Ketahui Serba-Serbi Alergi Pada Anak

Ayah Bunda tentu sudah familiar dengan istilah alergi ini. Seringkali bentuk ‘penampakan’ alergi dan berbagai macam penyebabnya adalah suatu masalah tersendiri ketika dialami. Bayi diare dibilang alergi, gatal di kulit juga alergi, batuk lama dibilang alergi. Bahkan juga mungkin kita pernah mendengar ada yang sampai meninggal juga karena alergi. Jadi alergi itu berada di dalam tubuh sebelah mana ya?

Sekilas tentang alergi

Oleh Tuhan, tubuh kita didesain memiliki sistem pertahanan untuk menghadapi bakteri, virus, atau zat asing yang tidak dikenali tubuh. Sistem pertahanan ini ada dimana-mana dari sistem pernafasan hingga pencernaan. Jika ada benda asing masuk ke dalam tubuh, maka tubuh akan merespon dengan berbagai reaksi. Contohnya adalah demam jika ada bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh dan bersin saat menghirup debu. Semua respon ini sebetulnya respon yang baik untuk mengeluarkan benda asing dari tubuh.

Pada kasus alergi, sistem pertahanan tubuh ini merespon secara berlebihan pada zat asing yang terpapar oleh tubuh. Jadi, zat asing (debu, serbuk sari, dll) yang harusnya dianggap sebagai zat asing normal akan dianggap sebagai zat berbahaya. Sehingga, reaksi pertahanan yang dikeluarkan tubuh pun akhirnya juga berlipat ganda. Makanya, mungkin Anda sering melihat ada anak yang terkena debu hanya bersin sesaat tapi ada juga anak yang sampai bersin dan hidung berair sampai seharian. Semua itu tergantung dari bakat alergi (atau kita menyebutnya dengan atopi) yang dimiliki si anak.

19150
Reaksi Alergi (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/19150.htm)

Karena letak sistem pertahanan yang ada di seluruh tubuh, maka tak heran kalau reaksi alergi yang timbul tergantung dengan letaknya, misalnya :

  • Jika di kulit, bentuknya bisa gatal-gatal dengan bentuk biduran, bentol, kemerahan atau bruntus-bruntus
  • Jika letaknya di sistem pernafasan, bentuk alergi yang muncul seperti bersin-bersin, hidung berair, sesak
  • Jika di sistem pencernaan, gejala yang biasa timbul misal diare, muntah, mual, dan nyeri perut.

Karena bentuk reaksi alergi yang muncul ini menyerupai dengan penyakit biasa, memang untuk mengenal mana alergi butuh pengamatan yang cermat. Contohnya, anak yang batuk sudah dua minggu bisa saja disebabkan oleh adanya infeksi paru atau bisa juga alergi dingin. Selain itu, diare juga bisa karena memang ada infeksi virus atau alergi makanan. Wah, jadi bagaimana membedakannya ya, semakin menarik saja ya alergi ini. Yuk kita simak lebih lanjut.

Siapa saja sih yang dapat mengalami alergi ?
Tentunya tidak semua orang mengalami alergi. Jika ayah atau ibu memiliki alergi, kemungkinan si anak mengalami alergi yang serupa lebih besar. Jika di salah satu orang tua ada yang memiliki alergi, maka kemungkinan si anak sekitar 15 – 30% dapat memiliki alergi. Sedangkan kemunkinan ini meningkat menjadi 50 – 75 % jika kedua orang tua memiliki alergi juga. Bisa juga ketika anak memiliki alergi makanan di masa bayi, kemungkinan dia terkena asma ketika beranjak dewasa juga besar. Singkatnya, orang yang rentan alergi dipengaruhi oleh keturunan keluarga dan riwayat alergi sebelumnya.

Apakah itu Atopi ?
Pada anak dengan kecenderungan alergi yang kuat, dikenal istilah derap atopi, suatu istilah untuk menggambarkan perjalanan gejala alergi dari bayi hingga dewasa. Anak dengan atopi pada masa bayi cenderung mengalami alergi makanan dengan gejala kemerahan di pipi atau diare. Kemudian, begitu menginjak sekitar usia 3-5 tahun alergi makanan ini hilang dan diganti dengan timbulnya gejala asma sampai menginjak dewasa. Nah, ketika menginjak usia remaja sampai dewasa gejala asma ini berubah menjadi urtikaria (biduran) dan rhinitis (hidung gatal dan meler, bersin di pagi hari, mata merah berair). Namun, perlu diingat lagi bahwa perjalanan alergi ini tidak sama di setiap individu. Ada yang tidak pernah asma, hanya rhinitis saja. Ada juga yang sejak kecil hingga dewasa asma, dsb.

figure1
Derap Atopi (http://www.worldallergy.org/professional/allergic_diseases_center/allergic_march/)

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah anak saya memiliki bakat alergi atau tidak ?
Penentuan apakah seseorang alergi sebenarnya bisa didapatkan dokter dari hasil anamnesis dan pemeriksaan. Selain itu, terdapat beberapa tes yang biasa dilakukan untuk membantu penentuan alergi/tidak:

  1. Skin prick test, dengan menusuk-nusukkan jarum yang mengandung sedikit alergen (zat yang dapat memicu alergi) untuk melihat reaksi kulit yang terjadi.
  2. Intradermal test, dengan menyuntikkan zat yang dicurigai penyebab alergi dalam dosis yang aman. Dilihat apakah timbul reaksi penanda alergi atau tidak.
  3. Patch test, dengan menempelkan sejenis plester yang mengandung alergen lalu melihat reaksi yang terjadi pada kulit.
  4. Melakukan pengukuran kadar serum IgE total.
    IgE merupakan salah satu antibodi (bagian dari sistem pertahanan tubuh) yang berperan dalam reaksi alergi yang dimediasi oleh antibodi ini. IgE total akan meningkat ketika mengalami alergi. Diperlukan pengambilan darah untuk memeriksakan serum IgE ini.
  5. Melakukan pengukuran kadar serum IgE alergen spesifik
    Pemeriksaan ini lebih khusus dibanding pemeiksaan serum IgE total karena akan didapatkan jumlah IgE untuk jenis alergen tertentu. Dalam sekali pengambilan darah, dapat diperiksakan reaksi terhadap beberapa macam alergen. Hasil akhirnya dapat dilihat pada jenis makanan/zat apakah seseorang alergi.
  6. Food elimination diets, dilakukan dengan tidak mengkonsumsi makanan/zat/obat tertentu yang dicurigai menyebabkan alergi. Jika gejala membaik, kemungkinan besar makanan/obat/zat tersebut adalah penyebab alergi.
  7. Oral food challenges, tes ini harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat karena memasukkan makanan/zat yang dicurigai penyebab timbulnya alergi beresiko timbul reaksi alergi yang berbahaya yakni syok anafilaksis.

Pengobatan Alergi

Jika seseorang mengalami alergi, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menghindari zat penyebab alergi itu sendiri. Adapun jika memang harus diberikan obat maka yang biasa diberikan adalah obat-obatan dari golongan antihistamin, yakni jenis obat yang menangkal histamin, suatu zat yang timbul akibat reaksi alergi dan menyebabkan gejala alergi. Selain itu, dokter mungkin akan mempertimbangkan memberi kortikosteroid pada alergi yang lebih berat.

Metode pengobatan yang disebut desensitisasi juga dapat digunakan untuk jenis alergi tertentu. Desensitisasi ini berarti dengan sengaja memaparkan diri pada suatu alergen agar tubuh ‘belajar’ menjadi kuat terhadap alergen tersebut sehingga tidak lagi timbul reaksi alergi. Konsultasi pada dokter terlebih dahulu diperlukan sebelum menjalani metode ini.

Jadi, dengan gejala alergi yang bervariasi dari ringan hingga berat, penting bagi kita mengetahui riwayat alergi setiap anggota keluarga sehingga orangtua bisa lebih berhati-hati memilih bahan makanan, memilih lokasi dan cuaca ketika hendak berpergian, lebih apik membersihkan debu di rumah dan juga lebih informatif memberikan keterangan pada dokter ketika berobat. Semoga bermanfaat. 🙂

Penulis : Irma Susan Kurnia, dr. 

Editor : Rara Ayuningtyas Pramudita

Modifikasi terakhir : 05/21/2015

Referensi

  1. Allergy Trigers.2014. Available from : http://www.webmd.com/allergies/guide/allergy-triggers
  2. The Allergic March.2007. Available from : http://www.worldallergy.org/professional/allergic_diseases_center/allergic_march/
  3. Bayer JA, Assa’ad A, Jones SM, et al. Guidelines for The Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States : Report of the NIAID-Sponsored Expert Panel. Journal Allergy Clinical Immunology. 2010
  4. Gupta RS, Lau CH,Dyer AA, et al. Food Allergy Diagnosis and Management Practices Among Pediatricians. Clinical Pediatrics.2014 ;53:524.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *