Category Archives: Pojok Psikologi

Peran Ayah Dalam Pengasuhan Bayi

Ayah yang sejak awal aktif membangun ikatan dengan bayinya tidak saja membantu perkembangan fisik dan mental, tetapi juga menjadi kunci kekuatan keluarga, bahkan kunci
kesuksesan dan perilaku anak di masa depan. Anak-anak yang sejak kecil memiliki ikatan
dengan ayahnya cenderung akan lebih sukses di bidang akademik, lebih aman secara
emosional, dan kecil kemungkinan terlibat tindakan kriminal atau penyalahgunaan narkotika.
Apa yang dibutuhkan oleh ayah baru?

Menurut para ahli, apa yang dibutuhkan para lelaki yang baru menjadi ayah adalah
ikatan. Ikatan yang baik dan erat. Sebuah kabar baik bagi para ayah yang begitu antusias
untuk segera memeluk si kecil. Tetapi menjadi sebuah tantangan bagi mereka yang tidak tahu
harus memulainya dari mana, dan bagi mereka yang mungkin tidak memiliki ikatan kuat
dengan ayahnya karena memang datang dari generasi yang berbeda. Bagaimana membangun
ikatan itu, dan apa manfaatnya untuk ayah?

Para ahli menekankan bahwa para ayah tidak perlu merasa harus menjadi ‘ibu kedua’.
Anda seorang ayah, lakukanlah dengan cara Anda sendiri, itulah yang dibutuhkan si kecil.
Kerapkali para ibu lebih rapi, misalnya ketika akan bepergian, ibu sigap menyiapkan
makanan kecil, mengantisipasi kebutuhan tidur, kenyamanan, dan hiburan. Sementara para
ayah cenderung lebih santai dan sering mengandalkan mantra mudah: kalau nggak ada ya beli
saja. Laki-laki umumnya menerapkan cara yang agak keras terhadap anak-anaknya dan
mendorong perilaku yang berani ambil risiko. Para ayah pun memiliki kosakata yang berbeda
dan seringkali menggunakan kata-kata lebih kompleks (sementara para ibu cenderung
menyesuaikan bahasanya dengan anak-anak) yang justru akan memperkaya kosakata anak-
anak. Dengan begitu, metode para ayah ini lebih sebagai pelengkap, bukan sebaliknya. Anak-
anak akan mengambil manfaat dari dua gaya parenting yang berbeda ini.

Membangun Ikatan dengan Anak

Membangun ikatan bisa jadi hal sederhana: menyuapi si kecil, memandikan, atau
bercanda di tempat tidur. Ayah bisa juga menggendong si kecil, membacakan buku,
menyanyi, atau mendengarkan musik bersama. Jika ingin membangun ikatan khusus, lakukanlah aktivitas bersama seperti berenang atau berkebun. Bayi menggunakan tangan dan
kakinya untuk mengekspresikan kebutuhan dan perasaannya. Nah, bila Ayah memahami
bahasa itu, praktekkan, dan ikatan Ayah dan si kecil pun akan semakin erat.

Para peneliti di Kanada dan Israel menemukan bahwa para ayah mengalami
peningkatan bonding ketika anak-anaknya dilahirkan. Bahkan selama kehamilan istrinya,
pria memperlihatkan perubahan kadar hormon stres kortisol dan juga prolaktin, hormon yang
berkaitan dengan perilaku parenting. Di saat yang sama, mereka mengalami peningkatan
oksitosin, hormon yang dapat mencairkan sikap kelelakian dan menimbulkan naluri untuk
mengasuh. Sebuah respon evolusioner untuk mengubah lelaki menjadi ayah.

Peran Ayah di Berbagai Negara
Anda bisa mencari inspirasi dari para ayah di berbagai penjuru dunia. Ayah di Swedia
bisa dibilang ayah yang paling ‘terlibat’ dalam pengasuhan, karena mereka mendapat cuti
kelahiran lebih lama daripada di negara lain. Namun, di Eropa Utara para ayah cenderung
lebih terlibat dalam pengasuhan karena mereka tidak punya keluarga besar seperti di kawasan
Eropa Selatan, misalnya Yunani, dimana kakek-nenek, tante-om banyak ikut campur dalam
pengasuhan anak.

Di seluruh dunia, terlihat adanya peningkatan keterlibatan kaum lelaki dalam
beberapa dekade terakhir. Antara tahun 1965-2000 di Amerika, ayah menghabiskan waktu
dua kali lebih banyak khusus untuk aktivitas pengasuhan, dari 2,6 jam menjadi 6,5 jam
seminggu. Kasih sayang para bapak di Australia juga meningkat. Di Inggris, ayah melakukan
25% aktivitas yang berhubungan dengan pengasuhan di hari kerja dan 30% di akhir minggu.
Mencari inspirasi sejati? Lihatlah orang-orang Aka Pygmies, kelompok nomaden di
Kongo, Afrika. Para lelaki dalam komunitas ini, rerata 47% waktunya adalah berada dekat
anak-anaknya. Mereka menggendong, memeluk, dan bermain dengan anak-anaknya lima kali
lebih sering dibandingkan para ayah dari suku lain. Itu karena meraka tahu bahwa mereka
sedang melakukan kebaikan. Nah, singkirkan selimut dan bersiaplah menjadi ayah abad 21
dengan ikut berperan aktif dalam membesarkan si kecil.

Depok, 17 Januari 2018
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Amy Brown, et al. 2014. Father’s Experiences of Supporting Breastfeeding:
Chalenges for Breastfeeding Promotion and Education. Maternal and Child Nutrition
Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4282396/
2. Michael Yogman, et al. 2016. Father’s Role in The Care and Development of Their
Children: The Role of Pediatricians. American Academy of Pediatrics Journal.
3. Ad Council. 2015. Fatherhood Involvement. www.adcouncil.org/Our-Campaigns/Family-Community/Fatherhood-Involvement
4. Roopnarine L. 2015. Fathering: A Journal of Research, Theory,and Practice.
http://fatheringjournal.com/default.aspx
5. Sarkadi A, et al. 2008. Father’s Involvement and Children’s Developmental
Outcomes: A systematic review of Longitudinal Studies. Acta Pediatrician. 97 (2):
153-158

Tips Menangani Gangguan Belajar pada Anak

Pada umumnya, setiap anak akan menampilkan satu atau lebih dari tanda-tanda peringatan dini gangguan belajar. Hal ini normal. Namun, saat menemukan ada beberapa karakteristik yang terus muncul dalam periode waktu yang panjang, maka Anda perlu mempertimbangkan anak Anda mengalami gangguan belajar.

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan dalam merespon gangguan belajar:

  1. Memahami kekuatan anak

  • Anak-anak dengan gangguan belajar seringkali sangat cerdas, memiliki keterampilan memimpin, atau lebih unggul dalam bidang musik, seni, olahraga, atau bidang kreatif lainnya. Daripada berfokus pada kekurangan anak, kita harus lebih menekankan dan menghargai kekuatan anak.
  1. Melakukan evaluasi

  • Anda bisa meminta pihak sekolah untuk memberikan evaluasi pendidikan yang komprehensif, termasuk tes kemampuan (assessment), pengujian untuk mengevaluasi dan mengukur bidang kekuatan dan kelemahan anak Anda.
  1. Bekerja sama untuk membantu anak

  • Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa anak Anda memiliki gangguan belajar, maka Anda harus memenuhi syarat untuk mendapat layanan pendidikan khusus. Anda dapat bekerja dengan guru untuk mengembangkan Program Pendidikan Individual, semacam dokumen tertulis tentang ringkasan kinerja pendidikan anak dan metode untuk mengevaluasi kemajuan.
  1. Berdiskusi dengan anak tentang gangguan belajar

  • Anak-anak dengan gangguan belajar harus diyakinkan bahwa mereka itu tidak bodoh atau malas. Mereka orang cerdas yang mengalami gangguan belajar karena pikiran mereka berbeda cara dalam memproses kata-kata atau informasi.
  1. Temukan akomodasi yang dapat membantu

  • Anda dapat bertemu dengan guru untuk membahas tentang opsi untuk dibacakan informasi tertulis dengan kertas, tambahan waktu pada saat ujian, merekam pelajaran, dan menggunakan alat bantu teknologi.
  1. Memonitor kemajuan anak

  • Perhatikan kemajuan anak untuk memastikan bahwa kebutuhan anak Anda telah terpenuhi.
  1. Mengorganisir informasi seputar gangguan belajar anak

  • Mulailah membuat folder untuk semua materi yang berhubungan dengan pendidikan anak Anda.
  1. Mendapatkan bantuan sejak dini

  • Sangat penting bagi Anda untuk mencari bantuan segera setelah Anda menyadari anak memiliki gangguan belajar.

Jadi, apa yang harus Anda lakukan terlebih dahulu?

  • Percayalah pada naluri!
  • Tidak ada yang tahu anak Anda lebih baik daripada Anda sendiri. Jadi, Anda bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi, langsung berbicara dengan guru, mencari informasi dan pendapat para ahli, dan jangan takut untuk segera mendapatkan evaluasi.
  • Bertemu dengan guru dan konselor bimbingan. Mereka dapat memberi tahu Anda seberapa baik anak Anda berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.

Saran untuk orang tua dalam menangani gangguan belajar:

  1. Bekerja sama dengan anak di rumah

  • Orang tua adalah guru anak yang pertama dan terbaik. Kita dapat menunjukkan kepadanya bahwa membaca itu menyenangkan. Kita bisa membacakan sebuah buku untuk anak setiap hari.
  1. Bergabung dengan mereka yang peduli

  • Yakinlah Anda tidak sendirian. Bergabung dengan orangtua lain dalam sebuah support group dan bekerja sama dengan para profesional, maka kita pun dapat meningkatkan kesadaran terhadap problem ini, menghilangkan kesalahpahaman populer.
  1. Bekerja sama dengan para profesional

  • Para profesional tersebut antara lain: audiolog, konsultan pendidikan, terapis pendidikan, spesialis gangguan belajar, neurologist, terapis okupasional, dokter anak, psikiater, psikolog (klinis), psikolog pendidikan/sekolah, terapis wicara dan bahasa.
  1. Membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah

  • Tunjukkan minat pada pekerjaan rumah anak kita. Kita dapat menanyakan tentang mata pelajaran dan tugas apa yang harus dikerjakan. Ajukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari satu atau dua kata.
  1. Membantu anak menjadi pembaca yang lebih baik (untuk anak usia dini)

  • Mengajarkan hubungan antara huruf dan kata. Ajarkan pada anak sejak dini cara mengeja kata-kata, seperti: nama mereka sendiri atau kata-kata yang mungkin akan sering mereka ucapkan, seperti: sudah! Atau tidak boleh!

Selamat mencoba!

<Depok, 31 Desember 2016>

Reqgi First Trasia, dr.

.

.

.

Referensi:

  1. Corinne Smith: Learning Disabilities A to Z; Free Press; 1st edition (June 12, 2000)
  2. Gary Fisher dan Rhoda Cummings: The School Survival Guide for Kids with Learning Disability (Self-Help for Kids Series); Free Spirit Publishing; 2nd edition (September 2000)
  3. Joan M Harwell dan Rebecca Williams Jackson: The Complete Learning Disability Handbook: Ready to-Use Strategies and Activities for Teaching Students with Learning Disability; Jossey-Bass; 3rd edition (October 20, 2008)
  4. Peg Dawson dan Richard Guare: Coaching Students with Executive Skills Deficits; The Guilford Press; 3rd edition (Februari 9, 2010)

 

Apa itu ADHD?

Tahukan bunda, ADHD merupakan salah satu gangguan yang paling banyak dialami oleh anak-anak. Diperkirakan 5 – 10 % anak usia sekolah di dunia mengalami gangguan ini. ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan gangguan yang ditandai dengan adanya masalah dalam memusatkan perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang terjadi terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama.

Adanya gangguan yang dialami membuat anak-anak dengan ADHD harus berjuang dalam banyak hal. Masalah dalam memusatkan perhatian dan hiperaktivitas yang dimiliki membuat performa mereka di sekolah menjadi kurang maksimal. Mereka kurang dapat memahami materi pelajaran dan sering kali tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Guru-guru sering merasa bahwa mereka memiliki perilaku mengganggu di kelas yang sangat sulit untuk ditangani. Disamping itu, teman-teman juga banyak yang menghindar atau menolak untuk berteman dengan mereka karena terganggu dengan tingkah laku yang ditunjukkan, seperti menyerobot antrian bermain, memotong pembicaraan, dan sering mengganggu. Di keluarga, orang tua dan saudara mungkin sudah frustrasi dalam menghadapi tingkah laku yang mereka tunjukkan. Lalu, apa saja gejala yang sebenarnya dimiliki oleh anak dengan ADHD?

adhd

Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Tipe dan Gejala ADHD

American Psychiatric Association membagi kondisi ini kedalam tiga tipe, yaitu:

  1. Tipe ADHD yang didominasi masalah pemusatan perhatian
    Anak dapat dikatakan memiliki gangguan ADHD tipe ini apabila ia memiliki enam atau lebih gejala berikut yang berlangsung selama minimum 6 bulan dan mempengaruhi fungsi kehidupan sehari-hari, yaitu: (a) sulit memperhatikan hal detail dan sering membuat kesalahan yang ceroboh; (b) sulit mempertahankan perhatian ketika bermain atau mengerjakan tugas; (c) tampak tidak mendengarkan ketika diajak berbicara; (d) sulit mengikuti arahan dan gagal menyelesaikan tugas; (e) kesulitan dalam mengorganisir tugas dan aktivitas; (f) sering menghindar atau tidak menyukai tugas yang membutuhkan banyak usaha mental (seperti tugas sekolah atau pekerjaan rumah); (g) mudah kehilangan barang-barang penting; (h) perhatiannya mudah teralihkan dengan hal-hal lain; dan (i) pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
  2. Tipe ADHD yang didominasi masalah hiperaktivitas-impulsivitas
    Anak dapat dikatakan memiliki gangguan ADHD tipe ini apabila ia memiliki enam atau lebih gejala berikut yang berlangsung selama minimum 6 bulan dan mempengaruhi fungsi kehidupan sehari-hari, yaitu: (a) tidak bisa duduk diam; (b) sering meninggalkan tempat duduk pada situasi dimana ia diharapkan untuk duduk dalam jangka waktu tertentu; (c) berlari atau memanjat pada situasi yang tidak tepat; (d) tidak dapat diam ketika bermain atau beraktivitas; (e) berperilaku seperti digerakkan oleh motor; (f) banyak bicara; (g) menjawab sebelum pertanyaan selesai; (h) sulit menunggu giliran; dan (i) sering mengganggu orang lain.
  3. Tipe ADHD kombinasi
    Anak dengan tipe ADHD ini memiliki gejala-gejala yang terdapat di tipe (1) dan tipe (2). Tipe ini merupakan tipe yang paling umum dialami oleh anak dan remaja dengan ADHD.

Beberapa orang tua atau guru mungkin terkadang mengalami kebigungan dalam menentukan apakah seorang anak mengalami ADHD atau tidak karena gejala tersebut juga sering muncul pada anak usia dini. Hal yang membedakan adalah, gejala pada anak ADHD muncul dalam jangka waktu yang panjang (minimum 6 bulan) serta terjadi di berbagai situasi. Gejala-gejala tersebut juga mengganggu berbagai fungsi kehidupan anak baik di rumah, di sekolah, serta dalam interaksi sosial.

Penyebab ADHD

ADHD bukan disebabkan karena pola pengasuhan orang tua yang tidak tepat, terlalu banyak mengkonsumsi gula, ataupun karena vaksin. Akan tetapi, faktor yang menjadi penyebab munculnya kondisi ini diantaranya yaitu, gangguan neurologis pada otak, faktor keturunan, kecanduan alkohol atau rokok di masa kehamilan, komplikasi pada saat melahirkan, serta berat badan bayi yang sangat rendah ketika lahir.

Penanganan

ADHD tidak dapat disembuhkan, namun gejalanya dapat dikelola agar lebih baik. Ada berbagai cara untuk mengelola gejala yang dimiliki anak yaitu, penanganan medis, psikoterapi, pelatihan orang tua atau terapi keluarga, serta kombinasi dari beberapa penanganan. Penanganan medis yaitu melalui pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengurangi hiperaktivitas dan impulsivitas serta meningkatkan kemampuan anak dalam memusatkan perhatian. Penanganan berupa psikoterapi bertujuan untuk membantu anak agar dapat mengawasi dan mengubah tingkah lakunya, serta untuk mengajarkan keterampilan sosial yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, pelatihan orang tua atau terapi keluarga bertujuan untuk membantu orang tua ataupun anggota keluarga agar dapat menemukan cara yang tepat dalam mengatasi perilaku anak dan agar dapat mendorong terjadinya perubahan perilaku pada anak. Penanganan ADHD yang diberikan dapat berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Hal ini bergantung pada tingkat keparahan gangguan yang dimiliki serta kondisi pengasuhan anak dalam keluarga.

Tips bagi Orang Tua

Memiliki anak dengan gangguan ADHD dapat membuat orang tua merasa kewalahan dan frustrasi. Meskipun demikian, ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak dalam mengontrol dan mengurangi gejala yang dimiliki.

  • Tetap positif. Tunjukkan sikap yang positif dan tenang ketika menghadapi anak. Percayalah bahwa ia dapat belajar, berubah, dan sukses. Jangan berfokus pada kelemahan anak, namun fokuslah pada bagaimana mengembangkan kelebihan yang ia miliki.
  • Rancang jadwal. Upayakan untuk menjalani rutinitas yang sama tiap harinya, mulai dari bangun hingga tidur kembali di malam hari. Termasuk juga waktu untuk mengerjakan tugas, bermain di luar, dan aktivitas di dalam ruangan. Taruhlah jadwal di tempat yang mudah dilihat oleh anak.
  • Atur letak barang-barang yang dibutuhkan. Sediakan tempat khusus untuk setiap barang yang diperlukan anak sehari-hari seperti, baju, tas, perlengkapan sekolah, dan mainan. Jagalah agar barang tersebut tetap berada di tempatnya sehingga anak mudah untuk mencarinya.
  • Jelas dan konsisten. Anak dengan ADHD memerlukan aturan yang konsisten yang dapat mereka pahami dan ikuti.
    Berikan pujian atau hadiah. Anak dengan ADHD sering kali menerima kritik dari orang lain. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menemukan perilaku baik yang anak tunjukkan dan berikan penghargaan terhadapnya sehingga mendukung perkembangan harga diri anak.

Hal yang juga penting untuk diingat adalah, orang tua tidak harus membesarkan anak ADHD sendirian. Carilah bantuan dengan berkonsultasi pada dokter, terapis, psikolog, dan guru di sekolah. Orang tua juga dapat bergabung dalam komunitas orang tua dengan kondisi anak serupa untuk saling berbagi pengalaman dan bertukar informasi. Disamping itu, beritahukan mengenai kondisi ADHD anak dengan orang-orang yang banyak menghabiskan waktu bersamanya, agar mereka dapat lebih memahami ‘perbedaan’ yang anak tunjukkan.

Aisha Salsabila, M.Psi

Psikolog

02/06/2016

Sumber:

  1. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders, 5th Ed. Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.
  2. Haugaard, J. J. (2008). Child psychopathology. New York: McGraw-Hill.
  3. Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus, jilid kedua. Depok: LPSP3 UI.
  4. Shirin Hasan, MD. (July, 2014). What is ADHD? Diakses dari http://kidshealth.org/parent/medical/learning/adhd.html
  5. Smith, M., & Segal, J. (nd). ADD/ADHD parenting tips. Diakses dari http://www.helpguide.org/articles/add-adhd/attention-deficit-disorder-adhd-parenting-tips.htm
  6. The National Institute of Mental Health. (nd). Attention Deficit hyperactivity disorder. Diakses dari http://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/index.shtml
Sunat

Sunat Pada Anak : Bagaimana Agar Ia Tidak Takut?

Bagi sebagian anak, sunat dapat menjadi salah satu hal yang menakutkan bagi mereka. Ketakutan ini tak jarang timbul karena orang dewasa tanpa sadar mengaitkan sunat dengan sebuah hukuman yang menakutkan seperti adanya ancaman, “Kalau bandel, nanti disunat lho”. Ketakutan ini semakin bertambah apabila teman atau saudara yang telah disunat juga ikut menakut-nakuti sang anak. Hal inilah yang menyebabkan anak memiliki persepsi yang menakutkan mengenai sunat.

Cara Agar Anak Tidak Takut Sunat

Beberapa hal yang bisa dicoba oleh orangtua agar anak semakin siap untuk disunat, yaitu:

  1. Mulai dari diri orangtua. Anak ialah peniru yang ulung. Ia bisa menangkap emosi orang terdekatnya termasuk rasa cemas. Rasa cemas yang dirasakan orangtua ketika anaknya hendak disunat bisa jadi membuat anak juga ikut merasa takut. Sehingga, sebelum menenangkan anak, mulailah mengatasi rasa cemas pada diri Anda dengan berdoa untuk kekuatan diri dan anak serta memahami betul manfaat dari sunat.
  2. Beri ia pemahaman tentang sunat. Kita sebagai orangtua memiliki peranan yang besar untuk memperbaiki kesalahan informasi tentang khitan pada anak. Orangtua dapat menyampaikan kepada anak mengenai apa itu sunat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Sebagai muslim, orangtua juga sebaiknya memberitahukan mengenai kewajiban khitan sehingga cepat atau lambat anak tetap perlu menjalani proses sunat. Orangtua juga sebaiknya menjelaskan apa saja manfaat dari sunat kepada anak sehingga anak menyadari bahwa sunat adalah hal yang penting dan baik bagi dirinya.
  3. Bicaralah yang jujur. Kunci kesuksesan mempersiapkan anak disunat ialah komunikasi yang baik sesuai pemahamannya. Hindari membohongi anak dengan mengatakan bahwa khitan itu tidak sakit atau rasanya hanya seperti digigit semut. Hal ini nantinya dapat menimbulkan trauma pada anak karena ia sebenarnya merasakan sakit melebihi dari apa yang ia dengar dari orangtua. Katakanlah dengan jujur kepada anak bahwa ia akan merasakan sakit setelah disunat, namun sakit tersebut tidak akan bertahan lama.
  4. Buat ia familiar. Anak di semua usia akan lebih baik menghadapi sunat apabila ia tahu apa yang akan dilakukan pada dirinya dan mengapa itu penting. Sehingga, orangtua bisa membuat ia familiar dengan menjelaskan metode khitan kepada anak. Tentu sesuaikan dengan bahasa dan pemahaman anak. Akan lebih baik lagi jika orangtua memberikan kesempatan kepada untuk memilih metode yang ia anggap paling nyaman dan sesuai dengan kondisi ekonomi orangtua.
  5. Berbagi pengalaman. Ajaklah ayah atau saudara laki-laki yang telah disunat untuk menceritakan pengalaman mereka ketika dikhitan kepada anak. Hal ini dilakukan agar anak memiliki panutan dari orang-orang didekatnya. Pastikan bahwa mereka menceritakan pengalaman yang dapat membuat anak termotivasi untuk disunat.
  6. Biar anak yang menentukan waktunya. Waktu yang terbaik untuk disunat dari segi medis memang saat iya bayi. Namun, jika anak sudah lebih besar dan mulai mengerti, beri kesempatan kepadanya untuk mengusulkan waktu kapan ia akan disunat. Ini salah satu cara untuk benar-benar mengetahui kapan anak benar-benar siap dan mengajarinya bertanggung jawab dengan ucapan dan keinginannya.
  7. Lakukan ketika anak benar-benar siap. Lakukanlah khitan ketika anak benar-benar siap agar anak tidak mengalami trauma. Anak yang tidak siap tak jarang membuat sakit yang dirasa dapat berkali-kali lipat karena sugesti yang dibangun anak. Walaupun mengaku siap, tak jarang sebagian anak tiba-tiba menjadi takut sesaat sebelum menjalani proses sunat. Untuk mengatasinya, orangtua dapat memberikan pemahaman kembali bahwa proses sunat tidak semenakutkan yang dibayangkan, mengalihkan perhatian anak dengan mengajaknya membicarakan topik lain, dan bekerja sama dengan ahli medis yang akan melakukan sunat agar bisa menyemangati anak.
  8. Beri ia pujian. Setelah disunat, jangan lupa berikan pujian kepada anak atas keberanian dan keberhasilannya menjalani proses sunat. Orangtua juga dapat memberikan anak hadiah yang ia inginkan, yang tentunya disesuaikan dengan kemampuan orangtua.

Semoga bermanfaat ya ayah bunda

Aisha Salsabila, S.Psi

11/27/2015

Sumber:
1. Preparing Your Child for Surgery [Internet]. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://kidshealth.org/parent/system/surgery/hosp_surgery.html
2. Bila Anak Takut Disunat [Internet]. [cited 2015 Nov 26]. Available from: http://www.ummi-online.com/bila-anak-takut-disunat—.html

Tips Menggunakan Media Digital yang Bijaksana Pada Anak

Di era modern ini perkembangan teknologi amat pesat. Dahulu mungkin anak hanya terpapar oleh TV atau video games. Sekarang tidak jarang kita lihat anak bahkan bayi punya ‘mainan’ baru berupa smartphone, tablet, laptop dsb. Bahkan gadget mungkin sekarang sudah seperti ‘pengasuh’ yang bisa segera membuat anak anteng ketika rewel. Namun, terlepas dari manfaat media elektronik sebagai pendukung belajar, gadget juga dapat berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan psikologis anak.

Fakta Tentang Gadget/Media Elektronik

  • Daya tangkap anak <2 tahun berbeda dengan anak yang lebih besar. Mereka kurang bisa menangkap informasi yang disampaikan lewat video daripada disampaikan langsung. Penelitian menyebutkan bahwa anak <2 tahun yang menonton TV perkembangan kognitifnya tidak lebih baik daripada yang tidak menonton.
  • Kosakata anak didapat dari interaksi saat bicara langsung pada pengasuh. Penelitian membuktikan bahwa anak <2 tahun yang terlalu banyak menonton TV/video dapat mengalami keterlambatan bicara.
  • Saat TV disetel (meskipun bukan untuk ditonton anak), interaksi anak dengan orang dewasa berkurang. Media elektronik yang distel menjadi latar belakang saja bisa mengganggu proses kognitif anak, memori dan proses membaca.
  • Penggunaan media elektronik pada anak prasekolah dan usia sekolah dapat meningkatkan resiko obesitas, gangguan tidur, perilaku agresif dan gangguan atensi (konsentrasi). Pola tidur yang terganggu dapat mempengaruhi mood, perilaku dan proses belajar anak.
  • Dalam waktu 30 menit menggunakan teknologi sudah dapat menimbulkan gangguan fisik seperti gangguan mata, tidak makan dan kelelahan.
  • 2/3 anak dan remaja melaporkan bahwa orangtua tidak menerapkan aturan menggunakan media. Padahal, banyak anak kecil yang melihat film untuk remaja (PG-13 atau R) baik online, TV atau bioskop yang nyatanya mengandung adegan yang tidak sesuai untuk mereka. Penelitian menyebutkan bahwa 20% remaja menerima atau mengirim gambar berbau pornografi dari internet atau telepon selular.

Melihat dampak negatif ini tentu orangtua perlu segera menyadari bahwa gadget/media elektronik tidak selamanya bermanfaat. Meskipun saat ini banyak program/aplikasi khusus untuk bayi dan balita, tetapi interaksi langsung adalah proses belajar dan kehangatan yang mereka butuhkan. Tentu kita tidak dapat pungkiri bahwa meniadakan media digital dalam gaya hidup saat ini hampir tidak mungkin. Sehingga, orang tua perlu mulai langkah-langkah ini agar meminimalisir dampak negatif media. Berikut rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) mengenai penggunaan media :

  1. Pahami bahwa permainan acak, tidak terstruktur dan tanpa elektronik amat baik untuk perkembangan otak anak, memecahkan masalah, berpikir inovatif dan menumbuhkan logika. Bermain bersama anak tidak ternilai manfaatnya.
  2. Sebisa mungkin hindari sama sekali gadget untuk anak <2 tahun. Sebisa mungkin juga matikan TV di ruang tamu meskipun bukan anak yang menonton. Lebih baik membiarkan anak bermain masak-masakan di lantai sembari orangtua menyiapkan makanan daripada memberi gadget.
  3. Pahami pentingnya bercengkrama langsung dengan anak. Komunikasi dari wajah ke wajah, atau duduk dan membacakan cerita amat baik untuk perkembangan kognitif dan bahasa.
  4. Buat arena “Bebas teknologi” di kamar anak dan di acara keluarga. Hindari pemasangan TV di kamar anak. Charge semua gadget di malam hari agar anak tidak tergoda untuk menggunakannya. Jadikan makan malam, kumpul keluarga, sebagai momen spesial membina kedekatan dengan anak.
  5. Jangan gunakan teknologi untuk menghibur anak saat rewel. Media memang amat efektif membuat anak ‘anteng’. Tetapi perlu diingat bahwa cara ini bukan satu-satunya untuk menenangkan anak. Anak perlu diajarkan bagaimana mengatasi gejolak emosi yang kuat, mencari aktivitas untuk mengurangi kebosanan atau ditenangkan lewat latihan nafas, bicara untuk menyelesaikan masalah atau strategi lain untuk menyalurkan emosi.
  6. Untuk anak yang lebih besar (di atas 2 tahun), batasi penggunaan media maksimal <1-2 jam perhari. Saat anak menonton TV, film atau video, dampingi ia sambil berdiskusi mengenai nilai-nilai positif dari cerita tersebut.
  7. Perlakukan media sama seperti mengawasi lingkungan anak yang lain. Kenali apps/program yang digunakan, situs apa yang dikunjungi, aktivitas apa yang ia lakukan secara online dan siapa temannya di dunia maya.
  8. Jadilah contoh yang baik. Karena anak ialah peniru yang ulung, maka batasi juga penggunaan media oleh orangtua. Saat bersama anak, upayakan untuk berinteraksi dengan mengobrol, bermain, memeluk daripada menatapi layar bersama-sama.
  9. Saat mereka remaja, biarkan mereka menggunakan internet. Berinteraksi di sosial media di kalangan remaja sudah menjadi hal yang lumrah. Pastikan saja bahwa perilaku mereka baik di kehidupan sehari-hari atau di dunia maya tidak menyimpang. Ingatkan selalu bahwa setelan “privasi” pada sosial media tidak benar-benar “privat”. Apa yang mereka posting di sosial media akan tetap ada jejak digitalnya sampai kapanpun.
  10. Anak bisa saja melakukan kesalahan saat menggunakan media digital/internet. Cobalah berempati saat ia salah dan jadikan momen ini sebagai pelajaran berharga. Namun, perilaku seperti bertukar pornografi, bullying, posting foto yang membahayakan diri sudah menjadi “lampu merah” untuk orangtua mengambil langkah selanjutnya. Seperti mengawasi lebih ketat atau berkonsultasi kepada ahlinya (dokter anar, psikolog atau psikiater).

Agustina Kadaristiana,dr.

10/11/2015

Refernsi

1. Strasburger VC, Hogan MJ, Mulligan DA, Ameenuddin N, Christakis DA, Cross C, et al. Children, Adolescents, and the Media. Pediatrics. 2013 Nov 1;132(5):958–61.
2. Kids & Tech: 10 Tips for Parents in the Digital Age [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 11]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/Tips-for-Parents-Digital-Age.aspx
3. Brown A. Media Use by Children Younger Than 2 Years. Pediatrics. 2011 Nov 1;128(5):1040–5.
4. Smahel D, Wright MF, Cernikova M. The impact of digital media on health: children’s perspectives. Int J Public Health. 2015 Feb;60(2):131–7.

Agar Anak Tidak Mengalami Cemas Perpisahan

Apakah si kecil terlihat cemas dan menangis ketika jauh dari bunda? Apakah hal ini juga membuat bunda selalu merasa gelisah? Tenang bunda. Hal itu wajar karena si kecil sedang mengalami cemas perpisahan.

Separation anxiety atau cemas perpisahan merupakan hal yang lumrah yang menunjukkan bahwa anak memiliki kelekatan atau hubungan emosional yang baik dengan orang tuanya.1,2 Kondisi ini juga merupakan salah satu tanda berkembangnya aspek emosi dan kemampuan berpikir pada anak.1 Sebelum usia 6 bulan, bayi jarang menunjukkan reaksi negatif terhadap orang yang tidak ia kenal. Selanjutnya ketika memasuki usia 8 atau 9 bulan, bayi pada umumnya akan menangis, mendekap erat tubuh orang tuanya, membalikkan wajah, atau tubuhnya ketika ia akan ditinggalkan bersama orang asing. Perubahan ini terjadi karena pada usia tersebut bayi telah memiliki kemampuan object permanence – tahu bahwa orang tuanya sebenarnya ada walau tidak terlihat, serta telah mampu menggunakan daya ingatnya untuk membedakan wajah orang asing dengan wajah orang tuanya dan mengingat situasi dimana ia pernah ditinggalkan bersama dengan orang asing.

Meski demikian, usia terjadinya separation anxiety dapat berbeda pada masing-masing anak.3 Beberapa anak mungkin baru mengalami kondisi ini antara usia 18 bulan hingga 2.5 tahun, dan beberapa mungkin tidak pernah mengalaminya. Sementara itu pada beberapa anak lain, cemas perpisahan timbul ketika adanya kejadian tertentu seperti adanya pengasuh baru, saudara baru, atau pindah ke tempat yang baru. Pada banyak kasus, kecemasan yang timbul pada anak tidak berlangsung lama. Rasa cemas dan tangisan anak umumnya akan hilang setelah 3-4 menit mereka berpisah dari orang tua.2 Kondisi separation anxiety dapat menjadi sangat buruk ketika mereka merasa lapar, lelah, atau dalam kondisi yang tidak sehat. 4

bilde

Ada beberapa hal yang dapat orang tua lakukan agar si kecil tidak terlalu sedih atau cemas ketika harus berpisah sementara dari orang tua3,4:

  1. Perhatikan waktu
    Tidak disarankan bagi orang tua untuk memasukkan anak ke tempat penitipan anak atau sekolah antara usia 8 bulan hingga 1 tahun, dimana separation anxiety umumnya muncul pertama kali. Disamping itu, cobalah untuk tidak meninggalkan anak saat ia sedang lelah atau lapar. Jika memungkinkan, atur jadwal kepergian orang tua yaitu setelah anak tidur dan makan.
  2. Berlatihlah
    Latihlah diri anda untuk tidak selalu bersama dengan anak setiap saat, serta kenalkan anak pada orang dan tempat baru secara berkala. Jika anda berencana untuk menitipkan anak pada pengasuh yang lain, kenalkan anak dengan pengasuh tersebut terlebih dahulu dan berikan kesempatan pada pengasuh untuk bermain bersama anak dengan pengawasan anda. Apabila anak akan dititipkan di tempat penitipan atau akan mulai bersekolah, ajaklah anak untuk mengunjungi tempat tersebut sebelum anak mulai dititipkan atau bersekolah di sana.
  3. Ciptakan ritual dan tetap tenang
    Ciptakan ritual perpisahan dengan anak seperti dengan memeluk, mencium, atau melakukan gerakan-gerakan tertentu dengan penuh cinta. Lakukan hal tersebut dengan singkat dan konsisten. Jangan terlalu lama karena hal tersebut akan membuat anak semakin sulit berpisah dengan anda. Tetaplah tenang dan tunjukkan rasa percaya pada anak. Buatlah anak yakin bahwa anda akan kembali – jelaskan anda akan pergi kemana dan berapa lama anda akan berpisah dengannya dalam bahasa yang dapat dipahami anak (seperti, “Bunda akan pergi kerja ke kantor dan akan kembali setelah kamu mandi sore”). Ketika berpisah, berikan perhatian penuh kepada anak anda. Jangan lakukan salam perpisahan ketika anda sedang melakukan hal yang lain. Disamping itu, anda juga tidak disarankan untuk pergi diam-diam meninggalkan anak karena hal tersebut justru membuat anak semakin merasa cemas. Lebih baik melakukan salam perpisahan dengan cepat meski anak akan menangis atau berteriak karena biasanya hal tersebut akan berhenti beberapa saat.
  4. Tepati janji
    Pastikan bahwa anda benar-benar kembali sesuai dengan yang telah dijanjikan. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi terbentuknya rasa percaya anak terhadap anda serta kemandirian dan keyakinan bahwa ia mampu melalui waktu dengan baik meskipun tidak bersama orang tua.

Jika cemas perpisahan ini terus berlanjut hingga anak memasuki TK atau sekolah dasar, dan mengganggu aktivitas harian anda, diskusikanlah hal ini dengan dengan psikolog anak terdekat.

Aisha Salsabila, S.Psi

10/08/2015
Referensi
1 Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human development (11th Ed.). New York: McGraw-Hill.
2 Watkins, C.E. (2004). Separation anxiety in young children. Artikel. Nouthern County Psychiatric Associates. Diakses dari http://www.baltimorepsych.com/separation_anxiety.htm
3 Pendley, J.S. (2012, Januari). Separation anxiety. Diakses dari http://kidshealth.org/parent/emotions/feelings/sep_anxiety.html
4 How to ease your child’s separation anxiety. American Academy of Pediatrics. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/Pages/Soothing-Your-Childs-Separation-Anxiety.aspx

Picky Eater Berhubungan Dengan Gangguan Cemas dan Depresi

Sering sekali kita dengar keluhan orang tua mengenai perilaku balita yang picky eater atau memilih-milih makanan. Setidaknya hal itu yang dilaporkan oleh 14-20% orang tua dari penelitian baru-baru ini. Sangking banyaknya keluhan ini, praktisi kesehatan dan ilmuwan menganggap hal ini lumrah sebagai kebiasaan yang akan hilang saat anak besar. Namun, tahukah Anda bahwa penelitian yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics ini menyebutkan bahwa picky eater sedang sampai berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan pada balita. Fakta ini tentu bisa membawa perubahan besar terhadap persepsi picky eater.

picky2

“Minimnya penelitian sistematik mengenai penyebab, dampak atau tatalaksana dari picky eating ini menyebabkan dokter mengalami dilema dalam memberikan saran yang tepat. Dalam penelitian ini kami ingin mengetahui adakah kaitan perilaku picky eater dengan gangguan mental pada anak serta faktor-faktor yang terkait.”,  Helen Egger, MD., Peneliti utama dari Departement of Psychiatry and Behavioural Science, Duke University.

Untuk mengetahui kaitan tersebut, peneliti dari Duke University ini menganalisa 917 anak usia 24-71 bulan. Orang tua atau pengasuh diwawancara mengenai kebiasaan makan, gejala gangguan kejiwaan, dan kondisi lingkungan rumah.

Perilaku picky eating atau Selective Eating (SE) sendiri dikategorikan menjadi 3 : ringan, sedang dan berat. Anak yang tidak suka makananan yang pada umumnya anak lain tidak suka (misalnya brokoli) dikatakan Selective Eating ringan. Untuk kategori sedang dikatakan bila anak hanya mengkonsumsi makanan tertentu yang ia suka. Sedangkan picky eater berat bila anak amat sulit makan karena pemilihan makanan yang terlalu ekstrim.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Selective Eating sedang dan berat berhubungan dengan gangguan kejiwaan seperti gangguan cemas, depresi dan ADHD. Meskipun begitu, tingkat gejala kejiwaan tergantung pada derajat picky eater. Gangguan picky eater berat biasanya terjadi pada anak yang sebelumnya didiagnosis depresi, gangguan cemas sosial, atau gangguan motorik mulut yang mempengaruhi proses makan. Selain itu pada kedua derajat picky eater ini terdapat rasa sensitif yang berlebihan dan rasa penolakan pada anak terhadap makanan diluar yang ia bisa terima.

Adanya gangguan dalam fungsi keluarga juga dilaporkan pada perilaku ini. Anak yang picky eater sedang sampai berat dilaporkan memiliki ibu dengan kecemasan tinggi dan konflik keluarga seputar makanan. Namun, dibandingkan dengan picky eater berat, lebih banyak orang tua anak dengan picky eater sedang yang memiliki riwayat penggunaan narkoba dan ibu yang berobat ke psikiater.

Temuan ini bisa menjadi titik balik memahami dan menangani masalah selected eating atau picky eating pada anak. Persepsi bahwa kebiasaan picky eating akan hilang dengan sendirinya mungkin menjadi kurang tepat saat ini. Sebaiknya orangtua waspada dan berkonsultasi ke dokter bila menemukan perilaku picky eating sedang atau berat pada anak.

Agustina Kadaristiana, dr.

08/07/2015 

Referensi

Zucker N, Copeland W, Franz L, Carpenter K, Keeling L, Angold A, et al. Psychological and Psychosocial Impairment in Preschoolers With Selective Eating. Pediatrics. 2015 Aug 3;peds.2014–386.

Gambar di unduh dari :

http://edgyplate.com/wp-content/uploads/2015/06/Trade-secrets-feeding-picky-eaters-Jan06-istock.jpg

http://images.sciencedaily.com/2015/08/150803083343_1_900x600.jpg

Kiat Memilih Prasekolah yang Baik

Lembaga-lembaga pendidikan prasekolah telah berkembang pesat di seluruh pelosok negeri. Terlebih di kota-kota besar. Setiap tahun berbondong-bondong para orangtua mendaftarkan anaknya di prasekolah. Mereka menaruh harapan besar pada sebuah lembaga pendidikan demi masa depan anaknya. Lantas bagaimana cara memilih prasekolah yang baik? Mari kita simak.

Tips memilih prasekolah yang baik:

Core-Components-of-Effective-Preschool-e1357850465655

  • Sesuaikan biaya dengan kondisi keuangan keluarga
  • Carilah prasekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah. Hal ini agar anak tidak kelelahan dalam perjalanan menuju sekolah.
  • Telitilah bentuk fisik sekolah dan fasilitas pendukungnya
  • Telitilah program dan metodenya, antara lain:
    • Berpusat pada anak
    • Tidak membebani dan mengekang anak
    • Mampu menstimulasi perkembangan anak
    • Berorientasi pada kekhasan masing-masing anak
    • Pembelajaran tidak membosankan
  • Telitilah apakah tingkat ‘keluar atau masuk’ guru disitu cukup tinggi. Jika sering gonta ganti guru, dapat memengaruhi keberlangsungan pengajaran dan perkembangan anak itu sendiri.

Ciri-ciri anak siap masuk Taman Kanak-kanak (TK):

Are-Your-Children-Ready-for-the-New-School-Year-Prepare-During-the-Summer-Small-1024x682

  • Kemampuan komunikasinya sudah cukup baik. Tidak hanya mampu menyebut nama lengkapnya sendiridan orangtuanya, ia juga cukup mampu bercerita tentang keluarganya.
  • Keterampilan bersosialisasinya cukup baik. Hal ini meliputi kemampuan berinteraksi, bergaul, dan berbagi.
  • Mampu melakukan instruksi sederhana. Secara umum, ia mematuhi aturan yang diterapkan dalam keluarga dan cukup paham apa yang diinstruksikan.
  • Sudah cukup mandiri. Ia telah mampu untuk makan sendiri, memakai celana dan baju sendiri, mandi sendiri, menggunakan toilet, dan sebagainya.
  • Daya tahan fisiknya cukup baik. Ia dapat menahan kantuk selama pagi hari pada jam pelajaran.
  • Fisiknya pun mampu mengikuti pelajaran demi pelajaran di dalam kelas.
  • Cukup kuat secara mental dan psikologis. Selain tidak canggung menghadapi suasana baru, ia pun cukup mampu mengikuti jadwal rutinyang dibebankan kepadanya.

Kiat melepas anak sekolah:

Stock Photo by Sean Locke www.digitalplanetdesign.com

Banyak peristiwa terjadi pada minggu pertama anak masuk TK. Diantaranya, anak menangis, mengamuk, dan minta pulang pada hari pertama ia sekolah. Ada pula yang antusias berangkat ke TK, tetapi menolak untuk masuk kelas. Ada yang terus minta ditemani ibunya di dalam kelas. Terhadap fenomena itu, berikut kiat yang dapat diterapkan agar Anda sukses melepas anak ke prasekolah:

  • Jauh-jauh hari, katakan pada anak bahwa supaya pandai, setiap anak perlu sekolah. Bagilah pengalaman bahwa Anda menjadi pandai karena bersekolah.
  • Sebelum anak didaftarkan di TK, kenalkan anak secara langsung dengan suasana TK.
  • Kenalkan ia pada guru yang akan mengajarnya. Kenalkan pula ia pada 1 atau 2 anak yang juga akan mendaftar di TK itu.
  • Pada minggu-minggu menjelang masuk TK, latih anak Anda untuk ‘berpisah’ sementara dengan Anda.
  • Ajak anak belanja keperluan sekolah. Minta ia memilih sendiri tas, pensil, krayon, rautan, penghapus, dan sebagainya.
  • Pada hari pertama, jangan sampai terlambat masuk kelas. Dengan terlambat, akan membuat gugup anak Anda.
  • Jika belum mungkin meninggalkan anak di kelas, sebaiknya Anda menemaninya dulu. Biasanya guru yang baik dan pengertian, akan mengizinkan orang tua ada di dalam kelas menemani anaknya.
  • Bekali anak dengan makanan dan minuman bergizi kesenangannya.
  • Sesekali ajaklah anggota keluarga lain untuk mengantarnya ke sekolah. Hal ini untuk memotivasi anak bahwa keluarga sangat mendukung aktivitas sekolahnya.
  • Diskusikan dengan guru jika ditemui kendala pada minggu-minggu pertama anak sekolah.

Depok, 27 Juni 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

1. Lenhart, Lisa. 2014. Early Childhood Building Blocks – Writing in Preschool. Department of Education. University of Akron.
2. NCQTL Team. 2014. Choosing A Preschool Curriculum. The National Center on Quality Teaching and Learning
3. Lehman Yael. 2014. The Preschool Initiative – Building a Healthy Foundation for Live. The Food Trust Community
4. Aysen, Rahme Kavaz. 2104. Montessori Approach in Preschool Education and Its Effects. The online journal of New Horizons in Education
5. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 258

Gambar diambil dari :

www.digitalplanetdesign.com

http://cdn5.momsxyz.com/2015/05/Core-Components-of-Effective-Preschool-e1357850465655.jpg

https://blog.nsbank.com/wp-content/uploads/Are-Your-Children-Ready-for-the-New-School-Year-Prepare-During-the-Summer-Small-1024×682.jpg

http://spotlight.vitals.com/wp-content/uploads/2013/01/separation-anxiety.jpg

Membacakan Buku Pada Anak Sejak Dini Merangsang Perkembangan Otak

Tahukah ayah dan bunda, ternyata membacakan dongeng kepada anak sejak dini berdampak positif terhadap perkembangan otak anak?

Fakta yang menggembirakan ini untuk pertama kali berhasil dibuktikan oleh John Hutton, M.D, dkk, peneliti dari Cincinnati Children’s Hospital Medical Center, Amerika Serikat. Dr. Hutton, dkk berhasil menemukan korelasi positif antara aktivitas membacakan buku dengan stimulus perkembangan otak melalui pencitraan MRI. Hasil penelitian ini dipresentasikan tanggal 25 April 2015 lalu di pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies (PAS), San Diego. Sebelumnya, organisasi profesional American Academy of Pediatrics telah menyarankan orang tua untuk membacakan buku pada anak dari sejak lahir untuk membantu perkembangan belajar dan kemampuan bahasa anak. Namun, baru kali ini ditemukan hubungan langsung antara kedua hal tersebut.

MRI pada anak

MRI pada anak (www2.communication.northwestern.edu)

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 19 orang anak usia 3-5 tahun. 35% di antaranya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Setiap orangtua atau pengasuh dari anak-anak tersebut diberikan kuesioner untuk mengukur stimulasi kecerdasan anak. Aspek yang dinilai dari kuesioner ini mencakup aktivitas membaca dan interaksi orangtua-anak. Setelah itu, setiap anak menjalani pemeriksaan MRI fungsional untuk diukur aktivitas otaknya saat mendengarkan cerita lewat headphones. Selama pemeriksaan anak tetap sadar dan tidak diberi stimulus visual.

754938_hutton_stimq_fmri_activation_final

Aktivasi Otak Melalui Pencitraan MRI Saat Anak Mendengarkan Dongeng (Hutton, 2015)

Sesuai dugaan, hasil dari pemeriksaan ini menunjukkan bahwa anak yang lebih terpapar oleh buku mengalami aktivasi area otak yang sangat penting dalam kemampuan bahasa dan membaca. Selain itu, sebagian area otak yang bertugas mencerna gambar juga teraktivasi. Hal ini menunjukkan saat anak dibacakan cerita, ia bisa membayangkan apa yang ia dengar dalam pikirannya.

Ternyata sangat besar ya manfaat mendongeng 🙂 Daripada memberikan anak gadget, yuk kita galakkan lagi membaca dan mendongeng.. Semoga bermanfaat…

Agustina Kadaristiana, dr

05/07/2015

Referensi

  1. Kemp C. MRI shows association between reading to young children and brain activity Study provides new evidence that book-sharing in early childhood may promote brain development supporting reading readiness. AAP News. 2015 Apr 25;E150425–4.
  2. High PC, Klass P, Donoghue E, Glassy D, DelConte B, Earls M, et al. Literacy Promotion: An Essential Component of Primary Care Pediatric Practice. Pediatrics. 2014 Aug 1;134(2):404–9.
  3. O’Keefe L. Parents who read to their children nurture more than literary skills. AAP News. 2014 Jun 24;E140624–2.

Sholat Menyenangkan Bersama Anak

Sebagai seorang ibu, tentunya setiap melakukan sesuatu tidak terlepas dari hubungannya dengan anak tercintanya, termasuk beribadah. Beberapa hari yang lalu, aku mengikuti pengajian di salah satu masjid besar di bilangan blok M Jakarta. Pengajian dimulai pada pukul 10.00 dan berakhir setelah sholat zhuhur. Karena bertepatan dengan sholat, tentunya aku mengikuti sholat berjamaah, dengan konsekuensi kemungkinan anakku, naren yang berusia 1 tahun, akan nangis. Tapi mau bagaimana lagi, sholat adalah kewajiban yang harus ditunaikan bagiku, dan karena tidak punya nanny, jadi naren tidak bisa dititipkan.

 
Dan benar saja, seusai rakaat ke 2 (note: sholat dzhuhur terdiri dari 4 rakaat), naren mulai menangis kencang. Akhirnya, aku memutuskan melanjutkan sholat sendiri dengan pertimbangan bisa lebih cepat dibandingkan sholat berjamaah. Sesudah sholat, aku pun berbincang dengan ibu-ibu di sebelah. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya bisa saja sholat dengan menggendong anak lho. Dan kondisi itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw yang pernah menggendong cucunya. Wah, mendengar pernyataan tersebut aku akhirnya jadi tertarik untuk tahu lebih lanjut bagaimana ya caranya. Sebenarnya sebelumnya udah pernah denger-denger sih tentang beginian, cuma belum kebayang aja cara mengerjakannya gimana ya.
 
Selidik punya selidik, dari nanya-nanya offline dan mencari-cari via online, akhirnya nemu juga ilmu-ilmu menarik yang menurutku sih penting jadinya buat ibu-ibu rempong kayak aku, yang ngurus anak sendiri tanpa nanny. Jadi ya sodara-sodara, mengenai menggendong anak saat sholat, terdapat beberapa riwayat: 
 
Telah pasti kabar yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17) (1)
 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) pernah menggendong Umamah binti Zainab, cucu beliau sendiri ketika shalat. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri, beliau menggendongnya lagi. (Riwayat Bukhari dan Muslim) (2)
 
ha­dits yang diriwayatkan Imam Muslim da­lam Shahih-nya:
Dari Abu Qatadah, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW sedang mengimami shalat, sedangkan Umamah binti Abil ‘Ash, ia adalah putri Zainab binti Rasulullah SAW, berada di atas pundak­nya. Maka, apabila sujud, beliau mele­tak­kannya, dan ketika bangun berdiri, be­liau menggendongnya.” (3)
 
Imam Nawawi dalam kitabnya yang men­syarah kitab hadits Shahih Muslim, ber­­kata, “Hadits inilah yang menjadi dalil bagi Madzhab Syafi’i dan ulama-ulama lain yang sependapat tentang bolehnya membawa anak kecil laki-laki atau pe­rem­puan saat shalat, baik shalatnya ter­sebut shalat fardhu maupun sunnah. Bolehnya ter­sebut berlaku bagi imam, makmum, ataupun orang yang shalat sendirian.”
 
Lebih lanjut lagi, menurut Madzhab Syafi’i, kita diperbolehkan membawa anak saat sholat asalkan sang anak tidak membawa najis atau kotoran, baik dengan sepengetahuan kita atau dengan sangkaan kita yang kuat bahwasanya anak tersebut tidak menge­luarkan atau membawa najis. Bila kita yakin atau ada sangkaan yang kuat bah­wa anak tersebut mengeluarkan atau mem­bawa najis, kita tidak boleh meng­gendongnya ketika shalat. Shalatnya batal apabila tetap menggendongnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Qurrah al-‘Ayn bi Fatawa Ismail Az-Zain:
“Bila diketahui anak tersebut mem­bawa najis yang tampak di kulup atau ku­lit luar kemaluannya, shalat orang yang membawanya batal; dan apabila tidak ketahui atau tidak ada sangkaan yang kuat akan hal tersebut, shalat orang yang membawanya tidak batal, karena hukum asalnya anak itu suci (ti­dak membawa najis).” (3)

Wah, ternyata menarik ilmunya. Ternyata beribadah ini bisa juga dengan cara yang menyenangkan untuk semua pihak ya, termasuk anak. Dengan sholat sambil membawa anak, sang anak tentunya akan menjadi pribadi yang lebih tenang dan sebenarnya ini bisa jadi pembiasaan untuk beribadah sedari dini ya. Ini beberapa hasil intip-an googling orang-orang yang gendong anaknya saat sholat:

Tapi penting untuk diingat, bahwa sebelum sholat jangan sampe lupa ganti diaper si baby karena kalau bawa-bawa anak yang membawa najis (pee or pup) malah jadi kita yang batal sholatnya. Hehe, gapapalah rempong sebelum sholat, yang penting aman dan nyaman untuk semua, dan afdhol sholatnya karena ga mikirin anak yang nangis menjerit-jerit selama kita sholat. Oh ya, ini kebetulan dapet gambar buat jadi contoh:

gendong bayi

Semoga dengan segala kemudahan untuk sholat ini jadi semakin meningkatkan semangat kita untuk beribadah bagaimanapun kondisinya.

Titania Nur Shelly,dr

Sumber :

Hukuman Fisik pada Anak

Memberikan hukuman fisik pada anak sudah lama menjadi topik perdebatan di Amerika. Menurut beberapa study, lebih dari separoh orang tua di Amerika membenarkan hukuman pukulan pada anak kecil, namun penelitian lain menunjukkan bahwa hal ini berbahaya. Berikut Tanya jawab APA (American Psychology Association) dengan Alan E. Kazdin, PhD, professor psikologi di Yale University dan direktur Yale’s Parenting Center and Child Conduct Clinic.

APA: Beberapa orang tua terkadang memukul anaknya bukan utk menghukum tapi untuk mengubah tingkah laku anak. Apakah memberikan pukulan ini efektif?
K: memukul anak bukanlah strategi yang efektif karena dua hal, pertama tidak menekankan pada pokok permasalahan, dan kedua tidak mengajarkan anak apa yg harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa kenakalan anak tidak berkurang dg memberikan hukuman fisik, bahkan jika hukumannya diperberat sekalipun.

APA: Apa bentuk hukuman lain yang dapat digunakan oleh orang tua?
K: Intinya adalah membantu anak untuk mengubah perilakunya. hukuman fisik tidak perlu dilakukan. Mengembangkan perilaku positif, yaitu perilaku berlawanan yg diharapkan ortunya, jauh lebih efektif.

APA: Apa contoh metode lain yang bisa diterapkan ortu untuk mendisiplinkan anak? Dan kenapa metode lain ini lebih efektif?
K: Arahkan anak pada perilaku positif! Gunakan metode sebelum, proses dan sesudah perubahan perilaku. Jelaskan konsekuensi dari kenakalan perlahan tapi pasti merubah perilaku konsekuensi setelah berubah (misal: memberikan pujian, imbalan). Ada banyak peneliatian dan buku mengenai ini.

APA: Apa bedanya hukuman fisik dengan tindak kekerasan pada anak (child abuse)?
K: Tindak kekerasan pada anak didefenisikan berbeda-beda di tiap Negara bagian di Amerika. Ada yang menekankan pada bagian tubuh mana anak-anak tersebut di pukul, penggunaan benda-benda tertentu, dsb. Intinya segala bentuk hukuman fisik yang sedang-berat punya efek jangka panjang negatif bagi anak, termasuk pada kemampuan akademik, kesehatan fisik maupun mental.

APA: apakah ada bentuk tekanan (sosial, ekonomi, lingkungan) yang menyebabkan ortu atau pengasuh cenderung menggunakan hukuman fisik?
K: YA! Tekanan dapat memicu kekerasan. Juga harapan ortu akan apa yang bisa dilakukan anak untuk membantu.

APA: Apa akibatnya jika anak didisiplinkan dg memberikan hukuman fisik? Misalnya, apakah mereka bisa jadi lebih agresif dibandingkan anak2 lain?
K: tidak ada jawaban pasti dari penelitian-penelitian mengenai hukuman fisik ringan (memukul anak tapi jarang-jarang). Namun hukuman fisik sedang-berat dapat berakibat pada keterlambatan dalam pendidikan, gangguan fisik dan psikologis.

APA: Apa tanggapan anda terhadap orang tua yang bilang: “orang tua saya dulu memukul saya dan sekarang saya baik-baik saja kok!”
K: Ada perokok yg hidup sampai usia 100, namun ini tidak bisa menyanggah penemuan bahwa merokok itu memperpendek usia. Ada pengecualian memang (contoh: orang terinfeksi HIV belum tentu mengidap AIDS), tapi kecenderungan berlaku secara umum.

APA: Riset seperti apa yang bisa memberikan bukti mengenai dampak hukuman fisik dan dapat menyarankan bentuk disiplin alternatif?
K: sudah ada penelitian-penelitian tentang ini yang kesimpulannya: semua bentuk hukuman yg melewati batas hukuman fisik ringan tidak efektif dan bisa berakibat buruk jangka panjang. Tidak semua ahli setuju, tapi saya menyarankan ortu utk menghindari segala bentuk hukuman fisik. Ada banyak cara lain yang lebih efektif.

*Artikel ini  dibagi oleh ibu psikolog Rolla Apnoza  yang diterjemahkan oleh Novie Safita dari grup FOCER (Forum Curhat Emak Rempong) asuhan Kiki Barkiah

Sumber : Parenting Expert Warns Against Physical Punishment [press release]. American Psychological Association2010.(http://www.apa.org/news/press/releases/2010/05/corporal-punishment.aspx)

Toilet Training Untuk sang Buah hati

Alhamdulillah setelah dicoba beberapa lama dalam menjalani training, akhirnya si sulung berhasil juga lulus ujian pertengahan dari pelatihan besar bernama “toilet training”. Tulisan ini mencoba untuk berbagi sedikit pengalaman dalam menemani ananda tercinta melewati fase kehidupan yang penting ini (lebay mode:on). Harapannya sahabat-sahabat dapat menjalani pelatihan ini lebih singkat dan lebih menyenangkan.


1. Kenalkan Konsep Buang Air

Hal pertama yang wajib dikenalkan kepada sang buah hati adalah istilah buang air besar atau buang air kecil itu sendiri. Penggunaan diaper terkadang membuat sang buah hati abai atas kejadian-kejadian yang ia alami, terutama urusan buang air kecil. Oleh karena itu, fase persiapan pertama yang wajib dilakukan adalah memahamkan ananda akan istilah buang air ini. Pengalaman kami, si sulung sudah terlebih dahulu paham istilah buang air besar (i.e., ee) dibandingkan buang air kecil. Oleh karena itu butuh beberapa waktu untuk mengenalkan istilah buang air kecil ini. Parameter sederhana dari fase ini adalah dia mengucapkan kata-kata buang air besar (misal : ee) ataupun buang air kecil (misal : pipis) ketika akan/sedang/setelah melakukannya. Pada fase ini tidak perlu terlalu menuntut agar si kecil mengucapkannya sebelum melakukan buang air, karena fase pertama ini harus difokuskan terlebih dahulu pada pengenalan istilah buang air kecil/besar terlebih dahulu. Melepas diaper dapat membantu untuk mengenalkan lebih cepat istilah buang air ini ke buah hati.

2. Kenalkan Istilah Toilet

Fase kedua dari toilet training adalah mengenalkan ananda akan lokasi untuk buang air kecil atau buang air besar. Setelah memahami istilah buang air, ajak ananda untuk mengenal lokasi yang tepat untuk “pipis” atau “ee”. Pengalaman kami, pengenalan dengan baik dan menyenangkan lokasi buang air sangat menentukan keberlangsungan pelatihan ini. Buatlah lokasi buang air sebagai tempat yang menyenangkan serta tidak menakutkan bagi sang buah hati, tempel gambar-gambar yang membuat hatinya senang atau gambar-gambar yang memotivasi dia untuk buang air di toilet. Membuat toilet menjadi tempat menyenangkan merupakan salah satu kunci sukses toilet training, pengalaman kami, sang ananda rupanya sangat tidak nyaman dengan toilet yang ada, dan lebih nyaman untuk buang air di kamar mandi yang lebih luas, dan terang.

Pada fase ini pula, mulailah secara perlahan-lahan untuk mengajarkan perasaan atau tanda-tanda yang ia rasakan manakala ingin membuang air. Ajarkanlah kata-kata yang mudah untuk mengajak buang air ke toilet, misal “pipis/ee ke toilet”, atau “pipis/ee bilang”. Beberapa parameter sukses dari fase ini adalah tidak takutnya ananda untuk pergi ke toilet, dapat mengungkapkan tanda-tanda sebelum ia ingin buang air, serta berhasil sesekali dalam buang air di toilet. Meskipun sang ananda sudah mulai memahami tanda-tanda serta terkadang berhasil untuk buang air ditoilet, jangan tuntut sang buah hati untuk selalu berhasil buang air ditoilet, karena merubah kebiasaan tetap saja membutuhkan waktu.

3. Rutinkan Buang Air di Toilet

Fase selanjutnya dari pelatihan ini adalah merutinkan sang ananda untuk buang air di toilet. Salah satu tips dalam merutinkan hal ini adalah memberikan pujian berulang, tepuk tangan, hingga hadiah manakala sang buah hati berhasil buang air di toilet. Fase ini dapat pula dilatih dengan mengajak sang buah hati selama selang waktu tertentu (misal satu atau dua jam sekali) untuk buang air di toilet. Meskipun anak sulung kali, lebih cenderung senang untuk diajak ke toilet manakala terlihat tanda-tanda sedang menahan pipis atau mengucapkan kata buang air. Parameter sukses tahap ini adalah, sang buah hati telah rutin hingga selalu buang air di toilet, mampu merasakan serta menahan ketika ingin buang air.

Jika menempatkan diri saya pribadi pada posisi sang buah hati, saya yakin proses ini bukanlah proses yang mudah, bahkan cenderung menakutkan. Karena sang buah hati seolah-olah sedang dituntut untuk merubah kebiasaan yang sudah dia lakukan selama setahun atau dua tahun belakang. Oleh karena itu berikut beberapa tips bagi orang tua agar dapat menjalani tahap ini secara menyenangkan

4. Sabar, Bahagia, dan Jangan Menuntut
Ini merupakan tips pertama yang sangat penting dalam pelatihan ini. Buatlah fase ini dengan sangat menyenangkan, ciptakan lagu-lagu dalam mengiringi fase ini dan yang paling penting jangan menuntut sang buah hati untuk segera berhasil dalam pelatihan ini. Ingatlah bahwa sesungguhnya tanpa diajarkan pun, kemampuan ini akan hadir secara alamiah. Oleh karena itu, setiap anak pasti bisa melakukannya.
5. Mulailah di Musim Semi Menjelang Musim Panas

Jika berada pada negeri empat musim, ada baiknya memulainya ketika musim semi menjelang musim panas. Pengalaman kami memulai toilet training ketika musim dingin atau musim gugur cukup menyulitkan. Karena kecenderungan sang buah hati untuk buang air kecil lebih besar, serta keenganan dia untuk menuju toilet karena suhu yang dingin.

6. Jauhkan Karpet-karpet yang Sulit Dibersihkan

Bau pesing yang menyeruak kemana-mana merupakan salah satu ciri pelatihan ini. Oleh karena itu, ada baiknya orang tua menganti karpet yang sulit dibersihkan dengan yang lebih mudah dibersihkan (misal: karpet puzzle).

7. Siapkan Pakaian Ganti Lebih Banyak

Fase-fase awal toilet training akan lebih banyak diisi oleh cerita pipis/ee di celana, oleh karenanya menyiapkan pakaian ganti, termasuk celana dalam, amatlah penting pada pelatihan ini.

8. Ajak Melihat Teman yang Sudah Berhasil

Ini tips lain yang mungkin dapat dicoba, meskipun orang tua sekali lagi tidak boleh menuntut sang ananda untuk menyamai temannya yang telah berhasil. Akan tetapi orang tua wajib berperan dalam memotivasi sang ananda.

9. Mulailah Ketika Ananda Siap

Pertanyaan kapan memulai merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab, karena perbedaan pencapaian tumbuh kembang sang buah hati. Ibu kami dahulu berhasil sejak usia kami satu tahun, cerita kawan-kawan lain ada yang satu setengah tahun, dua tahun, bahkan tiga-empat tahun. Oleh karena itu, orang tua yang paling paham kapan sang ananda siap menjalani fase ini. Ketika sang ananda terlihat sangat tertekan dalam menjalani proses ini, ada baiknya menghentikannya sementara sampai sang buah hati kembali bahagia menjalani tahap ini. Beberapa indikasi siap adalah mampu mengucapkan kata-kata pipis/ee atau mengungkapkan perasaan seperti menunjuk, berlari dan sebagainya.

Febri Zukhruf
Penulis adalah seorang ayah dan suami dari member kami Irma Susan Kurnia, dr.

Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #2

Fase persalinan dan nifas adalah salah satu tahap menegangkan dalam reproduksi wanita. Embel-embel kata ‘bertaruh nyawa’ pada fase ini bukanlah sekedar isapan jempol, terlebih jika ternyata fase ini tidak dalam prosedur medis seharusnya.

Sebagai negara maju, Jepang tentunya memiliki standar sendiri untuk masyarakatnya yang sedang dalam fase ini. Mulai usia 36 bulan kehamilan, pemeriksaan kehamilan seminggu sekali dilengkapi pemeriksaan CTG (cardiotocography) secara rutin tiap kedatangan, disamping sang ibu mendapatkan edukasi tanda-tanda persalinan dan memastikan sang ibu tahu kemana dia harus pergi atau mengontak unit gawat darurat.

Pada waktunya, persalinan dilakukan oleh 2 penolong, dokter dan ‘bidan’, persalinan normal maupun melalui operasi sessar dilakukan atas indikasi. Satu hal yang membuat penulis merasa kagum adalah bagaimana untuk setiap tindakan mereka berusaha untuk melakukan ‘informed consent’, penjelasan pada pasien tentang prosedur tindakan. Kebanyakan orang Jepang tidak fasih berbahasa Inggris, juga medis dan paramedisnya, tetapi ternyata tidak menghalangi dorongan untuk memberikan komunikasi yang baik pada pasien yang tidak bisa berbahasa Jepang.

Lagi-lagi permasalahan mendapatkan pelayanan yang sama-sama berkualitas menyeruak dalam benak penulis mengingat kondisi di negeri tercinta. Sekalipun berkualitas dan tentu mahal, biaya persalinan disini tertutupi oleh pemberian tunjangan kelahiran yang jumlahnya cukup ‘wah’ untuk ukuran orang Indonesia. Tunjangan ini juga dapat menutupi biaya pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir. Istimewanya, bagi penduduk dengan kategori pendapatan rendah ( termasuk mahasiswa asing yang hidup dari beasiswa) biaya persalinan dapat dipotong hingga 80% dengan tetap mendapat tunjangan sama besarnya.

Pemeriksaan bayi baru lahir juga dilakukan dengan teliti, termasuk diantaranya skrining beberapa penyakit metabolisme. Bayi premature akan mendapat suntikan antibodi untuk melawan respiratory syncytial virus dan mendapat perawatan sampai usianya setara dengan usia kehamilan 37 minggu dengan biaya yang ditanggung oleh asuransi.

Di samping itu, ibu yang telah melahirkan normal dirawat 6 hari di rumah sakit meski tanpa komplikasi. Selama 6 hari sang ibu dapat lebih banyak beristirahat ,mendapat pelatihan perawatan bayi serta cara menyusui dan juga pemeriksaan-pemeriksaan rutin bagi ibu dalam masa nifas.

Saat mengalami semua ini, penulis bersalin di malam hari hanya ditemani suami yang malam itu juga harus pulang, rasanya gamang sekali mengingat keterbatasan bahasa. Tapi, malam itu bahkan ke toilet pun suster mengantar, melayani tanpa rasa jijik. Masih lemas dan sendirian tapi hati sudah lebih tenang, berbagai macam kemudahan membuat penulis percaya pada sistemnya dan juga profesionalitas medis serta paramedisnya.

 

Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #1

Tidak bermaksud menepikan pada apa yang diupayakan para pejuang kesehatan Indonesia, hanya saja pengalaman sendiri menjalani kehamilan-melahirkan-merawat bayi sendiri di bagian kota budaya Kyoto,Jepang membuat penulis mengkhayalkan pada suatu waktu kesehatan ibu-anak di Indonesia mendapatkan jaminan dan pelayanan berkualitas secara merata, di ujung pulau sana sampai sudut gang kecil perkotaan, kaya maupun miskin, berpendidikan S3 atau SD saja.


Bermula dari apa yang dijalani seorang ibu hamil disini, untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan secara cuma-cuma dia harus melaporkan kehamilannya pada semacam puskesmas untuk kemudian mendapatkan kupon pemeriksaan. Diperiksa di puskesmas oleh bidan? Bukan, melainkan di RS negeri/swasta berfasilitas lengkap oleh dokter ahli. Di samping kupon, seorang ibu hamil mendapatkan gantungan tas dengan simbol ibu hamil, sehingga di bus atau kereta orang-orang mengetahui kehamilannya dan si ibu mendapat prioritas tempat duduk.

Pada saat bersamaan, pihak puskesmas juga melakukan pendataan karena ibu hamil ini akan mereka pantau terus. Petugas mereka akan mengunjungi rumah si ibu untuk edukasi menjelang persalinan dan perawatan bayi pada masa sebelum melahirkan dan 1 bulan setelah melahirkan. Di suatu sisi, akses internet sebagai sumber informasi begitu mudah tetapi edukasi secara langsung melalui home visit tetap menjadi program kerja. Program lain puskesmas untuk ibu hamil antara lain parenting class dan pemeriksaan gigi.

Di RS, sederet pemeriksaan penunjang untuk ibu hamil dilakukan secara rutin, tidak lagi sebagai pemeriksaan tambahan. USG transabdomen dan transvaginal, deteksi anemia melalui pemeriksaan Hb,protein urin, gula darah, berbagai macam pemeriksaan untuk penyakit (Syphilis, HepB, HIV, ) dan juga paps smear. Untuk fasilitas seperti ini, penulis menghela nafas mengingat saudara kita di pelosok sana. Pernahkah mereka menikmatinya? Para ibu di kota pun, berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan? Sekalipun untuk beberapa pemeriksaan di sini pun tetap ada pungutan biaya, tetapi sebagian besar ditanggung asuransi sehingga pungutan biaya itu tidak memberatkan.

Kehidupan itu berawal dari pembuahan, menjaga ibu hamil adalah titik awal menghormati kehidupan manusia dan setiap manusia berhak dihargai kehidupannya dalam penjagaan yang seutuhnya tanpa memandang strata sosial ekonomi.

dr. Irma Susan Kurnia

Yuk dipilih bajunyaa kakaak!!

Picture

Pagi ini ketika jalan pagi sama si fatih, saya ketemu anak tetangga, lg lari-larian abis mandi. Trus ibunya cerita kalau si anak ini walaupun baru dua tahun udah bisa milih baju sendiri. Walau pilihan saat itu baju atas loreng loreng dan rok bunga, si anak seneng, si bunda yang terlihat ga seneng malah, maklum ibunya nih freak matching. Dari situ saya teringat anak bisa memilih loh. Self reminder juga buat sayah yang freak matching baju anak juga..hahahaha. Ya pasti akan datang masanya si fatih milih mau pk baju apa. Gapapa nak, pilih apapun boleh asal jangan minta pake rok sama bandana ya, jangan ya nak kamu kan cowooo.

Sadar ga sih. kebanyakan orang tua itu sering keblablasan loh milihin apapun buat anaknya hingga sampe jodoh pun dipilihin. 

contoh :

anak : mama, aku mau tas warna abu-abu itu !

mama : nak, kayanya bahannya kurang bagus deh..mmmm..gimana kalo tas warna hijau yang itu

anak : hmm..yaudah de

……

lain kesempatan

mama : nak, kamu maunya sepatu yang mana sih?

anak : yang ini ma (sambil menunjuk sepatu pink ngejreng dengan bunga kriwil2 *haha..khayalan aneh*)

mama : duh, kamu nih ababil banget deh..yang item ini aja ya sayang, lebih netral, kamu kan mau pake ke sekolah

anak : yaudah deh 

…….

another events

anak : mama, aku mau beli baju 

mama : oh yauda..sini coba..yang mana

anak : (menunjukkan pilihan baju)..ini ma, pilih A atau B

mama : mmm..ga ada yang bagus nak..eh yang itu aja (menunjuk ke arah rak yang lain)..kayanya yang itu lebih bagus.

Kasihan sekali ya si anak ini. Kelak pada masa dewasa, anak ini akan menjadi orang yang peragu dan tidak berani mengambil keputusan. Karena apa apa selalu dipilihkan oleh orangtuanya.

Tugas orang tua memang mengarahkan anak, terutama untuk hal hal yang prinsip seperti urusan akhirat. Tapi bukan berarti kita mengekang mereka. Selama itu bukan hal yang prinsip, bebaskan anak memilih apa yang dia suka. Misalnya memilih pakaian, sepatu, dsbm Meski mungkin semacam sakit mata kalo liat pilihan anak yg emang belom ngerti ya, at least anak belajar memilih. Apalah artinya matching kl anaknya ga bahagia..hehehe.

Dear moms, bukan berarti yang menurut kita baik juga baik untuk anak kita. anaklah yang akan menjalani pilihan itu, bukan orang tua. jadi, sebagai orang tua, kita wajib memberi tahu pendapat kita menurut pengalaman kita. tapi juga harus terbuka dengan pemikiran anak kita. ingat, kalau anak hidup di jaman yang berbeda dengan orangtuanya. mereka lahir dan dibesarkan berbeda, dengan pola pikir yang berbeda, dengan tekanan yang berbeda. jadi, yang dibutuhkan bukan ceramah ala gaya jaman dulu “kalo dulu mah jaman abi dan ummi umur segini udah bisa..blablablabla..”..menurut saya udah ga jaman tu„karena beda dong jamannya.

kadang pilihan anak ga selalu salah. kita ga akan pernah tau mana yang bener. toh dalam hidup ini yang mutlak cuma tiga menurut agama saya. jodoh, rejeki, sama kematian..yang lainnya mah selalu bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

ga ada salahnya memberi anak kebebasan untuk memilih, selama masih dalam batas dan norma yang benar. berani memilih akan membuat anak berani mengambil keputusan dan akhirnya menjadi pengendali hidupnya. toh, hidup adalah pilihan dan siapa yang tidak membuat pilihan untuk dirinya, akan dikendalikan oleh orang lain seumur hidupnya. amit amit deh, 

kalau anak salah dalam mengambil keputusan gimana? nanti ini, nanti itu, nanti anu..blababla..banyak lah..tapi prinsipnya gini ya..kalau mereka pernah salah„mereka tahu kalau mereka salah„dan seterusnya akan belajar untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan..saya tidak ingin anak saya kelak menjadi seorang pengecut yang hanya mengekor orang lain untuk berani mengambil keputusan..tidak apa apa sesekali salah..wong nabi juga pernah salah toh =D..hehehe

making choice, making life..

dr. Rara Pramudita