Mapping KLB Difteri

Tanya Jawab Seputar Imunisasi ORI (Outbreak Response Immunization)

Sejak 1 Januari 2017 sampai 4 November 2017, telah ditemukan sebanyak 591 kasus Difteri, dengan 32 kematian di 95 Kabupaten/Kota di 20 Provinsi di Indonesia. Pada minggu ke-4 bulan November 2017, tampak pada gambar di atas bahwa telah terjadi KLB difteri di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sampai dengan 25 Desember 2017 Kementerian Kesehatan telah mengumpulkan data epidemiologis KLB Difteri. Saat ini terdeteksi sebanyak 907 kasus (kumulatif selama tahun 2017) dimana 44 di antaranya meninggal dunia. Kasus dilaporkan ada di 164 Kabupaten kota dari  29 provinsi.

KLB Difteri pada saat ini memiliki gambaran yang berbeda daripada KLB sebelumnya yang pada umumnya menyerang anak Balita. KLB kali ini ditemukan pada kelompok umur 1 – 40 tahun dimana 47% menyerang anak usia sekolah (5 – 14 tahun) dan 34% menyerang umur di atas 14 tahun. Data tersebut menunjukkan proporsi usia sekolah dan dewasa yang rentan terhadap difteri cukup tinggi.

Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Selain itu, pengetahuan penduduk tentang pentingnya imunisasi masih minim pada daerah yang tidak terjangkau fasilitas kesehatan. Munculnya KLB difteri berkaitan dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Immunity gap ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

 

Apa yang dilakukan pemerintah menghadapi KLB Difteri?

Untuk menanggulangi KLB difteri ini, Kementrian Kesehatan Indonesia melakukan ORI (Outbreak Response Immunization). Setiap anak usia 1-19 tahun wajib diberikan imunisasi DPT tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Imunisasi DPT diberikan gratis melalui Puskesmas maupun RSUD. ORI kali ini dimulai sejak 11 Desember 2017 pada 12 Kabupaten/Kota di  3 propinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Ketiga provinsi tersebut dipilih sebagai tahap awal ORI, karena penularan difteri yang cepat dan padatnya jumlah penduduk, serta tingginya mobilisasi di ketiga provinsi tersebut. ORI dilakukan 3 putaran. Jarak pemberian putaran pertama dan kedua adalah 1 bulan, sedangkan jarak antara putaran kedua dan ketiga adalah 6 bulan. Putaran pertama dilaksanakan pada 11 Desember 2017, dilanjutkan pada 11 Januari dan 11 Juli 2018.

 

 

Apa yang dapat dilakukan masyarakat?

  • Kenali gejala difteri. Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila anak/orang dewasa mengeluh nyeri tenggorokan, yang disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur < 15 tahun.
  • Anak/orang dewasa harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri, agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar menderita difteri.
  • Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
  • Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, harus segera dilakukan imunisasi.
    • Balita : vaksin DPT
    • Anak 5-7 tahun : vaksin DT
    • Anak 7-19 tahun : vaksin Td atau Tdap
    • Dewasa : vaksin Td atau Tdap

Mengenai imunisasi DPT selengkapnya bisa dibaca disini.

 

Bagaimana kondisi terkini?

Kementerian Kesehatan mencatat hasil cakupan pelaksanaan ORI di 3 provinsi hingga Kamis malam (4/1) pukul 19.30 WIB mencapai 52,10%. Dengan rincian cakupan ORI untuk provinsi DKI Jakarta (61,75%); Jawa Barat (44,21%); dan Banten (57,60%).

Bulan Januari 2018 ini merupakan jadwal putaran kedua ORI Difteri. Sementara ORI putaran ketiga dilakukan 6 bulan kemudian. ORI Difteri perlu dilakukan 3 kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae.

 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180105/2724258/ingat-ori-difteri-ada-3-putaran/

 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20171230/3524220/difteri-akan-dapat-diatasi/

 

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/ORI/en/

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17120500001/-imunisasi-efektif-cegah-difteri.html

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html

 

http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html

 

http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pendapat-ikatan-dokter-anak-indonesia-kejadian-luar-biasa-difteri

4 thoughts on “Tanya Jawab Seputar Imunisasi ORI (Outbreak Response Immunization)

  1. Silvia oryza

    Apa boleh imunisasi difteri 2x hanya jarak seminggu??
    Apa ada negatifnya buat anak yg di vaksin double dlm waktu yg berdekatan

    1. Agustina Kadaristiana

      Halo Bu Silvia,
      Kalau boleh tahu kenapa diberikan vaksin berdekatan Bu?
      Biasanya, anak diberikan vaksin 2x dalam waktu berdekatan karena tidak sengaja. Misalnya miskomunikasi antara orangtua/pengasuh. Bila demikian halnya, baiknya ibu konsultasikan kembali ke dokter anak ya Bu. Umumnya vaksin sangat aman, sehingga penggunaan dosis yang dobel dalam waktu berdekatan tidak menimbulkan gejala/meningkatkan resiko. Tapi untuk dipastikan, silakan periksa ke dokter anak ya Bu.

  2. Anis

    Jika sudah hampir 2 bulan tapi belum suntik vaksin difteri yang ke 2 apakah harus diulang atau boleh langsung dilanjut vaksin difteri ke 2?

    1. Agustina Kadaristiana

      Halo Anis. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, berapa pun interval keterlambatannya, jangan mengulang dari awal, tetapi lanjutkan imunisasi sesuai jadwal. Jarak/interval antara DPT 1 dan 2 minimal 4 minggu tapi yang direkomendasikan 8 minggu (2 bulan). Yang perlu diperhatikan ialah batas minimal interval vaksin. Jangan sampai terlalu cepat (<1 bulan sudah divaksin DPT lagi). Hal tersebut dikarenakan "memori" sel kekebalan tubuh belum terbentuk dan efektivitas vaksin belum bisa terjamin. Sedangkan batas maksimal nya sebetulnya tidak ada karena ketika diberikan DPT1, tubuh anak sudah membuat "memori" imun terhadap penyakit difteri pertusis tetanus. Jadi kesimpulannya, kalau hampir 2 bulan belum suntik vaksin difteri 2, tidak masalah. Lanjut saja DPT 2. Tapi untuk lebih jelasnya, silakan konsultasikan ke dokter Anda ya.

Comments are closed.