Mengenal Kurva WHO Sebagai Acuan Pertumbuhan Anak

Halo bunda sekalian, kali ini kami ingin memberi informasi mengenai kurva pertumbuhan WHO yang saat ini digunakan sebagai acuan Departemen Kesehatan dalam mengukur tumbuh kembang anak. Sejak dulu mungkin ibu mengenal buku KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dibagikan di Posyandu. Ternyata pada tahun 2008 kurva pada KMS direvisi mengikuti salah satu kurva pertumbuhan WHO. Selain itu, ternyata kurva pertumbuhan yang kita kenal bukan hanya satu jenis saja lho, masih banyak acuan pertumbuhan WHO lain selain yang dicantumkan di KMS dan digunakan di tenaga kesehatan Indonesia. Lalu apa sih perbedaannya?

KMS yang Dulu dan Sekarang

Sejak tahun 1977, penggunaan kurva untuk mengetahui pertumbuhan anak sesuai usia sudah populer digunakan di Amerika Serikat juga di berbagai belahan dunia. Kurva yang digunakan ialah yang dikeluarkan dari National Center for Health Statistic, CDC (Center for Disease Control and Prevention). Kurva NCHS ini juga digunakan di Indonesia sebagai acuan dari Kartu Menuju Sehat sampai tahun 2010. Namun, ternyata ada beberapa kekurangan dari pengukuran ini yang membutuhkan revisi komprehensif. (1,2)

Pada tahun 1997-2003, WHO, lewat proyek Multicentre Growth Reference Study (MGRS), melakukan penelitian terhadap sekitar 8500 anak dari berbagai negara dan etnik (Brazil, Ghana, India, Norwegia, Oman, dan Amerika Serikat) untuk mengetahui standar pertumbuhan anak. Tahun 2005, hasil penelitian ini ialah kurva WGCS (WHO Growth Chart Standard) yang dipakai sebagai standar internasional pengukuran pertumbuhan anak terutama dari lahir sampai usia 5 tahun. Setahun kemudian, WHO memberlakukan standar pengukuran ini, menggantikan kurva WHO-NCHS 1977. Sebagai respon dari perubahan tersebut, tahun 2008 KMS balita direvisi oleh Kementrian Kesehatan berdasarkan kurva WGCS 2005, serta tahun 2010 kurva WGCS ini menjadi standar pengukuran di seluruh pelayanan kesehatan di Indonesia.(3)

Apa Saja yang diukur dalam kurva WGCS?

Kurva WGCS meliputi :

  • Pengukuran berat badan/umur (yang terdapat dalam KMS)

  • Pengukuran tinggi badan/umur

  • Pengukuran berat badan/tinggi badan

  • Pengukuran Indeks Massa Tubuh/umur

  • Lingkar kepala/umur

  • Lingkar lengan/umur

Masing-masing dari pengukuran ini dibedakan sesuai jenis kelamin dan rentang usia. Namun, di Indonesia minimal tenaga kesehatan dapat menggunakan 3 kurva WCGS yang paling penting: Berat badan/umur (BB/U), Tinggi badan/umur (TB/U), Berat badan/umur (BB/U). (3,4)

Lalu kurva WCGS apa yang terdapat dalam KMS?

Kartu Menuju Sehat diberikan pada ibu, terutama di Posyandu, sebagai monitor tumbuh kembang anak baik oleh ibu maupun petugas kesehatan. Kartu KMS sendiri sudah mengalami 3 kali revisi. Revisi terakhir tahun 2008 yang saat ini beredar menggunakan kurva WGCS (WHO Growth Chart Standard) namun hanya kurva berat badan menurut umur saja. Grafik pertumbuhan ini digunakan untuk menentukan apakah seorang anak tumbuh normal atau mengalami gangguan pertumbuhan. Bila grafik berat badan anak mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS, artinya anak tumbuh normal, kecil risiko anak untuk mengalami gangguan pertumbuhan. Sebaliknya bila grafik berat badan tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, anak kemungkinan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

Selain kurva pertumbuhan, KMS juga dilengkapi dengan catatan pelayanan kesehatan anak dan alat edukasi. Catatan pelayanan kesehatan anak misalnya pemberian kapsul vitamin A, ASI pada bayi 0-6 bulan dan imunisasi. Sedangkan alat edukasi termasuk pesan-pesan dasar perawatan anak seperti pemberian makanan anak dan perawatan anak saat diare. (1)

Apa yang dilihat pada kurva KMS ?

Hal yang paling penting dilihat dari hasil pengukuran di KMS ialah tren/kurva yang bersambung dari pertumbuhan berat badan anak. Sulit sekali menilai apakah anak memiliki berat ideal atau tumbuh kembang secara optimal bila hanya mengandalkan satu kali pengukuran yang di plot di KMS. Hal ini disebabkan karena dari satu pengukuran, kita hanya bisa menilai kira-kira anak tersebut memiliki berat badan yang sesuai atau tidak dengan teman sebayanya. Namun, kita belum bisa menyimpulkan apakah anak tersebut memiliki berat ideal sesuai tinggi badannya serta alur pertumbuhannya normal atau tidak. Sehingga penting sekali bila orang tua ingin mendapatkan penilaian mengenai proses pertumbuhan anak yang optimal untuk melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan tiap bulan ke Posyandu atau pelayanan kesehatan terdekat.

KMS naiktidak

Setelah mengetahui plot hasil pengukuran berat badan sesuai usia anak, kita dapat menyimpulkan 3 hal berikut dan melakukan tindak lanjutnya :

  1. TIDAK NAIK (T); grafik berat badan memotong garis pertumbuhan dibawahnya; kenaikan berat badan < KBM (<800 g)

  2. NAIK (N), grafik berat badan memotong garis pertumbuhan diatasnya; kenaikan berat badan > KBM (>900 g)

  3. NAIK (N), grafik berat badan mengikuti garis pertumbuhannya; kenaikan berat badan > KBM (>500 g)

  4. TIDAK NAIK (T), grafik berat badan mendatar; kenaikan berat badan < KBM (<400 g)

  5. TIDAK NAIK (T), grafik berat badan menurun; grafik berat badan < KBM (<300 g)

Bila berat badan anak naik, orang tua dapat tenang karena pola tersebut ialah pola yang diharapkan. Sebaliknya, bila berat badan anak tidak naik 1x, orang tua perlu mengingat apakah pada bulan tersebut anak pernah sakit atau anak sedang masanya sulit makan. Tidak perlu panik dan khawatir, tetap memberikan makanan anak sesuai yang dianjurkan serta tetap bersemangat untuk datang ke penimbangan bulan depan.

Terakhir, bila berat badan anak tidak naik 2x atau berada di Bawah Garis Merah, orang tua perlu waspada apakah anak sedang sakit atau ada sebab lain yang menyebabkan kondisi demikian. Penting sekali untuk berkonsultasi ke pelayanan kesehatan yang lebih lengkap (Puskesmas, Klinik, dokter anak atau RS) sekaligus tetap memberikan makanan anak yang diajurkan dan melakukan kontrol pemeriksaan tumbuh kembang kedepannya. (1)

Bila Kurva di KMS bisa menilai pertumbuhan anak, lalu apa manfaat kurva WGCS yang lain?

Sebenarnya menilai pertumbuhan anak cukup kompleks dan tidak cukup dari satu pengukuran. Pada praktik di lapangan, tenaga medis biasanya menggunakan ketiga kurva WHO/WGCS untuk menilai pertumbuhan anak secara kuantitatif dan melihat adakah gejala atau keluhan kekurangan/kelebihan gizi secara kualitatif. Kelebihan lain dari ketiga kurva ini saat digunakan bersamaan ialah dapat memperkirakan status pertumbuhan anak dalam satu waktu. Namun, orang tua dibekali kurva KMS karena penggunaannya cukup sederhana, mudah dilakukan oleh kader kesehatan dan cukup bila dijadikan pedoman skrining tumbuh kembang anak. Sehingga dapat dikatakan KMS ialah lini pertama dalam menilai alur pertumbuhan anak normal atau tidak.

Bila Kurva Berat Badan/Umur WHO ada di dalam KMS, di mana kurva lain bisa saya dapat?

Saat ini orang tua dapat memperoleh kurva pertumbuhan WHO dari situs resminya di sini :

Selain itu, anda dapat mendownload program WHO anthro tentang pengukuran tumbuh kembang anak melalui website resmi WHO di : http://www.who.int/childgrowth/software/en/

Bagaimana menggunakan kurva pertumbuhan WHO ini?

Pada dasarnya penggunaan kurva pertumbuhan WHO ini mirip dengan KMS. Pertama dilihat dulu variabel apa yang ingin diukur lalu dilakukan pengukuran dan hasilnya dipindahkan ke kurva tersebut.

  • Umur dihitung dalam bulan penuh (misal 2 bulan 29 hari dihitung sebagai 2 bulan)

  • Ukuran panjang badan digunakan untuk anak umur 0-24 bulan yang diukur telentang. Bila anak umur 0-24 bulan maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm

  • Ukuran tinggi badan digunakan untuk anak umur di atas 24 bulan yang diukur berdiri. Bila anak di atas 24 bulan diukur telentang, maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan mengurangi 0,7 cm.(5,6)

Misalnya :

Bayi laki-laki berusia 6 minggu dan berat 5 kg maka kita gunakan kurva Berat badan/umur untuk anak laki-laki usia baru lahir sampai 6 bulan. Setelah di plot hasilnya seperti ini

contoh

Berikut ini ialah contoh pengukuran 2 kunjungan anak laki-laki. Saat kunjungan pertama, anak tersebut berusia 2 tahun 2 bulan, tinggi badan 85 cm dan berat 13 kg. Kunjungan berikutnya tinggi badan 97 cm dan berat 16 kg. Kurva yang digunakan ialah kurva Berat badan/tinggi badan untuk anak laki-laki usia 2-5 tahun.

contoh2

Bagaimana hasil dari pengukuran kurva WHO?

Pada semua kurva WHO ukuran antropometrik (BB-U, TB-U dan BB-TB) disajikan sebagai nilai SD atau skor-Z di bawah atau di atas nilai mean atau median rujukan (7)

  • Hasil dikatakan normal bila antara -2SD sampai +2SD

  • Kurang bila <-2SD

  • Lebih bila >+2SD

hasil

Keterangan :

  1. Anak yang hasilnya di dalam batas ini sangat tinggi. Masalah tinggi badan jarang terjadi kecuali bila tinggi badan berlebihan yang menunjukkan adanya gangguan hormonal seperti tumor penghasil hormon pertumbuhan. Segera bawa anak ke tenaga kesehatan bila anak berada di kurva ini dan ada kecurigaan terdapat gangguan hormonal (misalnya orangtua tinggi badannya normal tetapi memiliki anak yang tingginya jauh melampaui teman sebaya).

  2. Anak yang berada dalam batas kurva ini mungkin memiliki masalah pertumbuhan. Tetapi lebh baik dinilai dari kurva berat badan/tinggi badan atau BMI/umur

  3. Bila ada 1 titik plot diatas 1 menunjukkan kemungkinan resiko berat badan lebih. Bila ada tren menuju 2 skor z menunjukkan resiko berat badan lebih yang nyata.

  4. Terdapat kemungkinan anak yang pendek atau sangat pendek menjadi gemuk atau gizi berlebih.(5,6)

Contoh 1

Grafik Obesitas

Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun 6 bulan dengan berat badan 10 kg dan panjang badan 63 cm. Setelah di plot pada kurva Berat badan/Panjang badan untuk laki-laki 0-6 bulan, maka didapatkan titik di atas garis 3 SD. Sehingga dapat dikatakan bayi ini mengalami obesitas.

obese

Contoh 2 (Menggunakan 3 kurva)

Anak perempuan usia 1 tahun memiliki panjang badan 67,8 cm dan berat badan 7,6 kg. Berdasarkan kurva berat badan/umur terlihat rendah namun masih dalam batas normal. Berat badan/tinggi badan tepat di garis median sehingga dapat dikatakan normal juga. Namun berdasarkan kurva panjang badan/umur titik plot nya dibawah -2 SD sehingga dapat dikatakan pendek diantara teman seusianya.

kurus 1

kurus2

pendek

Mengapa saat di KMS letaknya tepat di garis normal tetapi pakai kurva lain menjadi gizi kurang?

Perbedaan hasil dari ukuran gizi anak di KMS dengan kurva lain mungkin terjadi. Seperti contoh kasus Anak laki-laki berusia 2 tahun 4 bulan dengan berat badan 13.5 kg dan tinggi 102 cm. Saat pengukuran di posyandu menggunakan KMS, berat badannya sesuai dengan umur. Namun ternyata saat petugas kesehatan mengecek dengan grafik lain (BB/TB) malah menjadi gizi kurang Apa yang menjadi masalahnya?

Pertama-tama kita cek dulu grafik dari KMS (BB/Umur) untuk anak laki-laki.Ternyata didapatkan Berat badan sesuai umur.

poster KMS Laki-laki

Dari kurva TB/umur, didapatkan titik di atas 3 SD yang menunjukkan anak sangat tinggi dibandingkan dengan teman seusianya.

PB u laki2 kasus

kasus2

Berdasarkan kurva BB/TB anak ini berada di bawah garis -2 SD yang artinya gizi kurang. Bila ditelaah dari ketiga kurva ini, sepertinya masalah anak ini berasal dari tinggi badan yang berlebih sehingga menyebabkan berat badan seolah-olah kurang. Sesuai dengan pernyataan WHO, kurva tinggi badan/umur di atas 3 SD jarang terjadi kecuali ada kecurigaan tentang masalah hormonal. Sehingga penting sekali untuk merujuk ke dokter (atau dokter spesialis anak) mengenai temuan ini.

Kesimpulan

Pertumbuhan anak bisa diketahui secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif maksudnya ialah melihat ada atau tidaknya gejala dan tanda kekurangan gizi seperti pucat, rambut dan kulit kusam, bengkak pada perut atau tungkai dll. Sedangkan pengukuran kuantitatif ialah mengukur dengan standar kurva pertumbuhan yang saat ini direkomendasikan menggunakan kurva WGCS (WHO Growth Chart Standard). Kurva WGCS terdiri dari banyak jenis namun yang paling dasar digunakan di Indonesia ialah kurva BB/U (Berat badan per umur), TB/U (Tinggi badan per umur), BB/TB (Berat badan/Tinggi badan). Kurva BB/U WHO digunakan pada Kartu Menuju Sehat (KMS) terbaru. Fungsi KMS ini sebagai gambaran awal mengenai alur pertumbuhan anak dari waktu ke waktu sehingga sulit memberikan kesimpulan apabila hanya dari 1 kali pengukuran.

Kurva TB/U dan BB/TB dapat diakses melalui website resmi WHO. Kurva-kurva ini digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui masalah pertumbuhan anak secara akut atau dalam satu waktu namun kesimpulannya juga disertai dengan hasil pemeriksaan dokter dan laboratorium bila diperlukan. Ketiga kurva ini memang paling baik digunakan secara bersamaan untuk mengetahui masalah dasar dari pertumbuhan anak tersebut. Orang tua perlu mengetahui keberadaan kurva ini agar tidak bingung namun tetap mendiskusikannya bersama-sama tenaga kesehatan ahli dalam menyimpulkan kondisi pertumbuhan anaknya.

Agustina Kadaristiana, dr

SUMBER

1. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/Menkes/Per/I/2010 TENTANG PENGGUNAAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) BAGI BALITA. Kementrian Kesehatan RI; 2010.

2. Use and Interpretation of the WHO and CDC Growth Charts for Children from Birth to 20 Years in the United States. National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion Division of Nutrition, Physical Activity, & Obesity, CDC; 2013.

3. WHO | The WHO Multicentre Growth Reference Study (MGRS) [Internet]. WHO. [cited 2014 Nov 21]. Available from: http://www.who.int/childgrowth/mgrs/en/

4. Bagaimana Penerapan Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Balita pada TPG Terlatih? [Internet]. Gizinet. [cited 2014 Nov 21]. Available from: http://gizi.depkes.go.id/bagaimana-penerapan-standar-antropometri-penilaian-status-gizi-balita-pada-tpg-terlatih

5. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1995/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Pengukuran Status Gizi Anak. Kementrian Kesehatan RI Direktorat Bina Gizi; 2011.

6. By Adelheid W. Onyango M de O. Training Course on Child Growth Assessment WHO Child Growth Standards. WHO; 2008.

7. Saptawati Bardosono. PENILAIAN STATUS GIZI BALITA (ANTROPOMETRI) [Internet]. Available from: http://staff.ui.ac.id/system/files/users/saptawati.bardosono/material/penilaianstatusgizibalitaantropometri.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *