Kehamilan Risiko Tinggi (Faktor Ibu)

Pengalaman mengenai hamil tentu berbeda pada tiap ibu. Ada ibu yang lancar dan sehat sampai persalinan, namun ada pula ibu yang perlu perhatian khusus dari tenaga kesehatan. Perlu dipahami bahwa tidak semua kehamilan risiko tinggi mengharuskan Anda bersalin dengan cara operasi. Asalkan ibu yang beresiko ini mendapatkan pelayanan kesehatan selama hamil. Beberapa kondisi ibu yang termasuk kelompok ibu hamil resiko tinggi ialah :

1. Riwayat kehamilan bermasalah

Saat ibu memiliki riwayat penyulit saat kehamilan sebelumnya, ada kemungkinan untuk terjadi masalah yang sama di kehamilan saat ini. Masalah tersebut misalnya riwayat aborsi berulang, preeklampsia/eklamsia, prematur, berat badan bayi lahir rendah atau lebih, kehamilan lama (>42 minggu) dan riwayat melahirkan dengan kelainan bawaan.

2. Kehamilan dengan riwayat bedah sesar sebelumnya

Rahim yang sudah pernah dioperasi sesar berarti sudah pernah mengalami luka akibat pembedahan. Karena itu, perlakuannya berbeda dengan ibu yang belum pernah di caesar. Meskipun setelah mengalami 1 kali bedah sesar, ibu masih bisa dicoba persalinan normal dengan pengawasan dari dokter.

3. Kehamilan pada usia di atas 35 tahun atau dibawah 16 tahun

Kehamilan saat remaja beresiko untuk terjadi hipertensi, anemia, preeklamsia/eklamsia dan prematuritas. Sedangkan kehamilan di atas 35 tahun meningkatkan resiko operasi caesar, pendarahan saat persalinan, persalinan lama, dan cacat bawaan pada bayi (misalnya Sindroma Down)

4. Terlalu banyak punya anak, 4 atau lebih

Rahim yang sudah terlalu sering ‘mengembang’, maka elastisitas dan daya kontraksi ototnya akan menurun. Kondisi demikian membuat meningkatnya peluang untuk terjadi pendarahan akibat plasenta previa dan atonia uteri (otot rahim tidak kuat untuk kontraksi)

5. Jarak kehamilan terlalu dekat (<18 bulan)

Jarak antar kehamilan yang terlalu dekat membuat kondisi ibu belum pulih sepenuhnya dari kehamilan, persalinan, dan penyusuan anak sebelumnya. Penelitian menyebutkan bahwa hamil dalam waktu <18 bulan setelah melahirkan dapat meningkatkan risiko prematuritas. Sedangkan jarak kehamilan <12 bulan dapat meningkatkan risiko pelepasan plasenta, plasenta previa (letak rendah), prematur, berat badan lahir bayi rendah bahkan autis.

6. Jarak kehamilan terlalu jauh (>5 tahun)

Jarak kehamilan terlalu jauh juga tidak baik untuk ibu dan janin karena dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Para ahli menduga kehamilan dapat meningkatkan kesuburan rahim. Namun, seiring dengan waktu, manfaat ini makin lama makin hilang.

7. Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm dan ibu belum pernah melahirkan bayi cukup bulan dan berat normal

Tinggi badan berhubungan dengan luasnya panggul. Biasanya ibu dengan tinggi badan <145 cm cenderung mempunyai panggul yang sempit, sehingga berisiko lebih besar untuk melahirkan dengan operasi sesar.

8. Ibu dengan penyakit kronis

Ibu dengan pengidap penyerta seperti anemia, darah tinggi, gagal jantung, diabetes mellitus, penyakit autoimun, penyakit ginjal, tiroid, infeksi terutama penyakit kelamin amat perlu untuk diawasi tenaga kesehatan saat hamil. Pasalnya, penyakit penyerta ini dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian bagi ibu dan janin bila tidak dikontrol atau diobati.

9. Kehamilan dengan penyakit di organ reproduksi

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan pembahasan poin sebelumnya. Contoh penyakit di organ reproduksi misalnya mioma uteri (tumor jinak pada rahim), kista ovarium adalah (tumor berisi cairan yang berasal dari indung telur), penyakit kelamin, dll. Dokter dan pasangan suami istri harus berdiskusi untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul.

10. Kehamilan dengan anemia (Hb kurang dari 10,5 gr%)

Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) rendah, di bawah normal, yaitu kurang dari 10,5 gr. Memang pada ibu hamil akan terjadi pengenceran darah sehingga terjadi anemia fisiologis (anemia juga, tetapi dianggap normal). Apabila kadar Hb normal pada wanita tidak hamil adalah diatas 12 gr%, maka padaibu hamil ada ‘dispensasi’.

Depok, 4 Juli 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir :09/23/2015

Referensi :

  1. Chescheir, C. Nancy¸ et al. 2000. Planning Your Pregnancy and Birth. 3rd edition. The Americal College of Obstetricians and Gynecology. Washington.
  2. Cunningham, G, et al. 2010. William Obstetrics. 23rd edition. Mc Graw Hill. New York.
  3. Evans, A. 2007. Manual Obstetrics. Lippincot Williams and Wilkins. Philadelphia.
  4. Oats J, Abraham S, Lwellyn. 2010. Jones Fundamentals of Obstetrics and Gynecology. Mosby Elsevier. Edinburg.
  5. Kusumaningsih, Prita. 2011. Membentangkan Surga di Rahim Bunda. Qultum Media: Jakarta.
  6. Family planning: Get the facts about pregnancy spacing – Mayo Clinic [Internet]. [cited 2015 Sep 23]. Available from: http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/getting-pregnant/in-depth/family-planning/art-20044072
  7. C Dangal. High Risk Pregnancy [Internet]. The Internet Journal of Obstetric Gynecology. [cited 2015 Sep 23]. Available from: http://ispub.com/IJGO/7/1/13508
  8. Informasi Kehamilan Resiko Tinggi – medicastore.com [Internet]. [cited 2015 Sep 23]. Available from: http://medicastore.com/penyakit/569/Kehamilan_Risiko_Tinggi.html
  9. George Uchenna Eleje EI. Inter-Pregnancy Interval (IPI): What Is The Ideal? AFRIMEDIC J. 2011;2(1):36–8.
  10. dr. Baruch. Kenali Resiko Pada Kehamilan Anda [Internet]. Eka Hospital. [cited 2015 Sep 23]. Available from: http://www.ekahospital.com/uploads/kenali-resiko-pada-kehamilan-anda.pdf
  11. What are the factors that put a pregnancy at risk? [Internet]. [cited 2015 Sep 23]. Available from: https://www.nichd.nih.gov/health/topics/high-risk/conditioninfo/Pages/factors.aspx#conditions

Gambar di unduh
dari : http://birthwisemc.com/uploads/1/9/5/7/19579427/9269300_orig.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *