Category Archives: Penyakit

Sariawan, Perlukah Diobati?

Akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan tentang penarikan obat Abothyl. Pasalnya obat yang mengandung Policresulen ini amat populer dikalangan masyarakat untuk mengobati sariawan. Masyarakat mungkin dibuat resah karena bingung mencari obat alternatif yang dianggap ampuh mengatasi sariawan ini. Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua sariawan perlu diobati; apalagi dengan Abothyl. Kenapa ya? Yuk simak penjelasan selanjutnya.

Bentuk dan Penyebab Sariawan

Sariawan merupakan sebuah lesi yang muncul di rongga mulut. Bentuk dan penyebabnya bisa beragam. Bentuk sariawan yang paling sering ditemui adalah berupa cerukan. Beberapa kemungkinan penyebabnya:

  • Cedera mekanis, seperti tergigit ketika makan atau tertekan benda lain
  • Terpapar zat yang mengiritasi, misalnya Abothyl (policresulen), aspirin, propolis, dan obat lain atau penggunaan gigi palsu.

Selain itu, sariawan juga dapat ditemui dalam bruntus berisi cairan, nanah atau darah, dan permukaan kemerahan yang tertutup lapisan putih. Beberapa sebab yang menyebabkan lesi seperti ini misalnya :

  • Infeksi (infeksi jamur, bakteri, dan virus)
  • Tanda adanya hipersensitivitas
  • Penyakit kronis misalnya gangguan kekebalan tubuh (seperti infeksi HIV, diabetes, xerostomia atau mulut kering, dll).

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali masuk dalam kategori normal atau tidak sariawan yang dialami.

Bagaimana cara mengenali sariawan yang berbahaya dan tidak?

Pada kondisi normal atau tubuh tidak memiliki penyakit serius, sariawan yang disebabkan oleh trauma mekanis akan sembuh dalam waktu 5-10 hari secara alami, tanpa obat apapun. Akan tetapi, kita perlu mewaspadai pada kondisi berikut :

  1. Sariawan yang terus berulang.

  2. Tubuh mengalami demam saat atau sebelum munculnya sariawan.

  3. Pembukaan mulut terbatas.

  4. Anak tidak mau makan/ tidak bisa masuk makanan.

  5. Muncul bentuk lesi serupa di bagian tubuh lain (misalnya tangan dan kaki).

Pada kondisi ini, Anda perlu memeriksakan kondisi rongga mulut/ sariawan ke dokter gigi spesialis Penyakit Mulut.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mengalami Sariawan?

Saat mengalami sariawan pengobatan yang paling penting ialah menjaga kebersihan rongga mulut. Caranya dengan tetap menyikat gigi 2 kali sehari dengan cara dan waktu yang benar. Hal ini disebabkan, lama proses penyembuhan sariawan sangat tergantung dari tingkat kebersihan mulut penderita. Selain itu, pemenuhan asupan makanan bergizi yang mengandung Zinc, vitamin C, dan B harus terpenuhi.

Selanjutnya, terapi terhadap sariawan ini perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Jika sariawan muncul karena trauma mekanis, maka Anda dapat berkumur air garam hangat dan obat kumur yang mengandung chlorhexidine gluconate 2%, menggunakan plester sariawan, dan madu. Tapi ingat ya, madu hanya boleh diberikan bila usia seseorang sudah >1 tahun. Penggunaan obat oles atau tetes telan yang mengandung antijamur dan kortikosteroid (misalnya triamcinolone in orabase) harus mendapatkan persetujuan dari dokter gigi, terutama jika Anda tidak benar-benar mengetahui penyebab munculnya sariawan. Penggunaan obat yang tidak tepat dapat memperparah kondisi sariawan.

Mengapa Abothyl/Policresulen Tidak Boleh Digunakan untuk Sariawan?

Policresulen merupakan asam organik polimolekuler, tergolong obat antiseptik dan disinfektan kulit. Kandungannya memiliki sifat hemostatik lokal dan antimikroba. Akan tetapi, obat ini memiliki kandungan asam yang tinggi dan dapat menyebabkan kematian jaringan. Hal ini menyebabkan sariawan menjadi lebih parah dan lebar dibandingkan dengan sebelumnya.

Policresulen digunakan oleh penduduk di Indonesia. Akan tetapi, penggunaannya sejak lama tidak direkomendasikan oleh dokter gigi. Berdasarkan jurnal kedokteran gigi, obat ini dilaporkan dapat menyebabkan cedera kimiawi dari mukosa mulut berupa erosi, peradangan, pembengkakan, ulserasi dan pengelupasan. Akan tetapi, belum terdapat laporan terjadinya kanker akibat penggunaan obat ini.

Jadi, perlukah sariawan Anda diobati?

Rizky Fitri, drg.

03/13/2018

Daftar Referensi

  • Femiano F, et al. Guidelines for Diagnosis and Management of Apthous Stomatitis. The Pediatric Infectious Disease Journal. 2007; 26(8): 728-32.

  • Weinberg MA, Maloney WJ. Treatment Common Oral lessions. US Pharm. 2007; 32(3): 82-88.

  • Wardhany II, Wimardhani YS, Soegyanto AI. Oral Mucosal Burn Caused by Topical Application of 36% Policresulen Solution- A Case Series. JIDMR. 2016; 9: 387-91.

  • Hullah EA, Hegarty AM. Oral Ulceration: Aetiology, Diagnosis, and Treatment. Dental Nursing. 2014; 10(9); 7-19

Mapping KLB Difteri

Tanya Jawab Seputar Imunisasi ORI (Outbreak Response Immunization)

Sejak 1 Januari 2017 sampai 4 November 2017, telah ditemukan sebanyak 591 kasus Difteri, dengan 32 kematian di 95 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia. Pada minggu ke-4 bulan November 2017, tampak pada gambar di atas bahwa telah terjadi KLB difteri di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sampai dengan 25 Desember 2017 Kementerian Kesehatan telah mengumpulkan data epidemiologis KLB Difteri. Saat ini terdeteksi sebanyak 907 kasus (kumulatif selama tahun 2017) dimana 44 di antaranya meninggal dunia. Kasus dilaporkan ada di 164 Kabupaten kota dari  29 provinsi.

KLB Difteri pada saat ini memiliki gambaran yang berbeda daripada KLB sebelumnya yang pada umumnya menyerang anak Balita. KLB kali ini ditemukan pada kelompok umur 1 – 40 tahun dimana 47% menyerang anak usia sekolah (5 – 14 tahun) dan 34% menyerang umur di atas 14 tahun. Data tersebut menunjukkan proporsi usia sekolah dan dewasa yang rentan terhadap difteri cukup tinggi.

Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Selain itu, pengetahuan penduduk tentang pentingnya imunisasi masih minim pada daerah yang tidak terjangkau fasilitas kesehatan. Munculnya KLB difteri berkaitan dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Immunity gap ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

 

Apa yang dilakukan pemerintah menghadapi KLB Difteri?

Untuk menanggulangi KLB difteri ini, Kementrian Kesehatan Indonesia melakukan ORI (Outbreak Response Immunization). Setiap anak usia 1-19 tahun wajib diberikan imunisasi DPT tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Imunisasi DPT diberikan gratis melalui Puskesmas maupun RSUD. ORI kali ini dimulai sejak 11 Desember 2017 pada 12 Kabupaten/Kota di  3 propinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Ketiga provinsi tersebut dipilih sebagai tahap awal ORI, karena penularan difteri yang cepat dan padatnya jumlah penduduk, serta tingginya mobilisasi di ketiga provinsi tersebut. ORI dilakukan 3 putaran. Jarak pemberian putaran pertama dan kedua adalah 1 bulan, sedangkan jarak antara putaran kedua dan ketiga adalah 6 bulan. Putaran pertama dilaksanakan pada 11 Desember 2017, dilanjutkan pada 11 Januari dan 11 Juli 2018.

 

 

Apa yang dapat dilakukan masyarakat?

  • Kenali gejala difteri. Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila anak/orang dewasa mengeluh nyeri tenggorokan, yang disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur < 15 tahun.
  • Anak/orang dewasa harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri, agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar menderita difteri.
  • Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
  • Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, harus segera dilakukan imunisasi.
    • Balita : vaksin DPT
    • Anak 5-7 tahun : vaksin DT
    • Anak 7-19 tahun : vaksin Td atau Tdap
    • Dewasa : vaksin Td atau Tdap

Mengenai imunisasi DPT selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Bagaimana kondisi terkini?

Kementerian Kesehatan mencatat hasil cakupan pelaksanaan ORI di 3 provinsi hingga Kamis malam (4/1) pukul 19.30 WIB mencapai 52,10%. Dengan rincian cakupan ORI untuk provinsi DKI Jakarta (61,75%); Jawa Barat (44,21%); dan Banten (57,60%).

Bulan Januari 2018 ini merupakan jadwal putaran kedua ORI Difteri. Sementara ORI putaran ketiga dilakukan 6 bulan kemudian. ORI Difteri perlu dilakukan 3 kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae.

 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180105/2724258/ingat-ori-difteri-ada-3-putaran/

 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20171230/3524220/difteri-akan-dapat-diatasi/

 

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/ORI/en/

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17120500001/-imunisasi-efektif-cegah-difteri.html

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html

 

http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri

Depresi Postpartum

Berita mengenai mutilasi anak yang dilakukan oleh ibunya sendiri telah mendapatkan sorotan yang cukup tajam dari berbagai kalangan. Kejadian semacam itu membuahkan banyak pertanyaan mengenai motif pelakunya yang merupakan orang terdekat sang anak. Meskipun hingga kini belum ada klarifikasi yang solid dari pihak kepolisian, salah satu diagnosis diferensial dari fenomena ini mengarah pada kondisi depresi paska melahirkan atau yang lebih dikenal dengan depresi postpartum.

~

Perubahan kondisi kejiwaan adalah hal yang lazim ditemukan pada ibu yang baru melahirkan. Kelahiran si kecil merupakan hal yang bisa membuat emosi sang ibu tidak stabil karena perubahan hormon yang drastis dari kehamilan. Tingkatan kondisi kejiwaan ini bervariasi dari mulai ringan hingga berat. Berikut adalah 3 jenis kondisi kejiwaan yang dapat ditemukan paska melahirkan:

  1. Post Partum Blues /Baby Blues (PPB)

Baby Blues adalah kondisi kejiwaan yang paling ringan dan paling lazim ditemukan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 60-80% perempuan yang baru melahirkan mengalami sindrom ini. Biasanya baby blues hanya bertahan beberapa hari atau 2 minggu setelah kelahiran. Tanda-tanda baby blues diantaranya adalah:

  • suasana hati yang mudah berubah
  • gelisah
  • kesedihan
  • mudah tersinggung
  • menangis tanpa sebab
  • konsentrasi menurun
  • tidak nafsu makan
  • sulit tidur
  1. Post Partum Depression (PPD)

Depresi setelah melahirkan (PPD) adalah kondisi kejiwaan yang lebih parah dari baby blues. Gejala awal PPD seringkali serupa dengan baby blues, namun tanda tanda ini semakin kuat terasa dan bertahan lebih lama. Para ibu yang mengidap PPD biasanya kesulitan dalam mengasuh bayinya  ataupun melakukan kegiatan sehari-hari. Gejala ini biasanya berkembang beberapa minggu setelah melahirkan, atau malah 6 bulan setelahnya. Statistik menunjukkan bahwa 10-15% perempuan melahirkan mengalami PPD.

Faktor-faktor yang dapat memicu PPD adalah:

  • Kegelisahan selama masa kehamilan
  • Kejadian yang sangat menekan jiwa saat kehamilan
  • Dukungan sosial (suami dan keluarga) yang sangat minim
  • Depresi di masa lalu

Sedangkan gejala PPD dapat meliputi:

  • Depresi berlebihan atau perubahan suasana hati yang sangat parah
  • Menangis berlebihan
  • Kesulitan menjalin ikatan pada anak
  • Kehilangan nafsu makan atau makan terlalu banyak
  • Insomnia (sulit tidur)
  • Ketakutan tidak dapat menjadi ibu yang baik
  • Berpikir menyakiti bayi atau diri sendiri
  • Berpikir untuk bunuh diri
  • Sangat mudah tersinggung dan marah
  • Merasa sangat lelah
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukainya
  1. Post Partum Psychosis (PPP)

Post Partum Psychosis adalah gangguan kejiwaan yang paling parah yang dapat ditemukan pada ibu yang baru melahirkan. Dibandingkan baby blues dan post partum depression, PPP lebih jarang ditemukan. Gejala PPP meliputi pikiran yang terganggu, halusinasi, dan gangguan bicara juga tingkah laku.

Statistik menunjukkan bahwa 1-2 kasus PPP ditemukan dalam 1000 kasus kelahiran bayi. Namun demikian, peluang kejadiannya lebih besar ditemukan pada wanita dengan kelainan bipolar dan skizofrenia. Tidak seperti baby blues yang bisa hilang dengan sendirinya, PPP harus ditangani oleh dokter dan disembuhkan dengan obat-obat tertentu. Namun demikian, sebuah penelitian menunjukkan bahwa peran ayah dalam memperbaiki hubungan ibu dan anak pada kasus PPP sangat signifikan.

Dyna Rochmyaningsih

Sumber:

  1. Manjunath, Narasimhiah G dkk. 2011. Post Partum Blues is Common in Socially and Economically Insecured Mothers.  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3214451/, 5 Oktober 2016.
  2. Anonim. 2016. Depression Among Women. Diunduh dari: https://www.cdc.gov/reproductivehealth/depression/, 5 Oktober 2016.
  3. Robertson, Emma, dkk. 2004. Antenatal risk factors for postpartum depression: a synthesis of recent literature. http://www.ghpjournal.com/article/S0163-8343(04)00039-8/abstract?cc=y= , 6 Oktober 2016.
  4. Anonim. 2015. Post Partum Depression. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-depression/basics/symptoms/con-20029130, 6 Oktober 2016.
  5. Brockington, Ian. 2004. Post Partum Psychiatric Disorded. Diunduh dari: http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(03)15390-1/abstract, 6 Oktober 2016.

Virus Zika dan Serba-serbinya

Akhir-akhir ini informasi mengenai virus zika mulai menyebar luas, membuat kita semua khawatir terutama karena virus ini disinyalir merupakan penyebab mikrosephali pada bayi baru lahir di wilayah Amerika Selatan. Mums, mari kita kenali fakta-fakta unik mengenai virus zika untuk menghindari penyakit yang disebabkannya.

Penyebaran

Seperti halnya demam berdarah atau chikungunya yang telah lebih dulu menjadi endemik di beberapa wilayah di Indonesia selama musim tertentu, virus zika merupakan golongan flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes. Di wilayah tropis, nyamuk Aedes Aegypti menjadi jenis nyamuk yang menyebarkan virus ini. Oleh karena itu, salah satu poin penting pencegahan penyakit ini adalah melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Penularan

Selain melalui nyamuk, virus zika juga menular secara kongenital, perinatal (saat kelahiran), dan juga seksual. Kemungkinan cara penyebaran yang lainnya antara lain karena gigitan binatang seperti monyet, melalui transfusi darah, dan juga akibat paparan di laboratorium. Virus zika pernah terdeteksi terdapat pada ASI penderitanya namun belum dapat dibuktikan apakah virus ini juga menyebar melalui pemberian ASI.

Gejala

Virus ini juga menyebabkan gejala yang mirip dengan demam berdarah atau penyakit akibat virus lainnya. Gejala tersebut antara lain; demam, nyeri otot, konjunctivitis pada mata, ruam kemerahan, nyeri sendi, dan nyeri kepala. Gejala umumnya ringan dan bahkan pada kebanyakan kasus (80%) tidak bergejala sama sekali. Gejala yang terjadi juga dapat sembuh sendiri dalam rentang waktu maksimal 2 minggu.

Mikrosephali

Berita yang paling menggemparkan mengenai virus zika adalah kejadian microcephaly (kondisi dimana ukuran lingkar kepala bayi di bawah rata-rata ukuran kepala bayi dengan usia dan jenis kelamin yang sama) pada bayi di Brazil yang diduga disebabkan karena virus zika yang menginfeksi ibu hamil. Meski masih terus diteliti mengenai keterkaitan virus zika dan efeknya pada kehamilan, ibu hamil menjadi salah satu golongan yang harus waspada terhadap infeksi virus zika. Jika seorang ibu hamil baru pergi berpergian dari wilayah yang terkena wabah virus, sebaiknya  memeriksakan diri apakah terinfeksi atau tidak.

Pada orang dewasa, virus zika dapat mengakibatkan komplikasi neurologis seperti Guillain-Barre Syndrome, meningitis, dan meningoencephalitis. Virus ini jarang sekali mengakibatkan kematian.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang khusus untuk menyembuhkan virus zika. Istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, serta obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol merupakan terapi yang cukup efektif untuk mengurangi gejala yang terjadi.

Pencegahan

Pencegahan terutama dengan cara menghindari gigitan nyamuk. Gunakan lotion atau spray anti nyamuk, baju lengan panjang, dan juga pelindung saat tidur. Ibu hamil hendaknya berhati-hati dalam melakukan perjalanan, hindari mengunjungi wilayah yang terkena wabah.

Pada orang yang tinggal di daerah wabah sebaiknya menghindari hubungan seksual saat hamil atau menggunakan pelindung seperti kondom.

Irma Susan Kurnia, dr.

Sumber:

  1. Plourde, Anna M & Bloch, Evan M. 2016. A Literature Review of Zika Virus. EID Journal Vol 22 No 7 Cited Dec 2016. Available at wwwnc.cdc.gov
  2. World Health Organization. 2016. Zika Virus. Cited Dec 2016. www.who.int
  3. Meaney Delman et al.2016. Zika Virus and Pregnancy: What Obstetric Health Care Providers Need to Know. Obstetrics & Gynecology: April 2016 – Volume 127 – Issue 4 – p 642–648

 

Kanker Serviks

Tahukah Anda bahwa kanker serviks merupakan kasus kanker tertinggi di Indonesia?Data dari Riskesdas 2013 diketahui bahwa  hampir 100.000 wanita Indonesia mengalami kanker serviks. Biasanya kanker ini terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Sayangnya, 70% kasus kanker serviks ini baru diketahui pada stadium lanjut. Sehingga tidak heran bila angka kematian kanker serviks meningkat sampai 2x lipat dari tahun 2010 ke 2013. Padahal, kanker serviks ini amat bisa dicegah.

Mengenal Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang serviks atau leher rahim. Serviks atau leher rahim ialah bagian rahim yang menyempit sebelum vagina. Bagian serviks yang lebih dekat ke rahim disebut endoserviks, bagian yang lebih dekat ke vagina disebut eksoserviks, sementara pertemuan kedua area tersebut disebut zona transformasi. Pada zona transformasi inilah kanker serviks paling banyak terjadi.

Kanker Serviks

Serviks. Ovary : indung telur, Fallopian tube : saluran indung telur, Uterus : rahim, Cervix = serviks/leher rahim

Penyebab dan Faktor Resiko

Penyebab kanker serviks yaitu infeksi HPV (Human Papillomavirus). Sebanyak 70% kanker serviks terdapat pada wanita yang pernah terinfeksi virus HPV. HPV menginfeksi sel-sel epitel yang melapisi permukaan tubuh, termasuk alat kelamin. Sel-sel yang terinfeksi HPV menjadi tumbuh tidak terkendali. Sebagian sel yang terinfeksi dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh kita dalam 1-2 tahun, namun sebagian lagi tetap terinfeksi. Sel-sel terinfeksi yang menetap ini kemudian berubah menjadi sel pre-kanker, yang selanjutnya dapat menjadi sel kanker. Seseorang yang sudah terinfeksi HPV bisa saja tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi karena sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala.

Virus HPV bisa menular dari pasangan yang terinfeksi HPV melalui hubungan intim. Risiko seorang wanita terinfeksi HPV dan mengalami kanker serviks meningkat apabila :

  • Sering berganti pasangan.
  • Berhubungan seks di usia dini (kurang dari 20 tahun)
  • Berhubungan seks dengan partner yang beresiko tinggi (terinfeksi HPV, senang berganti pasangan)
  • Terdapat riwayat penyakit menular seksual
  • Kondisi imunitas rendah (HIV)

Jika seorang wanita sudah terinfeksi HPV, ada hal-hal yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks, diantaranya yaitu:

  1. Merokok. Wanita yang merokok berisiko 2x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang tidak merokok. Residu tembakau ditemukan pada cairan serviks wanita yang merokok. Cairan ini menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa serviks, yang dapat memicu timbulnya kanker.
  2. Kekebalan tubuh yang sangat rendah, misalnya pada wanita dengan infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sistem kekebalan tubuh penting untuk membunuh sel-sel kanker, serta memperlambat pertumbuhan dan penyebarannya. Pada wanita yang terinfeksi HIV, terutama yang infeksinya sudah berkembang menjadi AIDS, lesi prekanker lebih cepat tumbuh menjadi kanker dan menyebar. Contoh lain yaitu pada wanita dengan penyakit autoimun, yaitu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel tubuh yang normal karena dianggap sebagai kuman. Wanita dengan penyakit autoimun harus mengkonsumsi obat untuk menekan sistem kekebalan tubuhnya agar tidak menghancurkan sel-sel normal, sehingga kekebalan tubuhnya rendah.
  3. Terdapat riwayat keluarga yang terkena kanker serviks. Jika memiliki ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker serviks, maka seorang wanita berisiko 2-3x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks.
  4. Konsumsi pil kontrasepsi dalam jangka panjang. Konsumsi pil kontrasepsi selama lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan resiko timbulnya kanker serviks. Namun, saat pil kontrasepsi berhenti dikonsumsi, risiko timbulnya kanker serviks akan menurun kembali. Setelah 10 tahun berhenti, maka risiko terkena kanker serviks sama saja dengan yg tidak pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Gejala

Wanita dengan kanker serviks stadium awal biasanya tidak memiliki gejala yang khas. Gejala baru muncul saat kanker sudah stadium lanjut. Gejalanya yaitu:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal, misalnya perdarahan saat berhubungan intim, setelah menopause, perdarahan diluar jadwal haid, atau haid yang lebih banyak dan lama.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Lendir dengan darah keluar dari vagina di luar jadwal haid atau setelah menopause.

Skrining dan Diagnosis

Pemeriksaan kanker serviks terdapat 2 jenis, yaitu untuk keperluan skrining dan diagnosis.  Skrining adalah pemeriksaan untuk mencari apakah ada sel-sel yang abnormal. Sementara pemeriksaan diagnosis bertujuan untuk konfirmasi apakah sel abnormal tadi benar sel kanker atau tidak.

Untuk skrining dapat dilakukan pemeriksaan Pap smear, IVA atau tes HPV.

  • Pada pemeriksaan Pap smear, dokter Anda akan memasukkan spekulum, alat untuk membuka vagina, lalu dokter akan mengambil sedikit jaringan serviks dengan untuk diperiksa. Dari tes pap smear ini bisa ada tidaknya sel yang tidak normal yang mungkin akan berkembang menjadi kanker.PapTest-large
  • Tes HPV dilakukan untuk mendeteksi sebagian besar tipe virus HPV yang beresiko tinggi menyebabkan kanker servis .Ada 13 tipe HPV onkogenik yang diperiksa yaitu tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68.
  • IVA (Inspeksi Visual Asetat) yaitu pemeriksaan sederhana untuk melihat lesi pra kanker pada serviks dengan bantuan asam cuka yang diencerkan. IVA tes biasa digunakan di tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas terbatas.Pada pemeriksaan ini tenaga kesehatan (bidan, perawat atau dokter) memasukkan spekulum lalu leher rahim Anda akan dioles cairan asam asetat/asam cuka 3-5%. Asam asetat akan mengubah warna sel-sel rahim yang tidak normal menjadi lebih putih Jika hasil skrining menunjukkan hasil abnormal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi.ilustrasi-iva-1

Diagnosis

Bila pada skrining dokter menemukan adanya lesi pra kanker, dokter biasanya akan memastikan ada atau tidaknya keganasan dengan pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan lanjutan tersebut biasanya berupa kolposkopi (dengan biopsi) dan kuret endoserviks.

  • Pada pemeriksaan kolposkopi, dokter akan melihat permukaan leher rahim dengan kaca pembesar khusus (kolposkop). Jika terlihat kelainan pada serviks, dokter lalu akan melakukan biopsi yaitu mengambil sedikit sampel dari jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dari pemeriksaan biopsi ini, dapat dipastikan apakah daerah abnormal di leher rahim tersebut berupa lesi pra kanker, kanker atau bukan keduanya.205353
  • Bila zona transformasi (daerah yang beresiko terkena infeksi HPV dan lesi pra kanker) tidak bisa terlihat dengan kolposkopi, dokter mungkin akan melakukan kuret. Berbeda dengan kuret pada aborsi, kuret endoserviks hanya mengikis sedikit sel dari endoserviks untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikrosop.

Bila setelah diperiksa ternyata ditemukan sel kanker, dokter kemungkinan akan melakukan rontgen dada, tulang atau biopsi untuk melihat stadium dan penyebaran kanker rahim tersebut. Adapun stadium  atau tingkat keparahan kanker serviks ialah :

  • Stadium 0 (carcinoma in situ/CIN) Stadium ini disebut juga pre-kanker. Sel-sel kanker hanya terdapat di permukaan serviks.
  • Stadium IA dan IB → stadium awal. Kanker sudah menembus permukaan serviks, namun belum menyebar.
  • Stadium II ke atas → stadium lanjut. Kanker sudah menyebar keluar serviks, namun masih di dalam area panggul.
  • Stadium IVB → stadium akhir. Kanker telah menyebar keluar panggul, ke bagian tubuh lainnya. Kanker serviks stadium ini sudah sangat sulit untuk disembuhkan.

Pengobatan

Pengobatan setiap wanita yang terkena kanker serviks berbeda, tergantung dari stadium kanker saat diperiksa, usia dan kondisi kesehatan wanita tersebut.

Beberapa pilihan pengobatan yaitu:

Operasi

  • Cryosurgery yaitu operasi dengan menggunakan suhu sangat dingin untuk membunuh sel kanker. Pada operasi ini, alat bernama Cryoprobe diarahkan ke sel abnormal di permukaan rahim. Setelah itu, nitrogen cair dialirkan sampai cukup membuat jaringan beku dan hancur.
  • Operasi laser yaitu operasi dengan sinar laser yang diarahkan melalui vagina. Teknik ini dapat membunuh sel kanker dengan membakar sel tersebut. Teknik ini juga digunakan untuk mengambil sedikit jaringan serviks untuk diperiksa.
  • Histerektomi yaitu operasi pengangkatan rahim
  • Histerektomi radikal yaitu operasi pengangkatan rahim dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Terapi radiasi

Kemoterapi yaitu dengan obat-obatan yang disuntik ke pembuluh darah.

Paliatif,  yaitu terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Dengan cara mengurangi gejala kanker, efek samping terapi kanker, juga mengatasi masalah psikologis, sosial dan spiritual pasien. Terapi ini tidak untuk menyembuhkan.

Untuk kanker stadium awal, dapat dilakukan operasi yang dikombinasikan dengan terapi radiasi atau kemoterapi. Untuk kanker stadium lanjut, dapat dilakukan terapi radiasi dan kemoterapi. Untuk kanker stadium akhir dapat dilakukan kemoterapi dan terapi paliatif.

Terapi Alternatif, amankah?

Anda pasti cukup sering mendengar berbagai terapi alternatif yang mengklaim mampu menyembuhkan kanker serviks. Beberapa terapi alternatif mungkin dapat meringankan gejala atau membuat Anda merasa lebih baik. Namun, sebagian besar terapi alternatif justru berbahaya karena dapat mempercepat perburukan kanker serviks. Seringkali seorang wanita dengan kanker serviks stadium awal menolak pengobatan medis, dan beralih ke pengobatan alternatif. Setelah bertahun-tahun berobat alternatif, kanker serviks seringkali semakin memburuk dengan cepat. Ketika kembali ke dokter didapatkan kanker serviks sudah stadium lanjut bahkan stadium akhir. Jadilah pasien yang bijak, yang tidak termakan janji kesembuhan total. Selalu komunikasikan pilihan terapi kanker dengan dokter yang merawat Anda atau keluarga Anda.

Apakah kanker serviks bisa disembuhkan?

Tergantung dari stadium kanker serviks, semakin tinggi stadium, semakin rendah harapan hidup. Pada kanker serviks stadium awal (IA dan IB) harapan hidup 10 tahun ke depan sebesar 80-95%. Sementara harapan hidup 10 tahun ke depan pada stadium lanjut sebesar 17-47%.

Pencegahan

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan dengan cara pencegahan primer maupun pencegahan sekunder. Pencegahan primer misalnya belajar mengenai kanker serviks dan vaksinasi kanker serviks. Vaksinasi sebaiknya dilakukan sebelum seorang wanita menikah atau aktif secara seksual.

Sementara pencegahan sekunder adalah pencegahan dalam bentuk deteksi dini.  Deteksi dini infeksi HPV atau lesi prekanker serviks dapat dilakukan melalui pemeriksaan IVA, PapSmear dan tes HPV. Wanita dengan kanker serviks yang melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi dini saat stadium awal) lebih tinggi harapan hidupnya dibandingkan yang tidak melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi saat stadium lanjut).

Kesimpulan

Jumlah penderita kanker serviks menduduki peringkat teratas di antara penyakit kanker pada pria dan wanita di Indonesia, dan menyumbang angka kematian yang cukup tinggi. Pengobatan kanker serviks menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perubahan sel-sel serviks yang terinfeksi HPV menjadi sel kanker berlangsung selama 10-20 tahun, sehingga banyak kesempatan untuk mencegah kanker serviks. Manfaatkan waktu yang banyak tersebut untuk melakukan berbagai tindakan pencegahan. Kanker serviks stadium awal jarang menimbulkan gejala. Sementara saat timbul gejala, kanker serviks sudah stadium lanjut. Jangan sampai terlambat dan menyesal. Segera vaksinasi HPV dan lakukan pemeriksaan IVA, Papsmear atau tes HPV sesuai rekomendasi bidan/dokter Anda.

Diana Andarini, dr.

06/26/2016

Referensi

  1. Nuranna L, Aziz MF, Cornain S, et al. Cervical cancer prevention program in Jakarta, Indonesia: See and treat model in developing country. J Gynecol Oncol (2 July 2012) 23 (3): 147–152. [cited May 10] Available from: www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3395009/
  2. Frellick M. Updated guideline on cervical cancer screening issued by ACOG. December 2015. [cited 5 April 2016] Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/856431
  3. American Cancer Society. Cervical Cancer. [cited 17 Mei 2016] Available from:  http://www.cancer.org/cancer/cervicalcancer/detailedguide/index
  4. National Cancer Institute. HPV and Cancer. February 2015. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/infectious-agents/hpv-fact-sheet
  5. Departemen Kesehatan Indonesia. Stop Kanker. 4 Februari 2015. [cited 17 Mei 2016] Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf
  6. The Elevated 10-Year Risk of Cervical Precancer and Cancer in Women With Human Papillomavirus (HPV) Type 16 or 18 and the Possible Utility of Type-Specific HPV Testing in Clinical Practice. JNCI J Natl Cancer Inst (20 July 2005) 97 (14): 1072-1079. [cited 5 April 2016] Available from: http://jnci.oxfordjournals.org/content/97/14/1072.full
  7. Smith JS, Lindsay L, Hoots B, et al. Human papillomavirus type distribution in invasive cervical cancer and high-grade cervical lesions: A meta-analysis update. Int. J. Cancer, 121: 621–632. [cited 5 April 2016] Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijc.22527/full
  8. Schiffman M, Castle PE, Jeronimo J, et al. Human papillomavirus and cervical cancer. The Lancet (September 2007) 370 (9590): 890–907. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17826171
  9. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bulan Cegah Kanker Serviks 2015 [cited 10 Mei 2016] Available from: http://pogijaya.or.id/blog/2015/02/20/bulan-cegah-kanker-serviks-2015/
  10. Centers for Disease Control and Prevention. Making sense of your Pap & HPV test result. August 2015. [cited 25 Mei 2016] Available from: www.cdc.gov/std/hpv/pap/
  11. Centers for Disease Control and Prevention. What should I know about screening? March 2016. [cited 3 Juni 2016] Available from:http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm
  12. International Collaboration of Epidemiological Studies of Cervical Cancer. Cervical cancer and hormonal contraceptives: collaborative reanalysis of individual data for 16573 women with cervical cancer and 35509 women without cervical cancer from 24 epidemiological studies. The Lancet (November 2007) 370: 1609-21.

Demam Berdarah Dengue Pada Ibu Hamil

Musim hujan telah tiba. Genangan air bahkan banjir mulai melanda beberapa daerah di Indonesia. Tak ayal bila kasus demam berdarah juga meningkat karena tempat bersarang nyamuk semakin banyak.  Sepanjang Januari 2016 saja, Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan mencatat 3.298 kasus DBD dengan jumlah kematian sebanyak 50 kasus. KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD terjadi di 11 Kabupaten/Kota di 7 Provinsi.

Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa terjadi pada siapa saja. Mulai bayi, anak, dewasa sampai ibu hamil. Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil karena dampaknya yang bisa berbahaya terhadap ibu dan janin. Sebab itu, penting untuk diketahui kiat pencegahan DBD terutama di musim penghujan ini.

Sekilas tentang Demam Berdarah Dengue

Infeksi virus Dengue merupakan salah satu infeksi tersering yang dibawa oleh nyamuk. Di dunia, setiap tahun diperkirakan 100 juta orang terinfeksi dengue, terutama di daerah tropis seperti Asia Tenggara, Amerika (Tengah & Selatan), serta Pasifik Barat. Penyakit ini menular melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegyptii. Nyamuk menggigit manusia yang menderita penyakit dengue, kemudian menggigit manusia yang sehat.

Demam Berdarah

Penularan Demam Berdarah

Nyamuk ini paling sering menggigit manusia saat pagi dan sore hari. Terdapat 4 jenis virus dengue, yaitu DENV-1 sampai DENV-4. Jika seseorang terinfeksi salah satu jenis virus dengue, maka orang tsb akan memiliki kekebalan seumur hidup terhadap virus dengue tsb, namun hanya kebal beberapa bulan terhadap jenis virus dengue lain. Selain itu, virus dengue dapat menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya.

Gejala Infeksi Virus Dengue

Gejala infeksi virus dengue amat bervariasi mulai dari asimptomatik (tidak bergejala sama sekali) sampai demam berdarah dengue yang menimbulkan syok. Biasanya gejala penyakit dengue muncul 4-10 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi dengu. Diantaranya, dikenal dengan istilah penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue.

Gejala Demam Dengue

  • Demam Dengue merupakan bentuk ringan dari infeksi Dengue. Gejalanya ialah :
  • Demam tinggi (demam >380C) selama 2-7 hari yang mungkin tipenya seperti pelana kuda (demam tinggi hari 1-3 lalu turun sampai hari ke 6)
  • Sakit kepala
  • Nyeri belakang bola mata
  • Nyeri tenggorokan
  • Nyeri pada sendi dan otot
  • Ruam kemerahan di wajah, dada, lengan dan tungkai dengan pulau-pulau kulit yang sehat di antaranya
  • Pada demam dengue juga dapat muncul gejala perdarahan ringan (misalnya gusi berdarah, mimisan, bintik-bintik merah pendarahan)
  • Mual dan muntah

Ibu dapat mengalami demam dengue kemudian sembuh dengan sendirinya, tanpa mengalami dengue yang berat seperti DBD atau DSS.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan bentuk yang perlu diwaspadai dari infeksi virus Dengue. Biasanya DBD terjadi pada infeksi virus Dengue yang berulang. Pada DBD timbul kebocoran cairan plasma darah ke jaringan. Hal inilah yang bisa menyebabkan syok pada penderitanya. Jika Ibu mengalami DBD, Ibu membutuhkan penanganan medis segera berupa terapi cairan untuk mencegah komplikasi dan risiko kematian.

Gejala awal demam dengue dan DBD mirip, sehingga pada fase awal sulit dibedakan apakah Ibu mengalami demam dengue atau DBD. Namun, jika Ibu mengalami DBD, pada hari ke 3-7, demam turun (suhu <380C) disertai munculnya gejala-gejala ini, perlu diwaspadai akan terjadi syok :

  • Nyeri perut yang hebat
  • Mual dan muntah berulang
  • Tidak mau minum
  • Lemas
  • Gelisah
  • Hipotensi
  • Pipis sedikit
  • Muntah darah (akibat perdarahan saluran cerna)

Dengue Shock Syndrome (DSS)

DSS merupakan tahapan lanjut dari DBD. Pada kondisi ini terjadi kebocoran plasma yang hebat di dalam tubuh sehingga terjadi syok. Kondisi ini sangat berat dengan risiko kematian yang tinggi.

Akibat Infeksi Dengue pada Janin

Tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan usia kehamilan, infeksi dengue pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur, gawat janin, berat badan bayi rendah, bahkan kematian bayi. Jika ibu hamil terinfeksi dengue saat trimester pertama, risiko keguguran lebih tinggi.

Jika ibu hamil terinfeksi dengue mendekati jadwal kelahiran, terdapat risiko perdarahan hebat pada ibu dan bayi saat proses kelahiran dan setelahnya. Selain itu, bayi dapat terlahir dengan infeksi dengue. Gejala dengue pada bayi yang baru lahir dapat muncul beberapa jam setelah lahir, atau beberapa hari setelahnya. Gejala dapat berupa demam, ruam (petekiae) dan liver membesar. Pada dengue yang berat, bayi dapat mengalami dengue shock syndrome.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis infeksi virus dengue adalah :

  • Penurunan Leukosit (Leukopenia)
  • Penurunan trombosit. Pada demam dengue biasanya trombosit turun <150.000 sel/mm3 sedangkan pada DBD, hasil trombosit bisa turun sampai <100.000/mm3)
  • Peningkatan Hematokrit. Pada demam dengue hematokrit bisa meningkat 5-10% sedangkan pada DBD peningkatan hematokrit bisa sampai >20%. Namun pada ibu hamil, hematokrit seringkali rendah akibat anemia yang  kehamilan.
  • NS1 ialah penanda antigen virus Dengue yang bisa terdeteksi di hari 1-4 dari munculnya gejala. Sehingga bisa digunakan  untuk mendeteksi dini adanya infeksi virus Dengue.
  • IgM dengue adalah pemeriksaan antibodi/kekebalan tubuh terhadap dengue. IgM dengue muncul setelah 3-5 hari gejala, dan dapat bertahan sampai 6 bulan berikutnya. Tes IgM bereaksi terhadap keempat jenis virus dengue. Adanya gejala-gejala penyakit demam dengue/DBD serta IgM dengue positif menunjukkan adanya infeksi dengue saat ini.

Pengobatan

Ibu hamil yang terkena infeksi dengue sebaiknya dirawat di rumah sakit lebih awal untuk memonitor perjalanan penyakitnya. Terapi utama pada ibu dengan infeksi dengue ialah terapi cairan untuk mencegah syok. Selain itu, dokter akan memberikan obat-obatan yang aman untuk meringankan gejala (seperti menurunkan demam, mengurangi mual atau mengurangi nyeri sendi) pada ibu. Kerjasama antara dokter penyakit dalam, dokter spesialis kandungan dan spesialis anak diperlukan.

Jika Ibu menderita DBD saat dan setelah persalinan, besar risiko terjadinya perdarahan hebat dan syok, sehingga Ibu membutuhkan transfusi trombosit dan pengawasan khusus dari tim medis. Selain itu, bayi Ibu akan diawasi, apakah akan muncul gejala penyakit dengue, agar tidak terlambat ditangani. Gejala dengue paling sering muncul saat bayi berusia 4-5 hari. Jika muncul gejala dengue, bayi Ibu membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Pencegahan

Pemerintah telah meluncurkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M yaitu:

  1. Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dll.
  2. Menutup tempat penampungan air dengan rapat, seperti drum air, kendi, toren air, dll.
  3. Mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas, supaya tidak ada genangan air yang menjadi tempat favorit nyamuk bertelur.

_780050

Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sehingga kurang efektif. Untuk membunuh larva nyamuk dibutuhkan bubuk larvasida (misalnya abate) yang disebarkan di tempat-tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Hindari gigitan nyamuk dengan memasang kawat nyamuk di jendela, memakai pakaian yang tertutup, juga penangkal nyamuk.

Vaksin DBD

Selama 60 tahun terakhir, telah banyak usaha yang dilakukan para peneliti untuk mengembangkan vaksin dengue. Terdapat 4 jenis vaksin dengue yang sedang dikembangkan, yaitu LAV, vaksin chimera, vaksin DNA dengue dan vaksin DENV terinaktifasi. Keempat vaksin tersebut mampu menghasilkan kekebalan terhadap keempat tipe virus dengue. Uji klinis terus dilakukan untuk menyempurnakan vaksin.

Tahun 2014, salah satu vaksin dengue jenis LAV telah menyelesaikan 3 tahapan uji klinis. Uji klinis tersebut dilakukan selama lebih dari 20 tahun, melibatkan sekitar 40.000 anak, remaja dan orang dewasa di 15 negara di seluruh dunia (termasuk Indonesia). Pada Desember tahun 2015, vaksin ini sudah beredar di Meksiko, Filipina dan Brazil. Di Indonesia, rencananya vaksin dengue ini akan tersedia pada akhir tahun 2016.

Kesimpulan

Penyakit DBD meningkat terutama saat musim hujan seperti sekarang. Dalam keadaan tidak hamil pun, penyakit ini cukup berbahaya. Jangan sampai Ibu menderita DBD, terutama mendekati waktu lahiran, karena tingginya risiko perdarahan hebat pada Ibu dan bayi. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Vaksin dengue pada akhir tahun 2016 akan tersedia di Indonesia, namun keamanannya untuk ibu hamil belum diketahui. Pencegahan terbaik yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dan lakukan program pemberantasan sarang nyamuk 3M.

Diana Andarini, dr.

03/20/2016

Referensi

  1. Amin HZ, Sungkar S. Perkembangan mutakhir vaksin demam berdarah dengue. Jurnal Kedokteran Indonesia [serial online] Desember 2013 [cited 2016 Mar 14];1(3):226-33. Available from: http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/viewFile/3007/2466
  2. World Health Organization. Questions and answers on dengue vaccines. [internet] 2015 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.who.int/immunization/research/development/dengue_q_and_a/en/
  3. Basurko C, Carles G, Youssef M, et al. Maternal and fetal consequences of dengue fever during pregnancy. European Journal of Obstetrics & Gynecology [serial online] November 2009 [cited 2016 Mar 8];147(1):29-32. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0301211509004345
  4. Singh N, Sharma K A, Dadhwal V, Mittal S, Selvi A S. A successful management of dengue fever in pregnancy: Report of two cases. Indian J Med Microbiol [serial online] 2008 [cited 2016 Mar 4];26:377-80. Available from: http://www.ijmm.org/text.asp?2008/26/4/377/43577
  5. Tan PC, Rajasingam G, Devi S, et al. Dengue infection in pregnancy: prevalence, vertical transmission and pregnancy outcome. Obstetrics & Gynecology [serial online] May 2008 [cited 2016 Mar 8];111(5):1111-17. Available from: http://journals.lww.com/greenjournal/Fulltext/2008/05000/Dengue_Infection_in_Pregnancy__Prevalence,.15.aspx
  6. World Health Organization. Dengue and severe dengue. [internet] May 2015 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/
  7. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue homepage: clinical guidance. [internet] June 2014 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.cdc.gov/dengue/clinicalLab/clinical.html
  8. Chitra T V, Panicker S. Maternal and fetal outcome of dengue fever in pregnancy. J Vector Borne Dis [serial online] December 2011 [cited 2016 Mar 8];48:210–13. Available from: http://www.mrcindia.org/journal/issues/484210.pdf
  9. Petdachai W, Sila’on J, Nimmannitya S, Nisalak A. Neonatal dengue infection: report of dengue fever in a 1-day-old infant. Southeast Asian J Trop Med Public Health [serial online] 2004 [cited 2016 Mar 13];35(2):403-7. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15691146
  10. Choudry SP, Gupta RK, Kishan Jai. Dengue shock syndrome in new born – a case series. Indian Pediatrics [serial online] April 2004 [cited 2016 Mar 13];41:397-99. Available from: http://medind.nic.in/ibv/t04/i4/ibvt04i4p397.pdf
  11. Chin PS, Khoo APC, Hani AWA, et al. Acute dengue in a neonate secondary to perinatal transmission. Med J Malaysia [serial online] August 2008 [cited 2016 Mar 13];63(3):265-66. Available from: http://www.e-mjm.org/2008/v63n3/Acute_Dengue.pdf
  12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan DBD dengan PSN 3M plus. [internet] 7 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-plus.html
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Wilayah KLB Ada di 11 Kabupaten/Kota. [internet] 5 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-kabupaten-kota.html
  14. Sanofi Pasteur Dengue Vaccine Frequently Asked Questions. [internet] February 2016 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.dengue.info/sites/default/files/media-faqs_-for_dengueinfo_feb1_16.pdf
  15. Agrawal P, Garg R, Srivastava S, et al. Pregnancy outcome in women with dengue infection in Northern India. Indian Journal of Clinical Practice [serial online] April 2014 [cited 2016 Mar 8];24(11):1053-56. Available from: http://medind.nic.in/iaa/t14/i4/iaat14i4p1053.pdf

TORCH : Kenali untuk Dicegah

Tahukah Ayah Ibu, infeksi selama kehamilan merupakan penyebab 2-3% cacat bawaan pada anak. Infeksi TORCH merupakan salah satu penyebab cacat bawaan. TORCH adalah infeksi Toxoplasmosis, Others (syphilis, varicella-zoster, parvovirus B19), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes. Sebagian besar infeksi TORCH menyebabkan sakit ringan pada ibu, namun berakibat serius pada janin dalam kandungan. Lalu bagaimana cara mengenali TORCH dan mencegahnya ya? Yuk kita bahas satu-persatu.

Infeksi TORCH

Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit Toxoplasma gondii. Kuman ini dapat ditularkan pada ibu saat ibu mengkonsumsi daging sapi/babi atau minum air yang tercemar kuman T.gondii, atau tidak sengaja menelan parasit setelah menyentuh kotoran kucing yang terinfeksi. Toksoplasmosis pada ibu hamil dapat menular ke janinnya melalui plasenta.

Gejala pada ibu
Pada umumnya, ibu hamil yang menderita toksoplasmosis tidak menunjukkan gejala. Gejala yang dapat muncul meliputi rasa lelah, sakit kepala, demam, nyeri otot dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Gejala pada bayi
Toksoplasmosis dapat menyebabkan keguguran, berat lahir bayi rendah, pembesaran hati dan limpa, kuning, anemia, kejang, retardasi mental, perkapuran tengkorak, kepala kecil, atau infeksi mata yang berat. Semakin muda usia kehamilan ibu saat terinfeksi, semakin berat gejala yang timbul pada bayi.

Pengobatan
Orang dengan daya tahan tubuh yang baik tidak perlu diobati. Namun, ibu hamil atau orang dengan daya tahan tubuh lemah perlu diobati dengan antibiotik.

Pencegahan

  • Hindari konsumsi daging sapi, babi, atau kambing mentah atau setengah matang.
  • Gunakan sarung tangan saat berkebun untuk menghindari tidak sengaja menyentuh kotoran kucing.
  • Cuci buah dan sayuran dengan baik.
  • Hindaru minum susu segar yang belum dipasteurisasi.
  • Bagi pencinta kucing, sebaiknya jaga kesehatan kucing piaraan Anda dengan baik. Hindari memberi makanan yang kurang matang pada kucing. Jangan lupa gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan kotorannya.

Others: Cacar air

Cacar air adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV). Cacar air menular melalui droplet/percikan ludah yang keluar saat bersin atau batuk. Pada ibu hamil, cacar air menular ke janinnya melalui plasenta.

Gejala pada ibu
Gejala cacar air baru muncul 10-21 hari setelah tertular. Timbul demam selama 1-2 hari, yang diikuti munculnya ruam dan bruntus berisi cairan yang berwarna kemerahan pada kulit. Ruam muncul mulai dari kepala, badan kemudian tangan dan kaki. Ibu hamil dapat mengalami pneumonitis (infeksi paru-paru berat) dengan gejala batuk kering, sesak nafas, demam dan nyeri dada. Cacar pada ibu hamil termasuk salah satu kegawatan medis dan memerlukan perawatan intensif.

Gejala pada bayi
Cacar air pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran. Jika bayi lahir, akan timbul sindrom varicella kongenital, yang terdiri dari katarak, otak mengecil, perkembangan saraf terhambat, terdapat kelainan tulang dan kulit, serta infeksi mata. Jika ibu hamil terkena penyakit cacar air antara 5 hari sebelum melahirkan dan 2 hari setelahnya, kekebalan ibu belum terbentuk (bayi tidak mendapat kekebalan bawaan dari ibu), sehingga bayi akan terkena penyakit cacar air yang berat. Sebanyak 30% bayi dengan sindrom varicella kongenital meninggal dalam 1 bulan pertama kehidupannya.

Pengobatan
Ibu hamil dapat diberikan obat antivirus dengan pertimbangan, jika manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya terhadap janin.

Pencegahan
Hindari kontak dengan orang yang terkena cacar air. Cacar air masih dapat menular biarpun ruam sudah mengering dan terkelupas. Tunggu 5-7 hari setelahnya jika ingin kontak. Vaksin varicella dianjurkan minimal 2 bulan SEBELUM hamil, tidak boleh diberikan saat hamil karena berbahaya bagi janin.

Rubella/Campak Jerman

Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus rubella menyebabkan ruam pada tubuh mirip campak (roseola). Rubella menular melalui droplet/percikan ludah yang keluar saat bersin atau batuk. Pada ibu hamil, rubella menular ke janinnya melalui plasenta.

Gejala pada ibu
Gejala penyakit rubella baru muncul 2-3 minggu setelah tertular. Muncul ruam kemerahan pada kulit, demam, nyeri sendi dan terjadi pembengkakan kelenjar limfe (terutama pada leher dan belakang telinga).

Gejala pada bayi
Sindrom rubella kongenital terdiri dari katarak, kelainan jantung dan saraf, gangguan pendengaran (tuli), pertumbuhan janin terhambat, perkapuran tengkorak, mikrosefali (kepala kecil), peradangan tulang, pembesaran hati dan limpa. Sebagian besar kelainan tersebut muncul pada bayi jika ibu terinfeksi rubella selama 12 minggu pertama kehamilan. Jika ibu hamil terinfeksi rubella setelah usia kehamilan 18 minggu, semakin kecil resiko munculnya sindrom rubella kongenital pada bayi.

Pengobatan
Tidak ada pengobatan yang spesifik, biasanya akan sembuh dengan sendirinya.

Pencegahan
Hindari kontak dengan orang yang terkena rubella. Vaksin MMR dianjurkan minimal 2 bulan SEBELUM hamil, tidak boleh diberikan saat hamil karena berbahaya bagi janin.

CMV (Citomegalovirus)

CMV adalah penyakit yang disebabkan oleh virus sitomegalovirus. CMV ditularkan melalui air liur, urin, sebagai penyakit menular seksual dan transfusi darah (jarang). Wanita yang sering berurusan dengan anak balita (misal sebagai petugas tempat penitipan anak), atau petugas kesehatan berisiko tinggi tertular CMV. Seorang ibu dapat menularkan CMV ke janinnya saat hamil melalui plasenta, saat melahirkan apabila bayi terkena cairan dari mulut rahim dan vaginanya, serta saat menyusui lewat ASI.

Gejala pada ibu
Tidak ada gejala yang muncul pada 90% ibu hamil yang terinfeksi CMV. Namun, gejala dapat muncul antara 9-60 hari setelah tertular. Gejalanya yaitu demam, lemas, nyeri tenggorokan, nyeri sendi, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Gejala pada bayi
Infeksi CMV selama hamil dapat menyebabkan janin terhambat pertumbuhannya, anak mengalami tuli saraf, retardasi mental, perkapuran tengkorak, sakit kuning, mikrosefali (kepala kecil), hidrosefalus, pembesaran hati dan limpa, serta perkembangan psikomotornya terhambat. Biasanya, 85-90% bayi tidak menunjukkan gejala infeksi CMV saat lahir. Kelainan perkembangan, penglihatan, pendengaran atau kelainan gigi baru muncul dalam 1 tahun pertama.

Pengobatan
Ganciclovir tidak diberikan pada ibu hamil karena berbahaya untuk janin.

Pencegahan
Sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah mengurus anak balita. Hindari berbagi minum atau makanan (di wadah yang sama) dengan orang lain. Gunakan kondom saat berhubungan intim.

Herpes

Herpes merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV-2). Ibu hamil dapat tertular herpes dari suaminya melalui hubungan intim. Herpes pada ibu hamil dapat menular ke janinnya melalui plasenta atau penyebaran infeksi dari serviks. Pada 85% kasus, bayi terinfeksi saat proses kelahiran normal, sementara 5% selama kehamilan, dan 10% setelah lahir.

Gejala pada ibu
Vagina dan serviks ibu bengkak, merah dan terdapat lesi pada permukaannya. Selain itu terasa nyeri, gatal dan keluar cairan kekuningan dari vagina ibu. Gejala lain yaitu demam, sakit kepala, mual dan pegal-pegal.

Gejala pada bayi
Infeksi herpes selama hamil dapat menyebabkan keguguran, pertumbuhan janin terhambat, dan lahir prematur. Setelah bayi lahir, bayi dapat mengalami penyakit yang terbatas pada kulit, mata atau mulut  (45%), kelainan otak yg menyebabkan kejang, retardasi mental, dll (30%), serta berbagai kelainan pada berbagai organ tubuh (25%). Gejala-gejala tersebut biasanya muncul dalam 4 minggu pertama kehidupan bayi.

Pengobatan
Ibu hamil dapat diberikan obat anti virus dengan pertimbangan.

Pencegahan
85% bayi tertular dari ibunya saat proses kelahiran normal. Sehingga jika lesi di vagina dan serviks masih ada pada saat akan melahirkan, ibu disarankan menjalani operasi sesar untuk mencegah penularan ke bayi. Selain itu, gunakan kondom saat berhubungan intim.

Pemeriksaan TORCH

Kapan sebaiknya dilakukan?
Ibu sebaiknya melakukan pemeriksaan TORCH sebelum hamil. Jika sudah hamil namun belum melakukan pemeriksaan TORCH, dokter kandungan ibu akan meminta pemeriksaan tsb dilakukan.

Apa saja yang diperiksa?
Antibodi/kekebalan tubuh terhadap penyakit Toksoplasmosis, Rubella, CMV dan Herpes.

TORCH

Pemeriksaan Antibodi TORCH

Apa yang perlu disiapkan?
Tidak ada persiapan khusus.

Bagaimana pemeriksaan dilakukan?
Petugas laboratorium akan mengambil darah dari pembuluh darah ibu dengan jarum dan spuit.

Apa artinya hasil positif dan negatif?

  • Hasil IgM dan IgG negatif berarti ibu tidak memiliki antibodi terhadap keempat penyakit tersebut dan belum pernah terinfeksi keempat penyakit tersebut.
  • Hasil IgM positif menunjukkan saat ini ibu sedang terinfeksi penyakit TORCH.
  • Hasil IgG positif menunjukkan ibu pernah terinfeksi penyakit TORCH di masa lalu.

Kesimpulan

Infeksi TORCH selama kehamilan merupakan salah satu penyebab cacat bawaan pada bayi. Semakin muda usia kehamilan, semakin berat akibatnya pada janin. Pengobatan TORCH dapat mengurangi gejala pada ibu, namun kerusakan yang ditimbulkan ke janin tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, pencegahan sangat penting. Sebelum hamil, Ibu sebaiknya memeriksakan TORCH serta mendapatkan vaksin. Saat hamil sebisa mungkin hindari sumber-sumber penularan penyakit ini.

Semoga informasi ini bermanfaat, dan Ibu selalu diberikan kesehatan selama kehamilan.

Diana Andarini, dr.

02/29/2016

Referensi

  1. Stegmann BJ, Carey JC. TORCH Infections. Toxoplasmosis, Other (syphilis, varicella-zoster, parvovirus B19), Rubella, Cytomegalovirus (CMV), and Herpes infections. Curr Womens Health Rep. 2002 Aug;2(4):253-8.
  2. Teresa Marino, Christine Isaacs. Viral Infections and Pregnancy. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/235213-overview#showall
  3. Infeksi Virus, Bakteri, Protozoa. In: Obstetri Williams Vol.2 Edisi 21. EGC; 2006. p. 1637-1653.
  4. Mayo Clinic. Toxoplasmosis. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/toxoplasmosis/basics/prevention/con-20025859
  5. Sauerbrei A, Wutzler P. The Congenital Varicella Syndrome. J Perinatol. 2000 Dec;20(8 Pt 1):548-54.
  6. Centers for Diasease Control and Prevention. Varicella. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/varicella.pdf
  7. Royal College of Obstetricians & Gynaecologists. Chickenpox in Pregnancy. [cited 2016 Feb 10]. Available from https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/guidelines/gtg_13.pdf
  8. World Health Organozation. Rubella. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs367/en/
  9. Kauser Akhter, Michael S Bronze. Cytomegalovirus. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://emedicine.medscape.com/article/215702-overview
  10. Björn Pasternak, Anders Hviid. Use of Acyclovir, Valacyclovir, and Famciclovir in the First Trimester of Pregnancy and the Risk of Birth Defects. JAMA. 2010;304(8):859-866. doi:10.1001/jama.2010.1206.
  11. American Association for Clinical Chemistry. TORCH. [cited 2016 Feb 10]. Available from https://labtestsonline.org/understanding/analytes/torch/tab/sample/
  12. Centers for Diasease Control and Prevention. Immunization & Pregnancy. [cited 2016 Feb 10]. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/downloads/f_preg_chart.pdf

Difteri : Penyakit Lama yang Muncul Kembali

Tahukah Ayah Bunda, sebelum vaksin ditemukan, difteri merupakan salah satu penyakit tersering penyebab kematian pada anak. Pada tahun 1921, Di Amerika saja tercatat 206.000 anak menderita penyakit difteri, diantaranya 15.520 anak meninggal. Sejak vaksin ditemukan, kasus difteri telah berkurang sampai 95% di seluruh dunia. Namun, sejak tahun 1990an, wabah penyakit ini kembali muncul. Pada tahun 1995, terdapat >50.000 kasus di Eropa saja. Cakupan imunisasi DPT diperbaiki dan diperluas, sehingga wabah dapat diatasi dan jumlah kasus berkurang di tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 2000-an, penyakit difteri yang seharusnya sudah diberantas, masih muncul kembali. Pada tahun 2005, di India tercatat 5.826 kasus difteri (71% dari total kasus difteri global). Di Indonesia, pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus serupa juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit saluran napas atas akut yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Anak rentan terkena penyakit ini jika berusia <12 tahun, imunisasinya tidak lengkap atau memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

Bagaimana penularannya?

Penyakit ini menular melalui droplet atau cairan dari saluran napas (dari hidung sampai tenggorokan), yang keluar pada saat bersin atau batuk. Anak dapat tertular oleh orang lain yang sakit difteri atau carrier. Carrier adalah seseorang yang di tubuhnya terdapat bakteri difteri namun tidak menunjukkan gejala penyakit difteri.

Apa saja gejalanya?

Gejala awal penyakit difteri pada anak mirip dengan penyakit saluran napas atas lainnya, seperti nyeri tenggorokan, demam, sakit kepala, lemah, suara serak, dll. Pada bayi, gejala awal paling sering yaitu pilek dengan ingus yang kental berwarna kekuningan.

Pada anak yang tidak diimunisasi atau kekebalan tubuhnya rendah, pada hari ke-5 akan terbentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal. Lapisan ini dapat menutupi tonsil/amandel, langit-langit mulut, lidah, tenggorokan, juga rongga saluran pernapasan lainnya. Lapisan ini sangat sulit dilepas, bahkan usaha melepasnya dapat menyebabkan perdarahan dan bengkak sehingga saluran napas semakin tertutup. Jika lapisan tersebut menutup seluruh saluran napas, anak tidak dapat bernapas, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Difteri

Difteri

Gejala lainnya yaitu adanya pembengkakan kelenjar leher, yang membuat leher anak tampak seperti leher kerbau (bull’s neck).

Pada sebagian kecil kasus, toksin difteri menyerang kulit, terutama pada bagian tangan dan kaki. Awalnya kulit yang terinfeksi akan menjadi merah, terasa nyeri dan timbul bisul. Kemudian dapat terbentuk ulkus/lesi kulit dengan tepi yang tegas dan terdapat lapisan keabu-abuan. Lesi kulit ini dapat menetap berbulan-bulan. Selain kulit tangan dan kaki, toksin difteri juga dapat menyerang kulit telinga, mata, dan alat kelamin.

Apa komplikasinya?

Pada penyakit yang berat, toksin  juga dapat menyerang saraf dan jantung anak. Jika toksin menyerang saraf di sekitar tonsil/amandel, anak akan mengalami kesulitan menelan yang berisiko masuknya makanan ke paru-paru, hal ini dapat menyebabkan infeksi paru-paru (pneumonia), bahkan kematian. Jika toksin menyerang saraf kepala, pandangan anak akan kabur, juling atau sulit melihat benda dekat.

Jika toksin menyerang jantung, sel otot jantung menjadi rusak dan menyebabkan irama jantung tidak beraturan (disaritmia). Penyakit toxic cardiomyopathy juga dapat muncul pada 10-25% anak, dengan tingkat kematian 50-60%.

Bagaimana pengobatannya?

Pengobatan penyakit difteri yaitu dengan antitoksin yang diberikan lewat infus. Antibiotik juga diberikan untuk menahan produksi toksin dan mencegah toksin menyebar ke organ tubuh lain yang dapat memperparah penyakit.

Untuk membuka saluran napas yang tertutup lapisan putih keabu-abuan, anak Anda akan membutuhkan alat bantu napas berupa selang yang dimasukkan lewat mulut ke paru-paru. Selang ini juga berfungsi untuk mencegah lapisan tersebut menutup saluran napas anak seluruhnya, sampai antitoksin bekerja. Namun jika komplikasi pernapasan atau saraf terlalu berat, diperlukan operasi. Leher anak akan dilubangi kemudian dipasang selang yang dihubungkan ke sumber oksigen, agar anak bisa bernapas. ia harus dirawat di perawatan intensif (ICU).

Bagaimana dengan keluarga yang tinggal serumah? Apakah perlu diobati?

Keluarga atau pengasuh yang tinggal serumah dengan penderita, harus diberikan vaksin penguat/booster yang mengandung toksoid difteri. Selain itu, sebaiknya juga diberikan antibiotik selama 7-10 hari. Antitoksin baru diberikan apabila muncul gejala penyakit difteri.

Apakah anak carrier perlu diobati?

Pada anak carrier (terinfeksi kuman namun tidak menunjukkan gejala), perlu diberikan antibiotik selama 7-10 hari karena anak carrier dapat menularkan penyakit. Anak ditempatkan pada ruangan khusus (isolasi) sampai terapi antibiotik selesai. Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika hasilnya negatif, anak sudah boleh keluar dan beraktivitas seperti biasa.

Apakah difteri dapat dicegah?

Pencegahan yang terbaik yaitu dengan imunisasi. Untuk imunisasi primer terhadap difteri, digunakan toksoid difteri yang digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP. Jadwal untuk imunisasi DTP pada anak yaitu pemberian 5 dosis, pada usia 2, 4, 6, 18-24 bulan dan 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

jadwal vaksin idai

Selain vaksin DTP yang telah digunakan sejak tahun 1975, beberapa sediaan vaksin yang berisi toksoid-difteri adalah:

  • Vaksin DT : digunakan untuk penguat/booster pada anak >5 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP.
  • Vaksin Td : digunakan untuk penguat/booster pada anak >7 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP atau DT), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP atau DT. Vaksin Td juga diberikan pada program BIAS anak SD kelas I, II dan III. Kandungan toksoid difteri vaksin Td hanya ¼ – ⅒ kandungan toksoid difteri pada vaksin DTP atau DT.

Semoga bermanfaat..

Diana Andarini, dr.

02/04/2016

Referensi

  1. Cem S Demirci, Russell W Steele. Pediatric Diphtheria. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview
  2. Centre for Disease Control and Prevention. Diphtheria for Clinicians. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://www.cdc.gov/diphtheria/clinicians.html
  3. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  4. Sailaja Bitragunta, Manoj V. Murhekar, Mohan D. Gupte. Persistence of Diphtheria, Hyderabad, India, 2003–2006. Emerg Infect Dis. 2008 Jul; 14(7): 1144–1146. doi: 10.3201/eid1407.071167.
  5. Karen S. Wagner, Joanne M. White. Diphtheria in the Postepidemic Period, Europe, 2000–2009. Emerg Infect Dis. 2012 Feb; 18(2): 217–225.doi: 10.3201/eid1802.110987.

Alergi Pada Anak

Alergi merupakan salah satu gangguan sistem imun akibat adanya reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan sehingga muncul gejala setelah terpapar suatu zat, yang bagi sebagian besar orang lain tidak menimbulkan masalah. Kondisi ini sering dikira merupakan akibat dari lemahnya daya tahan tubuh anak oleh para orang tua. Namun, justru penyakit ini muncul karena sang anak memilik sistem imun yang berlebihan terhadap zat tersebut.

Walaupun alergi dapat muncul pada semua usia, kondisi ini umumnya terlihat pertama kali saat masa kanak-kanak hingga dewasa muda. Kondisi ini biasanya diturunkan dari generasi sebelumnya.

Bagaimana Reaksi Alergi Pada Anak Terjadi?

Sistem imun anak terdiri dari sejumlah kumpulan sel yang tersebar pada organ-organ di seluruh tubuh. Pada keadaan normal, sistem imun bekerja untuk melindungi tubuh melawan penyakit dengan cara mencari dan menghancurkan penyusup asing, seperti virus dan bakteri. Pada reaksi alergi, sistem imun bertindak berlebihan dan berusaha melawan zat-zat yang normalnya tidak berbahaya, seperti serbuk bunga atau bulu binatang.

Penyebab

Anak-anak mengalami reaksi alergi setelah kontak dengan alergen atau zat pencetus alergi. Alergen ini dapat terhirup, termakan, atau masuk ke dalam tubuh melalui gigitan atau suntikan obat, atau melalui sentuhan dengan kulit. Reaksi alergi mungkin tidak langsung mucul saat pertama kali, tetapi muncul segera setelah kontak berikutnya atau setelah beberapa kali.

Sebagian anak memiliki kecenderungan alergi karena adanya riwayat alergi dalam keluarga, yang sering disebut dengan memiliki atopi. Anak-anak dengan atopi lebih mungkin menderita alergi karena tubuh mereka memproduksi antibodi (IgE) lebih banyak daripada anak normal.

Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi seperti:

  • Tumbuh di rumah dengan perokok
  • Terkena kontak dengan tungau debu rumah
  • Memiliki binatang peliharaan
  • Mengonsumsi antibiotik tertentu

Laki-laki lebih memiliki kemungkinan memiliki atopi, juga bayi dengan berat lahir rendah. Namun alasannya belum diketahui dengan pasti.

Mengenal Alergen

Beberapa alergen yang umum misalnya:

  • Serbuk sari dari pepohonan, rerumputan, atau tumbuhan liar
  • Berbagai jenis jamur
  • Tungau debu rumah yang ada di tempat tidur, karpet, dan benda-benda rumah tangga lain yang rentan lembab
  • Bulu-bulu binatang seperti kucing, anjing, kuda, dan kelinci
  • Sejumlah jenis makanan dan obat-obatan atau bahan kimia
  • Racun dari gigitan serangga

Reaksi, Tanda dan Gejala Alergi Pada Anak

Reaksi alergi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, pada sejumlah bagian tubuh, dan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Sebagian reaksi alergi akan menghilang setelah masa kanak-kanak, sebagian lagi dapat menetap hingga menimbulkan reaksi yang cukup fatal.

Alergi

Diagram Reaksi Alergi

Anafilaksis merupakan suatu bentuk reaksi berat yang dapat berakibat fatal. Reaksi ini dapat meliputi gejala pada kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan yang memberat dengan cepat hingga anak kesulitan bernapas dan mengalami gangguan sirkulasi. Biasanya reaksi anafilaksis dicetuskan oleh alergi makanan, obat-obatan (terutama golongan penisilin), racun gigitan serangga, latex, dan lain-lain.

Asma merupakan suatu penyakit kronik pada paru yang sering diderita oleh anak dengan alergi. Gejalanya dapat berupa batuk yang berkepanjangan, mengi, kesulitan bernapas, serta rasa tertekan di dada. Selain sejumlah alergen, serangan asma juga dapat dipicu oleh olah raga, udara dingin, infeksi virus, polusi udara, asap berbahaya, serta asap rokok.

Dermatitis kontak alergi adalah reaksi yang terjadi setelah alergen kontak dengan kulit anak. Bentuknya berupa bercak-bercak kering, kemerahan, gatal, dan dapat timbul lepuh pada kasus yang berat. Umumnya bercak-bercak timbul di bagian tubuh yang kontak dengan alergen. Umumnya bentuk ini berhubungan dengan racun-racun dari tanaman atau pepohonan, latex, deterjen dan pembersih, juga bahan-bahan kimia yang terdapat pada barang-barang rumah tangga.

Eksim atau dermatitis atopik merupakan salah satu jenis reaksi alergi pada kulit. Bentuknya berupa bercak-bercak kering kemerahan yang terasa gatal pada daerah lipatan-lipatan kaki, lengan, dan leher. Pada bayi, bercak-bercak ini umumnya bermula dari daerah pipi, belakang telinga, hingga daerah dada, lengan, dan kaki. Reaksi ini bertambah berat pada alergi makanan, atau kontak dengan alergen seperti serbuk bunga, tungau debu, dan binatang berbulu. Selain itu, kondisi ini juga dapat dicetuskan bahan iritan, infeksi, atau keringat.

Pada alergi makanan, gejala yang muncul amat bervariasi, dari muntah, diare, gatal-gatal (biduran), eksim, gangguan bernapas, hingga kemungkinan penurunan tekanan darah atau syok. Makanan yang paling sering menyebabkan reaksi alergi antara lain telur, kacang tanah, susu, kacang-kacangan, kedelai, ikan, gandum, polong-polongan, dan kerang-kerangan.

Alergi serbuk bunga atau dikenal dengan sebutan hay fever biasanya terjadi musiman. Serbuk dapat berasal dari pohon-pohonan, rumput-rumputan, dan tanaman liar lain. Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin-bersin, pilek, mata yang gatal dan berair, serta bengkak atau kemerahan di sekitar mata.

Urtikaria adalah gatal-gatal yang sering disertai dengan bercak-bercak kemerahan pada kulit, dikenal juga dengan sebutan biduran atau kaligata. Bercak-bercak biasanya berpindah-pindah dan menetap di satu tempat selama beberapa jam. Urtikaria dapat terjadi pada alergi makanan, infeksi virus, atau akibat obat-obatan seperti aspirin atau penisilin, walaupun terkadang penyebabnya tidak diketahui.

Sindrom alergi oral adalah sensasi gatal atau geli di dalam mulut, tenggorokan, dan/atau terlinga pada waktu tertentu atau setelah memakan makanan tertentu terutama buah-buahan mentah. Biasanya, jika telah dimasak makanan tersebut dapat ditoleransi dengan cukup baik.

Kapan Curiga Alergi?

Beberapa gejala dan tanda alergi mudah dikenali dengan adanya pola yang berulang setelah kontak dengan zat-zat tertentu. Beberapa lainnya lebih sulit karena tidak terlalu jelas dan dapat menyerupai kondisi atau penyakit lain. Berikut sejumlah petunjuk umum yang mungkin membantu

  • Bercak-bercak kemerahan yang timbul atau gatal dan menetap
  • Muncul biduran
  • Timbul gejala mirip selesma berulang atau kronik, seperti pilek, hidung tersumbat, bersin-bersin, dan tenggorokan berdahak, yang berlangsung lebih dari satu atau dua minggu, atau muncul pada periode yang sama setiap tahun (musiman)
  • Terlihat sering menggosok hidung, bersin-bersin, atau hidung meler
  • Mata yang gatal dan berair
  • Terdapat sensasi gatal atau geli di daerah mulut dan tenggorokan
  • Batuk, mengi, kesulitan bernapas, atau keluhan pernapasan lain
  • Muncul diare, kram perut, dan gejala pencernaan yang yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya

Kapan Perlu ke Dokter?

Gejala-gejala pada reaksi alergi dapat menyerupai kondisi pada penyakit lain seperti pada keracunan makanan, reaksi obat, diare, atau gigitan serangga. Bawalah anak Anda ke dokter bila dalam tiga hari gejala yang dialaminya tidak menunjukkan perbaikan. Akan tetapi jika sebelum tiga hari, kondisi yang dialaminya mengkhawatirkan Anda, misalnya sesak napas, muntah, dan mengganggu aktivitasnya seperti gatal-gatal hebat di seluruh tubuh, maka segeralah bawa ke dokter.

Yang Dilakukan Dokter Anda

Untuk mendeteksi dan memastikan diagnosis alergi pada bayi dan balita, ada beberapa langkah yang akan dilakukan dokter. Dokter akan menggali lebih dalam tentang perjalanan penyakit, keluhan dan gejala, untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan penyakit, termasuk riwayat alergi pada keluarga, dan seberapa sering keluhan anak muncul. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik dan, bila perlu, pemeriksaan penunjang, seperti tes alergi kulit, foto rontgen, pemeriksaan laboratorium, dan lainnya, untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dan memastikan diagnosis alergi.

Penanganan alergi pada bayi dan balita harus dilakukan dengan benar dan berkesinambungan. Hal yang terpenting adalah menghindar dari faktor pencetus alergi. Pemberian obat secara terus-menerus bukanlah solusi. Perlu diketahui, secara teoritis, alergi tidak dapat dihilangkan. Frekuensi kambuhnya saja yang mampu dijarangkan atau dikurangi berat keluhannya.

Yang Dapat Anda Lakukan di Rumah

Cara paling baik untuk mencegah alergi adalah dengan mengetahui zat alergen bagi anak anda. Dengan begitu, anda dapat menjaga anak untuk menghidari kontak dengan alergen tersebut sehingga memperkecil kemungkinan kambuh. Selain itu, anda sebaiknya:

  • Menjaga agar rumah bersih dan kering kering mengurangi tumbuhnya jamur dan tungau debu
  • Hindari memelihara binatang dan tanaman di dalam rumah
  • Hindari semua benda yang diketahui menyebabkan alergi pada anak anda
  • Jangan biarkan ada yang merokok di sekitar anak anda, terutama di rumah dan sekitarnya, serta di mobil anda
  • Kunjungi dokter anda untuk mengetahui obat yang aman dan efektif untuk membantu meringankan atau mencegah gejala alergi

Terapi Alergi pada Anak

Obat alergi yang paling umum digunakan adalah golongan antihistamin. Antihistamin meredam reaksi alergi dengan cara menekan efek histamin pada jaringan tubuh, sehingga mengurangi rasa gatal, bengkak, dan produksi lendir. Bergantung kepada beratnya reaksi alergi, dokter akan memberikan jenis dan dosis antihistamin yang sesuai pada masing-masing anak. Beberapa jenis antihistamin dapat menimbulkan kantuk, sehingga disarankan untuk diminum saat sore hari.

Golongan kortikosteroid juga efektif untuk meredakan gejala. Obat ini tersedia dalam bentuk obat-obat kulit, semprot hidung, obat hisap asma, obat minum pil ataupun cair. Krim dan salep kortikosteroid sering diberikan untuk mengobati eksim pada anak. Semprot hidung sangat efektif untuk mengobati gejala pada hidung.

Untuk beberapa kasus, tersedia pengobatan berupa imunoterapi yaitu memberikan zat alergen kepada anak, dengan cara disuntik atau dengan obat bawah lidah. Tujuannya untuk mengubah reaksi sistem imun dan mengurangi respon terhadap alergen. Setelah imunoterapi, anak biasanya merasa gejala alerginya berkurang dan membaik.

Komplikasi

Anak yang menderita alergi berat dan tidak dikontrol dapat beresiko mengalami anafilaksis atau serangan asthma yang dapat mengancam jiwa. Selain itu, gejala alergi yang berulang dapat membuat anak rentan mengalami infeksi seperti sinusitis, infeksi telinga, paru-paru, kulit, dll. 

Pencegahan

Pencegahan paling efektif ialah menghindari zat pencetusnya. Selain itu, pengaturan pola makan seperti memberi ASI juga dapat mencegah alergi sejak dini.

Pada anak yang telah memiliki alergi diharapkan untuk menghindari alergen seperti makanan, debu, bulu hewan atau serangga. Bila anak dibawa ke dokter, sampaikan bila ada alergi obat tertentu seperti penisilin atau golongan analgesik.

Para ibu tidak harus menghindari makanan-makanan tertentu pada saat hamil dan menyusui, tetapi dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk konsumsi kacang tanah. Para ahli sepakat agar para ibu memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan. Untuk bayi-bayi berisiko tinggi (yaitu bayi dengan minimal satu orang tua atau saudara kandung dengan penyakit alergi) yang tidak dapat menyusui secara eksklusif, lebih baik menggunakan susu formula terhidrolisa yang terlihat lebih memiliki keuntungan dalam mencegah penyakit alergi dan alergi susu sapi. Makanan pendamping ASI diberikan tidak kurang dari usia 4 bulan (pada kasus-kasus tertentu atas rekomendasi dokter yang kompeten) hingga selesai masa ASI ekslusif pada usia 6 bulan. Konsultasikanlah kepada dokter dan ahli gizi mengenai pola makan dan menu yang baik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak anda.

12/24/2015
Reqgi First Trasia, dr.

Editor : Farah Suraya, dr.

Referensi :

  1. Muraro A, et al. 2004. Dietary Prevention of Allergic Disease in Infant and Children: A multidisciplinary review of literature. Paediatr; 15: 196-205
  2. Greer FR, et al. 2008. Effect of Early Nutritional Intervention on the Development of Atopic Disease in infant and Children. Pediatric; 121: 183-191
  3. De Silva D, et al. 2013. Preventing Food Allergy: Protocol for A Rapid Systematic Review. Clinical Transl Allergy; 3: 10
  4. Kramer MS, et al. 2012. Maternal Dietary Allergen Avoidance During Pregnancy or Lactation for Preventing or Treating Atopic Disease in Child. 9:CD0133
  5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 127
  6. Allergies [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Dec 23]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/allergies-asthma/Pages/Allergies.aspx
  7. Allergies Health Center [Internet]. WebMD. [cited 2015 Dec 23]. Available from: http://www.webmd.com/allergies/
  8. Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010 Dec;126(6 0):S1–58.
  9. Prevention of Allergy and Allergic Asthma. Geneva: World Health Organization; 2003.
  10. Fleischer DM, Spergel JM, Assa’ad AH, Pongracic JA. Primary prevention of allergic disease through nutritional interventions. J Allergy Clin Immunol Pract. 2013 Jan;1(1):29–36.
  11. Ruby Pawankar, Giorgio Walter Canonica, Stephen T. Holgate, Richard F. Lockey. White Book on Allergy [Internet]. United States of America.: World Allergy Organization (WAO); 2011. Available from: http://www.worldallergy.org/UserFiles/file/WAO-White-Book-on-Allergy_web.pdf

Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah. Balita dengan gangguan bicara dan bahasa berisiko tinggi mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani, anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orangtua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Salah satu ciri anak mengalami gangguan bicara dan bahasa ialah terlambat bicara. Speech delay atau terlambat ini Paling banyak terjadi pada anak laki-laki, yang keluarganya terdapat riwayat terlambat bicara atau gangguan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan adanya gen FOXP2 yang diturunkan dan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa. Anak juga berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa jika lahir prematur atau berat badan saat lahir rendah (bayi BBLR), tingkat pendidikan orang tua rendah dan kemiskinan.

Jenis-jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak

Ada 2 tipe utama gangguan bicara dan bahasa pada anak, yaitu tipe primer dan sekunder.

Tipe Primer
merupakan gangguan bicara dan bahasa yang murni tanpa ada penyebab/kondisi lain. Contoh gangguan tipe primer misalnya :

  • Perkembangan bicara dan bahasa yang terlambat/ “late bloomers”
    Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Kondisi ini terjadi akibat adanya keterlambatan proses pematangan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Perkembangan bicara dan bahasa anak biasanya akan normal dengan sendirinya.
  • Gangguan bahasa ekspresif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Gangguan ini sulit dibedakan dengan developmental speech and language delay pada usia dini. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa reseptif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses pemahaman.Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, jarang bicara, agrammatic (tatanan bahasa yang salah), dan artikulasi tidak jelas. Anak tidak melihat atau menunjuk pada objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua (hal ini menunjukkan anak kurang/tidak paham). Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa campuran
    Merupakan campuran dari gangguan bahasa ekspresif dan reseptif. Anak memiliki pemahaman yang kurang, menggunakan kata tidak sesuai artinya, sulit mengungkapkan keinginannya, dan kosakatanya terbatas. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.

Tipe Sekunder
merupakan gangguan bicara dan bahasa karena ada penyebab yang jelas atau kondisi lain. Contohnya :

  • Gangguan spektrum autis
    Gangguan spektrum autis merupakan suatu kumpulan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan masalah sosial, komunikasi dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil (misal asalm valproat, thalidomide), usia kedua orang tua >40 tahun saat hamil, dll.
    Gejalanya yaitu anak terlambat bicara, adanya penurunan intelektual, echolalia (mengulang ucapan namun tidak mengerti artinya), kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan, menyebutkan pronoun (saya, kamu, dia) terbalik-balik, dan adanya kemunduran dalam perkembangan bahasa dan bicaranya.
    Anak juga memiliki gangguan interaksi sosial. Tidak ada kontak mata saat diajak bicara, tidak merespon senyuman orang tua, hidup di “dunianya sendiri”, dan sering mengulang gerakan tertentu yang tidak jelas.
    Anak sebaiknya diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain (misal perkembangan motoriknya).
  • Cerebral palsy
    Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan atau postur tubuh yang tidak normal akibat kerusakan/gangguan perkembangan otak. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kernicterus (sakit kuning yang berat), riwayat kejang, perdarahan otak, prematur, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Cerebral palsy tidak semakin memburuk, cenderung menetap seiring pertambahan usia anak. Selain gangguan gerak dan postur tubuh, anak juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, penurunan intelektual, dan gangguan bicara. Gangguan bicara terjadi karena kesulitan koordinasi/kekakuan otot-otot orofaring (dari mulut sampai pita suara). Akibatnya anak sulit mengucapkan kata dan berbicara dengan jelas. Gangguan bicara menyebabkan anak sulit berkomunikasi, yang sering salah diinterpretasikan sebagai gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan stres pada anak dengan CP, terutama yang tingkat intelektualnya normal/di atas rata-rata.
  • Apraksia bicara pada anak
    Apraksia bicara pada anak merupakan salah satu kelainan motorik. Pada kondisi ini otak sulit mengkoordinasikan otot-otot pada bibir, rahang dan lidah. Otot anak tidak lemah atau lumpuh seperti pada kondisi cerebral palsy. Pada sebagian besar anak penyebabnya tidak jelas, sebagian lagi disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan otak. Ciri-cirinya yaitu:

    • Lebih sering menyederhanakan kata dengan menghilangkan bunyi yang sulit dibanding anak normal
    • Dapat memahami bahasa jauh lebih baik dibanding yang bisa diucapkannya
      Sering salah mengucapkan kata namun tidak konsisten
    • Ucapan yang ditiru lebih jelas dibandingkan ucapan yang spontan
      Sulit mengucapkan kata atau kalimat yang panjang
    • Ucapan terdengar monoton, terbata-bata, atau menekan pada kata atau silabus yang salah
  • Disartria
    Disartria merupakan jenis kelainan motorik. Pada kondisi ini otot-otot pada bibir, lidah, pita suara dan/atau diafragma anak lemah. Penyebabnya yaitu adanya kerusakan otak pada tingkat yang lebih rendah dibanding kerusakan otak pada apraksia. Anak paham dan mengetahui apa yang ingin diucapkan, namun artikulasinya tidak jelas. Ciri-cirinya yaitu:

    • Ucapannya berantakan, bicara cepat seperti bergumam
    • Gerakan lidah, bibir dan rahang terbatas
    • Kualitas suara berubah, seperti serak atau sengau
  • Retardasi mental
    Anak dikatakan retardasi mental bila memenuhi 3 kriteria, yaitu fungsi intelektual dibawah normal (IQ <70), terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial, dan gejala timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental dapat disebabkan adanya kelainan genetik, riwayat kernicterus (sakit kuning yang berat), perdarahan otak, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Retardasi mental bisa menyebabkan terlambat bicara. Selain itu, anak juga terlambat menggunakan gestur/gerakan sebagai sarana komunikasi. Pemahaman anak pun kurang terhadap perintah orang lain. Perbedaannya dengan yang lain, pada retardasi mental anak mengalami keterlambatan di semua aspek perkembangan (motorik, sosial dan kemandirian, dll )
  • Gangguan pendengaran
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan bicara juga. Terlebih lagi bila gangguan pendengaran terjadi di usia dini. Hal ini disebabkan anak kekurangan perbendaharaan kata/informasi yang ia perlu dengar sebelum ia ungkapkan dalam kata atau kalimat.Gangguan pendengaran bisa karena sumbatan/infeksi telinga luar, tetapi bisa juga karena saraf. Ciri anak yang mengalami gangguan bicara akibat masalah pendengaran yaitu : Anak biasanya memiliki suara yang berbeda (terdistorsi/sengau), kesulitan mengeluarkan suara s, f, th, dll yang berfrekuensi tinggi, namun anak memiliki kontak mata dan interaksi sosial yang normal. Anak dengan gangguan pendengaran yang diterapi pada usia dini menunjukkan kemampuan bicara dan bahasa yang setara dengan anak tanpa gangguan pendengaran. Jadi penting sekali mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin.
  • Selective mutism
    Pada kondisi ini anak tidak bicara karena tidak mau, bukan karena tidak bisa. Selective mutism lebih sering pada anak perempuan. Anak biasanya mau bicara saat sedang sendiri, dengan orang tua atau keluarganya, namun anak tidak mau bicara di tempat umum (misal sekolah) atau dengan orang asing. Sebagian anak dengan selective mutism juga mengalami gangguan artikulasi atau bahasa. Selain itu, anak dengan selective mutism juga menunjukkan gejala kesulitan beradaptasi, terlalu bergantung pada orang tuanya. Pada umumnya anak akan menarik diri, malu, cenderung penakut dan pesimis.

Diagnosis

Identifikasi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa akan berlanjut dengan terapi. Terapi sebaiknya dilakukan pada usia dini, saat otak anak masih berkembang pesat sehingga bisa dicapai hasil yang terbaik. Oleh karena itu, deteksi dini anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa sangat penting. Tanda-tanda anak Anda berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa bisa dilihat disini.

Saat anak Anda dibawa ke dokter, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, fungsi pendengaran, motorik kasar dan halus. Lalu dokter akan melakukan check list dari instrumen tumbuh kembang anak seperti Denver II dan Early Language Milestone Scale. Orang tua akan diminta untuk mengisi kuesioner. Jika dibutuhkan, anak Anda juga diminta untuk melakukan cek darah dan tes genetik.

Terapi

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe primer, terapi bicara dan bahasa terbukti efektif. Penelitian pada anak usia 2 tahun dengan gangguan bicara dan bahasa yang diterapi intensif, 75% anak perkembangan bicara dan bahasanya normal pada usia 3 tahun.

Terapi wicara
Salah satu contoh terapi bicara dan bahasa adalah terapi wicara. Pada saat terapi, anak akan berada di dalam satu ruangan berhadapan dengan terapisnya. Kegiatan saat terapi wicara mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Intervensi bahasa
    Terapis berinteraksi dengan anak melalui permainan dan mengobrol, menggunakan gambar, buku, mainan, dll. Terapis juga mencontohkan penggunaan kosakata dan susunan kalimat yang benar, dengan latihan berulang-ulang.
  • Artikulasi/produksi suara
    Terapis mencontohkan pengucapan huruf dan suku kata yang benar. Terapis memperlihatkan dan memperagakan gerakan mulut dan lidah saat mengucapkan huruf dan suku kata.
  • Oral-motor
    Terapis menggunakan beberapa latihan oral, misalnya facial massage (pijat wajah), latihan lidah, bibir dan rahang. Latihan tersebut untuk memperkuat otot-otot mulut.
Terapi wicara pada gangguan bicara dan bahasa

Terapi wicara

Terapi SI (sensory integration)
Ternyata sebagian anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya juga memiliki gangguan integrasi sensori. Sistem sensori yang terkoordinasi dengan baik dapat mengintegrasikan stimulasi dari berbagai sumber (vestibular/sistem keseimbangan, visual/penglihatan), propioseptif, auditori/pendengaran, dan taktil/sentuhan). Gangguan integrasi sensori muncul saat saraf-saraf sensori tidak berfungsi atau fungsinya tidak efektif, yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak. Pada saat terapi SI, anak akan diajak bermain dan melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengintegrasikan sistem sensorik dengan berbagai stimulasi.

Terapi SI pada Gangguan Bicara dan Bahasa

Terapi SI

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe sekunder, dokter akan melakukan terapi bicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi. Selain itu, terapi lain juga diperlukan sesuai penyebab dan kelainan penyertanya. Misalnya anak dengan cerebral palsy dan retardasi mental membutuhkan fisioterapi, anak dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar dan terapi AVT (auditory verbal therapy), dll.

Kesimpulan

Speech delay/terlambat bicara hanya merupakan tanda adanya gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, yang harus dicaritahu penyebabnya. Orang tua cenderung menunggu anak bisa bicara normal dengan sendirinya, namun dari semua jenis gangguan bicara dan bahasa, hanya 1 jenis yang dapat sembuh sendiri, sementara hampir semua gangguan bicara dan bahasa diakibatkan adanya gangguan/kerusakan otak. Terapi sebaiknya tidak ditunda dan dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta mencegah timbulnya masalah kognitif dan psikososial pada anak di kemudian hari.

Diana Andarini, dr.

12/22/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Childhood apraxia of speech. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/ChildhoodApraxia/
  4. Simon E. Fisher, Cecilia S.L. Lai, and Anthony P. Monaco. Deciphering the genetic basis of speech and language disorders. Annual Review of Neuroscience 2003; 26:57-80. DOI:10.1146/annurev.neuro.26.041002.131144. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12524432
  5. A Buschmann, B Jooss, A Rupp. Parent based language intervention for 2-year-old children with specific expressive language delay: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2009; 94:110-116. doi:10.1136/adc.2008.141572. Cited from http://adc.bmj.com/content/94/2/110.full
  6. Sensory integration therapies for children with developmental and behavioral disorders. Pediatrics 2012;129:1186-1189. DOI: 10.1542/peds.2012-0876. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/early/2012/05/23/peds.2012-0876.full.pdf
  7. Speech Language Therapy. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://kidshealth.org/parent/system/ill/speech_therapy.html#
  8. Hanifah Oswari, Rudianto Sofwan. 123 Penyakit dan Gangguan pada Anak. 2009 Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
  9. Gregory Hickok, John Houde, Feng Rong. Sensorimotor Integration in Speech Processing: Computational Basis and Neural Organization. Neuron 2011; 69(3):407-422. doi:10.1016/j.neuron.2011.01.019
  10. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Palsy: Hope Through Research. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.ninds.nih.gov/disorders/cerebral_palsy/detail_cerebral_palsy.htm
  11. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Dysarthria. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/
  12. CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  13. Heidi D. Nelson, Peggy Nygren, Miranda Walker, Rita Panoscha. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006; 117(2):298-319. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/117/2/e298.full
  14. Margaret J. Snowling, D.V.M. Bishop, Susan E. Stothard. Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2006; 47(8):759-765. DOI: 10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x. Cited from onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x/abstract
  15. Michael I. Shevell, Anneta Majnemer, Richard I. Webster. Outcomes at school age of preschool children with developmental language impairment. Pediatric Neurology 2005; 32(4):264-269.  doi:10.1016/j.pediatrneurol.2004.12.008

Malaria Pada Anak

Malaria ialah penyakit yang disebabkan oleh parasit. Parasit ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Apabila tertular penyakit malaria, anak dapat mengalami gejala dari ringan sampai berat. Malaria pada anak dan bayi amat ditakuti karena dapat mengakibatkan kelumpuhan, cacat permanen, gangguan fungsi otak bahkan kematian.

Malaria di Indonesia

Di Indonesia penyakit malaria tersebar di seluruh pulau meskipun dengan jumlah penyakit yang berbeda-beda. Mayoritas kasus malaria terjadi di wilayah Indonesia Timur, terutama di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Penyebab Malaria Pada Anak

Ada beberapa parasit penyebab malaria. Di Indonesia, yang terbanyak adalah parasit Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae dan Plasmodium vivax. Parasit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina Begitu parasit penyebab malaria masuk ke dalam tubuh, ia akan tumbuh di dalam sel hati. Setelah itu, parasit akan menghancurkan sel darah merah sehingga mengakibatkan demam.

Siklus Malaria Pada Anak

Siklus Malaria Pada Anak

Penyakit malaria pada anak sendiri dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, di antaranya malaria tropikana, tertiana dan kuartana. Malaria tropikana ialah malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Anak yang menderita penyakit ini mungkin mengalami gejala yang paling berat. Malaria tertiana disebabkan oleh parasit Plasmodium vivax. Disebut tertiana karena gejala demam terjadi tiap hari ke tiga. Sedangkan pada malaria kuartana, malaria yang disebabkan Plasmodium malariae, gejala demam akan muncul setiap hari ke empat dari mulai muncul gejala.

Tanda dan Gejala Malaria Pada Anak

Gejala malaria pada anak amat bervariasi mulai dari yang ringan sampai berat dan mengancam jiwa. Pada umumnya, anak yang mengalami malaria akan mengalami tiga gejala khas :

  • Menggigil, selama 15-60 menit
  • Demam, selama 2-6 jam, dimana suhu tubuh antara 37,5-40o C
  • Berkeringat selama 2-4 jam

Selain itu, tidak jarang anak mengeluhkan sakit kepala, mual muntah, nyeri badan atau pegal-pegal.

Pada malaria berat, anak dapat mengalami penurunan kesadaran seperti selalu terlihat mengantuk dan sulit untuk dibangunkan. Selain itu, dapat terjadi kejang, demam yang amat tinggi, kulit atau mata menjadi kuning, mimisan atau pendarahan gusi, sampai sesak nafas.

Kapan Perlu ke Dokter?

Ketika Anda curiga muncul gejala malaria pada anak, segeralah ke dokter atau Puskesmas. Terlebih lagi apabila anak Anda mengalami demam setelah bepergian dari daerah endemik malaria. Hal ini dikarenakan pengobatan malaria paling baik dilakukan secara cepat untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan.

Diagnosis

Setelah dokter bertanya dan melakukan pemeriksaan fisik pada anak Anda, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan darah untuk memastikan ada tidaknya malaria. Diagnosis pasti malaria ditegakkan setelah dokter menemukan parasit malaria di dalam darah lewat mikroskop. Namun, dalam keadaan emergensi atau di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas laboratorium, pemeriksaan tes diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test) dapat digunakan. Tes ini dapat mendeteksi antigen parasit malaria dalam tubuh penderitanya.

Terapi Malaria Pada Anak

Terapi malaria bertujuan untuk membunuh semua parasit penyebab malaria yang ada dalam tubuh anak. Pengobatan malaria di Indonesia menggunakan Obat Anti Malaria (OAM) kombinasi. Saat ini yang digunakan program nasional ialah obat dari turunan artemisinin dengan golongan aminokuinolin. Penggunan obat anti malaria disesuaikan dengan kondisi anak, parasit penyeba dan tingkat keparahannya. Semua obat ini tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung. Oleh sebab itu, anak harus makan terlebih dulu setiap akan obat anti malaria.

Jika ditemukan gejala malaria berat atau sudah terjadi komplikasi, dokter akan memberi obat anti malaria suntik dan merujuk ke rumah sakit. Anak mungkin butuh untuk dirawat karena akan dipantau secara berkala dan diberi obat anti malaria melalui infus.

Komplikasi

Parasit penyebab malaria dapat menyerang ke berbagai organ tubuh. Pada anak, malaria dapat berakibat fatal karena mampu menyerang otak, sel-sel darah, hati, dll. Gejala malaria berat pada anak meliputi :

  • Hipoglikemia (gula darah rendah). Gejala ini merupakan gejala malaria berat tersering pada anak. Hipoglikemia dapat menyebabkan penurunan kesadaran yang dicirikan dengan anak terlihat terus mengantuk, tidak berespon atau sulit dibangunkan
  • Anemia berat (jumlah sel darah merah yang sangat rendah, Hb <5 g%) yang dicirikan dengan anak sangat pucat dan lemah
  • Kejang berulang
  • Kulit, mata terlihat kuning akibat sel darah merah yang pecah.
  • Pendarahan spontan seperti mimisan dan gusi berdarah
  • Gagal ginjal
  • Demam yang sangat tinggi >40oC
  • Sesak nafas
  • Syok

Pencegahan

Saat ini pemerintah terus berusaha memberantas malaria melalui program Gebrak Malaria (Gerakan Eliminasi Radikal Malaria) terutama di daerah endemi. Pada program ini, pemerintah mendorong pencegahan malaria dengan membagikan kelambu berinsektisida, melakukan skrining dan pengobatan masal.

Upaya pencegahan malaria dari diri sendiri yang paling efektif dilakukan ialah menghindari gigitan nyamuk Anopheles penyebab malaria. Cara ini dapat dilakukan dengan :

  • Hindari keluar rumah dan tutup jendela saat malam tiba. Nyamuk Anopheles aktif menggigit manusia pada sore dan malam hari yaitu pukul 17.00-18.00, sebelum jam 24 (20.00-23.00) dan setelah jam 24
  • Gunakan baju atau celana panjang dan selimut saat tidur
  • Gunakan kelambu berinsektisida terutama bagi anak dan ibu hamil. Kelambu ini efektif sampai 3-5 tahun dan dapat dicuci secara teratur 3 bulan sekali. Insektisida dalam kelambu ini tidak berbahaya bagi ibu hamil, janin dan anak.


  • Gunakan lotion anti nyamuk yang mengandung DEET (N, N diethylmetatoluamide). Pada anak sebaiknya gunakan yang konsentrasi DEET rendah (24%) karena zat kimia yang terlalu banyak dapat menyerap ke dalam kulit
  • Hindari bepergian ke daerah yang endemi (banyak terjadi malaria) terutama kelompok yang beresiko seperti ibu hamil, anak yang terlalu muda, atau orang tua.

Nyamuk Anopheles berkembang biak di area persawahan, perbukitan/hutan dan pantai/aliran sungai. Kerjasama dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pengendalian jentik nyamuk atau penyemprotan. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan dari genangan air di rumah dan sekitarnya.

Reqgi First Trasia, dr.

12/03/2015

Referensi:

  1. Abdulla S, et al. 2001. Impact on Malaria morbidity in children aged under 2 years in Tanzania: community cross sectional study. British Medical Journal 322: 270-273
  2. Audibert M, et al. 2002. Malaria in the Logone Valley, Cameroon. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene; 42: 550-560
  3. De Bartolome CA, et al. 2003. A case study of Malaria treatment in Brazil. Journal of Health Economics; 14: 191-205
  4. Baume C, et al. 2004. Patterns of Care for childhood Malaria in Zambia. Social Science and Medicine; 51: 1419-1503
  5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 164
  6. 65_PMK No. 5 Ttg Pedoman Tata Laksana Malaria [Internet]. Scribd. [cited 2015 Dec 3]. Available from: https://ml.scribd.com/doc/211815570/65-PMK-No-5-Ttg-Pedoman-Tata-Laksana-Malaria
  7. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan [Internet]. 1st ed. Indonesia: Departemen Kesehatan; 2013. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/documents/976-602-235-265-5-buku-saku-pelayanan-kesehatan-ibu.pdf
  8. dr. Ferdinand J Laihad, MPHM. Epidemiologi Malaria di Indonesia. Jendela Data Dan Info Kesehatan. 2011;
  9. Malaria-Prevention [Internet]. WebMD. [cited 2015 Dec 3]. Available from: http://www.webmd.com/a-to-z-guides/malaria-prevention
  10. dr. Rita Kusriastuti, MSc. Pedoman Penggunaan Kelambu Berinsektisida Menuju Eliminasi Malaria. Kementeri Kesehat RI TAHUN 2011 [Internet]. 2011; Available from: http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Buku_saku_menuju_eliminasi_malaria.pdf

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Sekilas Tentang Demam

Demam pada anak cukup sering dialami. Seperti halnya batuk, muntah dan diare, sebenarnya demam bukanlah penyakit. Demam merupakan sebuah gejala yang menunjukkan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam tubuh. Anak dikatakan demam bila suhu tubuhnya di atas 37,5oC saat diukur dari mulut dan 38oC saat diukur dari dubur. Umumnya, demam bukan kondisi yang berbahaya bagi jiwa. Justru demam merupakan bukti bekerjanya mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi infeksi. Mencari tahu penyebab demam sangat penting artinya bagi orang tua. Dengan demikian, langkah-langkah penanganan terhadap anak pun dapat dilakukan.

Proses Terjadinya Demam

Peningkatan suhu tubuh saat demam dikarenakan dalam tubuh terdapat molekul kecil bernama pirogen (sebagai zat pencetus panas). Terjadinya peningkatan pirogen disebabkan oleh infeksi, radang, alergi, tumbuh gigi, atau dampak pemberian imunisasi tertentu. Ketika terkena infeksi, tubuh sengaja menciptakan demam sebagai upaya membantu menyingkirkan infeksi. Caranya dengan mengerahkan sel darah putih (leukosit) sebagai pasukan khusus dalam sistem kekebalan tubuh. Agar daya gempurnya tinggi terhadap infeksi, sel darah putih butuh sokongan pirogen. Sebenarnya ada dua tugas pirogen:

  1. Menuntun sel darah putih ke tempat infeksi
  2. Meningkatkan suhu tubuh melalui demam dengan tujuan menghambat pertumbuhan kuman.

Bila anak mengalami demam, biasanya diawali oleh tubuh menggigil. Lalu dengan cepat suhu meningkat di atas suhu yang normal. Suhu itu menetap dan akhirnya menurun. Anak yang sedang demam biasanya rewel, sulit tidur, dan tidak mau makan.

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Saat anak mengalami demam, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua sebelum ke dokter:

  1. Pastikan sirkulasi udara ruangan tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kipas angin dapat pula difungsikan disini.
  2. Beri pakaian yang mampu menyerap keringat. Jangan terlalu tebal atau tipis.
  3. Teruskan pemberian gizi yang seimbang.
  4. Sebaiknya jangan terburu memberikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi. Sebab naiknya suhu tubuh merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus.
  5. Beri banyak minum, termasuk ASI bagi bayi yang masih menyusui. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi komplikasi dehidrasi. Dengan minum banyak, akan memulihkan cairan tubuh yang mungkin berkurang akibat dehidrasi.
  6. Lakukan pengompresan saat suhu tubuhnya meningkat, bahkan mencapai 40o C. sebaiknya mengompres dilakukan dengan mendudukan anak di bath tub (bak mandi) dengan air hangat (30-32oC C). beri mainan jika ia menolak didudukkan. Atau dapat juga membasuhkan waslap yang telah dicelup air hangat ke sekujur tubuhnya.
  7. Pada balita yang sudah agak besar, jika suhu tubuhnya melebihi 38o C dan terus menerus rewel atau tidak nyaman, cobalah beri obat penurun panas khusus anak. Sebaiknya jangan memberi aspirin karena akan berdampak buruk pada hati. Berilah paracetamol atau ibuprofen dengan tetap mematuhi aturan pemakaian. Hentikan jika suhu tubuh kembali normal.

Sebaiknya orangtua segera membawa anak ke dokter bila menemukan tanda-tanda ini saat anak demam.  Semoga bermanfaat.

Reqgi First Trasia, dr.

11/23/2015

Referensi:
1. Efstathiou SP, Pefanis AV, Tsiakou AG, et al. 2010. Fever of Unknown Origin: Discrimination between Infectious and Non-infectious Causes. Eur J Intern Med; 21:137
2. Tolan RW Jr. 2010. Fever of Unknown Origin: a diagnostic Approach to this Vexing Problem. Clinical Pediatry, Philadelphia; 49:207-213
3. Joshi N, et al. 2008. Clinical Spectrumof Fever of Unknown Origin among Indian Children. Ann Trop Paediatric ; 28: 261-266
4. Iwanczak B, et al. 2007. Management of Fever Without Source in Children. Przegl Lek; 64 (Suppl3):20-24
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 120

Tanda Balita Sehat dan Balita Sakit

Kondisi balita yang senantiasa sehat tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Dengan begitu proses tumbuh kembang bayi dan balita dapat berlangsung lebih optimal. Sementara jika sang buah hati dirundung sakit, terlebih lagi jika sering, proses tumbuh kembangnya pun akan terganggu. Berikut ini tanda balita sehat dan sakit yang perlu orangtua ketahui.

Tanda Bayi dan Balita Sehat

Bayi dan balita sehat umumnya ditandai oleh:

  • Matanya yang cemerlang saat menatap
  • Bergerak aktif, di mana gerakannya itu melibatkan tubuh, kepala, kaki, dan tangan secara seimbang. Terlihat lincah dan antusias jika diajak bermain.
  • Nafsu makannya baik
  • Tangisannya cukup bertenaga dan mudah ditenangkan lagi
  • Senantiasa responsif (tersenyum dan tertawa) ketika diajak bicara
  • Suhu tubuh normal yaitu 36,5-37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut
  • Kulitnya bersih. Jika terjadi luka goresan mudah sembuh
  • Giginya putih cemerlang. Warna gusinya merah muda dan tidak mudah berdarah
  • Kukunya kuat dan berwarna agak kemerahan
  • Rambut tidak kusam dan rontok
  • Tidurnya nyenyak dalam waktu yang cukup
  • Buang air besar dan kecil lancar

Tanda Bayi dan Balita Sakit

Sementara pada bayi dan balita yang sakit umumnya ditandai oleh:

  • Matanya tidak cemerlang dan terlihat sayu
  • Terlihat lemas dan malas bergerak
  • Lebih banyak tidur dari biasanya dan sulit untuk dibangunkan
  • Kurang respon terhadap lingkungan
  • Malas menyusui, minum dan makan
  • Suhu tubuh lebih dari 37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut. Hati-hati bila saat anak demam kulit teraba dingin atau anak menjadi diam dan lesu
  • Anak kesulitan bernafas yang ditandai nafas menjadi cepat, nafas berbunyi, dan usaha nafas anak meningkat (sampai terlihat anak nafas dari mulut, anak mengangkat pundak saat bernafas atau terlihat cekungan pada perut).
  • Menjadi rewel dan sulit ditenangkan
  • Kulit terlihat pucat, membiru atau berbintik-bintik
  • Muncul ruam-ruam di kulit yang biasanya tidak ada
  • Diikuti gejala susulan seperti hidung berair, batuk, muntah, mencret, kejang dan lain-lain, tergantung dari penyakit yang dialaminya.

Memang bayi dan balita umumnya sangat rentan terhadap beragam penyakit. Apalagi jika orangtua kurang optimal mencurahkan perhatian pada kesehatannya. Kecukupan asupan gizi yang tepat dan berimbang, jadwal imunisasi yang terpenuhi dengan baik, perawatan keseharian yang memadai, serta pembiasaan sikap hidup bersih dan sehat dalam keluarga, sangat menentukan kualitas kesehatan bayi dan balita Anda.

Namun, ada kalanya bayi dan balita tetap mengalami gangguan kesehatan, padahal perawatan telah diberikan secara optimal. Hal itu dapat terjadi karena beragam faktor. Misalnya penularan penyakit oleh virus atau bakteri yang terbawa melalui air atau udara, sistem kekebalan tubuh bayi yang sedang menurun, adanya faktor bawaan (genetik) dari orangtua, adanya wabah tertentu yang menyerang suatu daerah, dan sebagainya.

Untuk itu, kepekaan dan kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit yang diderita anak menjadi sangat penting. Di samping itu, moto mencegah lebih baik daripada mengobati kian relevan bagi keluarga dalam merawat dan membesarkan anak. Jangan lupa untuk membawa bayi balita anda ke tenaga kesehatan untuk diperiksa. Hindari mengobati anak sendiri tanpa informasi keamanan cara dan produk yang jelas. Semoga bermanfaat

Depok, 17 September 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi:

  1. J Robinson, et al. 2014. Evidence-Based Child Health: A Cochrane Review Journal. USA
  2. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 118
  3. Does your child have a serious illness?. NHS UK. 22/04/2014 http://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/pages/spotting-signs-serious-illness.aspx#close

Penyakit Celiac (Celiac Disease)

Penyakit celiac (celiac disease) ialah penyakit turunan dimana seseorang tidak dapat mengkonsumsi makanan mengandung gluten. Gluten ialah protein yang ditemukan pada makanan olahan gandum, rye dan barley seperti tepung terigu, roti, kue, biskuit, dll. Pada penyakit Celiac, sistem tubuh penderita penyakit ini akan menyerang sel tubuh yang sehat bila mengkonsumsi gluten. Hal ini akan menimbulkan kerusakan pada organ terutama usus halus.

141

Usus penderita penyakit celiac

Apa Penyebab Penyakit Celiac?

Belum diketahui secara pasti apa penyebab penyakit Celiac. Namun, diduga faktor genetik dan lingkungan memegang peranan penting dalam perkembangan penyakit ini. Sehingga bila ada keluarga yang mengidap penyakit Celiac, ada kemungkinan gen penyakit tersebut diturunkan ke generasi berikutnya. Satu-satunya faktor lingkugan yang mencetuskan gejala penyakit celiac adalah gluten.

Seberapa sering Penyakit ini terjadi?

Penyakit celiac umum terjadi pada orang Eropa dan Amerika Utara. Namun, saat ini penyakit celiac mulai terdeteksi di populasi orang Afrika, Timur Tengah dan Asia. Di Indonesia penyakit celiac masih jarang terjadi.

Penyakit celiac bisa terdeteksi di usia berapapun. Namun, penyakit ini jarang terjadi pada manula (di atas 60 tahun. Gejala klasik penyakit ini biasanya mulai terlihat pada anak usia 9-18 bulan.

Apa Gejala Penyakit Celiac?

Orang yang mengidap penyakit celiac bisa saja tidak menunjukkan gejala setelah mengkonsumsi gluten. Namun, pada umumnya gejala yang muncul setelah terpapar gluten berupa :

  • Diare kronis
  • Perut kembung
  • Nyeri perut
  • Tidak nafsu makan
  • Muntah
  • Berat badan sulit naik
  • Badan terasa lemah
  • Gizi kurang atau gizi buruk

Selain itu, terdapat gejala di luar saluran pencernaan, seperti :

  • Anemia (kurang darah) karena gangguan penyerapan besi dan folat dari usus halus
  • Pendarahan akibat gangguan penyerapan vitamin K
  • Osteoporosis karena kekurangan kalsium, vitamin D
  • Gangguan saraf seperti kelemahan otot dan baal
  • Gangguan kulit, disebut juga dermatitis herpetiformis, yaitu munculnya bruntus-bruntus yang gatal di punggung tangan dan kaki, punggung, bokong, kepala dan leher.
  • Gangguan hormonal seperti terlambat haid, infertilitias dan impoten

Meskipun jarang, pada penderita penyakit ini bisa terjadi gejala yang mengancam jiwa seperti lemah, diare akut hebat, perut yang amat kembung, dehidrasi berat, tekanan darah turun, gangguan keseimbangan elektrolit dan lemah.

Bagaimana mendiagnosis penyakit celiac?

Diagnosis penyakit celiac ditegakkan dari gejala, pemeriksaan fisik dan penunjang. Tes darah yang digunakan untuk mengetahui penyakit ini ialah tes anti TTG-IgA (Transglutainasi Imunoglobulin A). Tes ini berfungsi untuk mendeteksi antibodi terhadap gluten. Bila hasilnya positif, pemeriksaan biopsi jaringan mungkin dibutuhkan untuk memastikan diagnosis penyakit celiac. Pada pemeriksaan ini, dokter akan meneropong saluran pencernaan Anda lewat endoskopi. Setelah itu, jaringan sel usus akan diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Apa terapi penyakit celiac?

Bila Anda didiagnosis mengalami penyakit Celiac, pengobatan utama yang paling efektif ialah diet bebas gluten seumur hidup. Anda perlu menghindari makanan apapun yang mengandung gandum, rye, barley seperti yang terdapat pada tepung terigu, tepung gandum, mi, roti, kue, keripik, dsb. Untungnya, nasi, ubi, singkong atau kentang yang menjadi makanan pokok di Indonesia tidak mengandung gluten. Begitu juga lauk pauk seperti ikan, daging, ayam juga sayur dan buah.

Diet bebas gluten perlu konsultasi dan pengawasan dari ahli gizi karena Anda mungkin beresiko kekurangan vitamin B, kalsium, zat besi, magnesium dan serat.

Pada penderita yang sulit menjalani diet bebas gluten atau gejala penyakit celiac tetap muncul setelah diet mungkin dibutuhkan obat penurun kekebalan tubuh. Golongan yang umum digunakan ialah kortikosteroid.

Apa komplikasi dari Penyakit Celiac?

Resiko penyakit Celiac yang dikhawatirkan ialah kanker. Kerusakan dari sel tubuh secara jangka panjang dapat menyebabkan keganasan pada saluran pencernaan seperti kanker mulut, kerongkongan, esofagus, pankreas sampai usus.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/17/2015

Referensi

1. Ivor D Hill, MD. Diagnosis of celiac disease in children. Uptodate. 2015 Oct 22;
2. Ivor D Hill, MD. Management of celiac disease in children. Uptodate. 2014 Jun 30;
3. Celiac Sprue: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 17 [cited 2015 Nov 17]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/171805-overview
4. Gujral N, Freeman HJ, Thomson AB. Celiac disease: Prevalence, diagnosis, pathogenesis and treatment. World J Gastroenterol WJG. 2012 Nov 14;18(42):6036–59.

Flu Singapura Pada Anak

Orangtua mungkin ada yang bingung ketika anaknya didiagnosis terkena flu Singapura padahal tidak ada riwayat bepergian ke negeri tersebut. Flu Singapura memang hanya istilah awam dari HFMD (Hand Foot Mouth Disease) atau PTKM (Penyakit Tangan Kaki Mulut). Masyarakat menamakan Flu Singapura karena penyakit ini memang jadi wabah di negeri tersebut meskipun sebenarnya HFMD pertama kali ditemukan di Kanada .

Apa itu Flu Singapura?
Flu Singapura atau Penyakit Tangan Kaki Mulut (PTKM) ialah penyakit yang ditandai dengan ruam pada mulut, tangan dan kaki. Penyakit ini paling sering menyerang anak di bawah 7 tahun meskipun dapat pula menjangkit orang dewasa.

Apa penyebab Flu Singapura?
Flu Singapura disebabkan oleh kelompok Enterovirus. Paling banyak ialah yang berasal dari jenis Coxackievirus A16 dan Enterovirus A17. Di Asia Pasifik, Enterovirus A71 paling sering menyebabkan wabah.

Bagaimana cara penularan virus ini?
Penularan terjadi apabila virus yang terkandung dalam cairan mulut, saluran nafas atau feses penderita tertelan oleh orang yang sebelumnya sehat. Selain itu, virus juga dapat menular apabila ada kontak langsung dengan lesi kulit penderita. Pada beberapa jenis virus, penularan dapat terjadi melalui udara. Penyakit ini paling aktif ditularkan saat minggu pertama anak sakit.

Setelah tertelan, virus akan membelah di kelenjar getah bening usus dan saluran nafas. Lalu virus bisa menyebar ke kelenjar getah bening setempat. Pada kondisi ini, infeksi hanya sebatas pada organ lokal seperti kulit, jantung, hati atau saraf. Namun, dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berlanjut sampai menyebabkan kematian sel tubuh penderita.

Apa gejala flu singapura?
Beberapa gejala yang muncul ialah:

  • Ruam di tangan, kaki, dan mulut (biasanya di lidah dan pipi dalam). Ruam bisa berupa kemerahan, bruntus atau bruntus berisi cairan. Selain di tiga tempat tersebut, ruam bisa muncul di tempat lain seperti bokong dan kemaluan.

Hand-Foot-and-Mouth-Disease

  • Nyeri tenggorokan
  • Anak tidak mau makan
  • Demam sumeng-sumeng (biasanya dibawah 38.3oC)

Bagaimana cara mengobatinya?
Ayah ibu tidak perlu khawatir karena sebagian besar anak akan sembuh dengan sendirinya bila terkena Flu Singapura. Namun, memang saat anak terkena penyakit ini ia akan sangat merasa tidak nyaman. Beberapa cara yang dapat ayah ibu lakukan untuk meredakan gejala ialah:

  • Memberi minuman yang cukup untuk menjaga kelembaban tubuh. Air dingin lebih disarankan karena dapat memberi rasa nyaman dan meredakan nyeri
  • Bila anak masih merasa nyeri atau demam, Anda bisa memberikan Parasetamol atau Ibuprofen.
  • Hindari makanan pedas atau asam karena dapat membuat ruam terasa perih

Bagaimana pencegahan Flu Singapura?
Sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah Flu Singapura. Sehingga penting sekali untuk melakukan tindakan pencegahan seperti:

  1. Mencuci tangan terutama sebelum makan, menyiapkan makanan, setelah buang air, mengganti popok atau membersihkan pup anak. Ingat, virus dapat menginfeksi tubuh seseorang apabila tertelan. Jadi langkah cuci tangan amatlah penting.
  2. Bersihkan permukaan yang terkontaminasi ruam kulit, cairan mulut atau feses penderita
  3. Liburkan anak di rumah dari sekolah atau penitipan anak bila terkena Flu Singapura
  4. Hindari mencium anak yang sedang terkena Flu Singapura
  5. Jangan berbagi alat makan, sikat gigi, pakaian atau handuk
  6. Hati-hati bila bepergian ke tempat yang sedang wabah penyakit ini.

Perlukah Anak Saya dirawat di RS?
Anak yang menderita Flu Singapura bisa jadi butuh perawatan di rumah sakit apabila :

  • Anak tidak mampu minum yang cukup sehingga perlu diinfus
  • Muncul komplikasi seperti :
    Radang otak, ditandai dengan anak sulit bangun, respon berkurang, kejang.
    Radang selaput otak, biasanya leher anak menjadi kaku, respon berkurang juga kejang.
    Kelumpuhan
    Infeksi selaput jantung

Agustina Kadaristiana, dr.

11/11/2015

Referensi
1. Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). CDC [Internet]. 2015 Sep 18; Available from: http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/index.html
2. José R Romero, MD, FAAP. Hand, foot, and mouth disease and herpangina: An overview. Uptodate. 2015 Aug 19; http://www.uptodate.com/contents/hand-foot-and-mouth-disease-and-herpangina-an-overview?source=search_result&search=hand+foot&selectedTitle=1~150
3. Hand, Foot & Mouth Disease: Updates | Ministry of Health [Internet]. [cited 2015 Nov 10]. Available from: https://www.moh.gov.sg/content/moh_web/home/diseases_and_conditions/h/hand_foot_mouth_disease.html
4. A Guide to Clinical Management and Public Health Response for Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://www.wpro.who.int/publications/docs/GuidancefortheclinicalmanagementofHFMD.pdf
5. Hand-Foot-and-Mouth Disease: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 18 [cited 2015 Nov 10]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/218402-overview

Pertanyaan Seputar TB Anak

Penyakit TB atau Tuberculosis termasuk sering terjadi pada anak di Indonesia. Tak ayal bila hal ini membuat orangtua gelisah bila buah hati sering demam atau berat badan sulit naik. Namun, bagaimana sebenarnya mendiagnosis TB?

Sekilas tentang TB Anak
Tuberculosis ialah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling banyak menyerang paru-paru, namun dapat menyebar ke organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, kulit, sauran cerna, bahkan selaput otak. Disebut TB anak apabila penyakit TB terjadi pada anak usia 0-14 tahun.

Bagaimana TB ditularkan pada anak?
TB menular melalui udara di mana anak menghirup droplet atau tetesan dahak dari penderita TB paru dewasa maupun anak. Namun, bukan berarti TB dapat menular dengan cepat. Anak dapat tertular TB apabila tinggal dalam satu atap bersama penderita TB dalam jangka waktu yang lama (3 bulan) disertai dengan sistem imun yang kurang baik.

Apa faktor risiko anak terkena TB?
Anak rentan terkena TB apabila :
1. Tinggal seatap atau kontak langsung dengan penderita TB paru
2. Usia <5 tahun
3. Mengidap HIV
4. Mengalami malnutrisi berat

Apakah TB anak menular?
TB anak jarang menular kecuali pada anak yang lebih besar atau remaja. Namun, adanya kasus TB pada anak menandakan sedang berlangsungnya penyebaran TB dalam lingkungan setempat.

Bagaimana gejala TB pada anak?
Gejala TB pada anak berbeda sesuai umur. Pada bayi dan anak <2 tahun, munculnya gejala TB bisa lebih cepat dibandingkan anak yang lebih besar. Gejala yang timbul juga lebih berat seperti pneumonia (sesak nafas, demam), meluas dan lebih berisiko menyebabkan kematian.

Sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, gejalanya tidak khas seperti:

  • Lemah badan, letih, lesu, kurang aktif bermain
  • Demam tidak terlalu tinggi > 2 minggu atau demam berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, DBD, dll)
  • Keringat malam
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Berat badan tidak kunjung naik berdasarkan kurva pertumbuhan setelah 1 bulan diberi upaya perbaikan gizi yang baik
  • Gagal tumbuh
  • Anak tidak nafsu makan atau berkurang
  • Batuk-batuk lama yang tidak kunjung sembuh (biasanya jarang pada anak)
  • Diare menetap (>2 minggu) meskipun sudah diobati terapi baku diare

Karena TB bisa menyebar ke organ selain paru, gejalanya juga bisa khas dengan organ terlibat. Misalnya pembesaran kelenjar getah bening, gangguan saraf, penonjolan tulang belakang, lesi kulit yang khas, dll.

Bagaimana mendiagnosis TB?

Seperti penyakit infeksi lain, anak didiagnosis pasti TB apabila ditemukan kuman Mycobacterium tuberculosis pada pemeriksaan dahak, bilas lambung ataupun biopsi jaringan. Namun upaya untuk menemukan kuman penyebab TB pada anak melalui dahak tidak mudah karena sedikitnya sampel yang di dapat dan prosedur yang sulit. Untuk memudahkan penegakan diagnosis TB terutama di fasilitas kesehatan terbatas, saat ini di Indonesia diadopsi sistem skoring TB. Dalam sistem ini dibutuhkan informasi berupa :

  • Ada/tidaknya kontak erat dengan penderita TB
  • Uji tuberkulin (Mantoux)
  • Tanda dan gejala klinis
  • Pemeriksaan Rontgen Paru

Pada umumnya anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6

Apa itu tes Mantoux atau Tuberkulin?
Tes Mantoux merupakan tes untuk mengukur respon imun anak terhadap bakteri. Sehingga anak yang positif tes mantoux belum tentu pasti mengidap TBC. Tapi tes ini bisa membantu menegakkan diagnosis pada anak yang diduga TB, skrining anak yang kontak erat TB atau tambahan dari pemeriksaan lain untuk memperkuat diagnosis TB.

Cara melakukan tes mantoux :

  1. Anak akan disuntikkan larutan tuberkulin PPD RT-23 2 TU sebanyak 0,1 ml di lengan bawah dengan jarum agak mendatar (intrakutan)
  2. Bila penyuntikan dilakukan secara benar, akan muncul penonjolan di kulit dengan pori-pori seperti kulit jeruk
  3. Setelah 72 jam hasil uji tuberkulin dibaca
  4. Hasil dikatakan positif bila terdapat indurasi (seperti bentol di kulit) >10 mm untuk anak pada umumnya atau >5 mm pada anak dengan imun yang lemah.
clip-image002-thumb71

Tes Mantoux

Bila anak saya positif TB, bagaimana terapinya?

Pada prinsipnya, anak diberikan obat anti TB sambil diberikan gizi yang cukup dan diobati penyakit penyertanya. Obat Anti TB (OAT) diberikan dalam bentuk kombinasi minimal 3 macam obat untuk mencegah resistensi. Waktu pengobatan TB anak berkisar antara 6-12 bulan untuk mencegah kekambuhan. Terapi TB dibagi dalam 2 tahap :

  1. Tahap intensif selama 2 bulan pertama. Anak diberi minimal 3 macam obat tergantung berat penyakit dan pemeriksaan kuman. Setelah 2 bulan akan dilihat responnya. Bila tidak ada perbaikan akan dievaluasi kembali atau dirujuk.
  2. Tahap lanjutan selama 4-10 bulan tergantung hasil pemeriksaan dan perbaikan klinis.

Obat yang biasa digunakan ialah antibiotik Isoniazid, Rifampisin, Piranzinamid, Etambutol, dan Streptomisin.

Bagaimana bila TB tidak diobati?
TB anak yang dibiarkan atau diobati tapi tidak teratur dapat menyebar dan berakibat fatal. Dua komplikasi terberat ialah TB miliar dan meningitis (radang otak). Selain itu, kuman TB dapat merusak paru dan organ lain seperti jantung, usus, sendi, mata bahkan ginjal.

Bagaimana cara mencegah TB pada anak?
Kunci dari pencegahan TB ialah :

  1. Edukasi. Terapi TB amatlah melelahkan. Sehingga butuh edukasi yang tepat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini dan terapi.
  2. Deteksi dini dan terapi penderita TB untuk memutus rantai penularan
  3. Vaksinasi BCG berasal dari kuman Mycobacterium bovis yang dilemahkan. Imunisasi ini diberikan pada bayi 1-3 bulan. Pada bayi >3 bulan, pemberian vaksin harus didahului uji tuberkulin. Tujuan diberikan vaksin BCG ialah untuk mencegah terjadinya TB berat.
  4. Terapi pencegahan dengan isoniazid pada anak yang kontak erat dengan penderita TB.

Ayo sama-sama berantas TB. Segera bawa anak Anda ke sarana kesehatan bila Anda curiga TB.

Agustina Kadaristiana, dr. di review oleh Tundjungsari Ratna Utami,dr. Sp.A 

Ditulis tanggal : 10/26/2015 Update terakhir : 11/11/2015

Referensi

1. Guidance for national tuberculosis programmes on the management of tuberculosis in children. 2nd ed. Geneva: World Health Organization;
2. Pediatric Tuberculosis: Overview of Tuberculosis, TB Risk Factors, Mechanism of TB Infection. 2015 Aug 4 [cited 2015 Oct 26]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/969401-overview
3. Carol J. Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Infectious Disease. 2nd ed. United States of America.: American Academy of Pediatrics; 2013.
4. TB Anak : TB Indonesia [Internet]. [cited 2015 Oct 26]. Available from: http://www.tbindonesia.or.id/tb-anak/
5. Lisa V Adams, MD, Jeffrey R Starke, MD. Tuberculosis disease in children. Uptodate. 2015 Sep 22;
6. Tuberkulosis [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Oct 26]. Available from: http://idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/tuberkulosis.html

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Saat anak demam orangtua tentu khawatir. Apalagi bila bayi yang mengalami demam. Orangtua perlu ingat bahwa demam bukanlah penyakit. Demam ialah respon alami tubuh untuk melawan infeksi, respon dari kelainan metabolik, dll. Sehingga, penyebab demam tidak selamanya berbahaya dan dapat sembuh sendiri tanpa pertolongan dokter. Namun, Anda perlu segera membawa anak Anda ke dokter apabila :

  1. Anak anda berumur <3 bulan dengan demam >38oC. Demam pada bayi muda bisa jadi tanda adanya penyakit yang serius
  2. Demam lebih dari 40oC pada anak usia berapapun
  3. Demam lebih dari 24 jam (2 hari) pada anak <2 tahun.
  4. Demam lebih dari 72 jam (3 hari) pada anak lebih dari 2 tahun
  5. Demam tidak turun meskipun sudah diberi obat penurun panas
  6. Perilaku anak anda berubah, tidak seperti biasanya dan terlihat sakit berat. Misalnya, anak sulit dibangunkan, sangat rewel, sulit minum,
  7. Mengalami tanda-tanda dehidrasi :kencing pada bayi <1 tahun menjadi jarang yakni kurang dari 4x/hari. Pada anak tidak kencing selama 8 jam.
  8. Anak anda baru saja mendapat imunisasi dengan demam >39oC atau lebih dari 48 jam.
  9. Demam disertai kejang
  10. Demam disertai gejala lain seperti leher kaku, nyeri kepala hebat, nyeri tenggorokan parah hingga sulit makan/minum, nyeri telinga hebat, ruam yang tidak bisa dijelaskan, diare atau muntah berulang.
  11. Anak memiliki masalah imun, misalnya penyakit Sickle cell, kanker, atau dalam terapi steroid
  12. Sedang dalam lingkungan yang amat panas misalnya bermain atau berjemur di siang hari, di daerah gurun (Arab Saudi), di dalam mobil yang terlalu dipanaskan. Dalam kondisi ini, anak dikhawatirkan mengalami heat stroke.
  13. Bila anda khawatir. Saat orangtua merasa tidak nyaman atau panik, Anda bisa berdiskusi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Namun, perlu diingat, apabila penyebab demam tidak serius, dokter mungkin tidak akan atau sedikit memberi obat. Demam juga tidak selalu butuh antibiotik.

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

Telah di telaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr. SpA.

10/24/2015

Referensi
1. Ismoedijanto. Demam pada Anak. Sari Pediatri. 2005 Agustus;2(2):103–8.
2. Team CH. Kids’ Fevers: When to Worry, When to Relax [Internet]. Health Essentials from Cleveland Clinic. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://health.clevelandclinic.org/2015/05/kids-fevers-when-to-worry-when-to-relax/
3. Baraff LJ, Schriger DL, Bass JW, Fleisher GR, Klein JO, McCracken GH, et al. Practice Guideline for the Management of Infants and Children 0 to 36 Months of Age With Fever Without Source. Pediatrics. 1993 Jul 1;92(1):1–12.
4. When to Call the Pediatrician: Fever [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/When-to-Call-the-Pediatrician.aspx
5. When to Call the Pediatrician [Internet]. WebMD. [cited 2015 Oct 24]. Available from: http://www.webmd.com/parenting/baby/features/call-pediatrician

Anak Anda Sering Pingsan? Mungkin ini sebabnya

Saya jadi ingat waktu zaman sekolah, dokter kecil standby dibelakang barisan untuk menolong teman-temannya yang sakit. Nah, tiap hari Senin hampir selalu ada kawan saya yang pingsan. Waktu itu orangtua saya bilang kalau tidak sarapan saya bisa pingsan. Tapi, apakah benar kurang makan saja bisa membuat pingsan? Bahaya tidak ya kalau anak pingsan?

Sekilas Tentang Pingsan

Pingsan atau syncope adalah kondisi kehilangan kesadaran disertai postur lemah mendadak yang bersifat spontan. Hal ini disebabkan adanya penurunan aliran darah ke otak secara tiba-tiba. Pingsan pada anak cukup sering, kejadiannya sekitar 15%, dan biasanya hilang pada akhir usia remaja. Mayoritas pingsan pada anak tidak berbahaya. Namun, ada beberapa kondisi pingsan yang perlu diwaspadai karena dapat mengancam nyawa.

Penyebab pingsan pada anak

Pingsan pada anak dibagi menjadi 3 penyebab utama yaitu pingsan vasovagal, gangguan kardiovaskular dan penyebab lain.

1. Vasovagal syncope

Adalah penyebab tersering pingsan pada anak (sekitar 50%) dan tidak berbahaya. Pingsan jenis ini terjadi karena hipersensitifitas dari reseptor adrenalin di jantung terhadap perubahan postur dan volume darah. Akibat hipersensitifitas ini, respon parasimpatis meningkat seperti pembuluh darah melebar dan nadi melambat. Ciri khas pingsan vasovagal ialah anak merasakan tanda-tanda awal (prodromal) berupa :

  • Keliyengan (kepala terasa melayang)
  • Pandangan kabur atau ganda
  • Mual
  • Pucat
  • Keringat dingin

F1.large

Biasanya pingsan dicetuskan karena anak berdiri lama, stres (baik fisik maupun emosi seperti panik, takut), atau aktivitas yang mencetuskan refleks seperti batuk, merawat rambut atau pipis.

2. Pingsan karena Gangguan Jantung

Ini adalah pingsan yang perlu diwaspadai karena mengancam nyawa. Pingsan ini terjadi karena penurunan volume darah yang di pompa jantung akibat aritmia (irama jantung yang tidak teratur) atau kelainan organ jantung. Untungnya, pingsan kardiovaskular tergolong jarang pada anak. Namun, orangtua patut curiga anak memiliki masalah jantung apabila :

  • Anak jarang atau tidak mengalami tanda-tanda awal sebelum pingsan(prodromal)
  • Pingsan berlangsung lama (lebih dari 5 menit)
  • Dicetuskan oleh olahraga
  • Disertai nyeri dada atau jantung berdebar-debar
  • Ada riwayat keluarga yang sakit jantung

3. Penyebab lain

  • Breath holding spell : Biasanya terjadi pada anak usia 6-24 bulan. Anak yang mengalami emosi berlebihan seperti nyeri, marah, atau takut bisa menahan nafas selama 1 menit. Namun, mereka melakukan ini secara tidak sadar (refleks). Saat menahan nafas, wajah anak bisa membiru atau pucat dan disertai pingsan. Meskipun membuat panik, breath holding spell ini tergolong jinak. Biasanya berhenti saat anak usia 5 tahun.
  • Hipoglikemia (gula darah rendah): dulu banyak orangtua yang mengira karena anak kurang makan dan gula darah rendah, anak bisa pingsan. Padahal, di luar kasus diabetes tipe 1, hipoglikemi jarang menyebabkan pingsan pada anak. Gejala hipoglikemi biasanya berupa lemas, keringat dingin, gelisah, bingung, sampai penurunan kesadaran (bersifat menetap sampai gula darah naik kembali).

Kapan Perlu Ke Dokter?

Pingsan pada anak biasanya tidak berbahaya. Namun bila anda curiga atau sudah mengetahui ada riwayat gangguan jantung pada anak atau keluarga, silakan hubungi dokter anak Anda.

Biasanya, dokter anak akan melakukan wawancara klinis dan pemeriksaan fisik untuk menganalisa berbagai kemungkinan. Pemeriksaan tambahan seperti EKG, Echocardiogram, dsb mungkin diperlukan bila dokter mendapati kecurigaan adanya penyebab yang berbahaya.

Salah satu kondisi yang mirip dengan pingsan ialah kejang. Kejang pada anak biasanya didahului penurunan kesadaran dan kelemahan otot. Sehingga, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan (seperti rekam otak/EEG) untuk membedakan pingsan karena kejang atau sebab lain.

Apa yang Anda harus lakukan saat anak Anda pingsan?

  1. Sebisa mungkin tangkap anak sebelum ia jatuh ke lantai
  2. Perlahan-lahan baringkan ia dengan posisi terlentang
  3. Jaga jalan nafas. Jika ada makanan dalam mulutnya, miringkan kepala sambil mengambil makanan tersebut
  4. Tidak perlu membangunkan anak dengan alkohol, amonia/kapsul amonia , mengguyur dengan air dingin atau menampar pipi. Ia akan bangun dengan sendirinya dalam beberapa saat.
  5. Hubungi dokter bila perlu

Bagaimana mencegah dan mengobati pingsan?

Pada anak yang mengalami pingsan vasovagal, yang pencegahan dan terapi paling penting ialah:

  1. Perbanyak minum sekitar 30-50 ml/kg Berat badan/hari (misal BB anak 10 kg berarti dalam satu hari anak perlu minum 300-500 ml). Hal ini bertujuan agar menjaga volume darah tetap cukup terpompa ke otak
  2. Makan secara teratur dengan gizi yang seimbang. Kurang mineral bisa menjadi penyebab pingsan vasovagal
  3. Tambahkan snack asin dalam makanan (misal biskuit, acar, keripik, dsb)
  4. Hindari minuman/makanan yang berkafein seperti kopi, teh
  5. Sebisa mungkin hindari berdiri lama. Mungkin Anda bisa utarakan pada guru bahwa anak anda sering pingsan. Sehingga saat upacara atau olahraga, anak diberi keringanan untuk berdiri tidak terlalu lama atau olahraga tidak terlalu capek.
  6. Ajarkan anak tanda-tanda sebelum pingsan agar berhati-hati. Beritahu anak untuk mencegah penumpukan darah di vena saat berdiri lama seperti menekuk lutut saat berdiri lama, melipat tangan, menyilangkan kaki.
  7. Saat anak duduk lama, ajarkan ia untuk sesekali badan maju, menunduk, dan lutut didekap pada dada. Hal ini juga untuk menghindari penumpukan darah di vena.
  8. Saat anak dalam posisi tidur, bisa sanggah bantal di kaki untuk memperlancar aliran darah ke otak
  9. Hindari berlama-lama mandi dengan shower air hangat, berendam air panas atau di tengah matahari yang panas.

Untuk pingsan karena penyakit jantung atau penyebab lain, terapinya ialah sesuai penyebab utama. Silakan konsultasikan ke dokter anak Anda untuk penanganan lebih lanjut. Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

ditelaah oleh Tundjungsari Ratna Utami, dr., Sp.A

10/19/2015

Referensi

1. Grassi G. Vasovagal syncope, sympathetic mechanisms and prognosis: the shape of things to come. Eur Heart J. 2010 May 1;ehq115.

2. Strickberger SA, Benson DW, Biaggioni I, Callans DJ, Cohen MI, Ellenbogen KA, et al. AHA/ACCF Scientific Statement on the Evaluation of Syncope From the American Heart Association Councils on Clinical Cardiology, Cardiovascular Nursing, Cardiovascular Disease in the Young, and Stroke, and the Quality of Care and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group; and the American College of Cardiology Foundation: In Collaboration With the Heart Rhythm Society: Endorsed by the American Autonomic Society. Circulation. 2006 Jan 17;113(2):316–27.

3. Breath Holding Spell [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/spells.html

4. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Causes of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2013 Dec 3;

5. Dizziness and Fainting Spells [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 19]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/head-neck-nervous-system/Pages/Dizziness-and-Fainting-Spells.aspx

6. Jack C Salerno, MD, Brian Coleman, MD, MSE. Emergent evaluation of syncope in children and adolescents. Uptodate. 2014 Jan 15;

7. Karen J Marcdante, MD. Syncope. In: Nelson Essentials of Paediatrics. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; p. 486–7.

8. Côté J-M. Syncope in children and adolescents: Evaluation and treatment. Paediatr Child Health. 2001 Oct;6(8):549–51.

Rabun Jauh Pada Anak dapat Dicegah dengan Aktivitas Outdoor

Anak berkacamata bukan hal yang aneh lagi kita lihat di sekolah. Nyatanya, masalah mata minus, rabun jauh atau miopia sudah menjadi masalah epidemis pada remaja di kota-kota besar Asia Tenggara dan Asia Timur. Saat ini, 80-90% anak lulusan SMA memiliki masalah miopia dan 20% diantaranya membutuhkan lensa minus tinggi. 1,2

Riset terbaru dari Sun Yat-sen University in Guangzhou, Cina bisa jadi membuka perspektif baru tentang pencegahan efektif miopia pada anak. Pasalnya, hasil riset membuktikan bahwa aktivitas outdoor selama 40 menit tiap hari dapat mencegah perkembangan rabun jauh pada anak. 3

Indian children play at dusk on the outskirts of the eastern Indian city of Bhubaneswar, India, Thursday, June 20 2013. (AP Photo/Biswaranjan Rout)

(AP Photo/Biswaranjan Rout)

Penelitian ini melibatkan 1903 anak SD tanpa miopia dengan rata-rata usia 6.6 tahun. Kemudian anak-anak ini dikategorikan menjadi 2 grup : grup kontrol dan grup intervensi. Pada kelompok intervensi, anak dilibatkan dalam kegiatan lapangan selama 40 menit di tiap akhir jam pelajaran. Selain itu, saat liburan atau akhir pekan, anak diajak melakukan aktivitas outdoor di bawah partisipasi orangtua. Sebaliknya, tidak dilakukan tambahan aktivitas outdoor pada kelompok kontrol

Setelah tiga tahun, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan 9.1% dari insidensi miopia di dua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan 23% penurunan relatif (relative reduction) dari insidensi miopia. Meskipun peneliti menyebutkan angka ini kurang dari penurunan yang diantisipasi, hasil ini tetaplah bermakna dari segi klinis. Pasalnya, semakin muda anak mendapatkan miopia, semakin besar kemungkinan miopia menjadi berat.

Kesimpulannya, penambahan aktivitas outdoor selama 40 menit di sekolah pada anak usia 6 tahun di Guangzhou, Cina, menurunkan insidensi miopia sampai 3 tahun kemudian. Penelitian lebih lanjut tentu dibutuhkan untuk follow up perkembangan miopa anak-anak ini dan generalisir hasil riset.

Agustina Kadaristiana, dr.

09/19/2015

Referensi

1. Morgan I, Rose K. How genetic is school myopia? Prog Retin Eye Res. 2005 Jan;24(1):1–38.
2. Morgan IG, Ohno-Matsui K, Saw S-M. Myopia. Lancet Lond Engl. 2012 May 5;379(9827):1739–48.
3. He M, Xiang F, Zeng Y, Mai J, Chen Q, Zhang J, et al. Effect of Time Spent Outdoors at School on the Development of Myopia Among Children in China: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2015 Sep 15;314(11):1142–8.

Cegah Sindroma Rubella Kongenital (SRK) dengan Imunisasi MMR

Penyakit rubella atau yang disebut juga campak jerman mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Pada orang hamil penyakit ini akan menjadi perhatian. Mengapa begitu ? Yuk kita kenali lebih dekat si virus rubella ini.

Sekilas Tentang Rubella 

Virus rubella ini dapat menular lewat udara dari seseorang yang terinfeksi rubella. Gejala tertularnya penyakit ini antara lain adanya demam sumeng-sumeng, ruam, lemah, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pembesaran kalenjar getah bening, nyeri sendi, namun pada sekitar 25-50% infeksinya tidak bergejala. Meskipun demikian orang yang tidak bergejala ini juga dapat menularkan ke orang lain.

Pada orang dewasa yang tidak hamil, sebenarnya penyakit ini tidak berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun bagaimana jika sang ibu hamil yang terinfeksi rubella ? Infeksi rubella yang terjadi saat konsepsi dan kehamilan sangat berbahaya bagi janin dan dapat menyebabkan Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital (SRK) ialah kecacatan janin akibat infeksi rubella pada ibu. Kecacatan yang terjadi dapat beragam antara lain tuli  (58%); gangguan pada penglihatan dapat berupa katarak, glaukoma, retinopati (43%); penyakit jantung bawaan, keguguran, lahir mati, lahir prematur gangguan pada sistem saraf pusat, retardasi mental, kuning pada bayi, dan berbagai gangguan lainnya.

X2604-R-26

Sindroma Rubella Kongenital

Resiko keparahan SRK ini juga bergantung pada usia kehamilan saat ibu mengalami infeksi. Risiko Sindroma Rubella Kongenital tertinggi jika infeksi rubella terjadi pada trimester pertama mencapai 85%. Sedangkan pada minggu ke 13-16 kehamilan risikonya menurun menjadi 54%, dan setelah minggu ke 20 kehamilan risiko tersebut semakin kecil.

Bagaimana mencegah infeksi rubella?

Kekebalan terhadap rubella bisa didapatkan melalui imunisasi atau adanya riwayat infeksi dimasa lampau. Imunisasi rubella di Indonesia diberikan dalam bentuk kombo yakni imunisasi MMR yang merupakan gabungan dari vaksin measles (campak)-mumps (gondong)-rubella. Imunisasi MMR saat ini sudah direkomendasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk diberikan pada usia 15 bulan dan 5 tahun.

mmr10a

Imunisasi sejatinya bukan hanya dapat dilakukan pada bayi dan anak, namun beberapa vaksin juga memang diperuntukkan untuk dewasa apabila saat kecil Ibu belum mendapatkannya. Salah satunya imunisasi MMR. Sebagai persiapan sebelum menikah atau sebelum hamil, sebaiknya dilakukan 1 atau 2 dosis vaksin MMR. Vaksin MMR merupakan jenis vaksin hidup sehingga tidak boleh disuntikkan pada wanita hamil, dan harus diingat bahwa bunda harus menunda kehamilan minimal 1 bulan setelah imunisasi MMR (rekomendasi ACIP). Ibu menyusui bukanlah kontraindikasi untuk vaksin ini, sehingga dapat diberikan kapan pun setelah Ibu melahirkan.

Untuk jenis vaksin hidup, dosis kedua bukanlah booster sepertihalnya jenis vaksin mati. Seperti MMR, dosis kedua sebenarnya bukanlah booster. Namun sekitar 2-5% orang tidak terbentuk kekebalan setelah suntikan pertama MMR, sehingga suntikan kedua diharapkan dapat memberikan kembali kesempatan untuk membentuk kekebalan/ antibodi. Namun sayangnya diperlukan pemeriksaan darah untuk memastikan terbentuk atau tidaknya antibodi, sehingga pada anak-anak usia sekolah, traveler, tenaga kesehatan dan orang dengan risiko tinggi tertular penyakit tersebut direkomendasikan untuk mendapatkan 2 dosis MMR. Setelah dosis ke 2 ini, sekitar 99% terdeteksi antibodi terhadap campak, rubella dan gondong.

Siapa sajakah yang tidak boleh mendapatkan imunisasi MMR?

  • Ibu hamil
  • Riwayat anafilaksis pada pemberian neomisin
  • Riwayat alergi hebat terhadap komponen vaksin atau saat pemberian vaksin MMR sebelumnya
  • Orang dengan imunitas rendah seperti penderita leukemia, AIDS.

Untuk Anda yang sedang masa persiapan pernikahan, setelah melahirkan, atau persiapan kehamilan berikutnya namun belum pernah mendapatkan Imunisasi MMR, yuk segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan suntikan MMR. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/07/2015

Sumber :

1. Dontygni, Lorraine., Arsenault, M., Martel, M. Rubella in Pregnancy.[cited 2015 Agust 18]. Available from : http://sogc.org/wp-content/uploads/2013/01/guiJOGC203CPG0802.pdf
2. Ezike, Elias. Pediatric Rubella. [cited 2015 Agust 18]Available from http://emedicine.medscape.com/article/968523-overview
3. Measles Mumps and Rubella. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/askexperts/experts_mmr.asp
4. McLean, Huong., Redd, Susan., Abernathy, Emily., Icenogle, Joseph ., Wallace, Gregory VPD Surveillance Manual. Chapter 14 : Rubella. 5th Edition, 2012. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt14-rubella.html#vaccination
5. MMR Vaccine : What You Need to Know. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/vis/mmr.pdf
6. Prevention of Measles, Rubella, Congenital Rubella Syndrome, and Mumps, 2013: Summary Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Recommendations and Report/ Vol.62/No.4. June 14, 2013. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr6204a1.htm
7. Rubella: Questions and Answers. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.immunize.org/catg.d/p4218.pdf
8. Rubella (German measles) during pregnancy. [cited 2015 Agust 21]Available from http://www.babycenter.com/0_rubella-german-measles-during-pregnancy_9527.bc

Gambar :
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Rubella,+congenital+syndrome
iio876http://www.tulsa-health.org/sites/default/files/styles/section_thumb/public/page_images/7_AdultImmuniz-21830648-iStock_000021830648Small.jpg?itok=5TjYS7RR

http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/02/04/mmr10a.jpg

Demam dan Ruam Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mengalami betapa pusingnya bila buah hati demam. Terlebih lagi jika muncul ruam kemerahan yang meluas pada kulit. Amat mungkin orangtua panik dan bertanya-tanya : apakah penyakit ini berbahaya? Menular? Ini campak atau bukan? Dan kegalauan lain yang sering disampaikan kepada dokter. Sebagai orangtua cerdas tentu ingin tahu, apa saja sih yang dapat membuat anak saya demam dan ruam?

Munculnya ruam kulit mendadak yang diikuti dengan demam atau gejala sistemik yang lain disebut dengan exanthema. Penyebab exanthem ini bermacam-macam, mulai dari infeksi, reaksi obat atau kombinasi dari keduanya. Namun, beberapa penyakit klasik yang dikenal ialah campak, demam skarlet, rubella, erythema infectiosum dan roseola infantum.1

Campak (Measles/Rubeola)

Campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus, famili Paramyxodiviridae. Penyakit campak menular lewat droplet atau tetesan air liur saat anak bersin dan batuk. Selain itu campak bisa ditularkan lewat udara meskipun lebih jarang.

Gejala
Demam, pilek, konjungitivits (peradangan pada selaput mata), bruntus merah dan bercak koplik’s (bintik-bintik putih di pipi bagian dalam)

Perjalanan penyakit
Masa inkubasi campak (Pertama kali anak terkena infeksi sampai timbul gejala) berlangsung sekitar 8-12 hari. Sedangkan masa penularan dimulai dari 5 hari sebelum muncul ruam sampai 4 hari setelahnya. Pertama kali timbul gejala anak biasanya mengalami demam, tidak enak badan, dan tidak nafsu makan. Kemudian diikuti dengan konjungtivitis, batuk, pilek dan munculnya bercak Koplik. Saat bercak Koplik memudar, muncul ruam merah disertai bruntus.

measles-boy-blotchyface

Campak (https://www.aap.org/en-us/PublishingImages/measles-boy-blotchyface.jpg)

Urutan bercak ini dimulai dari wajah, kepala, leher, sampai ke seluruh tubuh diikuti dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah 3-4 hari, ruam ini menjadi kecoklatan dan semakin lama-semakin hilang sesuai dengan urutan munculnya ruam. Ruam akan hilang dalam 6-7 hari sedangkan batuk masih bisa bertahan sampai 1-2 minggu.

Terapi :
Tidak ada terapi khusus untuk campak. Terapi hanya bersifat suportif misalnya obat penurun panas. Vitamin A biasanya diberikan untuk mencegah komplikasi defisiensi vitamin A dan xerophtalmia (selaput mata kering akibat kekurangan vitamin A).

Komplikasi :
Diare, infeksi salura nafas, otitis media (radang telinga tengah) dan radang otak (ensefalitis).

Pencegahan :
vaksin MMR.2–4

Demam Skarlet/Scarlatina

Demam skarlet merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri grup A Streptococcus. Penyakit ini sering dijumpai pada anak usia 5-12 tahun. Biasanya gejala demam skarlet relatif ringan namun perlu diobati dengan antibiotik untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Penyebaran :
Paling sering lewat droplet saat orang yang terinfeksi batuk, pilek atau berbagi alat makan yang sama. Bisa juga melalui kontak dengan infeksi kulit grup A streptococcus.

Gejala :
Tenggorokan yang radang dan sangat merah, demam tinggi, ruam merah kasar seperti amplas, ruam merah terang di lipatan kulit, lidah “strawberry” (merah dan berbintil), lapisan putih di lidah dan tenggorokan, sakit kepala, mual muntah, nyeri perut, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit badan.

Perjalanan penyakit :
Masa inkubasi berlangsung 2-5 hari. Gejala dimulai dari demam, muntah nyeri perut, lidah bengkak, memerah dan berbintil “strawberry tongue” disertai lapisan putih. Ruam muncul 1-2 hari setelahnya dari leher, ketiak, selangkangan lalu seluruh tubuh. Awalnya bercak berupa ruam mulus kemerahan lalu berangsur muncul bruntus kasar seperti amplas. Bercak ini biasanya akan hilang selama 7 hari sampai beberapa minggu.

Terapi :
Antibiotik

Komplikasi :
Demam rematik, penyakit ginjal, otitis media (radang telinga tengah), infeksi kulit, abses tenggorokan, pneumonia (infeksi paru), arthritis (radang sendi).

Pencegahan :
cuci tangan dan jangan berbagi alat pribadi seperti alat makan, handuk, atau kain. Anak yang terkena demam skarlet harus izin sekolah paling tidak 24 jam setelah dimulai antibiotik.4,5

Rubella (Campak Jerman/ Campak 3 Hari)

Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan Togaviridae. Penyakit ini ditularkan melalui droplet cairan hidung dan mulut. Masa inkubasi berlangsung 2-3 minggu.

Pada anak gejala yang dialami biasanya ringan dan dicirikan oleh ruam merah disertai bruntus seluruh tubuh, pembengkakan kelenjar getah bening dan demam ringan. Ruam dimulai dari wajah, langsung menyebar di seluruh badan dalam 24 jam dan bertahan sekitar 3 hari. Oleh sebab itu, Rubella disebut campak 3 hari. Masa penularan yaitu 1 minggu sebelum ruam muncul sampai 1 minggu setelah ruam hilang.

Rash_of_rubella_on_back_(crop)

Rubella (CDC)

Terapi :
Suportif
Komplikasi :
Ensefalitis (radang otak), trombositopenia (trombosit rendah)
Pencegahan :
Vaksin MMR (Measles, Mumps, and Rubella)4,6,7

Erythema Infectiosum/Fifth Disease

Erythema Infectiosum ialah penyakit ruam ringan akibat infeksi dari Parvovirus B19. Penyakit ini ditularkan melalui kontak cairan saluran nafas, darah, dan transmisi vertikal dari ibu ke janin.Saat paling menular justru sebelum muncul ruam atau nyeri sendi. Masa inkubasi rata-rata 4-14 hari sampai 21 hari.

Perjalanan penyakit :
Biasanya gejala dimulai dari demam sumeng-sumeng, lemas, nyeri otot, sendi, dan sakit kepala. Sekitar 7-10 hari kemudian muncul ruam merah terang pada pipi yang dinamakan “slapped cheek” karena mirip seperti pipi habis ditampar. Ruam ini disertai pucat disekeliling bibir, ruam merah seperti renda yang gatal di badan lalu menyebar ke lengan, bokong dan paha. Warna merah pada ruam dipengaruhi oleh panas dan cahaya matahari.

Terapi

Terapi hanya bersifat suportif untuk meringankan gejala seperti menurunkan demam, mengurangi nyeri dan gatal.

Pencegahan :
Tidak ada vaksin yang dapat mencegah infeksi ini. Cuci tangan, menggunakan masker, menghindari orang yang sakit atau tinggal dirumah selama sakit dapat mengurangi penularan. 4,8,9

Roseola Infantum (Exanthem Subitum)

Penyebab penyakit ini ialah Human Herpesvirus 6 (HHV-6). Gejala muncul 9 sampai 10 hari setelah anak terinfeksi. Khasnya Roseola ialah demam tinggi 3-5 hari (bisa lebih dari 40oC) yang tiba-tiba turun lalu diikuti ruam merah. Ruam dimulai dari leher dan badan lalu meluas ke wajah serta ekstrimitas. Gejala lain yang mungkin muncul misalnya pembengkakan kelenjar getah bening, keluhan saluran cerna atau saluran nafas, dan radang gendang telinga.

Roseola_rash_edt

Roseola Infantum

Penularan HHV-6 paling sering dari peluruhan virus di sekresi cairan penderita saat tidak bergejala. Saat anak terkena Roseola dan menunjukkan gejala justru tidak menular. Sehingga tidak ada rekomendasi khusus untuk melarang anak ke luar rumah saat gejala timbul dengan alasan takut menularkan.

Terapi :
Bersifat suportif

Pencegahan :
Menjaga higiene dan cuci tangan. Tidak ada vaksin untuk Roseola.

Komplikasi :
Paling sering ialah kejang demam. Komplikasi lain ialah radang otak (ensefalitis), meningitis, dan penurunan trombosit. 4,10

Agustina Kadaristiana, dr. 

08/10/2015

Referensi
1. Lam JM. Characterizing viral exanthems. Pediatr Health. 2010;4(6):623–35.
2. Hayley Gans, MD, Yvonne A Maldonado, MD. Clinical manifestations and diagnosis of measles. 2015 Jul 8;
3. About Measles. CDC [Internet]. 2015 Feb 20; Available from: http://www.cdc.gov/measles/about/index.html
4. Carol J Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Pediatric Infectious Diseases. 2nd ed. USA: American Academy of Pediatrics; 2013.
5. CDC Features – Scarlet Fever [Internet]. [cited 2015 Aug 10]. Available from: http://www.cdc.gov/features/scarletfever/
6. Morven S Edwards, MD. Rubella. Uptodate. 2015 Jul;
7. About Rubella. CDC [Internet]. 2014 Dec 17; Available from: http://www.cdc.gov/rubella/about/index.html
8. Fifth Disease. CDC [Internet]. 2012 Feb 14; Available from: http://www.cdc.gov/parvovirusb19/fifth-disease.html
9. Jeanne A Jordan, PhD. Clinical manifestations and diagnosis of parvovirus B19 infection. Uptodate. 2014 Dec 15;
10. Cécile Tremblay, MD, Michael T Brady, MD. Roseola infantum (exanthem subitum). Uptodate. 2015 Jun 4;