Kanker Serviks

Tahukah Anda bahwa kanker serviks merupakan kasus kanker tertinggi di Indonesia?Data dari Riskesdas 2013 diketahui bahwa  hampir 100.000 wanita Indonesia mengalami kanker serviks. Biasanya kanker ini terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Sayangnya, 70% kasus kanker serviks ini baru diketahui pada stadium lanjut. Sehingga tidak heran bila angka kematian kanker serviks meningkat sampai 2x lipat dari tahun 2010 ke 2013. Padahal, kanker serviks ini amat bisa dicegah.

Mengenal Kanker Serviks

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang serviks atau leher rahim. Serviks atau leher rahim ialah bagian rahim yang menyempit sebelum vagina. Bagian serviks yang lebih dekat ke rahim disebut endoserviks, bagian yang lebih dekat ke vagina disebut eksoserviks, sementara pertemuan kedua area tersebut disebut zona transformasi. Pada zona transformasi inilah kanker serviks paling banyak terjadi.

Kanker Serviks
Serviks. Ovary : indung telur, Fallopian tube : saluran indung telur, Uterus : rahim, Cervix = serviks/leher rahim

Penyebab dan Faktor Resiko

Penyebab kanker serviks yaitu infeksi HPV (Human Papillomavirus). Sebanyak 70% kanker serviks terdapat pada wanita yang pernah terinfeksi virus HPV. HPV menginfeksi sel-sel epitel yang melapisi permukaan tubuh, termasuk alat kelamin. Sel-sel yang terinfeksi HPV menjadi tumbuh tidak terkendali. Sebagian sel yang terinfeksi dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh kita dalam 1-2 tahun, namun sebagian lagi tetap terinfeksi. Sel-sel terinfeksi yang menetap ini kemudian berubah menjadi sel pre-kanker, yang selanjutnya dapat menjadi sel kanker. Seseorang yang sudah terinfeksi HPV bisa saja tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi karena sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala.

Virus HPV bisa menular dari pasangan yang terinfeksi HPV melalui hubungan intim. Risiko seorang wanita terinfeksi HPV dan mengalami kanker serviks meningkat apabila :

  • Sering berganti pasangan.
  • Berhubungan seks di usia dini (kurang dari 20 tahun)
  • Berhubungan seks dengan partner yang beresiko tinggi (terinfeksi HPV, senang berganti pasangan)
  • Terdapat riwayat penyakit menular seksual
  • Kondisi imunitas rendah (HIV)

Jika seorang wanita sudah terinfeksi HPV, ada hal-hal yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks, diantaranya yaitu:

  1. Merokok. Wanita yang merokok berisiko 2x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang tidak merokok. Residu tembakau ditemukan pada cairan serviks wanita yang merokok. Cairan ini menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa serviks, yang dapat memicu timbulnya kanker.
  2. Kekebalan tubuh yang sangat rendah, misalnya pada wanita dengan infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sistem kekebalan tubuh penting untuk membunuh sel-sel kanker, serta memperlambat pertumbuhan dan penyebarannya. Pada wanita yang terinfeksi HIV, terutama yang infeksinya sudah berkembang menjadi AIDS, lesi prekanker lebih cepat tumbuh menjadi kanker dan menyebar. Contoh lain yaitu pada wanita dengan penyakit autoimun, yaitu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel-sel tubuh yang normal karena dianggap sebagai kuman. Wanita dengan penyakit autoimun harus mengkonsumsi obat untuk menekan sistem kekebalan tubuhnya agar tidak menghancurkan sel-sel normal, sehingga kekebalan tubuhnya rendah.
  3. Terdapat riwayat keluarga yang terkena kanker serviks. Jika memiliki ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker serviks, maka seorang wanita berisiko 2-3x lipat lebih tinggi terkena kanker serviks.
  4. Konsumsi pil kontrasepsi dalam jangka panjang. Konsumsi pil kontrasepsi selama lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan resiko timbulnya kanker serviks. Namun, saat pil kontrasepsi berhenti dikonsumsi, risiko timbulnya kanker serviks akan menurun kembali. Setelah 10 tahun berhenti, maka risiko terkena kanker serviks sama saja dengan yg tidak pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Gejala

Wanita dengan kanker serviks stadium awal biasanya tidak memiliki gejala yang khas. Gejala baru muncul saat kanker sudah stadium lanjut. Gejalanya yaitu:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal, misalnya perdarahan saat berhubungan intim, setelah menopause, perdarahan diluar jadwal haid, atau haid yang lebih banyak dan lama.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Lendir dengan darah keluar dari vagina di luar jadwal haid atau setelah menopause.

Skrining dan Diagnosis

Pemeriksaan kanker serviks terdapat 2 jenis, yaitu untuk keperluan skrining dan diagnosis.  Skrining adalah pemeriksaan untuk mencari apakah ada sel-sel yang abnormal. Sementara pemeriksaan diagnosis bertujuan untuk konfirmasi apakah sel abnormal tadi benar sel kanker atau tidak.

Untuk skrining dapat dilakukan pemeriksaan Pap smear, IVA atau tes HPV.

  • Pada pemeriksaan Pap smear, dokter Anda akan memasukkan spekulum, alat untuk membuka vagina, lalu dokter akan mengambil sedikit jaringan serviks dengan untuk diperiksa. Dari tes pap smear ini bisa ada tidaknya sel yang tidak normal yang mungkin akan berkembang menjadi kanker.PapTest-large
  • Tes HPV dilakukan untuk mendeteksi sebagian besar tipe virus HPV yang beresiko tinggi menyebabkan kanker servis .Ada 13 tipe HPV onkogenik yang diperiksa yaitu tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68.
  • IVA (Inspeksi Visual Asetat) yaitu pemeriksaan sederhana untuk melihat lesi pra kanker pada serviks dengan bantuan asam cuka yang diencerkan. IVA tes biasa digunakan di tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas terbatas.Pada pemeriksaan ini tenaga kesehatan (bidan, perawat atau dokter) memasukkan spekulum lalu leher rahim Anda akan dioles cairan asam asetat/asam cuka 3-5%. Asam asetat akan mengubah warna sel-sel rahim yang tidak normal menjadi lebih putih Jika hasil skrining menunjukkan hasil abnormal, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi.ilustrasi-iva-1

Diagnosis

Bila pada skrining dokter menemukan adanya lesi pra kanker, dokter biasanya akan memastikan ada atau tidaknya keganasan dengan pemeriksaan tertentu. Pemeriksaan lanjutan tersebut biasanya berupa kolposkopi (dengan biopsi) dan kuret endoserviks.

  • Pada pemeriksaan kolposkopi, dokter akan melihat permukaan leher rahim dengan kaca pembesar khusus (kolposkop). Jika terlihat kelainan pada serviks, dokter lalu akan melakukan biopsi yaitu mengambil sedikit sampel dari jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dari pemeriksaan biopsi ini, dapat dipastikan apakah daerah abnormal di leher rahim tersebut berupa lesi pra kanker, kanker atau bukan keduanya.205353
  • Bila zona transformasi (daerah yang beresiko terkena infeksi HPV dan lesi pra kanker) tidak bisa terlihat dengan kolposkopi, dokter mungkin akan melakukan kuret. Berbeda dengan kuret pada aborsi, kuret endoserviks hanya mengikis sedikit sel dari endoserviks untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikrosop.

Bila setelah diperiksa ternyata ditemukan sel kanker, dokter kemungkinan akan melakukan rontgen dada, tulang atau biopsi untuk melihat stadium dan penyebaran kanker rahim tersebut. Adapun stadium  atau tingkat keparahan kanker serviks ialah :

  • Stadium 0 (carcinoma in situ/CIN) Stadium ini disebut juga pre-kanker. Sel-sel kanker hanya terdapat di permukaan serviks.
  • Stadium IA dan IB → stadium awal. Kanker sudah menembus permukaan serviks, namun belum menyebar.
  • Stadium II ke atas → stadium lanjut. Kanker sudah menyebar keluar serviks, namun masih di dalam area panggul.
  • Stadium IVB → stadium akhir. Kanker telah menyebar keluar panggul, ke bagian tubuh lainnya. Kanker serviks stadium ini sudah sangat sulit untuk disembuhkan.

Pengobatan

Pengobatan setiap wanita yang terkena kanker serviks berbeda, tergantung dari stadium kanker saat diperiksa, usia dan kondisi kesehatan wanita tersebut.

Beberapa pilihan pengobatan yaitu:

Operasi

  • Cryosurgery yaitu operasi dengan menggunakan suhu sangat dingin untuk membunuh sel kanker. Pada operasi ini, alat bernama Cryoprobe diarahkan ke sel abnormal di permukaan rahim. Setelah itu, nitrogen cair dialirkan sampai cukup membuat jaringan beku dan hancur.
  • Operasi laser yaitu operasi dengan sinar laser yang diarahkan melalui vagina. Teknik ini dapat membunuh sel kanker dengan membakar sel tersebut. Teknik ini juga digunakan untuk mengambil sedikit jaringan serviks untuk diperiksa.
  • Histerektomi yaitu operasi pengangkatan rahim
  • Histerektomi radikal yaitu operasi pengangkatan rahim dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Terapi radiasi

Kemoterapi yaitu dengan obat-obatan yang disuntik ke pembuluh darah.

Paliatif,  yaitu terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Dengan cara mengurangi gejala kanker, efek samping terapi kanker, juga mengatasi masalah psikologis, sosial dan spiritual pasien. Terapi ini tidak untuk menyembuhkan.

Untuk kanker stadium awal, dapat dilakukan operasi yang dikombinasikan dengan terapi radiasi atau kemoterapi. Untuk kanker stadium lanjut, dapat dilakukan terapi radiasi dan kemoterapi. Untuk kanker stadium akhir dapat dilakukan kemoterapi dan terapi paliatif.

Terapi Alternatif, amankah?

Anda pasti cukup sering mendengar berbagai terapi alternatif yang mengklaim mampu menyembuhkan kanker serviks. Beberapa terapi alternatif mungkin dapat meringankan gejala atau membuat Anda merasa lebih baik. Namun, sebagian besar terapi alternatif justru berbahaya karena dapat mempercepat perburukan kanker serviks. Seringkali seorang wanita dengan kanker serviks stadium awal menolak pengobatan medis, dan beralih ke pengobatan alternatif. Setelah bertahun-tahun berobat alternatif, kanker serviks seringkali semakin memburuk dengan cepat. Ketika kembali ke dokter didapatkan kanker serviks sudah stadium lanjut bahkan stadium akhir. Jadilah pasien yang bijak, yang tidak termakan janji kesembuhan total. Selalu komunikasikan pilihan terapi kanker dengan dokter yang merawat Anda atau keluarga Anda.

Apakah kanker serviks bisa disembuhkan?

Tergantung dari stadium kanker serviks, semakin tinggi stadium, semakin rendah harapan hidup. Pada kanker serviks stadium awal (IA dan IB) harapan hidup 10 tahun ke depan sebesar 80-95%. Sementara harapan hidup 10 tahun ke depan pada stadium lanjut sebesar 17-47%.

Pencegahan

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan dengan cara pencegahan primer maupun pencegahan sekunder. Pencegahan primer misalnya belajar mengenai kanker serviks dan vaksinasi kanker serviks. Vaksinasi sebaiknya dilakukan sebelum seorang wanita menikah atau aktif secara seksual.

Sementara pencegahan sekunder adalah pencegahan dalam bentuk deteksi dini.  Deteksi dini infeksi HPV atau lesi prekanker serviks dapat dilakukan melalui pemeriksaan IVA, PapSmear dan tes HPV. Wanita dengan kanker serviks yang melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi dini saat stadium awal) lebih tinggi harapan hidupnya dibandingkan yang tidak melakukan pemeriksaan rutin (kanker terdeteksi saat stadium lanjut).

Kesimpulan

Jumlah penderita kanker serviks menduduki peringkat teratas di antara penyakit kanker pada pria dan wanita di Indonesia, dan menyumbang angka kematian yang cukup tinggi. Pengobatan kanker serviks menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Perubahan sel-sel serviks yang terinfeksi HPV menjadi sel kanker berlangsung selama 10-20 tahun, sehingga banyak kesempatan untuk mencegah kanker serviks. Manfaatkan waktu yang banyak tersebut untuk melakukan berbagai tindakan pencegahan. Kanker serviks stadium awal jarang menimbulkan gejala. Sementara saat timbul gejala, kanker serviks sudah stadium lanjut. Jangan sampai terlambat dan menyesal. Segera vaksinasi HPV dan lakukan pemeriksaan IVA, Papsmear atau tes HPV sesuai rekomendasi bidan/dokter Anda.

Diana Andarini, dr.

06/26/2016

Referensi

  1. Nuranna L, Aziz MF, Cornain S, et al. Cervical cancer prevention program in Jakarta, Indonesia: See and treat model in developing country. J Gynecol Oncol (2 July 2012) 23 (3): 147–152. [cited May 10] Available from: www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3395009/
  2. Frellick M. Updated guideline on cervical cancer screening issued by ACOG. December 2015. [cited 5 April 2016] Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/856431
  3. American Cancer Society. Cervical Cancer. [cited 17 Mei 2016] Available from:  http://www.cancer.org/cancer/cervicalcancer/detailedguide/index
  4. National Cancer Institute. HPV and Cancer. February 2015. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/infectious-agents/hpv-fact-sheet
  5. Departemen Kesehatan Indonesia. Stop Kanker. 4 Februari 2015. [cited 17 Mei 2016] Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf
  6. The Elevated 10-Year Risk of Cervical Precancer and Cancer in Women With Human Papillomavirus (HPV) Type 16 or 18 and the Possible Utility of Type-Specific HPV Testing in Clinical Practice. JNCI J Natl Cancer Inst (20 July 2005) 97 (14): 1072-1079. [cited 5 April 2016] Available from: http://jnci.oxfordjournals.org/content/97/14/1072.full
  7. Smith JS, Lindsay L, Hoots B, et al. Human papillomavirus type distribution in invasive cervical cancer and high-grade cervical lesions: A meta-analysis update. Int. J. Cancer, 121: 621–632. [cited 5 April 2016] Available from: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijc.22527/full
  8. Schiffman M, Castle PE, Jeronimo J, et al. Human papillomavirus and cervical cancer. The Lancet (September 2007) 370 (9590): 890–907. [cited 10 Mei 2016] Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17826171
  9. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bulan Cegah Kanker Serviks 2015 [cited 10 Mei 2016] Available from: http://pogijaya.or.id/blog/2015/02/20/bulan-cegah-kanker-serviks-2015/
  10. Centers for Disease Control and Prevention. Making sense of your Pap & HPV test result. August 2015. [cited 25 Mei 2016] Available from: www.cdc.gov/std/hpv/pap/
  11. Centers for Disease Control and Prevention. What should I know about screening? March 2016. [cited 3 Juni 2016] Available from:http://www.cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm
  12. International Collaboration of Epidemiological Studies of Cervical Cancer. Cervical cancer and hormonal contraceptives: collaborative reanalysis of individual data for 16573 women with cervical cancer and 35509 women without cervical cancer from 24 epidemiological studies. The Lancet (November 2007) 370: 1609-21.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *