Category Archives: Curhat

Sholat Menyenangkan Bersama Anak

Sebagai seorang ibu, tentunya setiap melakukan sesuatu tidak terlepas dari hubungannya dengan anak tercintanya, termasuk beribadah. Beberapa hari yang lalu, aku mengikuti pengajian di salah satu masjid besar di bilangan blok M Jakarta. Pengajian dimulai pada pukul 10.00 dan berakhir setelah sholat zhuhur. Karena bertepatan dengan sholat, tentunya aku mengikuti sholat berjamaah, dengan konsekuensi kemungkinan anakku, naren yang berusia 1 tahun, akan nangis. Tapi mau bagaimana lagi, sholat adalah kewajiban yang harus ditunaikan bagiku, dan karena tidak punya nanny, jadi naren tidak bisa dititipkan.

 
Dan benar saja, seusai rakaat ke 2 (note: sholat dzhuhur terdiri dari 4 rakaat), naren mulai menangis kencang. Akhirnya, aku memutuskan melanjutkan sholat sendiri dengan pertimbangan bisa lebih cepat dibandingkan sholat berjamaah. Sesudah sholat, aku pun berbincang dengan ibu-ibu di sebelah. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya bisa saja sholat dengan menggendong anak lho. Dan kondisi itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw yang pernah menggendong cucunya. Wah, mendengar pernyataan tersebut aku akhirnya jadi tertarik untuk tahu lebih lanjut bagaimana ya caranya. Sebenarnya sebelumnya udah pernah denger-denger sih tentang beginian, cuma belum kebayang aja cara mengerjakannya gimana ya.
 
Selidik punya selidik, dari nanya-nanya offline dan mencari-cari via online, akhirnya nemu juga ilmu-ilmu menarik yang menurutku sih penting jadinya buat ibu-ibu rempong kayak aku, yang ngurus anak sendiri tanpa nanny. Jadi ya sodara-sodara, mengenai menggendong anak saat sholat, terdapat beberapa riwayat: 
 
Telah pasti kabar yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17) (1)
 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) pernah menggendong Umamah binti Zainab, cucu beliau sendiri ketika shalat. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri, beliau menggendongnya lagi. (Riwayat Bukhari dan Muslim) (2)
 
ha­dits yang diriwayatkan Imam Muslim da­lam Shahih-nya:
Dari Abu Qatadah, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah SAW sedang mengimami shalat, sedangkan Umamah binti Abil ‘Ash, ia adalah putri Zainab binti Rasulullah SAW, berada di atas pundak­nya. Maka, apabila sujud, beliau mele­tak­kannya, dan ketika bangun berdiri, be­liau menggendongnya.” (3)
 
Imam Nawawi dalam kitabnya yang men­syarah kitab hadits Shahih Muslim, ber­­kata, “Hadits inilah yang menjadi dalil bagi Madzhab Syafi’i dan ulama-ulama lain yang sependapat tentang bolehnya membawa anak kecil laki-laki atau pe­rem­puan saat shalat, baik shalatnya ter­sebut shalat fardhu maupun sunnah. Bolehnya ter­sebut berlaku bagi imam, makmum, ataupun orang yang shalat sendirian.”
 
Lebih lanjut lagi, menurut Madzhab Syafi’i, kita diperbolehkan membawa anak saat sholat asalkan sang anak tidak membawa najis atau kotoran, baik dengan sepengetahuan kita atau dengan sangkaan kita yang kuat bahwasanya anak tersebut tidak menge­luarkan atau membawa najis. Bila kita yakin atau ada sangkaan yang kuat bah­wa anak tersebut mengeluarkan atau mem­bawa najis, kita tidak boleh meng­gendongnya ketika shalat. Shalatnya batal apabila tetap menggendongnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Qurrah al-‘Ayn bi Fatawa Ismail Az-Zain:
“Bila diketahui anak tersebut mem­bawa najis yang tampak di kulup atau ku­lit luar kemaluannya, shalat orang yang membawanya batal; dan apabila tidak ketahui atau tidak ada sangkaan yang kuat akan hal tersebut, shalat orang yang membawanya tidak batal, karena hukum asalnya anak itu suci (ti­dak membawa najis).” (3)

Wah, ternyata menarik ilmunya. Ternyata beribadah ini bisa juga dengan cara yang menyenangkan untuk semua pihak ya, termasuk anak. Dengan sholat sambil membawa anak, sang anak tentunya akan menjadi pribadi yang lebih tenang dan sebenarnya ini bisa jadi pembiasaan untuk beribadah sedari dini ya. Ini beberapa hasil intip-an googling orang-orang yang gendong anaknya saat sholat:

Tapi penting untuk diingat, bahwa sebelum sholat jangan sampe lupa ganti diaper si baby karena kalau bawa-bawa anak yang membawa najis (pee or pup) malah jadi kita yang batal sholatnya. Hehe, gapapalah rempong sebelum sholat, yang penting aman dan nyaman untuk semua, dan afdhol sholatnya karena ga mikirin anak yang nangis menjerit-jerit selama kita sholat. Oh ya, ini kebetulan dapet gambar buat jadi contoh:

gendong bayi

Semoga dengan segala kemudahan untuk sholat ini jadi semakin meningkatkan semangat kita untuk beribadah bagaimanapun kondisinya.

Titania Nur Shelly,dr

Sumber :

Hukuman Fisik pada Anak

Memberikan hukuman fisik pada anak sudah lama menjadi topik perdebatan di Amerika. Menurut beberapa study, lebih dari separoh orang tua di Amerika membenarkan hukuman pukulan pada anak kecil, namun penelitian lain menunjukkan bahwa hal ini berbahaya. Berikut Tanya jawab APA (American Psychology Association) dengan Alan E. Kazdin, PhD, professor psikologi di Yale University dan direktur Yale’s Parenting Center and Child Conduct Clinic.

APA: Beberapa orang tua terkadang memukul anaknya bukan utk menghukum tapi untuk mengubah tingkah laku anak. Apakah memberikan pukulan ini efektif?
K: memukul anak bukanlah strategi yang efektif karena dua hal, pertama tidak menekankan pada pokok permasalahan, dan kedua tidak mengajarkan anak apa yg harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa kenakalan anak tidak berkurang dg memberikan hukuman fisik, bahkan jika hukumannya diperberat sekalipun.

APA: Apa bentuk hukuman lain yang dapat digunakan oleh orang tua?
K: Intinya adalah membantu anak untuk mengubah perilakunya. hukuman fisik tidak perlu dilakukan. Mengembangkan perilaku positif, yaitu perilaku berlawanan yg diharapkan ortunya, jauh lebih efektif.

APA: Apa contoh metode lain yang bisa diterapkan ortu untuk mendisiplinkan anak? Dan kenapa metode lain ini lebih efektif?
K: Arahkan anak pada perilaku positif! Gunakan metode sebelum, proses dan sesudah perubahan perilaku. Jelaskan konsekuensi dari kenakalan perlahan tapi pasti merubah perilaku konsekuensi setelah berubah (misal: memberikan pujian, imbalan). Ada banyak peneliatian dan buku mengenai ini.

APA: Apa bedanya hukuman fisik dengan tindak kekerasan pada anak (child abuse)?
K: Tindak kekerasan pada anak didefenisikan berbeda-beda di tiap Negara bagian di Amerika. Ada yang menekankan pada bagian tubuh mana anak-anak tersebut di pukul, penggunaan benda-benda tertentu, dsb. Intinya segala bentuk hukuman fisik yang sedang-berat punya efek jangka panjang negatif bagi anak, termasuk pada kemampuan akademik, kesehatan fisik maupun mental.

APA: apakah ada bentuk tekanan (sosial, ekonomi, lingkungan) yang menyebabkan ortu atau pengasuh cenderung menggunakan hukuman fisik?
K: YA! Tekanan dapat memicu kekerasan. Juga harapan ortu akan apa yang bisa dilakukan anak untuk membantu.

APA: Apa akibatnya jika anak didisiplinkan dg memberikan hukuman fisik? Misalnya, apakah mereka bisa jadi lebih agresif dibandingkan anak2 lain?
K: tidak ada jawaban pasti dari penelitian-penelitian mengenai hukuman fisik ringan (memukul anak tapi jarang-jarang). Namun hukuman fisik sedang-berat dapat berakibat pada keterlambatan dalam pendidikan, gangguan fisik dan psikologis.

APA: Apa tanggapan anda terhadap orang tua yang bilang: “orang tua saya dulu memukul saya dan sekarang saya baik-baik saja kok!”
K: Ada perokok yg hidup sampai usia 100, namun ini tidak bisa menyanggah penemuan bahwa merokok itu memperpendek usia. Ada pengecualian memang (contoh: orang terinfeksi HIV belum tentu mengidap AIDS), tapi kecenderungan berlaku secara umum.

APA: Riset seperti apa yang bisa memberikan bukti mengenai dampak hukuman fisik dan dapat menyarankan bentuk disiplin alternatif?
K: sudah ada penelitian-penelitian tentang ini yang kesimpulannya: semua bentuk hukuman yg melewati batas hukuman fisik ringan tidak efektif dan bisa berakibat buruk jangka panjang. Tidak semua ahli setuju, tapi saya menyarankan ortu utk menghindari segala bentuk hukuman fisik. Ada banyak cara lain yang lebih efektif.

*Artikel ini  dibagi oleh ibu psikolog Rolla Apnoza  yang diterjemahkan oleh Novie Safita dari grup FOCER (Forum Curhat Emak Rempong) asuhan Kiki Barkiah

Sumber : Parenting Expert Warns Against Physical Punishment [press release]. American Psychological Association2010.(http://www.apa.org/news/press/releases/2010/05/corporal-punishment.aspx)

Toilet Training Untuk sang Buah hati

Alhamdulillah setelah dicoba beberapa lama dalam menjalani training, akhirnya si sulung berhasil juga lulus ujian pertengahan dari pelatihan besar bernama “toilet training”. Tulisan ini mencoba untuk berbagi sedikit pengalaman dalam menemani ananda tercinta melewati fase kehidupan yang penting ini (lebay mode:on). Harapannya sahabat-sahabat dapat menjalani pelatihan ini lebih singkat dan lebih menyenangkan.


1. Kenalkan Konsep Buang Air

Hal pertama yang wajib dikenalkan kepada sang buah hati adalah istilah buang air besar atau buang air kecil itu sendiri. Penggunaan diaper terkadang membuat sang buah hati abai atas kejadian-kejadian yang ia alami, terutama urusan buang air kecil. Oleh karena itu, fase persiapan pertama yang wajib dilakukan adalah memahamkan ananda akan istilah buang air ini. Pengalaman kami, si sulung sudah terlebih dahulu paham istilah buang air besar (i.e., ee) dibandingkan buang air kecil. Oleh karena itu butuh beberapa waktu untuk mengenalkan istilah buang air kecil ini. Parameter sederhana dari fase ini adalah dia mengucapkan kata-kata buang air besar (misal : ee) ataupun buang air kecil (misal : pipis) ketika akan/sedang/setelah melakukannya. Pada fase ini tidak perlu terlalu menuntut agar si kecil mengucapkannya sebelum melakukan buang air, karena fase pertama ini harus difokuskan terlebih dahulu pada pengenalan istilah buang air kecil/besar terlebih dahulu. Melepas diaper dapat membantu untuk mengenalkan lebih cepat istilah buang air ini ke buah hati.

2. Kenalkan Istilah Toilet

Fase kedua dari toilet training adalah mengenalkan ananda akan lokasi untuk buang air kecil atau buang air besar. Setelah memahami istilah buang air, ajak ananda untuk mengenal lokasi yang tepat untuk “pipis” atau “ee”. Pengalaman kami, pengenalan dengan baik dan menyenangkan lokasi buang air sangat menentukan keberlangsungan pelatihan ini. Buatlah lokasi buang air sebagai tempat yang menyenangkan serta tidak menakutkan bagi sang buah hati, tempel gambar-gambar yang membuat hatinya senang atau gambar-gambar yang memotivasi dia untuk buang air di toilet. Membuat toilet menjadi tempat menyenangkan merupakan salah satu kunci sukses toilet training, pengalaman kami, sang ananda rupanya sangat tidak nyaman dengan toilet yang ada, dan lebih nyaman untuk buang air di kamar mandi yang lebih luas, dan terang.

Pada fase ini pula, mulailah secara perlahan-lahan untuk mengajarkan perasaan atau tanda-tanda yang ia rasakan manakala ingin membuang air. Ajarkanlah kata-kata yang mudah untuk mengajak buang air ke toilet, misal “pipis/ee ke toilet”, atau “pipis/ee bilang”. Beberapa parameter sukses dari fase ini adalah tidak takutnya ananda untuk pergi ke toilet, dapat mengungkapkan tanda-tanda sebelum ia ingin buang air, serta berhasil sesekali dalam buang air di toilet. Meskipun sang ananda sudah mulai memahami tanda-tanda serta terkadang berhasil untuk buang air ditoilet, jangan tuntut sang buah hati untuk selalu berhasil buang air ditoilet, karena merubah kebiasaan tetap saja membutuhkan waktu.

3. Rutinkan Buang Air di Toilet

Fase selanjutnya dari pelatihan ini adalah merutinkan sang ananda untuk buang air di toilet. Salah satu tips dalam merutinkan hal ini adalah memberikan pujian berulang, tepuk tangan, hingga hadiah manakala sang buah hati berhasil buang air di toilet. Fase ini dapat pula dilatih dengan mengajak sang buah hati selama selang waktu tertentu (misal satu atau dua jam sekali) untuk buang air di toilet. Meskipun anak sulung kali, lebih cenderung senang untuk diajak ke toilet manakala terlihat tanda-tanda sedang menahan pipis atau mengucapkan kata buang air. Parameter sukses tahap ini adalah, sang buah hati telah rutin hingga selalu buang air di toilet, mampu merasakan serta menahan ketika ingin buang air.

Jika menempatkan diri saya pribadi pada posisi sang buah hati, saya yakin proses ini bukanlah proses yang mudah, bahkan cenderung menakutkan. Karena sang buah hati seolah-olah sedang dituntut untuk merubah kebiasaan yang sudah dia lakukan selama setahun atau dua tahun belakang. Oleh karena itu berikut beberapa tips bagi orang tua agar dapat menjalani tahap ini secara menyenangkan

4. Sabar, Bahagia, dan Jangan Menuntut
Ini merupakan tips pertama yang sangat penting dalam pelatihan ini. Buatlah fase ini dengan sangat menyenangkan, ciptakan lagu-lagu dalam mengiringi fase ini dan yang paling penting jangan menuntut sang buah hati untuk segera berhasil dalam pelatihan ini. Ingatlah bahwa sesungguhnya tanpa diajarkan pun, kemampuan ini akan hadir secara alamiah. Oleh karena itu, setiap anak pasti bisa melakukannya.
5. Mulailah di Musim Semi Menjelang Musim Panas

Jika berada pada negeri empat musim, ada baiknya memulainya ketika musim semi menjelang musim panas. Pengalaman kami memulai toilet training ketika musim dingin atau musim gugur cukup menyulitkan. Karena kecenderungan sang buah hati untuk buang air kecil lebih besar, serta keenganan dia untuk menuju toilet karena suhu yang dingin.

6. Jauhkan Karpet-karpet yang Sulit Dibersihkan

Bau pesing yang menyeruak kemana-mana merupakan salah satu ciri pelatihan ini. Oleh karena itu, ada baiknya orang tua menganti karpet yang sulit dibersihkan dengan yang lebih mudah dibersihkan (misal: karpet puzzle).

7. Siapkan Pakaian Ganti Lebih Banyak

Fase-fase awal toilet training akan lebih banyak diisi oleh cerita pipis/ee di celana, oleh karenanya menyiapkan pakaian ganti, termasuk celana dalam, amatlah penting pada pelatihan ini.

8. Ajak Melihat Teman yang Sudah Berhasil

Ini tips lain yang mungkin dapat dicoba, meskipun orang tua sekali lagi tidak boleh menuntut sang ananda untuk menyamai temannya yang telah berhasil. Akan tetapi orang tua wajib berperan dalam memotivasi sang ananda.

9. Mulailah Ketika Ananda Siap

Pertanyaan kapan memulai merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab, karena perbedaan pencapaian tumbuh kembang sang buah hati. Ibu kami dahulu berhasil sejak usia kami satu tahun, cerita kawan-kawan lain ada yang satu setengah tahun, dua tahun, bahkan tiga-empat tahun. Oleh karena itu, orang tua yang paling paham kapan sang ananda siap menjalani fase ini. Ketika sang ananda terlihat sangat tertekan dalam menjalani proses ini, ada baiknya menghentikannya sementara sampai sang buah hati kembali bahagia menjalani tahap ini. Beberapa indikasi siap adalah mampu mengucapkan kata-kata pipis/ee atau mengungkapkan perasaan seperti menunjuk, berlari dan sebagainya.

Febri Zukhruf
Penulis adalah seorang ayah dan suami dari member kami Irma Susan Kurnia, dr.

Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #2

Fase persalinan dan nifas adalah salah satu tahap menegangkan dalam reproduksi wanita. Embel-embel kata ‘bertaruh nyawa’ pada fase ini bukanlah sekedar isapan jempol, terlebih jika ternyata fase ini tidak dalam prosedur medis seharusnya.

Sebagai negara maju, Jepang tentunya memiliki standar sendiri untuk masyarakatnya yang sedang dalam fase ini. Mulai usia 36 bulan kehamilan, pemeriksaan kehamilan seminggu sekali dilengkapi pemeriksaan CTG (cardiotocography) secara rutin tiap kedatangan, disamping sang ibu mendapatkan edukasi tanda-tanda persalinan dan memastikan sang ibu tahu kemana dia harus pergi atau mengontak unit gawat darurat.

Pada waktunya, persalinan dilakukan oleh 2 penolong, dokter dan ‘bidan’, persalinan normal maupun melalui operasi sessar dilakukan atas indikasi. Satu hal yang membuat penulis merasa kagum adalah bagaimana untuk setiap tindakan mereka berusaha untuk melakukan ‘informed consent’, penjelasan pada pasien tentang prosedur tindakan. Kebanyakan orang Jepang tidak fasih berbahasa Inggris, juga medis dan paramedisnya, tetapi ternyata tidak menghalangi dorongan untuk memberikan komunikasi yang baik pada pasien yang tidak bisa berbahasa Jepang.

Lagi-lagi permasalahan mendapatkan pelayanan yang sama-sama berkualitas menyeruak dalam benak penulis mengingat kondisi di negeri tercinta. Sekalipun berkualitas dan tentu mahal, biaya persalinan disini tertutupi oleh pemberian tunjangan kelahiran yang jumlahnya cukup ‘wah’ untuk ukuran orang Indonesia. Tunjangan ini juga dapat menutupi biaya pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir. Istimewanya, bagi penduduk dengan kategori pendapatan rendah ( termasuk mahasiswa asing yang hidup dari beasiswa) biaya persalinan dapat dipotong hingga 80% dengan tetap mendapat tunjangan sama besarnya.

Pemeriksaan bayi baru lahir juga dilakukan dengan teliti, termasuk diantaranya skrining beberapa penyakit metabolisme. Bayi premature akan mendapat suntikan antibodi untuk melawan respiratory syncytial virus dan mendapat perawatan sampai usianya setara dengan usia kehamilan 37 minggu dengan biaya yang ditanggung oleh asuransi.

Di samping itu, ibu yang telah melahirkan normal dirawat 6 hari di rumah sakit meski tanpa komplikasi. Selama 6 hari sang ibu dapat lebih banyak beristirahat ,mendapat pelatihan perawatan bayi serta cara menyusui dan juga pemeriksaan-pemeriksaan rutin bagi ibu dalam masa nifas.

Saat mengalami semua ini, penulis bersalin di malam hari hanya ditemani suami yang malam itu juga harus pulang, rasanya gamang sekali mengingat keterbatasan bahasa. Tapi, malam itu bahkan ke toilet pun suster mengantar, melayani tanpa rasa jijik. Masih lemas dan sendirian tapi hati sudah lebih tenang, berbagai macam kemudahan membuat penulis percaya pada sistemnya dan juga profesionalitas medis serta paramedisnya.

 

Bercermin Pada Pelayanan Kesehatan Ibu-Anak Negeri Sakura #1

Tidak bermaksud menepikan pada apa yang diupayakan para pejuang kesehatan Indonesia, hanya saja pengalaman sendiri menjalani kehamilan-melahirkan-merawat bayi sendiri di bagian kota budaya Kyoto,Jepang membuat penulis mengkhayalkan pada suatu waktu kesehatan ibu-anak di Indonesia mendapatkan jaminan dan pelayanan berkualitas secara merata, di ujung pulau sana sampai sudut gang kecil perkotaan, kaya maupun miskin, berpendidikan S3 atau SD saja.


Bermula dari apa yang dijalani seorang ibu hamil disini, untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan secara cuma-cuma dia harus melaporkan kehamilannya pada semacam puskesmas untuk kemudian mendapatkan kupon pemeriksaan. Diperiksa di puskesmas oleh bidan? Bukan, melainkan di RS negeri/swasta berfasilitas lengkap oleh dokter ahli. Di samping kupon, seorang ibu hamil mendapatkan gantungan tas dengan simbol ibu hamil, sehingga di bus atau kereta orang-orang mengetahui kehamilannya dan si ibu mendapat prioritas tempat duduk.

Pada saat bersamaan, pihak puskesmas juga melakukan pendataan karena ibu hamil ini akan mereka pantau terus. Petugas mereka akan mengunjungi rumah si ibu untuk edukasi menjelang persalinan dan perawatan bayi pada masa sebelum melahirkan dan 1 bulan setelah melahirkan. Di suatu sisi, akses internet sebagai sumber informasi begitu mudah tetapi edukasi secara langsung melalui home visit tetap menjadi program kerja. Program lain puskesmas untuk ibu hamil antara lain parenting class dan pemeriksaan gigi.

Di RS, sederet pemeriksaan penunjang untuk ibu hamil dilakukan secara rutin, tidak lagi sebagai pemeriksaan tambahan. USG transabdomen dan transvaginal, deteksi anemia melalui pemeriksaan Hb,protein urin, gula darah, berbagai macam pemeriksaan untuk penyakit (Syphilis, HepB, HIV, ) dan juga paps smear. Untuk fasilitas seperti ini, penulis menghela nafas mengingat saudara kita di pelosok sana. Pernahkah mereka menikmatinya? Para ibu di kota pun, berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan? Sekalipun untuk beberapa pemeriksaan di sini pun tetap ada pungutan biaya, tetapi sebagian besar ditanggung asuransi sehingga pungutan biaya itu tidak memberatkan.

Kehidupan itu berawal dari pembuahan, menjaga ibu hamil adalah titik awal menghormati kehidupan manusia dan setiap manusia berhak dihargai kehidupannya dalam penjagaan yang seutuhnya tanpa memandang strata sosial ekonomi.

dr. Irma Susan Kurnia

Yuk dipilih bajunyaa kakaak!!

Picture

Pagi ini ketika jalan pagi sama si fatih, saya ketemu anak tetangga, lg lari-larian abis mandi. Trus ibunya cerita kalau si anak ini walaupun baru dua tahun udah bisa milih baju sendiri. Walau pilihan saat itu baju atas loreng loreng dan rok bunga, si anak seneng, si bunda yang terlihat ga seneng malah, maklum ibunya nih freak matching. Dari situ saya teringat anak bisa memilih loh. Self reminder juga buat sayah yang freak matching baju anak juga..hahahaha. Ya pasti akan datang masanya si fatih milih mau pk baju apa. Gapapa nak, pilih apapun boleh asal jangan minta pake rok sama bandana ya, jangan ya nak kamu kan cowooo.

Sadar ga sih. kebanyakan orang tua itu sering keblablasan loh milihin apapun buat anaknya hingga sampe jodoh pun dipilihin. 

contoh :

anak : mama, aku mau tas warna abu-abu itu !

mama : nak, kayanya bahannya kurang bagus deh..mmmm..gimana kalo tas warna hijau yang itu

anak : hmm..yaudah de

……

lain kesempatan

mama : nak, kamu maunya sepatu yang mana sih?

anak : yang ini ma (sambil menunjuk sepatu pink ngejreng dengan bunga kriwil2 *haha..khayalan aneh*)

mama : duh, kamu nih ababil banget deh..yang item ini aja ya sayang, lebih netral, kamu kan mau pake ke sekolah

anak : yaudah deh 

…….

another events

anak : mama, aku mau beli baju 

mama : oh yauda..sini coba..yang mana

anak : (menunjukkan pilihan baju)..ini ma, pilih A atau B

mama : mmm..ga ada yang bagus nak..eh yang itu aja (menunjuk ke arah rak yang lain)..kayanya yang itu lebih bagus.

Kasihan sekali ya si anak ini. Kelak pada masa dewasa, anak ini akan menjadi orang yang peragu dan tidak berani mengambil keputusan. Karena apa apa selalu dipilihkan oleh orangtuanya.

Tugas orang tua memang mengarahkan anak, terutama untuk hal hal yang prinsip seperti urusan akhirat. Tapi bukan berarti kita mengekang mereka. Selama itu bukan hal yang prinsip, bebaskan anak memilih apa yang dia suka. Misalnya memilih pakaian, sepatu, dsbm Meski mungkin semacam sakit mata kalo liat pilihan anak yg emang belom ngerti ya, at least anak belajar memilih. Apalah artinya matching kl anaknya ga bahagia..hehehe.

Dear moms, bukan berarti yang menurut kita baik juga baik untuk anak kita. anaklah yang akan menjalani pilihan itu, bukan orang tua. jadi, sebagai orang tua, kita wajib memberi tahu pendapat kita menurut pengalaman kita. tapi juga harus terbuka dengan pemikiran anak kita. ingat, kalau anak hidup di jaman yang berbeda dengan orangtuanya. mereka lahir dan dibesarkan berbeda, dengan pola pikir yang berbeda, dengan tekanan yang berbeda. jadi, yang dibutuhkan bukan ceramah ala gaya jaman dulu “kalo dulu mah jaman abi dan ummi umur segini udah bisa..blablablabla..”..menurut saya udah ga jaman tu„karena beda dong jamannya.

kadang pilihan anak ga selalu salah. kita ga akan pernah tau mana yang bener. toh dalam hidup ini yang mutlak cuma tiga menurut agama saya. jodoh, rejeki, sama kematian..yang lainnya mah selalu bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

ga ada salahnya memberi anak kebebasan untuk memilih, selama masih dalam batas dan norma yang benar. berani memilih akan membuat anak berani mengambil keputusan dan akhirnya menjadi pengendali hidupnya. toh, hidup adalah pilihan dan siapa yang tidak membuat pilihan untuk dirinya, akan dikendalikan oleh orang lain seumur hidupnya. amit amit deh, 

kalau anak salah dalam mengambil keputusan gimana? nanti ini, nanti itu, nanti anu..blababla..banyak lah..tapi prinsipnya gini ya..kalau mereka pernah salah„mereka tahu kalau mereka salah„dan seterusnya akan belajar untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan..saya tidak ingin anak saya kelak menjadi seorang pengecut yang hanya mengekor orang lain untuk berani mengambil keputusan..tidak apa apa sesekali salah..wong nabi juga pernah salah toh =D..hehehe

making choice, making life..

dr. Rara Pramudita