Peran Ayah Dalam Pengasuhan Bayi

Ayah yang sejak awal aktif membangun ikatan dengan bayinya tidak saja membantu perkembangan fisik dan mental, tetapi juga menjadi kunci kekuatan keluarga, bahkan kunci
kesuksesan dan perilaku anak di masa depan. Anak-anak yang sejak kecil memiliki ikatan
dengan ayahnya cenderung akan lebih sukses di bidang akademik, lebih aman secara
emosional, dan kecil kemungkinan terlibat tindakan kriminal atau penyalahgunaan narkotika.
Apa yang dibutuhkan oleh ayah baru?

Menurut para ahli, apa yang dibutuhkan para lelaki yang baru menjadi ayah adalah
ikatan. Ikatan yang baik dan erat. Sebuah kabar baik bagi para ayah yang begitu antusias
untuk segera memeluk si kecil. Tetapi menjadi sebuah tantangan bagi mereka yang tidak tahu
harus memulainya dari mana, dan bagi mereka yang mungkin tidak memiliki ikatan kuat
dengan ayahnya karena memang datang dari generasi yang berbeda. Bagaimana membangun
ikatan itu, dan apa manfaatnya untuk ayah?

Para ahli menekankan bahwa para ayah tidak perlu merasa harus menjadi ‘ibu kedua’.
Anda seorang ayah, lakukanlah dengan cara Anda sendiri, itulah yang dibutuhkan si kecil.
Kerapkali para ibu lebih rapi, misalnya ketika akan bepergian, ibu sigap menyiapkan
makanan kecil, mengantisipasi kebutuhan tidur, kenyamanan, dan hiburan. Sementara para
ayah cenderung lebih santai dan sering mengandalkan mantra mudah: kalau nggak ada ya beli
saja. Laki-laki umumnya menerapkan cara yang agak keras terhadap anak-anaknya dan
mendorong perilaku yang berani ambil risiko. Para ayah pun memiliki kosakata yang berbeda
dan seringkali menggunakan kata-kata lebih kompleks (sementara para ibu cenderung
menyesuaikan bahasanya dengan anak-anak) yang justru akan memperkaya kosakata anak-
anak. Dengan begitu, metode para ayah ini lebih sebagai pelengkap, bukan sebaliknya. Anak-
anak akan mengambil manfaat dari dua gaya parenting yang berbeda ini.

Membangun Ikatan dengan Anak

Membangun ikatan bisa jadi hal sederhana: menyuapi si kecil, memandikan, atau
bercanda di tempat tidur. Ayah bisa juga menggendong si kecil, membacakan buku,
menyanyi, atau mendengarkan musik bersama. Jika ingin membangun ikatan khusus, lakukanlah aktivitas bersama seperti berenang atau berkebun. Bayi menggunakan tangan dan
kakinya untuk mengekspresikan kebutuhan dan perasaannya. Nah, bila Ayah memahami
bahasa itu, praktekkan, dan ikatan Ayah dan si kecil pun akan semakin erat.

Para peneliti di Kanada dan Israel menemukan bahwa para ayah mengalami
peningkatan bonding ketika anak-anaknya dilahirkan. Bahkan selama kehamilan istrinya,
pria memperlihatkan perubahan kadar hormon stres kortisol dan juga prolaktin, hormon yang
berkaitan dengan perilaku parenting. Di saat yang sama, mereka mengalami peningkatan
oksitosin, hormon yang dapat mencairkan sikap kelelakian dan menimbulkan naluri untuk
mengasuh. Sebuah respon evolusioner untuk mengubah lelaki menjadi ayah.

Peran Ayah di Berbagai Negara
Anda bisa mencari inspirasi dari para ayah di berbagai penjuru dunia. Ayah di Swedia
bisa dibilang ayah yang paling ‘terlibat’ dalam pengasuhan, karena mereka mendapat cuti
kelahiran lebih lama daripada di negara lain. Namun, di Eropa Utara para ayah cenderung
lebih terlibat dalam pengasuhan karena mereka tidak punya keluarga besar seperti di kawasan
Eropa Selatan, misalnya Yunani, dimana kakek-nenek, tante-om banyak ikut campur dalam
pengasuhan anak.

Di seluruh dunia, terlihat adanya peningkatan keterlibatan kaum lelaki dalam
beberapa dekade terakhir. Antara tahun 1965-2000 di Amerika, ayah menghabiskan waktu
dua kali lebih banyak khusus untuk aktivitas pengasuhan, dari 2,6 jam menjadi 6,5 jam
seminggu. Kasih sayang para bapak di Australia juga meningkat. Di Inggris, ayah melakukan
25% aktivitas yang berhubungan dengan pengasuhan di hari kerja dan 30% di akhir minggu.
Mencari inspirasi sejati? Lihatlah orang-orang Aka Pygmies, kelompok nomaden di
Kongo, Afrika. Para lelaki dalam komunitas ini, rerata 47% waktunya adalah berada dekat
anak-anaknya. Mereka menggendong, memeluk, dan bermain dengan anak-anaknya lima kali
lebih sering dibandingkan para ayah dari suku lain. Itu karena meraka tahu bahwa mereka
sedang melakukan kebaikan. Nah, singkirkan selimut dan bersiaplah menjadi ayah abad 21
dengan ikut berperan aktif dalam membesarkan si kecil.

Depok, 17 Januari 2018
Reqgi First Trasia, dr.

Referensi :
1. Amy Brown, et al. 2014. Father’s Experiences of Supporting Breastfeeding:
Chalenges for Breastfeeding Promotion and Education. Maternal and Child Nutrition
Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4282396/
2. Michael Yogman, et al. 2016. Father’s Role in The Care and Development of Their
Children: The Role of Pediatricians. American Academy of Pediatrics Journal.
3. Ad Council. 2015. Fatherhood Involvement. www.adcouncil.org/Our-Campaigns/Family-Community/Fatherhood-Involvement
4. Roopnarine L. 2015. Fathering: A Journal of Research, Theory,and Practice.
http://fatheringjournal.com/default.aspx
5. Sarkadi A, et al. 2008. Father’s Involvement and Children’s Developmental
Outcomes: A systematic review of Longitudinal Studies. Acta Pediatrician. 97 (2):
153-158

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *