Perilaku Makan

Perilaku Makan yang Salah Pada Anak Sekolah

Ketidaktahuan akan gizi yang baik pada anak ataupun orang tua menyebabkan anak sekolah sering berperilaku salah dalam mengonsumsi zat gizi. Berikut beberapa perilaku gizi yang salah pada anak sekolah.

Perilaku Makan yang Salah

  1. Tidak Mengonsumsi Menu Gizi Seimbang
    Menu gizi seimbang seharusnya menjadi pedoman bagi pola makan anak sekolah. Saat makan harus selalu tersedia:
    Sumber karbohidrat : nasi, roti, kentang, sereal
    Sumber protein : ikan, telur, daging, tempe, tahu
    Sumber lemak : margarine, minyak goreng
    Sumber vitamin-mineral : sayuran dan buah
    Untuk menyempurnakan ditambah dengan segelas susu.
  2. Tidak Sarapan Pagi  Makan pagi mempunyai peran penting bagi anak sekolah usia 6-14 tahun, yaitu untuk pemenuhan gizi di pagi hari dimana anak-anak berangkat sekolah dan memiliki aktivitas yang padat di sekolah. Apabila anak terbiasa makan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung prestasi belajar anak ke arah yang lebih baik.
  3. Jajan Tidak Sehat di Sekolah. Jajanan di sekolah bisa jadi kurang aman dari segi kebersihan atau produk kimianya. Apalagi beberapa pekan terakhir ini Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengungkapkan temuan tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia sekolah harus diperhatikan secara cermat dan serius.
  4. Kurang Mengonsumsi Buah dan Sayur. Anak sekolah di Indonesia umumnya kurang mengonsumsi sayuran. Ini disebabkan kurangnya kesadaran anak dan orang tua akan pentingnya zat gizi dari buah dan sayuran. Hal ini merupakan pola makan yang salah karena jelas tidak memenuhi gizi seimbang. Anak sekolah dapat mengalami kekurangan vitamin dan mineral yang berdampak pada tidak optimalnya pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak.
  5. Mengonsumsi Fast Food dan Junk Food. Makanan tersebut tidak memenuhi gizi seimbang, bahkan berbahaya bagi kesehatan karena padat kalori dan tingginya kandungan lemak, terutama asam lemak jenuh yang akan mengakibatkan kegemukan dan tingginya kolesterol dalam darah.
  6. Konsumsi Gula Berlebihan. Kelebihan konsumsi gula dapat mengakibatkan karies gigi dan diabetes. Karies gigi berasal dari mikroba yang mengfermentasi karbohidrat, sehingga terbentuk asam yang menyebabkan demineralisasi gigi. Hasil Riskesdas 2007, prevalensi anak usia di atas 10 tahun mengonsumsi makanan manis sebanyak 68,1%.
  7. Konsumsi Garam Berlebihan. Kelebihan konsumsi garam dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah meningkat. Akibatnya, volume dan tekanan darah naik sehingga mempermudah terjadinya hipertensi.
  8. Konsumsi Lemak Berlebihan. Bukti yang kuat menunjukkan bahwa asupan yang berlebihan dari asam lemak jenuh, asam lemak trans, dan kolesterol dapat menjadi plak yang menghambat aliran darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Depok, 4 Agustus 2015
Reqgi First Trasia, dr.

Modifikasi Terakhir : 11/14/2015

Referensi :
1. Girard M, et al. 2009. Breakfast Skipping is Associated with Differences in Meal Patterns Macronutrients Intakes and Overweight Among Pre School Children. The Journal of Public Health Nutrition, Volume 12, Issue 1, pg 19-28. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18346309
2. Nnakwe EN. 2009. Community Nutrition. Planning Health Promotion and Disease Prevention. Jones and Bartlett Publishers. Sudbury, Massachusetts, Boston, Toronto, London.
3. Jakes HCM, Drake JL, Bundy Pad. 2008. School Health, Nutrition and Education for All Leveling The Playing Field. CABI Publishing. USA.
4. Gunde R. 2004. School Children in the Developing World: Health, Nutrition, and School Performance. UCLA International Institute. http://www.international.ucla.edu/asia/article/8943
5. Judarwanto. 2006. Antisipasi Perilaku Makan Anak Sekolah. Rumah Sakit Bunda. Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *