Category Archives: Kesehatan Reproduksi

Pap smear : Metode Sederhana dengan Manfaat Luar Biasa

Kanker serviks merupakan kanker pada wanita dengan angka kematian tertinggi di negara-negara berkembang. Diperkirakan hampir 200.000 wanita meninggal setiap tahun akibat kanker serviks. Sayangnya, sebanyak 70% kasus kanker serviks baru diketahui pada stadium lanjut yang sudah sulit untuk diobati.Namun, Anda tidak perlu khawatir. Memberantas kanker serviks ternyata amat mudah. Cukup dengan upaya pencegahan rutin, seorang wanita bisa hidup bebas dari kanker serviks. Upaya pencegahan kanker serviks yang populer dan cukup mudah ialah skrining dengan pemeriksaan pap smear. Pap smear dapat mendeteksi kanker serviks pada stadium awal, bahkan pada stadium pre-kanker. Penelitian menyebutkan bahwa di negara yang rutin melakukan pap smear, angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks menurun. Selain itu, pasien kanker serviks yang terdeteksi dini memiliki angka harapan hidup yang lebih baik. Sehingga, sudah tidak diragukan lagi pap smear sangat penting dalam mencegah kanker serviks.

Pap smear

Perubahan kematian akibat kanker serviks di berbagai negara setelah Pap smear dikenalkan (Laara, dkk, 1987)

Apa itu Pap smear?

Pap smear atau Pap test adalah pemeriksaan pada serviks atau leher rahim untuk mencari sel-sel abnormal yang berpotensi menjadi sel kanker. Pemeriksaan ini pertama kali dikembangkan oleh Georgios Papanikolaou tahun 1940an. Sel-sel serviks pada leher rahim diambil, kemudian diperiksa dengan mikroskop di laboratorium.

Siapa saja yang sebaiknya melakukan pemeriksaan pap smear?

Wanita usia 21-65 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun atau pada wanita dengan risiko tinggi setiap setahun sekali.

Atau

Jika jarak antar pemeriksaan ingin diperpanjang menjadi setiap 5 tahun sekali, maka wanita usia 30-65 tahun sebaiknya melakukan pemeriksaan pap smear DAN tes HPV*.

*Wanita <30 tahun tidak disarankan melakukan tes HPV, dengan atau tanpa pemeriksaan pap smear.

Siapa yang tidak disarankan melakukan pemeriksaan pap smear?

  • Wanita usia <21 tahun atau yang belum aktif secara seksual.
  • Wanita usia >65 tahun yang telah menjalani pemeriksaan pap smear rutin selama hidupnya (hasil pemeriksaan negatif) dan tidak berisiko tinggi menderita kanker serviks.
  • Wanita yang telah menjalani histerektomi/operasi pengangkatan rahim dan tidak memiliki riwayat sel ganas.

Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum pemeriksaan Pap smear?

Dalam jangka waktu 2-3 hari sebelum Anda melakukan pemeriksaan Papsmear, ada beberapa kondisi yang sebaiknya dipenuhi, yaitu:

  • Tidak sedang haid
  • Tidak melakukan hubungan suami istri
  • Tidak menggunakan obat atau krim pada vagina.

Cara Pemeriksaan Pap smear

Anda akan duduk di kursi ginekolog dengan posisi mengangkang. Dokter/bidan akan menggunakan alat spekulum yang berbentuk seperti cocor bebek untuk membuka kelamin Anda. Hal ini dilakukan agar dokter/bidan dapat memeriksa serviks dan vagina dengan baik. Anda mungkin akan merasa tidak nyaman. Untuk menyiasatinya, sebisa mungkin Anda rileks.

pap-smear

Kemudian sel-sel serviks akan diambil dengan cytobrush (sikat kecil dengan bulu yang halus), yang dioleskan ke serviks. Proses ini hanya berlangsung sekitar 15 menit. Spekulum dilepaskan, Anda sudah bisa pulang. Sementara itu, sel-sel serviks yang menempel pada cytobrush akan dioles ke preparat kaca atau dimasukkan ke cairan sitologi khusus. Pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan mikroskop di laboratorium.

Hasil Pemeriksaan

Hasil pemeriksaan pap smear Anda akan selesai dalam waktu 1-3 minggu (bisa bervariasi antar laboratorium). Hasil negatif berarti hanya ditemukan sel-sel normal. Hasil positif berarti ditemukan sel-sel abnormal pada serviks Anda.

Foto dari Douglas K. Hanks, MD

Anda tidak perlu khawatir, sel-sel abnormal bukan berarti Anda pasti terkena kanker serviks. Sel abnormal bisa juga berarti Anda terinfeksi HPV atau sel-sel tersebut merupakan sel prekanker. Apapun hasilnya, sebaiknya segera konsultasikan hasil pemeriksaan Papsmear dengan dokter Anda.

Komplikasi

Komplikasi sangat jarang terjadi. Jika ada biasanya berupa perdarahan minimal atau infeksi ringan. Kadang terdapat vaginal spotting (bercak darah) segera setelah pemeriksaan papsmear, namun hal ini masih normal.

Kesimpulan
Pemeriksaan Pap smear merupakan cara yang mudah dan efektif untuk mencegah kanker serviks. Pemeriksaan rutin dan sesuai anjuran dapat mendeteksi kanker serviks pada stadium awal, sehingga lebih mudah diobati. Jadi, masihkah Anda ragu untuk melakukan Papsmear?

Diana Andarini, dr.

08/19/2016

Referensi 

  1. Sherris J, Herdman C, Elias C. Cervical cancer in the developing world. West J Med. 2001 Oct; 175(4): 231-33. [cited 27 Juli 2016] Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1071564/
  2. Laara E, Day NE, Hakama M. Trends in mortality from cervical cancer in Nordic countries: association with organized screening programmes. Lancet 1987;1(8544):1247. Illustration used with the permission of Elsevier Inc. All rights reserved.
  3. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bulan Cegah Kanker Serviks 2015 [cited 15 Juli 2016] Available from: http://pogijaya.or.id/blog/2015/02/20/bulan-cegah-kanker-serviks-2015/
  4. Centers for disease control and prevention. Cervical cancer: what should I know about screening? March 2016. [cited 15 Juli 2016] Available from: http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm
  5. Karjane NW, Ivey SE, Isaacs C. Papsmear. Feb 2016. [cited 3 Agustus 2016] Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1947979-overview

Kondom : Sebuah Pilihan Saat Berhubungan

Memilih metode kontrasepsi untuk anda dan pasangan seringkali membutuhkan pertimbangan yang cermat mengenai resiko, prosedur, efektifitas dan belum lagi tentang pentingnya kesepakatan dengan pasangan mengenai pemilihan terhadap suatu metode kontrasepsi. Di Indonesia, kondom merupakan salah satu metode kontrasepsi yang banyak dipakai oleh pasangan. Namun, alat kontrasepsi ini masih tetap kalah popular dengan metode yang lain seperti IUD, pil, implant maupun suntikan.

Beberapa informasi yang beredar mengenai kondom berpengaruh pada tingkat kepercayaan pasangan dalam memilih jenis kontrasepsi ini. Informasi tersebut bisa merupakan fakta maupun mitos belaka ataupun buah dari ketidaktahuan untuk menyiasati kelemahan kondom sebagai alat kontrasepsi. Berikut ini persepsi masyarakat yang diikuti penjelasan dari tim medis mengenai alat kontrasepsi barrier ini.

Apa yang dipikirkan masyarakat tentang kondom

“Tidak selalu nyaman dipakai”

Kondom yang cenderung agak tebal memang dapat menganggu sensitifitas rangsangan pada kulit dan saraf saat berhubungan intim, hal ini dapat diatasi dengan memilih ketebalan yang tepat. Di pasaran, variasi harga  juga menentukan kualitasnya, namun nyaman atau tidak tergantung masing-masing individu. Jika tidak puas pada salah satu merk, merk yang lain belum tentu tidak memuaskan juga sehingga harus dicoba jenis dan ketebalan yang cocok agar nyaman saat dipakai.

“Sering dirasa mengganggu momen-momen berhubungan intim”

Penggunaan kondom yang tepat memang saat penis mengalami ereksi maksimal agar tidak longgar. Agar momen berhubungan intim tidak terlalu terganggu, persiapkan kondom sebelum berhubungan intim dan pemasangan juga bisa dilakukan sambil, melakukan beberapa variasi foreplay yang bisa jadi malah membuat momen hubugan intim lebih berkesan.

Kondom

Kondom

“Kalau bisa bocor apa bisa dikatakan efektif?”

Efektifitas alat kontrasepsi ini dalam mencegah kehamilan adalah sekitar 98 %, artinya hanya 2 wanita yang hamil dari 100 wanita yang menggunakan kondom-pria sebagai alat kontrasepsi mereka. Untuk menghindari kebocoran ialah dengan cara pemakaian yang benar dan berhati-hati agar tidak robek oleh kuku/ perhiasan. Jika terlanjur bocor atau terlepas saat berhubungan, kontrasepsi darurat dapat menjadi solusinya. Dalam rentang waktu 2-5 hari setelah kejadian, hendaknya menggunakan pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Lamanya waktu maksimal kapan menggunakn pil setelah kejadian tergantung jenis pil kontrasepsi yang digunakan, IUD juga dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat dengan rentang waktu maksimal 5 hari setelah kejadian kebocoran pada kondom.

“Alat ini dapat mencegah penyakit menular seksual, benarkah?”

Sebagai salah satu kontrasepsi dengan metode barrier, alat ini mencegah sentuhan langsung antar lapisan kemaluan sehingga dapat mencegah penyakit menular seksual yang disebabkan karena kontak pada mukosa genital yang telah terinfeksi asalkan cara penggunaannya benar dan konsisten. Penyakit menular seksual yang ditularkan melalui cairan di daerah genital seperti kencing nanah/gonorrhoe juga dapat dicegah dengan alat kontrasepsi ini. Studi Laboratorium menunjukan alat kontrasepsi ini efektif mencegah masuknya kuman penyebab penyakit menular seksual meski kuman terkecil sekalipun.

” Bagusnya kondom itu murah dan praktis”
Dibanding alat kontrasepsi lain, kondom mudah didapatkan, dapat langsung dipakai dan ekonomis. Ide mengenai ATM kondom yang kontroversial beberapa waktu yang lalu salah satunya karena alat kontrasepsi ini dianggap mudah dipergunakan oleh siapa saja dan kapan saja tanpa perlu bantuan tenaga kesehatan profesional

“Alat kontrasepsi ini tidak mengganggu siklus menstruasi, benarkah?”
Siklus menstruasi wanita dipengaruhi oleh hormon di dalam tubuh. Kondom bukanlah kontrasepsi yang berpengaruh pada hormon jadi tidak perlu khawatir siklus menstruasi terganggu karenanya.

kondom wanita

Kondom Wanita

“Kondom wanita sulit dipakai dibanding pria”
Struktur tubuh wanita sendiri sehingga pemasangan kondom wanita tidak semudah pemasangan pada pria. Namun dengan pemasangan yang tepat, efektifitasnya hampir sama dengan efektifitas kondom pria.

Irma Susan Kurnia, dr.

12/15/2015

Referensi

  1. Laporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi, Januari 2014 [internet] [cited December 2015]. Available from www.bkkbn.go.id
  2. Condom fact Sheet in Brief, March 2013 [internet] [cited December 2015] Available from www.cdc.gov
  3. Contraception Guide : Male condom [internet] [cited December 2015] Available from www.nhs.uk
  4. Condoms don’t Reduce Satisfaction[internet][cited December 2015] Available from www.austra-lasianscience.com.au

Kondom dan Pencegahan Penyakit Menular Seksual

Pasangan suami istri yang ingin mencegah atau menunda kehamilan dianjurkan untuk memakai alat kontrasepsi. Salah satu alat kontrasepsi yang mudah, murah dan cukup aman untuk digunakan ialah kondom. Alat kontrasepsi yang banyak dipakai pria ini juga diketahui amat bermanfaat untuk mencegah penyakit menular seksual (PMS). Termasuk salah satunya ialah penyakit yang berbahaya seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Kasus penyakit menular seksual, termasuk infeksi HIV, cukup banyak terjadi di Indonesia. Data menyebutkan bahwa jumlah penderita HIV sejak 1987 sampai September 2014 sebanyak 150.296 orang. Kelompok yang paling banyak terinfeksi HIV dan AIDS yaitu laki-laki usia 25-49 tahun. Namun, yang paling mengejutkan bahwa berdasarkan profesi, penderita AIDS yang terbanyak di Indonesia adalah ibu rumah tangga.

Untitled

Sekilas tentang Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual (PMS) ialah penyakit ditularkan melalui hubungan intim. PMS dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit. Beberapa penyakit menular seksual yang cukup banyak dialami masyarakat contohnya sifilis, gonorea (kencing nanah), klamidia (infeksi jamur), trikomoniasis, herpes, dan yang mungkin paling ditakuti ialah HIV.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel darah putih, yang menyebabkan kekebalan tubuh seseorang turun. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. Penderita AIDS sangat mudah terkena berbagai infeksi kuman lain yang sering berakibat fatal.

Bagaimana cara penularan PMS?

Sesuai dengan namanya, penyakit menular seksual paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual. Kuman yang membawa penyakit kelamin ini menyebar melalui kontak dari cairan mani, cairan dari kemaluan wanita atau darah. Seperti pada penularan penyakit kencing nanah (gonore), klamidia, trikomoniasis dan infeksi HIV. Selain itu, penularan bisa juga terjadi saat kontak permukaan mukosa kelamin dengan lesi kulit yang terinfeksi dari penderita. Sebagai contoh lesi kulit yang khas pada penderita herpes, sifilis dan chancroid.

Beberapa penyakit juga bisa ditularkan dari aktivitas non seksual. Contohnya bertukar jarum suntik pada pengguna narkoba, donor darah yang tidak aman, dan penularan dari ibu ke bayi saat proses melahirkan.

Bagaimana cara mencegah PMS?

Hal yang paling efektif dalam mencegah penyakit menular seksual ialah tidak berhubungan suami istri sama sekali bagi yang belum menikah. Bila sudah menikah, penting sekali untuk setia kepada pasangan agar dapat terlindungi dari penyakit menular seksual ini. Selain itu, para wanita dianjurkan untuk disuntik vaksin HPV untuk mencegah infeksi HPV dan kanker serviks.

Khusus untuk penyakit HIV, selain melalui hubungan seksual, HIV juga dapat dicegah dengan :

1. Melakukan skrining produk darah jika menjadi penerima transfusi darah.
2. Tidak menggunakan suntik apapun (termasuk narkoba) kecuali atas indikasi medis.
3. Ibu hamil yg positif HIV disarankan menjalani terapi ARV (anti-retroviral)

Bagaimana cara kondom mencegah PMS?

PMS paling banyak ditularkan melalui hubungan seksual, oleh karena itu salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah PMS ialah menggunakan kondom. Kondom menutupi seluruh penis, sehingga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari penis penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Kondom yang banyak beredar di Indonesia merupakan jenis kondom yang dipakai pria. Namun ada juga kondom yang dapat dipakai wanita. Kondom wanita mirip kondom pria, berbentuk tabung dengan salah satu ujungnya tertutup, namun ukurannya lebih besar dibanding kondom pria. Kondom wanita menutupi pinggir mulut vagina, seluruh dinding vagina dan mulut rahim. Kondom wanita juga dapat menghalangi kontak dan perpindahan cairan yang keluar dari serviks dan vagina penderita PMS ke alat kelamin pasangannya.

Seberapa efektif kondom mencegah PMS?

Penggunaan kondom lateks secara rutin konsisten dan tepat efektif mencegah penularan PMS. Efektivitasnya sangat bergantung pada metode penularan PMS. Kondom sangat efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui cairan mani dan cairan dari kemaluan wanita, misalnya pada klamidia, gonorea, trikomoniasis dan infeksi HIV. Cairan yang mengandung virus/bakteri tersebut dapat ditampung dan tidak menembus kondom. Pada penelitian tentang HIV, penggunaan kondom dapat menurunkan insidens HIV 69-95%, bahkan jika dikombinasikan dengan terapi ARV (anti-retroviral) maka insidens HIV dapat menurun sampai 99%.

Kondom juga efektif mencegah PMS yang ditularkan melalui lesi kulit seperti herpes genital, sifilis, chancroid dan infeksi HPV, dengan syarat lesi kulit/area yang terinfeksi tertutup seluruhnya oleh kondom. Namun jika lesi kulit/area yang terinfeksi tidak tertutup oleh kondom, maka perlindungannya tidak efektif.

Bagaimana bila kondom robek? 

Jika kondom robek, maka cairan dari alat kelamin dan lesi kulit yang terinfeksi dapat kontak dengan alat kelamin pasangannya dan menularkan PMS, sehingga kondom menjadi tidak efektif. Selain memasang kondom dengan benar, cara mencegah kondom robek yaitu:

  • Periksa tanggal kadaluarsa sebelum digunakan karena kondom yang sudah kadaluarsa mudah robek.
  • Hati-hati membuka kemasan . Hindari membuka terlalu kasar, tergores kuku atau membuka kemasan dengan gigi.
  • Pastikan kondom tidak robek sebelum dipakai.
  • Jangan memakai lubrikan yang berbahan minyak seperti losion, baby oil, petroleum jelly atau krim (Vaseline), karena bisa merusak kondom.

Kesimpulan

Kelompok yang paling banyak mengidap HIV dan AIDS sejak dahulu tidak berubah, yaitu kelompok laki-laki heteroseksual usia 25-49 tahun. Turunnya kasus AIDS sejak tahun 2004 membuktikan terapi ARV sudah cukup berhasil, namun kasus HIV baru terus meningkat. Selain pencegahan dengan menggunakan kondom secara rutin konsisten dan tepat, disinilah pentingnya kerjasama antara lembaga kesehatan dan keagamaan.

Fakta lain yang mengejutkan adalah cukup tingginya kasus HIV pada ibu rumah tangga. Komunikasi yang baik dan keterbukaan antara pasangan suami istri sangat penting. Komunikasi yang baik dapat dilanjutkan dengan skrining HIV, penggunaan kondom secara rutin konsisten dan tepat, serta terapi ARV. Hal ini penting untuk mencegah infeksi HIV pada anak yang sedang dikandung atau disusui oleh ibu tersebut.

Diana Andarini, dr.

11/30/2015

Referensi

  1. Lee Warner, Daniel R. Newman, Harland D. Austin. Condom Effectiveness for Reducing Transmission of Gonorrhea and Chlamydia: The Importance of Assessing Partner Infection Status. Am. J. Epidemiol. (2004) 159 (3): 242-251. doi: 10.1093/aje/kwh044. Cited from http://aje.oxfordjournals.org/content/159/3/242.full
  2. Department of Health and Human Services. Centers for Disease Control and Prevention. Condoms and STDs: Fact Sheet for Public Health Personnel. Cited from http://www.cdc.gov/condomeffectiveness/docs/Condoms_and_STDS.pdf
  3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Indonesia. Situasi dan Analisis HIV AIDS. Cited from http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin%20AIDS.pdf
  4. Weller SC, Davis-Beaty K. Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission. Cochrane Database of Systematic Reviews 2002, Issue 1. Art. No.: CD003255. DOI: 10.1002/14651858.CD003255. Cited from http://apps.who.int/rhl/reviews/CD003255.pdf
  5. Liu H, Su Y, Zhu L, Xing J, Wu J, Wang N (2014) Effectiveness of ART and Condom Use for Prevention of Sexual HIV Transmission in Serodiscordant Couples: A Systematic Review and Meta-Analysis. PLoS ONE 9(11): e111175. doi:10.1371/journal.pone.0111175. Cited from http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0111175
  6. Weller SC. A Meta-analysis of condom effectiveness in reducing sexually transmitted HIV. Soc Sci Med. 1993 Jun;36(12):1635-44. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8327927
  7. Steven D.Pinkerton, Paul R.Abramson. Effectiveness of condoms in preventing HIV transmission. Soc Sci Med. 1997 May;44(9):1303-12. doi:10.1016/S0277-9536(96)00258-4 Cited from http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0277953696002584
  8. Nicholas John Bennet. HIV Disease Treatment & Management. Cited from http://emedicine.medscape.com/article/211316-treatment#d15
  9. Sexually Transmitted Diseases Causes. Cited from http://www.emedicinehealth.com/sexually_transmitted_diseases/page2_em.htm#sexually_transmitted_diseases_stds_causes
  10. Condoms. Cited from http://www.nhs.uk/conditions/contraception-guide/pages/male-condoms.aspx
  11. UNAIDS. Making Condoms Work for HIV Prevention. Cited from http://data.unaids.org/Publications/IRC-pub06/JC941-CuttingEdge_en.pdf

Aborsi Perlu Pantauan Medis! Ini Sebabnya

Terus terang kami bergidik untuk menulis mengenai tindakan aborsi. Namun, praktik aborsi ilegal amatlah memprihatinkan setelah kami telusuri bahwa penjualan obat penggugur kandungan marak terjadi di dunia maya. Untuk itu, kami merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi bahayanya usaha menggugurkan kandungan di luar pengawasan dokter dan tanpa indikasi medis.

Alasan Pentingnya Pantauan Medis Pada Aborsi

Berikut ini alasan mengapa aborsi memerlukan pemantauan dari tenaga medis dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai:

Counselling

Pentingnya konseling paska aborsi

  1. Konseling. Konseling mengenai efek aborsi secara medis dan psikologis amat penting  bagi wanita hamil juga keluarga. Efek samping jangka pendek seperti perdarahan dan infeksi perlu dijelaskan kepada wanita hamil yang akan menjalani aborsi. Begitu juga efek samping jangka panjang, seperti meningkatnya risiko kelahiran prematur maupun postmatur pada kehamilan berikutnya. Konseling pascaaborsi juga diperlukan terutama pada wanita yang rentan depresi seperti pernah depresi sebelumnya, usia muda, kehamilan pertama, dan keraguan saat mengambil keputusan aborsi.
  2. Pengkajuan medis. Perlunya pengkajian apakah wanita tersebut tidak memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan penatalaksanaan sebelum tindakan aborsi dilakukan, dan apakah ada kontraindikasi terhadap tindakan aborsi pada wanita tersebut. Gangguan kesehatan seperti asma, diabetes mellitus, anemia, dan gangguan darah dapat memburuk bila menggunakan obat-obat pemicu aborsi.Pengkajian tersebut dapat berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
  3. Pemantauan efek samping. Obat-obat yang digunakan untuk aborsi memiliki efek samping. Sebagian dari efek samping tersebut dapat membahayakan jiwa.
  4. Pemantauan resiko gagal. Angka kegagalan tuntasnya aborsi yang dilakukan dengan menggunakan obat saja dapat terjadi hingga 22%-89% (tergantung pada jenis obat yang digunakan dan usia kandungan saat itu). Tidak tuntasnya aborsi yang dilakukan dapat berakibat timbulnya perdarahan akibat masih ada jaringan yang melekat. Tanpa pengawasan tenaga medis, perdarahan yang terjadi tidak mampu ditangani dengan cepat dan tepat, sehingga dapat membahayakan kesehatan bahkan nyawa wanita tersebut.
  5. Pemantauan infeksi, walaupun hanya menggunakan obat dan tanpa tindakan medis, dapat menimbulkan infeksi serius yang berakibat fatal bagi wanita yang menjalaninya. Tanpa pendampingan medis, deteksi dini dan penanganan dini dari infeksi tersebut akan tertunda. Infeksi dapat terjadi tanpa disertai demam, dan dapat menyebabkan kematian.

Rizki Cinderasuci, dr.

11/12/2015

Referensi

1. Christin-Maitre S, Bouchard P, Spitz IM. Medical termination of pregnancy. N Engl J Med. Mar 30 2000;342(13):946-56. [NEJM]
2. Zhou W, Sorensen HT, Olsen J. Induced abortion and subsequent pregnancy duration. Obstet Gynecol. Dec 1999;94(6):948-53. [PubMed]
3. Wilhite, M. et al. Psychological responses of women after first-trimester abortion. Archives of General Psychiatry. 2000; 57: 777–784 [PubMed]
4. Andrew and Boyle, 2003Andrew, J. and Boyle, J.S. African American Adolescents experiences of unplanned pregnancy and elective abortion. Health Care for Women International. 2003; 24: 414–433. [PubMed]
5. Kahn JG, Becker BJ, MacIsaa L, et al. The efficacy of medical abortion: a meta-analysis. Contraception. Jan 2000;61(1):29-40. (ISSN: 0010-7824). [Contraception]

Cara Mengetahui Masa Subur Wanita

Masa subur biasanya menjadi penting saat pasangan ingin mendapatkan keturunan. Pasalnya, kemungkinan terjadi kehamilan paling besar saat masa subur. Masa subur terjadi saat sel telur keluar dari indung telur dan siap untuk dibuahi (ovulasi). Kehamilan akan terjadi apabila dalam 12-24 jam terjadi pembuahan (sperma bertemu dengan sel telur).

Berikut ini adalah beberapa cara mengetahui masa subur wanita :

1. Sistem Kalender

Cara ini mungkin paling mudah dan murah. Anda hanya perlu mencatat tanggal mulai dan berhenti haid selama beberapa bulan. Semakin rutin Anda mencatat, semakin akurat perhitungannya. Cara menghitung masa suburnya dengan kalender ialah:

  1. Catat awal dan akhir menstruasi. Lebih baik dilakukan selama 8-12 bulan
  2. Penghitungan periode menstruasi dimulai dari hari 1 menstruasi bulan sebelumnya sampai hari 1 menstruasi bulan berikutnya
  3. Cari periode menstruasi terpanjang dan terpendek dari bulan-bulan yang Anda hitung
  4. Periode awal masa subur ditentukan dengan mengurangi 18 hari dari periode menstruasi terpendek.
  5. Periode akhir masa subur ditentukan dengan mengurangi 11 hari dari periode menstruasi terpanjang.
    • Contoh : Setelah dilakukan pengukuran selama 8 bulan didapatkan periode terpendek Anda 28 hari dan terpanjang 30 hari. Berarti Periode awal masa subur : 28-18 =10; Periode akhir masa subur : 29-11=18
    • Berarti masa subur Anda akan jatuh di hari ke 10-19 dari hari pertama menstruasi

free-printable-september-2015-calendar-shining-mom

  • *Saat ini banyak website/Apps untuk menghitung masa subur untuk mengurangi kerepotan Anda menghitung tiap bulan

2. Termperatur tubuh basal

Hormon progesteron yang dihasilkan tubuh wanita setelah ovulasi mempengaruhi hipotalamus di otak untuk meningkatkan suhu tubuh. Sehingga memonitor suhu tubuh tiap hari dapat digunakan untuk mengetahui saat ovulasi. Caranya ialah :

  1. Siapkan termometer. Termometer air raksa lebih akurat daripada termometer elektronik dalam pengukuran periode ovulasi.
  2. Ukur suhu Anda di bawah lidah sesaat setelah bangun pagi. Artinya sebelum Anda beranjak dari tempat tidur, ke kamar mandi, makan, minum, dll.
  3. Sebelum ovulasi, suhu tubuh basal wanita biasanya tetap di antara 36.1-36.4°C. Saat ovulasi suhu tubuh basal Anda akan meningkat 0.1-0.2°C.
    Meskipun cukup mudah dan murah, kekurangan metode ini ialah hasilnya yang mungkin bervariasi. Bila anda sakit, bepergian, kurang tidur, atau mengkonsumsi obat tertentu bisa saja suhu basal anda akan berubah dan mempengaruhi pengukuran.

3. Menilai lendir rahim (mukus serviks)

Konsistensi lendir yang keluar dari kemaluan Anda akan berubah selama periode mens. Semakin mendekati masa subur, ‘keputihan’ Anda akan menjadi lebih banyak, licin, kenyal seperti putih telur. Cara mengetahui masa subur lewat lendir rahim ialah :

  1. Ambil lendir dari kemaluan Anda dengan menyapukan jari dari depan ke belakang
  2. Catat mengenai warna, konsistensi dan kekentalan di kalender Anda
  3. Ovulasi biasanya terjadi 1-2 hari saat lendir rahim paling jernih, licin, elastis/kenyal.
    Dibandingkan dengan sistem kalender atau mengukur suhu tubuh, cara ini dinilai lebih dipercaya.
Various-types-of-mucus

Gambar A. Lendir kering, tebal, lengket (Tidak Subur) B. Seperti krim, lengket (Tidak Subur) C. Keruh, elastis (Agak subur) D. Jernih, Elastis, Seperti Putih Telur (Paling subur)

4. Tes hormon LH (Luteinizing Hormone)

Tepat sebelum ovulasi, hormon LH akan meningkat secara drastis sehingga dapat digunakan untuk mengetahui ovulasi. Bila dilakukan dengan benar, alat ini 99% dapat memprediksi ovulasi meskipun harganya lebih mahal. Namun, perlu diingat bahwa tes LH ini hanya bisa prediksi, tidak bisa memberi kepastian kapan ovulasi terjadi. Saat ini alat ukur LH sudah tersedia di pasaran. Penggunaannya mirip tes urine kehamilan sehingga amat nyaman untuk wanita yang ingin mengetahui masa subur dari rumah. Cara menggunakannya ialah :

  1. Baca petunjuk alat. Ada tes yang prediksi ovulasi dalam waktu 7 hari dan ada yang 3-2 hari.
  2. Tentukan waktu. Bila siklus Anda teratur, Anda bisa gunakan sekitar 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi (14 hari sebelum perkiraan mens berikutnya). Tapi bila siklus Anda tidak teratur, Anda bisa mengira-ngira waktu tes saat lendir mulai jernih, licin dan kenyal. Ingat, sesuaikan dengan petunjuk alat tes Anda.
  3. Lakukan pengujian dengan menggunakan urin antara jam 10.00-20.00 tapi jangan gunakan urin pertama di pagi hari. Sebaiknya kurangi minum 2 jam sebelum melakukan tes karena bisa mempengaruhi untuk mendapatkan hasil yang akurat.
  4. Jika muncul dua garis warna artinya hasil positif. Ovulasi kemungkinan akan terjadi dalam 24-48 jam berikutnya. Lakukan hubungan intim dalam 24-48 jam ini bila ingin berusaha mendapatkan keturunan.
table-siklus

Saran Waktu Dilakukan Tes Urine LH berdasarkan siklus menstruasi

Diskusian dengan dokter atau bidan Anda apabila menemukan kendala dalam mencoba metode-metode ini. Selamat berusaha 🙂

Agustina Kadaristiana, dr.

09/27/2015

Referensi

1. Charting Your Fertility Cycle [Internet]. WebMD. [cited 2015 Sep 27]. Available from: http://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/fertility-tests-for-women
2. How to Chart Your Menstrual Cycle [Internet]. WebMD. [cited 2015 Sep 27]. Available from: http://www.webmd.com/baby/charting-your-fertility-cycle
3. Corrine K Welt, MD. Evaluation of the menstrual cycle and timing of ovulation. Uptodate. 2015 Apr 21;
4. Fertility Awareness: Natural Family Planning (NFP) [Internet]. American Pregnancy Association. [cited 2015 Sep 27]. Available from: http://americanpregnancy.org/preventing-pregnancy/natural-family-planning/
5. How to guide: Ovulation calculator [Internet]. WebMD Boots. [cited 2015 Sep 27]. Available from: http://www.webmd.boots.com/fertility/how-to-ovulation-calculator
6. Ovulation Kits and Fertility Monitors [Internet]. American Pregnancy Association. [cited 2015 Sep 27]. Available from: http://americanpregnancy.org/getting-pregnant/ovulation-kits/

Produk Organ Intim Wanita yang Berbahaya

Banyak wanita yang meyakini kemaluannya kotor dan butuh kosmetik dan perawatan yang ekstra kuat dalam membersihkannya. Padahal beberapa produk dan tindakan perawatan vagina yang bersifat kosmetik perlu diwaspadai keamanannya. Saat ini, FDA mengatur produk kewanitaan menjadi 3 kategori yang tidak boleh mengandung bahan berbahaya:

  1. Alat medis contoh tampon, pembalut dan lumbrikan
  2. Obat tanpa resep dokter douches yang diberi obat, krim anti gatal, dan beberapa obat pengendali jamur
  3. Kosmetik spray deodoran, bedak, sabun pencuci, douches tanpa obat dan lap/tisu basah digolongkan sebagai kosmetik yang tidak boleh mengandung bahan berbahaya atau beracun.

Namun, pada prakteknya, banyak pula produk pasaran yang tidak diatur FDA. Sehingga, para wanita perlu cerdas dalam memilih produk yang aman. Beberapa produk dan perawatan kewanitaan yang berbahaya misalnya:

  1. Produk kewanitaan yang mengandung zat kimia pengganggu hormon. Contohnya  paraben, yang biasa digunakan sebagai pengawet, dan pewangi seperti diethyl phthalate dan Galaxolide.
  2. Douces dan deodoran organ intim. Produk ini tidak direkomendasikan karena bisa menyebabkan infeksi vagina akibat bakteri dan jamur. Penelitian lain juga sudah menemukan hubungan antara praktek douche ini dengan infeksi menular seksual, radang panggul, dan kanker rahim.
  3. Bahan yang menyebabkan dermatitis (iritasi dan gatal) pada daerah anus dan kemaluan. Contohnya benzocaine. Beberapa studi juga melaporkan kejadian dermatitis kontak dari pembalut. Tampon yang berdaya serap sangat tinggi dan mengandung 4 produk sintetis diketahui memiliki efek samping yang berbahaya terhadap tubuh. Namun yang melegakan, bahan tersebut sudah ditarik kecuali viscose rayon, bahan sintetik yang paling aman. Bila memilih tampon, hendaknya para wanita memilih produk berbahan katun karena bersifat organik dan relatif aman.
  4. Perawatan kecantikan bagian intim juga tidak semua aman, terutama perawatan di salon atau spa. Hendaknya para wanita tidak mencukur dan melakukan waxing pada rambut kemaluannya karena bisa menyebabkan iritasi dan infeksi kulit. Cukup gunting rambut kemaluan/trimming untuk menjaga kebersihan. Hindari juga berendam di air panas atau berenang di air yang mengandung klorin yang tinggi.

Jadi, yang paling penting ialah menilai kesehatan organ intim anda. Bila anda merasakan gejala gatal, perih, keluar keputihan yang berbau tajam dan berwarna, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Menggunakan pengobatan sendiri berdasarkan produk yang tersedia di pasaran bisa jadi kurang tepat untuk anda. Selamat mencoba 🙂

Baca Juga: Wanita Perlu Tahu : Cara Tepat Membersihkan Organ Intim

Agustina Kadaristiana, dr.

Referensi :

  1.  Nicole W. A question for women’s health: chemicals in feminine hygiene products and personal lubricants. Environmental health perspectives. 2014;122(3):A70-5.
  2. Guidelines for Vulvar Skin Care2008. Available from: http://www.mckinley.illinois.edu/handouts/vulvar_skin_care.html.

Wanita Perlu Tahu : Cara Tepat Membersihkan Organ Intim

Memiliki organ intim yang sehat dan bebas penyakit tentu menjadi idaman setiap wanita. Tentu akan sangat tidak nyaman bila kita mengalami gatal, keputihan, atau bau yang tidak sedap pada organ pribadi tersebut. Apalagi bagi perempuan yang sudah menikah, tentu berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga. Namun, seringkali kita melakukan langkah yang salah dalam menjaga kebersihan kelamin. Ditambah lagi dengan maraknya iklan obat pembersih bagian intim, berbagai pilihan pembalut atau produk kewanitaan lainnya. Padahal, pemilihan produk yang tidak tepat dan cara pembersihan vagina yang berlebihan bisa menjadi sumber datangnya kuman penyakit. Lalu, bagaimana cara yang tepat agar daerah kewanitaan tetap terjaga kebersihannya dan terhindar dari penyakit? Mari kita simak ulasannya…

Mengenal organ intim wanita lebih dekat

Organ intim wanita yang kita kenal sebagai vagina merupakan daerah yang sensitif namun memiliki fungsi vital dalam reproduksi dan seksual. Vagina dilapisi oleh sel epitel berlapis kubus yang sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron. Saat memasuki masa puber, kadar hormon seksual meningkat dan kadar estrogen di vagina meningkat. Estrogen ini menyebabkan pembentukan glikogen, zat yang merangsang pertumbuhan bakteri Laktobasilus. Laktobasilus inilah yang menghasilkan asam laktat dan hidrogen peroksida (H2O2) yang berfungsi menjaga vagina dalam keadaan asam (pH 3,5-4,5). Kondisi asam ini penting sebagai pertahanan vagina dari koloni kuman penyebab infeksi seperti jamur, bakteri bahkan penyakit HIV. (1, 2)

Selain kondisi yang asam, vagina yang normal juga kerap memproduksi cairan seperti lendir terutama saat hamil, pertengahan siklus menstruasi atau selama berhubungan intim. Kandungan cairan vagina terdiri dari protein, polisakarida, asam amino, enzim dan imun. Cairan vagina ini normal apabila jernih dan tidak berbau. Cairan ini berfungsi sebagai proteksi pada vagina dan kulit kelamin. Pada wanita yang sudah menopouse, cairan vagina ini sangat berkurang sehingga menyebabkan organ intim rentan terhadap infeksi.(1, 2)

http://www.myhousecallmd.com/tag/vagina/

Organ Reproduksi Wanita

Bagaimana cara merawat organ intim yang benar?

Dalam merawat organ intim ini, kita perlu menjaga keasaman vagina dan mengenal tindakan atau produk apa saja yang dapat mengganggu lingkungan yang asam ini. Merawat organ intim dengan benar sangatlah penting karena berdasarkan penelitian pada 1057 responden di Turki menyebutkan bahwa wanita yang merawat kebersihan kemaluan dengan cara yang salah, meningalami infeksi kelamin yang lebih tinggi.(3) Pada prinsipnya ada 3 hal yang perlu diingat agar kemaluan tetap bersih : hindari iritan, jaga agar tetap kering dan hindari garukan.(4) Adapun cara merawat higienitas organ intim yang benar adalah:

Cuci kemaluan dengan cara yang benar 

  • Cuci dengan air biasa atau air hangat (suam-suam kuku) menggunakan tangan dengan cara membuka bibir vagina dan bersihkan bagian dalam secara perlahan. Jangan menggunakan air panas, waslap, scrub mandi dan sejenisnya karena bisa menyebabkan iritasi.(4-7)
  • Bila ingin membersihkan bagian depan setelah buang air besar, bersihkan bagian depan terlebih dahulu baru bagian dubur. Bila sudah bersihkan dubur, jangan kembali ke vagina karena bakteri dari dubur (E. Coli) bisa pindah ke bagian depan dan menyebabkan infeksi saluran kemih.(8)
  • Jangan menggunakan sabun kulit atau shower gel yang mengandung pewangi, busa. Sabun dengan pH alkali (basa) dapat mengganggu keasaman vagina sehingga meningkatkan resiko infeksi dan iritasi. Membersihkan kemaluan dengan sabun yang lembut tanpa pewangi dan air cukup untuk menjaga kebersihannya.(2, 4-6, 9) Lebih lengkapnya tentang produk kewanitaan bisa dibaca di sini. 
  • Keringkan bagian kulit organ intim dengan handuk atau tisue toilet yang tidak mengandung parfum dan pewarna secara lembut. Jangan gunakan tisu basah (baik tisu basah bayi maupun untuk kecantikan) dan pengering rambut/ hair dryer (4-7)
  •  Jangan menambahkan bedak, deodoran, antiperspirants (anti keringat) dan antiseptik karena dapat menghambat kelenjar keringat, iritasi sampai vagina yang terlalu kering. (2, 4-7)
  • Hindari mandi dalam posisi duduk karena dapat meningkatkan kejadian infeksi kemaluan dan saluran kemih terutama saat menstruasi dimana bukaan leher serviks meningkat. (3)

Menjaga Kebersihan Pakaian

Pemilihan dan perawatan pakaian, terutama pakaian dalam, juga amat berpengaruh terhadap kebersihan vagina. (4-7, 9)

  • Gunakan pakaian dalam berbahan katun 100% bukan sekedar cotton-crotch (katun yang hanya di sisi selangkangan namun diantaranya kain lain).(6)
  • Gunakan pakaian dan celana dalam yang tidak terlalu ketat. Hindari menggunakan thong (celana dalam yang kain di bagian bokongnya minimal), girdle (sejenis korset) dan jeans yang ketat untuk menghindari kelembaban daerah intim yang berlebihan. Bila terlalu lembab, infeksi akan mudah muncul, terutama jamur, dan memperparah rasa nyeri, gatal atau ruam.
  • Ganti pakaian dalam setiap hari. Bila anda mengalami keputihan, mengganti celana dalam bisa dilakukan lebih sering.
  • Ganti pakaian dalam yang basah atau celana sehabis olah raga.
  • Sesekali biarkan daerah intim tanpa pakaian dalam saat tidur untuk menjaga sirkulasi udara daerah tersebut.
  • Gunakan deterjen tanpa parfum dan pewarna pada setiap pakaian yang mungkin kontak dengan kemaluan sebanyak 1/3 – ½ dari jumlah yang disarankan per cucian akan tetap mendapatkan pakaian yang bersih tapi mengurangi jumlah residu deterjen.
  • Cuci pakaian dalam tanpa pewangi, pemutih, pelembut kain cair, atau lembaran yang dimasukkan ke dalam mesin pengering (dryer). Jika bahan-bahan ini terlanjur digunakan, rendam dan bilas dengan air jernih dan cuci dalam siklus mencuci biasa. Hal ini membantu mengurangi residu dari produk.

Memberi Perhatian Khusus Saat Menstruasi

Wanita perlu memperhatikan kebersihan kemaluannya saat menstruasi. Hal ini disebabkan saat haid jumlah bakteri Lactobacillus berkurang sehingga dapat mengurangi suasana asam pada vagina. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat wanita haid:(4-7, 9)

  • Pembalut dan tampon boleh digunakan. Bahan yang terbaik ialah yang mengandung kapas alami atau produk hipolaergenik (yang jarang menyebabkan alergi).
  • Hindari menggunakan pembalut yang dikatakan dapat mempertahankan kelembaban. Beberapa wanita mengatakan pembalut organik bermanfaat.
  • Penggunaan tampon untuk menstruasi lebih dianjurkan untuk mencegah infeksi saluran kemih karena daerah bukaan saluran kemih tetap terbuka dan kering dibandingkan bila menggunakan pembalut. Namun, pilihlah tampon yang berbahan 100% katun karena relatif lebih aman.
  • Pastikan ukuran pembalut tepat
  • Ganti pembalut secara teratur.
  • Gunakan pembalut seperlunya.
  • Hindari penggunaan pantyliner bila tidak sedang haid.
Produk Menstruasi

Produk Menstruasi

Perhatikan Juga Saat Beraktivitas Seksual

Produk yang cukup membantu saat berhubungan ialah lumbrikan, terutama pada wanita paska menopouse. Pilihlah lumbrikan berbahan dasar air tanpa pewangi bila digunakan bersama kondom. Jangan gunakan lumbrikan yang memberi rasa panas saat kontak dengan kulit. Jangan pula memilih lumbrikan berbahan dasar minyak seperti petroleum jelly dan baby oil bila digunakan bersama kondom karena dapat melonggarkan kondom. (5, 6)

Agustina Kadaristiana, dr

REFERENSI

1. Hacker NF, Gambone JC, Hobel CJ. Normal Physiology and Microecology of the Vagina. Hacker and Moore’s Essentials of Obstetrics and Gynecology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.
2. Gupte P, Patil S, Pawaskar R. Vulvovaginal hygiene and care. Indian Journal of Sexually Transmitted Diseases and AIDS. 2009;30(2):130.
3. Sevil S, Kevser O, Aleattin U, Dilek A, Tijen2 N. An Evaluation of the Relationship between Genital Hygiene Practices, Genital Infection Gynecology & Obstetric. 2013;3(6).
4. GENITAL SKIN CARE2013. Available from: http://www.mshc.org.au/portals/_default/uploads/fact_sheets/genital_skin_care_a4.pdf.
5. GENITAL CARE FOR WOMEN 2013. Available from: http://issvd.org/wordpress/wp-content/uploads/2012/04/GenitalCare2010.pdf.
6. Share with women. Vulvar care. Journal of midwifery & women’s health. 2012;57(3):311-2.
7. Guidelines for Vulvar Skin Care2008. Available from: http://www.mckinley.illinois.edu/handouts/vulvar_skin_care.html.
8. Brusch JL. Prevention of Urinary Tract Infections in Women 2013. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1958794-overview.
9. Genital Skin Care2014. Available from: http://www.uhb.nhs.uk/Downloads/pdf/PiGenitalSkinCare.pdf.

Wanita Resiko Tinggi Mengalami Gangguan Reproduksi

Kesehatan reproduksi wanita ikut menentukan keberlangsungan populasi manusia di muka bumi ini. Bagaimana tidak, dalam sistem reproduksi wanitalah janin tumbuh dan berkembang hingga lahir ke muka bumi. Itulah mengapa setidaknya seorang wanita memperhatikan betul kesehatan reproduksinya, termasuk kemungkinan mereka beresiko mendapat gangguan tertentu. Berikut beberapa jenis wanita yang beresiko tinggi mengalami gangguan pada sistem reproduksinya

  1. Wanita dengan pola hidup seks bebas yang gemar berganti pasangan
    HIV, hepatitis B adalah penyakit-penyakit yang terkenal belum ditemukan obatnya dan berujung pada kematian. Seks bebas adalah salah satu faktor resikonya. Selain itu beberapa penyakit kelamin yang ditularkan melalui seks bebas seperti gonorrhoe, syphilis tetap menjadi momok yang menakutkan meskipun sudah banyak ditemukan pengobatannya. Kanker leher rahim juga salah satu penyakit yang rentan dialami oleh wanita golongan ini.
  2. Wanita dengan pasangan yang memiliki pola hidup gemar berganti pasangan
    Terkadang, seorang wanita dapat juga terkena penyakit seperti pada point 1 sekalipun dirinya tidak pernah bergonta-ganti pasangan. Namun jika pasangannya itu tidak setia, tetap saja ia menjadi golongan orang yang beresiko. Inilah efek ‘ping-pong’ akibat kebiasaan berganti pasangan. Seseorang yang terkena penyakit menular seksual maka sebaiknya pasangannya pun diobati.
  3. Wanita dengan kehamilan 4 T :” terlalu tua, terlalu muda, terlalu rapat, terlalu sering”
    Beberapa komplikasi kehamilan dan persalinan sering terjadi pada kehamilan 4T. Pastikan perencanaan kehamilan mempertimbangkan faktor 4 T ini.
  4. Wanita dengan ibu/saudara perempuan penderita kanker payudara
    Payudara termasuk organ pelengkap reproduksi wanita. Salah satu faktor penyebab kanker payudara adalah genetik, penting bagi wanita dengan ibu/saudara perempuan yang memiliki penyakit ini melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin untuk deteksi dini.

Irma Susan Kurnia, dr.