Cegah Sindroma Rubella Kongenital (SRK) dengan Imunisasi MMR

Penyakit rubella atau yang disebut juga campak jerman mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Pada orang hamil penyakit ini akan menjadi perhatian. Mengapa begitu ? Yuk kita kenali lebih dekat si virus rubella ini.

Sekilas Tentang Rubella 

Virus rubella ini dapat menular lewat udara dari seseorang yang terinfeksi rubella. Gejala tertularnya penyakit ini antara lain adanya demam sumeng-sumeng, ruam, lemah, sakit kepala, nyeri tenggorokan, pembesaran kalenjar getah bening, nyeri sendi, namun pada sekitar 25-50% infeksinya tidak bergejala. Meskipun demikian orang yang tidak bergejala ini juga dapat menularkan ke orang lain.

Pada orang dewasa yang tidak hamil, sebenarnya penyakit ini tidak berbahaya dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun bagaimana jika sang ibu hamil yang terinfeksi rubella ? Infeksi rubella yang terjadi saat konsepsi dan kehamilan sangat berbahaya bagi janin dan dapat menyebabkan Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital

Sindroma Rubella Kongenital (SRK) ialah kecacatan janin akibat infeksi rubella pada ibu. Kecacatan yang terjadi dapat beragam antara lain tuli  (58%); gangguan pada penglihatan dapat berupa katarak, glaukoma, retinopati (43%); penyakit jantung bawaan, keguguran, lahir mati, lahir prematur gangguan pada sistem saraf pusat, retardasi mental, kuning pada bayi, dan berbagai gangguan lainnya.

X2604-R-26
Sindroma Rubella Kongenital

Resiko keparahan SRK ini juga bergantung pada usia kehamilan saat ibu mengalami infeksi. Risiko Sindroma Rubella Kongenital tertinggi jika infeksi rubella terjadi pada trimester pertama mencapai 85%. Sedangkan pada minggu ke 13-16 kehamilan risikonya menurun menjadi 54%, dan setelah minggu ke 20 kehamilan risiko tersebut semakin kecil.

Bagaimana mencegah infeksi rubella?

Kekebalan terhadap rubella bisa didapatkan melalui imunisasi atau adanya riwayat infeksi dimasa lampau. Imunisasi rubella di Indonesia diberikan dalam bentuk kombo yakni imunisasi MMR yang merupakan gabungan dari vaksin measles (campak)-mumps (gondong)-rubella. Imunisasi MMR saat ini sudah direkomendasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk diberikan pada usia 15 bulan dan 5 tahun.

mmr10a

Imunisasi sejatinya bukan hanya dapat dilakukan pada bayi dan anak, namun beberapa vaksin juga memang diperuntukkan untuk dewasa apabila saat kecil Ibu belum mendapatkannya. Salah satunya imunisasi MMR. Sebagai persiapan sebelum menikah atau sebelum hamil, sebaiknya dilakukan 1 atau 2 dosis vaksin MMR. Vaksin MMR merupakan jenis vaksin hidup sehingga tidak boleh disuntikkan pada wanita hamil, dan harus diingat bahwa bunda harus menunda kehamilan minimal 1 bulan setelah imunisasi MMR (rekomendasi ACIP). Ibu menyusui bukanlah kontraindikasi untuk vaksin ini, sehingga dapat diberikan kapan pun setelah Ibu melahirkan.

Untuk jenis vaksin hidup, dosis kedua bukanlah booster sepertihalnya jenis vaksin mati. Seperti MMR, dosis kedua sebenarnya bukanlah booster. Namun sekitar 2-5% orang tidak terbentuk kekebalan setelah suntikan pertama MMR, sehingga suntikan kedua diharapkan dapat memberikan kembali kesempatan untuk membentuk kekebalan/ antibodi. Namun sayangnya diperlukan pemeriksaan darah untuk memastikan terbentuk atau tidaknya antibodi, sehingga pada anak-anak usia sekolah, traveler, tenaga kesehatan dan orang dengan risiko tinggi tertular penyakit tersebut direkomendasikan untuk mendapatkan 2 dosis MMR. Setelah dosis ke 2 ini, sekitar 99% terdeteksi antibodi terhadap campak, rubella dan gondong.

Siapa sajakah yang tidak boleh mendapatkan imunisasi MMR?

  • Ibu hamil
  • Riwayat anafilaksis pada pemberian neomisin
  • Riwayat alergi hebat terhadap komponen vaksin atau saat pemberian vaksin MMR sebelumnya
  • Orang dengan imunitas rendah seperti penderita leukemia, AIDS.

Untuk Anda yang sedang masa persiapan pernikahan, setelah melahirkan, atau persiapan kehamilan berikutnya namun belum pernah mendapatkan Imunisasi MMR, yuk segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan suntikan MMR. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Arfenda Puntia Mustikawati, dr.

09/07/2015

Sumber :

1. Dontygni, Lorraine., Arsenault, M., Martel, M. Rubella in Pregnancy.[cited 2015 Agust 18]. Available from : http://sogc.org/wp-content/uploads/2013/01/guiJOGC203CPG0802.pdf
2. Ezike, Elias. Pediatric Rubella. [cited 2015 Agust 18]Available from http://emedicine.medscape.com/article/968523-overview
3. Measles Mumps and Rubella. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/askexperts/experts_mmr.asp
4. McLean, Huong., Redd, Susan., Abernathy, Emily., Icenogle, Joseph ., Wallace, Gregory VPD Surveillance Manual. Chapter 14 : Rubella. 5th Edition, 2012. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-manual/chpt14-rubella.html#vaccination
5. MMR Vaccine : What You Need to Know. [cited 2015 Agust 18] Available from http://www.immunize.org/vis/mmr.pdf
6. Prevention of Measles, Rubella, Congenital Rubella Syndrome, and Mumps, 2013: Summary Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Recommendations and Report/ Vol.62/No.4. June 14, 2013. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr6204a1.htm
7. Rubella: Questions and Answers. [cited 2015 Agust 18]Available from http://www.immunize.org/catg.d/p4218.pdf
8. Rubella (German measles) during pregnancy. [cited 2015 Agust 21]Available from http://www.babycenter.com/0_rubella-german-measles-during-pregnancy_9527.bc

Gambar :
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Rubella,+congenital+syndrome
iio876http://www.tulsa-health.org/sites/default/files/styles/section_thumb/public/page_images/7_AdultImmuniz-21830648-iStock_000021830648Small.jpg?itok=5TjYS7RR

http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/02/04/mmr10a.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *