Penyebab Kematian Pada Ibu Hamil

Kelahiran seorang anak merupakan suatu peristiwa penting yang ditunggu-tunggu bahkan kadang dirayakan. Bagi ribuan kaum wanita, setiap kelahiran anaknya tidak saja sebagai pengalaman dan peristiwa penuh kebahagiaan, tetapi juga sebagai peristiwa yang dapat menghantarkan mereka pada kematian.

Pada kenyataannya, kematian dan cedera ibu pada kehamilan merupakan tragedi yang ditemukan secara luas di negara-negara bekembang, namun seringkali terabaikan karena penderita umumnya hidup di tempat terpencil, miskin, buta huruf dan secara politik tidak memiliki kekuasaan.

Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan, dan 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung pada lama dan lokasi kehamilan, disebabkan oleh apa pun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya.

Kematian yang terjadi sebelum persalinan antara lain disebabkan oleh aborsi dan kehamilan ektopik. Sementara kematian yang terjadi selama persalinan antara lain disebabkan oleh perdarahan antepartum, intrapartum, dan postpartum. Sedangkan kematian yang terjadi beberapa waktu setelah persalinan antara lain disebabkan oleh sepsis nifas. Selain itu, tidak semua kematian maternal disebabkan oleh kondisi yang langsung berhubungan dengan kehamilan. Beberapa diantaranya disebabkan oleh keadaan yang sudah terjadi sebelumnya dan diperburuk oleh kehamilan (contohnya, hepatitis). Sekilas pasti menyeramkan membayangkan kondisi-kondisi demikian saat hamil. Namun, sebagai wanita kita perlu tahu apa saja kondisi yang membahayakan bagi ibu dan janin. Sehingga, kita dapat lebih dini melakukan pencegahan gangguan kesehatan yang bisa berakibat pada kematian ibu hamil.. 

dm_kematian-ibu_edited_fix

PENYEBAB KEMATIAN IBU

Penyebab kematian ibu/maternal umumnya dikelompokkan pada tiga kelompok besar, yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung, dan penyebab campuran.

  1. Penyebab langsung adalah penyakit atau komplikasi yang hanya terjadi selama kehamilan, termasuk di dalamnya aborsi, kehamilan ektopik, penyakit hipertensi pada kehamilan, perdarahan antepartum/postpartum, persalinan macet, dan sepsis nifas.
  2. Penyebab yang tidak langsung adalah penyakit yang mungkin telah terjadi sebelum kehamilan tetapi diperburuk oleh kehamilan, contohnya penyakit jantung, anemia, hipertensi esensial (tekanan darah tinggi yang sebabnya tidak diketahui), diabetes mellitus, dan hemoglobinopati (penyakit sel darah merah)
  3. Penyebab campuran adalah penyebab yang bersifat kebetulan, contohnya yang khas adalah kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

Pada kenyataannya, penyebab kematian wanita pada kehamilan dan persalinan banyak sekali selain penyebab medis misalnya  penyebab logistik, kegagalan sistem pelayanan kesehatan, sarana transportasi, dan lain-lain. Oleh karenan itu, ibu perlu tahu istilah 3T untuk mengidentifikasi penyebab tidak langsung dari kematian maternal yaitu: terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan, dan terlambat mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan.

Angka Kematian Ibu

Penyakit Hipertensi pada Kehamilan

Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah preeklampsia dan eklampsia. Tanda khas preeklampsia adalah tekanan darah tinggi, ditemukannya protein dalam urin (air kencing) dan pembengkakan jaringan (edema) selama trimester kedua kehamilan. Beberapa kasus, memperlihatkan keadaan yang tetap ringan sepanjang kehamilan. Pada kasus yang lain, dengan meningkatnya tekanan darah dan jumlah protein urin keadaan dapat menjadi berat.

Penyakit ini ditandai dengan nyeri kepala, muntah, gangguan penglihatan, dan nyeri pada perut bagian atas dan kemudian anuria (tidak berkemih sama sekali). Pada stadium akhir dan paling berat yang disebut eklampsia, pasien akan mengalami kejang. Jika eklampsia tidak ditangani secara cepat akan terjadi kehilangan kesadaran dan kematian karena kegagalan jantung, kegagalan ginjal, kegagalan hati, atau perdarahan otak. Preeklampsia sering terjadi selama kehamilan anak yang pertama, dan jarang terjadi pada kehamilan berikutnya, kecuali pada kelebihan berat badan, kencing manis, hipertensi esensial, atau kehamilan kembar.  Wanita remaja pada kehamilan pertama dan wanita yang berusia di atas umur 35 tahun, mempunyai risiko sangat tinggi.

Penyebab preeklampsia tidak diketahui. Oleh karena itu pengobatan bertujuan untuk menghilangkan gejala dan mengakhiri kehamilan sesegera mungkin, pada saat bayi dianggap mampu untuk hidup. Istirahat merupakan hal yang penting, pasien sering diberikan obat sedatif dan obat yang menurunkan tekanan darah. Beberapa wanita dengan preeklampsia mengalami persalinan spontan. Bagi yang tidak, umumnya dilakukan induksi persalinan pada kehamilan minggu ke-37 atau 38. Jika kemajuan selanjutnya lambat, atau jika tidak memenuhi persyaratan induksi, bayi harus dilahirkan seksio sesaria.

Jika keadaan berkembang menjadi eklampsia, maka tindakan segera harus dilakukan untuk menyelamatkan si ibu. Penyakit itu menyebabkan angka kematian sebesar 5% atau lebih tinggi. Tujuan utama pengobatan adalah mengendalikan kejang dan menurunkan tekanan darah. Jika keadaan itu telah dicapai, secepatnya dilakukan pengakhiran kehamilan. Tidak jarang diperlukan induksi persalinan. Jika sampai 6 jam setelah pengobatan bayi belum juga lahir, dapat dilakukan operasi sesar. Upaya untuk mencegah kejang tetap dilanjutkan setelah persalinan.

Pelayanan kesehatan prenatal yang baik seharusnya dapat mendeteksi preeklampsia secara dini. Jika calon ibu melakukan kunjungan setiap minggu ke klinik prenatal selama 4-6 minggu terakhir kehamilannya, ada kesempatan untuk melakukan tes protein urin, mengukur tekanan darah dan memeriksa tanda-tanda edema. Saat ibu telah dikatakan mengalami preeklamsia, sangat penting agar ibu berobat ke rumah sakit. Apabila ibu tinggal di daerah yang sulit untuk mendapat pelayanan kesehatan prenatal atau petugas penolong persalinan yang terlatih, atau kesulitan merujuk ke rumah sakit jika terjadi keadaan darurat, proporsi kematian ibu akibat hipertensi dalam kehamilan akan tinggi. Sehingga penting bagi keluarga atau bantuan masyarakat untuk menyiapkan transportasi sejak  jauh-jauh hari sebelum waktu persalinan.

image001

Persalinan Macet dan Ruptura Uteri

Pada sebagian besar penyebab kasus persalinan macet adalah karena tulang panggul ibu terlalu sempit, atau gangguan penyakit sehingga tidak mudah dilintasi kepala bayi pada waktu bersalin. Setiap pembahasan tentang persalinan macet, kita tak boleh melupakan perawakan dan ukuran rongga panggul ibu. Proporsi wanita dengan rongga panggul yang sempit menurun secara meyakinkan dengan meningkatnya tinggi badan. Persalinan macet yang disebabkan rongga panggul sempit jarang terjadi pada wanita yang tinggi.

Faktor genetik, fisiologis, dan lingkungan, termasuk gizi, mempengaruhi perawakan seseorang. Pada tempat yang standar kehidupannya baik dan penduduknya sehat serta mendapat makanan yang baik, ketika pertumbuhan terhenti pada umur sekitar 18 tahun sebagian besar ibu mencapai perawakan maksimum sesuai dengan batasan genetik. Sekitar 3 tahun kemudian pertumbuhan tulang panggul berhenti. Pada keadaan yang kurang baik, kebersihan lingkungan buruk, malnutrisi, dan penyakit infeksi, seperti malaria, diare, dan campak, pertumbuhan akan terlambat bahkan terhambat.

Beberapa bentuk ekstrim penciutan panggul paling sering ditemukan dalam masyarakat dengan kemiskinan massal dan mempunyai tradisi melahirkan muda sebelum si ibu tumbuh sempurna. Cara utama untuk mengatasi kemacetan, yang sekaligus menyelamatkan ibu ataupun bayi yang dikandungnya adalah dengan melakukan operasi sesar. Jika keadaan itu tidak ditangani pada stadium dini, kemacetan dapat berlangsung selama berhari-hari dan dapat mengakibatkan kematian ibu akibat infeksi dan kehabisan tenaga, serta kematian janin akibat infeksi, cedera lahir, dan kekurangan oksigen (asfiksia). Tanpa  pemberian antibiotika, sebagian besar wanita dengan persalinan macet akan mengalami infeksi sekitar 12 jam setelah pecahnya ketuban, dan setelah 24 jam hampir mencapai 100%. Kadang-kadang infeksi merupakan akibat pengobatan tradisional yang dimasukkan ke dalam vagina pada persalinan yang lama.

Ruptur uteri (robekan pada rahim) merupakan komplikasi utama persalinan macet yang lain. Jarang sekali terjadi pada wanita yang pertama kali melahirkan, dan lebih sering terjadi pada para ibu yang sebelumnya telah melahirkan beberapa orang anak. Jika uterus robek akan terjadi nyeri yang hebat dan nyeri tekan di atasnya, diikuti perdarahan berat dari pembuluh darah uterus yang robek dan kematian timbul dalam 24 jam sebagai akibat perdarahan dan shock, atau akibat infeksi yang timbul kemudian. Agar ibu dapat diselamatkan, diperlukan pembedahan yang bertujuan untuk menghentikan perdarahan. Hal itu dapat dicapai dengan memperbaiki robekan pada uterus atau mengangkat uterus (histerektomi).

Perdarahan Antepartum (Sebelum Persalinan)

bleeding-between-periods_2-300x200

Perdarahan melalui vagina yang terjadi selama periode kehamilan hampir selalu merupakan tanda yang tidak normal. Perdarahan yang terjadi sebelum kehamilan 28 minggu, seringkali berhubungan dengan aborsi atau keadaan lain. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu dapat disebabkan oleh terlepasnya plasenta secara prematur, trauma, atau penyakit saluran kelamin bagian bawah. Dalam keadaan parah, perdarahan akibat cedera menimbulkan nyeri perut yang sangat akut. Keadaan itu disertai dengan perdarahan yang sebagian besar tersimpan dalam uterus dan dengan cepat mengakibatkan shock berat pada ibu dan kematian pada bayi.

Di samping perdarahan, ada bahaya tambahan yang mengancam kehidupan ibu, darah yang tersisa akan kehilangan sejumlah besar fungsi pembekuan normal yang sangat penting. Kemudian, risiko perdarahan lanjutan yang parah meningkat secara nyata. Bahaya lain adalah kegagalan ginjal ibu, yang terutama ditemukan jika pengobatan tertunda.

Solutio plasenta yang berat adalah keadaan kegawatdaruratan kebidanan yang parah. Sasaran utama pengobatan adalah untuk mengakhiri kehamilan, tetapi hal itu tidak dapat dilakukan sebelum keadaan umum diperbaiki, termasuk pengendalian terhadap rasa nyeri dengan menggunakan obat analgetik yang kuat, dan mengganti kehilangan darah dengan transfusi.

Plasenta praevia adalah perdarahan antepartum jenis lain. Pada keadaan itu perdarahan berasal dari terlepasnya plasenta yang posisinya abnormal dalam uterus, sebagai akibat sebagian atau seluruhnya berada pada uterus bagian bawah. Pada plasenta praevia posisi bayi sering abnormal. Misalnya, kemungkinan bayi dengan letak bokong atau bahu yang berada langsung di atas plasenta letak rendah, sementara pada keadaan normal kepala janin menempati tepi bawah uterus.

Seorang wanita hamil yang dicurigai menderita plasenta praevia memerlukan pengawasan oleh tenaga ahli. Tujuannya adalah untuk memperpanjang usia kehamilan hingga bayi dapat dilahirkan cukup bulan, sementara itu dapat diambil tindakan untuk memperbaiki kesehatan ibu, mungkin diperlukan transfusi darah. Sebaiknya bayi dilahirkan setelah berusia sekitar 38 minggu. Pilihan tindakan induksi persalinan atau seksio sesaria tergantung pada pertimbangan klinis dan teknis tertentu.

Perdarahan Postpartum (Setelah Persalinan)

Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervagina yang berlebihan setelah bayi dilahirkan. Kontraksi uterus selama persalinan bukan saja ditujukan untuk mengeluarkan bayi dan plasenta melainkan juga untuk menutup pembuluh darah yang terbuka setelah persalinan. Pada keadaan normal plasenta dikeluarkan dalam waktu 30 menit setelah kelahiran bayi. Selanjutnya kontraksi uterus segera akan menghentikan perdarahan. Karena berbagai alasan plasenta kemungkinan gagal untuk melepaskan diri, akibatnya perdarahan tidak akan pernah berhenti selama plasenta atau bagiannya tetap berada dalam uterus. Selain retensio plasenta, penyebab perdarahan postpartum yang lain adalah partus lama, semua jenis persalinan bedah vagina, pengaruh obat anestesi, dan tumor uterus seperti fibroma. Perdarahan yang berat dapat juga timbul sebagai akibat cedera pada saat persalinan spontan atau selama persalinan melalui pembedahan. Ruptur uteri, robekan pada leher rahim dan vagina, dan cedera pada jalan lahir bagian bawah dan perineum semuanya dapat menimbulkan perdarahan.

Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik merupakan penyebab perdarahan berat lainnya yang penting. Pada keadaan itu, telur yang dibuahi tertanam, tumbuh, dan berkembang di luar uterus. Tempat kehamilan ektopik yang paling sering terjadi adalah pada tuba fallopii. Karena tidak dapat menampung embrio yang terus tumbuh, tuba fallopii akan segera pecah (biasanya dalam waktu 10 minggu kehamilan yang pertama). Selanjutnya, terjadi perdarahan yang terkumpul dalam rongga perut dan menimbulkan rasa nyeri setempat atau menyeluruh yang berat, pingsan, dan syok. Tanpa pengobatan, kehamilan ektopik dapat menjadi fatal hanya dalam waktu beberapa jam. Untuk itu diperlukan tindakan pembedahan untuk mengangkat tuba dan mengikat pembuluh darah yang pecah guna menghentikan perdarahan.

images

Anemia dalam Kehamilan

Anemia adalah istilah yang digunakan pada keadaaan penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah sampai kadar di bawah 11 g/dl. Hemoglobin merupakan zat berwarna merah yang terdapat dalam bentuk larutan dalam sel darah merah, yang fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen ke semua bagian tubuh. Zat besi, asam folat, vitamin, dan unsur mineral lainnya, diperlukan untuk pembentukan hemoglobin yang dibentuk dalam sumsum tulang. Bahan-bahan itu semuanya berasal dari makanan; sayur-sayuran hijau, dan makanan pokok, seperti kentang dan ubi yang merupakan sumber penting dari asam folat, sementara sebagian besar gandum, daging dan sayur-sayuran mengandung zat besi.

Anemia-During-Pregnancy

Pada keadaan normal tidak semua zat besi yang dimakan dan diserap setiap hari dari usus kecil diperlukan segera. Kelebihan itu biasanya disimpan dalam sumsum tulang sehingga selama masa stress fisik dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan pembentukan hemoglobin guna memenuhi kebutuhan yang meningkat. Salah satu dari periode stress fisik adalah kehamilan.Selama kehamilan, pertumbuhan janin dan uterus, serta perubahan lain yang terjadi pada ibu menyebabkan peningkatan kebutuhan zat makanan yang banyak, khususnya zat besi dan asam folat.  Jika karena kekurangan gizi, kebutuhan itu tak terpenuhi, kecepatan pembentukan hemoglobin menurun dan konsentrasinya dalam peredaran darah juga menurun. Selain itu, malaria, penyakit sel sabit, infeksi bakteri, dan kehilangan darah akibat aborsi, kehamilan ektopik, atau parasit usus seperti cacing tambang merupakan penyebab anemia yang penting.

Stadium awal anemia pada kehamilan umumnya tanpa gejala. Walaupun demikian, dengan menurunnya konsentrasi hemoglobin, pasokan oksigen ke organ-organ vital menurun, dan si ibu mulai mengeluh tentang kelemahan umum, mudah lelah, pusing, dan nyeri kepala. Kulit dan selaput lendir yang pucat, demikian juga pada dasar kuku dan lidah akan menjadi jelas jika konsentrasi hemoglobin sampai mencapai 70 g/dl. Dengan terjadinya penurunan konsentrasi hemoglobin sampai mencapai 40 g/dl, sebagian besar jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen, dan efek itu paling nyata terhadap otot jantung, yang kemungkinan mengalami kegagalan total jika terjadi anemia yang berat. Kematian akibat anemia merupakan akibat kegagalan jantung, shock, atau infeksi sebagai akibat dari daya tahan tubuh terhadap penyakit yang menurun.

Meskipun anemia yang tidak begitu berat tidak menjadi penyebab langsung kematian ibu, anemia dapat menjadi penyumbang kematian melalui penyebab lain. Ibu yang anemis tidak dapat mentoleransi terjadinya kehilangan darah seperti pada wanita yang sehat. Kehilangan darah hingga satu liter selama persalinan tidak akan membunuh seorang wanita yang sehat, tetapi pada wanita yang jelas anemis, kehilangan sekitar 150 ml saja dapat berakibat fatal. Wanita yang menderita anemia mempunyai risiko yang buruk untuk menjalani anestesi dan pembedahan. Anemia menurunkan ketahanan terhadap infeksi sehingga luka setelah pembedahan kemungkinan gagal untuk sembuh cepat atau bahkan tetap terbuka sama sekali.

Pengobatan anemia pada kehamilan biasanya meliputi pemberian tambahan zat besi dan asam folat. Pada daerah endemik malaria, juga disertakan pengobatan kemoprofilaksis malaria. Hal tersebut penting karena kekebalan terhadap malaria yang terjadi selama masa kanak-kanak akibat serangan yang berulang, oleh sebab yang belum diketahui akan berkurang pada kehamilan sekitar minggu keempat belas. Keadaan ini paling jelas pada kehamilan pertama. Diet yang seimbang juga membantu memperbaiki anemia.

Pengobatan yang sesuai dengan ketentuan tersebut di atas memakan waktu sekitar empat minggu atau lebih untuk memulihkan konsentrasi hemoglobin mendekati kadar yang normal. Dengan demikian, masalah akan timbul jika anemia yang berat ditemukan pertama kali pada akhir kehamilan, atau selama aborsi atau setelah persalinan karena pada saat itu tidak cukup waktu untuk melakukan koreksi terhadap keadaan itu. Pada keadaan seperti itu, perdarahan pada aborsi atau setelah persalinan dapat berakibat fatal. Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi hemoglobin dengan cepat adalah melalui transfusi.

Masalah yang tak kalah pentingnya adalah bahwa wanita yang anemis mempunyai kadar hematokrit yang rendah dan mempunyai risiko untuk meninggal lebih tinggi daripada wanita dengan kadar yang normal. Walaupun demikian, kadar hematokrit yang sangat tinggi pada wanita juga berbahaya karena dapat menjadi petunjuk adanya perubahan komposisi darah, yaitu cairan berkurang sedangkan selnya tidak.

Demam Nifas

Karena berbagai alasan, wanita cenderung mengalami infeksi saluran genitalia setelah persalinan dan abortus. Tempat plasenta melekat pada dinding uterus ditinggalkan tetap terbuka sampai dia ditutupi oleh lapisan sel baru dalam waktu beberapa minggu. Robekan pada dinding saluran kelamin yang terjadi akibat persalinan, meninggalkan sejumlah darah beku dan tanpa suplai darah yang cukup.

Kuman penyebab infeksi dapat masuk ke dalam saluran genital dengan berbagai cara, misalnya, melalui penolong persalinan yang tangannya tidak bersih atau menggunakan instrumen yang kotor.  Infeksi juga dapat berasal dari debu di udara, atau oleh si ibu sendiri yang dapat memindahkan organisme penyebab infeksi dari berbagai tempat, khususnya anus. Pemasukan benda asing ke dalam vagina selama persalinan, seperti jamu, daun-daunan, kotoran sapi, lumpur, atau berbagai minyak, oleh dukun beranak juga dapat menyebabkan infeksi.

Infeksi nifas yang langsung jarang sekali terjadi setelah persalinan normal spontan meskipun keadaan di sekitar tidak higienis, asalkan selama persalinan tidak memasukkan sesuatu ke dalam vagina. Walaupun demikian, banyak wanita di Dunia Ketiga mengalami persalinan yang macet, yang selama persalinan menjadi sasaran dari berbagai tindakan yang membahayakan oleh penolong persalinan yang tidak terlatih dan tidak menghargai kebersihan. Akibatnya sepsis nifas merupakan salah satu penyebab kematian ibu di negara berkembang, dan sepsis nifas itu ternyata juga tinggi pada abortus yang ilegal.Kebersihan yang dilakukan selama persalinan merupakan upaya yang sangat penting untuk mengurangi kematian akibat infeksi nifas.

Penyakit Kuning  pada Kehamilan dan Kegagalan Hati Akut

Malaria, penyakit darah tertentu, dan hepatitis dapat menyebabkan ikterus/kuning dan mengancam kehidupan selama periode kehamilan. Dikenal tiga bentuk hepatitis virus, yaitu hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis non-A non-B. Virus penyebab hepatitis A dikeluarkan ke dalam tinja manusia. Oleh karena itu penyebab terpenting penyakit itu adalah pencemaran tinja terhadap makanan dan air minum. Virus yang menyebabkan hepatitis B berada dalam cairan tubuh seperti darah, air liur, air mani, cairan vagina, dapat ditularkan melalui kontak tubuh yang erat. Darah terinfeksi merupakan sumber penyakit itu.

Wanita dengan sosioekonomi rendah sangat peka terhadap hepatitis virus. Dilaporkan bahwa penyebab paling sering pada wanita hamil adalah virus hepatitis A dan non-A non-B. Gejala awal dari hepatitis virus adalah kelemahan umum, mudah lelah, demam, nyeri kepala, dan sendi. Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, nyeri pada perut bagian atas, dan akhirnya terjadi ikterus/kuning. Ikterus dengan cepat dapat menjadi berat, sedangkan pada kasus yang ringan dapat hilang dan terjadi pemulihan yang lambat.

Hepatitis virus dalam bentuk fulminan (ganas) paling sering terjadi pada kehamilan trimester ketiga. Persalinan prematur, kegagalan hati dan perdarahan yang berat sering memperberat penyakit itu. Ibu meninggal karena kegagalan ginjal dan perdarahan yang berat. Perdarahan yang fatal pada kasus itu dipicu oleh kegagalan hepar akut. Pada keadaan itu darah kehilangan kemampuan untuk membeku, perdarahan tidak saja terjadi melalui jalan lahir tetapi juga ditempat lain seperti lambung, usus, selaput lendir, dan tempat suntikan pada kulit dan otot.

Persalinan dengan Pembedahan

Sebagian besar persalinan yang terjadi di rumah sakit di negara berkembang adalah persalinan normal. Sisanya merupakan persalinan bedah dalam berbagai bentuk. Pada beberapa kasus, diperlukan manipulasi untuk menarik bayi keluar melalui vagina. Forsep kebidanan, ekstraksi vakum, dan embriotomi merupakan contoh persalinan pervagina dengan pembedahan. Kelompok persalinan bedah lainnya adalah melalui dinding perut, dalam hal ini seksio sasaria paling sering dilakukan.

vaccum_forcep_delivery

Seperti diharapkan, persalinan spontan pervagina merupakan jenis persalinan yang paling aman. Kematian akibat komplikasi pada masa nifas setelah persalinan normal mungkin terjadi tetapi jarang, terutama pada ibu yang selama kehamilan bebas dari penyakit.

Sebaliknya, semua persalinan bedah mempunyai risiko baik terhadap ibu maupun terhadap bayinya. Sebagian risiko timbul akibat sifat pembedahan, sebagian karena prosedur lain yang menyertai persalinan bedah, seperti anestesia dan transfusi darah, dan sebagian lagi akibat komplikasi kehamilan yang memaksa dilakukannya pembedahan. Di samping itu, dapat timbul komplikasi setelah persalinan bedah, termasuk perdarahan dan infeksi yang berat. Sebagian besar tergantung pada kualitas pelayanan yang ada.

Kematian Akibat Aborsi

Setiap tahun ada sekitar 40-60 juta wanita yang berusaha mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan. Pengguguran kandungan merupakan metode yang paling tua, dan mungkin juga yang paling luas digunakan untuk mengendalikan kesuburan. Meskipun aborsi menyentuh berbagai masalah moral dan agama yang paling mendasar, hanya sedikit masyarakat yang mampu memandangnya secara jernih dari aspek kesehatan wanita.

Bagaimanapun, terbukti bahwa hukum yang membatasi aborsi atau tidak tersedianya pelayanan profesional tidak menghentikan upaya untuk melakukan aborsi. Sebaliknya, hambatan tersebut justru hanya mempengaruhi hasil tindakan aborsi yang dilakukan. Wanita yang terpaksa beralih pada pelayanan aborsi gelap secara sembunyi-sembunyi menghadapi risiko kematian 100-500 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang dilayani oleh petugas terlatih dengan prosedur yang higienis. Di negara berkembang yang angka kematian ibunya tinggi, masalah tersebut sangat penting.

Risiko yang berkaitan dengan pengguguran kandungan tergantung pada: metode yang digunakan, kompetensi pelaksana aborsi, stadium kehamilan pada saat aborsi dilakukan, umur dan keadaan umum wanita yang hamil, ketersediaan dan mutu pelayanan medis guna menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Stadium kehamilan pada saat dilakukannya aborsi merupakan salah satu faktor yang paling penting yang berpengaruh terhadap risiko kematian. Pada aborsi yang legal sekalipun, risiko kematian akan meningkat sesuai dengan peningkatan usia kehamilan.

Komplikasi dini yang paling sering adalah sepsis yang disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap, sebagian atau seluruh produk pembuahan masih tertahan dalam rahim. Jika infeksi itu tidak diatasi, dapat terjadi infeksi yang menyeluruh sehingga menimbulkan aborsi septik,  yang merupakan komplikasi aborsi ilegal yang paling fatal. Aborsi septik juga dapat timbul sebagai akibat aborsi spontan yang tidak lengkap, walaupun jarang terjadi.

Infeksi yang paling serius yang sangat jarang ditemukan di negara maju adalah infeksi bakteri anaerob yang biasanya ditemukan dalam tanah dan pupuk, yang menyebabkan gangren gas dan tetanus. Keadaan itu hampir selalu disebabkan oleh digunakannya peralatan yang kotor. Jika aborsi septik disebabkan oleh organisme yang sangat virulen dan dibiarkan tidak diobati, pasien dapat mengalami syok septik, suatu keadaan yang sangat berat yang diikuti dengan perlambatan aliran darah yang mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen.

Penyebab kematian kedua yang paling sering dilaporkan adalah perdarahan. Perdarahan dapat disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap, atau cedera organ panggul atau usus. Kematian umumnya diakibatkan oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi di rumah sakit.

Nela Fitria Yeral, dr.

DAFTAR PUSTAKA

1. Royston, Erika. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Bina Rupa Aksara. Jakarta, 1989.

2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta, 2007.

3. World Health Organization. International classification of diseases. Manual of the international statistical classification of diseases, injuries, and cause of death. Ninth revision. Geneva, 1977.

4. Fortney, J.A. ET AL. Causes of death to women of reproductive age in Egypt. Michigan State University, 1984.

5. Smith, J.C. ET AL. An assesment of the incidence of maternal deaths. International journal of gynaecology and obstetrics, 16:282-286 (1979)

6. Gray, R.H. Maternal mortality in developing countries (letter). International journal of epidemiology, 14:337 (1985)

7. United Nations Population Division & US National Academy of Sciences. Indirect techniques for demographic estimation. New York, 1983.

8. CHI, I.C ET AL. Maternal mortality at twelve teaching hospitals in Indonesia: an epidemiologic analysis. International journal of gynaecology and obstetrics, 19(4): 259-266 (1981)

9. Khan, A.R ET AL. Maternal mortality in rural Bangladesh. The Jamalpur district. Studies in family planning, 17(1): 7-12 (1986)9.

10. Walker, G.J. ET AL. Maternal Mortality in Jamaica. Lancet, 1(8479): 486-488(1986)

* Gambar diambil dari: http://oshigita.wordpress.com/2013/05/07/penyebab-kematian-ibu/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *