Category Archives: Penyakit Anak

Informasi seputar penyakit anak dari A-Z

Difteri : Penyakit Lama yang Muncul Kembali

Tahukah Ayah Bunda, sebelum vaksin ditemukan, difteri merupakan salah satu penyakit tersering penyebab kematian pada anak. Pada tahun 1921, Di Amerika saja tercatat 206.000 anak menderita penyakit difteri, diantaranya 15.520 anak meninggal. Sejak vaksin ditemukan, kasus difteri telah berkurang sampai 95% di seluruh dunia. Namun, sejak tahun 1990an, wabah penyakit ini kembali muncul. Pada tahun 1995, terdapat >50.000 kasus di Eropa saja. Cakupan imunisasi DPT diperbaiki dan diperluas, sehingga wabah dapat diatasi dan jumlah kasus berkurang di tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 2000-an, penyakit difteri yang seharusnya sudah diberantas, masih muncul kembali. Pada tahun 2005, di India tercatat 5.826 kasus difteri (71% dari total kasus difteri global). Di Indonesia, pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus serupa juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit saluran napas atas akut yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Anak rentan terkena penyakit ini jika berusia <12 tahun, imunisasinya tidak lengkap atau memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

Bagaimana penularannya?

Penyakit ini menular melalui droplet atau cairan dari saluran napas (dari hidung sampai tenggorokan), yang keluar pada saat bersin atau batuk. Anak dapat tertular oleh orang lain yang sakit difteri atau carrier. Carrier adalah seseorang yang di tubuhnya terdapat bakteri difteri namun tidak menunjukkan gejala penyakit difteri.

Apa saja gejalanya?

Gejala awal penyakit difteri pada anak mirip dengan penyakit saluran napas atas lainnya, seperti nyeri tenggorokan, demam, sakit kepala, lemah, suara serak, dll. Pada bayi, gejala awal paling sering yaitu pilek dengan ingus yang kental berwarna kekuningan.

Pada anak yang tidak diimunisasi atau kekebalan tubuhnya rendah, pada hari ke-5 akan terbentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal. Lapisan ini dapat menutupi tonsil/amandel, langit-langit mulut, lidah, tenggorokan, juga rongga saluran pernapasan lainnya. Lapisan ini sangat sulit dilepas, bahkan usaha melepasnya dapat menyebabkan perdarahan dan bengkak sehingga saluran napas semakin tertutup. Jika lapisan tersebut menutup seluruh saluran napas, anak tidak dapat bernapas, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Difteri

Difteri

Gejala lainnya yaitu adanya pembengkakan kelenjar leher, yang membuat leher anak tampak seperti leher kerbau (bull’s neck).

Pada sebagian kecil kasus, toksin difteri menyerang kulit, terutama pada bagian tangan dan kaki. Awalnya kulit yang terinfeksi akan menjadi merah, terasa nyeri dan timbul bisul. Kemudian dapat terbentuk ulkus/lesi kulit dengan tepi yang tegas dan terdapat lapisan keabu-abuan. Lesi kulit ini dapat menetap berbulan-bulan. Selain kulit tangan dan kaki, toksin difteri juga dapat menyerang kulit telinga, mata, dan alat kelamin.

Apa komplikasinya?

Pada penyakit yang berat, toksin  juga dapat menyerang saraf dan jantung anak. Jika toksin menyerang saraf di sekitar tonsil/amandel, anak akan mengalami kesulitan menelan yang berisiko masuknya makanan ke paru-paru, hal ini dapat menyebabkan infeksi paru-paru (pneumonia), bahkan kematian. Jika toksin menyerang saraf kepala, pandangan anak akan kabur, juling atau sulit melihat benda dekat.

Jika toksin menyerang jantung, sel otot jantung menjadi rusak dan menyebabkan irama jantung tidak beraturan (disaritmia). Penyakit toxic cardiomyopathy juga dapat muncul pada 10-25% anak, dengan tingkat kematian 50-60%.

Bagaimana pengobatannya?

Pengobatan penyakit difteri yaitu dengan antitoksin yang diberikan lewat infus. Antibiotik juga diberikan untuk menahan produksi toksin dan mencegah toksin menyebar ke organ tubuh lain yang dapat memperparah penyakit.

Untuk membuka saluran napas yang tertutup lapisan putih keabu-abuan, anak Anda akan membutuhkan alat bantu napas berupa selang yang dimasukkan lewat mulut ke paru-paru. Selang ini juga berfungsi untuk mencegah lapisan tersebut menutup saluran napas anak seluruhnya, sampai antitoksin bekerja. Namun jika komplikasi pernapasan atau saraf terlalu berat, diperlukan operasi. Leher anak akan dilubangi kemudian dipasang selang yang dihubungkan ke sumber oksigen, agar anak bisa bernapas. ia harus dirawat di perawatan intensif (ICU).

Bagaimana dengan keluarga yang tinggal serumah? Apakah perlu diobati?

Keluarga atau pengasuh yang tinggal serumah dengan penderita, harus diberikan vaksin penguat/booster yang mengandung toksoid difteri. Selain itu, sebaiknya juga diberikan antibiotik selama 7-10 hari. Antitoksin baru diberikan apabila muncul gejala penyakit difteri.

Apakah anak carrier perlu diobati?

Pada anak carrier (terinfeksi kuman namun tidak menunjukkan gejala), perlu diberikan antibiotik selama 7-10 hari karena anak carrier dapat menularkan penyakit. Anak ditempatkan pada ruangan khusus (isolasi) sampai terapi antibiotik selesai. Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika hasilnya negatif, anak sudah boleh keluar dan beraktivitas seperti biasa.

Apakah difteri dapat dicegah?

Pencegahan yang terbaik yaitu dengan imunisasi. Untuk imunisasi primer terhadap difteri, digunakan toksoid difteri yang digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP. Jadwal untuk imunisasi DTP pada anak yaitu pemberian 5 dosis, pada usia 2, 4, 6, 18-24 bulan dan 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

jadwal vaksin idai

Selain vaksin DTP yang telah digunakan sejak tahun 1975, beberapa sediaan vaksin yang berisi toksoid-difteri adalah:

  • Vaksin DT : digunakan untuk penguat/booster pada anak >5 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP.
  • Vaksin Td : digunakan untuk penguat/booster pada anak >7 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP atau DT), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP atau DT. Vaksin Td juga diberikan pada program BIAS anak SD kelas I, II dan III. Kandungan toksoid difteri vaksin Td hanya ¼ – ⅒ kandungan toksoid difteri pada vaksin DTP atau DT.

Semoga bermanfaat..

Diana Andarini, dr.

02/04/2016

Referensi

  1. Cem S Demirci, Russell W Steele. Pediatric Diphtheria. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview
  2. Centre for Disease Control and Prevention. Diphtheria for Clinicians. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://www.cdc.gov/diphtheria/clinicians.html
  3. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  4. Sailaja Bitragunta, Manoj V. Murhekar, Mohan D. Gupte. Persistence of Diphtheria, Hyderabad, India, 2003–2006. Emerg Infect Dis. 2008 Jul; 14(7): 1144–1146. doi: 10.3201/eid1407.071167.
  5. Karen S. Wagner, Joanne M. White. Diphtheria in the Postepidemic Period, Europe, 2000–2009. Emerg Infect Dis. 2012 Feb; 18(2): 217–225.doi: 10.3201/eid1802.110987.

Alergi Pada Anak

Alergi merupakan salah satu gangguan sistem imun akibat adanya reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan sehingga muncul gejala setelah terpapar suatu zat, yang bagi sebagian besar orang lain tidak menimbulkan masalah. Kondisi ini sering dikira merupakan akibat dari lemahnya daya tahan tubuh anak oleh para orang tua. Namun, justru penyakit ini muncul karena sang anak memilik sistem imun yang berlebihan terhadap zat tersebut.

Walaupun alergi dapat muncul pada semua usia, kondisi ini umumnya terlihat pertama kali saat masa kanak-kanak hingga dewasa muda. Kondisi ini biasanya diturunkan dari generasi sebelumnya.

Bagaimana Reaksi Alergi Pada Anak Terjadi?

Sistem imun anak terdiri dari sejumlah kumpulan sel yang tersebar pada organ-organ di seluruh tubuh. Pada keadaan normal, sistem imun bekerja untuk melindungi tubuh melawan penyakit dengan cara mencari dan menghancurkan penyusup asing, seperti virus dan bakteri. Pada reaksi alergi, sistem imun bertindak berlebihan dan berusaha melawan zat-zat yang normalnya tidak berbahaya, seperti serbuk bunga atau bulu binatang.

Penyebab

Anak-anak mengalami reaksi alergi setelah kontak dengan alergen atau zat pencetus alergi. Alergen ini dapat terhirup, termakan, atau masuk ke dalam tubuh melalui gigitan atau suntikan obat, atau melalui sentuhan dengan kulit. Reaksi alergi mungkin tidak langsung mucul saat pertama kali, tetapi muncul segera setelah kontak berikutnya atau setelah beberapa kali.

Sebagian anak memiliki kecenderungan alergi karena adanya riwayat alergi dalam keluarga, yang sering disebut dengan memiliki atopi. Anak-anak dengan atopi lebih mungkin menderita alergi karena tubuh mereka memproduksi antibodi (IgE) lebih banyak daripada anak normal.

Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi seperti:

  • Tumbuh di rumah dengan perokok
  • Terkena kontak dengan tungau debu rumah
  • Memiliki binatang peliharaan
  • Mengonsumsi antibiotik tertentu

Laki-laki lebih memiliki kemungkinan memiliki atopi, juga bayi dengan berat lahir rendah. Namun alasannya belum diketahui dengan pasti.

Mengenal Alergen

Beberapa alergen yang umum misalnya:

  • Serbuk sari dari pepohonan, rerumputan, atau tumbuhan liar
  • Berbagai jenis jamur
  • Tungau debu rumah yang ada di tempat tidur, karpet, dan benda-benda rumah tangga lain yang rentan lembab
  • Bulu-bulu binatang seperti kucing, anjing, kuda, dan kelinci
  • Sejumlah jenis makanan dan obat-obatan atau bahan kimia
  • Racun dari gigitan serangga

Reaksi, Tanda dan Gejala Alergi Pada Anak

Reaksi alergi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, pada sejumlah bagian tubuh, dan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Sebagian reaksi alergi akan menghilang setelah masa kanak-kanak, sebagian lagi dapat menetap hingga menimbulkan reaksi yang cukup fatal.

Alergi

Diagram Reaksi Alergi

Anafilaksis merupakan suatu bentuk reaksi berat yang dapat berakibat fatal. Reaksi ini dapat meliputi gejala pada kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan yang memberat dengan cepat hingga anak kesulitan bernapas dan mengalami gangguan sirkulasi. Biasanya reaksi anafilaksis dicetuskan oleh alergi makanan, obat-obatan (terutama golongan penisilin), racun gigitan serangga, latex, dan lain-lain.

Asma merupakan suatu penyakit kronik pada paru yang sering diderita oleh anak dengan alergi. Gejalanya dapat berupa batuk yang berkepanjangan, mengi, kesulitan bernapas, serta rasa tertekan di dada. Selain sejumlah alergen, serangan asma juga dapat dipicu oleh olah raga, udara dingin, infeksi virus, polusi udara, asap berbahaya, serta asap rokok.

Dermatitis kontak alergi adalah reaksi yang terjadi setelah alergen kontak dengan kulit anak. Bentuknya berupa bercak-bercak kering, kemerahan, gatal, dan dapat timbul lepuh pada kasus yang berat. Umumnya bercak-bercak timbul di bagian tubuh yang kontak dengan alergen. Umumnya bentuk ini berhubungan dengan racun-racun dari tanaman atau pepohonan, latex, deterjen dan pembersih, juga bahan-bahan kimia yang terdapat pada barang-barang rumah tangga.

Eksim atau dermatitis atopik merupakan salah satu jenis reaksi alergi pada kulit. Bentuknya berupa bercak-bercak kering kemerahan yang terasa gatal pada daerah lipatan-lipatan kaki, lengan, dan leher. Pada bayi, bercak-bercak ini umumnya bermula dari daerah pipi, belakang telinga, hingga daerah dada, lengan, dan kaki. Reaksi ini bertambah berat pada alergi makanan, atau kontak dengan alergen seperti serbuk bunga, tungau debu, dan binatang berbulu. Selain itu, kondisi ini juga dapat dicetuskan bahan iritan, infeksi, atau keringat.

Pada alergi makanan, gejala yang muncul amat bervariasi, dari muntah, diare, gatal-gatal (biduran), eksim, gangguan bernapas, hingga kemungkinan penurunan tekanan darah atau syok. Makanan yang paling sering menyebabkan reaksi alergi antara lain telur, kacang tanah, susu, kacang-kacangan, kedelai, ikan, gandum, polong-polongan, dan kerang-kerangan.

Alergi serbuk bunga atau dikenal dengan sebutan hay fever biasanya terjadi musiman. Serbuk dapat berasal dari pohon-pohonan, rumput-rumputan, dan tanaman liar lain. Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin-bersin, pilek, mata yang gatal dan berair, serta bengkak atau kemerahan di sekitar mata.

Urtikaria adalah gatal-gatal yang sering disertai dengan bercak-bercak kemerahan pada kulit, dikenal juga dengan sebutan biduran atau kaligata. Bercak-bercak biasanya berpindah-pindah dan menetap di satu tempat selama beberapa jam. Urtikaria dapat terjadi pada alergi makanan, infeksi virus, atau akibat obat-obatan seperti aspirin atau penisilin, walaupun terkadang penyebabnya tidak diketahui.

Sindrom alergi oral adalah sensasi gatal atau geli di dalam mulut, tenggorokan, dan/atau terlinga pada waktu tertentu atau setelah memakan makanan tertentu terutama buah-buahan mentah. Biasanya, jika telah dimasak makanan tersebut dapat ditoleransi dengan cukup baik.

Kapan Curiga Alergi?

Beberapa gejala dan tanda alergi mudah dikenali dengan adanya pola yang berulang setelah kontak dengan zat-zat tertentu. Beberapa lainnya lebih sulit karena tidak terlalu jelas dan dapat menyerupai kondisi atau penyakit lain. Berikut sejumlah petunjuk umum yang mungkin membantu

  • Bercak-bercak kemerahan yang timbul atau gatal dan menetap
  • Muncul biduran
  • Timbul gejala mirip selesma berulang atau kronik, seperti pilek, hidung tersumbat, bersin-bersin, dan tenggorokan berdahak, yang berlangsung lebih dari satu atau dua minggu, atau muncul pada periode yang sama setiap tahun (musiman)
  • Terlihat sering menggosok hidung, bersin-bersin, atau hidung meler
  • Mata yang gatal dan berair
  • Terdapat sensasi gatal atau geli di daerah mulut dan tenggorokan
  • Batuk, mengi, kesulitan bernapas, atau keluhan pernapasan lain
  • Muncul diare, kram perut, dan gejala pencernaan yang yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya

Kapan Perlu ke Dokter?

Gejala-gejala pada reaksi alergi dapat menyerupai kondisi pada penyakit lain seperti pada keracunan makanan, reaksi obat, diare, atau gigitan serangga. Bawalah anak Anda ke dokter bila dalam tiga hari gejala yang dialaminya tidak menunjukkan perbaikan. Akan tetapi jika sebelum tiga hari, kondisi yang dialaminya mengkhawatirkan Anda, misalnya sesak napas, muntah, dan mengganggu aktivitasnya seperti gatal-gatal hebat di seluruh tubuh, maka segeralah bawa ke dokter.

Yang Dilakukan Dokter Anda

Untuk mendeteksi dan memastikan diagnosis alergi pada bayi dan balita, ada beberapa langkah yang akan dilakukan dokter. Dokter akan menggali lebih dalam tentang perjalanan penyakit, keluhan dan gejala, untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan penyakit, termasuk riwayat alergi pada keluarga, dan seberapa sering keluhan anak muncul. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik dan, bila perlu, pemeriksaan penunjang, seperti tes alergi kulit, foto rontgen, pemeriksaan laboratorium, dan lainnya, untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dan memastikan diagnosis alergi.

Penanganan alergi pada bayi dan balita harus dilakukan dengan benar dan berkesinambungan. Hal yang terpenting adalah menghindar dari faktor pencetus alergi. Pemberian obat secara terus-menerus bukanlah solusi. Perlu diketahui, secara teoritis, alergi tidak dapat dihilangkan. Frekuensi kambuhnya saja yang mampu dijarangkan atau dikurangi berat keluhannya.

Yang Dapat Anda Lakukan di Rumah

Cara paling baik untuk mencegah alergi adalah dengan mengetahui zat alergen bagi anak anda. Dengan begitu, anda dapat menjaga anak untuk menghidari kontak dengan alergen tersebut sehingga memperkecil kemungkinan kambuh. Selain itu, anda sebaiknya:

  • Menjaga agar rumah bersih dan kering kering mengurangi tumbuhnya jamur dan tungau debu
  • Hindari memelihara binatang dan tanaman di dalam rumah
  • Hindari semua benda yang diketahui menyebabkan alergi pada anak anda
  • Jangan biarkan ada yang merokok di sekitar anak anda, terutama di rumah dan sekitarnya, serta di mobil anda
  • Kunjungi dokter anda untuk mengetahui obat yang aman dan efektif untuk membantu meringankan atau mencegah gejala alergi

Terapi Alergi pada Anak

Obat alergi yang paling umum digunakan adalah golongan antihistamin. Antihistamin meredam reaksi alergi dengan cara menekan efek histamin pada jaringan tubuh, sehingga mengurangi rasa gatal, bengkak, dan produksi lendir. Bergantung kepada beratnya reaksi alergi, dokter akan memberikan jenis dan dosis antihistamin yang sesuai pada masing-masing anak. Beberapa jenis antihistamin dapat menimbulkan kantuk, sehingga disarankan untuk diminum saat sore hari.

Golongan kortikosteroid juga efektif untuk meredakan gejala. Obat ini tersedia dalam bentuk obat-obat kulit, semprot hidung, obat hisap asma, obat minum pil ataupun cair. Krim dan salep kortikosteroid sering diberikan untuk mengobati eksim pada anak. Semprot hidung sangat efektif untuk mengobati gejala pada hidung.

Untuk beberapa kasus, tersedia pengobatan berupa imunoterapi yaitu memberikan zat alergen kepada anak, dengan cara disuntik atau dengan obat bawah lidah. Tujuannya untuk mengubah reaksi sistem imun dan mengurangi respon terhadap alergen. Setelah imunoterapi, anak biasanya merasa gejala alerginya berkurang dan membaik.

Komplikasi

Anak yang menderita alergi berat dan tidak dikontrol dapat beresiko mengalami anafilaksis atau serangan asthma yang dapat mengancam jiwa. Selain itu, gejala alergi yang berulang dapat membuat anak rentan mengalami infeksi seperti sinusitis, infeksi telinga, paru-paru, kulit, dll. 

Pencegahan

Pencegahan paling efektif ialah menghindari zat pencetusnya. Selain itu, pengaturan pola makan seperti memberi ASI juga dapat mencegah alergi sejak dini.

Pada anak yang telah memiliki alergi diharapkan untuk menghindari alergen seperti makanan, debu, bulu hewan atau serangga. Bila anak dibawa ke dokter, sampaikan bila ada alergi obat tertentu seperti penisilin atau golongan analgesik.

Para ibu tidak harus menghindari makanan-makanan tertentu pada saat hamil dan menyusui, tetapi dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk konsumsi kacang tanah. Para ahli sepakat agar para ibu memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan. Untuk bayi-bayi berisiko tinggi (yaitu bayi dengan minimal satu orang tua atau saudara kandung dengan penyakit alergi) yang tidak dapat menyusui secara eksklusif, lebih baik menggunakan susu formula terhidrolisa yang terlihat lebih memiliki keuntungan dalam mencegah penyakit alergi dan alergi susu sapi. Makanan pendamping ASI diberikan tidak kurang dari usia 4 bulan (pada kasus-kasus tertentu atas rekomendasi dokter yang kompeten) hingga selesai masa ASI ekslusif pada usia 6 bulan. Konsultasikanlah kepada dokter dan ahli gizi mengenai pola makan dan menu yang baik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak anda.

12/24/2015
Reqgi First Trasia, dr.

Editor : Farah Suraya, dr.

Referensi :

  1. Muraro A, et al. 2004. Dietary Prevention of Allergic Disease in Infant and Children: A multidisciplinary review of literature. Paediatr; 15: 196-205
  2. Greer FR, et al. 2008. Effect of Early Nutritional Intervention on the Development of Atopic Disease in infant and Children. Pediatric; 121: 183-191
  3. De Silva D, et al. 2013. Preventing Food Allergy: Protocol for A Rapid Systematic Review. Clinical Transl Allergy; 3: 10
  4. Kramer MS, et al. 2012. Maternal Dietary Allergen Avoidance During Pregnancy or Lactation for Preventing or Treating Atopic Disease in Child. 9:CD0133
  5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 127
  6. Allergies [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Dec 23]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/allergies-asthma/Pages/Allergies.aspx
  7. Allergies Health Center [Internet]. WebMD. [cited 2015 Dec 23]. Available from: http://www.webmd.com/allergies/
  8. Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010 Dec;126(6 0):S1–58.
  9. Prevention of Allergy and Allergic Asthma. Geneva: World Health Organization; 2003.
  10. Fleischer DM, Spergel JM, Assa’ad AH, Pongracic JA. Primary prevention of allergic disease through nutritional interventions. J Allergy Clin Immunol Pract. 2013 Jan;1(1):29–36.
  11. Ruby Pawankar, Giorgio Walter Canonica, Stephen T. Holgate, Richard F. Lockey. White Book on Allergy [Internet]. United States of America.: World Allergy Organization (WAO); 2011. Available from: http://www.worldallergy.org/UserFiles/file/WAO-White-Book-on-Allergy_web.pdf

Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah. Balita dengan gangguan bicara dan bahasa berisiko tinggi mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani, anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orangtua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Salah satu ciri anak mengalami gangguan bicara dan bahasa ialah terlambat bicara. Speech delay atau terlambat ini Paling banyak terjadi pada anak laki-laki, yang keluarganya terdapat riwayat terlambat bicara atau gangguan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan adanya gen FOXP2 yang diturunkan dan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa. Anak juga berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa jika lahir prematur atau berat badan saat lahir rendah (bayi BBLR), tingkat pendidikan orang tua rendah dan kemiskinan.

Jenis-jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak

Ada 2 tipe utama gangguan bicara dan bahasa pada anak, yaitu tipe primer dan sekunder.

Tipe Primer
merupakan gangguan bicara dan bahasa yang murni tanpa ada penyebab/kondisi lain. Contoh gangguan tipe primer misalnya :

  • Perkembangan bicara dan bahasa yang terlambat/ “late bloomers”
    Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Kondisi ini terjadi akibat adanya keterlambatan proses pematangan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Perkembangan bicara dan bahasa anak biasanya akan normal dengan sendirinya.
  • Gangguan bahasa ekspresif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Gangguan ini sulit dibedakan dengan developmental speech and language delay pada usia dini. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa reseptif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses pemahaman.Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, jarang bicara, agrammatic (tatanan bahasa yang salah), dan artikulasi tidak jelas. Anak tidak melihat atau menunjuk pada objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua (hal ini menunjukkan anak kurang/tidak paham). Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa campuran
    Merupakan campuran dari gangguan bahasa ekspresif dan reseptif. Anak memiliki pemahaman yang kurang, menggunakan kata tidak sesuai artinya, sulit mengungkapkan keinginannya, dan kosakatanya terbatas. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.

Tipe Sekunder
merupakan gangguan bicara dan bahasa karena ada penyebab yang jelas atau kondisi lain. Contohnya :

  • Gangguan spektrum autis
    Gangguan spektrum autis merupakan suatu kumpulan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan masalah sosial, komunikasi dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil (misal asalm valproat, thalidomide), usia kedua orang tua >40 tahun saat hamil, dll.
    Gejalanya yaitu anak terlambat bicara, adanya penurunan intelektual, echolalia (mengulang ucapan namun tidak mengerti artinya), kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan, menyebutkan pronoun (saya, kamu, dia) terbalik-balik, dan adanya kemunduran dalam perkembangan bahasa dan bicaranya.
    Anak juga memiliki gangguan interaksi sosial. Tidak ada kontak mata saat diajak bicara, tidak merespon senyuman orang tua, hidup di “dunianya sendiri”, dan sering mengulang gerakan tertentu yang tidak jelas.
    Anak sebaiknya diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain (misal perkembangan motoriknya).
  • Cerebral palsy
    Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan atau postur tubuh yang tidak normal akibat kerusakan/gangguan perkembangan otak. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kernicterus (sakit kuning yang berat), riwayat kejang, perdarahan otak, prematur, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Cerebral palsy tidak semakin memburuk, cenderung menetap seiring pertambahan usia anak. Selain gangguan gerak dan postur tubuh, anak juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, penurunan intelektual, dan gangguan bicara. Gangguan bicara terjadi karena kesulitan koordinasi/kekakuan otot-otot orofaring (dari mulut sampai pita suara). Akibatnya anak sulit mengucapkan kata dan berbicara dengan jelas. Gangguan bicara menyebabkan anak sulit berkomunikasi, yang sering salah diinterpretasikan sebagai gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan stres pada anak dengan CP, terutama yang tingkat intelektualnya normal/di atas rata-rata.
  • Apraksia bicara pada anak
    Apraksia bicara pada anak merupakan salah satu kelainan motorik. Pada kondisi ini otak sulit mengkoordinasikan otot-otot pada bibir, rahang dan lidah. Otot anak tidak lemah atau lumpuh seperti pada kondisi cerebral palsy. Pada sebagian besar anak penyebabnya tidak jelas, sebagian lagi disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan otak. Ciri-cirinya yaitu:

    • Lebih sering menyederhanakan kata dengan menghilangkan bunyi yang sulit dibanding anak normal
    • Dapat memahami bahasa jauh lebih baik dibanding yang bisa diucapkannya
      Sering salah mengucapkan kata namun tidak konsisten
    • Ucapan yang ditiru lebih jelas dibandingkan ucapan yang spontan
      Sulit mengucapkan kata atau kalimat yang panjang
    • Ucapan terdengar monoton, terbata-bata, atau menekan pada kata atau silabus yang salah
  • Disartria
    Disartria merupakan jenis kelainan motorik. Pada kondisi ini otot-otot pada bibir, lidah, pita suara dan/atau diafragma anak lemah. Penyebabnya yaitu adanya kerusakan otak pada tingkat yang lebih rendah dibanding kerusakan otak pada apraksia. Anak paham dan mengetahui apa yang ingin diucapkan, namun artikulasinya tidak jelas. Ciri-cirinya yaitu:

    • Ucapannya berantakan, bicara cepat seperti bergumam
    • Gerakan lidah, bibir dan rahang terbatas
    • Kualitas suara berubah, seperti serak atau sengau
  • Retardasi mental
    Anak dikatakan retardasi mental bila memenuhi 3 kriteria, yaitu fungsi intelektual dibawah normal (IQ <70), terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial, dan gejala timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental dapat disebabkan adanya kelainan genetik, riwayat kernicterus (sakit kuning yang berat), perdarahan otak, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Retardasi mental bisa menyebabkan terlambat bicara. Selain itu, anak juga terlambat menggunakan gestur/gerakan sebagai sarana komunikasi. Pemahaman anak pun kurang terhadap perintah orang lain. Perbedaannya dengan yang lain, pada retardasi mental anak mengalami keterlambatan di semua aspek perkembangan (motorik, sosial dan kemandirian, dll )
  • Gangguan pendengaran
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan bicara juga. Terlebih lagi bila gangguan pendengaran terjadi di usia dini. Hal ini disebabkan anak kekurangan perbendaharaan kata/informasi yang ia perlu dengar sebelum ia ungkapkan dalam kata atau kalimat.Gangguan pendengaran bisa karena sumbatan/infeksi telinga luar, tetapi bisa juga karena saraf. Ciri anak yang mengalami gangguan bicara akibat masalah pendengaran yaitu : Anak biasanya memiliki suara yang berbeda (terdistorsi/sengau), kesulitan mengeluarkan suara s, f, th, dll yang berfrekuensi tinggi, namun anak memiliki kontak mata dan interaksi sosial yang normal. Anak dengan gangguan pendengaran yang diterapi pada usia dini menunjukkan kemampuan bicara dan bahasa yang setara dengan anak tanpa gangguan pendengaran. Jadi penting sekali mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin.
  • Selective mutism
    Pada kondisi ini anak tidak bicara karena tidak mau, bukan karena tidak bisa. Selective mutism lebih sering pada anak perempuan. Anak biasanya mau bicara saat sedang sendiri, dengan orang tua atau keluarganya, namun anak tidak mau bicara di tempat umum (misal sekolah) atau dengan orang asing. Sebagian anak dengan selective mutism juga mengalami gangguan artikulasi atau bahasa. Selain itu, anak dengan selective mutism juga menunjukkan gejala kesulitan beradaptasi, terlalu bergantung pada orang tuanya. Pada umumnya anak akan menarik diri, malu, cenderung penakut dan pesimis.

Diagnosis

Identifikasi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa akan berlanjut dengan terapi. Terapi sebaiknya dilakukan pada usia dini, saat otak anak masih berkembang pesat sehingga bisa dicapai hasil yang terbaik. Oleh karena itu, deteksi dini anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa sangat penting. Tanda-tanda anak Anda berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa bisa dilihat disini.

Saat anak Anda dibawa ke dokter, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, fungsi pendengaran, motorik kasar dan halus. Lalu dokter akan melakukan check list dari instrumen tumbuh kembang anak seperti Denver II dan Early Language Milestone Scale. Orang tua akan diminta untuk mengisi kuesioner. Jika dibutuhkan, anak Anda juga diminta untuk melakukan cek darah dan tes genetik.

Terapi

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe primer, terapi bicara dan bahasa terbukti efektif. Penelitian pada anak usia 2 tahun dengan gangguan bicara dan bahasa yang diterapi intensif, 75% anak perkembangan bicara dan bahasanya normal pada usia 3 tahun.

Terapi wicara
Salah satu contoh terapi bicara dan bahasa adalah terapi wicara. Pada saat terapi, anak akan berada di dalam satu ruangan berhadapan dengan terapisnya. Kegiatan saat terapi wicara mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Intervensi bahasa
    Terapis berinteraksi dengan anak melalui permainan dan mengobrol, menggunakan gambar, buku, mainan, dll. Terapis juga mencontohkan penggunaan kosakata dan susunan kalimat yang benar, dengan latihan berulang-ulang.
  • Artikulasi/produksi suara
    Terapis mencontohkan pengucapan huruf dan suku kata yang benar. Terapis memperlihatkan dan memperagakan gerakan mulut dan lidah saat mengucapkan huruf dan suku kata.
  • Oral-motor
    Terapis menggunakan beberapa latihan oral, misalnya facial massage (pijat wajah), latihan lidah, bibir dan rahang. Latihan tersebut untuk memperkuat otot-otot mulut.
Terapi wicara pada gangguan bicara dan bahasa

Terapi wicara

Terapi SI (sensory integration)
Ternyata sebagian anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya juga memiliki gangguan integrasi sensori. Sistem sensori yang terkoordinasi dengan baik dapat mengintegrasikan stimulasi dari berbagai sumber (vestibular/sistem keseimbangan, visual/penglihatan), propioseptif, auditori/pendengaran, dan taktil/sentuhan). Gangguan integrasi sensori muncul saat saraf-saraf sensori tidak berfungsi atau fungsinya tidak efektif, yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak. Pada saat terapi SI, anak akan diajak bermain dan melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengintegrasikan sistem sensorik dengan berbagai stimulasi.

Terapi SI pada Gangguan Bicara dan Bahasa

Terapi SI

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe sekunder, dokter akan melakukan terapi bicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi. Selain itu, terapi lain juga diperlukan sesuai penyebab dan kelainan penyertanya. Misalnya anak dengan cerebral palsy dan retardasi mental membutuhkan fisioterapi, anak dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar dan terapi AVT (auditory verbal therapy), dll.

Kesimpulan

Speech delay/terlambat bicara hanya merupakan tanda adanya gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, yang harus dicaritahu penyebabnya. Orang tua cenderung menunggu anak bisa bicara normal dengan sendirinya, namun dari semua jenis gangguan bicara dan bahasa, hanya 1 jenis yang dapat sembuh sendiri, sementara hampir semua gangguan bicara dan bahasa diakibatkan adanya gangguan/kerusakan otak. Terapi sebaiknya tidak ditunda dan dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta mencegah timbulnya masalah kognitif dan psikososial pada anak di kemudian hari.

Diana Andarini, dr.

12/22/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Childhood apraxia of speech. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/ChildhoodApraxia/
  4. Simon E. Fisher, Cecilia S.L. Lai, and Anthony P. Monaco. Deciphering the genetic basis of speech and language disorders. Annual Review of Neuroscience 2003; 26:57-80. DOI:10.1146/annurev.neuro.26.041002.131144. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12524432
  5. A Buschmann, B Jooss, A Rupp. Parent based language intervention for 2-year-old children with specific expressive language delay: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2009; 94:110-116. doi:10.1136/adc.2008.141572. Cited from http://adc.bmj.com/content/94/2/110.full
  6. Sensory integration therapies for children with developmental and behavioral disorders. Pediatrics 2012;129:1186-1189. DOI: 10.1542/peds.2012-0876. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/early/2012/05/23/peds.2012-0876.full.pdf
  7. Speech Language Therapy. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://kidshealth.org/parent/system/ill/speech_therapy.html#
  8. Hanifah Oswari, Rudianto Sofwan. 123 Penyakit dan Gangguan pada Anak. 2009 Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
  9. Gregory Hickok, John Houde, Feng Rong. Sensorimotor Integration in Speech Processing: Computational Basis and Neural Organization. Neuron 2011; 69(3):407-422. doi:10.1016/j.neuron.2011.01.019
  10. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Palsy: Hope Through Research. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.ninds.nih.gov/disorders/cerebral_palsy/detail_cerebral_palsy.htm
  11. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Dysarthria. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/
  12. CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  13. Heidi D. Nelson, Peggy Nygren, Miranda Walker, Rita Panoscha. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006; 117(2):298-319. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/117/2/e298.full
  14. Margaret J. Snowling, D.V.M. Bishop, Susan E. Stothard. Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2006; 47(8):759-765. DOI: 10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x. Cited from onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x/abstract
  15. Michael I. Shevell, Anneta Majnemer, Richard I. Webster. Outcomes at school age of preschool children with developmental language impairment. Pediatric Neurology 2005; 32(4):264-269.  doi:10.1016/j.pediatrneurol.2004.12.008

Malaria Pada Anak

Malaria ialah penyakit yang disebabkan oleh parasit. Parasit ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Apabila tertular penyakit malaria, anak dapat mengalami gejala dari ringan sampai berat. Malaria pada anak dan bayi amat ditakuti karena dapat mengakibatkan kelumpuhan, cacat permanen, gangguan fungsi otak bahkan kematian.

Malaria di Indonesia

Di Indonesia penyakit malaria tersebar di seluruh pulau meskipun dengan jumlah penyakit yang berbeda-beda. Mayoritas kasus malaria terjadi di wilayah Indonesia Timur, terutama di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Penyebab Malaria Pada Anak

Ada beberapa parasit penyebab malaria. Di Indonesia, yang terbanyak adalah parasit Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae dan Plasmodium vivax. Parasit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina Begitu parasit penyebab malaria masuk ke dalam tubuh, ia akan tumbuh di dalam sel hati. Setelah itu, parasit akan menghancurkan sel darah merah sehingga mengakibatkan demam.

Siklus Malaria Pada Anak

Siklus Malaria Pada Anak

Penyakit malaria pada anak sendiri dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, di antaranya malaria tropikana, tertiana dan kuartana. Malaria tropikana ialah malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Anak yang menderita penyakit ini mungkin mengalami gejala yang paling berat. Malaria tertiana disebabkan oleh parasit Plasmodium vivax. Disebut tertiana karena gejala demam terjadi tiap hari ke tiga. Sedangkan pada malaria kuartana, malaria yang disebabkan Plasmodium malariae, gejala demam akan muncul setiap hari ke empat dari mulai muncul gejala.

Tanda dan Gejala Malaria Pada Anak

Gejala malaria pada anak amat bervariasi mulai dari yang ringan sampai berat dan mengancam jiwa. Pada umumnya, anak yang mengalami malaria akan mengalami tiga gejala khas :

  • Menggigil, selama 15-60 menit
  • Demam, selama 2-6 jam, dimana suhu tubuh antara 37,5-40o C
  • Berkeringat selama 2-4 jam

Selain itu, tidak jarang anak mengeluhkan sakit kepala, mual muntah, nyeri badan atau pegal-pegal.

Pada malaria berat, anak dapat mengalami penurunan kesadaran seperti selalu terlihat mengantuk dan sulit untuk dibangunkan. Selain itu, dapat terjadi kejang, demam yang amat tinggi, kulit atau mata menjadi kuning, mimisan atau pendarahan gusi, sampai sesak nafas.

Kapan Perlu ke Dokter?

Ketika Anda curiga muncul gejala malaria pada anak, segeralah ke dokter atau Puskesmas. Terlebih lagi apabila anak Anda mengalami demam setelah bepergian dari daerah endemik malaria. Hal ini dikarenakan pengobatan malaria paling baik dilakukan secara cepat untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan.

Diagnosis

Setelah dokter bertanya dan melakukan pemeriksaan fisik pada anak Anda, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan darah untuk memastikan ada tidaknya malaria. Diagnosis pasti malaria ditegakkan setelah dokter menemukan parasit malaria di dalam darah lewat mikroskop. Namun, dalam keadaan emergensi atau di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas laboratorium, pemeriksaan tes diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test) dapat digunakan. Tes ini dapat mendeteksi antigen parasit malaria dalam tubuh penderitanya.

Terapi Malaria Pada Anak

Terapi malaria bertujuan untuk membunuh semua parasit penyebab malaria yang ada dalam tubuh anak. Pengobatan malaria di Indonesia menggunakan Obat Anti Malaria (OAM) kombinasi. Saat ini yang digunakan program nasional ialah obat dari turunan artemisinin dengan golongan aminokuinolin. Penggunan obat anti malaria disesuaikan dengan kondisi anak, parasit penyeba dan tingkat keparahannya. Semua obat ini tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung. Oleh sebab itu, anak harus makan terlebih dulu setiap akan obat anti malaria.

Jika ditemukan gejala malaria berat atau sudah terjadi komplikasi, dokter akan memberi obat anti malaria suntik dan merujuk ke rumah sakit. Anak mungkin butuh untuk dirawat karena akan dipantau secara berkala dan diberi obat anti malaria melalui infus.

Komplikasi

Parasit penyebab malaria dapat menyerang ke berbagai organ tubuh. Pada anak, malaria dapat berakibat fatal karena mampu menyerang otak, sel-sel darah, hati, dll. Gejala malaria berat pada anak meliputi :

  • Hipoglikemia (gula darah rendah). Gejala ini merupakan gejala malaria berat tersering pada anak. Hipoglikemia dapat menyebabkan penurunan kesadaran yang dicirikan dengan anak terlihat terus mengantuk, tidak berespon atau sulit dibangunkan
  • Anemia berat (jumlah sel darah merah yang sangat rendah, Hb <5 g%) yang dicirikan dengan anak sangat pucat dan lemah
  • Kejang berulang
  • Kulit, mata terlihat kuning akibat sel darah merah yang pecah.
  • Pendarahan spontan seperti mimisan dan gusi berdarah
  • Gagal ginjal
  • Demam yang sangat tinggi >40oC
  • Sesak nafas
  • Syok

Pencegahan

Saat ini pemerintah terus berusaha memberantas malaria melalui program Gebrak Malaria (Gerakan Eliminasi Radikal Malaria) terutama di daerah endemi. Pada program ini, pemerintah mendorong pencegahan malaria dengan membagikan kelambu berinsektisida, melakukan skrining dan pengobatan masal.

Upaya pencegahan malaria dari diri sendiri yang paling efektif dilakukan ialah menghindari gigitan nyamuk Anopheles penyebab malaria. Cara ini dapat dilakukan dengan :

  • Hindari keluar rumah dan tutup jendela saat malam tiba. Nyamuk Anopheles aktif menggigit manusia pada sore dan malam hari yaitu pukul 17.00-18.00, sebelum jam 24 (20.00-23.00) dan setelah jam 24
  • Gunakan baju atau celana panjang dan selimut saat tidur
  • Gunakan kelambu berinsektisida terutama bagi anak dan ibu hamil. Kelambu ini efektif sampai 3-5 tahun dan dapat dicuci secara teratur 3 bulan sekali. Insektisida dalam kelambu ini tidak berbahaya bagi ibu hamil, janin dan anak.


  • Gunakan lotion anti nyamuk yang mengandung DEET (N, N diethylmetatoluamide). Pada anak sebaiknya gunakan yang konsentrasi DEET rendah (24%) karena zat kimia yang terlalu banyak dapat menyerap ke dalam kulit
  • Hindari bepergian ke daerah yang endemi (banyak terjadi malaria) terutama kelompok yang beresiko seperti ibu hamil, anak yang terlalu muda, atau orang tua.

Nyamuk Anopheles berkembang biak di area persawahan, perbukitan/hutan dan pantai/aliran sungai. Kerjasama dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pengendalian jentik nyamuk atau penyemprotan. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan dari genangan air di rumah dan sekitarnya.

Reqgi First Trasia, dr.

12/03/2015

Referensi:

  1. Abdulla S, et al. 2001. Impact on Malaria morbidity in children aged under 2 years in Tanzania: community cross sectional study. British Medical Journal 322: 270-273
  2. Audibert M, et al. 2002. Malaria in the Logone Valley, Cameroon. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene; 42: 550-560
  3. De Bartolome CA, et al. 2003. A case study of Malaria treatment in Brazil. Journal of Health Economics; 14: 191-205
  4. Baume C, et al. 2004. Patterns of Care for childhood Malaria in Zambia. Social Science and Medicine; 51: 1419-1503
  5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 164
  6. 65_PMK No. 5 Ttg Pedoman Tata Laksana Malaria [Internet]. Scribd. [cited 2015 Dec 3]. Available from: https://ml.scribd.com/doc/211815570/65-PMK-No-5-Ttg-Pedoman-Tata-Laksana-Malaria
  7. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan [Internet]. 1st ed. Indonesia: Departemen Kesehatan; 2013. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/documents/976-602-235-265-5-buku-saku-pelayanan-kesehatan-ibu.pdf
  8. dr. Ferdinand J Laihad, MPHM. Epidemiologi Malaria di Indonesia. Jendela Data Dan Info Kesehatan. 2011;
  9. Malaria-Prevention [Internet]. WebMD. [cited 2015 Dec 3]. Available from: http://www.webmd.com/a-to-z-guides/malaria-prevention
  10. dr. Rita Kusriastuti, MSc. Pedoman Penggunaan Kelambu Berinsektisida Menuju Eliminasi Malaria. Kementeri Kesehat RI TAHUN 2011 [Internet]. 2011; Available from: http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Buku_saku_menuju_eliminasi_malaria.pdf

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Sekilas Tentang Demam

Demam pada anak cukup sering dialami. Seperti halnya batuk, muntah dan diare, sebenarnya demam bukanlah penyakit. Demam merupakan sebuah gejala yang menunjukkan bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam tubuh. Anak dikatakan demam bila suhu tubuhnya di atas 37,5oC saat diukur dari mulut dan 38oC saat diukur dari dubur. Umumnya, demam bukan kondisi yang berbahaya bagi jiwa. Justru demam merupakan bukti bekerjanya mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi infeksi. Mencari tahu penyebab demam sangat penting artinya bagi orang tua. Dengan demikian, langkah-langkah penanganan terhadap anak pun dapat dilakukan.

Proses Terjadinya Demam

Peningkatan suhu tubuh saat demam dikarenakan dalam tubuh terdapat molekul kecil bernama pirogen (sebagai zat pencetus panas). Terjadinya peningkatan pirogen disebabkan oleh infeksi, radang, alergi, tumbuh gigi, atau dampak pemberian imunisasi tertentu. Ketika terkena infeksi, tubuh sengaja menciptakan demam sebagai upaya membantu menyingkirkan infeksi. Caranya dengan mengerahkan sel darah putih (leukosit) sebagai pasukan khusus dalam sistem kekebalan tubuh. Agar daya gempurnya tinggi terhadap infeksi, sel darah putih butuh sokongan pirogen. Sebenarnya ada dua tugas pirogen:

  1. Menuntun sel darah putih ke tempat infeksi
  2. Meningkatkan suhu tubuh melalui demam dengan tujuan menghambat pertumbuhan kuman.

Bila anak mengalami demam, biasanya diawali oleh tubuh menggigil. Lalu dengan cepat suhu meningkat di atas suhu yang normal. Suhu itu menetap dan akhirnya menurun. Anak yang sedang demam biasanya rewel, sulit tidur, dan tidak mau makan.

Demam Pada Anak : Kapan Perlu ke Dokter?

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Cara Mengatasi Demam Pada Anak

Saat anak mengalami demam, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua sebelum ke dokter:

  1. Pastikan sirkulasi udara ruangan tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Kipas angin dapat pula difungsikan disini.
  2. Beri pakaian yang mampu menyerap keringat. Jangan terlalu tebal atau tipis.
  3. Teruskan pemberian gizi yang seimbang.
  4. Sebaiknya jangan terburu memberikan obat demam apabila panasnya tidak terlalu tinggi. Sebab naiknya suhu tubuh merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus.
  5. Beri banyak minum, termasuk ASI bagi bayi yang masih menyusui. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi komplikasi dehidrasi. Dengan minum banyak, akan memulihkan cairan tubuh yang mungkin berkurang akibat dehidrasi.
  6. Lakukan pengompresan saat suhu tubuhnya meningkat, bahkan mencapai 40o C. sebaiknya mengompres dilakukan dengan mendudukan anak di bath tub (bak mandi) dengan air hangat (30-32oC C). beri mainan jika ia menolak didudukkan. Atau dapat juga membasuhkan waslap yang telah dicelup air hangat ke sekujur tubuhnya.
  7. Pada balita yang sudah agak besar, jika suhu tubuhnya melebihi 38o C dan terus menerus rewel atau tidak nyaman, cobalah beri obat penurun panas khusus anak. Sebaiknya jangan memberi aspirin karena akan berdampak buruk pada hati. Berilah paracetamol atau ibuprofen dengan tetap mematuhi aturan pemakaian. Hentikan jika suhu tubuh kembali normal.

Sebaiknya orangtua segera membawa anak ke dokter bila menemukan tanda-tanda ini saat anak demam.  Semoga bermanfaat.

Reqgi First Trasia, dr.

11/23/2015

Referensi:
1. Efstathiou SP, Pefanis AV, Tsiakou AG, et al. 2010. Fever of Unknown Origin: Discrimination between Infectious and Non-infectious Causes. Eur J Intern Med; 21:137
2. Tolan RW Jr. 2010. Fever of Unknown Origin: a diagnostic Approach to this Vexing Problem. Clinical Pediatry, Philadelphia; 49:207-213
3. Joshi N, et al. 2008. Clinical Spectrumof Fever of Unknown Origin among Indian Children. Ann Trop Paediatric ; 28: 261-266
4. Iwanczak B, et al. 2007. Management of Fever Without Source in Children. Przegl Lek; 64 (Suppl3):20-24
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 120

Tanda Balita Sehat dan Balita Sakit

Kondisi balita yang senantiasa sehat tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Dengan begitu proses tumbuh kembang bayi dan balita dapat berlangsung lebih optimal. Sementara jika sang buah hati dirundung sakit, terlebih lagi jika sering, proses tumbuh kembangnya pun akan terganggu. Berikut ini tanda balita sehat dan sakit yang perlu orangtua ketahui.

Tanda Bayi dan Balita Sehat

Bayi dan balita sehat umumnya ditandai oleh:

  • Matanya yang cemerlang saat menatap
  • Bergerak aktif, di mana gerakannya itu melibatkan tubuh, kepala, kaki, dan tangan secara seimbang. Terlihat lincah dan antusias jika diajak bermain.
  • Nafsu makannya baik
  • Tangisannya cukup bertenaga dan mudah ditenangkan lagi
  • Senantiasa responsif (tersenyum dan tertawa) ketika diajak bicara
  • Suhu tubuh normal yaitu 36,5-37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut
  • Kulitnya bersih. Jika terjadi luka goresan mudah sembuh
  • Giginya putih cemerlang. Warna gusinya merah muda dan tidak mudah berdarah
  • Kukunya kuat dan berwarna agak kemerahan
  • Rambut tidak kusam dan rontok
  • Tidurnya nyenyak dalam waktu yang cukup
  • Buang air besar dan kecil lancar

Tanda Bayi dan Balita Sakit

Sementara pada bayi dan balita yang sakit umumnya ditandai oleh:

  • Matanya tidak cemerlang dan terlihat sayu
  • Terlihat lemas dan malas bergerak
  • Lebih banyak tidur dari biasanya dan sulit untuk dibangunkan
  • Kurang respon terhadap lingkungan
  • Malas menyusui, minum dan makan
  • Suhu tubuh lebih dari 37,5oC saat diukur dengan termometer dari mulut. Hati-hati bila saat anak demam kulit teraba dingin atau anak menjadi diam dan lesu
  • Anak kesulitan bernafas yang ditandai nafas menjadi cepat, nafas berbunyi, dan usaha nafas anak meningkat (sampai terlihat anak nafas dari mulut, anak mengangkat pundak saat bernafas atau terlihat cekungan pada perut).
  • Menjadi rewel dan sulit ditenangkan
  • Kulit terlihat pucat, membiru atau berbintik-bintik
  • Muncul ruam-ruam di kulit yang biasanya tidak ada
  • Diikuti gejala susulan seperti hidung berair, batuk, muntah, mencret, kejang dan lain-lain, tergantung dari penyakit yang dialaminya.

Memang bayi dan balita umumnya sangat rentan terhadap beragam penyakit. Apalagi jika orangtua kurang optimal mencurahkan perhatian pada kesehatannya. Kecukupan asupan gizi yang tepat dan berimbang, jadwal imunisasi yang terpenuhi dengan baik, perawatan keseharian yang memadai, serta pembiasaan sikap hidup bersih dan sehat dalam keluarga, sangat menentukan kualitas kesehatan bayi dan balita Anda.

Namun, ada kalanya bayi dan balita tetap mengalami gangguan kesehatan, padahal perawatan telah diberikan secara optimal. Hal itu dapat terjadi karena beragam faktor. Misalnya penularan penyakit oleh virus atau bakteri yang terbawa melalui air atau udara, sistem kekebalan tubuh bayi yang sedang menurun, adanya faktor bawaan (genetik) dari orangtua, adanya wabah tertentu yang menyerang suatu daerah, dan sebagainya.

Untuk itu, kepekaan dan kewaspadaan orang tua terhadap gejala awal penyakit yang diderita anak menjadi sangat penting. Di samping itu, moto mencegah lebih baik daripada mengobati kian relevan bagi keluarga dalam merawat dan membesarkan anak. Jangan lupa untuk membawa bayi balita anda ke tenaga kesehatan untuk diperiksa. Hindari mengobati anak sendiri tanpa informasi keamanan cara dan produk yang jelas. Semoga bermanfaat

Depok, 17 September 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi:

  1. J Robinson, et al. 2014. Evidence-Based Child Health: A Cochrane Review Journal. USA
  2. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 118
  3. Does your child have a serious illness?. NHS UK. 22/04/2014 http://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/pages/spotting-signs-serious-illness.aspx#close

Penyakit Celiac (Celiac Disease)

Penyakit celiac (celiac disease) ialah penyakit turunan dimana seseorang tidak dapat mengkonsumsi makanan mengandung gluten. Gluten ialah protein yang ditemukan pada makanan olahan gandum, rye dan barley seperti tepung terigu, roti, kue, biskuit, dll. Pada penyakit Celiac, sistem tubuh penderita penyakit ini akan menyerang sel tubuh yang sehat bila mengkonsumsi gluten. Hal ini akan menimbulkan kerusakan pada organ terutama usus halus.

141

Usus penderita penyakit celiac

Apa Penyebab Penyakit Celiac?

Belum diketahui secara pasti apa penyebab penyakit Celiac. Namun, diduga faktor genetik dan lingkungan memegang peranan penting dalam perkembangan penyakit ini. Sehingga bila ada keluarga yang mengidap penyakit Celiac, ada kemungkinan gen penyakit tersebut diturunkan ke generasi berikutnya. Satu-satunya faktor lingkugan yang mencetuskan gejala penyakit celiac adalah gluten.

Seberapa sering Penyakit ini terjadi?

Penyakit celiac umum terjadi pada orang Eropa dan Amerika Utara. Namun, saat ini penyakit celiac mulai terdeteksi di populasi orang Afrika, Timur Tengah dan Asia. Di Indonesia penyakit celiac masih jarang terjadi.

Penyakit celiac bisa terdeteksi di usia berapapun. Namun, penyakit ini jarang terjadi pada manula (di atas 60 tahun. Gejala klasik penyakit ini biasanya mulai terlihat pada anak usia 9-18 bulan.

Apa Gejala Penyakit Celiac?

Orang yang mengidap penyakit celiac bisa saja tidak menunjukkan gejala setelah mengkonsumsi gluten. Namun, pada umumnya gejala yang muncul setelah terpapar gluten berupa :

  • Diare kronis
  • Perut kembung
  • Nyeri perut
  • Tidak nafsu makan
  • Muntah
  • Berat badan sulit naik
  • Badan terasa lemah
  • Gizi kurang atau gizi buruk

Selain itu, terdapat gejala di luar saluran pencernaan, seperti :

  • Anemia (kurang darah) karena gangguan penyerapan besi dan folat dari usus halus
  • Pendarahan akibat gangguan penyerapan vitamin K
  • Osteoporosis karena kekurangan kalsium, vitamin D
  • Gangguan saraf seperti kelemahan otot dan baal
  • Gangguan kulit, disebut juga dermatitis herpetiformis, yaitu munculnya bruntus-bruntus yang gatal di punggung tangan dan kaki, punggung, bokong, kepala dan leher.
  • Gangguan hormonal seperti terlambat haid, infertilitias dan impoten

Meskipun jarang, pada penderita penyakit ini bisa terjadi gejala yang mengancam jiwa seperti lemah, diare akut hebat, perut yang amat kembung, dehidrasi berat, tekanan darah turun, gangguan keseimbangan elektrolit dan lemah.

Bagaimana mendiagnosis penyakit celiac?

Diagnosis penyakit celiac ditegakkan dari gejala, pemeriksaan fisik dan penunjang. Tes darah yang digunakan untuk mengetahui penyakit ini ialah tes anti TTG-IgA (Transglutainasi Imunoglobulin A). Tes ini berfungsi untuk mendeteksi antibodi terhadap gluten. Bila hasilnya positif, pemeriksaan biopsi jaringan mungkin dibutuhkan untuk memastikan diagnosis penyakit celiac. Pada pemeriksaan ini, dokter akan meneropong saluran pencernaan Anda lewat endoskopi. Setelah itu, jaringan sel usus akan diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Apa terapi penyakit celiac?

Bila Anda didiagnosis mengalami penyakit Celiac, pengobatan utama yang paling efektif ialah diet bebas gluten seumur hidup. Anda perlu menghindari makanan apapun yang mengandung gandum, rye, barley seperti yang terdapat pada tepung terigu, tepung gandum, mi, roti, kue, keripik, dsb. Untungnya, nasi, ubi, singkong atau kentang yang menjadi makanan pokok di Indonesia tidak mengandung gluten. Begitu juga lauk pauk seperti ikan, daging, ayam juga sayur dan buah.

Diet bebas gluten perlu konsultasi dan pengawasan dari ahli gizi karena Anda mungkin beresiko kekurangan vitamin B, kalsium, zat besi, magnesium dan serat.

Pada penderita yang sulit menjalani diet bebas gluten atau gejala penyakit celiac tetap muncul setelah diet mungkin dibutuhkan obat penurun kekebalan tubuh. Golongan yang umum digunakan ialah kortikosteroid.

Apa komplikasi dari Penyakit Celiac?

Resiko penyakit Celiac yang dikhawatirkan ialah kanker. Kerusakan dari sel tubuh secara jangka panjang dapat menyebabkan keganasan pada saluran pencernaan seperti kanker mulut, kerongkongan, esofagus, pankreas sampai usus.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/17/2015

Referensi

1. Ivor D Hill, MD. Diagnosis of celiac disease in children. Uptodate. 2015 Oct 22;
2. Ivor D Hill, MD. Management of celiac disease in children. Uptodate. 2014 Jun 30;
3. Celiac Sprue: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 17 [cited 2015 Nov 17]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/171805-overview
4. Gujral N, Freeman HJ, Thomson AB. Celiac disease: Prevalence, diagnosis, pathogenesis and treatment. World J Gastroenterol WJG. 2012 Nov 14;18(42):6036–59.

Flu Singapura Pada Anak

Orangtua mungkin ada yang bingung ketika anaknya didiagnosis terkena flu Singapura padahal tidak ada riwayat bepergian ke negeri tersebut. Flu Singapura memang hanya istilah awam dari HFMD (Hand Foot Mouth Disease) atau PTKM (Penyakit Tangan Kaki Mulut). Masyarakat menamakan Flu Singapura karena penyakit ini memang jadi wabah di negeri tersebut meskipun sebenarnya HFMD pertama kali ditemukan di Kanada .

Apa itu Flu Singapura?
Flu Singapura atau Penyakit Tangan Kaki Mulut (PTKM) ialah penyakit yang ditandai dengan ruam pada mulut, tangan dan kaki. Penyakit ini paling sering menyerang anak di bawah 7 tahun meskipun dapat pula menjangkit orang dewasa.

Apa penyebab Flu Singapura?
Flu Singapura disebabkan oleh kelompok Enterovirus. Paling banyak ialah yang berasal dari jenis Coxackievirus A16 dan Enterovirus A17. Di Asia Pasifik, Enterovirus A71 paling sering menyebabkan wabah.

Bagaimana cara penularan virus ini?
Penularan terjadi apabila virus yang terkandung dalam cairan mulut, saluran nafas atau feses penderita tertelan oleh orang yang sebelumnya sehat. Selain itu, virus juga dapat menular apabila ada kontak langsung dengan lesi kulit penderita. Pada beberapa jenis virus, penularan dapat terjadi melalui udara. Penyakit ini paling aktif ditularkan saat minggu pertama anak sakit.

Setelah tertelan, virus akan membelah di kelenjar getah bening usus dan saluran nafas. Lalu virus bisa menyebar ke kelenjar getah bening setempat. Pada kondisi ini, infeksi hanya sebatas pada organ lokal seperti kulit, jantung, hati atau saraf. Namun, dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berlanjut sampai menyebabkan kematian sel tubuh penderita.

Apa gejala flu singapura?
Beberapa gejala yang muncul ialah:

  • Ruam di tangan, kaki, dan mulut (biasanya di lidah dan pipi dalam). Ruam bisa berupa kemerahan, bruntus atau bruntus berisi cairan. Selain di tiga tempat tersebut, ruam bisa muncul di tempat lain seperti bokong dan kemaluan.

Hand-Foot-and-Mouth-Disease

  • Nyeri tenggorokan
  • Anak tidak mau makan
  • Demam sumeng-sumeng (biasanya dibawah 38.3oC)

Bagaimana cara mengobatinya?
Ayah ibu tidak perlu khawatir karena sebagian besar anak akan sembuh dengan sendirinya bila terkena Flu Singapura. Namun, memang saat anak terkena penyakit ini ia akan sangat merasa tidak nyaman. Beberapa cara yang dapat ayah ibu lakukan untuk meredakan gejala ialah:

  • Memberi minuman yang cukup untuk menjaga kelembaban tubuh. Air dingin lebih disarankan karena dapat memberi rasa nyaman dan meredakan nyeri
  • Bila anak masih merasa nyeri atau demam, Anda bisa memberikan Parasetamol atau Ibuprofen.
  • Hindari makanan pedas atau asam karena dapat membuat ruam terasa perih

Bagaimana pencegahan Flu Singapura?
Sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah Flu Singapura. Sehingga penting sekali untuk melakukan tindakan pencegahan seperti:

  1. Mencuci tangan terutama sebelum makan, menyiapkan makanan, setelah buang air, mengganti popok atau membersihkan pup anak. Ingat, virus dapat menginfeksi tubuh seseorang apabila tertelan. Jadi langkah cuci tangan amatlah penting.
  2. Bersihkan permukaan yang terkontaminasi ruam kulit, cairan mulut atau feses penderita
  3. Liburkan anak di rumah dari sekolah atau penitipan anak bila terkena Flu Singapura
  4. Hindari mencium anak yang sedang terkena Flu Singapura
  5. Jangan berbagi alat makan, sikat gigi, pakaian atau handuk
  6. Hati-hati bila bepergian ke tempat yang sedang wabah penyakit ini.

Perlukah Anak Saya dirawat di RS?
Anak yang menderita Flu Singapura bisa jadi butuh perawatan di rumah sakit apabila :

  • Anak tidak mampu minum yang cukup sehingga perlu diinfus
  • Muncul komplikasi seperti :
    Radang otak, ditandai dengan anak sulit bangun, respon berkurang, kejang.
    Radang selaput otak, biasanya leher anak menjadi kaku, respon berkurang juga kejang.
    Kelumpuhan
    Infeksi selaput jantung

Agustina Kadaristiana, dr.

11/11/2015

Referensi
1. Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). CDC [Internet]. 2015 Sep 18; Available from: http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/index.html
2. José R Romero, MD, FAAP. Hand, foot, and mouth disease and herpangina: An overview. Uptodate. 2015 Aug 19; http://www.uptodate.com/contents/hand-foot-and-mouth-disease-and-herpangina-an-overview?source=search_result&search=hand+foot&selectedTitle=1~150
3. Hand, Foot & Mouth Disease: Updates | Ministry of Health [Internet]. [cited 2015 Nov 10]. Available from: https://www.moh.gov.sg/content/moh_web/home/diseases_and_conditions/h/hand_foot_mouth_disease.html
4. A Guide to Clinical Management and Public Health Response for Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) [Internet]. World Health Organization; 2011. Available from: http://www.wpro.who.int/publications/docs/GuidancefortheclinicalmanagementofHFMD.pdf
5. Hand-Foot-and-Mouth Disease: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 18 [cited 2015 Nov 10]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/218402-overview

Pertanyaan Seputar TB Anak

Penyakit TB atau Tuberculosis termasuk sering terjadi pada anak di Indonesia. Tak ayal bila hal ini membuat orangtua gelisah bila buah hati sering demam atau berat badan sulit naik. Namun, bagaimana sebenarnya mendiagnosis TB?

Sekilas tentang TB Anak
Tuberculosis ialah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling banyak menyerang paru-paru, namun dapat menyebar ke organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, kulit, sauran cerna, bahkan selaput otak. Disebut TB anak apabila penyakit TB terjadi pada anak usia 0-14 tahun.

Bagaimana TB ditularkan pada anak?
TB menular melalui udara di mana anak menghirup droplet atau tetesan dahak dari penderita TB paru dewasa maupun anak. Namun, bukan berarti TB dapat menular dengan cepat. Anak dapat tertular TB apabila tinggal dalam satu atap bersama penderita TB dalam jangka waktu yang lama (3 bulan) disertai dengan sistem imun yang kurang baik.

Apa faktor risiko anak terkena TB?
Anak rentan terkena TB apabila :
1. Tinggal seatap atau kontak langsung dengan penderita TB paru
2. Usia <5 tahun
3. Mengidap HIV
4. Mengalami malnutrisi berat

Apakah TB anak menular?
TB anak jarang menular kecuali pada anak yang lebih besar atau remaja. Namun, adanya kasus TB pada anak menandakan sedang berlangsungnya penyebaran TB dalam lingkungan setempat.

Bagaimana gejala TB pada anak?
Gejala TB pada anak berbeda sesuai umur. Pada bayi dan anak <2 tahun, munculnya gejala TB bisa lebih cepat dibandingkan anak yang lebih besar. Gejala yang timbul juga lebih berat seperti pneumonia (sesak nafas, demam), meluas dan lebih berisiko menyebabkan kematian.

Sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, gejalanya tidak khas seperti:

  • Lemah badan, letih, lesu, kurang aktif bermain
  • Demam tidak terlalu tinggi > 2 minggu atau demam berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, DBD, dll)
  • Keringat malam
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Berat badan tidak kunjung naik berdasarkan kurva pertumbuhan setelah 1 bulan diberi upaya perbaikan gizi yang baik
  • Gagal tumbuh
  • Anak tidak nafsu makan atau berkurang
  • Batuk-batuk lama yang tidak kunjung sembuh (biasanya jarang pada anak)
  • Diare menetap (>2 minggu) meskipun sudah diobati terapi baku diare

Karena TB bisa menyebar ke organ selain paru, gejalanya juga bisa khas dengan organ terlibat. Misalnya pembesaran kelenjar getah bening, gangguan saraf, penonjolan tulang belakang, lesi kulit yang khas, dll.

Bagaimana mendiagnosis TB?

Seperti penyakit infeksi lain, anak didiagnosis pasti TB apabila ditemukan kuman Mycobacterium tuberculosis pada pemeriksaan dahak, bilas lambung ataupun biopsi jaringan. Namun upaya untuk menemukan kuman penyebab TB pada anak melalui dahak tidak mudah karena sedikitnya sampel yang di dapat dan prosedur yang sulit. Untuk memudahkan penegakan diagnosis TB terutama di fasilitas kesehatan terbatas, saat ini di Indonesia diadopsi sistem skoring TB. Dalam sistem ini dibutuhkan informasi berupa :

  • Ada/tidaknya kontak erat dengan penderita TB
  • Uji tuberkulin (Mantoux)
  • Tanda dan gejala klinis
  • Pemeriksaan Rontgen Paru

Pada umumnya anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6

Apa itu tes Mantoux atau Tuberkulin?
Tes Mantoux merupakan tes untuk mengukur respon imun anak terhadap bakteri. Sehingga anak yang positif tes mantoux belum tentu pasti mengidap TBC. Tapi tes ini bisa membantu menegakkan diagnosis pada anak yang diduga TB, skrining anak yang kontak erat TB atau tambahan dari pemeriksaan lain untuk memperkuat diagnosis TB.

Cara melakukan tes mantoux :

  1. Anak akan disuntikkan larutan tuberkulin PPD RT-23 2 TU sebanyak 0,1 ml di lengan bawah dengan jarum agak mendatar (intrakutan)
  2. Bila penyuntikan dilakukan secara benar, akan muncul penonjolan di kulit dengan pori-pori seperti kulit jeruk
  3. Setelah 72 jam hasil uji tuberkulin dibaca
  4. Hasil dikatakan positif bila terdapat indurasi (seperti bentol di kulit) >10 mm untuk anak pada umumnya atau >5 mm pada anak dengan imun yang lemah.
clip-image002-thumb71

Tes Mantoux

Bila anak saya positif TB, bagaimana terapinya?

Pada prinsipnya, anak diberikan obat anti TB sambil diberikan gizi yang cukup dan diobati penyakit penyertanya. Obat Anti TB (OAT) diberikan dalam bentuk kombinasi minimal 3 macam obat untuk mencegah resistensi. Waktu pengobatan TB anak berkisar antara 6-12 bulan untuk mencegah kekambuhan. Terapi TB dibagi dalam 2 tahap :

  1. Tahap intensif selama 2 bulan pertama. Anak diberi minimal 3 macam obat tergantung berat penyakit dan pemeriksaan kuman. Setelah 2 bulan akan dilihat responnya. Bila tidak ada perbaikan akan dievaluasi kembali atau dirujuk.
  2. Tahap lanjutan selama 4-10 bulan tergantung hasil pemeriksaan dan perbaikan klinis.

Obat yang biasa digunakan ialah antibiotik Isoniazid, Rifampisin, Piranzinamid, Etambutol, dan Streptomisin.

Bagaimana bila TB tidak diobati?
TB anak yang dibiarkan atau diobati tapi tidak teratur dapat menyebar dan berakibat fatal. Dua komplikasi terberat ialah TB miliar dan meningitis (radang otak). Selain itu, kuman TB dapat merusak paru dan organ lain seperti jantung, usus, sendi, mata bahkan ginjal.

Bagaimana cara mencegah TB pada anak?
Kunci dari pencegahan TB ialah :

  1. Edukasi. Terapi TB amatlah melelahkan. Sehingga butuh edukasi yang tepat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini dan terapi.
  2. Deteksi dini dan terapi penderita TB untuk memutus rantai penularan
  3. Vaksinasi BCG berasal dari kuman Mycobacterium bovis yang dilemahkan. Imunisasi ini diberikan pada bayi 1-3 bulan. Pada bayi >3 bulan, pemberian vaksin harus didahului uji tuberkulin. Tujuan diberikan vaksin BCG ialah untuk mencegah terjadinya TB berat.
  4. Terapi pencegahan dengan isoniazid pada anak yang kontak erat dengan penderita TB.

Ayo sama-sama berantas TB. Segera bawa anak Anda ke sarana kesehatan bila Anda curiga TB.

Agustina Kadaristiana, dr. di review oleh Tundjungsari Ratna Utami,dr. Sp.A 

Ditulis tanggal : 10/26/2015 Update terakhir : 11/11/2015

Referensi

1. Guidance for national tuberculosis programmes on the management of tuberculosis in children. 2nd ed. Geneva: World Health Organization;
2. Pediatric Tuberculosis: Overview of Tuberculosis, TB Risk Factors, Mechanism of TB Infection. 2015 Aug 4 [cited 2015 Oct 26]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/969401-overview
3. Carol J. Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Infectious Disease. 2nd ed. United States of America.: American Academy of Pediatrics; 2013.
4. TB Anak : TB Indonesia [Internet]. [cited 2015 Oct 26]. Available from: http://www.tbindonesia.or.id/tb-anak/
5. Lisa V Adams, MD, Jeffrey R Starke, MD. Tuberculosis disease in children. Uptodate. 2015 Sep 22;
6. Tuberkulosis [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Oct 26]. Available from: http://idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/tuberkulosis.html

Rabun Jauh Pada Anak dapat Dicegah dengan Aktivitas Outdoor

Anak berkacamata bukan hal yang aneh lagi kita lihat di sekolah. Nyatanya, masalah mata minus, rabun jauh atau miopia sudah menjadi masalah epidemis pada remaja di kota-kota besar Asia Tenggara dan Asia Timur. Saat ini, 80-90% anak lulusan SMA memiliki masalah miopia dan 20% diantaranya membutuhkan lensa minus tinggi. 1,2

Riset terbaru dari Sun Yat-sen University in Guangzhou, Cina bisa jadi membuka perspektif baru tentang pencegahan efektif miopia pada anak. Pasalnya, hasil riset membuktikan bahwa aktivitas outdoor selama 40 menit tiap hari dapat mencegah perkembangan rabun jauh pada anak. 3

Indian children play at dusk on the outskirts of the eastern Indian city of Bhubaneswar, India, Thursday, June 20 2013. (AP Photo/Biswaranjan Rout)

(AP Photo/Biswaranjan Rout)

Penelitian ini melibatkan 1903 anak SD tanpa miopia dengan rata-rata usia 6.6 tahun. Kemudian anak-anak ini dikategorikan menjadi 2 grup : grup kontrol dan grup intervensi. Pada kelompok intervensi, anak dilibatkan dalam kegiatan lapangan selama 40 menit di tiap akhir jam pelajaran. Selain itu, saat liburan atau akhir pekan, anak diajak melakukan aktivitas outdoor di bawah partisipasi orangtua. Sebaliknya, tidak dilakukan tambahan aktivitas outdoor pada kelompok kontrol

Setelah tiga tahun, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan 9.1% dari insidensi miopia di dua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan 23% penurunan relatif (relative reduction) dari insidensi miopia. Meskipun peneliti menyebutkan angka ini kurang dari penurunan yang diantisipasi, hasil ini tetaplah bermakna dari segi klinis. Pasalnya, semakin muda anak mendapatkan miopia, semakin besar kemungkinan miopia menjadi berat.

Kesimpulannya, penambahan aktivitas outdoor selama 40 menit di sekolah pada anak usia 6 tahun di Guangzhou, Cina, menurunkan insidensi miopia sampai 3 tahun kemudian. Penelitian lebih lanjut tentu dibutuhkan untuk follow up perkembangan miopa anak-anak ini dan generalisir hasil riset.

Agustina Kadaristiana, dr.

09/19/2015

Referensi

1. Morgan I, Rose K. How genetic is school myopia? Prog Retin Eye Res. 2005 Jan;24(1):1–38.
2. Morgan IG, Ohno-Matsui K, Saw S-M. Myopia. Lancet Lond Engl. 2012 May 5;379(9827):1739–48.
3. He M, Xiang F, Zeng Y, Mai J, Chen Q, Zhang J, et al. Effect of Time Spent Outdoors at School on the Development of Myopia Among Children in China: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2015 Sep 15;314(11):1142–8.

Cegah Sindroma Rubella Kongenital (SRK) dengan Imunisasi MMR

Penyakit rubella atau yang disebut juga campak jerman mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Pada orang hamil penyakit ini akan menjadi perhatian. Mengapa begitu ? Yuk kita kenali lebih dekat si virus rubella ini.

Sekilas Tentang Rubella 

Virus rubella ini dapat menular lewat udara dari seseorang yang terinfeksi rubella. Gejala tertularnya penyakit ini antara lain adanya demam sumeng-sumeng, ruam, lemah, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pembesaran kalenjar getah bening, nyeri sendi, namun pada sekitar 25-50% infeksinya tidak bergejala. Meskipun demikian orang yang tidak bergejala ini juga dapat menularkan ke orang lain.

Pada orang dewasa yang tidak hamil, sebenarnya penyakit ini tidak berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun bagaimana jika sang ibu hamil yang terinfeksi rubella ? Infeksi rubella yang terjadi saat konsepsi dan kehamilan sangat berbahaya bagi janin dan dapat menyebabkan Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital (SRK) ialah kecacatan janin akibat infeksi rubella pada ibu. Kecacatan yang terjadi dapat beragam antara lain tuli  (58%); gangguan pada penglihatan dapat berupa katarak, glaukoma, retinopati (43%); penyakit jantung bawaan, keguguran, lahir mati, lahir prematur gangguan pada sistem saraf pusat, retardasi mental, kuning pada bayi, dan berbagai gangguan lainnya.

X2604-R-26

Sindroma Rubella Kongenital

Resiko keparahan SRK ini juga bergantung pada usia kehamilan saat ibu mengalami infeksi. Risiko Sindroma Rubella Kongenital tertinggi jika infeksi rubella terjadi pada trimester pertama mencapai 85%. Sedangkan pada minggu ke 13-16 kehamilan risikonya menurun menjadi 54%, dan setelah minggu ke 20 kehamilan risiko tersebut semakin kecil.

Bagaimana mencegah infeksi rubella?

Kekebalan terhadap rubella bisa didapatkan melalui imunisasi atau adanya riwayat infeksi dimasa lampau. Imunisasi rubella di Indonesia diberikan dalam bentuk kombo yakni imunisasi MMR yang merupakan gabungan dari vaksin measles (campak)-mumps (gondong)-rubella. Imunisasi MMR saat ini sudah direkomendasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk diberikan pada usia 15 bulan dan 5 tahun.

mmr10a

Imunisasi sejatinya bukan hanya dapat dilakukan pada bayi dan anak, namun beberapa vaksin juga memang diperuntukkan untuk dewasa apabila saat kecil Ibu belum mendapatkannya. Salah satunya imunisasi MMR. Sebagai persiapan sebelum menikah atau sebelum hamil, sebaiknya dilakukan 1 atau 2 dosis vaksin MMR. Vaksin MMR merupakan jenis vaksin hidup sehingga tidak boleh disuntikkan pada wanita hamil, dan harus diingat bahwa bunda harus menunda kehamilan minimal 1 bulan setelah imunisasi MMR (rekomendasi ACIP). Ibu menyusui bukanlah kontraindikasi untuk vaksin ini, sehingga dapat diberikan kapan pun setelah Ibu melahirkan.

Untuk jenis vaksin hidup, dosis kedua bukanlah booster sepertihalnya jenis vaksin mati. Seperti MMR, dosis kedua sebenarnya bukanlah booster. Namun sekitar 2-5% orang tidak terbentuk kekebalan setelah suntikan pertama MMR, sehingga suntikan kedua diharapkan dapat memberikan kembali kesempatan untuk membentuk kekebalan/ antibodi. Namun sayangnya diperlukan pemeriksaan darah untuk memastikan terbentuk atau tidaknya antibodi, sehingga pada anak-anak usia sekolah, traveler, tenaga kesehatan dan orang dengan risiko tinggi tertular penyakit tersebut direkomendasikan untuk mendapatkan 2 dosis MMR. Setelah dosis ke 2 ini, sekitar 99% terdeteksi antibodi terhadap campak, rubella dan gondong.

Siapa sajakah yang tidak boleh mendapatkan imunisasi MMR?

  • Ibu hamil
  • Riwayat anafilaksis pada pemberian neomisin
  • Riwayat alergi hebat terhadap komponen vaksin atau saat pemberian vaksin MMR sebelumnya
  • Orang dengan imunitas rendah seperti penderita leukemia, AIDS.

Untuk Anda yang sedang masa persiapan pernikahan, setelah melahirkan, atau persiapan kehamilan berikutnya namun belum pernah mendapatkan Imunisasi MMR, yuk segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan suntikan MMR. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/07/2015

Sumber :

1. Dontygni, Lorraine., Arsenault, M., Martel, M. Rubella in Pregnancy.[cited 2015 Agust 18]. Available from : http://sogc.org/wp-content/uploads/2013/01/guiJOGC203CPG0802.pdf
2. Ezike, Elias. Pediatric Rubella. [cited 2015 Agust 18]Available from http://emedicine.medscape.com/article/968523-overview
3. Measles Mumps and Rubella. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/askexperts/experts_mmr.asp
4. McLean, Huong., Redd, Susan., Abernathy, Emily., Icenogle, Joseph ., Wallace, Gregory VPD Surveillance Manual. Chapter 14 : Rubella. 5th Edition, 2012. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt14-rubella.html#vaccination
5. MMR Vaccine : What You Need to Know. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/vis/mmr.pdf
6. Prevention of Measles, Rubella, Congenital Rubella Syndrome, and Mumps, 2013: Summary Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Recommendations and Report/ Vol.62/No.4. June 14, 2013. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr6204a1.htm
7. Rubella: Questions and Answers. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.immunize.org/catg.d/p4218.pdf
8. Rubella (German measles) during pregnancy. [cited 2015 Agust 21]Available from http://www.babycenter.com/0_rubella-german-measles-during-pregnancy_9527.bc

Gambar :
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Rubella,+congenital+syndrome
iio876http://www.tulsa-health.org/sites/default/files/styles/section_thumb/public/page_images/7_AdultImmuniz-21830648-iStock_000021830648Small.jpg?itok=5TjYS7RR

http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/02/04/mmr10a.jpg

Demam dan Ruam Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mengalami betapa pusingnya bila buah hati demam. Terlebih lagi jika muncul ruam kemerahan yang meluas pada kulit. Amat mungkin orangtua panik dan bertanya-tanya : apakah penyakit ini berbahaya? Menular? Ini campak atau bukan? Dan kegalauan lain yang sering disampaikan kepada dokter. Sebagai orangtua cerdas tentu ingin tahu, apa saja sih yang dapat membuat anak saya demam dan ruam?

Munculnya ruam kulit mendadak yang diikuti dengan demam atau gejala sistemik yang lain disebut dengan exanthema. Penyebab exanthem ini bermacam-macam, mulai dari infeksi, reaksi obat atau kombinasi dari keduanya. Namun, beberapa penyakit klasik yang dikenal ialah campak, demam skarlet, rubella, erythema infectiosum dan roseola infantum.1

Campak (Measles/Rubeola)

Campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus, famili Paramyxodiviridae. Penyakit campak menular lewat droplet atau tetesan air liur saat anak bersin dan batuk. Selain itu campak bisa ditularkan lewat udara meskipun lebih jarang.

Gejala
Demam, pilek, konjungitivits (peradangan pada selaput mata), bruntus merah dan bercak koplik’s (bintik-bintik putih di pipi bagian dalam)

Perjalanan penyakit
Masa inkubasi campak (Pertama kali anak terkena infeksi sampai timbul gejala) berlangsung sekitar 8-12 hari. Sedangkan masa penularan dimulai dari 5 hari sebelum muncul ruam sampai 4 hari setelahnya. Pertama kali timbul gejala anak biasanya mengalami demam, tidak enak badan, dan tidak nafsu makan. Kemudian diikuti dengan konjungtivitis, batuk, pilek dan munculnya bercak Koplik. Saat bercak Koplik memudar, muncul ruam merah disertai bruntus.

measles-boy-blotchyface

Campak (https://www.aap.org/en-us/PublishingImages/measles-boy-blotchyface.jpg)

Urutan bercak ini dimulai dari wajah, kepala, leher, sampai ke seluruh tubuh diikuti dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah 3-4 hari, ruam ini menjadi kecoklatan dan semakin lama-semakin hilang sesuai dengan urutan munculnya ruam. Ruam akan hilang dalam 6-7 hari sedangkan batuk masih bisa bertahan sampai 1-2 minggu.

Terapi :
Tidak ada terapi khusus untuk campak. Terapi hanya bersifat suportif misalnya obat penurun panas. Vitamin A biasanya diberikan untuk mencegah komplikasi defisiensi vitamin A dan xerophtalmia (selaput mata kering akibat kekurangan vitamin A).

Komplikasi :
Diare, infeksi salura nafas, otitis media (radang telinga tengah) dan radang otak (ensefalitis).

Pencegahan :
vaksin MMR.2–4

Demam Skarlet/Scarlatina

Demam skarlet merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri grup A Streptococcus. Penyakit ini sering dijumpai pada anak usia 5-12 tahun. Biasanya gejala demam skarlet relatif ringan namun perlu diobati dengan antibiotik untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Penyebaran :
Paling sering lewat droplet saat orang yang terinfeksi batuk, pilek atau berbagi alat makan yang sama. Bisa juga melalui kontak dengan infeksi kulit grup A streptococcus.

Gejala :
Tenggorokan yang radang dan sangat merah, demam tinggi, ruam merah kasar seperti amplas, ruam merah terang di lipatan kulit, lidah “strawberry” (merah dan berbintil), lapisan putih di lidah dan tenggorokan, sakit kepala, mual muntah, nyeri perut, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit badan.

Perjalanan penyakit :
Masa inkubasi berlangsung 2-5 hari. Gejala dimulai dari demam, muntah nyeri perut, lidah bengkak, memerah dan berbintil “strawberry tongue” disertai lapisan putih. Ruam muncul 1-2 hari setelahnya dari leher, ketiak, selangkangan lalu seluruh tubuh. Awalnya bercak berupa ruam mulus kemerahan lalu berangsur muncul bruntus kasar seperti amplas. Bercak ini biasanya akan hilang selama 7 hari sampai beberapa minggu.

Terapi :
Antibiotik

Komplikasi :
Demam rematik, penyakit ginjal, otitis media (radang telinga tengah), infeksi kulit, abses tenggorokan, pneumonia (infeksi paru), arthritis (radang sendi).

Pencegahan :
cuci tangan dan jangan berbagi alat pribadi seperti alat makan, handuk, atau kain. Anak yang terkena demam skarlet harus izin sekolah paling tidak 24 jam setelah dimulai antibiotik.4,5

Rubella (Campak Jerman/ Campak 3 Hari)

Rubella merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan Togaviridae. Penyakit ini ditularkan melalui droplet cairan hidung dan mulut. Masa inkubasi berlangsung 2-3 minggu.

Pada anak gejala yang dialami biasanya ringan dan dicirikan oleh ruam merah disertai bruntus seluruh tubuh, pembengkakan kelenjar getah bening dan demam ringan. Ruam dimulai dari wajah, langsung menyebar di seluruh badan dalam 24 jam dan bertahan sekitar 3 hari. Oleh sebab itu, Rubella disebut campak 3 hari. Masa penularan yaitu 1 minggu sebelum ruam muncul sampai 1 minggu setelah ruam hilang.

Rash_of_rubella_on_back_(crop)

Rubella (CDC)

Terapi :
Suportif
Komplikasi :
Ensefalitis (radang otak), trombositopenia (trombosit rendah)
Pencegahan :
Vaksin MMR (Measles, Mumps, and Rubella)4,6,7

Erythema Infectiosum/Fifth Disease

Erythema Infectiosum ialah penyakit ruam ringan akibat infeksi dari Parvovirus B19. Penyakit ini ditularkan melalui kontak cairan saluran nafas, darah, dan transmisi vertikal dari ibu ke janin.Saat paling menular justru sebelum muncul ruam atau nyeri sendi. Masa inkubasi rata-rata 4-14 hari sampai 21 hari.

Perjalanan penyakit :
Biasanya gejala dimulai dari demam sumeng-sumeng, lemas, nyeri otot, sendi, dan sakit kepala. Sekitar 7-10 hari kemudian muncul ruam merah terang pada pipi yang dinamakan “slapped cheek” karena mirip seperti pipi habis ditampar. Ruam ini disertai pucat disekeliling bibir, ruam merah seperti renda yang gatal di badan lalu menyebar ke lengan, bokong dan paha. Warna merah pada ruam dipengaruhi oleh panas dan cahaya matahari.

Terapi

Terapi hanya bersifat suportif untuk meringankan gejala seperti menurunkan demam, mengurangi nyeri dan gatal.

Pencegahan :
Tidak ada vaksin yang dapat mencegah infeksi ini. Cuci tangan, menggunakan masker, menghindari orang yang sakit atau tinggal dirumah selama sakit dapat mengurangi penularan. 4,8,9

Roseola Infantum (Exanthem Subitum)

Penyebab penyakit ini ialah Human Herpesvirus 6 (HHV-6). Gejala muncul 9 sampai 10 hari setelah anak terinfeksi. Khasnya Roseola ialah demam tinggi 3-5 hari (bisa lebih dari 40oC) yang tiba-tiba turun lalu diikuti ruam merah. Ruam dimulai dari leher dan badan lalu meluas ke wajah serta ekstrimitas. Gejala lain yang mungkin muncul misalnya pembengkakan kelenjar getah bening, keluhan saluran cerna atau saluran nafas, dan radang gendang telinga.

Roseola_rash_edt

Roseola Infantum

Penularan HHV-6 paling sering dari peluruhan virus di sekresi cairan penderita saat tidak bergejala. Saat anak terkena Roseola dan menunjukkan gejala justru tidak menular. Sehingga tidak ada rekomendasi khusus untuk melarang anak ke luar rumah saat gejala timbul dengan alasan takut menularkan.

Terapi :
Bersifat suportif

Pencegahan :
Menjaga higiene dan cuci tangan. Tidak ada vaksin untuk Roseola.

Komplikasi :
Paling sering ialah kejang demam. Komplikasi lain ialah radang otak (ensefalitis), meningitis, dan penurunan trombosit. 4,10

Agustina Kadaristiana, dr. 

08/10/2015

Referensi
1. Lam JM. Characterizing viral exanthems. Pediatr Health. 2010;4(6):623–35.
2. Hayley Gans, MD, Yvonne A Maldonado, MD. Clinical manifestations and diagnosis of measles. 2015 Jul 8;
3. About Measles. CDC [Internet]. 2015 Feb 20; Available from: http://www.cdc.gov/measles/about/index.html
4. Carol J Baker, MD, FAAP. Red Book Atlas of Pediatric Infectious Diseases. 2nd ed. USA: American Academy of Pediatrics; 2013.
5. CDC Features – Scarlet Fever [Internet]. [cited 2015 Aug 10]. Available from: http://www.cdc.gov/features/scarletfever/
6. Morven S Edwards, MD. Rubella. Uptodate. 2015 Jul;
7. About Rubella. CDC [Internet]. 2014 Dec 17; Available from: http://www.cdc.gov/rubella/about/index.html
8. Fifth Disease. CDC [Internet]. 2012 Feb 14; Available from: http://www.cdc.gov/parvovirusb19/fifth-disease.html
9. Jeanne A Jordan, PhD. Clinical manifestations and diagnosis of parvovirus B19 infection. Uptodate. 2014 Dec 15;
10. Cécile Tremblay, MD, Michael T Brady, MD. Roseola infantum (exanthem subitum). Uptodate. 2015 Jun 4;

Gagap pada Balita

Bagaimana jika balita anda yang sebelumnya mulai atau telah lancar berbicara tiba-tiba bicara gagap, padahal beberapa saat sebelumnya anda yakin tidak ada hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya. Anda tentu kaget, bingung dengan ‘permainan’ baru si anak, ragu-ragu untuk memberikan tanggapan yang sesuai, merasa khawatir telah melewatkan sesuatu yang mungkin menjadi penyebab, dan mungkin terbesit perasaan bersalah karena merasa kurang dalam mengasuh anak. Setumpuk pertanyaan pun muncul dalam benak anda, dan yang pasti, ‘Bagaimana mengatasi hal ini?’

Apa itu gagap?

Gagap merupakan suatu kelainan yang mempengaruhi kelancaran bicara yang melibatkan adanya gangguan yang cukup sering dan berarti pada kelancaran dan aliran bicara. Orang yang mengalami gagap tahu apa yang ingin diutarakan namun kesulitan untuk mengatakannya. Misalnya, mereka akan mengulangi atau memperpanjang bunyi sebuah kata, suku kata, atau kalimat, atau berhenti ditengah-tengah pembicaraan serta tidak membuat bunyi pada suku kata tertentu.

Stuttering-Child-1

Gagap merupakan kondisi yang cukup umum pada anak kecil sebagai bagian yang normal dari proses belajar bicaranya. Anak-anak yang lebih muda sering berbicara gagap saat kemampuan bicara dan bahasanya belum berkembang cukup baik untuk mengimbangi apa yang ingin mereka katakan. Sebagian besar anak akan keluar dari gagap masa perkembangan (developmental stuttering) ini.
Kadang-kadang, gagap dapat menjadi kondisi yang kronis yang menetap hingga mereka dewasa. Jenis gagap ini dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan interaksi dengan orang lain.

Anak-anak dan orang dewasa yang bicara gagap dapat dibantu dengan berbagai jenis terapi misalnya terapi bicara, konseling psikologis, atau menggunakan suatu alat elektronik untuk memperbaiki pola bicaranya.

Pada siapa gagap bisa terjadi?

Setiap orang dapat terkena bicara gagap pada umur berapa saja, tetapi lebih umum terjadi pada anak yang baru belajar mengembangkan kemampuan berbahasanya. Anak laki-laki dua kali lebih mungkin mengalami bicara gagap dibandingkan dengan anak perempuan; Namun semakin bertambah dewasa, Anak laki-laki yang tetap gagap tiga hingga empat kali lebih sering daripada anak perempuan. Disfluensi bahasa yang termasuk normal umumnya muncul saat anak berusia 18 hingga 24 bulan akibat laju penambahan kosa kata yang terlalu cepat, dan berlangsung hilang timbul hingga anak berusia 5 tahun.

Sekitar satu dari lima anak pada suatu waktu memiliki disfluensi yang cukup parah sehingga menjadi kekhawatiran bagi orangtuanya. Dan pada sekitar satu dari 20 anak akan terjadi bicara gagap yang dapat berlangsung hingga lebih dari 6 bulan. Walaupun gagap yang dialami cukup berat dan lebih dari 6 bulan, tidak berarti akan berlanjut menjadi masalah hingga seumur hidup. Mengetahui apa yang perlu diperhatikan dan bagaimana cara merespon gagap pada anak anda dapat membantu mencegah hal tersebut terjadi.

Bagaimana mengenali tanda dan gejala bicara gagap?

Bicara gagap sering berbentuk pengulangan sebuah atau sebagian kata, juga adanya pemanjangan pengucapan. Gangguan ini terjadi lebih sering pada orang atau anak dengan gagap dibandingkan dengan populasi normal. Sejumlah anak yang mengalami gagap terlihat sangat tegang atau seperti kehabisan napas ketika berbicara. Pembicaraan dapat sepenuhnya berhenti atau tertahan, yaitu ketika mulut dalam posisi mau mengeluarkan sebuah suara, terkadang hingga beberapa detik, tapi hanya sedikit suara yang keluar atau tidak bersuara sama sekali. Untuk melengkapi sebuah kata, anak biasanya berusaha cukup keras. Suara atau kata tambahan seperti “em” dapat muncul terutama sering berupa pengulangan (“e-em-em”) atau pemanjangan (“eeeem”) suara atau ketika digunakan untuk menunda pembicaraan dimana anak merasa akan ‘terhenti’.

Tanda dan gejala bicara gagap dapat meliputi:

  • Kesulitan untuk memulai sebuah kata atau berbicara
  • Memperpanjang pengucapan sebuah kata atau suara pada kata tersebut (“SSSS aya juga mau!”)
  • Mengulang-ulang suara, suku kata, atau sebuah kata (“M- M- M- Mau kemana?”)
  • Terdiam pada suku kata tertentu, atau berhenti sejenak saat mengucapkan sebuah kata
  • Tambahan suara pada sebuah kata seperti “em” jika mengira akan kesulitan melanjutkan berbicara ke kalimat selanjutnya
  • Wajah atau tubuh bagian atas terlihat tegang, kencang, atau bergerak-gerak secara berlebihan saat akan mengucapkan suatu kata
  • Merasa gelisah saat ingin berbicara
  • Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif terbatas

Kesulitan berbicara akibat gagap dapat disertai dengan:

  • Kedipan mata yang cepat
  • Tremor pada bibir atau rahang
  • Tik (gerakan tiba-tiba yang sulit dikontrol) pada wajah
  • Sentakan kepala
  • Mengepalkan tangan

Bicara gagap dapat menjadi lebih parah saat anak terlalu bersemangat, terlalu lelah, atau dibawah stres, atau ketika anak merasa sadar diri, diburu-buru atau tertekan. Situasi dimana seorang anak harus berbicara di depan orang banyak atau bercakap-cakap melalui telepon dapat merupakan hal yang sulit bagi anak yang bicara gagap.

Namun, sebagian besar orang yang bicara gagap dapat berbicara dengan lancar saat mereka berbicara dengan diri sendiri dan ketika bernyanyi atau berbicara bersama-sama dengan orang lain.

Apa yang menyebabkan bicara gagap?

Para ahli menunjukkan terdapat 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya gagap:

  1. Adanya riwayat keluarga bicara gagap. Terdapat pertentangan mengenai faktor genetik karena sampai saat ini gen spesifik penyebab gagap belum teridentifikasi. Tetapi hampir 60% penderita gagap memiliki seseorang dikeluarganya yang juga bicara gagap atau pernah bicara gagap
  2. Tumbuh kembang anak. Anak-anak yang belajar bahasa kedua atau memiliki gangguan bicara yang lain lebih mungkin mengalami gagap dibandingkan dengan anak-anak yang tidak
  3. Neurofisiologi. Pada beberapa anak yang bicara gagap, bahasa diproses di bagian-bagian otak yang berbeda dari anak-anak yang tidak gagap. Hal ini juga dapat mempengaruhi interaksi antara otak dengan otot-otot yang mengontrol proses bicara
  4. Dinamika keluarga. Beberapa anak yang bicara gagap diketahui memiliki keluarga dengan harapan pencapaian yang tinggi dan gaya hidup dengan rutinitas yang cepat

Para peneliti juga masih terus mempelajari penyebab gagap yang menetap. Kombinasi dari beberapa faktor mungkin terlibat. Beberapa hal yang mungkin menyebabkan gagap yang menetap antara lain:

  • Gangguan kontrol pada otot-otot berbicara. Beberapa bukti menunjukkan adanya gangguan pada kontrol otot bicara, seperti pada koordinasi waktu, sesorik, dan motorik
  • Genetik. Gagap yang cenderung menurun di keluarga, terlihat dapat diakibatkan karena gangguan pusat bahasa di otak yang diturunkan secara genetik
  • Kondisi medik. Gagap yang dapat merupakan hasil dari stroke, trauma, atau cedera otak lain
  • Masalah kesehatan mental. Pada kondisi tertentu yang jarang terjadi, trauma emosional dapat menyebabkan terjadinya gagap

Kapan mencari bantuan tenaga profesional?

Selalu bicarakan dengan dokter anda jika anda khawatir mengenai tumbuh kembang anak anda, termasuk bicara gagap. Dokter anda mungkin akan merujuk kepada tenaga ahli yang profesional atau terapis yang akan menilai anak anda apakah terdapat risiko masalah jangka panjang. Pada sebagian besar kasus yang melibatkan anak-anak, penanganan terutama berfokus pada pelatihan dan bekerja sama dengan orang tua untuk mengembangkan tehnik dan cara yang membantu anak mengatasi bicara gagap.

Saat usia anak 2-5 tahun merupakan waktu umum untuk melewati periode berbicara gagap. Untuk sebagian besar anak, periode tersebut merupakan bagian dari belajar berbicara, dan akan membaik dengan sendirinya. Akan tetapi, gagap yang menetap mungkin memerlukan intervensi ahli agar lebih baik.

Belum ada obat yang terbukti dapat menyembuhkan bicara gagap. Terkadang terapis akan berinteraksi dengan anak secara langsung untuk mengembangkan tehnik perilaku tersendiri (individual behavioral techniques) yang dapat membantu anak untuk belajar tidak bicara gagap. Terapi dan penanganan yang diterapkan dapat berbeda-beda pada tiap-tiap anak tergantung keadaan masing-masing anak.

Bagi anak yang memiliki maslaah gagap yang berat, evaluasi dan intervensi dini dapat sangat berguna. Tanda-tanda yang menunjukkan perlunya dilakukan evaluasi:

  • Berlangsung lebih dari 6 bulan
  • Gagap yang terjadi semakin sering dan semakin berat dari waktu ke waktu
  • Gagap yang disertai gerakan-gerakan tubuh dan wajah
  • Terjadi bersamaan dengan gangguan bicara atau bahasa yang lain
  • Terjadi diiringi dengan kekakuan otot atau berjuang keras untuk berbicara. Berbicara sangat sulit dan dipaksakan
  • Mempengaruhi kemampuan komunikasi efektif di sekolah, tempat kerja atau interaksi sosial
  • Menyebabkan kegelisahan atau masalah emosional, seperti ketakutan, menghidari situasi tertentu dimana membutuhkan berbicara
  • Ketegangan pada vokal yang menyebabkan naiknya nada suara
  • Gagap yang berlanjut hingga anak berusia lebih dari 5 tahun
  • Dimulai saat dewasa

Adakah hal-hal yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu anak saya yang bicara gagap?

images

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anda dan anggota keluarga lain untuk membantu anak yang bicara gagap dengan masalahnya, misalnya:

  • Selalu berusaha untuk tenang. Usahakan untuk menciptakan suasana yang santai dan tenang di rumah dimana anak anada akan merasa nyaman untuk bicara secara bebas dan menyenangkan
  • Sediakan waktu khusus dimana anda dan anak anda dapat bercakap-cakap tanpa gangguan. Saat makan merupakan salah satu kesempatan yang baik untuk mengobrol
  • Jangan beri perhatian khusus terhadap bicara gagap anak anda. Jangan mengkritik cara bicara anak anda atau terus menerus memperbaiki perkataannya. Usahakan untuk tidak memberikan perhatian pada kondisi gagapnya selama interaksi sehari-hari. Jangan bawa dia kedalam situasi yang penuh tekanan atau membutuhkan anak anda untuk berbicara di hadapan orang lain
  • Tunggu hingga anak anda selesai mengutarakan apa yang ingin mereka katakan. Jangan bantu mereka selesaikan kata atau kalimatnya
  • Jangan menekan anak anda untuk terlibat pembicaraan atau berinteraksi secara verbal dengan orang lain ketika gagap menjadi masalah. Anjurkan aktivitas yang tidak melibatkan banyak interaksi verbal
  • Dengarkan dengan baik apa yang anak anda coba katakan, jaga kontak mata normal tanpa memperlihatkan tanda-tanda tidak sabar atau frustasi
  • Hidari bereaksi negatif saat anak anda bicara gagap, memperbaiki bicaranya, atau melengkapi kalimatnya. Penting bagi anak untuk mengerti bahwa orang dapat berkomunikasi secara efektif bahkan saat mereka bicara gagap.
  • Walaupun ucapan, “Berhenti dan tarik napas” atau “Pelan-pelan” dimaksudkan untuk membantu anak, ucapan-ucapan tersebut dapat membuat anak sadar diri dan danjurkan untuk tidak melakukannya.
  • Contohkan cara bicara perlahan dan santai, tanpa terburu-burur untuk membantu anak anda melakukan hal yang sama. Jika anda berbicara seperti ini, kemungkinan besar anak anda akan mengikutinya, yang akhirnya akan membantu menurunkan bicara gagap
  • Bicaralah secara bergantian. Dorong setiap orang di keluarga anda untuk menjadi pendengar yang baik dan menunggu giliran untuk berbicara
  • Jangan takut bicarakan tentang gagap dengan anak anda. Jika dia mengajukan pertanyaan atau mengungkapkan kekhawatiran, dengarkan dan jawablah dengan cara yang membuatnya mengerti bahwa gangguan pada bicara adalah hal yang normal dan bahwa semua orang mengalaminya pada suatu waktu
  • Berikan pujian daripada kritik. Lebih baik puji anka anda saat berbicara dengan jelas daripada memberi perhatian pada gagapnya. Jika anda ingin mengoreksi perkataannya, lakukan dengan cara yang halus dan positif
  • Terimalah anak anda apa adanya. Jangan bereaksi negatif atau mengkritik atau menghukum anak anda karena bicara gagap. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan sadar diri.
  • Dukungan dan dorongan anda dapat memberikan perbedaan yang besar.

Farah Suraya, dr. 

2015-07-29

Referensi

  1. Treatments for Developmental Stuttering: Healthwise Medical Information on [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/treatments_for_developmental_stuttering-health/article_em.htm
  2. Stuttering Foundation | Since 1947 – A Nonprofit Organization Helping Those Who Stutter [Internet]. Stuttering Foundation: A Nonprofit Organization Helping Those Who Stutter. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.stutteringhelp.org/stuttering-foundation
  3. Stuttering [Internet]. American Speech-Language-Hearing Association. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.asha.org/public/speech/disorders/stuttering/
  4. Gagap (Stuttering) pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/gagap-pada-anak.html
  5. Stuttering. KidsHealth [Internet]. Available from: http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/stutter.html
  6. Stuttering. NIDCD [Internet]. 2010 Mar; Available from: http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/pages/stutter.aspx
  7. Disease and Condition : Stuttering. Mayoclinic [Internet]. 2014 Aug 20; Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stuttering/basics/definition/con-20032854
  8. Stuttering [Internet]. WebMD. [cited 2015 Jul 29]. Available from: http://www.webmd.com/modules/sponsor-box

Gambar diunduh dari :

Stuttering Child (http://www.bestwayguides.com/wp-content/uploads/2011/08/Stuttering-Child-1.jpg)

Child Parent Talk (https://www.sandltherapy.com/images/blog/child_parent_talk_1.png)

Bisul Karena Makan Telur, Benarkah?

“Ehh jangan sering-sering beri makan anak makan telur! nanti bisul lho”. Mungkin ayah bunda sering mendengar nasihat seperti ini. Tapi tahukah Andah bahwa sebenarnya anggapan itu hanya mitos belaka 🙂

Secara medis, tidak ada hubungan antara anak yang suka telur dengan bisul yang dialaminya. Bisul sebenarnya sejenis peradangan pada kulit yang mengenai folikel rambut dan kelenjar minyak kulit. Penyebabnya infeksi kuman atau bakteri Staphylococcus aureus. Siapapun, usia berapapun, suka telur atau tidak, bisa terkena bisul. Namun, pada anak-anak, bisul lebih sering menyerang dibandingkan dengan orang dewasa.

webmd_rf_photo_of_boils_illustration

Proses Terjadinya Bisul (http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/ss/slideshow-boils)

Bisul dapat menular jika anak dengan luka goresan bersentuhan kulit dengan penderita bisul. Selain itu, kontak tidak langsung dengan penderita bisul juga bisa jadi penyebab. Misalnya, pemakaian handuk bersama, tempat tidur bersama, pakaian, permainan di area publik, kolam renang, dan sebagainya.
Bisul dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yakni: folikulitis, furunkel, furunkulosis, karbunkel, abses multipel, hidraadinitis, dan skrofuloderma. Meski banyak jenisnya, karena prosesnya mirip, orangpun menganggapnya sama. Yakni, sama-sama bisul. Adapun gejala-gejala bisul itu adalah:

  • Gatal di daerah benjolan dan sekitarnya.
  • Rasa nyeri yang menyertai gatal.
  • Berbentuk kerucut dan ‘bermata’. Biasanya mengeluarkan cairan setelah pecah.
  • Berbentuk bulat dan berkubah, tidak bermata, tanpa disertai rasa nyeri. Bisul jenis ini biasanya terdapat pada kelenjar keringat dan agak sulit pecah spontan.
  • Demam.
boils

Bisul (http://www.medicinenet.com/boils/article.htm)

Tiga faktor yang dapat memicu terjadinya bisul:

  1. Kebersihan lingkungan yang kurang baik. Hal ini menyebabkan banyak kuman beredar di sekitar anak. Selain itu, anak yang jarang dimandikan dan tidak dibiasakan membersihkan tubuh juga rentan terkena bisul.
  2. Udara panas. Sebenarnya bisul merupakan penyakit khas daerah tropis. Udara yang panas menjadikan produksi keringat berlebihan. Keringat inilah yang dapat merangsang tumbuhnya bisul, terutama pada bagian kelenjar keringat.
  3. Menurunnya daya tahan tubuh. Diantaranya disebabkan kurang gizi, menderita anemia, kanker, diabetes, dan beberapa kondisi imunodefisiensi.

Meskipun alergi dan bisul tidak punya kaitan langsung, namun alergi dapat memicu bisul. Anak yang alergi, biasanya gatal dan sering menggaruk-garuk. Akibat garukan itu, muncullah luka goresan yang mudah dimasuki kuman. Lalu timbul bisul.

Begitu anak Anda terkena bisul, segera tangani, jangan menunggu hingga bisulnya ‘matang’ dahulu. Jika bisul ditunggu sampai bernanah, dapat memperparah kerusakan jaringan, kulit pun menjadi berongga. Anda tidak dianjurkan memencet bisul, sebab akan membuat kulit ‘trauma’. Dengan perawatan yang benar selama proses pematangan, bisul biasanya akan pecah sendiri. Lakukanlah perawatan di rumah sebelum dan sesudah bisul pecah. Caranya adalah:

Perawatan sebelum bisul pecah:

  • Tetap jaga kebersihan tubuh anak dengan sering memandikan dan mengeramasi
  • Kompres bisul dengan kain bersih yang telah dicelup air hangat
  • Beri obat penahan nyeri dan penurun panas, seperti paracetamol sirup sesuai dosis. Jika perlu,
  • berikan salep hitam (ichtiol) pada bisulnya.
  • Untuk menghindari penularan, bersihkan tangan Anda setelah merawat bisulnya.
  • Jangan memecahkan bisul
670px-Treat-a-Boil-Step-2-Version-2

http://www.wikihow.com/Treat-a-Boil

Perawatan setelah bisul pecah:

  • Pastikan nanah dan mata bisul keluar semua
  • Berikan salep antiseptic
  • Jaga kebersihan kulit agar kuman dari nanahnya tidak merembet ke bagian tubuh lainnya.
  • Bersihkan tangan dan alat-alat yang terkontaminasi setelah merawat bisulnya.

Sebaiknya, segera bawa anak Anda ke dokter jika:

  •  Anak menderita diabetes
  • Bisul ada di wajah, anus, lipat paha, atau sekitar tulang belakang
  • Memicu demam tinggi dan nyeri yang menyiksa. Bengkak atau perubahan warna kulit dekat bisul.
  • Bisul belum pecah setelah seminggu perawatan
  • Terus kambuh beberapa kali dalam waktu singkat.

Depok, 26 Juni 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 12 Juni 2015

Referensi :
1. Ofir Artzi, et al. 2014. Recurrent Furunculosis in Returning Travelers : Newly Defined Entity. Journal of Travel Medicine
2. Selcuk, Aysegul, et al. 2015. Bacterial Skin Infection : Epidemiology and Latest Research. Turkish Journal of Family Medicine and Primary Care.
3. Serap Gunes, et al. 2013. The Prevalence of Pediatric Skin Diseases in Eastern Turkey. International Journal of Dermatology.
4. Balachandra, et al. 2105. Recurrent Furunculosis Caused by a Community Acquired Staphylococcus Aureus Strain. Microbial Drug Resistance Journal
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 143

Gambar awal diambil dari : http://www.webmd.boots.com/children/ss/slideshow-essential-nutrients

Daycare dan Leukimia Akut: Apa Hubungannya?

Sejumlah ilmuwan dari Institut Riset Kanker di Universitas London menemukan hubungan antara penyakit Acute Lymphoblastic Leukimia (ALL), atau yang populer disebut leukimia akut, dengan tempat penitipan anak (daycare). Namun jangan khawatir bunda, keterkaitan yang ditemukan adalah hubungan yang positif dimana anak-anak yang mengikuti day-care pada fase awal kehidupannya cenderung tidak mudah mengidap penyakit leukimia, dibandingkan anak-anak yang terlalu dibatasi ruang bermainnya.

Penelitian yang dilakukan selama lebih dari 7 tahun ini menemukan bahwa jika anak sering mengalami kontak dengan virus atau bakteri penyebab infeksi ringan (batuk pilek, radang, dsb), maka anak tersebut akan lebih terlindungi dari penyakit leukimia.

sn-leukemia

Gambar menunjukkan sel darah tikus yang menjadi leukemia setelah disuntikkan dengan sel yang diperlakukan untuk keperluan stimulasi infeksi multipel. Warna menunjukkan pasangan kromosom. Pada sel yang abnormal ini terdapat 3 kopi kromosom 18 (MARKUS MÜSCHEN/UCSF)

Day care adalah tempat dimana seorang anak berinteraksi dengan banyak anak-anak lain dan disinilah kesempatan mendapatkan infeksi virus atau bakteri menjadi lebih tinggi. Logikanya, infeksi ringan yang berulang bisa melatih sistem kekebalan tubuh anak sehingga bisa menjadi lebih “tangguh” dari waktu ke waktu.

Mel Greaves, salah satu penulis dalam penelitian ini, menyatakan bahwa anak-anak yang “terlalu dilindungi” dari infeksi virus akan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rentan terhadap leukimia. “Karena jarang terpapar oleh infeksi, sistem kekebalan tubuh anak-anak ini cenderung menimbulkan reaksi berlebihan (overreact) dan hal ini bisa memicu leukimia,” kata Greaves

Leukimia akut adalah suatu penyakit kelainan sistem kekebalan tubuh, dimana sel B dari sistem kekebalan tubuh kita tidak berkembang sedemikian rupa sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sel B adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh kita yang bertugas mencari “virus/bakteri” yang menyusup di aliran darah kita. Dalam tubuh penderita leukimia akut, produksi sel B cenderung meningkat dan menyerang sel tubuh normal karena menyangka sel normal tersebut sebagai bakteri“penyusup”.

leukemia

Leukemia (http://cdn3.dogomedia.com/)

Penelitian yang dilakukan oleh Greaves menemukan bahwa berubahnya tingkah laku sel B bisa dicegah dengan adanya infeksi ringan yang berulang. Atau jika ingin diumpamakan, kekebalan tubuh kita dilatih dengan beberapa kali “serangan” dari luar. Penelitian ini juga mendukung gagasan bahwa vaksinasi, atau mengenalkan antigen pada tubuh anak, memiliki dampak positif bagi kesehatan tubuh anak.

Dyna Rochmianingsih, S.Si (Science Journalist)

Tulisan sudah di tinjau oleh Hanifah Widiastuti, PhD.

Referensi

  1. Swaminathan S, Klemm L, Park E, Papaemmanuil E, Ford A, Kweon S-M, et al. Mechanisms of clonal evolution in childhood acute lymphoblastic leukemia. Nat Immunol [Internet]. 2015 May 18 [cited 2015 Jun 1];advance online publication. Available from: http://www.nature.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/ni/journal/vaop/ncurrent/full/ni.3160.html2. Cornwall W. Study may explain mysterious cancer–day care connection. Science [Internet]. 2015 May 18 [cited 2015 Jun 1]; Available from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25985233
  2. Cornwall W. Study may explain mysterious cancer–day care connection. Science [Internet]. 2015 May 18 [cited 2015 Jun 1]; Available from: http://news.sciencemag.org/biology/2015/05/study-may-explain-mysterious-cancer-day-care-connection

Pertolongan Pertama Mimisan Pada Anak

Ayah bunda mungkin pernah mendapatkan sang buah hati mengalami mimisan. Saat ia sedang asik-asiknya bermain, ceria dan sehat, tiba-tiba hidungnya berdarah. Tentu mimisan cukup membuat panik darah yang cukup banyak dan spontan. Namun, masih banyak orangtua yang menangani mimisan dengan cara yang kurang tepat. Seperti menyumbatnya dengan kain, tisu bahkan daun sereh. Lalu, bagaimana pertolongan pertama mimisan yang benar pada anak?

How-to-Stop-Nose-Bleeds

Sekilas Tentang Mimisan

Mimisan atau epistaksis ialah pendarahan dari hidung. Di hidung terdapat banyak pembuluh darah halus, terutama di daerah cuping hidung. Pembuluh darah itu dapat pecah jika terdapat faktor-faktor pencetusnya. Saat itulah terjadi mimisan. Anak-anak rentan terhadap mimisan karena selaput lendir dan pembuluh darahnya masih sensitif.

4359_image

Pembuluh darah hidung (http://www.seattlechildrens.org/kids-health/image/ial/images/4359/4359_image.png)

Terdapat dua faktor penyebab mimisan, yakni:

  1. Faktor organik
    Ditandai oleh kelainan organ bawaan sejak usia dini. Bisa berupa kelemahan pada organ atau pembuluh darah hidungnya. Misalnya, pembuluh darah hidungnya terlalu lebar, terlalu tipis atau rapuh. Dengan begitu, ketika aktivitas anak terlalu berlebih, kena iritasi, atau mengalami stres, akhirnya mimisan.
  2. Faktor gangguan medik
    Terjadi karena adanya gangguan pembekuan darah. Mimisan karena faktor ini disebabkan pembuluh darah dan trombosit (keping darah) gagal berfungsi menutup luka.

Secara umum, mimisan dipicu oleh:

  1. Suhu udara yang ekstrem, baik terlalu panas maupun terlalu dingin. Bisa juga terjadi karena perubahan cuaca yang sangat drastis.
  2. Kebiasaan anak yang sering mengorek lubang hidung.
  3. Hidung yang terbentur benda keras atau terjatuh
  4. Masuknya benda-benda kecil ke dalam hidung yang membuat hidung mengalami pendarahan
  5. Terlalu lelah bermain
  6. Terlalu kencang saat menbuang ingus atau mengembuskan udara
  7. Anak dengan riwayat alergi. Misalnya, anak yang sering pilek (flu) atau bersin-bersin juga lebih sering mengalami mimisan.

Cara Mengatasi Mimisan

Saat pertama kali terjadi mimisan pada anak, sebaiknya Anda tidak perlu panik. Lakukanlah pertolongan pertama dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Dudukkan anak dengan kepala condong ke depan. Hal ini menghindari tersedak atau muntah darah akibat darah berbalik arah ke kerongkongan. Dengan duduk, aliran darah akan melambat. Hindari posisi menengadah atau tidur karena darah dapat tertelan.
Cara Benar

Cara Benar (http://www.rch.org.au/uploadedImages/Main/Content/kidsinfo/Nosebleeds—KHI-RCH.jpg)

Cara Salah

Cara Salah (http://www.wetreatkidsbetter.org//wp-content/uploads/Nose-Bleed-Dont.bmp)

  • Tekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. Sebaiknya, gunakan kain atau tisu bersih saat menekan sehingga darah tidak berceceran. Lakukan selama 1-2 menit. Tenteramkanlah jika ia merasa tidak nyaman. Atau jika ia sudah mengerti, ajari bernapas melalui mulut sejenak.
  • Jika darah belum berhenti, coba kompres hidungnya dengan es yang dibungkus sapu tangan. Es dapat mengecilkan pembuluh darahnya. Ulangi juga menekan pangkal hidung.
  • Hindari menyumbat dengan kain, tissue atau daun sereh karena akan memperlama proses pembekuan darah.

Setelah pendarahan berhenti, cegah anak mengorek-ngorek hidung. Biasanya dengan bertambahnya usia, mimisan jadi berkurang, karena pembuluh darah dan selaput lendir hidungnya semakin menguat.

Kapan Perlu ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus mimisan ialah ringan, terkadang ada pula mimisan yang terjadi karena sebab serius. Sebaiknya orangtua segera membawa anaknya ke dokter apabila :

  1. Mimisan tidak berhenti dengan penekanan setelah 10-20 menit
  2. Mimisan yang hebat, dapat menyebabkan pingsan
  3. Mimisan berulang dalam periode singkat disertai darah yang banyak
  4. Anak merasa pusing, lemah atau merasa akan pingsan
  5. Mimisan pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun
  6. Adanya Sumbatan jalan napas
  7. Mimisan akibat trauma pada wajah
  8. Mimisan disertai demam atau muntah darah.

Depok, 9 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir :2015-06-11

Referensi :

  1. Jeremy Foon. 2014. Epistaxis. Department of Otolaryngology. University of Texas Medical Branch.
  2. Grema Umar, et al. 2014. Epistaxis: The Experience at Kaduna Nigeria. Department of Clinical Service. Journal of Medical Society.
  3. Bestari, Al Hafiz. 2009. Epistaksis dan Hipertensi. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang.
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 1485.
  5. Mimisan: Kapan berbahaya? [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/klinik/keluhan-anak/mimisan-kapan-berbahaya.html
  6. Nosebleed (Epistaxis) Causes, Symptoms, Treatment – When to Seek Medical Care [Internet]. eMedicineHealth. [cited 2015 Jun 11]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/nosebleeds/article_em.htm

Mengenal Obesitas Pada Anak

Tahukah ayah bunda bahwa persepsi anak gemuk itu tidak selamanya benar? Saat ini anak-anak di Indonesia bukan hanya terancam masalah gizi kurang tetapi juga gizi berlebih. Bahkan data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa tahun 2013 satu dari lima anak Indonesia usia 5-12 tahun gemuk atau obes. Obesitas pada anak amat ditakuti karena dapat meningkatkan resiko gangguan mental (depresi, rendahnya kepercayaan diri), DM Tipe 2, stroke sampai penyakit jantung stroke yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Tapi tidak perlu khawatir. Obesitas ini bisa dicegah dengan peran orangtua yang bijaksana menjaga nutrisi sang buah hati..

Tren Nutrisi Anak di Indonesia

Tren Nutrisi Anak di Indonesia. Terdapat peningkatan 7x lipat angka Overweight/Obes pada dekade terakhir

Mengapa obesitas terjadi?
Pada umumnya, obesitas terjadi ketika porsi makan anak melebihi kebutuhan tubuhnya. Kelebihan kalori itu disimpan menjadi lemak di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuh anak pun jadi membesar. Jumlahnya melebihi anak dengan berat badan normal. Selera makan anak yang terlanjur gemuk menjadi sangat besar. Semakin cepat terpenuhi nafsu makannya, semakin cepat bertambah beratnya. Ketika selera makan terus membesar, anak cenderung menjadi lapar mata, yakni terdorong mencicipi dan makan apa saja yang dilihat atau ditawarkan padanya, meskipun tidak lapar.

Bagaimana cara mengetahui anak saya obesitas?
Cara paling mudah mengetahui kelebihan gizi pada anak ialah menilai status gizi anak dari kurva WHO. Bagi orangtua yang memiliki balita, tentu familiar dengan KMS (Kartu Menuju Sehat). Nah, KMS ini dibuat berdasarkan kurva WHO. Sehingga ayah bunda bisa mendeteksi lebih dini kecenderungan obesitas melalui penimbangan berat dan pengukuran tinggi anak tiap bulan. Orangtua perlu waspada bila pada kurva tersebut didapatkan hasil :
– Berat badan/tinggi badan >2 SD artinya gemuk
– Berat badan/tinggi badan >3 SD artinya obesitas

Bila terdapat kecurigaan dari nutrisi yang berlebih, tenaga kesehatan mungkin akan mengukur Indeks Masa Tubuh anak secara berkala.

hasil

Selain itu, obesitas ditandai kelebihan lemak dalam darah. Kelebihan lemak dapat menjadi risiko perlemakan hati. Obesitas juga ditandai kadar kolesterol dan trigliserida di atas normal. Jika sejak kecil hingga dewasa keadaan itu terus berlanjut, dapat membahayakan kesehatannya. Hal itu setidaknya menjelaskan, misalnya, mengapa kini banyak orang terkena serangan jantung atau stroke pada usia kurang dari 40 tahun.

Bagaimana mencegah obesitas?
Agar anak tidak obesitas, para orang tua sebaiknya menjaga agar berat tubuh anaknya tetap normal. Dengan begitu, risiko penyakit yang muncul akibat obesitas dapat dihindari. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas:

  • Beri buah hati anda ASI. Berbagai penelitian, termasuk dari data CDC, membuktikan bahwa ASI ekslusif yang dilanjutkan dengan ASI selama mungkin dapat melindungi dari obesitas. Meskipun mekanismenya belum diketahui dan efeknya mungkin kecil, namun para ahli sepakat bahwa ASI bermanfaat untuk mengurangi resiko obesitas.
  • Hindari memberi makanan padat bagi bayi berusia kurang dari enam bulan. Ketika memasuki masa pemberian MP ASI, lakukanlah tahap-tahap pemberian makanan secara tepat dan sesuai perkembangannya.
  • Berikan anak nutrisi sesuai kebutuhan.
  • Latih anak untuk makan sesuai jadwal makanannya. Dengan begitu, tubuhnya terbiasa makan ketika sedang merasa lapar saat jam makannya tiba. Ikuti langkah pemberian makan anak yang benar di sini.
  • Hindari menyuapi anak sambil menonton TV atau bermain gadget. Penelitian membuktikan bahwa hanya dengan mengurangi waktu paparan anak terhadap media saja sudah bisa menurunkan Indeks Masa Tubuh anak secara signifikan. Batasi penggunaan media elektronik hanya 2 jam per hari pada anak usia di atas 2 tahun.
  • Jangan biasakan anak memakan makanan junk food dalam beragam bentuk, seperti pizza, burger, hotdog, dan lain-lain. Biasakanlah anak memakan makanan yang diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang segar dan bergizi seimbang.
https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png

  • Pada anak di atas 1 tahun yang telah terlanjur gemuk, pilihlah susu non fat (susu yang lemak susunya telah dibuang) sebagai susu rekreasi. Latih anak meminum dari gelas mulai usia 7 bulan. Minum susu dari botol sebelum tidur bisa menjadi kebiasaan yang membawa pada resiko obesitas.
  • Biasakan agar anak banyak bergerak melakukan olahraga dan bermain. Aktivitas yang disarankan ialah kegiatan aerobik seperti berlari, jalan cepat, berenang paling tidak 1 jam/hari. Semua aktivitas itu diarahkan untuk membuat tubuhnya bugar, membangun tulang dan ototnya, serta membakar kelebihan kalori. Anak yang kurang bergerak, berolahraga, dan latihan jasmani, berisiko menjadi gemuk dan tidak bugar.
Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Depok, 4 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 05/31/2015

Referensi :

  1. Sara McLanahan, et al. 2006. Childhood Obesity. A publication of the Woodrow Wilson School of public and international affairs at Princeton University and the Brooking Institution.
  2. Aaron S Kelly, et al. 2013. Severe Obesity in Children and Adolescents: Identification, associated health risk, and treatment Approach. American Heart Association
  3. Agata Dabrowska. 2014. Childhood Overweight and Obesity: Data Brief. Congressional Research Service
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 166
  5. Nutrition C on. Prevention of Pediatric Overweight and Obesity. Pediatrics. 2003 Aug 1;112(2):424–30.
  6. Obesitas pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 May 31]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak.html
  7. Indonesia Health Sector Review. Indonesia : Facing up to the Double Burden of Malnutrition [Internet]. The World Bank, Millenium Challenge Corporation; 2012 Dec. Available from: http://www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2013/01/18/000350881_20130118154713/Rendered/PDF/NonAsciiFileName0.pdf
  8. Indonesia Nutrition Profile [Internet]. USAID; 2014 Apr. Available from: http://www.fantaproject.org/sites/default/files/download/Indonesia-Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
  9. Physical Activity for Everyone: Guidelines: Children | DNPAO | CDC [Internet]. [cited 2015 May 31]. Available from: http://www.cdc.gov/physicalactivity/everyone/guidelines/children.html
  10. Richard J Schanler,MD. Infant Benefits of Breastfeeding. Uptodate [Internet]. 2015 Mar 13; Available from: http://www.uptodate.com/contents/infant-benefits-of-breastfeeding?source=search_result&search=infant+benefits+of+breastfeeding&selectedTitle=1~150

Cara Tepat Memberi Obat Pada Anak

Saat anak sakit, kadang para orang tua panik dan langsung membeli obat di warung tanpa resep dokter. Sering pula para orang tua membujuk anak dengan ‘berbohong’ agar ia mau minum obat. Benarkah cara tersebut?Lalu bagaimana baiknya? Berikut adalah cara tepat memberikan obat pada anak:

  • Jangan memberi obat sembarangan tanpa konsultasi dengan dokter.
  • Tanamkan pemahaman yang benar tentang obat sedini mungkin pada anak. Terangkan penyebab mengapa ia perlu minum obat dan manfaat obat itu untuk kesehatannya.
  • Meskipun anak belum dapat bicara, sebaiknya minta izin dulu darinya ketika mau meminumkan obat.
  • Jujurlah tentang rasa obat yang hendak diminumnya. Jangan mengatakan obat yang diminumnya manis, padahal obat itu pahit. Hal ini akan membuatnya kapok meminum obat apapun.
http://cdn-media-1.lifehack.org/wp-content/files/2015/01/baby-5.jpg

http://cdn-media-1.lifehack.org/wp-content/files/2015/01/baby-5.jpg

  • Jika obat itu memang pahit, mintalah pendapat dokter, apakah ada cara yang diperkenankan untuk ‘mengaburkan’ rasa obat itu. Dengan begitu, anak Anda pun terhindar dari trauma minum obat.
  • Jika obat yang diberikan adalah obat untuk pemakaian luar, seperti salep. Anda dapat ‘bersandiwara’ memakainya pada diri Anda dahulu. Hal ini untuk memotivasinya agar tidak takut pada salep.
  • Baca aturan pemberian obat yang tercantum pada kemasannya. Lalu berikan pada anak sesuai aturan (jumlah pemberian, waktu minum, maupun takarannya). Jika terdapat alat bantu atau takaran pada obat itu (seperti sendok dan pipet), gunakanlah sesuai ukuran yang dianjurkan.
http://www.aboutlawsuits.com/wp-content/uploads/liquid-meds_ss_55431154-400x288.jpg

http://www.aboutlawsuits.com/wp-content/uploads/liquid-meds_ss_55431154-400×288.jpg

  • Jika jenis obat yang diberikan dokter adalah antibiotik, berikan hingga habis.
  • Jika pada kemudian hari anak kembali sakit, lalu gejalanya sama dengan penyakit sebelumnya, jangan gunakan obat yang sama sebelum Anda berkonsultasi ke dokter.
  • Jika usai pemberian obat muncul gejala alergi, hentikan pemberian obat. Lalu konsultasikan kembali dengan dokter.

Depok, 28 Maret 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir :05/29/2015

Referensi :
1. World Health Organization. 2007. Guideline : Promotion Safety of Medicines for Children.
2. Sullivan, Jalice. 2011. Clinical Report : Fever and Antipyretic Use in Children. USA : American Academic of Pediatric Journal
3. Sunarto, Nano. 2008. Panduan Merawat Bayi dan Balita Agar Tumbuh Sehat dan Cerdas. Jakarta : Diva Press
4. Smith, Jony. 1999. Pertolongan Pertama Dokter di Rumah Anda. Jakarta : Dian Rakyat

5 Perbedaan Gumoh dan Muntah

Ada kalanya ibu mengalami kendala saat menyusui. Kendala tersebut seringkali datang dari gangguan pada bayi itu sendiri, antara lain bayi tersedak, perut bayi kembung, bayi gumoh ataupun muntah. Berikut adalah perbedaan gumoh dan muntah:

http://assets.inhabitots.com/wp-content/uploads/2014/06/babies-overdiagnosed-with-gerd-537x442.jpg

Gumoh Muntah
Gumoh biasanya terjadi pada bayi baru lahir (berusia beberapa minggu sampai 6 bulan). Gumoh akan hilang seiring bertambahnya usia. Muntah minimal terjadi pada bayi berusia di atas 2 bulan. Bila tidak ditangani serius, dapat berlanjut hingga dewasa.
Penyebab gumoh:

  • Terlalu banyak minum ASI
  • Adanya udara yang turut tertelan saat minum ASI
  • Belum sempurnanya organ pencernaan seputar mulut dan kerongkongan (umumnya terjadi pada bayi prematur)
Penyebab muntah:

  • Adanya kelainan pada sistem pencernaan, terutama pada katup pemisah lambung dan usus 12 jari (warna cairan yang keluar biasanya kehijauan)
  • Terjadinya luka atau infeksi di daerah tenggorokan (biasanya bercak darah mengiringi keluarnya cairan)
Cairan yang dikeluarkan dari gumoh kembali biasanya berupa ASI yang tertelan, dengan volume tidak terlalu banyak (dibawah 10 cc) Cairan yang dikeluarkan saat muntah dapat berupa ASI, MPASI atau susu formula. Volumenya cukup banyak (diatas 10 cc)
Biasanya gumoh keluar melalui mulut tanpa diiringi kontraksi pada dinding otot perut. Muntah bisa keluar melalui mulut, terkadang juga rongga hidung. Keluarnya cairan cukup deras dari dalam perut dan diikuti kontraksi pada dinding otot perut.
Penanganan gumoh: dengan cara membuat bayi bersendawa Penanganan muntah: bawa ke dokter.
Muntah-Gumoh-pada-bayi

Cara membuat anak bersendawa

Depok, 27 Maret 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 2015-05-29

Referensi :
1. Fleisher, David. 2006. Regurgitation, Rumination, and The Rumination Syndrome. Columbia: University of Missoury Medical School
2. Allen, Katie. 2007. The Vomiting Child : What to do and when to consult. Melbourne : Departement of Pediatrics, University of Melbourne.
3. Annemaire, Houda. 2013. Gastroesophageal Reflux in Breastfed Babies. Wellington : New Zealand College of Midwife.
4. Sunarto, Nano. 2008. Panduan Merawat Bayi dan Balita Agar Tumbuh Sehat dan Cerdas. Jakarta : Diva Press
5. Smith, Jony. 1999. Pertolongan Pertama Dokter di Rumah Anda. Jakarta : Dian Rakyat

Ketahui Serba-Serbi Alergi Pada Anak

Ayah Bunda tentu sudah familiar dengan istilah alergi ini. Seringkali bentuk ‘penampakan’ alergi dan berbagai macam penyebabnya adalah suatu masalah tersendiri ketika dialami. Bayi diare dibilang alergi, gatal di kulit juga alergi, batuk lama dibilang alergi. Bahkan juga mungkin kita pernah mendengar ada yang sampai meninggal juga karena alergi. Jadi alergi itu berada di dalam tubuh sebelah mana ya?

Sekilas tentang alergi

Oleh Tuhan, tubuh kita didesain memiliki sistem pertahanan untuk menghadapi bakteri, virus, atau zat asing yang tidak dikenali tubuh. Sistem pertahanan ini ada dimana-mana dari sistem pernafasan hingga pencernaan. Jika ada benda asing masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan merespon dengan berbagai reaksi. Contohnya adalah demam jika ada bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh dan bersin saat menghirup debu. Semua respon ini sebetulnya respon yang baik untuk mengeluarkan benda asing dari tubuh.

Pada kasus alergi, sistem pertahanan tubuh ini merespon secara berlebihan pada zat asing yang terpapar oleh tubuh. Jadi, zat asing (debu, serbuk sari, dll) yang harusnya dianggap sebagai zat asing normal akan dianggap sebagai zat berbahaya. Sehingga, reaksi pertahanan yang dikeluarkan tubuh pun akhirnya juga berlipat ganda. Makanya, mungkin Anda sering melihat ada anak yang terkena debu hanya bersin sesaat tapi ada juga anak yang sampai bersin dan hidung berair sampai seharian. Semua itu tergantung dari bakat alergi (atau kita menyebutnya dengan atopi) yang dimiliki si anak.

19150

Reaksi Alergi (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19150.htm)

Karena letak sistem pertahanan yang ada di seluruh tubuh, maka tak heran kalau reaksi alergi yang timbul tergantung dengan letaknya, misalnya :

  • Jika di kulit, bentuknya bisa gatal-gatal dengan bentuk biduran, bentol, kemerahan atau bruntus-bruntus
  • Jika letaknya di sistem pernafasan, bentuk alergi yang muncul seperti bersin-bersin, hidung berair, sesak
  • Jika di sistem pencernaan, gejala yang biasa timbul misal diare, muntah, mual, dan nyeri perut.

Karena bentuk reaksi alergi yang muncul ini menyerupai dengan penyakit biasa, memang untuk mengenal mana alergi butuh pengamatan yang cermat. Contohnya, anak yang batuk sudah dua minggu bisa saja disebabkan oleh adanya infeksi paru atau bisa juga alergi dingin. Selain itu, diare juga bisa karena memang ada infeksi virus atau alergi makanan. Wah, jadi bagaimana membedakannya ya, semakin menarik saja ya alergi ini. Yuk kita simak lebih lanjut.

Siapa saja sih yang dapat mengalami alergi ?
Tentunya tidak semua orang mengalami alergi. Jika ayah atau ibu memiliki alergi, kemungkinan si anak mengalami alergi yang serupa lebih besar. Jika di salah satu orang tua ada yang memiliki alergi, maka kemungkinan si anak sekitar 15 – 30% dapat memiliki alergi. Sedangkan kemunkinan ini meningkat menjadi 50 – 75 % jika kedua orang tua memiliki alergi juga. Bisa juga ketika anak memiliki alergi makanan di masa bayi, kemungkinan dia terkena asma ketika beranjak dewasa juga besar. Singkatnya, orang yang rentan alergi dipengaruhi oleh keturunan keluarga dan riwayat alergi sebelumnya.

Apakah itu Atopi ?
Pada anak dengan kecenderungan alergi yang kuat, dikenal istilah derap atopi, suatu istilah untuk menggambarkan perjalanan gejala alergi dari bayi hingga dewasa. Anak dengan atopi pada masa bayi cenderung mengalami alergi makanan dengan gejala kemerahan di pipi atau diare. Kemudian, begitu menginjak sekitar usia 3-5 tahun alergi makanan ini hilang dan diganti dengan timbulnya gejala asma sampai menginjak dewasa. Nah, ketika menginjak usia remaja sampai dewasa gejala asma ini berubah menjadi urtikaria (biduran) dan rhinitis (hidung gatal dan meler, bersin di pagi hari, mata merah berair). Namun, perlu diingat lagi bahwa perjalanan alergi ini tidak sama di setiap individu. Ada yang tidak pernah asma, hanya rhinitis saja. Ada juga yang sejak kecil hingga dewasa asma, dsb.

figure1

Derap Atopi (http://www.worldallergy.org/professional/allergic_diseases_center/allergic_march/)

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah anak saya memiliki bakat alergi atau tidak ?
Penentuan apakah seseorang alergi sebenarnya bisa didapatkan dokter dari hasil anamnesis dan pemeriksaan. Selain itu, terdapat beberapa tes yang biasa dilakukan untuk membantu penentuan alergi/tidak:

  1. Skin prick test, dengan menusuk-nusukkan jarum yang mengandung sedikit alergen (zat yang dapat memicu alergi) untuk melihat reaksi kulit yang terjadi.
  2. Intradermal test, dengan menyuntikkan zat yang dicurigai penyebab alergi dalam dosis yang aman. Dilihat apakah timbul reaksi penanda alergi atau tidak.
  3. Patch test, dengan menempelkan sejenis plester yang mengandung alergen lalu melihat reaksi yang terjadi pada kulit.
  4. Melakukan pengukuran kadar serum IgE total.
    IgE merupakan salah satu antibodi (bagian dari sistem pertahanan tubuh) yang berperan dalam reaksi alergi yang dimediasi oleh antibodi ini. IgE total akan meningkat ketika mengalami alergi. Diperlukan pengambilan darah untuk memeriksakan serum IgE ini.
  5. Melakukan pengukuran kadar serum IgE alergen spesifik
    Pemeriksaan ini lebih khusus dibanding pemeiksaan serum IgE total karena akan didapatkan jumlah IgE untuk jenis alergen tertentu. Dalam sekali pengambilan darah, dapat diperiksakan reaksi terhadap beberapa macam alergen. Hasil akhirnya dapat dilihat pada jenis makanan/zat apakah seseorang alergi.
  6. Food elimination diets, dilakukan dengan tidak mengkonsumsi makanan/zat/obat tertentu yang dicurigai menyebabkan alergi. Jika gejala membaik, kemungkinan besar makanan/obat/zat tersebut adalah penyebab alergi.
  7. Oral food challenges, tes ini harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat karena memasukkan makanan/zat yang dicurigai penyebab timbulnya alergi beresiko timbul reaksi alergi yang berbahaya yakni syok anafilaksis.

Pengobatan Alergi

Jika seseorang mengalami alergi, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menghindari zat penyebab alergi itu sendiri. Adapun jika memang harus diberikan obat maka yang biasa diberikan adalah obat-obatan dari golongan antihistamin, yakni jenis obat yang menangkal histamin, suatu zat yang timbul akibat reaksi alergi dan menyebabkan gejala alergi. Selain itu, dokter mungkin akan mempertimbangkan memberi kortikosteroid pada alergi yang lebih berat.

Metode pengobatan yang disebut desensitisasi juga dapat digunakan untuk jenis alergi tertentu. Desensitisasi ini berarti dengan sengaja memaparkan diri pada suatu alergen agar tubuh ‘belajar’ menjadi kuat terhadap alergen tersebut sehingga tidak lagi timbul reaksi alergi. Konsultasi pada dokter terlebih dahulu diperlukan sebelum menjalani metode ini.

Jadi, dengan gejala alergi yang bervariasi dari ringan hingga berat, penting bagi kita mengetahui riwayat alergi setiap anggota keluarga sehingga orangtua bisa lebih berhati-hati memilih bahan makanan, memilih lokasi dan cuaca ketika hendak berpergian, lebih apik membersihkan debu di rumah dan juga lebih informatif memberikan keterangan pada dokter ketika berobat. Semoga bermanfaat. 🙂

Penulis : Irma Susan Kurnia, dr. 

Editor : Rara Ayuningtyas Pramudita

Modifikasi terakhir : 05/21/2015

Referensi

  1. Allergy Trigers.2014. Available from : http://www.webmd.com/allergies/guide/allergy-triggers
  2. The Allergic March.2007. Available from : http://www.worldallergy.org/professional/allergic_diseases_center/allergic_march/
  3. Bayer JA, Assa’ad A, Jones SM, et al. Guidelines for The Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States : Report of the NIAID-Sponsored Expert Panel. Journal Allergy Clinical Immunology. 2010
  4. Gupta RS, Lau CH,Dyer AA, et al. Food Allergy Diagnosis and Management Practices Among Pediatricians. Clinical Pediatrics.2014 ;53:524.

Sembelit Pada Anak

Apa itu sembelit pada anak?

Sembelit atau konstipasi ialah kesulitan atau keterlambatan buang air besar selama 2 minggu atau lebih yang cukup menyebabkan anak menderita.1 Memang semakin bertambah usia anak, semakin jarang ia buang air besar. Hal ini disebabkan adanya proses pematangan saluran cerna. Sehingga ayah bunda tidak perlu khawatir ya, kalau BAB terlambat seminggu dan anak tidak merasa terganggu, belum dikatakan sembelit. 🙂

constipation

Konstipasi (http://www.whatcausesthis.com/what-causes-constipation/)

Dua jenis sembelit

Sembelit pada anak dibagi menjadi dua : organik dan fungsional. Sembelit organik terjadi karena ada kelainan organ pada tubuh anak. Sedangkan dikatakan fungsional bila tidak ada penyebab organik yang nyata. Kelainan organik bisa dikatakan lebih berat dan dapat berujung pada operasi. Namun, orangtua bisa sedikit lega karena mayoritas kasus sembelit anak (sekitar 95%) terjadi karena sebab fungsional. 2,3

konst

Bagaimana membedakan sembelit yang berbahaya dan yang tidak?
Tanda bahaya ini biasanya terjadi pada sembelit yang organik. Segera hubungi dokter bila anak Anda mengalami :

Tanda Bahaya Segera

  1. Pengeluaran mekonium yang terlambat (bayi belum BAB setelah 48 jam lahir)
  2. Disertai demam, muntah atau diare
  3. Adanya pendarahan dubur
  4. Perut kembung yang semakin parah

Tanda Bahaya Kronis 

  1. Sembelit dimulai dari lahir
  2. Ribbon stools (feses tipis seperti pita)
  3. Disertai kontinensia urin
  4. Berat badan turun atau sulit naik
  5. Pertumbuhan terlambat
  6. Riwayat keluarga dengan penyakit Hirschprung

Bila tidak ada gejala-gejala tersebut, kemungkinan Anak anda mengalami sembelit fungsional.2

Kapankah usia tersering terjadinya sembelit fungsional pada anak?
Sembelit cukup sering terjadi pada anak. Sekitar 1/3 anak usia 6-12 tahun mengalami konstipasi pada tahun kapan saja. Meskipun lumrah terjadi, tapi sembelit ini tidak bisa dibiarkan karena efeknya yang dapat berimbas pada kesehatan tubuh dan perilaku psikososial. Pada anak terdapat 3 periode tersering terjadinya sembelit, yaitu3:

  1. Saat anak dikenalkan pada makanan padat (peralihan ASI ekslusif ke MPASI)
  2. Saat toilet training
  3. Usia sekolah. Biasanya terjadi sembelit karena anak tidak biasa atau enggan menggunakan toilet di sekolah.

Orang tua perlu pahami waktu-waktu tersebut agar bisa lebih waspada dan mencegah sembelit lebih awal..

Halaman selanjutnya (Penyebab & Terapi)