Vaksin Palsu : Dampak, Pencegahan dan Penanganannya

Berita tentang vaksin palsu tentu sangat tidak nyaman dan membuat resah bagi banyak pihak. Mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan yang paling terasa mungkin orangtua. Terlebih lagi bila anak sendiri yang menjadi korban oknum vaksin palsu. Tentu wajar bila orangtua merasa marah, panik dan khawatir. Kami dari Doctormums juga sangat prihatin akan musibah vaksin palsu yang melanda negeri ini. Berikut ini ialah upaya dari Doctormums menjawab keresahan orangtua akibat vaksin palsu.

Apa isi dari vaksin palsu?

Sampai artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari institusi pemerintah mengenai kandungan vaksin palsu. Beredar kabar bahwa isi dari vaksin palsu ialah vaksin yang diencerkan. Adapula yang mengatakan vaksin palsu dibuat dari campuran gentamisin dan cairan infus dengan dosis masing-masing 0,5 cc. Gentamisin ialah antibiotik berspektrum luas untuk membunuh bakteri. Sediaan dari gentamisin ini ada yang berupa salep, tetes mata, dan sediaan untuk suntik. Gentamisin suntik ini biasa digunakan untuk infeksi berat. 1–3

Apakah vaksin palsu berbahaya bagi kesehatan?

Berbahaya atau tidaknya kemasan ini tentu tergantung dari isi, dosis, dan cara produksi (apakah ada kontaminasi atau tidak). Adapun secara teori, beberapa dampak vaksin palsu (dengan asumsi isi vaksin palsu ialah cairan infus, vaksin oplosan atau gentamisin) bagi kesehatan misalnya:2,4

  1. Tidak adanya efek perlindungan vaksin terhadap kuman. Orangtua membawa anaknya untuk divaksinasi tentu dengan tujuan meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit. Sayangnya, efek ini tidak akan bisa dicapai dengan vaksin imitasi.
  2. Anak menjadi rentan terhadap penyakit yang ingin dicegah vaksin. Misalnya, anak diberikan vaksin BCG yang ternyata palsu. Sampai anak tersebut mendapatkan vaksin BCG yang asli, anak akan mengalami kerentanan terhadap penyakit TBC.
  3. Ada kemungkinan efek samping dari vaksin palsu. Sebagai contoh, bila benar isi vaksin palsu ialah gentamisin, beberapa anak bisa saja terjadi reaksi alergi, hipersensitifitas, mual muntah, sariawan, dsb.
  4. Ada kemungkinan kontaminasi. Produksi vaksin palsu tentu berbeda dengan vaksin asli yang dibuat dengan steril di pabrik. Sayangnya, hal ini membuka kemungkinan adanya kontaminasi dari proses produksi vaksin palsu.
  5. Perlunya anak disuntik ulang untuk vaksin. Pengalaman anak disuntik tentu tidak menyenangkan. Anak kemungkinan besar akan merasa nyeri bahkan sering enggan untuk pergi ke dokter. Namun, bila anak belum mendapat vaksin asli, anak kurang terlindungi dari penyakit menular berbahaya seperti TBC, difteri, pertusis, tetanus, dsb.

Bagaimana bila anak saya menjadi korban vaksin palsu?

Tentu bisa dimaklumi bila reaksi orangtua marah, kesal dan ingin menuntut hak anak. Namun, perlu dipahami bahwa tenaga kesehatan pun merasa demikian. Semua orang tentu marah dengan ulah oknum yang tidak bertanggung jawab dari vaksin palsu. Sehingga, ada baiknya bila orangtua bekerja sama dengan institusi terkait mencari solusi terbaik untuk sang anak. Secara ilmiah, solusi yang paling aman bagi korban vaksin palsu ialah vaksin ulang untuk mengejar ketinggalan vaksin. Saat ini pemerintah membuka posko pelayanan korban vaksin dengan menyediakan vaksin yang dijamin asli bila imunisasi anak memang perlu diulang.5

Apakah vaksin ulang berbahaya ?

Anak yang mendapat vaksin palsu dianggap tertinggal mendapat vaksin. Tentu perlu ditelaah dengan pihak yang berwenang (tenaga kesehatan) jenis dan durasi pemberian vaksin palsu. Hal ini dikarenakan orangtua hanya perlu menvaksin ulang anaknya dari sejak anak mendapat vaksin palsu. Vaksin ulangan ini tidaklah berbahaya. Sebaliknya, membiarkan anak tidak divaksin setelah mendapat vaksin imitasi justru membuat anak rentan terhadap penyakit berbahaya.

Bagaimana cara pemberian vaksin ulangan?

Pada prinsipnya, bila anak anda tertinggal beberapa jadwal vaksin, Anda tidak perlu mengulang vaksin dari awal. Begitu pula bila pada durasi tersebut ternyata vaksin yang diberikan ialah vaksin palsu. Perlu diingat, untuk kasus vaksin palsu, dokter dan tenaga kesehatan terkait perlu mengecek ulang riwayat kesehatan dan vaksinasi di posko pengaduan. Lakukan vaksin ulang bila dokter Anda mengatakan demikian.6,7

Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B umumnya diberikan dalam 3 serial. Serial pertama diberikan idealnya <12 jam setelah bayi lahir. Vaksin kedua diberikan dengan jarak 4 minggu dari vaksin pertama yaitu saat usia anak 1 bulan. Vaksin terakhir paling baik dilakukan saat anak minimal berusia 6 bulan. Pada beberapa kasus vaksin, ketiga bisa diberikan dengan jarak 8 minggu setelah vaksin kedua dan 16 minggu dari vaksin pertama. Anak yang belum pernah mendapatkan vaksin Hepatitis B asli saat bayi perlu diberikan serial 3 vaksin tersebut dimulai dari kapan saja ia berkunjung ke dokter.

Polio

Terdapat 2 jenis vaksin polio yang tersedia di Indonesia yaitu vaksin polio oral (yang ditetes) dan vaksin polio suntik (IPV). Jadwal pemberian masing-masing vaksin tersebut ialah:

  • Vaksin polio oral/tetes: saat lahir, usia 2, 4, 6, 18 bulan (menurut IDAI) atau usia 2, 3, 4 bulan sesuai program pemerintah
  • Vaksin polio suntik (IPV): 2, 4, 6-18 bulan dan 6-8 tahun.

Bila anak tertinggal beberapa jadwal vaksin polio ini, orangtua tidak perlu mengulang pemberian dari awal tetapi lanjutkan dan lengkapi sesuai jadwal.

DPT

Vaksin DPT diberikan dalam 5 serial yaitu pada usia 2, 4, 6, 18-24 bulan dan 5 tahun. Untuk anak umur lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td, di booster setiap 10 tahun. Bila anak tertinggal beberapa jadwal imunisasi tersebut, tidak perlu diulang, cukup teruskan dan lengkapi sesuai jadwal. Bila anak belum pernah mendapatkan imunisasi sampai usia 4 tahun, anak perlu mendapatkan 5 serial vaksin tersebut dengan jarak pemberian vaksin sebagai berikut. Vaksin pertama diberi di atas usia 6 minggu, vaksin kedua dan ketiga diberi dengan jarak masing-masing minimal 4 minggu, vaksin ke empat diberi jarak minimal 6 bulan dari vaksin ketiga, dan vaksin kelima diberi jarak minimal 6 bulan dari vaksin ke empat. Bila anak belum mendapatkan imunisasi DPT sama sekali tetapi usia anak lebih dari 4 tahun, anak hanya perlu diberikan 4 serial vaksin DPT tanpa serial yang ke lima.

Campak

Vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan dan diberi dosis booster saat anak berusia 2 dan 6 tahun. Bila anak belum divaksin atau mendapat vaksin palsu saat ia berusia 9-12 bulan, berikan di usia berapapun saat ia bertemu. Bila anak sudah berusia >12 bulan, berikan vaksin MMR.

Bagaimana upaya maksimal orangtua yang bisa dilakukan untuk mencegah vaksin palsu?

Mengidentifikasi vaksin palsu cukup sulit bagi kalangan awam bahkan tenaga kesehatan itu sendiri. Pasalnya, vaksin benar-benar bisa dibuktikan palsu apabila sudah dilakukan pengecekan di laboratorium. Namun, tidak ada salahnya bersikap hati-hati sebelum memberikan vaksin pada anak anda seperti :

  • Minta izin pada tenaga kesehatan untuk sama-sama mengecek kemasan vaksin. Lihat tanggal kadaluarsanya, identitas pasien (bila vaksin dibeli dengan resep), serta segelnya. Lihat juga ciri fisik vaksin  seperti pada tabel dan gambar ini:8,9
Vaksin Palsu Vaksin Asli
  • Harga lebih murah dari pasaran
  • Tidak ada tanda dot merah
  • Bentuk kemasan lebih kasar
  • No. Batch tidak terbaca
  • Warna rubber stopper (tutup vial) berbeda dari produk asli
  • Tidak ada nomor ijin edar (nie) BPOM
  • Terdapat perbedaan pada cetakan barcode kemasan vaksin palsu
  • Terdapat tanggal kadaluarsa
  • Kemasan masih disegel
  • Terdapat label yang mencantumkan keterangan seputar vaksin pada ampul
  • Label ampul biasanya dilepas dan ditempekan pada buku kesehatan begitu vaksinasi lalu kemasan dihancurkan
Vaksin Palsu
Mengenali vaksin
  • Lakukan vaksin di institusi pemerintah (seperti posyandu, puskesmas atau RS pemerintah) atau institusi swasta yang terpercaya. Institusi pemerintah bisa dijamin menggunakan vaksin asli karena vaksinnya berasal dari distributor resmi. Begitu pula dengan RS besar atau institusi swasta yang menggunakan pemasok vaksin dari sumber resmi.
  • Menggunakan fasilitas JKN dalam melakukan imunisasi dasar vaksin. Pengadaan vaksin JKN didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi jadi dijamin asli dan aman oleh Kemenkes.9

Semoga bermanfaat

Agustina Kadaristiana, dr.

07/20/2016

Sumber:

  1. Kemkes Harus Beri Keterangan Resmi Soal Dampak Vaksin Palsu [Internet]. CNN Indonesia. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160719173258-20-145680/kemkes-harus-beri-keterangan-resmi-soal-dampak-vaksin-palsu/
  2. Berisi Infus dan Antibiotik, Vaksin Palsu Dinilai Tak Bahaya [Internet]. CNN Indonesia. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160627115331-20-141168/berisi-infus-dan-antibiotik-vaksin-palsu-dinilai-tak-bahaya/
  3. Gentamicin Dosage, Side Effect | MIMS.com Indonesia [Internet]. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.mims.com/indonesia/drug/info/gentamicin?mtype=generic
  4. Indonesia BBC. Apa dampak vaksin palsu bagi kesehatan? [Internet]. BBC Indonesia. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160714_indonesia_explainer_vaksinasi
  5. Dwi S. Vaksinasi Ulang Dijamin Gunakan Produk Berkualitas Global [Internet]. Biofarma. 2016 [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.biofarma.co.id/en/news/vaksinasi-ulang-dijamin-gunakan-produk-berkualitas-global/
  6. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian II) [Internet]. IDAI. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
  7. Catch-up Immunization Schedule | CDC [Internet]. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/catchup.html
  8. Dwi S. Bedakan Vaksin Asli dan Palsu [Internet]. Biofarma. 2016 [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://www.biofarma.co.id/en/featured-news/bedakan-vaksin-asli-dan-palsu/
  9. Cara Membedakan Vaksin Asli dan Palsu [Internet]. detiknews. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://news.detik.com/infografis/3244092/cara-membedakan-vaksin-asli-dan-palsu
  10. Media KC. Kemenkes: 7 Alasan Tak Perlu Khawatir Vaksin Palsu – Kompas.com [Internet]. [cited 2016 Jul 20]. Available from: http://health.kompas.com/read/2016/06/27/103352623/kemenkes.7.alasan.tak.perlu.khawatir.vaksin.palsu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *