Tips Menggunakan Media Digital yang Bijaksana Pada Anak

Di era modern ini perkembangan teknologi amat pesat. Dahulu mungkin anak hanya terpapar oleh TV atau video games. Sekarang tidak jarang kita lihat anak bahkan bayi punya ‘mainan’ baru berupa smartphone, tablet, laptop dsb. Bahkan gadget mungkin sekarang sudah seperti ‘pengasuh’ yang bisa segera membuat anak anteng ketika rewel. Namun, terlepas dari manfaat media elektronik sebagai pendukung belajar, gadget juga dapat berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan psikologis anak.

Fakta Tentang Gadget/Media Elektronik

  • Daya tangkap anak <2 tahun berbeda dengan anak yang lebih besar. Mereka kurang bisa menangkap informasi yang disampaikan lewat video daripada disampaikan langsung. Penelitian menyebutkan bahwa anak <2 tahun yang menonton TV perkembangan kognitifnya tidak lebih baik daripada yang tidak menonton.
  • Kosakata anak didapat dari interaksi saat bicara langsung pada pengasuh. Penelitian membuktikan bahwa anak <2 tahun yang terlalu banyak menonton TV/video dapat mengalami keterlambatan bicara.
  • Saat TV disetel (meskipun bukan untuk ditonton anak), interaksi anak dengan orang dewasa berkurang. Media elektronik yang distel menjadi latar belakang saja bisa mengganggu proses kognitif anak, memori dan proses membaca.
  • Penggunaan media elektronik pada anak prasekolah dan usia sekolah dapat meningkatkan resiko obesitas, gangguan tidur, perilaku agresif dan gangguan atensi (konsentrasi). Pola tidur yang terganggu dapat mempengaruhi mood, perilaku dan proses belajar anak.
  • Dalam waktu 30 menit menggunakan teknologi sudah dapat menimbulkan gangguan fisik seperti gangguan mata, tidak makan dan kelelahan.
  • 2/3 anak dan remaja melaporkan bahwa orangtua tidak menerapkan aturan menggunakan media. Padahal, banyak anak kecil yang melihat film untuk remaja (PG-13 atau R) baik online, TV atau bioskop yang nyatanya mengandung adegan yang tidak sesuai untuk mereka. Penelitian menyebutkan bahwa 20% remaja menerima atau mengirim gambar berbau pornografi dari internet atau telepon selular.

Melihat dampak negatif ini tentu orangtua perlu segera menyadari bahwa gadget/media elektronik tidak selamanya bermanfaat. Meskipun saat ini banyak program/aplikasi khusus untuk bayi dan balita, tetapi interaksi langsung adalah proses belajar dan kehangatan yang mereka butuhkan. Tentu kita tidak dapat pungkiri bahwa meniadakan media digital dalam gaya hidup saat ini hampir tidak mungkin. Sehingga, orang tua perlu mulai langkah-langkah ini agar meminimalisir dampak negatif media. Berikut rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) mengenai penggunaan media :

  1. Pahami bahwa permainan acak, tidak terstruktur dan tanpa elektronik amat baik untuk perkembangan otak anak, memecahkan masalah, berpikir inovatif dan menumbuhkan logika. Bermain bersama anak tidak ternilai manfaatnya.
  2. Sebisa mungkin hindari sama sekali gadget untuk anak <2 tahun. Sebisa mungkin juga matikan TV di ruang tamu meskipun bukan anak yang menonton. Lebih baik membiarkan anak bermain masak-masakan di lantai sembari orangtua menyiapkan makanan daripada memberi gadget.
  3. Pahami pentingnya bercengkrama langsung dengan anak. Komunikasi dari wajah ke wajah, atau duduk dan membacakan cerita amat baik untuk perkembangan kognitif dan bahasa.
  4. Buat arena “Bebas teknologi” di kamar anak dan di acara keluarga. Hindari pemasangan TV di kamar anak. Charge semua gadget di malam hari agar anak tidak tergoda untuk menggunakannya. Jadikan makan malam, kumpul keluarga, sebagai momen spesial membina kedekatan dengan anak.
  5. Jangan gunakan teknologi untuk menghibur anak saat rewel. Media memang amat efektif membuat anak ‘anteng’. Tetapi perlu diingat bahwa cara ini bukan satu-satunya untuk menenangkan anak. Anak perlu diajarkan bagaimana mengatasi gejolak emosi yang kuat, mencari aktivitas untuk mengurangi kebosanan atau ditenangkan lewat latihan nafas, bicara untuk menyelesaikan masalah atau strategi lain untuk menyalurkan emosi.
  6. Untuk anak yang lebih besar (di atas 2 tahun), batasi penggunaan media maksimal <1-2 jam perhari. Saat anak menonton TV, film atau video, dampingi ia sambil berdiskusi mengenai nilai-nilai positif dari cerita tersebut.
  7. Perlakukan media sama seperti mengawasi lingkungan anak yang lain. Kenali apps/program yang digunakan, situs apa yang dikunjungi, aktivitas apa yang ia lakukan secara online dan siapa temannya di dunia maya.
  8. Jadilah contoh yang baik. Karena anak ialah peniru yang ulung, maka batasi juga penggunaan media oleh orangtua. Saat bersama anak, upayakan untuk berinteraksi dengan mengobrol, bermain, memeluk daripada menatapi layar bersama-sama.
  9. Saat mereka remaja, biarkan mereka menggunakan internet. Berinteraksi di sosial media di kalangan remaja sudah menjadi hal yang lumrah. Pastikan saja bahwa perilaku mereka baik di kehidupan sehari-hari atau di dunia maya tidak menyimpang. Ingatkan selalu bahwa setelan “privasi” pada sosial media tidak benar-benar “privat”. Apa yang mereka posting di sosial media akan tetap ada jejak digitalnya sampai kapanpun.
  10. Anak bisa saja melakukan kesalahan saat menggunakan media digital/internet. Cobalah berempati saat ia salah dan jadikan momen ini sebagai pelajaran berharga. Namun, perilaku seperti bertukar pornografi, bullying, posting foto yang membahayakan diri sudah menjadi “lampu merah” untuk orangtua mengambil langkah selanjutnya. Seperti mengawasi lebih ketat atau berkonsultasi kepada ahlinya (dokter anar, psikolog atau psikiater).

Agustina Kadaristiana,dr.

10/11/2015

Refernsi

1. Strasburger VC, Hogan MJ, Mulligan DA, Ameenuddin N, Christakis DA, Cross C, et al. Children, Adolescents, and the Media. Pediatrics. 2013 Nov 1;132(5):958–61.
2. Kids & Tech: 10 Tips for Parents in the Digital Age [Internet]. HealthyChildren.org. [cited 2015 Oct 11]. Available from: http://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/Tips-for-Parents-Digital-Age.aspx
3. Brown A. Media Use by Children Younger Than 2 Years. Pediatrics. 2011 Nov 1;128(5):1040–5.
4. Smahel D, Wright MF, Cernikova M. The impact of digital media on health: children’s perspectives. Int J Public Health. 2015 Feb;60(2):131–7.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *