Gizi dan Kemampuan Kognitif Anak

Perkembangan kognitif meliputi perkembagan dalam hal intelegensia dan bahasa. Kemampuan kognitif seorang anak dipengaruhi oleh faktor herediter dan non herediter. Faktor herediter bersifat statis dan sulit untuk diubah, seperti keturunan. Sedangkan faktor non herediter termasuk peran gizi, pola asuh keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Zat gizi yang dibutuhkan otak sama halnya dengan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh secara keseluruhan. Otak membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, elektrolit, dan oksigen untuk bekerja. Jadi semua zat gizi penting untuk perkembangan dan kerja otak, namun ada beberapa zat gizi yang menjadi perhatian dalam perkembangan kemampuan kognitif.

Asam Lemak Omega 3

DHA merupakan asam lemak yang termasuk dalam omega 3 telah diakui dapat membantu kecerdasan anak. DHA penting untuk membrane saraf dan kerja neurotransmitter. Penelitian menunjukkan bahwa DHA dapat menjaga kemampuan kognitif di usia lanjut pula.Makanan sumber omega 3 adalah ikan salmon, ikan tuna, ikan tenggiri, sarden, udang, kerang, minyak ikan, kepiting, kacang-kacangan (flaxeeds, walnut, kedelai), kembang kol, dsb.

sources-of-omega-3
http://www.whfoods.com/

Yodium

Yodium sangat penting untuk perkembangan otak. Yodium adalah zat gizi mikro yang paling penting dalam mencegah gangguan otak yang dapat menimbulkan penurunan kemampuan intelektual, melambatnya psikomotor, dan menyebabkan keterbelakangan mental.

Studi menunjukkan bahwa defisiensi yodium memiliki efek negatif pada kinerja kognitif anak sekolah. Gejala defisiensi yodium dapat diatasi dengan suplementasi yodium. Kemampuan kognitif anak membaik pada anak yang mendapat intervensi perbaikan status yodium. Sehingga penting memberikan anak zat gizi ini dalam garam beryodium, rumput laut, skalop, ikan cod, sarden, salmon, daging, udang, tofu, kembang kol, dsb.

iodine
http://www.whfoods.com/

Zat Besi

Otak sensitif terhadap penurunan besi yang berasal dari diet. Beberapa area otak yang penting untuk kemampuan kognitif seperti korteks, hipokampus, dan striatum lebih sensitif terhadap defisiensi besi daripada area yang lain. Besi mempengaruhi mielinisasi saraf, merupakan kofaktor sejumlah enzim yang terlibat dalam sintesis neurotransmitter, termasuk serotonin, norepinefrin, dan dopamin.

Kadar hemoglobin yang normal akan memungkinkan seseorang mempunyai ketahanan dalam berkonsentrasi pada sesuatu, terutama belajar. Studi menunjukkan nilai anak yang kurang besi lebih rendah dibandingkan nilai anak dengan zat besi yang cukup. Agar anak Anda tidak kekurangan zat besi, penuhi kebutuhannya dari daging merah, makanan laut, bayam, brokoli, ubi, dan buah-buahan seperti stroberi, semangka, kurma, dsb.

iron
http://www.whfoods.com/

Depok, 7 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 09/08/2015

Referensi:
1. Bryan J, et al. 2004. Nutrient for Cognitive Development in School Aged Children. The Journal of Nutrition Reviews, Volume 26, no 8, pg 295-306
2. Gewa AC, et al. 2009. Dietary Micronutrients are Associated with Higher Cognitive Function Gains among Primary School Children in Rural Kenya. British Journal of Nutrition, volume 101, pg 1378-1387
3. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
4. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
5. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *