Demam Berdarah Dengue Pada Ibu Hamil

Musim hujan telah tiba. Genangan air bahkan banjir mulai melanda beberapa daerah di Indonesia. Tak ayal bila kasus demam berdarah juga meningkat karena tempat bersarang nyamuk semakin banyak.  Sepanjang Januari 2016 saja, Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan mencatat 3.298 kasus DBD dengan jumlah kematian sebanyak 50 kasus. KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD terjadi di 11 Kabupaten/Kota di 7 Provinsi.

Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa terjadi pada siapa saja. Mulai bayi, anak, dewasa sampai ibu hamil. Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil karena dampaknya yang bisa berbahaya terhadap ibu dan janin. Sebab itu, penting untuk diketahui kiat pencegahan DBD terutama di musim penghujan ini.

Sekilas tentang Demam Berdarah Dengue

Infeksi virus Dengue merupakan salah satu infeksi tersering yang dibawa oleh nyamuk. Di dunia, setiap tahun diperkirakan 100 juta orang terinfeksi dengue, terutama di daerah tropis seperti Asia Tenggara, Amerika (Tengah & Selatan), serta Pasifik Barat. Penyakit ini menular melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegyptii. Nyamuk menggigit manusia yang menderita penyakit dengue, kemudian menggigit manusia yang sehat.

Demam Berdarah
Penularan Demam Berdarah

Nyamuk ini paling sering menggigit manusia saat pagi dan sore hari. Terdapat 4 jenis virus dengue, yaitu DENV-1 sampai DENV-4. Jika seseorang terinfeksi salah satu jenis virus dengue, maka orang tsb akan memiliki kekebalan seumur hidup terhadap virus dengue tsb, namun hanya kebal beberapa bulan terhadap jenis virus dengue lain. Selain itu, virus dengue dapat menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya.

Gejala Infeksi Virus Dengue

Gejala infeksi virus dengue amat bervariasi mulai dari asimptomatik (tidak bergejala sama sekali) sampai demam berdarah dengue yang menimbulkan syok. Biasanya gejala penyakit dengue muncul 4-10 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi dengu. Diantaranya, dikenal dengan istilah penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue.

Gejala Demam Dengue

  • Demam Dengue merupakan bentuk ringan dari infeksi Dengue. Gejalanya ialah :
  • Demam tinggi (demam >380C) selama 2-7 hari yang mungkin tipenya seperti pelana kuda (demam tinggi hari 1-3 lalu turun sampai hari ke 6)
  • Sakit kepala
  • Nyeri belakang bola mata
  • Nyeri tenggorokan
  • Nyeri pada sendi dan otot
  • Ruam kemerahan di wajah, dada, lengan dan tungkai dengan pulau-pulau kulit yang sehat di antaranya
  • Pada demam dengue juga dapat muncul gejala perdarahan ringan (misalnya gusi berdarah, mimisan, bintik-bintik merah pendarahan)
  • Mual dan muntah

Ibu dapat mengalami demam dengue kemudian sembuh dengan sendirinya, tanpa mengalami dengue yang berat seperti DBD atau DSS.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan bentuk yang perlu diwaspadai dari infeksi virus Dengue. Biasanya DBD terjadi pada infeksi virus Dengue yang berulang. Pada DBD timbul kebocoran cairan plasma darah ke jaringan. Hal inilah yang bisa menyebabkan syok pada penderitanya. Jika Ibu mengalami DBD, Ibu membutuhkan penanganan medis segera berupa terapi cairan untuk mencegah komplikasi dan risiko kematian.

Gejala awal demam dengue dan DBD mirip, sehingga pada fase awal sulit dibedakan apakah Ibu mengalami demam dengue atau DBD. Namun, jika Ibu mengalami DBD, pada hari ke 3-7, demam turun (suhu <380C) disertai munculnya gejala-gejala ini, perlu diwaspadai akan terjadi syok :

  • Nyeri perut yang hebat
  • Mual dan muntah berulang
  • Tidak mau minum
  • Lemas
  • Gelisah
  • Hipotensi
  • Pipis sedikit
  • Muntah darah (akibat perdarahan saluran cerna)

Dengue Shock Syndrome (DSS)

DSS merupakan tahapan lanjut dari DBD. Pada kondisi ini terjadi kebocoran plasma yang hebat di dalam tubuh sehingga terjadi syok. Kondisi ini sangat berat dengan risiko kematian yang tinggi.

Akibat Infeksi Dengue pada Janin

Tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan usia kehamilan, infeksi dengue pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur, gawat janin, berat badan bayi rendah, bahkan kematian bayi. Jika ibu hamil terinfeksi dengue saat trimester pertama, risiko keguguran lebih tinggi.

Jika ibu hamil terinfeksi dengue mendekati jadwal kelahiran, terdapat risiko perdarahan hebat pada ibu dan bayi saat proses kelahiran dan setelahnya. Selain itu, bayi dapat terlahir dengan infeksi dengue. Gejala dengue pada bayi yang baru lahir dapat muncul beberapa jam setelah lahir, atau beberapa hari setelahnya. Gejala dapat berupa demam, ruam (petekiae) dan liver membesar. Pada dengue yang berat, bayi dapat mengalami dengue shock syndrome.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis infeksi virus dengue adalah :

  • Penurunan Leukosit (Leukopenia)
  • Penurunan trombosit. Pada demam dengue biasanya trombosit turun <150.000 sel/mm3 sedangkan pada DBD, hasil trombosit bisa turun sampai <100.000/mm3)
  • Peningkatan Hematokrit. Pada demam dengue hematokrit bisa meningkat 5-10% sedangkan pada DBD peningkatan hematokrit bisa sampai >20%. Namun pada ibu hamil, hematokrit seringkali rendah akibat anemia yang  kehamilan.
  • NS1 ialah penanda antigen virus Dengue yang bisa terdeteksi di hari 1-4 dari munculnya gejala. Sehingga bisa digunakan  untuk mendeteksi dini adanya infeksi virus Dengue.
  • IgM dengue adalah pemeriksaan antibodi/kekebalan tubuh terhadap dengue. IgM dengue muncul setelah 3-5 hari gejala, dan dapat bertahan sampai 6 bulan berikutnya. Tes IgM bereaksi terhadap keempat jenis virus dengue. Adanya gejala-gejala penyakit demam dengue/DBD serta IgM dengue positif menunjukkan adanya infeksi dengue saat ini.

Pengobatan

Ibu hamil yang terkena infeksi dengue sebaiknya dirawat di rumah sakit lebih awal untuk memonitor perjalanan penyakitnya. Terapi utama pada ibu dengan infeksi dengue ialah terapi cairan untuk mencegah syok. Selain itu, dokter akan memberikan obat-obatan yang aman untuk meringankan gejala (seperti menurunkan demam, mengurangi mual atau mengurangi nyeri sendi) pada ibu. Kerjasama antara dokter penyakit dalam, dokter spesialis kandungan dan spesialis anak diperlukan.

Jika Ibu menderita DBD saat dan setelah persalinan, besar risiko terjadinya perdarahan hebat dan syok, sehingga Ibu membutuhkan transfusi trombosit dan pengawasan khusus dari tim medis. Selain itu, bayi Ibu akan diawasi, apakah akan muncul gejala penyakit dengue, agar tidak terlambat ditangani. Gejala dengue paling sering muncul saat bayi berusia 4-5 hari. Jika muncul gejala dengue, bayi Ibu membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Pencegahan

Pemerintah telah meluncurkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M yaitu:

  1. Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dll.
  2. Menutup tempat penampungan air dengan rapat, seperti drum air, kendi, toren air, dll.
  3. Mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas, supaya tidak ada genangan air yang menjadi tempat favorit nyamuk bertelur.

_780050

Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sehingga kurang efektif. Untuk membunuh larva nyamuk dibutuhkan bubuk larvasida (misalnya abate) yang disebarkan di tempat-tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Hindari gigitan nyamuk dengan memasang kawat nyamuk di jendela, memakai pakaian yang tertutup, juga penangkal nyamuk.

Vaksin DBD

Selama 60 tahun terakhir, telah banyak usaha yang dilakukan para peneliti untuk mengembangkan vaksin dengue. Terdapat 4 jenis vaksin dengue yang sedang dikembangkan, yaitu LAV, vaksin chimera, vaksin DNA dengue dan vaksin DENV terinaktifasi. Keempat vaksin tersebut mampu menghasilkan kekebalan terhadap keempat tipe virus dengue. Uji klinis terus dilakukan untuk menyempurnakan vaksin.

Tahun 2014, salah satu vaksin dengue jenis LAV telah menyelesaikan 3 tahapan uji klinis. Uji klinis tersebut dilakukan selama lebih dari 20 tahun, melibatkan sekitar 40.000 anak, remaja dan orang dewasa di 15 negara di seluruh dunia (termasuk Indonesia). Pada Desember tahun 2015, vaksin ini sudah beredar di Meksiko, Filipina dan Brazil. Di Indonesia, rencananya vaksin dengue ini akan tersedia pada akhir tahun 2016.

Kesimpulan

Penyakit DBD meningkat terutama saat musim hujan seperti sekarang. Dalam keadaan tidak hamil pun, penyakit ini cukup berbahaya. Jangan sampai Ibu menderita DBD, terutama mendekati waktu lahiran, karena tingginya risiko perdarahan hebat pada Ibu dan bayi. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Vaksin dengue pada akhir tahun 2016 akan tersedia di Indonesia, namun keamanannya untuk ibu hamil belum diketahui. Pencegahan terbaik yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dan lakukan program pemberantasan sarang nyamuk 3M.

Diana Andarini, dr.

03/20/2016

Referensi

  1. Amin HZ, Sungkar S. Perkembangan mutakhir vaksin demam berdarah dengue. Jurnal Kedokteran Indonesia [serial online] Desember 2013 [cited 2016 Mar 14];1(3):226-33. Available from: http://journal.ui.ac.id/index.php/eJKI/article/viewFile/3007/2466
  2. World Health Organization. Questions and answers on dengue vaccines. [internet] 2015 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.who.int/immunization/research/development/dengue_q_and_a/en/
  3. Basurko C, Carles G, Youssef M, et al. Maternal and fetal consequences of dengue fever during pregnancy. European Journal of Obstetrics & Gynecology [serial online] November 2009 [cited 2016 Mar 8];147(1):29-32. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0301211509004345
  4. Singh N, Sharma K A, Dadhwal V, Mittal S, Selvi A S. A successful management of dengue fever in pregnancy: Report of two cases. Indian J Med Microbiol [serial online] 2008 [cited 2016 Mar 4];26:377-80. Available from: http://www.ijmm.org/text.asp?2008/26/4/377/43577
  5. Tan PC, Rajasingam G, Devi S, et al. Dengue infection in pregnancy: prevalence, vertical transmission and pregnancy outcome. Obstetrics & Gynecology [serial online] May 2008 [cited 2016 Mar 8];111(5):1111-17. Available from: http://journals.lww.com/greenjournal/Fulltext/2008/05000/Dengue_Infection_in_Pregnancy__Prevalence,.15.aspx
  6. World Health Organization. Dengue and severe dengue. [internet] May 2015 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/
  7. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue homepage: clinical guidance. [internet] June 2014 [cited 2016 Mar 8] Available from: http://www.cdc.gov/dengue/clinicalLab/clinical.html
  8. Chitra T V, Panicker S. Maternal and fetal outcome of dengue fever in pregnancy. J Vector Borne Dis [serial online] December 2011 [cited 2016 Mar 8];48:210–13. Available from: http://www.mrcindia.org/journal/issues/484210.pdf
  9. Petdachai W, Sila’on J, Nimmannitya S, Nisalak A. Neonatal dengue infection: report of dengue fever in a 1-day-old infant. Southeast Asian J Trop Med Public Health [serial online] 2004 [cited 2016 Mar 13];35(2):403-7. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15691146
  10. Choudry SP, Gupta RK, Kishan Jai. Dengue shock syndrome in new born – a case series. Indian Pediatrics [serial online] April 2004 [cited 2016 Mar 13];41:397-99. Available from: http://medind.nic.in/ibv/t04/i4/ibvt04i4p397.pdf
  11. Chin PS, Khoo APC, Hani AWA, et al. Acute dengue in a neonate secondary to perinatal transmission. Med J Malaysia [serial online] August 2008 [cited 2016 Mar 13];63(3):265-66. Available from: http://www.e-mjm.org/2008/v63n3/Acute_Dengue.pdf
  12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan DBD dengan PSN 3M plus. [internet] 7 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-plus.html
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Wilayah KLB Ada di 11 Kabupaten/Kota. [internet] 5 Februari 2016 [cited 2016 Mar 13] Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/16020900001/wilayah-klb-dbd-ada-di-11-kabupaten-kota.html
  14. Sanofi Pasteur Dengue Vaccine Frequently Asked Questions. [internet] February 2016 [cited 2016 Mar 14] Available from: http://www.dengue.info/sites/default/files/media-faqs_-for_dengueinfo_feb1_16.pdf
  15. Agrawal P, Garg R, Srivastava S, et al. Pregnancy outcome in women with dengue infection in Northern India. Indian Journal of Clinical Practice [serial online] April 2014 [cited 2016 Mar 8];24(11):1053-56. Available from: http://medind.nic.in/iaa/t14/i4/iaat14i4p1053.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *