Peran Ayah ASI dalam Keberhasilan Menyusui

Ayah asi adalah paduan pola pikir dan tindakan seorang ayah yang mendukung proses menyusui dari istri (ibu) ke anaknya. Bukan label, julukan, apalagi pangkat yang bisa dicapai dengan target tertentu, karena penerapannya bisa sangat relatif, bahkan sulit dirumuskan.

“Siklus kehidupan di mulai dari bersatunya energi feminin dan maskulin, dalam bentuk hubungan seks. Proses itu berlanjut pada kehamilan, lalu persalinan, menyusui, dan menjadi orangtua. Satu bagian dari proses tersebut tidak bisa terputus, karena menentukan kualitas mata rantai berikutnya.” (Reza Gunawan, Pakar Holistik)

Penjelasan di atas menjadi modal pertama untuk menetapkan pola pikir ayah yang sudah berkomitmen menjalani kehidupan berkeluarga. Artinya, seorang ayah harus siap menghadapi setiap prosesnya dengan sadar. Ketika istri memasuki masa kehamilan, seorang ayah pun relatif paham untuk menjadi suami siaga. Ayah sebaiknya mengisi kepala dengan pengetahuan, dan rasa ingin tahu saat berhadapan dengan dokter kandungan, demi kelancaran dan kesempurnaan bayi yang berada di dalam kandungan istri.

Project Breastfeeding (Hector Cruz)
Project Breastfeeding (Hector Cruz)

Masa persalinan, kebanyakan dari ayah sudah tangkas menghadapi situasi menegangkan ini. Begadang mendampingi istri di salah satu momen terpenting ini seperti perkara mudah, karena ayah tampak sudah terlatih untuk bertoleransi dengan kemampuan fisik, melalui pekerjaan, hingga pertandingan futsal.

Berikutnya, menyusui pun, sebetulnya tak sulit buat seorang ayah terlibat penuh dalam prosesnya. Bahkan, seorang laki-laki tidak perlu dilatih untuk menjadi ayah yang pro ASI. Ia hanya perlu sadar, bahwa ini adalah konsekuensi logis yang terbaik untuk istri dan anaknya, seperti saat menjalani tahapan-tahapan sebelumnya. Saat hal ini terjadi, seorang ayah akan mendorong seluruh kualitas kelaki-lakiannya untuk beradaptasi, menaklukkan situasi, dan (otomatis) memberikan kontribusi.

Pada tahap berkontribusi, ia akan dengan sadar memberi dukungan kepada istri, mendengarkan keluhannya dan menghiburnya, menjadi partner yang bersedia mengurangi beban berat seorang ibu yang menyusui, dengan berpartisipasi pada kegiatan yang bisa dilakukannya. Entah menggendong si anak, menyendawakan setelah menyusui, memandikan anak, membuat makanan pendamping ASI, dan lainnya.

fahter-of-breastfed-baby-Aug2009-iStock

Mengapa Menjadi Ayah Asi itu Penting?

Keterlibatan suami, adanya pasangan di samping istri, yang membantunya mengatasi kelelahan fisik, cenderung membuat istri senang. Apalagi jika suami jadi lebih sering melakukan hal-hal yang membuat istri senang dengan cara meningkatkan kualitas hubungan mereka; karena koneksi setiap pasangan itu khas. Rasa senang istri, akan berdampak sangat positif pada kelancaran proses menyusui. Dan pada titik ini, kesiapan sepasang suami-istri diuji untuk menjadi orang tua. Penelitian juga membuktikan bahwa mengajarkan ayah untuk mencegah dan menangani kesulitan laktasi berhubungan erat dengan kesuksesan ASI esklusif 6 bulan pertama.

http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/
http://fertilefoods.com/breastfeeding-support-tips-for-fathers/

Ketika seorang laki-laki melewati setiap bagian di atas, ia sudah bertindak. Mungkin ada yang menyadari sejak awal, tapi banyak juga menjalaninya saja tanpa memikirkan caranya. Ada yang menjalaninya dengan baik dari pertama, tak sedikit pula yang mengejar ketinggalan di tengah prosesnya. Bagaimanapun itu jika seorang ayah meyakini di alam pikirannya bahwa menyusui adalah proses yang tidak bisa dilewatkan dan ASI adalah yang terbaik untuk keluarganya, dia sepatutnya memberikan kontribusi nyata dengan caranya.

Berikut ini beberapa tips untuk menjadi Ayah ASI:

poedfh2k4c

  1. Jadilah ‘cheerleader’ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk produksi ASI akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil ataupun sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri.
  2. Jadilah juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi ‘benteng’ pertahanan bunda dari ‘serangan’ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasannya agar istri diberikan waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang menyusui.
  3. Jadilah manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur persediaan ASI perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer. Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah adalah manajer logistik ASIP.
  4. Tunjukkan Anda adalah orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau pencari nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari mengurusi anak hingga belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih 15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah.
  5. Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika Ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu.
  6. Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi. Dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM berjalan.
  7. Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari dan beri pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll. Tempelkan kertas-kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung mereka juga bisa membacanya. Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat agar mereka bisa ikut membacanya.
  8. Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami kesulitan istri, ajak istirahat sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah hati. Bisikan kata-kata lembut sambil tersenyum.
  9. Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.
  10. Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya. Sharing membuat  Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal dengan dimensi dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan Anda mengambil langkah yang tepat.

Depok, 2 Mei 2015

Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi terakhir : 06/04/2015

Referensi:

  1. Lynn A. Rempel, John K. 2011. The Breastfeeding Team: The Role of Involved Fathers in the Breastfeeding Family. International Lactation Consultant Association
  2. Naomi Bromberg, et al. 1997. Fathers and Breastfeeding: A Review of the Literature. International Lactation Consultant Association
  3. Lulie, et al. 2008. Inclusion of Fathers in an Intervention to Promote Breastfeeding: Impact on Breastfeeding Rates. International Lactation Consultant Association
  4. Bruce Maycock, et al. 2013. Education and Support for Fathers Improves Breastfeeding Rates: A Randomized Controlled Trial. International Lactation Consultant Association.
  5. Tim Ayah ASI. 2012. Breastfeeding father. Diakses dari: www.ayahasi.org
  6. Tim AyahBunda. 2013. Tips Menyusui Ayah ASI. Diakses dari: www.ayahbunda.co.id
  7. Pisacane A, Continisio GI, Aldinucci M, D’Amora S, Continisio P. A Controlled Trial of the Father’s Role in Breastfeeding Promotion. Pediatrics. 2005 Oct 1;116(4):e494–8.

One thought on “Peran Ayah ASI dalam Keberhasilan Menyusui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *