Difteri : Penyakit Lama yang Muncul Kembali

Tahukah Ayah Bunda, sebelum vaksin ditemukan, difteri merupakan salah satu penyakit tersering penyebab kematian pada anak. Pada tahun 1921, Di Amerika saja tercatat 206.000 anak menderita penyakit difteri, diantaranya 15.520 anak meninggal. Sejak vaksin ditemukan, kasus difteri telah berkurang sampai 95% di seluruh dunia. Namun, sejak tahun 1990an, wabah penyakit ini kembali muncul. Pada tahun 1995, terdapat >50.000 kasus di Eropa saja. Cakupan imunisasi DPT diperbaiki dan diperluas, sehingga wabah dapat diatasi dan jumlah kasus berkurang di tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 2000-an, penyakit difteri yang seharusnya sudah diberantas, masih muncul kembali. Pada tahun 2005, di India tercatat 5.826 kasus difteri (71% dari total kasus difteri global). Di Indonesia, pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus serupa juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit saluran napas atas akut yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Anak rentan terkena penyakit ini jika berusia <12 tahun, imunisasinya tidak lengkap atau memiliki kekebalan tubuh yang rendah.

Bagaimana penularannya?

Penyakit ini menular melalui droplet atau cairan dari saluran napas (dari hidung sampai tenggorokan), yang keluar pada saat bersin atau batuk. Anak dapat tertular oleh orang lain yang sakit difteri atau carrier. Carrier adalah seseorang yang di tubuhnya terdapat bakteri difteri namun tidak menunjukkan gejala penyakit difteri.

Apa saja gejalanya?

Gejala awal penyakit difteri pada anak mirip dengan penyakit saluran napas atas lainnya, seperti nyeri tenggorokan, demam, sakit kepala, lemah, suara serak, dll. Pada bayi, gejala awal paling sering yaitu pilek dengan ingus yang kental berwarna kekuningan.

Pada anak yang tidak diimunisasi atau kekebalan tubuhnya rendah, pada hari ke-5 akan terbentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal. Lapisan ini dapat menutupi tonsil/amandel, langit-langit mulut, lidah, tenggorokan, juga rongga saluran pernapasan lainnya. Lapisan ini sangat sulit dilepas, bahkan usaha melepasnya dapat menyebabkan perdarahan dan bengkak sehingga saluran napas semakin tertutup. Jika lapisan tersebut menutup seluruh saluran napas, anak tidak dapat bernapas, sehingga dapat menyebabkan kematian.

Difteri
Difteri

Gejala lainnya yaitu adanya pembengkakan kelenjar leher, yang membuat leher anak tampak seperti leher kerbau (bull’s neck).

Pada sebagian kecil kasus, toksin difteri menyerang kulit, terutama pada bagian tangan dan kaki. Awalnya kulit yang terinfeksi akan menjadi merah, terasa nyeri dan timbul bisul. Kemudian dapat terbentuk ulkus/lesi kulit dengan tepi yang tegas dan terdapat lapisan keabu-abuan. Lesi kulit ini dapat menetap berbulan-bulan. Selain kulit tangan dan kaki, toksin difteri juga dapat menyerang kulit telinga, mata, dan alat kelamin.

Apa komplikasinya?

Pada penyakit yang berat, toksin  juga dapat menyerang saraf dan jantung anak. Jika toksin menyerang saraf di sekitar tonsil/amandel, anak akan mengalami kesulitan menelan yang berisiko masuknya makanan ke paru-paru, hal ini dapat menyebabkan infeksi paru-paru (pneumonia), bahkan kematian. Jika toksin menyerang saraf kepala, pandangan anak akan kabur, juling atau sulit melihat benda dekat.

Jika toksin menyerang jantung, sel otot jantung menjadi rusak dan menyebabkan irama jantung tidak beraturan (disaritmia). Penyakit toxic cardiomyopathy juga dapat muncul pada 10-25% anak, dengan tingkat kematian 50-60%.

Bagaimana pengobatannya?

Pengobatan penyakit difteri yaitu dengan antitoksin yang diberikan lewat infus. Antibiotik juga diberikan untuk menahan produksi toksin dan mencegah toksin menyebar ke organ tubuh lain yang dapat memperparah penyakit.

Untuk membuka saluran napas yang tertutup lapisan putih keabu-abuan, anak Anda akan membutuhkan alat bantu napas berupa selang yang dimasukkan lewat mulut ke paru-paru. Selang ini juga berfungsi untuk mencegah lapisan tersebut menutup saluran napas anak seluruhnya, sampai antitoksin bekerja. Namun jika komplikasi pernapasan atau saraf terlalu berat, diperlukan operasi. Leher anak akan dilubangi kemudian dipasang selang yang dihubungkan ke sumber oksigen, agar anak bisa bernapas. ia harus dirawat di perawatan intensif (ICU).

Bagaimana dengan keluarga yang tinggal serumah? Apakah perlu diobati?

Keluarga atau pengasuh yang tinggal serumah dengan penderita, harus diberikan vaksin penguat/booster yang mengandung toksoid difteri. Selain itu, sebaiknya juga diberikan antibiotik selama 7-10 hari. Antitoksin baru diberikan apabila muncul gejala penyakit difteri.

Apakah anak carrier perlu diobati?

Pada anak carrier (terinfeksi kuman namun tidak menunjukkan gejala), perlu diberikan antibiotik selama 7-10 hari karena anak carrier dapat menularkan penyakit. Anak ditempatkan pada ruangan khusus (isolasi) sampai terapi antibiotik selesai. Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika hasilnya negatif, anak sudah boleh keluar dan beraktivitas seperti biasa.

Apakah difteri dapat dicegah?

Pencegahan yang terbaik yaitu dengan imunisasi. Untuk imunisasi primer terhadap difteri, digunakan toksoid difteri yang digabung dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam bentuk vaksin DTP. Jadwal untuk imunisasi DTP pada anak yaitu pemberian 5 dosis, pada usia 2, 4, 6, 18-24 bulan dan 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

jadwal vaksin idai

Selain vaksin DTP yang telah digunakan sejak tahun 1975, beberapa sediaan vaksin yang berisi toksoid-difteri adalah:

  • Vaksin DT : digunakan untuk penguat/booster pada anak >5 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP.
  • Vaksin Td : digunakan untuk penguat/booster pada anak >7 tahun (yg telah mendapat vaksin DTP atau DT), atau imunisasi dasar 3 kali pada anak yg belum pernah mendapat vaksin DTP atau DT. Vaksin Td juga diberikan pada program BIAS anak SD kelas I, II dan III. Kandungan toksoid difteri vaksin Td hanya ¼ – ⅒ kandungan toksoid difteri pada vaksin DTP atau DT.

Semoga bermanfaat..

Diana Andarini, dr.

02/04/2016

Referensi

  1. Cem S Demirci, Russell W Steele. Pediatric Diphtheria. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview
  2. Centre for Disease Control and Prevention. Diphtheria for Clinicians. Cited on 25 Jan 2016. Available from http://www.cdc.gov/diphtheria/clinicians.html
  3. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  4. Sailaja Bitragunta, Manoj V. Murhekar, Mohan D. Gupte. Persistence of Diphtheria, Hyderabad, India, 2003–2006. Emerg Infect Dis. 2008 Jul; 14(7): 1144–1146. doi: 10.3201/eid1407.071167.
  5. Karen S. Wagner, Joanne M. White. Diphtheria in the Postepidemic Period, Europe, 2000–2009. Emerg Infect Dis. 2012 Feb; 18(2): 217–225.doi: 10.3201/eid1802.110987.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *