Kiat Memilih Popok

Banyak sekali jenis popok yang dijual di pasaran saat ini. Ada popok sekali pakai, popok kain atau popok pakai-ulang, dan biodegradable. Ada pula orang tua yang menghindari popok untuk si kecil. Lalu sebagai orangtua, popok apa sebenarnya yang aman untuk anak? Apa sih risikonya bila bayi tidak memakai popok? Yuk simak tips doctormums dalam memilih popok.

Popok disposable (popok sekali pakai)

Popok disposable ialah popok dengan daya serap tinggi, nyaman dipakai, mudah dibawa kemana-mana, dan banyak tersedia di pasaran.

Keuntungan: Popok sekali buang ini sangat praktis karena Anda tidak perlu repot mencuci.  Orang tua juga tidak perlu khawatir, bahan yang terkandung dalam produksi popok aman untuk bayi. Popok ini mengandung bahan ultra absorbent polyacrylate yang ketika basah, bahan ini akan berubah menjadi gel dan mengikat cairan seperti pipis, pup dan keringat. Oleh karena itu, kulit bayi akan tetap kering dan risiko kulit gatal akibat popok (diaper rash) akan menurun. Tapi bukan berarti popok bisa didiamkan lama menumpuk kotoran. Bila popok didiamkan lama, kulit bayi akan lembab, bakteri dan jamur akan tumbuh sehingga muncul ruam popok.

KekuranganPopok sekali pakai ini kurang baik bagi lingkungan. Dibutuhkan 200 tahun atau lebih untuk menghancurkan popok. Popok disposable juga mahal harganya. Selain itu, tidak semua bayi cocok dengan penggunaan popok sekali pakai. Beberapa anak ada yang sensitif terhadap pewarna pada gambar di popok. Sehingga, pilihlah merk lain yang lebih netral bila anak Anda alergi. Tidak jarang popok disposable meninggalkan tanda karet di sekitar pangkal paha dan pinggang. Bisa jadi ini karena popok terlalu ketat. Solusinya, longgarkan atau belilah popok dengan ukuran yang lebih besar.

Reusable (popok kain)

Keuntungan:  Popok kain yang dapat dipakai ulang jauh lebih murah daripada popok sekali pakai. Awalnya Anda memang harus membeli banyak, tapi biaya keseluruhannya akan lebih murah, bahkan akan lebih tinggi nilainya jika Anda punya anak lebih dari satu. Popok kain juga bebas dari bahan kimia pencetus alergi. Popok kain membuat Anda mau tidak mau lebih sering mengganti popok ketika basah. Sehingga, kulit bayi akan tetap kering, bersih dan terhindar dari jamur, kuman, dan ruam popok. Selain itu, bayi yang menggunakan popok kain lebih mudah dilatih untuk toilet training. Si kecil akan mudah merasa tidak nyaman ketika pipis atau pup di popok kain sehingga bisa jadi lebih mudah untuk diajak ke toilet dan menggunakan celana dalam.

KekuranganPopok kain lebih tidak praktis dibandingkan dengan popok sekali pakai. Popok kain daya serapnya tidak sebagus popok sekali pakai sehingga Anda harus lebih sering mengganti dan mencucinya. Namun, saat ini sudah banyak inovasi popok kain.  Ada popok kain yang dilengkapi lapisan yang dapat dibongkar pasang, sehingga Anda tidak harus mencuci seluruh bagian popok. Popok kain awalnya diduga lebih ramah lingkungan daripada popok sekali pakai karena jauh lebih sedikit menimbulkan sampah. Sayangnya, penelitian terbaru menyebutkan bahwa popok kain juga tidak seramah lingkungan itu. Dibutuhkan air, listrik dan sumber energi yang lebih besar untuk membersihkan popok kain daripada popok sekali pakai.

Popok Biodegradable

Keuntungan: Popok biodegradable ialah popok sekali pakai yang lebih ramah lingkungan karena bisa teruraikan dalam tanah. Popok ini praktis, tidak mengandung bahan kimia dan pemutih, dan menggunakan lapisan katun (bukan polyacrylate) untuk menyerap cairan. Popok biodegradable ini lebih baik bagi kesehatan kulit bayi Anda dibandingkan popok disposable.

Kekurangan: Karena praktis dan ramah lingkungan, wajar bila popok ini menjadi dambaan orang tua. Sayang harganya lebih mahal dari popok-popok lain. Selain itu, meski bisa hancur dan terurai, butuh 50 tahun bagi popok ini untuk melebur dengan tanah.

Pendekatan tanpa popok

Ada orang tua yang mencoba dan mempelajari tanda-tanda si kecil ingin buang air, lalu
secepatnya membawa si kecil ke toilet. Perlahan si kecil belajar mengontrol dirinya, bahkan terkadang ia mempunyai kemampuan itu lebih dini daripada anak-anak yang terbiasa mengenakan popok. Tahukah Anda? Bayi rata-rata berganti popok 6 kali sehari, 40 per minggu, atau 160 per bulan. Berdasarkan survey di Inggris, 3 milyar popok dibuang setiap harinya. Sejak tahun 2012, pendekatan tanpa popok menjadi populer di kalangan selebiritis di Eropa. Anda mungkin dapat memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan menerapkan kombinasi beberapa jenis popok.

Kesimpulan

Memilih popok keputusannya ada pada orangtua. Sampai saat ini, peneliti dan praktisi medis tidak merekomendasikan popok tertentu untuk si kecil. Hal ini disebabkan tiap-tiap popok ada kelebihan dan kekurangannya untuk kesehatan dan lingkungan. Apapun pilihan Anda, yang penting orang tua perlu perhatikan langkah berikut ini untuk menghindari ruam popok:

  1. Gunakan perlak berlapis yang mudah diseka, karena cukup higienis dan nyaman saat Anda harus mengganti popok si kecil.
  2. Bersihkan area popok dengan air hangat, kain lembut atau kapas. Bila pakai sabun, pilih yang tidak berbau dan lembut. Bila pakai tisu basah, pilih yang tidak beralkohol.
  3. Keringkan kulit bayi dengan handuk lembut sebelum dipakaikan popok.
  4. Gunakan krim sebelum pakai popok disposable dan biodegradable
  5. Segera ganti popok ketika popok basah atau bayi pup.
  6. Seringlah mengganti popok, minimal setiap 4 jam atau 6 kali sehari.
  7. Ketika pantat si kecil terlihat memerah, seulas tipis krim khusus ruam popok akan
    mengobati dan melindungi area tersebut.

Mengenai dampak terhadap lingkungan, fakta menyebutkan bahwa apapun jenis popok yang Anda gunakan berdampak pada ekosistem. Untung mengurangi jejak karbon, Anda bisa mencuci popok pakai ulang dengan suhu rendah dan keringkan dengan menggantungnya, bukan dengan mesin pengering. Pilih jenis popok dengan lapisan biodegradable agar lebih cepat hancur. Ketika bayi Anda menggunakan popok sekali pakai, ganti bila memang perlu dan carilah popok dengan merek yang ramah lingkungan.

Mari bijak memilih dan menggunakan popok!

Depok, 24 Oktober 2017
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :

  1. Nhung T Pham, et al. 2009. Diapers and The Environment. Nearta Magazine.
    https://www.nearta.com/Papers/DiaperEnvironment.pdf
  2. Team. 2001. Documented Facts About Diapers. Real Diapers Association.
    http://www.realdiaperassociation.org/pdf/trifold_real-diaper- facts.pdf
  3. Saleem Ali. 2011. Sustainable Assessment: Seventh Generation Diapers vs gDiapers.
    University of Vermont.
  4. B Lab. 2011. Diapers B Impact Report. http://www.bcorporation.net/index.cfm/fuseaction/company.report/ID/5d0146a1-226a- 47c6-ba9d- b708d09aab48
  5. Hakala S, et al. 2001. Life cycle Assessment Comparison of Biopolymer and
    Traditional Diapers System. Technical Reserach Centre of Finland
  6. Diapers: Disposable or Cloth?. Healthy Children. 2015. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Diapers-Disposable-or-Cloth.aspx
  7. The Diaper Debate: Cloth Versus Disposable Baby Diapers. What To Expect. a2017. https://www.whattoexpect.com/diapering-essentials/cloth-vs-disposables.aspx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *