ialah interaksi sosial, bukan dengan media saja. Setelah 2 tahun pun penggunaan media elektronik harus dibatasi. 7–9

Tahapan anak dalam membaca

0-6 bulan
Saat ini anak senang melihat gambar dan menyentuh halaman buku. Letakkan anak di lengan anda ketika anda membacakan buku untuk menumbuhkan rasa aman dan dekat. Sebut dan tunjuk gambar pada buku agar anak tertarik dengannya. Bantu bayi dalam membuka halaman dan biarkan ia sesekali bermain dengan buku.

Tips memilih buku : Pilih buku dengan warna cerah dan ilustrasi yang sederhana. Bahan buku yang cocok untuk usia ini ialah kartu tebal atau kain vinyl agar mudah dicuci dan tidak lumat saat terkena air.

Buku Bayi (http://www.car-travel-games.co.uk)

6-12 bulan
Mulai 5-8 bulan, bayi lebih senang bereksplorasi dengan memasukkan benda ke mulut daripada mendengarkan cerita. Saat usia 9-12 tahun, bayi lebih tertarik membalikkan halamannya sendiri. Tahapan ini penting agar anak dapat bereksperimen dengan tangan dan anak siap menjadi pembaca yang mandiri.

Tips memilih buku : Pilih buku berwarna cerah dan berbahan aman seperti kartu tebal tahan air atau kain yang dapat dicuci. Gunakan buku dengan gambar yang familiar seperti bola atau botol. Bisa juga album foto keluarga dan teman,

12-18 bulan
Ketertarikan anak terhadap buku mulai meningkat. Anak anda mungkin ingin menunjuk gambar dan membalikkan halaman sendiri atau memutar buku untuk melihat gambar yang benar. Ini pertanda baik di mana anak menunjukkan keterlibatannya dalam membaca. Jadikan anak anda partner dalam membaca misalnya dengan bertanya mengenai suatu gambar saat membaca.

Perlu diingat, usia ini kemampuan fokus dan atensi anak masih singkat. Sehingga, Anda perlu fleksibel terhadap waktu yang tepat dan durasi membaca. Ada baiknya meletakkan buku di sekitar ruangan rumah agar buku tersedia saat sewaktu-waktu anak ingin membaca.

Tips memilih buku :

  • Pilih buku yang mudah anak-anak bawa
  • Gunakan buku dengan gambar aktivitas anak yang familiar seperti tidur atau bermain
  • Sediakan buku cerita saat waktu tidur
  • Buku tentang ucapan halo dan selamat tinggal
  • Buku dengan kata-kata yang sedikit di tiap halamannya
  • Buku berwarna cerah dan gambar menarik
  • Buku dengan kosakata mudah atau kata yang bisa di prediksi
  • Buku-buku binatang
Contoh Buku Anak (http://babysbasics.com/toddler.html)

Contoh Buku Anak (http://babysbasics.com/toddler.html)

18-24 bulan
Saat ini anak sudah bisa memilih buku sendiri, menunjuk gambar kesukaan, mengucap satu-dua kata tentang gambar tersebut dan menyelesaikan kalimat dari buku yang mereka sangat kenal. Anak juga sudah mulai antusias bertanya dan menggunakan frase pendek. Selain itu, anak mulai menikmati kunjungannya ke perpustakaan/toko buku.

Tips memilih buku :
Pilih buku cerita sederhana dengan kata-kata yang mudah mereka ingat. Mulai dikenalkan dengan buku menghitung, alfabet, bentuk atau ukuran. Selain itu buku tentang hewan, kendaraan, waktu bermain, buku bergambar lucu juga cocok untuk usia ini.

cater

Buku Anak (http://misswenerd.blogspot.sg/2014/04/good-reads-how-seed-grows-by-helene-j.html)

3-4 tahun
Pada usia ini anak bisa menamakan buku yang mereka ingin bagi dengan anda, bertanya tentang isi buku, mengoreksi bila anda melewatkan bagian favoritnya di buku, membuat prediksi dan bercerita isi buku kesukaan dengan bahasa sendiri. Tingkat konsentrasi anak juga mulai meningkat. Sehingga anda bisa menyediakan waktu 20 menit untuk membaca setiap hari. Selain itu, anda bisa menstimulus anak dengan bertanya prediksi seperti “apa yang kira-kira akan terjadi dalam cerita ini”.

Tips memilih buku :

  • Pilih buku yang tidak terlalu mudah dan sulit, yang penting kosakata mudah diingat
  • Saat membacakan buku pada anak, pilih yang tingkat kesulitannya bertambah
  • Pilih buku cerita tentang keseharian anak
  • Buku dengan topik kesukaan anak misal : kereta api, hewan, memasak, dll
  • Buku sains sederhana seperti cara kerja truk, alat-alat, tumbuhan
  • Buku sosial sederhana seperti berteman, meminta maaf, adik kakak, pergi ke sekolah, ke dokter, dll.
  • Jangan lupa bawa buku saat bepergian6,10

Agustina Kadaristiana, dr.

05/19/2015

Referensi

  1. High PC, Klass P, Donoghue E, Glassy D, DelConte B, Earls M, et al. Literacy Promotion: An Essential Component of Primary Care Pediatric Practice. Pediatrics. 2014 Aug 1;134(2):404–9.
  2. About Reach Out and Read. Reach Read [Internet]. 2015; Available from: http://www.reachoutandread.org/about-us/
  3. O’Keefe L. Parents who read to their children nurture more than literary skills. AAP News. 2014 Jun 24;E140624–2.
  4. Kemp C. MRI shows association between reading to young children and brain activity Study provides new evidence that book-sharing in early childhood may promote brain development supporting reading readiness. AAP News. 2015 Apr 25;E150425–4.
  5. O’Keefe L. Parents who read to their children nurture more than literary skills. AAP News. 2014 Jun 24;E140624–2.
  6. Today I Will Get Lost in a Book. A Guide to Reading with Your Child. Kindercare Learning Center; 2010.
  7. 2014 the BMABL updated: J. Reading to your baby [Internet]. BabyCenter. [cited 2015 May 19]. Available from: http://www.babycenter.com/0_reading-to-your-baby_368.bc
  8. Media and Children. Available from: https://www.aap.org/en-us/advocacy-and-policy/aap-health-initiatives/pages/media-and-children.aspx
  9. Strasburger VC, Hogan MJ, Mulligan DA, Ameenuddin N, Christakis DA, Cross C, et al. Children, Adolescents, and the Media. Pediatrics. 2013 Nov 1;132(5):958–61.
  10. Tips for Choosing Books for Babies and Toddlers. Zero Three Natl Cent Infants Toddlers Fam [Internet]. 2014; Available from: http://www.zerotothree.org/early-care-education/early-language-literacy/choosing-books.html

Membacakan Buku Pada Anak Sejak Dini Merangsang Perkembangan Otak

Tahukah ayah dan bunda, ternyata membacakan dongeng kepada anak sejak dini berdampak positif terhadap perkembangan otak anak?

Fakta yang menggembirakan ini untuk pertama kali berhasil dibuktikan oleh John Hutton, M.D, dkk, peneliti dari Cincinnati Children’s Hospital Medical Center, Amerika Serikat. Dr. Hutton, dkk berhasil menemukan korelasi positif antara aktivitas membacakan buku dengan stimulus perkembangan otak melalui pencitraan MRI. Hasil penelitian ini dipresentasikan tanggal 25 April 2015 lalu di pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies (PAS), San Diego. Sebelumnya, organisasi profesional American Academy of Pediatrics telah menyarankan orang tua untuk membacakan buku pada anak dari sejak lahir untuk membantu perkembangan belajar dan kemampuan bahasa anak. Namun, baru kali ini ditemukan hubungan langsung antara kedua hal tersebut.

MRI pada anak

MRI pada anak (www2.communication.northwestern.edu)

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 19 orang anak usia 3-5 tahun. 35% di antaranya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Setiap orangtua atau pengasuh dari anak-anak tersebut diberikan kuesioner untuk mengukur stimulasi kecerdasan anak. Aspek yang dinilai dari kuesioner ini mencakup aktivitas membaca dan interaksi orangtua-anak. Setelah itu, setiap anak menjalani pemeriksaan MRI fungsional untuk diukur aktivitas otaknya saat mendengarkan cerita lewat headphones. Selama pemeriksaan anak tetap sadar dan tidak diberi stimulus visual.

754938_hutton_stimq_fmri_activation_final

Aktivasi Otak Melalui Pencitraan MRI Saat Anak Mendengarkan Dongeng (Hutton, 2015)

Sesuai dugaan, hasil dari pemeriksaan ini menunjukkan bahwa anak yang lebih terpapar oleh buku mengalami aktivasi area otak yang sangat penting dalam kemampuan bahasa dan membaca. Selain itu, sebagian area otak yang bertugas mencerna gambar juga teraktivasi. Hal ini menunjukkan saat anak dibacakan cerita, ia bisa membayangkan apa yang ia dengar dalam pikirannya.

Ternyata sangat besar ya manfaat mendongeng 🙂 Daripada memberikan anak gadget, yuk kita galakkan lagi membaca dan mendongeng.. Semoga bermanfaat…

Agustina Kadaristiana, dr

05/07/2015

Referensi

  1. Kemp C. MRI shows association between reading to young children and brain activity Study provides new evidence that book-sharing in early childhood may promote brain development supporting reading readiness. AAP News. 2015 Apr 25;E150425–4.
  2. High PC, Klass P, Donoghue E, Glassy D, DelConte B, Earls M, et al. Literacy Promotion: An Essential Component of Primary Care Pediatric Practice. Pediatrics. 2014 Aug 1;134(2):404–9.
  3. O’Keefe L. Parents who read to their children nurture more than literary skills. AAP News. 2014 Jun 24;E140624–2.

Tips Agar Anak Tidur Nyenyak

Tidur yang cukup sangat penting untuk proses belajar yang optimal. Bila anak kurang jam tidur, otomatis tubuh akan mencoba membayarnya dengan tidur yang lebih panjang di waktu lain. Namun, bila hal ini terjadi secara kronis maka periode anak saat bangun akan terpengaruh. Hasilnya ialah kurangnya kewaspadaan anak saat bangun, mengantuk, gangguan emosi (emosi labil, mudah marah, depresi dan marah), kelelahan, sakit kepala dan otot. Fungsi luhur otak anak juga bisa terganggu seperti berkurangnya memori, konsentrasi, atensi, kemampuan akademis dan mengambil keputusan dan memecahkan masalah sampai terjadinya perilaku overaktif, impulsif, tidak patuh dan kegagalan dalam mengikuti pelajaran sekolah.

Lalu, bagaimana menyiasati agar anak dapat tidur dengan nyenyak? Berikut tips-tipsnya..

  1. Masih ingat kan ya dengan ritme sirkardian pada artikel pola tidur anak normal? Jam internal biologis anak ini bisa kita atur sedemikian rupa dengan rangsangan cahaya dan jadwal yang teratur. Coba lakukan kegiatan rutin sesuai jadwal, seperti kenalkan waktu makan, waktu tidur siang dan waktu tidur. Hal ini bisa melatih kematangan jam biologis dan pola tidur-bangun anak sejak dini.

  2. Buat tempat tidur anak khusus untuk istirahat. Usahakan untuk menghindari bermain di kamar tidur. Jangan jadikan kamar tidur juga sebagai tempat hukuman. Hal ini dimaksudkan supaya saat masuk kamar, anak rileks dan bisa beristirahat dengan nyaman.

  3. Perhatikan lingkungan sekitar anak saat tidur. Buat kamar segelap mungkin, suhu yang nyaman (tidak terlalu panas dan dingin) dan minim dari suara bising. Bila anak masih tidak nyaman gelap, lampu tidur bisa digunakan.

  4. Kurangi makanan yang mengandung kafein di siang hari (cokelat, teh, cola). Kafein bisa menunda waktu tidur, mengurangi total waktu tidur, dan meningkatkan kejadian tidur di siang hari.

  5. Menjelang waktu tidur, hindari aktivitas bermain, olah raga dan stimulus visual seperti komputer atau televisi. Ganti aktivitas tersebut dengan yang membuat rileks seperti bercerita, mandi atau sikat gigi tanpa tergesa-gesa atau “quality time” berdua dengan anak. Namun, bila Anak anda malah menjadi aktif dengan mandi, Anda bisa meninggalkan aktivitas ini sebelum tidur.

  6. Jangan lupa lakukan kiat-kiat tidur anak yang aman ya..

Selamat tidur 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

Modifikasi terakhir :09/15/2015

Referensi

  1. Davis KF, Parker KP, Montgomery GL. Sleep in infants and young children. J Pediatr Health Care. 2004 Mar 1;18(2):65–71.
  2. Bedtime routines for babies. Babycenter. 2012 Mar. http://www.babycentre.co.uk/a553895/bedtime-routines-for-babies

Mengapa Berat Badan Anakku Sulit Naik?

Orangtua seringkali mengeluhkan berat badan anak yang sulit naik atau postur tubuh anak yang semakin kurus. Padahal, orangtua merasa sudah memberikan asupan nutrisi yang cukup. Bahkan, tidak jarang masalah ini berlanjut sampai menjadi gagal tumbuh. Seringkali pula dokter menduga anak terkena TBC akibat berat badan yang sulit naik. Lalu, sampai sejauh mana orangtua perlu khawatir mengenai postur tubuh anak? Kapan seorang anak dikatakan gagal tumbuh dan apa penyebabnya ?

Apakah Laju Pertumbuhan Anak Saya Normal?

Laju pertumbuhan ialah proses perubahan berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala yang diukur berdasarkan standar baku populasi tertentu. Saat ini, kurva pertumbuhan yang digunakan di Indonesia ialah kurva KMS yang diadopsi dari kurva pertumbuhan WHO. Seperti yang pernah di bahas oleh doctormums di edisi sebelumnya, laju pertumbuhan anak tidak bisa sekedar dinilai dari satu kali pengukuran saja. Hal ini disebabkan, pertumbuhan ialah proses yang dalam kenyataannya dapat bervariasi pada anak. Meskipun pola pertumbuhan tiap anak dapat berbeda-beda, namun orangtua perlu mengenal mana yang masih dalam laju pertumbuhan normal dan tidak. Laju pertumbuhan anak dengan usia kandungan cukup (bukan prematur) dikatakan normal bila mengikuti kaidah umum berikut ini

dm-bbtblk_eit10

Perubahan berat badan :

  • Berat bayi baru lahir biasanya berkurang 10% dalam hari-hari pertama dan naik kembali mulai hari ke 10-14
  • Pada tiga bulan pertama berat badan bayi biasanya naik 30 gram/hari
  • Antara 3-6 bulan berat badan bayi naik 20 gram/hari dan sekitar 10 gram/hari di antara 6-12 bulan
  • Berat badan bayi menjadi 2x lipat berat badan lahir pada usia 4 bulan dan menjadi 3x lipat pada usia 1 tahun
  • Berat badan anak naik sekitar 2 kg/tahun antara 2 tahun sampai pubertas2-4

Pertambahan panjang/tinggi badan

Rumus lima

Lingkar kepala (menunjukkan pertumbuhan otak):

  • Rata-rata lingkar kepala bayi saat lahir ialah 35 cm
  • Lingkar kepala bertambah sekitar 1 cm/bulan selama 1 tahun pertama dengan perubahan paling cepat saat 6 bulan pertama : sebesar 2 cm selama 1 bulan pertama dan 6 cm selama 4 bulan pertama.
  • Berat otak meningkat dua kali lipat dari saat lahir saat usia bayi 4-6 bulan dan meningkat 3x lipat saat usia anak 1 tahun.
  • Sebagian besar pertumbuhan anak selesai pada usia 4 tahun.

Lalu Kapan anak dikatakan gagal tumbuh?

Pada anak yang laju pertumbuhannya tidak mengikuti pola pertumbuhan normal orang tua perlu waspada akan gagal tumbuh. Sampai saat ini memang belum ada konsensus tetap mengenai definisi gagal tumbuh. Salah satu indeks pertumbuhan untuk mengetahui risiko gagal tumbuh ialah dengan menggunakan tabel laju berat badan WHO yang bisa di akses di sini. Laju berat badan ialah perubahan berat badan anak dalam gram selama interval 1-2 bulan dibandingkan dengan populasi. Bila ada perubahan berat badan di bawah presentil 5 maka dapat dikatakan seorang anak mengalami risiko gagal tumbuh.5-8 

Contoh grafik gagal tumbuh (http://ino.sagepub.com/content/3/12/719/F1.large.jpg)

Contoh grafik gagal tumbuh (http://ino.sagepub.com/content/3/12/719/F1.large.jpg)

Apa penyebab berat badan anak saya sulit naik?

Berat badan anak sulit naik sampai gagal tumbuh dapat terjadi karena 3 mekanisme yaitu asupan nutrisi yang tidak adekuat, gangguan penyerapan atau penggunaan nutrisi atau meningkatnya kebutuhan nutrisi anak. Namun, sebagian besar kasus berat badan sulit naik di pelayanan kesehatan primer ialah asupan nutrisi yang kurang cukup karena faktor psikososial atau gangguan perilaku makan.5,6

Asupan nutrisi tidak cukup

  • Pola pemberian makan yang salah

  • Terganggunya hubungan antara orang tua (pengasuh) dan anak

  • Masalah ekonomi

  • Asupan nutrisi yang tidak sesuai (konsumsi jus yang berlebihan, porsi yang kurang, jenis makanan yang tidak sesuai usia anak)

  • Masalah kejiwaan

  • Masalah pembentukan organ (bibir sumbing, sumbatan hidung, masalah gigi)

  • Gangguan mengisap atau menelan (gangguan saraf dan otot, gangguan pergerakan kerongkongan)

Kurangnya nafsu makan atau ketidakmampuan mengkonsumsi dalam jumlah banyak

  • Masalah kejiwaan
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Gangguan kekuatan otot
  • Penyakit kronis atau gangguan imun
  • Palsi serebral
  • Gangguan sistem saraf pusat (tumor, hidrosefalus)
  • Sindroma genetik
  • Anemia (kekurangan besi)
  • Sembelit
  • Gangguan saluran cerna
  • Anomali kepala dan wajah (bibir sumbing, rahang kecil)
The More You Force Children To Eat, The Less They Eat_1

womencentre.net

Gangguan penyerapan makanan atau pengeluaran makanan terlalu cepat

  • Malabsorbsi (intoleran laktosa, cystic fibrosis, penyakit jantung, malrotasi, inflammatory bowel disease, alergi susu, parasit, penyakit celiac)
  • Atresia biliaris, sirosis hati
  • Muntah
  • Obstruksi saluran cerna (hernia, pyloric stenosis, malrotasi, intususepsi)
  • Diare
  • Penyakit saluran cerna

Meningkatnya penggunaan nutrisi atau penggunaan nutrisi yang tidak efektif

  • Penyakit hipertiroid
  • Kanker/keganasan
  • Inflammatory bowel disease (IBD) kronis
  • Penyakit kronis  (juvenile idiopathic arthritis)
  • Infeksi kronis berulang (infeksi saluran kencing, tuberculosis (TBC), toksoplasmosis)
  • Penyakit metabolik kronis (gangguan penyimpanan makanan, galaktosemia, diabetes mellitus)
  • Penyakit saluran nafas kronis (displasia bronkopulmonar, cystic fibrosis)
  • Penyakit jantung bawaan atau didapat.

Beberapa saran untuk orang tua

Pengukuran pertumbuhan anak penting dilakukan untuk mendeteksi dini malnutrisi pada anak, baik itu kelebihan atau kekurangan gizi. Oleh sebab itu, penting sekali orang tua memantau tumbuh kembang anak dengan rutin mengecek ke Posyandu atau pelayanan kesehatan primer/sekunder . Orang tua perlu waspada bila: 9-10

  • Berat badan anak tidak naik sebanyak 2 kali pengukuran
  • Berat badan/tinggi badan di <-2 SD (Standar Deviasi) atau <-3 kurva WHO (malnutrisi akut)
  • Berat badan/tinggi badan >+2 SD (gemuk) atau >+3 SD (obesitas) kurva WHO
  • Berat badan anak berada di Bawah Garis Merah menurut KMS (di bawah <-3 SD kurva Berat badan/umur WHO)
  • Tinggi badan/umur <-2 atau <-3 SD (malnutrisi akut)
  • Laju pertumbuhan anak tidak mengikuti pola normal

Bila orang tua menemukan satu atau lebih dari tanda di atas, jangan sungkan untuk menghubungi dokter ya 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

Referensi

  1. Julie A Boom. Normal growth patterns in infants and prepubertal children. Uptodate [Internet]. 2015; Available from: http://www.uptodate.com/contents/normal-growth-patterns-in-infants-and-prepubertal-children
  2. Crossland DS, Richmond S, Hudson M, Smith K, Abu-Harb M. Weight change in the term baby in the first 2 weeks of life. Acta Paediatr Oslo Nor 1992. 2008 Apr;97(4):425–9.
  3. Macdonald PD, Ross SRM, Grant L, Young D. Neonatal weight loss in breast and formula fed infants. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2003 Nov;88(6):F472–6.
  4. Wright CM, Parkinson KN. Postnatal weight loss in term infants: what is normal and do growth charts allow for it? Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2004 May;89(3):F254–7.
  5. Cole SZ, Lanham JS. Failure to thrive: an update. Am Fam Physician. 2011 Apr 1;83(7):829–34.
  6. Rebecca T Kirkland, MD, MPH, Kathleen J Motil, MD, PhD. Failure to thrive (undernutrition) in children younger than two years: Etiology and evaluation. Uptodate [Internet]. 2014 Mar 12; Available from: http://www.uptodate.com/contents/failure-to-thrive-undernutrition-in-children-younger-than-two-years-etiology-and-evaluation
  7. Roche AF, Sun SS. Human Growth: Assessment and Interpretation. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press; 2003.
  8. Weight velocity. WHO [Internet]. Available from: http://www.who.int/childgrowth/standards/w_velocity/en/
  9. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/Menkes/Per/I/2010 TENTANG PENGGUNAAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) BAGI BALITA. Kementrian Kesehatan RI; 2010.
  10. Buford L Nichols, MD. Malnutrition in children in developing countries: Clinical assessment. Uptodate [Internet]. 2015 Feb; Available from: http://www.uptodate.com/contents/malnutrition-in-children-in-developing-countries-clinical-assessment