Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak

Perkembangan bicara dan bahasa anak dapat mempengaruhi kesuksesan anak di sekolah. Balita dengan gangguan bicara dan bahasa berisiko tinggi mengalami kesulitan membaca dan menulis yang berujung pada kemampuan akademis rendah saat usia sekolah. Bila terlambat ditangani, anak biasanya akan kesulitan beradaptasi dan memiliki gangguan perilaku. Saat remaja, mereka juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga penting bagi orangtua untuk mendeteksi dini adanya gangguan bicara pada anak.

Salah satu ciri anak mengalami gangguan bicara dan bahasa ialah terlambat bicara. Speech delay atau terlambat ini Paling banyak terjadi pada anak laki-laki, yang keluarganya terdapat riwayat terlambat bicara atau gangguan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan adanya gen FOXP2 yang diturunkan dan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa. Anak juga berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa jika lahir prematur atau berat badan saat lahir rendah (bayi BBLR), tingkat pendidikan orang tua rendah dan kemiskinan.

Jenis-jenis gangguan bicara dan bahasa pada anak

Ada 2 tipe utama gangguan bicara dan bahasa pada anak, yaitu tipe primer dan sekunder.

Tipe Primer
merupakan gangguan bicara dan bahasa yang murni tanpa ada penyebab/kondisi lain. Contoh gangguan tipe primer misalnya :

  • Perkembangan bicara dan bahasa yang terlambat/ “late bloomers”
    Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Kondisi ini terjadi akibat adanya keterlambatan proses pematangan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Perkembangan bicara dan bahasa anak biasanya akan normal dengan sendirinya.
  • Gangguan bahasa ekspresif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses bicara. Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, namun memiliki pemahaman, kepintaran, pendengaran, hubungan emosional dan artikulasi yang normal. Gangguan ini sulit dibedakan dengan developmental speech and language delay pada usia dini. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa reseptif
    Pada kondisi ini terdapat gangguan otak yang bertanggung jawab terhadap proses pemahaman.Ciri-cirinya yaitu: Anak terlambat bicara, jarang bicara, agrammatic (tatanan bahasa yang salah), dan artikulasi tidak jelas. Anak tidak melihat atau menunjuk pada objek atau orang yang disebutkan oleh orang tua (hal ini menunjukkan anak kurang/tidak paham). Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.
  • Gangguan bahasa campuran
    Merupakan campuran dari gangguan bahasa ekspresif dan reseptif. Anak memiliki pemahaman yang kurang, menggunakan kata tidak sesuai artinya, sulit mengungkapkan keinginannya, dan kosakatanya terbatas. Terapi harus dilakukan karena gangguan ini tidak bisa sembuh sendiri.

Tipe Sekunder
merupakan gangguan bicara dan bahasa karena ada penyebab yang jelas atau kondisi lain. Contohnya :

  • Gangguan spektrum autis
    Gangguan spektrum autis merupakan suatu kumpulan gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan masalah sosial, komunikasi dan perilaku. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik, pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat hamil (misal asalm valproat, thalidomide), usia kedua orang tua >40 tahun saat hamil, dll.
    Gejalanya yaitu anak terlambat bicara, adanya penurunan intelektual, echolalia (mengulang ucapan namun tidak mengerti artinya), kesulitan memulai dan mempertahankan percakapan, menyebutkan pronoun (saya, kamu, dia) terbalik-balik, dan adanya kemunduran dalam perkembangan bahasa dan bicaranya.
    Anak juga memiliki gangguan interaksi sosial. Tidak ada kontak mata saat diajak bicara, tidak merespon senyuman orang tua, hidup di “dunianya sendiri”, dan sering mengulang gerakan tertentu yang tidak jelas.
    Anak sebaiknya diperiksa juga kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain (misal perkembangan motoriknya).
  • Cerebral palsy
    Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan atau postur tubuh yang tidak normal akibat kerusakan/gangguan perkembangan otak. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kernicterus (sakit kuning yang berat), riwayat kejang, perdarahan otak, prematur, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Cerebral palsy tidak semakin memburuk, cenderung menetap seiring pertambahan usia anak. Selain gangguan gerak dan postur tubuh, anak juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan motorik, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, penurunan intelektual, dan gangguan bicara. Gangguan bicara terjadi karena kesulitan koordinasi/kekakuan otot-otot orofaring (dari mulut sampai pita suara). Akibatnya anak sulit mengucapkan kata dan berbicara dengan jelas. Gangguan bicara menyebabkan anak sulit berkomunikasi, yang sering salah diinterpretasikan sebagai gangguan kognitif. Hal ini menyebabkan stres pada anak dengan CP, terutama yang tingkat intelektualnya normal/di atas rata-rata.
  • Apraksia bicara pada anak
    Apraksia bicara pada anak merupakan salah satu kelainan motorik. Pada kondisi ini otak sulit mengkoordinasikan otot-otot pada bibir, rahang dan lidah. Otot anak tidak lemah atau lumpuh seperti pada kondisi cerebral palsy. Pada sebagian besar anak penyebabnya tidak jelas, sebagian lagi disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan otak. Ciri-cirinya yaitu:

    • Lebih sering menyederhanakan kata dengan menghilangkan bunyi yang sulit dibanding anak normal
    • Dapat memahami bahasa jauh lebih baik dibanding yang bisa diucapkannya
      Sering salah mengucapkan kata namun tidak konsisten
    • Ucapan yang ditiru lebih jelas dibandingkan ucapan yang spontan
      Sulit mengucapkan kata atau kalimat yang panjang
    • Ucapan terdengar monoton, terbata-bata, atau menekan pada kata atau silabus yang salah
  • Disartria
    Disartria merupakan jenis kelainan motorik. Pada kondisi ini otot-otot pada bibir, lidah, pita suara dan/atau diafragma anak lemah. Penyebabnya yaitu adanya kerusakan otak pada tingkat yang lebih rendah dibanding kerusakan otak pada apraksia. Anak paham dan mengetahui apa yang ingin diucapkan, namun artikulasinya tidak jelas. Ciri-cirinya yaitu:

    • Ucapannya berantakan, bicara cepat seperti bergumam
    • Gerakan lidah, bibir dan rahang terbatas
    • Kualitas suara berubah, seperti serak atau sengau
  • Retardasi mental
    Anak dikatakan retardasi mental bila memenuhi 3 kriteria, yaitu fungsi intelektual dibawah normal (IQ <70), terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial, dan gejala timbul sebelum usia 18 tahun. Retardasi mental dapat disebabkan adanya kelainan genetik, riwayat kernicterus (sakit kuning yang berat), perdarahan otak, ada masalah saat proses kelahiran, adanya infeksi atau riwayat konsumsi alkohol pada ibu selama hamil. Retardasi mental bisa menyebabkan terlambat bicara. Selain itu, anak juga terlambat menggunakan gestur/gerakan sebagai sarana komunikasi. Pemahaman anak pun kurang terhadap perintah orang lain. Perbedaannya dengan yang lain, pada retardasi mental anak mengalami keterlambatan di semua aspek perkembangan (motorik, sosial dan kemandirian, dll )
  • Gangguan pendengaran
    Anak yang mengalami gangguan pendengaran biasanya akan mengalami gangguan bicara juga. Terlebih lagi bila gangguan pendengaran terjadi di usia dini. Hal ini disebabkan anak kekurangan perbendaharaan kata/informasi yang ia perlu dengar sebelum ia ungkapkan dalam kata atau kalimat.Gangguan pendengaran bisa karena sumbatan/infeksi telinga luar, tetapi bisa juga karena saraf. Ciri anak yang mengalami gangguan bicara akibat masalah pendengaran yaitu : Anak biasanya memiliki suara yang berbeda (terdistorsi/sengau), kesulitan mengeluarkan suara s, f, th, dll yang berfrekuensi tinggi, namun anak memiliki kontak mata dan interaksi sosial yang normal. Anak dengan gangguan pendengaran yang diterapi pada usia dini menunjukkan kemampuan bicara dan bahasa yang setara dengan anak tanpa gangguan pendengaran. Jadi penting sekali mendeteksi gangguan pendengaran sedini mungkin.
  • Selective mutism
    Pada kondisi ini anak tidak bicara karena tidak mau, bukan karena tidak bisa. Selective mutism lebih sering pada anak perempuan. Anak biasanya mau bicara saat sedang sendiri, dengan orang tua atau keluarganya, namun anak tidak mau bicara di tempat umum (misal sekolah) atau dengan orang asing. Sebagian anak dengan selective mutism juga mengalami gangguan artikulasi atau bahasa. Selain itu, anak dengan selective mutism juga menunjukkan gejala kesulitan beradaptasi, terlalu bergantung pada orang tuanya. Pada umumnya anak akan menarik diri, malu, cenderung penakut dan pesimis.

Diagnosis

Identifikasi anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa akan berlanjut dengan terapi. Terapi sebaiknya dilakukan pada usia dini, saat otak anak masih berkembang pesat sehingga bisa dicapai hasil yang terbaik. Oleh karena itu, deteksi dini anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa sangat penting. Tanda-tanda anak Anda berisiko mengalami gangguan bicara dan bahasa bisa dilihat disini.

Saat anak Anda dibawa ke dokter, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, fungsi pendengaran, motorik kasar dan halus. Lalu dokter akan melakukan check list dari instrumen tumbuh kembang anak seperti Denver II dan Early Language Milestone Scale. Orang tua akan diminta untuk mengisi kuesioner. Jika dibutuhkan, anak Anda juga diminta untuk melakukan cek darah dan tes genetik.

Terapi

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe primer, terapi bicara dan bahasa terbukti efektif. Penelitian pada anak usia 2 tahun dengan gangguan bicara dan bahasa yang diterapi intensif, 75% anak perkembangan bicara dan bahasanya normal pada usia 3 tahun.

Terapi wicara
Salah satu contoh terapi bicara dan bahasa adalah terapi wicara. Pada saat terapi, anak akan berada di dalam satu ruangan berhadapan dengan terapisnya. Kegiatan saat terapi wicara mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Intervensi bahasa
    Terapis berinteraksi dengan anak melalui permainan dan mengobrol, menggunakan gambar, buku, mainan, dll. Terapis juga mencontohkan penggunaan kosakata dan susunan kalimat yang benar, dengan latihan berulang-ulang.
  • Artikulasi/produksi suara
    Terapis mencontohkan pengucapan huruf dan suku kata yang benar. Terapis memperlihatkan dan memperagakan gerakan mulut dan lidah saat mengucapkan huruf dan suku kata.
  • Oral-motor
    Terapis menggunakan beberapa latihan oral, misalnya facial massage (pijat wajah), latihan lidah, bibir dan rahang. Latihan tersebut untuk memperkuat otot-otot mulut.
Terapi wicara pada gangguan bicara dan bahasa
Terapi wicara

Terapi SI (sensory integration)
Ternyata sebagian anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa biasanya juga memiliki gangguan integrasi sensori. Sistem sensori yang terkoordinasi dengan baik dapat mengintegrasikan stimulasi dari berbagai sumber (vestibular/sistem keseimbangan, visual/penglihatan), propioseptif, auditori/pendengaran, dan taktil/sentuhan). Gangguan integrasi sensori muncul saat saraf-saraf sensori tidak berfungsi atau fungsinya tidak efektif, yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada anak. Pada saat terapi SI, anak akan diajak bermain dan melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengintegrasikan sistem sensorik dengan berbagai stimulasi.

Terapi SI pada Gangguan Bicara dan Bahasa
Terapi SI

Pada gangguan bicara dan bahasa tipe sekunder, dokter akan melakukan terapi bicara dan bahasa untuk meningkatkan kemampuan anak berkomunikasi. Selain itu, terapi lain juga diperlukan sesuai penyebab dan kelainan penyertanya. Misalnya anak dengan cerebral palsy dan retardasi mental membutuhkan fisioterapi, anak dengan gangguan pendengaran membutuhkan alat bantu dengar dan terapi AVT (auditory verbal therapy), dll.

Kesimpulan

Speech delay/terlambat bicara hanya merupakan tanda adanya gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak, yang harus dicaritahu penyebabnya. Orang tua cenderung menunggu anak bisa bicara normal dengan sendirinya, namun dari semua jenis gangguan bicara dan bahasa, hanya 1 jenis yang dapat sembuh sendiri, sementara hampir semua gangguan bicara dan bahasa diakibatkan adanya gangguan/kerusakan otak. Terapi sebaiknya tidak ditunda dan dilakukan sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta mencegah timbulnya masalah kognitif dan psikososial pada anak di kemudian hari.

Diana Andarini, dr.

12/22/2015

Referensi

  1. Alexander K.C. Leung. Evaluation and Management of the Child with Speech Delay. Am Fam Physician. 1999 Jun 1;59(11):3121-3128. Cited from http://www.aafp.org/afp/1999/0601/p3121.html
  2. Maura R. McLaughlin. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2011 May 15;83(10):1183-1188. Cited from http://www.aafp.org/afp/2011/0515/p1183.html
  3. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Childhood apraxia of speech. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/ChildhoodApraxia/
  4. Simon E. Fisher, Cecilia S.L. Lai, and Anthony P. Monaco. Deciphering the genetic basis of speech and language disorders. Annual Review of Neuroscience 2003; 26:57-80. DOI:10.1146/annurev.neuro.26.041002.131144. Cited from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12524432
  5. A Buschmann, B Jooss, A Rupp. Parent based language intervention for 2-year-old children with specific expressive language delay: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2009; 94:110-116. doi:10.1136/adc.2008.141572. Cited from http://adc.bmj.com/content/94/2/110.full
  6. Sensory integration therapies for children with developmental and behavioral disorders. Pediatrics 2012;129:1186-1189. DOI: 10.1542/peds.2012-0876. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/early/2012/05/23/peds.2012-0876.full.pdf
  7. Speech Language Therapy. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://kidshealth.org/parent/system/ill/speech_therapy.html#
  8. Hanifah Oswari, Rudianto Sofwan. 123 Penyakit dan Gangguan pada Anak. 2009 Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.
  9. Gregory Hickok, John Houde, Feng Rong. Sensorimotor Integration in Speech Processing: Computational Basis and Neural Organization. Neuron 2011; 69(3):407-422. doi:10.1016/j.neuron.2011.01.019
  10. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Cerebral Palsy: Hope Through Research. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.ninds.nih.gov/disorders/cerebral_palsy/detail_cerebral_palsy.htm
  11. American Speech Language Hearing Association (ASHA). Dysarthria. Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/
  12. CDC. Autism Spectrum Disorder (ASD). Cited on Dec 14th 2015. Available from http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  13. Heidi D. Nelson, Peggy Nygren, Miranda Walker, Rita Panoscha. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006; 117(2):298-319. Cited from http://pediatrics.aappublications.org/content/117/2/e298.full
  14. Margaret J. Snowling, D.V.M. Bishop, Susan E. Stothard. Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech-language impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry 2006; 47(8):759-765. DOI: 10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x. Cited from onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.2006.01631.x/abstract
  15. Michael I. Shevell, Anneta Majnemer, Richard I. Webster. Outcomes at school age of preschool children with developmental language impairment. Pediatric Neurology 2005; 32(4):264-269.  doi:10.1016/j.pediatrneurol.2004.12.008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *