Depresi Pada Ibu Rumah Tangga

Apakah ibu seorang ibu rumah tangga? Apakah ibu pernah mengalami perasaan seperti terjebak dalam rutinitas pekerjaan rumah tangga yang membosankan? Ibu tidak sendiri. Menurut survey yang dilakukan oleh Gallup1, ibu rumah tangga mempunyai kecenderungan untuk merasa cemas, marah dan sedih berkepanjangan sepanjang hari dibandingkan ibu yang bekerja. Mereka cenderung merasa tidak berguna, terisolasi dari masyarakat, dan terpenjara di dalam rumah2,3.

Perasaan ini wajar dirasakan ibu rumah tangga, terutama mereka yang baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja. Namun jika dibiarkan berlarut-larut, perasaan ini bisa berkembang menjadi depresi. Menurut Stoudenmire4, empat faktor utama yang mengakibatkan depresi pada ibu rumah tangga adalah:

  1. Kemarahan yang tertahan. Pada umumnya, depresi berhubungan dengan kemarahan yang tidak tersalurkan. Pada ibu rumah tangga, kemarahan ini berhubungan dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga. Perasaan ini bisa disebabkan oleh kebencian pada anak-anaknya yang menjadi penyebab ibu harus diam di rumah dan mengharuskan ibu memberikan waktu dan energi untuk mereka.

  2. Merasa diri tidak menarik. Ibu rumah tangga yang terkena depresi umumnya memiliki pandangan negatif pada penampilan fisiknya dan merasa malu dengan keadaan fisiknya.

  3. Ketiadaan peristiwa yang menarik dalam kehidupannya. Mereka yang terkena depresi pada umumnya merasa kehidupannya membosankan, tidak menarik, dan tidak menyenangkan. Mereka tidak menemukan kesenangan, tantangan, dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-harinya. Pada ibu rumah tangga, kehidupan sehari-harinya melibatkan pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan kegiatan-kegiatan yang selalu berhubungan dengan kebutuhan orang lain. Pada sebagian orang, rumah yang rapih, anak yang ceria, dan suami yang merasa bahagia bisa memberikan kepuasan jiwa. Akan tetapi, pada sebagian yang lain, pemenuhan kebutuhan orang lain menyebabkan ibu menelantarkan kebutuhan dirinya sendiri yang pada akhirnya bisa menyebabkan depresi.

  4. Merasa diri tidak berarti dan tidak berharga. Ibu rumah tangga umumnya merasa inferior dan merasa mempunyai ketergantungan tinggi, dalam hal ini secara finansial kepada suami. Pada umumnya, manusia cenderung membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain. Pada orang yang terkena depresi, mereka cenderung merasa lebih rendah daripada orang lain. Mereka merasa diri mereka gagal.

Gejala-gejala depresi

Depresi merupakan muara dari emosi-emosi negatif yang tidak tersalurkan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa tanda-tanda depresi yang harus diperhatikan jika ibu terus-menerus mengalaminya5.

  • Sulit berkonsentrasi dan mengingat

  • Merasa tidak berguna dan tidak berdaya

  • Merasa sedih berkepanjangan dan cemas

  • Sulit tidur (insomnia) atau tidur terus menerus

  • Mudah marah

  • Merasa tidak dipedulikan oleh orang lain

  • Merasa tidak ada harapan baik dalam hidup

  • Tidak lagi mempunyai ketertarikan pada hobi dan aktivitas yang biasanya disukai (ahedonia)

  • Tidak berselera makan atau makan terus menerus

  • Merasa ingin menghilang dari kehidupan

  • Cepat merasa lelah, tidak merasa fit di pagi hari

  • Kenaikan atau penurunan berat mendadak (perubahan lebih dari 5% berat badan dalam sebulan)

  • Terkadang manifestasi fisik juga muncul sebagai akibat dari depresi seperti rasa sakit di otot, sakit kepala, kram, masalah pencernaan yang tidak membaik dengan pengobatan

143919742_super_housewife_gettyimages_17rtpuj-17rtpv2

(sumber : https://au.lifestyle.yahoo.com)

Faktor-faktor resiko depresi pada ibu rumah tangga

Berdasarkan sebuah studi6, depresi pada ibu rumah tangga didorong oleh kebutuhan setiap manusia akan pengakuan dan merasa dihargai. Manusia juga cenderung membutuhkan tantangan dan stimulasi baru. Perasaan tidak mendiri dalam hal keuangan juga menjadi salah satu faktor resiko ibu rumah tangga mengalami depresi. Beberapa faktor resiko yang meningkatkan peluang ibu rumah tangga mengalami depresi ialah7,8,9:

  • Mempunyai riwayat depresi

  • Pendapatan keluarga yang relatif rendah

  • Merasa tidak puas dengan peran sebagai ibu rumah tangga

  • Hubungan sosial dengan teman dan keluarga yang tidak terlalu baik

  • Memiliki anak usia dini

  • Memiliki beberapa anak usia dini dengan jarak yang relatif berdekatan. Penelitian menunjukkan semakin banyak jumlah anak berusia dini, semakin tinggi peluang ibu terkena depresi6.

  • Memiliki pendidikan yang relatif tinggi

  • Pernah mempunyai pekerjaan yang sangat disukai sebelumnya

Penelitian7 melaporkan bahwa faktor paling penting untuk mencegah depresi pada ibu rumah tangga adalah penerimaan dan kepuasan akan perannya. Faktor-faktor yang umumnya disukai dan tidak disukai oleh seorang ibu rumah tangga bisa disarikan pada poin-poin berikut.

Hal-hal yang disukai:

  • Keamanan dan kestabilan

  • Kepuasan sebagai seorang ibu

  • Kepuasan dalam keluarga

  • Kepuasan sebagai istri

  • Pekerjaan rumah tangga

  • Kepuasan mengerjakan hobi yang disukai

  • Keluangan waktu

  • Otonomi pengaturan waktu sehari-hari

Hal-hal yang tidak disukai:

  • Pekerjaan rumah tangga

Pekerjaan rumah tangga bisa menjadi salah satu pemicu depresi pada ibu rumah tangga karena pekerjaan tersebut merupakan rutinitas yang tidak pernah selesai dan akan selalu ada. Ketika ibu rumah tangga tidak bisa menyukai pekerjaan tersebut, mereka cenderung tidak puas dengan perannya sebagai ibu rumah tangga sementara mereka yang menyukai pekerjaan tersebut, merasakan kepuasan sebagai ibu rumah tangga dan cenderung kebal terhadap depresi.


depresi 4(Sumber: healthxwellness.com)

Bagaimana mengatasi depresi?

Jika ibu merasa salah satu gejala-gejala depresi di atas, maka segeralah ambil tindakan untuk mengatasinya. Jika dibiarkan berlarut-larut, keadaan ini bisa berujung menjadi depresi yang berpotensi mengganggu keberlangsungan dan kebahagiaan hidup berkeluarga. Selain itu, hal ini juga meningkatkan resiko rusaknya sel-sel otak yang mengatur ingatan, kecerdasan dan konsentrasi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan di antaranya adalah:

  • Bicarakan apa yang dirasakan pada pasangan

  • Bicaralah pada teman yang bisa dipercaya dan bisa mengerti kondisi ibu

  • Berolahraga, olahraga terbukti bisa membantu melawan depresi

  • Kunjungi dokter yang bisa dipercaya. Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan mental pribadi dan keluarga. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi depresi, tidak membutuhkan tes darah, X-ray, atau tes lab lain. Akan tetapi, tes darah mungkin dilakukan untuk mengeliminasi penyakit lain yang memiliki gejala menyerupai depresi seperti hipothyroid, kecanduan alkohol, kecanduan obat-obatan, dan stroke.

  • Jika menemukan gejala depresi, rujukan akan diberikan untuk mengunjungi tenaga kesehatan spesialis untuk pengobatan seperti psikoterapis. Obat-obatan anti depresant juga mungkin diberikan jika memang dibutuhkan. Untuk ibu yang hamil atau menyusui, dokter akan menyesuaikan obat-obatan yang diberikan sehingga aman untuk ibu dan anak.

depresi5
(Sumber: nzecochick.com)

Agar tidak terjatuh ke dalam jurang depresi

Kecenderungan depresi ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi setiap ibu rumah tangga yang menghadapi berbagai tantangan yang berbeda-beda dalam kesehariannya. Ada beberapa cara yang bisa ibu lakukan untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik di antaranya adalah10:

  • Selalu mandi dan mempersiapkan diri di pagi hari seakan-akan ibu akan bekerja hari itu. Hal ini akan membuat ibu merasa segar dan siap menghadapi kegiatan sehari-hari dengan percaya diri.

  • Jangan sia-siakan waktu dengan melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat seperti nonton televisi. Ibu bisa menggunakan waktu menonton untuk membaca buku, mempelajari keahlian baru, berjalan-jalan santai di luar, membacakan buku pada anak, mengunjungi kawan atau keluarga dan kegiatan lain yang membuat ibu merasa lebih bahagia.

  • Susunlah jadwal harian. Dengan memiliki jadwal harian, ibu akan mempunyai perkiraan apa saja kegiatan yang akan dilakukan setiap hari sehingga ibu bisa menyelesaikan pekerjaan domestik dalam waktu yang diinginkan. Selain itu ibu bisa menemukan waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan di luar pekerjaan domestik.

  • Ubah kebiasaan ibu, lakukan hal yang baru. Ketika ibu merasakan emosi negatif yang mengarah pada depresi, cobalah lakukan hal yang baru, sesederhana apapun itu seperti janji makan siang dengan suami atau teman.

  • Jika ibu merasa kurang dihargai sebagai ibu rumah tangga, bicarakanlah perasaan ibu pada pasangan.

  • Ibu bisa mempertimbangkan untuk mengambil kursus atau hobi baru untuk mendongkrak rasa kepercayaan diri dan kepuasan dalam hidup.

  • Rawatlah diri ibu dengan baik dengan berolahraga dan menjaga konsumsi makanan bergizi.

  • Kembangkan jaringan sosial ibu. Salah satu hal yang dipercaya sebagai pendukung kesehatan mental ibu bekerja di antaranya adalah hubungan sosialnya dengan teman sekantor dan atasan. Ibu rumah tangga bisa memperoleh dukungan sosial yang sama dari teman dalam perkumpulan atau kegiatan lain yang dilakukan di luar rumah.

Alternatif lain yang bisa menjadi jalan tengah antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja adalah bekerja paruh waktu. Penelitian6 memaparkan ibu yang bekerja paruh waktu cenderung mempunyai gejala depresi yang lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Mereka juga beresiko lebih rendah menghadapi konflik keluarga-pekerjaan dibandingkan ibu yang bekerja. Pada masa-masa usia dini, ibu yang bekerja paruh waktu dilaporkan paling terlibat dalam kehidupan sekolah anak-anaknya karena mereka mempunyai keluangan waktu dibandingkan ibu yang bekerja dan energi dan emosi yang lebih positif dibandingkan ibu rumah tangga. 

Hanifah Widiastuti, PhD (artikel telah direview oleh Tim Dokter)

SUMBER:

  1. http://www.gallup.com/poll/154685/Stay-Home-Moms-Report-Depression-Sadness-Anger.aspx?utm_source=alert&utm_medium=email&utm_campaign=syndication&utm_content=morelink&utm_term=All%20Gallup%20Headlines

  2. Mostow, E. and Newberry, P. 1975. Work Role and Depression: A comparison of Workers and Housewives in Treatment. American Journal of Orthopsychiatry, 45(4): 538-548

  3. Repetti, R., Matthews, K., and Waldron, I. 1989. Employment and Women’s Health: Effects of Paid Employment on Women’s Mental and Physical Health. American Psychologist, 44(11): 1394-1401

  4. Stoudenmire, J. 1976. The Role of Religion in the Depressed Housewife. Journal of Religion and Health, 15(1): 62-67

  5. http://www.webmd.com/depression/guide/detecting-depression

  6. Buehler, Cheryl and O’Brien, Marion. 2011. Mothers’ Part-Time Employment: Associations With Mother and Family Well-Being. Journal of Family Psychology, 25(6): 895-906

  7. Shehan, C. L. Burg, M. A., and Rexroat, C. A. 1986. Depression and the Social Dimensions of the Full-Time Housewife Role. The Sociological Quarterly, 27(3): 403-421

  8. Weissman, M., Pincus, C., Redding, N., Lawrence, R., and Siegel, R. 1973. The Educated Housewive: Mild Depression and the Search for Work. American Journal of Orthopsychiatry, 43(4): 565-573

  9. Radloff, L. 1975. Sex Differences in Depression: The Effects of Occupation and Marital Status. Sex Roles, 1(3): 249-265

  10. http://www.familylife.com/articles/topics/life-issues/challenges/depression/beating-depression-as-a-stay-at-home-mom#.VDfyPimSx68

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *