Category Archives: Penyakit Wanita & Ibu Hamil

Kanker Serviks

Tahukah Anda bahwa kanker serviks merupakan kasus kanker tertinggi di Indonesia?Data dari Riskesdas 2013 diketahui bahwa  hampir 100.000 wanita Indonesia mengalami kanker serviks. Biasanya kanker ini terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Sayangnya, 70% kasus kanker serviks ini baru diketahui pada stadium lanjut. Sehingga tidak heran bila angka kematian kanker serviks meningkat sampai 2x lipat dari tahun 2010 ke 2013. Padahal, kanker serviks ini amat bisa dicegah.

Mengenal Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang serviks atau leher rahim. Serviks atau leher rahim ialah bagian rahim yang menyempit sebelum vagina. Bagian serviks yang lebih dekat ke rahim disebut endoserviks, bagian yang lebih dekat ke vagina disebut eksoserviks, sementara pertemuan kedua area tersebut disebut zona transformasi. Pada zona transformasi inilah kanker serviks paling banyak terjadi.

Kanker Serviks

Serviks. Ovary : indung telur, Fallopian tube : saluran indung telur, Uterus : rahim, Cervix = serviks/leher rahim

Penyebab dan Faktor Resiko

Penyebab kanker serviks yaitu infeksi HPV (Human Papillomavirus). Sebanyak 70% kanker serviks terdapat pada wanita yang pernah terinfeksi virus HPV. HPV menginfeksi sel-sel epitel yang melapisi permukaan tubuh, termasuk alat kelamin. Sel-sel yang terinfeksi HPV menjadi tumbuh tidak terkendali. Sebagian sel yang terinfeksi dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh kita dalam 1-2 tahun, namun sebagian lagi tetap terinfeksi. Sel-sel terinfeksi yang menetap ini kemudian berubah menjadi sel pre-kanker, yang selanjutnya dapat menjadi sel kanker. Seseorang yang sudah terinfeksi HPV bisa saja tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi karena sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala.

Virus HPV bisa menular dari pasangan yang terinfeksi HPV melalui hubungan intim. Risiko seorang wanita terinfeksi HPV dan mengalami kanker serviks meningkat apabila :

  • Sering berganti pasangan.
  • Berhubungan seks di usia dini (kurang dari 20 tahun)
  • Berhubungan seks dengan partner yang beresiko tinggi (terinfeksi HPV, senang berganti pasangan)
  • Terdapat riwayat penyakit menular seksual
  • Kondisi imunitas rendah (HIV)

Jika seorang wanita sudah terinfeksi HPV, ada hal-hal yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks, diantaranya yaitu:

  1. Merokok. Wanita yang merokok berisiko 2x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang tidak merokok. Residu tembakau ditemukan pada cairan serviks wanita yang merokok. Cairan ini menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa serviks, yang dapat memicu timbulnya kanker.
  2. Kekebalan tubuh yang sangat rendah, misalnya pada wanita dengan infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sistem kekebalan tubuh penting untuk membunuh sel-sel kanker, serta memperlambat pertumbuhan dan penyebarannya. Pada wanita yang terinfeksi HIV, terutama yang infeksinya sudah berkembang menjadi AIDS, lesi prekanker lebih cepat tumbuh menjadi kanker dan menyebar. Contoh lain yaitu pada wanita dengan penyakit autoimun, yaitu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel tubuh yang normal karena dianggap sebagai kuman. Wanita dengan penyakit autoimun harus mengkonsumsi obat untuk menekan sistem kekebalan tubuhnya agar tidak menghancurkan sel-sel normal, sehingga kekebalan tubuhnya rendah.
  3. Terdapat riwayat keluarga yang terkena kanker serviks. Jika memiliki ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker serviks, maka seorang wanita berisiko 2-3x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks.
  4. Konsumsi pil kontrasepsi dalam jangka panjang. Konsumsi pil kontrasepsi selama lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan resiko timbulnya kanker serviks. Namun, saat pil kontrasepsi berhenti dikonsumsi, risiko timbulnya kanker serviks akan menurun kembali. Setelah 10 tahun berhenti, maka risiko terkena kanker serviks sama saja dengan yg tidak pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Gejala

Wanita dengan kanker serviks stadium awal biasanya tidak memiliki gejala yang khas. Gejala baru muncul saat kanker sudah stadium lanjut. Gejalanya yaitu:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal, misalnya perdarahan saat berhubungan intim, setelah menopause, perdarahan diluar jadwal haid, atau haid yang lebih banyak dan lama.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Lendir dengan darah keluar dari vagina di luar jadwal haid atau setelah menopause.

Skrining dan Diagnosis

Pemeriksaan kanker serviks terdapat 2 jenis, yaitu untuk keperluan skrining dan diagnosis.  Skrining adalah pemeriksaan untuk mencari apakah ada sel-sel yang abnormal. Sementara pemeriksaan diagnosis bertujuan untuk konfirmasi apakah sel abnormal tadi benar sel kanker atau tidak.

Untuk skrining dapat dilakukan pemeriksaan Pap smear, IVA atau tes HPV.

  • Pada pemeriksaan Pap smear, dokter Anda akan memasukkan spekulum, alat untuk membuka vagina, lalu dokter akan mengambil sedikit jaringan serviks dengan untuk diperiksa. Dari tes pap smear ini bisa ada tidaknya sel yang tidak normal yang mungkin akan berkembang menjadi kanker.PapTest-large
  • Tes HPV dilakukan untuk mendeteksi sebagian besar tipe virus HPV yang beresiko tinggi menyebabkan kanker servis .Ada 13 tipe HPV onkogenik yang diperiksa yaitu tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68.
  • IVA (Inspeksi Visual Asetat) yaitu pemeriksaan sederhana untuk melihat lesi pra kanker pada serviks dengan bantuan asam cuka yang diencerkan. IVA tes biasa digunakan di tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas terbatas.Pada pemeriksaan ini tenaga kesehatan (bidan, perawat atau dokter) memasukkan spekulum lalu leher rahim Anda akan dioles cairan asam asetat/asam cuka 3-5%. Asam asetat akan mengubah warna sel-sel rahim yang tidak normal menjadi lebih putih Jika hasil skrining menunjukkan hasil abnormal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi.ilustrasi-iva-1

Diagnosis

Bila pada skrining dokter menemukan adanya lesi pra kanker, dokter biasanya akan memastikan ada atau tidaknya keganasan dengan pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan lanjutan tersebut biasanya berupa kolposkopi (dengan biopsi) dan kuret endoserviks.

  • Pada pemeriksaan kolposkopi, dokter akan melihat permukaan leher rahim dengan kaca pembesar khusus (kolposkop). Jika terlihat kelainan pada serviks, dokter lalu akan melakukan biopsi yaitu mengambil sedikit sampel dari jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dari pemeriksaan biopsi ini, dapat dipastikan apakah daerah abnormal di leher rahim tersebut berupa lesi pra kanker, kanker atau bukan keduanya.205353
  • Bila zona transformasi (daerah yang beresiko terkena infeksi HPV dan lesi pra kanker) tidak bisa terlihat dengan kolposkopi, dokter mungkin akan melakukan kuret. Berbeda dengan kuret pada aborsi, kuret endoserviks hanya mengikis sedikit sel dari endoserviks untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikrosop.

Bila setelah diperiksa ternyata ditemukan sel kanker, dokter kemungkinan akan melakukan rontgen dada, tulang atau biopsi untuk melihat stadium dan penyebaran kanker rahim tersebut. Adapun stadium  atau tingkat keparahan kanker serviks ialah :

  • Stadium 0 (carcinoma in situ/CIN) Stadium ini disebut juga pre-kanker. Sel-sel kanker hanya terdapat di permukaan serviks.
  • Stadium IA dan IB → stadium awal. Kanker sudah menembus permukaan serviks, namun belum menyebar.
  • Stadium II ke atas → stadium lanjut. Kanker sudah menyebar keluar serviks, namun masih di dalam area panggul.
  • Stadium IVB → stadium akhir. Kanker telah menyebar keluar panggul, ke bagian tubuh lainnya. Kanker serviks stadium ini sudah sangat sulit untuk disembuhkan.

Pengobatan

Pengobatan setiap wanita yang terkena kanker serviks berbeda, tergantung dari stadium kanker saat diperiksa, usia dan kondisi kesehatan wanita tersebut.

Beberapa pilihan pengobatan yaitu:

Operasi

  • Cryosurgery yaitu operasi dengan menggunakan suhu sangat dingin untuk membunuh sel kanker. Pada operasi ini, alat bernama Cryoprobe diarahkan ke sel abnormal di permukaan rahim. Setelah itu, nitrogen cair dialirkan sampai cukup membuat jaringan beku dan hancur.
  • Operasi laser yaitu operasi dengan sinar laser yang diarahkan melalui vagina. Teknik ini dapat membunuh sel kanker dengan membakar sel tersebut. Teknik ini juga digunakan untuk mengambil sedikit jaringan serviks untuk diperiksa.
  • Histerektomi yaitu operasi pengangkatan rahim
  • Histerektomi radikal yaitu operasi pengangkatan rahim dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Terapi radiasi

Kemoterapi yaitu dengan obat-obatan yang disuntik ke pembuluh darah.

Paliatif,  yaitu terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Dengan cara mengurangi gejala kanker, efek samping terapi kanker, juga mengatasi masalah psikologis, sosial dan spiritual pasien. Terapi ini tidak untuk menyembuhkan.

Untuk kanker stadium awal, dapat dilakukan operasi yang dikombinasikan dengan terapi radiasi atau kemoterapi. Untuk kanker stadium lanjut, dapat dilakukan terapi radiasi dan kemoterapi. Untuk kanker stadium akhir dapat dilakukan kemoterapi dan terapi paliatif.

Terapi Alternatif, amankah?

Anda pasti cukup sering mendengar berbagai terapi alternatif yang mengklaim mampu menyembuhkan kanker serviks. Beberapa terapi alternatif mungkin dapat meringankan gejala atau membuat Anda merasa lebih baik. Namun, sebagian besar terapi alternatif justru berbahaya karena dapat mempercepat perburukan kanker serviks. Seringkali seorang wanita dengan kanker serviks stadium awal menolak pengobatan medis, dan beralih ke pengobatan alternatif. Setelah bertahun-tahun berobat alternatif, kanker serviks seringkali semakin memburuk dengan cepat. Ketika kembali ke dokter didapatkan kanker serviks sudah stadium lanjut bahkan stadium akhir. Jadilah pasien yang bijak, yang tidak termakan janji kesembuhan total. Selalu komunikasikan pilihan terapi kanker dengan dokter yang merawat Anda atau keluarga Anda.

Apakah kanker serviks bisa disembuhkan?

Tergantung dari stadium kanker serviks, semakin tinggi stadium, semakin rendah harapan hidup. Pada kanker serviks stadium awal (IA dan IB) harapan hidup 10 tahun ke depan sebesar 80-95%. Sementara harapan hidup 10 tahun ke depan pada stadium lanjut sebesar 17-47%.

Pencegahan

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan dengan cara pencegahan primer maupun pencegahan sekunder. Pencegahan primer misalnya belajar mengenai kanker serviks dan vaksinasi kanker serviks. Vaksinasi sebaiknya dilakukan sebelum seorang wanita menikah atau aktif secara seksual.

Sementara pencegahan sekunder adalah pencegahan dalam bentuk deteksi dini.  Deteksi dini infeksi HPV atau lesi prekanker serviks dapat dilakukan melalui pemeriksaan IVA, PapSmear dan tes HPV. Wanita dengan kanker serviks yang melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi dini saat stadium awal) lebih tinggi harapan hidupnya dibandingkan yang tidak melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi saat stadium lanjut).

Kesimpulan

Jumlah penderita kanker serviks menduduki peringkat teratas di antara penyakit kanker pada pria dan wanita di Indonesia, dan menyumbang angka kematian yang cukup tinggi. Pengobatan kanker serviks menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perubahan sel-sel serviks yang terinfeksi HPV menjadi sel kanker berlangsung selama 10-20 tahun, sehingga banyak kesempatan untuk mencegah kanker serviks. Manfaatkan waktu yang banyak tersebut untuk melakukan berbagai tindakan pencegahan. Kanker serviks stadium awal jarang menimbulkan gejala. Sementara saat timbul gejala, kanker serviks sudah stadium lanjut. Jangan sampai terlambat dan menyesal. Segera vaksinasi HPV dan lakukan pemeriksaan IVA, Papsmear atau tes HPV sesuai rekomendasi bidan/dokter Anda.

Diana Andarini, dr.

06/26/2016

Referensi

  1. Nuranna L, Aziz MF, Cornain S, et al. Cervical cancer prevention program in Jakarta, Indonesia: See and treat model in developing country. J Gynecol Oncol (2 July 2012) 23 (3): 147–152. [cited May 10] Available from: www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3395009/
  2. Frellick M. Updated guideline on cervical cancer screening issued by ACOG. December 2015. [cited 5 April 2016] Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/856431
  3. American Cancer Society. Cervical Cancer. [cited 17 Mei 2016] Available from:  http://www.cancer.org/cancer/cervicalcancer/detailedguide/index
  4. National Cancer Institute. HPV and Cancer. February 2015. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/infectious-agents/hpv-fact-sheet
  5. Departemen Kesehatan Indonesia. Stop Kanker. 4 Februari 2015. [cited 17 Mei 2016] Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf
  6. The Elevated 10-Year Risk of Cervical Precancer and Cancer in Women With Human Papillomavirus (HPV) Type 16 or 18 and the Possible Utility of Type-Specific HPV Testing in Clinical Practice. JNCI J Natl Cancer Inst (20 July 2005) 97 (14): 1072-1079. [cited 5 April 2016] Available from: http://jnci.oxfordjournals.org/content/97/14/1072.full
  7. Smith JS, Lindsay L, Hoots B, et al. Human papillomavirus type distribution in invasive cervical cancer and high-grade cervical lesions: A meta-analysis update. Int. J. Cancer, 121: 621–632. [cited 5 April 2016] Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijc.22527/full
  8. Schiffman M, Castle PE, Jeronimo J, et al. Human papillomavirus and cervical cancer. The Lancet (September 2007) 370 (9590): 890–907. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17826171
  9. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bulan Cegah Kanker Serviks 2015 [cited 10 Mei 2016] Available from: http://pogijaya.or.id/blog/2015/02/20/bulan-cegah-kanker-serviks-2015/
  10. Centers for Disease Control and Prevention. Making sense of your Pap & HPV test result. August 2015. [cited 25 Mei 2016] Available from: www.cdc.gov/std/hpv/pap/
  11. Centers for Disease Control and Prevention. What should I know about screening? March 2016. [cited 3 Juni 2016] Available from:http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm
  12. International Collaboration of Epidemiological Studies of Cervical Cancer. Cervical cancer and hormonal contraceptives: collaborative reanalysis of individual data for 16573 women with cervical cancer and 35509 women without cervical cancer from 24 epidemiological studies. The Lancet (November 2007) 370: 1609-21.

Demam Berdarah Dengue Pada Ibu Hamil

Musim hujan telah tiba. Genangan air bahkan banjir mulai melanda beberapa daerah di Indonesia. Tak ayal bila kasus demam berdarah juga meningkat karena tempat bersarang nyamuk semakin banyak.  Sepanjang Januari 2016 saja, Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan mencatat 3.298 kasus DBD dengan jumlah kematian sebanyak 50 kasus. KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD terjadi di 11 Kabupaten/Kota di 7 Provinsi.

Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa terjadi pada siapa saja. Mulai bayi, anak, dewasa sampai ibu hamil. Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil karena dampaknya yang bisa berbahaya terhadap ibu dan janin. Sebab itu, penting untuk diketahui kiat pencegahan DBD terutama di musim penghujan ini.

Sekilas tentang Demam Berdarah Dengue

Infeksi virus Dengue merupakan salah satu infeksi tersering yang dibawa oleh nyamuk. Di dunia, setiap tahun diperkirakan 100 juta orang terinfeksi dengue, terutama di daerah tropis seperti Asia Tenggara, Amerika (Tengah & Selatan), serta Pasifik Barat. Penyakit ini menular melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegyptii. Nyamuk menggigit manusia yang menderita penyakit dengue, kemudian menggigit manusia yang sehat.

Demam Berdarah

Penularan Demam Berdarah

Nyamuk ini paling sering menggigit manusia saat pagi dan sore hari. Terdapat 4 jenis virus dengue, yaitu DENV-1 sampai DENV-4. Jika seseorang terinfeksi salah satu jenis virus dengue, maka orang tsb akan memiliki kekebalan seumur hidup terhadap virus dengue tsb, namun hanya kebal beberapa bulan terhadap jenis virus dengue lain. Selain itu, virus dengue dapat menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya.

Gejala Infeksi Virus Dengue

Gejala infeksi virus dengue amat bervariasi mulai dari asimptomatik (tidak bergejala sama sekali) sampai demam berdarah dengue yang menimbulkan syok. Biasanya gejala penyakit dengue muncul 4-10 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi dengu. Diantaranya, dikenal dengan istilah penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue.

Gejala Demam Dengue

  • Demam Dengue merupakan bentuk ringan dari infeksi Dengue. Gejalanya ialah :
  • Demam tinggi (demam >380C) selama 2-7 hari yang mungkin tipenya seperti pelana kuda (demam tinggi hari 1-3 lalu turun sampai hari ke 6)
  • Sakit kepala
  • Nyeri belakang bola mata
  • Nyeri tenggorokan
  • Nyeri pada sendi dan otot
  • Ruam kemerahan di wajah, dada, lengan dan tungkai dengan pulau-pulau kulit yang sehat di antaranya
  • Pada demam dengue juga dapat muncul gejala perdarahan ringan (misalnya gusi berdarah, mimisan, bintik-bintik merah pendarahan)
  • Mual dan muntah

Ibu dapat mengalami demam dengue kemudian sembuh dengan sendirinya, tanpa mengalami dengue yang berat seperti DBD atau DSS.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan bentuk yang perlu diwaspadai dari infeksi virus Dengue. Biasanya DBD terjadi pada infeksi virus Dengue yang berulang. Pada DBD timbul kebocoran cairan plasma darah ke jaringan. Hal inilah yang bisa menyebabkan syok pada penderitanya. Jika Ibu mengalami DBD, Ibu membutuhkan penanganan medis segera berupa terapi cairan untuk mencegah komplikasi dan risiko kematian.

Gejala awal demam dengue dan DBD mirip, sehingga pada fase awal sulit dibedakan apakah Ibu mengalami demam dengue atau DBD. Namun, jika Ibu mengalami DBD, pada hari ke 3-7, demam turun (suhu <380C) disertai munculnya gejala-gejala ini, perlu diwaspadai akan terjadi syok :

  • Nyeri perut yang hebat
  • Mual dan muntah berulang
  • Tidak mau minum
  • Lemas
  • Gelisah
  • Hipotensi
  • Pipis sedikit
  • Muntah darah (akibat perdarahan saluran cerna)

Dengue Shock Syndrome (DSS)

DSS merupakan tahapan lanjut dari DBD. Pada kondisi ini terjadi kebocoran plasma yang hebat di dalam tubuh sehingga terjadi syok. Kondisi ini sangat berat dengan risiko kematian yang tinggi.

Akibat Infeksi Dengue pada Janin

Tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan usia kehamilan, infeksi dengue pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur, gawat janin, berat badan bayi rendah, bahkan kematian bayi. Jika ibu hamil terinfeksi dengue saat trimester pertama, risiko keguguran lebih tinggi.

Jika ibu hamil terinfeksi dengue mendekati jadwal kelahiran, terdapat risiko perdarahan hebat pada ibu dan bayi saat proses kelahiran dan setelahnya. Selain itu, bayi dapat terlahir dengan infeksi dengue. Gejala dengue pada bayi yang baru lahir dapat muncul beberapa jam setelah lahir, atau beberapa hari setelahnya. Gejala dapat berupa demam, ruam (petekiae) dan liver membesar. Pada dengue yang berat, bayi dapat mengalami dengue shock syndrome.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis infeksi virus dengue adalah :

  • Penurunan Leukosit (Leukopenia)
  • Penurunan trombosit. Pada demam dengue biasanya trombosit turun <150.000 sel/mm3 sedangkan pada DBD, hasil trombosit bisa turun sampai <100.000/mm3)
  • Peningkatan Hematokrit. Pada demam dengue hematokrit bisa meningkat 5-10% sedangkan pada DBD peningkatan hematokrit bisa sampai >20%. Namun pada ibu hamil, hematokrit seringkali rendah akibat anemia yang  kehamilan.
  • NS1 ialah penanda antigen virus Dengue yang bisa terdeteksi di hari 1-4 dari munculnya gejala. Sehingga bisa digunakan  untuk mendeteksi dini adanya infeksi virus Dengue.
  • IgM dengue adalah pemeriksaan antibodi/kekebalan tubuh terhadap dengue. IgM dengue muncul setelah 3-5 hari gejala, dan dapat bertahan sampai 6 bulan berikutnya. Tes IgM bereaksi terhadap keempat jenis virus dengue. Adanya gejala-gejala penyakit demam dengue/DBD serta IgM dengue positif menunjukkan adanya infeksi dengue saat ini.

Pengobatan

Ibu hamil yang terkena infeksi dengue sebaiknya dirawat di rumah sakit lebih awal untuk memonitor perjalanan penyakitnya. Terapi utama pada ibu dengan infeksi dengue ialah terapi cairan untuk mencegah syok. Selain itu, dokter akan memberikan obat-obatan yang aman untuk meringankan gejala (seperti menurunkan demam, mengurangi mual atau mengurangi nyeri sendi) pada ibu. Kerjasama antara dokter penyakit dalam, dokter spesialis kandungan dan spesialis anak diperlukan.

Jika Ibu menderita DBD saat dan setelah persalinan, besar risiko terjadinya perdarahan hebat dan syok, sehingga Ibu membutuhkan transfusi trombosit dan pengawasan khusus dari tim medis. Selain itu, bayi Ibu akan diawasi, apakah akan muncul gejala penyakit dengue, agar tidak terlambat ditangani. Gejala dengue paling sering muncul saat bayi berusia 4-5 hari. Jika muncul gejala dengue, bayi Ibu membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Pencegahan

Pemerintah telah meluncurkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M yaitu:

  1. Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dll.
  2. Menutup tempat penampungan air dengan rapat, seperti drum air, kendi, toren air, dll.
  3. Mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas, supaya tidak ada genangan air yang menjadi tempat favorit nyamuk bertelur.

_780050

Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sehingga kurang efektif. Untuk membunuh larva nyamuk dibutuhkan bubuk larvasida (misalnya abate) yang disebarkan di tempat-tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Hindari gigitan nyamuk dengan memasang kawat nyamuk di jendela, memakai pakaian yang tertutup, juga penangkal nyamuk.

Vaksin DBD

Selama 60 tahun terakhir, telah banyak usaha yang dilakukan para peneliti untuk mengembangkan vaksin dengue. Terdapat 4 jenis vaksin dengue yang sedang dikembangkan, yaitu LAV, vaksin chimera, vaksin DNA dengue dan vaksin DENV terinaktifasi. Keempat vaksin tersebut mampu menghasilkan kekebalan terhadap keempat tipe virus dengue. Uji klinis terus dilakukan untuk menyempurnakan vaksin.

Tahun 2014, salah satu vaksin dengue jenis LAV telah menyelesaikan 3 tahapan uji klinis. Uji klinis tersebut dilakukan selama lebih dari 20 tahun, melibatkan sekitar 40.000 anak, remaja dan orang dewasa di 15 negara di seluruh dunia (termasuk Indonesia). Pada Desember tahun 2015, vaksin ini sudah beredar di Meksiko, Filipina dan Brazil. Di Indonesia, rencananya vaksin dengue ini akan tersedia pada akhir tahun 2016.

Kesimpulan

Penyakit DBD meningkat terutama saat musim hujan seperti sekarang. Dalam keadaan tidak hamil pun, penyakit ini cukup berbahaya. Jangan sampai Ibu menderita DBD, terutama mendekati waktu lahiran, karena tingginya risiko perdarahan hebat pada Ibu dan bayi. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Vaksin dengue pada akhir tahun 2016 akan tersedia di Indonesia, namun keamanannya untuk ibu hamil belum diketahui. Pencegahan terbaik yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dan lakukan program pemberantasan sarang nyamuk 3M.

Diana Andarini, dr.

03/20/2016

Referensi

  1. Amin HZ, Sungkar S. Perkembangan mutakhir vaksin demam berdarah dengue. Jurnal Kedokteran Indonesia [serial online] Desember 2013 [cited 2016 Mar 14];1(3):226-33. Available from: http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/viewFile/3007/2466
  2. World Health Organization. Questions and answers on dengue vaccines. [internet] 2015 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.who.int/immunization/research/development/dengue_q_and_a/en/
  3. Basurko C, Carles G, Youssef M, et al. Maternal and fetal consequences of dengue fever during pregnancy. European Journal of Obstetrics & Gynecology [serial online] November 2009 [cited 2016 Mar 8];147(1):29-32. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0301211509004345
  4. Singh N, Sharma K A, Dadhwal V, Mittal S, Selvi A S. A successful management of dengue fever in pregnancy: Report of two cases. Indian J Med Microbiol [serial online] 2008 [cited 2016 Mar 4];26:377-80. Available from: http://www.ijmm.org/text.asp?2008/26/4/377/43577
  5. Tan PC, Rajasingam G, Devi S, et al. Dengue infection in pregnancy: prevalence, vertical transmission and pregnancy outcome. Obstetrics & Gynecology [serial online] May 2008 [cited 2016 Mar 8];111(5):1111-17. Available from: http://journals.lww.com/greenjournal/Fulltext/2008/05000/Dengue_Infection_in_Pregnancy__Prevalence,.15.aspx
  6. World Health Organization. Dengue and severe dengue. [internet] May 2015 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/
  7. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue homepage: clinical guidance. [internet] June 2014 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.cdc.gov/dengue/clinicalLab/clinical.html
  8. Chitra T V, Panicker S. Maternal and fetal outcome of dengue fever in pregnancy. J Vector Borne Dis [serial online] December 2011 [cited 2016 Mar 8];48:210–13. Available from: http://www.mrcindia.org/journal/issues/484210.pdf
  9. Petdachai W, Sila’on J, Nimmannitya S, Nisalak A. Neonatal dengue infection: report of dengue fever in a 1-day-old infant. Southeast Asian J Trop Med Public Health [serial online] 2004 [cited 2016 Mar 13];35(2):403-7. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15691146
  10. Choudry SP, Gupta RK, Kishan Jai. Dengue shock syndrome in new born – a case series. Indian Pediatrics [serial online] April 2004 [cited 2016 Mar 13];41:397-99. Available from: http://medind.nic.in/ibv/t04/i4/ibvt04i4p397.pdf
  11. Chin PS, Khoo APC, Hani AWA, et al. Acute dengue in a neonate secondary to perinatal transmission. Med J Malaysia [serial online] August 2008 [cited 2016 Mar 13];63(3):265-66. Available from: http://www.e-mjm.org/2008/v63n3/Acute_Dengue.pdf
  12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan DBD dengan PSN 3M plus. [internet] 7 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-plus.html
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Wilayah KLB Ada di 11 Kabupaten/Kota. [internet] 5 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-kabupaten-kota.html
  14. Sanofi Pasteur Dengue Vaccine Frequently Asked Questions. [internet] February 2016 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.dengue.info/sites/default/files/media-faqs_-for_dengueinfo_feb1_16.pdf
  15. Agrawal P, Garg R, Srivastava S, et al. Pregnancy outcome in women with dengue infection in Northern India. Indian Journal of Clinical Practice [serial online] April 2014 [cited 2016 Mar 8];24(11):1053-56. Available from: http://medind.nic.in/iaa/t14/i4/iaat14i4p1053.pdf