Category Archives: Hidup Sehat

Kapan Pertama Kali Janin Mengenal Rasa Makanan?

Tahukah Anda bahwa si kecil di dalam kandungan dapat merasai apa yang Anda makan? Nah, ini dia menu dalam rahim.

 

Anda mungkin berpikir si kecil belum mempunyai konsep tentang rasa sampai saat pertama si kecil meneguk ASI, atau barangkali ketika si kecil diberi makanan padat. Tapi mungkin Anda terkejut karena ternyata si kecil sudah mencicipi rasa pertamanya 13 minggu setelah pembuahan, atau tepatnya ketika indra pengecapnya mulai berkembang.

Dari usia 11 minggu di kandungan, bayi Anda akan belajar bagaimana menelan dan meneguk cairan amniotik yang mengelilinginya dalam rahim. Komposisi cairan amniotik berubah di trimester pertama. Dari semula cairan berbasis air, mirip plasma darah, menjadi substansi penuh nutrisi karbohidrat, protein, dan lemak. Substansi ini berperan penting dalam proses tumbuh kembang si janin. Setiap hari, si kecil akan mencerna sejumlah cairan ini, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, maupun untuk melatih kemampuan si kecil menelan dan mencerna. Cairan amniotik tersebut mengandung rasa yang tidak pasti, rasa berubah sesuai makanan yang dikonsumsi ibunya. Jadi, begitu indra pengecap si kecil sudah cukup berkembang, ia akan dapat mencicipi berbagai rasa yang terkandung dalam cairan amniotik, tergantung jenis makanan yang Anda asup.

Penerima rasa (taste receptor) yang terbentuk cepat di lidah si kecil, seiring perkembangan saraf penerima lainnya di saluran napas, memberi kemampuan pada si kecil untuk merasakan amniotik dan membauinya. Setidaknya 90% dari indera perasanya dipengaruhi oleh penerima bau (smell receptor), sehingga makanan dengan rasa yang kuat, misalnya rempah, adalah yang paling mudah dikenali janin.

Coba uji pada diri Anda sendiri. Jika Anda makan makanan berbumbu tajam, tunggu dua jam, waktu yang dibutuhkan bagi rasa makanan tersebut sampai ke cairan amniotik, Anda akan merasakan respon janin, misalnya gerakan, dll. Atau bisa saja, janin Anda tidak responsif! Apapun reaksi janin yang terjadi, Anda tidak perlu khawatir . Rasa makanan seperti itu tidak akan membuat janin stress. Rasa-rasa itu sekadar melatih janin dengan sensasi yang lebih bervariasi sehingga ia akan lebih siap saat lahir nanti.

Para peneliti menyatakan bahwa bayi yang terekspos oleh rasa tertentu di dalam rahim akan lebih menyukai makanan dengan rasa tersebut setelah mereka dilahirkan nanti. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Philadelphia menguji sekelompok ibu hamil. Para bumil ini dibagi dalam tiga kelompok: satu kelompok diberi jus wortel empat kali seminggu selama kehamilan, lalu diberikan air ketika mereka sudah melahirkan dan saat menyusui. Kelompok kedua minum air selama kehamilan, lalu diberi jus wortel saat mereka menyusui. Kelompok terakhir tidak minum jus wortel.

Ketika bayi-bayi mereka disapih dan mulai makan makanan padat, para peneliti menawarkan dua macam sereal: sereal tanpa rasa dan rasa wortel. Bayi yang terpapar jus wortel, baik melalui cairan amniotik maupun ASI, akan lebih menyukai sereal rasa wortel dan cenderung tidak akan menyeringai bila dibandingkan bayi yang belum pernah mencicipi rasa wortel.

Penelitian lain dilakukan untuk menguji apakah bau-bauan dapat diteruskan ke cairan amniotik oleh jenis makanan tertentu. Peneliti memberikan kapsul bawang putih atau kapsul gula kepada sekelompok ibu hamil. Kemudian , para peneliti mengambil contoh cairan amniotik pada bumil tersebut. Sekelompok orang diminta melakukan tes penciuman, dan sampel dari para ibu yang telah menelan kapsul bawang putih terdeteksi bau bawang putih.

Sepertinya memang benar kata orang: you are what you eat. Dan anehnya, apapun yang Anda makan tidak saja langsung berpengaruh pada si kecil, tetapi juga mungkin memengaruhi pilihan rasa si kecil di masa depan. Ilmuwan Perancis melakukan sebuah studi untuk mendukung fakta tersebut: 12 ibu hamil diberikan biskuit dan permen berlapis coklat sekitar 10 hari sebelum melahirkan. Beberapa jam setelah para wanita tersebut melahirkan, reaksi bayi mereka terhadap bau coklat lebih tampak dibandingkan dengan bayi yang tidak terpapar bau tersebut sebelumnya.

Paparan terhadap sebuah aroma di masa antenatal dan setelah melahirkan diyakini dapat meningkatkan kenikmatan terhadap rasa tersebut, selama masa penyapihan maupun setelah mereka dewasa. Hal ini menjelaskan mengapa berbagai negara memiliki preferensi budaya dan etnis tertentu terhadap makanan dan rasa. Seorang anak Indonesia, misalnya, tumbuh dengan preferensi rasa yang berbeda dengan anak-anak Perancis, China, atau India – dan kegemaran tersebut dapat disebabkan oleh tereksposnya anak-anak terhadap rasa cairan amniotik yang pertama kali mereka rasakan.

Menjaga kebiasaan makan sehat dan seimbang selama masa kehamilan penting untuk memberi makanan si kecil yang sedang tumbuh. Namun, dengan Anda menganut kebiasaan makan makanan yang bervariasi, si kecil nantinya akan lahir dengan kebiasaan menikmati makanan sehat. Dengan makan yang benar, Anda dapat menghapus kemungkinan si kecil menyukai permen dengan kegemarannya pada brokoli.

Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Keith L. Moore, et al. 2000. Fetal Growth and Development. The South Dakota Departement of Health.

  2. Women Health Care Physicians. 2015. Prenatal Development: How Your Baby Grows During Pregnancy. The American College of Obstetric and Gynecology.

  3. Giussepe M, et al. 2015. Pregnancy, Embryo Fetal Development and Nutrition: Physiologi around Fetal Programming. Journal of Histology and Histopatology: University of Catania: Italia.

  4. Deki Pem. 2015. Factors Affecting Early Childhood Growth and Development: Golden 1000 ages. Medical Science University of Bhutan: Bhutan.

  5. J A Dipietro. 2008. Prenatal Development. Johns Hopkins University: Baltimore.

Mengapa Ibu Hamil Keranjingan Makan?

You are what you eat

tapi apa maksudnya bila tiba-tiba Anda makan pisang dengan saus?

 

Dalam banyak kejadian, ciri-ciri hamil digambarkan dengan keranjingan makan es krim dan acar. Kita juga kerap mendengar seorang teman yang tiba-tiba kepingin makan banyak daging merah atau tiba-tiba tidak suka kopi sama sekali. Bahkan, 75 persen dari ibu hamil (bumil) akan doyan ngemil jenis-jenis makanan tertentu sampai usia kehamilannya mencapai 40 minggu.

Mungkin Anda tidak heran kalau mendengar bahwa keranjingan makan yang sering terjadi adalah ngemil yang manis-manis, berlemak, seperti coklat atau kue donat; juga keranjingan terhadap cemilan asin dan berbumbu. Tetapi jenis makanan yang disuka bumil ini bervariasi, tergantung pada latar belakang masing-masing. Di Tanzania, misalnya, bumil umumnya akan senang makan daging, mangga, yogurt, dan buah jeruk. Sementara di Kamboja, para bumil senang ngemil makanan yang gurih dan berbumbu.

Sebaliknya, ada ibu hamil yang tidak suka makan dan merupakan hal yang juga mengejutkannya dengan keranjingan karena perubahan kebiasaan dari saat sebelum hamil. Datang tiba-tiba dan sulit dikontrol. Anda bisa jadi hanya inginkan roti gosong dengan olesan tebal mentega tak peduli siang atau malam.

Kapan kesukaan atau justru penolakan terhadap makanan itu terjadi? Doyan ngemil umumnya terjadi pada kehamilan pertama, meski para ahli tidak dapat menentukan kapan tepatnya kebiasaan ini dimulai. Sementara 60% dari kasus tidak doyan makan dimulai pada trimester pertama kehamilan, tepatnya ketika mual-mual mulai timbul, menurut sebuah jurnal yang membahas mengenai appetite. Tidak doyan makan umumnya tidak menimbulkan masalah setelah trimester pertama, tetapi keranjingan justru bisa berkelanjutan sepanjang masa kehamilan.

Sebuah studi lain dari University of Connecticut memperlihatkan bahwa perempuan lebih banyak mengonsumsi makanan yang manis di trimester kedua dan keranjingan makanan gurih seiring bertambahnya usia kandungan.

Apa yang terjadi? Beberapa ahli mengatakan bahwa keranjingan makan ini sebenarnya adalah intuisi tubuh ketika terjadi kekurangan nutrisi. Perilaku keranjingan makanan berbahan dasar susu pada bumil dianggap biasa karena rata-rata perempuan mengonsumsi hanya tiga perempat dari kebutuhan kalsium hariannya. Tidak demikian halnya dengan kesukaan terhadap makanan gurih. Tubuh Anda memang membutuhkan lebih banyak sodium karena volume darah yang meningkat, tetapi pada umumnya kita sudah mengonsumsi terlalu banyak garam. Namun, belum ada bukti yang mendukung teori ini.

Teori lain menyebutkan bahwa tidak doyan makan adalah mekanisme perlindungan ibu dan bayinya terhadap racun-racun dari lingkungan sekitar. Lihatlah berapa banyak perempuan yang tiba-tiba mual dengan kopi, terutama di minggu-minggu awal kehamilan. Bumil juga mungkin tidak doyan sayuran pahit atau beraroma tajam, dan itu justru menghindari bumil dari keracunan.

Penyebab lain dari dua perilaku seputar kebiasaan makan bumil adalah perubahan hormon tubuh. Para ahli meneliti keranjingan makan dalam kaitannya dengan kadar progesteron dan prolaktin, yang dapat memengaruhi nafsu makan. Perubahan hormon ini berpengaruh pada sensitivitas terhadap bau dan rasa, dan berkaitan erat dengan tekstur makanan yang dikonsumsi bumil. Es adalah makanan favorit bumil karena rasa lezatnya, juga efek dingin dan menyegarkannya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa doyannya bumil terhadap makanan dipengaruhi oleh pola pikir kita tentang apa yang harus dimakan, misalnya buah dari produk-produk susu yang berefek mendinginkan, atau hal-hal klise yang sering kita lihat di televisi. Perilaku ini bertambah intensif saat bumil gelisah. Memang menggoda untuk mengalihkan pikiran ke makanan. Banyak bumil memilih cemilan anak-anak yang cenderung hambar, misalnya keju dan roti bakar, puding beras, atau pasta dengan butter. Ada hal positif disini, karbohidrat akan meningkatkan kadar hormon serotonin yang akan membuat Anda lebih rileks.

Namun, perilaku keranjingan ini bisa menggila. Beberapa bumil bisa berjingkat-jingkat ke dapur di malam hari dan makan kerak makanan di dinding panci atau mengendus semir sepatu. Perilaku semacam ini disebut pica, keranjingan hal-hal yang bukan makanan, misalnya bau tanah dan pasta gigi. Fenomena seperti ini ditemui di berbagai budaya, bahkan terjadi sejak lama. Dalam beberapa tradisi, perilaku keranjingan ini dinanti-nanti, bahkan didorong sebagai semacam perlindungan atau pertanda baik. Sebuah studi tahun 2000, para ibu di Mexico mengatakan bahwa memakan segumpal tanah liat suci akan mendatangkan berkah. Dan barangsiapa menolak ngidam, maka bayinya tidak akan pernah puas (lahir dengan mulut ngiler), dan bila ngidamnya dipenuhi maka bayinya akan senang dan bersih.

Jadi, haruskah Anda menolak ngidam? Ya, jika Anda ngidamnya membaui asap mobil atau ngemil batu bata, mungkin Anda harus bicara dengan dokter apakah Anda kekurangan nutrisi tertentu. Namun tidak ada data yang mendukung bahwa ngidam berakibat buruk pada bayi. Yang Anda harus lakukan adalah menggantinya dengan sesuatu yang lebih menyehatkan; makan sedikit tetapi sering karena kadar gula dalam darah yang rendah akan memicu keinginan ngemil. Makan lebih banyak ikan juga dapat membantu karena minyak dari ikan tersebut akan mengurangi keinginan Anda untuk ngemil.

Jika Anda sangat ingin makan coklat, Anda mungkin sedang kekurangan zat magnesium dan cobalah ngemil biji (kuaci) bunga matahari. Keletihan juga dapat meningkatkan keinginan ngemil, jadi Anda sebiknya tidur cukup di malam hari dan istirahat di siang hari. Dan yang penting adalah semangati diri Anda untuk melalui tahap yang aneh, tetapi sangat berarti dalam kehamilan Anda.

Penulis:
Reqgi First Trasia, dr.

 

Referensi :
1. Ministry of Health. 2006. Food and nutrition guidelines for Healthy Pregnant and Breastfeeding Women. Wellington : New Zealand.
2. Crawley, Helen. 2014. Eating well for Healthy Pregnancy: A Practical Guide. Queens Road : London.
3. National Health and Medical Research Council. 2007. Healthy Eating during your Pregnancy. Departement of Health and Aging : Australian Government.
4. Australian Dietary Guidelines. 2008. Food Savety during Pregnancy. Departement of Food Authority : New Zealand.
5. Williamson, C.S. 2006. Nutrition in Pregnancy. British Nutrition Foundation : London.

Kondom dan Pencegahan Penyakit Menular Seksual

Pasangan suami istri yang ingin mencegah atau menunda kehamilan dianjurkan untuk memakai alat kontrasepsi. Salah satu alat kontrasepsi yang mudah, murah dan cukup aman untuk digunakan ialah kondom. Alat kontrasepsi yang banyak dipakai pria ini juga diketahui amat bermanfaat untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS). Termasuk salah satunya ialah penyakit yang berbahaya seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Kasus penyakit menular seksual, termasuk infeksi HIV, cukup banyak terjadi di Indonesia. Data menyebutkan bahwa jumlah penderita HIV sejak 1987 sampai September 2014 sebanyak 150.296 orang. Kelompok yang paling banyak terinfeksi HIV dan AIDS yaitu laki-laki usia 25-49 tahun. Namun, yang paling mengejutkan bahwa berdasarkan profesi, penderita AIDS yang terbanyak di Indonesia adalah ibu rumah tangga.

Untitled

Sekilas tentang Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual (PMS) ialah penyakit ditularkan melalui hubungan intim. PMS dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit. Beberapa penyakit menular seksual yang cukup banyak dialami masyarakat contohnya sifilis, gonorea (kencing nanah), klamidia (infeksi jamur), trikomoniasis, herpes, dan yang mungkin paling ditakuti ialah HIV.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel darah putih, yang menyebabkan kekebalan tubuh seseorang turun. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. Penderita AIDS sangat mudah terkena berbagai infeksi kuman lain yang sering berakibat fatal.

Bagaimana cara penularan PMS?

Sesuai dengan namanya, penyakit menular seksual paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual. Kuman yang membawa penyakit kelamin ini menyebar melalui kontak dari cairan mani, cairan dari kemaluan wanita atau darah. Seperti pada penularan penyakit kencing nanah (gonore), klamidia, trikomoniasis dan infeksi HIV. Selain itu, penularan bisa juga terjadi saat kontak permukaan mukosa kelamin dengan lesi kulit yang terinfeksi dari penderita. Sebagai contoh lesi kulit yang khas pada penderita herpes, sifilis dan chancroid.

Beberapa penyakit juga bisa ditularkan dari aktivitas non seksual. Contohnya bertukar jarum suntik pada pengguna narkoba, donor darah yang tidak aman, dan penularan dari ibu ke bayi saat proses melahirkan.

Bagaimana cara mencegah PMS?

Hal yang paling efektif dalam mencegah penyakit menular seksual ialah tidak berhubungan suami istri sama sekali bagi yang belum menikah. Bila sudah menikah, penting sekali untuk setia kepada pasangan agar dapat terlindungi dari penyakit menular seksual ini. Selain itu, para wanita dianjurkan untuk disuntik vaksin HPV untuk mencegah infeksi HPV dan kanker serviks.

Khusus untuk penyakit HIV, selain melalui hubungan seksual, HIV juga dapat dicegah dengan :

1. Melakukan skrining produk darah jika menjadi penerima transfusi darah.
2. Tidak menggunakan suntik apapun (termasuk narkoba) kecuali atas indikasi medis.
3. Ibu hamil yg positif HIV disarankan menjalani terapi ARV (anti-retroviral)

Bagaimana cara kondom mencegah PMS?

PMS paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual, oleh karena itu salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah PMS ialah menggunakan kondom. Kondom menutupi seluruh penis, sehingga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari penis penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Kondom yang banyak beredar di Indonesia merupakan jenis kondom yang dipakai pria. Namun ada juga kondom yang dapat dipakai wanita. Kondom wanita mirip kondom pria, berbentuk tabung dengan salah satu ujungnya tertutup, namun ukurannya lebih besar dibanding kondom pria. Kondom wanita menutupi pinggir mulut vagina, seluruh dinding vagina dan mulut rahim. Kondom wanita juga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari serviks dan vagina penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Seberapa efektif kondom mencegah PMS?

Penggunaan kondom lateks secara rutin konsisten dan tepat efektif mencegah penularan PMS. Efektivitasnya sangat bergantung pada metode penularan PMS. Kondom sangat efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui cairan mani dan cairan dari kemaluan wanita, misalnya pada klamidia, gonorea, trikomoniasis dan infeksi HIV. Cairan yang mengandung virus/bakteri tersebut dapat ditampung dan tidak menembus kondom. Pada penelitian tentang HIV, penggunaan kondom dapat menurunkan insidens HIV 69-95%, bahkan jika dikombinasikan dengan terapi ARV (anti-retroviral) maka insidens HIV dapat menurun sampai 99%.

Kondom juga efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui lesi kulit seperti herpes genital, sifilis, chancroid dan infeksi HPV, dengan syarat lesi kulit/area yang terinfeksi tertutup seluruhnya oleh kondom. Namun jika lesi kulit/area yang terinfeksi tidak tertutup oleh kondom, maka perlindungannya tidak efektif.

Bagaimana bila kondom robek? 

Jika kondom robek, maka cairan dari alat kelamin dan lesi kulit yang terinfeksi dapat kontak dengan alat kelamin pasangannya dan menularkan PMS, sehingga kondom menjadi tidak efektif. Selain memasang kondom dengan benar, cara mencegah kondom robek yaitu:

  • Periksa tanggal kadaluarsa sebelum digunakan karena kondom yang sudah kadaluarsa mudah robek.
  • Hati-hati membuka kemasan . Hindari membuka terlalu kasar, tergores kuku atau membuka kemasan dengan gigi.
  • Pastikan kondom tidak robek sebelum dipakai.
  • Jangan memakai lubrikan yang berbahan minyak seperti losion, baby oil, petroleum jelly atau krim (Vaseline), karena bisa merusak kondom.

Kesimpulan

Kelompok yang paling banyak mengidap HIV dan AIDS sejak dahulu tidak berubah, yaitu kelompok laki-laki heteroseksual usia 25-49 tahun. Turunnya kasus AIDS sejak tahun 2004 membuktikan terapi ARV sudah cukup berhasil, namun kasus HIV baru terus meningkat. Selain pencegahan dengan menggunakan kondom secara rutin konsisten dan tepat, disinilah pentingnya kerjasama antara lembaga kesehatan dan keagamaan.

Fakta lain yang mengejutkan adalah cukup tingginya kasus HIV pada ibu rumah tangga. Komunikasi yang baik dan keterbukaan antara pasangan suami istri sangat penting. Komunikasi yang baik dapat dilanjutkan dengan skrining HIV, penggunaan kondom secara rutin konsisten dan tepat, serta terapi ARV. Hal ini penting untuk mencegah infeksi HIV pada anak yang sedang dikandung atau disusui oleh ibu tersebut.

Diana Andarini, dr.

11/30/2015

Referensi

  1. Lee Warner, Daniel R. Newman, Harland D. Austin. Condom Effectiveness for Reducing Transmission of Gonorrhea and Chlamydia: The Importance of Assessing Partner Infection Status. Am. J. Epidemiol. (2004) 159 (3): 242-251. doi: 10.1093/aje/kwh044. Cited from http://aje.oxfordjournals.org/content/159/3/242.full
  2. Department of Health and Human Services. Centers for Disease Control and Prevention. Condoms and STDs: Fact Sheet for Public Health Personnel. Cited from http://www.cdc.gov/condomeffectiveness/docs/Condoms_and_STDS.pdf
  3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Indonesia. Situasi dan Analisis HIV AIDS. Cited from http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin%20AIDS.pdf
  4. Weller SC, Davis-Beaty K. Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission. Cochrane Database of Systematic Reviews 2002, Issue 1. Art. No.: CD003255. DOI: 10.1002/14651858.CD003255. Cited from http://apps.who.int/rhl/reviews/CD003255.pdf
  5. Liu H, Su Y, Zhu L, Xing J, Wu J, Wang N (2014) Effectiveness of ART and Condom Use for Prevention of Sexual HIV Transmission in Serodiscordant Couples: A Systematic Review and Meta-Analysis. PLoS ONE 9(11): e111175. doi:10.1371/journal.pone.0111175. Cited from http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0111175
  6. Weller SC. A Meta-analysis of condom effectiveness in reducing sexually transmitted HIV. Soc Sci Med. 1993 Jun;36(12):1635-44. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8327927
  7. Steven D.Pinkerton, Paul R.Abramson. Effectiveness of condoms in preventing HIV transmission. Soc Sci Med. 1997 May;44(9):1303-12. doi:10.1016/S0277-9536(96)00258-4 Cited from http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0277953696002584
  8. Nicholas John Bennet. HIV Disease Treatment & Management. Cited from http://emedicine.medscape.com/article/211316-treatment#d15
  9. Sexually Transmitted Diseases Causes. Cited from http://www.emedicinehealth.com/sexually_transmitted_diseases/page2_em.htm#sexually_transmitted_diseases_stds_causes
  10. Condoms. Cited from http://www.nhs.uk/conditions/contraception-guide/pages/male-condoms.aspx
  11. UNAIDS. Making Condoms Work for HIV Prevention. Cited from http://data.unaids.org/Publications/IRC-pub06/JC941-CuttingEdge_en.pdf

Salah Kaprah Tentang Diet Bebas Gluten

Saat ini produk berlabel gluten-free atau bebas gluten mulai dilirik masyarkat. Apalagi setelah diet bebas gluten dipopulerkan oleh media dan para artis. Banyak orang yang salah kaprah bahwa diet bebas gluten bagus untuk siapa saja. Lebih esktrim lagi bila Gluten dianggap musuh untuk orang yang sehat. Padahal, diet ini hanya diperuntukkan bagi orang yang mengidap Celiac disease (penyakit celiac). Lalu, apa efeknya bila diet bebas gluten dijalani oleh orang yang sehat?

Sekilas tentang gluten

Gluten ialah protein yang ditemukan pada makanan seperti gandum, rye, barley dan triticale (campuran antara gandum dan rye). Selain itu, gluten bisa ditemukan di lip balm dan lem di belakang amplop atau perangko. Diet bebas gluten artinya menghindari makanan apapun yang mengandung gluten dan olahanya seperti tepung terigu, mie, pasta, kue, roti, dressing salad, snack, dll.

gluten

Makanan Mengandung Gluten

Siapa yang membutuhkan diet bebas gluten?

Diet bebas gluten amat diperlukan bagi penderita Celiac disease (Penyakit celiac). Hal ini disebabkan gluten dapat merusak usus penderitanya. Sistem imun seseorang akan menyerang sel tubuh sendiri (autoimun) saat penderita mengkonsumsi gluten meskipun dalam jumlah yang amat sedikit. Efek yang paling sering ialah gangguan pencernaan seperti nyeri perut, diare kronis, berat badan turun, kurang gizi, dan tidak nafsu makan.

Selain itu, beberapa kondisi di bawah ini akan terbantu dengan menghindari atau mengurangi gluten meskipun tidak terlalu ketat. Misalnya :

  1. Penderita Intoleransi Gluten. Mirip halnya dengan gejala penyakit celiac, seseorang yang mengalami intoleransi gluten akan muncul gangguan pencernaan saat mengkonsumsi gluten. Perbedaannya, pada Intoleransi Gluten tidak sampai menimbulkan kerusakan usus.
  2. Penderita alergi gluten dan protein gandum.  Pada penderita penyakit ini, konsumsi gluten akan mencetuskan reaksi alergi. Gejala bisa berupa gangguan pernafasan (bersin, pilek, sesak), saluran cerna (nyeri perut, diare, perut kembung), dan kulit (gatal-gatal, biduran, dsb).
  3. Penderita penyakit autoimun lain seperti Diabetes Mellitus Tipe 1, Rheumatoid Arthritis, sindroma iritabel usus.

Bagaimana bila diet bebas gluten dijalani oleh orang umum?

Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa diet bebas gluten bermanfaat bila dijalani orang umum tanpa penyakit-penyakit tadi. Bahkan Anda perlu waspada dengan kerugian diet gluten tanpa alasan medis yang jelas, karena :

  • Penyakit celiac jarang terjadi pada orang Asia termasuk Indonesia. Mayoritas penderitanya ialah ras kaukasian (orang Barat/ bule)
  • Adanya resiko kekurangan zat gizi. Dengan melakukan diet bebas gluten, Anda beresiko kekurangan vitamin dan mineral seperti vitamin B, kalsium, zat besi, magnesium dan serat. Terutama pada orang yang mengkonsumsi olahan gandum sebagai makanan pokok (seperti orang Barat pada umumnya).
  • Makanan yang mengandung gluten sendiri sebenarnya bermanfaat bagi orang yang sehat. Seperti menurunkan lemak trigliserida, mengontrol tekanan darah, meningkatkan fungsi imun, dan dapat melindungi usus dari kanker.
  • Membeli produk berlabel bebas gluten di pasaran bisa jadi lebih boros. Padahal, makanan sehari-hari orang Indonesia sendiri sudah bebas gluten. Contohnya, nasi, kentang, ubi, singkong, sayur, telur, ikan, daging, susu, dsb.
Gluten-free-list

Diet Bebas Gluten

Apakah diet bebas gluten bermanfaat untuk menurunkan berat badan?

Salah satu klaim kesehatan yang digembor-gemborkan media dan artis ialah diet bebas gluten bagus untuk menurunkan berat badan. Padahal, sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menyokong klaim ini. Bahkan, hasil dari beberapa studi menyebutkan bahwa diet bebas gluten malah dapat memperburuk status Indeks Masa Tubuh pada orang yang obesitas dan berat badan berlebih. Hal ini disebabkan olahan makanan bebas gluten malah tinggi lemak dan energi.

Apakah benar diet bebas gluten bermanfaat untuk anak autis?

Saat ini, diet bebas gluten juga populer dijalani oleh anak yang autis. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang cukup bahwa diet bebas gluten bermanfaat untuk anak dengan spektrum autis. Bahkan AAP (The American Academy of Pediatrics) tidak mendukung diet bebas gluten untuk terapi utama anak autis.

Jadi, tidak perlu termakan iklan dengan klaim berlebihan dari diet bebas gluten. Diet bebas gluten memang amat diperlukan hanya pada pengidap penyakit tertentu. Bila Anda curiga mengalami gangguan pencernaan atau alergi karena makanan mengandung gluten, silakan Anda hubungi dokter untuk mengecek kondisi Anda. Putuskan untuk melakukan diet bebas gluten hanya setelah Anda didiagnosis mengidap penyakit Celiac, intoleransi gluten, alergi gluten dan gandum serta penyakit autoimun lain (Diabetes Mellitus Tipe 1, Rheumatoid Arthritis, dll). Semoga bermanfaat.

Agustina Kadaristiana, dr.

11/15/2015

Referensi

1. Gujral N, Freeman HJ, Thomson AB. Celiac disease: Prevalence, diagnosis, pathogenesis and treatment. World J Gastroenterol WJG. 2012 Nov 14;18(42):6036–59.
2. Celiac Sprue: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. 2015 Sep 17 [cited 2015 Nov 15]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/171805-overview
3. Gluten-Free/Casein-Free Diets [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Gluten-Free-Casein-Free-Diets.aspx
4. Gluten-free diet. Mayo Clin [Internet]. 2014 Nov 25; Available from: http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/gluten-free-diet/art-20048530
5. Gaesser GA, Angadi SS. Gluten-Free Diet: Imprudent Dietary Advice for the General Population? J Acad Nutr Diet. 2012 Sep 1;112(9):1330–3.
6. Gluten Free Diet: Learn About Benefits, Plans and Recipes [Internet]. MedicineNet. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.medicinenet.com/celiac_disease_gluten_free_diet/article.htm
7. Jaret P. The Truth About Gluten [Internet]. WebMD. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.webmd.com/diet/healthy-kitchen-11/truth-about-gluten
8. Alex ADA 1701 NBS, ria, 1-800-Diabetes V 22311. What Foods Have Gluten? [Internet]. American Diabetes Association. [cited 2015 Nov 15]. Available from: http://www.diabetes.org/food-and-fitness/food/planning-meals/gluten-free-diets/what-foods-have-gluten.html

Daging Merah Menyebabkan Kanker?

Baru-baru ini, lembaga kesehatan dunia (WHO) mengumumkan bahwa daging merah dan olahannya dapat menyebabkan kanker (usus). Keputusan ini dibuat oleh lembaga penelitian kanker internasional (IARC) berdasarkan tinjauan terhadap 800 penelitian. Lantas apakah kita harus berhenti mengkonsumsi daging merah dan daging olahan?

Sekilas mengenai jenis-jenis daging

Daging merah yang dimaksud adalah daging yang berwarna merah sebelum dimasak (termasuk sapi, kambing, dan babi). Sementara yang dimaksud dengan daging olahan adalah daging (merah) yang dijual tidak dalam keadaan segar dan setelah mengalami proses seperti diasinkan, diasap, difermentasi, dikeringkan, ditambahkan pengawet atau bahan lain. Contoh daging olahan adalah sosis, ham, bacon, salami, dendeng. Daging cincang maupun daging cincang yang dipadatkan menjadi patty untuk hamburger tanpa tambahan pengawet tidak termasuk ke dalam golongan ini.

Daging putih berupa ayam, ikan, ataupun kalkun juga tidak termasuk ke dalam dua golongan di atas (tidak ada bukti bahwa daging putih ini bisa meningkatkan resiko terkena kanker).

Bagaimana daging merah menyebabkan kanker?

Para peneliti masih terus memelajari bagaimana tepatnya daging merah dan olahannya dapat menyebabkan kanker. Beberapa teorinya ialah :

  1. Efek dari pemecahan senyawa heme (yang membentuk haemoglobin dan menyebabkan darah berwarna merah) dipecah oleh sistem pencernaan menjadi kelompok senyawa N-nitroso. Senyawa N-nitroso telah terbukti dapat merusak sel-sel pelapis usus, sehingga sel-sel dinding usus harus lebih banyak membelah diri dan meningkatkan peluang mutasi DNA
  2. Daging olahan mengandung bahan-bahan yang dapat mengakibatkan terbentuknya senyawa N-nitroso dan polisiklik aromatik hidrokarbon di dalam perut, contohnya pengawet yang mengandung nitrit.
  3. Proses memasak. Memasak daging pada temperatur tinggi (dibakar atau dipanggang) bisa menyebabkan terbentuknya senyawa-senyawa kimia seperti heterosiklik aromatik amina dan polisiklik aromatik hidrokarbon yang diduga dapat meningkatkan resiko kanker. Daging merah dan olahannya menghasilkan senyawa-senyawa ini dalam jumlah yang lebih besar dibanding golongan daging lain (daging putih).
  4. Kandungan besi dalam daging merah bisa meningkatkan resiko kanker.
  5. Koloni bakteri dalam perut memainkan peran dalam pembentukan kanker.

Dengan demikian, terlepas dari kualitas daging atau sumber daging (lokal atau impor), kandungan alami dari daginglah dan cara memasaknya yang dapat meningkatkan resiko kanker.

Terlepas dari mekanisme pengaruh konsumsi daging terhadap pembentukan kanker, IARC mempunyai bukti yang cukup untuk dapat memutuskan bahwa daging olahan dapat dipastikan (definitely) meningkatkan resiko kanker sementara daging merah kemungkinan (probably) meningkatkan resiko terjadinya kanker.

Seberapa besar derajat keyakinan daging merah menyebabkan kanker?

Berdasarkan penggolongan IARC, daging olahan termasuk dalam group 1 karsinogen (dapat dipastikan menyebabkan kanker) bersama dengan alkohol, tembakau, arsenik, asbestos dan pestisida. Sementara daging merah termasuk group 2a (kemungkinan menyebabkan kanker) bersama dengan kerja shift (diduga mengacaukan ritme sirkadia dan metabolisme).

151026-IARC-Meat-rating-TWITTER

Faktor-faktor resiko karsinogen yang tergolong di dalam group lain dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

A-Rough-Guide-to-IARC-Carcinogen-Classifications-724x1024.0
Dengan mengkonsumsi 50 gram daging olahan (2 lembar bacon) per hari, resiko terkena kanker usus meningkat 18%. Resiko terkena kanker usus saat ini adalah sekitar 5%, peningkatan 18% menyebabkan resiko terkena kanker usus menjadi 5,9% seperti dapat dilihat pada gambar berikut.

bacon-risk

Namun, perlu diingat bahwa penggolongan oleh IARC tersebut didasarkan pada seberapa yakinnya sesuatu hal dapat menyebabkan kanker berdasarkan data yang ada, bukan seberapa banyak atau seberapa parah kanker yang bisa disebabkan. Pengelompokan tersebut tidak didasari pada level kekuatan karsinogen sehingga tidaklah tepat jika dikatakan konsumsi daging merah sama berbahayanya dengan merokok. Untuk lebih jelasnya, kita bisa melihat dari perbandingan data kanker yang disebabkan oleh konsumsi daging merah dan olahannya dengan kanker yang disebabkan oleh rokok.

151026-Tobacco-vs-Meat-UPDATE

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa resiko terkena kanker akibat merokok lebih besar beberapa kali lipat dibandingkan konsumsi daging merah dan olahannya. Diperkirakan sekitar 8.800 kasus kanker tiap tahun di Inggris disebabkan oleh konsumsi daging merah dan olahannya dalam jumlah yang berlebihan sementara 64.500 kasus kanker tiap tahun disebabkan oleh merokok. Selain itu, merokok merupakan penyebab 86% kasus kanker paru-paru dan 19% kanker jenis lain.

Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan paling penting: haruskah kita berhenti mengkonsumsi daging merah dan olahannya?

Daging merah merupakan sumber nutrisi yang penting untuk manusia karena mengandung protein, vitamin, dan mineral seperti besi dan zinc. Dengan demikian, konsumsi daging merah tidak harus dihentikan, hanya harus dibatasi baik jumlah maupun frekuensinya.

Batas konsumsi daging merah dan olahannya yang dianggap aman adalah 70 gram daging merah (dan olahannya) per hari.

Gambar di bawah ini bisa memberikan gambaran berapa banyak konsumsi daging merah dan daging olahan yang direkomendasikan.

151026-How-much-meat-spag

Dengan demikian, jika anda terbiasa mengkonsumsi daging dalam jumlah yang besar, anda mungkin harus menguranginya atau menggantinya dengan ayam, ikan, atau kalkun. Anda juga bisa mengurangi porsi daging dengan mencampur sayuran dan kacang-kacangan ke dalam masakan anda.

Gaya hidup yang sehat adalah gaya hidup yang seimbang. Konsumsi lebih banyak serat, buah, dan sayur; kurangi konsumsi garam, daging merah dan olahannya. Aktif bergerak, berolahraga secara teratur, jauhi konsumsi alkohol dan jangan merokok.

Hanifah Widiastuti, PhD.

10/29/2015

References:

1. Interest C. A Rough Guide to the IARC’s Carcinogen Classifications [Internet]. Compound Interest. [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://www.compoundchem.com/2015/10/26/carcinogens/

2. Véronique Bouvard, Dana Loomis, Kathryn Z Guyton, Yann Grosse, Fatiha El Ghissassi, Lamia Benbrahim-Tallaa, et al. Carcinogenicity of consumption of red and processed meat. The Lancet. 2015 Oct 26;

3. Choices NHS. Eating meat and staying healthy – Live Well – NHS Choices [Internet]. 2014 [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/meat.aspx#cooking

4. Ijssennagger N, Belzer C, Hooiveld GJ, Dekker J, van Mil SWC, Müller M, et al. Gut microbiota facilitates dietary heme-induced epithelial hyperproliferation by opening the mucus barrier in colon. Proc Natl Acad Sci. 2015 Aug 11;112(32):10038–43.

5. Radulescu S, Brookes MJ, Salgueiro P, Ridgway RA, McGhee E, Anderson K, et al. Luminal Iron Levels Govern Intestinal Tumorigenesis after Apc Loss In Vivo. Cell Rep. 2012 Aug;2(2):270–82.

6. Processed meat and cancer – what you need to know [Internet]. Cancer Research UK – Science blog. [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://scienceblog.cancerresearchuk.org/2015/10/26/processed-meat-and-cancer-what-you-need-to-know/

7. So processed meat has been classified as carcinogenic. Here’s what you need to know. [Internet]. ScienceAlert. [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://www.sciencealert.com/so-processed-meat-has-been-classified-as-carcinogenic-here-s-what-you-need-to-know

8. Choices NHS. The eatwell plate – Live Well – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Oct 28]. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/eatwell-plate.aspx

Anjuran Kesehatan Menghadapi Kabut Asap

Kebakaran hutan saat kemarau selalu membawa petaka bagi saudara kita di Riau. Tahun ini, bukan hanya Riau, provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan juga terkena musibah yang sama. Aktivitas rutin di sekolah maupun perkantoran menjadi lumpuh. Lebih mengkhawatirkan lagi karena kabut asap ini bisa berbahaya bagi kesehatan manusia

Bahaya Asap sebagai Polutan

Asap termasuk polutan udara karena mengandung debu, partikel asap, Sulfur Dioxida (SO2), Nitrogen Dioxida (NO2), Carbon monoxida (MO) dan partikulat. Dikarenakan ukurannya yang amat kecil, zat partikulat ini bisa lolos sistem pertahanan saluran nafas manusia menuju paru-paru sampai pembuluh darah. Bila hal ini terjadi, zat partikulat bisa merusak alveolus dan mengganggu kesehatan. Adapun pengaruh asap terhadap kesehatan ialah:

  • Jangka pendek (dalam hitungan jam sampai hari):

    Dapat mencetuskan bronkitis akut, asthma, dan infeksi pada penderita penyakit paru kronis

    Pada penderita penyakit jantung dapat mencetuskan aritmia dan serangan jantung

    Pada anak-anak atau dewasa sehat dapat terjadi iritasi ringan

  • Jangka panjang (tinggal bertahun-tahun di daerah dengan bencana asap): dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular (misalnya serangan jantung), penyakit paru kronis (seperti asthma pada anak), kanker sampai kematian dini.1–4

Siapa yang paling rentan terhadap bencana asap?

Dampak negatif asap paling dirasakan oleh :1–5

  1. Anak-anak. Anak termasuk kelompok rentan karena paru-parunya masih berkembang juga nafas yang lebih cepat dari orang dewasa.

  2. Orangtua. Hal ini disebabkan orangtua paling besar kemungkinan memiliki riwayat penyakit kronis

  3. Pengidap penyakit kronis :

    -Saluran nafas seperti alergi, sinusitis, asthma, PPOK (Penyakit paru obstruktif kronis)

    -Penyakit jantung (koroner, gagal jantung)

    -Diabetes mellitus

Bagaimana mendeteksi kualitas udara saat bencana asap?

Saat ini Indeks standar kualitas udara yang dipergunakan secara resmi di Indonesia adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Pollutant Standard Index (PSI). Parameter yang diukur dari ISPU ialah Partolia Partikulat (PM10), Karbondioksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2) dan Ozon (O3).6

Capture

Bagaimana mengurangi dampak negatif akibat asap?

Bila Anda berada di tempat yang terkena bencana asap, berikut ini beberapa saran untuk mengurangi kejadian penyakit akibat asap :2,7–11

  1. Pantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Pollutant Standard Index (PSI) 24 jam di situs BMKG. Sesuaikan aktivitas Anda berdasarkan level ISPU.
Untitled

*Aktivitas berat : aktivitas yang membutuhkan energi atau usaha yang tinggi, Lama : aktivitas berlangsung selama berjam-jam

  1. Gunakan masker N95 apabila keluar rumah. Masker bedah biasa tidak cukup menyaring partikel udara kecil akibat asap. Meskipun N95 bersifat protektif terhadap partikel asap, masker ini bisa meningkatkan usaha nafas. Sehingga, hindari penggunaan masker N95 dalam jangka waktu lama terutama bagi ibu hamil, orang tua, penderita penyakit paru dan jantung kronik serta stroke.

  2. Karena masker N95 tidak tersedia untuk bayi dan anak, sebaiknya anak tidak dibawa keluar rumah saat bencana asap

  3. Terapkan pola hidup sehat dengan makan yang seimbang dan tidur cukup

  4. Minum lebih banyak dari biasanya

  5. Cuci tangan atau mandi setelah keluar dari rumah atau terpapar asap

  6. Hindari merokok, alkohol dan kopi

  7. Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah atau ruang tertutup lainnya

  8. Tutup jendela saat berkendara

  9. Gunakan AC di dalam rumah untuk membantu membuang zat polutan

  10. Gunakan air ioniser atau air purifier (penyaring udara) untuk menangkap polutan yang amat kecil

  11. Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain.

Untitled Banner

Agustina Kadaristiana, dr.

09/19/2015

Referensi

1. FAQ: Impact of Haze on Health (Updated 20 March 2015) | Ministry of Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: https://www.moh.gov.sg/content/moh_web/home/pressRoom/Current_Issues/2014/haze/faq–impact-of-haze-on-health.html

2. Haze and Health Effects [Internet]. Raffles Medical Group. 2014 [cited 2015 Sep 19]. Available from: https://www.rafflesmedicalgroup.com/docs/default-source/health-advisories/advisory-haze-220914.pdf?sfvrsn=2

3. Impact of Haze on Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.hpb.gov.sg/HOPPortal/health-article/HPB051226

4. Particle Pollution and Your Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://airnow.gov/index.cfm?action=particle_health.index

5. MOH Haze Microsite | Ministry of Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: https://www.moh.gov.sg/content/moh_web/home/pressRoom/Current_Issues/2014/haze.html

6. INDEX KUALITAS UDARA. Available from: http://personal.its.ac.id/files/material/3796-assomadi-PU-V-%28A%29INDEX%20KUALITAS%20UDARA.pdf

7. Impact of Haze on Health [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.hpb.gov.sg/HOPPortal/health-article/HPB051226

8. Anjuran Kemenkes Hadapi Dampak Kesehatan Akibat Kabut Asap Riau [Internet]. detikHealth. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://health.detik.com/read/2013/06/23/105627/2281425/763/anjuran-kemenkes-hadapi-dampak-kesehatan-akibat-kabut-asap-riau

9. Children and the Haze in Singapore [Internet]. www.healthxchange.com.sg. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.healthxchange.com.sg/healthyliving/childrenhealth/Pages/children-and-the-haze-in-singapore.aspx

10. E101 Haze: Media Centre [Internet]. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.e101.gov.sg/haze/media.htm

11. How to Protect Yourself From the Haze in Singapore [Internet]. www.healthxchange.com.sg. [cited 2015 Sep 19]. Available from: http://www.healthxchange.com.sg/healthyliving/ManagingChronicIllnesses/Pages/how-to-protect-yourself-from-the-haze-in-singapore.aspx

Rabun Jauh Pada Anak dapat Dicegah dengan Aktivitas Outdoor

Anak berkacamata bukan hal yang aneh lagi kita lihat di sekolah. Nyatanya, masalah mata minus, rabun jauh atau miopia sudah menjadi masalah epidemis pada remaja di kota-kota besar Asia Tenggara dan Asia Timur. Saat ini, 80-90% anak lulusan SMA memiliki masalah miopia dan 20% diantaranya membutuhkan lensa minus tinggi. 1,2

Riset terbaru dari Sun Yat-sen University in Guangzhou, Cina bisa jadi membuka perspektif baru tentang pencegahan efektif miopia pada anak. Pasalnya, hasil riset membuktikan bahwa aktivitas outdoor selama 40 menit tiap hari dapat mencegah perkembangan rabun jauh pada anak. 3

Indian children play at dusk on the outskirts of the eastern Indian city of Bhubaneswar, India, Thursday, June 20 2013. (AP Photo/Biswaranjan Rout)

(AP Photo/Biswaranjan Rout)

Penelitian ini melibatkan 1903 anak SD tanpa miopia dengan rata-rata usia 6.6 tahun. Kemudian anak-anak ini dikategorikan menjadi 2 grup : grup kontrol dan grup intervensi. Pada kelompok intervensi, anak dilibatkan dalam kegiatan lapangan selama 40 menit di tiap akhir jam pelajaran. Selain itu, saat liburan atau akhir pekan, anak diajak melakukan aktivitas outdoor di bawah partisipasi orangtua. Sebaliknya, tidak dilakukan tambahan aktivitas outdoor pada kelompok kontrol

Setelah tiga tahun, didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan 9.1% dari insidensi miopia di dua kelompok tersebut. Hal ini menunjukkan 23% penurunan relatif (relative reduction) dari insidensi miopia. Meskipun peneliti menyebutkan angka ini kurang dari penurunan yang diantisipasi, hasil ini tetaplah bermakna dari segi klinis. Pasalnya, semakin muda anak mendapatkan miopia, semakin besar kemungkinan miopia menjadi berat.

Kesimpulannya, penambahan aktivitas outdoor selama 40 menit di sekolah pada anak usia 6 tahun di Guangzhou, Cina, menurunkan insidensi miopia sampai 3 tahun kemudian. Penelitian lebih lanjut tentu dibutuhkan untuk follow up perkembangan miopa anak-anak ini dan generalisir hasil riset.

Agustina Kadaristiana, dr.

09/19/2015

Referensi

1. Morgan I, Rose K. How genetic is school myopia? Prog Retin Eye Res. 2005 Jan;24(1):1–38.
2. Morgan IG, Ohno-Matsui K, Saw S-M. Myopia. Lancet Lond Engl. 2012 May 5;379(9827):1739–48.
3. He M, Xiang F, Zeng Y, Mai J, Chen Q, Zhang J, et al. Effect of Time Spent Outdoors at School on the Development of Myopia Among Children in China: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2015 Sep 15;314(11):1142–8.

Susu sapi berbahaya. Benarkah?

“Awas! Susu sapi hanya untuk sapi!”. Isu viral ini mungkin pernah kita dapat dari internet atau berita broadcast. Tidak tanggung-tanggung, para pakar anti-susu ini menyorot bahwa susu sapi dapat menyebabkan kanker, alergi, dan menghasilkan radikal bebas. Padahal, sejak dulu masyarakat selalu didorong untuk minum susu. Lalu, manakah sebenarnya pendapat yang benar?

Manfaat vs Resiko

Saat ini memang terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai manfaat susu dari para ahli. Di satu sisi, susu sapi sudah dikenal kaya nutrisi. Kandungan lemak susu sapi yang cukup tinggi (sekitar 50% dari total kalori) bermanfaat untuk anak terutama yang memiliki asupan lemak rendah. Susu juga memberi kontribusi yang signifikan untuk kalsium, zinc, magnesium, selenium, ribovlafin, vitamin B12 dan asam pantothenat. Meskipun perlu diingat bahwa susu sapi memiliki kandungan zat besi yang rendah.1–4

Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi anak Indonesia saat ini ialah stunting (postur pendek). Stunting dianggap masalah karena meningkatkan resiko kecatatan anak dan gangguan perkembangan kognitif. Postur pendek ditambah berat badan lahir rendah juga merupakan faktor resiko penyakit kronik saat dewasa. Penelitian menyebutkan bahwa memberi setiap pemberian 245 ml susu pada anak meningkatkan tinggi badan sebesar 0.4 cm. Susu sapi juga berperan penting dalam mengatasi gizi kurang dan buruk baik di negara berkembang maupun negara industri.3,5,6

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa susu sapi membawa resiko kesehatan bagi anak alergi, memiliki masalah pencernaan (misalnya intoleran laktosa) atau yang mengkonsumsi secara berlebihan. Diet tinggi lemak jenuh, seperti pada susu, disertai konsumsi makanan rendah serat dan olahraga dapat menyebabkan obesitas pada anak. Secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.

Susu dan Kanker

Susu dan kalsium telah diduga memegang peran yang berbeda pada tiap-tiap kanker. Beberapa komponen dari susu seperti kalsium, vitamin D, sphingolipids, asam butirat dan protein diduga melindungi tubuh dari kanker. Secara khusus, kalsium dan vitamin D dalam susu bersifat protektif terhadap kanker kolorektal (WCRF dan AICR). 7–13

Konsumsi Susu Sejak Kecil dan Resiko Kanker

Pengaruh konsumsi susu sejak kecil berfokus pada efek susu terhadap IGF-1 (hormon pertumbuhan). Diet susu hewan yang tinggi telah diketahui dapat meningkatkan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang tinggi ini dapat meningkatkan resiko kanker prostat, payudara dan kolorektal. Studi Boyd Orr menemukan bahwa keluarga yang mengkonsumsi produk kaya susu sejak kecil memiliki resiko kanker kolorektal saat dewasa, berbeda dengan temuan dari WCRF. Namun, konsumsi susu saat anak-anak tidak berhubungan dengan kanker payudara dan lambung. 5,14

Konsumsi Susu Saat Dewasa dengan Resiko Kanker

Kadar galaktosa yang tinggi, gula yang dihasilkan dari pencernaan laktosa susu, diketahui berbahaya terhadap ovarium. Meskipun hubungan langsung antara susu dan kanker ovarium tidak serempak dilaporkan, namun ada potensi yang berbahaya mengkonsumsi laktosa yang tinggi. Penelitian yang melibatkan 500.000 wanita menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi laktosa yang tinggi (setara dengan 3 gelas susu per hari) mengalami resiko kanker ovarium yang sedikit lebih tinggi dibandingkan yang tidak.15

Diet tinggi kalsium juga diduga menjadi faktor resiko kanker prostat. Studi dari Harvard menemukan bahwa pria dewasa yang meminum 2 gelas atau lebih susu tiap hari beresiko mengalami kanker prostat dua kali lipat dibandingkan yang tidak. Hubungan ini lebih ditekankan pada konsumsi kalsiumnya daripada produk susu secara umum. 16,17

Kesimpulan

Agar masyarakat tidak bingung, Anda perlu pahami bahwa susu hewani bermanfaat sebagai bagian diet seimbang terutama pada anak di negara berkembang. Namun, konsumsi susu berlebihan secara jangka panjang baik bagi anak maupun dewasa tidak disarankan karena dapat berpotensi menimbulkan obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, sampai kanker.

Susu hewani memang tidak dapat menggantikan manfaat dari ASI. Namun, anak di atas 1 tahun dapat diberikan susu hewan full cream sebagai susu rekreasi sebanyak 2 gelas. Setelah 2 tahun, beri anak susu rendah lemak sebanyak 2-3 gelas. Untuk orang dewasa, konsumsi kalsium dan produk susu yang cukup (1-2 gelas) bermanfaat untuk kesehatan tulang, menurunkan resiko darah tinggi dan kanker kolon sebagai bagian dari diet seimbang.18

HEPApr2013-1024x800

Bagi anak atau dewasa yang tidak dapat mengkonsumsi susu hewani karena alergi atau masalah pencernaan, Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dari sumber makanan lain. Susu hipoalergenik dapat menjadi pilihan untuk anak yang alergi. Kalsium dapat ditemukan di sayuran hijau, kacang-kacangan, jus dan susu kedelai yang difortifikasi kalsium. Jangan lupa penuhi kebutuhan protein, lemak dan mikronutrien dari daging, ikan, ayam serta sayur dan buah. 18

Agustina Kadaristiana, dr. 

09/12/2015

Referensi

1. Barger-Lux, M.J, Heaney, R.P., Packard, P.T., Lappe, J.M., & Recker, R.R. Nutritional correlations of low calcium intake. Clin Appl Nutr. 1992;2:39–44.
2. Fulgoni V, Nicholls J, Reed A, Buckley R, Kafer K, Huth P, et al. Dairy consumption and related nutrient intake in African-American adults and children in the United States: continuing survey of food intakes by individuals 1994-1996, 1998, and the National Health And Nutrition Examination Survey 1999-2000. J Am Diet Assoc. 2007 Feb;107(2):256–64.
3. Michaelsen KF, Nielsen A-LH, Roos N, Friis H, Mølgaard C. Cow’s milk in treatment of moderate and severe undernutrition in low-income countries. Nestlé Nutr Workshop Ser Paediatr Programme. 2011;67:99–111.
4. Hoppe C, Mølgaard C, Michaelsen KF. Cow’s milk and linear growth in industrialized and developing countries. Annu Rev Nutr. 2006;26:131–73.
5. De Beer H. Dairy products and physical stature: a systematic review and meta-analysis of controlled trials. Econ Hum Biol. 2012 Jul;10(3):299–309.
6. Parodi PW. Cows’ milk fat components as potential anticarcinogenic agents. J Nutr. 1997 Jun;127(6):1055–60.
7. Parodi PW. Conjugated linoleic acid and other anticarcinogenic agents of bovine milk fat. J Dairy Sci. 1999 Jun;82(6):1339–49.
8. Parodi PW. Dairy product consumption and the risk of breast cancer. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):556S – 68S.
9. Parodi PW. A role for milk proteins and their peptides in cancer prevention. Curr Pharm Des. 2007;13(8):813–28.
10. Garland CF, Garland FC, Gorham ED, Lipkin M, Newmark H, Mohr SB, et al. The Role of Vitamin D in Cancer Prevention. Am J Public Health. 2006 Feb;96(2):252–61.
11. German JB, Dillard CJ. Composition, structure and absorption of milk lipids: a source of energy, fat-soluble nutrients and bioactive molecules. Crit Rev Food Sci Nutr. 2006;46(1):57–92.
12. Holt PR, Bresalier RS, Ma CK, Liu K-F, Lipkin M, Byrd JC, et al. Calcium plus vitamin D alters preneoplastic features of colorectal adenomas and rectal mucosa. Cancer. 2006 Jan 15;106(2):287–96.
13. Van der Pols JC, Bain C, Gunnell D, Smith GD, Frobisher C, Martin RM. Childhood dairy intake and adult cancer risk: 65-y follow-up of the Boyd Orr cohort. Am J Clin Nutr. 2007 Dec;86(6):1722–9.
14. Genkinger JM, Hunter DJ, Spiegelman D, Anderson KE, Arslan A, Beeson WL, et al. Dairy products and ovarian cancer: a pooled analysis of 12 cohort studies. Cancer Epidemiol Biomark Prev Publ Am Assoc Cancer Res Cosponsored Am Soc Prev Oncol. 2006 Feb;15(2):364–72.
15. Edward Giovannucci, Eric B. Rimiti, Alicja Wolk, Alberto Ascherio, Meir J. Stampfer, Graham A. Colditz, Walter C. WilleÂ. Calcium and fructose intake in relation to risk of prostate cancer. CANCER Res. 1998;(58):442–7.
16. Food, nutrition, physical activity, and the prevention of cancer: a global perspective. Washington: World Cancer Research Fund, American Institute for Cancer Research; 2007.
17. Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary Recommendations for Children and Adolescents: A Guide for Practitioners [Internet]. [cited 2015 Jul 31]. Available from: http://pediatrics.aappublications.org
18. Calcium and Milk: What’s Best for Your Bones and Health? Harv Sch Public Health [Internet]. Available from: http://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/calcium-full-story/#ref15

Cara Memelihara Otak Untuk Fungsi yang Optimal

Otak merupakan organ vital tubuh karena seluruh aktivitas kita dikendalikan oleh otak. Tidaklah berlebihan bila kita harus memelihara dan menyayangi otak kita. Bila dilihat dari fungsinya, otak kita terbagi menjadi dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kanan berfungsi untuk kreativitas, konseptual, inovasi, gagasan, gambar, warna, musik, irama, melodi, dan bermimpi. Sedangkan otak kiri berfungsi dalam bidang matematika, bahasa, membaca, menulis, logika, urutan, sistematis, analitis. Berikut ini beberapa cara memelihara otak untuk fungsi yang optimal

Hindari hal-hal yang dapat merusak otak, yaitu:

  • Tidak sarapan pagi, karena otak memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi otak
  • Makan berlebih, akibatnya terjadi penimbunan asam lemak jenuh yang akan membebani pembuluh darah otak saat menyuplai glukosa dan oksigen ke sel-sel otak.
  • Konsumsi gula berlebih yang akan mengganggu penyerapan protein, sehingga otak tidak berkembang dengan sehat
  • Rokok dan asap rokok dapat membuat sel otak rusak, serta mempercepat degenerasi
  • seperti pada penyakit Alzheimer
  • Polusi udara menyebabkan oksigen ke otak berkurang
  • Tidur berlebih dapat menyebabkan sel otak menurun fungsinya
  • Jarang berpikir akan menyebabkan otak tidak berkembang

Jagalah kinerja otak dengan :

  1. Olahraga teratur, seminggu tiga kali untuk meningkatkan suplai darah ke otak, sehingga otak akan lebih banyak menerima oksigen. Olahraga juga dapat menurunkan kadar garam dalam otak yang mampu memperbaiki suasana hati. Olahraga akan meningkatkan produksi keringat dan produksi air kencing, sehingga menurunkan kadar garam dalam
  2. Istirahatkan otak setelah berpikir. Berpikir keras tanpa istirahat memperparah ketidakefektifan otak, serta dapat merusak otak.
  3. Kurangi stres karena stres yang berlebihan akan memicu hormon kortisol yang ternyata berpengaruh pada tes memori. Peneliti dari University of Carolina melakukan studi dengan hasil bahwa jika seseorang membiarkan stres dalam otaknya selama bertahun- tahun, akan mengalami penurunan fungsi otak tanpa disadarinya. Sebanyak 100 responden yang mengikuti tes memori membuktikannya. Partisipan diberi instruksi untuk mengingat nama orang, benda, dan angka oleh peneliti. Hasilnya mereka yang gagal dalam tes tersebut, terdeteksi mengalami stres selama bertahun-tahun. Namun, beberapa responden mengaku mereka tidak merasa stres. Para ahli saraf percaya, kemampuan kita untuk mengendalikan emosi dan stres adalah cara untuk melindungi jaringan otak. Sebab emosi adalah pemicu bagi rusaknya banyak area dalam otak, mulai dari memori, kemampuan berpikir logis, hingga kemampuan berekspresi.
  4. Berpikirlah positif, hal ini sangat menguntungkan karena dapat menstimulasi otak untuk mengolah informasi lebih baik sehingga otak kita akan selalu berada dalam kondisi prima. Penelitian pada tahun 2007 menemukan responden yang selalu mengelilingi dirinya dengan energy positif mampu menekan risiko kemunduran fungsi kognitif otak hingga 60%. Sementara pada responden yang sering stres dan emosional mengalami kemunduran daya ingat atau demensia.
  5. Tidur cukup 6-8 jam sehari. Tidur yang cukup berfungsi untuk:
  • Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak
  • Memperlancar produksi hormon pertumbuhan yang penting untuk meningkatkan kualitas, ukuran, efisiensi otak, dan meningkatkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak. Kebanyakan hormon pertumbuhan diproduksi pada saat kita tidur dengan tenang, tanpa beban.
  • Meningkatkan konsentrasi berpikir.

Reqgi First Trasia, dr. 

Depok, 9 Agustus 2015

Referensi

1. Amen GD. 2005. Seven Nutrition Tips for Increasing Brain Power Healthier, Longer Living and Your Food Choices.

2. Dangour DA, Uauy R. 2008. N-3 non chain Polyunsaturated Fatty Acids for Optimal Function During Brain Development and Aging. Asia Pacific Journal Clinical Nutrition. Volume 17 pg 185-188

3. Science of Today. 2009. Memori Otak yang Rusak Akibat Stress. www.solar-aid.org

4. Eastern Idaho Public Health District. 2005. Breakfast Boosts Brain Power. www.phd7.idaho.gov

5. Herdata. 2010. Zat Besi Optimalkan Perkembangan Otak. Ebook FK Unsyiah

6. Lipson E. 1999. Continuing Education Module : Brain Nutrient. New Hope Institute Natural

7. Clandinin and Jumpsen. 1995. Brain Development : Relationship to Dietary Lipid and Lipid Metabolism. AOCS Press. Champain. Illinois

Waspada Infeksi MERS

Melepas kepergian Haji memang bukan perkara mudah. Selain umat Islam perlu berserah diri meninggalkan rutinitas semata-mata untuk ibadah, ditambah dengan tantangan yang mungkin dihadapi di tanah suci. Salah satu tantangan jamaah haji tahun ini ialah infeksi MERS.

Dalam seminggu terakhir dilaporkan 49 kasus positif MERS di Arab Saudi. Peningkatan kasus ini cukup menggelisahkan mengingat rombongan Haji sudah mulai berdatangan termasuk jamaah dari Indonesia. Tapi tidak perlu panik, bila Anda atau keluarga akan menjalankan Haji tahun ini, tidak ada salahnya bila kita persiapkan yang terbaik untuk tetap fit dan terbebas dari MERS.1,2

Apa itu MERS?

MERS (Middle East Respiratory Syndrome) merupakan penyakit gangguan pernafasan yang disebabkan oleh coronavirus yang disebut MERS-CoV. Penyakit ini pertama kali di laporkan di Saudi Arabia tahun 2012.3,4

Apa gejala MERS?

Gejala MERS bervariasi dari yang ringan sampai berat. Namun, mayoritas pasien yang terinfeksi virus MERS-CoV mengalami gangguan saluran pernafasan berat seperti demam tinggi, menggigil, batuk, batuk darah nyeri tenggorokan dan sesak nafas dimana 30% diantaranya meninggal dunia. Keluhan lain bisa berupa diare, muntah dan nyeri perut.3

Bagaimana cara penularan MERS?

Saat ini diduga kuat penularan infeksi MERS dapat melalui manusia atau hewan. Yaitu :

  • Kontak langsung dengan penderita MERS (berada dalam jarak 2 meter dalam satu ruangan dengan periode yang lama)
  • Terkena tetesan bersin atau droplet batuk
  • Memegang hidung, mulut atau mata setelah kontak dengan perlengkapan pasien yang terinfeksi
  • Kontak langsung dengan unta terutama yang berpunuk satu.3,5

Adakah terapi atau vaksin untuk MERS?

Sampai saat ini belum ada antivirus dan vaksin untuk mengatasi MERS. Terapi hanya bersifat meringankan gejala. 3,5

Perlukah kita membatalkan perjalanan ke semenanjung Arab dengan tujuan apapun?

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) tidak merekomendasikan untuk membatalkan rencana perjalanan ke Timur Tengah (termasuk Saudi Arabia) karena MERS. Namun, penting diketahui langkah-langkah pencegahan MERS bagi yang akan berkunjung ke daerah ini.3

Bagaimana mencegah penularan penyakit MERS?

mersinfographic

Pencegahan penyakit MERS tidaklah sulit. Caranya adalah :

  • Seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air. Jika tidak ada sabun dan air, gunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol.
  • Hindari menyeka mata, hidung dan mulut karena kuman menyebar dengan cara ini.
  • Hindari kontak dekat dengan orang sakit.
  • Gunakan masker (direkomendasikan masker jenis N95)
  • Lakukan vaksin dasar sebelum umroh/haji (vaksin influenza dan meningitis). Meskipun belum ada vaksin untuk MERS, kedua vaksin ini membantu mencegah infeksi lain yang gejalanya menyerupai MERS.
  • Jamaah yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, bronkitis, dll harus konsutlasi terlebih dahulu dengan petugas medis sebelum berangkat.
  • Hindari kontak dengan unta atau hewan lain selama di Arab. Bila terjadi kontak, langsung cuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer.
  • Hindari konsumsi daging yang tidak matang sempurna atau susu yang belum dipasteurisasi.
  • Lakukan pola hidup sehat dan bersih seperti selalu menjaga kebersihan badan dan makanan/minuman. 2-5

Jika kita sakit :

  • Tutup mulut dengan tisu ketika batuk atau bersin dan buanglah tisu ini langsung pada tempat sampah. Jangan gunakan tisu yang sama lebih dari sekali. Jangan bersin langsung ke kulit tangan karena virus akan tetap hidup dan berpindah ke tangan. Bila tidak ada tisu, bersin atau batuklah ke kain lengan baju karena virus tidak bisa hidup di serat kain.
  • Hindari kontak yang dekat dengan orang lain untuk mengurangi penularan
  • Bila sakit saat bepergian, temui sarana medis terdekat.
  • Temui dokter bila mengalami demam, batuk, sesak nafas dalam 14 hari setelah mengunjungi Timur Tengah. 2,3,6

Semoga bermanfaat.. Selamat menjalankan ibadah Haji bagi yang melaksanakannya..

Agustina Kadaristiana,dr.

Publikasi pertama Jun 2, 2014,  revisi terakhir 27 Agustus 2015

Referensi :
1. Why worries about a MERS virus outbreak at the Hajj are probably overblown [Internet]. Vox. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.vox.com/2015/8/25/9207157/mers-hajj
2. Kingdom of Saudi Arabia – Ministry of Health Portal [Internet]. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.moh.gov.sa/en/
3. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). CDC [Internet]. 2015 Jul 6; Available from: http://www.cdc.gov/coronavirus/mers/about/index.html
4. WHO | Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.who.int/emergencies/mers-cov/en/
5. Kenneth McIntosh, MD. Middle East respiratory syndrome coronavirus. Uptodate. 2015 Aug 24;
6. WHO | Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) [Internet]. WHO. [cited 2015 Aug 27]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/mers-cov/en/

Tips Memasak Daging Sapi Agar Rendah Lemak

Ibu-ibu sebagai koki dirumah biasanya sudah mulai menyetok daging merah untuk persiapan lebaran. Hmmm.. siapa yang tidak kangen dengan menu spesial gulai, rendang, sate, sambal goreng ati dan sayur santan yang disiram di atas lontong? Apalagi bila dimakan saat bersilaturahim ke saudara atau kerabat. Tentu makin nikmat ya hidangan setelah berpuasa. 🙂

Daging sapi memang salah satu sumber gizi dalam diet seimbang. Namun, mengkonsumsi daging merah perlu hati-hati. Pasalnya, daging merah mengandung asam lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. LDL ini nantinya dapat menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan penyakit kardiovaskuler seperti stroke dan jantung koroner juga diabetes tipe 2.

Lalu bagaimana cara memasak daging merah agar lemaknya berkurang ya?

  1. Pilih potongan daging rendah lemak (lean). Contoh potongan daging ini ialah daging kelapa (round), sampil/paha depan (chuck), daging has luar (sirloin), has dalam (tenderloin), gandik (eye round). Sebaliknya, daging iga, sandung lamur, jeroan merupakan bagian yang cukup banyak lemak. 1–4

    Potongan Daging Sapi (https://id.wikipedia.org/wiki/Daging_sapi)

  2. Pilih potongan yang berkualitas “Choice” atau “Select” daripada “Prime” karena daging prime biasanya lebih banyak mengandung lemak.1 Lemak ini terlihat dari struktur marbling (lemak di antara serat) dari daging. Bagi yang belum familiar, istilah mutu daging ini dikenalkan oleh USDA (United State Department of Agriculture) berdasarkan keempukan, juiciness (kebasahan daging), dan rasa.Daging Prime ialah daging bermutu tinggi karena tekstur marbling yang banyak sehingga dagingnya amat empuk dan juicy.

    Mutu Daging USDA (http://www.livetradingnews.com/)

  3. Buang lemak yang terlihat sebelum dimasak1
  4. Bila anda mengolah daging giling, lakukan cara ini untuk mengurangi lemak :6
    • Tiriskan lemak setelah menumis daging
    • Pindahkan daging ke piring yang dilapisi tisu dapur selama satu menit lalu tutup juga bagian atas daging
    • Letakan daging di atas saringan
    • Siram 4 gelas air panas ke atas daging. Tiriskan selama 5 menit
    • Hasil tirisan daging dapat digunakan setelah lapisan lemak dibuang.beef_crumbles
  5. Sebaiknya Anda tidak menambahkan minyak saat mengolah daging. Bila Anda perlu menggunakan minyak misal untuk menumis bumbu, gunakan minyak dengan asam lemak tidak jenuh tunggal atau ganda (MUFA/PUFA) seperti minyak kanola, minyak bunga matahari (sunflower oil), minyak kedelai, minyak zaitun, minyak wijen atau minyak kacang. Gunakan spray atau sendok the saat menakar minyak. 1,7,8

    Oil Mister Spray

    Oil Spray

  6. Gunakan rak yang dapat mentiriskan lemak saat daging dipanggang atau dibakar. Sebaiknya sari lemak yang jatuh tidak dioleskan lagi ke permukaan daging.1

    puckoven25-e1399410549673

    Rak masak (the-gadgeteer.com)

  7. Setelah daging direbus, dikukus atau dibuat menjadi kaldu, masukkan ke dalam kulkas semalaman. Lemak yang keluar dari hasil pengolahan akan membeku di lapisan paling atas kuah. Buang lemak-lemak tersebut sebelum daging diolah kembali.1
  8. Bila ada resep yang menginstruksikan untuk browning (membuat permukaan daging menjadi coklat), sebaiknya lakukan dengan memanggang daging daripada memasaknya di teflon (pan-fry).1
  9. Sebaiknya ganti bahan penyerta masakan menjadi lebih rendah lemak. Misalnya ganti santan dengan atau susu rendah lemak saat membuat soto betawi atau gulai. Bila anda tidak biasa, bisa lakukan bertahap dengan menggunakan santan cair. Contoh lain ialah mengganti mentega dengan margarin rendah lemak jenuh dan nihil lemak trans atau minyak nabati. 8,9
  10. Batasi bahkan sebaiknya hindari penggunaan daging olahan seperti sosis, kornet, salami, dll meskipun pada label disebutkan “rendah lemak”. Hal ini disebabkan daging olahan memiliki kalori, lemak jenuh, dan kadang sodium yang tinggi. Penelitian dari Harvard juga membuktikan bahwa konsumsi daging olahan (misanya 1 hotdog atau 2 buah bacon) secara sering dapat meningkatkan risiko kematian sebanyak 20%.1,10

Perlu diingat meskipun kadar kolesterol dalam daging bisa dikurangi, tetapi kandungan lain dari daging merah dapat menyebabkan kanker bila dikonsumsi berlebihan. Zat karsinogenik ini, Heterocyclic amines (HCA) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), berasal dari reaksi temperatur tinggi dari proses memasak dengan asam amino, gula dan, kreatin pada daging merah.11Sehingga konsumsilah daging merah secukupnya yaitu kurang dari 500 gram per minggu atau 70 gram/hari. Patokannya kira-kira seukuran telapak tangan untuk daging 80 gram (3 ons).12 Jangan lupa perbanyak makan buah dan sayur untuk mengurangi kolesterol. 7,13. Semoga bermanfaat. 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

2015-07-13

Referensi :

1. Cooking for Lower Cholesterol. Amercan Heart Assoc [Internet]. 2014 Jul 16; Available from: http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/Cholestero/PreventionTreatmentofHighCholesterol/Cooking-for-Lower-Cholesterol_UCM_305630_Article.jsp
2. Mengenal nama bagian-bagian daging sapi – Welcome to my kitchen [Internet]. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://dapurpunyaku.blogspot.sg/2011/08/mengenal-nama-bagian-bagian-daging-sapi.html
3. Cuts of beef: A guide to the leanest selections. Mayoclinic [Internet]. Available from: http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/cuts-of-beef/art-20043833?pg=1
4. Heart disease and diet: MedlinePlus Medical Encyclopedia [Internet]. [cited 2015 Jul 13]. Available from: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002436.htm
5. Meadows L. What’s Your Beef – Prime, Choice or Select? USDA [Internet]. 2013 Jan 28; Available from: http://blogs.usda.gov/2013/01/28/what%E2%80%99s-your-beef-%E2%80%93-prime-choice-or-select/
6. How to prepare ground beef to reduce fat. Iowa State Univ [Internet]. Available from: http://www.extension.iastate.edu/foodsavings/page/how-prepare-ground-beef-reduce-fat
7. 11 foods that lower cholesterol [Internet]. Harvard Health. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.health.harvard.edu/heart-health/11-foods-that-lower-cholesterol
8. Smart Substitutions. Amercan Heart Assoc [Internet]. 2014 Oct 15; Available from: http://www.heart.org/HEARTORG/GettingHealthy/NutritionCenter/HealthyEating/Smart-Substitutions_UCM_302052_Article.jsp
9. Fats and Cholesterol [Internet]. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.heartfoundation.org.au/healthy-eating/fats/Pages/default.aspx
10. Red meat raises red flags [Internet]. Harvard Gazette. [cited 2015 Jul 13]. Available from: http://news.harvard.edu/gazette/story/2012/03/red-meat-raises-red-flags/
11. Chemicals in Meat Cooked at High Temperatures and Cancer Risk [Internet]. National Cancer Institute. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/diet/cooked-meats-fact-sheet
12. Cutting red meat-for a longer life [Internet]. Harvard Health. [cited 2015 Jul 12]. Available from: http://www.health.harvard.edu/staying-healthy/cutting-red-meat-for-a-longer-life
13. Choices NHS. Red meat and bowel cancer risk – Live Well – NHS Choices [Internet]. 2015 [cited 2015 Jul 13]. Available from: http://www.nhs.uk/Livewell/Goodfood/Pages/red-meat.aspx

Seberapa Amankah Penyandang Diabetes Berpuasa?

Semua umat muslim tentu ingin menyambut bulan Ramadan. Tidak terkecuali penyandang diabetes. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa puasa untuk penderita diabetes tidak sepenuhnya aman. Oleh karena itu, tahun 2010, American Diabetes Association (ADA) mengeluarkan rekomendasi mengenai siapa-siapa saja diabetisi yang bisa berpuasa dan bagaimana cara berpuasa yang aman bagi penyandang diabetes. Lebih lengkapnya, yuk kita simak..

Sekilas Tentang Diabetes

Diabetes melitus merupakan penyakit dimana terdapat kadar gula darah yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh  gangguan pengeluaran hormon insulin dari pankreas dan/atau insulin tidak berfungsi dengan baik. Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengantar gula darah masuk ke dalam sel untuk menghasilkan energi. Gangguan pada hormon ini menyebabkan gula menumpuk dalam darah tanpa energinya bisa kita gunakan. 2, 3

Diabetes terbagi 2 jenis, tipe 1 dan 2.

  • Diabetes tipe 1 merupakan keadaan dimana tubuh tidak bisa sama sekali menghasilkan insulin. Kita tidak bisa mencegah diabetes tipe 1 ini dan biasanya penyakit ini terdiagnosis saat anak-anak atau remaja. Penyandang diabetes tipe ini membutuhkan suntikan insulin sepanjang hidupnya.
  • Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh kekurangan insulin atau saat insulin tidak berfungsi secara baik. Diabetes tipe 2 dialami 90% penyandang diabetes. Seseorang beresiko mengalami diabetes tipe 2 karena faktor keturunan, etnik, atau pola hidup yang kurang sehat seperti obesitas. Diabetes tipe 2 paling banyak dialami orang dewasa usia 40 tahunan.2-4
slide-big-4

Diabetes (http://medwingz.com/wp-content/uploads/2014/06/slide-big-4.jpg)

Proses Tubuh Saat Penyandang Diabetes Berpuasa

Perbedaan reaksi tubuh saat puasa penderita diabetes dengan orang sehat terletak pada kerja hormon pengendali gula darah. Pada orang yang sehat hormon insulin, glukagon, dan katekolamin dapat bekerja secara baik dalam menyeimbangkan gula darah. Sedangkan pada penderita diabetes, proses ini tidaklah berjalan secara baik. Gula darah saat diabetisi berpuasa berkurang, sedangkan hormon-hormon pengatur gula tidak bekerja secara baik dan obat-obat penurun gula darah tetap dikonsumsi sehingga dapat beresiko hipoglikemia atau gula darah rendah. Namun, bisa juga saat puasa malah terjadi keadaan hiperglikemia (gula darah sangat tinggi) karena tubuh terus memecah gula darah dari organ penyimpan gula (hati, lemak, otot) disaat gula darah turun tanpa diiringi dengan kerja insulin untuk menggunakan gula tadi sebagai energi.1, 2

Resiko Puasa Bagi Penyandang Diabetes

Penelitian EPIDAR tahun 2001 yang dilakukan di 13 negara Islam pada 12.243 individu penyandang diabetes yang berpuasa Ramadhan menyebutkan bahwa terjadi komplikasi akut yang cukup tinggi pada objek penelitian tersebut. 4 resiko tinggi yang cukup berbahaya yang ditemukan saat berpuasa pada diabetisi ini adalah :1

  1. Hipoglikemia (gula darah rendah) Menurunnya asupan makanan diketahui sebagai faktor resiko terjadinya hal ini.
  2. Hiperglikemia (gula darah tinggi) Keadaan ini mungkin disebabkan penurunan dosis obat pencegah hipoglikemia yang berlebihan atau konsumsi makanan manis yang meningkat saat puasa.
  3. Diabetes Ketoasidosis (gula darah dan zat keton yang tinggi) Biasanya terjadi pada penderita Diabetes Tipe 1. Keadaan ini mungkin terjadi karena penurunan dosis insulin yang berlebihan berdasarkan asumsi asupan makanan berkurang saat puasa.
  4. Dehidrasi dan trombosis (penyumbatan pembuluh darah)
    Kurangnya cairan saat berpuasa terutama di daerah yang beriklim panas dan lembab atau pada buruh yang menyebabkan keluar keringat yang berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan seseorang pingsan, jatuh, dan tekanan darah menurun. Selain itu, dehidrasi ini bisa menyebabkan darah menjadi lebih kental yang bisa beresiko menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah. Laporan kasus dari Saudi Arabia menyebutkan bahwa terdapat peningkatan kasus penyumbatan pembuluh darah vena retina saat puasa. Namun, kejadian jantung koroner atau stroke tidak meningkat saat Ramadhan.

Hasil dari penelitian ini membuat praktisi kesehatan dan penyandang diabetes untuk berhati-hati bila dihadapkan dengan keputusan berpuasa saat Ramadhan. Meskipun ADA tidak mengatakan penderita diabetes boleh atau tidak melakukan puasa secara gamblang, ADA memberi gambaran kelompok penyandang diabetes mana yang aman berpuasa dan mana yang tidak.1

Kelompok Penyandang Diabetes Berdasarkan Resiko Terjadinya Komplikasi Saat Puasa 1

Resiko Kelompok Penyandang Diabetes
Resiko Sangat Tinggi -Hipoglikemia berat 3 bulan terakhir sebelum Ramadhan
-Riwayat hipoglikemia berulang
-Riwayat hipoglikemia yang tidak disadari
-Diabetes tidak terkontrol
-Ketoasidosis dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
-Diabetes tipe 1
-Diabetisi dengan penyakit akut
-Koma,dalam 3 bulan sebelum Ramadhan
-Diabetisi yang bekerja berat (buruh,petani,dll) saat puasa
-Penyandang diabetes yang hamil
-Diabetisi yang menjalani dialisis (cuci darah) dalam jangka waktu lama
Resiko Tinggi -Diabetisi dengan hiperglikemia sedang (rata-rata gula darah 150-300mg/dL, A1C 7,5-9,0%)
-Diabetisi dengan gangguan ginjal
-Diabetisi dengan komplikasi sumbatan pembuluh darah besar (jantung koroner, stroke)
-Diabetisi yang hidup sendiri
-Diabetisi usia lanjut dengan kondisi yang kurang sehat
-Pengguna obat-obatan yang mempengaruhi mental
Resiko Menengah Penyandang diabetes yang terkontrol baik yang diobati insulin jangka pendek
Resiko Rendah Diabetisi yang terkontrol baik yang diobati oleh diet, obat yang secara umum sehat.
Rekomendasi ADA ini bertujuan untuk memberi edukasi baik pada penyandang diabetes maupun tenaga kesehatan sehingga dicapai komunikasi dan kerja sama yang baik saat diabetisi memutuskan untuk berpuasa. Perlu diingat bahwa terlepas dari fakta dan rekomendasi yang ada, keputusan berpuasa tetap dikembalikan kepada penyandang diabetes itu sendiri setelah diberikan informasi yang memadai. Tidak lupa mempertimbangkan untuk mengambil keringan berupa fidyah bila dirasa puasa malah memberatkan.

Anjuran Bila Penyandang Diabetes Ingin Berpuasa

Bila penyandang diabetes memutuskan untuk berpuasa, ada beberapa poin yang penting dijalani agar puasanya tetap aman, yaitu :

  1. Konsultasi dengan dokter. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi Anda aman atau tidak untuk berpuasa serta untuk mengatur waktu pemberian obat.
  2. Seringlah memonitor gula darah terutama penyandang diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang menggunakan insulin. Hal ini disebabkan kadar gula darah menjadi patokan penting seseorang masih aman berpuasa atau tidak.
  3. Waspada gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. Diabetisi harus mengenal gejala hipoglikemia seperti pusing, keringat banyak, gemetar dan jantung berdebar-debar atau gejala hiperglikemia seperti sulit konsentrasi, sering buang air kecil, sakit kepala, badan terasa lemah dan pandangan kabur. Semua penyandang diabetes harus segera membatalkan puasanya bila gula darah dibawah 70mg/dL atau gula darah mencapai 300 mg/dL untuk mencegah komplikasi yang berbahaya seperti koma bahkan kematian.
  4. Porsi makanan saat puasa tidak boleh berubah secara drastis dari diet seimbang dan sehat.
  5. Makan sahur dilakukan saat mendekati waktu imsak/subuh. Sebaiknya konsumsi jenis karbohidrat kompleks seperti beras merah, barley, oat, millet, semolina, kacang-kacangan, lentil, tepung gandum dan beras basmati. Selain itu makanan tinggi serat juga baik dikonsumsi saat sahur karena dicerna perlahan-lahan seperti kentang dengan kulit, sayuran dan hampir semua buah. Fungsi dari mengkonsumsi makanan ini supaya energi tetap dihasilkan secara jangka panjang.
  6. Hindari makanan tinggi lemak dan porsi besar saat berbuka. Makanan dengan karbohidrat sederhana lebih dianjurkan saat berbuka seperti madu, sirup, gula, kentang, nasi putih, dll namun jangan berlebihan.
  7. Tingkatkan minum saat sahur dan berbuka.
  8. Aktivitas fisik normal tetap dilakukan tetapi jangan berlebihan. Bila solat tarawih dilakukan, harus dimasukkan ke hitungan program latihan fisik
  9. Hindari berpuasa bila merasa kurang sehat. 1, 5, 6, 7

Gejala Hipo dan Hiperglikemia

Picture

Agustina Kadaristiana, dr.
Publikasi pertama : 2014-07-03
Modifikasi terakhir : 2015-06-23

Daftar Pustaka

  1. Al-Arouj M, Assaad-Khalil S, Buse J, Fahdil I, Fahmy M, Hafez S, et al. Recommendations for management of diabetes during Ramadan: update 2010. Diabetes care. 2010;33(8):1895-902.
  2. Ali DS, Hussain DS, Chowdhury DT, Hanif PW, Shafi DS. Diabetes and Ramadan : Managing Diabetes During Ramadan. In: Britain TMCo, UK D, editors.: Diabetes UK; 2014.
  3. David K McCulloch M. Classification of diabetes mellitus and genetic diabetic syndromes2014 4 July 2014. Available from: http://www.uptodate.com.ezlibproxy1.ntu.edu.sg/contents/classification-of-diabetes-mellitus-and-genetic-diabetic-syndromes?source=search_result&search=diabetes+mellitus&selectedTitle=5~150.
  4. Romesh Khardori M, PhD, FACP. Type 2 Diabetes Mellitus2014 4 July 2014. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/117853-overview.
  5. Holland K. Hyperglycemia and Type 2 Diabetes2012. Available from: http://www.healthline.com/health/type-2-diabetes/hyperglycemia#Overview1.
  6. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011.
  7. Carbohydrates: Simple versus Complex. Available from: http://www.nutritionmd.org/nutrition_tips/nutrition_tips_understand_foods/carbs_versus.html.

Bolehkah Penderita Maag Berpuasa?

Penderita maag acap kali khawatir bila memasuki bulan Ramadan. Perut yang kosong akibat puasa di siang hari terkadang membuat rasa tidak nyaman dan perih di lambung. Tapi di sisi lain ada keyakinan bahwa puasa Ramadan dapat menyehatkan saluran pencernaan. Lalu, bagaimana sebenarnya batasan puasa bagi penderita maag? Apakah semua penderita maag bisa berpuasa?

Apa itu penyakit maag?

Maag sebenarnya istilah awam untuk keluhan dispepsia. Dispepsia sendiri sebenarnya bukan penyakit tetapi sekumpulan gejala berupa rasa penuh (begah) setelah makan, tidak mampu menghabiskan makanan porsi normal sampai nyeri atau rasa terbakar di ulu hati.

Penyebab dispepsia sendiri dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu organik dan fungsional. Maksud dari penyebab fungsional ialah munculnya gejala ketidaknyamanan pada ulu hati tadi tanpa kerusakan organ. Sebaliknya, dispepsia organik terjadi karena ada gangguan anatomis/organ. Sehingga penanganannya lebih serius. Untung saja penyebab organik ini hanya menyumbang 25% kasus dispepsia. Penyebab terbanyak dari dispepsia organik ialah adanya luka dari lambung atau usus 12 jari. Penyakit ini disebut juga tukak peptik. 1

Mengapa terjadi tukak lambung?

Setiap hari lambung kita menghasilkan asam lambung untuk mencerna makanan. Agar cairan asam ini tidak merusak saluran cerna, sel epitel di lambung dan usus 12 jari menghasilkan mukus (semacam lendir) untuk melindungi diri dari iritasi. Selain itu, terdapat sel-sel ini dapat mengeluarkan kelebihan ion Hidrogen untuk menjaga pH sel agar tidak terlalu asam. Dalam kondisi normal, terdapat keseimbangan yang harmonis antara pengeluaran asam lambung dan mukosa. Namun, bila ada perangsang asam lambung seperti infeksi bakteri H. pylori, obat anti inflamasi non steroid, alkohol, stress, rokok, dll, dinding lambung bisa radang (gastritis) bahkan sampai menjadi tukak di lambung dan usus 12 jari (tukak peptik).2

Tukak Peptikum (http://www.physio-pedia.com/images/e/ed/Peptic-ulcers-lg-enlg.jpg)

Tukak Peptikum (http://www.physio-pedia.com/images/e/ed/Peptic-ulcers-lg-enlg.jpg)

Pengaruh Puasa Terhadap Maag

Allah SWT tentu memberi hikmah di balik diwajibkannya berpuasa. Bagi muslim yang sehat, tentu berpuasa dapat berefek positif untuk detoksifikasi, memperbaiki profil kolesterol juga mengistirahatkan saluran pencernaan.3 Tentu manfaat ini akan didapat bila yang berpuasa tetap disiplin untuk hidup sehat selama Ramadan. Namun, bagi penderita maag perlu ada rambu-rambu untuk memilah mana yang dapat berpuasa secara aman dan mana yang tidak.4Pasalnya :

  1. Tingkat keasaman lambung naik setelah 10 hari Ramadan terutama di siang hari sehingga dapat memperberat tukak lambung.5
  2. Hasil dari endoskopi 321 pasien sebelum, selama dan setelah puasa menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan tukak duodenum (usus 12 jari) selama puasa secara signifikan. Tapi tidak ada temuan yang bermakna pada dinding esofagus dan lambung saat puasa.6
  3. Terdapat peningkatan kasus pendarahan saluran cerna atas pada penderita gangguan pencernaan sebelumnya selama puasa. 7
  4. Ada kemungkinan puasa dapat meningkatkan pendarahan saluran cerna akibat tukak usus 12 jari tetapi tidak menyebabkan prognosisnya lebih buruk daripada pasien yang tidak puasa. 8

Jadi bolehkah penderita maag berpuasa?

Boleh tidaknya penderita maag berpuasa ditentukan dari penyebab dispepsia masing-masing penderita, gejala serta ada tidaknya komplikasi. Sehingga penting sekali diagnosis dan anjuran dari dokter Anda sebelum melaksanakan puasa.

Secara umum, penderita maag fungsional dapat berpuasa. Namun, penderita maag akibat tukak lambung atau usus dua belas jari perlu dilihat dulu kedalaman tukaknya dan seberapa besar resiko pendarahan. Bila tukaknya luas, dalam, serta mudah berdarah mungkin Anda tidak dianjurkan untuk berpuasa. Namun, bila iritasi atau tukaknya tidak terlalu parah, Anda mungkin dapat berpuasa sambil diobati. Pengobatan dengan obat penghambat proton (seperti Omeprazole, Lansoprazole, dsb), penghambat H2 juga eradikasi kuman H. Pylori berperan penting untuk mengatasi tukak peptikum. Penelitian membuktikan bahwa pasien tukak peptikum yang diobati dapat berpuasa tanpa peningkatan risiko komplikasi. 9–11

Tips Berpuasa Penderita Maag

Bagi penderita maag yang diperbolehkan berpuasa setelah berkonsultasi dengan dokter, berikut sedikit tips untuk mencegah gejala maag saat anda puasa..

http://www.news-articles-jobs.com/wp-content/uploads/2014/07/healthy-food.jpg

  1. Yakinkan diri bahwa puasa membawa maslahat bagi yang mampu melakukannya. Sibukkan diri dengan ibadah dan hadapi puasa dengan tenang tanpa stress agar asam lambung tidak diproduksi secara berlebihan
  2. Selalu makan sahur sebelum memulai puasa. Sebaiknya makan sahur dekat dengan waktu imsak. Konsumsi karbohidrat kompleks (gandum, nasi merah, millet, dll) dan makanan tinggi serat (sayur dan buah). Makanan ini berfungsi agar anda tidak cepat lapar saat puasa. Penelitian membuktikan asupan buah, sayur dan vitamin A yang tinggi dapat menurunkan kejadian tukak usus dua belas jari. Teh hijau dan probiotik juga baik dikonsumsi penderita maag karena dapat menghambat kuman H.Pylori. 12–14
  3. Berbuka dengan karbohidrat sederhana (kurma atau jus buah) untuk mengembalikan energi tubuh. Hindari makan porsi besar sekaligus agar tidak memberatkan kerja lambung. 3
  4. Konsumsi obat maag sesuai anjuran dokter seperti antasida, H2 Bloker atau obat penghambat proton. Biasanya obat-obatan ini diminum sebelum makan sahur atau berbuka
  5. Hindari minum kopi, soda, alkohol, merokok dan obat-obatan anti radang non steroid (ibuprofen, aspirin, dll) karena dapat menstimulus produksi asam lambung. Hindari juga makanan dengan lemak trans tinggi seperti gorengan, mentega, dll.15
  6. Sebaiknya hindari makanan yang terlalu pedas karena bisa menyebabkan gejala dispepsia. Meskipun begitu tidak ditemukan hubungan makanan pedas dengan gastritis atau tukak peptikum.16
  7. Cegah dehidrasi dengan memenuhi kebutuhan cairan sebanyak 6-8 gelas per hari.

Selamat berpuasa 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

Referensi

  1. George F Longstreth, MD, Brian E Lacy, MD, PhD. Approach to the adult with dyspepsia. Uptodate [Internet]. 2014 Sep 26 [cited 2015 Jun 15]; Available from: http://www.uptodate.com/contents/approach-to-the-adult-with-dyspepsia?source=search_result&search=dyspepsia&selectedTitle=1~150
  2. Peptic Ulcer Disease. 2015 Feb 9 [cited 2015 Jun 15]; Available from: http://emedicine.medscape.com/article/181753-overview#aw2aab6b2b3
  3. Dr Razeen Mahroof, BM, MRCP(UK), FRCA, Dr Rizwan Syed, BM, DRCLG, Dr Ahmed El-Sharkawy, BM, MRCP(UK), Tehseen Hasan, BSc(Hons), Sahra Ahmed, MPharm, Dr Fuad Hussain. Ramadhan Health Guide [Internet]. Communities in Action; 2007. Available from: http://www2.warwick.ac.uk/services/equalops/resources/a_guide_to_healthy_fasting.pdf
  4. Sadeghpour S, Keshteli AH, Daneshpajouhnejad P, Jahangiri P, Adibi P. Ramadan fasting and digestive disorders: SEPAHAN systematic review No. 7. J Res Med Sci [Internet]. 2012 Mar 16 [cited 2015 Jun 15];17(0). Available from: http://jrms.mui.ac.ir/index.php/jrms/article/view/8233
  5. Iraki L, Bogdan A, Hakkou F, Amrani N, Abkari A, Touitou Y. Ramadan diet restrictions modify the circadian time structure in humans. A study on plasma gastrin, insulin, glucose, and calcium and on gastric pH. J Clin Endocrinol Metab. 1997 Apr;82(4):1261–73.
  6. Gokakin AK, Kurt A, Akgol G, Karakus BC, Atabey M, Koyuncu A, et al. Effects of Ramadan fasting on peptic ulcer disease as diagnosed by upper gastrointestinal endoscopy. Arab J Gastroenterol Off Publ Pan-Arab Assoc Gastroenterol. 2012 Dec;13(4):180–3.
  7. Ozkan S, Durukan P, Akdur O, Vardar A, Torun E, Ikizceli I. Does Ramadan fasting increase acute upper gastrointestinal haemorrhage? J Int Med Res. 2009 Dec;37(6):1988–93.
  8. Amine EM, Kaoutar S, Ihssane M, Adil I, Dafr-Allah B. Effect of Ramadan fasting on acute upper gastrointestinal bleeding. J Res Med Sci Off J Isfahan Univ Med Sci. 2013 Mar;18(3):230–3.
  9. DR. Dr. Ari F. Syam SpPD, K-GEH, MMB, FINASIM, FACP. Sakit Maag : Bolehkah Berpuasa…? PB PAPDI [Internet]. Available from: http://www.pbpapdi.org/papdi.php?pb=detil_berita&kd_berita=33
  10. Mehranbian AA, Homayouni R, Hashemi M, Moradi A. Is healing of duodenal ulcer delayed by Ramadan fasting? Koomesh. 2007 Feb 15;8(2):67–72.
  11. Hosseini-asl K, Rafieian-kopaei M. Can patients with active duodenal ulcer fast Ramadan? Am J Gastroenterol. 2002 Sep;97(9):2471–2.
  12. Lee K-M, Yeo M, Choue J-S, Jin J-H, Park SJ, Cheong J-Y, et al. Protective mechanism of epigallocatechin-3-gallate against Helicobacter pylori-induced gastric epithelial cytotoxicity via the blockage of TLR-4 signaling. Helicobacter. 2004 Dec;9(6):632–42.
  13. Felley C, Michetti P. Probiotics and Helicobacter pylori. Best Pract Res Clin Gastroenterol. 2003 Oct;17(5):785–91.
  14. Aldoori WH, Giovannucci EL, Stampfer MJ, Rimm EB, Wing AL, Willett WC. Prospective study of diet and the risk of duodenal ulcer in men. Am J Epidemiol. 1997 Jan 1;145(1):42–50.
  15. Peptic ulcer [Internet]. University of Maryland Medical Center. [cited 2015 Jun 15]. Available from: http://umm.edu/Health/Medical-Reference-Guide/Complementary-and-Alternative-Medicine-Guide/Condition/Peptic-ulcer
  16. Marotta RB, Floch MH. Diet and nutrition in ulcer disease. Med Clin North Am. 1991 Jul;75(4):967–79.

Puasa itu Sehat Asal dengan Cara yang Benar

Tahukah Anda bahwa dari segi medis, puasa dapat menyehatkan tubuh apabila dilakukan dengan cara yang benar? Namun, puasa juga dapat berefek sebaliknya apabila misalnya kita tidak mengindahkan diet dan aktivitas fisik yang baik. Lalu, bagaimana kiat agar puasa tetap menyehatkan?

Sekilas Tentang Puasa

Puasa dalam Islam pada prinsipnya adalah menahan diri dari hawa nafsu termasuk makan, minum, berhubungan suami-istri dan juga merokok dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Periode berpuasa dalam sehari tergantung dari tempat berpuasa. Rata-rata waktu puasa dalam sehari di bulan Ramadhan ialah 12 jam.1

Respon tubuh saat berpuasa tergantung dari lamanya seseorang berpuasa. Secara teknis, tubuh memasuki keadaan “puasa” setelah 8 jam dari makan terakhir, ketika usus selesai menyerap nutrisi dari makanan. Pada keadaan normal, gula darah (glukosa) yang merupakan sumber utama energi manusia disimpan dalam hati dan otot. Namun, selama keadaan puasa, gula darah yang disimpan dalam hati dan otot ini dipecah untuk mencukupi kebutuhan energi. Setelah simpanan ini habis, lemak akan dipecah menjadi sumber energi. Bila puasa dilanjutkan, protein (melalui otot) yang akan dipecah menjadi glukosa. Namun, keadaan puasa sampai memecah cadangan protein tidaklah baik karena saat ini tubuh sudah memasuki fase kurang nutrisi. 2

Puasa Ramadhan, yang berlangsung hanya sekitar 12 jam, tidak sampai menimbulkan pemecahan protein. Hal ini disebabkan ada puasa diselingi makan sahur dan berbuka. Sehingga terdapat waktu yang cukup untuk mengisi energi kembali. Adapun perubahan aktivitas organ pencernaan lain saat puasa dapat dilihat di sini:2

Efek Puasa

Efek Puasa Pada Tubuh

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

Efek puasa terhadap kesehatan telah menjadi topik yang diminati untuk diteliti. Tiga jenis puasa yang paling banyak diteliti ialah :

1. Restriksi kalori (Caloric Restriction/ CR) : Puasa dengan mengurangi asupan kalori (biasanya 20-40%). CR telah terbukti meningkatkan kesehatan dan memperpanjang umur di beberapa spesies. Selain itu, puasa CR dapat memperlambat onset penyakit seperti penyakit autoimun, atherosklerosis, cardiomyopati, kanker, diabetes, penyakit ginjal, penyakit degeneratif saraf, dan penyakit saluran nafas. 1

2. alternate-day fasting (ADF)/puasa selang sehari : Puasa yang dilakukan dengan selang-seling, dimana pada 24 jam pertama objek peneliti boleh makan apa saja dan 24 jam berikutnya puasa. Percobaan puasa ADF pada model hewan membuktikan bahwa dapat memperpanjang harapan hidup serta mencegah kecacatan dari berbagai penyakit seperti penyakit jantung-pembuluh darah, ginjal, kanker dan diabetes. ADF juga terbukti berdampak positif pada kesehatan jantung-pembuluh darah yaitu dapat menurunkan tekanan darah dan denyut nadi.1

3. Dietary Restriction (DR)/retriksi diet. CR adalah Puasa metode ADF ialah Sedangkan DR adalah mengurangi satu atau lebih komponen diet dimana asupan total kalori cenderung tetap. Efek dari puasa DR dengan cara membatasi asupan protein dapat memperpanjang usia sampai 20%. Namun, efek ini tidak terbukti terjadi saat membatasi asupan lemak dan karbohidrat.1, 3

Metode puasa Ramadhan dimana cukup dilakukan dari subuh sampai maghrib, mirip dengan cara puasa ADF (selang-seling) dengan waktu yang lebih pendek sehingga manfaat yang didapat juga mirip dengan ADF. Hasil penelitian tentang manfaat puasa Ramadhan sendiri beragam. Hal ini disebabkan karena jenis dan jumlah makanan saat Ramadhan berbeda di tiap negara. Beberapa hasil penelitian yang positif menyebutkan bahwa terdapat penurunan jumlah karbohidrat, gula darah, index masa tubuh, kolesterol jahat (LDL) dan peningkatan kolesterol baik (HDL). Namun ada juga yang mengatakan bahwa lemak tubuh dan gula darah meningkat disebabkan konsumsi minuman atau makanan yang bergula lebih tinggi saat Ramadhan dibandingkan dengan bulan yang lain. Manfaat lain dari puasa adalah terjadinya proses detoksifikasi dan peningkatan hormon endorfin di hari-hari terakhir yang menyebabkan perasaan emosi secara umum lebih baik. 1, 4

Tips Sehat Puasa

Pola makan yang salah saat berpuasa malah akan berdampak negatif terhadap kesehatan. Seperti mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak saat berbuka atau makan/minum yang terlalu manis. Berikut ini beberapa tips agar puasa tetap menyehatkan : 2

  1. Konsumsi karbohidrat kompleks (karbohidrat yang dipecah perlahan-lahan) sebagai contoh gandum, barley, oat, millet, semolina, kacang-kacangan, lentil, tepung gandum, beras basmati, beras merah. Selain itu makanan tinggi serat juga baik dikonsumsi saat sahur karena dicerna perlahan-lahan seperti kentang dengan kulit, sayuran dan hampir semua buah. Fungsi dari mengkonsumsi makanan ini supaya energi tetap dihasilkan saat waktu puasa.
  2. Hindari makanan yang berat diproses, karbohidrat sederhana seperti gula, tepung, dan juga makanan tinggi lemak. Kafein (seperti kopi, teh, cola) juga sebaiknya dihindari karena bersifat diuretik yaitu menstimulasi kehilangan cairan lewat berkemih.
  3. Makan sahur secukupnya yang mengandung makanan lama cerna (karbohidrat kompleks dan tinggi serat)
  4. Berbuka paling baik dengan kurma atau jus buah dan jangan terlalu banyak.
  5. Minum yang cukup (kebutuhan air sehari kurang lebih 2 l)
  6. Hindari cara masak deep-fry (menggoreng dengan banyak minyak). Alternatifnya goreng dengan minyak yang lebih sedikit. Memasak dengan cara kukus atau panggang lebih baik
  7. Mulai menghitung minyak dengan sendok saat menggoreng bumbu. Kalau memungkinkan, kurangi minyak perlahan-lahan.
Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya.
Agustina Kadaristiana, dr.
Modifikasi Terakhir : 06/14/2015

Daftar Pustaka

  1. Trepanowski JF, Bloomer RJ. The impact of religious fasting on human health. Nutrition journal. 2010;9:57. http://www.nutritionj.com/content/9/1/57
  2. Dr Razeen Mahroof B, MRCP(UK), FRCA, Dr Rizwan Syed B, DRCLG, Dr Ahmed El-Sharkawy B, MRCP(UK), Tehseen Hasan BH, Sahra Ahmed M, Hussain DF. Ramadhan Health Guide : a Guide to Healthy Fasting. In: Action Ci, editor.: Crown; 2007. http://www.nhs.uk/Livewell/Healthyramadan/Pages/healthyfasting.aspx
  3. Varady KA, Hellerstein MK. Alternate-day fasting and chronic disease prevention: a review of human and animal trials. The American journal of clinical nutrition. 2007;86(1):7-13. http://ajcn.nutrition.org/content/86/1/7.full
  4. Shehab A, Abdulle A, El Issa A, Al Suwaidi J, Nagelkerke N. Favorable changes in lipid profile: the effects of fasting after Ramadan. PloS one. 2012;7(10):e47615. http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0047615

Ibu Hamil Berpuasa, Amankah?

Assalamualaikum Bunda.. Adakah yang berniat berpuasa Ramadan sementara sedang hamil? Meskipun telah diberi keringanan untuk mengganti puasa di hari lain atau membayar fidyah, banyak ibu hamil yang ingin turut serta beribadah puasa di bulan suci ini. Tapi di sisi lain ibu sering dilema tentang keamanan berpuasa dari segi medis. Lalu, sejauh mana ibu hamil bisa berpuasa di bulan Ramadan?

Pro dan Kontra Puasa Ibu Hamil

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui efek puasa terhadap kehamilan. Secara umum tidak ditemukan efek samping serius pada janin bagi ibu hamil sehat yang berpuasa. Namun, ada pula penelitian yang menemukan dampak negatif puasa pada ibu hamil. Sehingga, sampai saat ini batas aman tidaknya berpuasa bersifat individual.

puasa_ibu_hamil

Puasa Ibu Hamil

Hasil penelitian yang menyebutkan puasa pada ibu hamil relatif aman misalnya :

  • Ibu yang berpuasa saat hamil tidak mempengaruhi berat badan bayi saat lahir. 1,2
  • Ibu hamil yang berpuasa di trimester kedua tidak meningkatkan kadar stres oksidatif ibu juga tidak mempengaruhi perkembangan dan berat badan janin.3
  • Tidak ditemukan penumpukan zat keton didalam darah ataupun urin pada ibu hamil yang berpuasa.4
  • Tidak ada pengaruh puasa saat hamil dengan perkembangan janin atau kesehatan janin. Tidak juga ditemukan perbedaan ukuran arteri rahim atau ari-ari, parameter pertumbuhan atau cairan amnion antara ibu hamil yang berpuasa dan yang tidak.4
  • Tidak ada perbedaan IQ yang signifikan pada anak yang ibunya berpuasa saat hamil5
  • Tidak ditemukan peningkatan resiko kelahiran prematur pada ibu yang berpuasa saat hamil6

Sedangkan beberapa efek samping puasa yang ditemukan saat hamil contohnya :

  • Bayi yang ibunya berpuasa saat Ramadhan lebih kecil dan kurus serta plasentanya lebih kecil dibandingkan dengan ibu yang tidak berpuasa berdasarkan penelitian yang melibatkan 1.321 bayi di Tunisia 7
  • Adanya penurunan kadar gula darah, insulin dan karnitin serta peningkatan asam lemak. Gula darah dan insulin berperan penting sebagai sumber nutrisi ibu dan janin. Begitu pula dengan karnitin yang berfugsi sebagai pengantar asam lemak ke dalam sel. 8
  • Terdapat penurunan kadar hormon LH, FSH, estrogen, progesteron dan leptin secara signifikan pada ibu hamil yang berpuasa. Hormon-hormon ini sangat penting karena bertugas untuk menjaga dan mempertahankan kehamilan serta mempengaruhi metabolisme tubuh saat kehamilan.9
  • Penelitian efek jangka panjang puasa pada kehamilan dari data Survey Kehidupan Keluarga Indonesia (Indonesian Family Life Survey, 2000) menyebutkan bahwa muslim dewasa yang ibunya berpuasa saat hamil sedikit lebih kurus dan pendek daripada yang tidak. 10
  • Adanya penurunan pergerakan nafas bayi saat ibu berpuasa akibat penurunan gula darah ibu11

Menyikapi perbedaan hasil penelitian ini, sebaiknya para ibu bijaksana dalam memutuskan untuk berpuasa. Penting sekali untuk paham kondisi ibu dan janin sendiri juga melibatkan tenaga kesehatan sebelum memutuskan berpuasa.

Bila Ibu Hamil ingin Berpuasa

Keputusan untuk berpuasa sepenuhnya dari ibu itu sendiri. Bila ibu diperbolehkan dan merasa sanggup berpuasa ada beberapa hal yang harus diperhatikan :2,12–14

  • Pantau kondisi kesehatan ibu dan janin ke dokter atau bidan sebelum dan selama berpuasa
  • Sebaiknya hindari berpuasa saat trimester pertama kehamilan karena ada kemungkinan berat badan bayi lebih rendah meskipun penelitian lain menemukan perbedaan ini kurang signifikan
  • Sebaiknya hindari juga berpuasa di trimester tiga kehamilan karena saat ini ibu membutuhkan asupan kalori yang lebih banyak
  • Coba berpuasa selang-seling
  • Makan dan minum sesuai takaran yang dianjurkan untuk ibu hamil.
  • Jangan tinggalkan sahur. Sebaiknya makan sahur dekat dengan waktu imsak. Agar tidak cepat lapar, konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks saat sahur. Misalnya beras merah, gandum, oat, beras basamati, kacang-kacangan, dll

  • Berbuka dengan makanan karbohidrat sederhana seperti kurma, madu, sirup, gula, kentang, nasi putih, dll. Gula sederhana ini amat mudah diserap tubuh untuk mengembalikan energi
  • Segera berbuka dan temui dokter bila ada tanda-tanda berikut :
    • Sangat haus
    • Buang air kecil lebih sering sampai berbau kuat atau berwarna pekat (tanda dehidrasi)
    • Sakit kepala, pusing atau pingsan
    • Merasa letih dan lemah
    • Demam
    • Mual sampai muntah
    • Pergerakan bayi menurun
    • Terasa kontraksi (bisa jadi tanda-tanda persalinan prematur)

Mudah-mudahan bermanfaat ya bunda..

Waalaikumsalam wr wb

Agustina Kadaristiana, dr. 

Publikasi pertama 9 Juli 2014

Modifikasi terakhir : 7 Juni 2015

Referensi

  1. Cross JH, Eminson J, Wharton BA. Ramadan and birth weight at full term in Asian Moslem pregnant women in Birmingham. Arch Child. 1990 Oct;65(10 Spec No):1053–6.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1590265/
  2. Kavehmanesh Z, Abolghasemi H. Maternal Ramadan fasting and neonatal health. J Perinatol. 2004 Dec;24(12):748–50. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15343350
  3. Ozturk E, Balat O, Ugur MG, Yazicioglu C, Pence S, Erel O, et al. Effect of Ramadan fasting on maternal oxidative stress during the second trimester: a preliminary study. J Obstet Gynaecol Res. 2011 Jul;37(7):729–33. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21736666
  4. Dikensoy E, Balat O, Cebesoy B, Ozkur A, Cicek H, Can G. Effect of fasting during Ramadan on fetal development and maternal health. J Obstet Gynaecol Res. 2008 Aug;34(4):494–8. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18937702
  5. Azizi F, Sadeghipour H, Siahkolah B, Rezaei-Ghaleh N. Intellectual development of children born of mothers who fasted in Ramadan during pregnancy. Int J Vitam Nutr Res Int Z Für Vitam- Ernährungsforschung J Int Vitaminol Nutr. 2004 Sep;74(5):374–80. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15628676
  6. Awwad J, Usta IM, Succar J, Musallam KM, Ghazeeri G, Nassar AH. The effect of maternal fasting during Ramadan on preterm delivery: a prospective cohort study. BJOG Int J Obstet Gynaecol. 2012 Oct;119(11):1379–86.
  7. Alwasel SH, Harrath A, Aljarallah JS, Abotalib Z, Osmond C, Al Omar SY, et al. Intergenerational effects of in utero exposure to Ramadan in Tunisia. Am J Hum Biol. 2013 May;25(3):341–3.
  8. Malhotra A, Scott PH, Scott J, Gee H, Wharton BA. Metabolic changes in Asian Muslim pregnant mothers observing the Ramadan fast in Britain. Br J Nutr. 1989 May;61(3):663–72.
  9. Khoshdel A, Kheiri S, Hashemi-Dehkordi E, Nasiri J, Shabanian-Borujeni S, Saedi E. The effect of Ramadan fasting on LH, FSH, oestrogen, progesterone and leptin in pregnant women. J Obstet Gynaecol. 2014 Jun 10;1–5.
  10. Van Ewijk RJ, Painter RC, Roseboom TJ. Associations of prenatal exposure to Ramadan with small stature and thinness in adulthood: results from a large Indonesian population-based study. Am J Epidemiol. 2013 Apr 15;177(8):729–36.
  11. Mirghani HM, Weerasinghe SD, Smith JR, Ezimokhai M. The effect of intermittent maternal fasting on human fetal breathing movements. J Obstet Gynaecol. 2004 Sep;24(6):635–7.
  12. Bajaj S, Khan A. Women’s Health in Ramadan. Medical Update 2013 [Internet]. The Association of Physicians of India; 2013. p. 332–4. Available from: http://www.apiindia.org/medicine_update_2013/chap175.pdf
  13. Ziaee V, Kihanidoost Z, Younesian M, Akhavirad MB, Bateni F, Kazemianfar Z, et al. The effect of ramadan fasting on outcome of pregnancy. Iran J Pediatr. 2010 Jun;20(2):181–6.
  14. Bajaj S, Khan A, Fathima FN, Jaleel MA, Sheikh A, Azad K, et al. South Asian consensus statement on women’s health and Ramadan. Indian J Endocrinol Metab. 2012 Jul;16(4):508–11.

Tips Berhenti Merokok di Bulan Ramadan

Menghindari rokok di bulan Ramadan ternyata bernilai ibadah. Pasalnya, umat Islam bukan hanya diwajibkan untuk menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga merokok. Sehingga saat ini adalah momen yang tepat untuk memulai bebas dari rokok. Maukah Anda beresolusi untuk berhenti atau mengajak orang tersayang berhenti dari rokok di bulan mulia ini?

tobacco-free-ramadan

http://www.ramadan.co.uk/wp-content/uploads/2014/09/tobacco-free-ramadan.jpg

Pandangan Islam Mengenai Rokok

Hukum rokok tidaklah sama dengan konsumsi alkohol. Hal ini disebabkan hukum rokok tidaklah dijelaskan gamblang dari Al-Quran dan Hadist, sehingga hukum rokok didasari pada ijtihad ulama berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. 1,2

Dalam sejarahnya, Islam bersikap netral terhadap rokok. Tetapi setelah diketahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, para ulama mulai berpendapat bahwa hukum rokok makruh atau haram. Mulai tahun 1979, pelarangan ini dianggap ancaman terbesar bagi industri rokok seperti yang didokumentasikan dalam British Medical Journal. Pasalnya, negara Islam adalah kunci keberlangsungan industri rokok karena kebiasaan merokok menurun di negara maju. 1,3

&MaxW=640&imageVersion=default&AR-140719883

http://www.thenational.ae/storyimage/AB/20140710/ARTICLE/140719883/AR/0/&MaxW=640&imageVersion=default&AR-140719883.jpg

Saat ini, mayoritas fatwa ulama dari negara Islam, termasuk otorititas Al-Azhar yang termashyur, mendeklarasikan bahwa rokok itu dilarang. Demikian pula fatwa MUI yang melarang rokok antara “haram” dan “makruh”.Dua landasan pemikiran ini ialah 1,3,4

Surat Al-Baqarah : 195 (Larangan merusak diri)

albaqarah195
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Surat Al-Araf : 31 (Larangan mubadzir)

alaraf31
Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada tiap-tiap kali kamu ke tempat ibadat (atau mengerjakan sembahyang), dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampau; sesungguhnya Allah tidak suka akan orang-orang yang melampaui batas.

Apakah Merokok Membatalkan Puasa?

Para ulama sepakat merokok dapat membatalkan puasa karena asap rokok mengandung banyak kumpulan zat yang masuk sampai ke perut dan lambung. Sementara semua yang dimasukkan ke dalam perut dengan sengaja maka membatalkan puasa. Mereka mengistilahkan merokok dengan “syurbud dukhan” atau minum asap. Ditambah lagi dengan dasar hukum merokok ialah dilarang. Terkecuali bagi perokok pasif yang tidak sengaja mencium bau rokok maka puasanya tidak batal. Sebab untuk dapat masuk ke dalam lambung, zat dalam rokok harus dihisap. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, Fatawa Shiyam, no. 203 dan 204)5,6

ramadhaan-highway-code-dos-and-donts

https://theticamuslimah.files.wordpress.com/2013/07/ramadhaan-highway-code-dos-and-donts.jpg

Keuntungan Meninggalkan Rokok di Bulan Ramadan

Larangan puasa saat puasa membuat muslim perokok mau tidak mau meninggalkan rokok dari subuh hingga maghrib. Ditambah lagi dukungan dari lingkungan yang sama-sama puasa rokok di siang hari memperkecil kemungkinan terjadi gejala kambuh. Namun, hal ini sulit berlaku untuk mereka yang melanjutkan rokok saat berbuka karena sulit terbentuk kebiasaan meninggalkan rokok yang permanen. Keuntungan lain ialah motivasi spiritual yang kental saat Ramadan dapat meningkatkan keberhasilan perokok untuk berhenti. Penelitian membuktikan bahwa ¾ perokok yang ingin berhenti merasa terbantu ketika dikaitkan dengan sisi spiritual. 7

Tantangan

Berhenti merokok saat Ramadan ternyata ada tantangan sendiri yang perlu disiasati. Pertama, kondisi menahan lapar dan haus meningkatkan keinginan untuk merokok. Hal ini menyebabkan berhenti total di bulan Ramadan menjadi cukup sulit. Padahal metode ini dinilai paling nyaman apabila seseorang ingin berhenti di bulan puasa. Selain itu, obat pengganti nikotin untuk mengatasi ‘sakau rokok’ tidak bisa diresepkan dokter saat berpuasa. Terakhir, pada sebagian orang kondisi yang ‘memaksa’ berhenti merokok tidak membuat mereka berhenti rokok secara permanen.7

Kiat Sukses Berhenti Rokok Saat Ramadan

Agar Anda atau orang yang ada sayangi berhasil menjadikan momen Ramadan ini untuk berhenti merokok, cobalah tips-tips berikut ini :

10511083_717543841614648_8207448745244727884_n

Berhenti Merokok

  • Cari tahu sebab Anda ingin berhenti merokok. Alasan untuk meninggalkan merokok bersifat personal. Pentingnya mencari alasan ini agar Anda ingat niat awal saat tergoda merokok kembali. Beberapa pertimbangan berhenti merokok dapat Anda lihat di sini.8
  • Bulatkan tekad dari diri sendiri. Keberhasilan lepas dari rokok akan sulit dicapai bila keinginan berhenti merokok tidak dari diri sendiri. Jadikan berhenti merokok ini satu target kesuksesan dalam hidup.
  • Berdoa dan mohon kekuatan dari Allah SWT. Jadikan upaya ini salah satu motivasi ibadah menjadi pribadi yang lebih baik.
  • Beritahu orang sekeliling Anda agar dapat memberi dukungan dan pengertian
  • Tetapkan tanggal. Anda bisa memulai mengurangi rokok sejak 2 minggu sebelum rencana berhenti.8,9
  • Cari metode berhenti yang paling Anda nyaman. Larangan rokok di siang hari terkadang menimbulkan gejala penarikan nikotin di malam hari. Sehingga pada sebagian orang cara cold turkey atau berhenti rokok total lebih nyaman saat Ramadan. Namun, untuk perokok yang merasa kesulitan dengan metode ini, bisa dicoba cara berikut ini saat sudah berbuka:7

Metode

Cara

Rokok terjadwal

Tetapkan jadwal merokok yang ketat (misalnya setiap jam setelah berbuka) lalu perpanjang jarak antar rokok tiap harinya (misal menjadi 2 jam sekali). Diluar jam itu rokok dilarang sama sekali

Hierarchical smoking

Buat catatan pribadi waktu apa saja yang membuat diri butuh merokok. Lalu kurangi rokok dimulai dari waktu termudah sampai tersulit meninggalkan rokok

Periode bebas rokok

Cara ini dilakukan dengan mencatat waktu istirahat anda dengan merokok lalu secara bertahap kurangi rokok saat ini.

  • Hindari pencetus merokok. Beberapa hal yang membuat Anda kembali ingin merokok misalnya alkohol, perokok lain, dan godaan merokok setelah makan Sampaikan dengan sopan bahwa Anda sedang puasa merokok dan tolaklah tawaran rokok dengan halus. Bagi mereka yang terbiasa merokok setelah makan, coba ganti dengan cemilan ringan seperti buah, makanan penutup sehat, potongan coklat atau permen karet. Jangan lupa sibukkan diri dengan ibadah. 9
  • Antisipasi gejala penarikan nikotin. Sesaat setelah berhenti merokok, tubuh Anda otomatis ‘menagih’ nikotin. Gejala ini biasanya memuncak di hari ke 2-3 sampai beberapa hari atau minggu. Cara mengatasinya misalnya :10,9

Gejala

Cara mengatasi

‘Sakau’ rokok

Tenangkan diri beberapa saat, alihkan pikiran, jalan

Mudah marah, tidak sabar

Olahraga, mandi air hangat, relaksasi, hindari kafein

Insomnia

Hindari kafein, relaksasi, olahraga sebentar, baca sebelum tidur

Mudah lelah

Tidur sebentar, jangan terlalu menekan diri Anda

Kurang konsentrasi

Kurangi beban kerja, hindari stress

  • Beri penghargaan atas tiap usaha Anda.
  • Minta pertolongan medis. Penelitian membuktikan bahwa kombinasi konseling, terapi perilaku dan bantuan obat merupakan cara paling efektif dengan tingkat keberhasilan tertinggi dalam berhenti merokok. Anda bisa mengunjungi Puskesmas, dokter keluarga atau klinik merokok. 11–13

Agustina Kadaristiana, dr.

06/04/2015

Referensi

  1. Dyer O. Tobacco industry sought to prevent Islamic fatwas against smoking. BMJ. 2015 Apr 28;350:h2281.
  2. Smoking is prohibited but not like drinking alcohol in sin. Fatwa No : 231226. Islamweb. :15 December 2013.
  3. Ghouri N, Atcha M, Sheikh A. Influence of Islam on smoking among Muslims. BMJ. 2006 Feb 2;332(7536):291–4.
  4. Fatwa MUI, Rokok Hukumnya Makruh dan Haram. Pus Inf Dan Humas Kementeri Agama [Internet]. Available from: http://kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=81811www.metrotvnews.com
  5. Baits AN. Mengapa Rokok Membatalkan Puasa dan Inhaler Tidak Membatalkan Puasa? [Internet]. Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam. [cited 2015 Jun 4]. Available from: http://www.konsultasisyariah.com/rokok-membatalkan-puasa/
  6. A fasting person smelling the smoke of incense, cigarettes and scented candles. Fatwa No : 128689. Islamweb [Internet]. 2009 Nov 4; Available from: http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=128689
  7. Aveyard P, Begh R, Sheikh A, Amos A. Promoting smoking cessation through smoking reduction during Ramadan. Addiction. 2011 Aug 1;106(8):1379–80.
  8. Nancy A Rigotti, MD, Stephen I Rennard, MD, David M Daughton, MS. Overview of smoking cessation management in adults. Uptodate. 2015 Feb 24;
  9. Robinson L, Melinda Smith, M.A. How to Quit Smoking A Guide to Kicking the Habit for Good. Helpguide.org. :April 2015.
  10. Overcoming Addiction: Paths toward recovery [Internet]. Harvard Health. [cited 2015 Jun 4]. Available from: http://www.health.harvard.edu/addiction/overcoming-addiction-paths-toward-recovery
  11. Syarifah F. 3 Tempat Ini Bantu Anda Berhenti Merokok [Internet]. liputan6.com. [cited 2015 Jun 4]. Available from: http://health.liputan6.com/read/2125975/3-tempat-ini-bantu-anda-berhenti-merokok
  12. Stead LF, Lancaster T. Combined pharmacotherapy and behavioural interventions for smoking cessation. Cochrane Database Syst Rev. 2012;10:CD008286.
  13. Suls JM, Luger TM, Curry SJ, Mermelstein RJ, Sporer AK, An LC. Efficacy of smoking-cessation interventions for young adults: a meta-analysis. Am J Prev Med. 2012 Jun;42(6):655–62.

9 Alasan Ini Membuat Anda Ingin Berhenti Merokok

Seringkali kita dibuat frustasi saat mengajak pasangan, keluarga, atau orang lain untuk berhenti merokok padahal mereka sudah tahu bahayanya. Sama halnya dengan yang dialami perokok ketika ingin berhenti tetapi sulit untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Lalu bagaimana solusinya?

Pahami Mengapa sulit melepaskan diri dari rokok
Saat pertama mulai merokok, orang biasanya tidak sadar dan merasa rokok membahayakan tubuh mereka. Iklan rokok, media, internet atau film secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa merokok itu keren, dewasa, gagah dan glamor. Bayangkan saja, rokok tampil di 2 dari 3 film hit box office tahun 2005 dan lebih dari sepertiganya film remaja. Padahal perlahan-lahan rokok menggerogoti tubuh mereka. Sebab itu lah rokok disebut “gradual killer” oleh WHO. Pasalnya saat perokok merasakan gejala penyakit, mereka sudah terlanjur kecanduan nikotin.1–3

Tidak heran mengapa perokok mudah menjadi pecandu. Nikotin yang terdapat dalam rokok memiliki dapat mengaktivasi reseptor di otak untuk melepaskan dopamin yang menyebabkan adiksi. Selain itu, nikotin dapat menstimulus psikomotor sehingga pemakainya merasakan peningkatan performa otak dan konsentrasi. Namun, tubuh kita amat cepat kebal dengan efek stimulan ini. Sehingga perokok kronis dapat tidak merasakan peningkatan stimulus tadi. 3

Adiksi Nikotin (http://jerushaellis.ca/illustrations/nicotine-addiction-and-your-brain/)

Adiksi Nikotin (http://jerushaellis.ca/illustrations/nicotine-addiction-and-your-brain/)

Banyak juga yang bilang bahwa merokok dapat menenangkan. Padahal, hanya sedikit bukti penelitian yang menyebutkan nikotin memiliki efek meditasi, perbaikan mood, dan manajemen stress. Salah satu penjelasan mengapa perokok merasa tenang dengan merokok ialah gejala penarikan nikotin. Saat tidak merokok, perokok mulai mengalami gangguan mood dan performa dalam beberapa jam. Sehingga mereka tidak bisa lama-lama dari rokok. 3

Pikirkan hal ini sebelum merokok
Kita paham bahwa berhenti merokok butuh keberanian dan tekad yang kuat melawan efek kecanduan nikotin. Seperti kata pepatah “musuh paling besar ialah diri sendiri”. Sehingga butuh dukungan dan kesabaran dari lingkungan untuk membantu keluar dari rokok. Bagi perokok, coba Anda pikirkan hal-hal ini sebelum menyulutkan rokok anda..

  • Merokok tidak akan membuat Anda gagah. Sebaliknya, merokok dapat merusak seluruh organ dalam tubuh dan memperpendek usia anda. Fakta nya, rokok membunuh separuh dari penggunanya sekitar 6 juta orang per tahun. Berikut adalah ilustrasi penyakit yang disebabkan oleh rokok. 4,5
Penyakit yang disebabkan rokok (http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/)

Penyakit yang disebabkan rokok (http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/)

  • Rokok dapat membuat Anda lemah. Ingin tubuh atletis atau six pack ?Hindari rokok sekarang juga. Faktanya zat dari rokok dan mediator inflamasi meningkatkan pemecahan protein dan menghambat sintesis protein. Hal ini menyebabkan penurunan masa otot. Selain itu rokok dapat mengurangi mineral tulang dan meningkatkan kejadian osteoporosis (pengeroposan tulang)6–8
  • Merokok dapat menurunkan ‘keperkasaan’ Anda dan menyebabkan infertil. Mungkin Anda tidak percaya dengan hal ini karena melihat orang lain bisa memiliki anak meskipun merokok. Tetapi berbagai penelitian membuktikan bahwa merokok dapat berdampak negatif bagi hampir semua sistem yang terlibat dalam reproduksi. Penelitian menyebutkan bahwa pada orang yang merokok jumlah dan kualitas spermanya jauh lebih rendah daripada yang tidak merokok. Rokok juga dapat meningkatkan kejadian disfungsi ereksi yang signifikan bagi pemakainya. 9,10
  • Meningkatkan performa otak dengan merokok? Yakin? Penelitian menemukan bahwa pada pertengahan umurnya, perokok berat memiliki resiko 2x lipat mengalami Alzheimer’s atau bentuk lain dari dementia. Alzheimer’s merupakan penyakit degeneratif yang dapat menurunkan fungsi kognitif otak secara drastis.11
  • Merokok tidak akan membuat Anda glamor. Pencitraan yang dibuat oleh iklan ternyata tidak sesuai dengan fakta lapangan. Menurut WHO, 80% perokok tinggal di negara miskin dan menengah. Bahkan, masyarakat di negara maju sudah mulai meninggalkan rokok.4,12 Sebaliknya, berhenti merokok dapat menghemat uang sekitar Rp. 7.380.000 per tahun. Matematika rokok :
    Rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari di Indonesia =12,3 batang/hari13
    Harga rokok/bungkus = Rp.20.000,-
    Harga rokok 1 tahun = 1.025 bungkus x Rp. 20.000,- x 360 hari = Rp. 7.380.000,
Money rolled up in cigarette box, close-up

Uang dan Rokok (http://www.iyaa.com/berita/nasional/umum/1367205_1124.html)

“Badan ini kan urusan saya, terserah dong saya mau merokok atau tidak”. Bila anda masih berpikir demikian, coba pikirkan orang-orang yang anda sayangi di sekitar Anda. Karena faktanya…

  • Anda dapat meningkatkan resiko kematian bayi mendadak atau SIDS (Suddan Infant Death Syndrome) bila merokok. Terlebih lagi bila ibu yang merokok saat hamil. Resiko SIDS 17x lipat lebih tinggi pada bayi yang tidur dalam satu alas dengan ibu yang merokok. 14,15
  • Bila Anda merokok, 23-29% kemungkinan anak anda juga akan merokok. Siapkah Anda melihat buah hati Anda mengikuti jejak Anda merokok saat ia remaja?16
  • Sejak tahun 1964, 2.500.00 orang yang tidak merokok juga meninggal akibat penyakit dari terpapar asap rokok (secondhand smoke). Jadi bukan hanya diri anda yang terkena bahaya rokok tetapi anak-anak, pasangan, keluarga, atau teman di sekitar Anda yang ikut dirugikan. 17
Efek Perokok Pasif Anak Efek Perokok Pasif  Dewasa
SIDS (Kematian mendadak bayi)
Infeksi telinga
Serangan asthma
Gangguan saluran nafas (batuk, bersin, sesak)
Infeksi saluran nafas (bronkitis, pneumonia)
Penyakit jantung
Kanker paru
Stroke, dll
  • Bekas dari rokok juga berbahaya. Tahukah Anda bahwa setelah merokok anda meninggalkan toksin yang sulit dibersihkan? Istilah ini dinamakan thirdhand smoke. Zat nitrossamine yang menempel pada perkakas, kursi, dan ruangan setelah anda merokok ternyata bersifat karsinogen kuat yang dapat menyebabkan kanker. Bila terpapar anak-anak, dampaknya bisa serius. 18
Thirdhand Smoke (https://electrodry-seohacker.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2014/05/second-hand-smoke.jpg)

Thirdhand Smoke (https://electrodry-seohacker.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2014/05/second-hand-smoke.jpg)

Jadi setelah menghitung untung-ruginya, masihkah Anda mau merokok? Kesulitan yang anda alami ketika berusaha berhenti merokok akan terbayar saat anda mencoba dan berhasil.

Agustina Kadaristiana, dr.

Modifikasi Terakhir : 06/04/2015

Referensi

  1.  We know it can kill us: Why people still smoke – CNN.com [Internet]. CNN. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.cnn.com/2014/01/11/health/still-smoking/index.html
  2. Why do people start smoking? Am Cancer Soc. 2014 Feb 13;
  3. Jarvis MJ. Why people smoke. BMJ. 2004 Jan 29;328(7434):277–9.
  4. WHO | Tobacco [Internet]. WHO. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs339/en/
  5. Health CO on S and. Smoking and Tobacco Use; Fact Sheet; Health Effects of Cigarette Smoking [Internet]. Smoking and Tobacco Use. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/health_effects/effects_cig_smoking/
  6. Abate M, Vanni D, Pantalone A, Salini V. Cigarette smoking and musculoskeletal disorders. Muscles Ligaments Tendons J. 2013 Jul 9;3(2):63–9.
  7. Degens H, Gayan-Ramirez G, van Hees HWH. Smoking-induced Skeletal Muscle Dysfunction. From Evidence to Mechanisms. Am J Respir Crit Care Med. 2015 Jan 12;191(6):620–5.
  8. Petersen AMW, Magkos F, Atherton P, Selby A, Smith K, Rennie MJ, et al. Smoking impairs muscle protein synthesis and increases the expression of myostatin and MAFbx in muscle. Am J Physiol – Endocrinol Metab. 2007 Sep 1;293(3):E843–8.
  9. Cao S, Yin X, Wang Y, Zhou H, Song F, Lu Z. Smoking and risk of erectile dysfunction: systematic review of observational studies with meta-analysis. PloS One. 2013;8(4):e60443.
  10. Mostafa T. Cigarette smoking and male infertility. J Adv Res. 2010 Jul;1(3):179–86.
  11. Cataldo JK, Prochaska JJ, Glantz SA. Cigarette smoking is a risk factor for Alzheimer’s disease: An analysis controlling for tobacco industry affiliation. J Alzheimers Dis JAD. 2010;19(2):465–80.
  12. harry. April 2015, Harga Rokok Bakal Naik Jadi Rp. 20 Ribu per Bungkus [Internet]. Jakartakita.com. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://jakartakita.com/2015/03/15/april-2015-harga-rokok-bakal-naik-jadi-rp-20-ribu-per-bungkus/
  13. Prof Tjandra Yoga Aditama. Data Rokok. Depkes [Internet]. 2014 Jun 3; Available from: http://www.litbang.depkes.go.id/berita-data-rokok
  14.  Syndrome TF on SID. SIDS and Other Sleep-Related Infant Deaths: Expansion of Recommendations for a Safe Infant Sleeping Environment. Pediatrics. 2011 Oct 17;peds.2011–284.
  15. Blank Layout Test [Internet]. WebMD. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.webmd.com/modules/sponsor-box
  16. Vuolo M, Staff J. Parent and Child Cigarette Use: A Longitudinal, Multigenerational Study. Pediatrics. 2013 Aug 5;peds.2013–0067.
  17. Health CO on S and. Smoking and Tobacco Use; Fact Sheet; Secondhand Smoke [Internet]. Smoking and Tobacco Use. [cited 2015 Jun 2]. Available from: http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/secondhand_smoke/general_facts/
  18. Matt GE, Quintana PJE, Destaillats H, Gundel LA, Sleiman M, Singer BC, et al. Thirdhand Tobacco Smoke: Emerging Evidence and Arguments for a Multidisciplinary Research Agenda. Environ Health Perspect. 2011 Sep;119(9):1218–26.

Kiat Aman Mengajarkan Puasa Pada Anak

Marhaban ya Ramadhan 🙂 Hanya dalam hitungan hari umat Islam seluruh dunia akan merayakan bulan puasa. Tak terkecuali anak-anak yang ikut meramaikan dengan pesantren, pergi tarawih sampai ikut berpuasa. Meskipun anak yang belum puber tidak wajib berpuasa, seringkali orangtua ingin melatih anak berpuasa dari sejak dini. Lalu apa saja yang perlu ayah bunda perhatikan sebelum mengajak si kecil ibadah shaum?

Kenali Dampak Kesehatan Puasa Pada Anak

Anak bukanlah ‘dewasa kecil’. Saat anak-anak terjadi proses pertumbuhan yang aktif-aktifnya. Sehingga perbedaan antara anak-anak dan dewasa bukan hanya terletak pada ukuran tetapi juga pada proses metabolisme. Termasuk salah satunya perbedaan respon tubuh anak saat berpuasa. Beberapa hikmah mengapa anak tidak diwajibkan berpuasa misalnya:

  1. Semakin muda usia anak, semakin mudah terkena hipoglikemia (kurang gula darah). Fakta ini didapatkan dari penelitian yang melibatkan 167 anak sehat untuk melakukan puasa makan namun boleh minum. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi 3 berdasarkan umur (0-2 tahun; 2-7 tahun; >7tahun). Lalu, anak-anak tersebut dites hasil darahnya pada jam-jam tertentu. Hasilnya, semakin muda usia anak, semakin cepat tubuhnya mengalami hipoglikemia (kurang gula darah) saat puasa. 1
  2. Proses pemecahan simpanan gula dalam tubuh lebih cepat dialami anak yang lebih kecil. Hal ini diduga sebagai respon dari lebih cepatnya gula darah menurun pada anak kecil yang berpuasa. 1
  3. Penurunan kadar Hemoglobin dan zat besi yang signifikan pada anak praremaja (usia 9-12 tahun) di minggu terakhir Ramadan. 2
  4. Penurunan jumlah jam tidur. Semakin dini usia anak, semakin besar pula kebutuhan tidurnya. Bangun sahur dan solat tarawih dapat memperpendek jam tidur anak. Meskipun kualitas tidur bisa tidak terganggu bila anak tidur di siang hari atau anak membalas tidur setelah bulan Ramadan selesai. 2
  5. Perubahan kognitif. Hasil riset menyebutkan bahwa anak pra remaja (9-12 tahun) mengalami penurunan fokus pada minggu ke-4 Ramadan. Hal ini mungkin mempengaruhi performanya di sekolah. 2
32-muslims-photo-ramadan-2011

Shaum anak (http://www.ummahweb.net/?p=4048)

Lalu bolehkah saya mengajak berpuasa?
Tentu banyak pertimbangan penting dari orang tua ketika ingin mengajarkan anaknya berpuasa. Sehingga keputusan mengajak anak berpuasa sepenuhnya ada di tangan orangtua. Namun, penting sekali untuk memahami kondisi anak baik mental maupun fisik. Agar anak dapat mencerna pendidikan puasa ini sesuai kemampuannya.

Kapan waktu yang aman mengajarkan anak berpuasa?
Bila sudah puber, anak sudah diwajibkan puasa dan sudah dinilai aman untuk berpuasa penuh layaknya orang dewasa. Sebelum puber, usia bisa dimulai berpuasa tergantung pada kondisi masing-masing anak. Namun, menurut panduan puasa sehat dari National Health Services United Kingdom, anak di bawah usia 6-7 tahun tidak dianjurkan berpuasa penuh. Alternatifnya, mereka dapat diajarkan untuk ‘mencicipi’ puasa beberapa jam atau separuh hari. 3

Tips Aman Mengajak Anak Berpuasa4–6

  • Utamakan makna. Mulailah bercerita mengenai makna puasa pada anak sejak dini agar anak dapat lebih ringan menjalani puasa saat ia sudah siap. Salah satu ide yang mungkin mudah ditangkap anak ialah mengajarkan arti puasa sebagai ibadah sosial. Saat puasa kita dapat memahami rasa lapar yang sehari-hari dirasakan kaum dhuafa. Baik sekali bila orangtua mengajak anak melihat langsung ke panti asuhan atau lingkungan dhuafa sambil bersedekah atau berbuka bersama.

sedekah2

  • Jadikan puasa momen menggembirakan. Bila anak fokus pada aktivitas menahan lapar dan haus, tentu akan terasa berat. Katakan pada anak bahwa puasa ialah bulan yang penuh bonus dan pahala. Ajak anak untuk menyambut Ramadan dengan hal-hal menggembirakan seperti dekor rumah, mengajak belanja makanan untuk berbuka, ngabuburit ke masjid, dll. Buat suasana agar anak dengan sendirinya tertarik untuk ikut ibadah di bulan Ramadan.
0206dafc1fbe0268c37ef7b6a91ff103

https://www.pinterest.com/explore/ramadan-decorations/

  • Ajarkan puasa secara bertahap. Balita tidak disarankan untuk berpuasa penuh sekaligus. Sehingga anda bisa memulai dari mengajak sahur atau berbuka saja sampai puasa beberapa jam. Terus pantau kondisi anak selama berpuasa dan konsultasikan ke dokter bila anak anda memiliki penyakit penyerta.
  • Peduli pada emosi. Ibadah puasa bukan serta merta menahan lapar dan haus. Ajari anak bersikap sabar dan jujur.
  • Alihkan saat lapar. Saat di siang hari, Anda bisa mengajaknya bermain atau tidur agar anak bisa lupa sejenak dengan laparnya.
  • Kenali tanda ia perlu berbuka. Anak prapubertas cukup rentan terhadap hipoglikemia atau kurang gula. Tanda ia dehidrasi atau kurang gula ialah lemas, rewel, kurang responsif, menggigil, tidak keluar air mata saat menangis sampai pingsan. Bila ada tanda-tanda demikian sebaiknya lekas berbuka.
  • Sediakan makanan bergizi dengan porsi sesuai. Kebutuhan nutrisi anak saat berpuasa tidaklah berubah dengan nutrisi sehari-hari. Hati-hati dengan asupan berlebih akibat ‘balas dendam’ saat berbuka. Hal ini benar terjadi dan sudah dibuktikan dari penelitian bahwa pada bulan Ramadan asupan kalori anak malah meningkat.2
  • Pahami kebutuhan tidur. Saat ramadan waktu tidur anak mungkin berkurang karena sahur atau tarawih. Ajak anak tidur siang untuk mengkompensasi tidur malam.
  • Beri penghargaan, hindari tekanan. Pahami bahwa beribadah ialah proses belajar. Hindari memaksa atau menekan anak bila belum bisa bangun sahur atau ikut puasa. Beri ia penghargaan dan apresiasi atas peningkatan usahanya agar anak senang dan bisa beribadah dengan sukarela.

Bagaimana dengan ayah bunda? Bagikan pengalaman Anda mengajak anak berpuasa pada kolom komentar di bawah ini ya 🙂 Semoga bermanfaat…

Agustina Kadaristiana, dr, Kiki Barkiah

Modifikasi terakhir : 05/27/2015

Referensi

1. Veen MR van, Hasselt PM van, Velden MGM de S der, Verhoeven N, Hofstede FC, Koning TJ de, et al. Metabolic Profiles in Children During Fasting. Pediatrics. 2011 Apr 1;127(4):e1021–7.
2. Farooq A, Herrera CP, Almudahka F, Mansour R. A Prospective Study of the Physiological and Neurobehavioral Effects of Ramadan Fasting in Preteen and Teenage Boys. J Acad Nutr Diet [Internet]. [cited 2015 May 25];0(0). Available from: http://www.andjrnl.org/article/S221226721500163X/abstract
3. Dr Razeen Mahroof, BM, MRCP(UK), FRCA, Dr Rizwan Syed, BM, DRCLG, Dr Ahmed El-Sharkawy, BM, MRCP(UK), Tehseen Hasan, BSc(Hons), Sahra Ahmed, MPharm, Dr Fuad Hussain. Ramadhan Health Guide [Internet]. Communities in Action; 2007. Available from: http://www2.warwick.ac.uk/services/equalops/resources/a_guide_to_healthy_fasting.pdf
4. 99 Tips to Help Kids Fast during Ramadan [Internet]. American Muslim Mom. [cited 2015 May 27]. Available from: http://americanmuslimmom.com/99-tips-kids-fast-ramadan
5. [Ramadan Series] 10 Tips to Help Moms Make Ramadan Fun for Kids [Internet]. ProductiveMuslim.com. [cited 2015 May 27]. Available from: http://productivemuslim.com/10-tips-to-help-moms-make-ramadan-fun-for-kids/
6. TanyaDok.com | Kapan Puasa Untuk Anak Dimulai, Dok? | Page 3 of 3 [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2015 May 27]. Available from: http://www.tanyadok.com/anak/kapan-puasa-untuk-anak-dimulai/3/

Waktu Kadaluarsa Obat yang Telah Dibuka

Saat demam, badan menggigil, kepala pusing dan seakan tertiban reruntuhan gedung, dengan sempoyongan saya pun pergi ke lemari penyimpanan obat. Alhamdulillah, ada banyak sekali obat disana. Berbagai obat tersimpan rapi sejak menikah dan mempunyai anak 3 tahun yang lalu. Dengan sedikit meraba-raba sambil menahan penatnya kepala, akhirnya saya menemukan obat dengan gambar wajah yang sama sakitnya dengan saya sekarang ini, berjudul parasetamol dengan penjelasan untuk sakit kepala. Setelah mencari tanggal expire date, dan akhirnya tidak ketemu karena telah terobek dan hilang, akankah saya langsung meminumnya?

Menyimpan obat merupakan hal yang hampir dilakukan oleh orang tua di rumah. Beberapa memang sengaja dibeli untuk persediaan kondisi darurat, yang lain mungkin saja merupakan sisa obat yang diresepkan dokter pada beberapa waktu lampau. Sebagian besar orang yang menyimpan obat tentunya memiliki sumber panutan untuk menentukan apakah obat yang tersedia di rumah itu masih layak digunakan atau tidak, dan biasanya yang menjadi rujukan adalah tanggal kadaluwarsa atau expire date, yang biasanya tertera di kotak obat. Nah, tetapi kerap kali obat-obatan yang sudah digunakan tidak ditemukan lagi tulisan waktu manufaktur ataupun waktu kadaluarsanya karena sudah terobek saat penggunaan sebelumnya. Lalu bagaimana menentukan apakah obat tersebut masih layak dikonsumsi? Dan apa sebenarnya arti dari tanggal kadaluarsa itu sendiri?

expired-drugs

Menurut Guidance NHS, Sheffield Clinical Commision Group dan Berkshire East Care Home Prescribing Suppor Pharmacist, definisi dari expire date atau tanggal kadaluarsa adalah suatu waktu dimana produk farmasi (obat) sudah dalam kondisi yang tidak efektif untuk digunakan.(1,2) Dengan kata lain, obat tersebut sudah berada pada akhir masa dimana spesifikasi potensi dan parameter penting lainnya sudah tidak sama seperti pada saat awal diproduksi. Penggunaan obat yang melewati tanggal kadaluarsa akan menghasilkan kadar zat aktif obat yang lebih rendah, dapat menyebabkan ketidaknyamanan pengguna obat, atau bahkan dapat membahayakan bagi tubuh.(3) Pada obat yang telah kadaluarsa, tidak dapat dipastikan kondisi zat-zat yang aktif didalam obat tersebut. Sehingga, lebih baik untuk tidak menggunakan obat yang sudah melampaui masa kadaluarsa yang tertera pada label obat.

Namun demikian, apakah kondisi kadaluarsa hanya bergantung pada tanggal yang tertera pada label obat saja? Tanda tanggal kadaluarsa manufaktur yang tertera di kontainer obat merupakan tanggal kadaluarsa pada obat yang belum dibuka(1). Pada saat dibuka, obat sudah tidak berada pada kondisi lingkungan yang sama lagi, sehingga kemungkinan dapat terjadi perubahan-perubahan pada obat. Beberapa perubahan yang dapat terjadi pada obat adalah(3):

1. Degradasi
Tanggal kadaluarsa bergantung pada kondisi penyimpanan yang spesifik dan juga masing-masing obat memiliki kecepatan perubahan (dekomposisi) yang berbeda-beda. Sebagai contoh, obat amoksilin dalam bentuk suspensi (bubuk yang dicairkan dengan larutan) memiliki masa kadaluarsa 14 hari bila diletakkan pada temperature ruangan (25 derajat Celsius), sedangan tablet kombinasi trimetroprim/sulfametoxazol memiliki ketahanan hingga 5 tahun bila diletakkan pada suhu dibawah 30 derajat Celsius.

Yang termasuk pada proses degradasi antara lain hidrolisis, oksidasi dan degradasi oleh cahaya.(3) Namun demikian, meskipun semua faktor yang menyebabkan degradasi berhasil dikontrol (obat aman dari hal-hal yang dapat menyebabkan degradasi), pada kenyataannya degradasi pasti akan terjadi, namun dengan lebih lambat.

Hidrolisis

Kecepatan hidrolisis dipengarusi oleh keberadaan air dan dapat dikurangi dengan mengurangi paparan dengan air. Sebagai contoh, antibiotik amoksisilin memiliki beberapa bentuk sediaan, yang hampir kesemuanya pasti pernah diresepkan oleh dokter, yaitu tablet, kapsul, sirup bubuk (yang belum diberi air) dan injeksi (obat suntik). Seluruh sediaan itu paling tidak memiliki masa tenggang sekitar 2 tahun sebelum kadaluarsa. Namun demikian, setelah sirup bubuk diberi air (setelah diresepkan, tentunya obat-obatan dibuat di apotek menjadi bentuk yang dapat langsung dikonsumsi, misalnya sirup bubuk langsung dibuat menjadi sirup cair), masa tenggang obat tersebut tinggal 14 hari pada penyimpanan di suhu ruangan (25 derajat Celsius). Bila obat disimpan pada kondisi udara yang panas, maka masa tenggang obat tersebut dapat menjadi berkurang drastis hingga 7 hari saja.

Sedangkan untuk obat injeksi (obat suntik), Setelah dibuka harus langsung digunakan. Hal ini dikarenakan pada sirup yang telah dibuat cair telah dibuat sedemikian rupa sehingga pH didalam sirup cair tersebut dapat meminimalisir hidrolisis (pH buffer), sedangkan pada amoksisilin injeksi merupakan cairan tanpa adanya pH buffer.

Oksidasi dan fotodegradasi 

Sebagian obat bereaksi dengan oksigen, sehingga dengan hanya dibuka (sehingga obat berinteraksi dengan udara bebas yang mengandung oksigen) dapat menyebabkan degradasi. Biasanya, obat-obat ini akan dibuat dengan sediaan cair dalam bentuk ampul. Memang oksigen dapat berada diatas cairan yang berada di ampul, namun pada pembuatannya, oksigen ini akan ditarik keluar sehingga bagian atas cairan didalam ampul akan menjadi hampa udara.

Pada cairan injeksi, control pada pH dan dijauhkan dari cahaya dapat mengurangi oksidasi. Sedangkan pada obat berbentuk tablet, seperti chlorpromazine, bentuk penyimpanan obatnya diberi warna untuk memberi proteksi terhadap cahaya

2. Kontaminasi
Beberapa obat tetes, seperti obat tetes mata, setelah dibuka berisiko untuk terkontaminasi oleh kotoran atau bahkan bakteri/virus di udara. Oleh karena itu, disarankan untuk sebaiknya tidak mengunakan obat tetes mata bersama-sama dan setelah dibuka sebaiknya diletakkan di dalam refrigerator (kulkas) dan tertutup rapat untuk menghindari kontaminasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan waktu kadaluarsa terdapat perbedaan antara obat yang belum dibuka dan yang sudah dibuka, dan juga bergantung pada kondisi penyimpanan. Memang terkadang sering menimbulkan kebimbangan mengenai apakah obat yang sudah pernah dikonsumsi sebelumnya masih dapat digunakan dikemudian hari bila sakit kembali. Apabila obat telah dibuka sebelumnya, sebaiknya tidak disimpan terlalu lama dan sebaiknya diletakkan di lemari pendingin. Berikut adalah tabel waktu yang disarankan untuk penyimpanan obat yang telah dibuka sebelumnya:

Tabel Kadaluarsa yang Disarankan sejak Tanggal dibuka(1,4)

Formulasi/BentukWaktu Kadaluarsa yang disarankan setelah dibuka (kecuali di cantumkan oleh produsen obat dan masih belum mencapai tanggal kadaluarsa manufaktur)Alasan
krim/ointment1 bulanKandungannya terpapar dan dapat terkontaminasi
Krim/ointment yang dituang dari wadah yang lebih besar1 bulan atau lihat saran manufakturMemindahkan wadah dapat menyebabkan kontaminasi
Krim yang dibuat untuk individualTanyakan pada saran farmasi yang memberikanBergantung pada stabilitas produk
krim/ointment berbentuk tube3 bulanKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Pack penyimpan dengan pompa untuk krim/ointmentBerdasarkan simbol kadaluarsa manufakturKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Tablet/kapsul dalam sistem dosis monitoring (dimasukkan ke dalam wadah harian)2 bulanTidak ada tanda yang tercetak untuk MDS
Tablet/kapsul/cairan yang dimasukkan ke dalam wadah/ botol farmasi6 bulan sejak dipindahkan atau tanyakan pada saran farmasiBergantung pada stabilitas obat
Pak bagian dari tablet/kapsul yang masih pada kemasan, manufaktur pada pak aslinyaBerdasarkan tanggal kadaluarsa yang tertera. Bila tidak ditemukan, tanyakan pada farmasiKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Bila tidak ada tanggal kadaluarsa yang tertera pada kemasan, ada risiko bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa
Cairan oral pada wadah aslinya6 bulan, kecuali ditetapkan oleh manufakturPaparan cairan terhadap lingkunagn pada saat pengukuran dosis dapat menyebabkan kontaminasi
Tetes/ ointment mata, telinga, hidung1 bulan ( hingga 3 bulan untuk tetes hidung dan telinga4)Rekomendasi manufaktur
Inhaler (obat hirup)Berdasarkan tanggal kadaluarsa manufakturKontainer tertutup, isi tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar
Insulin4 minggu untuk insulin vial dan pen, kecuali dipaparkan oleh manufakturPenutup steril sudah terbuka dan mungkin disimpan diluar pendingin

Beberapa hal penting dalam penyimpanan obat:

  • Simpan obat-obatan dalam wadah/pack aslinya
  • Simpan obat-obatan dalam kotak terluarnya, untuk melindungi dari cahaya matahari
  • Semua obat disimpan dalam suasana dingin (dibawah 25 derajat Celsius) dan tempat yang kering, kecuali diharuskan disimpan di lemari pendingin
  • Tanggal kadaluarsa dapat berubah setelah dibuka pertama kali
  • Catat tanggal pertama kali obat dibuka dan perhitungan kadaluarsa berdasarkan lama masa tenggang obat setelah dibuka dan tempelkan pada obat
  • Jangan gunakan obat yang telah mencapai tanggal kadaluarsa
  • Simpan sesuai rekomendasi manufaktur
  • Perhatikan tanggal kadaluarsa sebelum obat digunakan.
  • Cuci tangan sebelum menggunakan obat berbentuk krim/lotion
  • Obat-obatan sebaiknya digunakan hanya untuk 1 orang, terutama berbahan krim, tetes mata/telinga/hidung, dan juga lotion. Jangan menggunakan obat bersama-sama.

Titania Nur Shelly, dr.,MARS

Referensi:

  1. NHS, Sheffield clinical Commisioning Group. Good Practice Guidance for Care Homes – Expiry dates. 2013.
  2. Bilal, S. Care Home Prescribing Support Pharmacist. In: NHS, Berkshire East Good Practice Guidance 4: Expire Dates for Medication. Issue date: Dec 2012. Review date: Dec 2014.2.
  3. Dawson, M. Expiry Dates. Aust Prescr;17.1994. 46-8.
  4. NHS, Oxfordshire Clinical Commissioning Group. Good Practice GuidanceQ: Guidance on the Expiry Dates and Storage of Medicine in Care Homes (with or without Nursing). Date of Review: Nov 2014
  5. Health Quality and Safety Commision New Zealand. Medicine Expiry Dates- What do They Mean?. In: Medication Safety Watch: Issue 5, February 2013. 1.

Tips Membersihkan Rumah Bagi Penderita Alergi

Membersihkan rumah tentunya bukan pekerjaan mudah bila ada penderita alergi di rumah. Terlebih lagi bila penderita alergi tersebut ialah ibu yang berperan membersihkan rumah. Bisa jadi menjadi pekerjaan berat karena debu atau kotoran yang berterbangan saat dibersihkan bisa mencetuskan alergi atau asma. Termasuk bahan-bahan kimia pada cairan pembersih yang bisa membuat tangan yang sensitif menjadi gatal dan iritasi. Padahal kondisi rumah yang bebas dari alergen (misalnya debu, bulu hewan piaraan dan tungau) ialah syarat penting untuk mencegah reaksi alergi bagi penderitanya. Lalu bagaimana cara agar rumah menjadi sehat dihuni penderita alergi tanpa menyiksa penderita alergi yang membersihkan rumah tersebut? Yuk simak langkahnya

1. Kenali Jenis-jenis Alergen 

Alergen ialah substansi yang biasanya tidak berbahaya tetapi dapat mencetuskan respon alergi pada penderita yang hipersensitif. Reaksi hipersensitifitas yang cepat paling umum terjadi pada anak-anak dan dewasa muda dengan penyakit asthma dan rhinitis. Beberapa sumber yang menjadi alergen ialah tungau, kecoa, kucing dan anjing. (1)

  • Tungau (Dermatophagoides pteronyssinus dan D.farinae) adalah hewan antropoda dari kelas Arachnida yang berkoloni di sofa, sprei/selimut, karpet dan materi berbahan dasar kain lainnya. Tungau tidak menggigit, dan diluar kemampuannya mencetuskan alergi, tidak ada pengaruh lain yang berbahaya pada manusia. Ukuran tungau sangatlah kecil dan tidak bisa dilihat secara kasat mata sehingga menjadi kendala untuk mengedukasi penderita alergi. Feses dari tungau yang mengandung protein, endotoxin, enzim dan DNA bisa menjadi stimulus imun bagi penderita alergi. (2–4)
  • Hewan peliharaan merupakan sumber alergen yang umum pada penderita alergi yang reaktif terhadap kucing, anjing atau keduanya. Hewan eksotis yang mulai dipelihara seperti reptil, burung, serangga dan monyet juga dilaporkan dapat mencetuskan alergi.(5)Alergen utama dari hewan peliharaan ialah kulit yang terkelupas. Membersihkan alergen dari hewan peliharaan termasuk sulit karena partikelnya yang kecil sehingga bisa tetap di dalam udara dalam periode yang lama. (4)
  • Kecoa bisa menjadi sumber alergen. Penelitian dari 476 anak melaporkan bahwa kombinasi tes kulit spesifik yang positif dan paparan terhadap kecoa berkaitan dengan angka perawatan di rumah sakit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tidak ada kombinasi ini. (6,7)
  • Jamur dan Spora dalam rumah termasuk sumber alergen yang terdapat di rumah yang kelembabannya tinggi, genangan air, atau air yang bocor.(4)
  • Tikus menghasilkan urin yang mengandung protein yang menjadi sumber alergen di perkantoran, sekolah dan rumah. Bayi yang terpapar dengan alergen ini berhubungan dengan perkembangan asthma.(4)

2. Proteksi Diri Anda
Bila anda mengidap alergi, paling baik ialah menyerahkan tugas membersihkan rumah kepada orang lain. Namun, bila tidak memungkinkan, anda tetap bisa membersihkan rumah dengan persiapan yang memadai. Sebagai contoh, anda bisa menggunakan masker bila tidak bisa terkena debu, menggunakan sarung tangan berbahan plastik saat mencuci piring, mengepel, menyikat kamar mandi dsb, lalu menghindari bahan-bahan pembersih yang bisa mengiritasi kulit sensitif.(8) Seperti :

BahanProduk
AmoniaDisinfektan, pembersih lantai, kaca, jendela, pembersih serbaguna
Chloride dan alkyl ammonium chloridePenghilang jamur dan lumut
Ammonium hydroxidePenghilang noda
Hydrochloric acidPembersih saluran air/pipa
Hypochloric acid Pembersih toilet bowl
Lye (larutan alkali)Pembersih oven, saluran air
Petroleum distillatesSemir dan wax furnitur
Petroleum solventsPembersih lantai
PhenolPembersih antibakteri, toilet bowl, semir furnitur
Sodium bisulfate Pembersih toilet bowl
Sodium hypochlorite Disinfektan, pembersih noda, pembersih serbaguna
Sodium or potassium hydroxide Pembersih saluran air, pembersih oven

3. Pilih Produk yang Bersahabat
Produk kebersihan yang keras bisa mencetuskan reaksi asthma dan alergi. Tentunya hal ini perlu dihindari oleh penderita alergi. Produk pilihan yang ramah dengan penderita alergi ialah yang terdapat label “green”, “ramah lingkungan”, “non-toksik”, “biodegradable”, “bebas fosfat”, “bebas VOC” atau “bebas pelarut”. (9) Selain itu, anda juga dapat meramu produk pembersih sendiri dari lemon, cuka dan baking soda (American Academy of Asthma and Immunology).(10)

  • Cara 1 : semprotkan cuka langsung pada dinding, tidak perlu di basuh, biarkan kering dengan sendirinya.
  • Cara 2 : Campur 2 gelas cuka, 2 gelas air yang sangat panas, dan ½ gelas garam dan 2 gelas borax. Biarkan larutan tersebut di area yang kotor selama 30 menit. Letakkan campuran tersebut lagi, lalu gosok dan bilas dengan air biasa.

4. Tips Membersihkan Ruangan

  • Bersihkan lantai atau karpet dengan vakum HEPA (high-efficiency particulate air) filter minimal seminggu sekali. HEPA filter ialah filter untuk partikel yang sangat kecil. Saat menyedot alergen dengan vakum HEPA filter, alergen akan tidak akan lolos keluar dari vakum sehingga tidak pindah bebas ke udara
Replacement-HEPA-filters

HEPA Filter

  • Gunakan kain basah untuk mengepel lantai setelah divakum dan mengelap lemari, jendela atau permukaan furnitur agar alergen terjebak dalam kain dan tidak terbang ke udara
  • Gunakan kain pelapis untuk mengontrol alergen seperti sarung untuk bantal, matras, box spring, atau pelapis furnitur. Woven-fabrics (kain yang disulam) dengan ukuran pori 6 mikron disukai karena efektif mengontrol pergerakan tungau dan alergen dari kucing namun masih bisa menjaga aliran udara yang cukup. Ciri-ciri dari material kain ini ialah permukaan yang lembut, harga yang relatif lebih mahal, dan tahan untuk dicuci berulang kali. Sebaliknya, kain non-woven (yang bentuk dan teksturnya mirip handuk kertas/paper towel) bisa mengumpulkan alergen dalam jumlah banyak dan mudah rusak dengan pencucian berulang
  • Ganti sarung bantal dan matras dengan sarung yang beresleting agar tungau tidak bisa masuk
  • Cuci sprei, sarung bantal atau guling dan selimut di air panas atau hangat dengan deterjen atau di dry in di dalam pengering elektrik yang di stel mode panas
  • Gunakan gorden yang mudah dicuci, vinyl atau model gorden yang digulung
  • Buang barang-barang yang bisa mengoleksi debu seperti pernak-pernik. Simpan mainan dalam kontainer plastik agar terbebas dari debu
  • Bila memungkinkan, karpet sebaiknya tidak digunakan atau diganti dengan karpet kecil yang bisa dicuci (area rug). (4,11–13)

5. Tips Membersihkan Dapur

  • Gunakan exhaust fan secara berkala untuk menghilangkan asap masakan dan mengurangi kelembaban udara
  • Buang sampah pada tempat sampah yang tertutup dan kedap serangga juga buang sampah tiap hari
  • Simpan makanan (termasuk makanan hewan peliharaan jika ada) di wadah tertutup dan buang makanan yang berjamur atau sudah kadaluarsa.
  • Bersihkan wastafel/bak cuci piring dan kran setiap hari dari jamur dan sisa makanan
  • Bersihkan alat masak, lap kabinet dapur dan pel lantai. Bersihkan kabinet dapur dan countertop menggunakan deterjen dan air. Cek kebocoran pipa atau air yang menggenang karena bisa jadi sarang jamur dan kecoa.
  • Bersihkan lemari es secara berkala termasuk karet pintu kulkas dari jamur (12,13)

6. Tips Membersihkan Kamar Mandi

  • Gunakan exhaust fan untuk mengurangi kelembaban udara terutama saat mandi
  • Ganti karpet dengan lantai keramik, vinyl, kayu atau linoleum.
  • Ganti wallpaper dengan keramik atau gunakan cat anti jamur pada dinding
  • Sikat bak, shower, kran dengan pemutih. Bersihkan atau ganti tirai kamar mandi atau keset yang berjamur.
  • Sikat pipa dari jamur dan segera atasi bila ada kebocoran. (11–13)

7. Mencuci

  • Jangan gunakan deterjen yang mengandung pewangi karena pewangi dapat merangsang gejala alergi pada beberapa orang yang sensitif.
  • Sebaiknya gunakan dryer daripada menjemur pakaian di udara bebas. Menjemur di udara bebas dapat menjebak alergen seperti pollen dan jamur.11

8. Tindakan lain

  • Jaga temperatur rumah sekitar 20-22oC dan kelembaban <50%. Suhu rumah yang panas dan lembab merupakan tempat yang disukai untuk pertumbuhan tungau dan jamur. AC baik digunakan untuk penderita alergi karena dapat menyaring udara, mencegah tungau, debu, kotoran, pollen dan jamur juga menjaga suhu tetap dingin. Untuk menjaga kelembaban di angka yang diinginkan, bisa gunakan dehumidifiers.
  • Gunakan filter udara yang menggunakan sistem HEPA (high-efficiency particulate air)
  • Bersihkan atau ganti filter partikel kecil di sistem pendingin atau pemanas pusat dan AC paling tidak setiap bulan.
  • Jangan membiarkan hewan peliharaan masuk dalam rumah. Mandikan hewan peliharaan tiap minggu.
  • Kontrol kecoa dan tikus dengan jebakan hewan. Bila tidak efektif, gunakan jasa profesional pemberantas hama. Tutup lubang atau retakan pada dinding untuk mencegah hewan tersebut masuk ke dalam rumah.
  • Jangan merokok di dalam rumah. (4,11–13)

Agustina Kadaristiana, dr.
Sumber

1. Allergen. Am Acad Allergy Asthma Immunol [Internet]. Available from: http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/conditions-dictionary/allergen.aspx

2. Wan H, Winton HL, Soeller C, Tovey ER, Gruenert DC, Thompson PJ, et al. Der p 1 facilitates transepithelial allergen delivery by disruption of tight junctions. J Clin Invest. 1999 Jul;104(1):123–33.

3. Ghaemmaghami AM, Robins A, Gough L, Sewell HF, Shakib F. Human T cell subset commitment determined by the intrinsic property of antigen: the proteolytic activity of the major mite allergen Der p 1 conditions T cells to produce more IL-4 and less IFN-gamma. Eur J Immunol. 2001 Apr;31(4):1211–6.

4. Thomas A E Platts-Mills. Allergen avoidance in the treatment of asthma and allergic rhinitis. Uptodate. 2014 Jan 16;

5. Phillips JF, Lockey RF. Exotic pet allergy. J Allergy Clin Immunol. 2009 Feb;123(2):513–5.

6. Rosenstreich DL, Eggleston P, Kattan M, Baker D, Slavin RG, Gergen P, et al. The role of cockroach allergy and exposure to cockroach allergen in causing morbidity among inner-city children with asthma. N Engl J Med. 1997 May 8;336(19):1356–63.

7. Wang J, Visness CM, Calatroni A, Gergen PJ, Mitchell HE, Sampson HA. Effect of environmental allergen sensitization on asthma morbidity in inner-city asthmatic children. Clin Exp Allergy J Br Soc Allergy Clin Immunol. 2009 Sep;39(9):1381–9.

8. Household Irritants: Skin-Friendly Cleaning Tips for Your Family. WebMD [Internet]. Available from: http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/america-asks-10/cleaning-tips

9. R. Morgan Griffin. Keeping Your House Clean Without Harsh Chemicals. WebMD [Internet]. Available from: http://www.webmd.com/children/environmental-exposure-head2toe/safer-cleaning-products?page=1

10. Mix Your Own Cleaning Solutions. Am Acad Allergy Asthma Immunol [Internet]. 2014; Available from: http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/cleaning-products-for-allergy-and-asthma-sufferers.aspx

11. Melinda Ratini, DO, MS. Housecleaning Tips to Ease Allergies. WebMD [Internet]. 2012; Available from: http://www.webmd.com/allergies/features/allergy-tips

12. Allergy-proof your home. Mayoclinic [Internet]. 2014; Available from: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/in-depth/allergy/art-20049365?pg=2

13. Cleaning Tips for Allergy and Asthma Sufferers. Am Acad Allergy Asthma Immunol [Internet]. 2014; Available from: http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/cleaning-tips-for-allergy-and-asthma-sufferers.aspx

Amankah Mengkonsumsi Daging Merah?

Halo moms.. Pastinya sebagai koki di rumah sudah kenal sekali dengan yang namanya daging merah. Hidangan ini sudah biasa di sajikan sebagai menu makanan sehari-hari bahkan sampai menjadi tradisi khas daerah tertentu di Indonesia. Sebut saja rendang, gulai, dendeng, dan soto daging. Namun, ternyata isu keamanan mengkonsumsi daging merah sedang hangat-hangatnya diperdebatkan. Lalu, seberapa aman kita mengkonsumsi daging merah? Perlukah kita menghilangkan daging merah dan olahannya dari menu keluarga?


Sekilas Tentang Daging Merah

Secara garis besar daging hewan dikelompokkan menjadi dua: daging putih dan daging merah. Daging putih umumnya merujuk kepada daging yang berwarna pucat sebelum dimasak sedangkan dikatakan daging merah bila sebelum dimasak daging berwarna merah. Perbedaan warna tersebut diakibatkan dari kandungan protein myoglobin. Beberapa jenis hewan yang dikategorikan sebagai daging putih misalnya ayam dan ikan. Sedangkan yang tergolong daging merah misalnya daging sapi, domba, kambing dan babi. Daging unggas dengan konsentrasi myoglobin yang tinggi seperti bebek dan angsa sekarang dikategorikan sebagai daging merah meskipun sebelum dimasak warnanya pucat.
Selain itu, jenis daging lain yang menjadi fokus penelitian kesehatan adalah produk daging merah olahan. Produk daging merah olahan didefinisikan sebagai daging yang melewati proses pengawetan seperti pengasapan, pengasinan dan pengeringan atau yang diberi obat untuk menguatkan rasa atau meningkatkan kualitasnya. Contoh daging olahan ialah sosis, kornet, ham, bacon, salami dan peperoni.

Manfaat VS Resiko Mengkonsumsi Daging Merah

Selama ini kita mengidentikkan daging merah dengan sumber gizi yang menyehatkan. Bahkan produk daging merah selalu disebutkan sebagai salah satu lauk pauk dalam 4 sehat 5 sempurna. Selain kaya protein, daging merah juga memiliki rasio omega 6:omega 3 yang lebih baik dari daging putih, serta kaya akan zat besi, selenium, vitamin A, vitamin B12, zat besi, zink, karnitin, koenzim Q10 dan kreatin. Zat-zat gizi ini diketahui memiliki efek yang positif bagi kesehatan dan metabolisme tubuh. Asupan nutrisi yang cukup ini sangat penting dipenuhi terutama untuk ibu hamil, orang tua, serta anak-anak di masa pertumbuhan. Apalagi kelompok usia ini merupakan kelompok yang beresiko kekurangan zat besi dan mikronutrien lain terutama di negara berkembang.

Daging Merah dan Resiko Kanker

Meskipun kaya akan manfaat, kemanaan mengkonsumsi daging merah segar maupun olahan sampai saat ini mengundang kontroversi. Fakta yang mencengangkan muncul dari World Cancer Research Fund dan American Institute of Cancer Research (WCRF/AICR) tahun 2007 yang melaporkan bahwa konsumsi daging merah segar dan olahan meningkatkan resiko kanker usus besar dan rektum (kanker kolorektal). Beberapa penelitan lanjutan pada manusia dan hewan juga mendukung pernyataan ini.
Oestinger dkk (2014)
Ternyata, tidak sampai disini. Beberapa peneliti menemukan resiko lain dari konsumsi daging merah yang tinggi dan daging olahan. Misalnya :

  • Konsumsi daging merah olahan meningkatkan resiko kanker payudara. Uji SU.VI.MAX ini dilakukan secara acak, double-blind, plasebo-kontrol yang melibatkan 4684 wanita selama 8 tahun.
  • Konsumsi daging merah olahan meningkatkan resiko kanker pankreas
  • Setiap kenaikan 120 gram daging merah per hari meningkatkan 35% resiko kanker paru.
  • Konsumsi daging merah meningkatkan resiko kanker hati, esofagus dan penyakit batu empedu.
  • Konsumsi daging merah segar, olahan, dan keduanya meningkatkan resiko penyakit jantung pembuluh darah , stroke, dan diabetes mellitus. Sedangkan konsumsi daging merah olahan saja resiko penyakit jantung dan diabetes mellitus nya lebih tinggi.
  • Konsumsi daging merah dikaitkan dengan peningkatan resiko kematian total, karena penyakit jantung pembuluh darah dan kanker.

Bagaimana Daging Merah Bisa Meningkatkan Resiko Kanker?

Sampai saat ini, terdapat beberapa dugaan mekanisme biologi terkait dengan hubungan antara kanker dan daging merah yaitu adanya pembentukan karsinogenik Heterosiklik Amine (HCA), peroksidase besi dan senyawa N-nitroso (NOC).Pembentukan HCA dan polisiklik aromatik hidrokarbon terjadi akibat proses memasak daging merah dengan temperatur yang sangat tinggi dan waktu yang lama. Sedangkan senyawa NOC bisa terbentuk dari reaksi di usus sendiri atau akibat dari zat Nitrat (pengawet daging olahan) yang masuk ke dalam tubuh. Reaksi ini dipercepat oleh kandungan zat besi yang kaya terkadung dalam daging merah.

Melihat fakta ini kemungkinan besar kita akan panik dan takut untuk mengkonsumsi daging merah. Namun, perlukah kita menghilangkan daging merah dari menu keluarga? Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari ancaman efek samping tersebut?

Cara Aman Mengkonsumsi Daging Merah

Mengingat kandungan nutrisi yang banyak pada daging merah, para ahli termasuk WRCF tidak merekomendasikan untuk menghindari daging merah segar secara total. Namun, ada beberapa hal yang penting diingat untuk mengkonsumsi daging merah secara aman sehingga kejadian kanker dan penyakit lain bisa dicegah.

  • Jalani pola hidup yang sehat. Meskipun daging merah diketahui dapat meningkatkan resiko kanker, namun daging merah bukanlah satu-satunya penyebab kanker kolorektal. Menurut WCRF, rajin berolah raga, konsumsi makanan yang mengandung serat, bawang putih, susu dan kalsium, menghindari alkohol, rokok dan kegemukan juga berperan penting dalam mencegah terjadinya kanker. 
  • Membatasi konsumsi daging merah yang matang sampai kurang dari 500 gram per minggu atau 70 gram/hari. Karena saat dimasak daging mengkerut, dapat disamakan 500 gram daging merah matang sama dengan 700 gram daging merah mentah.  
  • Hindari sama sekali konsumsi daging merah olahan. 
  • Konsumsi makanan yang bersifat protektif terhadap kanker. Penelitian menyebutkan bahwa kalsium (yang terkandung dalam susu dan produknya) melindungi sel usus dari kanker dengan cara mengikat zat besi heme dan membuatnya tidak aktif dalam usus. Makanan kaya akan serat seperti buah, sayur, gandum serta nasi dan kentang diteliti dapat menyehatkan usus dan melindungi dari kanker.
  • Variasikan daging merah dengan sumber protein lain seperti daging putih (ayam dan ikan). Daging putih lebih aman dikonsumsi karena tidak meningkatkan resiko kanker bahkan ikan dapat melindungi sel tubuh dari kanker.
  • Cari alternatif sumber zat besi selain daging merah seperti ikan, dan unggas. Jangan lupa konsumsi vitamin C seperti jeruk untuk meningkatkan penyerapan besi.

Cara Memasak Daging Merah yang Aman

  1. Hindari masak daging merah di suhu yang sangat tinggi (>100 derajat Celcius), di panggang dengan api langsung atau dalam waktu yang lama.
  2. Jangan masak daging terlalu matang karena daging yang well-done lebih banyak mengandung karsinogenik. Cukup masak sampai kira-kira bakteri mati.
  3. Masak dengan cara marinade atau dibumbui terlebih dahulu tanpa bumbu yang mengandung gula. Bumbu yang diketahui dapat melindungi sel dari kanker ialah bawang putih (mengandung selenium) dan kurkumin.
  4. Bolak-balikan daging secara sering saat memasak dengan spatula atau pencapit daripada menggunakan garpu. Membalikkan daging dengan garpu dapat mengeluarkan cairan dalam daging yang bisa merangsang letupan panas. Intinya, jangan mengeluarkan cairan dalam daging saat memasak. Baik dengan garpu atau dengan menekan pakai spatula. 
  5. Hindari memanggang dengan api langsung. Namun, bila tetap ingin memanggang sebaiknya potong daging tipis-tipis lalu daging dimasak setengah matang dahulu sebelum dipanggang.

Jadi, tunggu apa lagi.. Mari jalani hidup sehat dan pilih makanan secara bijak agar kita tercegah dari penyakit kanker.


Agustina Kadaristiana, dr.


Daftar Pustaka 

  1. D. D. Alexander, A. J. Miller, C. A. Cushing, and K. A. Lowe, ‘Processed Meat and Colorectal Cancer: A Quantitative Review of Prospective Epidemiologic Studies’, Eur J Cancer Prev, 19 (2010), 328-41.
  2. H. K. Biesalski, ‘Meat as a Component of a Healthy Diet – Are There Any Risks or Benefits If Meat Is Avoided in the Diet?’, Meat science, 70 (2005), 509-24.
  3. Doris S. M. Chan, Rosa Lau, Dagfinn Aune, Rui Vieira, Darren C. Greenwood, Ellen Kampman, and Teresa Norat, ‘Red and Processed Meat and Colorectal Cancer Incidence: Meta-Analysis of Prospective Studies’, PLoS ONE, 6 (2011).
  4. Denis E. Corpet, ‘Red Meat and Colon Cancer: Should We Become Vegetarians, or Can We Make Meat Safer?’, Meat science, 89 (2011), 310-6.
  5. S. C. Larsson, and a Wolk, ‘Red and Processed Meat Consumption and Risk of Pancreatic Cancer: Meta-Analysis of Prospective Studies’, British journal of cancer, 106 (2012), 603-7.
  6. Susanna C. Larsson, and Alicja Wolk, ‘Meat Consumption and Risk of Colorectal Cancer: A Meta-Analysis of Prospective Studies’, International Journal of Cancer, 119 (2006), 2657-64.
  7. Elizabeth Lee, ‘The Truth About Red Meat’.
  8. Renata Micha, Sarah K. Wallace, and Dariush Mozaffarian, ‘Red and Processed Meat Consumption and Risk of Incident Coronary Heart Disease, Stroke, and Diabetes Mellitus: A Systematic Review and Meta-Analysis’, Circulation, 121 (2010), 2271-83.
  9. Teresa Norat, Annekatrin Lukanova, Pietro Ferrari, and Elio Riboli, ‘Meat Consumption and Colorectal Cancer Risk: Dose-Response Meta-Analysis of Epidemiological Studies’, International Journal of Cancer, 98 (2002), 241-56.
  10. Marije Oostindjer, Jan Alexander, Gro Vang Amdam, Grethe Andersen, Nathan S. Bryan, Duan Chen, Denis E. Corpet, Stefaan De Smet, Lars Ove Dragsted, Anna Haug, Anders H. Karlsson, Gijs Kleter, Theo M. de Kok, Bård Kulseng, Andrew L. Milkowski, Roy J. Martin, Anne Maria Pajari, Jan Erik Paulsen, Jana Pickova, Knut Rudi, Marianne Sødring, Douglas L. Weed, and Bjørg Egelandsdal, ‘The Role of Red and Processed Meat in Colorectal Cancer Development: A Perspective’, (2014), pp. 583-96.
  11. An Pan, Qi Sun, Adam M. Bernstein, Matthias B. Schulze, JoAnn E. Manson, Meir J. Stampfer, Walter C. Willett, and Frank B. Hu, ‘Red Meat Consumption and Mortality: Results from 2 Prospective Cohort Studies’, Archives of internal medicine, 172 (2012), 555-63.
  12. F. Pierre, A. Freeman, S. Tache, R. Van der Meer, and D. E. Corpet, ‘Beef Meat and Blood Sausage Promote the Formation of Azoxymethane-Induced Mucin-Depleted Foci and Aberrant Crypt Foci in Rat Colons’, J Nutr, 134 (2004), 2711-6.
  13. F. H. Pierre, O. C. Martin, R. L. Santarelli, S. Tache, N. Naud, F. Gueraud, M. Audebert, J. Dupuy, N. Meunier, D. Attaix, J. L. Vendeuvre, S. S. Mirvish, G. C. Kuhnle, N. Cano, and D. E. Corpet, ‘Calcium and Alpha-Tocopherol Suppress Cured-Meat Promotion of Chemically Induced Colon Carcinogenesis in Rats and Reduce Associated Biomarkers in Human Volunteers’, Am J Clin Nutr, 98 (2013), 1255-62.
  14. Camille Pouchieu, Mélanie Deschasaux, Serge Hercberg, Nathalie Druesne-Pecollo, Paule Latino-Martel, and Mathilde Touvier, ‘Prospective Association between Red and Processed Meat Intakes and Breast Cancer Risk: Modulation by an Antioxidant Supplementation in the Su.Vi.Max Randomized Controlled Trial’, International journal of epidemiology, 46 (2014), 1-10.
  15. S. C. Savva, and A. Kafatos, ‘Is Red Meat Required for the Prevention of Iron Deficiency among Children and Adolescents?’, Curr Pediatr Rev, 10 (2014), 177-83.
  16. MD Tomislav Dragovich, PhD, ‘Colon Cancer’, (2014).
  17. M. Wiseman, ‘The Second World Cancer Research Fund/American Institute for Cancer Research Expert Report. Food, Nutrition, Physical Activity, and the Prevention of Cancer: A Global Perspective’, Proc Nutr Soc, 67 (2008), 253-6.
  18. X. J. Xue, Q. Gao, J. H. Qiao, J. Zhang, C. P. Xu, and J. Liu, ‘Red and Processed Meat Consumption and the Risk of Lung Cancer: A Dose-Response Meta-Analysis of 33 Published Studies’, Int J Clin Exp Med, 7 (2014), 1542-53.