Mengenal Obesitas Pada Anak

Tahukah ayah bunda bahwa persepsi anak gemuk itu tidak selamanya benar? Saat ini anak-anak di Indonesia bukan hanya terancam masalah gizi kurang tetapi juga gizi berlebih. Bahkan data dari Bank Dunia menyebutkan bahwa tahun 2013 satu dari lima anak Indonesia usia 5-12 tahun gemuk atau obes. Obesitas pada anak amat ditakuti karena dapat meningkatkan resiko gangguan mental (depresi, rendahnya kepercayaan diri), DM Tipe 2, stroke sampai penyakit jantung stroke yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Tapi tidak perlu khawatir. Obesitas ini bisa dicegah dengan peran orangtua yang bijaksana menjaga nutrisi sang buah hati..

Tren Nutrisi Anak di Indonesia
Tren Nutrisi Anak di Indonesia. Terdapat peningkatan 7x lipat angka Overweight/Obes pada dekade terakhir

Mengapa obesitas terjadi?
Pada umumnya, obesitas terjadi ketika porsi makan anak melebihi kebutuhan tubuhnya. Kelebihan kalori itu disimpan menjadi lemak di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuh anak pun jadi membesar. Jumlahnya melebihi anak dengan berat badan normal. Selera makan anak yang terlanjur gemuk menjadi sangat besar. Semakin cepat terpenuhi nafsu makannya, semakin cepat bertambah beratnya. Ketika selera makan terus membesar, anak cenderung menjadi lapar mata, yakni terdorong mencicipi dan makan apa saja yang dilihat atau ditawarkan padanya, meskipun tidak lapar.

Bagaimana cara mengetahui anak saya obesitas?
Cara paling mudah mengetahui kelebihan gizi pada anak ialah menilai status gizi anak dari kurva WHO. Bagi orangtua yang memiliki balita, tentu familiar dengan KMS (Kartu Menuju Sehat). Nah, KMS ini dibuat berdasarkan kurva WHO. Sehingga ayah bunda bisa mendeteksi lebih dini kecenderungan obesitas melalui penimbangan berat dan pengukuran tinggi anak tiap bulan. Orangtua perlu waspada bila pada kurva tersebut didapatkan hasil :
– Berat badan/tinggi badan >2 SD artinya gemuk
– Berat badan/tinggi badan >3 SD artinya obesitas

Bila terdapat kecurigaan dari nutrisi yang berlebih, tenaga kesehatan mungkin akan mengukur Indeks Masa Tubuh anak secara berkala.

hasil

Selain itu, obesitas ditandai kelebihan lemak dalam darah. Kelebihan lemak dapat menjadi risiko perlemakan hati. Obesitas juga ditandai kadar kolesterol dan trigliserida di atas normal. Jika sejak kecil hingga dewasa keadaan itu terus berlanjut, dapat membahayakan kesehatannya. Hal itu setidaknya menjelaskan, misalnya, mengapa kini banyak orang terkena serangan jantung atau stroke pada usia kurang dari 40 tahun.

Bagaimana mencegah obesitas?
Agar anak tidak obesitas, para orang tua sebaiknya menjaga agar berat tubuh anaknya tetap normal. Dengan begitu, risiko penyakit yang muncul akibat obesitas dapat dihindari. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas:

  • Beri buah hati anda ASI. Berbagai penelitian, termasuk dari data CDC, membuktikan bahwa ASI ekslusif yang dilanjutkan dengan ASI selama mungkin dapat melindungi dari obesitas. Meskipun mekanismenya belum diketahui dan efeknya mungkin kecil, namun para ahli sepakat bahwa ASI bermanfaat untuk mengurangi resiko obesitas.
  • Hindari memberi makanan padat bagi bayi berusia kurang dari enam bulan. Ketika memasuki masa pemberian MP ASI, lakukanlah tahap-tahap pemberian makanan secara tepat dan sesuai perkembangannya.
  • Berikan anak nutrisi sesuai kebutuhan.
  • Latih anak untuk makan sesuai jadwal makanannya. Dengan begitu, tubuhnya terbiasa makan ketika sedang merasa lapar saat jam makannya tiba. Ikuti langkah pemberian makan anak yang benar di sini.
  • Hindari menyuapi anak sambil menonton TV atau bermain gadget. Penelitian membuktikan bahwa hanya dengan mengurangi waktu paparan anak terhadap media saja sudah bisa menurunkan Indeks Masa Tubuh anak secara signifikan. Batasi penggunaan media elektronik hanya 2 jam per hari pada anak usia di atas 2 tahun.
  • Jangan biasakan anak memakan makanan junk food dalam beragam bentuk, seperti pizza, burger, hotdog, dan lain-lain. Biasakanlah anak memakan makanan yang diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang segar dan bergizi seimbang.
https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png
https://childhoodobesityprevent.files.wordpress.com/2011/03/childhood-obesity-3.png
  • Pada anak di atas 1 tahun yang telah terlanjur gemuk, pilihlah susu non fat (susu yang lemak susunya telah dibuang) sebagai susu rekreasi. Latih anak meminum dari gelas mulai usia 7 bulan. Minum susu dari botol sebelum tidur bisa menjadi kebiasaan yang membawa pada resiko obesitas.
  • Biasakan agar anak banyak bergerak melakukan olahraga dan bermain. Aktivitas yang disarankan ialah kegiatan aerobik seperti berlari, jalan cepat, berenang paling tidak 1 jam/hari. Semua aktivitas itu diarahkan untuk membuat tubuhnya bugar, membangun tulang dan ototnya, serta membakar kelebihan kalori. Anak yang kurang bergerak, berolahraga, dan latihan jasmani, berisiko menjadi gemuk dan tidak bugar.
Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak
Rekomendasi CDC Tentang Aktivitas Fisik Pada Anak

Depok, 4 April 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 05/31/2015

Referensi :

  1. Sara McLanahan, et al. 2006. Childhood Obesity. A publication of the Woodrow Wilson School of public and international affairs at Princeton University and the Brooking Institution.
  2. Aaron S Kelly, et al. 2013. Severe Obesity in Children and Adolescents: Identification, associated health risk, and treatment Approach. American Heart Association
  3. Agata Dabrowska. 2014. Childhood Overweight and Obesity: Data Brief. Congressional Research Service
  4. Eveline, Nanang. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Jakarta : Wahyu Media. Pg 166
  5. Nutrition C on. Prevention of Pediatric Overweight and Obesity. Pediatrics. 2003 Aug 1;112(2):424–30.
  6. Obesitas pada Anak [Internet]. IDAI – Ikatan Dokter Anak Indonesia. [cited 2015 May 31]. Available from: http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak.html
  7. Indonesia Health Sector Review. Indonesia : Facing up to the Double Burden of Malnutrition [Internet]. The World Bank, Millenium Challenge Corporation; 2012 Dec. Available from: http://www-wds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2013/01/18/000350881_20130118154713/Rendered/PDF/NonAsciiFileName0.pdf
  8. Indonesia Nutrition Profile [Internet]. USAID; 2014 Apr. Available from: http://www.fantaproject.org/sites/default/files/download/Indonesia-Nutrition-Profile-Apr2014.pdf
  9. Physical Activity for Everyone: Guidelines: Children | DNPAO | CDC [Internet]. [cited 2015 May 31]. Available from: http://www.cdc.gov/physicalactivity/everyone/guidelines/children.html
  10. Richard J Schanler,MD. Infant Benefits of Breastfeeding. Uptodate [Internet]. 2015 Mar 13; Available from: http://www.uptodate.com/contents/infant-benefits-of-breastfeeding?source=search_result&search=infant+benefits+of+breastfeeding&selectedTitle=1~150

One thought on “Mengenal Obesitas Pada Anak

  1. pagi dok, anak lelaki saya berumur 52 bulan, dengan TB/BB 112/26. Menurut dokter anak, anak saya kelebihan berat badan, sehingga dianjurkan untuk mengatur pola makan terutama asupan susu. Perlu diketahui anak saya mengkonsumsi susu UHT sekira 500 ml. Dokter menyarankan untuk mengurangi jumlahnya menjadi 250 ml saja, karena terlalu banyak minum susu tidak baik. Benarkah susu kurang baik untuk kesehatan? kandungan gizi di dalamnya ataukah gulanya yang membuatnya kurang baik?
    Terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *