Ingin Donor ASI? Baca Dulu Syaratnya!

Donor ASI sepertinya sudah tidak asing lagi dikalangan para ibu. Ibu yang produksi ASI nya sedikit biasanya menjadi konsumen dari ibu yang memiliki stok ASI berlebih. Terlebih lagi bagi para ibu yang tidak ingin cepat-cepat beralih ke susu formula. Sehingga, tidak heran bila komunitas donor ASI di internet atau media sosial menjadi marak. Namun, berbagi ASI bukan berarti anak mendapatkan manfaat 100% dari ASI tanpa terhindar dari risiko penyakit. Jadi, amat penting bagi ibu untuk berhati-hati sebelum menjadi donor atau konsumen dari donor ASI tersebut.

Manfaat vs Risiko Donor ASI

ASI sudah tidak diragukan lagi menjadi makanan pertama dan utama bagi bayi. Manfaatnya tidak bisa disaingi dengan susu formula atau susu instan lainnya. Namun, saat bayi tidak bisa mendapatkan ASI langsung dari payudara ibu, terdapat beberapa alternatif dari ASI yang dapat dipertimbangkan. Dalam The Global Strategy for Infant and Young Child Feeding disebutkan tingkatan alternatif ASI ialah :1

  1.  ASI yang diperah dari payudara ibu
  2. ASI dari ibu sapih yang sehat atau susu dari bank ASI yang dipasteurisasi
  3. Pengganti ASI seperti susu formula

Di Indonesia, sayangnya bank ASI belum ada. Sehingga, banyak para ibu yang berinisiatif membuat komunitas donor ASI di internet atau mencari ibu susu secara langsung. Namun, orangtua perlu berhati-hati. Donor ASI bisa jadi membawa resiko yang lebih besar daripada manfaatnya apabila ibu tidak memperhatikan kesehatan pendonor dan pengelolaan hasil ASI perah secara seksama. Beberapa risiko donor ASI misalnya :

  1. Kontaminasi dengan penyakit. Air susu ibu dapat menjadi media penularan penyakit pada bayi dari ibu yang mengidap Human T-Cell Leukaemia Viruses (HTLV 1 dan 2), HIV dan Cytomegalovirus (CMV). Khusus untuk kontaminasi CMV di ASI, kuman ini baru akan menimbulkan masalah apabila ASI diberikan pada bayi yang prematur. 2
  2. Kontaminasi dengan obat. Obat atau bahan kimia yang dikonsumsi ibu dapat terdeteksi di ASI. Beberapa obat ini dapat mempengaruhi kesehatan janin. 2
  3. ASI  yang tidak murni lagi. Penelitian dari Keim dkk menyebutkan bahwa sebagian besar ASI yang didapatkan dari internet sudah dicampur dengan susu sapi, terkontaminasi dengan bahan kimia atau bakteri.3
  4. Kurang higienis. Pendonor ASI yang kurang paham cara menangani ASI perah bisa saja malah bisa mengantarkan kuman penyakit ke ASI yang hendak diberikan. Penelitian menyebutkan bahwa terdapat kuman berbahaya akibat pengelolaan ASI perah yang kurang higienis seperti Kleibsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Stahylococcus aureus, Bacillus dan Grup B Streptococcus.2

Pertimbangan Lain

Bagi ibu yang beragama Islam, mungkin perlu lebih hati-hati dalam memilih donor ASI. Pasalnya, menyusui bayi orang lain memiliki konsekuensi hukum tersendiri yaitu menjadi haram untuk dinikahi. Dua kelompok yang menjadi haram dinikahi karena persusuan yaitu ibu yang menyusui serta nasabnya ke atas dan anak dari ibu yang menyusui (saudara sepersusuan).4

Langkah Memilih Donor

Sebagai orangtua yang bijak, tentu tidak salah apabila bersikap ekstra hati-hati dalam memilih donor ASI. Meskipun kita sudah kenal baik dengan calon ibu susu, tetap pertimbangkan kesehatan pendonor juga pengetahuan dalam mengelola ASI tersebut.

Di negara maju yang telah memiliki bank ASI, calon ibu yang hendak menjadi donor terlebih dahulu dilakukan penapisan atau skrining. Sedangkan di Indonesia yang belum ada bank ASI, skrining bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan atau skrining mandiri. Adapun syarat awal yang perlu dipenuhi ibu bila hendak mendonorkan ASI ialah: 5–8

  1. Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan
  2. Sehat dan tidak mempunyai larangan untuk menyusui
  3. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  4. Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ dalam 12 bulan terakhir
  5. Tidak merokok atau menggunakan terapi nikotin
  6. Tidak mengkonusmsi alkohol
  7. Tidak mengkonsumsi narkoba
  8. Tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi.
  9. Bukan pengguna vitamin dosis besar atau obat-obatan herbal. Obat/suplemen herbal harus dinilai dulu efeknya terhadap ASI
  10. Bukan vegetarian murni yang tidak mengkonsumsi suplemen vitamin B 12
  11. Tidak menggunakan implan payudara
  12. Tidak menggunakan tato/body piercing
  13. Tidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2
  14. Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah)

Bila ibu sudah memenuhi kriteria tersebut, ibu masih perlu melakukan beberapa tes agar ASI yang diberikan terjamin aman dari penyakit berbahaya. Pemeriksaan meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi prematur). Bila ada keraguan terhadap status pendonor, tes skrining ini dapat dilakukan tiap tiga bulan.

Setelah dua tahapan ini dilakukan, baik pendonor atau penerima ASI perlu dibekali cara pengelolaan ASI agar tetap dalam keadaan higienis dan bebas penyakit.

Manajemen Donor ASI

Dari Pendonor

  • Sebelum memerah ASI, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersih
  • Sebaiknya ASI diperah menggunakan tangan. Namun, penggunaan pompa ASI juga tidak apa-apa.
  • ASI perah harus disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan polypropylene atau polycarbonate, botol bayi gelas atau plastik standar (perhatikan tata cara penyimpanan ASI)
  • ASI perah dari ibu pendonor perlu dibekukan secepatnya untuk menjaga nutrisi dan kualitas ASI. Bila tidak memungkinkan (misalnya karena kulkas penuh), ASI yang diperah masih bisa dibekukan dalam 24 jam.
  • ASI harus dalam keadaan beku sampai didonorkan
  • Sebaiknya donor mengecek temperatur kulkas secara berkala (Standar beku tidak lebih dari -20°Celcius )
  • Berikan label pada setiap wadah ASI5,7,8
Penyimpanan Donor ASI
Penyimpanan Donor ASI

Penerima ASI
Setiap ASI yang diterima dari donor perlu dipanaskan khusus untuk mengurangi resiko infeksi. Terlebih lagi bila ASI akan diberikan pada bayi prematur. Ada 3 cara mengurangi resiko penularan penyakit dari ASI (termasuk HIV) yang cukup mudah dilakukan, yaitu :2,5,6

1. Pasteurisasi Holder
Susu dipanaskan di suhu 62.5oC selama 30 menit. Cara ini dapat menonaktifkan virus HIV dengan mempertahankan unsur kekebalan dari ASI. Metode ini paling banyak digunakan di bank ASI karena membutuhkan termometer khusus.

2. Flash heating
Metode ini paling umum dalam pencegahan HIV melalui ASI karena cukup mudah dilakukan. Caranya, ASI sebanyak 50-150 ml diletakkan dalam wadah kaca tertutup berukuran 450 ml. Lalu, buka tutup wadah dan letakkan wadah kaca dalam pemanas susu (Hart Pot) berukuran 1 liter. Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci. Didihkan air. Sesaat setelah muncul gelembung, matikan panci dan pindahkan wadah dari sumber panas. Diamkan ASI sampai suhunya siap untuk diminum bayi.

01-flash-heating1

3. Pasteurisasi Pretoria
Tempatkan 50-150 ml ASI ke dalam wadah kaca berukuran 450 ml. Tutup wadah dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 liter. Tuangkan air mendidih 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci. Tunggu selama 30 menit lalu pindahkan susu sampai suhunya siap diminum bayi atau disimpan dalam kulkas.

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

01/13/2016

Referensi

1. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. WHO [Internet]. 2003; Available from: www.who.int/nutrition/publications/infantfeeding/en/index.html
2. Gribble KD, Hausman BL. Milk sharing and formula feeding: Infant feeding risks in comparative perspective? Australas Med J. 2012 May 31;5(5):275–83.
3. Keim SA, McNamara KA, Dillon CE, Strafford K, Ronau R, McKenzie LB, et al. Breastmilk Sharing: Awareness and Participation Among Women in the Moms2Moms Study. Breastfeed Med. 2014 Oct;9(8):398–406.
4. Donor ASI dalam Fikih Islam [Internet]. Republika Online. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/05/22/noqm0f6-donor-asi-dalam-fikih-islam
5. Donor ASI [Internet]. IDAI. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi
6. Donor ASI; Kapan dan Bagaimana? | AIMI – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia [Internet]. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://aimi-asi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/
7. Government of Canada HC. Safety of Donor Human Milk in Canada – Health Canada [Internet]. 2014 [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://www.hc-sc.gc.ca/fn-an/nutrition/infant-nourisson/human-milk-don-lait-maternel-eng.php
8. Donor breast milk banks overview – NICE Pathways [Internet]. [cited 2016 Jan 13]. Available from: http://pathways.nice.org.uk/pathways/donor-breast-milk-banks/donor-breast-milk-banks-overview#path=view%3A/pathways/donor-breast-milk-banks/donor-breast-milk-banks-overview.xml&content=view-index

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *