Mengenal Imunisasi DPT dan Penyakit yang Dapat Dicegahnya

Ayah ibu, ingatkah dengan wabah difteri yang melanda beberapa daerah di Indonesia tahun lalu? Penyakit yang amat menular dan dapat berdampak buruk bagi pernafasan anak ini muncul setelah beberapa lama tidak terdeteksi. Hal ini selaras dengan gerakan anti vaksin yang sedang marak-maraknya di kala itu. Sayangnya, orangtua mungkin banyak yang terbawa arus tanpa menelaah kebenaran informasi dengan kritis mengenai hal ini. Oleh sebab itu, yuk kita belajar lagi mengenai imunisasi pencegahnya, yaitu imunisasi DPT.

Apa itu imunisasi DPT?

Imunisasi DPT ialah imunisasi untuk mencegah penyakit difteri, tetanus dan pertusis. Difteri adalah penyakit saluran napas atas yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Toksin ini cukup berbahaya karena dapat membentuk lapisan berwarna putih keabu-abuan yang tebal seluruh rongga saluran pernapasan. Anak dapat mengalami kesulitan bernafas  dapat mengancam jiwa.  Selain itu, Penyakit difteri juga dapat menyerang saraf dan jantung anak.

Imunisasi DPT
Difteri

Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Pertusis disebut juga batuk seratus hari karena penyakit ini bisa berlangsung selama seratus hari.  Bakteri pertusis menyebabkan peradangan saluran napas sehingga pengeluaran dahak terganggu dan terjadi penumpukan lendir dalam saluran napas

Tetanus merupakan penyakit akut, bersifat fatal, yang disebabkan oleh toksin dari bakteri Clostridium tetani. Gejalanya berupa mulut kaku (trismus), yang diikuti kekakuan leher, sulit menelan, dan perut keras seperti papan. Jika dibiarkan, dapat terjadi kekakuan otot-otot pernafasan, sehingga anak sulit bernafas. Tetanus dapat terjadi pada bayi terutama bila persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan. Tali pusat bayi tidak digunting dengan alat yang steril dan tidak dirawat dengan baik yang bisa menjadi sumber penularan kuman tetanus.

Imunisasi DPT
Tetanus

Bagaimana kejadian difteri, pertusis dan tetanus sebelum dan sesudah DPT ditemukan?

 Faktanya, sebelum vaksin DPT ditemukan:
– Pertusis merupakan penyebab utama kematian pada anak (diperkirakan sekitar 300.000 kematian terjadi setiap tahun).
– Kemungkinan anak yang terkena penyakit difteri akan meninggal sebesar 20-40%.
– Kemungkinan bayi yang terkena tetanus akan meninggal lebih dari 70%.

Sejak vaksin DPT ditemukan, di seluruh dunia, setiap hari setidaknya 2-3 juta kematian pada anak akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertusis dapat dihindari. Pada tahun 2014, sekitar 115 juta anak mendapatkan imunisasi dasar DPT. Cakupan imunisasi dasar DPT di 129 negara telah mencapai 90%.

Imunisasi
Imunisasi Lengkap

Di Indonesia, seperti yang bisa kita lihat pada grafik di atas (Riskesdas 2013), cakupan imunisasi sejak tahun 2007 terus meningkat. Namun, cakupan imunisasi masih di bawah target yaitu 80%. Selain itu, masih muncul wabah difteri. Pada tahun 2014, Kementrian Kesehatan mencatat jumlah kasus difteri di Pulau Madura merupakan yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2015, Padang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) difteri. Kasus difteri juga masih ditemukan di Aceh sejak tahun 2012-2015.

Apa saja Jenis-jenis Vaksin DPT

Terdapat 2 jenis vaksin DPT, yaitu DTwP (wholecell pertussis) dan DTaP (acellular pertussis). Perbedaannya yaitu vaksin DTwP berisi sel bakteri pertusis utuh, sedangkan vaksin DTaP berisi komponen spesifik toksin bakteri pertusis.

Vaksin DPT juga terdapat dalam bentuk kombinasi (vaksin kombo) dengan vaksin lain. Vaksin kombo tetravalen mengandung 4 jenis vaksin, contohnya yaitu kombinasi DPT dan Hepatitis B, DPT dan Hib atau DPT dan IPV (vaksin polio suntik). Vaksin kombo pentavalen mengandung  5 antigen, yaitu DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Hepatitis B, serta HiB (Haemofilus Influenza tipe B).

Bagaimana Jadwal Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan 5 kali, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali sejak usia 2 bulan dengan jarak antar imunisasi yaitu 4-8 minggu. DPT tidak boleh diberikan sebelum usia 6 minggu. Jadi DPT pertama diberikan pada usia 2 bulan, DPT kedua pada usia 4 bulan, dan DPT ketiga pada usia 6 bulan.
  • Imunisasi DPT booster/penguat diberikan 2 kali. Booster pertama pada usia 18-24 bulan, dan booster kedua pada usia 5 tahun (atau saat masuk sekolah).

Imunisasi dasar DPT pada bayi 3 kali akan memberikan kekebalan selama 1-3 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia 18-24 bulan akan memperpanjang kekebalan sampai usia 6-7 tahun. Imunisasi booster DPT pada usia masuk sekolah akan memperpanjang kekebalan sampai usia 17-18 tahun.

Bagaimana Cara Memberikan Imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan dengan cara disuntik. Awalnya tenaga kesehatan akan meletakkan bayi di atas tempat tidur. Lalu tungkai bawah bayi sedikit ditekuk. Vaksin DTP disuntikkan ke otot paha bayi dan anak di bawah 3 tahun.

Pada anak yang lebih besar, vaksin DTP disuntikkan ke otot lengan atas. Posisi anak yang paling nyaman yaitu duduk di atas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lengan yang akan disuntik dipegang, sementara lengan lainnya diletakkan di belakang tubuh ibu atau pengasuhnya.

Apa yang bisa terjadi setelah imunisasi DPT?

Setelah imunisasi, dapat timbul KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) pada anak Anda. KIPI ada yang ringan dan berat. KIPI ringan misalnya demam >38,5ºC, rewel, timbul kemerahan/nyeri dan bengkak pada bekas tempat suntikan. Jika demam dapat menggunakan obat penurun panas, kompres air hangat/biasa, memakai pakaian yang tipis, dan minum air lebih banyak (atau ASI pada bayi <6 bulan). Bekas suntikan yang nyeri atau bengkak dapat dikompres air dingin. KIPI ringan akan hilang dalam 2 hari. Jika menetap atau bertambah berat, bawalah anak Anda ke dokter.KIPI berat misalnya anak menangis terus menerus selama >3 jam, kejang demam dan reaksi anafilaktik (alergi berat). Jika timbul KIPI berat, anak harus segera dibawa ke rumah sakit.

KIPI vaksin DTaP lebih jarang dibandingkan DTwP. KIPI yang paling serius pada anak yaitu reaksi anafilaktik, yang terjadi 1-3 kasus diantara 1.000.000 dosis.

Apakah vaksin DPT halal?

Ya, vaksin DPT dianggap halal. Isu yang banyak berkembang yaitu vaksin haram karena mengandung babi. Beberapa vaksin menggunakan enzim tripsin babi, namun pada proses akhir enzim ini tidak ada lagi pada vaksin karena sudah disaring sedemikian kecilnya dengan nanopartikel (proses ultrafiltrasi). Yang menggunakan antara lain : vaksin rotavirus (diare), beberapa merek vaksin flu, dan MMR.

Sebagian ulama menyatakan vaksin tetap halal, karena tanpa vaksin, banyak penyakit infeksi mematikan. Disini poin manfaat yang lebih besar daripada mudharat sangat diperhatikan. Dan selayaknya kita mengingat proses ultrafiltrasi tadi. Selain itu, pengganti enzim tripsin babi belum ditemukan. Ini merupakan alasan kedaruratan, dan para ulama terus menganjurkan untuk menemukan enzim tripsin non-babi yang sampai saat ini masih terus diusahakan.

Kesimpulan

Imunisasi DPT sangat bermanfaat bagi anak-anak kita. Bayangkan jika kita hidup pada masa sebelum ditemukan vaksin DPT. Mungkin anak kita akan menderita bahkan meninggal akibat terkena penyakit difteri, tetanus atau pertusis. Dengan adanya vaksin DPT, kemungkinan anak kita terkena ketiga penyakit tersebut sangat kecil. Kalaupun terkena, penyakit difteri, tetanus atau pertusis yang dialami ringan. Mari kita bersama-sama menjadi orangtua yang bijak dan cerdas, dengan memberikan imunisasi lengkap pada anak-anak kita, generasi penerus yang berharga.

Diana Andarini, dr.

01/23/2016

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Pertussis (Whooping Cough). Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/disease-specifics.html
  2. Joseph J Bocka , Russel W Steele. Pertussis. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/967268-overview#showall
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Tetanus. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf
  4. Patrick B Hinfey, John L Brusch. Tetanus Treatment & Management. Cited on Jan 16 2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/229594-treatment#d12
  5. Tempo. Padang KLB Difteri. Cited on Jan 16 2016. Available from http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/30/173638878/padang-klb-difteri
  6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Cited on 16 Jan 2016. Available from http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
  7. IGN Gde Ranuh, Hariyono Suyitno, Sri Rezeki S Hadinegoro, et al. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi Kelima Tahun 2014. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  8. World Health Organization. Immunization coverage. Cited on Jan 16 2016. Available from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs378/en/
  9. Dirga Sakti Rambe. Komposisi, Proses Pembuatan & Kehalalan Vaksin. Cited on Jan 20 2016. Available from http://rumahvaksinasi.net/komposisi-proses-pembuatan-kehalalan-vaksin.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *