Mengapa Anak Sulit Makan?

Siapa sih yang tidak mau si kecil makannya lahap & mudah? Tapi pada kenyataannya seringkali waktu makan menjadi waktu yang menjengkelkan. Sebenarnya normal tidak ya perilaku anak yang suka melepeh atau menolak makanan?

Yang Mempengaruhi Perilaku Makan Anak…

Perilaku makan anak seperti pemilihan makan yang disukai ataupun tidak oleh anak dipengaruhi oleh 2 faktor utama: genetik dan lingkungan. Faktor genetik meliputi insting dasar anak juga gen yang mengatur kebutuhan energi anak. Sedangkan lingkungan meliputi kondisi ibu saat hamil, proses menyusui sampai gaya pengasuhan orang tua.1

Naluri alamiah dan Genetik

sweets10c

Pernahkan ibu mendengar keluhan anak yang senang hanya makanan manis dan menolak sayur? Ternyata, salah satu penyebabnya ialah naluri alamiah yang dimiliki anak. Insting alami yang membuat anak menyukai rasa manis ini sebenarnya bertujuan untuk bertahan hidup. Rasa manis cenderung identik dengan makanan berenergi tinggi dan mengenyangkan, sedangkan rasa pahit atau asam bisa menjadi tanda dari racun.2, 3 Sehingga tidak perlu heran bila pada umumnya anak lebih mudah menerima makanan manis seperti buah, yoghurt beraneka rasa, dan jus sedangkan anak cenderung menolak sayuran karena ada komponen pahit didalamnya.3 Bila anak memakan sayur pun, biasanya anak memilih yang cenderung berkalori tinggi dan berasa manis seperti kentang dan wortel. 4

Selain itu, faktor genetik ternyata mempengaruhi nafsu makan anak. Beberapa gen bahkan telah ditemukan terlibat dalam pengaturan kebutuhan energi juga asupan makanan. 5, 6 Namun, tidak perlu khawatir, beberapa penelitian menyebutkan bahwa paparan berulang terhadap makanan meningkatkan penerimaan makanan tersebut pada anak. Bukan sekedar menyediakan makanan saja ya, tetapi proses mencicipi makanan pertama kali, itulah yang penting. 6

Proses Pengenalan Rasa Dimulai dari Kandungan

Tahukah Anda bahwa bayi mulai belajar untuk mengenal rasa makanan dari sejak dalam kandungan? Faktanya, penelitian menyebutkan bahwa pemilihan makanan oleh ibu sejak hamil bisa mempengaruhi kemudahan penerimaan makanan padat oleh anak saat sudah lepas dari periode ASI ekslusif. Cairan amnion/ketuban yang mengelilingi bayi di kandungan ternyata kaya akan paparan rasa untuk bayi. Banyak rasa makanan yang dikonsumsi ibu muncul di air ketuban. Jadi, bila ibu memakan bawang, kunyit, kari atau makanan pedas, bau dan komponen rasa tersebut terdeteksi di ketuban. 7-9 Saat di dalam kandungan, anak secara konstan menelan cairan ketuban. Karena fungsi penciuman dan pengecap bayi sudah berfungsi sejak dini, paparan terhadap rasa makanan yang dikonsumsi ibu saat hamil, mempengaruhi penerimaan rasa makanan ini oleh anak saat sudah lahir.  Sehingga, perlu diingat bahwa konsumsi ibu saat hamil bisa menjadi jembatan rasa makanan bagi anak.

100452751-630x353anemia

ASI ekslusif juga berpengaruh lho terhadap perilaku makan anak

Banyak manfaat memberikan ASI eksklusif pada bayi dari segi perkembangan proses makan pada anak. Sama seperti air ketuban, ASI juga dapat mengantarkan rasa makanan yang dikonsumsi ibu saat menyusui.(7) Ibu menyusui yang mengkonsumsi bawang putih, alkohol, dan vanila, pada ASI-nya terdeteksi bau makanan tersebut. Penelitian lain juga menemukan bahwa variasi rasa yang terdapat di ASI mempengaruhi waktu menyusui. ASI yang diberi rasa bawang putih dan vanila memperlama waktu menyusui bayi dibandingkan dengan yang tidak.7, 10, 11 Berbeda dengan ASI, susu formula hanya memberikan rasa yang sama. Sullivan menemukan hasil bahwa setelah paparan 10x terhadap sayur, anak yang diberi ASI ekslusif cenderung asupan sayurnya lebih pesat dibandingkan dengan yang diberi susu formula. 12

Keunggulan lain dari ASI ialah bayi lebih bisa mengatur asupan kalorinya dengan cara mengatur volume ASI yang diminum dibandingkan dengan yang diberikan susu botol. Sehingga, menurut beberapa ahli, proses menyusui lewat ASI mungkin bisa melindungi dari obesitas 5

Perilaku makan anak ini ternyata normal

Pada dasarnya, anak menyukai makanan yang ia familiar dan rasanya ia suka. Salah satu cara anak mengenal makanan baru ialah bermain dengan makanan. Perilaku eksplorasi makanan dengan cara memegang, mencium, memasukkan makanan kemulut dan melepehnya kembali bisa menjadi tanda anak mulai menerima atau mencoba makanan baru.13 Dr. Damayanti juga berpendapat bahwa orang tua tidak perlu melarang bayi dalam usia lima bulan pertama saat ia memasukkan tangannya ke mulut karena proses ini akan melatih dan mepersiapkan bayi untuk mengolah makanan padat. Cukup menjaga tangan bayi tetap bersih. 14

Perilaku merespon makanan yang tidak ia suka biasanya dilakukan dengan berbagai cara mulai dari rewel (fussiness), memilih-milih (pickinesss) sampai neophobia (menolak makanan baru).1 Dari ketiga respon ini, biasanya neophobia yang lebih mengkhawatirkan orang tua. Namun, faktanya Skinner dkk menemukan bahwa neophobia pada usia dini berhubungan dengan jumlah makanan yang tidak disuka atau tidak pernah dicoba sampai usia 8 tahun.13 Terkadang, orangtua juga suka menyerah memberi makanan baru dan hanya memberi makanan favorit anak. Padahal, proses belajar anak untuk menyukai makanan perlu waktu. Bahkan, seringkali dibutuhkan paparan 5-10 kali sampai anak menyukai makanan yang baru. 6

Pengaruh Orang tua dan Lingkungan Sekitar Terhadap Penerimaan makan anak

Selain dari faktor bawaan lahir, ternyata lingkungan di sekitar anak, terutama perilaku orangtua/pengasu, sangat berpengaruh terhadap adaptasi anak pada makanan. Apa sajakah pengaruhnya?

  • Orangtua sebagai model. Anak ternyata belajar tentang makanan dari eksplorasinya sendiri juga pengamatannya terhadap kebiasaan makan di sekitarnya. Orangtua yang memberi contoh mengkonsumsi sayur dan buah berbanding lurus dengan asupan jus buah dan sayur yang lebih tinggi pada anak pra-sekolah.15 Remaja perempuan yang melihat ayahnya mengkonsumsi susu juga memiliki asupan kalsium lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak. 16 Jadi, penting sekali ya orangtua memberi contoh makan yang baik pada anak.

  • Orang lain sebagai model. Hasil penelitian dari Birch menemukan bahwa asupan sayur pada anak pra sekolah dipengaruhi oleh teman sebayanya juga orang dewasa.17 Sama halnya dengan penelitian Hendy dan Bryan yang melaporkan bahwa konsumsi anak terhadap makanan yang baru lebih tinggi ketika melihat gurunya secara antusias mengkonsumsi makanan tersebut. 18

  • Perlakuan orang tua terhadap anak. Perilaku orang tua dalam memberi kebebasan sampai membatasi makan anak sangatlah berpengaruh terhadap pembentukan makanan kesukaan anak, pola asupan makan anak, kualitas makanan dan pertumbuhan anak Namun sayangnya banyak orang tua yang tidak menyadari kesalahan dalam memberi makan anak. Orang tua yang terlalu melarang anak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat (seperti junk food/permen) malah menyebabkan hasil yang sebaliknya. Anak cenderung mengkonsumsi makanan yang dilarang saat orang tua tidak mengawasi secara tidak terkontrol (misal di rumah teman/di pesta ulang tahun). Selain itu, orang tua kadang suka mengiming-imingi sesuatu (misalnya es krim) agar anak mau makan sayur/buah. Kalau dilihat sekilas memang tujuannya baik, ternyata hasil riset membuktikan bahwa tindakan seperti ini malah menyebabkan anak lebih suka dengan makanan “hadiah”nya yang seringkali kurang sehat. 19

  • Gaya Parenting. Heather Patrick dkk melakukan riset mengenai hubungan gaya parenting dengan konsumsi makanan anak. Ternyata, hasil riset menyebutkan bahwa orang tua dengan gaya parenting authoritative (otoritatif) berhubungan positif dengan ketersediaan berbagai jenis buah dan sayur juga ketertarikan anak dalam mengkonsumsi makanan tersebut. Sebaliknya, gaya parenting authoritarian (otoriter) berbanding terbalik dengan konsumsi sayur pada anak. Gaya pengasuhan otoriter dicirikan dengan tekanan dan paksaan yang lebih tinggi dalam memberi makan anak juga memberikan larangan yang lebih tinggi pada makanan yang tidak sehat. Gaya mengasuh yang mungkin memiliki pengaruh lebih buruk pada anak ialah neglectful (cuek, selebor atau lalai). Orangtua yang tidak konsisten, tidak menentu jadwal pemberian makannya, dan sulit menilai mana pola makan yang sehat dan yang tidak menghasilkan efek yang buruk pada anak ketika suatu saat orang tua tersebut menggunakan larangan. Anak menjadi jauh lebih sulit mengontrol takaran makanan yang dilarang. 20-22

  • Kegiatan Makan Bersama. Makan bersama keluarga ternyata bisa jadi salah satu momen penting untuk berinteraksi dan mengontrol pola makan anak. Makan bersama dengan minimal salah satu orang tua saat makan malam menurunkan resiko konsumsi buah, sayur dan susu yang rendah juga menurunkan resiko remaja melewati sarapan. Pearson dkk juga menunjukkan bahwa remaja yang ikut makan bersama mendapat dorongan orang tua untuk konsumsi makanan sehat lebih tinggi, lebih sedikit paparannya pengguaan TV, dan lebih banyak tersedia sayur dan buah di rumah setiap hari. 23, 24bigstock-family-smiling-around-a-health-40896751

Pengaruh TV terhadap pemilihan makanan kesukaan anak

Ternyata, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa permintaan anak terhadap makanan sesuai dengan frekuensi anak melihat iklan di TV. Sayangnya, 80% dari iklan yang ditayangkan berupa makanan yang memiliki nutrisi rendah atau makanan kurang sehat. Goldberg dkk juga melihat bahwa anak yang sering melihat TV lebih memilih makanan yang tinggi gula daripada yang tidak terpapar iklan. Sehingga, penting sekali orangtua waspada dan bijaksana dalam memberi jam menonton TV pada anak. 25, 26

Jadi, perilaku makan anak mulai dari menolak makanan, menyukai makanan yang manis sampai bermain-main dengan makanan ternyata dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Orangtua atau pengasuh juga sangat berperan membentuk ketertarikan anak terhadap makanan sehat. Sehingga, penting sekali orangtua memberikan kondisi rumah yang positif dan ruang untuk eksplorasi anak agar pemenuhan nutrisi anak tercapai.

Agustina Kadaristiana, dr

Sumber

1. Scaglioni S, Arrizza C, Vecchi F, Tedeschi S. Determinants of children’s eating behavior. The American journal of clinical nutrition. 2011;94(6 Suppl):2006S-11S.
2. Desor JA, Maller O, Andrews K. Ingestive responses of human newborns to salty, sour, and bitter stimuli. Journal of comparative and physiological psychology. 1975;89(8):966-70.
3. Kern DL, McPhee L, Fisher J, Johnson S, Birch LL. The postingestive consequences of fat condition preferences for flavors associated with high dietary fat. Physiology & behavior. 1993;54(1):71-6.
4. Gibson EL, Wardle J. Energy density predicts preferences for fruit and vegetables in 4-year-old children. Appetite. 2003;41(1):97-8.
5. Savage JS, Fisher JO, Birch LL. Parental influence on eating behavior: conception to adolescence. The Journal of law, medicine & ethics : a journal of the American Society of Law, Medicine & Ethics. 2007;35(1):22-34.
6. Birch LL, Marlin DW. I don’t like it; I never tried it: effects of exposure on two-year-old children’s food preferences. Appetite. 1982;3(4):353-60.
7. Mennella JA, Johnson A, Beauchamp GK. Garlic ingestion by pregnant women alters the odor of amniotic fluid. Chemical senses. 1995;20(2):207-9.
8. Schaal B, Marlier L, Soussignan R. Human foetuses learn odours from their pregnant mother’s diet. Chemical senses. 2000;25(6):729-37.
9. Hauser GJ, Chitayat D, Berns L, Braver D, Muhlbauer B. Peculiar odours in newborns and maternal prenatal ingestion of spicy food. European journal of pediatrics. 1985;144(4):403.
10. Mennella JA, Jagnow CP, Beauchamp GK. Prenatal and postnatal flavor learning by human infants. Pediatrics. 2001;107(6):E88.
11. Mennella JA, Beauchamp GK. The transfer of alcohol to human milk. Effects on flavor and the infant’s behavior. The New England journal of medicine. 1991;325(14):981-5.
12. Sullivan SA, Birch LL. Infant dietary experience and acceptance of solid foods. Pediatrics. 1994;93(2):271-7.
13. Johnson SL, Bellows L, Beckstrom L, Anderson J. Evaluation of a social marketing campaign targeting preschool children. American journal of health behavior. 2007;31(1):44-55.
14. Sari RF. Penyebab Anak Sulit Makan2011. Available from: http://www.tempo.co/read/news/2011/04/25/060329786/Penyebab-Anak-Sulit-Makan.
15. Young EM, Fors SW, Hayes DM. Associations between perceived parent behaviors and middle school student fruit and vegetable consumption. Journal of nutrition education and behavior. 2004;36(1):2-8.
16. Lee S, Reicks M. Environmental and behavioral factors are associated with the calcium intake of low-income adolescent girls. Journal of the American Dietetic Association. 2003;103(11):1526-9.
17. Birch LL. Effects of Peer Models’ Food Choices and Eating Behaviors on Preschoolers’ Food Preference. Child Development. 1980;51:489–96.
18. Hendy HM. Effectiveness of trained peer models to encourage food acceptance in preschool children. Appetite. 2002;39(3):217-25.
19. Faith MS, Scanlon KS, Birch LL, Francis LA, Sherry B. Parent-child feeding strategies and their relationships to child eating and weight status. Obesity research. 2004;12(11):1711-22.
20. Birch LL, Fisher JO, Grimm-Thomas K, Markey CN, Sawyer R, Johnson SL. Confirmatory factor analysis of the Child Feeding Questionnaire: a measure of parental attitudes, beliefs and practices about child feeding and obesity proneness. Appetite. 2001;36(3):201-10.
21. Hughes SO, Power TG, Orlet Fisher J, Mueller S, Nicklas TA. Revisiting a neglected construct: parenting styles in a child-feeding context. Appetite. 2005;44(1):83-92.
22. Patrick H, Nicklas TA, Hughes SO, Morales M. The benefits of authoritative feeding style: caregiver feeding styles and children’s food consumption patterns. Appetite. 2005;44(2):243-9.
23. Rhee KE, Coleman SM, Appugliese DP, Kaciroti NA, Corwyn RF, Davidson NS, et al. Maternal feeding practices become more controlling after and not before excessive rates of weight gain. Obesity. 2009;17(9):1724-9.
24. Pearson N, Atkin AJ, Biddle SJ, Gorely T, Edwardson C. Parenting styles, family structure and adolescent dietary behaviour. Public health nutrition. 2010;13(8):1245-53.
25. Birch LL, Fisher JO. Development of eating behaviors among children and adolescents. Pediatrics. 1998;101(3 Pt 2):539-49.
26. Goldberg ME, Gorn GG, Gibson W. TV messages for snack and breakfast
foods: do they influence children’s preferences? Journal of Consumer Research. 1978;5(2):73-81.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *