Obat herbal teruji di sekitar kita

 

Halo semua! Siapa sih yang tidak kenal sama jamu atau herbal? Obat-obatan alami ini mungkin sudah jadi budaya di masyarakat Indonesia. Sayangnya, sering ada miskomunikasi nih antara herbal dengan kedokteran modern. Di satu sisi obat herbal memiliki peran dalam kedokteran. Namun, di sisi lain obat herbal ada yang tidak terbukti secara ilmiah dalam mengobati penyakit. Jadi, penting bagi kita untuk bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan obat herbal.

Ilmu kedokteran modern vs. Obat Herbal

Ilmu kedokteran modern tidak serta merta anti terhadap pengobatan herbal, penelitian mengenai kandungan zat aktif pada berbagai macam herbal terus dikembangkan agar penggunaan obat herbal tidak hanya karena testimoni tapi juga karena terbukti berkhasiat menurut ilmu kedokteran. Sejauh ini alasan penggunaan obat herbal karena herbal dianggap natural, tidak keras dan aman sehingga tidak berbahaya juga membuat adanya pilihan untuk berobat selain daripada yang ditawarkan dokter. Hal ini tidak sepenuhnya salah namun masyarakat harus menyadari herbal bagaimana yang benar-benar terbukti aman dan berkhasiat. Seringkali yang ditemukan adalah herbal tersebut aman namun dengan jumlah yang berlebihan bisa menimbulkan efek samping atau jika saat meminum obat kimia ditambahkan obat herbal yang justru terkadang kombinasi ini menimbulkan bahaya.

Obat herbal yang aman

Di Indonesia, keberadaan herbal telah diatur oleh KepMenKes No. 760/MENKES/Per/IX/1992 tentang fitofarmaka, yaitu untuk mengoptimalkan penggunaan jamu sebagai herbal terstandar dan fitofarmaka dan juga  PerMenKes No. 003/MENKES/PER/2010 tentang Saintifikasi Jamu Untuk pemanfaatannya dalam pelayanan kesehatan.

Herbal yang telah teruji melalui serangkaian percobaan mulai dari percobaan pada sel, pada hewan, uji keamanan sebelumn akhirnya diujikan pada manusia. Berikut logo yang tertera pada herbal yang telah teruji. Kita sebaiknya memilih herbal dengan logo seperti pada gambar ini:

Fitofarnaka

Obat herbal terstandar

Herbal itu sendiri dapat dibagi menjadi beberapa macam : suplemen herbal untuk menjaga kesehatan tubuh, suplemen herbal untuk melengkapi pengobatan atau herbal sebagai obat utama. Herbal dapat sebagai bahan inti pengobatan, pelengkapnya atau sebagai penangkal efek samping herbal lain.

Di Indonesia meski memiliki banyak keanekaragaman hayati namun masih terbatas sekali herbal yang sudah teruji. Jamu dikonsumsi dengan khasiat dan keamanan yang berdasarkan pengalaman empiris turun temurun selama 3 generasi. Adapun herbal terstandarisasi syarat bentuk sediaannya berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Disamping itu herbal terstandar harus melewati uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmakodinamik (kemanfaatan) dan teratogenik (keamanan terhadap janin).

Uji praklinis meliputi in vivo dan in vitro. Riset in vivo dilakukan terhadap hewan uji seperti mencit, tikus ratus-ratus galur, kelinci atau hewan uji lain. Sedangkan in vitro dilakukan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Riset in vitro bersifat parsial, artinya baru diuji pada sebagian organ atau pada cawan petri. Tujuannya untuk membuktikan klaim sebuah obat. Setelah terbukti aman dan berkhasiat, bahan herbal tersebut berstatus herbal terstandar.

Herbal fitofarmaka sudah lebih maju karena sudah dilakukan uji klinis terhadap manusia. Berikut contoh fitofarmaka di Indonesia

  1. Nodiar (POM FF 031 500 361)

Komposisi:

  • Attapulgite (bahan kimia, obat untuk diare), 300 mg
  • Psidii foliumekstrak (daun jambu biji), 50 mg
  • Curcumae domesticae rhizomaekstrak (kunyit),  7.5 mg

Khasiat: untuk pengobatan diare non spesifik

Produksi: PT. Kimia Farma

  1. Rheumaneer (POM FF 032 300 351)

Komposisi:

  • Curcumae domesticae rhizoma(temulawak), 95 mg
  • Zingiberis rhizomaekstrak (kunyit), 85 mg
  • Curcumae rhizomaekstrak, (temulawak) 120 mg
  • Panduratae rhizomaekstrak, (temu kunci) 75 mg
  • Retrofracti fructusekstrak, (buah cabe jawa), 125 mg

Khasiat: pengobatan nyeri sendi ringan

Produksi : PT. Nyonya Meneer

  1. Stimuno (POM FF 041 300 411, POM FF 041 600 421)

Komposisi: Phyllanthi herba ekstrak (meniran), 50 mg

Khasiat: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh (sebagai imunomodulator)

Produksi:  PT. Dexa Medica

  1. Tensigard Agromed  (POM FF 031 300 031, POM FF 031 300 041)

Komposisi:

  • Apii Herbaekstrak (seledri), 95 mg
  • Orthosiphon foliumekstrak (daun kumis kucing), 28mg

Khasiat: Membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi ringan hingga sedang

Produksi: PT. Phapros

  1. X-Gra (POM FF 031 300 011, POM FF 031 300 021)

Komposisi:

  • Ganoderma lucidum(jamur ganoderma), 150 mg
  • Eurycomae radix(akar pasak bumi), 50 mg
  • Panacis ginseng radix (akar ginseng), 30 mg
  • Retrofracti fructus(buah cabe jawa), 2.5 mg
  • Royal jelly 5 mg

Khasiat: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan stamina pria, membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

Produksi: PT. Phapros

Adapun contoh jamu, herbal terstandar dan fitofarmaka yang banyak beredar tertera dalam tabel di bawah ini:

 

Alangkah baiknya jika kita semakin bijak memilih obat-obatan demi keamanan dan juga lebih pasti khasiatnya.

 

dr. Irma Susan Kurnia

14/08/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *